PENGKAJIAN ABDOMEN Pengkajian abdomen terdiri dari dua bagian, bagian pertama adalah history taking atau biasa

disebut anamnese. History taking pada pengkajian abdomen adalah keluhankeluhan klien yang terkait dengan gangguan abdomen, riwayat tentang penyakit sebelumnya, riwayat keluarga, gaya hidup. Untuk mengkaji keluhan klien tanyakan tentang karakter, onset, lokasi, durasi, severity, pola, keluhan lain yang menyertai. Karakter Onset Lokasi Durasi Severity Pola Keluhan lain : Minta klien mendeskripsikan tanda dan gejala yang di rasakan. Apa yang dirasakan klien, bagaimana bunyi, bau? : Kapan keluhan mulai dirasakan? : Dimana keluhan dirasakan? Menyebar kemana? : Berapa lama dirasakan? Kapan keluhan kambuh kembali? : Apakah keluhan terasa semakin parah? : Apa yang dapat membuat keluhan berkurang atau bertambah parah ? : adakah keluhan lai yang menyertai?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat digunakan untuk mengkaji keluhan pada abdomen. Keluhan yang sering dikatakan oleh klien adalah nyeri, pyrosis, mual dan muntah, obstipasi, atau diare. Nyeri organ viseral dimanisfestasikan sesuai dengan lokasi dan jalur saraf otonom yang mempersarafinya, sehingga nyeri viseral biasa dirasakan menyebar oleh pasien bahkan nyeri dapat berpindah sesuai perkembangan penyakit klien. Berikut ini gambaran nyeri yang dirasa kan pada gangguan abdomen :

kanker hepatoseluler. Prostatitis. perforasi gaster atau ulkus duodenum. pankreatitis. gagal ginjal. Pada klien yang mengalami penurunana kesadaran harus diperhatikan resiko aspirasi. Divertilulitis. gangguan pada hati. missal pada klien dengan varises esophagus akan memuntahkan darah berwarna merah segar. obstruksi mekanik akut. Mual merupakan manistasi disfungsi gaster. kolik renal. Pada klien dengan diare perlu ditanyakan apakah ada darah atau lendir pada BAB. warna feses. gastritis akut. ulkus peptikum. BAB lebih sering dengan konsistensi lebih cair. Muntah merupakan refleksi kerusakan motilitas gaster atau gangguan pada mekanisme reflek. Gangguan eliminasi bowel terkait dengan pola dan konsisten BAB. ulkus peptikum. peritonitis. kolik bilier. Mual juga dapat dipresipitasi oleh intoleransi makanan. intoleransi obat. Riwayat kesehatan ditanyakan untuk mengetahui gangguan abdomen yang dialami sebelumnya. mual dapat terjadi pada waktu-waktu tertentu pada orang hamil. Kita juga dapat menambahkan data dari riwayat penyakit keluarga terkait dengan penyakit yang dapat diturunkan secara genetik atau yang dapat menjadi faktor risiko. dyspepsia. Karakter cairan yang dikeluarkan dapat digunakan untuk mengidentifikasi lokasi yang mengalami gangguan. Colitis. kanker pancreas. hal-hal yang dapat terkaji dadri gaya hidup seseorang adalah konsumsi terhadap alcohol. kolik ureter. tanda gejala lain yang mengindikasikan asal gangguan yang dialami. retensi urin Kanker kolon Abses atau rupture organ dalam. kondisi psikologi. pada klien kontipasi pola BAB menjadi lebih jarang dan kontipasi menjadi lebih padat. kolesistitis. pancreas. kanker. ulkus peptikum. Penurunan nafsu makan merupakan keluhan umum pada klien yang mengalami gangguan pencernaan. Hepatitis akut. dan stomach cancer. tumor renal. appendicitis. Gaya hidup dapat mempengaruhi status kesehatan seseorang. ini merupakan manifestasi gastritis kronik atau akut. penyakit infeksi menular seperti hepatitis. kram. Kanker prostate. hernia. cystitis. jenis makanan dan . prostatitis Dyspepsia.Karakteristik nyeri abdomen dan implikasinya : Karakter Nyeri Tumpul Implikasi Appendisitis. GERD. obat-obatan yang sering dikonsumsi klien. gangguan psikologi. Sedang pada diare. Stomach Cancer Seperti terbakar Seperti ada tekanan Seperti kolik Tajam Variable Pirosis biasanya dikeluhkan oleh klien sebagai nyeri dada (heartburn). GERD BPH. sindrom iritasi bowel. glomerulonefritis. atau menstruasi. pengalaman operasi atau trauma pada abdomen.

perlu diingat oleh perawat yang akan melakukan pengkajian fisik abdomen susunan anatomis pada abdomen akan memberikan manifestasi pada hasil pengkajian. Berikut ini gambaran pembagian kuadran pada daerah abdomen sebagai dasar melakukan pengkajian fisik abdomen.minuman yang sering dikonsumsi. . olah raga dapat meningkatkan peristaltik usus. Pengkajian Fisik : Bagian kedua dari pengkajian abdomen adalah pengkajian fisik pada abdominal. Pola olah raga dapat mempengaruhi kondisi sistemik. yang disukai atau yang menjadi pantangan. Stress juga dapat menyebabkan gangguan pada gaster. penggunaan obat yang berlebihan. penurunan berat badan.

.

A. 2. Minta klien untuk mengosongkan kandung kemih Minta klien untuk mengganti pakaian periksa Minta klien untuk rebah dengan posisi supine. abdomen Berikan bantal tipis pada kepala Posisikan kaki sedikit fleksi dan berikaan bantalan untuk merilekskan otot . 5. posisikan tangan pada tepi tempat tidur atau menyilang di atas dada 4. Persiapan klien 1. 3.

usap pada tangan agar diafragma tidak terasa dingin . 4.6. da ovarium d. letakkan tangan perawat diatas tangan klien. a. kontur dan kesimetrisan Auskultasi dilakukan setelah inspeksi dan sebelum perkusi da palpasi Guideline untuk melakukan palpasi Hindari mempalpasi area yang nyeri sampai akhir Lakukan palpasi dangkal sebelum palpasi dalam untuk mengrtahui adanya nyeri atau massa pada superficial c. liver. aorta. Bantal kecil atau gulungan selimut Penggaris Stetoskop Pulpen C. b. Berikan penutup pada bagian yang tidak dilakukan pengkajian Minta klien untuk nafas dalam untuk meningkatkan relaksasi Kaji bagian yang nyeri pada akhir pengkajian Hangatkan tangan sebelum menyentuh klien B.Gunakan diafragma stetoskop. 3. Persiapan alat 1. Hal-hal yang perlu diperhatikan 1. sekum yang terisi udara. Hati-hati dalam mengkaji beberapa organ normal dapat terasa nyeri saat palpasi. 8. selanjutnya lakukan palpasi 4. Guideline untuk melakukan auskultasi a. kolon sigmoid. 2. 9. 7. seperti : area xipoid. Observasi dan inspeksi kulit secara keseluruhan. 2. Hindari rasa geli dengan meminta klien untuk melakukan palpasi sendiri. 3.

 Observasi strie Hasil : strie lama berwarna keperakan atau keabuan. dengarkan dengan seksama berkurangnya atau hilang bunyi usus(bunyi usus setiap 5-15 detik atau dapat disamakan dengan satu bunyi usus). gerakkan sesuai gerakan jarum jam d. Adanya warna sedikit gelap pada kulit abdomen biasa dan normal ada. sedikit menonjol diatas kulit.  Observasi vaskularisasi kulit Hasil : adanya gambaran vena pada dinding abdomen. Dengarkan salaam 5 menit (1 menit tiap kuadran). Tempelkan pelan pada area yang nyeri c. Skar dapat menggambarkan adanya perlekatan internal.Mulai pengkajian dari RLQ (Right Lower Quadrant).  Inspeksi adanya skar. tanyakan riwayat skar dan ukur panjang skar. D. catat lokasi skar Hasil : pucat. halus.  Observasi adanya lesi dan kemerahan Hasil : tidak ada lesi atau kemerahan.b. Inspeksi  Observasi warna kulit Hasil : kulit bagian abdomen lebih terang dari pada kulit pada ekstremitas.  Inspeksi umbilicus * * * Catat warna kulit pada area umbilicus Observasi lokasi umbilicus Kaji kontur umbilicus . Prosedur pemeriksaan a. Strie putih dapat teramati pada klien setelah hamil atau klien yang mengalami penurunan berat badan. Pembuluh darah di atas umbilicus mengarah ke kepala dan pemuluh darah di bawah umbilicus mengarah ke kaki.

amati juga adanya pulsasi aortic.  Inspeksi kontur. Pada orang yang sangat kurus pulsasi aorta dan [eristaltik dapat diamati. . gerakan abdomen * Kontur dilihat dengan sejajar antara mata. kedalaman. simetrisitis. adanya peristaltic usus.Hasil : umbilicus normal berwarna sama atau lebih gelap dari kulit sekitar. atau menonjol tidak lebih dari setengah sentimeter. Inspeksi gerakan abdomen saat klien bernafas. terdapat ditengah garis tubuh. abdomen pada posisi klien terlentang * * Simetrisitas dikaji pada abdomen yang rileks Untuk mengamati adanya hernia atau diastasis recti minta klien untuk mengangkat kepala Hasil : kontur abdomen normal adalah rounded atau datar (flat). datar. Asimetris dapat teramati dari adanya pembesaran organ atau adanya massa tambahan pada abdomen.

Lakukan perkusi sesuai dengan arah jarum jam atau keatas kebawah. Normal tidak ada friction rub pada limpa dan hepar. Hasil : bruits normal terdengar pada aorta abdominal. Gunakan bell pada stetoskop untuk mendengarkan bunyi vaskuler. atau arteri femoral. Batas atas diukur dengan .Q. c. perhatikan pergantian suara timpani menjadi dullness. iliaka. Dilakukan dengan cara melakukan perkusi pada garis midklavikula (GMK) RI. Untuk mengetahui anya asites dilakukan tes sifting dullness.b. Auskultasi  Auskultasi bunyi usus sesuai dengan guideline auskltasi. ginjal. Hasil : bunyi perkusi normal adalah timpani. Borborygmi adalah suara bunyi usus yang hiperaktif. catat intensitas. Perkusi  Perkusi usus dilakukan pada semua kuadran. frekuensi BU Hasil : suara interminten lembut dan gurgle terdengar rata – rata 5 – 30 kali permenit.  Auskultasi friction rub pada atas kanan iga dan kiri bawah untk mendengarkan friction rub pada hepar dan limpa Hasil : venous hum normal terdengar pada area epigastrik dan umbilical.  Perkusi hepar dilakukan untuk mengetahui ukuran hepar. Bunyi gurgle yang panjang gedengar noamal. Dullness pada hepar dan limpa normal terdengar.  Auskultasi vaskuler dan friction rub.

Sedangkan pada GAA normal berbunyi resonan  Perkusi tumpul dilakukan untuk mengetahui adanya nyeri pada organ yang sukar dipalpasi. Beri tamda dan ulangi prosedur tersebut pada garis midsternal. renalkalkuli. . perkusi tumpul pada hati dilakukan pada posisi duduk. Lakukan perkusi mulai bagian posterior garis mid aksila(GMA) pada interkoste 9 – 11. Hasil : usuran normal antara batas atas dan bawah pada GMK 6 – 12 cm. Nyeri terjadi pada kasus inflamsi. pielinefritis. Letakkan tngan kiri pada bagiab iga dan pukulkan kepalan tangan kanan diatas tangan kiri. Hasil : normal dullness terdengar sepanjang 7 cm pada interkoste 10 pada GMA.  Perkusi limpa dilakukan untuk mengeyahui adanya pembesaran limpa. Perkusi tumpul ginjal dilakukan tindakan yang sama pada costovertebre angle(CVA). Hasil : normal tidak ada nyeri. atau hidronefritis. Perhatikan pergantian resonan menjadi dullness. usuran normal GMS 4 – 8 cm. Cara lain adalah melakukan perkusi pada interkoste 9 – 10 pada garis anterior aksila(GAA). kolesistisis.melakukan perkusi pada GMK perhatikan pergantian resonan menjadi dullness.

Hasil : normal hepar tidak teraba. Dapat teraba pada orang kurus bagian bawah teraba lembut dan bagian tepi tajam. Minta klien untuk tarik nafas lakukan palpasi.  Palpasi limpa. Mulai palpasi pada area yang tidak nyeri tekan sedalam 1 cm pada seluruh kuadran Hasil : normal tidak ada reflek guarding abdomen terasa lembut  Palpasi dalam dilakukan untuk mendeteksi kondisi organ yanglebih dalam dan adanya masa abnormal. inflamasi  Palpasi aorta gunakan ibu jari dan jari telunjuk gunakan dua tangan. . Letakkan tangan kanan pada margin bawah koste kiri. Hasil : normal tidak ada massa. Metode kedua lakukan dengan posisi pemeriksa sejajar abdomen dan menghadap ke arah kaki klien letakkan tangan pada margin bawah coste dan minta klien menarik nafas.5 – 3 cm kuat dan regular. sigmoid. Metode pertama dilakukan dengan mengangkat iga bagian 11 – 12 dengan tangan kiri dan tangan kanan digunakan untuk palpasi pada margin bawah koste.d. minta klien menarik nafas tekan tangan ke dalam keatas dan tangan kiri mengangkat bagian bawah. kolon. ovarium  Palpasi umbilicus dan kulit sekitar. Palpasi  Palpasi dangkal pada abdomen. penonjolan. Lakukan palpasi sesuai guideline palpasi. Cara lain yang dapat digunakan adalah dengan meminta klien miring kanan lakukan palpasi seperti diatas gerakkan tangan kanan kebawah. Hasil : palpasi ginja Limpa kadang teraba pada margin bawaah. Lakukan palpasi sedalam 5 – 6 cm Hasil : normal tidak ada masa pada aorta Px sekum.  Palpasi hepar ada 2 metode. Hasil : normal teraba denyut aorta 2. Limpa teraba lembut dab tidak ada nyeri. Letakkan tangan kiri pada koste bagian posterior kiri. Letakkan pada area epigastrik dan geser kearah kiri garis tengah tubuh.

Hasil : normal tidak teraba. Terasa lembut dan bulat. lakukan palpasi bila terdapat riwayat pada klien atau temuan yang lain yang mengindikasikan palpasi. E. letakkan tangan kiri pada bagian bawah pinggang. dapat divalidasi dengan prekusi. angkat bagian posterior dengan tangan kiri dan lakukan palpasi dengan tangan kanan. Dapat teraba pada bladder yang distensi. Kadang dapat teraba ujung bawah ginjal lembut dan bulat. Tangan kanan RUQ dibawah margin kostea pada GMK.  Palpasi bladder. Sifting dullnesss test dilakukan dengan melakukan perkusi pada klien dengan posisis terlentng. Perkusi dilakukan mulai bagian bawah menuju atas . Tes asites 1. Hasil : ginjal normal tidak teraba. Palpasi ginjal. Minta klien menarik nafas tahan sebentar. Mulai dari simpisis pubis keatas keluar batas bladder. Ulangi prosedur yang sama pada ginjal kiri.

Minta tangan asisten diletakkan digaris tengah abdomen dengan posisi lateral pada lunar. Hasil : normal tidak ada gelombang. Satu tangan gunakan ujung jari. Tes untuk Appendiksitis. dan lepaskan secara tiba–tiba. Dengarkan dan lihat ekspresi klien terhadap nyeri. Rebound tes dan Rovsing’s sign. Bimanual letakkan satu tangan pada bawah pinggang dan tangan lain menekan dari anterior dinding abdomen. Letakkan satu tangan pemeriksaa pada satu sisi abdomen dan tanagn yang lain untuk member hentakan pada sisi abdomen yang lain.perhatikan perubahan suara dullness menjadi timpani beri tanda. Minta klien untuk menjelaskan lebih jauh apa yang dirasakan. Nyeri perut dan terderness bisa dijadikan indikasi potensi iritasi. 1. F. Hasil : batas antara pergantian bunyi menunjukkan adanya akumulasi cairan. Test ini kurang reliable sebaiknya dikonfirmasi dengan USG. Jika klien meraskan nyeri pada daerah lain perlu dilakukan pengkajian tenderness. Tekan juga pada bagian perut lain kemudian lepaskan dan cari dimana nyeri terjadi.  Palpasi dengan tekanan pada area I. Klien asites biasanya merasakan adanya organ yang mengembang dalam abdomen. ada dua teknik satu tangan dan bimanual. 2. Dilakukan untuk mengidentifikasi adanya pembesaran pada klien yang asites. tekan kearah dinding abdomen rasakan adanya masa yang mengembang. Pemeriksaan dilakukan dengan cara palpasi dengan sedikit tekanan pada bagian perut yang terasa nyeri. Dengan pertimbangan area tersebut sebagai sumber nyeri. Hasil : tidak ada rebound tenderness. G.I. Selanjutnya klien diminta miring lakukan prosedur yang sama.. Klien dengan tenderness akan merasakan nyeri tajam seperti ditikam pada perut yang ditekan. Gelombang dirasakan oleh tangan pemeriksa. Cara kedua untuk melakukan tes asites dengan fluid wave test.Q . Cairan cenderung berada dinawah dibanding udara. Bollotement test. Kemingkinan ini adalah peritonitis (akibat appendiksitis). Hasil : nomal tidak ada massa yang teraba.

ini sebagai tanda positif  Palpasi dengan tekanan di area LLQ dan lepaskan dengan cepat Hasil : normalnya tidak ditemukan nyeri. Psoas sign Angkat kaki klien dari panggul san letakkan tangan diatas paha bagian bawah.Q sebagai tanda iritasi pada otot obturatori yang menunjukkan appendiksitis atau perforasi appendik. Minta klien untuk menehan kaki selama diangkat dan tekan paha kearea bawah. Nyeri pada area RLQ selama tekanan pada area LLQ sebagai tanda appendicitis.  Palapsi dengan tekanan di area I. Hasil : normalnya tidak ditemukan nyeri perut. Nyeri muncul di RI.Q selama dilakukan pada area I.I. Nyeri pada area RI.Q dan lepaskan dengan cepat. Obturator Sign Sangga lutut dan engkel kanan klien. Hasil : normalnya klien tidak merasa nyeri pada perut. . Hasil : normalnya tidak ditemukan nyeri. 2. Ini sebagai tanda positif rovsing’s sign. Nyeri pada area RLQ dikaitkan dengan adanya iritasi pada otot iliopsoas sebagai tanda appendicitis 3.I.Hasil : normalnya tidak ada ditemukan nyeri. Lakukan fleksi paha kanan dan lutut dan letakkan rotasi internal dan eksternal kaki.Q. Nyeri muncul di RLQ selama terkena dilakukan pada area LLQ. Ini sebagai akibat appendik akut.

Nyeri dan sensasi berlebihan dirasakan pada area kiri RI. Kulit sebagai indikator appendisitis.Q sebagai tanda kolisititis inflmasi gallbledden. Hypersensitivity test Tekanan perut dengan benda tajam atau dengan cubitan besar pada lipatan kulit dengan menggunakan jempol dan jari telunjuk. Peningkatan nyeri yang tajam mungkin disebabkan karena tarikan nafas dalam klien sebagai tanda positif Murphy’s Sign sebagai tanda appendisitis. . Tekan dengan menggunakan jari area batas bawah hepar pada garis tengah rusuk kanan dan minta klien menarik nafas dalam. Hasil : normalnya tidak ada penigkatan nyeri. Hasil : normalnya klien tidak merasa nyeri perut dan sensasi yang berlebihan. 5.4.Q sebagai tanda positif hypersensitivity test. Test for Cholecytitis Untuk mengkaji nyeri dan tenderness RU. Setelah itu lepaskan dengan tiba – tiba. Lakukan prosedur ini berkali – kali pada beberapa lapang dinding abdomen.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful