You are on page 1of 18

Peranan Intelkam POLRI dalam mengantisipasi Konflik Sosial

(Studi di Wilayah Hukum Polda Lampung)
Oleh
Daniel Marbun,Nikmah Rosidah,Deni Achmad
Abstrak
Masyarakat merupakan elemen dasar dalam terbentuknya suatu Negara haruslah
saling bersatu. Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi
menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kolektif dimana manusia
itu bergaul dan berinteraksi. Interaksi antar individu dengan keinginan dan tujuan
yang sama tersebut pada akhirnya melahirkan kebudayaan. Masyarakat adalah
suatu organisasi manusia yang saling berhubungan satu sama lain, sementara
kebudayaan adalah suatu sistem norma dan nilai yang terorganisasi yang menjadi
pegangan bagi masyarakat tersebut. Melalui kebudayaan, manusia menciptakan
tatanan kehidupan yang ideal di muka bumi. Apabila interaksi antar masyarakat
mengalami suatu gesekan ataupun pertentangan, tentunya hal ini dapat
menyebabkan konflik sosial. Konflik sosial dapat disebabkan oleh banyak hal,
yaitu perbedaan pemikiran, perbedaan latar belakang kebudayaan, perbedaan
kepentingan kelompok, perubahan nilai sosial yang cepat dalam masyarakat, dan
kesenjangan sosial yang ada. Intelkam POLRI yang menjadi garda terdepan dalam
menghadapi perubahan dinamika sosial masyarakat yang berkembang harus
sangat jeli dan peka. Hal ini untuk mengantisipasi terjadi Konflik Sosial di dalam
masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah peranan Intelkam
POLRI dalam mengantisipasi Konflik Sosial dan apa sajakah faktor-faktor
penghambat Intelkam POLRI dalam mengantisipasi Konflik Sosial.
Pendekatan masalah yang dipergunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan
yuridis empiris dan yuridis normatif. Sumber data yang digunakan adalah data
primer yaitu diperoleh dari wawancara dan perundang-undangan, data sekunder
adalah data-data yang diambil dari literatur yang berkaitan dengan pokok
permasalahan, karya-karya ilmiah dan hasil penelitian pakar sesuai dengan obyek
pembahasan penelitian, dan data tersier antara lain berupa bahan-bahan yanng
dapat menunjang bahan hukum primer dan sekunder.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis maka peranan Intelkam
POLRI dalam mengantisipasi konflik sosial adalah dengan memelihara kondisi
damai dalam masyarakat, mengembangkan sistem penyelesaian konflik secara
damai, meredam potensi konflik, dan membangun sistem peringatan dini. Sistem
penyelesaian masalah di tingkat terendah masyarakat pun dilakukan dengan
Rembuk Pekon atau penyelesaian masalah secara musyawarah untuk mufakat
tanpa harus dilakukannya proses hukum berupa litigasi, hal ini juga mencegah
terjadi konflik sosial yang beralaskan balas dendam apabila salah satu pihak
diproses secara hukum yang berlaku. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya,
Intelkam POLRI juga mendapat beberapa faktor penghambat yaitu faktor

1

Intelkam.kurangnya personil. Konflik Sosial 2 . serta kurangnya pendanaan guna menunjang kinerja intelkam. Kata Kunci : Peranan. POLRI. kurang memadainya sarana dan prasarana.

Intelkam. Social conflict can be caused by many things. If the interaction between people having a friction or conflict. POLRI who became the frontline in the face of changing social dynamics that develop should be very observant and sensitive. secondary data is data taken from the literature relating to the subject matter. and the data between the tertiary another form yanng materials to support primary and secondary legal materials. while culture is a system of norms and values which organized the base of the society. and lack of funding to support Intelkam performance. POLRI. Problem resolution system at the lowest level of the community is done with Rembuk Pekon or meeting of agreement without judicial process in the form of litigation. This study aims to determine how the role of police in anticipation POLRI and what are the inhibiting factors POLRI in anticipation Social Conflict. Approach to the problem which is used in this paper is empirical and juridical normative. different interests groups. In performing its duties and functions. namely the difference of thought. inadequate infrastructure. Key Words : Role.The Role’s of POLRI in Anticipation of Social Conflict (Studies in Polda Lampung) Society are the basic elements of a State shall be united with one another. humans create the ideal order of life on earth. and the social inequalities that exist. it also prevents social conflicts that come with revenge if one of the part be prosecuted in force. Interactions between individuals with the same aim and goals that eventually produce culture. develop a system of peaceful conflict resolution. of course. rapid changes in social values in the society. This is to anticipate happening in the community Social Conflict. this can lead to social conflict. Society is an organization of people who are related to each other. Source of data used are primary data obtained from interviews and legislation. differences in cultural backgrounds. reduce the potential for conflict. Social Conflict 3 . scholarly works and research experts in accordance with the discussion of the research object. Through culture. and establish an early warning system. Based on the results of research by the author. Society is the unity of human life which interact according to a particular system of customs that are collective in which was associate and interacting. the role of police in anticipation Intelkam social conflict is to maintain the peace in the community. POLRI also received several factors inhibiting factor is the lack of personnel.

1 Koentjaraningrat.Mentalitas. 138 4 . Masyarakat yang merupakan elemen dasar dalam terbentuknya suatu Negara haruslah saling bersatu. sementara kebudayaan adalah suatu sistem norma dan nilai yang terorganisasi yang menjadi pegangan bagi masyarakat tersebut. Melalui kebudayaan. PT Gramedia: Jakarta. hlm . 1994.danPembangun an. PENDAHULUAN 2. Interaksi antar individu dengan keinginan dan tujuan yang sama tersebut pada akhirnya melahirkan kebudayaan.1. manusia menciptakan tatanan kehidupan yang ideal di muka bumi. Masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kolektif dimana manusia itu bergaul dan berinteraksi. Kebudayaan. 3.1 4. Masyarakat adalah suatu organisasi manusia yang saling berhubungan satu sama lain.

Untuk itu. 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial. sudah menjadi tugas dan peran POLRI selaku salah satu institusi penegak hukum di Indonesia dalam meredam dan mengantisipasi potensipotensi konflik sosial yang ada. perubahan nilai sosial yang cepat dalam masyarakat. 7. Indonesia yang merupakan negara yang terkenal akan kehomogenan suku bangsa dan adat budaya.2 Kehomogenan ini membuat Indonesia 2http://www. Menurut Pasal 1 Bab 1 Ketentuan Umum Undangundang No. Suku bangsa dan adat budaya yang banyak ini mempunyai sisi lain tentunya. Konflik sosial dapat disebabkan oleh banyak hal. Kekayaan yang dimiliki Indonesia ini sudah pasti menimbulkan dampak positif dan negatif. yaitu perbedaan pendirian. bahwa definisi konflik sosial adalah perseteruan dan/atau benturan fisik dengan kekerasan antara dua kelompok masyarakat atau lebih yang berlangsung dalam waktu tertentu dan berdampak luas yang mengakibatkan ketidakamanan dan disintegrasi sosial sehingga mengganggu stabilitas nasional dan menghambat pembangunan nasional. 8. Institusi yang merupakan bagian dari eksekutif ini menjadi pamong terdepan masyarakat dalam menegakkan supremasi hukum dari segala aspek baik 5 .128 Suku Bangsa.5. 10. kesenjangan sosial ekonomi yang ada. Indonesia memiliki 1. Salah satu konflik sosial yang paling menghebohkan ialah konflik antar suku yang terjadi di Desa Balinuraga Kabupaten Lampung Selatan ataupun konflik antar desa yang terjadi di Bekri Lampung Tengah.jpnn. Lampung merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang termasuk dalam daftar rawan konflik. tentunya hal ini dapat menyebabkan konflik sosial. Jawa Pos National Network (JPPN) mencatat pada tahun 2012. dikunjungi tangga l 2 Setember 2012 pukul 23. karena itu Indonesia mempunyai beraneka ragam budaya yang timbul dari masing-masing suku bangsa.com/jumlah_suku_di_ Indonesia. 6. 9. 11. perbedaan latar belakang kebudayaan. perbedaan kepentingan dan kelompok. Apabila interaksi antar masyarakat mengalami suatu gesekan ataupun pertentangan.10 WIB menjadi negara yang bias dikatakan unik dikarenakan keanekaragaman kultur budaya yang berbeda dapat dijadikan satu menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). dengan hal-hal yang berbeda-beda ini dapat memicu potensi-potensi konflik sosial yang ada.

dan Pelayanan kepada Masyarakat (Melindungi Mengayomi dan Melayani Masyarakat). Ketetapan Majelis Permusyawaraan Rakyat Republik Indonesia Nomor I/MPR/2003 tentang Peninjauan Terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 1960 sampai dengan 2002. Terjadinya konflik sosial dalam masyarakat dapat menimbulkan kerugian di salah satu ataupun seluruh pihak yang terlibat dalam konflik tersebut. 16. memberikan pengayoman. Memberikan Perlindungan. 91 6 . VII/MPR/2000 tentang peran Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) yang mempunyai peran yang tidak lagi menjaga keamanan eksternal negara melainkan menjaga kestabilan dan keamanan internal negara. 17. 15. Sebagai contoh jatuhnya korban dalam konflik ini baik berupa luka-luka dan bahkan dapat terdapat korban jiwa. menegakkan hukum. Ketika hal ini terjadi. 18. 14. Jakarta. sudah tentu terdapat juga tindak pidana yang terjadi seperti yang telah diatur dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) Bab V yaitu Tentang kejahatan terhadap ketertiban umum dan Bab VII Tentang kejahatan yang membahayakan keamanan umum bagi orang atau barang. Secara langsung dikatakan karena POLRI yang berinteraksi langsung dengan masyarakat dalam mengawal penegakan hukum yang ada. 2010. hlm. Lebih tepatnya hal ini tertuang pada Pasal 6 tentang Peran Kepolisian Negara Republik Indonesia ayat (1) : Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat Negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. Sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden dikeluarkannya Ketetapan MPR RI No. 13. 3 Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. dimana hal ini dapat berupa kerusakan materiil dan moril. dan pelayanan kepada masyarakat. Menegakkan Hukum (Penegakan Hukum). Sekretariat Jendral MPR-RI.3 Menurut UU No 2 Tahun 2002 Bab III Pasal 13 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia menjabarkan terdapat tiga Tugas dan Wewenang Polri.itu secara langsung ataupun tak langsung. Pengayoman . dan secara tidak langsung dikatakan karena POLRI menjadi penyambung antara Pemerintah Pusat ke masyarakat dalam penyadaran hukum serta pencerdasan hukum yang dinamikanya berjalan dengan cepat. 12. yaitu : Memelihara Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (HarKamTibMas).

25. 21. politik. 22 Tahun 2010. Intelkam Polri yang memiliki semboyan Indera Waspada Nagara Raharja ini harus menjadi garda terdepan dalam menganalisis potensipotensi konflik serta cermat dalam membaca dinamika sosial yang berkembang pada masyarakat terlebih akan menjadi ekstra ketika menilik kenyataan bahwa Negara Indonesia memiliki lebih dari 230 juta penduduk. Strategistrategi Intelkam dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti pengumpulan. penyimpanan. dan kegiatan sosial atau politik masyarakat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. yaitu : 1. Mengumpulkan dan mengolah data serta menyajikan informasi dan dokumentasi kegiatan Ditintelkam. termasuk persandian dan produk Intelkam. Intelkam POLRI yang sejatinya sudah harus mengetahui potensi-potensi Konflik Sosial harus tetap siaga dalam mengantisipasi terjadinya konflik. dan 3. Lebih tepatnya hal ini diatur dalam Pasal 118 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. Susunan Organisasi dan Tata Kerja pada tingkat Kepolisian Daerah terdapat berbagai satuan yang mempunyai fungsi masing-masing. 22. 20. Ketika 7 . 23. masyarakat. yang dimana untuk konteks antisipasi konflik tentunya sudah menjadi tugas dan fungsi pokok Direktorat Intelkam Keamanan (Ditintelkam).19. Memberikan pelayanan administrasi dan pengawasan senjata api atau bahan peledak. Institusi Pemerintah yang merupakan garda terdepan bagi masyarakat ini harus bekerja ekstra dalam menjaga keamanan nasional. Membina dan menyelenggarakan kegiatan Intelkam dalam bidang keamanan. 2. orang asing. dan peringatan dini (early warning). 24. pembentukan dan pembinaan jaringan Intelkam kepolisian baik sebagai bagian dari kegiatan satuansatuan atas maupun sebagai bahan masukan penyusunan rencana kegiatan operasional. dan pemutakhiran biodata tokoh formal atau informal organisasi sosial. Menjadi amanah yang berat dikarenakan Indonesia memiliki ribuan suku bangsa dan adat budaya. dan pemerintah serta penyusunan prakiraan Intelkam keamanan dan menyajikan hasil analisis setiap perkembangan yang perlu mendapat perhatian pimpinan. Ditinjau dari tiga tugas dan wewenang Polri tersebut mencerminkan bahwa kinerja POLRI akan menjadi acuan dalam menilai kinerja instansi-instansi negara dalam melaksanakan “good governance” atau pemerintahan yang baik.

penulis menggunakan metode purposive sampling. dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri. 1 orang Anggota Direktorat Intelkam Polda Lampung. 27. dan pelayanan dengan sebaikbaiknya serta memperhatikan dan menyelesaikan dengan sebaik-baiknya laporan atau pengaduan masyarakat. memelihara keamanan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). serta memberikan perlindungan. 29. 8 . peraturan perundang-undangan. pengayoman. Melalui PP No 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Kepolisian Republik Indonesia menyatakan bahwa POLRI harus memberikan perlindungan. Peranan Intelkam POLRI dalam mengantisipasi Konflik Sosial 31. maka yang dijadikan sample sebagai responden adalah 1 orang Kepala Direktorat Intelkam Polda Lampung. Dalam menentukan narasumber.terjadinya konflik.4 4 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. 3 orang Masyarakat Provinsi Lampung dan 1 orang dosen Fakultas Hukum Universitas Lampung. POLRI merupakan institusi pemerintah yang berada dibawah pimpinan Eksekutif mempunyai tugas pokok penegakan hukum. Data primer ini akan diambil dari wawancara yang akan dilakukan dengan dosen fakultas hukum unila. yaitu metode yang mengambil sample melalui proses penunjukan berdasarkan tujuan yang ingin dipenuhi melalui responden. pengayoman. 26. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari penelitian di lapangan yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti. peranan Intelkam dapat dipertanyakan dalam konteks organ pemerintah yang bertugas mengamankan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris. Pokok permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimanakah peran Intelkam POLRI dalam mengantisipasi konflik social dan apakah yang menjadi faktor-faktor penghambat Intelkam POLRI dalam mengantisipasi konflik social. Sumber data adalah data primer dan data sekunder. dokumen-dokumen resmi dan seterusnya. 28. dan juga dilakukan wawancara kepada narasumber sebagai penunjang data sekunder. 32. A. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan yang meliputi buku-buku literatur. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 30.

Mengembangkan sistem penyelesaian konflik secara damai iii. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 44. 1990. POLRI sebagai salah institusi pemerintah yang bertugas menjaga keamanan pun tidak dapat melakukannya secara sendirian karena hal ini merupakan sesuatu yang kompleks dan melibatkan segala pihak. 40. 34. Memelihara kondisi damai dalam masyarakat ii. 37. Membangun sistem peringatan dini 39. 38. Intelijen keamanan merupakan bagian integral dari fungsi organik POLRI yang menyelenggarakan kegiatan dan operasi intelijen baik berupa penyelidikan. tidak mungkin situasi damai akan tercipta apabila seluruh komponen tidak saling bekerja sama dalam menjaga kedamaian tersebut. 36. Fungsi kepolisian tersebut salah satunya adalah intelijen keamanan atau yang biasa disebut intelkam yang berguna sebagai Mata dan Telinga institusi POLRI. hlm 319 9 . 35. 41. 43. Menjaga kondisi damai tidaklah hal yang mudah.33. ketiadaan gangguan atau godaan. pengamanan maupun penggalangan dalam bidang keamanan bagi kepentingan pelaksanaan tugas operasional dan manajemen POLRI dalam rangka mewujudkan keamanan dalam negeri. lam melaksanakan tugas pokok tersebut maka dalam institusi Kepolisian Republik Indonesia diperlukan fungsifungsi kepolisian yang mempunyai wilayah kerja masing-masing yang saling terkait dan terpadu. Upaya antisipasi Konflik Sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara.5 Hal ini dapat diasumsikan kondisi damai dalam masyarakat ialah situasi tenang atau tidak adanya gangguan dari pihak manapun baik itu dari dalam maupun luar tatanan masyarakat yang dapat menyebabkan terjadinya konflik ataupun tindakan yang mengganggu kedamaian tersebut. Meredam potensi konflik iv. Mengembangkan sistem penyelesaian konflik secara damai merupakan salah satu cara dalam mengantisipasi konflik sosial. 42. Dalam mengantisipasi ancaman 5 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial dijelaskan bahwa pencegahan konflik terdiri dari : i. Jakarta: Balai Pustaka. dalam Pasal 6 Undang-Undang No. Memelihara kondisi damai dalam masyarakat merupakat pekerjaan yang harus dilakukan secara terus menerus tanpa ada perkecualian. Kata “damai” mempunyai arti adalah situasi tenang.

hal ini dikarenakan konflik sosial melibatkan masyarakat banyak dan hal ini akan menyebabkan konflik yang semakin rumit. Rembuk pekon ialah wadah penyelesaian konflik dengan cara mengumpulkan masyarakat dan unsur pemerintah pada lini terdepam di tingkat pekon/desa untuk menyelesaikan masalah yang ada guna dicarikan solusi dengan cara musyawarah dan mufakat. Jakarta. konflik sosial terjadi.1984. dan masyarakat Toraja. Hal ini secara tidak langsung mengharuskan aparat pekon agar selalu peka terhadap berbagai peristiwa yang dapat mengarah kepada perpecahan yang terjadi diluar pekon/desa agar jangan 10 . Sumatera Barat. pada dasarnya budaya untuk konsiliasi atau musyawarah merupakan nilai masyarakat yang meluas di Indonesia. konflik yang terjadi sering dikaitkan dengan membawa-bawa SARA (Suku. Sulawesi Selatan. cara-cara penyelesaian secara nonlitigasi dinilai cara yang efektif dalam konteks menyelesaikan persoalan konflik yang bertujuan agar tidak terulang kembali. Lombok. Rembuk Pekon diharapkan mampu membina kepekaan dan kemampuan masyarakat dalam mendeteksi secara dini setiap potensi persoalan yang mungkin muncul untuk kemudian melakukan upaya penanggulangan dan penyelesaian secara menyeluruh. Ihromi. Dalam konteks tersebut. Apabila. 50. penyelesaian secara litigasi atau jalur pengadilan dinilai tidaklah efektif. 46. dan Agama) ke dalam konflik yang sebenarnnya konflik tersebut tak ada hubungannya dengan SARA. Irian Jaya. Konflik sosial yang terjadi sekarang lebih ke arah akibat dari egoisme sosial masyarakat yang semakin tinggi dan rasa toleransi yang berkurang.O. Berbagai suku bangsa di Indonesia mempunyai penyelesaian konflik secara damai. dibutuhkan peran serta seluruh komponen masyarakat untuk dapat menjaga ketentraman yang sudah tercipta. Bentuk terbaru penyelesaian konflik secara damai di Lampung ialah dengan cara mengadakan Rembuk Pekon. Bali. Lampung.terhadap integrasi bangsa dan Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Antropology dan Hukum. Yayasan Obor Indonesia. 51. 47. misalnya masyarakat Jawa. 52.6 6 T. Sumatera Selatan. Untuk itu. hlm. dibutuhkan cara-cara penyelesaian yang efektif agar konflik sosial tersebut tidak terulang kembali. 17. 45. Berdasarkan penelitian para pakar. Dalam hal ini. 48. 49. Ras. 53.

57. 61. Perubahan sosial yang terlalu cepat pada suatu masyarakat dapat mengganggu keseimbangan sistem nilai dan norma yang berlaku. konflik sosial dapat diminimalisir ditiadakan. tokoh pemuda dan agama. Cara antisipasi konflik sosial ini dikaitkan dengan situasi Provinsi Lampung yang masih kental dengan adat budaya terkhusus di daerahdaerah pedesaan. Menurut Soerjono Soekanto. hlm. 2009. Unsur-unsur yang terlibat dalam forum rembuk pekon antara lain terdiri dari kepala pekon/desa atau lurah. Sosiologi Suatu Pengantar. yaitu perbedaan antar individu. atau bahkan 58. 60. perbedaan kepentingan. hal ini pula agar mencegah maraknya konflik sosial yang terjadi di Lampung seperti yang terjadi di Lampung Selatan. dan perubahan sosial. Lampung Tengah dan lain-lain. 62.terjadi di daerah setempat. Jakarta. 54. factor keamanan merupakan tanggung jawab bersama bukan hanya tanggung jawab aparat kepolisian. Rajawali Press. Mesuji. 212 11 . Meredam potensi konflik sosial dapat dilakukan dengan cara mempererat rasa toleransi antar sesama diantara berbagai macam 7 Soerjono Soekamto. dan 7 identitas seseorang. yakni menghormati budaya lain sekaligus memiliki kesadaran untuk ambil bagian memecahkan masalah kelompok lain. peotensi-potensi konflik disebabkan oleh 4 (empat) hal. akibatnya konflik dapat terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara harapan individu dengan masyarakat. kebanggaan. 55. Lampung Timur. 63. Perbedaan kebudayaan merupakan kepribadian seseorang dibentuk oleh keluarga dan masyarakat. ketua adat. badan pembinaan desa dari unsure TNI. atau ide yang berkaitan dengan harga diri. Perbedaan kepentingan merupakan perbedaan tujuan atau kepentingan dari setiap kelompok maupun individual yang dapat menimbulkan konflik di antara mereka. 59. pendirian. perbedaan kebudayaan. Hal tersebut sekaligus merupakan upaya yang jitu untuk menghindari konflik. Teori Multikulturalisme harus digunakan untuk memperkuat integrasi bangsa yang dimana dalam teori ini memungkinkan kelompokkelompok etnik dan budaya hidup berdampingan secara damai dalam prinsip koeksistensi dan pro-eksistensi. serta badan pembinaan keamanan dan ketertiban masyarakat dari unsure POLRI. Perbedaan antar individu merupakan perbedaan yang menyangkut perasaan. Dengan demikian. 56.

dan Rangking kerawanan daerah. 66. Rangking derajat kemungkinan terjadinya. Sistem deteksi dini yang berjalan di tingkat kewilayahan akan menghasilkan informasi Intelijen yang diperoleh melalui suatu proses pengolahan dari bahan 12 . Subyek 69. b. metode yang dipakai. Sistem ini sebagai bagian dari Sistem Operasional Intelpampol dalam rangka mewujudkan kempampuan Intelpampol sebagaimana yang ditetapkan. a. sebagai bapak dari keluarga besar POLRI. Obyek 71. sebagai pimpinan masyarakat. Polres (Kepolisian Resort) sebagai Basis Operasional dan Polwil (Kepolisian Wilayah) ke atas memberikan Back Up Operasional. 65. Pada hakekatnya sistem deteksi ini bertitik tolak dari dasar-dasar pelaksanaan tugas Intelpampol. 64. sebagai unsur pemerintah. 72. Diagonal dan Lintas Sektoral. Horizontal. 68. Hal ini banyak dikarenakan faktor individualistis yang semakin tinggi sehingga perubahan sosial berkembang dengan sangat cepat.perbedaan yang ada. Dasar-dasar pelaksanaan tugas Intelpampol bermula dari pengertian bahwa intelijen adalah untuk pimpinan dalam kualifikasinya sebagai Kepala/Komandan. Metode yang dipergunakan dalam penyelenggaraan deteksi Intempampol dengan mempergunakan Pola HTCK (Hubungan Tata Cara Kerja) yang berlaku sesuai dengan Petunjuk Pelaksana Hubungan Tata Cara Kerja meliputi Vertikal. Sistem Deteksi Intelpampol dapat dilihat dari subyek penyelenggara. Obyek dalam konteks ini ialah sebagai sasaran deteksi bertitik tolak kepada tiga dimensi Kamtibmas yang meliputi dimensi Rangking bobot ancaman. Di dalam struktur Intelkam POLRI terdapat sistem deteksi Intelpampol (Intelijen dan Pengamanan POLRI). dan jalur jaringan bawah permukaan. 67. opsional. Metode 70. Deteksi Intelpampol diselenggarakan melalui jaringan Intelpampol di atas permukaan (jaringan Intelpampol structural formal) mulai dari tingkat Polsek (Kepolisian Sektor) sampai dengan tingkat Mabes POLRI dengan menetapkan Polsek sebagai Basis Deteksi Intelpampol. c. Masyarakat sekarang cenderung lebih mudah terprovokasi ke dalam sebuah konflik. serta obyek sasarannya. serta Hubungan Tata Cara Kerja dalam kaitan Intelijen Komuniti dimana dalam pengumpulan bahan keterangan dilakukan melalui jalur structural formal. 73.

5. 8 86. 82. Analisis 5. cipta. 88. yaitu bahan mentah yang memenuhi syarat dan ada yang tidak memenuhi syarat untuk dijadikan intelijen. 77. Faktor penegak hukum. Faktor kebudayaan. kurangnya pendanaan. dan kurangnya sarana dan prasarana guna menunjang kinerja satuan 8 Soekanto. 2. Faktor masyarakat. Faktor-faktor Penegakan Hukum. 75. memelihara. Faktor-faktor penghambat Intelkam POLRI dalam mengantisipasi Konflik Sosial 78. Faktor hukumnya sendiri. Menciptakan. Konklusi 76. Pengumpulan Data Tambahan 4. Pengumpulan Bahan atau Data 2. oleh karenanya merupakan esensi dari penegakan hukum. Fator-faktor penghambat Intelkam POLRI dalam mengantsipasi Konflik sosial antara lain kurangnya personil. sehingga dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut 80. dan mempertahankan kedamaian. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. Pembuatan Hipotesa 3. sebagai berikut: 81. Faktor-faktor tersebut adalah. dalam hal ini dibatasi pada undangundang saja. Proses analisis intelkam meliputi: 1. hlm 8 13 . Soerjono.keterangan yang didapat. Kelima faktor tersebut saling berkaitan dengan eratnya. 1. Setiap informasi yang diberikan anggota Intelkam POLRI yang bertujuan memberikan masukan kepada pimpinan untuk melakukan deteksi dini tidak sematamata diberikan secara mentah. 84. 89. 79. 83. juga merupakan tolak ukur dari efektivitas penegakan hukum. dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup. Bahan keterangan merupakan bahan dasar yang masih mentah. 74. Dengan demikian. 87. yakni sebagai hasil karya. B. pokok penegakan hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya. 3. 4. Bahan mentah terbagi menjadi dua jenis. Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral. yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan. maka kelima faktor tersebut akan dibahas lebih lanjut dengan mengetengahkan contoh-contoh yang diambil dari kehidupan masyarakat Indonesia. 85. yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum.Jakarta 1983. tetapi melalui tahapan-tahapan pengolahan dengan analisa yang tinggi.

90. Jumlah personil Intelijen dan Keamanan Polda Lampung yang hanya sebesar 50% dari jumlah ideal sudah tentu menjadikan kurang efektifnya kinerja Intelkam dalam mengantisipasi Konflik Sosial di wilayah Provinsi Lampung. Personil merupakan anggota dari suatuJumlah personil Intelkam yang ideal untuk ukuran Polda ialah sebanyak 133 (seratus tiga puluh tiga) personil. 92. tentunya memerlukan sarana dan prasarana yang cukup memadai agar dapat menunjang kinerja aparat dalam mengantisipasi tidak terjadinya permasalahan atau konflik sosial tersebut. 98. 96. Seperti contoh perlu ditambah lagi angkutan roda empat sebagai sarana transportasi aparat dalam bekerja sehari-hari maupun ketika terjadinya permasalahan keamanan dan ketertiban di Provinsi Lampung. terdapat kendala klasik yang menjadi salah satu faktor penghambat Intelkam POLRI dalam mengantisipasi konflik sosial. 99. 94. Selain kurangnya personil. Faktor dana yang dikeluarkan pusat dalam menunjang kinerja aparat masih minim. Wilayah Provinsi Lampung yang cukup luas tentunya memerlukan satuan yang ideal dalam bentuk kuantitas guna menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. 97. Sarana dan prasarana yang dimiliki Polda Lampung saat ini dirasa kurang memadai dan sudah cukup berumur sehingga diperlukan adanya peremajaan agar dapat menunjang kinerja Intelkam POLRI dalam mengantisipasi konflik sosial di wilayah Provinsi Lampung. Masalah pendanaan dapat menjadi salah satu faktor penghambat kinerja POLRI terkhusus Intelkam yang merupakan bagian dari Institusi POLRI di bagian lapangan atau yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Faktor lain yang dapat menghambat kinerja Intelkam POLRI ialah kurang memadainya sarana dan prasarana. 14 . 93. 95. Intelkam yang harfiahnya merupakan “orang lapangan” atau pelaksana teknis tentunya memerlukan dana yang lebih banyak dibandingkan satuan POLRI yang berada di bagian kantor. 91.Direktorat Intelijen dan Keamanan Polda Lampung. hal inilah yang menjadi salah satu faktor penghambat Intelkam POLRI dalam bertugas. sedangkan Polda Lampung hanya memiliki 68 (enam puluh delapan) personil yang terdiri dari 61 (enam puluh satu) dari unsur kepolisian serta 7 (tujuh) dari PNS yang diperbantukan. Dalam mengantisipasi konflik sosial yang dapat dikategorikan sebagai permasalahan yang berjalan dengan sangat cepat.

maka pada bagian penutup ini dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai hasil dari pembahasan tentang peranan Intelkam POLRI dalam mengantisipasi Konflik Sosial. Faktor prsonil yang hanya mencapai 50% dari komposisi ideal di tingkatan Polda sudah tentu mengganggu kinerja Intelkam dalam melaksanakan tugas dan 15 . bukanlah dikarenakan adanya tindakan indisipliner dan kealpaan dari Intelkam POLRI. Dalam mengantisipasi konflik sosial terkhusus di wilayah Provinsi Lampung. Ketika terjadinya konflik sosial terkhusus di wilayah Provinsi Lampung. dan membangun sistem peringatan dini. 112. Faktor Personil 114. 105. 111. melainkan karena perkembangan konflik berjalan dengan sangat cepat dan masyarakat yang terlibat cukup banyak serta tidak lagi memikirkan dampak sosial dan dampak hukum yang akan dihadapi. Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada hasil penelitian dan pembahasan. 106. meredam potensi konflik. 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial yaitu meliputi memelihara kondisi damai dalam masyarakat. mengembangkan sistem penyelesaian konflik secara damai. KESIMPULAN 104. 1. 3. Faktor-faktor yang menjadi penghambat Intelkam POLRI dalam mengantisipasi Konflik Sosial yaitu: a. Proses pendekatan secara emosional jauh terbukti lebih efektif dibandingkan dengan cara represif guna menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. 107. Peranan yang dilakukan oleh pihak Intelijen dan Keamanan POLRI dalam mengantisipasi Konflik Sosial adalah berdasarkan Pasal 6 Undang-Undang No. 102. 113. dan tindakan pendekatan emosional dapt mencegah timbulnya konflik sosial yang lebih besar apabila dilakukan tindakan penanggulangan secara represif. POLRI telah melakukan inovasi berupa Rembuk Pekon yang merupakan cara penyelesaian masalah dari tingkatan terendah masyarakat secara musyawarah untuk mufakat tanpa harus adanya proses hukum secara litigasi. 2. 109. 101. 110. 108. 103.100. Hal ini dikarenakan sifat masyarakat Sumatera yang dikenal keras dan mempunyai harga diri tinggi.

Jakarta 132. Faktor Pendanaan sering dianggap sebagai alasan yang klasik dari anggota POLRI ketika kinerja yang dilakukan tidaklah maksimal. akan tetapi faktor ini secara tidak langsung juga mempengaruhi tingkat kinerja Intelkam dalam kerja sehari-hari yang mengharuskan aparat berinteraksi langsung masyarakat. 2010. 1994. RajaGrafindo Persada. ----------2009. 124. 123. 1984.fungsinya dalam menjaga dan memelihara keamanan ketertiban serta mengantisipasi terjadinya konflik sosial dalam masyarakat. Ihromi. Sekretariat Jendral MPR-RI. Soekanto. 127. 117. Rajawali Press. PT. Jakarta 16 . c.Mentalitas.O. Kebudayaan. Jakarta 131. 130. Antropology dan Hukum. Hal ini dikarenakan agar informasi yang didapat cepat dilaporkan dan dengan cepat juga dapat dilakukan tindakan menjawab dinamika yang berkembang. DAFTAR PUSTAKA 126. Soerjono. 122. 118.danP embangunan. b. Ketetapan Majelis Permusyawaraan Rakyat Republik Indonesia Nomor I/MPR/2003 tentang Peninjauan Terhadap Materi dan Status Hukum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Tahun 1960 sampai dengan 2002. Koentjaraningrat. 121. Faktor Pendanaan 116. kepada 125. 1983. 120. T. Kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki Intelkam Polda Lampung merupakan salah satu faktor penghambat. PT Gramedia: Jakarta Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Faktor Sarana dan Prasarana 115. Sosiologi Suatu Pengantar. Luasnya wilayah hukum Provinsi Lampung serta cepatnya dinamika yang berkembang di masyarakat mengharuskan Intelkam POLRI memiliki sarana dan prasarana yag sudah tentu harus mumpuni. 129. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia 128. Faktor-Faktor Penegakan Hukum. 119.

133.com/j umlah-suku-di-Indonesia. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 135. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1990. Kepolisian Republik Indonesia 136.jpnn. http://www. Jakarta: Balai Pustaka 134. dikunjungi tanggal 2 September 2012 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang 17 .

.137.