You are on page 1of 54

BAB I

PATOLOGI ANATOMI
DASAR-DASAR NEOPLASMA DAN PERAN PERAWAT

A. Definisi Neoplasma
Neoplasia secara harfiah berarti proses “pertumbuhan baru” dan suatu
pertumbuhan baru disebut neoplasma. Menurut Price dan Wilson, neoplasma
ialah kumpulan sel abnormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus
menerus secara tidak terbatas, tidak berkoordinasi dengan jaringan sekitarnya,
dan tidak berguna bagi tubuh. Pada neoplasma terjadi proses proliferasi
neoplastik, yang mempunyai sifat progresif, tidak bertujuan, tidak
memperdulikan jaringan sekitarnya, dan tidak ada hubungan dengan
kebutuhan tubuh dan bersifat parasitic. Proliferasi neoplastik menimbulkan
massa neoplasma, menimbulkan pembengkakan atau benjolan pada jaringan
tubuh membentuk tumor.
Dalam klinik, neoplasma sering disebut dengan istilah tumor. Istilah
tumor sendiri sering digunakan untuk semua tonjolan dan diartikan sebagai
pembengkakan, yang dapat disebabkan baik oleh neoplasma maupun oleh
radang, atau perdarahan. Sel- sel neoplasma berasal dari sel - sel yang
sebelumnya adalah sel- sel normal, namun menjadi abnormal akibat
perubahan neoplastik (Price dan Wilson, 2006).
B. Etiologi Neoplasma
Faktor penyebab neoplasma di setiap negara berbeda. Namun, faktor
penyebab yang paling sering adalah faktor makanan (kelebihan kalori,
kelebihan lemak, dan kekurangan serat) dan akibat asap rokok ataupun
merokok. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa penyebab neoplasma dapat
digolongkan menjadi 4, yaitu
1. Virus
Virus yang bersifat karsinogen disebut virus onkogenik. Virus DNA
dan RNA dapat menimbulkan transformasi sel. Mekanisme transformasi
sel oleh virus RNA adalah setelah virus RNA diubah menjadi DNA
provirus oleh enzim reverse transeriptase yang kemudian bergabung
dengan DNA sel penjamin. Setelah mengenfeksi sel, materi genitek virus
1

RNA dapaat membawa bagian materi genitek sel yang di infeksi yang
disebut V-onkogen kemudian dipindahkan ke materi genitek sel yang lain.
Beberapa virus yang dapat menyebabkan neoplasma antaralain:
 Epstein-barr à Limfoma burkitt
 Ca NasofaringHerpes simplex virus (HPV) tipe 16,18 à Ca servix uteri
 Hepatitis B virus à Ca Hepatoseluler
 Limfotropik sel-T manusia (HTLV-1) à Leukimia limfositik
 Limfoma
 Human Immunodeficiency virus à Sarkoma Kaposi
2. Kimia
Bahan kimia penyebab neoplasma dapat bersal dari bahan alami dan
sintetik atau semi sintetik.
 Bahan alami
Aflatoksin B1 adalah karsinogen alami. Alfatoksin B1 adalah
mitoksin yang berasal dari Aspergillus Flavus yang mudah tumbuh
pada berbagai butiran tanaman serelia atau tanaman kacang kacangan,
misalnya kacang tanah yang di simpan dalam suasana lembap. Bahan
ini merupakan promotor kuat bagi neoplasma (karsinoma) pada

pengidap sirosis hati.
Bahan sintesis
Vinilklorida yang merupakan bahan antara dalam industri
plastik, dapat menginduksi angiosarkoma hepatis, terutama pada
karyawan di industri plastik, sedangkan bahan antara pada industri
bahan celup, yaitu 2-naftilamin adalah suatu karsinogen yang
menimbulkan

neoplasma

(karsinoma)

pada

kandung

kemih.

Benzo(a)piren, suatu pencemar lingkungan yang terdapat di manamana, berasal dari pembakaran tak sempurna pada mesin mobil dan
mesin lain (jelaga dan ter), terkenal sebagai suatu karsinogen untuk
binatang, dan mungkin sebagai suatu karsinogen untuk binatang, dan
mungkin sekali juga bersifat karsinogen pada manusia.
Penyebab agen kimia yang paling sering adalah akibat penggunaan
tembakau.

Tembakau

merupakan

karsinogen

kimia

poten

yang

menyebabkan sedikitnya 35% kematian akibat kanker pada paru-paru,
kepala, leher, mesofagus, pankreas, serviks dan kandung kemih. Tembakau
bekerja sinergis dengan substansi lain seperti alkohol, asbestos, uranium

2

dan virus. Kondisi ini seringkali menyebabkan insidensi Ca cavum oris
meningkat.
Sementara itu, agen kimia lainnya adalah zat warna amino aromatik
dan anillin, arsenik, jelaga, tar, asbestos, benzen, pinang dan kapur sirih,
kadmium, senyawa kromium, nikel, seng, debu kayu, senyawa berilium
dan polivinil klorida. Agen-agen kimia ini dalam dosis yang berlebihan
membahayakan tubuh karena akan merusak struktur DNA terutama pada
bagian-bagian tubuh yang jauh dari pajanan zat kimia seperti hepar, paru,
dan ginjal karena organ-organ ini berperan untuk melakukan detoksifikasi
zat-zat kimiawi (Chrestella, 2009).
3. Biologi
Secara biologi faktor penyebabnya dikarenakan oleh adanya faktor
genetik, hormon, mikitoksin, dan parasit. Secara genetik kerusakan DNA
pada sel yang pola kromosomnya abnormal dapat membentuk sel-sel
mutan. Pola kromosom yang abnormal dan neoplasma berhubungan
dengan kromosom ekstra, jumlah kromosom yang terlalu sedikit dan
adanya translokasi kromosom. Contoh: limfoma burkitt, leukimia
mielogenus, meningioma, retinoblastoma, tumor wilm.
Faktor predisposisi kanker :
 Predisposisi keturunan, pada masa anak-anak dan dewasa dan pada
berbagai tempat dalam satu organ atau sepasang organ.
 Predisposisi herediter pada saudara dekat/sedarah dengan tipe kanker
yang sama.
Contoh lain jenis kanker yang berkaitan dengan faktor genetik:
retinoblastoma,

ca

mammae,

nefroblastoma,

ca

prostat,

feokromositoma, ca paru, nefrofibromatosis, ca gaster, leukimia, ca
kolorektal.
Sementara itu pengaruh hormon adalah sebagai promotor terjadinya
keganasan; ini terbukti secara ekspremental maupun secara klinis.
Beberapa

jenis

hormone

menjadi

salah

satu

co-faktor

pada

karsinogenesis. Sebagai contoh estrogen membantu pembentukan kanker
endometrium dan payudara. Hormone steroid merangsang pembentukan
neoplasma (karsinoma) sel hati.
Pengaruh lain adalah adanya parasit Schistosoma hematobium
menyebabkan karsinogen planoseluler, dan bukan karsinoma sel transisel

3

yang lazim terdapat di buli-buli akibat serbuan parasit yang ke dinding
buli-buli usia 25-40 tahun. Schistosoma dan Clonorchis sinensis adalah
parasit yang dihubungkan dengan tejadinya kanker kandung kemih dan
infeksi Clonorchis sinensis yang dihubungkan dengan terjadinya kanker
pada kandung empedu (Noorwati, 2007).
4. Radiasi ion dan non-ion
Radisai on dan non-ion dapat digolongkan dalam karsinogen kontak
langsung. Hal ini karena penggunaan sinar radiasi adalah memajan ke
tubuh secara langsung. Proses pemajanan dengan sinar radiasi secar terus
menerus dapat menjadi sebuah karsinogen yaitu terjadi kemungkinan
karsinogenesis iatrogen, yaitu yang disebabkan oleh tindakan kedokteran,
umpamanya eksposisi pada sianr tembus yang merupakan sinar ionisasi
atau

ultraviolet

yang

digunakan

revalidasi.

Radiasi,

dimanapun

sumbernya (UV, sinar x, fisi nuklir, radionuklida) merupakan karsinogen
karena dapat menyebabkan neoplasma berupa kanker kulit.
Dari beberapa penyebab utama di atas, penyebab yang sering adalah
faktor makanan yang dapat menjadi pemicu terjadinya beberapa penyebabpenyebab di atas tersebut. Asupan kalori yang berlebihan terutama yang
berasal dari lemak binatang dan kebiasaan makan makanan yang kurang serat
meninggikan resiko terhadap berbagai keganasan, sperti karsinoma payudara
dan karsinoma kolon (Chrestella, 2009).
C. Klasifikasi Neoplasma
1. Berdasakan sifat biologi
a. Jinak (Belinga)
Tumor jinak tumbuhnya lambat dan biasanya mempunyai kapsul.
Tidak tumbuh infiltratif, tidak merusak jaringan sekitarnya dan tidak
menimbulkan anak sebar pada tempat yang jauh. Tumor jinak pada
umumnya disembuhkan dengan sempurna kecuali yang mensekresi
hormone atau yang terletak pada tempat yang sangat penting,
misalnya disumsum tulang belakang yang dapat menimbulkan
paraplesia atau pada saraf otak yang menekan jaringan otak.
b. Ganas (Maligna)
Tumor ganas pada umumnya tumbuh cepat, infiltratif. Dan
merusak jaringan sekitarnya. Disamping itu dapat menyebar keseluruh

4

tubuh melalui aliran limpe atau aliran darah dan sering menimbulkan
kematian.
c. Intermediet
Diantara 2 kelompok tumor jinak (Belinga) dan tumor ganas
(Maligna) terdapat segolongan kecil tumor yang mempunyai sifat
invasive lokal tetapi kemampuan metastasisnya kecil. Tumor seperti
ini disebut sebagai tumor agresif lokal tumor ganas berderajat rendah.
Sebagai contoh ialah karsinoma sel basal kulit.
2. Berdasakan sel/jaringan (histogenesis)
a. Sel Totipoten
Sel totipoten memiliki prototipe yang mampu berdeferensiasi
menjadi sel apapun adalah zigot. Zigot kemudian akan tumbuh
menjadi embrio dan fetus. pasca kelahiran satu-satunya sel totipoten
adalah sel germinal, yang paling sering ditemukan di gonadnamun
dapat juga ditemukan di retroperitoneum, mediastinum, dan region
pineal.
Neoplasma sel germinal dapat berbentuk sebagai sel tidak
berdifensiasi, contohnya: Seminoma atau diseger minoma, yang
berdiferensiasi minimal contohnya: karsinoma embrional, yang
berdiferensiasi kejenis jaringan termasuk trofobias misalnya chorio
carcinoma, dan yolk sac carcinoma serta yang berdiferensiasi somatic
adalah teratoma (Kumar dkk, 2003).
b. Sel embrional pluripoten
Sel embrional pluripoten ditemukan pada periode fetal dan hanya
beberapa tahun pasca kelahiran sehingga neoplasma ini terjadi pada
masa anak-anak dini dan sangat jarang pada orang dewasa.
Neoplasma dari sel ini sering disebut dengan embriona atau blastoma.
Blastoma tidak dapat terdeferensiasi sama sekali dan terdiri dari sel
yang kecil, malignan, hiperkromatik (Taylor dkk, 2001).
c. Sel yang berdiferensiasi
 Neoplasma epitelia
Neoplasma yang jinak dinamakan adenoma, yang berasal
dari permukaan epitel disebut papiloma. Neoplasma epitel
malignan dinamakan karsinoma, bila berasal dari kelenjar
dinamakan adenokarsinoma.
 Neoplasma mesenkimal

5

Tumor ganas jaringan mesenkin yang ditemukan kurang dari 1 persendiberi nama asal jaringan (nama latin) dengan akhiran “sarcoma” sebagai contoh tumor ganas jaringan ikat tersebut Fibrosarkoma dan berasal dari jaringan lemak diberi nama Liposarkoma (Taylor dkk. Jaringan limfoid Jaringan saraf : Neuroglia Jaringan epithelium : Melanoblas Jaringan embrional : Sel totipoten Tumor Jinak Tumor Ganas Papiloma Adenoma Mola Hidatidosa Karsinoma Adenokarsinoma Choriokarsinoma Fibroma Mixoma Lipoma Chondroma Osteoma Leiomyoma Rhabdomyoma Hemangioma Lymphagioma Fibrosacroma Mixosacroma Liposacroma Chondrosacroma Osteogenic sacroma Leiomyosacroma Rhabdomyosacroma Hemangiosacroma Lymphangiosacroma Tidak dikenal Leukimia Myoma multiple Lympoma malignum Lymposacroma Glioma (jarang) Glioma Nevus pigmentosus Melanoma malignum Kista dermoid Teratoma solidium D. Jaringan 6 . 2001). Klasifikasi Histologik Tumor Jaringan Ssal Jaringan Epitel : Epitel permukaan skaumosa Epitel kelenjar Epitel villus chorallis (placenta) Jaringan Mesoderm : Jaringan ikat Jaringan miksomatosa Jaringan lemak Tulang rawan Tulang Otot polos Otot serat lintang Pembuluh darah Pembuluh limfa Jaringan hemapoetik a. Diferensiasi yaitu derajat kemiripan sel tumor (parenkim tumor). Misalnya tumor jinak jaringan ikat (latin fiber) disebut “fibroma”. Sifat Neoplasma 1. Diferensiasi dan Anaplasia Istilah diferensiasi dipergunakan untuk sel parenkim tumor. Sumsum tulang b.Tumor jinak mesenkin sering ditemukan meskipun biasanya kecil dan tidak begitu penting dan diberi nama asal jaringan (nama latin) dengan akhiran “oma”. Tumor jinak jaringan lemak (latin adipose) disebut lipoma.

sel tumornya terdiri atas sel lemak matur. dan menyerupai sel jaringan lemak normal. Anaplastik berasal tanpa bentuk atau kemunduran. Tumor ganas yang terdiri dari sel-sel yang tidak berdiferensiasi disebut anaplastik. kadang – kadang tumor jinak tumbuh lebih cepat daripada tumor ganas. Proliferasi neoplastik menyebabkan penyimpangan bentuk. tetapi derajat kecepatan tumbuh tumor jinak tidak tetap. sedangkan tumor berdiferensi buruk atau tidak berdiferensiasi menunjukan gambaran sel primitive dan tidak memiliki sifat sel dewasa normal jaringan asalnya. Sebagai contoh tumor jinak otot polos yaitu leiomioma uteri. Tumor yang berdiferensiasi baik terdiri atas sel-sel yang menyerupai sel dewasa normal jaringan asalnya. Sel tumor berukuran besar dan kecil dengan bentuk yang bermacam-macam. Anaplasia sitologik menunjukkan pleomorfi yaitu beraneka ragam bentuk dan ukuran inti sel tumor. Tumor ganas berkisar dari yang berdiferensiasi baik sampai kepada yang tidak berdiferensiasi. Derajat pertumbuhan Tumor jinak biasanya tumbuh lambat sedangkan tumor ganas tumbuh cepat. 2. Anaplasia posisionalmenunjukkan adanya gangguan hubungan antara sel tumor yang satu dengan yang lain. dan sel tumor. Hal ini tergantung pada hormone yang mempengaruhi dan adanya suplai darah yang memadai. terlihat dari perubahan struktur dan hubungan antara sel tumor yang abnormal (Emil dkk. yaitu kemunduran dari tingkat diferensiasi tinggi ke tingkat diferensiasi rendah. Mengandung banyak DNA sehingga tampak lebih gelap (hiperkromatik). Anaplasia ditentukan oleh sejumlah perubahan gambaran morfologik dan perubahan sifat.asalnya yang terlihat pada gambaran morfologik dan fungsi sel tumor. pada anaplasia terkandung 2 jenis kelainan organisasi yaitu kelainan organisasi sitologik dan kelainan organisasi posisi. Pada dasarnya derajat pertumbuhan tumor berkaitan 7 . 2003). Demikian pula lipoma yaitu tumor jinak berasal dari jaringan lemak. Sel tumornya menyerupai sel otot polos. Hal ini menyebabkan sel tumor tidak mirip sel dewasa normal jaringan asalnya. susunan. Semua tumor jinak umumnya berdiferensiasi baik.

Tumor ganas tumbuh progresif. mudah digerakkan pada operasi. Pada karsinoma in situ misalnya di serviks 8 . 3. Tumor ganas yang tumbuh cepat sering memperlihatkan pusatpusat daerah nekrosis/iskemik. invasive. Hal tersebut disebabkan oleh kegagalan penyajian daerah dari host kepada sel-sel tumor ekspansif yang memerlukan oksigen (Emil dkk. 2003). dan merusak jaringan sekitarnya. limfe atau ruang perineural. maka tumor jinak terbatas tegas. Sifat yang tumbuh dan menekan secara perlahan-lahan menyebabakan adanya batas jaringan ikat yang tertekan yang disebut kapsul atau simpai. Simpai sebagian besar timbul dari stroma jaringan sehat diluar tumor. karena sel parenkim atropi akibat tekanan ekspansi tumor. Pertumbuhan invasive demikian menyebabkan reseksi pengeluaran tumor sangat sulit.ada tumor jinak yang tidak berkapsul misalnya hemangioma. dinding pembuluh darah. Invasi lokal Hampir semua tumor jinak tumbuh sebagai massa sel yang kohesif dan ekspansif pada tempat asalnya dan tidak mempunyai kemampuan mengilfiltrasi. yaitu :  Derajat pembelahan sel tumor  Derajat kehancuran sel tumor  Sifat elemen non-neoplastik pada tumor Pada pemeriksaan mikroskopis jumlah mitosis dan gambaran aktivitas metabolisme inti yaitu inti yang besar. kromatin kasar dan anak inti besar berkaitan dengan kecepatan tumbuh tumor.dengan tingkat diferensiasi sehingga kebanyakan tumor ganas tumbuh lebih cepat daripada tumor jinak. Kapsul atau simpai ini memisahkan jaringan tumor dari jaringan sehat sekitarnya. Pada pemeriksaan histologik. Pada umumnya terbatas tidak tegas dari jaringan sekitarnya. Derajat pertumbuhan tumor ganas tergantung pada 3 hal. Akibat adanya simpai. massa yang tidak berkapsul menunjukkan cabang-cabang invasi seperti kaki kepiting mencengkeram jaringan sehat sekitarnya. Tetapi tidak semua tumor jinak berkapsul. invasi atau penyebaran ketempat yang jauh seperti pada tumor ganas. Namun demikian ekspansi lambat dari tumor ganas dan terdorong ke daerah jaringan sehat sekitarnya. Kebanyakan tumor ganas invasive dan dapat menembus dinding dan alat tubuh berlumen seperti usus.

stuktur sering tidak khas. dan dan tampak ekspansil tetapi dengan ekspansi mikroskopik. 2003). tumbuh lambat. bebatas menginfiltrasi tidak normal di jaringan sekitarnya. tegas massa yang menginvasi cepat banyak abnormal.kemudian terjadi penyebaran. pembuluh limfe dan rongga tubuh. Laju pertumbuhan anaplasia.uteri. keduanya sangat infasif. atau kadang-kadang menginfiltrasi jaringan di kohesif sekitarnya. Sebaliknya tumor tumbuh cepat . 2003). dan Invasif lokal. Infasi sel kanker memungkinkan sel kanker menembus pembuluh darah. sel tumor menunjukkan tanda ganas tetapi tidak menembus membrane basal. Metastasis atau penyebaran Metastasis adalah penanaman tumor yang tidak berhubungan dengan tumor primer.tetap terlokalisir untuk waktu bertahun-tahun (Emil dkk. Namun banyak kekecualian. Biasanya kohesif infasil. mungkin berhenti mungkin atau tumbuh atau menciut. Tumor ganas menimbulkan metastasis sedangkan tumor jinak tidak. Biasanya progresif dan Tidak terduga dan lambat. Kekecualian tersebut adalah Glioma (tumor ganas sel glia) dan karsinoma sel basal. 4. 9 . Dengan beberapa perkecualian semua tumor ganas dapat bermetastasis. gambaran mitotik gambaran mitotik jarang mungkin Invasi lokal dan normal. lambat. Tumor kecil berdiferensiasi baik. Dengan berjalannya waktu sel tumor tersebut akan menembus membrane basal (Emil dkk. tetapi jarang bermetastasis. Karakteristik tumor jinak dan tumor ganas sebagai berikut: Karakteristik Difrensiasi/anaplasia Tumor Jinak Berdiferensiasi Tumor Ganas baik.lebih cepat timbul dan padanya kemungkinan terjadinya metastasis lebih besar. Sebagian tidak stuktur khas berdiferensiasi disretai mungkin jaringan asal. Umumnya tumor yang lebih anaplastik. kadandkadang metastasisnya luas.

Peran Perawat Pada setiap kasus atau masalah keperawatan yang muncul. selain melakukan tindakan keperawatan juga dilakukan beberapa penatalaksanaan dan pemeriksaan penunjang sebagai berikut: a. Namun. 1. resiko defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan. Radioterapi 3. Pemeriksaan penunjang 1. USG abdominal dan transvaginal 3. Miomektomi dengan atau tanpa histerektomi bila uterus melebihi seperti kehamilan 12 – 14 minggu 5. dari kasus neoplasma dapat muncul beberapa masalah keperawatan yaitu gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan efek sekunder dari neoplasma. Laporoskopi: untuk mengetahui ukuran dan lokasi tumor 2. b. Tindakan yang diberikan tersebut haruslah sesuai dengan kondisi pasien dan dapat menaikkan derajat kesehatan pasien. Penatalaksanaan 1. Dilatasi serviks dan kuretase akan mendeteksi adanya fibroid subserous. keterbatasan pergerakan. dan defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik. Biopsi: untuk mengetahui adanya keganasan 4. Sementara itu. Pada neoplasma kecil dan tidak menimbulkan keluhan.Metastatis/penyebaran (Kumar dkk. 2. 2003) Tidak ada E. Estrogen untuk pasien setelah menopause dan observasi setiap 6 minggu. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri hilang dan berkurang 10 . seorang perawat dituntut untuk melakukan tindakan mandiri ataupun tindakan kolaborasi dengan dokter atau tenaga kesehatan lainnya. tidak diberikan terapi hanya diobservasi tiap 3 – 6 bulan untuk menilai pembesarannya. Masalah keperawatan – 1 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan efek sekunder dari neoplasma. Pemberian GnRH agonis selama 6 minggu 4. Setelah muncul beberapa masalah keperawatan tersebut perawat selanjutnya melakukan intervensi yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan pasien.

ekspresi wajah rileks dan tenang Intervensi : a. Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran cairan. 2. Ajarkan pada klien cara untuk perawatan diri. peningkatan suhu. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan perawatan diri terpenuhi Kriteria hasil : pasien merasa nyaman dan kebutuhan perawatan diri terpenuhi Intervensi : a. kapilarirefil menurun. RR 16 – 24 x/menit. berkeringat. Kaji tanda-tanda vital. e. Masalah keperawatan – 3 Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik. f. e. Masalah keperawatan – 2 Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan. Bantu klien untuk kebutuhan personal hygiene. Berikan pasien posisi yang nyaman. nadi 69 – 100 x/menit. b. d. Kaji kondisi klien. Beberapa peran pada fase tersebut antara lain:  Memberi dukungan klien terhadap prosedur diagnostik  Mengenali kebutuhan psiko sosial dan spiritual 11 . frekuensi. tanda-tanda vital dalam batas normal (TD 120/80 mmHg. pucat. c. kelemahan. c. suhu 37° C) Intervensi : a. Kontrol tanda-tanda vital pasien. Selain intervensi-intervensi yang disebutkan di atas. turgor jelek). Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi. peran perawat lainnya adalah ada pada fase promotif sampai dengan rehabilitatif pasien. durasi. Catat perdarahan baru setelah berhentinya perdarahan awal. Barikan cairan baik roral maupun parenteral sesuai program. Motivasi klien untuk melakukan perawatan diri. d. 3. e. keterbatasan pergerakan. Ajarkan pasien latihan teknik relaksasi nafas dalam. gelisah. Catat respon fisiologis individual pasien terhadap perdarahan. lokasi dan intensitasnya. termasuk kualitas. misal perubahan mental. b.Kriteria hasil: pasien mengungkapkan nyeri yang dirasakan dapat berkurang. b. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan volume cairan dalam kondisi seimbang Kriteria hasil : tidak terjadi hipovelemi (oliguri. d. Kaji tingkat dan kerakteristik nyeri. Monitor jumlah tetesan infus. Libatkan keluarga dalam pemehunan perawatan diri. c.

  Memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi klien Memberi bantuan bagi klien yang mendapat    kanker/terhadap keganasan Membantu klien fase penyembuhan/rehabiltasi Membantu klien untuk tindak lanjut pengobatan Berpartisipasi dalam koleksi data penelitian/registrasi kanker 12 pengobatan anti .

yaitu: melalui tusukan vena (venipuncture). Dalam praktek laboratorium klinik. Dahulu plabetomi dikenal dengan istilah venasectie (Belanda). Akhir-akhir ini. dan tusukan arteri atau nadi. atau kapiler. dikenal lagi suatu teknik microcollection. Phleb berarti pembuluh darah vena dan tomia berarti mengiris/memotong (“cutting”). 2007). Cara yang paling umum adalah dengan menggunakan venipuncture. tusukan kulit (skinpuncture). Plebotomi sudah ada sejak 2000 tahun yang lalau pada zaman Yunani kuno. B. Sedangkan plebotomist adalah seorang tenaga medic yang telah mendapat latihan dan memiliki kompetensi khusus untuk mengeluarkan dan menampung spesimen darah dari pembuluh darah vena. Sementara itu cara skinpuncture digunakan untuk mengambil darah kapiler (pada ujung jari pada dewasa atau tumit pada bayi) (Kee.BAB II PATOLOGI KLINIK PLEBOTOMI DAN PERAN PERAWAT A. venesection atau venisection (Inggris). teknik microcollection untuk memperoleh darah ada 3 macam. pemilihan jenis antikoagulan. Kesehatan dan Keselamatan Kerja pada Plabetomi Menginggat setiap pekerjaan memiliki resiko termasuk pekerjaan sebagai seorang tenaga kesehatan. teknik pengambilan sampai dengan pelabelan. Cara pengeluaran darah(cara kuno) dilakukan dengan menggunakan “cupping”: mangkuk khusus dengan alat hisap (dry cupping atau wet cupping) yang terlebih dahulu dilakukan penorehan vena (venesection) dan ditampung pada mangkuk atau dengan menggunakan gigitan lintah (Leeches biting). arteri. Pada saat itu plabetomi dilakukan untuk mengeluarkan darah dengan tujuan untuk menyembuhkan pasien. Hal ini karena dengan menggunakan dapat diperoleh spesimen darah yang memenuhi syarat uji laboratorium dengan ketentuan prosedur pengambilan sampel darah harus dilakukan dengan benar. maka prinsip kesehatan dan keselamatan 13 . mulai dari persiapan peralatan. Definisi Plebotomi Plabetomi (bahasa inggris: phlebotomy) berasal dari kata Yunani phleb dan tomia. pemilihan letak vena.

Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. handscoon (sarung tangan). Teknik menutup jarum suntik benar adalah jarum suntik harus ditutup dengan cara meletakkan penutupnya di meja kemudian jarum suntuik dimasukkan ke dalam penutupnya.kerja (K3) wajib dilakkan setiap melakukan tindakan. Jika kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan) menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi. Terjadinya needle stick injury ini karena kesalahan teknik saat menutup jarum suntik.6% 1% 14 . Beberpa perkiraan resiko akibat needle stick injury antara lain adalah: Hbe Ag positif HCV PCR positif HBs Ag positif HCV positif (PCR negatif) 30% . Alat-alat tersebut dapat melindungi plabetomist dari infeksi dimana sebelum melakukan tindakan didahului deangan melakukan cuci tangan.40% 10% 2% . pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman. bukan menutup dengan memasukkan penutup ke jarum suntiknya. 2012). Salah satu tujan K3 adalah dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja. sehat. Dekontaminasi yang sering terjadi adalah jika seorang plabetomist terkena percikan darah dan terjadi needle stick injury. sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia (PPNI. dan bebas dari pencemaran lingkungan. Sebagai faktor penyebab. Sementara itu untuk melindungi terjadinya infeksi pada pasien digunakan lanset atau jarum yang tajam dan sekali pakai serta penanganan jika terjadi komplikasi atau dekontaminasi. Alat-alat pengaman yang digunakan saat melakukan plabetomi antara lain adalah jas. sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. dan masker. Maka dari itu.

Jenis tabung ini berupa tabung reaksi yang hampa udara. 3. Wing Needle Adalah ujung spuit atau jarum yang digunakan untuk pengambilan secara vakum. 5ml bahkan ada yang sampai 50ml yang biasanya digunakan untuk pemberian cairan sonde atau syring pump. 2004). Tujuan dari pembendungan ini adalah untuk fiksasi. Alat dalam Melakukan Plabetomi Berikut ini merupak alat-alat yang digunakan dalam melakukan plabetomi. Spuit mempunyai skala yang dapat digunakan untuk mengukur jumlah darah yang akan diambil. pengukuhan vena yang akan diambil dan juga untuk menambah tekanan vena yang akan diambil. 5. Spuit Adalah alat yang digunakan untuk pengambilan darah atau pemberian injeksi intravena dengan volume tertentu. volume spuit bervariasi dari 1ml. Needle ini bersifat non fixed atau mobile sehingga mudah dilepas dari spuit serta container vacuum. C. Penggantian needle dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan besarnya vena yang akan diambil atau untuk kenyamanan pasien yang menghendaki pengambilan dengan jaru kecil. Tujuan penggunaan kapas alkohol adalah untuk menghilangkan kotoran yang dapat mengganggu pengamatan letak vena sekaligus mensterilkan area penusukan agar resiko infeksi bisa ditekan.3% (Direktorat Laboratorium Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 4. 15 . Kapas alkohol Merupakan bahan dari wool atau kapas yang mudah menyerap dan dibasahi dengan antiseptic berupa etil alkohol. terbuat dari kaca atau plastik. Digunakan untuk pengebat atau pembendung pembuluh darah pada organ yang akan dilakukan penusukan plebotomy. Vacuum Tube Tabung vakum disebut juga dengan Vacutainer. sehingga akan mempermudah proses penyedotan darah kedalam spuit. biasanya terbuat dari karet sintetis yang bisa merenggang. 2.HIV positif 0. 3ml. yaitu: 1. Tourniquet Merupakan bahan mekanis yang fleksibel. Needle.

Kuning imunologi. Tabung ini berisi gel separator (serum separator tube/SST) yang fungsinya memisahkan serum dan sel darah. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan Ungu atau kimia darah. Tabung ini berisi EDTA. Abu-abu Terang mercury) dan toksikologi. Blood Container Tabung tempat penampungan darah yang tidak bersifat vakum udara. Umumnya digunakan untuk Biru Gelap pemeriksaan koagulasi (mis. serum akan berada di bagian atas gel dan sel darah berada di bawah gel. digunakan untuk pemeriksaan glukosa. serologi dan bank darah (crossmatching test). Tabung ini berisi natrium fluoride dan kalium oksalat. darah akan menjadi beku dan serum dipisahkan dengan pemusingan. Setelah pemusingan. 16 . APTT).Ketika tabung dilekatkan pada jarum. Tabung ini berisi EDTA yang bebas logam. darah akan mengalir masuk ke dalam tabung dan berhenti mengalir ketika sejumlah volume tertentu telah tercapai. plasma akan berada di bagian atas gel dan sel darah berada di bawah gel. Tabung ini memiliki warna tutup tabung yang menunjukkan perlakuan dan prosedur berbeda. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan kimia darah. 6. imunologi dan serologi Tabung ini berisi gel separator (plasma separator tube/PST) dengan antikoagulan lithium heparin. Setelah pemusingan. Tabung ini berisi natrium sitrat. Umumnya digunakan untuk Hijau Terang pemeriksaan kimia darah. umumnya digunakan untuk pemeriksaan trace element (zink. Waran-warna tersebut adalah: Warna Tutup Perlakuan Tabung Merah Tabung ini tanpa penambahan zat additive. Tabung ini biasa digunakan untuk pemeriksaan manual. PPT. copper. dan dengan keperluan tertentu misalnya pembuatan tampungan sendiri untuk efisiensi biaya. Umumnya digunakan untuk Lavender Biru pemeriksaan darah lengkap dan bank darah (crossmatch).

Tabung tutup merah atau kuning dengan gel separator atau clot activator. sehingga membantu proses penyembuhan luka dan mencegah adanya infeksi akibat perlukaan atau trauma akibat penusukan. Tabung tutup hijau (heparin). apalagi tanpa melepas jarum. berpotensi menyebabkan hemolisis. D. (Kee. Tes koagulasi (tabung tutup biru). 2. yaitu:  Darah dari syring atau suntikan harus dimasukkan ke dalam tabung dengan cara melepas jarum lalu mengalirkan darah perlahan-lahan melalui dinding tabung. c. Tabung tutup ungu/lavender (EDTA). Tabung tutup abu-abu (NaF dan Na oksalat). potassium EDTA. 7. digunakan untuk pemeriksaan Putih imunohematologi. Siapkan alat-alat yang diperlukan. berisi potassium EDTA. 6.Hitam berisi bufer sodium sitrat. Memasukkan darah dengan cara disemprotkan. biarkan darah mengalir sampai berhenti sendiri  ketika volume telah terpenuhi. Tabung non additive (tutup merah) 4. Cuci tangan dan gunakan handscoon (sarung tangan). digunakan untuk pemeriksaan Pink LED (ESR). Botol biakan (culture) darah atau tabung tutup kuning-hitam. 17 . Plester Digunakan untuk fiksasi akhir penutupan luka bekas plebotomi. b. Homogenisasi sampel jika menggunakan antikoagulan dengan cara memutar-mutar tabung 4-5 kali atau membolak-balikkan tabung 5-10 kali  dengan lembut. Prosedur pengambilan darah arteri atau kapiler a. digunakan untuk pemeriksaan molekuler/PCR dan bDNA. Terangkan prosedur dengan jelas kepada pasien dan kondisikan pasien pada kondisi yang nyaman serta cek identitas pasien. 2007). Prosedur Plabetomi 1. 3. Adapun beberapa hal penting yang diperhatikan saat melakukan penampungan sampel darah. 7. Mengocok sampel berpotensi menyebabkan hemolisis. Urutan memasukkan sampel darah ke dalam tabung vakum adalah: 1. 5. Memasukkan darah ke dalam tabung vakum dengan cara menusukkan jarum pada tutup tabung.

atau kulit yang dingin dan pucat. Dokumentasi. harus pas tepat. Pegang bagian yang akan ditusuk supaya tidak bergerak. Cuci tangan dan gunakan handscoon (sarung tangan). pada bayi atau anak kecil dapat dilakukan pada tumit atau ibu jari bagian pinggir.5 mm ). h. Tusuk dengan lanset ± 3mm ( pada bayi tidak boleh lebih dari 2. jika terlalu terlalu longgar menyebabkan tidak efektif. Lokasi pengambilan Pada orang dewasa biasanya pada ujung jari manis atau jari tengah dibagian tepi. Tetesan pertama dihapus dengan tisu atau kapas kering. d. Sementara itu. radang. Darah harus keluar dengan sendirinya tanpa ditekan.5 – 10 cm di atas bagian tusukan vena. luka. sebab didaerah tersebut banyak pembuluh kapilernya dan kurang sensitif. Pilih bagian atau lokasi yang akan dilakukan penusukan. i. Siapkan alat-alat yang diperlukan. Prosedur pengambilan darah vena a. 2. f. e. Jika terlalu ketat menyebabkan darah tidak keluar. g. dan mudah didapat. Cara pengambilan Darah tidak boleh diambil dari daerah yang terinfeksi. Bila kulit dingin dan pucat hangatkan dengan kompres air hangat. dan jika terlalu lama (> 1 menit) menyebabkan hemokonsentrasi/stasis vena. e. c.d. tetesan berikutnya dapat dipergunakan. Pasang tourniquet 7. lalu ditekan sedikit. b. mis: bisul. Bersihkan ujung jari pasien dengan kapas alkohol 70% biarkan kering selama 30 detik. menonjol. Terangkan prosedur dengan jelas kepada pasien dan kondisikan pasien pada kondisi yang nyaman serta cek identitas pasien. 18 . Pembuluh vena yang dapat dilakukan pengambilan darah adalah venavena pada:  Fossa cubiti (antecubital)  Lengan bawah  Pergelangan tangan  Punggung tangan  Kaki dan pergelangan kaki (jika tidak ada vena lain yang dapat  ditusuk) Pada bayi terletak pada vena jugularis superficial dan vena sinus sagitalis superior Karakteristik vena yang dapat dilakukan pemgambilan darah adalah vena yang besar.

Segera lepaskan tourniquet setelah darah mengalir. Ucapkan terima kasih kepada pasien dan berikan informasi yang diperlukan seperti:  Kapan boleh makan kembali. (Direktorat Laboratorium Kesehatan Departemen Kesehatan RI. kemudian plester bagian tsb dan lepas setelah 15 menit. j. Gambar vena pada lengan: 19 . 2004). Pemindahan darah dari spuit ke tabung/botol:  Lepaskan jarum dari spuit. Dokumentasi. hati-hati jangan sampai darah keluar. i. Desinfeksi area venipuncture pakai kapas alkohol dengan gerakan memutar dari tengah ke tepi (sirkuler).  Masukkan darah ke dalam botol atau tabung secara perlahan sesuai dengan pemeriksaan laboratorium yang dibutuhkan. Buang spuit dan jarumnya ke wadah pembuangan khusus (sampah medis).f. Menusukkan jarum ke dalam vena. l. g. segera tekan tempat tusukan dengan kapas selama 3-5 menit. kecuali vena kolaps. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah:  Posisi lubang jarum menghadap ke atas dengan sudut 15 . biarkan 30 detik untuk pengeringan alkohol.30. Lepaskan sarung tangan dan cuci tangan.  Petunjuk khusus. Lepaskan jarum perlahan-lahan dan pasang penutup jarum. m.  Selama jarum di dalam vena usahakan gerakan seminimal  mungkin. k.  Tarik perlahan-lahan penghisap dan biarkan spuit terisi darah. h. misalnya glukosa 2 jam PP.

Gejala dapat berupa rasa pusing. bahkan bisa sampai muntah. yaitu kegagalan/komplikasi pada pasien dan kegagalan/komplikasi pada bahan (darah). Oleh karena itu. Rasa takut atau cemas bisa juga timbul karena pasien tersebut kurang percaya diri. keringat dingin. Komplikasi akibat plabetomi dapat dikelompokkan menjadi 2. Oleh karena itulah. Hal ini biasanya terjadi karena adanya perasaan takut atau akibat pasien puasa terlalu lama. 20 . Syncope merupakan komplikasi yang sering terjadi. Komplikasi Plebotomi Setiap tindakan medis yang dilakukan pasti memiliki resiko atau komplikasi baik itu persentasenya kecil ataupun besar. Syncope Syncope adalah keadaan dimana pasien kehilangan kesadarannya beberapa saat atau sementara waktu sebagai akibat menurunnya tekanan darah. faktor plebotomis juga dapat menyebabkan terjadinya syncope. Tindakan plabetomi juga tidak terlepas dari terjadinya komplikasi tersebut. Hal ini karena penampilan dan prilaku seorang plebotomis juga bisa mempengaruhi keyakinan pasien sehingga timbul rasa curiga/was-was ketika proses pengambilan darah akan dilaksanakan. pengelihatan kabur atau gelap.Gambar vena Pada kaki: E. sebelum melakukan plebotomi plebotomis perlu memberikan penjelasan kepada pasien tentang tujuan pengambilan darah dan prosedur yang akan dialaminya. Kegagalan/komplikasi pada pasien antaralain adalah: 1. Tidak hanya faktor dari pasien itu sendiri yang bisa menyebabkan syncope. nadi cepat.

Pasien Cara Mencegah diajak bicara supaya perhatiannya dapat dialihkan. Memberikan penjelasan atau gambara terkait dengan nyeri yang sesungguhnya. Faktor yang menyebabkan hematoma adalah:  Penusukan yang sering  Kelainan dinding pembuluh darah  Vena terlalu kecil untuk jarum yang dipakai 21 . Longgarkan baju yang sempit dan ikat pinggang.penampilan dan prilaku seorang flebotomis harus sedemikian rupa sehingga tampak berkompetensi dan profesional. Namun ada beberapa pencegaha secara umum yaitu:  Memastikan bahwa alkohol benar-benar mengering   seelum pengambilan darah (alkohol dibiarkan mengering selama 30 detik). Minta pasien menarik nafas panjang Hubungi dokter Pasien yang tidak sempat dibaringkan. Cara mengatasi dan mencegah terjadinya syncope: Cara Mengatasi Hentikan pengambilan darah. Hematoma Hematoma dalah terkumpulnya massa darah dalam jaringan sebagai akibat robeknya pembuluh darah. diminta menundukan kepala diantara kedua kakinya dan menarik nafas panjang. Baringkan pasien ditempat tidur. sebaiknya dianjurkan berbaring Hentikan pengambilan darah. Pada saat pengambilan darah penarikan jarum tidak terlalu kuat. kepala Pasien yang akan dirawat syncope dimiringkan kesalah satu sisi. Rasa nyeri yang timbul ini tidak terlalu lama sehingga tidak perlu dilakukan penanganan yang khusus. 3. Rasa nyeri Rasa nyeri yang timbul terjadi akibat alokohol yang belu kering dan penarikan jarum yang terlalu kuat. 2. Kursi pasien mempunyai sandaran dan tempat/ sandaran tangan Tungkai bawah ditinggikan (lebih tinggi dari posisi kepala). pada waktu pengambilan darah.

Lepaskan turniket dan jarum. Cari pembuluh vena lainnya. turniket atau plester.    Jarum menembus seluruh dinding vena Jarum hanya menembus sebagian vena Jarum dilepaskan pada saat tourniquet masih dipasang Penekanan yang tidak adekuat setelah venipuncture Adapun beberpa cara untuk mengatasi hematoma yaitu. Pendarahan Terjadinya pendarahan adalah salah satu komplikasi yang sering pula terjadi. Tekan tempat penusukan jarum dengan kain kasa. 4. dan pasien memiliki riwayat penyakit hati yang berat (pembentukan protrombin. Gejala alergi bisa ringan atau berat. 4. Cara yang tepat untuk mengatasi pendarahan adalah dengan melakukan penekakan pada tempat yang mengalami pendarahan dan melakukan kolaborasi untuk penangganan selanjutnya. Cara pencegahan alergi yang dapat dilakukan adalah dengan anamnesis riwayat alergi dan menggunakan sarung tangan tanpa bahan latex. Alergi Alergi bisa terjadi akibat bahan-bahan yang dipakai dalam plebotomi. Penekakan dapat dilakukan lebih lama untuk pasien-pasein yang mengalamai pendarahan. Sementara itu. cara untuk mencegah terjadinya pendarahan adala melakukan pengkajian atau anamnesis yang teliti kepada pasien. 6. rhinitis. Angkat lengan pasien lebih tinggi dari kepala (+. pasien memiliki riwayat gangguan pembekuan darah trombositopenia. Trombosis 22 . fibrinogen terganggu).15 menit). 3. radang selaput mata. 5. jika dalam proses pengambilan darah terjadi pembengkakan kulit disekitar tempat penusukan jarum segera: 1. latex yang ada pada sarung tangan. Sistem koagulasi darah yang buruk terebut terjadi karena penggunaan obat-obat antikoagulan oleh pasien. berupa kemerahan. Pendarahan ini terjadi karena sistem koagulasi pendarahan pasien yang buruk. kadang-kadang bahkan bisa (shock). 2. Kalau perlu kompres hangat untuk mengurangi rasa nyeri. misalnya terhadap zat antiseptic/desinfektan. defisiensi factor pembeku darah misalnya hemofilia). 5.

8. Anemia terjadi karena volume darah sedikit. Mengepalkan tangan berulang akan meningkatkan kalium. Komplikasi neurologis Komplikasi neurologis dapat bersifat local karena tertusuknya syaraf dilokasi penusukan. osteomielitis. dan menimbulkan keluhan nyeri atau kesemutan yang menjalar ke lengan. Hal ini juga terlihat pada kelompok pengguna obat (narcotics) yang memakai pembuluh darah vena. lipid total. 23 . Kegagalan/komplikasi pada bahan (darah) antaralain adalah: 1. GOT. kolestrol dan besi (Fe). Radang tulang Radang tulang sering terjadi pada pasein bayi. Selain itu pengambilan darah kapiler pada bayi terutama yang bertulang dapat menyebabkan selulitis. 9. Hal ini karena pada bayi jarak kulit dan tulang yang sempit sementara lanset atau jarum yang digunakan berukuran panjang. Pada prosedur plebotomi harus menggunakan ukuran lanset dan jarum yang sesuai.Trombosis terjadi karena pengambilan darah yang berulang kali ditempat yang sama sehingga menimbulkan kerusakan dan peradangan setempat dan berakibat dengan penutupan (occlusion) pembuluh darah. seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. protein total. Penyesuaian ini dilakukan berdasarkan pengelompokkan usia pasien yang akan diberikan tindakan plebotomi. pengambilan darah berulang. 7. Hemokonsentrasi Hemoknsentrasi terjadi karena pembendungan/pemasangan turniket yang ketat dan lama (> 1 menit). jaringan parut dan nodul klasifikasi. abses. Flosfat dan lakat. Nodul klasifikasi tersebut mula-mula tampak seperti lekukan yang 4-12 bulan kemudian akan menjadi nodul dan menghilang dalam 18-20 bulan. Hal ini akan menyebabkan peningkatan kadar hematokrit dan elemen seluler lainnya. Cara pencegahan yang dilakukan adalah tidak mengambil darah di tempat yang sama. Anemia Komplikasi ini juga terjadi pada kelompok usia bayi terutama pada bayi yang baru lahir. atau mengepal telapak tangan dengan pemijatan atau massage.

Sebaiknya pengambilan darah untuk koagulasi dilakukan dengan dua tabung. kalium. kontaminasi alcohol dan pemakaian torniket terlalu lama. Hemolisis Terjadi karena pengambilan darah dengan jarum yang terlalu kecil. Kontaminasi sampel/bahan Pada pemeriksaan kultur darah. 2009) F. jika tidak memungkinkan.2. Peran Perawat Pada tindakan plabetomi peran perawat adalah sebagai plabetomis. Hemodelusi Terjadi karena pengambilan darah dilengan dimana terdapat pemberian cairan intra vena (infus). hentikan infuse 3-5 menit. Plabetomis adalah seoarang tenaga medis yang telah mendapat latihan untuk mengeluarkan dan menampung specimen darah dari pembuluh darah vena. ambil darah dibagian distal tempat infuse dan buang 3-5 cc darah yang pertama diambil. Fe dan Fosfor anorganik. Pengambilan darah di sisi influs harus di hindari. mengeluarkan darah dari jarum dengan menekan secara keras/kasar. 4. Beberapa hal yang dapat menyebabkan hemodilusi antara lain:  Kontaminasi oleh cairan interstitial/cairan jaringan pada pengambilan  darah didaerah udem atau pada pasien obeis. Masuknya faktor jaringan Pengambilan darah yang sulit seperti pada vena yang kecil. pengambilan darah yang sulit dimana dilakukan manipulasi jarum. anak kecil. dan pasien dengan edem atau obesitas. Hemolisis akan menyebabkan peninggian analit-analit yang banyak terdapat intrasel seperti LDH.  Rasio darah: antikoagulan yang tidak sesuai. orang tua. Kontaminasi alcohol yang belum kering pada pengambilan darah kapiler. 3. (Riswanto. magnesium. 24 . akan menyebabkan pelepasan faktor jaringan yang akan mengaktifkan factor pembekuan darah dan mengakibatkan perubahan nilai pemeriksaan hemostasisi. 5. mengocok tabung dengan kuat. menarik penghisap terlalu cepat. tindakan asepsis yang tidak adekuat atau pengambilan darah pada lokasi yang mengalami peradangan akan menimbulkan kontaminasi.

dan lokasi pengambilan darah. Menilai keadaan pasien dan sample. maka tidak semua orang atau bahkan tenaga medis dapat melakukanya. Melakukan update secara profesional. Selain seorang perawat. Melakukan pencatatan baik secara manual atau secara elektronik. Yang dimaksud adalah sesuai dengan urutan tindakan. yaitu: 1. Menyiapakan pasien dan peralatan. beberapa kompetensi sebagai seorang plebotomis. 4. masalah teknis/prosedur. Mematuhi peraturan keselamatan. 25 . prinsip prosedur. 2. 10. Mengambil darah dengan jumlah yang tepat dan teknik yang benar (venipuncture. Melakukan interaksi secara profesional dengan pasien maupun klinis. hal yang tidak kalah penting adalah mengetahui apakah tugas-tugas sebagai plebotomis itu sendiri. Memilih tabung dan antikoagulan sesuai dengan tes. 2. Sehingga kesalahan. Ada beberapa kompetensi dan keterampilan yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang plabetomis. 5. prosedur pelaksanaan standar (SOP). 4. tindakan perbaikan. Sementara itu. Menerapkan pengetahuan Yang dimaksud adalah pemahaman dan penggunaan stilah medic. tenaga medis yang berhak melakukan plebotomi adalah dokter. 3. sumber kesalahan. 3. dan analisis laboratorium. Selain itu. Memiliki skill dasar laboratorium dan skill plabetomi (Dapat melakukan veni puncture dan melakukan skin puncture). Melakukan labelisasi dan dokumentasi yang benar. Mengingat plabotomi adalah tindakan yang memiliki resiko tinggi. 5. Kompetensi dan tugas dari seorang tenaga kesehatan termasuk seorang plabetomis sangat berkaitan erat. kemungkinan sumber kesalahan. Melakukan identifikasi terhadap pasien dengan tepat dan benar.arteri atau kapiler. Tanpa mengetahui tugas-tugas seorang plebotomis tidak akan diketahui apa sajakah kopetensi yang harus dimiliki dan dipenuhi oleh seorang plebotomis. 6. kegagalan. 8. Melakukan pemilihan yang sesuai. Melakukan transportasi yang benar serta tepat waktu. skinpuncture). bahkan malpraktik tidak terjadi saat melakukan plebotomi. 9. dan sifat biologic dasar. yaitu: 1. 7. Berpenampilan profesional. peralatan/metodik/prosedur. metodik dan tindakan yang sesuai. Berikut ini adalah beberapa tugastugas seorang plabetomi. dasar-dasar pengendalian infeksi. bidan.

6. dan menghormati hak pasien dalam hal keleluasaan dan kerahasiaannya. Memiliki tanggung jawab sebagai phlebotomis. peralatan baru. dan perubahan/perkembangan ilmu pengetahuan. Kecenderungan untuk selalu bersih 26 . kompetensi yang paling penting adalah memiliki etika profesional. Profesional berkaitan dengan tingkah laku dan menunjukkan keluhuran suatu profesi. tanggung jawab terhadap kesehatan diri sendiri (kebersihan tempat kerja. Dapat melaksanakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di laboratorium. Yang dimaksud dalam hal ini adalah melaksanakan tugas/prosedur dengan baik (tidak hanya pada waktu ada pengawasan). Apa-apa saja yang termasuk dalam etika profesiona sudah tercantum dalam kode etik tenga kesehatan. Hal ini karena etika profesional memiliki tujuan untuk melindungi pasien atau masyarakat pengguna jasa kesehatan utamnya. Dari beberapa kompetensi yang telah disebutkan di atas. Keinginan yang tulus dalam perawatan kesehatan Yang dimaksud dalam hal ini adalah keinginan melayani pasien. Beberapa perilaku yang dimaksud profesinal yaitu: 1. Salah satu yang termasuk dalam kode etik adalah nilai profesional. 9.  Melakukan aktifitas tata-usaha. Memiliki pengetahuan tentang pencegahan/kontrol infeksi. mempelajari dan menguasai teknik dan prosedur keselamatan baru. 8. dan memiliki kestabilan dan kematangan emosi dalam berkomunikasi dengan pasien. dan melaksanakan sampling tepat waktu. Rasa tanggung jawab untuk melakukan tugas dengan baik untuk menjaga keutuhan profesi. keinginan memiliki pengetahuan berkenaan dengan pengambilan specimen darah. 7. 4. sering cuci tangan). 2. rajin bertanya dan minta bantuan dalam situasi yang sulit. Pengabdian kepada kinerja bermutu tinggi.  Menjaga kebersihan tempat kerja (membantu penghambatan penyebaran penyakit). 3. Meningkatkan dan memelihara keterampilan. Kompetensi lainnya merupakan kompetensi tambahan guna memudahkan flebotomis melaksanakan pekerjaannnya:  Melakukan komunikasi dengan pasien.

5. Menyadari bahwa keterampilan flebotomis berperan serta dalam perbaikan pasien. Kepuasan profesi dapat dicapai. (Kahar. kebersihan individu serta tempat kerja yang baik berpengaruh kepada keselamatan dan perawatan kesehatan bermutu.Bersih dalam hal ini adalah melindungi diri sendiri dari pasien dan meyakinkan bahwa teknik yang steril. 2007). Menyadari bahwa orang lain tergantung kepada keberhasilan kerja  flebotomis. 27 . Kepuasan profesi dalam hal ini dapat dicapai dengan cara:  Peningkatan keterampilan dan pengetahuan professional secara  berkesinambungan.

Reaksi ion yang terjadi terjadi akibat adanya radiasi cairan dan tubuh oleh sinar-sinar tersebut sehingga menghasilkan ion H+ dan ion OH. B. dan membantu pengobatgan lain terutama pada pasien post operasi atau pasein dengan kemoterapi (Nana. Beliaulah oarang yang pertama kali menemukan sinar-x. sehingga dapat terjadi: 1. Jerman. Sejarah Wilhem Cornad Roentgen adalah seorang profesor fisika dari Universitas Wuzrburg. Saat itu beliau melihat timbulnya sinar fluoresensi yang berasal dari Kristal barium platinosianida dalam tabung Crookes-Hittorf yang dialiri listrik. Namun sekarang penggunaannya saat itu juga sebagai diagnosti (radio-diagnostik) untuk mengetahui penyakit tertentu yang dialami oleh seorang pasien.BAB III RADIOLOGI PRINSIP RADIASI. Radioterapi paliatif Merupakan bentuk pengobatan dimana tidak ada lagi harapan untuk hidup pasien untuk jangka panjang. mengotrol dan membantu mengurangi gejala. DAN PERAN PERAWAT A. Reaksi ganda DNA pecah. 2008). Radioterapi definitif Merupakan bentuk pengobatan yang bertujuan untuk kemungkinan bertahan hidup setelah pengobatan yang adekuat. Ion itu dapat bereaksi dengan molekul DNA dalam kromosom. Selain itu kegunaan radioterapi adalah untuk mengobati. Pada akhir tahun 1901 mendapat hadiah nobel atas penemuan sinar-x tersebut. Secara umum tujuan radiasi terbagi dua yaitu: 1. KOMPLIKASI. 28 . Pada awalnya sina-sianr radiasi hanya digunakan untuk melakukan terapi (radioterpi) pada penyakit-penyakit tertentu. Terapi radiasi Radioterapi adalah cara pengobatan yang menggunakan reaksi sinarsinar tertentu dengan panjang gelombang tertentu yang kemudian menghasilkan rekasi pengion di dalam tubuh. Saat ini penggunan sinar-sinar radiasi di bidang kedokteran semakin berkembang. 2. Hal ini terlihat dari penggunaanya yang sudah mulai banyak digunakan.yang sangat reaktif.

Akhirnya pada tahun 1953. Digunakan untuk terapi lesi yang superfisial. Hubungan antara unit-unit tersebut diatas adalah 1 Gy (gray) = 100 rad 1 rad = 10-2 Gy = 1 sentigray (cGy) (Sjahriar. Sinar Gamma 29 . Salah satu cara yang paling prinsipil pada radioterapi ini adalah menentukan dosis sinar yang digunakan agar hasilnya optimal. Inti atom terdiri dari proton dan neutron.2. Sinar ini dipancarkan oleh zat radioaktif yang mempunyai energi rendah. 2005). Jumlah radiasi yang diberikan pada penderita biasanya ditunjukkan secara klinik dalam rad jaringan (Sjahriar. Perubahan cross-linkage dalam rantai DNA. C. unit roentgen ini hanay dapat menentukan jumlah ionisasinya bukan jumlah dosis yang dapat diabsorbsi oleh tubuh (Sjahriar. Rad tidak tergantung pada jenis radiasi dan menunjukkan dosis yang diabsorpsi 100 erg per gram dari berbagai bahan penyinaran. Daya tembusnya pada kulit terbatas. Perubahan basa yang menyebabkan degenerasi atau kematian sel (Kirk dan Ribbans. 2005). dan oleh karena itu diciptakan unit roentgen. diduga bahwa radiasi dihitung dengan mengukur ionisasi yang dihasilkan dalam udara atau beberapa gas lain dengan paparan radiasi standar. Sebuah pengobatan pasti diusahakan untuk mencapai hasil yang optimal termasuk pada radioterapi ini. 2005). Sinar Alfa Sinar alfa adalah sinar korpuskuler atau pertikel dari inti atom. Saat ini sistem Internasional (SI) dari dosis yang diabsorpsi telah diubah menjadi gray (Gy). Pada tahun 1908. 2. Kongres Radiologi Internasional ketujuh mengambil rad (dosis radiasi yang diabsorpsi) sebagai unit dosis yang diabsorpsi. sentrigray (cGy) seringkali digunakan. 3-5 mm. 3. Subunit. Sinar Beta Sinar beta adalah sinar elektron. 3. Namun. Jenis-jenis Sinar yang Digunakan sebagai Radioterapi dan Radiodiagnostik Sinar-sinar yang digunakan dalam radipterapi adalah: 1. yang didefinisikan sebagai satu joule per kilogram. Sinar ini tidak dapat menembus kulit dan tidak banyak dipakai dalam radioterapi. 2004).

Warna hitam terbentuk akibat sinar radiasi melewati udara dan udara menyerap sinar radiasi tersebut sehingga terjadi pajanan pada film secara maksimal dan menghasilkan warna hitam. Pemakaian klinis Pemeriksaan tanpa double kontras. cepat. Radioisotop yang digunakan antara lain:  Calcium 137 : sinar gamma  Cobalt 60 : sinar gamma  Radium 226 : sinar alfa. harus dilakukan dengan mengubah posisi pasien. Terminologi yang digunakan a. karena superposisi (tumpang-tindih) dengan organ lain. Jenis-jenis Radiodiagnostik 1. saluran kemih. serta tulang – tulang pada seluruh bagian tubuh. lebih lanjut dapat digunakan untuk memeriksa saluran cerna. saluran getah bening. Pemeriksaan dengan kontras. 2004).Sinar gamma adalah sinar elektromagnetik atau foton. Untuk beberapa jenis pemeriksaan. D.  pembuluh darah. makin besar daya tembusnya dan makin dalam letak dosis maksimalnya. beta. Sementara itu. lemak 30 . dan biaya relatif lebih murah. warna putih terbentuk akibat sinar radiasi melewati bagian tubuh seperti tulang yang menyebabkan sinar radiasi tersebut diserap oleh tulang sehingga pajanan film menjadi minimal dan menghasilkan warna putih. agar  diperoleh gambaran yang jelas. gamma (Kirk dan Ribbans. Radiografi Kinvensional Jenis radiodiagnostik ini menggunakan sinar-x (Roentgen) dan hasil pencitraanya berupa film. Pencitraan film menghasilkan sebuah kontras waran hitam (kontras + atau radiopaque) dan putih (kontsa – atau radiolusent).  Penyulit Terkadang gambaran yang dihasilkan tidak terlalu jelas. saluran kelenjar liur. organ kandungan. Hiperradiolusen : udara bebas b. dan sumsum tulang belakang. Radiolusen : Paru normal. Sinar ini dapat menembus tubuh.  Keunggulan Mudah. Makin tinggi energinya atau makin tinggi voltagenya. dapat dilakukan pada jantung dan paru. Daya tembusnya tergantung dari besar energi yang menembus sinar itu.

tulang perkapuran. infark c. maka dapat juga dibuat gambaran secara 3 dimensi.  Keunggulan Dapat memberikan gambaran penampang tubuh yang tidak mungkin dilihat dengan menggunakan alat Rontgen biasa. d. Pemeriksaan dengan menggunakan CT Scan dapat mendeteksi kelainan-kelainan seperti perdarahan otak. infeksi. Hyperradiopak : Metal density. Dapat menghitung perkiraan jumlah perdarahan  pada kasus – kasus tertentu. pada berbagai kasus seperti kecelakaan (trauma). Ukuran gambar (piksel) yang didapat pada CT Scan adalah Radiodensitas ukuran tersebut menggunakan skala Houndsfield Unit (HU). jantung dan paru. otak. Pemakaian klinis Dapat digunakan untuk melihat berbagai organ tubuh seperti tulang – tulang kepala. urine.c. e. Penyulit Radiasi yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan radiologi konvensional. Dengan menggunakan sistem komputer. perut. dan lain – lain. Intermediate : Soft tissue/ cairan. MRI (Magnetik Resonancy Imaging) 31 . Lama pemeriksaan mulai dari beberapa detik sampai 2 jam. kelainan di rongga dada & rongga perut dan khususnya mendeteksi kelainan pembuluh darah jantung (koroner) dan pembuluh darah umumnya (seperti penyempitan pembuluh darah ginjal).  Terminologi yang digunakan a. jantung. HU sendiri adalah pengukuran densitas jaringan. CT Scan CT Scan menggunakan sinar-x tetapi saat ekspos sinar tidak langsung mengenai film tetapi ditangkap oleh detektor diteruskan ke komputer monitor lalu ke printer.hepar. 2009). Hipodens : Abses otak. darah. 3. biaya yang harus dikeluarkan pun relatif lebih mahal. tumor otak. Hiperdens : perdarahan Otak (Madyawati. ascites. sulit diterapkan pada pasien yang memiliki fobia pada tempat sempit  (Klaustrofobi). Isodens : Jaringan Otak Normal b. gnjal. kelainan-kelainan tulang. Radiopak : Ca-density / Bone density. logam 2. tumor. dsb.

tidak ada efek biologik. MRI atau Magnetic Resonance Imaging menggunakan medan magnit dan frekuensi radio. Semetara itu MRI memberikan hasil yang diperlukan oleh dokter untuk menegakkan diagnosa atas penyakit yang diderita oleh pasien dan juga menentukan rencana pengobatan yang tepat sesuai dengan indikasi penyakit yang diderita oleh pasien (Madyawati. hipointens. terutama otak. Pemeriksaan MRI memakai prinsip magnetik.000 Gauss) sebagai satuan ukuran dosisnya. Melalui pemeriksaan ini dapat mendeteksi kelainan-kelainan saraf & jaringan lunak seperti pada keluhan: sakit/nyeri kepala. sumsum tulang belakang. seperti otak. 2009).5 jam. tidak menggunakan sinar-x (tidak ada radiasi).MRI adalah suatu alat diagnostik teknologi tinggi yang digunakan untuk membuat visualisasi dari penampang tubuh manusia. kelainan pembuluh darah. 2004). ligamen. Proses pemeriksaanya adalah 20 menit – 1. tendon. Selain itu.  Keunggulan Memberikan gambaran yang dapat menunjukkan perbedaan sangat jelas dan lebih sensitif untuk menilai anatomi jaringan lunak. susunan saraf. sumsum tulang belakang. Penyulit Tidak dapat digunakan (kontraindikasi) pada pasien dengan alat pacu jantung. pinggang. dapat juga untuk menilai jaringan lainnya seperti otot. jadi tidak mengionisasi jaringan. dan susunan saraf dibandingkan  dengan pemeriksaan sinar-x biasa. kelainan pada abdomen (perut). ruang sendi. Istilah isointens. pasien dengan pen-logam. USG (Ultrasonografi) Pemeriksaan menggunakan gelombang suara/ultrasound untuk mendeteksi kelainan – kelainan di organ perut (hati. kekuatan magnit disebut dengan satuan TESLA (1 Tesla= 10. nyeri/bengkak daerah persendian. 32 . tulang rawan. pasien fobia  ruangan sempit (Klaustrofobia). kelainan payudara. kandung empedu. Pemakaian klinis Digunakan untuk menilai anatomi jaringan lunak. dan lain-lain. (Suswati dan Notosiswoyo. 4. hiperintens. alat dengar implan. sakit daerah punggung.

Unechoic atau echofree (hitam). ginjal). mempelajari pergerakan organ maupun pergerakan dan pertumbuhan  janin. Khususnya pada kehamilan. bulan atau tahun-tahun setelah 33 perawatan (efek samping jangka . seperti usus. b. Isoechoic atau normoechoic. dan pembuluh darah. Penggunaan radioterapi dengan perawatan paliatif dosis rendah. Pemakaian klinis Digunakan untuk menemukan dan menentukan letak massa dalam rongga perut/panggul.  Penyulit Tidak dapat digunakan untuk melihat bagian tubuh seperti tulang atau  ruangan berongga yang berisi gas. payudara. sehingga aman bagi wanita hamil. kandungan. Sedangakan untuk payudara. Sementara itu. Hypoechoic atau echopoor atau echoluscent. kehamilan. d. misalnya urine. Saat melakukan radioterapi pasien tidak akan merasakan sakit sedikit pun tetapi efeknya terasa setelah beberapa kali melakukan radioterapi tersebut. misalnya untuk hepar. lien. USG biasanya dipakai untuk skrinning benjolan/keluhan pada wanita-wanita usia < 35 tahun atau sebagai pemeriksaan pelengkap dan atau lanjutan setelah dilakukan mammografi pada wanita usia > 35 tahun. misalnya abses hepar dan tumor uterus. menyebabkan sedikit atau tidak ada efek samping. Hyperechoic atau echorich atau echodens misalnya batu ginjal dan adanya kalsifikasi di suatu jaringan. E. Komplikasi Penggunaan radioterapi merupakan sala satu solusi yang baik untuk menyembuhkan dan mendeteksi penyakit-penyakit tertentu. Terminologi yang digunakan a. USG 3D/4D dapat melihat rupa janin seperti sebuah foto dan dapat melihat gerakan bayi yang dapat direkam dalam CD.limpa. membedakan kista dengan massa padat.  Keunggulan Tidak menggunakan radiasi sinar-x. atau ginjal yang normal. walaupun rasa sakit jangka pendek terasa dalam harihari setelah perawatan karena untuk edema mengompresi saraf-saraf di daerah yang dirawat. perawatan untuk dosis yang lebih tinggi menyebabkan berbagai efek samping selama pengobatan (efek samping akut). c. ascites dan darah.

dan infertilitas merupakan efek samping akut yang terjadi akibat proses radoiterapi (newsmedical. Secara general dan lokal tanda dan gejalanya sebagai berikut: General Badan terasa sakit Depresi hemopotitik Mual Pusing Muntah Lokal Erytema Diskumulasi mukositis Iritasi kulit Mulut kering Disuria Terjadinya kerusakan permukaan epitel. pengobatan sendiri (jenis radiasi. 2013). 2013). dan pasien (news-medical. salah satu efek samping dari radioterapi adalah efek samping jangka pendek/akut. Tingkat keparahan dan lamanya efek samping tergantung pada organ-organ yang menerima radiasi. Secara general dan lokal tanda dan gejalanya sebagai berikut: General Hematologic disorder Lokal Pigmentasi Atrophy Fibrosis Nekrosis Ulcerasi Teleangectasis Beberapa efek samping jangka panjang/kronis dari radioterapi adalah sebagai berikut: 1.net. Efek samping ini terjadi selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dan umumnya terjadi lebih dari 8 minggu. kemoterapi bersamaan). Rambut rontok 34 .panjang/kronis). perandangan.net. dosis. 2. Efek samping lainnya adalah efek samping jangka panjang/kronis. Seperti yang telah disebutkan di atas. Fibrosis Fibrosis merupakan kurang elastisnya jaringan setelah diradiasi secara terus-menerus dan akibat pemumpukan jaringan parut baur. atau setelah re-treatment (kumulatif efek samping). fractionation. Efek samping akut ini terjadi selama 6-8 minggu dengan ditandai adanya inflamasi.

F. Hal ini terjadi karena kelenjar liur dan kelenjar air mata memiliki toleransi radiasi sekitar 30 Gy 2 Gy dan jika melebihi akan pecah. Terkait dengan radioterapi peran perawat adalah menjelaskan prosedur terapi.namun biasanya hanya terbatas pada bagian tubuh yang dilakukan radiasi saja. dan apoteker memiliki perannya masing-masing dalam radioterapi. Kanker Radiasi adalah penyebab potensi kanker. Peran Perawat Setiap tindakan medis tidak terlepas dari peran tenaga kesehatan termasuk dalam radoiterapi ini. menjelaskan efek samping yang bisa terjadi. Kematian (news-medical. Kekeringan Kekeringan yang dimaksud adalah mulut kering (xerostomia) dan mata kering (xerophthalmia). Hal tersebut dipengaruhi oleh jumlah pengobatan radioterapi yang dilakukan. Penurunan kognitif Efek samping ini terjadi pada radoiterapi untuk kepala. Peran tenaga kesehatan tidak terlepas dari tujuan untuk memberikan pelayanan dan membantu pasien mencapai level kesehatan yang optimal. dan mukosa vagina alami lembab sering kering setelah iradiasi panggul. dan menjelaskan tambahan antiradiasi jiak diperlukan.Ini merupakan efek samping yang sering terjadi dan bersifat permanen. Sementara itu peran perawat lainya adalah untuk iiradiation sebelum dilakukanya radisai. dan keganasan sekunder terlihat di minoritas yang sangat kecil dari pasien. perawat. ahli gizi. Kelelahan Kelelahan merupakan gejala umu yang terjadi dan dapat berlangsung selama beberapa bulan atau beberapa tahun. umumnya terjadi bertahuntahun setelah telah menerima radioterapi. Tenga kesehatan seperti dokter staff radiasi. Kelelahan menyebabkan kekurangan energi sehingga dapat menurunkan altivitas pasien. risiko ini sangat sebanding dengan pengurangan risiko yang diberikan oleh mengobati kanker. yaitu: 35 . 3. Pada sebagian besar kasus. 7. 5.net. 2013). 6. Selain itu kekeringan juga terjadi pada kelenjar keringat yang bisa bekerja. 4.

dan komplain atau terjadinya efek samping. 6 bulan setelah radiasi dan secara kontinu setiap 6 bulan sekali (news-medical. trombosit. Berikut ini kektentuan melakukan follow up dan kontrol setelah radiasi:  Durasi radiasi Check up setiap 5 kali melakukan radiasi. Check up yang dilakukan terkait dengan Hb. Menjaga area yang akan diradiasi tidak belh terkena air 2. Jika ada kotoran di area yang akan diradiasi. 2013). Untuk radiasi nasopharynx  Hindari penggunaan dencture  Memastikan bahwa asien tidak sedang sakit gigi  Hindarkan pasien dari konsumsi makan makanan yang panas  Berikan antifungal oral  Post pull out teeth > 2 minggu Peran perawa lainnya yang tidak kalah pentingya adalah membantu pasien radioterapi dalam memperoleh informasi tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terkait kondisinya dan melakukan follow up serta kontrol setelah radiasi.1. leukosit. 3 bulan setelah radiasi. 2 minggu setelah radiasi b. setelah 3 bulan radiasi dihentikan untuk dilakukan check Lab. dibersihkan dengan menggunakan air seminimal mungkin dan dikeringkan dengan handuk kering 4. PA untuk mengetahui perkembangan penyakitnya d. kondisi normalnya. 1 bulan setelah radiasi c.  Setelah radiasi a. 36 .net. Menghindari penggunaan salep atau creams 3.

frekuensi dan lama pemakaian obat. Farmakodinamik juga sering disebut dengan aksi atau efek obat. tekanan darah turun. mempengaruhi proses transpor. Reaksi obat di organ tubuh dan di dalam tubuh dapat terjadi secara kimia dan fisik. efek osmotik. Mekanisme Kerja Obat Keefektifan keja sebuah obat dapat dilihat dari mekanisme kerja obat tersebut. kadar gula darah turun. yaitu variabel utama dan variabel sekunder. 37 . misalnya suhu turun. Variabel utamanya adalah dosis. Pengertian Farmakodinamika Farmakodinamika dalam ilmu farmakologi adalah ilmu yang berfokus membahas dan mempelajari seputar efek obat-obatan itu sendiri di dalam tubuh baik dari segi fisiologi maupun biokimia berbagai organ tubuh serta mekanisme kerja obat-obatan itu sendiri di dalam tubuh manusia. dan tingkat morbiditas). Smentara itu secara fisik misalnya diuretik osmotik (Magnesium sulfat). 2009). Mekanisme kerja obat terjadi setelah obat tersebut berekasi di organ tubuh dan di dalam tubuh itu sendiri.patologis. Pada farmakodinamik dikenal 2 variabel yan. Sementara itu variabel sekundernya adalah kondisi pasien (fisiologis. Kedua variabel ini berpengaruh terhadap efek kerja obat dalam tubuh (Katzung dkk. Efek Obat merupakan reaksi Fisiologis atau biokimia tubuh karena obat. karena sifatnya yang lambat sekali diresorbsi usus akan mengalami proses osmotik menarik air dari sekitarnya sehingga terjadilah pembesaran feses di usus dan merangsang dinding usus secara mekanis untuk mengeluarkan isinya. B. mempengaruhi biosintesis dalam mikroorganisme. Mekanisme kerja obat yang mendasari berbagai kerja obat adalah menghambat atau mengaktifkan enzim tubuh sendiri. Secara kimia obat misalnya adalah Maagnesium Hidroksida atau antasida yang dapat meningkatkan asam lambung dan menetralkan asam lambung secra kimia.BAB IV FARMAKOLOGI FARMAKODINAMIKA OBAT A.

Penghambatan pembekuan darah oleh natrium sitrat 38 .Memudahkan masuknya c.Pengaruh terhadap mekanisme pembawa glukosa ke dalam sel oleh insulin d.Gangguan sintetis asam c.Pengaruh terhadap transpor aktif oleh dosis toksis glikosida jantung dan menghambat pengembalian noradrenalin 3. Pengaruh terhadap on logam a.Menghambat transpor aktif natrium dan kalium d.pembentukan kompleks.Kerja bakteriostatik protein normal bakteri golongan tetrasiklin c.Kerja bakterisida dalam sel bakteri b.Menghambat aliran masuk membran dan juga aliran keluar natrium dan kalium oleh anastetik lokal c.Aktivasi enzim oleh ion- b. Meningkatkan proses transpor ketelapan ketelapan membran ion asetilkolin b.Menurunkan ketelapan b.Inhibisi sintetis dinding a.Aktivitas enzim 2. obat pencahar garam a. Jenis Mekanisme Pengaruh a. Osmodiuretika b. kembali - Kompleks sulfonamida a. dan reaksi netralisasi.Gangguan golongan penisillin sintesis b. 1. Pengaruh terhadap biosintetis dalam mikroorganisme Efek Somatik 5.Penghambatan terhadap enzim asetilkorinesterase oleh parasimpatomimetika tak langsung b. Meningkatkan a.Inhibisi enzim Contoh a. Pembentukan oleh nomifensin a. Berikut ini contoh mekanisme kerja obat: No.Kerja bakteriostatik folat 4.

Aktifitas obat mudah dipengaruhi dengan merubah struktur kimianya c. Reseptor obat merupakan suatu protein spesifik pada sel yg reseptif terhadap ligand/obat dengan spesifisitas. protein enzim. dan reseptor intraseler. yaitu reseptor ion (Kanal Ion). reseptor second messenger generation (terikat Protein G). reseptor protein kinase (Tyrosine Kinase). afinitas dan selektifitas serta sensitifitas tertentu (khusus). Obat bekerja pada kadar yang rendah b.Penggunaan kalsium edetal sebagai antidot pada keracunan logam 6. 1. Reseptor Kanal Ion Pada resepotor ion obat akan masuk bersamaan dengan masuknya ion ke dalam tempat kerja obat tersebut. Contoh reseptor ion adalah Na+ dan Cl. reseptor berupa suatu reseptor membrane yang langsung terhubung dengan suatu kanal ion dan memperantarai aksi sinaptik yang cepat. Ketiga akan menyokong konsep reserptor sebagai berikut: a. Reseptor Obat Obat merupakan stuktur yang spesifik baik secara kimia ataupun fisiknya.Netralisas asam lambung Reaksi Netralisasi oleh antasida b. berat a. Reseptor ini juga disebut juga sebagai reseptor ionotropik.dan contoh reseptor kanal 39 . Penyusun resptor adalah protein yang terdiri dari tiga makromolekul yaitu. Aksi menahan dan antagonis juga dipengaruhi oleh perubahan struktur kimianya Secara keseluruhan reseptor obat dapat digolongkan dalam 4 macam. Sementara itu pada reseptor kanal ion.Meniadakan kerja heparin oleh protamin sulfat (Katzung dkk. 2009). protein struktural dan asam nukleat. maka dari itu agar obat dapat bekerja dan menghasilkan efek perlu adanya sebuah reseprot obat di dalam tubuh. C.akibat pembentukan kompleks dengan ion kalium b.

reseptor intraseleler berada di dalam sel lebih tepatnya adalah berada di dalam sitoplasma atau nukleus. Obat agonis memiliki afinitas intrinsik dan aktifitas intrinsik. Reseptor ini bekerja dengan menggunakan hormon-hormon seperti hormon tyroid dan corticosteroid. second massenger generation. rangkaian peptida penyusun reseptor ini. Rangkaian peptida tersebut melintasi membrane sebanyak tujuh kali dan terikat dengan sistem efektor yang disebut protein G. Jika dilihat dari tipe reseptor-ligandnya. Reseptor ini memperantarai beberapai aksi neurotransmitter dan hormon secara lambat. dan reseptor insulin. Dari keempat reseptor tersebut. reseptor adrenergic. dan reseptor glutamate. Reseptor Intra Seluler Reseptor intra seluler merupakan satu-satunya kelompok reseptor yang tidak terletak di membrane sel tetapi terletak di dalam sitoplasmik atau nukleus. 4. Aktifitas intrinsik dari agonis kebanyakan dinyatakan sebagai aktifitas intrinsik relatif α. reseptor growth factor. 2. dan reseptor serotonin. obat dapat digolongkan menjadi 3 jenis. yaitu agonis. 3. reseptor GABAa. Sesuai dengan namanya. 1. antagonis dan parsial agonis.ion adalah reseptor asetilkolin nikotinik. reseptor ion. reseptor histamine. Reseptor Tyrosine Kinase Reseptor ini merupakan reseptor single trans membrane (hanya melintasi membrane satu kali) yang memiliki aktibitas kinase dalam transduksi sinyalnya. Ini sebanding dengan kuosien dari efek EA yang dihasilkan oleh agonis dan efek EM yang paling maksimum yang dihasilkan dalam sistem biologi: 40 . reseptor dopaminergik. Reseptor Terikat Protein G Reseptor terikat protein G atau GPCR (G-Protein Coupled Receptor) atau 7TM Receptor (7 Trans Membrane Receptor) ini merupakan golongan reseptor yang memiliki jumlah anggota yang paling banyak. Sementara itu. Contoh reseptor ini misalnya reseptor asetil kolin muskarinik. Cobtoh dari reseptor ini adalah reseptor sitokinin. dan protein kinase merupakan reseptor yang berada di dlam membaran sel dan melintasi membran. Agonis Obat ini diproduksi uutk memberikan efek yang sama dengan endogenus ligand.

Pada konsentrasi yang rendah senyawa ini dapat menjadi antagonis kompetitif. Senyawa ini memiliki aktifitas terhadap reseptor.a = 1 merupakan agonis sempurna. b. Senyawa ini juga menyebabkan perubahan konformasi makromolekul dan karena itu kondisi untuk agonis pada tempat reseptornya berubah atau dapat diartikan bahwa reseptor yang diikat oleh agonis sekarang bukan reseptor yang seharusnya. tetapi senyawa ini tidak mampu menimbulkan efek jika berikatan dengan reseptor. Antagonis dibedakan menjadi 4 jenis. Suatu antagonis tak kompetitif yang khas adalah papaverin. Antagonis tidak kompetitif Senyawa ini mampu melemahkan kerja agonis denga cara yang berbeda. berikatan dengan reseptor tertentu. Ikatannya berbeda. Jadi. Agonis masih bisa digolongkan menjadi 2 jenis sebagai berikut: Agonis I Agonis II Mengikat reseptor yang sama dengan Mengikat reseptor yang sama dengan reseptor endogenus ligand. Contoh: morphine ligand. senyawa ini disebut sebagai antagonis kompetitif karena bersaing dengan agonis untuk berikatan dengan reseptor yang sama dan masing-masing dapat mengusir yang lain dari reseptor akibat kenaikan konsentrasi dari salah satu senyawa. Antagonis Merupakan senyawa yang menurunkan kerja obat karena memblokir reseptor untuk berikatan dengan ligand sehingga agonis tidak dapat masuk. Kemungkinan lain dari penghambatan tak kompetitif adalah bahwa proses yang sedang berlangsung dipengaruhi setelah pembentukan kompleks obat reseptor. 41 . 2. endogenus Efeknya meningkatkan endogenus ligand.α≈ EA/EM Sementara itu.a) yang relatif maksimum dihasilkan jika EA/EM=1. aktifitas intrinsik (i. Efeknya sama dengan reseptor endogenus ligand tetapi pada sel yang berbeda dengan agonis I. Antagonis kompetitif Antagonis sama dengan agonis. Agonis dengan i. yaitu: a.

Contohnya. Antagonis bisa digolongkan menjadi 2 tipe sebagai berikut: Antagonis I Antagonis II Menghalangi ikatan antara reseptor dan Menghalangi ikatan antara reseptor dan agonis dalam 1 sel saja. antagonisme antara senyawa kolinergik atau senyawa histaminergik dan obat β-andrenergik pada otot bronkhus.  Reseptor + Antagonis I + Agonis agonis dalam sel yang berbeda.c. Pengolongan tersebut adalah sebagai berikut: No Jenis Spesifitas dan Keterangan . Antagonis fungsional Fungsional jika antagonis ini sebagai agonis melalui efeknya yang berlawanan menurunkan kerja suatu agonis kedua. mis. reseptor yg terdapat pada satu organ. 1. serta tidak bergantung pada reseptor. d. Antagonis kimia Merupakan senyawa yang bereaksi secara kimia dengan zat tertentu dan dengan demikian akan menginaktifkannya pula. Selain itu reseptor juga masih bisa digolongkan bnerdasarkan sifat spesifitas dan selektifitasnya. Sel 1 : Reseptor + agonis Sel 2 : Reseptor + antagonis Efek yang ditimbulkan adalah sama yaitu menghambat atau menghalangi efek kerja obat. Selektifitas Spesifik Reseptor hanya spesifik berikatan dengan 1 2. Reseptor dapat berikatan denga berbagai Selektif – Spesifik jenis senyawa obat. yang bekerja pada sistem sel yang sama tapi berikatan dengan reseptor yang berbeda. Tidak spesifik senyawa obat saja. Satu obat hanya mempengeruhi satu jenis 3. Hasil utama antagonisme kimia adalah penurunan konsentrasi zat tertentu dalam biofase. Spesifik – Tidak selektif saluran nafas Satu obat hanya mempengaruhi satu jenis 42 . Salbutamol pada resptor beta 2 dalam 4.

atau efek samping yang hampir sama. Interaksi ini dapat terjadi karena adanya kompetisi reseptor atau terjadi antara obat-obata yang bekerja pada sistem fisiologis yang sama. Interaksi antagonis atau berlawanan Interaksi ini terjadi ketika 2 obat yang memiliki efek yang berbeda diberikan secara bersamaan.mis. E. Atropin. nefrotoksisitas. (Katzung dkk. Interaksi ini biasanya dapat diprediksi dari pengetahuan tentang farmakologi obat-obat yang berinteraksi (Katzung dkk. Jika asupan vitamin K bertambah.tetapi reseptor ini terdapat pada berbagai organ. dapat menyebabkan mengantuk berlebihan (Katzung dkk. depresi sumsum tulang dan perpanjangan interval QT). 43 . jika diberikan dalam jumlah sedang dosis terapi normal sejumlah besar obat (misalnya ansiolitik. D. Reseptornya sama. tetapi tempat reseptornya berbeda-beda. 2009). Interaksi aditif atau sinergis Interaksi ini terjadi ketika 2 obat yang memiliki efek farmakologis yang sama diberikan secara bersaman sehingga efeknya bisa menjadi efek aditif. yaitu: 1. efek dari antikoagulan oral dihambat dan waktu protrombin dapat kembali normal. antagonis. Interaksi Farmakodinamik Interaksi farmakodinamik adalah interkasi yang terjadi antara obat dengan obat dimana obat tersebut dapat memiliki efek yang sama. Efek Kerja Obat Efek kerja obat terjadi setelah adanya mekanisme kerja obat di dalam tubuh. 2009). Efek kerja obat dapat digolongkan menjadi 2 yaitu. Berikut ini merupakan interaksi farmakodinamk. Contohnya adalah kumarin dapat memperpanjang waktu pembekuan darah yang secara kompetitif menghambat efek vitamin K. Dapat menimbulkan efek samping. efek kerja obat yang dapat diperkirakan dan efek kerja obat yang tidak dapat diperkirakan. 2009).reseptor . Contoh dari interkasi aditif adalah alkohol yang menekan SSP. sehingga menggagalkan manfaat terapi pengobatan antikoagulan (Katzung dkk. Pada keadaan tertentu efek aditif menyebabkan toksik (misalnya aditif ototoksisitas. hipnotik. 2009). 2. dan lain-lain).

menjadi relatif terlalu besar pada pasien-pasien tertentu.Efek kerja obat yang dapat diperkirakan adalah efek utama obat (efek trapeutik). dan efek yang bukan efek utama obat (efek samping). Efek utama obat (efek trepeutik). misalnya pada pasien dengan gangguan faal ginjal. Efek ini bersifat memberikan terapi bukan menimbulkan adanya efek samping kepada pasien. usia. Efek ini disebut juga sebagai efek primer. 1. Sementara itu. atau karena adanya perbedaan respons kinetik atau dinamik pada kelompok-kelompok tertentu. b. Gejala ini terjadi selama proses adaptasi tingkat respeptor.. efek kerja obat yang tidak diperkirakan adalah efek alergi. Cara yang dapat dilakukan untuk menghentikan reaksi penghentian obat atau toleransi obata ini adalah dengan menghentikan pengobatan secara bertahap misalnya dengan penurunan dosis secara 44 . dan genetik. Efek kerja obat yang dapat diperkirakan a. Gejala penghentian obat adalah reaksi pembalikan terhadap efek farmakologik obat sehingga dapat menyebabkan munculnya kembali gejala penyakit semula. Keadaan ini dapat terjadi karena dosis yang diberikan memang besar. gangguan faal jantung. 2009). Efek ini dapat disebabkan karena dosis relatif yang diberikan terlalu berlebihan untuk pasien yang bersangkutan. dimana adaptasiini menyebabkna toleransi terhadap farmakologi obat sehingga pasien umumnya akan memerlukan dosis yang semakin lama semakin besar. Gejala penghentian obat (withdrawal syndrome). perubahan sirkulasi darah. efek farmakologi yang berlebihan (efek toksik). Jadi. gejala penghentian obat. c. dan reaksi idiosinkratik (Katzung dkk. sehingga efek obat menjadi lebih besar. Reaksi seperti demikian dapat disebut juga seebagai toleransi obat. Selain itu efek ini juga bisa terjadi karena interaksi farmakokinetik maupun farmakodinamik antar obat yang diberikan bersamaan. Efek famakologi yang berlebihan (efek toksik). dimana respon fisiologis obat yang diharapkan atau yang diperkirakan timbul. pemberian obat yang sesuai dengan dosis dan keadaan pasien akan memeberikan efek terapi. sehingga sehingga dosis yang diberikan dalam takaran lazim.

efek samping ini dapat bersifat berbahaya atau bahkan menimbulkan cedera.  anafilaksis. 2. 2009). Keluhan/gejala yang terjadi dapat ditandai sebagai reaksi imunologik. sakit kepala. Selain itu. mual. Berikut ini adalah manifestasi klinis terjadinya reaksi alergi: Ringan. urtikaria. atau dengan menggantikan dengan obat sejenis yang mempunyai aksi lebih panjang atau kurang. misalnya rash (ruam) di kulit. skin rash. anaphilaksis. angio-edema. Reaksi idiosinkratik Reaksi ini merupakan reaski tidak normal terhadap obat dan tidak dapat diterangkan atau diperkirakan mengapa bisa terjadi.  Seringkali terdapat tenggang waktu antara kontak pertama terhadap  obat dengan timbulnya efek. Efek kerja obat yang tidak dapat diperkirakan a. Reaksi hilang bila obat dihentikan. dan terjadi hanya pada sebagian kecil dari populasi yang menggunakan suatu obat. 45 . walaupun hanya dengan   sejumlah sangat kecil obat. asma. Reaksi dapat terjadi pada kontak ulangan. seringkali sama sekali tidak tergantung dosis. Efek samping ini dapat diprediksi kemunculannya. dan  demam. dengan gejala penghentian obat yang lebih ringan. dimana efek ini akan muncul setelah efek trapeutik. Namun. Reaksinya dapat bervariasi dari bentuk yang ringan seperti reaksi kulit eritema sampai yang paling berat berupa syok anafilaksi yang bisa fatal. b. urticaria. dll. (Katzung dkk.berangsur-angsur. Reaksi alergi dapat dikenali berdasarkan sifat-sifat khasnya. ganggnuan sister pernafasan. d. Reaksi alergi Reaksi alergi tejadi karena adanya reaksi imunologik. Berat. muntah. yaitu:  Gejalanya sama sekali tidak sama dengan efek farmakologiknya. dan gangguan sistem peredaran darah. reaksi ini relatif jarang terjadi. Reaksi ini tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Efek yang bukan efek utama obat (efek samping). serum sickness. Efek ini disebut juga efek sekunder.

46 .

dan mencegah pembusukan serta perusakan bahan oleh mikroorganisme. pada aplikasi klinik bertujuan unutk mencegah penyebaran infeksi pada komunitas maupun di rumah sakit. desinfeksi. Pertama. atau penghapusan mikroorganisme patogen (biasanya pada benda mati). Hal tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti melakukan sterilisasi. B.BAB V MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI PENGENDALIAN MIKROBA A. 2005). Destruksi ini dilakukan dari semua bentuk mikroba dan endospora. makanan. penghambatan. Istilah dalam Pengendalian Mikroba Berikut ini merupakan istilah yang sering digunakan dalam pegendalian mikorba: 1. 2. dan industri. pada industri pengendalian mikroba bertujuan untuk mencegah dekomposisi obat. Namun cara yang paling mudah adalah dengan melakukan cuci tangan bersih sebelum dan sesudah melakukan tindakan medis ataupun kegiatan sehari-hari pada umunya adalah sebelum makan (Pelczar. 2005). dan untuk mensterilkan peralatan medis (Pelczar. pada laboratorium mikrobiologi bertujuan untuk mencegah komunitas mikroba dari peralatan dan medium kultur dari meikroba yang tidak diiginkan. Disinfeksi Adalah pembunuhan. Pengendalain mikroba sangat perlu dilakukan terutama pada aplikasi klinik. laboratorium mikrobiologi. teknik aseptik. dan yang lainnya. Tujuan Pengendalian Mikroba Tujuan utama dari pengendalian mikroba adalah untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit dan infeksi. kedua. Sementara itu. membasmi mikroorganisme pada inang yang terinfeksi. Sterilisasi Adalah destruksi atau penghancuran atau penghapusan semua organisme yang layak dari sebuah benda atau dari lingkungan tertentu. Cara yang paling umum adalah dengan mealkukan pemanasan. Desinfeksi bertujuan untuk merusak 47 .

5. 2. 5. Sifat mikroba Populasi terdiri dari spesies yang berbeda atau sel pada tahap perkembangan yang berbeda (misalnya. viricide. 3. (Kusnadi dkk. Akhiran –statis atau –satik. fungistatic). Faktor lingkungan 48 . bakteriostatik. vegetatfi. Keadaan yang Mempengaruhi Pengerndalian Mikroba 1. metoda pengendalian mikroba yang digunakan harus sesuai dengan sifat dari endospora. dan sifat kima atau fisiknya. menunjukkan bahwa agen akan mencegah pertumbuhan jenis organisme yang bersangkutan (misalnya. C. Antisepsis Adalah pencegahan infeksi jaringan hidup oleh mikroorganisme. Sanitasi Adalah pengurangan populasi mikroba ke tingkat yang aman yang ditetapkan oleh standar kesehatan masyarakat atau dalam arti sempit dapat diakatan meminimalkan transmisi penyakit dari satu orang ke orang lainnya. 3. radiasi uv. b.mikroba dalm bentuk vegetatifnya. 2003). Durasi paparan-paparan Semakin lama. Konsentrasi Intensitas konsentrasi antimikroba agen-tinggi atau intensitas umumnya lebih efisien. Jadi. 4. 4. Namun. menunjukkan bahwa agen akan membunuh jenis organisme yang bersangkutan (misalnya. Jumlah mikroba Populasi populasi ukuran lebih besar membutuhkan waktu lebih lama untuk membunuh dari populasi yang lebih kecil. 6. dan boiling water. Agen antimikroba jatuh ke salah satu dari dua kategori besar dilambangkan dengan akhiran yang menunjukkan efeknya. Akhiran –cide atau –sidik. fungisida). endospora versus sel vegetatif atau sel muda versus sel tua) berbeda dalam kepekaan mereka untuk berbagai agen. tetapi hubungan ini tidak linier. Suhu Suhu yang lebih tinggi biasanya akan (tetapi tidak selalu) meningkatkan efektivitas membunuh. semakin besar jumlah organisme mati. a. akan dibutuhkan waktu yang lama pula untuk membunuh mikroba yang resisten/endospora. Cara ini dapat dilakukan dengan menggunakan bahan kimia.

Metode Pengendalian Mikroba Metode yang digunakan dalam pengendalian mikroba dapat digolongkan menjadi dua. melainkan populasi berkurang dengan fraksi konstan pada interval konstan (pembunuhan eksponensial). Pola Kematian Mikroba Ada dua macam pola kematian mikroba. yaitu metode pengendalian secara fisik dan kimia.Lingkungan yang dimaksud adalah seperti pH. 2005). viru. dan jamur 49 . Berikut ini merupakan metode pengendalian mikorba secara fisik: 1. Pemanasan/Pendidihan Proses ini menggunakan suhu uap 100oC pada tekanan 1 atm. radiasi. E. 2003). dan tekanan osmose. dimana proses pengendalian mikorba menggunkan uap air. D. pada metode pengendalian mikroba secara kimia perlakuannya menggunakan bahan-bahan kima (Pelczar. Pemanasan Basah Pemanasan basah merupakan pemanasan yang berkontak langsung dengan air. dan konsentrasi bahan organik dapat sangat mempengaruhi efektivitas agen antimikroba tertentu. viskositas. Kematian mikroba pada metode ini dikarenakan proses koagulase dari protein mikroba sehingga menyebabkan putusnya ikatan hidrogen yang mempertahankan struktur tiga dimensi dari protein tersebut. yaitu: 1. Sementara itu. Metode pengendalian mikroba secara fisik efek yang ditimbulakn harus lebih ditujukan kepada objek yang disterilkan dari mikroba. Pada metoda pengendalian mikroba secara fisik perlakuannya dengan menggunakan suhu (pemanasan basah dan pemanasan kering). Metode ini akan membunuh vegetatif bakteri patogen. 2. flitrasi. Suatu mikroorganisme biasanya dianggap mati ketika tidak dapat tumbuh dalam kondisi yang biasanya akan mendukung pertumbuhan dan reproduksi. (Kusnadi dkk. Oleh karena hal ersebut maka pertimbangan pemilihan metode dan pertimbangn ekonomis juga harus diperhatikan. pengeringan. 2005). Mikroorganisme tidak tewas seketika bila terkena agen mematikan. a. (Pelczar.

dan alat serta bahan lain. Proses ini untuk makanan dan minuman kaleng. d. syringer. Proses ini dilakukan selam 3 hari berturut-turut. Contoh bakteri yang dapat terbunuh oleh proses ini adalah Mycrobacteiurm Tuberculosis. 2. Autoklaf Suhu yang digunakan adala 121oC dengan tekanan 5 Kg/cm2 dengan waktu standart adalah 15 menit. Proses ini kan langsung menurunka total jumlah bakteri. larutan. LTLT (Long Temperature Long Time) Dengan menggunakan suhu 61˚ C dengan waktu 30 menit. anggur dan makanan asam lainnya. e. Suhu yang digunakan adalah 63oC dalam waktu 30 menit. (Pelczar. Pemanasan Kering 50 . peralatan dressing.beserta sporanya dengan membutuhkan waktu 10 menit setelah uap mendidih pada suhu 100oC. Pasteurisasi Proses ini didasarkan pada waktu kematian termal bagi tipe patogen yang paling resisten untuk dibasmi. Pasteurisasi biasanya dilakukan untuk susu. dimana pada terbunuhnya mikroba terjadi secara bertahap degan memberikan endospora tumbuh menjadai vegetatif sehingga tidak akan ada endospora yang tersisa pada hari ketiga. Pada proses pasteurisasi ini yang terbunuh hanyalah bakteri patogen dan bakteri penyebab kebusukan namun tidak pada bakteri lainnya. rum. f. Tindalisasi Proses ini menggunakan suhu 63oC dan dalam waktu 30 menit. g. alat gelas. c. 2005). Proses ini biasanya digunakan pada produk susu kemasan. UHT (Ultra High Temperature) Proses ini menggunakan suhu 140C dalam waktu kurang dari 1 detik. Peralatan yang bisa dilakukan sterilisasi proses ini adalah peralatan yang tahan terhadap suhu tinggi dan selama prosesnya alat dan bahan yang disterilkan harus kontak langsung dengan uap air. HTST (High Temperature Short Time) Proses ini menggunakan suhu 72oC dalam waktu 15 detik. b. Proses ini digunakan untuk mensterilkan media kultur.

Pada metode ini mikroba akan mati karena proses oksidasi di dalam tubuh mikroba tersebut. Namun. Flaming Proses ini dilakukan dengan cara melewatkan alat-alat yang disterilkan di atas api. dan waskom (Pelczar. Biasanya dapat dilakukan dengan menggunakan Vacum Pump untuk menarik cairan melalui saringan tersebut. b. Hot Air Sterilitation Pada proses ini bahan atau alat diletakkan di dalam oven dengan menggunakan suhu 170oC dalam waktu 2 jam. Filtrasi untuk udara dapat dilakukan dengan menggunakan HEPA (High Efficiency Particular Air). dan lama perlakuan. Prinsip dari metode ini adalah 51 . lemak. bedak. Biasanya digunakan untuk mensterilkan alat yang sederhana seperti jarum ose (Pelczar. 2005).45 miumeter (untuk bakteri) serta 0. vaksin dan antibiotika. pinset. penggunaan untuk tekstil dan cotton tidak bisa karean akan membakar tekstil dan cotton tersebut (Pelczar. 2005). Api yang digunakan biasanya hasil dari pembakaran bunsen. 4. Filtrasi Metode ini dilakukan dengan cara melewatkan bahan melalui saringan dengan pori-pori yang dapat menahan mikoorganisme. Contoh alat yang dilakukan sterilisasi dengan proses ini adalah skapel. a. Read Heat Pemanasan langsung di atas api bunsen burner (pembakar spiritus) sampai berpijar merah.01 miu meter (untuk virus) (Pelczar. intensitas perlakuan. Membaran yang digunakan sebagai saringan adalah berasal dari ester selulosa atau polimer plastik dengan ukuran 0. 3. Metode ini digunakan untuk media kultur.22 miumeter dan 0. 2005). dan alat logam yang tahan suhu tinggi. Baisanya digunakan di ruang perawatan luka bakar unutk menurunkan jumlah mikroba yang berasal dari udara. 2005). larutan enzim. c. larutan minyak. Radiasi Metode radiasi sangat bergantung pada panjang gelombang. Proses ini cocok untuk alat-alat seperti gelas.

disinfeksi vaksin. sinar beta. Prinsip kerja dari sinar-sinar tersebut akan mengionkan mol air yang ada dalam mikroba sehingga terbentuk radial hidroksil yang kemudian akan menyerand DNA dan akjirnya DNA tersebut rusak dan mikroba mati. dan pada indutri medis (Pelczar. Sinar gamma : Kekuatan radiasinya besar dan efektif untuk sterilisasi bahan makanan. sinar alfa. yaitu:  Sinar UV penetrasinya rendah Hal ini berakibat mikroba yang terbunuh hanya yang langsung terpapar oleh sinar UV dan mikroba yang  terlindungi oleh benda padat tidak dapat dipengaruhi. penggunaan sinar ini masih terdapat kekurangannya. Metode ini digunakan untuk kontrol mikroba di udara.  Sinar alfa : Memiliki sifat bakterisidal tetapi tidak memiliki daya penetrasi. a.dengan membunuh bentuk vegetatif dari mikroba. 52 . Ionizing Sinar ionisasi yang digunakan adalah sinar X. Berikut ini merupakan sifat dari sinar X. 2005). Metode radiasi dibagi menjadi dua yaitu. b. : Daya penetrasinya sedikit lebih besar daripada  Sinar beta  sinar X. Prinsipnya DNA mikroba kan menyerap sinar UV (260 nm) dan sinar UV akan merusak DNA denganmembentuk ikatan antara thymin yang berdekatan dalam rantai DNA. 2005). Akibat adanya ikatan antara thymin replikasi DNA akanterhambat selama proses reproduksi mikroba. dan sinar gamma. Namun. Non-Ionizing Pada metode ini digunakan sinar ultraviolet (UV) dengan panjang gelombang 260 nm. Metode ini memerlukan biaya yang besar dan biasanya hanya digunakan pada industri famrasi maupun industri kedokteran (Pelczar. sinar beta. sinar alfa. dan sinar gamma. yaitu:  Sinar X : Daya penetrasi baik namun perlu energi besar. Sinar UV dapat merusak mata dan kontak yang lama akan memberikan efek terbakar serta kanker kulit pada manusia.

Pengeringan Metode ini dilakukan tidak menggunakan air. Semakin lama bahan tersebut kontak dengan bahan yang disterilkan maka hasilnya akan semakin baik. yaitu (Pelczar. Pada suhu ini mikroba akan dormant tetapi tidak membunuh mikroba tersebut (Pelczar. b. Suhu Subfreezing Suhu sunbfreezing berada di bawah 0oC. 2005). 6. Mikroba yang berkapsul dan berspora lebih resisten dibandingkan yang berkapsul dan berspora. 7. Semakin tinggi konsentrasinya maka efektivitasnya semakin meningkat. Waktu kontak. Metode ini biasanya digunakan untuk mengawetkan makanan (Pelczar. Suhu Refigerator Suhu refigrator adalah 0oC – 7oC. Tekanan Osmose Metode ini menggunaka konsentrasi tinggi dari gula atau garam yang memiliiefek mengawetkan. dimana pada suhu tersebut metabolisme mkroba akan ditekan sehingga miroba tidak tumbuh dan berkembang dengan cepat (Pelczar. Salah satu metode pengeringan adalah Lyophilization yang berfungsi unutk mengawetkan mikroba (Pelczar. b. Adanya bahan organik dan ekstra. d. 2005): a. Metode selanjutnya yang digunakan adalah metode kimia. 2005). yaitu dengan suhu milai dari -20oC sampai -195oC. 53 . 2005). Bahan kimayang digunakan memiliki agan kima yang memiliki kemampuan untuk membunuh mikroba secara cepat dengan dosis yang rendah tanpa merusak bahan atau alat disinfeksi. Suhu Rendah a. 2005).5. Efek mengawetkan tersebut akan mejadikan lingkungan hipertonis yang menyebabkna air keluar dari dalam sel mikroba dan menyebabkan membran plasma lisis atau plasmo lisis. Sifat dan jenis mikroba. Prinsipnya menyebabkan mikroba tidak dapat tumbuh dan tidak dapat merkemang biak namun mikroba masih tetap hidup. Konsentrasi agen kimia yang digunakan. c. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas agen kimia di dalam mengendalikan mikroba.

Golongan fenol. Agen Kimia yang merusak membran sel Contoh dari agen ini adalah:  Golongan Surfaktans (Surface Active Agents). bertindak dengan menggabungkan diri  dengan protein miroba dan menonaktifkan mikroba tersebut. c. Agen Kimia merusak enzim  Golongan logam berat seperti arsen. Agen Kimia yang menyebabkan denaturasi protein Agen kimiawi yang menyebabkan terjadinya koagulasi dan presipitasi protoplasma. dll. b. bertindak dengan denaturasi protein dan mengganggu membran sel dan dapat melarutkan membran lipid. Efektivitas bahan kimia dapat berubah seiring dengan perubahan pH. seperti alkohol. (Pelczar. perak. 2005) 54 . e. Prinsip tindakannya adalah mengoksidasi konstituen sel dan iodinating protein sel. pH atau derajat keasaman. Efektif tetapi biasanya beracun. Golongan oksidator seperti golongan halogen. gliserol dan bahan-bahan asam dan alkalis. peroksida hidrogen dan formaldehid. Prinsip kerjanya adalah sebagai berikut: a. Prinsip kerja dari bahan kimia digolongkan berdasarkan sifat agennya. yaitu golongan  anionik. merkuri. kationik dan nonionik.Adanya bahan-bahan organik dapat menurunkan efektivitas agen kimia.