You are on page 1of 16

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data
Data yang diperoleh dari penelitian terdiri atas data nilai keadaan awal
siswa yang diambil dari nilai pretes, data observasi dari tingkat motivasi belajar
siswa pada mata pelajaran Fisika dan data nilai kognitif siswa dari hasil ulangan
harian. Ketiga data diambil dari kelas eksperimen dan kelas kontrol pada siswa
kelas X SMAN 6 Surakarta tahun pelajaran 2014/2015 untuk pokok bahasan
Fluida Statis.
1. Data Keadaan Awal
Data keadaan awal siswa diperoleh dari nilai pretes dari kelas
eksperimen dan kelas kontrol untuk materi Fluida Statis sebelum diberi
perlakuan dengan model pembelajaran STAD dan Think Pair Share. Kelas
eksperimen yang berjumlah 31 siswa memiliki nilai keadaan awal dengan nilai
terendah 32 dan nilai tertingggi 68 dan nilai rata-rata kelas yaitu 49.935 serta
standar deviasi yaitu 9.738, sedangkan kelas kontrol yang berjumlah 30 siswa
memiliki nilai keadaan awal dari nilai terendah 36 sampai dengan nilai
tertinggi 72 dan nilai rata-rata kelas yaitu 55.333 serta standar deviasi 8.268.
Distribusi nilai keadaan awal kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat
pada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2.
Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Data Keadaan Awal Kelas Eksperimen

No Nilai Frekuensi Mutlak Frekuensi Relatif (%)
1 31 – 35 2 6.45
2 36 – 40 5 16.13
3 41 – 45 3 9.68
4 46 – 50 5 16.13
5 51 – 55 4 12.90
6 56 – 60 9 29.03
7 61 - 65 1 3.23
8 66 – 70 2 6.45
Jumlah 31 100
Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Data Keadaan Awal Kelas Kontrol

Kategori motivasi tinggi jika skor total siswa dari hasil observasi yaitu >20 hingga ≤ 40. Berdasarkan hasil observasi. Distribusi Frekuensi Tingkat Motivasi Belajar Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelas Eksperimen Kontrol Tinggi 21 25 Tingkat Motivasi Belajar Rendah 10 5 Jumlah 31 siswa 30 siswa Kelas eksperimen mempunyai nilai rata-rata motivasi belajar yaitu 26.3.03 dan standar deviasi sebesar 5. Data Tingkat Motivasi Belajar Fisika Data tingkat motivasi belajar Fisika dari kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh dari hasil observasi ketika proses pembelajaran di kelas untuk pelajaran Fisika pada materi Fluida Statis.67 4 53 – 58 8 26.67 5 59 – 64 6 20 6 65 .70 3 10 7 71 – 76 1 3. Data Nilai Kemampuan Kognitif .3. Berdasarkan hasil observasi di kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Data diperoleh menggunakan lembar observasi yang berisi 10 butir penilain dan diberi patokan nilai berdasarkan skala Likert. tingkat motivasi belajar siswa mata pelajaran Fisika dikategorikan menjadi motivasi tinggi dan motivasi rendah. sedangkan kelas kontrol memiliki nilai rata-rata motivasi belajar yaitu 27.3490. tingkat motivasi belajar Fisika dari siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan dalam Tabel 4.33 3 47 – 52 8 26.97 dan standar deviasi sebesar 6.33 Jumlah 30 100 2. Tabel 4. 3. No Nilai Frekuensi Mutlak Frekuensi Relatif (%) 1 35 – 40 3 10 2 41 – 46 1 3. sedangkan motivasi rendah jika skor total motivasi siswa adalah ≥10 hingga ≤ 20.0635.

67 6 75 – 80 10 33.58 3 69 – 73 5 16.33 7 81 – 86 6 20 8 87 – 92 3 10 Jumlah 30 100 Berdasarkan hasil perhitungan.33 3 57 – 62 1 3. sedangkan pada kelas kontrol diterapkan model pembelajaran kooperatif Think Pair Share. Distribusi frekuensi nilai kemampuan kognitif untuk kedua sampel disajikan dalam Tabel 4. Nilai kemapuan kognitif diperoleh dari ulangan harian pada pokok bahasan Fluida Statis untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol yang telah diberi perlakuan berbeda pada segi model pembelajaran yang diterapkan.23 Jumlah 31 100 Tabel 4.5.4 dan Tabel 4.33 2 51 – 56 1 3.90 5 79 – 83 7 22.58 6 84 – 88 5 16. Distribusi Frekuensi Nilai Kemampuan Kognitif Kelas Kontrol No Nilai Frekuensi Mutlak Frekuensi Relatif (%) 1 45 – 50 1 3.45 2 64 – 68 7 22.13 7 89 – 93 1 3.4.13 4 74 – 78 4 12. Kelas eksperimen dibelajarkan materi Fluida Statis dengan model pembelajaran kooperatif STAD. kelas eksperimen yang diberi perlakuan dengan model pembelajaran STAD mempunyai nilai rata-rata ulangan harian . Distribusi Frekuensi Nilai Kemampuan Kognitif Kelas Eksperimen No Nilai Frekuensi Mutlak Frekuensi Relatif (%) 1 59 – 63 2 6.5. Ulangan harian yang diberikan untuk kedua sampel yaitu berupa soal pilihan ganda materi Fluida Statis berjumlah 25 soal yang sebelumnya telah dianalisis tingkat kevalidan tiap butir soal. Tabel 4.33 4 63 – 68 3 10 5 69 – 74 5 16.

a. Berdasarkan hasil analisis dari uji normalitas pada kedua sampel menggunakan metode Lilliefors dengan taraf signifikansi (α) 5% didapatkan hasil yang dapat dilihat pada Tabel 4. Standar deviasi dari nilai ulangan harian kelas kontrol yaitu 10.05 . Data yang digunakan dalam analisis uji kesamaan keadaan awal siswa yaitu nilai pretes materi Fluida Statis.0851 dan Ltabel = 0.1345 Daerah kritis dengan metode Lilliefors ditentukan bahwa DK = { L|L> Lα . untuk materi Fluida Statis sebesar 74.31=0.4512. Standar deviasi dari nilai ulangan harian kelas eksperimen adalah 8.6.161 Kelas Kontrol 0.05 .6. Hasil Analisis Uji Normalitas Sampel Lobservasi Ltabel L0. Tabel 4. Pada sampel kelas eksperimen.20 dengan nilai terendah 48 dan nilai tertinggi 92. yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.97 dengan nilai terendah 60 dan nilai tertinggi 92 dari seluruh siswa sekelas yang berjumlah 31 orang.0851 L0. Uji Kesamaan Keadaan Awal Siswa Uji kesamaan keadaan awal diperlukan untuk mengetahui adakah perbedaan kemampuan awal dari kedua sampel yang dijadikan sebagai objek penelitian.n } . Pada kelas kontrol dengan jumlah siswa 30 orang yang diberi perlakuan dengan model pembelajaran Think Pair Share mempunyai nilai rata-rata ulangan harian untuk materi Fluida Statis sebesar 75.15913 Kelas Eksperimen 0.3762.15913 sehingga Lobservasi lebih kecil dari Ltabel dan nilai Lobservasi tidak memenuhi daerah kritis uji normalitas maka dapat disimpulkan bahwa sampel dari kelas eksperimen berasal dari populasi yang . Pada uji kesamaan keadaan awal digunakan analisis uji t dua ekor dengan didahului dengan uji prasyarat analisis yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. 4. Lobservasi = 0.30=0.

59=¿ ¿−1.5031. Hasil perhitungan menggunakan uji t didapatkan nilai t = -0. Berdasarkan hasil analisis maka dapat disimpulkan bahwa χ 2hitung < χ 2tabel sehingga dapat dikatakan bahwa kedua sampel berasal dari populasi yang homogen. Data yang diuji yaitu berasal dari nilai .15031 sehingga hipotesis yang diterima yaitu tidak ada perbedaan kemampuan awal antara kedua sampel yaitu antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil uji homogenitas nilai pretes didapatkan bahwa nilai χ 2hitung =0. b.n1+n2−2 ) atau t > (t α . n +n −2 2 1 2 )} .t α 2 . B.05 .960 diperoleh -0. Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui apakah kedua sampel berasal dari populasi yang homogen.1=3. Kelas kontrol mempunyai nilai Lobservasi = 0. berdistribusi normal.841 . Berdasarkan analisis t>−t 0.767244 sedangkan nilai χ 2tabel = χ 20. Hipotesis yang diajukan dari uji t yaitu adakah perbedaan kemampuan awal antara kedua sampel dalam penelitian. c. Pengujian Persyaratan Analisis Hipotesis-hipotesis dari penelitian diuji dengan menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama. Uji Homogenitas Uji homogenitas yang digunakan pada penelitian adalah metode Bartlett dengan taraf signifikansi 5%.025. Uji t Uji kesamaan keadaan awal antara kelas eksperimen dan kelas kontrol didapatkan dari uji t dua ekor yang sebelumnya telah diuji dengan uji normalitas dan uji homogenitas.1345 dan Ltabel = 0. Penentuan daerah kritis uji homogenitas yaitu DK= { χ | χ > χ } 2 2 2 α .k -1 .161 maka Lobservasi juga tidak memenuhi daerah kritis uji normalitas sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel dari kelas kontrol berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Taraf signifikansi yang digunakan yaitu 5% pada daerah kritis { ( DK = t|t< .

Hasil uji normalitas untuk kedua sampel yaitu sebagai berikut : a. Hasil uji Lobs = 0. n=L0.31=0.n } dalam taraf signifikansi (α) 5% dan n adalah jumlah siswa dalam kelas yang digunakan sebagai sampel.376. Nilai hasil ulangan harian dari kedua sampel disebut juga nilai kemampuan kognitif. Kelas Eksperimen Kelas eksperimen dengan jumlah siswa 31 orang mempunyai nilai rata-rata untuk kemampuan kognitif yang diambil dari nilai ulangan harian Fluida Statis sebesar 74.1362 digunakan untuk uji normalitas memberikan hasil dengan .97 dan standar deviasi sebesar 8.31 =0. Uji Normalitas Uji normalitas sebagai uji prasyarat analisis menggunakan metode Lilliefors.05 . Kelas Kontrol Jumlah siswa dari kelas kontrol adalah 30 siswa dengan rata-rata nilai kemampuan kognitif dari nilai ulangan harian materi Fluida Statis sebesar 75. 1.0983 normalitas menggunakan metode Lilliefors adalah . Data nilai kemampuan kognitif dari kedua sampel terlebih dahulu harus diuji dengan uji prasyarat analisis yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas sebelum dilakukan uji hipotesis menggunakan analisis variansi.15913 sedangkan besar .05 .0983< L0. b. Daerah kritis dari metode Lilliefors adalah DK = { L|L> Lα .15913 Lobs pada uji normalitas yaitu dan tidak memenuhi daerah kritis.hasil ulangan Fluida Statis dari kelas eksperimen dan kelas kontrol yang telah diberi perlakuan dengan model pembelajaran STAD dan Think Pair Share.20 dan standar deviasi sebesar 10. Lα .451. Hasil analisis untuk hipotesis Lobs =0. Metode Lilliefors yang Lobs =0. Hipotesis yang diterima dari uji normalitas kelas eksperimen yaitu sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau dapat dikatakan bahwa distribusi frekuensi dari data variabel nilai kemampuan kognitif siswa kelas eksperimen adalah berdistribusi normal.

Analisis variansi dua jalan digunakan untuk menyelidiki adakah pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat .419864 dan χ2α . C.05. Lα . Uji Homogenitas Nilai kemampuan kognitif yang diambil dari nilai ulangan harian Fluida Statis diuji tingkat homogenitasnya sebagai prasyarat analisis menggunakan metode Bartlett pada taraf signifikansi (α) 5% dan daerah kritis DK= { χ 2 | χ 2 > χ 2α . Analisis uji homogenitas bahwa χ 2hitung =1.05 . Pengujian Hipotesis Variabel yang digunakan dalam penelitian terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Kesimpulan dari hipotesis penelitian dengan uji homogenitas yaitu kedua sampel berasal dari populasi yang homogen atau distribusi frekuensi dari data nilai kemampuan kognitif adalah terdistribusi homogen.k-1 } dengan k adalah jumlah sampel yang digunakan pada penelitian yaitu 2 sampel.841 maka χ 2hitung tidak memenuhi daerah kritis. Variabel terikat dalam penelitian yaitu nilai kemampuan kognitif siswa dari nilai ulangan harian materi Fluida Statis kelas X Semester Genap. n=L0.30=0. Hipotesis penelitian diuji menggunakan analisis variansi dua jalan dengan isi sel tak sama.30 =0. Berdasarkan hasil analisis maka Lobs =0. 1=3. Variabel bebas meliputi model pembelajaran kooperatif yaitu model STAD dan model Think Pair Share serta motivasi belajar Fisika siswa yang dikategorikan motivasi belajar tinggi dan motivasi belajar rendah.k -1= χ 20. Hasil perhitungan statistik uji homogenitas didapatkan χ 2hitung =1. 2. Kesimpulan yang dapat ditarik dari hipotesis uji normalitas untuk kelas kontrol yaitu sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau distribusi frekuensi dari data variabel nilai kemampuan kognitif siswa kelas eksperimen adalah berdistribusi normal.419864< χ 20.1362< L0.1=3.05 .161 Lobs sehingga nilai tidak masuk dalam daerah kritis.05 .161 .841 .

b. Hipotesis 1 : Adakah perbedaan pengaruh antara model pembelajaran kooperatif STAD dan Think Pair Share terhadap kemampuan kognitif siswa? Berdasarkan teori diketahui bahwa daerah kritis DK A = { F∨F > F α . Hipotesis 2 : Adakah perbedaan pengaruh antara motivasi belajar tinggi dan motivasi belajar rendah terhadap kemampuan kognitif siswa? .08 6 Galat 2184. Hasil perhitungan memberikan hasil FA = 4. .serta interaksi dari kedua jenis variabel bebas terhadap variabel terikat yang digunakan pada penelitian. N− pq } dengan taraf signifikansi 5%.08 . Tabel 4.415 4.32969 .0102 3258.8425 4.02226 Interaksi AB 115.3526 1 186. Hipotesis yang diterima dari keputusan uji yaitu ada pengaruh perbedaan antara penggunaan model pembelajaran STAD dan Think Pair Share terhadap kemampuan kognitif siswa.792 57 38.08 Kooperatif (A) 4 Motivasi Belajar 85.86183 186.861834 dan Ftabel ¿ F 0. Berdasarkan perhitungan statistik dengan taraf signifikansi 5% diperoleh hasil uji hipotesis yang terangkum dalam Tabel 4.08 Fisika (B) 2 3.7 Rangkuman Analisis Variansi Dua Jalan Sumber Variasi JK dk RK Fobs Fα Model Pembelajaran 4.3526 4.8425 1 115. maka FA memenuhi daerah kritis. p−1 . Nilai kemampuan kognitif siswa pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol dikelompokkan berdasarkan kategori tingkat motivasi belajar Fisika hasil observasi.05 . - Total 5745.1 .403 60 .415 1 3258.7.57=4. - Keputusan uji untuk hipotesis-hipotesis penelitian adalah sebagai berikut : a.

q −1.08 . Hipotesis yang diterima yaitu tidak ada interaksi antara model pembelajaran kooperatif dan motivasi belajar siswa terhadap kemampuan kognitif siswa. ( p−1 )(q−1). Pembahasan Hasil Analisis Data Hasil uji analisis yang digunakan yaitu analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama.01022 dan Ftabel ¿ F 0.05 . N− pq } dengan taraf signifikansi 5%. c. Berdasarkan teori diketahui bahwa daerah kritis DK B= { F∨F > F α .57=4.08 F0. Hasil F AB =3. Hipotesis-hipotesis hasil penelitian yang teranalisis antara lain: 1. Hipotesis 1 H0A : αi = 0 untuk semua i (Tidak ada pengaruh perbedaan antara penggunaan model pembelajaran kooperatif STAD dan . maka FB memenuhi daerah kritis. N− pq } dan taraf signifikansi 5%. Nilai kemampuan kognitif siswa dikelompokkan berdasarkan tingkat motivasi belajar siswa yang dikategorikan menjadi motivasi belajar tinggi dan motivasi belajar rendah untuk dianalasis adakah pengaruh dari variabel-variabel yang diuji dalam penelitian. Hasil perhitungan memberikan hasil FB = 85.1 .1 . Siswa dari kelas eksperimen dan kelas kontrol diberi perlakuan dengan model pembelajaran kooperatif STAD dan Think Pair Share.1 .05 . Hipotesis 3 : Adakah interaksi antara penggunaan model pembelajaran kooperatif dan motivasi belajar terhadap kemampuan kognitif siswa? Daerah kritis untuk interaksi dari variabel-variabel penelitian yaitu DK AB ={ F∨F> F α .05 . D. Hipotesis yang diterima dari keputusan uji yaitu ada pengaruh perbedaan antara motivasi belajar tinggi dan motivasi belajar rendah terhadap kemampuan kognitif siswa.022266 perhitungan analisis variansi memberikan hasil dan F0.57 maka FAB < sehingga FAB tidak memenuhi daerah kritis.57=4.

Selain itu. Think Pair Share terhadap kemampuan kognitif siswa) H1A : αi ≠ 0 untuk paling sedikit satu harga i (Ada pengaruh perbedaan antara penggunaan model pembelajaran kooperatif STAD dan Think Pair Share terhadap kemampuan kognitif siswa) Berdasarkan uji hipotesis didapatkan bahwa FA = 4. model pembelajaran dapat dijadikan sebagai pedoman guru dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.57=4.57 sehingga H0A ditolak karena FA > atau dengan kata lain bahwa FA memenuhi daerah kritis. Model pembelajaran kooperatif yang diterapkan dalam penelitian yaitu model STAD (Student Team Achievement Division) dan model Think Pair Share. tujuan-tujuan pembelajaran. Proses berbagi ide dan informasi antar teman dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan pada suatu pokok bahasan yang sedang dipelajarinya sehingga siswa mendapatkan hasil maksimal dari proses belajar tersebut. Model pembelajaran ialah pola yang digunakan dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial yang mengacu pada pendekatan yang digunakan.08 F0. Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang diterapkan guru untuk membantu siswa dalam memahami suatu pokok bahasan yang dicirikan dengan kerja kelompok atau diskusi dalam menyelesaikan permasalahan dalam proses belajar di kelas. Kelas eksperimen diberi perlakuan dengan model pembelajaran STAD. Hal ini menunjukkan bahwa ada pengaruh perbedaan antara penggunaan model pembelajaran kooperatif STAD dan Think Pair Share terhadap kemampuan kognitif siswa pada pokok bahasan Fluida Statis. Alur dari penerapan model pembelajaran STAD di kelas eksperimen antara lain siswa terlebih dahulu dikelompokkan secara heterogen yang terdiri dari 5-6 orang lalu guru memberikan suatu permasalahan terkait sub pokok . tahap-tahap kegiatan pembelajaran. lingkungan pembelajaran serta pengelolaan kelas. sedangkan model pembelajaran Think Pair Share diterapkan di kelas kontrol pada materi Fluida Statis.861834 dan F0.05 .05 . Berbagai macam model-model pembelajaran mempunyai strategi khusus dalam membawakan cara belajar untuk siswa di kelas.1 .1 .

Model pembelajaran kooperatif Think Pair Share tidak berbeda jauh dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Alur pembelajaran menggunakan model pembelajaran Think Pair Share yang diterapkan pada kelas kontrol antara lain guru mengutarakan suatu permasalahan terkait dengan sub pokok bahasan dari materi Fluida Statis dan memberikan waktu untuk siswa memikirkan jawaban dari masalah tersebut secara individu. Perbedaan dari keduanya yaitu jika STAD dikerjakan dalam kelompok kecil yang terdiri dari 5-6 orang sedangkan pada Think Pair Share kegiatan kooperatif atau diskusi dilaksanakan secara berpasangan. Proses tersebut dapat membantu siswa yang kurang memahami materi karena dapat bertanya dengan teman dalam kelompoknya yang lebih memahami sehingga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan kognitif siswa. Tahap selanjutnya yaitu guru menunjuk beberapa pasangan untuk menyampaikan pendapat dan diakhiri dengan menyimpulkan jawaban. Setiap kelompok diberi waktu untuk mendiskusikan permasalahan yang diajukan oleh guru kemudian perwakilan kelompok menyampaikan hasil diskusi untuk ditanggapi kelompok lain. . Proses diskusi dari setiap kelompok merupakan ciri dari model pembelajaran kooperatif. Tahap akhir dari proses diskusi kelompok dan diskusi kelas yaitu guru meluruskan dari jawaban-jawaban setiap kelompok untuk mendapatkan penguatan dan penjelasan yang lebih mendalam dari materi tersebut.bahasan dari Fluida Statis yang akan diajarkan. Selain itu. Guru melanjutkan dengan menjelaskan materi untuk memberi penguatan dan siswa tetap berdiskusi dengan pasangannya jika menemui kesulitan atau bertanya langsung kepada guru. Antar siswa dapat saling bertukar pendapat untuk menyatukan jawaban dari permasalahan yang diajukan oleh guru. Materi Fluida Statis disampaikan selama 3x4 pertemuan atau 12 jam pelajaran pada kedua sampel yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Guru kemudian memberi instruksi kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban dengan pasangannya atau teman sebangku pada durasi waktu yang telah ditentukan. selama guru memberi penguatan atau menjelaskan materi Fluida Statis siswa tetap berada dalam kelompoknya.

Hasil uji hipotesis dari nilai hasil ulangan harian memberi hasil bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan Think Pair Share memberikan pengaruh pada kemampuan kognitif kelas eksperimen dan kelas kontrol.20.Pengukuran kemampuan kognitif siswa dengan memberikan ulangan harian materi Fluida Statis dengan tipe soal pilihan ganda berjumlah 25 butir soal yang telah divalidasi. Setiap materi Fisika mempunyai tingkat kesulitan masing-masing. maka dari kedua model tersebut memiliki kelebihan-kelebihan ketika digunakan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil nilai ulangan materi Fluida Statis dengan nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di SMAN 6 Surakarta yaitu 73 didapatkan bahwa sebanyak 54. Berdasarkan penelitian bahwa model pembelajaran kooperatif model STAD dan Think Pair Share mempengaruhi kemampuan kognitif siswa.83% dari siswa kelas eksperimen telah lulus KKM dengan rata-rata nilai kelas yaitu 74. Adapun kelebihan dari model pembelajaran kooperatif model STAD dan Think Pair Share antara lain: a. Pelaksanaan model pembelajaran kooperatif membutuhkan partisipasi dan kerja sama dalam kelompok pembelajaran. Hal tersebut terlihat dari jumlah siswa yang lulus KKM yaitu ±55% dari masing-masing kelas sampel. Model pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan cara belajar siswa menuju belajar lebih baik. Pemilihan model pembelajaran juga harus disesuaikan dengan karakteristik dari pokok bahasan yang akan diajarkan.33% dengan rata-rata nilai kelas yaitu 75. menumbuhkan sikap tolong-menolong dalam beberapa perilaku sosial. Model STAD Model pembelajaran kooperatif STAD diterapkan pada kelas eksperimen yaitu X MIA 1 dengan mengelompokkan siswa yang terdiri dari 5-6 siswa secara homogen.97 sedangkan siswa kelas kontrol yang lulus KKM sebanyak 63. Setiap kelompok terdiri atas siswa-siswa dengan jenis kelamin dan tingkat kemampuan kognitif yang berbeda. Kelebihan dari model STAD yaitu antarsiswa dapat saling bertukar pikiran ketika diskusi . sehingga perlu strategi tertentu dalam penyampaiannya di dalam kelas. Penggunaan suatu model pembelajaran merupakan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi proses belajar peserta didik.

Siswa yang berkemampuan rendah akan mendapat tambahan penjelasan dari teman kelompoknya yang berkemampuan kognitif tinggi jika siswa tersebut kurang dapat memahami materi Fluida Statis. kelompok. Hipotesis 2 H0B : βj = 0 untuk semua j (Tidak ada pengaruh perbedaan antara motivasi belajar kategori tinggi dan motivasi belajar kategori rendah terhadap kemampuan kognitif siswa) H1B : βj ≠ 0 untuk paling sedikit satu harga j (Ada pengaruh perbedaan antara motivasi belajar kategori tinggi dan motivasi belajar kategori rendah terhadap kemampuan kognitif siswa) Hasil uji hipotesis diyatakan bahwa H0B ditolak karena F B=85.1 .57 dan maka FB > . sehingga siswa yang berkemampuan kognitif rendah akan dapat memahami isi materi Fluida Statis dan siswa berkemampuan kognitif tinggi akan lebih terpacu dalam belajar karena dapat menjelaskan materi kepada teman sekelompoknya. sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh perbedaan antara motivasi belajar kategori tinggi dan motivasi belajar kategori rendah terhadap kemampuan kognitif siswa.57=4. Guru memberi permasalahan di awal pelajaran lalu siswa harus berpikir secara individu terlebih dahulu sebelum berdiskusi dengan pasangannya. Kelebihan dari model pembelajaran kooperatif Think Pair Share yaitu siswa yang dikelompokkan dan berdiskusi secara berpasangan.01022 F0. b. 2.08 F0. Berdasarkan kegiatan tersebut maka siswa akan dapat berpikir kritis dan tidak hanya menggantungkan diri pada pasangannya. Motivasi merupakan daya dorong yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.05 . Motivasi adalah suatu dorongan dari .05 . Motivasi dan belajar adalah dua hal yang saling berkaitan. Model Think Pair Share Kelas yang diberikan perlakuan dengan model Think Pair Share yaitu kelas X MIA 3 sebagai kelas kontrol.1 .

Siswa dengan kategori motivasi tinggi pada kelas eksperimen sebanyak 21 siswa dengan nilai rata-rata untuk ulangan harian Fluida Statis yaitu 79. memperhatikan penjelasan dari guru. tingkat motivasi belajar Fisika pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dikategorikan menjadi dua yaitu motivasi tinggi dan motivasi rendah. sedangkan jumlah siswa bermotivasi rendah yaitu 10 orang dengan nilai rata-rata ulangan harian Fluida Statis adalah 65. Hipotesis yang diterima yaitu ada pengaruh perbedaan antara motivasi belajar tinggi dan motivasi belajar rendah terhadap kemampuan kognitif siswa. individu sedangkan belajar adalah proses untuk mencapai perubahan yang sangat dipengaruhi oleh daya dorong yang timbul dari diri individu.72 dan siswa kelompok motivasi rendah berjumlah 5 siswa memiliki nilai rata-rata ulangan harian Fluida Statis yaitu 57.6. pada siswa yang bermotivasi rendah akan mempunyai kesadaran yang rendah untuk belajar Fisika dan mendapat hasil kurang memuaskan untuk pelajaran Fisika. Siswa- siswa kelas kontrol juga dikelompokkan menjadi siswa bermotivasi tinggi sebanyak 25 siswa dengan nilai rata-rata ulangan hariaan Fluida Statis yaitu 78. Hal tersebut dibuktikan dari hasil penelitian yang terlihat dari kemampuan kognitif siswa. Hubungan antara tingkat motivasi dan belajar mempengaruhi hasil akhir yang dicapai siswa.2. Hipotesis 3 H0AB : αβij = 0 untuk semua (ij) (Tidak ada interaksi antara model pembelajaran kooperatif dan motivasi belajar siswa . mengerjakan tugas Fisika dari guru. Siswa dengan motivasi belajar tinggi dalam mata pelajaran Fisika akan mempunyai usaha yang besar dalam mencoba memahami materi pelajaran. Sebaliknya. Berdasarkan penelitian. mencatat materi Fisika dan tidak mengerjakan tugas mata pelajaran lain ketika pelajaran Fisika. Siswa yang bermotivasi tinggi mempunyai dorongan yang kuat untuk belajar Fisika sehingga mendapatkan hasil yang memuaskan. 3. Usaha-usaha yang dapat teramati di kelas dari hasil observasi antara lain siswa membawa semua buku yang berhubungan dengan Fisika. tidak menganggu teman ketika pelajaran. aktif dalam bertanya dan berpendapat.62.

terhadap kemampuan kognitif siswa) H1AB : αβij ≠ 0 untuk paling sedikit satu harga (ij) (Ada interaksi antara model pembelajaran kooperatif dan motivasi belajar siswa terhadap kemampuan kognitif siswa) Berdasarkan uji hipotesis didapatkan bahwa H0AB diterima dengan F AB =3.08 F0. Pada penelitian digunakan model pembelajaran kooperatif yaitu STAD dan Think Pair Share yang keduanya menitikberatkan pada gotong royong atau kerja sama antar teman dalam kelompok. Kesimpulan yang didapat yaitu tidak ada interaksi antara model pembelajaran kooperatif dan motivasi belajar siswa terhadap kemampuan kognitif siswa. Faktor sekolah yang berperan penting dalam keberhasilan proses belajar dari peserta didik antara lain kurikulum. meode mengajar. materi belajar yang akan disajikan serta kelengkapan sarana prasarana yang akan digunakan.022266 F0. faktor keluarga dan faktor masyarakat.05 . Metode mengajar guru mencakup strategi dan model pembelajaran yang diterapkan.1 . antara lain faktor jasmaniah. Salah satu faktor sekolah yang digunakan dalam penelitian yaitu metode mengajar dari guru. memiliki keterampilan sosial dan mencapai hasil pembelajaran yang lebih optimal. Faktor internal merupakan faktor yang timbul dari dalam diri peserta didik.05 . Model pembelajaran merupakan strategi yang digunakan oleh guru untuk meningkatkan motivasi belajar. Kemampuan kognitif diperoleh jika peserta didik telah melakukan suatu usaha yang disebut kegiatan belajar. perhatian. bakat. Model pembelajaran mencakup pola yang digunakan dalam merencanakan pembelajaran di kelas.57=4. Faktor yang berpengaruh dan timbul dari luar diri peserta didik yaitu faktor eksternal yang meliputi faktor sekolah. alat pelajaran.57 dan maka FAB < . intelegensia. Kegiatan belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor utama antara lain faktor internal dan faktor eksternal. relasi guru dengan siswa maupun relasi antar siswa. minat dan faktor kelelahan. sikap belajar siswa sehingga siswa mampu berpikir kritis. Model pembelajaran merupakan fakor eksternal yang . motivasi.1 . Model pembelajaran yang diterapkan hendaknya disesuaikan dengan karakteristik peserta didik di dalam kelas. dan disiplin sekolah.

Fakor yang muncul dari dalam diri lebih berperan aktif karena akan menyangkut kesadaran siswa dalam belajar. hasil belajar siswa yang berupa kemampuan kognitif dipengaruhi oleh faktor internal. Pengaruh yang sangat kuat dalam mempengaruhi proses belajar siswa yaitu pengaruh yang datang dari diri.dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Motivasi dalam proses belajar atau motivasi belajar berperan sebagai daya dorong yang timbul dari dalam diri peserta didik untuk melakukan sesuatu agar dapat mencapai tujuan dari belajar. Selain faktor eksternal tersebut. tetapi juga didukung oleh faktor internal dan faktor eksternal lain pada proses belajar. Pada penelitian didapatkan hasil bahwa kemampuan kognitif siswa atau disebut juga dengan salah satu prestasi belajar tidak dipengaruhi oleh interaksi antara faktor model pembelajaran yang diterapkan guru dan motivasi belajar Fisika. Interaksi antara model pembelajaran kooperatif dan motivasi belajar Fisika tidak terjadi atau tidak memberi pengaruh terhadap kemampuan kognitif siswa dari kelas ekperimen dan kelas kontrol. . salah satunya yaitu motivasi. Hal tersebut berarti bahwa kemampuan kognitif yang diperoleh dari siswa-siswa kelas ekperimen dan kelas kontrol tidak hanya dipengaruhi oleh faktor model pembelajaran yang digunakan oleh serta motivasi belajar yang dimiliki oleh siswa.