You are on page 1of 9

Nama

: Dwi Wulandari Oktovianis

Jurusan

: S1 Pendidikan Geografi

Kelas

: C 2013

NIM

: 13040274079

A. Latar belakang dan pembahasan singkat seputar kasus penelantaran anak di Cibubur.
Kesalahan pola asuh tampaknya dominan terjadi di keluarga Indonesia. Bagaimana
orang tua tidak memiliki standar dalam mendidik anak, bahkan tidak memiliki visi dalam
membangun keluarga dan membina setiap anggota keluarga didalamnya.
Buruknya pola asuh ini akan memberikan dampak yang buruk juga terhadap
perkembangan fisik dan psikis anak. Padahal anak adalah generasi yang notabenenya adalah
penerus estafet kepemimpinan masa depan. Bisa kita bayangkan bila mereka dibesarkan
dalam pola asuh orang tua yang buruk bagaimana jadinya output generasi yang dihasilkan
kemudian.
Keluarga adalah institusi terkecil yang merupakan benteng terakhir penjagaan anakanak dari bahaya yang berasal dari luar. Baik berupa bahaya fisik maupun bahaya pemikiran.
Namun, kita melihat pada faktanya sekarang bahwa banyak institusi keluarga yang tidak
mampu menjaga anggota keluarganya dari kedua bahaya ini.
Bahkan mereka mengawali membangun dan membina keluarganya dengan nilai-nilai
atau sistem hidup saat ini yang justru berdampak pada kehancuran keluarga tersebut.
Disfungsi keluarga semakin banyak terjadi seiring modernitas dan kehidupan berbasis
demokrasi. Nilai HAM membuat keluarga individualis, tak mau mendengar nasihat
lingkungan.

sikap aneh juga diperlihatkan oleh kedua orang tua korban yang mengaku sebagai keturunan majapahit dan mereka memiliki anggapan bahwa pola asuh mereka dengan cara menelantarkan anak-anaknya adalah benar. Negara memiliki kewajiban untuk membina institusi keluarga di seluruh penjuru Indonesia dengan pendidikan formal dan non formal semisal dengan bimbingan dan penyuluhan. Tinggal di dalam rumah yang jauh dari kriteria layak rumah yang sehat. Polisi bersama anggota komnas perlindungan anak memeriksa rumah kedua orang tua dari kelima anak tersebut dan menemukan kelima anak tersebut dalam keadaan yang memprihatinkan. C (10 tahun). Polisi yang menerima laporan ini segera melakukan penggeledahan ke rumah Utomo. Bekasi. AD (8 tahun). kedua orang tua yang merupakan orang-orang berpendidikan tersebut ternyata adalah seorang pemakai narkoba. Kedua pasangan suami istri ini adalah Utomo Perbowo alias Tomi (45 tahun) dan Nurindria Sari alias Lin (42 tahun). Utomo yang sehari-harinya bekerja sebagai dosen dan menjabat sebagai pembantu rektor di salah satu perguruan tinggi swasta STT Muhammadyah serta istrinya Lin diduga telah menelantarkan kelima anaknya yang masih di bawah umur serta seringkali melakukan kekerasan fisik terhadap kelima anaknya tersebut. Kasus penelantaran anak oleh orang tuanya menjadi salah satu contoh kelalaian negara dalam menyosialisasikan bagaimana pola asuh yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang tua. Selain itu. Bekasi. Hal ini dibuktikan dengan penemuan narkoba jenis shabu di lantai dua rumah mereka serta hasil tes urine yang . AL (5 tahun). Belum lama ini ada sebuah kasus tentang kekerasan dan penelantaran orang tua terhadap anak kandungnya di Cibubur. Kasus penelantaran ini terungkap berawal dari para tetangga yang sering melihat perilaku-perilaku aneh dari keluarga Utomo melaporkan hal ini kepada pihak berwajib. dan DN (4 tahun) tinggal di sebuah rumah yang beralamat di Citra Gran Cibubur. Mereka bersama kelima anaknya yakni berinisial L (10 tahun).Dalam hal ini tidak bisa juga kita menyalahkan keluarga karena ada peran pemerintah yang seharusnya mampu mencegah terjadinya disfungsi keluarga ini. Cluster Nusa Dua Blok E. Namun ada hal yang tidak diduga.

menunjukkan bahwa mereka positif mengkonsumsi narkoba. Sejauh ini banyak pihak yang menduga bahwa hal ini yang menyebabkan perilaku kasar dari kedua orang tua tersebut terhadap anak-anaknya. .

Anak-anak tersebut juga juga dapat menirukan tingkah laku orang lain yang dianggapnya sebagai model/ percontohan dengan cara mengingat tingkah laku tersebut. Mereka sudah bisa berpersepsi bahwa orang tuanya jahat karena sering melakukan kekerasan fisik pada mereka. Kurang mendapatkan stimulus emosional yang juga mempengaruhi pertumbuhan pada semua fungsi jasmaniah. C (10 tahun) dan AD (8 tahun) yang sundah memasuki tahap operasional kongkrit dimana mereka secara umum seharusnya sudah mampu memberi alasan untuk memperhitungkan apa yang akan dilakukannya. Sehingga kecenderungan untuk berperilaku sama seperti orang tuanya bisa saja terjadi pada ketiganya. Perkembangan sosio-emosional  Perkembangan sosio-emosional tumbuh dari hubungan yang erat dengan orang tua dan keluarga. sehingga anak mengalami kehampaan psikis (innanitie psikis). Secara tidak langsung. Analisis perkembangan a. Melihat kondisi ini. 2. Analisis pertumbuhan Kelima anak yang ditelantarkan tersebut umumnya kurang mendapatkan perawatan jasmaniah dan cinta kasih dari kedua orang tuanya. Hasil analisi terhadap kasus penelantaran anak di Cibubur. Perkembangan kognitif  Pada AL (5 tahun) dan DN (4 tahun) keduanya masih berada di tahap perkembangan kognitif pra-operasional yaitu tahap dimana anak mulai menggunakan berbagai symbol. Keduanya dapat saling mempengaruhi.  Pada L (10 tahun). Pada tahap ini anak sudah dapat bermain dengan imajinasinya. 1.B. Pengasuhan orang tua adalah faktor terpenting dalam . karena mereka belum bisa membedakan benar dan salah secara utuh kemungkinan akan timbul imajinasi dalam benak kedua anak tersebut untuk bertingkah sama seperti orang tuannya. maka kemungkinan kedua anak tersebut sering merekam bagaimana tingkah laku buruk orang tuanya yang selama ini dianggapnya sebagai model. tetapi mereka belum bisa menilai apakah orang tua mereka salah atau tidak. b. Selain itu melihat dari kondisi rumah tinggal mereka yang jauh dari kriteria rumah menyebabkan hal tersebut tidak baik bagi kesehatan mereka dan dapat mengganggu pertumbuhan mereka.

Apa yang dilakukan kedua orang tua tersebut terhadap kelima anaknya. maka perilaku moral yang buruk dari kedua orang tua tersebut akan ditiru oleh kelima anak tersebut. Teori belajar behavior (Teori Kondisioning) Teori ini menekankan bagaimana seseorang dapat belajar dari pengalamannya. seperti melarang anak dengan mengorbankan hak otonom dari anak. mudah frustasi. C (10 tahun) dan AD (8 tahun) yang telah memasuki masa pra remaja kecenderungan yang akan terjadi pada diri mereka adalah mereka kurang dapat mengontrol emosinya (labil). Perkembangan moral  Perkembangan moral yang dialami anak-anak dilalui dalam beberapa tahap. c. 3.hal ini. Bila melihat dari gaya mendidik orang tua dari kelima anak tersebut adalah tergolong orang tua yang otoriter (authoritarian parents). serta memiliki pandangan bahwa anak-anak seharusnya menerima otoriter orang tua tanpa banyak pertanyaan dan cenderung keras. Pertama.  Pada L (10 tahun). minder. yang dianggap mereka sebagai model. secara moral sudah dapat dinilai buruk oleh kelima anak tersebut. Sikap otoriter tersebut menyebabkan kelima anak memiliki kecenderungan tertutup. Analisis teori belajar Ada beberapa teori belajar yang dapat digunakan sebagai acuan dalam analisis tentang teori belajar ini. Namun karena mereka terlanjur menganggap orang tua mereka sebagai figur model. yaitu: a. mudah marah. Mereka tahu bahwa apa yang orang tuanya lakukan adalah salah. selalu merasa bersalah dll. Hal ini terlihat dari cara mereka memperlakukan anak-anaknya. Hal ini adalah dampak dari pola asuh dari kedua orang tua yang salah. penakut dsb. tahap dasar (2-3 tahun) anak-anak sudah mulai belajar mengenai benar dan salah dari orang tua mereka. Bila melihat dari kasus ini sudah tentu pengalaman yang dialami oleh kelima anak ini adalah pengalaman buruk yang membuat kelimanya mengalami trauma terhadap apa .

kita harus dapat masuk ke dalam dunia mereka. kemungkinan untuk mengubah cara berpikir mereka menjadi lebih mudah. Karena yang harus kita rubah dari mereka adalah cara berpikirnya. Karena saya percaya. yang mereka percayai. Penerapan yang tepat dari teori ini dapat membantu anak-anak menghilangkan trauma. Bagaimana mengubah pengalaman buruk yang pernah mereka dapatkan dari kedua orang tua mereka menjadi sebuah sebuah pelajaran berharga yang mampu membentuk sikap baik pada diri kelima anak tersebut. yaitu sebagai berikut:  Untuk memahami perilaku kelima anak tersebut. serta sikap minder mereka sehingga terjadi perubahan yang positif di dalam diri kelima anak tersebut. Teori belajar humanistik Teori belajar humanistik adalah teori belajar yang mencoba memahami cara belajar seseorang berdasarkan cara pandangnya. Yang harus kita perhatikan disini . kelima anak tersebut telah mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang tidak sempurna dan banyak terdapat gangguan di dalamnya. sehingga saat mereka sudah percaya pada kita. Tujuan utama dari teori belajar humanistik ini adalah bagaimana mengubah persepsi dan cara berpikir kelima anak tersebut sehingga mereka dapat mengembangkan dan mewujudkan potensi-potensi yang terpendam di dalam diri masing-masing mereka. Setiap anak memiliki kerangka berfikir yang unik dan cara pandang yang berbeda dalam memaknai setiap peristiwa yang terjadi disekelilingnya. Ada dua hal yang dapat dilakukan untuk menerapkan teori belajar ini. rasa takut. menjadi sosok yang mereka senangi. Namun disini peran teori belajar ini terhadap anak-anak tersebut. b. Hal-hal tersebut menyebabkan mereka memiliki pola pikir bahwa setiap orang tua harus dan pasti bersikap keras dan otoriter terhadap anak-anaknya. setiap anak memiliki kelebihan dan potensinya tersendiri.yang pernah dilakukan orang tuanya terhadap mereka. Pada kasus ini.

Walaupun demikian tiap anak pasti memiliki harapan dan keinginan untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya. sandang dan papan. sikap. Untuk mencapai kebutuhan teratas maka kebutuhan dasar harus terpenuhi dengan baik. ancaman dan kecemasan). Yang dibutuhkan oleh kelima anak ini adalah motivasi. Kebutuhan affektif tersebut adalah kebutuhan yang berhubungan dengan emosi. Sehingga mereka kesulitan untuk mencapai aktualisasi diri. Analisis kesulitan belajar . nilai. Sedangkan kebutuhan teratasnya adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri. Disini butuh orang yang mampu membantu mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar dari kelima anak tersebut setelah itu baru pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri yang meliputi kebutuhan akan rasa aman (terhindar dari rasa takut. kebutuhan sosial (mencintai dan dicintai) serta kebutuhan penghargaan diri (self-esteem). Rasa takut yang menjadikan mereka tidak berani mengembangkan diri mereka. dan moral yang mungkin tidak mereka dapatkan saat mereka masih diasuh oleh kedua orang tua mereka. Pengembangan diri ini terkait dengan kebutuhan hidup seseorang.  Di dalam diri setiap anak terdapat dua hal. perasaan. 4. Kebutuhan terbawah / dasar yang harus dipenuhi adalah kebutuhan akan pangan. rasa takut untuk mengambil kesempatan. semangat dan dukungan terhadap moral dan psikologis mereka agar mereka memiliki keberanian untuk mengembangkan diri mereka secara optimal. Di dalam diri kelima anak tersebut ada rasa takut yang diakibatkan oleh trauma atas pengalaman yang mereka rasakan. yaitu suatu usaha yang positif untuk berkembang dan kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan tersebut.adalah bagaimana kita dapat lebih responsif terhadap kebutuhan kasih sayang (affective) anak. Yang terjadi pada kelima anak ini adalah dimana mereka tidak mendapatkan pemenuhan kebutuhan dasar secara baik. serta rasa takut untuk memutuskan suatu pilihan.

sosio-emosional. Kelainan ini mungkin saja timbul pada kelima anak tersebut karena selama ini mereka kurang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya. Kesimpulan dan Saran a. penyendiri. rendah diri. b. ingin menang sendiri dan sering memerlihatkan gejala-gejala aneh lainnya. Seharusnya orang tua menjadi benteng terkuat dari anak-anak dari berbagai macam bahaya bukan justru menghancurkannya. Anak seharusnya di besarkan dan diperlakukan dengan penuh . Namun melalui penerapan dari teori belajar behavior dan teori belajar humanistik dampak dari traumatik tersebut dapat diperkecil. Mereka mengalami trauma akibat pola asuh yang salah dari kedua orang tuanya yang kemudian bisa jadi mendorong timbulnya kesulitan belajar seperti disgrafia (kesulitan menulis) serta gangguan dari segi emosi dan perilakunya. dimana mereka tidak dapat mengharmonisasikan ingatan dengan gerakan ototnya secara otomatis pada saat menulis huruf dan angka. Gangguan emosi dan perilaku Anak yang memiliki gangguan emosi dan perilaku ini cenderung memiliki karakter pemalu. pendiam. b. Kesimpulan Kelima anak yang ditelantarkan oleh kedua orang tuanya tersebut terganggu dalam hal pertumbuhan secara psikologis dan perkembangannya baik dari segi kognitif. Disgrafia Kelainan ini dialami anak yaitu kesulitan dalam menulis. 5. Berikut kemungkinan-kemungkinan kesulitan belajar yang dapat dialami oleh kelima anak tersebut: a. memiliki rasa takut yang besar jika bertemu orang yang tidak dikenal. lebih banyak diam. Hal ini adalah dampak dari trauma yang dialami oleh kelima anak tersebut akibat penelantaran dan kekerasan fisik yang sering mereka dapatkan dari kedua orang tua mereka. memiliki rasa takut yang berlebihan. sering murung. diantaranya mereka sering murung. terutama AD (8 tahun) yang bahkan tidak bersekolah. pemalu. hendaknya menyadari tanggung jawab tersebut.Dari kasus di atas segala sesuatunya pasti memiliki dampak terhadap korban yaitu kelima anak tersebut. mudah tersinggung atau marah. Sebagai orang tua yang sudah diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mengasuh dan memelihara anak. dan moral. Gejala-gejala ini secara tidak langsung sudah terlihat dari kelima anak tersebut.

Kasus penelantaran anak ini semoga menjadi pelajaran bagi para orang tua agar dapat lebih memperhatikan pola asuh terhadap anak. .cinta dan kasih sayang agar kelak mereka dapat tumbuh menjadi penerus keluarga yang baik.