Não sou nada.

Nunca serei nada.

Não posso querer ser nada.

À parte isso, tenho em mim todos os sonhos do mundo.

- Fernando Pessoa

I am nothing.

I’ll never be anything.

I couldn’t want to be something.

Apart from that, I have in me all the dreams in the world.

- Fernando Pessoa

i

hanya karena cerita-cerita ini diadakan gratis bagi siapapun yang ingin mengunduhnya. saya mohon maaf. saya pikir ini kategori yang paling tepat bagi cerita-cerita yang ada di sini. for lack of a better word. tentang “halaman-halaman yang tercecer” . absurd. maka tidak berarti nilainya melonjak tinggi. Ah. karena mereka tidak ditampilkan dalam sebuah koleksi lengkap. Sesekali. karena semua ini saya kerjakan sendiri. ii . berupaya memahami dunia yang semakin sempit. Tentunya.. bila ada elemen layout yang kurang berkenan.. juga tidak dalam bentuk yang proper menurut kai- dah penerbitan sebuah karya tulis (lihat saja margin yang berantakan). namun hanya sebagai pembuktian diri bahwa di dalam kepala saya masih ada hantu-hantu kerdil yang berkongregasi setiap detik. Saya pribadi tidak bisa menilai apakah cerita-cerita ini bagus atau jelek. yang sifatnya murni mengotori. Dan saya bukan penulis yang berpikir apa-apa yang saya tulis berhak disebut sebagai masterpiece. Apapun itu. Oleh sebab itu. manusia yang semakin membingungkan. kalau saya sedang berun- tung. biarlah dia jadi misteri tersendiri yang saya sendiri tidak terlalu paham. Bisa jadi cerita-cerita ini hanya sampah belaka. Kata Pengantar Kadang saya menulis tanpa tujuan. Maka biarlah kalian yang menilai halaman-halaman tercecer ini. serta hidup yang semakin. proses menulis tanpa tujuan itu menghasilkan sebuah cerita pendek utuh. wa- lau seringnya proses itu menghasilkan fragmen-fragmen cerita yang ujung- ujungnya hanya akan memenuhi folder trash can. atau so-so saja. tanpa niatan untuk disebarkan sebagai ko- moditi. Lantas kenapa saya tidak men- girimkan cerita-cerita ini ke majalah atau ke suatu penerbitan? Entahlah. dengan aplikasi gratisan yang tidak butuh terlalu banyak keahlian dalam bidang desain (asal tempel).

tapi itu bukan berarti “halaman-halaman yang tercecer” ini layak disebut sebagai hadiah. ini adalah edisi pertama. mañana. mañana. akan saya gunakan sebaik-baiknya untuk meng-update situs Fiksi Lo- tus yang sudah beberapa bulan tak terkejar. Ya. maupun non-cetak. Nanti. saat pekerjaan tak lagi menyita terlalu banyak detik-detik keseharian. Anyway. sangat saya hargai. Salam. Saya menerbitkan ini dalam periode liburan Lebaran 2016. Mohon maaf sebelumnya. semoga. Apresiasinya. Semoga menghibur. semoga. apalagi dijual. maupun non-pembaca Fiksi Lo- tus. se- moga tidak terlalu membuat mual. Kalian semua adalah bagian dari keluarga besar Fiksi Lotus yang sangat. Sementara itu. Hanya iseng-iseng saja. atau di-share dalam bentuk file pdf bagi mereka yang tak punya akses internet. atau di luar format yang telah saya tentukan. maka giringlah mereka ke laman Fiksi Lotus agar mereka bisa mengunduhnya sen- diri. Seandainya kalian ingin merekomendasikannya kepada teman-teman kalian. saat saya sukses mencuri waktu dalam jumlah yang cukup besar untuk mengutak-atik aplikasi gratisan ini. Cukup diunduh dan dinikmati sendiri saja. Kapan? Entahlah. Nanti. Mañana. nanti. selama masa liburan ini khususnya. tapi terutama pembaca Fiksi Lotus) takkan mengedarkan cerita-cerita ini dalam bentuk cetak. terima kasih atas segala dukungannya. Saya percaya kalian (baik pembaca Fiksi Lotus. Maggie Tiojakin iii . Bukan. Dan jan- gan juga di-copy paste ke laman blog kalian. Itu artinya akan ada edisi kedua. nanti. bukan hadiah. tanpa sepengetahuan saya. Nanti. betul. sangat. semoga. Saya mohon jangan digandakan. Kunjungannya. untuk waktu yang masih bisa saya curi-curi.

SEGALA HAL YANG TERBAIK DALAM HIDUP iv .

bantal mengganjal dada. Kau benci pekerjaanmu. Rambut panjangmu dititiki kepingan salju yang turun deras sejak sore. Katamu kau tak sabar untuk segera melaku- kan road trip bersama. menandai rute-rute utama. matamu mena- hanku dari jauh. serta segelas Elizabetta. Kau ulas senyum lebar. di atas lembaran buku tamu. Kakimu ditekuk ke atas. mempelajari selembar peta dengan bantuan kaca pembesar. Langkahmu terburu-buru. Di luar hanya ada putih es. Salju turun lebih lebat dari tahun-tahun sebelumnya. Kau terbaring tengkurap di atas ranjang. Badai musim dingin mengancam dari utara. kau tergesa masuk ke dalam restoran langganan kita. Kau pesan semang- kuk beet salad dan sepiring slow roasted lamb. Tiga hari tanpa stres pekerjaan. Empat puluh lima menit lewat waktu reservasi makan malam. Ketika kau angkat wajahmu. Rasa bersalah itu menggantung di wajahmu seperti kulit kedua. Kau minta maaf lebih dari sekali. Mencari namaku. melingkari kota-kota kecil. mung- kin.” Aku ingat — Malam Natal. Di atas pang- 5 . Pekerjaanmu menumpuk. tumitmu merapat di udara. tanpa klien yang harus diperhatikan. tanpa atasan yang selalu menekanmu tanpa alasan. Kau kecup pipiku. Kau telah mengatur waktu cuti dari pekerjaanmu sebagai sekertaris di sebuah klinik bersalin. Kau kenakan piyama polka-dot yang kau beli di pusat belanja ternama dengan diskon gila-gilaan. membubuhi titik tebal pada lokasi-lokasi wisata umum. Kau tatap mataku. Aku bangkit berdiri. SATU Begini Aku Mengenangmu Aku ingat — Bulan Desember. Kau benci atasanmu. Kau angkat wajahmu. Dan kau bilang. Kau berdiri di depan meja resepsionis. “Kiss me. menyusuri area pesisir kota. Kaca jendela kamar kita beku berkerak. Wajahmu terbias cahaya lampu neon. kepala tertunduk. Aku melihatmu dan melambai tinggi.

Dalam lelap. kau temukan wajahku. kudekap erat- erat. Kau ulas senyum lebar. kau minta dua ranjang terpisah. Tiba di penginapan. Makanan itu hambar. Ponsel itu berge- tar di atas meja kecil di samping kepalamu. Saranku lain kali sebaiknya kau naik taksi. Kau menggeliat. malu- malu bersembunyi di balik garis cakrawala. Kau rebahkan sandaran kursi. aku melewatkan menit per- gantian tahun dan terbangun pukul enam pagi. matamu masih terpejam. Mungkin di hari pernikahanmu. Kutarik selimut lebih tinggi. bosan. Kau tak bergerak di sisi ranjang. Ia mengenakan gaun dan bando putih. entah mencari apa. sambil menunggu hitungan galon bahan bakar bergerak sejajar dengan hitungan angka bayar. Kau mulai bercerita tentang perjalananmu ke restoran. Hari masih terlalu pagi. Kau tidak suka warna putih karena cepat kotor. menghadapku.” Aku ingat — Pertengahan Februari. Matahari belum lagi terbit. Dan kau bilang. Aku tak punya bahan pembicaraan yang cukup menarik untuk kita berdua. ketika ditanya soal detail akomo- dasi. Usai makan malam. “Kiss me. kau angkat kelopak matamu.” Aku ingat — 1 Januari. Kita berhenti di rumah makan sederhana. Kau balikkan tu- buh. Dingin itu mengendap di sudut-sudut ruangan. lewat senyum malasmu. kau buka petamu dan mulai men- diktekan arah kepadaku: lewati perempatan. Kutarik napas panjang. Di sebuah pom bensin. Di satu momen. Tubuhmu menggigil. tapi tidak tidur. Kita tidak bertengkar soal ranjang mana 6 . Menjelang pukul sembilan. bagaimana kereta yang biasa kau tumpangi penuh sesak hingga akhirnya kau memilih jalan kaki. Kau menggerutu. Kau mendesah. di dalam mo- bil. kau dorong kursimu ke belakang dan kau angkat kakimu ke atas dasbor. menatap kosong ke arah tak tentu. Perjalanan itu memakan waktu tiga setengah jam. Kutarik tubuhmu. Aku menguap. lewati tiga lampu merah. Kau sibuk melihat peta. memerangi mimpi. aku meman- dangimu dari balik jendela: kau duduk di kursi penumpang. Dan kau bilang. Ketika akhirnya kita kembali menyusuri jalan raya. Kau pejamkan mata.gung. belok kiri. “Kiss me. Hanya itu. Aku men- guap. kau putar tombol pemanas. Kau tak tidur semalaman. Katamu kau takkan pernah mengenakan gaun putih kecuali sangat ter- paksa. Kau pesan chocolate torte yang kita santap bersama sebagai hidangan penutup. seorang penyanyi wanita melantunkan lagu rohani dengan suara soprano. melewati area pegunungan dan hutan lebat.

Kau bilang ada tugas keluar kota selama beberapa hari. pesanku. tanpa membalikkan tu- buh. karena tak bisa membaca bibirmu dari jauh. Langkahmu gontai ke arah kamar tidur dan. tanpa membalik- kan tubuh. Diramalkan badai musim dingin akan tiba dalam waktu dekat. Apakah kau menangis? Seseorang yang tak kukenal — rekan ker- jamu? — berusaha menenangkanmu. Valentine’s Day telah lama berlalu. Kupeluk tubuhmu. Kau tak sentuh sarapanmu dan aku tanya kenapa kau menjejalkan pakaianmu ke dalam koper besar. aku tak menghentikan 7 . Aku diam. Aku tak komentar.” Aku ingat — Awal Maret. aku pindah ke ranjangmu dan. Wajahmu terbenam di tangkupan kedua telapak tangan.yang mau ditempati. Malam itu. Kita duduk di sofa panjang ru- ang tamu. semangkuk kecil strawberry panna cotta.” Aku ingat — Seminggu kemudian. Aku mainkan CD kesukaan kita. Hidangan yang kusiapkan tak lagi sedap dipandang. biru. Bibirku kaku. “Aku lelah sekali. tapi kurasa kau bi- lang. Di balik jendela kubikel tempat kerjamu kulihat pundakmu berguncang. Musim semi tak kunjung datang. Kau menarik diri saat aku mencondongkan wajah untuk mencium bibirmu. kubeli seikat bunga mawar dan sekotak cok- lat. “Aku lelah sekali. Pulang kerja. Kau pu- lang lewat tengah malam. kau bilang. Jangan sekarang. Ketika taksi itu datang. Jangan di sini. Salju menumpuk di tepi-tepi ja- lan.” Aku ingat — Tidak lama setelah itu. Suhu udara turun drastis pagi ini. Kau pesan taksi lewat telepon dan aku putuskan untuk menunggu sam- pai taksi itu datang sebelum berangkat ke kantor. kau bilang. Kau diam. “Aku lelah sekali. Aku tertidur menunggumu di meja makan. Kau bilang. namun aku tak bisa mendengarnya. Kupanaskan makan malam-mu di dalam oven. Aku duduk di atas ayunan taman di seberang klinik tem- pat kerjamu. Hati-hati di jalan. Aku memasak makan malam dan menyiap- kan makanan penutup favoritmu. Un- tung rangkaian bunga itu tidak layu mendadak.” Aku ingat — Di bulan yang sama. Badai mu- sim dingin telah mengakibatkan banyak kendaraan terdampar di rute-rute jalan antar kota. “Aku lelah sekali. Kau katakan sesuatu.

mencari. Rambutku memang sudah agak menipis — tapi itu hanya masalah waktu. Aku ingat lagu kita. Caramu berdansa. Aku adalah bagian dari kebahagiaan itu. menciptakan realita baru . Tidak.” 8 . Aku tak melakukan apa-apa. “Suatu hari kau pasti akan melupakanku. Larimu. ketika kau sakit. Aku ingat menyiratkan kepadamu — dari kejauhan. kita akan jadi orangtua — lalu saat kau. ketika aku sakit. dan kita kembali di kamar itu. canggung di awal. ada saatnya ketika aku mu- lai mengenangmu. . Aku ingat caramu merajuk. aku selalu gagal. Aku ingat langkahmu. ketika kau menerima kabar dari dokter bahwa kau. Langkahku masih setegap. Aku ingat tangismu. Yang selalu kau dendangkan meski tanpa iringan nada. dan kau tatap mataku — dan kau katakan. aku tak patah hati. dikepung putihnya musim dingin. tak tersentuh matahari.langkahmu yang tergesa. kita kehilangan kesempatan itu tiba-tiba. dan kurasakan bayang-bayang itu mencekamku. Kau ba- hagia. secepat dulu. serta bagaimana tawa itu selalu membuatku lega. di mana setiap bulan adalah bulan De- sember. Sekeras apapun aku mencoba untuk menggali. Melemahkan pertahananku. Walau harus kuakui. Dan kegagalan itu seperti bayang-bayang yang tak pernah meninggalkanku: memangkas jejak kakiku. namun aku tak ingat bagaimana kita tiba di sini. Lagu itu. Aku tak menghentikanmu masuk ke dalam taksi dan mengunci dunia luar dari jangkauanmu. ketika kita bertengkar hebat. menggunakan bahasa bisu — bahwa kau adalah seluruh hidupku. meski aku tahu kau takkan kembali. dingin dan selalu berubah ben- tuk. namun tak ada yang patah dalam diriku. memburu alasan kita ada di sini. Aku ingat rasanya memegang tanganmu di tengah keramaian. Kata orang aku patah hati. Jantungku masih berdetak kencang. Tawaku pun tak berubah. Aku ingat tawamu. . namun selalu memesona begitu tubuhmu berbaur dengan dentuman musik. di akhir cerita kita. seperti sekarang. Aku ingat banyak hal.

mendalami dua ilmu berbeda. Tapi. Tay diterima bekerja di sebuah biro iklan. Kesal. Maka saat semua rencana itu terwujud seperti yang mereka impikan. punya anak di usia dua puluh delapan tahun — dan nanti. bahkan — aku tak bisa tidak meringis setiap kali Tay menceritakan se- gala hal yang terbaik dalam hidupnya. Lindo membangun usaha sendiri sebagai konsultan investasi dengan jaringan bisnis global. tak masalah. mungkin. Aku iri. tanpa drama. Rumah pertama yang mereka cicil sangatlah sederhana. Mereka berencana kuliah di kampus yang sama. dan membangun karier masing-masing selama beberapa tahun hingga keduanya mapan. DUA Segala Hal yang Terbaik dalam Hidup Waktu kami duduk di bangku sekolah menengah. Itu manusiawi. bila tak ada aral melintang. tentu. Tapi tak heran. Sukses bukan lagi jadi tujuan pada tahap itu bagi keduanya — melainkan gaya hidup. Tidak tanpa masalah. saat anak-anak mereka dewasa. sama-sama dibesarkan di keluarga baik-baik tanpa skandal. Mereka tahu benar apa-apa yang akan mereka lakukan. Tay dan Lindo adalah satu- satunya pasangan yang berhasil memecahkan misteri masa depan mereka sendiri. Usai kuliah. mereka akan menghabiskan hari tua di kota kecil di suatu tempat tinggi. Dalam waktu singkat dia berhasil menduduki posisi lumayan bergengsi sebagai kepala divisi. teman sejak kecil. mencicil rumah dua tingkat di tengah kota. Now. walau kami teman baik. Setelah itu mereka akan menikah. Menikmati hidup sebagaimana hidup se- harusnya dinikmati. Lindo diam-diam 9 . Ketika Tay hamil. Sama-sama dari keluarga berke- cukupan. Baik Tay maupun Lindo termasuk siswa populer di sekolah. Di antara mereka tak ada bibit buruk yang menunggu untuk dituai. Berke- liling dunia. aku tak heran. namun juga tidak miskin solusi. karena itu hasil keringat mereka sendiri.

Ketika Tay hamil untuk kedua kalinya. oleh karier dan uang. Pili- hannya sendiri. jendela-jendela be- sar. Rumah itu adalah semua yang per- nah diimpikan Tay dengan pilar-pilar raksasa dan pintu tinggi. katanya. Lindo didiagnosa mengidap penyakit mematikan. bertingkat dua di bilan- gan kota yang telah lama jadi impian mereka. Karena keluarga itu penting. Lindo membeli sebuah vila di daerah perbukitan luar kota untuk tempat peristira- hatan keluarga. tak perlu ideal.” kataku bersungut. “Sori. lebih mewah. Sempurna. ruang bermain. Aku meringis lagi. Hari itu Tay mengenakan blus berwarna hitam. Cepat kembali. Jangan terlena. Tay tak lagi bahagia dalam rumah tangga mereka.” 10 . Tay tertawa. lan- jutnya. Settle down. Dia mengetuk buku jari tangannya ke atas meja kayu dua kali. katanya. Tay memutuskan untuk berhenti kerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga. ruang baca. “Kenapa kau berpikir buruk seperti itu? Teman macam apa kau?” “Aku hanya bercanda. Ha! Aku seolah merasakan angin segar: See. Menolak bala. noth- ing’s perfect.membangun rumah lain yang lebih nyaman. Pi- pinya juga lebih tirus dibandingkan dengan kali terakhir aku melihatnya. ejekku.” “Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang. dan taman luas.” kata Tay begitu kami mengam- bil meja di sudut kedai kopi tempat kami biasa bertemu. ketika kami mulai jarang bertemu karena peker- jaan yang selalu menuntutku bepergian. Tay selingkuh. ujarnya. ketika anak-anaknya mulai aktif di sekolah. batinku. tak ada unsur paksaan dari Lindo — begitu dia meyakinkan aku. kolam renang. Aku benci hidupmu. Lindo mendukung seratus per- sen. selang sepuluh bulan sejak kelahiran putra pertama mereka. Tay menginginkan sesuatu yang lebih. Tay meneleponku saat aku berada di luar kota. begitu kata Tay via telepon. Usaha Lindo bangkrut. tidak ada yang sakit. aku pikirkan hal-hal yang terburuk: Lindo selingkuh. Dia tak menjelaskan. “Tidak ada yang selingkuh. Aku tanya ada apa. Cari pasangan yang baik. yang tak bisa diberikan suaminya. Dia sering menasihatiku agar cepat menikah. Rambutnya sedikit lebih panjang dari yang kuingat. Tak lupa dia selipkan pesan klise untukku: motherhood is a full time job — seolah aku tidak tahu. Di usia tiga puluh empat tahun. Lalu suatu hari. Selama berhari-hari.

“Aku sungguh-sungguh. jangan bodoh.” “Seperti apa tipeku?” “Baik.” “Tidak.” “Orang ini adalah tipemu. Ia mencondongkan tubuh ke de- pan.” “Sekali saja.” “A real family man?” Kuangkat alis tinggi-tinggi. lalu: “Tidak. A real family man. Kalau kau tak mulai mencari calon pasanganmu dari sekarang. penuh rahasia. Aku mengerutkan dahi.” “Kau punya pacar?” “Tidak ada hubungannya. itu urusanku. Tidak jelek.” “Neri.” “Sudah berapa lama sejak terakhir kau pacaran?” “Please.” Tay merengut.” “Apa? Ew!” Tay menarik tubuhnya. maka selesai sudah. Tidak terlalu ambisius. Kalau kau tidak suka padanya. “Tiga tahun lagi. Ini kesempatan!” “Tidak.” 11 . “Tiga tahun lagi. bersandar di punggung kursi.” “Neri. Satu makan malam. Kelima jari tangannya merengkuh bagian bawah cangkir styro- foam yang berisi kopi pahit hangat di atas meja. tapi juga bu- kan pemalas.” ucapnya. aku takkan memaksa. “Pikirkan jam biologismu. tubuhmu akan aktif menghalagi proses pembuahan dalam rahimmu. aku serius. “Kau terdengar seperti iklan KB. Punya pekerjaan tetap.” bisiknya.” “Tidak. Kau akan jadi seperti Bu Rona.

yang masih melajang hingga usia senja. “Thank you. Berpenampi- lan rapi. mudah dilupakan bila tak sengaja papasan di jalan. Seperti badut. aku akan benar-benar membencimu. come on.” cetusku. “Pasti kau sudah terlanjur mengumbar janji muluk. “I hate you. Tidak jelek. berkulit keriput dan luar biasa cerewet. tapi juga tidak pendek. “Apa?” tanya Tay. Sosoknya tak spektakuler. Semua tentangnya tak ada yang spektaku- ler. Perawan tua. kalau kau berusaha menjodoh- kan aku lagi. namun terawat baik. Tidak terlalu tinggi. Setahun lebih tua dariku. “Cuma itu yang mau kau bahas hari ini atau ada hal lain lagi?” “Neri. Thank you. Setelah itu. Mengen- darai mobil sedan yang tak mewah. tidak tampan. Tidak kurus. Tinggal di sebuah apartemen sempit di menara tinggi di tengah kota. Matanya ikut mendelik.” pekiknya. senyum itu masih terpatri di bibirnya. Bu Rona.” kataku.” “Fine. Guru matematika kami di bangku SMA yang terkenal bertubuh kecil. “Cuma itu?” tanyaku ketus. Ayahnya sudah lama men- 12 . namun tak menarik perhatian. “Thank you. Ah. Tay menyeruput kopi hangatnya. tidak gemuk. Anak tengah dari tiga bersaudara. “Ini untuk kebaikanmu. “Satu makan malam. Seorang teknisi di sebuah peru- sahaan telekomunikasi. Ibunya bekerja sebagai pengusaha katering. mengitari meja.” katanya setengah memelas. ★ Nama laki-laki itu Rico.” Tay mengangguk. Ia bangkit dari kursi. Kuusap pipiku tepat di mana Tay mendaratkan kecupannya. Senyumnya terekah lebar.” Mataku terpicing curiga. kurus.” Wajah Tay berubah cerah. Deskripsi Tay tak berlebihan. memelukku dan mencium pipiku.

” “Dia akan membuatmu bahagia. Kami berbagi sepiring sushi dan kebab serta sebotol Pinot Grigio. sekali ini kau cukup bersyukur saja. Neri. Dia mengaku sudah lama sekali tak pergi kencan. Kau mau jadi pacarku. Tapi di akhir malam itu. Aku bilang ini bukan kencan. Dia tidak punya film favorit. Untuk makan malam pertama kami. di dalam mobil.” kataku.” “Kau tahu dari mana?” “Kau tidak dengar apa kataku tadi? Dia orang baik-baik. Dia orang baik-baik.. Kami bernyanyi lantang bersama ribuan penonton yang hadir di sana. Neri. dia mengajakku ke restoran mewah sebelum menghadiri acara live concert di stadium bola. Kau selalu mencari kekurangan orang lain.inggal dunia. diiringi lagu-lagu melankolis yang berkuman- dang dari atas panggung.. Dan untuk makan malam kedua. Sepanjang pertun- jukkan.” “Um.” “Tapi. Bahwa dia tidak berniat membuatku marah ketika dia seenaknya membatalkan janji atau menertawai hal-hal yang 13 . Kali itu. Bahwa dia tidak ber- niat mempermalukanku di depan kedua orangtuaku dengan membeberkan segala hal yang dia anggap kurang menarik dariku.” “Good men are hard to find.” cecarnya. Ciuman pertamaku di tempat umum. Ci- uman itu berlangsung lama sekali. ketika serangkaian pertengkaran kecil mulai mengisi hari-hariku dan Rico. Tapi sejak malam itu aku resmi jadi kekasihnya. tanya Rico. gantian Rico yang mematuk bibirku. “Benar kan?” kata Tay. Rico menggenggam tanganku. lagu favorit ataupun mainan favorit. Nanti. Aku tak menja- wab. suaranya terdengar jauh sekali. Se- mua sama saja baginya. “Oh. aku mengingatkan diriku bahwa dia orang baik-baik. “Aku tahu kalian pasti cocok. aku menciumnya. Dan itu yang kukatakan pada Tay saat kami berbicara di telepon pada kesempatan lain. Pembicaraan kami monoton. dia mengajakku ke hotel bintang empat yang terkenal dengan seleksi sajian prasmanan dari berbagai belahan dunia.” “Tay. aku kurang tahu juga apakah kami cocok. Sudahlah. Aku tak tahu bagaimana itu bisa terjadi.

setelah tamu-tamu pulang dan aku dan Rico menyepi di kamar pengan- tin. dan terpendam dalam cetakan DNA yang merangkai jati dirinya: Rico adalah orang baik-baik. Kusentuh bibirnya dengan ujung jariku. kurasakan telapak tangan Rico berkeringat. Kami menikah di aula gedung tua. kata Rico. Tay mengangkat segelas sampanye dan mengusulkan sebuah toast. Dia berlutut dan mencium kakiku. Sebagai pembuka. terhunus ke arah tumpuk- kan krim dan bolu dan lapisan wafer. aku tak pernah ber- henti memberikan kesempatan tersebut. Tay bercerita singkat tentang hidup bahagianya dengan Lindo. Beri aku ke- sempatan. setiap kali aku mengancam meninggalkannya. It’s okay. karena aku tahu — jauh di dalam lubuk hatinya.kusuka. kebahagiaan yang kutunggu-tunggu telah tiba. Mereka semua ter- tawa. Dia tertawa gugup. Tay hadir bersama Lindo dan kedua putra-putri mereka. Bagaimana mereka menemukan satu sama lain di usia yang masih sangat belia. kataku dalam hati. di tengah argumen hebat. Aku tidak menceritakan semua ini kepada Tay. Tay tak bosan-bosannya bercerita pada semua orang mengenai pertemuanku dan Rico. Krim di mana-mana. han- gat menyelimuti tanganku. mungkin secara imajiner menghitung telur yang tinggal segelintir saja dalam ovariumku. tamparannya melayang ke wajahku. di lantai enam belas hotel berbintang. aku pikir. Kemudian kami saling menyuapi. Lantas. Betapa beruntungnya mereka. Kusentuh pipinya dan kutatap matanya. ini dia. Satu kesempatan saja. orangtuaku. Potongan kedua. Namun saat Rico menindih tubuhku malam itu dan napasnya memburu hebat di telingaku. aku seolah terperangkap dalam penjara tak kasat mata. Potongan pertama diberikan untuk ibunya. Ketika tiba waktu potong kue. Sepanjang malam. Upacara itu dihadiri oleh tiga ratus tamu un- dangan yang terdiri dari kerabat dan teman-teman dekat. sebilah pisau di antara kami. Tay menutup pidatonya dengan harapan singkat agar aku dan Rico menemukan kebahagiaan yang sama. Dan. Bahwa dia tidak berniat membuatku cemburu ketika di suatu acara kan- tor dia merayu salah seorang rekan kerjaku. Aku tidak menceritakannya ke- pada siapa-siapa. isaknya. penjara yang dinding dan jerujinya dibangun oleh keringat dan air- 14 . Bahwa dia tak berniat mencelakaiku ketika. Betapa beruntungnya aku sekarang.

” Aku tersenyum. “Itu masalahnya. Aku menangis dan menangis. mau bilang apa? Telur-telur ini sudah tua. Rambutnya dibiarkan tergerai. apa yang terjadi?” tanya Tay.” Aku mengedikkan pundak. seperti batu. kurasakan mataku mem- bengkak. Setahun adalah waktu yang lama.mata. Seperti aku. Dan ketika dia selesai — dan tubuhnya tergolek lelap di sampingku.” “Maksudnya?” “Mereka diam saja. “Ya. Kutatap langit-langit. sama sekali tak ada yang ter- jadi. batinku. ★ “Tunggu. Masih ada waktu. “Tak ada yang terjadi. Apakah bisa disembuhkan?” 15 .” “Apa kata dokter?” “Telurku tidak mau bergerak. Tay mengernyit.” “It’s not funny. “Ini penyakit sungguhan?” “Tentu saja ini penyakit sungguhan. tak mau bergerak ke dalam rahimku.” kataku. Kau kira aku mengada-ada?” “Bukan begitu. Bayang-bayang kebahagiaan itu pun sirna secepat ia datang. menghimpitku. Sebungkus roti isi tergeletak di atas pangkuan kami. Tak gesit lagi. apa yang terjadi?” Kami duduk berdampingan di kursi taman yang keras dan terbuat dari batu ca- das seraya menghadap ke arah deretan gedung pencakar langit. “Neri. Bintik cok- lat di wajahnya terlihat begitu jelas di bawah pantulan sinar matahari. “It’s a little funny. Namun Rico terus bergerak di atasku.” “Kau diberi obat?” Aku menggeleng. Ham and cheese untukku. Setahun lagi usiaku empat puluh tahun. Roast beef untuk Tay.

It blows. dia semakin sibuk. dicungkil. Empat dokter sudah menjatuhkan vonis mereka. Ever.” “Okay. Lalu dia berbisik: “Oh.” Aku menggigit ujung rotiku. aku tidak mau membicarakan soal indung te- lurku. Kedua.” “Dan Rico?” “He’s fine. Yang paling besar baru masuk SMP. sperma suamiku. Sekarang aku hanya ingin duduk dan menikmati roti isi ini. dengan kedua kaki terkangkang lebar? Memalukan! Kenyataannya adalah aku takkan pernah bisa sepertimu. diaduk. Kami menyantap hidangan makan siang tanpa banyak bicara.” 16 . Kau pikir mu- dah bagiku untuk duduk di bangku terkutuk itu. telurku. Bisnisnya semakin berkembang. Akhirnya.” “Perfect. Neri. “Bagaimana kabar ke- hidupanmu yang sempurna?” “That’s not fair. aku sudah coba lakukan segalanya. lagi dan lagi. Kau tidak tahu berapa kali aku disodok. Really. dibongkar-pasang.” “Tapi — ” Kuhela napas panjang. Kami menatap jajaran gedung pencakar langit yang begitu kokoh menantang peradaban di seki- tarnya. aku menoleh. Aku takkan pernah bisa rasakan apa yang kau rasakan.” “Dan anak-anakmu?” “Mereka juga baik-baik saja.” “Bagaimana kabar Lindo?” “Baik-baik saja. Pertama. atau apa-apa yang berhubungan dengan pembua- han. We’re fine. Aku bisa merasakan lirikan-lirikan kecil Tay yang masih begitu penasaran menggerayangiku di siang bolong. So. Tak ada bayi yang akan pernah keluar dari tubuhku. “Tidak.” kata Tay. Tapi aku sudah coba. “Tay. gross.” “I’m fine. I’m so sorry. “Thank you. Hidupku tidak sempurna. rona wajahnya memucat.” Tay butuh waktu cukup lama untuk memproses informasi tersebut.

Tay mengelus rambutku dan memelukku erat sekali. Aku tak sadar sedang memandanginya. Aku? Lelaki itu mengangguk. “Neri. ruang tersebut sengaja dilucuti dari segala hal yang meng- ganggu konsentrasi. Aku berhenti. Jaket itu kini teronggok di atas pangkuan si lelaki.” Tay melarikan tangannya ke pundakku. aku tak bisa diam. Jangan mengasihaniku. menarik wajah dari tangkupan tangan dan bersandar di punggung kursi lipat yang merapat ke dind- ing. “Apa tampangku terlihat beran- takan?” 17 . ★ Di ruang tunggu rumah sakit. menunjuk ke dadaku sendiri. Lelaki itu menghela napas panjang. berdiri sebentar. “Hey. Tangisku pecah tanpa aba-aba. Tapi kali ini sentuhan itu seakan menyetrumku dan hal yang aneh ter- jadi. gestur yang sering kami lakukan sebagai sahabat di berbagai momen kehidu- pan kami. Aku jadi serba salah. tanpa be- ban. kembali menghadapnya. gelas kertas masih di tangan. berjalan mondar-mandir mengelilingi ruangan yang tak terlalu besar. Ia menenteng jaket abu-abu yang kelihatannya sudah berhari-hari tercekal di tangan. melangkah menjauh.” panggil lelaki itu.” “Apa?” “That face. Wa- jahku panas. Duduk sebentar. Lelaki itu mengambil tempat duduk tepat di samp- ing mesin dispenser dan segera menjatuhkan wajah ke tangkupan kedua telapak tangan. pundaknya merosot. Blub blub blub. Se- orang lelaki masuk ke dalam ruang tunggu. wajahnya kuyu dan rambutnya beruban. Sentuhan itu begitu ringan. Tubuhku berguncang dan bibirku gemetar dan pandanganku kabur. gelembung udara menggelegak dari leher galon yang diposisikan terbalik di atas mesin dispenser. Aku buru-buru balik badan. Ketika aku menuang air dingin ke dalam cangkir kertas. Dengan pengecualian satu pot kecil tanaman hias dan kalender gantung. Aku menangis seperti orang menangisi ben- cana. Hanya ada kami berdua dalam ruangan semi-steril tanpa kepribadian itu.” “Don’t.

menggigit bibirnya.” “Oh.” aku menggeleng. “Kau haus?” “Tidak. “Untungnya tidak.” “Operasi?” “Tidak. “Siapa yang tahu?” “Hm.” “Apa yang terjadi?” “Tabrak lari.” Lelaki itu tersenyum. Tapi sedikit berantakan. “Um.” 18 . aku duduk di sampingnya. “Thanks.” “Sorry.” “Sama. “Bagaimana kondisinya?” “Masih belum sadarkan diri.” “Tapi dia pasti sembuh. tidak. kan?” “Sedikit.” “I’m sorry.” “Oh.” “Kau sendiri?” “Putraku.” “Tidak apa.” Pelan-pelan. Hanya perawatan intensif. Kau tidak terlihat seperti pengemis jalanan.” Lelaki itu membusungkan dada. menarik napas lebih panjang lagi.” Lelaki itu menggeleng. terima kasih.” “Siapa yang sakit?” “Suamiku. “Sudah lima hari dia terbaring koma.” Aku mengangguk. kan?” “Tidak ada yang tahu. Operasi ketiga siang tadi. Apa aku terlihat seperti pengemis jalanan?” “Tidak. Jujur saja.

” 19 . perhatikan. buru-buru melepas tanganku. jari-jariku terpisah jauh antara satu dengan yang lain.” “Young-ish. Neri. Apa yang kau lihat?” Joba menunjuk ke arah tangan kiriku. “Tak apa. Ia memperkenalkan dirinya kepadaku. kami sedang men- coba mengembangkan kebiasaan baru untuk berkebun karena kata orang kegi- atan berkebun bisa menenangkan pikiran. Kuteguk isi gelas kertas di tangan. “Apa yang kau lihat?” tanyaku akhirnya. Seolah mereka berada dalam posisi terentang setiap saat. Nah. Ia tak melepas jabatan tangannya. Pertanyaan itu datangnya tak terduga. ya. ya. Di tengah kegiatan itu. terlalu renggang. Lalu dia kolaps di taman kecil belakang rumah kami. Aku tertegun. “Ruas jarimu panjang dan kokoh. “Apa yang salah dengan suamimu?” tanya lelaki itu.” katanya. ini. membuatku tak nyaman sekaligus penasaran. lalu: “Kram jantung. “Istriku juga memiliki postur tangan yang serupa denganmu. menjejaki garis-garis semrawut di telapak tanganku. na- mun posisi jari-jarimu.” “Masih muda.” aku mengangguk.” “Berapa usianya?” “Empat puluh tujuh. Aku jabat tangannya yang besar dan kasar. Aku gelagapan. Sementara jari-jarinya terlihat lebih rapat. “Maaf. Seperti pengamatannya. Meskipun sebenarnya kau tidak sedang merentangkan mereka. Dia sedang mencoba berkebun dan — well. memekarkan jemariku seolah mereka adalah barang langka. Ia menatap tanganku. Air dingin membasahi bibir dan tenggoro- kan. “Aku tidak bermaksud memo- nopoli tanganmu. antara satu dan lainnya. “Oh. Joba.” Aku tersenyum.” Lelaki itu tersenyum simpul. tiba-tiba dia merasa dadanya kencang.” Ia mengangkat tangannya sendiri dan menempatkannya di samping tanganku.

“Jemariku ramping. “Aku bukan ahli tan- gan. Begitu beban yang dipegang terasa terlalu berat. Secara estetis.” gerutuku pelan. tubuhnya melengkung ke depan.” Joba menatap tangannya sendiri. Dia menarik napas.” “Bagaimana dengan tanganmu sendiri?” “Ini?” Joba mengangkat tangannya di udara.” “Buruk sekali ramalanmu.” balas Joba.. “Itu hanya tafsiranku saja. Joba menoleh ke arahku. Kami terperangkap oleh tangan-tangan kami sendiri. “Aku bukan peramal. dua kali.jari-jemari ini akan segera melepasnya.” Ia menge- pal dan meregangkan jemarinya nyaris bersamaan “. sekuat apapun cengkeramanmu. Apa arti postur tangan ini?” tanyaku. panik.. Joba sudah bisa menebak berita yang akan dia terima. Kebocoran-kebocoran yang tak terelakkan. Mengepalnya lagi. Aku menunggu penjela- san. sempurna. Matanya berkaca-kaca. Tangis lelaki itu mengalir dalam rangkaian gelombang. pergelanganku juga. dan aku hanya bisa memegang tangannya tanpa berkata apa-apa. Melintas di hadapanku. Tanpa suara. “Di mana istrimu?” Joba mengedikkan pundak dengan kepala tertunduk. lagi. “So. Aku segera menoleh ke kiri dan kanan. “Tapi menurutku. Ketika seorang dokter kepala dan suster datang ke ruang tunggu untuk mene- muinya. Mereka tak bertu- kar sapa sama sekali. sejak 20 . Kuat saat mencengkeram sesuatu. Dan aku tersadar.” katanya. akan se- lalu ada kebocoran-kebocoran kecil — hal-hal yang terselip lepas melalui celah di antara jari-jemarimu. Joba bangkit dari kursi yang ia duduki dan cepat-cepat me- langkah pergi dari ruang tunggu. Hanya saja.. tangan sepertimu punya daya tahan tinggi. Tapi je- mariku tak kokoh. Separuh tubuhnya meringkuk dalam pangkuanku. Aku curi-curi tatap ke arahnya sekali. namun laki-laki itu tak memberikannya. Beban yang terlalu berat..

mungkin keba- hagiaan itu sifatnya sangat sederhana — sesederhana menanam bibit tanaman di pekarangan sendiri. Raut wajahnya penuh cemas. “Neri. Dan untuk pertama kalinya aku merasa bahwa mungkin. Aku tidak mau membahasnya lebih jauh. Di bawah teriknya matahari pagi. Kemudian Rico mengeluh dadanya terasa kencang. Kutundukkan kepala. Pertengkaran-pertengkaran kecil kami yang kian intens dan membesar selama beberapa tahun terakhir. dan mengenakannya. Tay berdiri di hadapanku. Rico memutuskan untuk ikut bercocok taman. Kami menanam bunga azalea. so very different.” “Apa maksudmu kau dan Rico bermasalah?” “Tay.” 21 .” “Kenapa kau tak pernah cerita padaku?” “Tay. Aku mengambil jaket itu. Di sampingku. membangun taman kecil di belakang rumah. tapi tan- gan kami banyak bekerja. please. “Bagaimana kondisi Rico? Benar dia kena serangan jan- tung? Bagaimana keadaanmu?” Aku ceritakan runutan kejadiannya. Kurisleting sampai leher. He and I. Keputusanku untuk mencoba berkebun. tangan- nya kesemutan. “Kram jantung. Kami menguruk tanah dengan tangan kami sendiri. gelas kertas berdasar kerucut itu masih ada dalam genggamanku. hosta dan hibiscus. sudahlah. Kucoba tidur sejenak. “Boleh dijenguk?” “Dia sedang istirahat.” suara itu memanggilku. Kulipat kedua lengan di depan dada. Lalu pagi ini.” “But I tell you EVERYTHING. we’re so different. Kubuka mataku.awal berinteraksi dengannya. And now here we are. Pemberhentian Rico dari tempat kerja yang prematur dan tak disangka. dia kolaps. Kulanjutkan dengan versi singkat dari timbunan masalah yang semakin hari semakin membebani.” kataku mengklarifikasi. This isn’t about you. Kami tak banyak bicara. di hari Minggu. jaket abu-abu milik Joba tergeletak lesu. yang menguarkan harum tubuh tak dikenal. It is what it is. kataku.

stop.” “Kau tahu bahwa Lindo jarang sekali ada di rumah.” Tay diam. target belas kasihan.” kata Tay dengan nada berbisik. Kutarik jaket milik Joba agar lebih erat menyelimuti tubuhku.” 22 . Jarak yang terbentang di antara mereka. Tak terhitung lagi berapa kali aku duduk di ruang tamu. Tapi Lindo dan aku sudah be- gitu jauh dari satu sama lain karena dia tak pernah di rumah. Cita-cita dan impianmu yang hampir semuanya terwujud. I practically raised the children myself. Nyaman tidak berarti sempurna. Hal-hal yang takkan pernah kembali. Aku tak mau melihat apa-apa kecuali tanganku. Begitu anak- anak sudah semakin besar. “Bahan kajianmu. I love it all. bebanku semakin ringan. Ruang tunggu itu terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Mimpi-mimpi yang tergelincir lepas lewat ruang itu. ber- harap tak ada yang mendengar. “Aku tidak tahu kau dapat ide dari mana bahwa hidupku sempurna. Kami diam.” “Proyek kecilku?” Tay menyipitkan matanya. di malam hari saat anak-anak sudah tidur. Memang tidak selamanya seperti itu. Jari-jemariku. “Kau tahu benar hidupku tidak sempurna. “Dan aku senang mendengar cerita-ceritamu. Tapi kehidupanku tidak sama dengan kehidupanmu. Masalah-masalahmu yang selalu terselesaikan dengan baik.” “Tay. Hidupmu yang sempurna. menutup wajahku dengan bantal sambil menangis. Langkah yang selalu terlewatkan. the worst part? Kau beranggapan bahwa semua hal dalam hidupku sempurna. Aku tidak mau meli- hat Tay. Dan kau tahu.” “Neri!” “Aku tak mau bertengkar. Dan aku tidak mau jadi proyek kecilmu. Momentum yang hilang. Rasanya seperti ber- hadapan dengan orang asing. Keputusan-keputusan yang tak pernah kuambil. Aku nyaman.

Mengarungi lautan es di ujung dunia. It really will. melambaikan kartu pos di tangan. Aku seolah kembali di sekolah menengah dan Tay duduk di sampingku. tiga puluh. aku terkesiap oleh kerapu- hannya. menahan gulungan kata yang siap meluncur begitu mulut terbuka.” 23 . Aku bilang. Mereka memasuki bulan kedua perjalanan keliling enam puluh ne- gara.” kataku. empat puluh. Dia menatapku dari balik surat kabar yang terbentang di hadapannya. tentang teori lelaki itu mengenai postur tanganku. “Ada siapa?” tanya Rico saat aku kembali ke ruang makan. Aku tidak tahu caranya keluar dari momen ini. Seti- daknya. Matanya memerah. Dia dan Lindo baik-baik saja. Tay berusaha meyakinkanku. Aku cerita padanya tentang Joba. kataku. Makan di restoran pinggir sungai. di dalam ke- las. teori itu ada benarnya. Things are constantly falling through the cracks be- tween my fingers. Menja- jaki area pegunungan tinggi. “Tukang pos. Kukatup erat ra- hangku. “Tay dan Lindo su- dah tiba di destinasi berikutnya. Aku terus menatap jari-jemariku. Tay bilang. Aku tak peduli. Sekarang. tubuh kami terbalut seragam putih-biru. ★ Kartu pos itu tiba suatu pagi. Dia dan Lindo mulai berjarak karena absensi kebersa- maan? Aku dan Rico sejak awal adalah sebuah kesalahan. ketika akhirnya aku kembali menatap Tay. Dia harus membesar- kan anak-anaknya sendirian karena suaminya jarang di rumah? Big whoop. Tay menatap kedua tangannya sendiri. tidak lama setelah hari ulang tahunku yang ke lima puluh enam. Never going to happen. Sementara di baliknya ada tulisan tangan Tay yang terburu-buru dan singkat. Berenang di pantai eksotis. Gambar di bagian muka menunjukkan katedral tinggi dikelilingi oleh danau luas. Aku ingat ta- waku saat itu. But it will. dia punya anak. lima puluh tahun ke depan. I’m sorry for letting you think my life is so perfect all the time. Dengan suara tinggi penuh semangat ia menceritakan rencana-rencana yang telah ia bangun bersama Lindo untuk sepu- luh. dua puluh. Refleks. Aku ingin berteriak di depan wajahnya bahwa aku tak peduli dengan kesempurnaan atau ketidaksempurnaan hidupnya.

Ia tersenyum. “Pas enaknya. Lembar demi lembar uban. Kejutan untuk Tay. dua kali untuk menjenguk. lebih sempurna.” katanya dengan nada pe- 24 . Tay datang satu. We do what we can. Selama itu. Aku yang mengecatnya semalam. Lindo telah menjual sebagian besar saham perusahaan yang dibangunnya selama bertahun- tahun. In a way. Selalu mengalihkan pandangannya dariku. Dua tahun lalu. pas porsinya. Menolak kusentuh. Langit yang terbentang di atas kuil-kuil itu berwarna oranye keunguan. Aku didatangi seorang ahli bedah otak yang merekomendasikan aksi cepat. Rico harus dirawat selama sebulan sampai fungsi- fungsi organnya kembali normal. aku mendapati bahwa tak ada banyak per- baikan pada ingatannya. aku lega — karena itu artinya Rico juga tak banyak mengingat pertengkaran-pertengkaran kami yang terulang dalam pola serupa selama bertahun-tahun. menyantap sarapan yang kusiapkan. berhenti mem- bandingkanku dengan apa-apa yang menurutnya lebih baik. Anak sulungnya sedang mempersiapkan pesta perni- kahan. Dia berhenti mengungkit kesalahan-kesalahanku. Kemudian mereka merencanakan perjalanan akbar mengelilingi enam puluh negara di dunia.” Rico kembali membaca korannya. Para dokter menyatakan operasi berja- lan lancar tiga jam kemudian. Kami kembali berada di ruang gawat darurat. Nasi goreng dendeng. But it’s the best I can do. “Bagaimana sarapannya?” tanyaku. Rico menurunkan koran di hadapannya. It’s still not a perfect life. Rico terserang stroke. Dan sang dokter juga berjanji bahwa mereka akan mengusahakan yang terbaik untuk mengembalikan kondisi Rico seperti semula. Dokter yang merawatnya telah memprediksi ini. Aku kembali menunggu di ruang tunggu pucat. Menepikannya ke sudut meja makan. Tapi itu pun hanya sebentar dan sekadar untuk basa-basi saja. Favoritnya. ia hanya samar-samar mengingatku. Neri. Aku meringis melihat warna rambutnya yang ke- lewat pekat. Ia tak bisa memberikan kepastian apakah ingatan itu akan kembali. Melipatnya. Ia terbangun tengah malam tanpa bisa menggerakkan separuh tubuhnya. That’s the thing about happiness. ujarnya. “Oh. Ketika kesehatan Rico mulai pulih. Anak bungsunya tengah sibuk mengikuti pendidikan doktorat. tulis Tay di kartu pos pertama yang dia kirim dari kuil- kuil mistis di negara tetangga. We do what we can.

matahari bersinar terang. sekop kecil. “Bibit apa yang akan kita tanam hari ini?” “Kau saja yang pilih. Ia menghambur keluar dari dapur. Kumatikan keran. pikirku. Kudengar pintu belakang terbuka lagi. Kilat di matanya menahanku. Rico mengangguk. Rico. kembali memasuki dapur. Di luar. hentakan pintu yang membentur dinding mengejutkanku. yang kini bermekaran pe- nuh warna.nuh nyanyian. Taman kecil itu sesak oleh jajaran bunga- bunga yang kami tanam di musim-musim sebelumnya. seperti bocah yang baru saja dijanjikan hadiah mainan teranyar. Setengah melompat girang. “Ada yang tertinggal?” tanyaku. sarung tangan dan bungkusan bibit bunga dari lemari peralatan. Lalu matanya melirik ke jendela dapur.” 25 . dengan wajah berkeringat. Air yang men- gucur deras dari bibir keran menghantam sisa kotoran yang melekat pada permu- kaan piring dan gelas. Rico mengambil topi. ke arah taman kecil di be- lakang rumah. “You. “Apapun yang kau mau.” jawabku.” Senyum di wajahnya kian melebar. We do what we can. Aku mele- takkan piring dan perkakas makan kotor ke dalam bak cuci piring. Rico menyuap sisa sarapannya secepat mungkin hingga mulutnya menggembung.

di-copy paste. Kamu. Krik. siapa yang biasa-biasa saja? Gelas penuh. Penderitaan orang siapa yang tahu? Tempe. Karya-karya yang tercantum dalam e-book ini adalah karya orisinil milik Maggie Tiojakin. Segala Hal yang Terbaik dalam Hidup Siapa yang dulu bilang. mungkin. tanpa melihat perjalanan mereka? Siapa yang suka membandingkan siapa senang. men- capai apa. gelas kosong sama saja. mereka sama saja. Tidak untuk diganda- kan. aku. makanan orang selalu lebih enak? Siapa yang suka membandingkan siapa punya apa. © Maggie Tiojakin. rumput tetangga selalu lebih hijau? Siapa yang dulu bilang. 2016. xxvi . siapa se- dih. apalagi dijual.