You are on page 1of 8

4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Epidemiologi
Insiden impetigo ini terjadi hampir di seluruh dunia dan pada umumnya
menyebar melalui kontak langsung. Paling sering menyerang anak-anak usia 2-
5 tahun, namun tidak menutup kemungkinan untuk semua umur dimana
frekuensi laki-laki dan wanita sama. Sebuah penelitian di Inggris menyebutkan
bahwa insiden tahunan dari impetigo adalah 2.8 % terjadi pada anak-anak usia
di bawah 4 tahun dan 1.6 persen pada anak-anak usia 5 sampai 15 tahun.
Impetigo nonbullous atau impetigo krustosa meliputi kira-kira 70 persen dari
semua kasus impetigo. Kebanyakan kasus ditemukan di daerah tropis atau
beriklim panas serta pada negara-negara yang berkembang dengan tingkat
ekonomi masyarakatnya masih tergolong lemah atau miskin (2,3,4).

B. Etiologi
Impetigo merupakan pioderma superfisialis yang terbatas pada
epidermis. Impetigo terbagi atas 2 bentuk yaitu impetigo krustosa dan impetigo
bulosa. Organism penyebab dari penyakit ini adalah Staphylococcus aureus
koagulase positif dan Streptococcus betahemolyticus. Sebuah penelitian di
Jepang menyatakan peningkatan insiden impetigo yang disebabkan oleh kuman
Streptococcus grup A sebesar 71% dari kasus, dan 72% dari kasus tersebut
ditemukan pula Staphylococcus aureus pada saat isolasi kuman.

5

Staphylococcus dominan ditemukan pada awal lesi. Jika kedua kuman
ditemukan bersamaan, maka infeksi streptococcus merupakan infeksi penyerta.
Kuman S. pyogenes menular ke individu yang sehat melalui kulit, lalu
kemudian menyebar ke mukosa saluran napas. Berbeda dengan S. aureus, yang
berawal dengan kolonisasi kuman pada mukosa nasal dan baru dapat
ditemukan pada isolasi kuman di kulit pada sekitar 11 hari kemudian (3).

C. Patogenesis
Semua orang dapat terkena impetigo terutama anak-anak 2-5 tahun dan
infant paling sering terinfeksi oleh penyakit ini. Anak-anak rentan sekali terhadap
infeksi Streptococcus betahemolyticus dan Staphylococcus aureus dalam hal
penyebaran penyakit karena mereka merupakan kelompok yang berkontak erat
dengan penderita ketika di sekolah dan juga tergantung dari perawatan kebersihan
terhadap anak-anak. Ada beberapa faktor yang menyebabkan meningkatnya risiko
impetigo
1. Kontak langsung dengan penderita impetigo atau melalui kontaminasi benda-
benda seperti handuk, kasur atau pakaian.
2. Lingkungan yang lembab
3. Mempunyai riwayat dermatitis kronik
Pada impetigo vesikobulosa (impetigo staphylococcal) disebabkan oleh
Staphylococcus aureus yang menghasilkan racun eksfoliatif serta mengandung
protease serin yang berkerja pada desmoglein 1, yaitu suatu ikan peptide penting
yang terikat pada molekul yang menahan sel epidermal secara bersamaan. Proses

6

ini memungkinkan bakteri Staphylococcus aureus untuk menyebar dibawah
stratum korneum dan kemudian mengeluarkan toksin yang akan menyebabkan
epidermis terpisah dari stratum granulosum. Lesi yang besar kemudian terbentuk
pada bagian epidermis dengan sebukan neutrofil dan sering terjadi migrasi bakteri
pada rongga bulosa. Pada impetigo krustosa non bullous, infeksi ditemukan pada
bagian minor dari trauma (misalnya : gigitan serangga, abrasi, cacar ayam,
pembakaran). Trauma membuka protein-protein di kulit sehingga bakteri mudah
melekat, menyerang dan membentuk infeksi di kulit. Pada epidermis muncul
neutrophilic vesicopustules. Pada bagian atas kulit terdapat sebuah infiltrate yang
hebat yakni netrofil dan limfosit. Bakteri gram-positif juga ada dalam lesi ini.
Eksotoksin Streptococcus pyrogenic diyakini menyebabkan ruam pada daerah
berbintik merah, dan diduga berperan pada saat kritis dari Streptococcal toxic
shock syndrome (3,5,6,7).
Sekitar 30% dari populasi bakteri ini berkoloni di daerah nares anterior.
Bakteri dapat menyebar dari hidung ke kulit yang normal di dalam 7-14 hari,
dengan lesi impetigo yang muncul 7-14 hari kemudian.Mekanisme terbentuknya
lesi dapat menjelaskan bagaimana tubuh mampu menahan masuknya benda asing
melalui permukaan epidermis. Pada impetigo vesikobulosa pecahnya bula dapat
terjadi secara cepat menyababkan erosi dangkal dan krusta kuning (3,5,6)
.




7

D. Gejala klinis
Bentuk pioderma Impetigo krustosa Impetigo bulosa
Etiologi Streptococcus β
hemolyticus
Staphylococcus aureus
Gejala klinis  Gejala prodromal (-)
 Lesi awal makula
eritematosa ->
vesikel/bula->pecah-
>sekret dan kering->
krusta berlapis-
>diangkat->erosi
mengekuarkan sekret
Krusta tebal dan kuning
seperti madu
 Gejala prodromal(-)
Sering didahului makula
eritema->bula->bula
hipopion->pecah-
>koleret->dasarnya masih
eritematosa
Lokalisasi Wajah
(hidung&mulut),leher,
tangan dan ekstrimitas
Ketiak, dada, punggung
dan ekstremitas
Epidemiologi Terutama pada anak-anak Pada semua umur
Diagnosis banding  Varicella: Lesi > kecil,
batas tegas, umbilikasi
vesikel
 Ektima: Lesi > besar &
 Pemfigus : dinding
bula tebal, dikelilingi
eritem, KU buruk
 Impetigenisasi:

8

dalam, krusta susah
diangkat -> berdarah
jika diangkat
 Impetigenisasi :
pioderma
sekunder,menahun, msh
tampak penyakit dasar
penyakit primer &
konstitusi(+)
 Dermatofitosis



E. Pemeriksaan penunjang
1. Laboratorium rutin. Pada pemeriksaan darah rutin, lekositosis ringan hanya
ditemukan pada 50% kasus pasien dengan impetigo. Pemeriksaan urinalisis
perlu dilakukan untuk mengetahui apakah telah terjadi glomerulonefritis
akut pasca streptococcus (GNAPS), yang ditandai dengan hematuria dan
proteinuria.
2. Pemeriksaan imunologis. Pada impetigo yang disebabkan oleh
streptococcus dapat ditemukan peningkatan kadar anti deoksiribonuklease
(anti DNAse) B antibody.
3. Pemeriksaan mikrobiologis. Eksudat yang diambil di bagian bawah krusta
dan cairan yang berasal dari bulla dapat dikultur dan dilakukan tes sensititas.
Hasil kultur bisa memperlihatkan S. pyogenes, S. aureus atau keduanya. Tes
sensitivitas antibiotic dilakukan untuk mengisolasi metisilin resistar. S.

9

aureus (MRSA) serta membantu dalam pemberian antibiotic yang sesuai.
Pewarnaan gram pada eksudat memberikan hasil gram positif. Pada blood
agar koloni kuman mengalami hemolisis dan memperlihatkan daerah yang
hemolisis di sekitarnya meskipun dengan blood agar telah cukup untuk
isolasi kuman, manitol salt agar atau medium Baierd-Parker egg Yolk-
tellurite direkomendasikan jika lesi juga terkontaminasi oleh organism lain.
Kemampuan untuk mengkoagulasi plasma adalah tes paling penting dalam
mengidentifikasi S. aureus. Pada sheep blood agar, S. pyogenes membentuk
koloni kecil dengan daerah hemolisis disekelilingnya. Streptococcus dapat
dibedakan dari Staphylokokkus dengan tes katalase. Streptococcus
memberikan hasil yang negativ (3).

F. Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesa dan gambaran klinis dari lesi.
Kultur dilakukan bila terdapat kegagalan pengobatan dengan terapi standar,
biopsy jarang dilakukan. Biasanya diagnose dari impetigo dapat dilakukan tanpa
adanya tes laboratorium. Namun demikian, apabila diagnosis tersebut masih
dipertanyakan, tes mikrobiologi pasti akan sangat menolong (3).









10

G. Pengobatan
Pengobatan pada impetigo dilakukan secara medikamentosa dan
nonmedikamentosa, yaitu (2,7):
1. Terapi medikamentosa:

Antibiotik Dosis dan Durasi Terapi
Topikal
Mupirocin 2% ointment
Oleskan pada lesi 3 kali sehari
selama 3 -5 hari
Oral
Amoxicilin/clavulanate




Dewasa: 250-500 mg 2 kali sehari
selama 10 hari
Anak: 90 mg/KgBB per hari dibagi
dalam 2 dosis
Cefuroxime



Dewasa: 250-500 mg 2 kali sehari
selama 10 hari
Anak: 90 mg/KgBB per hari dibagi
dalam 2 dosis
Cephalexin



Dewasa: 250-500 mg 4 kali sehari
selama 10 hari
Anak: 90 mg/KgBB per hari dibagi
dalam 2-4 dosis
Dicloxacillin

Dewasa: 250-500 mg 4 kali sehari
selama 10 hari

11



Anak: 90 mg/KgBB per hari dibagi
dalam 2-4 dosis
Erythromicin

Dewasa: 250-500 mg 4 kali sehari
selama 10 hari
Anak: 90 mg/KgBB per hari dibagi
dalam 2-4 dosis

2. Terapi nonmedikamentosa
a) Mencegah untuk menggaruk daerah lesi. Dapat dengan menutup daerah
yang lecet dengan perban dan memotong kuku penderita.
b) Lanjutkan pengobatan sampai semua lesi sembuh
c) Lakukan drainase pada bula dan pustule secara aseptic dengan jarum
suntik untuk mencegah penyebaran lokal.
d) Dapat dilakukan kompres dengan menggunakan larutan NaCl 0,9% pada
lesi yang basah.
e) Menjaga hyegenitas dengan mandi