LAPORAN PENDAHULUAN POST DEBRIDEMENT COMBUSTIO GRADE II (32%

)

A. KONSEP LUKA BAKAR 1. Pengertian Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan oleh energi panas atau bahan kimia atau benda-benda fisik yang menghasilkan efek baik memanaskan atau mendinginkan (Irna Bedah RSUD Dr. Soetomo, 2011) Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam. Luka bakar merupakan luka yang unik diantara bentuk-bentuk luka lainnya karena luka tersebut meliputi sejumlah besar jaringan mati (eskar) yang tetap berada pada tempatnya untuk jangka waktu yang lama. (Smeltzer and Bare, 2009) Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis normal akibat proses patologis yang berasal dari internal maupun eksternal dan mengenai organ tertentu. (Potter & Perry, 2006).

2. Etiologi Penyebab luka bakar menurut Padila (2012) adalah : a. Luka bakar suhu tinggi (Thermal Burn) Gas Cairan bahan padat (solid)

b. Luka bakar bahan kimia (Hemical Burn) c. Luka bakar sengatan listrik (Electrical Burn) d. Luka bakar radiasi (Radiasi injury)

3. Fase luka bakar a. Fase Darurat/Resusitasi atau fase akut Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Secara umum pada fase awal ini penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething

(mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gangguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut. Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik. Problema sirkulasi yang berawal dengan kondisi syok (terjadinya ketidakseimbangan antara pasokan O2 dan tingkat kebutuhan respirasi sel dan jaringan) yang bersifat hipodinamik dapat berlanjut dengan keadaan hiperdinamik yang masih ditingkahi dengan problema instabilitas sirkulasi. b. Fase Sub-akut Atau Intermediat Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan: 1. Proses inflamasi dan infeksi. 2. Problem penutupan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ – organ fungsional. 3. Keadaan hipermetabolisme. c. Fase Rehabilitasi Pada Perawatan Luka Bakar Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, kleoid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.

4. Manifestasi klinis Manifestasi klinis dari luka bakar atau combustio dapat dilhat berdasarkan kalisifikasinya berdasarkan kedalaman luka bakar. Klasifikasi luka bakar sendiri dapat dilihat dari kedalaman luka bakar, luas luka bakar serta berat ringannya luka bakar. a. Kedalaman luka bakar 1) Derajat I (Luka bakar superfisial)

seperti sel epitel basal. (Mansjoer. Folikel rambut dan kelenjar keringat turut hancur. coklat dan hitam. (Mansjoer. Warna luka bakar sangat bervariasi mulai dari warna putih hingga merah. dan folikel rambut. yaitu Rule Of Nines dari Wallace yaitu : 1) Kepala dan leher 2) Lengan masing-masing 9% 3) Badan depan 18%. 2002) 2) Derajat II (Luka bakar dermis) Mencapai kedalaman dermis tetapi masih ada elemen epitel yang tersisa. kelenjar keringat. karena adanya iritasi ujung saraf sensorik.Epidemis mengalami kerusakan atau cedera dan sebagian dermis turut cedera. luka derajat ini tampak lebih pucat dan lebih nyeri dibandingkan luka bakar superficial. badan belakang 18% 4) Tungkai maisng-masing 18% 5) Genetalia/perineum Total : 9% : 18% : 36% : 36% : 1% : 100%. Dengan adanya sisa sel epitel yang sehat ini. Juga timbul bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena permeabilitas dindingnya meninggi. 2000) . Luas Luka Bakar Penentuan derajat luka bakar untuk dewasa dan anak ada sistem yang biasa digunakan. luka dapat sembuh sendiri dalam 1021 hari. kelenjar sebasea. tampak merah dan kering seperti luka bakar matahari. atau mengalami lepuh/bullae dan akan sembuh tanpa jaringan parut dalam waktu 5-7 hari. Meliputi seluruh kedalaman kulit. Daerah yang terbakar tidak terasa nyeri karena serabut-serabut sarafnya hancur. Luka tersebut bisa terasa nyeri. Luka bakar tersebut tampak seperti bahan kulit. 3) Derajat III. 2000) b. Oleh karena kerusakan kapiler dan ujung saraf di dermis. (Smeltzer and Bare. mungkin subkutis atau organ yang lebih dalam.

kaki. 3) Anatomi lokasi luka bakar. atau fraktur Luka bakar akibat listrik 2) Sedang bila : Derajat 2 dengan luas 15-20 % Derajat 3 dengan luas kurang dari 10 %.c. atau terdapat dimuka. 6) Trauma yang menyertai atau bersamaan (Smeltzer and Bare. Berat ringannya luka bakar Untuk mengkaji beratnya luka bakar harus dipertimbangkan beberapa faktor antara lain : 1) Persentasi area (luasnya) luka bakar pada permukaan tubuh. dan tangan Luka bakar disertai trauma jalan napas atau jaringan lunak luas. kaki dan tangan 3) Ringan bila : Derajat 2 dengan luas kurang dari 15 % Derajat 3 dengan luas kurang dari 2 % 5. kemudian kebocoran cairan dan elektrolit dari kompartemen . kecuali muka. 2) Kedalaman luka bakar. 4) Umur klien. terjadi kenaikan nyata pada tekanan hidrostatik kapiler pada jaringan yang cedera disertai dengan peningkatan permeabilitas kapiler. Patofisiologi Seseorang yang menderita luka bakar luas akan mengalami suatu bentuk syok hipovelemik yang dikenal sebagai syok luka bakar. dalam daerah interstisial (mengakibatkan edema) dan luka bakar itu sendiri. Hal ini mengakibatkan perpindahan cepat cairan plasma dari kompartemen intravaskular menembus kapiler yang rusak karena panas. 5) Riwayat pengobatan yang lalu. Segera setelah cedera termal. Kehilangan plasma dan protein cairan mengakibatkan penurunan tekanan osmotik koloid pada kompartemen vaskuler. 2002) Berat ringannya Luka bakar menurut Mansjoer (2008) : 1) Berat/Kritis Derajat 2 dengan luas lebih dari 25 % Derajat 3 dengan luas lebih drai 10 %.

yang tediri atas natrium. Pada awal fase pascacedera. Respons patofisiologi setelah cedera luka bakar adalah bifase. Respons dari vaskuler pulmonal adalah seperti pada sirkulasi perifer. dengan luka bakar melebihi 60 % dari luas permukaan tubuh total (LPTT). Pada keadaan tertentu. Dengan pemulihan volume plasma selama peroide 24 jam kedua. edema tubuh merata. Sirkulasi yang melambat ini memungkinkan bakteri dan material seluler untuk menetap pada bagian yang lebih rendah dari pembuluh-pembuluh darah. hemokonsentrasi sel-sel darah merah. terjadi hipofungsi organ secara umum sebagai akibat dari penurunan curah jantung. dan protein plasma. Peningkatan tahanan vaskuler perifer (vasokonstriksi selektif). dan secara perlahan kembali ke tingkat yang lebih normal dengan ditutupnya luka bakar. mengkibatkan penurunan curah jantung lebih lanjut. Masalah koagulasi terjadi akibat pelepasan . curah jantung yang menurun tidak berespons terhadap resusitasi volume yang agresif. juga hemokonsentrasi sebagai akibat kehilangan cairan plasma. Reaksi antigen-antibodi terhadap jaringan yang terbakar menambah kongesti sirkulasi oleh penggumpalan dari sel. terutama pada kapiler-kapiler mengakibatkan pengendapan. Tahanan vaskuler perifer meningkat sebagai akibat respons stres neurohumoral setelah trauma.vaskuler berlanjut dan mengakibatkan pembentukan edema tambahan pada jaringan yang terbakar dan keseluruh tubuh. Juga terjadi penurunan tekanan oksigen dan komplains paru. dapat menyebabkan tekanan darah nampak normal pada awalnya. “Kebocoran” ini. Pengaruhnya mengenai semua sistem tubuh. maka akan segera terjadi syok hipovolemik Pada pasien yang mendapat resusitasi cairan yang adekuat. berkurangnya perfusi pada organ-organ besar. Hal ini meningkatkan afterload jantung. air. yaitu terjadi hipertensi pulmonal ringan dan sementara. diikuti dengan penurunan curah jantung. Kehilangan cairan di seluruh stadium intravaskuler tubuh mengakibatkan penebalan. curah jantung meningkat sampai tingkat hipermetabolik (fase hiperfungsi). curah jantung biasanya kembali normal pada bagian akhir dari periode 24 jam pertama setelah cedera luka bakar. bagaimanapun jika penggantian cairan tidak adekuat dan kehilangan protein plasma berlanjut. aliran yang tidak lancar dari sisa volume darah sirkulasi.

2002) 6. Foto rontgen dada : untuk memastikan cedera inhalasi f. EKG untuk mengetahui adanya iskemik miokard/disritmia pada luka bakar listrik. Fotografi luka bakar : memberikan catatan untuk penyembuhan luka bakar selanjutnya. Elektrolit serum : kalium meningkat karena cedera jaringan /kerusakan SDM dan penurunan fungsi ginjal. d. Pemeriksaan Diagnostik a. (Doenges. Pathway (terlampir) 7. l. Albumin serum dapat menurun karena kehilangan protein pada edema cairan. Alkalin fosfat : peningkatan sehubungan dengan perpindahan cairan interstitiil/ganguan pompa natrium. j. k. e. Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap. Peningkatan proses koagulasi akan berkembang menjaddi koagulasi intravaskuler diseminata. b. Natrium awalnya menurun pada kehilangan air c. Skan paru : untuk menentukan luasnya cedera inhalasi g. h. mereka akan menyebabkan iskemia dari bagian terkena dan mengarah nekrosis. Jika terjadi trombi. dan mioglobulin menunjukkan kerusakan jaringan dalam dan kehilangan protein. Urine : adanya albumin. i.trombosit oleh cedera itu sendiri dan peleapasan fibrinogen dari platelet yang cedera. Hitung darah lengkap : peningkatan Ht awal menunjukkan hemokonsentrasi sehubungan dengan perpindahan/kehilangan cairan. Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi. (Smeltzer and Bare. Hb. BUN dan kreatinin untuk mengetahui fungsi ginjal. 2002) .

. Bila penyebab luka bakar berupa bubuk. covering and comforting (contoh pengurang nyeri). Dengan membuang jaringan yang sudah mati. Cara ini efektif smapai dengan 3 jam setelah kejadian luka bakar yaitu : Kompres dengan air dingin (air sering diganti agar efektif tetap memberikan rasa dingin) sebagai analgesia (penghilang rasa nyeri) untuk luka yang terlokalisasi Jangan pergunakan es karena es menyebabkan pembuluh darah mengkerut (vasokonstriksi) sehingga justru akan memperberat derajat luka dan risiko hipotermia Untuk luka bakar karena zat kimia dan luka bakar di daerah mata. chemoprophylaxis. Cooling Dinginkan daerah yang terkena luka bakar dengan menggunakan air mengalir selama 20 menit. Tidak boleh diberikan pada wajah. dapat diberikan pada luka yang lebih dalam dari superficial partial. hindari hipotermia (penurunan suhu di bawah normal. Clothing Singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar. baru selanjutnya dilakukan pada fasilitas kesehatan. cooling. terutama pada anak dan orang tua).8. d. dapat diberikan kecuali pada luka bakar superfisial. Penatalaksanaan Medik Penatalaksanaan secara sistematik dapat dilakukan 6c : clothing. c. maka singkirkan terlebih dahulu dari kulit baru disiram air yang mengalir. Cleaning Pembersihan dilakukan dengan zat anastesi untuk mengurangi rasa sakit. Untuk pertolongan pertama dapat dilakukan langkah clothing dan cooling. proses penyembuhan akan lebih cepat dan risiko infeksi berkurang. a. Pemberian krim silver sulvadiazin untuk penanganan infeksi. b. cleaning. Bahan pakaian yang menempel dan tak dapat dilepaskan maka dibiarkan untuk sampai pada fase cleaning.thickness (dapat dilihat pada tabel 4 jadwal pemberian antitetanus). Chemoprophylaxis Pemberian anti tetanus. siram dengan air mengalir yang banyak selama 15 menit atau lebih.

minyak. suara serak. Bila kurang dari itu dapat diberikan cairan melalui mulut. Breathing dan Circulation) a. ibu menyususi dengan bayi kurang dari 2 bulan e. Luka bakar pada daerah orofaring dan leher membutuhkan tatalaksana intubasi (pemasangan pipa saluran napas ke dalam trakea/batang tenggorok) untuk menjaga jalan napas yang adekuat/tetap terbuka.riwayat alergi sulfa. Circulation Penilaian terhadap keadaan cairan harus dilakukan. f. Airway dan Breathing Perhatikan adanya stridor (mengorok).2mg/kg Selanjutnya pertolongan diarahkan untuk mengawasi tanda-tanda bahaya dari ABC (Airway.20-30mg/kg Morphine (IV-intra vena) 0. berupa : Paracetamol dan codein (PO-per oral). Dilakukan sesuai dengan derajat luka bakar. gagal napas. Comforting Dapat dilakukan pemberian pengurang rasa nyeri. Cairan merupakan komponen penting karena pada luka bakar terjadi kehilangan cairan baik melalui penguapan karena kulit yang berfungsi sebagai proteksi sudah rusak dan mekanisme dimana terjadi perembesan cairan dari pembuluh . dahak berwana jelaga (black sputum). Pemberian cairan intravena (melalui infus) diberikan bilaluas luka bakar >10%. b.1mg/kg diberikan dengan dosis titrasi bolus Morphine (I. Covering Penutupan luka bakar dengan kassa.M-intramuskular) 0. Jangan berikan mentega. perempuan hamil. bayi baru lahir. Pembalutan luka (yang dilakukan setelah pendinginan) bertujuan untuk mengurangi pengeluaran panas yang terjadi akibat hilangnya lapisan kulit akibat luka bakar. Intubasi dilakukan di fasilitas kesehatan yang lengkap. menghambat penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi. oli atau larutan lainnya. bulu hidung yang terbakar. Pastikan luas luka bakar untuk perhitungan pemberian cairan. bengkak pada wajah. Luka bakar superfisial tidak perlu ditutup dengan kasa atau bahan lainnya.

Sebenarnya respon individual pasien merupakan rumus. Jumlah cairan yang diberikan berdasarkan formula dari Parkland/Baxter yaitu dengan fomula : Larutan Ringer Laktat : 4 ml x kg BB x % luas luka bakar Hari I : Separuh diberikan dalam 8 jam pertama. Respons-pasien yang dibutuhkan berdasarkan frekuensi jantung tekanan darah dan haluaran urine-merupakan determinan primer terapi cairan yang actual dan harus dinilai sedikitnya setiap jam sekali. kecepatan . Ukuran tambahan untuk menentukan kebutuhan cairan dan respons pasien terhadap resusitasi cairan mencakup nilai hematokrit.darah ke jaringan sekitar pembuluh darah yang mengakibatkan timbulnya pembengkakan (edema). Kristaloid dengan dekstrosa (gula) di dalamnya dipertimbangkan untuk diberikan pada bayi dengan luka bakar. Bila hal ini terjadi dalam jumlah yang banyak dan tidak tergantikan maka volume cairan dalam pembuluh darah dapat berkurang dan mengakibatkan kekurangan cairan yang berat dan mengganggu fungsi organ-organ tubuh. separuh dalam 16 jam berikutnya. Ditambahkan koloid Dasar pemikiran bagi terapi penggantian ini bahwa dengan meningkatkan osmolalitas serum. frekuensi nadi yang kurang dari 110/menit.9%/ normal Saline). NaCl 0. Dilaporkan berkurangnya edema sistemik dan pulmoner sesudah pemberian larutan hipertonik. Parameter jauh lebih penting dalam resusitasi daripada rumus apapun. Tujuan Terapi Penggantian Cairan Volume total dan kecepatan pemberian cairan infuse diukur berdasarkan respons pasien luka bakar. hemoglobin dan kadar natrium serum. Hasil akhir pasien di perbaiki oleh resusitasi cairan yang optimal. cairan akan “ditarik” kembali kedalam ruang vaskuler dari ruang interstisial. Jika nilai hematokritt dan hemoglobinnya menurun atau bila haluaran urin lebih besar dari 50 ml/jam. Tujuan pemberian atau penggantian cairan adalah tekanan sistolik yang melebihi 100 mm Hg. Cairan infus yang diberikan adalah cairan kristaloid (ringer laktat. Hari II : Bervariasi. dan haluaran urin sebanyak 30 hingga 50 ml/jam. Catatan : rumus hanya merupakan panduan.

tidak berada di dekat sendi dan tidak menghalangi pembalutan maka dapat tidak perlu dipecahkan.1% lalu dengan salin. Tatalaksana luka bakar sebagian (partial thicknes) . Gelembung cairan yang besar dan yang meliputi daerah persendian harus dipecah dan dibersihkan. Tatalaksana luka bakar superfisial / dangkal .Pemeriksaan status tetanus pasien . Tatalaksana luka bakar minor . Gelembung cairan (blister) memiliki fungsi untuk proteksi dan mengurangi rasa sakit bila tetap dibiarkan utuh selama beberapa hari.Luka bakar deep partial thickness dilakukan penutupan dengan kasa yang tidak lengket dan diberikan antimikroba krim silverdiazin . .Dapat dibiarkan terbuka.Pemberian pengurang rasa nyeri harus adekuat. Tujuannya adalah untuk mempertahankan kadar natrium serum dalam batas-batas normal selama penggantian cairan.pemberian infuse dapat diturunkan.Dilakukan pembersihan luka dan sekelilingnya dengan salin (larutan yang mengandung garam-steril). Jika gelembung cairan kecil. Gelembung cairan yang berubah menjadi opak/keruh setelah beberapa hari menandakan proses infeksi sehingga perlu untuk dibuka dan dibalut. Cairan yang keluar dari luka bakar menentukan frekuensi penggantian balutan. Jika luka kotor dapat dibersihkan dengan clorhexidine 0. Pada bayi yang menunjukakan kecenderungan terbentuknya gelembung cairan atau penggarukan dapat ditutup perban untuk proteksi. Pada anak-anak dapat membutuhkan morfin sebelum penilaian luka bakar dan pembalutan awal.Pembalutan tertutup disarankan untuk luka bakar partial thickness. Pada luka bakar mengenai anggota gerak atas disarankan imobilisasi denga balut dan bidai .Luka bakar superfisial partial thickness dapat ditutup dengan kasa yang tidak menempel lalu dibalut atau di plester .

. Penggantian Balutan Dalam mengganti balutan. dan mulai untuk pemberian makanan antara 6-18 jam. dan mafenide asetat. Fase Akut atau Intermediet Perawatan Luka Bakar Pada fase akut ini dilakukan perawatan luka umum seperti : a. Balutan atau kasa yang menempel pada luka dapat dilepas tanpa menimbulkan sakit jika sebelumnya . atau menunjukkan tandatanda terinfeksi atau ternyata lebih dalam maka rujukan sebaiknya dilakukan. Hidroterapi merupakan media yang sangat baik untuk melatih ekstremitas dan membersihkan luka seluruh tubuh.Bila luka bakar dangkal tidak menyembuh dalam 7-10 hari. b. Selama berendam. Pembersihan Luka Hidroterapi dengan perendaman total dan bedside bath adalah terapi rendaman disamping tempat tidur. perawat harus menggunakan APD.Follow up . Luka bakar mayor .Airway and breathing (jalan napas dan pernapasan) Apabila ada tanda-tanda luka bakar pada saluran napas atau cedera pada paruparu maka intubasi dilakukan secepatnya sebelum pembengkakan pada jalan napas terjadi. Pasang kateter urin jika luka bakar>15% atau luka bakar daerah perineum NGT-pipa nasogastrik dipasang jika luka bakar>10% berupa deep partial thickness atau full thickness. Kemungkinan timbulnya jaringan parut yang berlebihan (scar hipertrofik) harus dipikirkan apabila dalam waktu 3 minggu luka bakar belum juga menyembuh.Cairan Jika luas area luka bakar >10% maka lakukan resusitasi cairan dan lakukan penghitungan cairan dari saat waktu kejadian luka bakar. silver nitrat. Terapi Antibiotik Topikal Ada tiga preparat topikal yang sering digunakan yaitu silver sulfadiazin. pasien didorong agar sedapat mungkin bergerak aktif. c.

dan kulit yang mati. bau. dan karakteristik lain dari luka. membentuk barier yang merintangi bakteri dan berfungsi sebagai dasar untk pertumbuhan sel epitel.dibasahi dengan larutan salin atau bial pasien dibiarkan berandam selama beberapa saat dalam bak rendaman. Fokus perhatian terus berlanjut pada . Fase ini difokuskan pada perubahan citra diri dan gaya hidup yang dapat terjadi. Jarinagn ini akan mengisi ruangan ditimbulkan oleh luka. e. f. Kemudian luka dibersihkan dan didebridemen untuk menghilangkan debris. Selama proses penyembuhan luka akan terbentuk jaringan granulasi. Selama penggantian balutan ini. Bedah : tindakan operasi dengan melibatkan eksisi primer seluruh tebal kulit sampai mengupas kulit yang terbakar. Debridemen Tujuannya adalah untuk menghilangkan jaringan yang terkontaminasi oleh bakteri dan benda asing sehingga pasien dilindungi dari invasi bakteri dan untuk menghilangkan jaringan yang sudah mati. harus dicatat mengenai warna. ukuran. Nutrisi yang diberikan adalah TKTP untuk membantu mempercepat penyembuhan luka. tetapi proses rehabilitasi harus segera dimulai segera setelah terjadinya luka bakar sama seperti periode darurat. d. Fase Rehabilitasi Meskipun aspek jangka panjang pada perawatan luka bakar berada pada tahap akhir. Debridemen ada 3 yaitu: Alami : jaringan mati akan memisahkan diri secara spontan Mekanis : penggunaan gunting bedah dan forsep untuk memisahkan dan mengangkat jaringan mati. Pembalut sisanya dapat dilepas dengan hati-hati memakai forseps atau tangan yang menggunakan sarung tangan steril. dukungan psikososial dan pemulihan aktifitas fungsional tetap menjadi prioritas. Graft Pada Luka Bakar Adalah pencacokan kulit. Dukungan Nutrisi. Kesembuhan luka. eksudat. setiap preparat topikal yang tersisa.

(Smeltzer and Bare. 2009) . Untuk perawatan lanjutan dapat bekerjasama dengan fisioterapi agar dapat melatih rentang gerak.pemeliharaan keseimbangan cairan dan elekrolit serta perbaikan status nutrisi. Pembedahan rekonstruksi pada bagian anggota tubuh dan fungsinya yang terganggu mungkin diperlukan.

vasokonstriksi perifer umum dengan kehilangan nadi. kulit putih dan dingin (syok listrik). Cedera api : terdapat area cedera campuran dalam sehubungan dengan variase intensitas panas yang dihasilkan bekuan terbakar. penurunan ketajaman penglihatan (syok listrik). Bulu hidung . pucat. perilaku. aktifitas kejang (syok listrik). disritmia (syok listrik). paralisis (cedera listrik pada aliran saraf). Area kulit tak terbakar mungkin dingin/lembab. takikardia (syok/ansietas/nyeri). afek. 5) Exposure Destruksi jaringan dalam mungkin tidak terbukti selama 3-5 hari sehubungan dengan proses thrombus mikrovaskuler pada beberapa luka. ruptur membran timpanik (syok listrik). Adanya perubahan orientasi. penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera. jalan nafas atas stridor/mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme. bunyi nafas: gemericik (edema paru). 2) Breathing Pengembangan torak mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada. edema laryngeal). Primery Survey 1) Airway Adanya keluhan terkurung dalam ruang tertutup dan terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi). indikasi cedera inhalasi. laserasi korneal. Adanya tanda suara serak. penurunan reflex tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT 1. kerusakan retinal.B. dengan pengisian kapiler lambat pada adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan cairan/status syok. adanya sekret jalan nafas dalam (ronki). pembentukan edema jaringan (semua luka bakar). 4) Disability Adanya keluhan area batas dan kesemutan. batuk mengi. stridor (edema laryngeal) 3) Circulation Hipotensi (syok). sianosis. Pengkajian Emergency & Kritis a.

Hb. lepuh. dan mioglobulin menunjukkan kerusakan jaringan dalam dan kehilangan protein.gosong. d. ulkus. Urine : adanya albumin. edema lingkar mulut dan atau lingkar nasal. Secondary Survey Anamnesa terhadap : A (Alergy) : Alergi terhadap obat-obatan M (Medicine) : Mengkonsumsi obat-obatan terlarang atau alkohol P (Past illness) : Penyakit penyerta atau riwayat penyakit lainnya L (last Meal) : Makan terakhir yang dikonsumsi E (Event) : Mekanisme atau proses kejadiannya c. Cedera kimia : tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab. Tertiery Survey Pemeriksaan penunjang meliputi : a. f. Natrium awalnya menurun pada kehilangan air c. Kulit mungkin coklat kekuningan dengan tekstur seperti kulit samak halus. Cedera secara umum lebih dalam dari tampaknya secara perkutan dan kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam setelah cedera. Hitung darah lengkap : peningkatan Ht awal menunjukkan hemokonsentrasi sehubungan dengan perpindahan/kehilangan cairan. merah. Elektrolit serum : kalium meningkat karena cedera jaringan /kerusakan SDM dan penurunan fungsi ginjal. Penampilan luka bervariasi dapat meliputi luka aliran masuk/keluar (eksplosif). nekrosisi. Cedera listrik : cedera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit dibawah nekrosis. b. Foto rontgen dada : untuk memastikan cedera inhalasi Skan paru : untuk menentukan luasnya cedera inhalasi . e. mukosa hidung dan mulut kering. lepuh pada faring posterior. b. Alkalin fosfat : peningkatan sehubungan dengan perpindahan cairan interstitiil/ganguan pompa natrium. atau jaringan parut tebal. luka bakar dari gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka bakar termal sehubungan dengan pakaian terbakar.

j. Intervensi keperawatan 1) Pola nafas tidak efektif b/d kebutuhan oksigen meningkat Tujuan : pola napas pasien efektif Menunjukkan frekuensi pernafasan dengan rentang normal (16-20/ menit) Pasien tampak tidak sesak. Berikan pelembab oksigen melalui cara yang tepat. seperti masker wajah. l.g. Siapkan/bantu intubasi atau trakeostomi sesuai indikasi 2) Nyeri akut b/d kerusakan ujung-ujung saraf karena luka bakar Tujuan : Nyeri pasien berkurang . (Doenges. Kaji ulang seri ronsen e. EKG untuk mengetahui adanya iskemik miokard/disritmia pada luka bakar listrik. i. Perhatikan adanya pucat atau warna buah ceri merah pada kulit yang cedera. b. 2002) 2. Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap. Fotografi luka bakar : memberikan catatan untuk penyembuhan luka bakar selanjutnya. d. Albumin serum dapat menurun karena kehilangan protein pada edema cairan. h. Tinggikan kepala tempat tidur dan hindari penggunaan bantal dibawah kepala sesuai indikasi. BUN dan kreatinin untuk mengetahui fungsi ginjal. k. Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi. tidak ada retraksi dada Pasien tidak mengeluh sesak napas Intervensi : a. Diagnosa keperawatan 1) Pola nafas tidak efektif b/d kebutuhan oksigen meningkat 2) Nyeri akut b/d kerusakan ujung-ujung saraf karena luka bakar 3) Kekurangan volume cairan b/d output yang berlebihan 4) Perfusi jaringan tidak efektif b/d penurunan atau interupsi aliran darah arteri / vena 3. c.

contoh relaksasi progresif. Pasang/pertahankan makanan sedikit melalui selang enterik/tambahan bila dibutuhkan. nafas dalam. dan visualisasi. i. Dorong ekpresi perasaan tentang nyeri. Lakukan pemeriksaan glukosa strip jari. perhatikan hipoaktif/tak ada bunyi. Berikan tindakan kenyamanan dasar contoh pijatan pada area yang tidak sakit. Dorong pasien untuk memandang diet sebagai pengobatan dan membuat pilihan makanan/ minuman tinggi kalori/protein. perubahan posisi dengan sering. Dorong penggunaan teknik manajemen stres. . b. kaji keluhan nyeri. Libatkan pasien dalam penentuan jadwal aktivitas. Tutup luka sesegera mungkin kecuali perawatan luka bakar metode pemajanan pada udara terbuka b. Berikan makan dan makanan kecil sedikit dan sering. Auskultasi bising usus. k. d. berikan lampu penghangat. j. c. perhatikan lokasi atau karakter (skala 0-10) g. 3) Kekurangan volume cairan b/d output yang berlebihan Tujuan : Intake dan output cairan dalam tubuh pasien seimbang Intervensi : a. f. berikan tempat tidur ayunan sesuai indikasi d. bimbingan imajinasi. e. penutup tubuh hangat.Intervensi a. Perhatikan jumlah kalori. ubah posisi dengan sering dan rentang gerak pasif dan aktif sesuai indikasi e. tinggikan ekstremitas luka bakar secara periodic c. pengobatan. f. klinites/asetes sesuai indikasi. pemberian obat. kaji ulang persen area permukaan tubuh terbuka/luka tiap minggu. g. h. pertahankan suhu linhkungan nyaman. Berikan bersihan oral sebelum makan. Berikan analgesik sesuai indikasi.

Hindari injeksi IM atau SC . c. contoh albumin serum. gerakan. Awasi elektrolit terutama natrium. nitrogen urea urine. Kolaborasi Pertahankan penggantian cairan f. dan kalsium g. kalium. 4) Perfusi jaringan tidak efektif b/d penurunan atau interupsi aliran darah arteri / vena Tujuan : Aliran darah pasien ke jaringan perifer adekuat Intervensi : a. Ukur TD pada ektremitas yang mengalami luka bakar (untuk mengetahui kekuatan aliran darah ke daerah yang mengalami luka bakar) d.kreatinin. Dorong latihan gerak aktif e. sensasi.h. Tinggikan ekstremitas yang sakit. Kaji warna. Awasi pemeriksaan laboraturium. i. dan nadi perifer. transferin. b. Berikan insulin sesuai indikasi.

(1989). Edisi 4 Buku 2. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Sylvia A. Kapita Selekta Kedokteran. Soetomo Surabaya. Doenges M. Mansjoer. (2011). Volume I. Surabaya. EGC : Jakarta.B. Hal. Hudak & Gallo. Guyton & Hall. (2007). F. 1293 – 1328. Surabaya. Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik. (2002). Judith. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Lippincott Campany. M. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Pendidikan Keperawatan Berkelanjutan (PKB V) Tema: Asuhan Keperawatan Luka Bakar Secara Paripurna.E. (2008).A. T. Philadelpia. Sixth Edition. (2012). EGC : Jakarta. Instalasi Rawat Inap Bedah RSUD Dr. (1991). Nursing Care Plan. Heater. J. Jakarta Herdman. Philadelpia. A. Soetomo. (2006). 2007. NANDA International Diagnosis keperawatan definisi dan klasifikasi 2012-2014. Price. Pengelolaan Luka Bakar.DAFTAR PUSTAKA Djohansjah. Airlangga University Press. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta. Edisi 9. Penerbit Buku Kedokteran Egc. Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). Penerbit Buku Kedoketran EGC. Jakarta Wilkinson. Davis Company. . Instalasi Rawat Inap Bedah RSUD Dr. Media Aesculapius FK-UI : Jakarta Smeltzer And Bare (2009) Keperawatan Medikal Bedah Brunner and suddart Textbook of Medical Surgical Nursing.

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA KLIEN DENGAN POST DEBRIDEMENT COMBUSTIO GRADE II 32 % DI RUANG ICU RUMAH SAKIT Dr MOEWARDI SURAKARTA Disusun Oleh : LALU SUPRIYADI (070112b043) PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN 2013 .