You are on page 1of 24

TUGAS KHUSUS

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

PEMANTAUAN TERAPI OBAT PADA PASIEN
PNEUMONIA PADA GERIATRI
DI RUMAH SAKIT UMUM PERSAHABATAN
PERIODE 05 SEPTEMBER – 31 OKTOBER 2016

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat
Memperoleh Gelar Apoteker
Program Studi Profesi Apoteker

Disusun Oleh

YONA AULIA, S. Farm 1543700299

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER ANGKATAN XXXVI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 JAKARTA

2017

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan pada Tuhan Yang Maha Esa atas pertolongan dan
karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan LaporanPraktek Kerja Profesi
Apoteker (PKPA) di Rumah Sakit Umum Persahabatan Jakarta Timur. PKPA ini
merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelarApoteker di Universitas 17
Agustus 1945, agar setiap calon Apoteker mendapatkan pengetahuan dan gambaran
yang jelas mengenai peran apoteker di Rumah Sakit Ucapan terima kasih tak
terhingga disampaikan kepada Ibu Tri Kusumaeni, S.Si. M.Pharm,Apt. sebagai
pembimbing di Rumah Sakit Umum Persahabatan dan Ibu Jenny Pontoan,
M.Farm.,Apt. sebagai pembimbing di Universitas 17 Agustus 1945 yang telah
meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan dukungan moril serta saran
selama pelaksanaan PKPA di Rumah Sakit Umum Persahabatan Periode September
– Oktober 2016.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada :
1. Bapak Dr. Hasan Rachmat, M.DEA., Apt selaku Dekan Farmasi
Universitas 17 Agustus 1945.
2. Ibu Okpri Meila, M.Farm., Apt Apt selaku Ketua Program Studi Profesi
Apoteker Universitas 17 Agustus 1945.
3. Seluruh pegawai Rumah Sakit Umum Persahabatan yang telah membantu
PKPA selama di rumah sakit.
4. Seluruh staf pengajar Program Profesi Apoteker Universitas 17 Agustus
1945.
5. Kedua Orang Tua tercinta, kakak, adik, serta keluarga atas doa, kesabaran,
bimbingan, dukungan moral, materi, serta kasih sayang.
6. Teman-teman Mahasiswa/i Apoteker angkatan XXXVI serta semua pihak
yang telah memberikan segala bantuan dalam penyusunan laporan PKPA
ini.
7. Seluruh pihak yang telah banyak membantu penyusun dalam penulisan
Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Departemen Farmasi Rumah
Sakit Umum Persahabatan. Kami menyadari bahwa laporan ini. masih

ii

Semoga laporan ini dapat mem berikan manfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya dunia kefarmasian. oleh karena itu diperlukan kritik dan saran dari pembaca yang membangun demi penyempurnaan laporan ini.jauh dari sempurna. Februari 2017 Penyusun iii . Jakarta.

..................................................................................................................................................................20 iv .................................. Kesimpulan ........................................................................................16 BAB III PEMBAHASAN ..................................................13 C......................................... Data Penggunaan Obat.........3 A.......................................... Catatan Perkembangan klinis Pasien .......................................... Tujuan dilakukan PTO ...................................................................... Latar Belakang .................................. Penatalaksanaan Pengobatan Pneumonia .. Etiologi Pneumonia .............................................................................................................................................................. ...................................................6 B............................................ Uraian Obat.......................................................4 3.................................................................................................................10 C............ ........................................................................18 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN............................17 G........................1 B......................... Identitas Pasien ..........3 2 ......................................... Rincian Obat .ii DAFTAR ISI ............................................2 BAB II..................................................................3 1.............. Pneumonia .............19 A.................................8 2................ TINJAUAN KASUS ...13 D.............................................................................................................................................. Saran .................................................... Patofisiologi Tumor Paru ...........................................................12 A...........................1 A...12 B.................. Tumor Paru ............................................................................. TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................................................................................... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .....10 BAB III.........................................................................14 E. Pemeriksaan Laboratorium .... Etiologi Tumor Paru ..........................7 1................ HALAMAN PENGESAHAN .....................................................................................iv BAB I PENDAHULUAN ...... Daftar Masalah Terkait Obat DRP .......................19 B...........................Patofisiologi Pneumonia ..................................................................... Tanda Vital ..................15 F...................................19 DAFTAR PUSTAKA ..........................

BAB I PENDAHULUAN A. 48% dirawat akibat penyakit infeksi dan 46% dari penyakit infeksi tersebut penyebabnya adalah infeksi saluran napas bawah (ISNB).44 kasus per 1000 penduduk setiap tahun. American Lung Association. Pada orang-orang yang tinggal di rumah sendiri insidens pneumonia berkisar antara 25-44 per 1000 orang dan yang 1 . Usia lanjut dengan pneumonia komunitas memiliki derajat keparahan penyakit yang tinggi. yaitu sekitar 15% . Pneumonia merupakan penyebab kematian nomor lima pada usia lanjut. 2015). tidak termasuk Mycobacterium tuberculosis. Kematian yang diakibatkan oleh ISNB dilaporkan berjumlah 48%. jamur. Rata- rata kasus rawat inap akibat pneumonia adalah 23. bahkan dapat mengakibatkan kematian (PDPI. dan sekitar 70% kasus pneumonia di rumah sakit terjadi pada lansia. dengan 81. Kejadian pneumonia cukup tinggi di dunia. Latar Belakang Pneumonia didefinisikan sebagai suatu peradangan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri. Usia lanjut merupakan risiko tinggi untuk pneumonia. Insiden pneumonia komunitas akan semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia. 4 juta orang berumur lebih dari 65 tahun dir awat di rumah sakit. Penderita pneumonia komunitas usia lanjut memiliki kemungkinan lima kali lebih banyak untuk rawat inap dibandingkan dengan penderita pneumonia komunitas usia dewasa.2% kasus terjadi pada usia lanjut . Pneumonia dan influenza terdaftar sebagai urutan ke 6 dari penyebab utama kematian.20% . Data dari The National Hospital Discharge Survey di amerika serikat menunjukan bahwa diantara tahun 1990 hingga 2002 terdapat 21.1 per 1000 pada pria berusia 75- 84 tahun dan 13.3 pr 1000 pada perempuan berumur 75-84 tahun. Salah satu kelompok berisiko tinggi untuk pneumonia komunitas adalah usia lanjut dengan usia 65 tahun atau lebih (American Lung Association. parasit). Pada usia lanjut angka kejadian pneumonia mencapai 25 . 2015). 2014. hal ini juga tergantung pada keadaan pejamu dan berdasarkan tempat mereka berada.

dengan risiko enam kali lebih tinggi pada pasie dengan usia ≥ 75 tahun dibandingkan dengan mereka yang berusia < 60 tahun. Selain itu. b. Tujuan dilakukan PTO Tujuan dilakukan Pemantauan Terapi Obat.5% (Kementerian Kesehatan RI.6% (PDPI. dengan proporsi kasus 53. 2013). B. 2009). Pneumonia memiliki tingkat crude fatality rate (CFR) yang tinggi. Studi epidemiologi telah menunjukan insiden dari pneumonia meningkat bersamaan dengan bertambahnya umur. Di rumah sakit pneumonia usia lanjut insidensnya tiga kali lebih besar daripada penderita usia muda. adalah untuk: a. Memberikan intervensi bila ditemukan masalah dalam pengobatan. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Sedangkan pasien yang memerlukan perawatan di Intensive Care Unit (ICU) memiliki rata-rata angka kematian yang berkisar antara 45-57% (Halter JB.05% perempuan. Mengidentifikasi ada tidaknya masalah dalam terapi pengobatan yang sedang dilakukan.tinggal di tempat perawatan 68-114 per 1000 orang. Pneumonia komunitas adalah penyebab utama kesakitan dan kematian pada lansia.95% laki-laki dan 46. Di Indonesia. 2 . yaitu 7. prevalensi kejadian pneumonia pada tahun 2013 sebesar 4.5% (Kementerian Kesehatan RI. pneumonia merupakan salah satu dari 10 besar penyakit rawat inap di rumah sakit. 2013). 2014). prevalensi pneumonia pada usia lanjut mencapai 15. Rata-rata angka kematian pada pasien dengan pneumonia komunitas yang membutuhkan perawatan dirumah sakit adalah sekitar 6-15%.

10 Perubahan anatomi fisiologi akibat proses penuaan memberi konsekuensi penting terhadap cadangan fungsional paru. Sekali mikroorganisme patogen berada di alveolus. masuk dalam lima besar penyebab kematian terkait infeksi. Sedangkan pneumonia di rumah sakit banyak disebabkan bakteri Gram negatif dan pneumonia aspirasi banyak disebabkan oleh bakteri anaerob. imunitas yang melemah dan faktor usia sangat kompleks. kemampuan untuk mengatasi penurunan komplians paru dan peningkatan resistensi saluran napas terhadap infeksi. Etiologi Pneumonia Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme. sedangkan gejala klasik pneumonia sering tidak didapatkan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. parasit). Akhir-akhir ini laporan dari beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa bakteri yang 3 . Angka kejadian tahunan pneumonia pada pasien geriatri diperkirakan mencapai 25–44 kasus per 1000 penduduk. Sejumlah faktor meningkatkan risiko infeksi pada pasien geriatri. akan dilepaskan mediator pro inflamasi dan respons inflamasi terpicu sehingga menimbulkan manifestasi klinis (CDK-212/ Vol. yaitu jatuh dan bingung. Proses penuaan sistem organ (di antaranya sistem respirasi. tidak termasuk Mycobacterium tuberculosis. Dari kepustakaan pneumonia komuniti yang diderita oleh masyarakat luar negeri banyak disebabkan bakteri Gram positif. jamur dan protozoa. Karakteristik dominan pneumonia pada pasien geriatri adalah presentasi klinisnya yang khas. jamur. PNEUMONIA Pneumonia didefinisikan sebagai suatu peradangan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme (bakteri. sistem imun. virus. yaitu bakteri. 40) 1. Pneumonia dapat menjadi salah satu masalah kesehatan utama pada geriatri. interaksi antara factor-faktor risiko berupa komorbiditas. sistem pencernaan) dan faktor komorbid banyak berperan pada peningkatan frekuensi dan keparahan pneumonia pasien geriatri.

ditemukan dari pemeriksaan dahak penderita pneumonia komuniti adalah bakteri Gram negative (PDPI. Gangguan respons pengaturan suhu terkait proses penuaan meliputi gangguan respons simpatoneural . Kemudian clearance mukosiliar menjadi tertekan atau terhambat dan epitel bronkial menjadi terluka dipicu oleh mediator inflamasi dalam proses patogenik. Pneumonia Komuniti). Pertambahan usia. 2. Selain itu. kemudian berkelanjutan dan mengarah pada reaksi adaptasi yang merupakan proses homeostasis abnormal. disfungsi makrofag alveolar serta menjadikan produksi antibodi berkurang (Koda Kimble). melemahnya imunitas. Hal tersebut menyebabkan pengurangan kemotaksis granulosit.Sistem imunitas humoral tergantung pada keutuhan fungsi limfosit B. Tahap paling akhir terjadi kematian sel.vasomotor yang terjadi bersama gangguan produksi panas tubuh dan gangguan persepsi suhu. mungkin merupakan homeostasis normal. Pasien geriatri memiliki banyak gangguan sistemik yang dapat mengganggu fungsi limfosit B sehingga menurunkan produksi antibodi. Selain itu suhu basal tubuh pada lanjut usia lebih rendah dibanding pada dewasa muda. kelainan kardiopulmoner secara langsung mempengaruhi penurunan fungsi jantung dan paru. Kelainan sistem saraf pusat dan refleks muntah juga turut berperan mengakibatkan pneumonia aspirasi. stroke atau kejang. Pada tingkat awal. Setelah bakteri mencapai pohon trakeobronkial. Patofisiologi Pneumonia Mekanisme patogenesis dalam penyakit pneumonia berawal dari terhirupnya droplet bakteri. pertahanan paru lokal menurun dan menyebabkan infeksi. gangguan respons pengaturan suhu dan berbagai derajat kelainan kardiopulmoner. leukopenia. menyebabkan perubahan anatomi fisiologi tubuh. Pasien geriatri lebih mudah terinfeksi pneumonia karena adanya gangguan reeks muntah. ditambah dengan faktor lingkungan. Salah satu sistem organ yang mengalami perubahan anatomi fisiologi adalah sistem pernapasan. Aspirasi oropharingeal atau lambung dapat menginfeksi pasien dengan penyakit neuromuscular. Gangguan ini juga menjadi faktor predisposisi infeksi mikroorganisme patogen yang merupakan penyebab umum pneumonia 4 .

Community acquired pneumonia (CAP) Merupakan pneumonia yang didapat di luar rumah sakit atau panti jompo. biasanya dijumpai bakteri enterik yang lebih bandel seperti Citrobacter sp.coli. bakteri atypical. Nosokomial Pneumonia Merupakan pneumonia yang didapat selama pasien di rawat di rumah sakit. Enterobacter sp. di samping bakteri pada pasien dewasa. maupun pasien dengan gangguan refleks menelan. Serratia sp. mediator proinl amasi akan dilepaskan dan respons inl amasi terpicu sehingga menimbulkan manifestasi klinis. Patogen yang menginfeksi pada Community Acquired Aspiration Pneumoniae adalah kombinasi dari flora mulut dan flora saluran napas atas. Pseudomonas aeruginosa merupakan pathogen yang kurang umum dijumpai. c. virus influenza. namun sering dijumpai pada pneumonia yang fulminan... bakterial. Chlamydia pneumoniae. Sekali mikroorganisme patogen berada di alveolus. Pada anak-anak patogen yang biasa dijumpai sedikit berbeda yaitu adanya keterlibatan Mycoplasma pneumoniae. yakni meliputi 5 . influenzae. H. Pneumonia Aspirasi Merupakan pneumonia yang diakibatkan aspirasi sekret oropharyngeal dan cairan lambung. Pada pasien yang sudah lebih dulu mendapat terapi cefalosporin generasi ke-tiga. Biasanya adalah bakteri enterik golongan gram negatif batang seperti E. Staphylococcus aureus khususnya yang resisten terhadap methicilin seringkali dijumpai pada pasien yang dirawat di ICU. Klebsiella sp. Ditinjau dari asal patogen.. respiratory syncytial virus (RSV). Proteus sp. Patogen yang umum terlibat adalah bakteri nosokomial yang resisten terhadap antibiotika yang beredar di rumah sakit. Patogen umum yang biasa menginfeksi adalah Streptococcus pneumonia. Pneumonia jenis ini biasa didapat pada pasien dengan status mental terdepresi. b. maka pneumonia dibagi menjadi tiga macam yang berbeda penatalaksanaannya: a.

Setelah bakteri pathogen diketahui. Penatalaksanaan Pengobatan Pneumonia Penatalaksanaan pneumonia yang disebabkan oleh bakteri sama seperti infeksi pada umumnya yaitu dengan pemberian antibiotika yang dimulai secara empiris dengan antibiotika spektrum luas sambil menunggu hasil kultur. Sedangkan evaluasi mikrobiologis dilaksanakan dengan memeriksa kultur sputum (hati-hati menginterpretasikan hasil kultur. khususnya pada pasien dengan pneumonia yang fulminan. Gambaran adanya infiltrate dari foto x-ray merupakan standar yang memastikan diagnosis. hasil pemeriksaan laboratorium dan mikrobiologis. serta pemeriksaan Gas Darah Arteri (Blood Gas Arterial) yang akan menentukan keparahan dari pneumonia dan apakah perlu-tidaknya dirawat di ICU. Pneumonia didiagnosis berdasarkan tanda klinik dan gejala. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya leukositosis dengan “shift to the left”. Streptococci anaerob. aureus + anaerob. 6 . karena ada kemungkinan terkontaminasi dengan koloni saluran pernapasan bagian atas). Pemeriksaan mikrobiologis lainnya yang lazim dipakai adalah kultur darah. Sedangkan pada Nosocomial Aspiration Pneumoniae bakteri yang lazim dijumpai campuran antara Gram negatif batang + S. antibiotika diubah menjadi antibiotika yang berspektrum sempit sesuai patogen. evaluasi foto x-ray dada. 3.

Dalam pengertian klinik yang dimaksud dengan kanker paru primer adalah tumor ganas yang berasal dari epitel bronkus (karsinoma bronkus = bronchogenic carcinoma). TUMOR PARU Lebih dari 90% tumor paru primer merupakan tumor ganas. Kanker paru adalah semua penyakit keganasan di paru. dan sekitar 95% tumor ganas ini termasuk karsinoma bronkogenik. Gambar 1. mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri (primer). 7 . Rekomendasi antibiotika untuk CAP (Dhar Raja. 2012) B.

2005). Rokok 8 . Faktor risiko utama kanker paru adalah merokok. Selain itu. silika.94%). Di Amerika Serikat. Berdasarkan data WHO. diperkirakan terdapat sekitar 213. rokok merupakan 80% penyebab kanker paru pada laki-laki.63%) dan merupakan penyebab kematian akibat kanker terbanyak pada pria (28. Merokok Menurut Van Houtte merokok merupaka faktor yang berperan paling penting yaitu 85% dari seluruh kasus (Wilson. namun meningkat sampai dengan usia 70 tahun. Insidens kanker paru rendah pada usia di bawah 40 tahun.4%) setelah kanker nasofaring (13.380 kasus baru pada tahun 2007 dan 160. dan lain-lain) (Kemenkes RI. Etiologi Tumor Kanker paru merupakan penyebab utama keganasan di dunia.390 kematian akibat kanker paru. bronkus dan paru merupakan keganasan terbanyak kedua pada pria (13. dan 50% pada perempuan. a. Secara umum. Data hasil pemeriksaan di laboratorium Patalogi Anatomi RSUP Persahabatan kanker paru merupakan lebih dari 50 persen kasus dari semua jenis kanker yang didiagnosa. kanker paru merupakan kasus terbanyak pada laki-laki dan nomor 4 terbanyak pada perempuan tapi merupakan penyebab kematian utama pada laki-laki dan perempuan. Faktor lain adalah kerentanan genetik (genetic susceptibility). kanker paru merupakan jenis kanker terbanyak pada laki-laki di Indonesia. polusi udara.1. dan terbanyak kelima untuk semua jenis kanker pada perempuan Kanker paru juga merupakan penyebab kematian akibat kanker terbanyak pada laki-laki dan kedua pada perempuan. Dibawah ini akan diuraikan mengenai faktor resiko penyebab terjadinya tumor paru. 2016). pajanan radon dan pajanan industri (asbestos. kanker paru juga menyebabkan 1/3 dari seluruh kematian akibat kanker pada laki- laki. mencapai hingga 13 persen dari semua diagnosis kanker. Data registrasi kanker Rumah Sakit Dharmais tahun 2003-2007 menunjukkan bahwa kanker trakea. Hasil penelitian berbasis rumah sakit dari 100 RS di Jakarta.

Polusi udara Kematian akibat tumor paru jumlahnya dua kali lipat lebih abnyak di daerah perkotaan dibandingkan dengan di daerah pedesaan. resiko menderita tumor paru meningkat dua kali (Wilson. 2010) b. lamanya kebiasaan merokok. selenium. Kejadian tumor paru pada perokok dipengaruhi oleh usia mulai merokok. 9 . e. 2006). Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa pada orang-orang yang tidak merokok. d. Diet Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi terhadap betakarotene. dan lamanya berhenti merokok (Stoppler. Genetik Terdapat bukti bahwa anggota eluarga pasien tumor paru berisiko lebih besar terkena penyakit ini. Bukti statistik juga menyatakan bahwa penyakit ini lebih sering ditemukan pada masyarakat dengan kelas tingkat sosial ekonomi yang lebih rendah cenderung hidup lebih dekat dengan tempat pekerjaan mereka. menyebabkan tingginya resiko terkena tumor paru (Amin. tetapi mengisap asap dari orang lain. mengandung lebih dari 4000 bahan kimia diantaranya telah diidentifikasi dapat menyebabkan kanker. bereriko terjadinya tumor paru. 2005). Penelitian sitogenik dan genetik molekuler memperlihatkan bahwa mutasi pada protoonkogen dan gen-gen penekan tumor memiliki arti penting dalam timbul dan berkembangnya tumor paru. atau mengisap asap rokok yang ditemukan oleh orang lain di dalam ruang tertutup. Suatu karsinogen yang ditemukan dalam udara polusi juga ditemukan pada asap rokok. Tempat udara kemungkinan besar lebih tercemar oleh polusi. dan vitamin A. c. Perokok pasif Semakin banyak orang yang tertarik dengan hubungan antara perokok pasif. jumlah batang rokok yang dihisap setiap hari. Tujuan khususnya adalah pengaktifan onkogen dan menonaktifkan gen-gen penekan tumor.

Patofisiologi Tumor Paru Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/sub bronkus menyebabkan cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. hemoptysis. hyperplasia. dan displasia menembus ruang pleura. reaksi intoleran terhadap ambroxol. Penyakit paru Penyakit paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif kronik juga dapat menjadi resiko tumor paru. wheezing unilateral dapat terdengar pada auskultasi. Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Seseorang dengan penyakit paru obstruktif kronik beresiko empat sampai enam kali lebih besar terkena tumor paru. demam. dinding esofgus. tablet 30 mg oral. pembengkakan wajah. demam. tulang rangka. pericardium. 30 mg/5 ml. Pada stadium lanjut penurunan beratbadan biasanya menunjukkan adanya metastase. dan displasia. Uraian Obat Nama Obat Keterangan Ambroxol Indikasi : sebagai sekretolitik pada gangguan saluran napas akut dan kronis. dispneu. Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap ambroxol Efek samping : Jarang dilaporkan terjadi efek samping. dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus vertebra. 2. hyperplasia. Gejala-gejala yang timbul dapat berupa batuk. Bila lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia. Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus diikuti dengan supurasi dibagian distal. Dosis : sirup 15 mg/5 ml. dan dingin. Tumor paru dapat bermetastase ke struktur-struktur terdekat seperti kelenjar limfe. khususnya pada hati. saluran cerna. Khususnya pada eksaserbasi bronchitis kronis dan bronchitis asmatik. biasanaya akan timbul efusi pleura. jika pun ada berupa. f. 3. Dengan adanya pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasi. dispepnea. 10 . otak.

alopepsia. pusing. lesi lambung dan duodenum. kram. Bentuk sediaan : Tablet Salbutamol Indikasi : Asma dan kondisi lain yang berkaitan dengan obstruksi saluran napas yang reversible. Kontraindikasi: pasien dengan riwayat gangguan tendon yang disebabkan penggunaan obat gol kuinolon. sakit kepala pusing. gangguan penglihatan. dispepsia episodik kronis.2x sehari selama 7 sampai 14 hari. sakit kepala. community-acquired pneumonia. refluks esofagitis. hiperglikemi. dosis untuk lansia dan pasien sensitive dosis awal pemberian 2mg 3 sampai 4 x sehari Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap obat dan komponen obat Efek samping : sakit kapala. agitasi. takikardi. tiroksikosis.. gangguan tidur. kehaamilan dan menyusui. lemah. Tukak lambung dan tukak duodenum. Bentuk sediaan : Tablet dan Injeksi Levofloxacin Indikasi : Infeksi karna mikroorganisme yang sensitive seperti acute maxillary sinusitis. pusing. hiperkalemi. tremor. gangguan kardiovaskular. gangguan saluran cerna. hipotensi. binggung. acute bacterial exacerbation of chronic bronchitis.pylori pada tukak peptic. pada pasien yang menggunakan stimulant adrenoreseptor beta-2. Bentuk sediaan : Tablet Omeprazole Indikasi : Tukak lambung dan tukak duodenumyang terkait dengan AINS. Pada pengguna jangka panjang perlu diperhatikan adanya pertumbuhan bakteri yang berlebihan di saluran cerna Bentuk sediaan : kapsul dan injeksi Ranitidin Indikasi :. Efek samping : Diare. Dosis : 20 mg 1 x sehari selama 4 sampai 8 minggu Kontraindikasi : Penderita yang hipersensitif terhadap omeprazole. penyakit jantung iskemi. Peringatan : ambroksol dapat digunakan selama hamil dan menyusui jika memang benar-benar diperlukan. regimen H. Dosis : Oral 500 mg 1. tukak akibat AINS. dispepsia. hipertensi berat. takikardi. Peringatan : Asma yang diterapi dengan stimulant adrenoreseptor beta 2 yang menerima antiinflamasi kortikosteroid. maksimal dosis tunggal 8mg. gagal jantung. Bentuk sediaan : Tablet salut selaput 11 . atau 300mg 1x sehari selama 4 sampai 8 minggu diminum pada malam hari Kontraindikasi : Penderita yang diketahui hipersensitif terhadap ranitidine Peringatan: Hati-hati pada pasien dengan gangguan ginjal. agitasi. Efek samping : Omeprazole umumnya dapat ditoleransi dengan bail. nyeri lambung. Dosis : 150mg 2x sehari 4 sampai 8 minggu. Dosis : 4mg 3 sampai 4x sehari. mual. refluks esophagitis. palpitasi. ruam dan rasa letih. Pada dosis besar dan penggunaan yang lama kemungkinan dapat menstimulasi sel ECL. Efek samping : Mual. muntah.

mual. Tumor pada Diagnosa Masuk paru kiri Anamnesa : Pasien datang dengan keluhan sesak nafas semenjak 2 bulan SMRS dan memberat sejak 3 hari SMRS. Manggarai utara II Status : Menikah Agama : Islam Ruang : Soka Atas Tanggal Masuk RS : 06 Oktober 2016 Tanggal Pindah Ruang Rawat : 20 Oktober 2016 : Pneumonia pada geriatric. demam. Identitas Pasien Nama Pasien : Ny. batuk berdahak. J RM : 02269006 Jenis Kelamin : Perempuan Umur : 63 tahun Tanggal Lahir : 05 Desember 1953 Alamat : Jl. batuk. BAB III TINJAUAN KASUS A. Riwayat penyakit sebelumnya : Sesak nafas. dan keringat malam. magh Keluhan Utama : Sesak nafas. 12 .

. .5 36 36.B. Catatan Perkembangan Klinis Perkembangan Klinis Pasien Keluhan Pasien 06/10 07/10 08/10 09/10 11/10 12/10 13/10 14/10 15/10 16/10 17/10 18/10 19/10 20/10 Mual              Nyeri ulu hati              Pusing              Batuk              Sesak Nafas         .6 36 36 Pernafasan 24 22 30 24 20 20 20 20 20 20 20 20 24 20 SPO2 97 99 97 98 98 97 98 97 98 98 98 97 97 97 C. Tanda Vital Hasil Pemeriksaan Tanda-tanda Vital Data Klinik 06/10 07/10 08/10 09/10 10/10 11/10 12/10 13/10 14/10 15/10 16/10 17/10 18/10 19/10 Tekanan darah 127/80 108/70 120/80 110/80 110/70 120/80 120/80 110/70 100/70 110/70 110/70 120/80 110/70 110/70 Nadi 110 90 90 98 92 88 88 92 90 92 101 92 92 92 Suhu 36.2 37.5 36 36 36 36 36 36. : Keluhan Sudah berkurang 13 . . - Udem              Ket:  : Keluhan masih diraskan  : Tidak ada Keluhan .

50 MCV/VER 79.66 H 15. D.2 25 27-31 MCHC/KHER 31.6 4.5-14.2 H 52-76 Limfosit 7L 20-40 Monosit 8.6 0.49 4.6-1.6 31.50-5.5 Trombosit 641 H 564 H 556 H 150-400 Leukosit 15.9 82-92 MCH/HER 25. 14 . J menderita adenocarsinoma pada paru bagian kiri.7 32-36 RDW-CV 14.3 L 11.8 36.3 8 2-8 SGOT 12 5-34 SGPT 17 0-55 Ureum 13 18-55 Kreatinin 0.9 3.7 0-1 Neutrofil 81 H 82 H 82. 2011) Pada tanggal 19 hasil laboratorium dari pemeriksaan Histopatologi disimpulkan pasien Ny.2 3.3 40-48 Eritrosit 4.88 H 17. Pemeriksaan Laboratorium Tanggal Pemeriksaan Hasil Lab Nilai Rujukan 5 Oktober 10 Oktober 14 Oktober Haemoglobin 11.4 0. 2011)  Penurunan Natrium indikasi adanya Hiponatremia (Kemmenkes.2 Natrium 131 L 137 135-145 Kalium 4.00 Klorida 98 100 98-107 Implikasi Klinis:  Peningkatan Leukosit indikasi adanya Infeksi (Kemmenkes. 2011)  Peningkatan Neutrofil indikasi adanya Infeksi Bakteri dan Parasit (Kemmenkes.5 L 13-16 Hematokrit 35.7 78.07 H 5-10 Basofil 0.50-5.6 11.

Data Penggunaan Obat TANGGAL PEMBERIAN OBAT 06/10 07/10 08-Oct 09/10 10/10 11/10 12/10 13/10 14/10 Nama Obat Dosis P S S M P S S M P S S M P S S M P S S M P S S M P S S M P S S M P S S M CaCO3 2x1                   Ambr oxol 3x1 T T T  T  T  T T T T  T  T  T T T T Salbutamol 3x2      T S T O P Omeprazole 2x20 mg                  Salbutamol 3x ½ tab      T        T T  Ranitidine 2x1 amp                 Levoflixacin 1x750mg          TANGGAL PEMBERIAN OBAT Nama Ket: : Obat diberikan 15/10 16/10 17/10 18-Oct 19/10 20-Oct Obat dosis P S S M P S S M P S S M P S S M P S S M P S S M T: Tab CaCO3 2x1            : STOP Ambroxol 3x1 T T    T   T Omeprazole 2x20 mg            Salbutamol 3x ½ tab               Ranitidine 2x1 amp      T T Levoflixacin 1x750mg    Pada tanggal 20 Pasien dipindah keruang rawat Dahlia 15 . E.

Sebagai sekretolitik pada gangguan saluran Dewasa dan anak diatas 12 tahun 1 tablet (30mg) 2- Ambroxol meningkatkan pembersihan sekresi yang tertahan pada nafas akut dan kronis khususnya eksaserbasi 3 kali sehari. atau 300mg pada reseptor H2 dan mengurangi sekresi asam lambung.2017) ginjal dan untuk hiperposphatemia 16 . refluks esophagitis. Rincian Obat Nama Obat Mekanisme Kerja Obat Indikasi Dosis Ambroxol Ambroxol mempunyai sifat mukokinetik dan sekretolitik.2x sehari selama 7 sampai 14 hari. regimen H. 150mg 2x sehari 4 sampai 8 minggu. duodenum.pylori pada tukak peptic. mengencerkan dahak asma bronkial (IONI. memudahkan bronkitis kronik dan bronkitis asmatik dan sehari. hal 65) Levofloxacin Mekanisme kerja dari Levofloxacin adalah melalui penghambatan Pneumonia Oral 500 mg 1. dosis untuk lansia dan pasien sensitive dosis awal pemberian 2mg 3 sampai 4 x sehari (BNF 70. hal 429). hal 66) dari sel parietal lambung. hal 222) Omeprazole Menghambat sekresi asam lambung dengan cara menghambat Tukak lambung dan tukak duodenumyang 20 mg 1 x sehari selama 4 sampai 8 minggu (BNF system adenosine trifosfatase hydrogen kalium (pompa proton) terkait dengan AINS. dengan obstruksi saluran nafas. refluks esofagitis. 2008 hal 225) Salbutamol Agonis reseptor beta-2 selektif kerja pendek menghasilkan Asma dan kondisi lain yang berkaitan 4mg 3 sampai 4x sehari. penghambatan replikasi dan transkripsi DNA bakteri CaCO3 Aktivator reaksi enzim dan esensial pada sejumlah proses Sebagai supplement pada pasien gagal 1 gram perhari fisiologis terutama fungsi ginjal (epocrates. malam hari (BNF 70. 1x sehari selama 4 sampai 8 minggu diminum pada tukak akibat AINS. lesi lambung dan 70. maksimal dosis tunggal bronkodilatasi. yang menghasilkan (BNF 70. Anak 6-12 tahun ½ tablet 2-3 kali saluran pernafasan dan menghilangkan mukus statis. 8mg. topoisomerase type II DNA gyrase. dispepsia episodik kronis. Ranitidine bekerja dengan cara menghambat kerja histamin secara kompetitif Tukak lambung dan tukak duodenum. F.

3 dan 11. Daftar Masalah Terkait Obat (Drp) Obat Assesment (Identifikasi DRP) Planing Monitoring Keterangan Nama Obat Rute Aturan Pakai Indikasi Tanpa Obat Saran untuk Memastikan pasien Pada saat pasien . G. Tetapi masih belum pasien tidak mendapatkan obat. . penambah darah rawat dahlia pasien renda.5. mendapatkan obat tablet penambah darah. - pengobatan. Obat Tanpa Indikasi Saran untuk Memastikan pasien tidak Pada tanggal 19 Pasien diberikan CaCO3 selama menghentikan pemberian diberikan lagi CaCO3 pasien sudah tidak . yaitu: 11. . tetapi tidak ada indikasi CaCO3 diberikan lagi obat pasien mengalami hiperphospatemia CaCO3 17 . . Pemeriksaan laboratorium pasien pada menambahkan tablet mendapatkan terapi tablet dipindahkan keruang tanggal 10 dan 14 haemoglobin pasien penambah darah.

Karena ruang rawat soka atas dikhususkan untuk pasien yang menderita tuberculosis dan penyakit infeksi pada paru. pasien hanya mengeluhkan sesak nafas dan lemas. Ini menandakan bahwa tubuh pasien sedang terinfeksi oleh virus. Pasien juga mengeluhkan udem pada kaki kirinya sejak tanggal 12 oktober dan tidak diberikan pengobatan dengan alasan dokter masih mendiagnosa bahwa itu bukan udem. leukosit dan neutrofil pasien tinggi. dan mual. 18 . dan masih memilih terapi yang cocok untuk mengatasi bengkak pada kaki pasien. Pasien di diagnosa menderita Pneumonia pada geriatric dan tumor pada paru bagian kiri. J berusia 63 tahun. Berdasarkan pemeriksaan fisik pasien. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu darah lengkap. dari hasil laboratorium jumlah trombosit. tanggal 07 oktober sampai tanggal 20 0ktober pemeriksaan fisik pasien sudah normal. R: 24. N: 110. pasien masuk rumah sakit umum persahabatan melalui IGD pada tanggal 06-10-2016 dengan keluhan sesak nafas semenjak 2 bulan sebelum masuk Rumah Sakit dan memberat sejak 3 hari sebelum masuk Rumah Sakit. nafsu makan berkurang. Selain pemeriksaan darah lengkap pasien juga menjalani pemeriksaan histologi untuk mengetahui apakah pasien menderita tumor paru atau tidak. demam. BAB IV PEMBAHASAN Pasien Ny. keringat dimalam hari. Pada tanggal 17 dokter mengatakan bahwa pasien menderita penyakit kaki gajah. TD pada awal masuk 127/80. pasien juga mengalami batuk. maka pasien pada tanggal 20 oktober dipindahkan keruanggan dahlia bawah untuk mendapatkan pengobatan tumor pada paru kiri dan pembengkakan dikaki sebelah kiri yang disebabkan penyakit kaki gajah. Pada tanggal 19 oktober dinyatakan pasien positif menderita adenocarsinoma pada paru bagian kiri.

J di diagnosa adenokarsinoma pada paru bagian kiri. Sehingga untuk pengobatan atau tindak lanjutnya pasien dipindahkan ke ruang rawat dahlia bawah. Hal tersebut dapat memudahkan Mahasiswa program apoteker dalam pengambilan data yang terkait dengan keadaan pasien yang sedang di ambil sebagai objek pelaksanaan PTO. 19 . 2. Perlu pelaksanaan konseling langsung oleh Apoteker pada setiap pasien yang menderita penyakit kronis atau pemberian informasi kepada keluarga pasien yang mendampingi pasien tentang tata cara pemberian/penggunaan obat pada pasien yang benar terutama untuk obat-obat yang potensial ada interaksi jika digunakan dalam waktu yang sama. B. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Saran 1. Agar tercapai tujuan utama dari pelaksanaan PTO perlu kerjasama dan dukungan petugas paramedis diruangan rawat inap terutama memberikan data2 lengkap dan menggunakan istilah yang dapat dimengerti pada penulisan SOAP setiap pasien. sesuai dengan hasil uji histopatologi pada tanggal 19 oktober. Kesimpulan Pasien Ny.

DAFTAR PUSTAKA Alldredge. Sagung Seto. 2016. McGraw-Hill... Jakarta.L. 2009. Departemen Kesehatan RI. BMJ Publishing Group. London. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran. drugs_interaction.Tentang standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit.id Undang – Undang No. Informatorium Obat Nasional Indonesia.. Pneumonia. M. Jakarta.madscape.2014. 58 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. 20 .drugsinteractionhecker. Lippincott Williams & Wilkins. Badan Pom RI.http://www. 2008. (2009). Kanker Paru. Kemenkes RI. 6th edition. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. Corelli. Ouslander JG. 36 Tahun 2009. 2014. 2009. Halter JB.K. Jakarta. Koda-Kimble and Young’sApplied Therapeutics: The Clinical Use of Drugs. Tinetti ME et al.kemenkes. Kemenkes RI. Medscape. B. Undang – Undang No. R. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Jakarta. British National Formulary 70th Edition. New York.com. BNF. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. dan Ernst. Pedoman Pemantaun Terap Obat. Binfar.E. 2012.com/pharmacist.html Permenkes No 58 tahun 2014. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. 1531-45.go. Hazzard’s Geriatric Medicine and Gerontology.