BAB I PENDAHULUAN

Kasus trauma kapitis banyak dijumpai di samping trauma tulang, oleh karena bila penderita jatuh pada kecelakaan lalu lintas, sering kepala terkena lebih dahulu. Di Surabaya, frekuensi trauma kapitis meningkat dengan 18 % setiap tahunnya, sehingga secara kumulatif dalam lima tahun frekuensi dapat mencapai 100 % Trauma kapitis merupakan keadaan gawat darurat, sehingga harus segera ditangani. Pada trauma kapitis gangguan yang timbul dapat mengenai kulit dan jaringan subkutan, tulang tengkorak, jaringan otak, saraf otak, dan pembuluh darah. Banyak pasien korban kecelakaan yang mendatangi unit gawat darurat, dengan kondisicidera kepala, denganrata-rata 300 : 100.000 dari populasi pertahunnya membutuhkan perawatan lebih lanjut di rumah sakit, dan 9 : 100.000 daripopulasimengalami kematian,halini terhitung dari 5000 pasien setiaptahunnya yang didata di Inggris. Sebagian dari kasus kematian ini tidak dapatterelakkan, tetapi sebagian kasus dapat dicegah. Penyebab yang paling utama dari cidera kepala adalah, kecelakaan lalulintas, jatuh, perkelahian, kecelakaan kerja, baikdi rumah maupun pada saat olah raga. Frekuensi penyebab terjadinyaciderakepalasangatlah bervariasi, bergantungjugadari usia pada masing-masing tempat di banyak negara. Di banyak negara, kegiatan preventif (pencegahan) dan punitif (pemberianhukuman) dalam pengukuran ambang batas alkohol, serta penggunaan sabuk pengaman,danketersediaan airbag, danjugapenggunaanhelm keselamatan, telah menurunkan jumlah angka kejadian. Sekali cidera kepala terjadi, tidak ada yang dapat mengelakkan kerusakan akibat benturan. Tujuan dari manajemen Cidera kepala adalah untuk meminimalisirkan kerusakan yang terjadi yang akanmengarahke komplikasi sekunder.

1

BAB II ANATOMI DAN FISIOLOGI KEPALA
II.I ANATOMI Anatomi kepala terdiri dari
y y y y y y

Kulit kelapa (scalp) Tulang tengkorak Meningen Otak Cairan serebrospinalis Tentorium

A. Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan (SCALP) yaitu :
y y y y y

Skin Connective tissue atau sub kutan Aponeorosis galea Loose areolar tissue atau jaringan penunjang longgar Perikranium

Kulit kepala memiliki banyak pembuluh darah sehingga bila terjadi perdarahan akibat laserasi pembuluh kulit kepala akan menyebabkan banyak kehilangan darah, terutama pada bayi dan anak-anak. B. Tulang tengkorak Tulang tengkorak terdiri dari kubah atau kalvaria dan basis kranii. Kalvaria di regio temporalis tipis, namum dilapisi oleh otot temporalis. Sedangkan basis kranii berbentuk tidak rata sehingga dapat melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi atau dan deselerasi. Rongga tengkorak dasar dibagi atas 3 fossa yaitu :

2

piamater.y y y Fossa anterior Fossa media Fossa posterior Fossa anterior adalah tempat dari lobus frontalis. dimana sering dijumpai perdarahan subdural . fossa media adalah tempat lobus temporalis. Duramater adalah selaput yang keras. C. pembuluh-pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus sagitalis superior di garis tengah atau disebut ³Bridging Veins´. terdiri atas jaringan ikat fibrosa yang melekat erat pada permukaan dalam dan kranium. dapat mengalami robekan dan menyebabkan perdarahan subdural. maka terdapat suatu ruang potensial (subdura) yang terletak antara duramater dan arakhnoid. Pada cedera otak. Meningen Selaput meningen menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3 lapisan yaitu duramater. arakhnoid. Karena tidak melekat erat pada selaput arakhnoid di bawahnya. Pada beberapa tempat tertentu duramater membelah menjadi 2 lapis 3 . sedangkan fosa posterior ad alah ruang bagian bawah batang otak dan serebelum.

Arteri yang paling sering mengalami cidera adalah arteri meningea media yang terletak di fosa temporalis (fosa media). setelah itu terdapat lapisan piamater yang melekat erat pada permukaan korteks serebri. Laserasi dari sinus-sinus ini dapat mengakibatkan perdarahan hebat. Sinus sigmoideus umumnya lebih dominan di sebelah kanan. Sinus sagitalis superior mengalirkan darah vena ke sinus transversus dan sinus sigmoideus. Cairan serebrospinal bersirkulasi dalam ruang subarakhnoid. Dibawah duramater terdapat selaput arakhnoid yang tipis dan tembus pandang. Adanya fraktur dari tulang kepala dapat menybabkan laserasi pada arteri-arteri ini dapat menyebabkan perdarahan epidural. 4 . Perdarahan subarakhnoid umumnya disebabkan oleh cidera kepala. Arteri-arteri meningea terletak antara duramater dan permukaan dalam dari kranium (ruang epidural).membentuk sinus venosus besar yang mengalirkan darah vena dari otak.

pons. terletak dalam fosa posterior. Pada medula obl ongata terdapat pusat kardiorespiratorik. Mesensefalon dan pons bagian ayas berisi sistem aktivasi retikular yang berfungsi untuk kesadaran dan kewaspadaan. serebelum dan batang otak. yang terus memanjang sampai medula spinalis di bawahnya. Sedangkan lobus parietalis untuk proses penglihatan.D. Serebrum terdiri atas hemisfer kanan dan hemisfer kiri yang dipisahkan oleh falks serebri (lipatan duramater dari sisi inferior sinus sagitalis superior. 5 . Lobus fr ontal berkaitan dengan fungsi emosi. Otak Otak manusia terdiri dari serebrum. dan medula oblongata. Lobus parietal berhubungan dengan fungsi sensorik dan orientasi ruang. Jika ada lesi kecil saja pada batang otak akan dapat menyebabkan defisit neurologis yang berat. Batang otak terdiri dari mesensefalon. Pada hemisfer serebri kiri terdapat pusat bicara manusia atau disebut hemisfer dominan. Serebelum bertanggung jawab dalam fungsi koordinasi dan keseimbangan. Pada lobus temporal untuk mengatur fungsi memori tertentu. fungsi motorik dan pada sisi dominan mengandung pusat ekspresi bicara (area bicara motorik).

E. CSS mengalir dari ventrikel lateral melalui voramen monro menuju ventrikel III. kemudian ke akuaduktus silvii menuju ventrikel IV. Cairan serebrospinalis CSS dihasilkan oleh pleksus khoroideus dengan kecepatan produksi 20ml/jam. 6 . Jika terdapat darah dala CSS dapat menyumbat granulasio arakhnoid sehingga mengganggu penyerapan CSS dan menyebabkan kenaikan intrakranial atau hidrochepalus komunikan post trauma. CSS akan direabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui granulasio arakhnoid yang terdapat pada sinus sagitalis superior. selanjutnya CSS keluar dari sistem ventrikel dan masuk ke dalam ruang subarakhnoid yang berada di seluruh permukaan otak dan medula spinalis.

Doktrin Monro-Kellie Adalah suatu konsep sederhana yang dapat menerangkan pengertian dinamika TIK. Tentorium Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang supratentorial yang terdiri dari fosa kranii anterior dan fosa kranii media dan ruang infratentorial yang berisi fosa kranii posterior. Tekanan intrakranial normal pada keadaan istirahat sebesar 10mmHg. Nervus okulomotorius (N.2 FISIOLOGI A. Serabut -serabut parasimpatik berfungsi melakukan konstriksi pupil mata berjalan pada sepanjang permukaan nervus okulomotorius. Konsep utamanya volume intrakranial harus selalu konstan. Bila ada massa seperti hematoma. Mesensefalon (midbrain) menghubungkan hemisfer serebri dengan batang ota k (pons dan medula oblongata) dan berjalan melalui celah lebar tentorium serebeli yang disebut insisura tentorial. Jika paralisis pada serabut ini menyebabkan penekanan nervus III akan mengakibatkan dilatasi pupil oleh karena tidak ada hambatan aktivitas serabut simpatik II. Jika tekanan intrakranial lebih tinggi dari 20 mmHg akan mengakibatkan hasil yang buruk. B. dan saraf ini dapat tertekan bila terjadi herniasi lobus temporal.F. Kenaikan tekanan intrakranial dapat menurunkan perfusi otak dan menyebabkan ataupun memperberat iskemia.III) berjalan sepanjang tepi tentorium. TIK akan tetap normal. kompensasi intrakranial mengeluarkan darah vena dari ruang intrakranial dengan volume yang sama. 7 . yang umum nya diakibatkan oleh adanya masa supratentorial atau edema otak. Tekanan Intrakranial Berbagai proses patologis yang mengenai otak dapat menyebabkan kenaikan tekanan intrakranial. Namun jika mekanisme kompensasi ini sudah terlampaui. maka kenaikan jumlah massa yang sedikit saja akan menyebabkan tekanan intrakranial yang tajam atau fase dekompensasi.

tetapi pada penderita koma. tetapi pada usia 5 tahun ADO bisa mencapai 90ml/100gr/menit. ADO yang terlampau rendah tidak dapat mencukupi kebutuhan metabolisme otak segera setelah trauma. sehingga akan mengakibatkan iskemi otak fokal ataupun menyeluruh. atau hipokapnia karen a hipoventilasi yang agresif.C. Konsekuensinya adalah terjadi penurunan ADO karena trauma akan mengakibatkan iskemi dan infark otak. Aliran Darah ke Otak (ADO) ADO normal ke dalam otak pada orang dewasa antara 50-55ml/100gr jaringan otak permenit. Oleh karena itu semua tindakan ditujukan untuk meningkatkan aliran darah dan perfusi otak dengan c ara menurunkan volume intravaskuler. dan secara gradual menurun sebesar ADO dewasa. hipoksia. pembuluh darah prekapiler otak memiliki kemampuan untuk berk onstriksi atau dilatasi sebagai respon terhadap perubahan kadar PO2 atau PCO2 darah atau disebut autoregulasi kimiawi. 8 . ADO biasanya akan meningkat dalam 2-3 hari berikutnya. Pada cidera otak berat dapat mengganggu kedua mekanisme autoregulasi tersebut. Iskemi dengan mudah diperberat oleh adanya hipotensi. ADO tetap berada di bawah normal sampai beberapa hari atau minggu setelah trauma. Pada anak usia 1 tahun hampir sama dengan ADO orang dewasa. Cidera otak berat s ampai koma dapat menurunkan 50% dari ADO dalam 6-12 jam pertama sejak trauma. Jadi untuk mempertahankan ADO tetap konstan. mempertahankan tekanan arteri rata-rata dan mengembalikan oksigenasi.

KLASIFIKASI CEDERA KEPALA Mekanisme Tumpul .Kecepatan rendah Tembus Benturan . DEFINISI Cidera kepala adalah trauma pada kepala tanpa menyebabkan gang guan dari fungsi jaringan otak.Cidera tembus lain . sensorik atau autonom.BAB III PEMBAHASAN I.Terbuka / tertutp 9 .Kecepatan tinggi .Garis vs Bintang .Deselerasi Guncangan . Sedangkan cidera otak adalah trauma pada kepala yang disertai oleh gangguan fungsi dari otak baik fungsi motorik.Deselerasi Beratnya Ringan Sedang Berat Morfologi Fraktur tengkorak : y y .Depresi / non depresi .Kompresi .Akselerasi .GCS 14 -15 .GCS 3 .GCS 9 ± 13 . Cidera otak sekunder adalah cidera otak yang disebabkan karena salah dalam penanganannnya II.Akselerasi .8 Kalvaria Basis kranii .Luka tembak .

A.Intraserebral Difus . Mekanisme cidera kelapa Cidera otak dibagi atas cidera tumpul dan cidera tembus. morfologi.Konkusi multipel .Coup . Berdasarkan mekanisme.VII Lesi Intrakranial : Fokal . Cidera tumpul biasanya berkaitan dengan kecelakaan kendaraan bermotor. Beratnya cidera GCS atau Glasgow Coma Scale digunakan secara umum dalam deskripsi beratnya penderita cidera otak. beratnya.Epidural .Konkusi .Subdural .Dengan / tanpa paresis N. Sedangkan cidera tembus disebabkan oleh luka tembak ataupun tusukan. jatuh atau pukulan benda tumpul.- Dengan / tanpa kebocoran CSS .Hipoksia / iskemik Cidera kepala di klasifikasikan dala berbagai aspek. Jenis Pemeriksaan Mata (E) y Nilai Spontan 4 3 10 . B.Contracoup .

dapat berbentuk garis/linier atau bintang/stelata dan dapat pula terbuka atau tertutup. Morfologi 1. Untuk memastikannya harus dilakukan CT scan dengan teknik ³bone window´ untuk memperjelas garis frakturnya. Tanda-tanda nya antara lain : y y Raccoon eyes Ekimosis retroaurikule (bettle sign) 11 . Fraktur Kranium Dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak.y y y Terhadap suara Terhadap nyeri Tidak ada 2 1 Verbal (V) y y y y y Orientasi baik Bicara kacau atau bingung Kata-kata tidak teratur Suara tidak jelas Tidak ada 5 4 3 2 1 Motorik (M) y y y y y y Ikut perintah Melokalisir nyeri Fleksi normal Fleksi abnormal Ekstensi abnormal Tidak ada 6 5 4 3 2 1 C. Adanya tanda klinis dari fraktur dasar tengkorak menjadikan petunjuk untuk melakukan pemeriksaan lebih rinci.

2. Fraktur kranium terbuka dapat mengakibatkan adanya hubungan antara laserasi kulit kepala dengan permukaan otak karena robeknya selaput dara. Pada penderita koma kemungkinan ditemukannya perdarahan intrakranial pada fraktur linier adalah 20 kali karena resiko adanya perdarahan intrakranial memang sudah lebih tinggi.y y y Rhinorrhea. Yang termasuk lesi fokal adalah 12 . Bila ditemukan fraktur linier pada kalvaria kemungkinan adanya perdarahan intrakranial meningkat sampai 400 kali. Lesi Intrakranial Lesi ini di klasifikasikan sebagai lesi fokal atau lesi difus. otorrhea Paresis nervus facialis Gangguan pendengaran Fraktur dasar tengkorak yang menyilang kanalis karotikus dapat merusak arteri karotis. walaupun kedua jenis ini sering terjadi bersamaan.

B. Kemungkinan hanya 0. Pada konkusi . Hematom epidural terletak diluar dura tetapi terletak di dalam rongga tengkorak dan cirinya berbentuk biconveks. 13 . Selama ini dikenal istilah ³cidera aksonal difus´ (CAD) prognosanya sangat jelek.y y y Perdarahan epidural Perdarahan subdural Perdarahan intracerebral A. namun dapat juga terjadi akibat robekan vena. Sering terletak di area temporal atau temporoparietaldan biasanya disebabkan oleh arteri meningea media akibat fraktur tulang tengkorak. Cidera otak difus Mulai dari konkusi ringan sampai dimana gambaran CT scan normal sampai kondisi yang sangat buruk. Biasanya akan terjadi lucid interval. Lucid interval adalah suatu keadaan sadar diantara dua tidak sadar setelah terjadi cedera otak. Gumpalan darah yang terjadi biasanya berasal dari arteri. penderita biasanya kehilangan kesadaran dan mungkin mengalami amnesia retro atau anterograd. Karena ada kerusakan dalam akson dan terlihat pada manifestasi klinis. Cidera otak difus yang berat biasanya diakibatkan karena hipoksia. iskemi dari otak karena syok yang berkepanjangan atau periode apneu yang terjadi segera setela h trauma. Perdarahan epidural Relatif jarang terjadi.5% dari semua kasus cidera otak dan 9% dari penderita yang mengalami koma.

Perdarahan ini terjadi akibat robeknya venavena kecil yang superfisial di korteks serebri atau laserasi otak. Perdarahan subdural biasanya menutupi seluruh permukaan hemisfer otak. Perdarahan subdural Peradarahan subdural lebih sering terjadi daripada perdarahan epidural kira-kira 30% dari cidera otak berat. Kontusio serebri dapat dalam waktu beberapa jam atau hari. Kontusio dan perdarahan intraserebral Kontusio terjadi 20% sampai 30% dari cidera otak berat dan sebagian besar terjadi pada lobus frontalis. 14 .1 Lucid Interval C. Biasanya kerusakan otak di bawahnya lebih berat dan prognosanya jauh lebih buruk dibanding perdarahan epidural D.GCS 15 13 11 9 7 5 3 0 Time Grafik 1. berubah menjadi perdarahan intracerebral yang membutuhkan tindakan operasi.

IPemeriksaan fisik y y y Periksa jalan nafas Pemeriksaan neurologis Periksa kesadaran penderita (GCS) IV.BAB IV DIAGNOSA IV.II Pemeriksaan penunjang Pemeriksaa CT scan harus segera dilakukan secepat mungkin. segera setelah hemodinamik normal. Pemeriksaan CT Scan ulang harus juga dapat dikerjakan bila terjadi perubahan status klinis penderita dan secara rutin 12 -24 jam setelah trauma bila dijumpai gambaran kontusio atau hematom pada CT scan awal. 15 .

BAB V PENATALAKSANAAN V. namun masih dapat menuruti perintah GCS 9-13 16 .I Penatalaksanaan cidera otak ringan Penatalaksanaan cidera kepala ringan Observasi atau dirawat di RS CT scan tidak ada CT scan abnormal Semua luka tembus Riwayat hilang kesadaran Kesadaran menurun Sakit kepala sedang-berat Intoksikasi alkohol atau obat-obatan Kebocoran liquor Tidak ada keluarga di rumah GCS < 15 Defisit neurologis fokal Dipulangkan dari RS Tidak menenuhi kriteria rawat Penatalaksanaan cidera otak sedang Definisi : penderita tampak kebingungan atau mengantuk.

antikonvulsan V.Respon motorik .Respon verbal .II Penatalaksanaan non operatif A.Pemeriksaan awal : DL CT scan Observasi Pemeriksaan neurologis periodik¶CT scan ulang bila kondisi pasien memburuk Setelah dirawat : Penatalaksanaan awal cidera otak berat Definisi : penderita tidak mampu melakukan perintah sederhana Kesadaran menurun GCS 3-8 Pemeriksaan : ABCDE Primary survey dan resusitasi Secondary survey Re evaluasi neurologis . Primary survey dan resusitasi 17 .hiperventilasi sedang (PCO2 < 35 mmHg) .Reflek cahaya pupil Obat-obatan .Respon buka mata .manitol .

Pemberian cairan untuk mengganti 18 . Tanda awal dari he rniasi lobus temporal (unkus) adalah dilatasi pupil dan hilangnya refleks pupil terhadap cahaya. a. Pada volume yang hilang. b. 1. Airway dan Breathing Terhentinya pernafasan sementara sering terjadi pada cidera otak dan dapat mengakibatkan gangguan sekunder.Cidera otak sering diperburuk akibat cidera otak sekunder. Cairan stabilisasi untuk mencapai euvolemia. Sirkulasi Hipotensi biasanya disebabkan oleh cidera otak itu sendiri kecuali pada stadium terminal dimana medula oblongata sudah mengalami penderita dengan hipotensi harus segera dilakukan gangguan. agar penderita tetap dalam keadaan normovolemi. Cairan intravena Bertujuan untuk resusitasi. Prinsip dasarnya adalah bila sel saraf diberikan suasana yang optimal untuk pemulihan. Penderita cidera otak berat dengan hipotensi mempunyai mortalitas 2 kali lebih banyak dibanding penderita tanpa hipotensi. Dilakukan ventilasi dengan oksigen 100%. Intubasi endotrakeal d ini harus segera dilakukan pada penderita koma. Perdarahan intrakranial tidak dapat menyebabkan syok hemoragik. C. B. maka diharapkan dapat berfungsi normal kembali. Penggunaan cairan yang mengandung glukosa dapat menyebabkan hiperglikemi yang berakibat buruk pada cidera otak. Secondary Survey Pemeriksaan neurologis serial harus selalu dilakuakn untuk deteksi dini adanya gangguan neurologis. Terapi medikamentosa Tujuan utama perawatan intensif adalah untuk mencegah terjadinya kerusakan sekunder terhadap otak yang telah mengalami cidera.

Dengan cara ini. Manitol menurunkan tekanan atau volume cairan cerebrospinal dengan cara meninggikan tekanan osmotik plasma. 2. Namun barbiturat ini tidak dianjurkan pada fase akut resusitasi. 4. Indikasi karena pemakaian manitol adalah deteriosasi neurologis yang akut. hemiparesis atau kehilangan kesadaran.5 mg/kgBB secara intravena. Hiperventilasi Hiperventilasi dilakukan dengan menurunkan PCO2 dan akan menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah otak. Untuk dosis awal adalah 1g secara intravena dengan kecepatan pemberian 50mg/menit. 5.yang dianjurkan untuk resusitasi adalah larutan garam fisiologi yaitu Ringer¶s Laktat. 19 . Antikonvulsan Epilepsi pasca trauma terjadi 5% dengan cidera otak tertutup dan 15% pada cidera kepala berat. air dari cairan otak akan berdifusi kembali ke plasma dan ke dalam ruangan ekstrasel. Dosis yang adalah 0. Fenitoin bermanfaat untuk mengurangi terjadinya kejang dalam minggu pertama. Hiperventilasi dalam waktu singkat (PCO2 antara 25-30 mmHg). sepertiterjadinya dilatasi pupil. Hiperventilasi yang berlangsung terlalu lama dan agresif dapat menyebabkan iskemia otak akibat terjadinya vasokontriksi serebri berat sehingga menimbulkan gangguan perfusi otak. Dosis pemeliharaan biasanya 100mg/8 jam. Barbiturat Bermanfaat untuk menurunkan TIK yang refrakter terhadap obatobat lain. Dosis yang dipakai 1g/kgBB diberikan secara bolus intravena. Pada pasien dengan kejam lama. Manitol Manitol digunakan untuk menurunkan TIK yang meningkat. 6. 3. PCO2 dipertahankan pada 35 mmHg atau lebuh. Pemberiannya bersamaan dengan manitol karena mempunyai efek sinergis dan memperpanjang efek osmotik serum manitol. Furosemid atau Lasix Obat ini diberikan bersama manitol untuk menurunkan TIK.3-0.

Debridement yang tidak adekuat akan menyebabkan infeksi luka kepala. Luka kulit kepala Hal melakukan yang terpenting adalah membersihkan luka sebelum penjahitan.III Penatalaksanaan Operatif 1. Lesi massa intrakranial Dilakukan kraniotomi dan atau burrhole. 2.Bone flapdidapatdenganmengeborempattitikpadakraniumdanmembuatgaris linear yang menghubungkanempattitiktersebutsehinggaterbentuk bone flap. Secarasementar amembuatbone flapdandisingkirkandarikepalasupayabisadilakukanpengeluarandaribekuan darah SDH atau EDH. VII. Burrhole pada kranium untuk eksplorasi atau evakuasi hematom (SDH kronis atau higroma) VII. Fraktur impresi tengkorak Fraktur depresi yang tidak signifikan dapat ditolong dengan menutup kulit kepala yang laserasi. 3. Perdarahan dari luka kulit kepala dapat diatasi dengan penekanan. Kraniotomi biasanya dimaksudkan suatu tindakan yang lebi besar daripada sekedar membuat lubang bor. Kraniotomi atau Trepanasi Trepanasi / kraniotomiadalahsuatutindakanmembukatulangkepala yang bertujuanmencapaiotakuntuktindakanpembedahandefinitif. Inspeksi. apakah ada fraktur tengkorak atau benda asing.pemberian diazepam atau lorazepam sebagai tambahan fenitoin sampai kejang berhenti. Jahit. Karena dapat menyebabkan cidera otak sekunder. pasang klips atau staples.IV Tehnik Operasi 1. kauterisasi atau ligasi pembuluh darah besar. 20 .

21 . Burrhole Tindakan pembedahan yang ditujukan langsung pada tempat lesi atau tempat adanya bekuan darah EDH dan mengeluarkan bekuan darah tersebut dengan hanya membuat satu lubang pada tempat lesi.2.

1997. Williams. Lindsay and friends. page 214233. edisi 7 4. Hodder Arnold. 2004. R.DAFTAR PUSTAKA 1. Great Britain. Updated: http://emedicine. Norman S. Neurology and Neurosurgery Illustrated. Buku-Ajar Ilmu Bedah.com/article/337782Feb 22. Kenneth W. Section IVlocalised Neurological Disease and Itsmanagement A Intracranial ³HEAD INJURY´. Syamsuhidayat. ATLS.-2. Brain Contusion Imaging. Third Edition. advanced trauma life support. de Jong. Bailey and Love¶s Short Practice of Surgery. Emedicinie. 2004 22 . 3. 5. Jakarta: EGC. Ed. 2010. Denise L Morales.medscape. Wim. 2. Churcil Livingston.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful