Tuberkulosis Paru

Krissaesha Novera Suhin
10 2008 034 Mahasiswi semester VI Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510 seshanovera@yahoo.com

SKENARIO 1
Bapak M ( 45 tahun ) memiliki seorang istri ( 43 tahun ) dan 5 orang anak. Istri Bapak M mendapatkan pengobatan TBC paru dan sudah berjalan 3 bulan. Anak perempuannya (R, 9 tahun) saat ini sedang batuk-batuk sudah 3 minggu tidak kunjung reda, karena ketiadaan uang hanya minum obat dari took obat dan jamu. Keluarga Bapak M tinggal di sebuah rumah semi permanen 4x11 meter di pemukiman yang padat penduduk.

I.

PENDAHULUAN
Data yang dilaporkan WHO Indonesia menempati urutan nomor tiga setelah india dan cina yaitu dengan angka 1,7 juta orang Indonesia, menurut teori apabila tidak diobati, tiap satu orang penderita tuberkulosis akan menularkan pada sekitar 10 sampai 15 orang dan cara penularannya dipengaruhi berbagai factor. Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah. Tuberkulosis paru (TBC) adalah penyakit infeksi pada paru yang disebabkan oleh mycobacterium tuberkulosa. Penularan kuman dipindahkan melalui udara ketika seseorang sedang batuk, bersin, yang kemudian terjadi droplet. Seseorang penderita TBC akan mengalami tanda dan gejala seperti kelelahan, lesu, mual, anoreksia, penurunan berat-badan, haid tidak teratur pada wanita, demam sub febris dari beberapa minggu sampai beberapa bulan, malam batuk, produksi sputum mukuporolent atau disertai darah, nafas bunyi crakles (gemercik), Wheezing (mengi). Keringat banyak malam hari, kedinginan. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi tuberkulosis menurut Alsagaff (2001) adalah adanya sumber infeksi (sering kontak dengan penderita), penurunan daya tahan tubuh 1

(pasien infeksi HIV, pengguna obat-obat terlarang atau alkohol), faktor lingkungan (pemukiman yang penuh, kumuh), virulensi tinggi dan jumlah basil banyak (perilaku buang dahak sembarangan), faktor imunologis, faktor psikologis, dan kelompok sosio ekonomi rendah (nutrisi dan sebagainya). Penatalaksanaan TBC meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Penatalasanaan secara promotif yaitu Peningkatan kesehatan diberikan pada individu dan keluarga baik yang kontak dengan penderita TBC maupun tidak, adapun cara-cara untuk meningkatkan kesehatan terkait dengan TBC meliputi hal-hal : menghindari factor resiko, mengelola stress, menjaga kebersihan diri (Personal higiene), nutrisi yang seimbang, imunisasi, pemeriksaan rutin (laboratorium). Pengetahuan penderita TBC dan keluarga pada tingkatan tahu adalah mengingat penyebab kambuhnya batuk, tertarik menjadi tahu setelah melihat iklan obat batuk dan dengan obat batuk tersebut gejala batuk bisa reda. Contoh dari pengetahuan tingkat kedua (memahami) adalah mampu menjelaskan tanda dan gejala penyakit TBC, ataupun penyakit lainya. Pengetahuan yang terkait pada aplikasi misalnya adalah seorang penderita atau keluarga yang mampu memilih berobat secara rutin ke puskesmas atau Balai Paru untuk pengobatan sakit TBC.

II. RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT A. Etiologi 1, 2, 3
Penyakit TB adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycrobacterium tuberculocis, yang masih keluarga besar genus Mycrobacterium. Dari anggota keluarga Mycrobacteriumyang diperkirakan lebih dari 30, hanya 3 yang dikenal bermasalah dengan kesehatan masyarakat. Mereka adalah Mycrobacterium tuberculocis, M.bovisyang terdapat pada susu sapi yang tidak dimasak, dan M.leprae yang menyebabkan penyakit kusta. Mycrobacterium tuberculocis berbentuk batang, berukuran panjang 1-4 mikron dan tebal 0,3-0,6 mikron, tahan terhadap pewarnaan yang asam sehingga disebut dengan Bakteri Tahan Asam (BTA). Sebagian besar kuman terdiri dari asam lemak dan lipid yang membuat lebih tahan asam. Bisa hidup bertahun-tahun. Sifat lain adalah bersifat aerob, lebih menyukai jaringan kaya oksigen terutama pada bagian apical posterior.

2

Apabila penderita TB batuk. tidak demikian.2 Penularan TB dikenal melalui udara. sehingga menyebabkan keharusan mengembangkan obat baru. Sifat resistensinya merupakan problem serius yang sering muncul setelah penggunaan kemoterapi moderen. Periode Prepatogenesis 4  Faktor Agent (Mycobacterium tuberculosis) Karakteristik alami dari agen TBC hampir bersifat resisten terhadap disifektan kimia atau antibiotika dan mampu bertahan hidup pada dahak yang kering untuk jangka waktu yang lama. Kuman TB sangat sensitif terhadap cahaya ultra violet. Sumber penularan adalah penderita TB dengan BTA (+). maka ribuan bakteri TB akan berhamburan bersama ”droplet” nafas penderita yang bersangkutan. Umumnya sumber infeksinya berasal dari manusia dan ternak (susu) yang terinfeksi. Cara Penularan 1.B. serta lamanya seseorang menghirup udara yang mengandung kuman tersebut. dan kereta api berpendingin. Masih banyak variabel yang berperan dalam timbulnya kejadian TB pada seseorang. 3 . Cahaya matahari sangat berperan dalam membunuh kuman di lingkungan. C. terutama pada udara tertutup seperti udara dalam rumah yang pengap dan lembab. meski orang tersebut menghirup udara yang mengandung kuman. Pada Host. lalu menderita TB. Patogenesis hampir rendah dan daya virulensinya tergantung dosis infeksi dan kondisi Host. Oleh sebab itu. daya infeksi dan kemampuan tinggal sementara Mycobacterium Tuberculosis sangat tinggi. Untuk transmisinya bisa melalui kontak langsung dan tidak langsung. menghirup udara bercampur bakteri TB lalu terinfeksi. Daya penularan dari seseorang ke orang lain ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan serta patogenesitas kuman yang bersangkutan. udara dalam pesawat terbang. ventilasi rumah sangat penting dalam manajemen TB berbasis keluarga atau lingkungan. khususnya pada penderita TB aktif dan luka terbuka pada parunya. berbicara atau bersin. serta transmisi kongenital yang jarang terjadi. Prosesnya tentu tidak secara langsung. gedung pertemuan.

Aspek keturunan dan distribusi secara familial sulit terinterprestasikan dalam TBC. eksploitasi tenaga fisik. puncak sedang pada usia lanjut. Terdapat pula aspek dinamis berupa kemajuan industrialisasi dan urbanisasi komunitas perdesaan. pelayanan kesehatan. perumahan. lapangan pekerjaan dan tekanan ekonomi. tekanan fisik-mental dan tingkah laku sebagai mekanisme 4 . terutama pria dikarenakan penumpukan grup sampel usia ini atau tidak terlindung dari resiko infeksi. Pria lebih umum terkena. paling rendah pada awal anak (bayi) dengan orang tua penderita. Faktor Lingkungan Distribusi geografis TBC mencakup seluruh dunia dengan variasi kejadian yang besar dan prevalensi menurut tingkat perkembangannya.  Faktor Host Umur merupakan faktor terpenting dari Host pada TBC. infeksi pertama semakin tertunda. Penularannya pun berpola sekuler tanpa dipengaruhi musim dan letak geografis.paling luas pada masa remaja dan dewasa muda sesuai dengan pertumbuhan. 2. 3. Penduduk pribumi memiliki laju lebih tinggi daripada populasi yang mengenal TBC sejak lama. Pada lingkungan biologis dapat berwujud kontak langsung dan berulang-ulang dengan hewan ternak yang terinfeksi adalah berbahaya. walau tetap tidak berlaku pada golongan dewasa. perkembangan fisik-mental dan momen kehamilan pada wanita. penggangguran dan tidak adanya pengalaman sebelumnya tentang TBC dapat juga menjadi pertimbangan pencetus peningkatan epidemi penyakit ini. yang disebabkan rendahnya kondisi sosioekonomi. Kebiasaan sosial dan pribadi turut memainkan peranan dalam infeksi TBC. gaji rendah. Keadaan sosial-ekonomi merupakan hal penting pada kasus TBC. kondisi kesehatan secara umum. tetapi mungkin mengacu pada kondisi keluarga secara umum dan sugesti tentang pewarisan sifat resesif dalam keluarga. kecuali pada wanita dewasa muda yang diakibatkan tekanan psikologis dan kehamilan yang menurunkan resistensi. Dalam perkembangannya. Terdapat 3 puncak kejadian dan kematian : 1. Status gizi. Pembelajaran sosiobiologis menyebutkan adanya korelasi positif antara TBC dengan kelas sosial yang mencakup pendapatan. sejak timbulnya ketidakpedulian dan kelalaian. Selain itu.

sehingga tidak selalu berarti penyakit klinis. Contohnya Mycobacterium melewati barrier plasenta. Host dan Lingkungan.pertahanan umum juga berkepentingan besar. Periode Pathogenesis (Interaksi Host-Agent) 2. Infeksi berikut seluruhnya bergantung pada pengaruh interaksi dari Agent. namun sulit untuk dievaluasi. kemudian berdormansi sepanjang hidup individu. D.4 Interaksi terutama terjadi akibat masuknya Agent ke dalam saluran respirasi dan pencernaan Host. Imunitas spesifik dengan pengobatan infeksi primer memberikan beberapa resistensi. 5 .

Hal ini disebabkan karenaMycrobacterium tubercolocis bersifat aerobik. namun terutama menyerang organ paru. Adanya infeksi dapat diketahui dengan reaksi positif pada tes tuberkulin. angka tersebut jauh lebih besar. rata-rata 1000 orang penderita TB baru setiap tahunnya.2 Biasanya hal tersebut terjadi pada masa kanak-kanak dibawah umur 1 tahun.000 penduduk. Sedangkan pada paruparu tempat yang paling disukai atau tempat yang sering terkena adalah apical pasterior. Bahkan kuman bisa dibawa aliran darah ke selaput otak yang disebut meningitis radang selaput otak yang sering menimbulkan sequele gejala sisa yang permanen.2 6 . Di Amerika 95% anak-anak tubuhnya mampu melawan kuman TB. Dengan ARTI sebesar 1% maka diantara 100. Indonesia tercatat memiliki ARTI sebesar 1-2%. Ada ukuran Annual Risk of Tubercolosis Infection (ARTI).Basil TB yang masuk ke dalam paru melalui bronkhus secara langsung dan pada manusia yang pertama kali kemasukan disebut primary infection.3%. Dan sebagian besar orang. atau menderita HIV/AIDS (Achmadi. Pada ARTI sebesar 1% berarti setiap tahun diantara 1000 orang penduduk akan ada 10 orang yang tertular. Sebagian besar yang tertular belum tentu berkembang menjadi TB klinis. dan dikumpulkan pada kelenjar regional disekitar hilus paru. Infeksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara membelah diri di paru yang menyebabkan peradangan di dalam paru. TB secara teoritis menyerang berbagai organ. Di negara-negara yang mempunyai status gizi buruk. maka kuman TB masuk melalui aliran darah dan berkembang. gizi buruk. kemudian disebut sebagai kompleks primer. maka timbulah peristiwa klinik yang disebut TB milier. kecuali pada penderita AIDS/HIV. Apabila gagal melakukan containment kuman. berhasil menahan serangan kuman tersebut dengan cara melakukan isolasi dengan cara dimakanmacrophages.2 Secara umum tubuh memiliki kemampuan perlawanan. 2005). sedangkan Eropa memiliki ARTI 0.2 Sebagian besar dari kuman TB yang beredar dan masuk ke dalam paru orang-orang yang tertular mengalami fase atau menjadi dormant dan muncul bila kondisi tubuh mengalami penurunan kekebalan. Oleh sebab itu. hanya sekitar 10% menjadi TB klinis. Infeksi pertama (primer) terjadi ketika seseorang pertama kali kemasukan basil atau kuman TB umumnya tidak terlihat gejalanya. sedangkan pada daerah tersebut adalah bagian paru-paru yang banyak memiliki oksigen. kuman masuk hingga pembentukan kompleks primer sekitar 4-6 minggu. Pada saat terjadi infeksi. dimana 100 orang diantaranya adalah BTA positif.1-0.

maka disertai pula dengan rasa nyeri pada dada. pusing. 7 . Dahak ini kadang bersifat purulent. PENDEKATAN KEDOKTERAN KELUARGA 5 Dokter keluarga adalah dokter praktek umum yang menyelenggarakan pelayanan primer yang komprehensif. Menguasai dan mampu menerapkan konsep operasional kedokteran keluarga. nafsu makan berkurang. Menguasai pengetahuan dan mampu menerapkan ketrampilan klinik dalam pelayanan kedokteran keluarga. Gejala ini akan timbul lagi beberapa bulan kemudian seperti demam. Pelayanan diberikan kepada semua pasien tanpa memandang jenis kelamin. Gejala sistemik ini terdapat baik pada TB Paru maupun TB yang menyerang organ lain. disertai keringat dingin meskipun tanpa aktifitas. Manifestasi Klinis 1 Gejala Sistemik Tuberkulosis Secara sistemik pada umumnya penderita akan mengalami demam. holistic. III. Apabila kerusakan sudah meluas.E. Kadang gejala respiratorik ini ditandai dengan batuk berdarah. kemudian kadang hilang. Gejala Respiratorik Tuberkulosis Adapun gejala repiratorik atau gejala saluran pernafasan adalah batuk. influenza biasa. kontinu. integrative. usia ataupun jenis penyakitnya. lemah. dan kemudian seolah-olah sembuh tidak ada demam. Kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap Dokter Keluarga secara garis besarnya ialah : a. Batuk darah inilah yang sering membawa penderita berobat ke dokter. pegal-pegal. Demam berlangsung pada sore dan malam hari. akibat luka dalam alveoli yang sudah lanjut. Hal ini disebabkan karena pembuluh darah pecah. disertai rasa tidak fit. Gejala respiratorik lainnya adalah batuk produktif sebagai upaya untuk membuang ekskresi peradangan berupa dahak atau sputum. Gejala lain adalah malaise (perasaan lesu) bersifat berkepanjangan kronis. badan semakin kurus. Batuk bisa berlangsung secara terus-menerus selama 3 mingggu atau lebih. Dokter keluarga harus mempunyai kompetensi khusus yang lebih dari pada seorang lulusan fakultas kedokteran pada umumnya. tidak enak badan. b. serta mudah lelah. Hal ini terjadi apabila sudah melibatkan brochus. lesu. dengan mengutamakan pencegahan. timbul sesak nafas dan apabila pleura sudah terkena. koorddinatif. menimbang peran keluarga dan lingkungan serta pekerjaannya.

k. meliputi : a. menyelenggarakan hubungan professional dokterpasien untuk:  Secara efektif berkomunikasi dengan pasien dan semua anggota keluarga dengan perhatian khusus terhadap peran dan risiko kesehatan keluarga. l. d. serta pengawasan dan pemantauan risiko kesehatan keluarga. g. Memberikan pelayanan kedokteran kepada nidividu dan keluarganya. pengobatan dan rehabilitasi. Mengkoordinasikan pelayanan yang diperlukan untuk kepentingan pasien. h.c. Mengutamakan pencegahan. Bertindak sebagai mitra. Tetap bertanggung jawab atas pasien yang dirujukan ke Dokter Spesialis atau dirawat di RS. penasihat dan konsultan bagi pasiennya. Memandang pasien sebagai individu. Pelayanan menyeluruh dan maksimal c. pencegahan dan penyembuhan penyakit. Menyelenggarakan pelayanan primer secara paripurna menyuruh. Mendiagnosis secara cepat dan memberikan terapi secara cepat dan tepat. Menangani penyakit akut dan kronik. tingkatan taraf kesehatan d. e. Memantau pasien yang telah dirujuk atau dikonsultasikan j. i. dan bermutu guna penapisan untuk pelayanan spesialistik yang diperlukan. Menyelenggarakan rekam medis yang memenuhi standar 8 . Melakukan tindakan tahap awal kasus berat agar siap dikirim ke rumah sakit. Menyesuaikan dengan kebutuhan pasien dan memenuhinya e.  Dapat bekerjasama secara professional secara harmonis dalam satu tim pada penyelenggaran pelayanan kedokteran/ kesehatan. Tugas Dokter Keluarga. b. peningkatan kesehatan. f. Menyelenggarakan pelayanan primer dan bertanggung jawab atas kelanjutannya. pencegahan penyakit. b. Membina keluarga pasien untuk berpartisipasi dalam upaya peningkatan taraf kesehatan.  Secara efektif memanfaatkan kemampuan keluarga untuk bekerja sama menyelesaikan masalah kesehatan. Menguasai keterampilan berkomunikasi. c. Karakteristik Dokter keluarga menurut IDI (1982) adalah : a. Memberikan pelayanan kedokteran secara aktif kepada pasien pada saat sehat dan sakit. bagian dari keluarga dan masyarakat.

artinya luas lantai bangunan rumah tersebut harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya agar tidak menyebabkan overload. sebab disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi.Cahaya yang sama apabila dipancarkan melalui kaca tidak berwarna dapat membunuh kuman dalam waktu yang lebih cepat dari pada yang melalui kaca berwama Penularan kuman TB Paru relatif tidak tahan pada sinar matahari. Kepadatan hunian kamar tidur Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya. diperlukan luas jendela kaca minimum 20% luas lantai. Hal ini tidak sehat. Cahaya ini sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah. IV. Jika peletakan jendela kurang baik atau kurang leluasa maka dapat dipasang genteng kaca.. di syaratkan juga langit-langit minimum tingginya 2. Untuk mencegah penularan penyakit pernapasan.. kecuali untuk kamar tidur diperlukan cahaya yang lebih redup. 2. jarak antara tepi tempat tidur yang satu dengan yang lainnya minimum 90cm. misalnya basil TB.75 m. meliputi : 1. Semua jenis cahaya dapat mematikan kuman hanya berbeda dari segi lamanya proses mematikan kuman untuk setiap jenisnya. Untuk rumah sederhana luasnya minimum 10 m2/orang. karena itu rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk cahaya yang cukup. Pencahayaan Untuk memperoleh cahaya cukup pada siang hari. kecuali untuk suami istri dan anak di bawah 2 tahun. 9 . Intensitas pencahayaan minimum yang diperlukan 10 kali lilin atau kurang lebih 60 lux. Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh rumah biasanya dinyatakan dalam m2/orang.m. Untuk menjamin volume udara yang cukup. akan mudah menular kepada anggota keluarga yang lain. Melakukan penelitian untuk mengembangkan ilmu kedokteran secara umum dan ilmu kedokteran keluarga secara khusus. Untuk kamar tidur diperlukan luas lantai minimum 3 m2/orang. Luas minimum per orang sangat relatif tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni lebih dari dua orang. KESEHATAN LINGKUNGAN 6 Kesehatan lingkungan tempat tinggal penduduk merupakan salah satu dari factor risiko terjadinya TBC. Bila sinar matahari dapat masuk dalam rumah serta sirkulasi udara diatur maka resiko penularan antar penghuni akan sangat berkurang.

disamping itu kurangnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban udara Kelembaban udara dalam ruangan untuk memperoleh kenyamanan. Kondisi rumah Kondisi rumah dapat menjadi salah satu faktor resiko penularan penyakit TBC. Untuk sirkulasi yang baik diperlukan paling sedikit luas lubang ventilasi sebesar 10% dari luas lantai. Kuman TB Paru akan cepat mati bila terkena sinar matahari langsung. dimana kelembaban yang optimum berkisar 60% dengan temperatur kamar 22° – 30°C. terutama bakteri patogen. 10 .Lantai dan dinding yag sulit dibersihkan akan menyebabkan penumpukan debu. Ventilasi Ventilasi mempunyai banyak fungsi. 5. Hal ini berarti keseimbangan oksigen yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Udara segar juga diperlukan untuk menjaga temperatur dan kelembaban udara dalam ruangan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteribakteri patogen/ bakteri penyebab penyakit. Fungsi kedua dari ventilasi itu adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri. dinding dan lantai dapat menjadi tempat perkembang biakan kuman. 4. Fungsi pertama adalah untuk menjaga agar aliran udara didalam rumah tersebut tetap segar. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. karena di situ selalu terjadi aliran udara yang terus menerus. Atap. Untuk luas ventilasi permanen minimal 5% dari luas lantai dan luas ventilasi insidentil (dapat dibuka tutup) 5% dari luas lantai.3. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya oksigen di dalam rumah. sehingga akan dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman Mycrobacterium tuberculosis. tetapi dapat bertahan hidup selama beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Umumnya temperatur kamar 22° – 30°C dari kelembaban udara optimum kurang lebih 60%. misalnya kuman TB. Fungsi lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan kamar tidur selalu tetap di dalam kelembaban (humiditiy) yang optimum.

kelompok atau masyarakat secara keseluruhan dapat hidup sehat dengan cara memelihara. Pencegahan Primer Dengan promosi kesehatan sebagai salah satu pencegahan TBC paling efektif. Tujuan penyuluhan adalah untuk meningkatkan kesadaran. melindungi dan meningkatkan kesehatannya. Penyuluhan TB dapat dilaksanakan dengan menyampaikan pesan penting secara langsung ataupun menggunakan media. Penyuluhan kesehatan yang merupakan bagian dari promosi kesehatan adalah rangkaian kegiatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan dimana individu. walaupun hanya mengandung tujuan pengukuran umum dan mempertahankan standar kesehatan sebelumnya yang sudah tinggi. Penyuluhan langsung bisa dilakukan perorangan maupun kelompok. Penyuluhan ini ditujukan kepada suspek. penderita dan keluarganya. 7 Berkaitan dengan perjalanan alamiah dan peranan Agent.V. Penyuluhan TB perlu dilakukan karena masalah TB banyak berkaitan dengan masalah pengetahuan dan perilaku masyarakat. Bagi anggota keluarga yang sehat dapat menjaga. penyuluhan langsung perorangan sangat penting artinya untuk menentukan keberhasilan pengobatan penderita. 4. UPAYA PREVENTIF 2. supaya penderita menjalani pengobatan secara teratur sampai sembuh. Promosi kesehatan menghindari kemunculan dari/ adanya factor resiko ( masa PraKesakitan). melindungi dan 11 . peran serta masyarakat dalam penanggulangan TB. kemauan. Dalam program penanggulangan TB. Dimana upaya promosi kesehatan diantaranya adalah: Penyuluhan penduduk untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan lingkungan. Host dan Lingkungan dari TBC. maka tahapan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain : 1.

b. sehingga terhindar dari penularan TB. penuh hormat dan simpati. Hal-hal penting yang disampaikan pada kunjungan pertama  Dalam kontak pertama dengan penderita. juga oleh para mitra dari berbagai sector. penderita mau bertanya tentang hal-hal yang masih belum dimengerti.meningkatkan kesehatannya. dan lain-lain sesuaia kesepakatan yang ada. terlebih dahulu dijelaskan tentang penyakit apa yang dideritanya. termasuk kalangan media massa. Penyuluhan langsung dilaksanakan oleh tenaga kesehatan. para kader dan PMO. menjadi “suatu penyakit yang berbahaya. petugas harus menggunakan bahasa yang sederhana yang dapat dimengerti oleh penderita. Penggunaan flip chart (lembar balik) dan alat bantu penyuluhan lainnya sangat berguna untuk memudahkan 12 . tetapi dapat disembuhkan”. posyandu. Dengan demikian. bias terdiri dari penderita TB dan keluarganya. a. Dalam penyuluhan langsung perorangan. unsur yang terpenting yang harus diperhatikan adalah membina hubungan yang baik antara petugas kesehatan (dokter. Penyuluhan Langsung Perorangan Cara penyuluhan langsung perorangan lebih besar kemungkinan untuk berhasil dibanding dengan cara penyuluhan melalui media. mendengar keluhan-keluhan mereka. Supaya komunikasi berjalan lancar. serta tunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan dan kesembuhan mereka. Supaya komunikasi dengan penderita bisa berhasil. Penyuluhan ini dapat dilakukan di rumah. puskesmas. kemudian Petugas Kesehatan berusaha memahami perasaan penderita tentang penyakit yang diderita serta pengobatannya. Penyuluhan Kelompok Penyuluhan kelompok adalah penyuluhan TB yang ditujukan kepada sekelompok orang (sekitar 15 orang). Penyuluhan dengan menggunakan bahan cetak dan media massa dilakukan untuk dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.dll) dengan penderita. akan meningkatkan penemuan penderita secara pasif.  Petugas Kesehatan seyogyanya berusaha mengatasi beberapa faktor manusia yang dapat menghambat terciptanya komunikasi yang baik. Gunakan istilah-istilah setempat yang sering dipakai masyarakat untuk penyakit TB dan gejala-gejalanya. sedangkan penyuluhan kelompok dan penyuluhan dengan media massa selain dilakukan oleh tenaga kesehatan. petugas kesehatan harus melayani penderita secara ramah dan bersahabat. Bila penyuluhan ini berhasil. untuk mengubah persepsi masyarakat tentang TB-dari “suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan memalukan”. perawat.

sebagai upaya mengurangi penyebaran penyakit.poster. dan TV) akan menjangkau masyarakat umum.penderita dan keluarganya menangkap isi pesan yang disampaikan oleh petugas. Bahan cetak berupaleaflet. perubahan sikap hidup masyarakat dan perbaikan lingkungan demi tercapainya masyarakat yang sehat. ceramah dan mass media yang tersedia diwilayahnya. c. misalnya tenaga sudah dilatih. Hal ini perlu dipertimbangkan agar tidak mengecewakan masyarakat yang dating untuk mendapatkan pelayanan.     Memberikan penyuluhan perorangan secara khusus kepada penderita agar penderita mau berobat rajin teratur untuk mencegah penyebaran penyakit kepada orang lain. Menganjurkan masyarakat untuk melapor apabila diantara warganya ada yang mempunyai gejala-gejala penyakit TB paru. Beri penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara penularan dan cara-cara pemberantasan serta manfaat penegakan diagnosa dini. Dengan alat peraga (gambar atau symbol) maka isi pesan akan lebih mudah dan lebih cepat dimengerti gunakan alat Bantu penyuluhan dengan tulisan dan atau gambar yang singkat dan jelas. tetapi juga masalah bagi masyarakat. 13 . radio. Pesan-pesan penyuluhan TB melalui media massa (surat kabar. terutama pengunjung sarana kesehatan. Menganjurkan.  Memberikan penyuluhan kepada penderita dan keluarganya pada waktu kunjungan rumah dan memberi saran untuk terciptanya rumah sehat.billboard hanya menjangkau masyarakat terbatas. tentang cara pencegahan TB-paru. Penyuluhan massa yang tidak dibarengi kesiapan UPK akan menjadi “bumerang” (counter productive) Penyuluhan Penderita Tuberkulosis  Petugas baik dalam masa persiapan maupun dalam waktu berikutnya secara berkala memberikan penyuluhan kepada masyarakat luas melalui tatap muka. oleh karena itu keberhasilan penanggulangan TB sangat tergantung tingkat kesadaran dan partisipasi masyarakat. Penyampaian pesan TB perlu memperhitungkan kesiapan unit pelayanan. Penyuluhan Massa Penyakit menular termasuk TB bukan hanya merupakan masalah bagi penderita. obat tersedia dan sarana laboratorium berfungsi.

Host dan Lingkungan. Cuci tangan dan tata rumah tangga kebersihan yang ketat. diberikan pertama-tama kepada bayi dengan perlindungan bagi ibunya dan keluarganya. Diulang 5 tahun kemudian pada 12 tahun ditingkat tersebut berupa tempat pencegahan. Agent.   Oleh penderita.   Oleh petugas kesehatan dengan memberikan penyuluhan tentang penyakit TB yang antara lain meliputi gejala bahaya dan akibat yang ditimbulkannya. Pengawasan Penderita. Petugas harus mencatat dan melaporkan hasil kegiatannya kepada koordinatornya sesuai formulir pencatatan dan pelaporan kegiatan kader. seperti kepadatan hunian. a. pakaian). Kontak dan Lingkungan. 2. Des-Infeksi. suspect. tempat tidur. hundry.  Memberantas penyakti TBC pada pemerah air susu dan tukang potong sapi. Vaksinasi. dapat dicegah dan disembuhkan seperti halnya penyakit lain. perlu perhatian khusus terhadap muntahan dan ludah (piring. dan pasteurisasi air susu sapi. Oleh masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan dengan terhadap bayi harus harus diberikan vaksinasi BCG. dengan meningkatkan pendidikan kesehatan. Tersedia sarana-sarana kedokteran. sering dilaporkan.  Berusaha menghilangkan rasa malu pada penderita oleh karena penyakit TB paru bukan bagi penyakit yang memalukan. diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Pencegahan Sekunder Dengan diagnosis dan pengobatan secara dini sebagai dasar pengontrolan kasus TBC yang timbul dengan 3 komponen utama . pemeriksaan penderita. perawatan. ventilasi rumah dan sinar matahari yang cukup. kontak atau suspect gambas. Namun. Diagnosis TB Mengacu pada program nasional penanggulangan TB. Adapun diagnosis pastinya adalah melalui pemeriksaan kultur atau biakan dahak. dapat dilakukan dengan menutup mulut sewaktu batuk dan membuang dahak tidak disembarangan tempat. pemeriksaan dan pengobatan dini bagi penderita.   Status sosial ekonomi rendah yang merupakan faktor menjadi sakit. kontak. pemeriksaan kultur memerlukan 14 .

Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikit 2 dari 3 pemeriksaan spesimen SPS (Sewaktu-Pagi-Sewaktu) BTA hasilnya positif. Mempunyai riwayat kontak serumah dengan penderita TB dengan BTA positif. Namun. Bila ketiga spesimen dahak hasilnya negatif. radiologi dan uji tuberkulin. 15 . sehingga diagnosis TB pada anak didapat dari gambaran klinik. yang diambil adalah dahak pagi. Untuk itu. Pada anak. yaitu rontgen dada atau pemeriksaan dahak SPS diulang. Sedangkan pemeriksaan ketiga adalah dahak ketika penderita memeriksakan dirinya sambil membawa dahak pagi. Oleh sebab itu. maka yang bersangkutan bukan TB. kalau terdapat gejala seperti: 1. disebut pemeriksaan SPS (Sewaktu-PagiSewaktu). kemudian pemeriksaan kedua dilakukan keesokan harinya. Kalau dalam pemeriksaan radiologi. apabila dahak negatif. maka diberikan antibiotik berspektrum luas selama 1 hingga 2 minggu. 2. Pemerintah melalui gerakan terpadu nasional. dan tidak semua unit pelayanan kesehatan memilikinya. Bila tidak berhasil. Karena tingginya prevalensi TB di Indonesia. tidak memiliki makna lagi.waktu yang lama. Pemeriksaan dahak dilakukan sedikitnya 3 kali. maka ulangi pemeriksaan radiologi. yaitu pengambilan dahak sewaktu penderita datang berobat dan dicurigai menderita TB. Apabila hasil radiologi mendukung TB dianggap sebagai penderita TB dengan BTA negatif. maka ulangi pemeriksaan dahak SPS. hanya dilakukan apabila sarana mendukung untuk itu. hanya akan dilakukan bila diperlukan atas indikasi tertentu. Diagnosis TB Paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. seorang anak dapat dicurigai menderita TB. spesimen dahak negatif. Kalau hasil radiologi tidak menunjukkan adanya tanda-tanda TB. Selanjutnya prosedur terdahulu dilakukan. Terdapat reaksi kemerahan cepat setelah penyuntikkan BCG dalam waktu 3-7 hari. Sedangkan pemeriksaan biakan basil atau kuman TB. Apabila baik radiologi tidak mendukung TB. 3. dada menunjukkan adanya tanda-tanda yang mengarah kepada TB maka yang bersangkutan dianggap positif menderita TB. amoksilin atau kotrimoksasol. yakni kalau dalam pemeriksaan ulang ternyata dahak SPS positif. radiologi positif. sulit untuk mendapatkan BTA. dan penderita yang bersangkutan masih menunjukkan adanya tanda-tanda TB. maka yang bersangkutan adakah positif menderita TB. maka pemeriksaan dahak SPS harus diulang. maka tes tuberkulin pada orang dewasa. memiliki upaya untuk meningkatkan kemampuan Puskesmas untuk melakukan diagnosis TB berdasarkan pemeriksaan BTA ini. Terdapat gejala umum TB.

Uji tuberkulin dilakukan dengan cara menyuntikkan secara intrakutan ( yakni di dalam kulit). Berbagai penelitian 16 . Obatobat kombinasi yang telah ditetapkan oleh dokter diminum dengan tekun dan teratur. Selain itu. pengetahuan tentang resistensi obat dan gejala infeksi juga penting untuk seleksi dari petunjuk yang paling efektif. 6. paling sering di daerah leher. walau terasa berat baik dari finansial. Metode tidak langsung dapat dilakukan dengan indikator anak yang terinfeksi TBC sebagai pusat. dengan gagal tumbuh dan berat badan tidak naik dengan memadai. Pembacaan dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan. dengan pemeriksaan penyelidikan oleh dokter. disertai tanda adanya cairan di dada. dengan tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU ( Tuberculin Unit ). tanpa sebab-sebab lain yang jelas.Gejala umum TB pada anak sebagai berikut: 1. Nafsu makan tidak ada. Pembesaran ini biasanya multiple. materi maupun tenaga. waktu yang lama ( 6 atau 12 bulan).  Pemberian INH sebagai pengobatan preventif memberikan hasil yang cukup efektif untuk mencegah progresivitas infeksi TB laten menjadi TB klinis. Dinyatakan positif bila indurasi sebesa r > 10 mm pada anak dengan gizi baik. disertai keringat malam. Kontrol pasien dengan deteksi dini penting untuk kesuksesan aplikasi modern kemoterapi spesifik. tanpa sebab yang jelas dan tidak naik dalam 1 bulan meski sudah mendapat penanganan gizi yang baik. Diwaspadai adanya kebal terhadap obat-obat. malaria. Gejala dari saluran pencernaan. b. sehingga pengobatan dini dapat diberikan. Misalnya infeksi saluran napas bagian atas yang akut. 3. ketiak dan lipatan paha. 2. Batuk lama lebih dari 30 hari. tipus. dan lain-lain. dan pada anak-anak dengan gizi buruk. misalnya adanya diare berulang yang tidak sembuh dengan pengobatan diare. 4. Pembesaran kelenjar limpa superfisialis yang tidak sakit. dan diukur diameter dari peradangan atau indurasi yang dinyatakan dalam milimeter. adanya benjolan massa di daerah dan adanya tanda-tanda cairan abdomen. Penatalaksanaan TB  Pengobatan khusus. Demam lama dan atau berulang tanpa sebab yang jelas. Berat badan turun selama 3 bulan berturut-turut. Penderita dengan TBC aktif perlu pengobatan yang tepat. 5.

diabetes. pertama kali harus diketahui terlebih dahulu bahwa yang bersangkutan tidak menderita TB aktif. terutama pada orang-orang dengan imunokompromais seperti pada penderita HIV/AIDS. Mereka yang akan diberi pengobatan preventif harus diberitahu kemungkinan terjadi reaksi samping yang berat seperti terjadinya hepatitis. abnormalitas foto thorax konsisten dengan proses penyembuhan TB lama. Rifampin (RIF) dan pyrazinamide (PZA) selama 2 bulan kemudia diikuti dengan INH dan PZA selama 4 bulan.  Terapi spesifik: Pengawasan Minum obat secara langsung terbukti sangat efektif dalam pengobatan TBC di AS dan telah direkomendasikan untuk diberlakukan di AS. Pemberian terapi preventif merupakan prosedur rutin yang harus dilakukan terhadap penderita HIV/AIDS usia dibawah 35 tahun.yang telah dilakukan terhadap orang dewasa yang menderita infeksi HIV terbukti bahwa pemberian rejimen alternatif seperti pemberian rifampin dan pyrazinamide jangka pendek ternyata cukup efektif. demam dan ruam yang luas. Untuk penderita yang belum resisten terhadap OAT diberikan regimen selama 6 bulan yang terdiri dari isoniazid (INH). sedangkan Indonesia sebagai negara anggota WHO telah mengadopsi dan mengadaptasi sistem yang sama yang disebut DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse). maka isoniasid tidak diberikan secara rutin pada penderita TB usia diatas 35 tahun kecuali ada hal-hal sebagai berikut: infeksi baru terjadi (dibuktikan dengan baru terjadinya konversi tes tuberkulin). jika hal ini terjadi dianjurkan untuk menghentikan pengobatan dan hubungi dokter yang merawat. menderita penyakit yang menekan sistem kekebalan tubuh seperti HIV/AIDS. adanya penularan dalam lingkungan rumah tangga atau dalam satu institusi. Namun bila 17 . Pengawasan minum obat ini di AS disebut dengan sistem DOPT. Apabila mau melakukan terapi preventif. pengobatan jangka panjang dengan kortikosteroid atau pengobatan lain yang menekan kekebalan tubuh. Sebagian besar fasilitas kesehatan yang akan memberikan pengobatan TB akan melakukan tes fungsi hati terlebih dahulu terhadap semua penderita. Oleh karena ada risiko terjadinya hepatitis dengan bertambahnya usia pada pemberian isoniasid. terutama terhadap yang berusia 35 tahun atau lebih dan terhadap pecandu alkohol sebelum memulai pengobatan. Pengobatan inisial dengan 4 macam obat termasuk etambutol (EMB) dan streptomisin diberikan jika infeksi TB terjadi didaerah dengan peningkatan prevalensi resistensi terhadap INH. silikosis. Penderita TBC hendaknya diberikan OAT kombinasi yang tepat dengan pemeriksaan sputum yang teratur.

Etambutol tidak direkomendasikan untuk diberikan pada anak sampai anak cukup besar sehingga dapat dilakukan pemeriksaan buta warna (biasanya usia > 5 tahun). Semua obat kadang-kadang dapat menimbulkan reaksi efek samping yang berat. 551 Untuk penderita baru TBC paru dengan BTA (+) di negara berkembang. maka perlu dilakukan pemeriksaan terhadap kepatuhan minum obat dan tes resistensi. beberapa ahli menganjurkan pengobatan cukup selama 9 bulan. PZA diikuti dengan pemberian INH dan RIF 3 kali seminggu selama 4 bulan. Walaupun pengobatan jangka pendek dengan 4 macam obat lebih mahal daripada pengobatan dengan jumlah obat yang lebih sedikit dengan jangka waktu pengobatan 12. Penderita TBC pada anak-anak diobati dengan regimen yang sama dengan dewasa dengan sedikit modifikasi. 18 . Pengobatan anak-anak dengan TBC milier. Semua pengobatan harus diawasi secara langsung. Penderita TBC pada anak dengan keadaan yang mengancam jiwa harus diberikan pengobatan inisial dengan regimen dengan 4 macam obat. Jangan sampai menambahkan satu jenis obat baru pada kasus yang gagal.Anak dengan limfadenopati hilus hanya diberikan INH dan RIF selama 6 bulan. Jika INH atau rifampisin tidak dapat dimasukkan kedalam regimen maka lamanya pengobatan minimal selama 18 bulan setelah biakan menjadi negatif. Perubahan Supervisi dilakukan bila tidak ada perubahan respons klinis penderita. meningitis. Kegagalan pengobatan umumnya karena tidak teraturnya minum obat dan tidak perlu merubah regimen pengobatan.telah dilakukan tes sensititvitas maka harus diberikan obat yang sesuai. Streptomisin tidak boleh diberikan selama hamil. Jika tidak ada konversi sputum setelah 2-3 bulan pengobatan atau menjadi positif setelah beberapa kali negatif atau respons klinis terhadap pengobatan tidak baik. INH. EMB.18 bulan namun pengobatan jangka pendek lebih efektif dengan komplians yang lebih baik. WHO merekomendasikan pemberian 4 macam obat setiap harinya selama 2 bulan yang teridiri atas RIF. TBC tulang/sendi minimal selama 9-12 bulan. Minimal 2 macam obat dimana bekteri tidak resisten harus ada dalam regiemen pengobatan. Kasus resistensi pada anak umumnya karena tertular dari penderita dewasa yang sudah resisten terlebih dahulu. jika pada pengobatan fase kedua tidak dapat dilakukan pengawasan langsung maka diberikan pengobatan substitusi dengan INH dan EMB selama 6 bulan. Operasi toraks kadang diperlukan biasanya pada kasus MDR.

Pirazinamid. Pengobatan dan perawatan di Rumah Sakit hanya dilakukan terhadap penderita berat dan bagi penderita yang secara medis dan secara sosial tidak bisa dirawat di rumah. Rifampisin. Penilaian terus menerus harus dilakukan terhadap rejimen pengobatan yang diberikan kepada penderita.Amikasin. Sediakan fasilitas perawatan penderita dan fasilitas pelayanan diluar institusi untuk penderita yang mendapatkan pengobatan dengan sistem (DOPT/DOTS) dan sediakan juga fasilitas pemeriksaan dan pengobatan preventif untuk kontak. rehabilitasi penghibur selama fase akut dan hospitalisasi awal pasien. Memperlihatkan efektifitas yang tinggidengan toksisitas yang masih dapat ditolerir.  Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok. Konversi sputum biasanya terjadi dalam 4 – 8 minggu. 3. 2. Penderita diberitahu agar menutup mulut dan hidung setiap saat batuk dan bersin. kemudian rehabilitasi pekerjaan yang tergantung situasi individu. pelayanan kesehatan kembali dan penggunaan media pendidikan untuk mengurangi cacat sosial dari TBC. Dimulai dengan diagnosis kasus berupa trauma yang menyebabkan usaha penyesuaian diri secara psikis. 19 . Paraaminosalisilat. Obat primer / Lini pertama: Isoniazid (INH).Penderita remaja harus diperlakukan seperti penderita dewasa. Etambutol. sebagian besar dapatdipisahkan dengan obat-obatan ini. Selanjutnya. Orang yang memasuki ruang perawatan penderita hendaknya mengenakan pelindung pernafasan yang dapat menyaring partikel yang berukuran submikron.Streptomisin. Penderita TB paru dewasa dengan BTA positif pada sputumnya harus ditempatkan dalam ruangan khusus dengan ventilasi bertekanan negatif.  Isolasi: Untuk penderita TB paru untuk mencegah penularan dapat dilakukan dengan pemberian pengobatan spesifik sesegera mungkin. Isolasi tidak perlu dilakukan bagi penderita yang hasil pemeriksaan sputumnya negatif. Kanamisin. Sikloserin. Obat sekunder / Lini kedua: Etionamid. Kapreomisin. serta penegasan perlunya rehabilitasi. bagi penderita yang tidak batuk dan bagi penderita yang mendapatkan pengobatan yang adekuat (didasarkan juga pada pemeriksaan sensitivitas/resistensi obat dan adanya respons yang baik terhadap pengobatan). Rehabilitasi merupakan tingkatan terpenting pengontrolan TBC. Pencegahan Tersier Rehabilitasi menrupakan suatu usaha mengurangi komplikasi penyakit. yaitu: 1.

sehingga menyebabkan keluarga dan penderita TBC kurang termotivasi untuk berobat yang berakibat terjadinya penularan dalam keluarga. terutama dalam perjalanan alamiah epidemi TBC baik periode Prepatogenesis maupun Patogenesis.KESIMPULAN TBC adalah suatu infeksi bakteri menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang utama menyerang organ paru manusia. Faktor lain yang berpengaruh adalah pengetahuan keluarga yang kurang tentang penyakit TBC seperti penyebab. seperti ketidaktahuan akan akibat. TBC merupakan salah satu problem utama epidemiologi kesehatan didunia. komplikasi dan cara merawat anggota keluarganya yang menderita TBC di rumah dan sikap penderita TBC. Selain itu penularan dalam keluarga juga disebabkan kebiasaan sehari-hari keluarga yang kurang memenuhi kesehatan seperti kebiasaan membuka jendela. yang terdiri dari pencegahan primer. Akibat lebih jauh dari hal tersebut adalah terjadinya penularan penderita TBC dalam keluarga dan masyarakat yang kemudian akan berdampak pada masalah pembangunan kesehatan kesehatan di Indonesia karena meningkatnya angka penderita TBC. akibat dan komplikasinya. sekunder dan tersier (rehabilitasi). Interaksi tersebut dapat digambarkan dalam Bagan “Segitiga Epidemiologi TBC”. social ekonomi. Host dan Lingkungan merupakan faktor penentu yang saling berinteraksi. 20 . Agent. Pencegahan terhadap infeksi TBC sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Meningkatnya angka penderita TBC disebabkan berbagai faktor diantaranya karakteristik demografi keluarga. kebiasaan membuang dahak penderita. sikap keluarga itu sendiri.

Jakarta: Infomedika. Sadikin. Kuliah Tuberculosis. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Departemen Kesehatan RI. 2002 21 . 2006 6. Kandun IN (Editor Penterjemah). 2004. Tuberkulosis paru. Umar Fahmi. Soetono. & Zanilda. 2006. 3. 2005.org/ fk/kuliah/respirasi/tuberculosis. Diunduh dari http://ui. Jakarta: Pusat Penerbitan IPD FKUI. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Universitas Indonesia (FKUI). Edisi IV. Amin Z. 2001.DAFTAR PUSTAKA 1. 7. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Departemen Kesehatan RI. Manajemen penyakit berbasis wilayah. Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis. Bahar A. Jakarta : Pengurus Besar IDI. 10 Juli 2011. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. 2.htm. 4. Achmadi. 5. Chin J (Ed). Membangun Praktek Dokter Keluarga Mandiri. Survei Kesehatan Rumah Tangga. 2006.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful