You are on page 1of 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Dasar Teori
1. Obesitas
Obesitas didefinisikan sebagai kondisi ketidaknormalan akibat akumulasi
lemak yang berlebih didalam jaringan adiposa yang dapat memengaruhi kesehatan.
Obesitas tidak hanya berkaitan dengan akumulasi lemak namun juga distribusi lemak
yang sangat berpengaruh pada kesehatan. Obesitas dapat meningkatkan risiko
Noncommunicable Diseases (NCDs) diantaranya penyakit kardiovaskuler, diabetes,
kanker, dan penyakit pernafasan kronis. 1,2 Obesitas dapat meningkatkan risiko
penyakit kanker pada wanita, utamanya kanker payudara, kanker serviks, kanker
ovarium, dan kanker endometrial. Pada wanita yang obesitas akan lebih berisiko
mengalami low back pain dan osteoarthritis lutut, sedangkan pada wanita hamil yang
mengalami obesitas akan lebih berisiko mengalami hipertensi, gestational diabetes
dan kematian pada janin.10,24
2. Pengukuran obesitas
Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah alat sederhana untuk mengklasifikasikan
status gizi pada orang dewasa diatas umur 17 tahun. IMT tidak dapat digunakan untuk
mengetahui status gizi bayi, anak-anak, remaja, ibu hamil dan atlet.
Nilai IMT dapat dihitung menggunakan rumus :
Berat Badan ( kg )
IMT =
Tinggi Badan ( m2 )

WHO telah mendefinisikan sejumlah klasifikasi IMT untuk dewasa asia yang
mencerinkan risiko penyakit tertentu.24
Tabel 1. Klasifikasi IMT menurut WHO untuk dewasa asia

Kategori IMT (kg/m2) Risiko Penyakit
Kurus (underweight) < 18,5 Rendah
Berat badan normal 18,5-22,9 Rata-rata
Berat badan berlebih 23-24,9 Sedang
(underweight)
Obesitas kelas 1 25-29,9 Berbahaya
Obesitas kelas 2 ≥ 30 Sangat berbahaya

3. Faktor Risiko Obesitas

Oleh karna itu. Aktivitas fisik Definisi aktivitas fisik secara luas mencakup semua kegiatan yang dilakukan seperti berjalan.25 Kemiripan komposisi tubuh pada suatu keluarga juga dapat terjadi karena interaksi gen dengan lingkungan. mengerjakan pekerjaan rumah. misalnya keluarga yang pola asuh dan lingkungan yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi makanan yang tinggi kalori dan jarang berolahraga akan mempengaruhi kejadian obesitas pada anggota keluarganya. apabila seseorang mengasup asupan energi berlebihan tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik yang sesuai maka dapat menyebabkan obesitas. Penelitian menunjukan terdapat kemiripan komposisi tubuh pada anak kembar dan saudara kandung melalui pengukuran IMT. (buku pato nutrition) Genetik mempengaruhi peningkatan berat badan karena terdapat salah satu gen yang termutasi yaitu Melanocortin-4-receptor (MC4R) yang dapat meningkatkan asupan energi. dimana leptin akan semakin resisten dalam merespon simpanan lemak tubuh.30 Meningkatkan aktivitas fisik 45-60 menit sehari dapat mencegah kejadian obesitas. Keluarga yang tinggal dalam lingkungan dan pola asuh yang sama dapat mempengaruhi kejadian obesitas.(WHO obesity preventing and managing the global epidemic) WHO menyebutkan ada sekitar 60% penduduk dunia tidak melakukan aktivitas fisik sesuai dengan anjuran yang telah ditetapkan. bersepeda. bermain.a.27 Di dalam tubuh pengaturan keseimbangan energi dibantu oleh hormon leptin yang disekresikan pada jaringan adipose. menari. dan latihan yang disengaja. Semakin tinggi seseorang melakukan aktivitas fisik maka semakin banyak energi yang dibutuhkan. olah raga.29 b. kesukaan rasa. dan asupan energi. bercocok tanam.14 Setiap penurunan 1 poin dari skor penilaian aktivitas fisik akan .28. Genetik Faktor genetik dapat memengaruhi berat badan dan komposisi tubuh dengan mempengaruhi nafsu makan.26. Leptin yang melami mutasi gen akan mengganggu regulasi simpanan lemak dalam tubuh. Apabila simpanan tubuh berlebih maka leptin akan meningkatkan pengeluaran energi melalui termogenesis dan penurunan nafsu makan. Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang membutuhkan pengeluaran energi.

Kebutuhan tersebut menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan. Kelebihan energi disimpan dalam bentuk glikogen sebagai cadangan energi jangka pendek dan dalam bentuk lemak sebagai candangan untuk jangka panjang.(sumber) Asupan energi yang berlebih akan meningkatkan risiko seseorang mengalami obesitas. Kelebihan asupan makanan dapat menimbulkan obesitas khususnya bahan makanan sumber energi. dimana jumlah makananyang dimakan jauh melebihi kebutuhan tubuh normal.25 kg/m2 setelah dikontrol asupan energi dan asupan kromium.15. Fungsi energi adalah sumber tenaga untuk metabolisme. (AKG 2013) Berat Badan Tinggi Badan Energi Golongan Umur (kkal) (kg) (cm) Wanita: 19-29 tahun 54 159 2250 30-49 tahun 55 159 2150 b) Asupan Karbohidrat .15 (Kategori aktivitas fisik berdasarkan form aktivitas fisik.01 kg/m 2 setelah dikontrol variabel asupan kromium dan aktivitas fisik.16. sedentary lifestyle. meningkatkan IMT sebesar 1. 33 c.) Data aktivitas fisik subjek didapatkan dengan wawancara subjek yang diperoleh melalui kuesioner aktivitas fisik 3x24 jam meliputi aktivitas sehari-hari. lemak dan protein. dan olahraga serta kegiatan lainnya. Asupan zat gizi a) Asupan Energi Energi merupakan hasil dari metabolisme karbohidrat. Tabel Angka Kecukupan Gizi (AKG) kebutuhan energy yang dianjurkan untuk wanita dewasa.. Peningkatan jumlah asupan energi diatas angka kecukupan gizi yang dianjurkan dapat mempengaruhi perkembangan obesitas. pertumbuhan dan kegiatan fisik.15 Kebutuhan energi pada orang dewasa berbeda-beda.17 Penelitian yang dilakukan pada mahasiswa Poltekes Gorontalo menyatakan bahwa setiap kenaikan asupan energi sebesar 1 kkal maka nilai IMT akan naik sebesar 0. Aktivitas fisik digolongkan rendah apabila aktivitas fisik sehari-hari < 2000 kkal. pengaturan suhu tubuh. sedangkan aktivitas fisik dapat dikatakan tinggi apabila aktivitas fisik sehari-hari ≥ 2000kkal.

Satu gram karbohidrat dapat menghasilkan energi sebesar 4 kkal. Penelitian pada wanita Amerika menunjukkan bahwa seseorang yang menderita obesitas disebabkan karena mengkonsumsi makanan tinggi lemak secara berlebihan dibandingkan dengan individu lain yang memiliki berat badan normal.37 Proporsi asupan lemak yang berlebihan bias menjadi faktor risiko bagi perkembangan obesitas. 38 Lemak akan dihidrolisis oleh enzim lipase menjadi gliserol dan asam lemak kemudian dilepas ke pembuluh darah . (Carbohydrate Intake and Overweight and Obesity among Healthy Adults) Tabel . Angka Kecukupan Gizi (AKG) kebutuhan karbohidrat pada wanita dewasa Berat Badan Tinggi Badan Karbohidrat Golongan Umur (g) (kg) (cm) Wanita: 19-29 tahun 54 159 309 30-49 tahun 55 159 323 c) Asupan Lemak Lemak adalah penyumbang energi terbesar dibanding zat gizi makro lain. (Mekanismee) Sebuah penelitian di Kanada pada orang dewasa sehat menyebutkan orang yang mengkonsumsi 290-310 g/hari dapat mengurangi risiko kejadian overweight dan obesitas. Karbohidrat merupakan sumber energi utama yang menyediakan 50%- 70% dari total kalori yang dibutuhkan. Menurut rekomendasi WHO bahwa asupan karbohidrat yang dianjurkan adalah 55%-75% dari total energi. Anjuran konsumsi lemak tidak boleh lebih dari 25% dari kebutuhan energi sehari-hari. 34 Seseorang yang mengkonsumsi karbohidrat dalam jumlah berlebihan dapat meningkatkan berat badan. apabila berlangsung lama menyebabkan kegemukan. Konsumsi tinggi lemak dapat meningkatkan persen lemak tubuh. tiap gram lemak mengandung 9 kkal dibandingkan dengan karbohidrat dan protein yang hanya menghasilkan 4 kkal per gram. Kelebihan lemak tubuh dapat menimbulkan gaya hidup sedentari yaitu dengan makin berkurangnya aktivitas fisik sehingga memperburuk status gizi.

40 Hal ini dikarenakan wanita lebih banyak memilikilemak dibanding .1 kg.1%). Asupan lemak yang berlebihan bersamaan dengan rendahnya aktivitas fisik menyebabkan proses pembentukan energi jarang terjadi sehingga lemak hanya tertimbun di dalam sel lemak di jaringan adiposa.36 Berat Badan Tinggi Badan Lemak Golongan Umur (g) (kg) (cm) Wanita: 19-29 tahun 54 159 75 30-49 tahun 55 159 60 d) Asupan Protein Angka kecukupan protein bagi pria diatas umur 18 tahun menurut Depkes tahun 2005 adalah 60 gram/hari dan 50 gram/hari untuk wanita. untuk dibakar sehingga dapat menghasilkan energi. Sumber protein hewani seperti daging merah. bila hal ini berlangsung lama dapat memicu terjadinya obesitas. Protein akan dicerna menjadi asam amino.7 kg. Jenis Kelamin Data NHANES 1999-2000 menunjukkan bahwa tingkat obesitaslebih tinggi pada wanita Afrika-Amerika (49. selebihnya menjadi tripeptida dan dipeptida. susu full cream dan keju mengandung lemak dalam jumlah besar sehingga dapat menimbulkan peningkatan kadar lemak dan kolesterol yang apabila dikonsumsi dalam jangka panjang menyebabkan kegemukan.7%) dibanding pria Afrika-Amerika (28. Sebuah studi pada orang dewasa di Queen Elizabeth College University of London mengemukakan bahwa kelompok yang mengkonsumsi rendah protein mengalami peningkatan berat badan 1. Konsumsi protein yang berlebihan tidak menguntungkan bagi tubuh karena makanan yang tinggi protein biasanya tinggi lemak sehingga dapat menyebabkan obesitas. 39 Berat Badan Tinggi Badan Protein Golongan Umur (g) (kg) (cm) Wanita: 19-29 tahun 54 159 56 30-49 tahun 55 159 57 d. sedangkan kelompok yang mengkonsumsi tinggi protein berat badannya meningkat sebesar 3.

sehingga seseorang lebih tanggap terhadap adanya masalah gizi seperti overweight dan obesitas serta dapat mengambil tindakan dalam menangani masalah tersebut. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan mempunyai hubungan yang eksponensial dengan tingkat kesehatan. karena termasuk lemak pada payudara. sehingga energi sedikit terbuang. kemudian data dikategorikan menurut batas garis kemiskinan dari BPS KotaSemarang.195 dan pendapatan keluarga digolongkan tinggi apabila pendapatan perkapita perbulan > Rp 246. Kejadian tersebut dapat terjadi di kota maupun desa sehingga perubahan pola hidup memegang peranan penting dalam penanganan obesitas. dan pendapatan rumah tangga dengan kejadian obesitas pada dewasa laki-laki maupun perempuan. Pendapatan keluarga digolongkan rendah apabila pendapatan perkapita perbulan ≤ Rp 246. dan paha. pendapatan juga dapat mempengaruhi gaya hidup seseorang. Masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi lebih memilih menggunakan kendaraan bermotor untuk keluar rumah meskipun jaraknya dekat daripada berjalan kaki. Tingkat pendidikan turut menentukan seseorang menyerap dan memahami pengetahuan gizi yang mereka peroleh. daerahpelviks. Hal terebut lambat laun dapat menyebabkan kejadian obesitas.Pendapatan yang tinggi biasanya mendukung seseorang untuk membeli bahan makanan dalam jumlah yang lebih dari cukup serta cenderung memilih makan siap saji yang tinggi kalori.195. Pada wanita lemak tubuh mewakili 9% berat badan danpria hanya 3%. karena semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin mudah menerima konsep hidup sehat.44 f.42 Selain itu. serta pemilihan bahan makanan.43 Penelitian yang dilakukan oleh Shayo dan Mugusi pada tahun 2011 menunjukan adanya hubungan antara tingkat pendidikan. Status Ekonomi Pendapatan memiliki peranan penting dalam memenuhi kebutuhan makanan yang diperlukan oleh tubuh. dimana lemak tubuh merupakan cerminan terjadinya overweight dan obesitas. Pendapatan yang tinggi dan pola makan yang berlebihan dapat menimbulkan penimbunan lemak tubuh. 42 Tingkatan pendidikan pun mempengaruhi konsumsi pangan melaluicara penyusunan makanan yang memenuhi persyaratan gizi.41 e. pria.22 Status ekonomi keluarga ditentukan dari besar pendapatan yang diperoleh keluarga dalam satu bulan terakhir dengan menggunakan kuesioner pendapatan keluarga. Mereka yang berpendidikan tinggi cenderung memilih bahan makanan yang lebih baik dalam . cara pengolahan makanan.

tapi hasil penelitian FINRISK Studies melaporkan bahwa body massindex cenderung meningkat pada orang perokok. 46 Riwayat obesitas saat remaja didapatkan dari wawancara subjek. Tingkat pendidikan rendah apabila subjek maksimal tamat SMP/sederajat dan tingkat pendidikan dikatakan tinggi apabila subjek minimal tamat SMA. Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menyebutkan bahwa prevalensi penduduk yang mengalami obesitas lebih tinggi pada tingkatpendidikan sama dengan atau di bawah SMA (25.45 h.3%) dibandingkan dengan pendidikan di atas SMA atau universitas (14.39 j.47 . dibandingkandengan orang yang tidak pernah merokok. Hal ini dipengaruhi oleh tingkat aktivitas fisik yang rendah. Konsumsi Alkohol Hubungan antara konsumsi alkohol dan berat badan juga masihkontroversial. Tingkat pendidikan kemudian akan dibagai menjadi tingkat pendidikan subjek. g. Riwayat obesitas saat remaja Riwayat obesitas saat remaja juga menjadi salah satu faktor terjadinya obesitas saat dewasa. karena obesitas lebihberpotensi terjadi pada orang perokok dan mantan perokok. tapi hasil laporan FINRISK Studies menjelaskan bahwakonsumsi alkohol secara terus menerus dapat meningkatkan body massindex. tingkat pendidikan rendah.40 Tingkat pendidikan subjek didapatkan dengan mewawancarai subjek berdasarkan jenjang pendidikan formal terakhir yang ditempuh atau ditamatkan subjek berdasarkan kepemilikan ijazah. Sebuah penelitian di Iran menyatakan bahwa ibu yang tidak bekerja atau ibu rumah tangga lebih beresiko obesitas dibandingkan dengan ibu yang bekerja. kualitas dan kuantitas dibandingkan dengan orang yang berpendidikan rendah. Status pekerjaan Ibu rumah tangga lebih besar berisiko obesitas dibandingkan dengan ibu yang bekerja. Merokok Hubungan antara merokok dan berat badan masih kontroversial. dan tingkat pendapatan rumah tangga yang lebih rendah dibandingkan dengan wanita yang bekerja.Studi retrospektif menyatakan bahwa 50% perempuan dewasa dengan obesitas mempunyai riwayat obesitas menjelang pubertas.3%). orang yang mengkonsumsi alkohol ≥10 porsi/minggu lebihcenderung obese dibandingkan dengan yang hanya mengkonsumsi 1-3porsi/minggu. i.

Tempat Tinggal Tempat tinggal secara positif berhubungan dengan overweight danobesitas dikarenakan adanya kemudahan akses terhadap pelayanan danfasilitas umum seperti tersedianya makanan siap saji yang tinggi kaloridan alat transportasi yang sering menggunakan kendaraan bermotor. Kerangka Teori . Tingginya angka obesitaserat hubungannya dengan proses modernisasi dan meningkatnyakemakmuran bagi sekelompok masyarakat. Tingkat kemakmuran dapat dinilai dari penghasilan seseorang.36 Pada sekelompok masyarakat Indonesia terutama di kota-kota besarmasalah kesehatan utama adalah kelebihan gizi. k.48 Timbulnya gaya hidup sedentaris juga didorong oleh meningkatnyamekanisasi dan kemudahan transportasi yang menyebabkan orang akancenderung untuk kurang gerak dan beraktivitas. Wanita dengan penghasilan ≥$9000 tergolong obese dibandingkan dengan yang berpenghasilan < $6000. sehingga banyak energy yang tidak digunakan dan sementara kecenderungan akan semakinbanyak dan menumpuk.49 Sedangkan di desa. B. penduduknya masih mengandalkan hasil alam sebagai sumber kehidupan walupun ada yang bekerja tapi hanya sebagai buruh.

Asupan karbohidrat merupakan faktor risiko obesitas pada ibu rumah tangga di Kelurahan Bendungan Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang 4. Tingkat pendidikan merupakan faktor risiko obesitas pada ibu rumah tangga di Kelurahan Bendungan Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang 9. Asupan protein merupakan faktor risiko obesitas pada ibu rumah tangga di Kelurahan Bendungan Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang 6. Hipotesis 1. Riwayat obesitas responden saat remaja merupakan faktor risiko obesitas pada ibu rumah tangga di Kelurahan Bendungan Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang . Status ekonomi keluarga merupakan faktor risiko obesitas pada ibu rumah tangga di Kelurahan Bendungan Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang 7.C. Status pekerjaan merupakan factor risiko obesitas pada ibu rumah tangga di Kelurahan Bendungan Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang 8. Tingkat aktivitas fisik merupakan faktor risiko obesitas pada ibu rumah tangga di Kelurahan Bendungan Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang 2. Asupan lemak merupakan faktor risiko obesitas pada ibu rumah tangga di Kelurahan Bendungan Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang 5. Kerangka Konsep D. Asupan energi merupakan faktor risiko obesitas pada ibu rumah tangga di Kelurahan Bendungan Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang 3.