You are on page 1of 7

Chepalgia

A. Definisi
Chepalgia adalah nyeri atau sakit sekitar kepala, termasuk nyeri di belakang
mata serta perbatasan antara leher dan kepala bagian belakang. Chepalgia atau sakit
kepala adalah salah satu keluhan fisik paling utama manusia. Sakit kepala pada
kenyataannya adalah gejala bukan penyakit dan dapat menunjukkan penyakit organik
(neurologi atau penyakit lain), respon stress, vasodilatasi (migren), tegangan otot
rangka (sakit kepala tegang) atau kombinasi respon tersebut.
Chepalgia Kronik mengacu pada sakit kepala yang terjadi lebih dari 15 hari
dalam sebulan – dalam beberapa kasus bahkan setiap hari – selama tiga bulan atau
lebih (Silberstein, 2005). Chepalgia kronik dapat dikategorisasikan dalam 2
kelompok yaitu primer dan sekunder. Chepalgia kronik primer tidak berhubungan
dengan penyakit sistemik, dan lebih sering dikaitkan dengan panjang pendeknya
durasi nyeri, didasarkan apakah seseorang memiliki episode nyeri kepala yang
berlangsung rata-rata kurang atau lebih dari 4 jam. Saat durasi nyeri kepala kurang
dari 4 jam, maka diagnosis yang berbeda dapat meliputi cluster headache,
paroxysmal hemicrania, idiopathic stabbing headache, hypnic headache, dan shortlasting unilateral neuralgiform headache attacks dengan conjunctival injection and
tearing (SUNCT). Dan saat durasinya berlangsung lebih dari 4 jam, maka yang
termasuk dalam kriteria yang dikeluarkan oleh International Classification of
Headache Disorders (ICHD-2) adalah chronic migraine, hemicrania continua, chronic
tension-type headache (CTTH), and new daily persistent headache (NDPH)
(Headache Classification Committee of the International Headache Society, 2004).
Sedangkan Chepalgia kronik sekunder seperti acute headache medication overuse,
head trauma, cervical spine disorders, vascular disorders, dan disorders of intracranial
pressure. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Silberstein and Lipton (2001),
prevalensi Chepalgia kronik yaitu lebih banyak dialami wanita dengan rasio
perbandingan 1.8:1.
B. Penyebab
Sakit kepala kronis sering berkembang dari sejumlah faktor risiko yang umum:
1. Penggunaan obat yang berlebihan.
Hampir semua obat sakit kepala, termasuk dan penghilang migrain seperti
acetaminophen dan triptans, bisa membuat sakit kepala parah bila terlalu sering
dipakai untuk jangka waktu lama. Menggunakan terlalu banyak obat dapat
menyebabkan kondisi yang disebut rebound sakit kepala.

Seperti meningitis. teh. daging babi. yang juga faktor risiko untuk berkembang menjadi sakit kepala kronis. C. yogurt. atau bahkan tumor. Selain itu. 3. seperti keju. Sementara kafein telah ditunjukkan untuk meningkatkan efektivitas ketika ditambahkan ke beberapa obat sakit kepala. Migren  Migren tanpa aura  Migren dengan aura  Migren oftalmoplegik  Migren retina. kafein yang berlebihan dapat menciptakan efek rebound. 6.  Coklat (mengandung feniletilamin). termasuk sakit kepala kronis. 4. pisang. saraf terjepit di leher. alpukat. yang dapat mengganggu pernapasan di malam hari dan mencegah tidur nyenyak.  Makanan yang diawetkan atau diragi.2. Stress adalah pemicu yang paling umum untuk sakit kepala. Stres. telur. Masalah tidur Kesulitan tidur merupakan faktor risiko umum untuk sakit kepala kronis. itu terkait dengan kecemasan dan depresi. kacang. jeruk. terlalu banyak kafein dapat memiliki efek yang berlawanan. Makanan  Alkohol (anggur merah) dan bir menyebabkan vasodilatasi.  Makanan yang mengandung tiramin yang berasa dari AA tirosin. Sama seperti obat sakit kepala berlebihan dapat memperburuk gejala sakit kepala. . Penyakit atau infeksi. pemanis buatan. 5. juga merupakan faktor risiko. bawang. Klasifikasi Klasifikasi Sefalgia menurut International Headache Society: 1. Kafein. Mendengkur. dan kopi.

2. Sakit kepala tipe tension episodik atau kronik.  Perdarahan subarakhnoid.  Sarkoidosis dan penyakit inflamatorik non-infeksi. Sakit kepala yang terkait dengan infeksi selain di kepala. . 8.  Hematom intrakranial. 7. 6. Sakit kepala yang terkait dengan gangguan metabolik. Infeksi virus.  Sakit kepala kronik pasca trauma.vertebralis. bakteri atau lainnya.  Trombosis vena. Sakit kepala tipe klaster dan hemikrani paroksismal kronik. gabungan hipoksia dan hiperkapnia.  Sakit kepala akut pasca trauma. Hipoksia.  Unruptured vascular malformation  Arteritis  Sakit pada arteri karotis atau a.d an abnormalitas metabolik lainnya. Sakit kepala terkait dengan kelainan intrakranial non-vaskular. 4. dialisis. 3. Sakit kepala yang terkait dengan kelainan vaskular. Sakit kepala tipe tension.  Akibat tekanan likuor serebro spinalis yang tinggi  Akibat tekanan likuor serebro spinalis yang rendah  Infeksi intrakranial. hiperkapnia.  Hipertensi arterial. Sakit kepala yang berkaitan dengan trauma.  Gangguan serebrovaskular iskemik akut. 5. hipoglikemia.

Nasofaring). hipoglikemia dan hiperkapnia). pemakaian obat vasodilatasi. iritis).  Ketegangan otot kepala.  Gangguan pembuluh darah ekstrakranial. keadaan paska contusio serebri. temporal dan frontal. arteri-arteri subkutis dan periostium. Bangunan-bangunan intrakranial yang peka nyeri terdiri dari meninges. penyumbatan jalan lintasan liquor. intoksikasi alkohol. Perangsangan terhadap bangunan-bangunan itu dapat berupa:  Infeksi selaput otak : meningitis. terutama dura basalis dan meninges yang mendindingi sinus venosus serta arteriarteri besar pada basis otak. Bangunan-bangunan ekstrakranial yang peka nyeri ialah otot-otot okspital. gangguan metabolik (seperti hipoksemia. misalnya vasodilatasi ( migren dan cluster headache) dan radang (arteritis temporalis)  Gangguan terhadap otot-otot yang mempunyai hubungan dengan kepala. gigi geligi (pulpitis dan molar III yang mendesak gigi) dan daerah leher (spondiloartritis deforman servikalis. reaksi alergik). Tulang tengkorak sendiri tidak peka nyeri. kulit kepala.  Peregangan selaput otak akibat proses desak ruang intrakranial.  Vasodilatasi arteri intrakranial akibat keadaan toksik (seperti pada infeksi umum. insufisiensi serebrovasculer akut).  Penjalaran nyeri (reffererd pain) dari daerah mata (glaukoma. edema serebri atau tekanan intrakranial yang menurun tiba-tiba atau cepat sekali. sinus (sinusitis). Sebagian besar dari jaringan otak sendiri tidak peka nyeri. ensefalitis.  Iritasi kimiawi terhadap selaput otak seperti pada perdarahan subdural atau setelah dilakukan pneumo atau zat kontras ensefalografi. intoksikasi CO. Patofisiologi Sakit kepala timbul sebagai hasil perangsangan terhadap bangunan-bangunan diwilayah kepala dan leher yang peka terhadap nyeri. trombosis venos spinosus. baseol kranii ( ca. leher bahu sebagai manifestasi psikoorganik pada keadaan depresi dan stress . seperti pada spondiloartrosis deformans servikalis.D.

Fase Pemulihan Fase pemulihan adalah periode kontraksi otot leher dan kulit kepala yang dihubungkan dengan sakit otot dan ketegangan lokal. Durasi keadaan ini bervariasi dengan jarak beberapa jam dalam satu hari atau sepanjang hari. Serangan migran klasik dapat dibagi dalam tiga fase : 1.  Elektrolit : tidak seimbang. F.E. mual muntah. Fase Sakit Kepala Pada saat gejala awal mulai berkurang. Pemeriksaan Diagnostik 1. 3. sub kutan. Gejala-gejala lain dapat diikuti dengan adanya kesemutan perasaan gatal pada wajah atau tangan sedikit pada ekstremitas dan pusing 2. 3. aura dapat lebih 30 menit dan dapat memberikan waktu yang cukup bagi pasien untuk menentukan obat yang akan digunakan untuk mencegah serangan yang dalam. Manifestasi Klinis Sakit kepala sering muncul pada saat bangun tetapi hal ini dapat terjadi sewaktuwaktu. malfermasi rahang. MRI : mendeteksi lesi/abnormalitas jaringan. hiperkalsemia dapat menstimulasi migren. CT Scan :  Otak : mendeteksi masa intrakranial.  Sinus : mendeteksi adanya infeksi pada daerah spenoidal dan etmoidal. rektal atau melalui inhalasi) efeknya dalam menghilangkan sakit kepala jika digunakan pada awal proses migren. Fase Aura Bila migren dihubungkan dengan aura. Rontgen kepala : mendeteksi fraktur dan penyimpangan struktur. G. 2. Penatalaksanaan 1. perpindahan ventrikuler atau hemoragik intrakranial. Ergotamin tartrat bekerja pada otot polos yang menyebabkan kontriksi yang lama pada pembuluh darah kranial . Sakit kepala ini berat dan menjadikan tidak mampu dan sering dihubungakan dengan fotofobia. Penatalaksanaan serangan akut Preparat ergotamin (sublingual. IM. gejala ini diikuti oleh sakit kepala dan berdenyut. Rontgen sinnus : mengkonfirmasi diagnosa sinusitis dan mengidentifikasikan masalah-masalah struktur.

KONSEP KEPERAWATAN A. Pencegahan Penatalaksanaan medis terhadap migren dilakukan setiap hari memakai satu atau lebih zat-zat yang mendukung berhentinya sefalgia. terapi obat dalam interval 36 bulan biasanya digunakan obat propranolo (inderan) dan martisergit (sensert).2. PENGKAJIAN Pengkajian Meliputi : .

1999. EGC. Perawatan Medikal Bedah. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta Marlyn E. Doengoes. Edisi 3.DAFTAR PUSTAKA Barbara C Long. Yayasan Ikatan Alumi Pendidikan keperawatan Padjajaran. 2002. 1996. EGC . Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan & Pendokumentasian perawatan pasien. Bandung Bruner & Suddarth.