You are on page 1of 34

Komedi

Senin, 13 Oktober 2014



1918, November, Volksraad dibentuk. Pemerintah kolonial Belanda mengumumkan sebuah
janji untuk rakyat jajahan, bahwa dengan "dewan [perwakilan] rakyat" itu proses
demokratisasi akan terjadi. Tapi "janji November" itu tak terpenuhi: Volksraad ternyata tak
bisa menampung, atau mewakili, apa yang hendak disuarakan rakyat. Para anggotanya ramai
berdebat, tapi tak banyak yang punya dampak ke dalam kehidupan volks, orang banyak di
luar gedung. Maka, dengan sarkasme yang cerdas, Haji Agus Salim mengejeknya sebagai
sebuah "komedi omong".
Tentu tak seluruhnya tepat. "Komedi" mengandung humor, sedangkan kata-kata yang
diutarakan di Volksraad umumnya seperti lucu--dan orang tertawa pahit--karena yang
terdengar hanya sebuah kegaduhan drum kaleng yang tanpa isi.
Tapi agaknya bukan hanya di Volksraad. Setelah kemerdekaan, di masa tahun 1950-an,
ketika Indonesia sebuah "demokrasi parlementer", para anggota parlemen tak pernah berhenti
diejek media. Tampaknya selalu ada persoalan dengan pengertian "wakil" dan "perwakilan".
"Wakil" ada ketika subyek yang harus berfungsi tak ada, atau sedang tak hadir. Dalam sebuah
masyarakat seperti Indonesia, mustahil rakyat hadir serentak; maka diasumsikanlah bahwa
rakyat harus punya wakil. Kedaulatan rakyat dalam prakteknya pun menjadi kedaulatan wakil
mereka.
Tapi sebuah ilusi untuk menganggap bahwa antara wakil dan yang diwakili tak dengan segera
terjadi jarak --bahkan hubungan yang mencong.
Kedaulatan rakyat, yang dikukuhkan dalam ide demokrasi dari zaman ke zaman, adalah
sebuah kerinduan akan keadilan, yakni keadilan yang dimanifestasikan dalam kesetaraan.
Inilah motif besar di balik pelbagai revolusi. Tapi ketika revolusi tak lagi bisa hanya
merupakan gerakan politik rakyat dan sebuah lapisan kaum revolusioner khusus bekerja
mewakili mereka--seperti para anggota Partai Bolsyewik dalam Revolusi Rusia, seperti para
anggota kelompok Jakobin dalam Revolusi Prancis--kedaulatan punya tempat yang lain.
Maka politik, sebagai gerak dan gelora di kalangan rakyat--yang semula jadi kekuatan
Revolusi--berhenti. Suara yang plural dan hidup digantikan apa yang oleh Hannah Arendt
dalam On Revolution dianggap sebagai "politik semu" di kancah partai-partai.
Di negeri-negeri lain yang telah mapan dan tak lagi bergerak oleh politik kalangan bawah,
"politik semu" itu--yang tak jauh berbeda dengan "komedi omong"--juga yang berlangsung.
Konstitusi negeri-negeri ini menjamin kesetaraan, tapi pada hakikatnya itu sebuah kesetaraan
yang diberikan dari sebuah "politik semu".
Itu berarti keadilan dirumuskan dalam proses politik yang maknanya terjadi melalui transaksi
kekuasaan. Rumus "keadilan" itulah yang disebut "hukum", dan dengan langsung atau
berangsur-angsur orang ramai pun menerima--melalui bujukan, tekanan, atau ancaman--
rumusan "keadilan" yang membuat orang banyak pasif itu.
Saya teringat cerita Kafka itu lagi: seseorang dari pedalaman datang ke sebuah pintu gerbang
berpenjaga untuk menemui Hukum. Ia tak kunjung bisa masuk. Bertahun-tahun ia menunggu
di depan pintu gerbang itu, hingga akhirnya meninggal.
Ada semacam tragi-komedi dalam cerita ini. Kisah Kafka selalu ganjil. Ada sejenak kita
ingin tersenyum. Ada saat lain kita merasa sedih atau ngeri.
Demikianlah orang yang malang itu menyangka bahwa Hukum begitu penting. Barangkali ia
salah menyangka bahwa yang tersembunyi di balik pintu itu adalah Keadilan--sesuatu yang
pantas dijelang dari jauh, dari pedalaman. Salah sangka yang besar dan tragis.
Yang juga tragis adalah "menantikan". Orang itu duduk saja, atau ia sesekali bertanya kepada
penjaga pintu. Ia tak menerobos. Setelah beberapa lama menanti, ia juga tak pergi. Ia tak
hendak meninggalkan tempat itu dan mencari pintu lain. Ia tak tahu bahwa Hukum, yang
dirumuskan untuk dia dalam sebuah proses "politik semu" di atas sana, tak layak dinantikan
sampai mati. Ia tak hendak menjebol Hukum itu dan memulai satu proses politik yang
sebenarnya--politik yang melibatkan dan menumbuhkan dirinya dalam daya, atau kuasa, dan
cita-cita.
Mungkin seperti banyak orang lain di antara kita, ia tak tahu ia bisa merdeka untuk keadilan.


Goenawan Mohamad









Koalisi Rakyat

Sabtu, 11 Oktober 2014
Putu Setia

Tuhan Maha Adil. Beliau membuat semua orang senang. Tentu tingkat kesenangan berbeda
dan tidak sama, tergantung penilaian masing-masing orang. Santai sajalah.
Ini komentar dari seorang petani kopi di lereng Gunung Batukaru, menanggapi apa yang oleh
orang kota disebut "kegaduhan politik" di parlemen. Bagi petani itu, tak ada yang gaduh,
kecuali memang diakuinya anggota Dewan Perwakilan Rakyat tidak biasa bersidang
sebagaimana warga petani bersidang. "Mereka tak punya pengalaman sebagai warga desa
yang ikut rapat-rapat di desa adat. Mereka produk sekolahan dan itu pun mungkin tak pernah
aktif di organisasi intra sekolah. Lulus sarjana pun mungkin dengan membeli skripsi. Dan
ketika ada lowongan pekerjaan sebagai anggota DPR, lewat partai politik mereka mendaftar
dengan sejumlah uang. Jadilah mereka wakil rakyat yang tak punya etika dan sopan santun
dalam bersidang," kata petani kopi yang sudah sepuh itu.
Tetapi itu hanya soal sidang. Produk persidangan tak ada yang salah. Politik itu menang-
menangan. Untuk mencapai kemenangan, segala taktik dilakukan. Dimulai dengan
merangkul teman supaya lebih banyak anggota kelompok. Jadi, kalau Koalisi Merah Putih
(KMP) menang mutlak di parlemen, itu wajar saja. Semua jabatan di parlemen dia ambil
habis, tak ada sisa, juga hal yang wajar. Wong mereka lebih banyak.
Lawannya, Koalisi Indonesia Hebat (KIH), tak boleh meradang. Tuhan sudah memberi
kesenangan lebih awal dengan menempatkan jagonya sebagai presiden dan wakil presiden
terpilih. Kemenangan ini mereka rayakan dengan sumringah sampai lupa mengajak
kelompok lain bergabung. Hasilnya, jumlah anggota koalisi mereka kalah banyak dan semua
jabatan di parlemen tak bisa mereka ambil. KIH harus legawa, seperti halnya saat meminta
kelompok KMP legawa ketika kalah pada pemilu presiden. Jadi, Tuhan itu Maha Asyik.
Beliau penggemar lagu Pramuka, "di sini senang, di sana senang ...."
Yang tak boleh dilakukan KMP adalah main jegal-jegalan memanfaatkan kelebihan suaranya
di parlemen. Mereka tak bisa berbuat seenaknya dan kebablasan. Misalnya, mereka ubah
undang-undang yang tak membolehkan rakyat untuk memilih pemimpinnya, lalu
mengamendemen konstitusi agar presiden tidak dipilih rakyat, melainkan dipilih MPR yang
mereka kuasai. Padahal ada pepatah: "Lupa kacang sama kulitnya." Anggota parlemen itu
"turun pangkat" jadi wakil rakyat karena rakyat yang memilihnya. Rakyat yang jadi ketuanya,
mereka cuma wakil. Masak ketuanya dilarang menggunakan hak pilihnya lagi? Ini kualat dan
harus segera bertobat.
Yang mengherankan--kata lebih kasar tapi cocok: memalukan--KMP berniat mengubah
konstitusi supaya presiden dipilih oleh mereka sendiri. Tak bisa bergerak mundur seperti itu.
Hanya karena kalah dalam pertarungan presiden, kok konstitusi yang diubah? Ini namanya
politik sesaat dan sesat. Kalau konstitusi dan undang-undang diubah hanya karena pernah
kalah, di mana letak kepastian hukum? Nanti setiap ada orang kalah ramai-ramai bergabung
untuk mengubah sistem supaya bisa menang. Ini bahaya, Tuhan pasti tak berkenan. Dan
rakyat bisa menganulir wakilnya itu, entah lewat aksi atau menghukumnya pada saat pemilu.
KMP menang di parlemen, KIH menang di legislatif, kan baik? Kalau mereka saling jegal,
artinya mereka hanya mementingkan kekuasaan, bukan berkoalisi dengan rakyat. Ingat,
rakyat tidak lagi dungu. Mereka yang "mabuk" itu akan menerima ganjaran yang
menyakitkan. Politik itu kan roda pedati, kadang di atas, kadang di bawah. "Paham?" kata
petani itu.

















Sekarat Internet Indonesia

Senin, 13 Oktober 2014
Onno W. Purbo, dosen Universitas Surya & STKIP Surya


Masyarakat di sektor telekomunikasi terguncang setelah Kejaksaan Agung mengeksekusi
putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) dengan memenjarakan Indar Atmanto di Sukamiskin
sejak 16 September 2014. Proses eksekusi sangat dipaksakan karena dilakukan tanpa
pemberitahuan. Kejaksaan pun baru menunjukkan dasar petikan kasasi saat Indar sudah
berada di Sukamiskin. Jelas ini tidak mengikuti KUHAP.

Eksekusi atas bekas direktur utama salah satu ISP (IM2) itu juga membawa konsekuensi
hukum serius, yaitu lebih dari 250 ISP yang melakukan hal yang sama bisa dituduh
melakukan korupsi. Para pemimpin ISP terancam dibui dan dikenai denda, sebagaimana
terjadi pada Indar.

Dalam dakwaannya, Kejaksaan Agung menyebut kerja sama Indosat dengan IM2 adalah
tindak pidana korupsi melalui kerja sama penggunaan jaringan 3G Indosat untuk akses
internet pita-lebar (broadband). Dakwaan Kejaksaan Agung menyatakan: "Kerja sama
tersebut hanyalah seolah-olah penggunaan jaringan, padahal IM2 juga menggunakan
frekuensi 2.1 GHz secara tidak sah."

Jaksa juga mendakwa: "Karena frekuensi 2.1 GHz yang dialokasikan untuk jaringan 3G
Indosat bersifat eksklusif dan primer, akibat penggunaan frekuensi secara ilegal IM2 tidak
membayar biaya frekuensi dan merugikan negara Rp 1,3 triliun."

Ada kerancuan mendasar pada dakwaan jaksa tentang "frekuensi bersifat primer". Sebab,
terdapat perbedaan nyata antara istilah "dinas komunikasi radio" dan "pita frekuensi". Sebab,
jenis dinas komunikasi radio yang dapat menggunakan pita frekuensi tersebutlah yang
digolongkan bersifat primer atau sekunder, bukan pita frekuensinya. Atau, dengan kata lain,
ada BTS/radio yang semestinya dibangun IM2, tapi kenyataannya IM2 tidak punya BTS
seperti dimaksud. Semua BTS sampai SIM card dibangun dan dimiliki Indosat seperti
terungkap dalam persidangan. Rujukan peraturan adalah Peraturan Menkominfo Nomor
29/Per/M.Kominfo/07/2009 tentang Tabel Alokasi Spektrum Frekuensi Radio Indonesia dan
ITU Radio Regulation.

Kerja sama antara Indosat dan IM2 bukanlah kerja sama seolah-olah penggunaan jaringan
sebagaimana dituduhkan, melainkan memang secara nyata IM2 menggunakan bandwidth
(kapasitas jaringan) dari jaringan telekomunikasi 3G milik Indosat. Frekuensi 2,1 GHz adalah
elemen atau unsur yang membentuk suatu jaringan telekomunikasi nirkabel 3G (Generasi
Ketiga).

Secara teknis, IM2 tidak bisa dikatakan melakukan sharing frekuensi dengan Indosat,
sehingga tidak ada keharusan memiliki izin frekuensi 2,1 GHz. Sebuah ISP dapat
menggunakan atau menyewa secara sah, bandwidth (kapasitas jaringan) kepada operator
berdasarkan UU Nomor 36/1999 tentang Telekomunikasi.

Jadi, pola bisnis IM2 maupun 250 lebih ISP lain di Indonesia telah sesuai dengan UU
Telekomunikasi maupun praktek usaha telekomunikasi di negara lain. Tidak ada hukum yang
dilanggar.

Semua argumen itu diperkuat oleh: (i) dua surat Menteri Kominfo, yang mengatakan kerja
sama sudah sesuai dengan UU Telekomunikasi dan peraturan pelaksanaannya; (ii) keterangan
ahli termasuk saya, dalam persidangan; (iii) keterangan satu-satunya ahli telekomunikasi
yang melakukan uji lapangan, DR Heroe Wijanto, bahwa IM2 sepenuhnya menggunakan
jaringan 3G maupun 2G Indosat dan tidak ada penggunaan frekuensi oleh IM2; (iv) surat
keprihatinan Sekretaris Jenderal ITU (International Telecommunication Union) di Geneva,
DR Hamadoun Tour, kepada Presiden RI; dan keputusan kasasi MA yang mencabut
keterangan BPKP yang menyatakan adanya kerugian negara sebesar Rp 1,3 triliun. Maka,
sulit mempercayai dalam kerja sama tersebut ada pelanggaran hukum, apalagi korupsi.

Karena bentuk kerja sama tersebut telah divonis melanggar hukum, seluruh ISP yang tidak
memiliki izin jaringan nirkabel menjadi tidak boleh menggunakan jaringan tersebut. Ini
berlaku pada teknologi jaringan nirkabel apa pun, baik CDMA, GSM, 3G, 4G dan WiMAX,
maupun TV mux digital.

Akibat putusan MA yang tidak sesuai dengan undang-undang dan pola bisnis telekomunikasi
ini, maka lebih dari 250 pemimpin ISP Indonesia terancam pidana. Dan yang lebih
menyedihkan lagi, industri atau infrastruktur jasa internet di Indonesia terancam harus
shutdown/dimatikan karena sebagian besar melanggar hukum!

Konsekuensi penghentian (shutdown) layanan internet Indonesia adalah: a) Macetnya
transaksi industri finansial berkisar Rp 1,5 miliar per menit atau Rp 90 miliar per jam; b) 71
juta pengguna internet Indonesia tidak bisa mengakses internet; dan c) target 50 persen
bangsa Indonesia mengakses internet pada 2015 tidak akan tercapai.

Layanan internet di Indonesia tentu akan sekarat. Fenomena yang tidak pernah terbayangkan.
Sebab, sejak berdiri pada 1994, ISP didorong untuk dijalankan oleh anak-anak muda yang
kreatif dan bersemangat, dengan skala UKM (usaha kecil-menengah).

Seharusnyalah, euforia pemberantasan korupsi tidak menjadikan orang yang tak bersalah
sebagai korban. Demi kepastian hukum bagi penyelenggara jasa internet, Indar Atmanto
harus dibebaskan dan nama baiknya dipulihkan.
Jurnalisme Kicauan

Senin, 13 Oktober 2014
Musyafak, staf di Balai Litbang Agama Semarang


Saat ini kehadiran "jurnalisme kicauan" sudah tidak terbendung lagi. Misalnya menjelang
pelaksanaan pilpres 2014, berita-berita yang bersumber dari media sosial sangat berlimpah.
Akun Twitter para politikus, seperti @SBYudhoyono, @Prabowo08, @jokowi_do2,
@Fahrihamzah, @fadlizon, dan sebagainya, kerap dikutip oleh wartawan dalam konten
berita.

Jurnalis saat ini lumrah meramu berita yang berasal dari kicauan dan status para politikus
atau pengamat politik, sehingga berujung kontroversi dan polemik. Media sosial juga oleh
wartawan dijadikan sebagai sarana untuk memantau perkembangan informasi berikut reaksi
publik atas informasi tersebut. Pekerja infotainmen bisa dikatakan paling doyan mengutip
status atau cuitan para selebritas di media sosial sebagai bahan berita atau gosip.

Kemunculan media sosial, khususnya Twitter dan Facebook, memang membawa pengaruh
dalam jurnalisme di Indonesia. Produk-produk jurnalistik hadir dalam bentuk yang lebih
interaktif, ringkas, dan renyah. Melalui media sosial, orang-orang mudah mengomentari dan
menyebarluaskan informasi. Banjir bandang informasi di media sosial tidak jarang membuat
pembaca terapung-apung di tengah usaha pencarian kebenaran suatu kabar.

Hampir bisa dipastikan tiap-tiap media informasi memiliki akun media sosial untuk
menyebarkan produk-produk jurnalistiknya. Ciri khas media sosial, yakni keberjaringan,
partisipatif-interaktif, kesenangan, dan berbagi, dimanfaatkan oleh industri media untuk
memperluas basis konsumennya.

Kegiatan jurnalistik dewasa ini tidak eksklusif hanya milik wartawan profesional. Media
sosial menjadi alternatif yang kian memudahkan warga biasa untuk berpartisipasi menulis
sekaligus menyiarkan informasi bagi publik, sebagaimana kita kenal dengan istilah citizen
journalism (jurnalisme warga). Jurnalisme warga di media sosial lumrahnya tidak melalui
seleksi atau editing ketat, sehingga validitas dan kualitas informasi dipertanyakan.

Di kalangan jurnalis profesional juga tidak sedikit yang menulis berita secara serampangan
dengan mengutip sumber-sumber dari media sosial. Asalkan ada bahan yang bisa dicomot,
sebuah berita ditulis tanpa verifikasi kepada sumber-sumber primer untuk mendalami
kebenaran informasi. Kalaupun sebagian jurnalis masih memegang erat disiplin verifikasi,
sayangnya ikhtiar verifikasi itu kalah cepat oleh tersebarnya informasi tersebut di media
sosial. Melalui media sosial itu pula berita-berita yang tidak jelas kebenarannya mudah
dipelintir oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingannya.

Merujuk pada Kovach dan Rosenstiel (2001), esensi jurnalisme adalah menyampaikan
informasi kepada publik sedemikian rupa sehingga publik dapat mengambil keputusan yang
berakibat baik bagi hidupnya. Esensi tersebut hanya bisa terwujud dengan adanya disiplin
verifikasi untuk menghadirkan informasi yang benar kepada publik.

Watak media sosial yang sebetulnya personal juga menyebabkan banyak informasi bersifat
partisan dan tidak obyektif. Karena itu, jurnalisme di media sosial yang lebih condong
menjadi "jurnalisme kicauan" perlu ditimbang ulang dari sisi keabsahan, kode etik jurnalistik,
serta manfaat-mudaratnya. Jurnalisme kicauan tidak bisa diterima begitu saja jika kita ingin
jurnalisme tetap bermartabat dan beradab.
















Obituari Bakdi Soemanto

Senin, 13 Oktober 2014
Heri Priyatmoko, alumnus Pascasarjana Sejarah FIB UGM


Dua tahun silam, saya bolak-balik bersemuka dengan anak priayi itu di kantornya yang tak
terlalu jembar. Selain sebagai narasumber untuk keperluan tesis, lelaki keturunan darah biru
ini saya mintai kesediaannya menyikapi dengan kritis draf buku saya mengenai sketsa Solo
tempo doeloe. Pria sepuh tersebut adalah Bakdi Soemanto, guru besar Fakultas Ilmu Budaya
UGM, yang baru saja wafat pada Sabtu (11 Oktober 2014).

Dosen yang diganjar penghargaan Tokoh Teater Tahun 2013 oleh Federasi Teater Indonesia
ini lahir serta tumbuh besar di Kota Solo. Usia boleh senja, namun memorinya masih rapi
mengisahkan sejarah kota dan budaya Jawa periode pasca-kemerdekaan. Ayahnya bernama
Raden Mas Soemanto, seorang priayi yang bermukim di Kampung Kratonan. Kratonan
adalah tempat tinggal abdi dalem pembuat pakaian yang dikenakan raja dan keluarganya.

Lelaki kelahiran 29 Oktober 1941 ini punya kemiripan dengan Umar Kayam. Mereka berdua
pernah gedhe di Kota Bengawan dan sama-sama memahatkan kenangannya ke dalam tulisan
ringan di kolom Kedaulatan Rakyat. Bercokol dan bekerja di Yogyakarta tidak memutus
ikatan batin mereka dengan Solo. Umur makin menua, keinginan bernostalgia malah kian
membuncah. Termasuk upaya memanggil pulang kearifan masa lalu dan pesan kehidupan
yang diajarkan oleh orang tuanya. Nasihat dan mutiara Jawa yang berserakan dalam
karangannya bisa diunduh untuk suluh generasi sekarang.

Sebagai contoh, Bakdi lincah bercerita pentingnya tradisi nyadran. Sedari bocah, ia bersama
keluarga besar Trah Tinalan dari garis Keraton Kasunanan Surakarta menjalankan ritual
tersebut menjelang bulan Siyam (puasa). Seluruh anggota keluarga besar berjongkok dan
duduk bersila di depan makam setiap leluhur. Di samping mengenang setumpuk jasa
almarhum, mereka mendoakan supaya yang telah meninggal diampuni Gusti Allah. Sadar
genealogi dan menjaga harmoni keluarga trah merupakan hal pokok bagi manusia Jawa.

Gara-gara soal kursi, ibunya pernah mencak-mencak. Dalam dunia bangsawan, kursi bukan
sekadar tempat untuk menaruh pantat, tapi juga menjadi simbol status sosial dan kehormatan
suatu rumah tangga. Dikisahkan, para sahabat seniman yang bermain ke rumah Bakdi lebih
suka duduk dan rebahan di tikar. Ibunya, yang datang dari Solo dan memergoki hal itu,
langsung marah. Dia mengatakan sesuatu yang dalam bahasa Indonesianya begini: "Kamu
ternyata tidak bisa menjaga kehormatan. Beli kursi sana! Kalau tidak punya uang, ibu mau
belikan. Bagaimana ini, rumah tanpa kursi tamu. Bikin malu. Jangan lupa, bapakmu itu
seorang priayi. Kamu itu anak seorang darah biru sungguhan."
Keturunan priayi dan menjadi intelektual terkemuka, ternyata tak membuat congkak peneliti
drama karya Samuel Becket, Waiting for Godot, ini. Kesantunan, cara pandang, atau sikap
Bakdi terpengaruhi oleh sejarawan Sartono Kartodirdjo, budayawan Umar Kayam, dan
penyair W.S. Rendra. Dalam banyak tulisan ringannya, tiga tokoh mumpuni itu disebut-sebut
oleh Bakdi.

Tiga figur di atas semasa hidup dikenal sebagai orang-orang yang sederhana, cinta keadilan,
peduli pada wong cilik, dan masih banyak lagi sifat yang mulia. Siapa sangka, Bakdi
Soemanto kemarin telah menyusul mereka di alam keabadian. Barangkali di sana mereka
sudah bercakap-cakap.





















Jalur Sutra

Selasa, 14 Oktober 2014
Munawir Aziz, Alumnus Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM)


Dalam lanskap ekonomi dunia, Jalur Sutra menjadi ingatan sejarah tentang kekuasaan dan
politik moneter. Jalur Sutra tidak sekadar menjadi jaringan penghubung ekonomi Cina
dengan pelbagai kawasan di Asia dan Eropa, tapi juga mengukuhkan kebudayaan dan
pengetahuan. Jalur yang menghubungkan dunia Timur dan Barat ini disebut Jalur Sutra (the
Silk Road), setelah peneliti Jerman, Von Richtofen, menyebutnya pada abad XVIII.

Jalur perdagangan ini berpangkal di Chang An, yang menjadi ibu kota Cina pada abad VII-
XIII. Rombongan pedagang Cina yang berasal dari Chang An dan kawasan sekitar bergerak
melintasi stepa-stepa dan gurun-gurun di kawasan Asia Tengah dan Laut Kaspia, kemudian
menuju Mesopotamia dan Parsi. Jalur ini juga berujung di kawasan India, Arab, dan
menembus kawasan pedalaman Rusia di belahan Eropa Timur. Frances Wood, dalam
karyanya The Silk Road: Two Thousand Years in the Heart of Asia (2004) melacak sejarah
Jalur Sutra sebagai peradaban penting dunia Timur yang menjadi jantung ekonomi dan politik
di kawasan Asia.

Xinru Liu (2010) mencatat bahwa Jalur Sutra tidak hanya merupakan jalur perdagangan bagi
orang-orang Cina. Jalur Sutra juga memberi penegasan, bagaimana orang Cina "memandang
Barat". Dalam konteks ini, Cina yang berada di kawasan negeri Timur melihat perkembangan
peradaban Barat dengan dinamika teknologi, pengetahuan, dan kebudayaan.

Perkembangan ekonomi di kawasan Nusantara beberapa abad silam juga terpengaruh oleh
Jalur Sutra. Jalur perdagangan ini meramaikan bandar-bandar di beberapa kawasan: Sunda
Kelapa, Demak, Cirebon, Ternate, dan Pontianak. Dengan demikian, Jalur Sutra ini menjadi
jembatan hubungan Nusantara dan Cina, serta membuka jalur perdagangan di beberapa
kawasan lain.

Jalur Sutra telah resmi terdaftar sebagai warisan dunia. Pemerintah Cina secara serius
mengukuhkan hal ini menjadi bagian penting dari strategi politik, ekonomi, dan pertahanan
dalam lanskap diplomasi internasional. Kemudian pemerintah Cina membangun kembali
Jalur Sutra modern untuk kerja sama politik dan ekonomi dengan negara-negara di kawasan
Asia dan Eropa. Jalur Sutra ini menjadikan kota Yin Chuan sebagai gerbang perdagangan
utama. Presiden Cina Xi Jinping merealisasi gagasan ini saat kunjungannya ke Yin Cuan
pada September 2013.

Lalu, apa makna Jalur Sutra baru bagi Indonesia masa kini? Pemerintah Jokowi-Jusuf Kalla
perlu membangun jembatan Jalur Sutra baru dengan potensi ekonomi Indonesia masa kini:
sebagai peluang dan tantangan. Negeri ini pernah memiliki jalur sejarah perdagangan dunia
dengan adanya komoditas rempah-rempah dari kawasan sekitar Ambon dan Halmahera.
Khazanah sejarah inilah yang harus diolah sebagai kekuatan politik, ekonomi, dan pertahanan
negeri ini. Konsep politik maritim Jokowi dapat menjadikan Jalur Sutra dan Jalur Rempah
masa kini, tidak hanya sebagai label sejarah, tapi juga kekuatan ekonomi, politik, dan
pertahanan.

Jalur Rempah dan Jalur Sutra tidak hanya bagian dari sejarah masa lalu, tapi juga menjadi
kekuatan masa kini dan mendatang.





















Porno

Rabu, 15 Oktober 2014
Eh Kartanegara, wartawan


Tampak mesra dan intim, penyanyi Shakira dan pasangannya, pemain belakang klub sepak
bola Barcelona, Gerard Pique, berfoto hampir telanjang. Tubuh Shakira terlihat tambun;
perutnya membalon, hamil tua. Adapun Pique berpose frontal menghadap kamera,
memamerkan dadanya yang, konon, digilai banyak perempuan.

Setelah foto nekat Demi Moore bugil dalam keadaan hamil dipampangkan di halaman depan
majalah terbitan Amerika Serikat, Vanity Fair, pada 1991, tak ada lagi gambar telanjang
perempuan hamil yang bikin heboh. Tidak juga perdebatan seru tentang gambar-gambar
porno yang batasnya cuma selembar benang dengan foto-foto yang diklaim sebagai art nude
photography.

Di samping nama kondang fotografernya, Annie Leibovitz, sasaran yang hendak diraih
majalah itu adalah kue empuk untuk menaikkan tiras. Alasan dampak atau efek komersial
pemuatan foto itulah rupanya yang, antara lain, menyelamatkan citra baik Vanity Fair dari
gunjingan "turun kelas" gara-gara memuat gambar polos Demi Moore.

Di AS sekalipun, negara yang sering dijadikan rujukan longgarnya pornografi, tak ada ampun
bagi foto-foto yang masuk kategori obscenity. Tak ada pasal dalam freedom of speech atau
dalih kebebasan berekspresi yang memberikan toleransi pada kemesuman, kejorokan, atau
kecabulan semacam itu.

Dampaknya amat mengerikan; rusaknya berbagai tatanan sosial, kehamilan remaja, keretakan
rumah tangga, perbudakan seks, aborsi, wabah AIDS, orang tua tunggal, serta kekejaman dan
eksploitasi seksual. Berbagai studi menunjukkan, pornografi menghancurkan tubuh dan jiwa,
merendahkan harkat dan martabat manusia.

Perilaku porno, dalam bahasa filsuf media Jean Baudrillard, merupakan "cerminan rasa pedih
dari 'keremukan' hasrat yang didesakkan" demi melampiaskan dendam rasa sakit. Ia naluri
cabul yang ditumpahkan habis sampai pada taraf menjijikkan. Pornografi bukan sekadar
sebagai "penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk
membangkitkan nafsu berahi", misalnya, seperti disebut dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (Balai Pustaka, 2002).

Menelisik pengertian yang lebih luas, pornografi seringkali justru tak berpaut dengan
erotisme, perilaku seksual untuk membangkitkan nafsu berahi. Dalam kadar, derajat, dan
format yang berbeda, seperti digeledah Baudrillard, Faucault, juga Durkheim, ia membias
jauh ke arah moral yang longsor.

Porno dalam konteks itulah yang, antara lain, dapat disaksikan secara terbuka di panggung
politik kita. Itulah buah getir warisan budaya politik yang, menurut sosiolog Ignas Kleden
(2004), mendera sepanjang empat abad dalam sejarah kekerasan kita.

Era reformasi yang tampak gaduh sekarang ini tak lain adalah anak yang lahir cedera dari
rahim kekerasan Orde Baru. Sedangkan Orde Baru, kita tahu, adalah anak kandung Orde
Lama yang revolusioner, dan juga bocah yang dulu-dulunya memberontak dari kekejaman
dan kekerasan kolonial.

Sejarah warisan turun-temurun yang di satu sisi, meminjam judul prosa naratif Jorge Luis
Borges, A Universal History of Infamy, penuh borok, kepalsuan, kecabulan, serta kekejian
para tokoh yang di mata awam terlihat sebagai pejuang tak bernoda. Di sisi lain kita juga
punya sejarah kearifan, kemuliaan, dan segala kebaikan; bekal hidup lebih menjanjikan di
masa depan.



































Gebrakan Festival Film Indonesia 2014

Rabu, 15 Oktober 2014
Akhmad Sekhu, wartawan


Revolusi mental yang dicanangkan presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) ternyata sudah
berimbas ke dunia film, terutama pada Festival Film Indonesia (FFI) 2014.

Seperti kita ketahui, sejak FFI pertama kali diselenggarakan pada 1955, penjurian kompetisi
film bioskop selalu dilakukan oleh lima sampai tujuh orang. Dengan cara seperti itu,
beberapa kali muncul kecurigaan, pertanyaan, bahkan kemarahan. Puncaknya adalah pada
FFI 2006, di mana 22 peraih Piala Citra akhirnya mengembalikan pialanya. Akar masalahnya
waktu itu adalah beberapa insan film tidak bersepakat terhadap pilihan para juri yang
memenangkan film Ekskul.

Kini, semangat perubahan sedang digagas dan dipraktekkan. Di bawah kepemimpinan
Kemala Atmojo sebagai Ketua Umum Pelaksana, FFI 2014 akan mengalami beberapa
perubahan yang cukup penting, terutama dalam hal sistem penjurian.

Kali ini penjurian film bioskop akan dibagi dalam dua tahap. Pertama, pembentukan
kelompok-kelompok yang masing-masing beranggotakan lima orang. Tiap kelompok hanya
akan menilai sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Misalnya, kelompok juri
skenario, kelompok juri musik, kelompok juri aktor, dan seterusnya. Seluruh anggota juri
tahap ini adalah insan film.

Di sini dewan juri diminta menuliskan nama sesuai dengan urutan prioritas (dari angka 1
yang terbaik hingga 5). Hasil dewan juri tahap I ini akan direkapitulasi oleh akuntan publik
dunia, Deloitte, untuk menghasilkan lima nominasi dalam tiap-tiap kategori. Dewan juri pada
tahap ini dilarang terlibat dalam film yang dinilai.

Kemudian, dalam tahap II, seluruh anggota dewan juri yang insan film itu, ditambah tokoh-
tokoh non-film, berhak menilai seluruh kategori yang dikompetisikan. Namun mereka hanya
memilih dari nama yang sudah masuk nominasi hasil olahan dari dewan juri tahap I. Pada
tahap kedua ini, seluruh dewan juri diminta untuk menuliskan hanya satu nama dalam tiap-
tiap kategori yang sudah dinominasikan tersebut.

Apabila dalam rekapitulasi tahap II terdapat dua nama yang jumlahnya sama dalam satu
kategori, juri tahap I akan diminta menilai kembali untuk menentukan pemenang akhir. Total
anggota dewan juri film bioskop diperkirakan mencapai 100 orang.

Dengan cara seperti itu, diharapkan tingkat obyektivitas bisa dijaga dan tingkat
akseptabilitasnya makin membesar. Dan ini terbukti dari kesediaan beberapa produser dan
pembuat film yang telah lama absen dari FFI kini berniat turut serta.

Perubahan lain yang dilakukan adalah soal desain Piala Citra. Panitia FFI tahun ini
"mengembalikan" desain Piala Citra seperti semula dengan sedikit sentuhan baru. Hal ini
selaras dengan permintaan banyak orang film, agar desain Piala Citra dikembalikan seperti
semula.

Dan, yang tak kalah penting, FFI tahun ini melibatkan tokoh-tokoh kenamaan. Ada Christine
Hakim, Seno Gumira Ajidarma, Irwan Usmar Ismail, Shanty Harmayn, Tino Saroengallo,
Reza Rahadian, Alex Komang, dan lain-lain. Apalagi di tingkat dewan juri. Hampir semua
nama besar insan film diajak menjadi anggota juri. Ini baru festival. Ini baru FFI.













Kekuatan Presidensial Jokowi

RABU, 15 OKTOBER 2014
M. Alfan Alfian, Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional, Jakarta

Meskipun terkesan ada dramatisasi menjelang pelantikan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf
Kalla sebagai presiden dan wakil presiden periode 2014-2019, prosesinya tetap akan lancar-
lancar saja. Tapi, yang penting sesungguhnya bukan prosesi pelantikan, melainkan masuknya
aktor formal pemerintahan ke gelanggang politik kenegaraan.
Pemerintah Jokowi akan segera disambut oleh realitas politik parlemen yang didominasi
Koalisi Pendukung Prabowo (KPP) sebagai kelompok penyeimbang. Banyak yang kaget
terhadap realitas politik KPP yang ternyata berhasil menguasai kepemimpinan parlemen itu.
Sebab, merujuk pengalaman, eksperimen penyeimbang biasanya mudah layu sebelum
berkembang.
Akibat penguasaan kepemimpinan parlemen oleh KPP, banyak yang khawatir pemerintah
Jokowi tidak akan efektif. KPP dipandang seperti monster bagi rencana kebijakan
pemerintah. Bukan hanya itu, ujungnya ke pemakzulan presiden. Bayang-bayang seram itu
menandakan bahwa politik telah dilihat secara berlebihan. Akibatnya, seolah kekuatan
presidensial Jokowi tekor sejak awal. Yang membuat itu semua justru faktor eksternal yang
dipandang telah melakukan pelemahan sistematis. Padahal praktek komunikasi politik saja
belum terjadi, bagaimana mungkin pemerintah Jokowi divonis lemah?
Politik ketatanegaraan kita jelas bersistem pemerintahan presidensial. Presiden ialah kepala
pemerintahan sekaligus kepala negara. Ia dipilih lima tahun sekali dan memiliki kewenangan
penting sebagaimana diatur dalam konstitusi. Presiden ialah pusat dari kekuatan pemerintah
(executives power). Tapi di sisi lain Dewan Perwakilan Rakyat tidak dapat, kendatipun punya
peluang, menjatuhkan presiden. Pengalaman naik dan jatuhnya Presiden Abdurrahman
Wahid bisa menjadi pelajaran. Tapi, DPR bukan hantu, melainkan mitra yang tidak dapat
serta-merta menolak rencana-rencana kebijakan penting pemerintah.
Pengerucutan politik di parlemen ke KPP sesungguhnya berdampak baik terhadap praktek
presidensial. Sedangkan pakar berpendapat bahwa sistem presidensial cenderung kompatibel
dengan sistem kepartaian yang sederhana. Jumlah partai boleh banyak. Tapi, idealnya,
pengelompokannya memang hanya dua. Dengan demikian, sesungguhnya Jokowi punya
peluang yang besar mengelola potensi konflik politik pemerintah dengan parlemen.
Bernegosiasi dengan satu koalisi yang jelas diasumsikan akan lebih mudah ketimbang
berurusan dengan kekuatan-kekuatan yang terpencar.
Adanya realitas politik di parlemen yang lebih dominan diduduki penyeimbang,
sesungguhnya yang lazim, merupakan konsekuensi pilihan politik. Dominan atau tidaknya
penyeimbang di parlemen bukan realitas yang harus diratapi, melainkan tantangan yang harus
dijawab dengan strategi dan komunikasi politik yang elegan. Sebagai kekuatan yang
didukung arus populis, begitu masuk ke arena interaksi politik kenegaraan yang kontestatif,
Jokowi tentu tidak dapat sekadar mengandalkan kekuatan relawan dan media.
Jokowi dihadapkan pada potensi sumber daya presidensial yang dapat dioptimalkan.
Andalannya, terutama kekuatan jajaran kabinet. Jokowi bisa seperti pelatih dalam sepak bola
yang menentukan strategi menghadapi lawan, apakah total football, catenaccio, atau yang
lain. Sebagai "strategist", Jokowi sendirilah yang akan menentukan kekuatan
presidensialnya.
Bahkan ia dapat mengeluarkan jurus "veto", kendatipun dalam sistem politik kita presiden
tidak punya "hak veto" atas kebijakan parlemen sebagaimana di Amerika Serikat. Jurus veto
yang dimaksudkan ialah optimalisasi penggunaan hak prerogatif, termasuk mungkin jurus
mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu). Tapi, terkait dengan
yang terakhir itu, syarat "kegentingan yang memaksa" tidak boleh diabaikan, kecuali kalau
sekadar melempar bumerang. Semua itu sesungguhnya merupakan derivasi dari
kepemimpinan Jokowi. Realitas politik akan mengujinya, apakah kepemimpinannya kuat
ataukah lemah.
Jokowi juga harus melihat realitas politik internalnya. Karena berangkat dari gagasan-
gagasan yang dipandang ideal, pilihan-pilihan politiknya pun berkonsekuensi pada sejauh
mana publik populisnya menilai. Kekuatan presidensial Jokowi terlihat dari ranah dukungan
publik. Dari sisi Jokowi, kekuatan presidensialnya akan baik manakala dukungan publik
solid, ketimbang terpecah. Hal yang terakhir ini bisa terjadi kalau kebijakan pemerintah
kontroversial.
Kekuatan komunikasi presidensial tetap akan ditentukan oleh skala prioritas dan teknis
pendekatan. Komunikasi presiden harus efektif. Karena bukan era kampanye lagi, pilihan
isunya harus lebih selektif. Pendekatannya tetap harus elegan, kalau bukan mengedepankan
strategi "soft power" ketimbang yang kontradiktif. Dari sisi ini, banyaknya dukungan media
membuat Jokowi punya kekuatan opini. Namun, apabila strateginya kurang tepat, kekuatan
media pun tidak akan banyak menolong. Kekuatan presidensial Jokowi tetap pada
otentisitasnya sebagai pemimpin.





Paradoks SBY

Kamis, 16 Oktober 2014
Sabam Leo Batubara, Pengamat Politik, Wartawan Senior


Tidak jarang, sulit untuk menebak arah kebijakan Susilo Bambang Yudhoyono, baik sebagai
Presiden RI maupun sebagai pemimpin Partai Demokrat.

Janji dan ucapannya berbeda dengan tindakannya. Masyarakat pers pernah ia kecewakan.
Rakyat yang sempat percaya bahwa SBY akan memenuhi janjinya memerangi korupsi dan
menyelenggarakan pemerintahan yang bersih akhirnya sangat kecewa. Menyikapi perang
antara kubu pendukung daulat partai dan pendukung daulat rakyat, arah kebijakan SBY
semakin membingungkan.

Pertama, apakah SBY menghargai dan mendukung kebebasan pers? Dalam sambutannya
memperingati Hari Pers Nasional 2005 di Pekanbaru, Presiden SBY menegaskan bahwa pada
masa pemerintahannya, tidak akan ada pembredelan terhadap media massa. Tiga tahun
kemudian, pemerintah, yang didukung Fraksi Demokrat dan delapan fraksi DPR lainnya,
menerbitkan UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu dan UU Nomor 42 Tahun 2008
tentang Pemilihan Presiden, yang berisi pasalpasal yang dapat membredel pers. Kedua
undang-undang itu ditandatangani oleh Presiden SBY.

Tiga bulan menjadi Presiden RI, dalam pertemuannya dengan Dewan Pers di Istana Negara,
SBY menyampaikan kebijakan persnya: "Penyelesaian masalah berita pers ditempuh pertama
dengan hak jawab. Kedua, bila masih dispute, diselesaikan di Dewan Pers. Ketiga, bila masih
ada konflik, penyelesaian lewat jalur hukum tidak ditabukan, sepanjang adil, terbuka, dan
akuntabel."

Menyikapi turunnya perolehan suara Partai Demokrat menjadi hanya 10,19 persen dalam
Pemilu 9 April 2014 dari 20,85 persen pada Pemilu 2009, dalam rapat pimpinan nasional
Partai Demokrat di Jakarta, 18 Mei lalu, SBY menyalahkan pers. "Suara Partai Demokrat
merosot tajam juga karena digempur habishabisan oleh televisi dan media cetak. Media
telah membangun persepsi publik seolaholah Demokrat paling banyak korupsi,
kenyataannya tidak." Patut disesalkan mengapa media yang menzalimi Partai Demokrat tidak
pernah diadukan ke Dewan Pers.

Kedua, anggota koalisi Kabinet Indonesia Bersatu terlibat dalam tindak korupsi berjemaah.
Pada akhir pidato kenegaraan pertama setelah dilantik menjadi Presiden RI pada Oktober
2004, SBY menegaskan, "Saya berjanji akan memimpin perang terhadap korupsi dan akan
menyelenggarakan pemerintah yang bersih." Apakah janji itu terwujud pada akhir
pemerintahannya? Sepertinya tidak. Media massa tidak henti-hentinya memuat berita tentang
keterlibatan orangorang partai politik anggota koalisi pemerintah SBY, baik di lingkup
legislatif maupun eksekutif, dalam kasus korupsi.

Berdasarkan faktafakta tersebut, terproyeksi arah paradoks dalam pertumbuhan jumlah
kasus korupsi. Di hilir, KPK proaktif menindak korupsi. Di hulu, korupsi sepertinya masih
tumbuh subur. Sebab, arah kebijakan SBY hanya unggul dalam janji, tapi lemah dalam
tindakan.

Ketiga, menyikapi tekanan kubu koalisi pendukung Prabowo (KPP) untuk mengembalikan
sistem pilkada ke model Orde Baru, yakni oleh DPRD, sikap SBY semakin membingungkan.
Dalam berbagai kesempatan, dia menyatakan tetap mendukung sistem pilkada langsung oleh
rakyat. Anehnya, Presiden SBY sepertinya merasa tidak bertanggung jawab atas kehadiran
Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi dalam Sidang Paripurna DPR pada September lalu,
yang tidak menyatakan berkeberatan alias mendukung kemenangan KPP. Keanehan
berikutnya, SBY sepertinya juga merasa tidak bertanggung jawab atas sikap Fraksi Demokrat
yang walkout dalam Sidang Paripurna DPR itu. Padahal, sikap meninggalkan sidang ini
bermakna memberi kemenangan kepada KPP.

SBY mungkin merasa rakyat Indonesia masih seperti pada era Orde Baru, masih bodoh,
sehingga tidak tahu tata krama politik yang berlaku di negara demokrasi, bahwa kehadiran
Mendagri dalam sidang DPR sesungguhnya mewakili presiden. Tidak mungkin Mendagri
menyampaikan suatu kebijakan di DPR jika belum disetujui oleh Presiden SBY.

Untuk mengembalikan sistem pilkada oleh DPRD seperti yang sudah disahkan DPR ke
sistem sebelumnya, yakni pilkada langsung oleh rakyat, Presiden SBY menerbitkan Perpu
Nomor 1 Tahun 2014 dan Perpu Nomor 2 Tahun 2014. Langkah ini jelas bertentangan
dengan langkah yang lazim kita ketahui. Kalau bisa mempermudah, kenapa mempersulit?
Seandainya SBY memang sungguhsungguh ingin mempertahankan pilkada langsung oleh
rakyat, kenapa SBY tidak menempuh langkah yang lebih mudah? Ia bisa memberi arah
kebijakan kepada Mendagri untuk mencabut RUU Pilkada oleh DPRD. Atau mengarahkan
Fraksi Demokrat, yang memiliki 128 kursi, agar tidak walk out dan menyatakan sikap dalam
Sidang Paripurna DPR untuk mempertahankan sistem pilkada langsung oleh rakyat.

Pada akhir masa jabatannya, SBY telah menambah arah paradoks Indonesia. Di Incheon,
Korea Selatan, pasangan ganda putri bulu tangkis Indonesia, Greysia Polii/Nytia Krishinda,
memberi kebanggaan bagi bangsa karena mendapatkan medali emas dalam Asian Games
XVII. Namun, di Indonesia, "pasangan ganda putra" SBY dan Prabowo berhasil meloloskan
aturan pilkada oleh DPRD di DPR. "Prestasi" ini merupakan langkah awal menuju model
demokrasi Pancasila ala Soeharto. Labelnya demokrasi, tapi kontennya kedaulatan berada di
tangan penguasa rezim dan penguasa partai.

Fatmawati dan Joko Widodo

Kamis, 16 Oktober 2014
Bandung Mawardi, ESAIS


Oktober memuat sejarah tentara dan pemuda. Kita membuat peringatan setiap tahun dengan
upacara, seminar, dan pentas seni. Siapa ingat Fatmawati (1923-1980) setiap Oktober? Ia
perempuan cantik, istri Sukarno saat bergairah menggerakkan ide dan imajinasi Indonesia.
Fatmawati adalah kontributor penting dalam arus sejarah Indonesia. Dia menunaikan amal
bersejarah: menjahit bendera Merah Putih.

Kapan? Di majalah Intisari edisi 7 Agustus 1970, Fatmawati memberi keterangan: "Pokoknja
kira-kira medio Oktober 1944. Seingat Ibu, bendera itu Ibu selesaikan sedikit demi sedikit,
lebih-kurang 2 hari lamanja." Keputusan menjahit bendera dipengaruhi oleh janji Jepang
untuk kemerdekaan Indonesia. Fatmawati sigap menanggapi situasi zaman. Di rumah,
beralamat di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, Fatmawati "menjahit" imajinasi Indonesia.
Proses menjahit bendera itu dilakukan saat Fatmawati sedang dalam keadaan hamil tua.

Bendera sudah selesai dijahit dan disimpan dengan doa agar Indonesia segera merdeka.
Penantian Fatmawati tak terlalu lama. Bendera itu dikibarkan dalam upacara khidmat di
depan rumah pada 17 Agustus 1945. Sukarno terus mengenang bendera dan Fatmawati:
"Isteriku telah membuat sebuah bendera dari dua potong kain. Sepotong kain putih dan
sepotong kain merah. Ia mendjahitnja dengan tangan" (Adams, 1966).

Kita mengimajinasikan Fatmawati berwajah sumringah dan terharu melihat bendera Merah
Putih itu berkibar, mengartikan Indonesia merdeka. Bendera menjadi simbol politis demi
kemerdekaan. Sehari setelah pembacaan teks proklamasi, bendera Merah Putih diresmikan
sebagai lambang negara, dimuat dalam UUD 1945. Tahun demi tahun berlalu, bendera hasil
jahitan Fatmawati dihormati sebagai bendera pusaka.

Peristiwa menjahit bendera Merah Putih jarang menjadi materi pembelajaran sejarah atau
memori kolektif. Fatmawati mungkin terlupakan. Kini, kita ingin merawat ingatan tentang
Fatmawati dan bendera merah putih menjelang hari pelantikan Joko Widodo sebagai
presiden. Joko Widodo dan kita bakal mengingat 20 Oktober 2014 adalah hari bersejarah
berkonteks demokrasi di Indonesia.
Kita mengingat Fatmawati dan Joko Widodo, atau Jokowi, melalui pemaknaan bendera
Merah Putih. Bendera pusaka adalah warisan besar bagi Indonesia. Bendera itu masih ada
meski menua dan usang. Pada tahun depan, Jokowi berhadapan dengan bendera pusaka
dalam upacara peringatan kemerdekaan. Barangkali Jokowi berkenan mengingat Fatmawati,
melengkapi ingatan mengenai revolusi mental dan Tri Sakti, mengacu ke Sukarno.
Jokowi memiliki kisah bersejarah dengan bendera Merah Putih. Kita masih ingat peristiwa
saat dia mencium bendera Merah Putih pada 14 Maret lalu. Adegan mencium bendera merah
putih dilaksanakan setelah Jokowi menerima perintah dari partai untuk maju menjadi calon
presiden. Joko Widodo memberi pesan penting saat adegan mencium bendera tersebut: cinta
Tanah Air, pengabdian bagi bangsa dan negara, misi memuliakan Indonesia.
Nanti, 20 Oktober 2014, Joko Widodo adalah presiden dengan janji bereferensi bendera
Merah Putih. Kita bakal turut membuktikan janji bersama Jokowi, tapi jangan melupakan
Fatmawati. Berkibarlah bendera putih, berkibarlah kemuliaan Indonesia!





















Penerbitan Vinyl dan Urgensi Pengarsipan

Jum'at, 17 Oktober 2014
Denny Sakrie, pengamat musik


Ada peristiwa menarik pada Rabu, 2 Oktober 2014. Saat itu, label tertua di Indonesia, Musica
Studios, untuk pertama kalinya sejak tiga dasawarsa silam kembali merilis album rekaman
dalam format piringan hitam atau vinyl untuk album terbaru grup musik d'Masiv bertajuk
Hidup Lebih Indah.

Kenapa menarik? Karena label musik sebesar Musica Studios, di tengah merebaknya
distribusi musik secara digital, pada akhirnya memiliki keberanian untuk merilis album pop
mainstream seperti d'Masiv dalam bentuk piringan hitam sebanyak 500 keping. Dalam
catatan saya, major label Sony Music pada 2012 telah memulai merilis album Superman Is
Dead bertajuk 1997-2009 sebanyak 1.000 keping cakram.

Memang banyak yang menyangsikan rilisan vinyl ini akan mendapat respons yang bagus dari
masyarakat penikmat musik, saat penjualan fisik seperti CD menurun, bahkan format kaset
telah lama hilang. Namun label-label besar seperti Sony Music atau Musica Studios tetap
melakukannya. Bisa jadi mereka terinspirasi oleh gerakan "back to vinyl" yang tengah
merebak di Amerika Serikat dan belahan dunia lainnya. Dan pihak label menyikapi hal ini
sebagai test case terhadap respons masyarakat akan format yang pernah berjaya pada
beberapa dasawarsa silam.
Jika ditilik secara saksama, momennya memang tepat. Kerinduan akan format fisik seperti
vinyl memang tengah melanda dunia, walau tidak dengan skala yang sensasional. Di Amerika
Serikat, tercatat sekitar 4 tahun terakhir penjualan format vinyl naik 300 persen dengan
penjualan pada 2006 sebesar 858.000, menjadi 2,5 juta pada 2009. Menurut data Nielsen
SoundScan, pada 2010, penjualan vinyl berkisar 2,8 juta keping. Bahkan, jika melongok data
pada Juni 2011, penjualan vinyl mencapai 40 persen melebihi tahun sebelumnya.

Indrawati Widjaja, pemilik Musica Studios, kini juga telah merencanakan perilisan katalog-
katalog lama (back catalog) Musica Studios pada era 1970-an dan 1980-an, seperti album
karya Guruh Soekarno Putra, Iwan Fals, Chrisye, dan Harry Roesli. Ini sebuah upaya yang
pantas didukung, mengingat begitu banyak karya seniman musik Indonesia punah begitu saja.
Pencapaian musik di masa lalu sepatutnya diberdayakan kembali dalam bentuk fisik seperti
vinyl.Sebab, vinyl dengan kemasan art work yang menampilkan cover beserta liner note dan
detail data musik bisa dianggap memiliki sifat yang sama dengan buku, atau karya senirupa
lainnya yang mampu merefleksikan sekaligus merekam sejarah budaya populer di suatu
masa. Ini karena musik sebagai sejarah budaya populer tak hanya dinikmati sebagai produk
bunyi saja tanpa bentuk fisik yang memadai, seperti halnya vinyl atau piringan hitam.

Upaya merilis katalog-katalog lama dalam bentuk vinyl bukan lagi untuk kepentingan
nostalgia belaka, melainkan merupakan upaya pengarsipan yang memiliki urgensi. Selama ini
sejarah musik populer di Indonesia memang nyaris agak berantakan dengan data-data yang
berserakan. Kita sama sekali tak memiliki data maupun pencatatan yang akurat, seperti yang
dilakukan oleh negara-negara maju.

Jika banyak label di Indonesia mulai mengikuti apa yang dirintis Musica Studios, Majemuk
Record, dan Rockpod Record, setidaknya ini akan menangkal upaya dari beberapa label
mancanegara yang merilis album-album Indonesia tanpa izin resmi alias membajak.
















Kutukan 17 Oktober

Jum'at, 17 Oktober 2014
Muhidin M. Dahlan, kerani @warungarsip


Ketika Prabowo Subianto merayakan ulang tahunnya yang pertama, 17 Oktober 1952,
sejumlah jenderal di bawah komando Kolonel A.H. Nasution melakukan show force di depan
Istana Merdeka, Jakarta Pusat.

Saat Prabowo dikecup banyak tamu pada hari ulang tahunnya yang pertama, sejarah politik
Indonesia geger oleh ulah koboi-koboian Nasution. Pada pagi itu, pasukan yang dikawal
Kemal Idris mengarahkan moncong tank ke arah kediaman Presiden Sukarno. Anda pasti
tahu, menodongkan bedil ke muka presiden bukan suatu candaan yang lucu. Apalagi
menodongnya dengan senjata berat. Ini gertakan paling kasar yang satu trip di bawah status
"pemberontakan".

Prabowo Subianto masih belajar merangkak saat Nasution berjudi dengan karier militernya
yang cemerlang. Dan 17 Oktober adalah pertaruhan nasib Nasution yang paling heroik, tapi
sekaligus menentukan langkah politiknya.

Prabowo Subianto masih teramat suci indra pendengarannya dari frasa "DPR" dan politik
parlemen ketika Nasution mengajukan tuntutan kepada Presiden Sukarno untuk
membubarkan DPR. Bagi Nasution, komposisi DPR yang ada masih merupakan sisa-sisa
kekacauan Revolusi. Nasution menganggap, mestinya tentara yang sudah mati-matian di
garis depan pertempuran mendapatkan privelese untuk melakukan pembenahan internal tanpa
campur tangan sedikit pun dari parlemen.

Pembenahan internal yang dimaksud Nasution adalah penyingkiran semua unsur Laskar
Rakyat yang menempuh pendidikan militer secara "non-formal" dari Jepang. DPR yang
dikuasai unsur-unsur revolusioner tidak membiarkan ide Nasution itu menggelinding mulus.
Karena kesal, Nasution mengambil langkah berani, yaitu menggertak Sukarno dengan tank
untuk menghabisi parlemen.

Namun sial, dalam perjudian itu, Nasution justru terjungkal. Ia disingkirkan dari jabatan
menterengnya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Namun sang kolonel tak menyerah.
Dengan sisa-sisa optimisme politiknya untuk mendapatkan panggung, ia bersama serdadu "17
Oktober" membikin partai politik Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), yang
kemudian kalah telak pada Pemilu 1955.

Nasution memang kembali mendapatkan posisi tertingginya di Angkatan Darat pada Oktober
1955. Namun hal itu terjadi berkat kemurahan hati Sukarno. Nasution setelah itu adalah
jenderal tanpa pasukan, tanpa inisiatif. Hingga Sukarno terjungkal oleh politik berdarah, sinar
Nasution tetap meredup untuk selamanya.

Tanggal 17 Oktober adalah kutukan bagi Nasution, dan sekaligus koinsidensi jalan militer
untuk Prabowo Subianto. Sebagaimana Nasution, karier militer Prabowo begitu cemerlang.
Sosoknya gagah dan kecakapan bahasa dan intelejensi di atas rata-rata serdadu tidak mampu
menyelamatkannya dari "kutukan 17 Oktober". Bintang-gemintang jenderal muda itu dicopot
Presiden B.J. Habibie pada 1998 atas rekomendasi Dewan Kehormatan ABRI.

Namun, 63 tahun kemudian, Prabowo Subianto berbeda sama sekali dengan Nasution. Walau
karier militernya berakhir cepat 1998, ia kembali ke puncak politik lewat kendaraan partai
politik yang didirikannya, Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Dan ikhtiar yang sungguh-
sungguh dari Prabowo itu hampir saja menjadikannya Presiden RI ke-7, jika tak ada wong
ndeso dari Solo bernama Joko Widodo. Si kurus itulah yang melumatkan, tidak saja impi-
impi pribadinya, tapi juga impian keluarga besarnya yang kerap dimamahnya di meja makan.














Pengabaian Pertanian Skala Kecil

Jum'at, 17 Oktober 2014
Khudori, peminat masalah politik ekonomi pertanian dan globalisasi


Bila sebelumnya berputar-putar pada kemiskinan, kelaparan, ketahanan pangan, dan krisis
pangan, kali ini Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober 2014, diperingati dengan tema "Family
Farming: Feeding the World, Caring for the Earth". Ini bukan pertama kalinya FAO
mengakui peran penting pertanian keluarga atau pertanian skala kecil. Namun, dalam
perjalanannya, pertanian skala kecil mengalami peminggiran luar biasa. Sejak 1990-an
mengikuti saran Bank Dunia dan IMF, negara-negara berkembang menyunat investasi
pertanian, mempromosikan led-export production. Pertanian negara berkembang berubah
radikal: dari terdiversifikasi dalam skala kecil-lokal menjadi model ekspor-industrial-
monokultur yang digerakkan korporasi global. Petani pun merana.

Berdasarkan hasil kajian International Assessment of Agricultural Knowledge, Science and
Technology for Development (IAASTD, 2008), model pertanian ekspor-industrial-
monokultur bukan resep ajaib untuk mengatasi kemiskinan dan kelaparan. Model itu
menghancurkan lingkungan (air dan tanah), mengerosi keanekaragaman hayati dan kearifan
lokal (pola tanam, waktu tanam, olah tanah, dan pengendalian hama), serta mengekspose
warga pada kerentanan tak terperi. Krisis pangan terjadi akibat tali-temali suplai dan stok
pangan menyusut, gagal panen, kenaikan harga BBM, perubahan iklim, permintaan biji-bijian
Cina dan India makin besar, konversi pangan ke biofuel, dan spekulasi. Namun, menurut
IAASTD, akar terdalam krisis pangan terjadi karena pemerintah lupa mengurus sektor
pertanian skala kecil, aturan perdagangan yang tak adil, dan dumping negara maju.

Untuk mengikis kemiskinan, kelaparan, dan degradasi lingkungan, IAASTD menyarankan
agar negara memperkuat pertanian skala kecil, meningkatkan investasi pertanian agro-
ekologis, mengadopsi kerangka kerja perdagangan yang adil, menolak transgenik, memberi
perhatian khusus kepada kearifan lokal, memberi peluang sama (kepada warga) agar
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, membalik akses dan kontrol sumber daya (air,
tanah, dan modal) dari korporasi ke komunitas lokal, dan memperkuat organisasi tani. Ini
pertama kalinya tim penilai independen memberi pengakuan peran pertanian skala kecil,
termasuk hak warga menentukan sendiri sistem (produksi, konsumsi, dan distribusi)
pertanian-pangan mereka-yang semua poin itu menjadi inti konsep kedaulatan pangan.

Ada empat alasan IAASTD memberi perhatian khusus bagi pertanian skala kecil. Pertama,
sampai saat ini 75 persen warga miskin adalah petani kecil. Porsi petani kecil di Asia
mencapai 87 persen, di Indonesia porsinya 55 persen. Menggenjot investasi pada pertanian
skala kecil tak hanya memberi pangan dunia, tapi juga menyelesaikan kemiskinan dan
kelaparan. Kedua, hasil riset-riset ekstensif menunjukkan pertanian keluarga/kecil jauh lebih
produktif dari pertanian industrial, karena mengkonsumsi sedikit BBM, terutama apabila
pangan diperdagangkan di tingkat lokal/regional (Rosset, 1999). Ketiga, bukti menunjukkan
pertanian skala kecil dan terdiversifikasi bisa beradaptasi dan pejal. Ini sekaligus merupakan
suatu model keberlanjutan yang ramah kearifan lokal dan keanekaragaman hayati. Keempat,
pertanian skala kecil ramah terhadap perubahan iklim (Altieri, 2008).

Diakui atau tidak, kelaparan yang membiak di bumi terjadi salah satunya karena pengabaian
terhadap pertanian skala kecil. Di bawah pendiktean IMF dan Bank Dunia, negara-negara
berkembang, termasuk Indonesia, menjalani restrukturisasi ekonominya, tak terkecuali sektor
pangan. Pangan yang semula terlindungi harus diliberalisasi. Pada saat yang sama, aneka
subsidi dan pelbagai perlindungan petani ditiadakan. Peran negara dalam bentuk stabilisasi
harga dicap sebagai biang distorsi. Negara harus menyingkir dari pasar. Impor pangan
membanjir. Petani enggan berusaha tani karena insentif ekonomi tidak memadai. Saat harga
pangan melejit tinggi karena krisis, baru terasa pentingnya kemandirian.

Saat ini, setiap malam, satu dari delapan penduduk bumi beranjak tidur sembari menahan
lapar. Satu di antara empat anak di negara berkembang menderita kurang gizi. Mereka yang
lapar hampir semiliar. Untuk menolong mereka, FAO menyeru peningkatan pendanaan
domestik dan internasional untuk pertanian, investasi baru di perdesaan, perbaikan
pemerintahan, kemitraan para pemangku kepentingan, dan adaptasi serta mitigasi perubahan
iklim.

Masalahnya, tak mudah bagi negara-negara miskin untuk melakukan semua saran FAO.
Investasi, misalnya. Menurut hitungan FAO, pertanian negara-negara berkembang
membutuhkan suntikan US$ 30 miliar per tahun untuk membantu petani. Ini hanya 8,2 persen
dari subsidi yang digelontorkan negara maju untuk pertanian pada 2007. Bagi Indonesia,
tidak mudah mewujudkan rekomendasi FAO itu, kecuali ada pembalikan radikal dalam
politik anggaran. Politik anggaran yang menjauh dari pertanian harus diubah.
Konsekuensinya, pertanian dan pangan harus ditempatkan di posisi terhormat: persoalan
bangsa-negara.








Ahok dan Pasar Kambing Tanah Abang

Sabtu, 18 Oktober 2014
JJ Rizal, Sejarawan


Idul Adha boleh berlalu di Jakarta, tapi persoalan Ahok dan pedagang kambing Tanah Abang
terus hadir. Masalah ini meninggalkan hawa panas yang bukan tidak mungkin menuju titik
api.

Apalagi di sekitar persoalan Ahok dan pedagang kambing itu berembus desas-desus, seperti
mengaitkan mereka dengan Front Pembela Islam (FPI) yang menolak Ahok sebagai
Gubernur Jakarta. Adalah benar FPI bermarkas di Petamburan, Tanah Abang, tapi bukan
berarti pedagang kambing sepaham dengan mereka.

FPI berangkat dari sentimen agama. Adapun pedagang kambing berangkat dari masalah tidak
adanya pengertian kultural historis Ahok terhadap mereka yang sudah ratusan tahun secara
turun-temurun berdagang kambing di Tanah Abang.

Arsip masa Kompeni memerikan para pedagang kambing itu paling tidak sudah ada sejak
Kapiten Cina Phoa Bingam mendapat hak sewa Tanah Abang dan membangun kanal
Molenvliet pada 1648, yang menghubungkan daerah itu dengan Kota Batavia.

Pasar kambing semakin berkembang manakala Justinus Vinck, penyewa baru Tanah Abang,
pada 30 Agustus 1735 mendirikan pasar yang tidak hanya memberi ruang bagi perdagangan
kambing, tapi juga bahan tekstil. Mayoritas pedagang tekstil di Pasar Tanah Abang adalah
orang-orang Arab. Pada 1920, jumlah mereka sampai 13.000. Kedoyanan mereka menyantap
daging kambing bukan saja bikin pasar kambing kian ramai, tapi juga memunculkan
pertemuan budaya kuliner. Sop kambing yang kaya rempah dan memakai susu adalah salah
satu contohnya.

Pada sekitar 1890, keramaian pasar kambing Tanah Abang menorehkan sejarah baru yang
memperlihatkan tempat itu sebagai pusat berkembangnya kebudayaan maen pukulan atau
pencak silat Betawi. Ini ditandai dengan kemunculan tokoh legendaris Si Pitung yang berlaga
dengan sejumlah begal sepulang dari pasar kambing Tanah Abang. Demikianlah pasar
kambing Tanah Abang menjadi tempat maen pukulan Betawi aliran cingkrik, yang
memperkenalkan kehebatannya via Pitung dan tersohor sampai sekarang.

Si Pitung menambah pamor pasar kambing sebagai tempatnya jago, yang sebelumnya sudah
dikenalkan oleh Gepeng, jago Tanah Abang andalan tuan tanah Tan Hu Teng dari Kebon
Dalem. Ini termasuk pula Sabeni dan Rachmat, jago pasar kambing Tanah Abang yang
hampir sezaman dengan Pitung. Keduanya tersohor dengan maen pukulan yang kelak
menjadi kebanggaan orang Tanah Abang dan sampai kini terus dipelajari, salah satunya oleh
jago Tanah Abang, M. Yusuf Muhi alias Bang Ucu. Sabeni kemudian bukan saja dihormati
dengan menyematkan namanya sebagai aliran maen pukulan Tanah Abang, tapi juga nama
jalan di sana.

Waktu berlalu dan Pasar Tanah Abang yang dimulai sebagai pasar kambing kemudian pasar
tekstil pelan-pelan berubah. Pasar tekstil berkembang dan menjadi pusat grosir tekstil terbesar
di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. Sementara itu, pasar kambing layu dan menyurut. Pasar
kambing dirangsek oleh pasar tekstil. Keluarga yang turun-temurun berdagang kambing pun
mengecil. Bahkan, ada yang bilang, kini jumlahnya tak lebih dari 1 persen orang Tanah
Abang.

Kemerosotan itu dimulai pada 1973, ketika Pasar Tanah Abang diremajakan. Niat Ali Sadikin
membangun tempat khusus untuk pedagang kambing di belakang pasar tekstil sekitar Kali
Krukut tak terwujud. Pedagang kambing pun terlunta-lunta. Pasar kambing berpindah-pindah
dari Kebon Dalem ke Gang Tike (belakang Blok G) dan Blok F. Adapun keberadaan
pejagalan kambing, yang menjadi bagian dari pasar kambing di belakang Blok G, pada akhir
Agustus 2013 digusur demi program quick wins Jokowi-Ahok, yang salah satunya adalah
menata Tanah Abang. Kini sisa pedagang kambing bertahan di lahan 300 meter di Jalan
Sabeni, sedangkan relokasi pejagalan kambing di lahan hampir 1.000 meter sampai kini tak
jelas pelaksanaannya.

Demikianlah Pasar Tanah Abang sebagai mental map, yang berkaitan dengan identitas suatu
tempat sebagai pasar kambing, sedang dalam proses pelupaan. Celakanya, sadar atau tidak,
pelupaan itu turut dilakukan oleh Ahok yang beretorika dengan Instruksi Gubernur Nomor 67
Tahun 2014 tentang Pelarangan Menjual Hewan Qurban.

Setelah pada hari-hari biasa mereka digencet, lantas dalam masa yang sangat penting dan
sudah mentradisi sebagai salah satu rites de passages, atau ritus kehidupan orang Betawi
yang disebut Lebaran Haji--saat pedagang kambing Tanah Abang menjadi bagian dari ritus
Islam Betawi itu--mereka malahan terang-terangan digebah. Dalam situasi ini muncul
pertanyaan soal keberpihakan. Mengapa pedagang kambing dianaktirikan, sementara
pedagang tekstilnya didukung?

Kasus pedagang kambing Tanah Abang adalah gambaran cara pandang dan kebijakan yang
kurang paham sejarah, juga kurang berperspektif budaya. Padahal, sejarah panjang identitas
unik Jakarta harusnya dapat diunggulkan sebagai diferensiasi sekaligus keunggulan
komparatif kultural historis yang penting untuk city branding.


Dongeng Kampret

Sabtu, 18 Oktober 2014
Agus Dermawan T., Pengamat Budaya dan Seni


Pada suatu malam saya mendapat panggilan telepon dari Suhu Thien Lung. Lelaki bajik dan
bijak, selaras dengan namanya yang bermakna istimewa: langit (thien) tempat pertapaan naga
(lung).

"Hei, sedang apa?" Suhu bertanya. "Nonton televisi, siaran sidang DPR tentang UU Pilkada
langsung dan tidak langsung. Fraksi Demokrat bergaya netral dan walk out dari sidang
rupanya!" saya menjawab. "Ya. Padahal Machiavelli bilang, dalam situasi pelik, si netral
akan dibenci pihak yang kalah, dan dipandang rendah pihak yang menang," kata Suhu. "Tapi
SBY sebagai pimpinan Partai Demokrat merasa jengkel dan bersalah kepada demokrasi
rakyat. SBY mungkin beringsut ke Koalisi Indonesia Hebat," kata saya. "Itu telat! Koalisi
Merah Putih bisa menganggap SBY berkhianat, dan namanya akan dikenang buruk oleh
berbagai pihak," ujar Suhu.

Berkaitan dengan sikap Fraksi Demokrat itu, Suhu lalu mendongeng tentang kampret. Cerita
dari Cina itu berjudul Liang mian bu tao hao, atau Ditolak Kedua Belah Pihak.

"Alkisah...," tutur Suhu. "Situasi republik satwa sedang kemelut. Negara satwa terbelah jadi
dua kekuatan besar. Kekuatan pertama dihuni cou sho, atau koalisi satwa berjalan dan
berdaun telinga, yang dipimpin oleh lembu (Bovidae). Kekuatan kedua dihuni fei ching, atau
koalisi satwa terbang dan bersayap, yang dipimpin oleh garuda (Accipitridae). Kedua
kelompok ini sibuk melakukan rapat-rapat. Keduanya mengolah strategi untuk saling
mengepruk, melipat, dan menyikat!

Tak jauh di sebelah sana terbilanglah kampret atau kelelawar (Chirotera). Kampret merasa
bahwa dirinya juga cou sho. Bukankah aku bertelinga dan wajahku seperti lembu pula?
Begitu ia berkata. Tapi pada saat lain ia mengaku bahwa dirinya juga fei ching, karena ia
punya sayap dan bisa terbang seperti garuda. Kegandaan rupa ini menyebabkan kampret
mengambil jalan lancung. Diam-diam ia mengikuti rapat kelompok cou sho. Namun pada
hari yang lain, ia pontang-panting menyelinap dalam pertemuan rahasia kelompok fei ching!

Lalu, nun dari bawah tanah muncullah kelabang (Scolopendromorpha), yang kecewa karena
tidak dikelompokkan di mana-mana. Kecewaan ini menumbuhkan ide: kelabang menyiarkan
tabiat politik kampret yang bersikap mendua. Tak ayal, kelompok cou sho dan fei ching
marah luar biasa. Kampret pun dibikin keder dan ngeri. Si kampret berjingkat dan buru-buru
lari!
Sahibul hikayat bilang, sejak itu kampret menyandang rasa malu bukan kepalang, sehingga
tidak lagi mau muncul pada siang yang benderang. Ia cuma berani jalan-jalan dalam
kegelapan malam. Dan tatkala sembunyi di sela-sela dahan, tubuhnya dibikin meringkuk dan
menggantung, dimiripkan dengan sarang burung!"

Sampai di situ suhu mengakhiri cerita. Di telepon saya tertawa. Ha-ha-ha.

"Lucu dan memiriskan, ya. Tapi saya percaya SBY akan memutihkan ulah fraksinya, Suhu
Thien Lung! Seperti nama Anda yang bagus, nama Susilo Bambang Yudhoyono juga
menyimpan makna istimewa. Bambang itu lelaki kesatria, dan susilo itu artinya bertata
krama! Mustahil ia mau mengotori nama baiknya," kata saya.

"Ya, ya. Mungkin Perppu Nomor 1/2014 dan Nomor 2/2014 adalah mesin cucinya," kata
Suhu Thien Lung, sambil mengucap: "sampai jumpa...." *















Ketoprak

Sabtu, 18 Oktober 2014
Nur Haryanto anto@tempo.co.id


Teng-teng-teng-teng ... Tidak sari-sarinya saya tergoda oleh suara nyaring penjual makanan
yang memukulkan sendok ke piring itu. Tapi, hari libur yang panas selama sepekan terakhir
ini menjadi pengecualian untuk membeli sepiring ketoprak. Saya tidak salah terka, karena
penjual ketoprak selalu memanggil pelanggan dengan memukulkan sendok ke piring. Kalau
sendok beradu ke mangkok, pasti itu penjual bakso.

"Cabainya dua saja." Itu saja syarat yang saya minta. Selebihnya, saya pasrahkan racikannya
kepada penjualnya. Bukankah Nabi mengatakan, "serahkanlah urusan itu kepada ahlinya"?

Dengan cekatan, tangan si pedagang membelah ketupat menjadi sembilan potongan dan
menaruhnya di atas piring. Segenggam tauge dan tahu goreng yang dipotong seukuran dadu
ditaburkan. Berikutnya, bihun yang telah diseduh kemudian dijepit dan ditaruh pelan-pelan.
Semuanya tersusun lapis demi lapis. Sejurus kemudian, adonan sambal kacang yang tak
terlalu kental diguyurkan.

Last but not least (izinkan saya memakai kalimat Inggris ini), kerupuk warna merah diremas-
remas dan ditaburkan hingga menggunung dalam menu kuliner tradisional ini. Materi terakhir
ini melengkapi keberagaman jenis dan warna makanan dalam piring warna putih itu. Tanpa
remukan kerupuk ini, lidah dan mulut kurang bisa bergoyang.

Sebenarnya, ketoprak bagi saya yang berasal dari Yogyakarta lebih dekat dengan seni
panggung tradisional, semacam teater. Ketoprak sempat menjadi acara favorit TVRI
Yogyakarta pada 1980-1990-an. Puncak popularitasnya ketika stasiun TVRI Yogyakarta
menyiarkan Ketoprak Sayembara yang berisi cerita misteri bersambung sepekan sekali pada
1994-1995.

Pada 2000-an, muncul Ketoprak Humor yang digawangi oleh pelawak Srimulat. Timbul,
Tarsan, Basuki, Mamik, dan Tessi muncul di panggung ketoprak yang dipentaskan di Gedung
Kesenian Jakarta itu. Acara bisa ditonton secara nasional karena disiarkan stasiun televisi
swasta. Acara ini ditayangkan pada prime time dan sempat menduduki rating tinggi.

Kini tontonan kesenian tradisional, termasuk ketoprak, sulit ditemui di panggung ataupun
dalam tayangan televisi. Suatu hari saya sempat mengobrol dengan Pak Bakdi Sumanto
(almarhum) di rumahnya yang asri di Kota Yogyakarta. Pembicaraan yang tidak intens
(berbincang-bincang ringan sambil menyeruput teh) salah satunya mengenai ketoprak. Beliau
ini guru besar Fakultas Budaya UGM dan bisa dikatakan pendekarnya seni pertunjukan, jadi
saya percaya 1.000 persen.

Menurut Bakdi, kesenian tradisional yang satu ini tumbuh di masyarakat agraris yang
akhirnya tersingkir kembali ke habitat asalnya. Kondisi ini diperparah oleh pergeseran
budaya. Warga di desa yang dulunya menyenangi seni tradisi mulai kalah oleh tontonan baru
dari tayangan stasiun televisi swasta.

Eits ... sepiring ketoprak di piring sudah tersaji. Saya menyalakan televisi, ternyata sedang
menyiarkan ulang sidang paripurna Rancangan Undang-Undang Pilkada. Saat itu terlihat aksi
walk out Fraksi Demokrat. Kabar yang beredar di berbagai media, aksi ini sudah diskenario
sejak awal. Hasilnya, UU Pilkada memutuskan kepala daerah dipilih tidak langsung.

Tangan saya refleks memencet tombol merah remote televisi. Tayangan sidang parlemen
yang berlangsung sampai dinihari itu bisa mengganggu selera makan saya. Makan ketoprak
sepertinya tidak nikmat sambil menonton ketoprak.