BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Dalam proses perancangan suatu sistem memerlukan tahapan yang disebut

pemodelan. Pemodelan berasal dari model yang dalam

istilah teknologi berarti

“reprentasi suatu masalah dalam bentuk yang lebih sederhana sehingga lebih jelas dan mudah dikerjakan”. Sedangkan pemodelan adalah proses penerjemahan keadaan fisik kedalam bahasa matematis. Bagian yang paling sulit dari analisis sebuah produk atau desain adalah pembuatan suatu model yang realistik. Friction Stir Welding (FSW) merupakan proses pengelasan baru yang dipromosikan dengan sedikit biaya dan kualitas sambungan yang baik. Hal itu dikarenakan pengelasan tidak membutuhkan logam pengisi dan bisa menghilangkan sedikit cacat retak dan porositas. Prinsip FSW menggunakan tools yang berotasi dan bergerak melintas sehingga material terjadi penempaan pada pusat lasan menjadi lebur. Kemungkinan terjadinya distribusi dan konsentrasi tegangan pada unit tool friction stir welding cukup besar. Keadaan ini terjadi dikarenakan pada saat proses pengadukan unit tool friction stir welding menerima gaya gesek dan tekan yang besar. Manthan Malde (2006), menerapkan model termomekanis pada proses pengelasan friction stir welding, dan mempelajari model pendekatan optimasi berbasis pengganti untuk mendapatkan parameter proses yang optimal untuk memodelkan proses pengelasan friction stir welding. Sofware yang digunakan dalam pemodelan ini adalah ANSYS. Model yang dikembangkan kemudian digunakan untuk melakukan studi parametrik untuk mengetahui pengaruh berbagai input parameter seperti total tingkat input panas, kecepatan pengelasan dan lokasi klem pada distribusi temperatur dan tegangan sisa dalam benda yang dikerjakan. Dengan data dari model simulasi, model linier dan nonlinier pengganti dibangun dengan menggunakan analisis regresi untuk mengaitkan parameter proses input yang dipilih dengan variabel respon. Model optimasi constrained dirumuskan menggunakan 1

2

model pengganti dan optimalisasi parameter proses untuk meminimalkan biaya dan memaksimalkan throughput dilakukan dengan menggunakan algoritma pencarian harmoni ditingkatkan. Analisis tegangan regangan digunakan untuk mengetahui kemampuan material menerima pembebanan secara statis pada tool yang digunakan untuk pengelasan friction stir welding. Pengunaan software yang digunakan untuk analisis tegangan regangan statis sangat memudahkan analisis dan mengurangi kesalahan perhitungan. Salah satu software yang digunakan dalam tegangan regangan adalah CATIA, karena CATIA merupakan alat bantu yang memiliki banyak fungsi pada CAD, CAM, dan CAE dipadu dengan model analisis rancang bangun yang handal “Integrated Design And Analysis”. CATIA memiliki keistimewaan sebagai salah satu sistem gambar 2 dimensi dan 3 dimensi.yang konsisten mulai dari user interface, data management, data base, model yang sangat komplit dan program aplikasi interface. Secara khusus pada CATIA Finite Modeler mempunyai kemampuan dan kegunaan dalam pre processor 3D finite element serta membangun suatu model lengkap dengan mendiskripsikan fisik dan sifat material, kondisi batas, dan beban. Finite Element Modeler dapat secara cepat dan tepat dalam mendefinisikan dan merubah mesh (Taufiq, 2008 : 37).

1.2

Perumusan Masalah Permasalahan utama yang penting dikaji dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana menentukan pemilihan material untuk pembuatan tool pada penyambungan friction stir welding. 2. Bagaimana membuat simulasi menggunakan CATIA untuk pemodelan tool friction stir welding. 3. Bagaimana cara untuk mengetahui tegangan regangan dan beban kritis.

1.3

Batasan Masalah Untuk mencapai tujuan dan agar dalam penulisan skripsi ini lebih terarah,

maka diperlukan adanya batasan masalah sebagai berikut:

Mengetahui cara membuat simulasi menggunakan CATIA untuk pemodelan tool friction stir welding. Mengetahui pemilihan material untuk pembuatan tool pada penyambungan friction stir welding.4 Tujuan Dalam melakukan penelitian ini ada beberapa tujuan yang dapat dirumuskan dan yang ingin dicapai. 1. Produk yang dirancang dipergunakan untuk pengelasan friction stir welding.3 1. 2. 2. 3. Objek penelitian adalah tool friction stir welding. Analisis dan simulasi menggunakan program software CATIA. yaitu: 1. Mengetahui analisis tegangan regangan dan beban kritis. . 3.

Pin yang digunakan pada pengelasan friction stir welding harus mempunyai titik cair dan kekerasan yang lebih dibandingkan dengan material kerja. Hal ini bertujuan untuk menjaga masukan panas yang konstan sepanjang pengelasan.4 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2. Pengelasan dengan menggunakan metode FSW biasa digunakan untuk menyambungkan material yang sama (similar metal) ataupun material yang tidak sama (dissimilar metal) seperti baja dengan baja tahan karat. Pengelasan dengan menggunakan metode FSW bisa digunakan untuk menyambungkan material yang sama (similar metal) ataupun material yang tidak sama (dissimilar metal) seperti baja dengan baja tahan karat. Pin yang digunakan pada pengelasan friction stir welding harus mempunyai titik cair dan kekerasan yang lebih dibandingkan dengan material kerja. Gesekan antara kedua benda tersebut menimbulkan panas sampai ±80% dari tititk cair material kerja dan selanjutnya pin ditekankan dan ditarik searah daerah yang akan dilas. Putaran dari pin bisa searah jarum jam atau berlawanan dengan arah jarum jam. Panas yang digunakan untuk mencairkan logam kerja dihasilkan dari gesekan antara benda yang berputar (pin) dengan benda yang diam (benda kerja). FSW (friction stir welding) adalah sebuah metode pengelasan yang termasuk pengelasan gesek. Parameter pengelasan yang dilakukan harus disesuaikan sedemikian rupa.1 Friction Stir Welding (FSW) Jarot Wijayanto dan Aghda Anelis (2010). sehingga hasil lasan bisa baik. sehingga hasil pengelasan baik. alumunium dengan kuningan dan memungkinkan untuk mengelas kombinasi material lain yang tidak dapat di las dengan menggunakan metode pengelasan yang lain. Pin berputar dengan kecepatan konstan disentuhkan ke material kerja yang telah dicekam. sehingga pengurangan volume dari pin ketika terjadi gesekan dengan material kerja bisa diperkecil. . alumunium dengan kuningan dan memungkinkan untuk mengelas kombinasi material lain yang tidak dapat di las dengan menggunakan metode pengelasan yang lain. yang pada prosesnya tidak memerlukan bahan penambah atau pengisi.

sehingga pengurangan volume dari pin ketika terjadi gesekan dengan material kerja bisa diperkecil. Gerakkan tool ditunjukkan pada Gambar 2. Pada proses friction stir welding. Prinsip Friction Stir Welding yang ditunjukkan pada Gambar 2.2 Kedua parameter ini harus .5 Parameter pengelasan yang dilakukan harus disesuaikan sedemikian rupa.1 dengan gesekan dua benda yang terus-menerus akan menghasilkan panas. Gambar 2.1. mengakibatkan pemanasan setempat yang mampu melunakkan bagian tersebut. Hal ini bertujuan untuk menjaga masukan panas yang konstan sepanjang pengelasan. Prinsip friction stir welding 2.2 Rotasi Tool dan Kecepatan Melintang Ada dua kecepatan alat yang harus diperhitungkan dalam pengelasan ini yaitu seberapa cepat tool itu berputar dan seberapa cepat tool itu melintasi jalur pengelasan (joint line). Gesekan tool yang berbentuk silindris (cylindrical-shoulder) yang dilengkapi pin/probe dengan material. Tool bergerak pada kecepatan tetap (parameter1) dan bergerak melintang (parameter 2) pada jalur pengelasan (joint line) dari material yang akan disatukan. sebuah tool yang berputar di tekankan pada material yang akan disatukan. ini menjadi suatu prinsip dasar terciptanya suatu proses pengelasan gesek.

input panas harus cukup tinggi tetapi tidak terlalu tinggi untuk menjamin plastisitas material serta untuk mencegah timbulnya sifat-sifat las yang merugikan. Plunge depth yang dangkal dapat mengakibatkan cacat dalam lasan. Hubungan antara kecepatan pengelasan dan input panas selama proses pengelasan sangat kompleks. Gambar 2. Plunge depth perlu diatur dengan baik untuk menjamin tekanan ke bawah tercapai.6 ditentukan secara cermat untuk memastikan proses pengelasan yang efisien dan hasil yang memuaskan. tetapi umumnya dapat dikatakan bahwa meningkatnya kecepatan rotasi dan berkurangnya kecepatan melintas akan mengakibatkan titik las lebih panas. Oleh sebab itu dalam menentukan parameter harus benar-benar cermat.3 Kedalaman Ceburan Kedalaman ceburan (plunge depth) didefinisikan sebagai kedalaman titik terendah probe di bawah permukaan material yang dilas dan telah diketahui sebagai parameter kritis yang menjamin kualitas lasan. Gerakan tool 2. Tetapi input panas yang terlalu tingi akan merugikan sifat akhir lasan karena perubahan karakteristik logam dasar material. sebaliknya .2. Jika material tidak cukup panas maka arus pelunakan tidak akan optimal sehingga dimungkinkan akan terjadi cacat rongga atau cacat lain pada stir zone. dan kemungkinan tool akan rusak. dan memastikan tool penuh menembus lasan.

agar ketika proses pengelasan berlangsung material tool ikut tercampur dengan lasan. Oleh sebab itu diharapkan material tool cukup kuat. Sebagai pelindung dari kemungkinan masuknya suatu material berbeda. Proses ini bertujuan untuk mamadatkan material sehingga penguatan sambungan terjadi akibat efek tempa tersebut. keras dan liat. Rancangan tool adalah faktor yang sangat mempengaruhi kualitas hasil lasan.4 Rancangan Tool Jarot Wijayanto dan Aghda Anelis (2010). Material tool harus memiliki titik cair yang lebih tinggi dari material las.7 plunge depth yang berlebihan bisa mengakibatkan kerusakan pin karena berinteraksi dengan alasnya. Panas yang dihasilkan dari gesekan tool dan material yang akan dilas sekitar 70 – 80% dari temperatur titik lebur material yang akan dilas tersebut. Shoulder memiliki beberapa fungsi antara lain: 1. Tekanan shoulder diharapkan untuk menjaga material lunak tidak keluar jalur dan memberi efek tempa (forging). 2. pada suhu pengelasan. karena rancangan tool yang tepat dapat meningkatkan kualitas las dan kecepatan las semaksimal mungkin. . Sebaiknya material yang digunakan juga mempunyai ketahanan oksida yang baik dan penghantar panas rendah untuk mengurangi kerugian panas dan kerusakan termal pada mesin. Material panas di tekan dari atas oleh shoulder dan di tahan oleh alas dari bawah. Desain tool terdiri dari shoulder dan pin. Material tool harus mempunyai kekuatan yang cukup pada temperatur ini karena jika tidak maka tool dapat terpuntir dan retak. 2. Shoulder yang berdiameter lebih besar. Pin berfungsi untuk menghasilkan panas dan menggerakan material yang sedang dilas. Selain itu tekanan shoulder juga menghasilkan input panas tambahan karena permukaannya yang lebih besar bergesekan dengan material. berperan untuk mempertahankan dan menjaga agar material plasticised tidak keluar dari daerah las.

8 3. Shoulder memberi tekanan ke bawah yang memberi efek tempa pada lasan. . Shoulder Pin Gambar 2. 4.4 Klasifikasi Baja Tahan Karat (Stainless Steel) Stainless Steel (SS) adalah paduan besi dengan minimal 12 % kromium. Tentunya harus dibedakan mekanisme protective layer ini dibandingkan baja yang dilindungi dengan coating (misal seng dan cadmium) atau pun cat. Meskipun seluruh kategori Stainless Steel didasarkan pada kandungan krom (Cr). Kategori Stainless Steel tidak hanya seperti baja lain yang didasarkan pada persentase karbon tetapi didasarkan pada struktur metalurginya.3. karena luas permukaan yang bergesekan dengan material las lebih besar maka panas yang dihasilkan juga lebih besar. namun unsur paduan lainnya ditambahkan untuk memperbaiki sifat-sifat Stainless Steel sesuai aplikasinya. Komposisi ini membentuk protective layer (lapisan pelindung anti korosi) yang merupakan hasil oksidasi oksigen terhadap krom yang terjadi secara spontan. Shoulder juga menyediakan input panas tambahan. Rancangan tool 2.

Ferritic Stainless Steel Kadar Chrom bervariasi antara 10. produk. Molybdenum (Mo). Austenitic Stainless Steel Austenitic Stainless Steel mengandung sedikitnya 16% Chrom dan 6% Nickel (grade standar untuk 304). 2.9 1. sampai ke grade Super Autenitic Stainless Steel seperti 904L (dengan kadar Chrom dan Nickel lebih tinggi serta unsur tambahan Mo sampai 6%).18 % seperti grade 430 dan 409. komponen dan sebagainya. Grade Stainless Steel lain misalnya 17-4PH/ 630 memiliki tensile strength tertinggi dibanding Stainless Steel lainnya.5 . . jika dibutuhkan kekuatan yang lebih tinggi maka dapat dihardening. Ketahanan korosi tidak begitu istimewa dan relatif lebih sulit di fabrikasi/machining. Austenitic cocok juga untuk aplikasi temperature rendah disebabkan unsur Nickel membuat Stainless Steel tidak menjadi rapuh pada temperatur rendah. Martensitic Stainless Steel Stainless Steel jenis ini memiliki unsur utama Chrom (masih lebih sedikit jika dibanding Ferritic Stainless Steel) dan kadar karbon relatif tinggi misal grade 410 dan 416. Titanium (Ti) atau Copper (Co) berfungsi untuk meningkatkan ketahanan terhadap temperatur serta korosi. 3. Membangun model dari sebuah struktur. Tetapi kekurangan ini telah diperbaiki pada grade 434 dan 444 dan secara khusus pada grade 3Cr12. Kelebihan dari grade ini. Grade 431 memiliki Chrom sampai16% tetapi mikro strukturnya masih martensitic disebabkan hanya memiliki Nickel 2%. 2.5 CATIA (Computer Aided Three Dimensional Interactive Application ) CATIA V5R14 merupakan suatu perangkat lunak (software) analisa berbasiskan metode elemen hingga yang memungkinkan seorang engineer untuk melakukan tugas sebagai berikut: 1.

3. 4. 5. perintah dan dokumentasi yang disediakan program CATIA V5R14. CATIA V5R14 menawarkan berbagai macam aplikasi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan analisa pada displin ilmu yang berbeda. Mempelajari respon fisik sebagai akibat pembebanan pada model seperti tingkat tegangan (stress level). CATIA V5R14 yang bekerja dalam lingkuangan windows memiliki Graphical User Interface (GUI) yang cukup untuk memudahkan pengguna (user) dalam mengakses berbagai macam fungsi.5. 4. distribusi temperatur. 2. antara lain: 1. 6. Dalam memasukkan data.1 Tahapan analisa menggunakan software catia V5R14 Secara garis besar tahapan analisa perancangan yang ditujukan untuk menyelesaikan perancangan tool friction stir welding adalah menganalisa tegangan yang terjadi pada tool friction stir welding saat dilakukan pembebanan.10 2. Mengoptimalkan desain awal model dalam usaha untuk memperbaiki unjuk kerja (performace) model dan atau untuk mengurai biaya produksi. Mechanical design Shape Analysis and simulation AEC Plant NC manufacturing Ergonomic design and analysis dan lain-lain 2. 3. 7. pengguna dapat menggunakan mouse atau keyboard. . Mengaplikasikan beban operasional dengan kondisi parameter pada model yang dibangun. tingkat resiko cedera dan sebagainya.

Komponen tegangan pada sudut yang tegak lurus pada bidang di tempat bekerjanya gaya disebut tegangan langsung dan merupakan tegangan tarik (positif)....2 Ghz VGA 64 MB Hardisk 5 GB CDROM 48X Monitor 14 inchi Operating system windows 2000 dengan service pack 3 2. 2. Tegangan dibedakan menjadi dua jenis.. atau tegangan tekan (negatif)............. Bila gaya internal sejajar dengan bidang yang diamati didapat tegangan tangensial atau geser. 4........... Tegangan dirumuskan dengan:   dimana: F (1) A . yaitu: 1.6 Tegangan dan Regangan Tegangan adalah ukuran intensitas pembebanan yang dinyatakan oleh gaya yang dibagi oleh luas di tempat gaya tersebut bekerja. 6. A Ada dua macam regangan...2 Kebutuhan Minimum Untuk menjalankan program CATIA V5R14 dengan baik pada suatu komputer ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh komputer tersebut.5.. 3..... Bahan dapat membesar dan mengecil menghasilkan ........... Memory 500MB DDRAM Processor Pentium 2..... dan sesuai dengan arah gaya.11 2..... Dapat bersifat tarik atau mampat... 7.......... Bila gaya internal tegak lurus pada bidang yang diamati maka didapat tegangan normal atau langsung..... 5....  F = Tegangan (N/m2) = Gaya (N) = Luas penampang (m2) Perubahan bentuk benda yang terjadi pada keadaan tegang disebut regangan......

....7 Moment Puntir Moment puntir merupakan suatu pemuntiran sebuah batang yang diakibatkan oleh kopel-kopel (couples) yang menghasilkan perputaran terhadap sumbu longitudinalnya... Teori kegagalan dibedakan menurut jenis material yang digunakan. Patah (fracture). ..... untuk material getas (brittle) biasanya menggunakan Maximum Normal Stress Criterion dan Mohr’s Criterion.. sedangkan untuk material ulet biasanya menggunakan Maximum .. Distorsi atau deformasi plastik.. Dimana: T P N = Torsi (moment puntir) = Daya = Putaran (2) 2.8 Teori Kegagalan (Theories of Failure) Kegagalan (failure) dari suatu elemen mesin yang menerima pembebanan.... Untuk tipe kegagalan ini dipergunakan batas harga tegangan maksimum yang dijinkan pada material...... 2. Kegagalan ini menyatakan bahwa bila material tersebut sudah mengalami deformasi plastik karena sudah melewati suatu harga tertentu......12 regangan normal atau lapisan-lapisan bahan dapat bergeser yang satu terhadap yang lainnya dapat menghasilakan regangan geser. Kegagalan ini menyatakan bahwa material tersebut sudah patah atau terpisah menjadi dua bagian... Oleh karena itu perlu diberikan kriteria-kriteria kapan logam tersebut dapat dikatakan gagal. dinyatakan apabila elemen tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan yang direncanakan. Untuk teori ini terdapat dua kriteria kegagalan yaitu: 1............ 2....

Teori ini (3) memprediksi bahwa kegagalan tidak terjadi oleh tegangan hidrostatik murni. Teori tersebut dapat dirumuskan pada persamaan dibawah ini: ………….1 Teori Kegagalan Tegangan Geser Maksimum (Maximum Shear Theory Criterion ) Diusulkan pertama kali oleh C. Teori ini khusus untuk material yang ulet dengan dasar bahwa kegagalan terjadi bila tegangan geser maksimum yang terjadi. kemudian disempurnakan oleh Tresca (1864) sehingga sering disebut teori kegagalan Tresca.6. 2.13 Shearing Stress Criterion (Tresca Criterion) dan Maximum Distortion Energi Criterion (Von Mises Criterion). .4 menunjukkan kondisi tegangan dengan metode grafis lingkaran Mohr. A Coulomb (1736 -1806). melewati harga tegangan geser yang diijinkan pada material. Dapat dicatat disini bahwa batas-batas dari semua lingkaran Mohr principal tidak menunjukkan kegagalan pada garis horizontal ataupun ....……… dimana: = tegangan geser maksimum = tegangan yield geser material = taktor keamanan Gambat 2.

. Lingkaran Mohr principal sebagai dasar teori kegagalan BAB 3. METODE PENELITIAN tegangan geser maksimum.14 Gambar 2.4.

pengerjaan penelitian.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Pemesinan Teknik Mesin Universitas Jember pada bulan Agustus 2011 – Januari 2012. Untuk sifat-sifat mekanis dari material tool friction stir welding yang akan digunakan dapat dilihat pada tabel 3. 2.1 Gambar 3.2 Bahan 1.15 BAB 3. 3.2 Alat dan Benda Kerja 3. 3.1 di bawah ini. . Stainless Steel 310 dengan spesifikasi seperti pada Gambar 3. METODELOGI PENELITIAN 3.2.1 Spesifikasi tool Penulis menggunakan bahan ini dikarenakan bahan mudah didapatkan di daerah Jawa Timur. pengumpulan data dan pengolahan data.2.1 Alat Percobaan Software CATIA. Meliputi persiapan penelitian.

05e+08 Poison Ratio Density (Kg/m3) Thermal Expansion Yield strenght (N/m2) www. Membaca dan mengolah hasil (read result). 5.3 Metode Perancangan Secara garis besar tahapan perancangan yang ditujukan untuk menyelesaikan perancangan rangka tool friction stir welding adalah sebagai berikut: a. perancangan tool friction stir welding divisualisasikan dalam bentuk gambar 2D dan 3D beserta dimensi dari konsep terpilih.efunda.1 Properties of material Young Bahan Mudulus (N/m2) Stainless steel AISI type 310 2.29 8000 1. 7.00e+11 0. Membuat spesimen tool friction stir welding dengan menggunakan software CATIA.com 3. 3. Menentukan pemetaan untuk model pendekatan (meshing).59e-05 2. Analisis Kekuatan Material . Memutuskan kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian. Berikut tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian: 1. Gambar Teknik Pada tahapan ini. b.16 Tabel 3. Pada penelitian ini juga akan disimulasikan distribusi gaya dan moment puntir dengan menggunakan perangkat lunak CATIA. 2. Memberikan beban (define load). 4. Menganalisis tegangan yang terjadi pada bagian tool friction stir welding. Memasukan dimensi dan spesifikasi bahan. 6.

Melakukan uji struktur rangka tool friction stir welding dengan bantuan software CATIA. Pengumpulan data. 4.4 Prosedur Penelitian Adapun langkah-langkah yang diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. 2. Analisa struktur rangka tool friction stir welding dengan bantuan software CATIA untuk pembebanan statis. Gambar teknik. Menyimpulkan hasil penelitian. 3. 3. .17 Menentukan posisi tegangan terbesar dimana pada posisi ini akan terjadi awal kerusakan/kegagalan.

18 3.5 Diagram Alir Penelitian Tahapan kerja dalam penelitian dilakukan sesuai dengan flowchart di bawah ini: Start Studi Literatur Gambar Teknik Simulasi Pembahasan Kesimpulan Selesai .

19 3.6 Jadwal Kegiatan Penelitian Jenis kegiatan Studi Literatur Pengajuan Judul Penyusunan Proposal Seminar Proposal Persiapan penelitian Pengerjaan Penelitian Pengumpulan data Pengolahan Data Konsultasi Hasil Seminar Hasil Ujian Skripsi Agustus September 4 1 Oktober 2 3 4 November 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 .

Manthan (2006). Taufiq (2008). Friction Stir Welds (FSW) of Aluminium Alloy AW6082-T6. Thermomechanical Modeling And Optimization Of Friction Stir Welding.1. www. 2010.20 DAFTAR PUSTAKA Adamowski. J. Jarot & Agdha Anelis (2010). Nugroho.1997.2January-February. “Properties of Material”.efunda. Pradya Paramitha .com. Klasifikasi Stainless Steel. . 20. Jakarta. Pancangan Alat Bantu Jalan (kruk) yang Praktis dan Ergonomis dengan Menggunakan Software CATIA. Dipo (2006)..PT. Vol. Sularso. & Szkodo. Elemen Mesin Jilid 3. [online]. 2006. Journals of Achievements in Materials and Manufacturing Engineering. [12 Desember 2010] Fitriadi. Wijayanto. Pengaruh Feed Rate terhadap Sifat Mekanik pada Pengelasan Friction Stir Welding Alumunium 6110. Malde. Efunda corp. M.2007. Kiyokatsu Suga. ISSUES.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.