You are on page 1of 5

Tahap Perkembangan Remaja

oleh Dian Rahmawati, 1206218846

Kasus 5
Seorang perawat komunitas merawat seorang remaja (15 tahun). Keluarga mengeluhkan
kondisi anaknya yang sudah satu minggu ini tidak mau sekolah. Hal ini terjadi setelah guru di
sekolah memanggil orang tua karena perilaku anaknya sering bolos, tidak memperhatikan
pelajaran dan sering mengantuk, dan sering meminjam uang temannya tanpa dikembalikan.
Keluarga bingung karena selama ini anaknya adalah anak yang penurut. Saat ini anak
tampak tidak peduli pada kebutuhan dan aturan keluarga, jarang ikut acara keluarga
seperti liburan atau kenduri, Sering memakai kacamata hitam, selalu menggunakan baju
berlengan panjang berbohong dan kamar berantakan dan suka pemakai pewangi ruangan.
Perawat komunitas kesulitan untuk menemui remaja karena selalu menghindar.

Pembahasan:
Anak yang bermasalah pada kasus diatas telah masuk dalam tahap remaja. Masa
remaja (adolescence) merupakan masa di mana terjadi transisi masa kanak-kanak menuju
dewasa, biasanya antara usia 13 dan 20 tahun. Pada masa remaja ini terdapat tiga subfase:
masa remaja awal (11 sampai 14 tahun), masa remaja pertengahan (15 sampai 17 tahun), dan
masa remaja akhir (18 sampai 20 tahun) (Potter & Perry, 1985/2009). Karena remaja pada
kasus di atas berusia 15 tahun, maka ia masuk dalam masa remaja pertengahan. Terdapat
banyak variasi antar-subfase dalam perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial. Demikian
juga dengan kesempatan, tantangan, perubahan, keterampilan, dan tekanan (Potter & Perry,
1985/2009). Berikut merupakan tabel perkembangan pada remaja pertengahan:
Remaja pertengahan
(15-17 tahun)
Pertumbuhan Pertumbuhan melambat pada anak perempuan
Tinggi badan mencapai 95% tinggi badan dewasa
Karakteristik seks sekunder lanjut
Kognisi Memperoleh kemampuan berfikir abstrak
Memiliki kemampuan intelektual yang umumnya idealistic
Memiliki perhatian terhadap masalah filsafat, politis, dan sosial
Identitas Mengubah citra diri
Sangat egosentrik; narsisme yang bertambah besar
Kecenderungan berfokus pada pengalaman dalam diri dan
penemuan jati diri
Memiliki kehidupan fantasi yang kaya
Idealistic
Mampu memperkirakan akibat dari tingkah laku dan keputusan
yang diambil; aplikasi yang bervariasi
Hubungan dengan orang
tua
Konflik besar mengenai kemandirian dan kendali
Merupakan titik rendah dalam hubungan orang tua-anak
Dorongan terbesar untuk emansipasi terhadap orang tua;
berusaha melepaskan diri
Kebebasan emosional akhir dan ireversibel dari orang tua;
merasa berduka
Hubungan dengan
kelompok
Kebutuhan yang kuat akan identitas untuk menegakkan imej-
diri
Standar tingkah laku ditentukan oleh kelompok
Penerimaan oleh kelompok menjadi hal yang teramat penting-
adanya ketakutan akan penolakan
Menjelajahi kemampuan untuk menarik lawan jenis
Seksualitas Hubungan prural yang banyak
Pengambilan keputusan untuk menjadi heteroseksual
Eksplorasi „daya tarik diri‟
Memiliki perasaan „jatuh cinta‟
Terbentuknya hubungan yang tentative
Kesehatan psikologis Lebih berfokus kepada diri; menjadi lebih introspektif
Cenderung menarik diri saat merasa kecewa atau terluka
Perubahan emosi dalam waktu dan jangkauan tertentu
Sering merasa tidak berdaya; kesulitan dalam meminta bantuan
Tabel 1. Tahap perkembangan remaja pertengahan
(Diambil dari Hockenberry M. J., Wilson D. (2007). Wong’s nursing care of infants and
children (8
th
Ed.). St. Louis: Mosby dalam Potter, P. A., Perry, A. G. (1985/2009).
Fundamental keperawatan (Ed. 1 Buku1) (Adrina Ferderika, Penerjemah). Jakarta: Salemba
Medika.
Karakteristik perkembangan remaja dapat dibedakan menjadi perkembangan psikoseksual,
psikososial, kognitif, moral, dan spiritual (Wong, Hockenberry-Eaton, & Wilson,
2001/2009):
1. Perkembangan Psikoseksual (Freud)
Freud dalam Wong, Hockenberry-Eaton, & Wilson (2001/2009) menggunakan
istilah psikoseksual untuk menjelaskan segala kesenangan sensual. Pada remaja yang
berusia 12 tahun ke atas masuk ke dalam tahap genital. Tahap genital merupakan tahap
setelah tahap oral (lahir-1 tahun), anal (1-3 tahun), falik (3-6 tahun), dan periode laten (6-
12 tahun). Tahap genital adalah masa kebangkitan kembali dorongan seksual; sumber
kesenangan seksual sekarang adalah orang di luar keluarga (Santrock, 1996/2003). Tahap
ini dimulai pada saat pubertas dengan maturasi sistem reproduksi dan produksi hormone-
hormon seks. Organ genital menjadi sumber utama ketegangan dan kesenangan seksual,
namun juga digunakan untuk membentuk persahabatan dan persiapan pernikahan.
2. Perkembangan Psikososial (Erikson)
Erikson dalam Wong, Hockenberry-Eaton, & Wilson (2001/2009) menjelaskan
konflik dan masalah inti yang harus dikuasai individu selama periode kritis dalam
perkembangan kepribadian. Setiap tahap psikososial mempunyai dua komponen aspek
menyenangkan dan tidak menyenangkan dari konflik inti dan perkembangan ke tahap
selanjutnya bergantung pada penyelesaian konflik ini. Pada remaja yang berusia 12
sampai 18 tahun tahap perkembangan psikososial mereka adalah identitas vs
kebingungan. Tahap ini berhubungan dengan tahap genital Freud dimana identitas
dicirikan dengan perubahan fisik yang cepat dan jelas. Remaja dihadapkan dengan pada
pertanyaan siapa mereka, mereka itu sebenarnya apa, dan ke mana mereka tuju dalam
hidupnya (Santrock, 1996/2003).
Remaja akan berusaha untuk menyesuaikan diri dengan peran mereka serta
mengintegrasikan konsep dan nilai-nilai mereka terhadap lingkungan. Ketidakmampuan
untuk menyelesaikan konflik inti dapat menyebabkan kebingungan peran sedangkan
keberhasilan akan menghasilkan kesetiaan dan ketaatan terhadap orang lain serta nilai-
nilai dan ideology.
3. Perkembangan Kognitif (Piaget)
Istilah kognisi merujuk pada proses saat individu sedang berkembang mengenal
dunia dan isinya. Setiap anak mempunyai potensi intelektual namun harus dikembangkan
melalui interaksi dengan lingkungan. Menurut Piaget dalam Wong, Hockenberry-Eaton,
& Wilson (2001/2009) intelegensia memungkinkan individu melakukan adaptasi terhadap
lingkungan sehingga meningkatkan kemungkinan bertahan hidup, dan melalui
perilakunya, individu membentuk dan mempertahankan keseimbangan dengan
lingkungan. Pada remaja yang berusia 11 sampai 15 tahun perkembangan kognitifnya
adalah operasional formal.
Operasional formal ditandai dengan adaptabilitas dan fleksibilitas. Remaja dapat
bernalar secara lebih abstrak dan logis. Mereka akan menjadi lebih idealistik. Remaja
dapat berpikir menggunakan istilah-istilah abstrak, menggunakan simbol-simbol abstrak,
dan menarik kesimpulan logis dari serangkaian observasi. Misalnya pada pertanyaan,
“jika A lebih besar dari B dan B lebih besar dari C, maka manakah yang paling besar?”
Remaja dapat membuat hipotesis dan mengujinya sehingga dapat menjawab pertanyaan
tersebut dengan benar. Mereka juga dapat mempertimbangkan hal-hal yang bersifat
abstrak, teori, dan filosofi.
4. Perkembangan Moral (Kohlberg)
Kohlberg dalam Wong, Hockenberry-Eaton, & Wilson (2001/2009) membuat
teori perkembangan moral berdasarkan perkembangan kognitif dan membaginya dalam
tiga tingkat utama, yaitu tingkat prkonvensional, tingkat konvensional, dan tingkat
pascakonvensional, autonomi, atau prinsip. Remaja masuk pada tingkat terakhir yaitu
tingkat pascakonvensional, autonomi, atau prinsip. Tahap ini remaja telah mencapai pada
tahap kognitif operasional formal. Remaja cenderung berperilaku sesuai hak-hak dan
standar umum individu dalam masyarakat. Mereka juga memiliki prinsip sendiri untuk
memandu mereka dalam mengambil keputusan. Prinsip tersebut berupa prinsip kejadian
dan hak asasi manusia yang bersifat abstrak dan etis yang menghargai martabat seseorang
sebagai individu.
5. Perkembangan Spiritual (Fowler)
Keyakinan spiritual sangat berkaitan dengan bagian moral dan etis dalam konsep
diri anak dan, oleh karena itu, harus dipertimbangkan sebagai bagian dari pengkajian
kebutuhan dasar anak (Wong, Hockenberry-Eaton, & Wilson, 2001/2009). Setiap orang
harus memiliki arti, tujuan, dan harapan dalam hidupnya. Selain agama (serangkaian
keyakinan dan praktik yang terorganisasi), spiritualitas mempengaruhi seluruh bagian
dalam diri seseorang: pikiran, tubuh, dan jiwa (Clutter, 1991 dalam Wong, Hockenberry-
Eaton, & Wilson, 2001/2009). Fowler (1974) dalam Wong, Hockenberry-Eaton, &
Wilson (2001/2009) telah mengidentifikasi tujuh tahap perkembangan keimanan. Remaja
masuk dalam tahap 4: Individuating-reflextive. Remaja cenderung akan lebih skeptic dan
mulai membandingkan berbagai standar keagamaan orang tua mereka dengan orang lain.
Remaja akan memilih mana akan mereka adopsi dan masuk ke dalam nilai-nilai mereka
sendiri. Remaja juga cenderung untuk membandingkan standar keagamaan dengan sudut
pandang ilmiah. Remaja merasa tidak yakin tentang ide-ide keagamaan tetapi tidak akan
mendapatkan wawasan yang jelas sampai masa remaja akhir atau dewasa awal.

Setiap remaja akan mengalami tahap genital pada perkembangan psikoseksual, tahap
identitas vs kebingungan pada perkembangan psikososial, tahap operasional formal pada
perkembangan kognitif, tingkat pascakonvensional, autonomi, atau prinsip pada
perkembangan moral, dan tahap individuating-reflextive pada perkembangan spiritual.
Remaja pada kasus di atas (remaja pertengahan) akan mengalami titik rendah dalam
hubungan orang tua-anak. Sebaliknya remaja pertengahan akan senantiasa mendahulukan
kelompok pertemanannya dimana penerimaan oleh kelompok menjadi hal yang teramat
penting atau kata lain mereka takut tidak di terima oleh kelompoknya. Oleh karena itu,
apabila terdapat pengaruh negatif dari kelompok pertemanannya dan orang tua tidak mampu
mengawasi dan memberikan pendidikan sesuai dengan tahap perkembangan remaja dengan
baik, maka remaja akan cenderung berperilaku menyimpang seperti yang telah terjadi pada
kasus di atas. Selain itu remaja juga sedang mencari identitas diri dan mengalami perubahan
peran sehingga cenderung mencoba hal-hal baru tanpa memikirkan dampak yang akan
terjadi. Dan apabila remaja memiliki masalah, seringkali mereka menarik diri dan mengalami
kesulitan dalam meminta bantuan. Dan apabila mereka tidak mempunyai mekanisme koping
yang baik, cenderung mengalihkan masalah tersebut pada hal lain dimana cenderung akan
berperilaku negative. Oleh karena itu penting sekali peran orang tua dalam mendidik remaja
agar tidak berperilaku menyimpang.

Referensi:
Potter, P. A., Perry, A. G. (1985/2009). Fundamental keperawatan (Ed. 1 Buku1) (Adrina
Ferderika, Penerjemah). Jakarta: Salemba Medika.
Santrock, J. W. (1996/2003). Adolescence: perkembangan remaja (Shinto B. Adelar &
Sherly Saragih, Penerjemah) Jakarta: Erlangga.
Wong, D. L., Hockenberry-Eaton, M., Wilson, D., Winkelstein, M. L., Schwartz, P.
(2001/2009). Wong buku ajar keperawatan pediatric (Ed. 6) (Andry Hartono, Sari
Kurnianingsih & Setiawan, Penerjemah). Jakarta: EGC.