BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembenihan udang windu (penaeus
monodon) sekarang sudah berkembang
dibeberapa Negara termasuk Indonesia.
Sebenarnya merupakan kerja keras para ahli
udang selama bertahun-tahun untuk memaksa
induk udang yang tadinya sulit bertelur menjadi
mudah bertelur. Hasil tersebut mulai dipraktekkan
di Indonesia sejak tahun 1978 dengan teknik
ablasi mata. alhasil petani tambak kita sekarang
tidak harus bersusah payah menangkap benur
dilaut yang jumlahnya terbatas, tetapi dapat
langsung memesan benih sesuai dengan
kebutuhan dipanti pembenihan, tanpa harus
menunggu lagi musim benur (Sutaman, 1993).
Budidaya udang windu (penaeus monodon)
telah banyak dilakukan di berbagai Negara yang
memiliki perairan laut, sehingga produksinya dari
tahun ke tahun terus meningkat sesuai dengan
meningkatnya ilmu budidaya udang ini. Di
Indonesia budidaya udang ini juga berkembang
sangat pesat dari cara yang masih tradisional
(ekstensif), sampai ke cara – cara yang lebih
modern (intensif) dan hasilnya terus meningkat
sesuai dengan meningkatnya lahan budidaya
(Darmono, 1993).
Sebagai makhluk hidup, udang juga
mempunyai musuh. Musuh ini dapat berupa hama
yang menyerang udang secara langsung
(pemangsa udang), maupun berupa jasad renik
baik jenis bakteri, virus, maupun parasit, sehingga
merupakan kendala dalam budidaya yang dapat
menurunkan hasil produksinya (Darmono, 1993).
Darmono (1993), menjelaskan bahwa banyak
atau sedikitnya keuntungan yang diperoleh dari
usaha udang ini, tidak lepas dari penanganan

1

panen dan pasca panennya, dan hal ini pun
sangat tergantung pada kualitas udang yang
dihasilkan. Penanganan pasca panen yang buruk
dapat menyebabkan rusaknya udang, sehingga
tidak memenuhi syarat untuk ekspor. Dengan
turunnya kualitas udang, maka harganya pun
menjadi jatuh dan dapat merugikan usaha tambak
udang ini. Hal inilah yang kemudian menjadi
alasan dilaksanakannya Praktek lapangan dasar-
dasar akuakultur agar siswa dapat mengetahui
bagaimana perbedaan prinsip kerja pada tambak
ekstensif, semi-intensif, dan intensif serta
mengetahui tahap persiapan tambak hingga pasca
panen.

1.2 Tujuan Praktek Kerja Industri
Tujuan dan kegiatan Praktek Kerja
Industri di hatchery sebagai berikut :
1. Mengetahui teknik pemeliharaan larva udang
windu
2. Mengetahui pemeliharaan kualitas air serta
pencegahan yang dilakukan terhadap penyakit
pada larva udang windu.
3. Mengetahui tahap persiapan tambak intensif mulai
dari persiapan lahan sampai pasca panen.

1.3 Manfaat Praktek Kerja Industri
Manfaat yang didapatkan dari kegiatan
Praktek Kerja Industri adalah sebagai berikut :
1. Menambah pengalaman dilapangan.
2. Menambah wawasan dan pengetahuan melalui
penerapan Praktek Lapangan dalam pemeliharaan
larva udang windu.
3. Menjadi bahan bacaan dan informasi dalam teknik
pemeliharaan benih udang windu bagi kalangan
akademis dan masyarakat pada umumnya.

2

BAB II
KEADAAN UMUM

2.1. Keadaan Umum Lokasi

Unit BBIP Kampal Instalasi Mamboro
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi
Tengah Kelurahan Mamboro Kecamatan Palu
Utara Kota Palu. Dibangunnya usaha Pembenihan
ini merupakan salah satu unit usaha yang telah
berhasil di Kelurahan Mamboro Kecamatan Palu
Utara Kota Palu, tingkat keberhasilan ini
disebabkan karena lokasi yang sangat mendukung
dan potensi laut yang ada di sekitarnya. Lokasi
pembenihan ini yang berada di pinggiran pantai
dan struktur dasar perairan yang sangat
menunjang seperti sanitasi, suhu dan keindahan
yang ada di pinggiran pantai.

2.1 Sejarah Singkat
Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) Mamboro
merupakan unit pelaksanaan teknis Dinas
Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah
Kelurahan Mamboro Kecamatan Palu Utara Kota
Palu yang dibangun pada tahun 2001. BBIP
Kampal Instalasi Mamboro merupakan program
kerja yang bertujuan memproduksi benih udang
windu bermutu sesuai standart (SNI) yang
ditetapkan oleh pemerintah untuk mengatasi akan
kurangnya benih di Provinsi Sulawesi Tengah
Kelurahan Mamboro Kecamatan Palu Utara Kota
Palu.

2.2 Fasilitas BBIP Kampal Instalasi Mamboro
Fasilitas BBIP Kampal Instalasi
Mamboro dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

3

TABEL 1. Fasilitas BBIP Kampal Instalasi Mamboro
No Fasilitas Jumlah Volume
1. BAK INDUK 3 BAK 7 TON
2. BAK LARVA 14 BAK 14 TON
3. BAK PLANKTON 2 BAK 6 TON
4. BAK TANDON AIR LAUT 3 BAK 35 TON
5. BAKFILTERISASI (TOWER) 2 BAK 14 TON
6. BAK TREATMEN 1 BAK 10 TON
7. BAK SIDAT 14 BAK 8 TON
8. TAMBAK SUPRA INTENSIF 1 UNIT 1000 TON
9. MESIN POMPA LISTRIK 2 UNIT -
10. MESIN BLOWER 8 UNIT -
11. MESIN GENSET 2 UNIT -
Sumber : (BBIP Kampal Instalasi Mamboro 2014)
Denah BBIP Kampal Instalasi Mamboro dapat
dilihat pada gambar di bawah ini :
DENA BBIP KAMPAL INSTALASI MAMBORO

14
23
12 13

10 2
11 4

21

5
7

9
16 4

3

22 2

17
1. Kantor 1 Bak Pemijahan
13.
2. laboratorium 14. Tandon
15 3. Ruang Pakan 15. Ruang Larva 1
4. Gudang 16. Ruang Larva 2
5. Ruang UV 17. Ruang
6. Filter Pengemasan
7. Tandon 18. Mesin Pompa Air
8. Bak Skeletonema Laut
9. Bak Filter Nisasi 19. Pembuangan
4 10. Ruang Artemia
Limbah
11. Ruang 20. Pencelupan
18 SKeletonema Mobil
1 12. Bak Tandon 21. Pipa Air

Larva Udang Windu Larva udang windu merupakan organisme yang halus dan lemah terutama pada stadia nauplius dan zoea sehingga presentase kematian tertinggi sering kali terjadi pada stadia ini. Dengan keunggulan itulah.2. Sidat 4. Skeletonema Costatum 5. udang ini sangat berpotensi dan prospektif pengembangannya untuk menjadi peluang usaha yang cukup menguntungkan.3 Komoditi yang Dibudidayakan Ada beberapa komoditi yang dibudidayakan di Benih Ikan Pantai (BBIP) Kampal Instalasi Mamboro antara lain : 1. Udang Vaname Udang Vaname (littopenaus Vannamei) merupakan salah satu komoditas perikanan ekonomis penting dikarenakan memiliki keunggulan nilai gizi yang sangat tinggi dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit bila dibandingkan dengan jenis udang lainnya udang vaname memiliki karakteristik spesifik seperti adaptasi tinggi terhadap lingkungan. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah larva udang windu harus dijaga agar selalu dalam kondisi sehat dan kuat yaitu dengan cara melakukan kegiatan pembenihan sangat berpengaruh terhadap kegiatan budidaya. Artemia salina 1. 5 . Suatu kegiatan budidaya udang tidak akan berjalan tanpa mengandalkan benih dari hasil pembenihan. Udang vaname 2. 2. laju pertumbuhan yang relatif cepat pada bulan kesatu dan kedua kelangsungan hidup yang tinggi. Larva udang windu 3.

3. Hal ini disebabkan karena artemia sp bukan hanya tersedia dalam bentuk telur kering (kiste) sehingga memudahkan dalam mengultur. Selain itu. Skeletonema Costatum Pakan alami berupa alga jenis skeletonema costatum merupakan jenis alga yang mudah untuk dikembangkan dan merupakan jenis alga yang banyak diproduksi oleh usaha pembenihan terutama pantai benih udang windu. artemia sp juga memiliki kandungan protein tertinggi dibanding pakan alami lainnya yaitu mencapai 40-60%. Ikan ini merupakan salah satu jenis ikan ekonomis penting baik dalam negeri maupun luar negeri karena memiliki gizi yang tinggi.4 Struktur Organisasi BBIP Kampal Instalasi Mamboro Balai Benih Ikan Pantai (BBIP) Kampal Instalasi Mamboro memiliki personel yang 6 . Sidat Ikan sidat (Anguilla Sp) bentuk seperti belut. Teknologi budidaya ikan sidat di Indonesia masih sangat terbatas dan hanya dilakukan pada tahap pembesaran saja dengan mengikuti teknologi budidaya yang telah berkembang di Jepang dan Taiwan. akan tetapi memiliki kemampuan pertumbuhan dengan kelangsungan hidup relatif tinggi. 2. 5. Artemia salina Artemia sp merupakan salah satu jenis pakan alami yang banyak digemari oleh pembudidaya ikan khususnya yang bergerak pada usaha pembenihan. 4. Kegiatan pembenihan yang dilakukan dipantai benih udang masih mengandalkan pakan alami dari jenis skeletonema costatum sebagai pakan alami pokok untuk membantu pertumbuhan larva.

dipimpin oleh seorang kepala balai dalam menjalankan kegiatannya. BBIP Kampal Instalasi Mamboro dibagi dalam beberapa tanggung jawab adapun struktur organisasi BBIP Kampal Instalasi Mamboro adalah sebagai berikut : 7 .

PI NUR IMAN SAHARUDIN LASADI S.PI NIP. Gambar 2 Struktur Organisasi BBIP Kampal Instalasi Mamboro STRUKTUR ORGANISASI BBIP KAMPAL INSTALASI MAMBORO PIMPINAN BBIP KAMPAL INSTALASI MAMBORO IRHAM YABI NIP. 19590909 198303 1 027 MANAJER PENGENDALIAN MUTU ABDUL RASYID S.PI PELAKSANA PELAKSANA PELAKSANA 8 . 19831110 200801 1 005 AUDITOR INTERNAL MANAJER KEUANGAN MANAJER PRODUKSI MANAJER PEMASARAN NIMROD RINDI KONDOLELE S.

Melakukan fungsi koordinasi tentang tata laksanaan produksi 3. Bertanggung jawab untuk merencanakan produksi ikan dan udang sesuai CPIB 2. Melaksanakan tugas administrasi bidang budidaya ikan dan udang. Manajer Pengendali Mutu Merupakan auditor internal yang bersertifikat dan mempunyai tugas : 1. Melakukan sistem CPIB secara konsisten. B. Menyusun program kerja pada unit pembenihan 2. Manajer Keuangan Tugas manajer keuangan BBIP Kampal Instalasi Mamboro : 9 . Konsisten terhadap penerapan CPIB 4. Bertanggung jawab untuk memastikan penerapan SNI dan CPIB 3. Pemberian pengarahan serta bimbingan pengarahan CPIB dapat dilaksanakan oleh semua anggota tim 5. Struktur organisasi BBIP Kampal Instalasi Mamboro dalam kegiatannya dipimpin dan dikoordinasikan oleh pimpinan balai dan manajer-manajer serta pelaksana kegiatan dengan uraian tugas sebagai berikut : A. Pimpinan BBIP Kampal Instalasi Mamboro Mempunyai tugas melakukan kegiatan operasional. pada unit pembenihan 4. Memastikan bahwa semua kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi 6. penerapan CPIB menerapkan teknologi anjuran dibidang budidaya ikan dan udang :  Uraian tugas pimpinan BBIP Kampal Instalasi Mamboro meliputi : 1. Mendokumentasikan rekaman produksi C. penyelenggaraan kegiatan pelayanan.

Mendokumentasikan seluruh rencana dan pelaksanaan kegiatan produksi pembelian dan penjualan D. Pelaksana Tugas pelaksanaan BBIP Kampal Instalasi Mamboro sebagai berikut : 1. 10 . Bertanggung jawab untuk melaporkan seluruh yang dilakukan kepada atasan langsung. Bertanggung jawab untuk mempromosikan produk 3. Bertanggung jawab untuk memastikan Pemeliharaan dan Penerapan SNI ikan dan udang CPIB 2. Melakukan pencatatan pesanan yang disampaikan kepada manajer produksi 4. Bertanggung jawab untuk mengelola keuangan pada BBIP Kampal Instalasi Mamboro 2. Mendokumentasikan seluruh kegiatan distribusi ikan dan udang E. Manajer Produksi Tugas manajer produksi BBIP Kampal Instalasi Mamboro meliputi : 1. Bertanggung jawab untuk menangani keluhan pelanggan 5.1. Bertanggung jawab untuk selalu mematuhi persyaratan SNI dan CPIB 2.

2 Morfologi Dilihat dari luar. tubuh udang terdiri dari 2 bagian. Udang windu memiliki kulit tubuh yang keras berwarna hijau kebiru-biruan yang berloreng-loreng besar. Dialam bebas udang ini dapat mencapai ukuran 35 cm dan berat sekitar 260 gram. BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3. spesies ini secara zoogeografik hanya tersebar dibeberapa kawasan asia pasifik seperti Taiwan. Bagian depan disebut bagian kepala.1 Sejarah Udang Windu Udang windu (penaeus monodon) yang dikenal dengan sebutan black tiger shrimp adalah spesies udang laut yang dapat mencapai ukuran besar. Filipina. hanya dihuni oleh udang dengan spesies yang berukuran lebih kecil. panjang tubuhnya hanya mencapai 20 cm dan berat 40 gram. yaitu bagian depan dan bagian belakang. Adapun klasifikasi dari udang windu (penaeus monodon) sebagai berikut : Kingdom : Animalia Filum : Arthropoda Sub Filum : Crustacea Kelas : Malacostraca Ordo : Decapoda Famili : Penaeidae Genus : Penaeus Spesies : Penaeus Monodon Fabricus (ANONIM 2012) 3. yang sebenarnya terdiri dari bagian kepala dan dada yang menyatu itu dinamakan kepala-dada 11 . Thailand dan Vietnam sedangkan perairan dinegara-negara produsen udang yang lain seperti Jepang. Indonesia. sedangkan yang dipelihara ditambak. Negara-negara Amerika Latin dan Cina.

2005). Gambar 3. Bagian depan meruncing dan melengkung membentuk huruf s yang disebut 12 . yaitu 5 ruas dibagian kepala dan 8 ruas dibagian dada. Pada ujung ruas keenam terdapat ekor kipas 4 lembar dan 1 telson yang berbentuk runcing. yaitu bagian kepala dan bagian badan. A. Kerangka tersebut mengeras. Hal ini memudahkan mereka untuk bergerak (Mujiman dan Suyanto. Kepala dada terdiri dari 13 ruas. Udang Windu (penaeus monodon) Tubuh udang dapat dibagi menjadi dua bagian. (cepholothorax) serta bagian perut (abdomen) terdapat ekor dibagian belakangnya. yaitu kepalanya sendiri 5 ruas dan dadanya 8 ruas. Sedangkan bagian perut terdiri dari 6 ruas. Tiap ruas badan mempunyai sepasang anggota badan yang beruas-ruas pula. tiap-tiap ruas (segmen) mempunyai sepasang anggota badan (kaki renang) yang beruas-ruas pula. Bagian kepala menyatu dengan bagian dada disebut cephalothorax yang terdiri dari 13 ruas. Semua bagian badan beserta anggota- anggotanya terdiri dari ruas-ruas (segmen). Seluruh tubuh tertutup oleh kerangka luar yang disebut eksoskeleton. kecuali pada sambungan-sambungannya antara dua ruas tubuh yang berdekatan. Bagian Kepala Bagian kepala dilindungi oleh cangkang kepala atau carapace. Bagian badan dan abdomen terdiri dari 6 ruas. yang terbuat dari bahan chitin.

Persiapan Bak dan Air Media Menurut Wardiningsih (1999) dalam kegiatan pembenihan udang. Mulut terletak pada bagian bawah kepala dengan rahang (mandibula) yang kuat. jantung dan insang. sedangkan pada ruas keenam. Pada bagian atas rostrum terdapat 7 gerigi dan bagian bawahnya 3 gerigi untuk P monodon bagian kepala lainnya adalah : 1. Sepasang alat pembantu rahang (maxilliped). 2012). 13 . 2. kaki jalan pertama. 5. yang satu sama lainnya dihubungkan oleh selaput tipis. 3. 7. 4. Sepasang sungut besar atau antena. 3. 6. Lima pasang kaki jalan (pereopoda). cucuk kepala atau rostrum. kedua dan ketiga bercapit yang dinamakan chela.3. Wadah A. Organ dalam yang bisa diamati adalah usus (intestine) yang bermuara pada anus yang terletak pada ujung ruas keenam (Anonim. persiapan bak yang dimaksud adalah untuk mengeringkan dan membersihkan bak dari segala bentuk kotoran. 8. Sepasang sirip kepala (scophocerit). Pada bagian dalam terdapat hepatopankreas. Diantara ekor kipas terdapat ekor yang merucing pada bagian ujungnya yang disebut telson. kaki renang mengalami perubahan bentuk menjadi ekor kipas (uropoda). Sepasang mata majemuk (mata facet) bertangkai dan dapat digerakkan. Ada lima pasang kaki renang (pleopoda) yang melekat pada ruas pertama sampai dengan ruas kelima. B. Dua pasang sungut kecil atau antennula. Bagian Badan dan Perut Bagian badan tertutup oleh 6 ruas.

bak dikeringkan selama 1-2 jam untuk menghilangkan chlor yang bersifat racun tersebut. karena chlor yang masih menempel pada dinding bak biasa bersifat racun bagi larva dan juga dapat mematikan plankton yang akan diberikan sebagai makanan larva. Proses ini dilakukan 2-3 hari. Cara menetralisis chlor ini dengan menggunakan larutan natrium Thio sulfat sebanyak 40 ppm. Kemudian air dalam bak diberi aerasi untuk menghilangkan kandungan kaporit. kemudian air disalurkan ke bak tandon yang siap digunakan untuk proses pembenihan. yaitu dengan cara menggunakan larutan Chlorin 100 ppm (100 ml larutan chlorin 10% dalam 1 m³ air). 14 . Hal ini sesuai dengan pendapat dari Wardiningsih (1999) bahwa sebelum bak digunakan atau diisi air perlu dilakukan pengeringan dan pembersihan bak. b. Persiapan Air Air yang digunakan berasal dari laut. Bila proses pengeringan bak ini tidak dapat dilakukan maka untuk membersihkan dinding bak dilakukan dengan cara lain. dilakukan pengeringan bak selama 2- 3 hari supaya organisme air yang terdapat dalam bak mati. Pada pencucian dengan penggunaan larutan chlorin. dalam bak penyaringan air diberi kaporit 7-10 gram/ton untuk membunuh bakteri-bakteri patogen dari laut. sebelum diisi air maka bak perlu dinetralisasi dengan chlorin. Yang dikerjakan sebelum bak digunakan atau diisi air : a. Persiapan Bak Kegiatan persiapan bak berupa membersihkan bak-bak untuk kegiatan pembenihan agar bersih dan steril sehingga bak tersebut terbebas dari penyakit. Setelah bak dibersihkan. kemudian air itu disaring dalam bak penyaringan. atau sebelum diisi air.

Fase nauplius ini mengalami pergantian bentuk dengan tanda-tanda sebagai berikut : Nauplius 1 : Badan berbentuk bulat telur. Gambar 2.setiap fase terdiri dari beberapa sub fase (stadium) yang mempunyai bentuk berlainan. Dalam fase ini larva belum memerlukan makanan dari luar karena masih terdapat persediaan makanan dalam kantung kemih telur itu sendiri. Siklus Udang Windu a. maka pada setiap fase terdiri dari beberapa sub fase (stadium) yang mempunyai bentuk berlainan. dan berlangsung selama 45-50 jam atau 2-3 hari.4. Bila diamati lebih teliti. fase protozoa atau disebut pula sebagai fase zoea. Nauplius 2 : Badan masih bulat tetapi pada ujung antenna pertama terdapat setae (rambut) yang satu panjang dan yang dua pendek. Empat fase tersebut adalah : fase nauplius. Nauplius 3 : Tunas maxilla dan maxilliped mulai tampak. Fase Nauplius Fase ini dimulai sejak telur menetas. Larva Udang Windu Menurut Wardiningsih (1999) dan Mudjiman (2003) secara umum pergantian bentuk larva mulai dari menetas sampai menjadi Post Larva (PL) yang siap untuk ditebar kedalam tambak ada 4 fase atau stadia. demikian juga furcal yang 15 . tetapi sudah mempunyai anggota badan 3 pasang. fase mysis dan yang terakhir adalah fase post larva.3.

mata dan carapace mulai tampak. Nauplius 4 : Pada antenna kedua mulai tampak beruas-ruas dan pada setiap furcal terdapat 4 buah duri. b. 16 . Nauplius 5 : Organ bagian depan sudah mulai tampak jelas disertai dengan tumbuhnya tonjolan pada pangkal maxilla. sifatnya yang paling menonjol adalah gerakan mundur dengan cara membengkokkan tubuhnya. Fase zoea terdiri dari 3 tingkatan yang mempunyai tanda-tanda yang berbeda sesuai dengan perkembangannya yaitu : Zoea 1 : Bentuk badan pipih. alat pencernaan tampak jelas. Fase Protozoea Pada fase zoea larva harus diberi pakan dan aktif mengambil makanan sendiri dari luar yaitu plankton. Zoea 2 : Mata mulai bertangkai dan pada carapace sudah terlihat rostrum dan duri supra orbital yang bercabang. maxilla pertama dan kedua mulai berfungsi. c. Zoea 3 : Sepasang uropoda yang bercabang dua mulai berkembang dan duri pada ruas-ruas perut mulai tumbuh. Fase Mysis Fase mysis berikutnya mirip udang- udangan. Pada fase ini berlangsung selama 4-5 hari. jumlahnya 2 buah mulai terlihat jelas. Nauplius 6 : Perkembangan bulu-bulu makin sempurna dan pada duri furcal semakin panjang. Fase zoea hanya berlangsung selama 3-4 hari. masing- masing dengan 3 duri (spine). Larva pada fase ini sangat peka terhadap lingkungan.

4. Oleh karena itu peranannya sangat penting dalam menentukan berhasil tidaknya suatu pembenihan udang. pemberian pakan dan pengamatan terhadap perkembangan larva. tetapi kaki renang masih belum tampak. Selain itu juga perlu dihindari hal-hal yang akan menimbulkan stres pada larva antara lain adalah : kondisi aerasi.Kualitas Air Kualitas air merupakan faktor penting selama pembenihan berlangsung baik buruknya 17 . Mysis 2 : Tunas kaki renang mulai tampak nyata tetapi belum beruas-ruas Mysis 3 : Tunas kaki renang bertambah panjang dan beruas-ruas. Pemeliharaan Larva Udang Windu Wardiningsih (1999). Selama pemeliharaan. d.1.4. 3. Fase mysis pada larva ditandai dengan tiga kali perubahan dengan tanda-tanda sebagai berikut : Mysis 1 : Bentuk badan ramping dan memanjang seperti udang mudah. tetapi larva ini tidak mengalami perubahan bentuk karena seluruh bagian tubuh sudah lengkap dan sempurna seperti udang windu. Fase Post Larva (PL) Perubahan bentuk pada fase ini yang paling akhir dan paling sempurna dari seluruh metamorfosa. Dalam hal ini penanganannya harus benar-benar diperhatikan yaitu mulai dari stadium nauplius sampai stadium post larva. menjelaskan bahwa stadium larva merupakan stadia yang lemah pada daur hidup. pemberian pakan dan penggantian air merupakan kegiatan rutin yang setiap hari harus diperhatikan dan ditangani secara seksama. 3. dan juga pengamatan kualitas air media. perawatan.

Kecerahan 25-30 cm 2 Kimia 1.3. Fisika a. pada stadium nauplius belum diberi makan karena dalam tubuh masih mempunyai persediaan makanan dalam 18 . H2S < 0.5 2. Suhu 26-30º C b. Nitrat 200 mg/ltr Sumber : www. Jadi untuk satu bak luas 4x4 m² diperlukan paling sedikit 16 buah aerasi. tidak boleh terlalu kecil ataupun terlalu besar dan tidak boleh mati sama sekali karena berakibat buruk terhadap larva yang dipelihara bahkan dapat mengakibatkan kematian massal. Persyaratan kualitas air dan parameternya yang baik untuk pembenihan udang windu dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini : No Parameter Standar Ukur 1.go.1 mg/ltr 5.Id (2012 ) 3. 3.2. sedangkan jumlah aerasi yang diperhitungkan satu buah aerasi permeter persegi.Pengaturan Aerasi Menurut Wardiningsih (1999) kondisi aerasi harus diperhatikan karena selama pemeliharaan tidak jarang dijumpai larva yang meletik ke dinding bak. Oleh karena itu kualitas air diusahakan sebaik mungkin dan selalu dipantau.4. D0 (oksigen terlarut) 4-8 mg/ltr 3. maka untuk mengatasinya adalah aerasi harus dinaikkan kekuatannya.4. Aerasi harus dipasang dengan posisi yang dapat tersebar merata didasar bak. Amoniak (NH3) < 0. Salinitas 0-35 permil dan optimal 10-30 permil c.5-8. Walaupun demikian aerasi juga harus dijaga pengeluarannya.Dkp. Kekuatan aerasi dibuat sekitar 101/menit untuk kedalaman air 50 cm.1 mg/ltr 4. sangat menentukan hasil yang akan dicapai.Pakan Menurut Wardiningsih (1999). Ph air 7.

Secara umum makanan yang diberikan kepada larva udang selama pemeliharaan ada 2 jenis makanan. yaitu makanan alami yang berupa fitoplankton dan zooplankton. Setelah menjadi zoea larva memerlukan makanan yang melayang-layang dalam air. tetraselmis. STADIA PAKAN DOSIS FREKUENSI Naupli Makanan dari . dan makanan buatan. Frekwensi Dosis No Stadia Jenis Pakan (perhari) pakan 1. Hal ini dimaksudkan supaya setelah nauplius menjadi zoea makanan yang dikultur sudah siap untuk diberikan kepada larva. dll) 15-20% dari berat 4-6 kali Post Larva Skeletonema dan tubuhnya sehari artemia salina Udang Dewasa Artemia salina 5-10% dari berat 4-6 kali tubuhnya sehari Artemia salina 5-10% dari berat 4-6 kali tubuhnya sehari Sumber : www.go. Dosis dan Frekuensi Pemberian Pakan Alami Untuk dosis dan frekuensi pemberian pakan alami dapat dilihat pada tabel 3. Zoea I Skeletonema Costatum 6 kali 5 cm Zoea II Skeletonema Costatum 6 kali 5 cm 19 . - cadangan isi kantung Zoea telur 15-20% dari berat 4-6 kali Plankton nabati tubuhnya sehari diatomae (skeletonema. Tetapi pemberian makanan seperti skeletonema sp dan tetraselmis sp dalam bak besar harus sudah dimulai 2 hari sebelum induk matang telur dipindahkan kedalam bak peneluran.id (2012) a.dkp. Jenis makanan. dapat dilihat pada tabel 2. Pemberian makanan berupa skeletonema sp dan tetraselmis sp bersama massa airnya mempunyai keuntungan yaitu untuk mengurangi kepadatan penebaran larva dalam bak. Mysis navicula amphora. kantung kuning telur. ukuran pemberian pakan sesuai dengan stadium perkembangannya.

Post Larva PL 1 – PL 4 Artemia Salina 6 kali 25 gr PL 5 – PL 9 Artemia Salina 6 kali 30 gr Dan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa semakin bertambah umur atau stadia semakin bertambah juga dosis pemberian pakan alami pada udang windu. RDN-Ultra Diet 1:1:1:1:1:1 No. Zoea Frippak -1. Mysis Frippak No. ZM. Pearls golden. 2. RDN-Ultra Diet No. feeds PL + 150 Sumber : Data Primer (2012) Jenis-jenis pakan buatan yang dicampurkan telah disesuaikan dengan umur udang dan nomor pakan. 2. Pearls golden. feeds PL + 150 4.5 Tabel .4 dan tabel . RDN-Ultra Diet No. 2 2:1:1:1:1:1 Frippak No. Hal ini dikarenakan semakin banyak pula nutrisi yang dibutuhkan dan sumber energi yang cukup. dosis. Powder. 20 . 0 1:1:1 2. Harves 3. Lensi. 2 2:1:1:1:1:1 Frippak No. Pemberian pakan itu harus sesuai dengan bukaan mulut dan perkembangan larva sehingga pakan buatan perlu disaring sebelum diberikan. Jenis skeletonema costatum dan stadia mysis III sampai panen itu diberikan pakan alami jenis artemia salina. Mysis I Skeletonema Costatum 6 kali 15 cm Mysis II Skeletonema Costatum 6 kali 20 cm Mysis III Artemia Salina 6 kali 20 cm 3. Zoea III Skeletonema Costatum 6 kali 10 cm 2.4 Campuran Pakan Buatan No Stadia Campuran Pakan Perbandingan 1. GAP. Mengenai jenis pakan yang diberikan. distadia zoea 1 sampai mysis II diberikan pakan alami. RDN-Ultra Diet No. Hal ini karena jenis dan ukuran pakan alami disesuaikan dengan bukaan mulut udang dan kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh udang. 2. Powder. Pakan Buatan Pakan buatan diberikan pada stadia zoea sampai dengan post larva. PL 7-10 Flak. 1. PL 1-7 Flak. frekuensi pemberian pakan buatan masing-masing stadia disajikan pada tabel . pakan buatan. GAP. b.

00 18. Z 8 15 09.00 15.00 14.00 24. Z 2 7 09.00 15. Z 9 20 09.00 18.00 13.00 21.00 06.00 21.00 Sumber : Data Primer (2012) 3. Z 10 20 09.00 18. berbagai jenis penyakit yang spesifik menyerang larva udang windu diuraikan sebagai berikut : 1.00 18.hari No Stadia Pemberian (95/bak) Waktu 1.00 7. Di Indonesia baru satu yang dikenal menyerang udang windu yaitu Baculovirus Panel atau monodon baculo (BMV).00 01.00 06.00 24.00 06. umumnya menyerang post larva (PL).00 15.00 13. Z 12 25 09. Oleh karena ini.00 15.00 06.00 24. Z 1 5 09. Tabel . Penyakit Virus Ada 4 jenis penyakit virus yang tidak dikenal menyerang tingkat larva dan post larva : Baculovirus Panel (BP).00 15. Z 13 25 09.00 06.00 06.00 2.00 03.00 21.00 21.00 21.id (2012) Menurut Mutidjo (2003).00 21.go.00 21.00 17.00 01.00 17.00 21.00 24.00 24.00 15. pengisolasian induk udang windu yang positif 21 .00 01.00 15.00 06.00 15. Baculo viral midgut gland neocrosis (BMN).00 03.00 15.00 18. Z 3 10 09.00 05. Z 14 25 09.00 9.00 21. Z 5 15 09.00 12.00 21.00 10.00 18.00 16.00 05.00 21.dkp.00 18.00 4.00 15.00 11.00 18.00 15.00 21.00 06.00 06. Z 4 10 09.00 05.00 8. Z 6 15 09. dan Injectious Hemato poletic neocrosis Virus (IHHN).00 15.00 18.00 21.00 13.00 18.4.00 24.4. Z 15 30 09.00 17.00 5. bakteri atau protozoa yang dapat mengganggu pertumbuhan bahkan dapat mengakibatkan kematian.00 06.00 21.00 06.00 13.00 15.00 24.00 24.00 18.00 18.00 06. khususnya diatas post larva 20 (PL 20). Induk udang sebagai sumber dan pembawa penyakit (Carrier) dengan mudah menularkan virus ke larva melalui telur karena virus banyak terdapat pada fesesnya.00 06.00 03. Z 7 15 09.00 18.00 24.00 24.00 21.00 15. Z 16 30 09. Hama dan Penyakit serta Penanggulangannya Selama perkembangannya larva sering kali terserang beberapa jenis jamur.00 6.00 21.5 Dosis dan Frekuensi Pemberian Pakan Buatan Dosis Tiap Kali Frekuensi 6 Kali. Z 11 20 09.00 3. www.

larva udang windu lebih tahan dibandingkan dengan tingkatan post larva (PL). hal ini disebabkan oleh proses ganti kulit (moulting) pada larva lebih sering dan cepat terjadi sehingga bakteri filamen (leuconthrix mucor) tidak sempat terakumulasi dalam tubuhnya. disamping desinfeksi bak pemeliharaan serta menghindarkan keluar masuknya pekerja dari suatu hatchery lain. bakteri banyak menempel dibagian insang sehingga mengganggu pernapasan. Penyakit Bakteri Filamen Terhadap infeksi bakteri filamen. bakteri berkembang dengan cepat dan mengakibatkan kematian pada larva secara massal. Penggunaan obat-obatan seperti terramicin. 3. nafsu makan menurun dan akhirnya mengalami kematian. Selanjutnya. Akibatnya. Selain itu.terinfeksi dan tempat pemeliharaan larva merupakan salah satu pengendalian penyakit virus. meskipun antibiotik itu pada awalnya efektif. 2. choramphericol. Usaha pencegahan yang perlu dilakukan adalah perbaikan kualitas air. dan mengurangi stress (cekaman). Penyakit ini diduga disebabkan oleh bakteri vibrio luminescent serangan bakteri ini sering dikaitkan dengan adanya perubahan kondisi lingkungan sehingga larva menjadi stress. dalam arti bakteri merupakan penyebab timbulnya penyakit salah satu jenis penyakit bacterial yang akhir-akhir ini sering menimbulkan masalah pada larva udang windu disebut penyakit “bakteri menyala” atau “bakteri pasar malam”. Pengobatan yang dapat dilakukan antara lain pemberian furanace 1 ppm. formalin 25 ppm. cara yang lebih baik adalah usaha sanitasi. namun infeksinya bersifat oportunis. Namun. baik sebelum maupun pada saat pemeliharaan larva. disamping mengurai faktor cekaman (stress) dan kepadatan. Akan tetapi. dan KMnO 4 sebanyak 2 ppm. dan sebagainya. 22 . Dalam keadaan infeksi berat sering terjadi kematian akibat terjeratnya larva udang oleh benang- benang bakteri tersebut. Penyakit Bakteri Non-Filamen Meskipun penyakit bacterial sangat umum menyerang larva udang windu. penggunaan filter. mengurangi kepadatan. penanganan yang baik. dan furanace telah dikenal cukup efektif membasmi penyakit bakteri tersebut. penggunaan obat secara rutin dapat berdampak negative.

Tindakan yang sebaiknya dilakukan adalah memandikan induk udang dalam larutan Malachite Green 5 ppm selama 2 menit sebanyak 2-36 kali berturut-turut. setelah itu PL diseser dengan menggunakan saringan halus dan masukkan ke bak penampungan kemudian 23 . Larva yang terinfeksi sulit diobati sehingga hanya dapat diusahakan melalui pencegahan penyebaran fase infeksi parasit dengan cara pencucian bak pemeliharaan dengan klorin atau malachite green. 3. Penyebabnya adalah lagenidium sp. dimana pemanenan dilakukan pada saat udang memasuki PL 9. yaitu fase infeksi yang berenang bebas di air. larva penderita tampak dilakukan di hatchery. Terutama dari jenis spesies zoothamnium. 5.5. 4. Serangan penyakit protozoa ini biasanya terjadi bersama- sama dengan serangan organisme patogen lainnya. Panen dan Pasca Panen a. Serangan lagenadum sp dapat memusnahkan populasi larva udang windu dalam waktu 2-3 hari. Serangan jamur ini bersifat sistematik. Panen Menurut Wardiningsih (1999) panen merupakan salah satu tahap akhir dari pemeliharaan. atau menggunakan Treflan 0.01 ppm pada saat penggantian air dari desinfeksi bak pemeliharaan larva. misalnya bakteri filamen. Pada infeksi yang berat. Jamur ini biasanya menyerang larva pada stadium zoea dan mysis. Penularan jamur ini terjadi melalui zoospora. Penyakit Protozoa Penyakit protozoa pada larva udang windu pada umumnya disebabkan oleh golongan ciliate (Epicommonsel Peneitrichous cilintes). yakni dapat menyerang sampai kedalam tubuh larva udang windu. Zoospora juga terdapat pada artemia sehingga makanan alami larva tersebut juga menjadi sumber infeksi. Namun salah satu pencegahan yang efektif adalah penggunaan formalin dengan dosis 15 ppm – 25 ppm untuk larva dan 100 ppm – 250 ppm untuk desinfeksi bak pemeliharaan. Epystylis dan vorticella. Penyakit Jamur Penyakit Karena jamur merupakan kasus yang sering terjadi pada larva udang windu. Akibatnya. Waktu panen dilakukan pada pagi atau malam hari cara pemanenan ini cukup mudah yaitu pipa outlet bak dicabut dan disisipkan jaring yang luasnya sama dengan kotak penangkapan. terlihat seluruh permukaan tubuh larva ditempeli oleh parasit.

Pasca Panen Menurut Wardiningsih (1999) sebelum benih dimasukkan ke plastik untuk pengepakan terlebih dahulu diseser agar menyatu dan siap ditakar dengan menggunakan sendok takar. untuk mempertahankan suhu 22ºC selama diperjalanan dan terakhir Styrofoam ditutup rapat kemudian dibungkus dengan plastik. Air sebelum dimasukkan kedalam kantong terlebih dahulu diturunkan suhunya sampai 22ºC dengan es batu yang bertujuan menurunkan tingkat metabolisme udang. Perbandingan air dengan oksigen adalah 1:2. 24 . Untuk plastik ukuran 40x20 cm dengan volume air 2-3 liter air dibutuhkan 1 sendok takaran dan rata-rata jumlah perkantong adalah ± 5000- 7000 ekor. benur yang telah terkumpul dihitung jumlahnya. Hasil panen yang diperoleh selama satu siklus berkisar ± 1. b.800.dikasih artemia. Setelah benur udang windu di packing selanjutnya kantong-kantong plastik yang berisikan benur udang windu dimasukkan dan ditata ke dalam Styrofoam yang berisikan es.000 ekor benur per bak atau tingkat kelangsungan hidup (SR) 41%.

Tabung oksigen Untuk suplay oksigen saat pengepakan 8.1 Waktu dan Tempat Praktek Praktek Lapangan ini dilaksanakan di BBIP KAMPAL INSTALASI MAMBORO. di Kelurahan Mamboro Kecamatan Palu Utara Sulawesi Tengah berlangsung pada tanggal 21 April sampai dengan 21 Juni 2014. Tenda Menutup bak larva 15. Pipet hisap Untuk mengambil makanan dalam bentuk air 16. Thermometer Untuk mengukur suhu air 10. pupuk dan obat- obatan 9. milik dinas perikanan dan kelautan Provinsi Sulawesi Tengah.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam usaha pembenihan dapat dilihat pada table b6 berikut : Table 6. BAB IV METODOLOGI 4. Timbangan Menimbang pakan. Refraktometer Untuk mengukur salinitas air 11. Gayung Untuk menebarkan pakan 13. Generator Aliran listrik Sumber : (BBIP Kampal Instalasi Mamboro 2014) Bahan yang digunakan dalam kegiatan pembenihan udang windu terjadi pada tabel 7. 4. Beker glass Untuk mengontrol larva 14. 25 . Kelambu panen Untuk memanen benur 7. alat yang digunakan dalam kegiatan Pembenihan udang windu No Alat Kegunaan 1. Bak pemeliharaan larva Untuk pemeliharaan larva 3. Bak penampungan air asin Untuk menampung air asin 2. Bak plankton Untuk kultur alga 4. Blower Untuk suplay oksigen dalam bak 5. Ember plastik Wadah penampung pakan sebelum diberikan 12. Wadah pakan Tempat pakan 6.

Flake Tzu Feng 1 warna (FL-B) Pakan buatan fase mysis dan post larva 8. Fripak PL 300 Pakan buatan fase post larva 6. Lanzy MPL Pakan buatan fase post larva 4. Vit C -100 Sebagai Vitamin 14.3 Bidang Pekerjaan Kompetensi Keahlian 4. Fripak PL 150 Pakan buatan fase post larva 5. Lanzy ZM Pakan buatan fase mysis 3. Elbazen Sebagai Vitamin 13. EDTA Mengikat logam berat 18. Skeletonema Pakan alami fase zoea dan mysis 11.3. Treflan Untuk mencegah jamur 16.Tabel 7. Praize Untuk membantu moulting 15.1 Wadah Rumus volume bak = PxLxT =4Mx3Mx1M = 12 M³ = 12 Ton 26 . Artemia Pakan alami fase post larva 12. Solar dan Bensin Sebagai bahan bakar 19. Bahan yang digunakan dalam kegiatan Pembenihan Udang Windu No Alat Kegunaan 1. Japanikus (JP 1-2) Pakan buatan fase post larva 10. Nauplius Sebagai komoditas pemeliharaan 2. Plastik dan karet gelang Sebagai keperluan pengepakan Sumber : (BBIP Kampal Instalasi Mamboro 2014) 4. Kaporit Untuk sterilisasi bak pemeliharaan 17. Japanikus (JP-0) Pakan buatan fase zoea dan mysis 9. Flake Tzu Feng 2 warna (FL-A) Pakan buatan zoea 7.

Penyedota Air Laut Penyedotan atau pemompaan air laut dilakukan pada saat air laut pasang. Bak penampung induk Gambar 4. Pompa penyedotan air laut di CV. Bak Pemeliharaan Udang Windu Sebelum melakukan proses Pembenihan. dan pada ujung pipa paralon tersebut diberi kurungan kotak yang terbuat dari papan serta dilapisi saringan halus. guna untuk menyaring kotoran secara langsung dari laut. Pembersihan Bak b. Pembersihan Bak Langkah awal yang harus dilakukan sebelum memulai suatu produksi adalah membersihkan atau mencuci semua bak yang telah digunakan pada produksi sebelumnya. Bak tandon air laut . Hasil dari proses penyedotan air laut tersebut ditampung pada bak tandon air laut dan diaerasi ± 12 jam. Windu Amal Mandiri dengan menggunakan sumber tenaga mesin diesel. terlebih dahulu segala sarana pembenihan yang akan digunakan harus dipersiapkan salah satunya : a. adapun bak-bak yang harus dipersiapkan dan dibersihkan terlebih dahulu adalah sebagai berikut : . 27 . Bak pemeliharaan . serta pipa paralon yang berdiameter 3 inch sepanjang ± 600 m. Gambar 3.

Papan Papan terletak pada bagian paling bawah. Windu Amal Mandiri dilakukan 2x proses filterisasi. Pada setiap bak filter terdapat 4 buah sekat untuk proses penyaringan air laut. pada proses filterisasi arang diletakkan dibawah pasir setelah dipisahkan oleh saringan halus. Jumlah pemberian kaporit ini adalah 500 gram per 33. Ketebalan dari pasir ini adalah 12 cm. . Ketebalan dari arang ini adalah 12 cm. Proses treatmen menggunakan kaporit 15-30 ppm.7 ton air laut. Pasir (sand filter) Pasir adalah lapisan teratas yang digunakan untuk bahan dari proses filterisasi. Tujuan dari pemberian kaporit ini adalah untuk membunuh kuman atau mikro organisme yang berbahaya serta untuk menjernihkan air laut. Di hatchery mamboro terdapat 2 bak yang khusus digunakan ke media bak larva. berfungsi sebagai penyangga bahan-bahan filterisasi yang lain. c. kemudian di pompa ke bak filter guna air laut tersebut bebas dari bibit ikan dan jasad renik yang masih ada didalam air laut yang ditampung di bak tandon. Papan ini memiliki ketebalan 6 cm dan diberi lubang-lubang kecil sebagai tempat keluar masuknya air pada saat proses filterisasi. Setelah pemberian kaporit tersebut. Arang Arang berfungsi untuk mengikat kandungan logam berat dalam air. Saringan halus Saringan halus ini digunakan sebagai pemisah antara bahan filterisasi yang satu dengan yang lainnya. Proses Treatmen Sebelum digunakan untuk beroperasi. . Hasil akhir dari proses filterisasi tersebut ditampung pada suatu bak yang dinamakan dengan bak treatmen. . Di CV. bahan yang digunakan pada setiap sekatnya untuk penyaringan air laut dari tandon adalah : . media air laut hasil dari proses filterisasi perlu ditreatmen atau dinetralkan terlebih dahulu. d. air diaerasikan selama 24 jam 28 . Proses Filterisasi Air Laut Air laut yang telah ditampung ke bak tandon selama ± 24 jam.

. Lama aklimatisasi diusahakan 15-20 menit. maka penebaran nauplius sudah dapat dilakukan. maka perlu dilakukan aklimatisasi terhadap lingkungan yang baru. namun apabila air tersebut berwarna kuning kemerah-merahan maka air harus ditambahkan thiosulfat lagi secukupnya sampai air tersebut netral. Satu jam kemudian dari proses tersebut air diendapkan dengan EDTA 10 ppm dengan tujuan untuk mengikat logam berat.2 Larva Udang Windu a. Penebaran Nauplius Setelah persiapan bak selesai. Cara aklimatisasi nauplius adalah sebagai berikut : . kadar garam maupun kualitas airnya. lalu teteskan chlorine tes sebanyak 1-2 tetes. 4. lalu air laut tersebut di tes dengan chlorine tes. 29 . Apabila kadar garam air dalam bak telah sama dengan kadar garam dalam ember. Nauplius diperoleh dengan membeli langsung dari unit pembenihan (hatchery) di Makassar. padat penebaran nauplius dengan kapasitas air 10 ton.3. Memasukan air bak sedikit demi sedikit kedalam ember yang berisi nauplius selama 30 menit. Kemudian nauplius dikeluarkan secara perlahan-lahan. untuk mengetahui apakah air tersebut sudah benar-benar netral dari kaporit.kemudian di netralkan menggunakan thio sulfat 1/5 dari jumlah kaporit yang diberikan. Setelah proses tersebut air laut siap ditampung pada bak larva atau bak induk. apabila air sampel tersebut bening maka air tersebut siap dipakai. Cara untuk menggunakan chlorine tes ini adalah dengan cara pengambilan sampel air yang akan di tes sebanyak 10- 15 ml. Sebab kondisi air pada saat pengambilan nauplius dengan air dalam bak tidak sama baik suhu. Untuk menghindari kematian nauplius pada saat penebaran.

jaringan aerasi (pipa. Penebaran Nauplius 4.4 Pemeliharaan Larva Udang Windu 4.4. Setelah dibersihkan dan dilakukan sterilisasi. Gambar 5. yang sebelumnya air laut tersebut telah disaring terlebih dahulu dengan menggunakan kain satin (filter back) yang diikatkan pada ujung pipa pemasukan air. Bak yang akan digunakan untuk kegiatan pembenihan di keringkan terlebih dahulu selama beberapa hari baru kemudian dibersihkan untuk membuang kotoran serta lumut yang menempel pada bak. yang telah di larutkan ke dalam ± 15 liter air lalu disiramkan secara merata ke dinding-dinding atau dasar bak. Persiapan Bak Larva 30 . setelah itu disiram dengan air tawar dan kemudian bak dikeringkan selama ± 2- 3 hari. Untuk menghilangkan kotoran serta lumut yang menempel pada dinding bak dilakukan dengan cara menggosok dinding bak dengan menggunakan sikat. dan terpal untuk menutup bagian atas bak pemeliharaan nauplius. Kegiatan sterilisasi dilakukan dengan menggunakan kaporit dengan dosis 500-100 ppm. serta dilakukan juga sterilisasi untuk membuang kandungan asam yang terlalu tinggi karena bak yang telah lama tidak beroperasi.1 Persiapan Bak Larva Persiapan wadah pemeliharaan merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dalam usaha pembenihan udang windu. Gambar 6. selang dan batu aerasi). pengisian air dilakukan setelah bak telah bersih dan semua peralatan pendukung terpasang. pengisian air dilakukan sampai ketinggian mencapai 70-80 cm. selanjutnya dipasang peralatan pendukung seperti heater.

Penutup/terpal dibuka setengahnya pada pagi hari jam 07. penyiponan dilakukan apabila pada dasar bak banyak terdapat kotoran yang biasanya disebabkan oleh endapan sisa pakan.92 27 - Bak tower 7.01 29 28-30ºC Bak zoea 7.00) Tempat (bak) PH Salinitas Suhu PH Salinitas Suhu Air laut 8.98 29 - Bak treatmen 8.97 29 29-31ºC 31 . kemudian tutup kembali dengan penutupnya dan terakhir refraktometer dihadapkan kearah datangnya cahaya untuk dapat melihat hasilnya (angka salinitas ditunjukkan oleh garis pembatas warna biru).2 27 . Karena suhu <29ºC nafsu makan menjadi menurun atau proses metabolisme rendah. 7.00). salinitas dan ph di Hatchery BBIP Kampal Instalasi Mamboro.2 Pengolahan Kualitas Air Pemantauan kualitas air seperti suhu dan salinitas dilakukan tiap pagi (jam 08. 7.00-10. 4. 7. Pada awal tebar suhu pada air pemeliharaan adalah 29- 31ºC. pengukuran dilakukan dengan menetaskan 1-2 tetes air bak yang akan diukur.00) dan sore hari (jam 16.92 28 .1 27 . Untuk mempertahankan suhu pada air media digunakan heater 100 watt dan bak ditutup dengan menggunakan terpal untuk menjaga suhu agar tetap stabil dan untuk mencegah masuknya air hujan yang asam. Penyiponan dilakukan dengan menggunakan selang dan dilakukan secara perlahan-lahan agar kotoran tidak teraduk ke atas. pengukuran suhu dilakukan dengan menggunakan thermometer yang diletakkan dalam air pada bak. sedangkan pengukuran salinitas dilakukan dengan menggunakan refraktometer yang harus dikalibrasi atau dibersihkan dengan aquades sampai menunjukkan angka 0 ppt. Berikut adalah tabel hasil pengukuran suhu. serta menjaga fitoplankton agar tidak blooming.00 agar sinar matahari dapat masuk.05 28 28-30ºC 8.4.80 27 - Bak tandon 8. Untuk menjaga salinitas agar tetap stabil pergantian air harus dilakukan secara teratur dan kondisi salinitas tetap dipertahankan pada kisaran 25-29 ppt. Tabel 8.00) Sore (16. setelah benih udang mencapai stadia zoea suhu air dinaikkan yaitu 30-33ºC.87 28 29-31ºC 7. Hasil Pengukuran Kualitas Air Pagi (08.

.00 - 18. - Pada stadia awal larva udang windu yaitu stadia nauplius.00 09.00 15. mysis. Tabel 10.0 28 30-33ºC Post larva 8. Berikut disajikan dalam bentuk tabel.05 29 29-31ºC 4.3 Pemberian Pakan Setiap tekhnisi memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengatur waktu pemberian pakan larva udang windu. Bak mysis 7. Pemberian Pakan Tabel 9.4. Berikut adalah jadwal pemberian pakan yang dilakukan di hatchery mamboro. Gambar 7. Jadwal Pemberian Pakan Pakan Buatan Pakan Alami Obat-Obatan (antibiotik) 06. dan post larva.00 20.00 . - Zoea 1 .00 09. tidak diberi pakan karena pada stadia ini larva masih memiliki kuning telur yang melekat pada tubuhnya sebagai pakan. larva diberi pakan tambahan yaitu pakan alami dan pakan bantuan. Komposisi Pakan Alami dan Buatan Jenis Pakan Stadia Dosis Dosis Pakan Buatan Pakan Alami Konsentrasi Konsentrasi Nauplius . jenis.01 30 29-31ºC 7.00 12.00 - 02.91 29 30-33ºC 8. .Frippak # 1 car ½ ppm Skeletonema ½ kantong 32 . dosis pemberian pakan larva udang windu di hatchery mamboro. Pada saat stadia zoea.00 - 22.00 24.

sehingga diharapkan dengan pemberian pakan merata pertumbuhannya akan seragam.P. Treflan 1 ppm 33 . Untuk lebih jelasnya pemberian obat-obatan di hatchery mamboro berikut disajikan dalam bentuk tabel. Jenis dan Dosis Pemberian Obat-Obatan Stadia Antibiotik Konsentrasi Nauplius 6 Elbazine 1 ppm Zoea 1 OTC 2 ppm Mysis 1 OTC 2 ppm Mysis 3 Erytromycne 1 ppm PL 3 Erytromycne.Rotemia . .CD 2 .4 Pengendalian Hama dan Penyakit Pencegahan penyakit juga dilakukan pada larva udang windu dengan cara memberikan obat-obatan.Rotofier .0 1-2 ppm artemia 1 liter .Seastar Costatum Zoea 2 Spirulina 1 ppm Skeletonema 1 kantong .PL Jual No.P. dalam arti dapat diusahakan agar satu individu udang memperoleh bagian pakan yang sama dengan individu lainnya.4. 4. pemberian anti biotik ini bertujuan untuk membunuh virus/bakteri yang ada pada bak pemeliharaan larva. Japonicus Pl 1.Micromac 70 . Syarat dan mutlak untuk terpenuhnya pakan yang baik adalah penebaran secara merata.Frippak PL . Japonicus Costatum Mysis 1-3 No. Tabel 11. Pemberian pakan alami dan buatan ini dilakukan dengan cara penebaran secara merata kedalam bak larva agar tidak terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan. Japonicus Pada masa stadia zoea-mysis Pemberian pakan alami berupa (skeletonema costatum) dan pada stadia post larva pemberian pakan alami diganti dengan artemia.Micromac 30 Costatum .P.0 1-2 ppm Skeletonema ½ kantong .Micromac 30 .Rotemia Costatum Zoea 3 1 ppm Skeletonema 1 kantong .

Untuk jadwal pemberian obat-obatan ini tidak ditentukan secara pasti. Kemudian benur diambil menggunakan seser lalu dipindahkan ke wadah penampungan yaitu fiber ± 1 ton . Menyiapkan kantong plastik dan diisi air sebanyak 2 liter . maka tidak perlu diberikan obat- obatan. Menurunkan air dengan menggunakan selang . 4. Panen Larva a. batu. Melakukan penyamplingan dengan menggunakan sendok takaran untuk mengetahui jumlah benur yang akan dimasukkan dalam 1 kantong plastik .5 Panen dan Pasca Panen A. Persiapan alat dan bahan meliputi : Kelambu Panen (kain satin). Untuk jarak pengiriman yang jauh (± 5- 6 jam) membutuhkan air dan oksigen yaitu 1:2 . seser.6 Analisis Usaha Analisis usaha dalam bidang perikanan merupakan upaya untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan yang telah dicapai selama usaha perikanan itu berlangsung. Apabila kondisi larva udang windu baik. Ada beberapa macam bentuk penyajian analisis usaha yang bisa dipakai untuk menguji keuntungan analisis usaha antara lain analisis pendapatan usaha dan analisis imbangan penerimaan dan biaya ( Soeharto 1999). Sisa benur yang bersama kotorannya harus disipon. Kemudian kantong plastik diikat dengan menggunakan karet . selang pengikat dan selang besar . lalu benur akan terkumpul di kelambu panen . Prosedur Kerja . Pasca Panen b. Prosedur Kerja . Benur yang sudah ditakar dimasukkan kedalam kantong yang diberi oksigen. Pemasangan kelambu . 34 . 4. karena melihat kondisi dari larva udang windu tersebut. Mengeluarkan air melalui pembuangan pipa yang mengarah ke kelambu panen. Kemudian benur yang sudah dikantongi dikemas kedalam styrofoam lalu dibungkus menggunakan lakban. B.

berarti usaha tersebut menguntungkan (Umar. pendapatan usaha yang diperhitungkan untuk mengetahui untung atau tidak suatu usaha tersebut dapat diketahui dengan perhitungan R/C sebagai berikut : R/C Ratio = Revenue Cost Keterangan : R/C > 1 = Menguntungkan R/C < 1 = Tidak Menguntungkan R/C = 1 = Break Even (Impas) 35 . Rumus analisa laba rugi adalah : Analisa rugi/laba = total penjualan – total biaya  Analisa Rasio Hasil dan Harga (benefit cost ratio) Analisa ini diambil untuk mengetahui perbandingan hasil yang diperoleh terhadap suatu jumlah biaya yang dikeluarkan. Suatu usaha dikatakan menguntungkan jika benefit cost ratio lebih dari satu. BEP RP = Biaya Tetap 1-(Biaya Variabel/Total penerimaan)  Revenue Cost (R/C) Menurut Soekartawi (1986). titik impas menunjukkan bahwa tingkat produksi telah menghasilkan pendapatan yang sama besarnya (biaya produksi) yang dikeluarkan : Rumus yang digunakan sebagai berikut : a. Semakin besar nilai benefit cost ratio. perkuatal atau waktu lainnya (Soeharto 1999). 2003). B/C ratio = Total Penjualan Total Biaya  Analisa Break Event Point (BEP) Menurut Soeharto (1999). Analisis Laba Rugi Laporan laba rugi dapat dilihat besarnya keuntungan dan kerugian yang dialami oleh perusahaan pada kurun waktu pertahun. BEP Unit = Biaya Tetap Biaya Harga Jual – Biaya Variabel b.

Saran 1. 2. Alat pengecekan parameter kualitas air harus dilengkapi agar dapat mengontrol parameter air lainnya seperti PH dan salinitas 3. Persiapan bak larva yang dilakukan di hatchery menggunakan beberapa tahapan yaitu pembersihan bak. Pemindahan larva dilakukan apabila larva sudah memasuki stadia PL 3 dan dipindahkan ke bak pemeliharaan larva yang baru. Dalam proses pencucian bak seharusnya menggunakan chlorine atau detergen agar lebih steril dan terjamin kebersihannya. Hendaknya dilakukan tingkat kelangsungan hidup larva udang windu didalam bak. 36 . Hal ini dimaksudkan untuk memberikan air media yang bersih dan bebas dari kotoran 4. Pemberian pakannya sudah sesuai dengan dosis. mpl. 2.5 ppm. Kesimpulan Dari hasil Praktek Kerja Lapangan di hatchery Mamboro dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. 3. BAB 5 PENUTUP . Pengelolaan pakan cukup bagus dengan pemilihan pakan alami dan pakan buatan sebagai makanan larva udang windu. fripak. Pakan alami yang digunakan berupa skeletonema costatum dan artemia sedangkan pakan buatan menggunakan flake. dan lain-lain. Bak pemeliharaan larva sudah dipersiapkan sebaik mungkin sehingga mampu memenuhi kebutuhan bagi kehidupan naupli udang windu. waktu dan frekuensi yang tepat sehingga tidak mempengaruhi kualitas air media pemeliharaan larva. . Pengendalian penyakit pada larva udang windu menggunakan treflan 0. penggosokan dan pengeringan bak.

go. Manajemen proyek dari konseptual sampai operasional. I.dkp. Biologi udang windu dan morfologi (penaeus monodon) DKP.Dra 2005. Jakarta 37 . Penebar Swadaya. PT. 2012. 1999. Jakarta Mujiman Ahmad dan Suyanto rachmatun S. Petunjuk Praktis pembenihan Udang Windu (Peneaus monodon) skala rumah tangga.id Darmono dan Sutaman. dkk 1986. Yogyakarta Soeharto. 2012. http. Erlangga Jakarta halaman 394-436 Soekartawi. 1993. Penerbit kanisius. Jakarta Wardiningsih.//www. 1999. Teknik budidaya air payau. Ilmu usaha tani dan penelitian untuk Pengembangan Petani Kecil Penerbit universitas Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Anonim. budidaya udang windu. Universitas terbuka. Materi pokok teknik pembenihan udang windu.

Lampiran 01. Pakan dan Obat-Obatan 38 .

Do meter (oksigen terlarut) . Alat ukur parameter kualitas air : . Ph meter (Ph air) . Refrakto meter (salinitas) 39 .Lampiran 02.

Proses Penakaran Obat-Obatan 40 .Lampiran 03.

Bak Skeletonema Costatum 41 .Lampiran 04.

Lampiran 05. Bak Artemia Salina 42 .