« Leelou Blogs

CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

MY BLOG
welcome to my blog!!!happy reading

About Me

angelica ardi
Lihat profil lengkapku

Followers
Diberdayakan oleh Blogger.

Translate
Powered by Translate

VISITORS
Jumat, 29 Agustus 2014
distribusi obat

when i make this working paper,i think it's so difficult.so i want to share this for you all.i hope it's
benefit for you.

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Segala Puji dan Syukur saya Ucapkan Kepada Tuhan Yang Maha Esa.Bahwasannya kami telah selesai
membuat kliping Tentang distribusi obat walaupun banyak sekali hambatan dan kesulitan yang kami
hadapi dalam menyusun kliping ini, dan mungkin kliping ini masih terdapat kekurangan dan belum bisa
dikatakan sempurna dikarenakan keterbatasan kemampuan kami.

Oleh karena itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua
pihak terutama dari Bapak/Ibu Guru supaya kami dapat lebih baik lagi dalam menyusun sebuah kliping
di kemudian hari, dan semoga kliping ini berguna bagi siapa saja terutama bagi teman-teman yang
ingin lebih tahu lebih banyak tentang distribusi obat.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Seiring perkembangan ilmu pengetahuandan teknologi dalam bidang kefarmasian serta
semakin tingginya kesadaran masyarakat dalam meningkatkan kesehatan, maka dituntut juga
kemampuan dan kecakapan para petugas dalam angka mengatasi permasalahan yang mungkin timbul
dalam pelaksanaan pelayanan kefarmasian kepada masyarakat . Dengan demikian pada dasarnya
kaitan tugas pekerjaan Farmasis dalam melangsungkan berbagai proses kefarmasian bukannya
sekedar membuat obat, melainkan juga menjamin serta meyakinkan bahwa produk kefarmasian yang
diselenggarakan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses penyembuhan penyakit yang
diderita pasien.Mengingat kewenangan keprofesian yang dimilikanya, maka dalam menjalankan
tugasnya harus berdasarkan prosedur-prosedur kefarmasian demi dicapainya produk kerja yang
memenuhi: syarat ilmu pengetahuan kefarmasian, sasaran jenis pekerjaan yang dilakukan, serta hasil
kerja akhir yang seragam tanpa mengurangi pertimbangan keprofesian secara pribadi.
Pembangunan sarana distribusi sediaan farmasi sebagai salah satu upaya pembangunan
nasional di arahkan guna mencapai terpenuhinya kebutuhan sediaan farmasi yang tepat untuk setiap
masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut di perlukan dukungan sumber daya manusia di bidang
kesehatan termasuk di dalamnya adalah tenaga farmasis.
Pedagang besar farmasi sebagai salah salah satu tempat pengabdian profesi seorang asisten
apoteker merupakan alur terpenting dalam mendistribusikan sediaan farmasi melalui apotek, rumah
sakit atau toko obat ke tangan konsumen. Perbekalan farmasi meliputi obat, bahan obat,dan alat
kesehatan. Obat adalah salah satu bahan atau paduan bahan yang di maksud untuk di gunakan dalam
menetapkan diagnosa, mencegah, mengurangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka
atau kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia atau hewan. Selain menyalurkan obat-obatan,
Pedagang besar farmasi juga menyalurkan kosmetik. Berdasarkan permenkes RI NO.
445/Menkes/per/V/1998 yang di maksud dengan kosmetik adalah sediaan ataun paduan bahan yang
siap un tuk di gunakan pada bagian luar badan ( epidermis, rambut, kuku, bibir,dan organ kelamin
luar), gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah, penampakan,
melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak di maksudkan
untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit.
Dengan demikian sebagai seorang asisten apoteker dirasa perlu membekali diri dengan
pengetahuan mengenai Pedagang Besar Farmasi dan cara pendistribusian obat.

1.Tujuan Umum
 Memahami dasar-dasar pendistribusian obat dan sediaan farmasi lainnya di PBF selaku sebagai Tenaga
Teknis Kefarmasian sehingga mampu berperan sebagai mitra kerja tenaga kesehatan yang siap pakai.
 Mampu memahami proses pengelolaan obat dan pendistribusian sesuai dengan peraturan Perundang –
Undangan dan etika yang berlaku dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat.
 Untuk meningkatkan dan menambah ilmu pengetahuan dan keterampilan tentang pengadaan,
penyimpanan, dan pengelolaan distribusi dan pelayanan sediaan farmasi dan alat kesehatan di
Pedagang Besar Farmasi.
2.Tujuan Khusus
 Untuk meningkatkan atau menambah ilmu pengetahuan dalam hal mengelola obat, perbekalan farmasi
dan pemasarannya.
 Meningkatkan pengetahuan tentang ruang lingkup tanggung jawab sebagai Tenaga Teknis Kefarmasian
dibidang kefarmasian di PBF, APOTEK.
Faktor yang mendorong suatu perusahaan menggunakan distributor, adalah:
- Para produsen atau perusahaan kecil dengan sumber keuangan terbatas tidak mampu
mengembangkan organisasi penjualan langsung.
- Para distributor nampaknya lebih efektif dalam penjualan partai besar karena skala operasi mereka
dengan pengecer dan keahlian khususnya.
- Para pengusaha pabrik yang cukup model lebih senang menggunakan dana mereka untuk ekspansi
daripada untuk melakukan kegiatan promosi.
- Pengecer yang menjual banyak sering lebih senang membeli macam-macam barang dari seorang
grosir daripada membeli langsung dari masing-masing pabriknya.

Fungsi Saluran Distribusi
Fungsi utama saluran distribusi adalah menyalurkan barang dari produsen ke konsumen, maka
perusahaan dalam melaksanakan dan menentukan saluran distribusi harus melakukan pertimbangan
yang baik.
Adapun fungsi-fungsi saluran distribusi menurut Kotler (1997 : 531-532) adalah :
• Information, yaitu mengumpulkan informasi penting tentang konsumen dan pesaing untuk
merencanakan dan membantu pertukaran.
• Promotion, yaitu pengembangan dan penyebaran komunikasi persuasif tentang produk yang
ditawarkan.
• Negotiation, yaitu mencoba untuk menyepakati harga dan syarat-syarat lain, sehingga
memungkinkan perpindahan hak pemilikan.
• Ordering, yaitu pihak distributor memesan barang kepada perusahaan.
• Payment, yaitu pembeli membayar tagihan kepada penjual melalui bank atau lembaga keuangan
lainnya.
• Title, yaitu perpindahan kepemilikan barang dari suatu organisasi atau orang kepada organisasi /
orang lain.
• Physical Possesion, yaitu mengangkut dan menyimpan barang-barang dari bahan mentah hingga
barang jadi dan akhirnya sampai ke konsumen akhir.
• Financing, yaitu meminta dan memanfaatkan dana untuk biaya-biaya dalam pekerjaan saluran
distribusi.
• Risk Taking, yaitu menanggung resiko sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan saluran distribusi.

Macam Saluran Distribusi
Terdapat berbagai macam saluran distribusi barang konsumsi, diantaranya :
1. Produsen – Konsumen
Bentuk saluran distribusi ini merupakan yang paling pendek dan sederhana karena tanpa menggunakan
perantara. Produsen dapat menjual barang yang dihasilkannya melalui pos atau langsung mendatangi
rumah konsumen (dari rumah ke rumah).Oleh karena itu saluran ini disebut saluran distribusi
langsung.

2. Produsen – Pengecer – Konsumen
Produsen hanya melayani penjualan dalam jumlah besar kepada pedagang besar saja, tidak menjual
kepada pengecer. Pembelian oleh pengecer dilayani oleh pedagang besar, dan pembelian oleh
konsumen dilayani pengecer saja.

3. Produsen – Pedagang Besar – Pengecer – Konsumen
Saluran distribusi ini banyak digunakan oleh produsen, dan dinamakan saluran distribusi tradisional.
Di sini, produsen hanya melayani penjualan dalam jumlah besar kepada pedagang besar saja, tidak
menjual kepada pengecer.Pembelian oleh pengecer dilayani pedagang besar, dan pembelian oleh
konsumen dilayani pengecer saja.

4. Produsen – Agen – Pengecer – Konsumen
Di sini, produsen memilih agen sebagai penyalurnya. Ia menjalankan kegiatan perdagangan besar
dalam saluran distribusi yang ada. Sasaran penjualannya terutama ditujukan kepada para pengecer
besar.

5. Produsen – Agen – Pedagang Besar – Pengecer – Konsumen
Dalam saluran distribusi, produsen sering menggunakan agen sebagai perantara untuk menyalurkan
barangnya kepada pedagang besar yang kemudian menjualnya kepada toko-toko kecil. Agen yang
terlihat dalam saluran distribusi ini terutama agen penjualan. (Swastha dan Irawan, 1997, p.295-
297)
Penyimpanan dan Distribusi Obat
Penyimpanan merupakan kegiatan menyimpan dan memelihara dengan cara menempatkan
perbekalan farmasi yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari pencurian serta gangguan fisik
yang dapat merusak mutu obat serta menurut persyaratan yang ditetapkan yaitu dibedakan menurut
bentuk sediaan dan jenisnya, dibedakan menurut suhunya, kestabilannya, mudah tidaknya
meledak/terbakar, tahan/tidaknya terhadap cahaya, disertai dengan sistem informasi yang selalu
menjamin ketersediaan perbekalan farmasi sesuai kebutuhan. Tujuannya adalah untuk memelihara
mutu sediaan farmasi, menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab, menjaga ketersediaan,
memudahkan pencarian dan pengawasan.
Distribusi obat merupakan suatu proses penyerahan obat sejak setelah sediaan disiapkan oleh
IFRS sampai dengan dihantarkan kepada perawat, dokter, atau tenaga medis lainnya untuk diberikan
kepada pasien2. Tujuannya untuk menyediakan perbekalan farmasi di unit-unit pelayanan secara tepat
jenis dan jumlah1. Distribusi obat harus aman, efektif dan efisien, harus menjamin, obat benar bagi
penderita tertentu, dengan dosis yang tepat, pada waktu yang ditentukan dan cara penggunaan yang
benar3.
Metode penyimpanan dapat dilakukan berdasarkan kelas terapi, bentuk sediaan; , yaitu: 1) bentuk
sediaan obat (tablet, kapsul, sirup, drop, salep/krim, injeksi dan infus), 2) bahan baku, 3) nutrisi, 4)
alat-alat kesehatan, 5) gas medik, 6) bahan mudah terbakar, 7) bahan berbahaya, 8) reagensia, dan
9) film rotgen, dan alfabetis; Pengaturan secara alfabetis dilakukan berdasarkan nama generiknya,
dengan menggunakan cara FEFO (First Expired First Out), yaitu obat-obatan yang baru masuk
diletakkan di belakang obat yang terdahulu dan FIFO (First In First Out) dengan cara menempatkan
obat-obatan yang mempunyai ED (expired date) lebih lama diletakkan di belakang obat-obatan yang
mempunyai ED lebih pendek.
Sistem distribusi obat di rumah sakit, dibagimenjadi :
1. Sentralisasi dilakukan oleh IFRS ke semua tempat perawatan penderita di rumah sakit tanpa adanya
cabang dari IFRS di tempat perawatan.
- Individual prescription atau resep perseorangan yakni order/resep ditulis oleh dokter untuk tiap
pasien. Obat yang diberikan sesuai dengan resep. Keuntungannya : resep dikaji langsung oleh
apoteker, pengendalian lebih dekat, penagihan biaya mudah. Kelemahannya: memerlukan waktu lama,
pasien mungkin membayar obat yang tidak digunakan.
- Total ward floor stock atau persediaan ruang lengkap, semua perbekalan farmasi yang sering digunakan
dan dibutuhkan pasien tersedia dalam ruang penyimpanan. Hanya digunakan untuk kebutuhan darurat
dan bahan dasar habis pakai. Keuntungan: pelayanan cepat dan mengurangi pengembalian order
perbekalan farmasi. Kelemahan: medication error meningkat, perlu waktu tambahan, kemungkinan
hilangnya obat, kerugian karena kerusakan perbekalan farmasi1.
- Kombinasi dari individual prescription dan persediaan ruang lengkap, obat yang diperlukan pasien
disediakan di ruangan, harganya murah dan mencakup obat berupa resep atau obat bebas.
Keuntungannya: dikaji langsung oleh apoteker, obat yang diperlukan cepat tersedia, ada interaksi
anata apoteker dan pasien1.
2. Desentralisasi dilakukan oleh beberapa depo/satelit IFRS di rumah sakit1.
- UDD : perbekalan farmasi dikandung dalam kemasan unit tunggal, disispensing dalam bentuk siap
konsumsi, tersedia pada ruang perawatan pasien. Keuntungan, pasien hanya membayar obat yang
digunakan, mengurangi kesalahan pemberian obat. Kelemahan, kebutuhan tenaga kerja dan biaya
operasional meningkat1.
- One Daily Dose mirip indvidual prescribing namun diberikan untuk sehari sesuai dengan dosisnya,
Kelebihan : Mengurangi resiko biaya obat2.
Dalam dunia farmasi, segala tindak tanduk yang dilakukan selalu diatur oleh Undang –
Undang.Kenapa?Karena farmasi bekerja dalam sektor yang tanggung jawabnya sangat besar yakni
keberlangsungan hidup seseorang.Suatu waktu obat bisa menjadi sesuatu yang menyembuhkan, namun
juga bisa menjadi racun bagi konsumennya. Selain Good Distribution Practice yang sering disingkat
GDP ada juga aturan main lain yang mengatur tentang tata cara bekerja di sektor farmasi misalnya
Good Pharmaceutical Practice (GPP) dan Good Manufacturing Practice (GMP). Jika dibahasa
Indonesiakan, GDP disebut juga Cara Distribusi Obat yang Baik. Pedoman ini disusun oleh Badan POM
RI Jakarta.
Ada beberapa tujuan BPOM RI menyusun pedoman ini. Tujuan yang tercantum dalam pedoman CDOB
adalah :

1. Untuk menjamin pemerataan distribusi obat sehingga obat akan tersedia ketika dibutuhkan

2. Untuk pengamanan lalu lintas dan penggunaan obat hingga ke pengguna sehingga penggunaan
obat dilakukan dengan tepat dan tidak terjadi penyalahgunaan obat (Drug Abuse)

3. Untuk menjamin keabsahan, kualitas, keamanan obat dari produsen hingga ke konsumen.

4. Untuk menjamin bahwa obat disimpan dalam tempat yang sesuai dengan yang disarankan oleh
industri selama berada dalam proses transport.
Kenapa CDOB dinilai penting untuk disusun dan diterapkan?Hal ini dikarenakan praktik distribusi
obat dulunya cenderung dilakukan “asal-asalan”. Obat berbeda dengan komoditi lain. Distribusinya
tidak bisa diperlakukan sama dengan cara distribusi material bangunan atau tekstil. Misalnya jika
suhu tempat penyimpanan obat tidak diatur sebagaimana mestinya, hal ini akan merusak obat. Banyak
kemungkinan yang terjadi karenanya.Salah satunya, stabilitas obat terganggu sehingga obat menjadi
tidak manjur.
Sekarang kita lihat dulu bagaimana alur distribusi obat di Indonesia

Ada 5 elemen penting yang diatur oleh CDOB.Yakni :

 Manajemen mutu
Manajemen mutu adalah sistem manajemen yang berorientasi pada mutu produk.Dalam manajemen
mutu ada dua hal yang harus ada di lembaga distribusi obat.Pertama sistem mutu dan kedua jaminan
mutu. Dalam konteks sistem mutu, lembaga distribusi obat harus memiliki struktur organisasi yang
jelas (jadi personil yang bertanggung jawab dalam berbagai bidang dapat terlihat jelas dari struktur
organisasi ini), Standar Prosedur operasional (disusun dan diperbaharui oleh Apoteker Penanggung
Jawab), sistem dokumentasi (bisa secara manual atau terkomputerisasi) dan sumber daya.
Sedangkan pada konteks jaminan mutu, suatu lembaga distribusi harus membuat sistem yang
mengatur langkah sistematis yang menjamin kepercayaan bahwa produk baik dari segi pelayanan
maupun dokumentasinya mendukung kualitas.Jadi ada tuntutan kepada lembaga distribusi untuk
membuat sistem bagaimana caranya agar produk yang mengalir di mereka terjamin kualitas,
keabsahan, keamanan dan kemanjurannya.

 Personalia
Singkatnya, dalam aturan tentang personalia ini suatu lembaga distribusi diwajibkan untuk
mempekerjakan orang-orang yang berkompeten di bidangnya.Dengan latar belakang pendidikan atau
pengalaman yang sesuai.Apoteker harus ada sebagai penanggung jawab.Apoteker penanggung jawab
dapat dibantu oleh Apoteker pendamping atau Tenaga Teknis Kefarmasian.Selain itu, personil yang
bekerja di lembaga distribusi ini diharuskan mengikuti pelatihan tentang CDOB secara periodik
untuk meningkatkan kompetensi.

 Bangunan dan Fasilitas
Bangunan tempat menyimpan produk wajib menjamin keselamatan obat dari banjir, binatang pengerat
dan lainnya, pengaruh suhu dan kelembaban.Selain itu, bangunan haruslah bersih dengan luas yang
memadai, sirkulasi udara dan ventilasi bagus.Kemudian, bangunan harus memilliki ruang-ruang yang
dapat digunakan untuk administrasi, penerimaan barang, penyimpanan narkotik dan prikotropik serta
penyimpanan vaksin yang khusus. (Ketiga jenis produk tersebut wajib mendapatkan perlakuan khusus
loh..). Untuk fasilitasnya sendiri, lembaga distribusi obat harus memiliki instrumen untuk monitoring
keadaan bangunan seperti pengatur suhu dan kelembaban, dan alat pemadam api yang diletakkan di
setiap ruangan. Terkhusus untuk lembaga distribsui bahan obat maka lembaga tersebut harus
memiliki laboratorium pengujian.

 Inspeksi diri
Introspeksi diri kerap dilakukan dalam lembaga-lembaga di farmasi baik di pabrik, lebaga pelayanan
farmasi dan lembaga distribusi.Inspeksi diri dilakukan untuk mengukur kinerja dan mengetahui
apakah sistem yang direncanakan dan dijalankan sudah memenuhi standar.Inspeksi diri di lembaga
distribusi dilakukan minimal setahun sekali.Hal – hal yang diinspeksi diantaranya, personalia,
dokumentasi, sistem dokumentasi, bangunan dan peralatan.

 Dokumentasi
Dokumentasi dilakuakn dengan tujuan menjamin semua pelaksanaan distribusi berjalan sesuai dengan
panduan mutu dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.Dari sistem dokumentasi perjalanan
distribusi dapat ditelusuri.Jika terjadi penyelewengan sistem, dapat diketahui dari sini.Dokumen
yang dibuat harus disimpan dalam waktu sekurang-kurangnya 5 tahun dari tanggal pembuatan
dokumen.Manfaat nyata yang dapat dirasakan dari sistem dokumentasi ini adalah bila nanti BPOM
atau industri farmasi menyatakan untuk menarik suatu produk dari pasaran, lembaga distribusi dapat
terbantu untuk menelusuri jejak transportasi produk yang dimaksud sehingga tujuan objek penarikan
dapat diketahui hingga ke tingkat konsumen.Setiap PBF (Pedagang Besar Farmasi) harus melaporkan
kegiatannya setiap 3 bulan sekali kepada BPOM.
Tata Cara Distribusi Obat Narkotika Menurut Undang-Undang

Undang-undang RI No.35 tahun 2009 tentang narkotika mengatur bahwa distribusi obat
meliputi hal-hal sebagai berikut :
(Pasal 35)
1. Peredaran Narkotika meliputi setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan penyaluran atau
penyerahan Narkotika, baik dalam rangka perdagangan, bukan perdagangan maupun
pemindahtanganan, untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi
(Pasal 36)

2. Narkotika dalam bentuk obat jadi hanya dapat diedarkan setelah mendapatkan izin edar dari
Menteri
(Pasal 37)
3. Narkotika Golongan II (seperti petidin) dan Golongan III yang berupa bahan baku, baik alami
maupun sintetis, yang digunakan untuk produksi obat diatur dengan Peraturan Menteri .
(Pasal 38)
4. Setiap kegiatan peredaran Narkotika wajib dilengkapi dengan dokumen yang sah.
(Pasal 39)
5. Narkotika hanya dapat disalurkan oleh Industri Farmasi, pedagang besar farmasi, dan sarana
penyimpanan sediaan farmasi pemerintah sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. (2)
Industri Farmasi, pedagang besar farmasi, dan sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki izin khusus penyaluran Narkotika dari Menteri
(Pasal 40)
6. Industri Farmasi tertentu hanya dapat menyalurkan Narkotika kepada:
a. pedagang besar farmasi tertentu;
b. apotek;
c. sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah
tertentu; dan
d. rumah sakit.
Pedagang besar farmasi tertentu hanya dapat menyalurkan Narkotika kepada:
a. pedagang besar farmasi tertentu lainnya;
b. apotek;
c. sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah
tertentu;
d. rumah sakit; dan
e. lembaga ilmu pengetahuan;
Sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu hanya dapat menyalurkan narkotika
kepada:
a. rumah sakit pemerintah;
b. pusat kesehatan masyarakat; dan
c. balai pengobatan pemerintah tertentu.
(Pasal 43)
7. Penyerahan Narkotika hanya dapat dilakukan oleh:
a. apotek;
b. rumah sakit;
c. pusat kesehatan masyarakat;
d. balai pengobatan; dan
e. dokter.
Apotek hanya dapat menyerahkan Narkotika kepada:
a. rumah sakit;
b. pusat kesehatan masyarakat;
c. apotek lainnya;
d. balai pengobatan;
e. dokter; dan
f. pasien.
Rumah sakit, apotek, pusat kesehatan masyarakat, dan balai pengobatan hanya dapat menyerahkan
Narkotika kepada pasien berdasarkan resep dokter dan Penyerahan Narkotika oleh dokter hanya
dapat dilaksanakan untuk:
a. menjalankan praktik dokter dengan memberikan Narkotika melalui suntikan;
b. menolong orang sakit dalam keadaan darurat dengan memberikan Narkotika melalui suntikan; atau
c. menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek.
Narkotika dalam bentuk suntikan dalam jumlah tertentu yang diserahkan oleh dokter hanya dapat
diperoleh di apotek.

Jalur Distribusi Psikotropika
Untuk jalur distribusi Psikotropika seperti Shabu-shabu, Bahan baku pembuat Ekstasy dan Obat-
obatan Golongan IV, dilihat dari gambar disamping (garis merah) bahwa barang haram tersebut
masuk ke Indonesia khususnya Jakarta berasal dari China. Dari semua barang haram Psikotropika
yang masuk Indonesia khususnya ke Jakarta, kemudian di distribusikan/diedarkan secara gelap ke
seluruh wilayah Indonesia dan negara-negara tetangga bahkan sampai ke Belanda dan Australia
(garis biru).
Jalur Peredaran Narkoba, berdasarkan data BNN:
Amfethamine
Polandia – Skadianaria
Polandia – Jerman
Belanda – Inggris
Myanmar – Thailand
Cina – Myanmar – Thailand
Cannabis tumbuhan
Afrika Selatan - (Belanda/Inggris) - Eropa Barat
Colombia - Afrika Selatan - Eropa Barat
Colombia (Venezuela) - Eropa barat
Colombia - Eropa Timur - Eropa Barat
Colombia - Mexico - USA
Caribia - Amerika Utara (Canada&USA)
Colombia - Caribia - Amerika Utara
Mexico - USA
Afghanistan - Pakistan, Afrika Timur - Eropa Timur
Jamaica - Canada
Jamaica - Eropa Barat (Inggris)
Cocaine
Colombia/peru – Brazilia – Afrika Selatan – Eropa Barat
Colombia/Peru – Brazilia – Afrika Barat – Eropa Barat
Colombia/Peru/Bolovia – Amerika Selatan (Argentina/Uruguay/Chili) – Eropa Barat
Colombia/Peru/Bolovia – Amerika Selatan (Argentina/Uruguay/Chile) – Afrika Selatan
Colombia – Spanyol – Eropa Barat
Colombia – Belanda – Eropa Barat
Colombia – Venezuela – Ukrania/Rusia – Eropa Barat
Colombia – Caribia – Inggris/Belanda
Colombia – Venezuela – Amerika Utara/Eropa Barat
Colombia – Amerika Tengah- Mexico – Amerika Utara
Colombia – Amerika Tengah – USA
Colombia – Mexico – USA
Colombia – USA (Miami/New York)
Getah Cannabis
Maroko - Eropa Barat (Belanda)
Maroko - Spanyol - Eropa Barat
Pakistan - Eropa Barat
Pakistan - Amerika Utara
India - Amerika Utara
Pakistan - Australia
Afghanistan - Asia Tengah - Rusia/Rusia Timur
Heroin
Afghanistan – Pakisan - Afrika Timur - Eropa Barat
Afghanistan – Pakistan – Timur Tengah (Saudi Arabia) – Eropa Barat
Afghanistan – Iran – Turki – Balkan – Italia – Eropa Barat
Afghanistan – Iran – Turki – Balkan – Jerman (Eropa Barat)
Afghanistan – Pakistan – India – Eropa Timur – Eropa Barat
Myanmar – Thailand – Autralia
Myanmar – Thailand – Eropa Barat
Myanmar – Singapore/Malaysia/Indonesia – Eropa Barat
Myanmar – Singapore/Malaysia/Indonesia – Australia
Myanmar – Cina – (Hongkong) – Australia
Myanmar – Cina – (Hongkong) – USA
Myanmar – Vietnam – Australia
Myanmar – Laos/Cambodia – Eropa Barat
Colombia – USA (Pantai Timur)
Colombia – Caribia – USA
Mexico – USA
Methagualone
India – Afrika Selatan
India – Afrika Timur – Afrika Selatan
Methamphetamine
Mexico – USA
Cina – Hongkong
Korea – Jepang
Cina – Jepang
Psikotropika
LSD: Eropa Barat (Belanda) – Australia/Selandia Baru
MDMA: Eropa Barat (Belanda) – Afrika Selatan
MDMA: Eropa Barat (Belanda) – Australia – Selandia Baru
MDMA: Belanda – Perancis – Inggris
Apoteker dalam Distribusi Obat, Perlukah?
Adalah syarat mutlak bahwa setiap obat yang beredar harus aman ( safety), bermutu (quality), dan
bermanfaat (efficacy).Faktanya, obat tidak segera digunakan setelah dibuat.Perjalanan dari gudang
pabrik hingga ke tangan pasien memerlukan waktu yang tidak dapat ditentukan.Bisa dalam hitungan
bulan, bahkan tahun.Di sepanjang perjalanan itu banyak sekali faktor lingkungan yang mungkin saja
mempengaruhi mutu obat, misalnya saja suhu, cahaya, dan lembab. Tidak ada yang bisa mengetahui
apakah obat masih sama bagusnya dengan saat produksi atau tidak. Oleh karena itu, perlu adanya
sistem yang dapat menjamin syarat mutlak itu terpenuhi, bukan hanya saat obat didaftarkan, atau
setelah diproduksi di pabriknya, namun saat obat didistribusikan, hingga saat digunakan oleh pasien.
Pada saat dibuat, pengujian keamanan, mutu dan khasiat obat tentu saja tidak mungkin dilakukan
terhadap semua obat. Pengujian dilakukan dengan cara sampling. Jumlah sampel yang diambil memang
sudah diperhitungkan agar serepresentatif mungkin terhadap jumlah semua obat yang dibuat.Namun
tidak menutup kemungkinan di antara obat yang tidak ter- sampling ada yang tidak memenuhi
persyaratan. Bayangkan jika obat yang seperti itu sampai ke tangan pasien, terlebih jika obat itu
adalah obat yang krusial seperti obat jantung, hipertensi, diabetes mellitus… Namun itu semua dapat
dihindari jika proses yang dilakukan benar dari awal pembuatan hingga akhir, dari bahan baku
menjadi obat yang siap di tangan pasien. Itulah sebabnya dibuat berbagai peraturan di semua sektor
yang terlibat, dari hulu ke hilir. Di industri ada yang namanya Cara Pembuatan Obat yang Baik
(CPOB), di apotek dan IFRS disebut Pelayanan Farmasi yang Baik (PFB), yang paling baru di bidang
distribusi sudah ada juga Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB).
Distribusi obat melibatkan tidak hanya distributor/PBF (Pedagang Besar Farmasi) saja, melainkan
termasuk sarana pelayanan kefarmasian seperti apotek, rumah sakit, praktek bersama, dan
sebagainya. CDOB sendiri bertujuan untuk menjamin penyebaran obat secara merata dan teratur
agar dapat diperoleh oleh pasien saat dibutuhkan, pengamanan lalu lintas dan penggunaan obat,
melindungi masyarakat dari kesalahan penggunaan dan penyalahgunaan obat, menjamin agar obat yang
sampai ke tangan pasien adalah obat yang efektif, aman, dan dapat digunakan sesuai tujuan
penggunaannya, menjamin penyimpanan obat aman dan sesuai, termasuk selama transportasi. Disinilah
peran Apoteker yang berkompeten dibutuhkan.
Mengapa Apoteker? Distribusi obat tidak seperti distribusi barang dan jasa yang lain. Obat bukan
sekedar objek perdagangan yang komersil semata.Lebih dari itu, obat memiliki nilai yang lebih besar,
yaitu nilai sosial.Salah-salah, nyawa jutaan manusia taruhannya.Dunia obat adalah bisnis yang
dilematis.Apoteker, melalui sumpah profesinya, memegang tanggung jawab besar atas ilmu yang
dimilikinya, tak hanya pada profesi tetapi juga kepada Tuhannya. Melihat krusialnya aspek obat itu
sendiri, kini Apoteker tak hanya dituntut untuk bisa ‘membuat’ atau ‘memberikan’ obat saja, tetapi
juga dalam memastikan peredarannya (distribusi).
Rujukan :
1. KepMenkes No. 1191/Menkes/SK/IX/2002 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kesehatan RI
No. 918/ Menkes/Per/X/1993 tentang Pedagang Besar Farmasi
2. Kepmenkes No. 1331/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan Peraturan Menteri Kesehatan RI
No. 167/Kab/B VIII/1972 tentang Pedagang Eceran Obat
3. SK Ka Badan POM No : HK 00.05.3.2522 Tahun 2003 tentang Penerapan Pedoman Cara Distribusi
Obat yang Baik
4. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian
5. Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 1998 tentang Pengawasan Sediaan Farmasi dan Alat
Kesehatan

.
1) Definisi PBF
Pedagang Besar Farmasi adalah suatu usaha berbentuk badan hukum yang memiliki izin
untuk pengadaan, penyimpanan, penyaluran, perbekalan farmasi dalam jumlah besar sesuai
perundang-undangan yang berlaku.
MenurutSK Mentri Kesehatan no:243/MENKES/SK/V/1990 tentang PBF sudah tidak
sesuai lagi dengan keadaan kefarmasian dewasa ini, maka ditetapkan peraturan Kementrian
Kesehatan no:918/MANKES/PER/X/1993 bahwa PBF adalah badan hukum berbentuk persoraan
terbatas atau koperasi yang memiliki izin mengadakan penyimpanan dan penyaluran perbekalan
farmasi dalam jumlah besar sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1148/ MENKES/ PER/
VI/ 2011 tentang Pedagang Besar Farmasi yang dimaksud dengan Pedagang Besar Farmasi, yang
selanjutnya disingkat PBF adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk
pengadaan, penyimpanan, penyaluran obat dan/atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang
Pekerjaan Kefarmasian Pasal 1 ayat 12 yang berbunyi Pedagang Besar Farmasi adalah perusahaan
berbentuk badan hukum yang memilki izin untuk pengadaan, penyimpanan, penyaluran perbekalan
farmasi dalam jumlah besar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam Peraturan tersebut juga memberikan batasan terhadap beberapa hal yang
berkaitan dengan kegiatan Pedagang Besar Farmasi yaitu batasan mengenai :
 Perbekalan Farmasi adalah perbekalan yang meliputi obat, bahan obat dan alat kesehatan.
 Sarana pelayanan kesehatan adalah apotik, rumah sakit, atau unit kesehatan lainnya yang ditetapkan
Mentri Kesehatan, toko obat dan pengecer lainnya.
Setiap PBF harus memiliki apoteker penanggung jawab yang bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan ketentuan pengadaan, penyimpanan dan penyaluran obat dan/atau bahan obat.Apoteker
penanggung jawab harus memiliki izin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Beberapa hal berkaitan dengan Perizinan PBF dan/ atau PBF cabang adalah:
1. Izin PBF dikeluarkan oleh Dirjen Bidang Pembinaan dan Pengawasan
2. Izin PBF berlaku selama 5 tahun dan boleh diperpanjang
3.PBF boleh membuka cabang yang disebut PBF cabang
4. PBF cabang harus mendapat surat pengakuan dari Ka. Dinkes Provinsi setempat dimana PBF cabang
berada
5.Pengakuan PBF cabang berlaku selama izin PBF cabang berlaku.
Persyaratan Pedagang Besar Farmasi
Pedagang Besar farmasi wajib memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1. Dilakukan oleh badan hukum, perseroan terbatas,Koperasi, Perusahaan nasional, Maupun perusahaan
patungan antara penanam modal asing yang telah memperoleh izin usaha industrial Farmasi di
Indonesia dengan perusahaan nasional.
2. Memiliki nomor wajib pajak ( NPWP)
3. Memiliki izin asisten apoteker yang bekerja penuh
4. Anggota di reksi tidak pernah terlibat pelanggaran ketentuan perundang-undangan di bidang
farmasi.
5. Pedagang besar farmasi / Pedagang Besar farmasi cabang wajib mengadakan, menyimpan dan
menyalurkan perbekalan farmasi yang memenuhi syarat mutu.
6. PBF wajib melaksanakan pengadaan obat, bahan baku obat dan alkes dari sumber yang sah.
7. Bangunan atau sarana memadai untuk melaksanakan pengadaan , pengelolaan, penyimpanan, dan
penyaluran perbekalan farmasi.

a. Gudang di lengkapi dengan kelengkapan yang dapat menjamin mutu keamanan perbekalan
farmasi yang di simpan.
b. Gudang dan kantor dapat di pisah asal pengawasan intern direksi dan penanggung jawab tetap
efektif
c. PBF wajib melaksanakan dokumentasi pengadaan, penyimpanan dan penyaluran secara tertib
Izin PBF tidak berlaku bila:
1. Masa berlaku izin sudah habis dan tidak diperpanjang
2. PBF sedang dikenai sanksi penghentian sementara kegiatan
3. Izin PBF dicabut
Pengakuan PBF cabang tidak berlaku bila:
1. Masa berlaku izin PBF habis dan tidak diperpanjang
2. PBF cabang sedang dikenai sanki penghentian sementara kegiatan
3.Pengakuan dicabut.
PBF ada 2 macam yaitu PBF obat dan PBF bahan baku obat. Menurut PP no. 51 Tahun 2009 tentang
Pekerjaan Kefarmasian, yang dimaksud Fasilitas distribusi adalah sarana yang digunakan untuk
menyalurkan atau mendistribusikan sediaan farmasi dalam rangka perdagangan, bukan perdagangan
atau pemindahtanganan.
Kewajiban PBF dan PBF cabang
( Berkaitan dengan apoteker ) :
1. PBF atau PBF cabang harus memiliki apoteker penanggung jawab dalam melakukan pengadaan,
penyimpanan dan penyaluran obat dan atau bahan obat.
2. Apoteker penanggung jawab harus memiliki izin sesuai ketentuan peraturan perundang undangan
3. Apoteker tidak boleh merangkap jabatan sebagai direksi/pengurus PBF atau PBF cabang
4.Setiap pergantian apoteker penanggung jawab, direksi/pengurus PBF atau PBF cabang harus
melaporkan kepada Dirjen atau KA.Dinkes Provinsi selambat-lambatnya enam hari kerja.
( Berkaitan dengan CDOB)
5.PBF atau PBF cabang dalam melaksanakan Pengadaan, penyimpanan dan penyaluran obat atau bahan
obat harus menerapak CDOB yang ditetapkan oleh Menteri
6. Penerapan CDOB mengikuti pedoman teknis CDOB yang ditetapkan oleh kepala badan
7. PBF atau PBF cabang yang telah menerapkan CDOB diberikan sertifikat CDOB oleh kepala badan
( Berkaitan dengan dokumentasi)
8. PBF atau PBF cabang wajib mendokumentasikan setiap pengadaan, penyimpanan, penyaluran obat
dan atau bahan obat sesuai pedoman CDOB
9. Dokumentasi boleh dilakukan secara elektronik
10. Dokumentasi harus dapat diperiksa setiap saat oleh petugas
( Berkaitan dengan larangan )
11. PBF atau PBF cabang dilarang menjual obat dan atau bahan obat secara eceran
12. PBF atau PBF canbang dilarang menerima/melayani resep
PBF dan PBF cabang hanya bisa menyalurkan obat kepada:
1. PBF lain
2. PBF cabang lain
3. Fasilitas pelayanan kefarmasian:
- Apotek
- Klinik
- Puskesmas
- Toko obat
- Praktek bersama
- Instalasi Farmasi Rumah sakit
4. Pemerintah, bila pemerintah membutuhkan sesuai ketentuan peraturan yang berlaku
5.PBF cabang hanya bisa menyalurkan obat dialam batas wilayah provinsi pengakuannya
6. Lembaga Ilmu Pengetahuan
Untuk PBF bahan baku obat memiliki kewajiban tambahan yaitu:
1. Laboratorium, yang mempunyai kemampuan untuk melakukan pengujian bahan baku obat sesuai
ketentuan yang ditetapkan dirjen.
2. Gudang khusus tempat penyimpanan
PBF atau PBF cabang menyalurkan obat berdasarkan pesanan yang di apoteker pengelola apotek atau
apoteker penanggung jawab. Dikecualikan untuk pesanan untuk kepentingan lembaga ilmu
pengetahuan, surat pesanan ditandatangani oleh pimpinan lembaga. UNtuk peyaluran obat atau bahan
obat berupa obat keras, surat pesanan harus ditandatangai oleh apoteker penanggung jawab atau
apoteker pengelola apotik. PBF atau PBF cabang yang melakukan pengadaan, penyimpanan, dan
penyaluran narkotik harus memiliki izin khusus sesuai peraturan perundang undangan.PBF atau PBF
cabang yang melakukan pegubahan kemasan dari kemasan aslinya atau pengemasan kembali terhdap
kemasan aslinya dari bahan obat wajib melakukan pengujian mutu dan wajib memiliki ruang
pengemasan kembali.
Penyelenggaraan
PBF hanya boleh melakukan pengadaan obat dari industri farmasi atau PBF lain
PBF hanya boleh melakukan pengadaan bahan obat dari industri farmasi atau PBF lain dan atau
melalui importasi. Importasi harus dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang undangan.
PBF cabang hanya boleh melakukan pengadaan obat dan atau bahan obat dari PBF pusat.
PBF bisa berfungsi sebagai tempat pendidikan dan pelatihan.
Gudang
Gudang dan kantor PBF atau PBF cabang boleh terpisah selama tidak mengurangi efektivitas
pengawasan internal oleh direksi /pengurus dan penanggung jawab, dan gudang tersebut harus
memiliki seorang apoteker penanggung jawab.
PBF boleh melakukan penambahan gudang atau perubahan gudang dengan syarat mendapat
persetujuan dari Dirjen Bidang Pembinaan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian
Kesehatan.Gudang tambahan hanya melaksanakan penyimpanan dan penyaluran sebagai bagian dari
PBF atau PBF cabang.
PBF cabang juga boleh melakukannya bila mendapat persetujuan dari Ka.Dinkes Provinsi setempat.
Pelaporan
Setiap PBF atau PBF cabang wajib membuat laporan setiap 3 bulan sekali yang ditujukan kepada
dirjen dengan tembusan kepala badan POM, Ka. Dinkes Provinsi, Kepala Balai POM.
Kecuali untuk PBF atau PBF cabang yang menyalurkan Narkotika dan psikotropika wajib membuat
laporan bulanan penyaluran Narkotika dan Psikotropika sesuai peraturan perundang-undangan
Pembinaan
1. Pemerintah, Pemda, atau Pemkot melakukan pembinaan terhadap segala kegiatan yang berhubungan
dengan peredaran obat dan bahan obat.
2. Pembinaan bertujuan untuk:
- Menjamin ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat atau bahan obat untuk upaya
kesehatan
- Melindungi masyarakat dari bahaya penggunaan obat atau bahan obat yang tidak tepat, atau tidak
memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan.

2) Tugas dan fungsi PBF
a. Tugas PBF
1) Tempat menyediakan dan menyimpan perbekalan farmasi yang meliputi obat, bahan obat, dan alat
kesehatan.
2) Sebagai sarana yang mendistribusikan perbekalan farmasi ke sarana pelayanan kesehatan
masyarakat yang meliputi : apotek, rumah sakit, toko obat berizin dan sarana pelayanan kesehatan
masyarakat lain serta PBF lainnya.
3) Membuat laporan dengan lengkap setiap pengadaan, penyimpanan, penyaluran, perbekalan farmasi
sehingga dapat di pertanggung jawabkan setiap dilakukan pemeriksaan. Untuk toko obat berizin,
pendistribusian obat hanya pada obat-obatan golongan obat bebas dan obat bebas terbatas,
sedangkan untuk Apotek, rumah sakit dan PBF lain melakukan pendistribusian obat bebas, obat bebas
terbatas, obat keras dan obat keras tertentu.
b. Fungsi PBF
1) Sebagai sarana distribusi farmasi bagi industri-industri farmasi.
2) Sebagai saluran distribusi obat-obatan yang bekerja aktif ke seluruh tanah air secara merata dan
teratur guna mempermudah pelayanan kesehatan.
3) Untuk membantu pemerintah dalam mencapai tingkat kesempurnaan penyediaan obat-obatan untuk
pelayanan kesehatan.
4) Sebagai penyalur tunggal obat-obatan golongan narkotik dimana PBF khusus, yang melakukannya
adalah PT. Kimia Farma.
5) Sebagai aset atau kekayaan nasional dan lapangan kerja.

Setiap PBF harus memiliki apoteker penanggung jawab yang bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan ketentuan pengadaan, penyimpanan dan penyaluran obat dan/atau bahan obat.Apoteker
penanggung jawab harus memiliki izin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
B. Perundang –Undangan

 Pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi,
pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan
obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat,
bahan obat dan obat tradisional.

 Tenaga Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan pekerjan kefarmasian yang
terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian.

 Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan
sumpah jabatan Apoteker.

 Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu apoteker dalam menjalani
pekerjaan kefarmasian,yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis
Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi / Asisten Apoteker.

 Surat Tanda Registrasi Apoteker, yang selanjutnya disingkat STRA adalah bukti tertulis
yang diberikan oleh Menteri kepada Apoteker yang telah diregistrasi.

 Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian, yang selanjutnya disingkat STRTTK
adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Tenaga Teknis Kefarmasian yang
telah diregistrasi.

 Surat Izin Kerja Apoteker, yang selanjutnya disebut SIKA adalah surat izin praktik yang
diberikan kepada Apoteker untuk dapat melaksanakan pekerjaan kefarmasian pada fasilitas
produksi atau fasilitas distribusi atau penyaluran.

 Surat Izin Kerja Tenaga Teknis Kefarmasian, yang selanjutnya disebut SIKTTK adalah surat
izin praktik yang diberikan kepada Tenaga Teknis Kefarmasian untuk dapat melaksanakan
pekerjaan kefarmasian pada fasilitas kefarmasian.

 Fasilitas Distribusi atau Penyaluran sediaan Farmasi adalah sarana yang digunakan untuk
mendistribusikan atau menyalurkan sediaan farmasi, yaitu Pedagang Besar Farmasi.

 Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika.

 Perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat dan peralatan yang diperlukan untuk
menyelenggarakan upaya kesehatan.

 Alat kesehatan adalah bahan, instrument aparatus, mesin, implan yang tidak mengandung
obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan dan meringankankan
penyakit, merawat orang sakit serta memulihkan kesehatan pada manusia dan atau untuk
membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh.

 Standar kefarmasiaan adalah pedoman untuk melakukan pekerjaan kefarmasiaan pada
fasilitas produksi, distribusi atau penyaluran, dan pelayanan kefarmasiaan.

 Larangan bagi Pedagang Besar Farmasi yaitu menjual perbekalan farmasi secara eceran baik
ditempat kerjanya maupun ditempat lain; melayani resep dokter; melakukan pengadaan,
penyimpanan, dan penyaluran Narkotika tanpa izin khusus dari Mentri Kesehatan.

 Izin usaha Pedagang Besar Farmasi akan dicabut jika, tidak mempekerjakan Apoteker
penanggung jawab yang memilki surat izin kerja ; tidak aktif lagi dalam penyaluran
obatselama satu tahun ; tidak lagi memenuhi persyaratan usaha sebagaimana ditetapkan dala
peraturan ; tidak lagi menyampaikan informasi Pedagang Besar Farmasi tiga kali berturut
turut ; tidak memenuhi ketentuan tat cara penyaluran perbekalan farmasi sebagaimana yang
ditetapkan.
Dalam melakukan pekerjaan kefarmasian di PBF Asisten Apoteker Penanggung jawab PBF harus
memiliki surat izin kerja. Keputusan Mentri kesehatan Apoteker. :
1. Asisten apoteker adalah tenaga kesehatan yang berijazah sekolah asisten apoteker atau sekolah
menengah farmasi, Akademi Farmasi, Akademi farmasi, dan Jurusan farmasi politeknik
kesehatan,akademi analisis farmasi dan makanan, Jurusan analisis farmasi serta makanan, Politeknik
kesehatan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku
2. Surat Izin Asisten Apoteker adalah bukti tertulis atas kewenangan yang di berikan kepada
pemegang ijazah sekolah Asisten Apoteker atau sekolah menengah Farmasi dan jurusan farmasi
politeknik kesehatan, Akademi Analisis farmasi dan Makanan, Jurusan, Analisis Farmasi serta
Makanan Politeknik kesehatan untuk menjalankan pekerjaan Kefarmasian sebagai asisten Apoteker.
3. Surat Izin Asisten Apoteker adalah bukti tertulis yang di berikan kepada pemegang Surat Izin
Asisten Apoteker untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di srana kefarmasian.
4. Sarana Kefarmasian adalah tempat yang di gunakan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian antara
lain industri farmasi, apotek, dan toko Obat.

Peraturan Di Bidang farmasi
• PEKERJAAN KEFARMASIAN DALAM DISTRIBUSI ATAU PENYALURAN (PBF) SEDIAAN
FARMASI
Pasal 14 PP No.51 th 2009 ttg pekerjaan kefarmasian
Ayat (1)
Setiap fasilitas distribusi atau penyaliuran sediaan farmasi (PBF) harus memiliki seorang Apoteker
sebagai penanggung jawab.
Ayat (2)
Apoteker sebagai penanggung jawab sebagaimana diatur dalam ayat (1) dapat dibantu oleh Apoteker
pendamping dan/atau Tenaga Tehnis Kefarmasian

Pasal 17
~Pasal 17 PP No.51 tahun 2009 ttg Pekerjaan Kefarmasian
Pekerjaan kefarmasian yang barkaitan dengan proses distribusi atau penyaluran sediaan farmasi
pada fasilitas Distribusi atau Pnyaluran sediaan farmasi (PBF) wajib dicatat oleh Tenaga kefarmasian
sesuai tugas dan fungsinya
Pasal 18
~Tenaga Kefarmasian dalam melakukan Pekerjaan kefarmasian dalam fasilitas Distribusi atau
Penyaluran sediaan farmasi (PBF) harus mengikuti perkembangan IPTEK dibidang farmasi dan
penyaluran

F. Kewajiban Pedagang Besar Farmasi
PBF wajib melakukan pembukuan, sebagai beriku :
1. Pengarsipan Surat Pesanan
2. Faktur Penerimaan barang dari pusat
3. Faktur Pengiriman dan penyerahan barang
4. Kartu persediaan

PBF wajib membuat laporan pendistribusian obat pertriwulan, sehingga bila di lakukan
pemeriksaan dapat di pertanggung jawabkan.

Pencatatan jumlah obat pada kartu stock harus sesuai dengan jumlah barang yang masuk atau
keluar sesuai dengan faktur penjualan/ penyerahan barang. Jumlah penerimaannya harus sesuai
dengan dokumen penerimaan barang

G.Tata cara penyaluran
Pedagang Beasar Farmasi hanya dapat melaksanakan penyaluran obat keras kepada :
1. Pedagang Besar Farmasi lainnya berdasarkan surat pesanan yang di tandatangani oleh penanggung
jawab PBF.
2. Apotek berdasarkan surat pesanan yang di tanda tangani oleh Apoteker Pengelola Apotek
3. Rumah sakit berdasarkan surat pesanan yang di tandatangani oleh Apoteker Kepala instalasi
farmasi rumah sakit.
4. Instalasi lain yang di izinkan menkes

a. Alur Pendistribusian Perbekalan Farmasi

Bentuk-bentuk atau system saluran distribusi perbekalan farmasi.

Bentuk atau sistem distribusi perbekalan farmasi adalah sesuai kebijaksanaan/peraturan
farmasi seperti yang tercantum dalam undang-undang kesehatan. Yang di maksud dengan Perbekalan
Farmasi menurut undang-undang kesehatan adalah perbekalan farmasi meliputi :
1. Obat
2. Bahan baku obat.
3. Obat tradisional dan bahan tradisional ( obat asli indonesia) dan (bahan obat asli indonesia)
4. Alat-alat kesehatan
5. Kosmetik

Sedangkan obat terdiri dari 4 golongan yaitu:
Obat narkotik
Obat daftar G dan obat keras tertentu (OKT) psikotropika
Obat daftar W
Obat daftar bebas

b. Bentuk saluran distribusi obat daftar G
Secara umum bentuk saluran distribusi obat G dapat di tempuh salah satu dari bentuk saluran
distribusi yang ada.

~ Bentuk Saluran Distribusi obat W.

~ Bentuk saluran distribusi daftar obat bebas :

Adapun skema pemesanan barang dari pedagang besar farmasi yaitu :
Contoh-contoh PBF:
1.PT.Medindo surya tama
PT. Medindo Surya Tama adalah salah satu perusahaan jasa distribusi produk farmasi dan
medical equipment dengan 3 orang karyawan.PT. Medindo Surya Tama meupakan PBF tunggal yang
didirikan pada tahun 2007 bertempat di jalan Ramania dalam No. 63 F, keluarga sidodadi samarinda.
PT. Medindo Surya Tama merupakan penyalur produk farmasi dari PT. Erita Farma, PT.
Balatif,dan PT. Saparindo. Obat-obat yang di salurkan adalah obat-obat generic, paten, jamu atau
obat tradisional dan juga alkes.
Obat-obatan yang di distibusiakan di PT. Medindo Surya Tama antara lain :

1. PT. Saparindo
Contohnya : Amoxicillin

2. PT. Balatif
Contohnya : Arkavit dan Betalgin

3. Eritra farma
Contohnya : Etamol, Etagesik, Etaflusin

Alkes yang didistribusikan oleh PT. Medindo Surya Tama anatara lain ;
 Alat Glucosure
 Glucosure Touch in strip
 UA Sure Blood Urid Acid Strip
 Multicare Meter
 Handscun latex
 Dan alat-alat kedokteran linnya.

2.PT.Kimia farma trading and distribution
PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. merupakan satu-satunya perusahaan yang diizinkan oleh pemerintah
untuk mengimpor, memproduksi, dan mendistribusikan narkotika di wilayah Indonesia.
Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pengawasan oleh Pemerintah, karena sifat negatifnya yang
dapat menyebabkan ketagihan yang sangat merugikan.
Pengelolaan narkotika meliputi kegiatan-kegiatan:
Tata Cara Pemesanan Narkotika
Undang-Undang No. 9 tahun 1976 menyatakan bahwa Menteri Kesehatan memberikan izin kepada
apotek untuk membeli, meracik, menyediakan, memiliki atau menyimpan untuk persediaan, menguasai,
menjual, menyalurkan, menyerahkan, mengirimkan, membawa atau mengangkut narkotika untuk
kepentingan pengobatan.
Pengadaan narkotika di apotek dilakukan dengan pesanan tertulis melalui Surat Pesanan Narkotika
kepada Pedagang Besar Farmasi (PBF) PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Surat Pesanan narkotika harus
ditandatangani oleh APA dengan mencantumkan nama jelas, nomor SIK, SIA, stempel apotek. Satu
surat pesanan terdiri dari rangkap empat dan hanya dapat untuk memesan satu jenis obat narkotika
PT Kimia Farma Trading & Distribution (KFTD) merupakan anak perusahaan dari PT Kimia Farma
(Persero) Tbk yang bergerak dalam bidang distribusi obat atau disebut dengan pedagang besar
farmasi (PBF).PT KFTD memiliki Prinsipal dalam pendistribusian perbekalan yaitu PT Bayer, PT
Metrolis, PT Global Distro Medica, PT Mahakam Beta Farna.

Marketing atau pemasaran PT KFTD dibagi berdasarkan produk yaitu :
1. On The Counter (OTC)
Pada pemasaran OTC mendistribusikan Consumer Health Product (CHF) atau mendistribusikan
produk kesehatan masyarakat, obat-obat bebas yang umum digunakan oleh masyarakat, biasa dijual
pada swalayan farmasi di apotek Kimia Farma maupun apotek, toko obat dan mini market lainnya.
Promosi OTC dapat dilakukan dengan memasang spanduk atau iklan pada media cetak dan elektronik.

2. Lini Ethical
Lini Ethical mendistribusikan obat atau produk paten yang tidak dapat dijual dengan bebas
harus melalui resep dokter, apotek dan instalasi-instalasi farmasi rumah sakit.

Berdasarkan jenis obat Lini Ethical dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Ethical Garuda
Ethical Garuda mendistribusikan obat-obat antibiotik, vitamin, analgetik dan mukolosistem.

2. Ethical Rajawali
Ethical Rajawali mendistribusikan obat-obat gastro, kardia, kulit atau kelamin.

3. Lini Obat Generik (OG) dan Lini Obat Generik Berlogo
Lini OG mendistribusikan obat dengan nama dagang yang sama dengan kandungannya.
Pendistribusian OG sangat luas yang meliputi toko obat, apotek, dokter dan rumah sakit.
Lini OGB mendistribusikan obat generik tetapi menggunakan nama pabrik yang memproduksi.
Pendistribusian OGB biasanya mengikuti atau bekerja sama Lini Ethical, karna membawa produk dari
perusahaan yang sama yaitu PT. Kimia Farma.
4. Lini Instusi
Lini Instuti mendistribusikan dan mengadakan obat-obat pada instalasi-instalasi pemerintah,
berdasarkan tender yang didapat.Untuk melaksanakan tender ini harus ada Surat Perintah Kerja
(SPK).

Untuk obat narkotika, PT KFTD merupakan satu-satunya PBF yang diberi wewenang oleh
pemerintah dalam pendistribusian narkotika untuk apotek, rumah sakit dan balai-balai pengobatan
lainnya.

3.Antar medika sembada

AMS Menyalurkan obat dari PT:

PT PHAROS PT NOVELL PHARMACEUTICAL PT PYRIDAM FARMA
INDONESIA LABORATORIES Tbk

PT SURYA DERMATO PT GALENIUM PHARMASIA PT INDOFARMA
MEDICA LABORATORIES GLOBAL MEDIKA

4.Bina san prima
Bina san prima menyediakan produk:
PT. Sanbe Farma (Ethical) PT.Sanbe

farma(aqua culture)

PT.Sanbe farma(OGB) PT.Sanbe farma(vision)
PT.Sanbe farma(OTC) PT.Sanbe farma(veterinary)

PT.Sanbe farma(infus)

5.Anugrah pharmindo lestari
Produk farmasi
PT Dexa Medica

PT Ferron Par Pharmaceuticals

PT Glaxo Smith Kline Indonesia

PT INMARK Pharmaceuticals

PT Novo Nordisk Indonesia

PT Pfizer Indonesia

PT Tanabe Indonesia

PT Merck Tbk

Definisi Apotek
Dalam rangka menunjang pembangunan nasional pada bidang kesehatan perlu dikembangkan iklim baik
mengenai pengelolaan apotek sehingga pemerintah dapat menguasai, mengatur, dan mengawasi
pensediaan, pembuatan, penyimpanan, peredaran dan pemakaian obat dan perbekalan farmasi lainnya,
sehingga perlu diadakan perubahan atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 Tahun 1965. Sebagai
gantinya mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1980 yang merupakan perubahan atas
perndang-undangan No. 26 Tahun 1965 tentang apotek.
Menurut Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1980 yang dimaksud dengan apotek adalah suatu
tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian, dan penyaluran obat kepada
masyarakat.Pekerjaan kefarmasian yang dimaksud adalah pembuatan, pengolahan, peracikan,
pengubahan bentuk, pencampuran, dan penyerahan obat atau bahan obat.
Sejalan dengan perkembangan zaman dan dinamika kefarmasian, maka definisi apotek diperbaharui
kembali dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) No.
922/MENKES/PER/X/1993, tentang definisi apotek diperbaharui dan tata cara pemberian izin
apotek. Penyelenggaraan pelayanan apotek yang tercantum pada Permenkes RI No.
922/MENKES/PER/X/1993, sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan IPTEK, dan kebutuhan
masyarakat serta jiwa semangat otonomi daerah, sehingga dikeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia (Kepmenkes RI) Nomor: 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang perubahan
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor: 922/MENKES/PER/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata
Cara Pemberian Izin Apotek. Menurut Kepmenkes RI Nomor: 1332/MENKES/SK/X/2002, definisi
apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran
sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat.

2.2 Tugas dan Fungsi Apotek
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1980 pasal 2, apotek sebagai sarana pelayanan
kesehtaan memiliki tugas dan fungsi sebagai berikut:
a. Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan.
b. Sarana farmasi yang melakukan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat
atau bahan.
c. Sarana penyalur perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat
secara meluas dan merata.

2.4 Pengelolaan Apotek
Pengelolaan apotek secara khusus meliputi:
a. Pembuatan, pengelolaan, peracikan, perubahan bentuk, pencampuran penyimpanan, dan penyerahan
obat atau bahan obat.
b. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan perbekalan farmasi lainnya.
c. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi.

Pelayanan inforamsi yang dimaksud meliputi:
a. Pelayanan informasi tentang obat dan perbekalan farmasi lainnya yang diberikan baik kepada
dokter dan tenaga kesehatan lainnya maupun kepada masyarakat.
b. Pelayanan informasi mengenai khasiat, keamanan, bahaya dan mutu obat serta perbekalan farmasi
lainnya.

Pengelolaan apotek secara umum meliputi:
a. Bidang pelayanan kefarmasian.
b. Bidang material.
c. Bidang administrasi dan keuangan.
d. Bidang ketenagaan.
e. Bidang lain yang berkaitan dengan tugas dan fungsi apotek.

2.5 Persyaratan Apotek
Berdasarkan Permenkes RI No. 26/MENKES/PER/X/1981 dan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
278/MENKES/SK/V/1981, dinyatakan bahwa persyaratan minimal yang harus dipenuhi untuk
mendirikan suatu apotek adalah adanya lokasi, bangunan, perlengkapan apotek, perbekalan farmasi
dan tenaga kesehatan, dan pelayanan apotek. Artinya untuk mendapatkan izin apotek, apoteker atau
apoteker yang bekerja sama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan minimal, harus
telah siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan di
bidang farmasi, serta tenaga kesehatan.

2.5.1 Lokasi
Menurut Menteri Kesehatan RI No. 278 Tahun 1981 dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan lokasi
apotek adalah tempat bangunan apotek didirikan, lokasi apotek yang baru atau berpindah, jumlah dan
jarak minimal antar apotek ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Penentuan lokasi yang harus menjadi
pertimbangan segi penyebaran dan pemerataan pelayanan kesehatan adalah jumlah penduduk, jumlah
dokter yang praktek, sarana pelayanan kesehatan lainnya, hygiene lingkungan dan faktor-faktor yang
terkait setelah adanya otonomi daerah maka faktor jarak sudah tidak dipermasalahkan lagi.

2.5.2 Bangunan
Bangunan apotek adalah bangunan gedung yang dipergunakan untuk mengelola apotek. Berdasarkan
Keputusan Menkes No. 278 Tahun 1981, bangunan apotek harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
a. Bangunan apotek mempunyai ukuran sekurang-kurangnya 50 m2 terdiri dari ruang tunggu, ruang
peracikan dan penyerahan resep, ruang administrasi, ruang penyimpanan obat, tempat pencucian alat
dan toilet (WC).
b. Bangunan apotek harus memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut:
a) Dinding harus kuat dan tahan air, permukaan sebelah dalam rata, tidak mudah mengelupas dan
mudah dibersihkan.
b) Langit-langit harus terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak dan permukaan sebelah dalam
berwarna terang.
c) Atap tidak boleh bocor, terbuat dari genteng, sirap atau bahan lain yang memadai.
d) Lantai tidak boleh lembab, terbuat dari ubin atau bahan lain yang memadai.
c. Apotek memiliki sumber aiar yang memenuhi persyaratan kesehatan.
d. Bangunan apotek harus memiliki ventilasi dan sanitasi yang baik, serta memenuhi persyaratan
hygiene lainnya.
e. Harus memiliki penerangan yang cukup sehingga dapat menjamin pelaksanaan tugas dan fungsi
apotek dengan baik.
f. Harus ada alat pemadam kebakaran sekurang-kurangnya dua buah dan masih berfungsi dengan
baik.
g. Apotek harus memasang papan nama yang terbuat dari seng atau bahan lainnya yang memadai
dengan ukuran minimal panjang 60 cm, tebal 5 cm, dan lebar 55 cm, papan nama harus memuat nama
apotek, nama APA, nomor surat izin apotek (SIA), nomor telepon apotek.

2.5.3 Perlengkapan Apotek
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 278 Tahun 1981, yang dimaksud perlengkapan apotek
adalah semua peralatan yang digunakan untuk melaksanakan pengelolaan apotek.
Pada Bab IV Pasal 7 Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 278 Tahun 1981, suatu apotek harus
memiliki perlengkapan sebagai berikut:
a. Alat pembuatan, pengolahan dan peracikan
b. Perlengkapan dan alat penyimpanan perbekalan kesehatan di bidang farmasi
c. Tempat penyimpanan khusus untuk narkotika
d. Tempat penyimpanan khusus untuk racun
e. Alat dan perlengkapan laboratorium
f. Kumpulan perundang-undangan yang berkaitan dengan apotek
g. Farmakope Indonesia dan Ekstra Farmakope Indonesia edisi terbaru serta buku lain yang
ditetapkan oleh Direktur Jenderal.

2.5.4 Perbekalan Kesehatan di Bidang Farmasi
Menurut Kepmenkes No. 1332 Tahun 2002 yang dimaksud dengan perbekalan farmasi adalah semua
bahan dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Apotek berkewajiban
untuk menyediakan, menyimpan, dan menyerahkan sediaan farmasi yang bermutu baik dan
keabsahannya terjamin. Sediaan farmasi yang karena suatu hal tidak dapat digunakan lagi atau
dilarang digunakan, harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau ditanam atau dengan cara lain yang
ditetapkan oleh Menteri (Depkes RI, 2002). Perbekalan farmasi yang disalurkan oleh apotek meliputi
obat, bahan obat, obat asli Indonesia (obat tradisional), bahan obat asli Indonesia, alat kesehatan
dan kosmetika.Apotek harus menyediakan perbekalan kesehatan dibidang farmasi yang berobat dan
bahan obat yang didasarkan pada daftar obat esensial untuk puskesmas dan rumah sakit.
Dalam Permenkes No. 26 Tahun 1981 dinyatakan bahwa apotek berkewajiban untuk menyimpan dan
menyalurkan perbekalan farmasi yang bermutu baik.Ini berarti bahwa perbekalan farmasi yang
tersedia di apotek harus berasal dari pabrik farmasi, pedagang besar farmasi, apotek atau sarana
distribusi resmi lainnya.
Penyimpanan obat-obat golongan narkotika dan psikotropika di apotek harus dalam golongan lemari
khusus yang terpisah dari penyimpanan obat-obat golongan ini.Pengelolaan obat-obatan golongan
narkotika dan psikotropika termasuk pengadaan penyimpanan, penyaluran, dan pemusnahannya
memiliki peraturan perundan-undangan sendiri.

2.5.5 Pelayanan Apotek
Pelayanan yang harus diberikan oleh apotek adalah sebagai berikut:
a. Apotek wajib dibuka untuk melayani masyarakat dari pukul 08.00-22.00
b. Apotek wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan. Pelayanan resep sepenuhnya
atas tanggung jawab apoteker pengelola apotek.
c. Apoteker wajib melayani resep sesuai dengan tanggung jawab dan keahlian profesinya yang
dilandasi pada kepentingan masyarakat. Apoteker tidak diizinkan untuk mengganti obat generik yang
ditulis dalam resep dengan obat paten.Dalam hal pasien tidak mampu menembus obat tertulis didalam
resep, apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat yang lebih tepat.
d. Apoteker wajib memberikan informasi:
a) Yang berkaitan dengan penggunaan obat yang diserahkan kepada pasien
b) Penggunaan obat secara tepat, aman, rasional atas permintaan masyarakat.
e. Apabila apoteker menganggap bahwa dalam resep ada kekeliruan atau penulisan resep yang tidak
tepat, apoteker harus memberitahukan kepada dokter penulis resep. Bila dokter penulis resep tetap
pada pendiriannya dokter wajib membutuhkan tanda tangan yang lazim diatas resep atau dinyatakan
tertulis.
f. Salinan resep harus ditandatangani oleh apoteker
g. Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek dengan baik dalam jangka waktu 3 tahun. Resep
atau salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang merawat
penderita, pencerita yang bersangkutan, petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang
menurut peraturan perundang-undangan yang belaku.
Ketentuan-ketentuan umum yang berlaku tentang perapotekan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan
No. 1332/Menkes/SK/X/2002 adalah sebagai berikut:
a. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus dan telah mengucapkan sumpah jabatan
apoteker, mereka yang berdasarkan perundang-undangan yang berlaku dan berhak melakukan
pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker.
Tugas dan Kewajiban Apoteker
a) Bertanggung jawabatas proses pembuatan obat, meskipun obat dibuat oleh asisten apoteker.
b) Kehadirannya ditempat petugas diatur oleh undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan.
c) Wajib berada ditempat selama jam apotek buka
d) Wajib menerangkan kekonsumen tentang kandungan obat yang ditebus. Penjelasan ini tidak dapat
diwakilkan kepada asisten atau petugas apotek.
e) Membahas dan mendiskusikan resep obat langsung kepada dokter bukan asisten atau petugas
apotek.
f) Wajib menjaga keserasian apotek
b. Surat Izin Apotek (SIA) adalah surat izin yang diberikan oleh Menteri kepada apoteker atau
apoteker bekerja sama dengan Pemilik Sarana Apotek (PSA) untuk menyelenggarakan apotek disuatu
tempat tertentu.
c. Apoteker Pengelola Apotek (APA) adalah apoteker yang telah diberi Surat Izin Apotek dari Dinas
Kesehatan Kota/kabupaten dimana apotek tersebut didirikan.
Tugas, Kewajiban dan Wewenang:
a) Memimpin semua kegiatan apotek, antara lain mengelola kegiatan kefarmasian serta membina
karyawan menjadi bawahan apotek.
b) Secara aktif berusaha sesuai dengan bidang tugasnya untuk meningkatkan dan mengembangkan
hasil usaha apotek.
c) Mengatur dan mengawasi penyimpanan serta kelengkapan terutama di ruang peracikan.
d) Membina serta memberi petunjuk teknis farmasi kepada bawahannya terutama dalam memberikan
informasi kepada pasien.
d. Apoteker pendamping adalah apoteker yang bekerja di apotek disamping Apoteker Pengelola
Apotek dan atau menggantikannya pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek.
e. Apoteker pengganti adalah apoteker yang menggantikan Apoteker Pengelola Apoteker selama
Apoteker Pengelola Apotek tersebut tidak berada ditempat lebih dari tiga bulan secara terus-
menerus, telah memiliki surat izin kerja dan tidak bertindak sebagai Apoteker Pengelola Apotek lain.

f. AsistenApoteker adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai asisten apoteker.

2.6 Perizinan Apotek
Izin apotek diberikan oleh Menteri Kesehatan, yang kewenangannya dilimpahkan kepada Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.
Kepala Dinas Kabupaten/Kota wajib melaporkan pelaksanaan pemberian izin, pembekuan izin,
pencairan izin dan pencabutan izin apotek sekali setahun kepada Menteri kesehatan dengan
tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan.

2.7 Perubahan Surat Izin Apotek
Menurut Surat Keputusan Dirjen POM No. 02401/SK/X1990, perubahan Surat Izin Apotek (SIA)
diperlukan apabila:
a. Terjadi pengantian nama apotek
b. Terjadi perubahan nama jalan dan nomor bangunan pada alamat apotek tanpa perpindahan lokasi
apotek.
c. Surat Izin Apotek (SIA) rusak atau hilang
d. Terjadi penggantian Apoteker Pengelola Apotek (APA)
e. Terjadi penggantian Pemilik Sarana Apotek (PSA)
f. Surat Izin Kerja (SIK) APA dicabut dalam hal APA bukan sebagai PSA
g. Terjadi perpindahan lokasi apotek
h. Apoteker Pengelola Apotek meninggal dunia

2.8 Pencabutan Izin Apotek
Pencabutan izin apotek dapat dilakukan apabila sesuai dengan hal-hal dibawah ini, yaitu:
a. Apoteker sudah tidak lagi memenuhi ketentuan yang telah di tetapkan seperti ijazah yang
terdaftar pada Departemen Kesehatan, melanggar sumpah atau janji sebagai apoteker, tidak lagi
memenuhi persyaratan fisik dan mental dalam menjalankan tugasnya, bekerja sebagai penanggung
jawab pada apotek atau indrustri farmasi lainnya.
b. Apoteker tidak menyediakan, menyimpan dan menyerahkan perbekalan farmasi yang bermutu dan
terjamin keabsahannya atau
c. Apoteker tidak menjalankan tugasnya dengan baik seperti dalam hal melayani resep, memberikan
informasi yang berkaitan dengan penggunaan obat secara tepat, aman atau rasional atau
d. Bila apoteker berhalangan melakukan tugasnya lebih dari 2 tahun berturut-turut atau
e. Bila apoteker melanggar perundang-undangan narkotika, obat keras atau ketentuan lainnya atau
f. SIK APA dicabut atau
g. PSA berbukti terlibat dalam pelanggaran perundang-undangan dibidang obat atau
h. Apotek tidak lagi memenuhi persyaratan yang ditetapkan
Berdasarkan Kepmenkes No. 1332/Menkes/SK/X/2002 pengganti Permenkes No.
992/Menkes/Per/X/1993, pelaksanaan pencabutan izin dilakukan dengan cara:
a. Pemberian peringatan secara tertulis kepada Apoteker Pengelola Apotek sebanyak tiga kali
berturut-turut dan tenggang waktu masing-masing dua bulan.
b. Pembekuan Izin apotek dilakukan untuk jangka waktu selama-lamanya enam bulan sejak
dikeluarkannya surat penetapan pembekuan kegiatan apotek.
Pembekuan izin apotek dapat dicairkan kepada apabila apotek telah memenuhi segala persyaratan
sesuai dengan peraturan dan ketentuanyang berlaku.Pencairan izin apotek dilakukan setelah
menerima hasil laporan pemeriksaan dari Kepala Balai POM setempat, atau Tim Pemeriksaan Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota.Keputusan untuk pencabutan SIA oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi
setempat, serta Kepala Balai POM setempat.
Apabila Surat Izin Apotek (SIA) dicabut, APA atau apoteker pengganti wajib mengamankan
perbekalan farmasi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengamanan
dimaksud wajib mengikuti tata cara sebagai berikut:
a. Dilakukan inventarisasi terhadap seluruh persediaan obat-obat narkotika, obat keras tertentu dan
obat lainnya, serta seluruh resep yang ada di apotek.
b. Obat-obat narkotika, psikotropika dan resep-resep harus dimasukan dalam satu tempat yang
tertutup serta terkunci.
c. APA wajib melaporkan secara tertulis kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, tentang
penghentian kegiatan yang disertai laporan inventarisasi.
2.10 Salinan Resep
Salinan resep adalah salinan yang dimuat oleh apotek, selain memuat semua keterangan yang
terdapat dalam resep asli juga memuat:
a. Nama dan alamat apotek
b. Nama dan nomor izin apotek pengelola apotek
c. Tanda tangan atau paraf apoteker pengelola apotek
d. Tanda det (detur) untuk obat yang sudah diserahkan dan ditanda nedet (nedetur) untuk obat yang
belum diserahkan, pada resep tanda …X diberi tanda detur / detur …X
e. Nomor resep dan tanggal pembuatan
Istilah lain dari copy resep adalah apograph, exemplum, afschrtif. Apabila Apoteker Pengelola
Apoteker berhalangan melakukan tugasnya, penandatanganan atau pencantuman paraf pada salinan
resep yang dimaksud atas dilakukan oleh Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti dengan
mencantumkan nama terang dan status yang bersangkutan.

Salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis atau yang merawat penderita-
penderita sendiri dan petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut perundang-
undangan yang berlaku (contohnya petugas pengadilan bila diperlukan untuk suatu perkara).
Dalam hal ini resep terdapat beberapa pengaturannya, sebagai berikut:
a. Salinan resep harus ditanda tangani oleh apoteker
b. Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek dalam jangka waktu 3 tahun
c. Resep atau salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau merawat
penderita, penderita bersangkutan, petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut
undang-undang yang berlaku.

 Tenaga Kesehatan
Disamping Apoteker Pengelola Apotek (APA), di apotek sekurang-kurangnya harus mempunyai
seorang tenaga kefarmasian. Bagi apotek yang Apoteker Pengelola Apotek-nya pegawai instalasi
pemerintah lainnya harus ada apoteker pendamping atau tenaga teknis kefarmasian.
4) Asisten Apoteker
Dalam melakukan pekerjaan kefarmasian di Apotek, Apoteker Pengelola Apotek dibantu
oleh Asisten Apoteker yang telah memiliki Surat Izin Kerja. Keputusan Menteri Kesehatan No.
679/MENKES/SK/V/2003, tentang peraturan registrasi dan izin kerja Asisten Apoteker :
a. Asisten Apoteker adalah tenaga kesehatan yang berijazah Sekolah. Asisten Apoteker atau
Sekolah Menengah Farmasi, Akademi Farmasi, dan Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan, Akademi
Analisis Farmasi dan Makanan, Jurusan Analisis Farmasi serta Makanan Politeknik Kesehatan sesuai
dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
b. Surat Izin Asisten Apoteker adalah bukti tertulis atas kewenangan yang diberikan kepada
pemegang Ijazah Sekolah Asisten Apoteker atau Sekolah Menengah Farmasi, Akademi Farmasi dan
Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan, Akademi Analisis Farmasi dan Makanan, Jurusan Analisis
Farmasi serta Makanan Politeknik Kesehatan untuk menjalankan Pekerjaan Kefarmasian sebagai
Asisten.
c. Surat Izin Asisten Apoteker adalah bukti tertulis yang diberikan kepada pemegang Surat Izin
Asisten Apoteker untuk melakuka pekerjaan kefarmasian disarana kefarmasian.
d. Sarana Kefarmasian adalah tempat yang digunakan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian
antara lain Industri Farmasi termasuk obat Tradisional dan kosmetika, Instalasi Farmasi, Apotek,
dan toko obat.
 Personalia
Sikap karyawan yang baik, ramah dan cepat melayani pembeli, mengenal pasien didaerah sekeliling
apotek sebanyak mungkin dapat membangkitkan kesan baik, sehingga peran karyawan sangat penting
dalam laba yang diinginkan atau direncakan. Untuk mendapatkan karyawan yang baik didalam apotek,
perlu dilakukan kegiatan-kegiatan :
a. Mengadakan pendidikan dan pelatihan bagi karyawan
b. Mendorong para karyawan untuk bekerja lebih giat
c. Memberi dan menempatkan mereka sesuai dengan pendidikannya
d. Merekrut calon karyawan dan mendidik sebagai calon pengganti yang tua.
 Fungsi dan Pembagian Tugas
Didalam sebuah apotek perlu adanya job description (uraian tugas), sehingga setiap pegawai yang
bekerja mengetahui apa tugas dan tanggungjawabnya. Pembagian tugas didalam apotek adalah
sebagai berikut :
a. Apoteker
Tugas apoteker :
1) Memimpin seluruh kegiatan apotek.
2) Mengatur, melaksanakan dan mengawasi administrasi yang meliputi :
a) Administrasi kefarmasian
b) Administrasi keuangan
c) Administrasi penjualan
d) Administrasi barang dagangan atau inventaris
e) Administrasi personalia
f) Administrasi bidang umum
3) Membayar pajak yang berhubungan dengan perapotekan.
4) Mengusahakan agar apotek yang dipimpinnya dapat memberikan hasil yang optimal sesuai dengan
rencana kerja.
b. Koordinator Kepala
Tugas Koordinator Kepala yaitu :
1) Mengkoordinir dan mengawasi kerja bawahannya termasuk mengatur daftar giliran dinas,
pembagian tugas dan tanggungjawab (narkotika, pelayanan dokter dan kartu stock di lemari masing-
masing)
2) Secara aktif berusaha sesuai dengan bidang tugasnya untuk meningkatkan atau mengembangkan
hasil usaha apotek
3) Mengatur dan mengawasi penyimpanan dan kelengkapan obat sesuai dengan teknis farmasi
terutama diruang peracikan.
4) Memelihara buku harga dan kalkulasi harga obat yang akan dijual sesuai dengan kebijaksanaan
harga yang telah ditentukan.
5) Membina serta memberi petunjuk soal teknis farmasi kepada bawahannya, terutama pemberian
informasi kepada pasien.
6) Bersama-sama dengan tata usaha mengatur dan mengawasi data-data administrasi untuk
penyusunan laporan managerial dan laporan pertanggungjawabannya.
7) Mempertimbangkan usul-usul yang diterima dari bawahannya serta meneruskan atau mengajukan
saran-saran untuk perbaikan pelayanan dan kemajuan apotek kepada pemimpin apotek.
8) Mengatur dan mengawasi pengamanan uang penghasilan tunai setiap hari.
9) Mengusulkan penambahan pegawai baru, penempatan, kenaikan pangkat, peremajaan bagi karyawan
bawahannya kepada pemimpin apotek.
10) Memeriksa kembali
c. Tenaga teknis kefarmasian
Tugas tenaga teknis kefarmasian adalah:
1) Mengerjakan pekerjaan sesuai dengan profesinya
2) Dalam hal darurat, dapat menggantikan pekerjaan sebagai kasir, penjual obat bebas dan juru
resep.
Tenaga teknis kefarmasian bertanggungjawab kepada asisten kepala sesuai dengan tugasnya, artinya
bertanggungjawab atas kebenaran segala tugas yang diselesaikannya, tidak boleh ada kesalahan,
kekeliruan, kekurangan, kehilangan dan kerusakan.
d. Tata Usaha (Keuangan)
Tugas Kepala Tata Usaha, yaitu:
1) Mengkoordinir dan mengawasi kerja.
2) Membuat laporan harian.
3) Dinas luar mengurus pajak, izin-izin, dan asuransi.
4) Membuat laporan bulanan.
5) Membuat laporan tahunan tutup buku (neraca dan perhitungan rugi laba)
6) Surat menyurat.
7) Kepala tata usaha bertanggungjawab kepada apoteker pengelola apotek.
e. Pemegang Kas (Kasir)
Tugas kasir adalah:
1) Mencatat penerimaan uang setelah dihitung terlebih dahulu, begitu pula dengan pengeluaran uang,
yang harus dilengkapi pendukung berupa kwitansi dan nota yang sudah diparaf oleh pengelola apotek
dan pejabat yang ditunjuk.
2) Menyetorkan dan mengambil uang, baik dari kasir besar atau bank.
6) Sarana dan Prasarana Apotek
Apotek berlokasi pada daerah yang dengan mudah dikenal oleh masyarakat.Pada halaman
terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata apotek.Apotek harus dengan mudah diakses
oleh masyarakat.Pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat yang terpisah dari aktivitas
pelayanan dan penjualan produk lainnya, hal ini berguna untuk menunjukan integritas dan kualitas
prosuk serta mengurangi resiko kesalahan penyerahan.
1. Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh apoteker untuk memperoleh
informasi dan konseling.
2. Lingkungan apotek harus dijaga kebersihannya.
3. Apotek harus bebas dari hewan pengerat, apotek memiliki suplai listrik yang konstan, terutama
untuk lemari pendingin.
Apotek harus memliki:
1. Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien.
2. Tempat untuk mendisplai informasi bagi pasien, termasuk penempatan brosur/materi informasi.
3. Ruang tertutup bagi pasien yang konseling dilengkapi meja dan kursi serta lemari untuk
penyimpanan catatan medikasi pasien,
4. Ruang racikan.
5. Tempat pencucian alat.
6. Perabotan apotek harus tertata rapi, lengkap dengan rak-rak penyimpanan obat dan barang lain
tersusun dengan rapi, terlindung dari debu, kelembaban dan cahaya yang berlebihan serta diletakan
pada kondisi ruangan dengan temperature yang telah ditetapkan.

2. Pengelolaan Obat di Apotek
A. Perencanaan
Perencanaan merupakan dasar tindakan manejer untuk dapat menyelesaikan tugasnya dengan
baik. Dalam perencanaan pengadaan sedian farmasi seperti obat-obatan dan alat kesehatan yang
dilakukan adalah pengumpulan data obat-obatan yang akan di tulis dalam buku defacta. Sebelum
perencanaan di tetapkan, umumnya di dahulukan oleh prediksi atau ramalan tentang peristiwa yang
akan datang.
B. Pengadaan
Pengadaan biasanya di lakukan berdasarkan perencanaan yang telah di buat dan di sesuaikan
dengan anggaran keuangan yang ada. Pengadan barang meliputi: pemesanan, cara pemesanan,
mengatasi kekosongan dan pembayaran.
a. Pemesanan barang atau order dilakukan oleh asisten apoteker berdasarkan catatan yang ada dalam
buku habis berisi catatan barang-barang yang hampir habis atau yang sudah habis di apotek.
b. Cara pemesanan barang dilakukan dengan menuliskan surat pesanan (SP). Selain narkotika dan
psikotropika meliputi tanggal, nomor pesanan, kode supplie, nama barang, satuan barang, dan jumlah
barang. SP akan diambil selesman dari masing-masing PBF, apabila selesman PBF tidak datang order
bisa dilakukan melalui telpon (untuk obat selainnarkotika dan psikotropika)
c. Mengatasi pemesanan obat akibat waktu antara pemesanan dan kedatangan barang yang lama.
d. Pembayaran dapat dilakukan dengan cara COD (Cast on delivery) atau kredit.
C. Penerimaan
Penerimaan barang harus dilakukan dengan mengecek kesesuain barang yang datang dengan
faktur dan SP. Kesesuain meliputi : nama barang, jumlah barang, satuan, harga, diskon, dan nama PBF
serta mengecek masa kadaluarsanya. Faktur di periksa tanggal pesan dan tanggal jatuh temponya,
lalu di tanda tangani dan di cap oleh Apoteker pengelola Apotek (APA) atau Asisten Apoteker (AA),
yang mempunnyai SIK. Kemudian faktur yang sudah di tanda tangani tersebut di masukkan kedalam
format pembelian.
D. Penyimpanan
Obat dan bahan obat harus di simpan dalam wadah yang cocok dan harus memenuhi
ketentuan pengemasan dan penandaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Penyimpanan obat di golongkan berdasarkan bentuk bahan baku seperti : bahan padat di
pisahkan dari bahan cair atau bahan yang setengah padat di pisahkan dari bahan cair. Hal ini
bertujuan untuk menghindarkan zat-zat yang bersifat higroskopis demikian pula halnya terhadap
barang-barang yang mudah terbakar dan obat-obat yang mudah rusak dan meleleh pada suhu kamar.
Penyimpanan dilakukan dengan cara/ berdasarkan nama penyakit, khasiat obat, dan nama generik dan
paten untuk memudahkan pengambilan obat saat diperlukan.
Penyimpananbarang di ApotekTidar Farma secara umum digolongkan menjadi tiga yaitu :
a. Obat Bebas, Generik / Obat Paten, Obat non Narkotik dan Obat lain yang tidak memerlukan
kondisipenyimpanan tertentu, disusun secara Alphabeth juga dibedakan berdasarkan bentuk
sediaannya.
b. Obat-obat yang memerlukan kondisi penyimpanan pada suhu yangdingin
disimpandalamlemariEs,Misalnya:Suppositoria, Injeksi tertentu, dan beberapa obat lainnya
c. ObatNarkotikadan Psikotropika,disimpan dalam lemari khusus dan sesuai dengan ketentuannya.
E. Pendistribusian Obat
1. Penjualan Bebas
Penjualan bebas adalah penjualan obat tanpa resep.Dalam pemenkes nomor 924/Menkes/Per/X/1993
tentang obat wajib apotek no 2 menyatakan APA dapat menjual obat bebas yang di nyatakan sebagai
obat wajib apotek tanpa resep dokter.Obat wajib apotek adalah obat bebas yang dapat di serahkan
oleh APA kepada pasien tanpa resep dokter. Daftar obat ini di tetapkan berdasarkan SK Menkes RI
Nomor 347/Menkes/SK/VIU/1997 tentang obat wajib apotek No. 1 dan keputusan Menteri
Kesehatan No 924/Menkes/Per/X/1993 tentang Wajib Apotek No. 2.
2. Penjualan Dengan Resep
Penjualan dengan resep adalah penjualan obat dengan resep dokter.Sistem pelayanan ini di apotek
Kimia Farma 72 ada 6 (enam) yaitu penerimaan resep.
a) Pemeriksaan keabsahan dan kelengkapan resep.
Nama, Alamat, No hp dan tanda tangan dokter penulis resep.
Nama obat, dosis, jumlah dan aturan pakai
Nama pasien, umur, alamat dan no telepon
b) Perjanjian dan pembayaran
Pengambilan obat semua atau sebagian
Atau tidak penggantian obat atas persetujuan dokter atau pasien
c) Peracikan
Penyiapan etiket atau penandaan obat dan kemasan
Peracikan obat (hitung, campur, kemas)
Penyajian hasil akhir peracikan
d) Pemeriksaan akhir
Kesesuaian hasil peracikan dengan resep.
Nomor resep.
Nomor obat, bentuk dan jenis sediaan, dosis, jumlah dan aturan pakai.
Nama pasien, umur, alamat dan nomor telepon.
e) Penyerahan Obat dan pemberian informasi
Penjelasan obat harus di sertai dengan penjelasan info nama obat, bentuk dan sediaan, dosis, jumlah
dan aturan pakai, cara penyimpanan, efek samping yang mungkin timbul dan cara mengatasinya, tanda
terima pasien atau penerima obat.
f) Layanan Purna Jual
Komunitas dan informasi dan penerima obat
Penggantian obat bila di perlukan atas permintaan dokter

Apotek Rakyat
Apotek Rakyat adalah sarana kesehatan tempat dilaksanakannya pelayanan kefarmasian yaitu
penyerahan obat dan perbekalan kesehatan tetapi tidak boleh melakukan peracikan.Perbekalan
kesehatan adalah semua bahan selain obat dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan
upaya kesehatan.

Masyarakat luas akan semakin mudah memperoleh obat dengan diterbitkannya Peraturan Menteri
Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia Nomor 284/Menkes/Per/III/2007 tanggal 8 Maret
2007 tentang Apotek Rakyat. Dalam memberikan pelayanan kefarmasian, Apotek Rakyat harus
mengutamakan obat generik.
Selain itu Apotek Rakyat juga dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari penggunaan obat-obat
palsu, obat kadaluarsa, dan obat yang tidak jelas asal-usulnya serta mencegah penyalahgunaan
obat.Dengan demikian masyarakat dapat memperoleh obat dengan mudah, murah dan aman.Di
samping itu Pendirian Apotek Rakyat juga dimaksudkan untuk meningkatkan penertiban peredaran
obat-obatan di sentra-sentra perdagangan yang selama ini telah dilakukan oleh Badan Pengawasan
Obat dan Makanan (POM).

Untuk dapat mendirikan Apotek Rakyat, selain harus melengkapi syarat administrasi, juga harus
mengantongi ijin dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.Untuk memperoleh ijin tidak
dipungut biaya.

Syarat lain Apotek Rakyat adalah adanya sarana dan prasarana berupa komoditi, lemari obat,
lingkungan yang terjaga kebersihannya. Apotek harus mudah diakses masyarakat serta memiliki
bangunan yang dapat menjamin obat atau perbekalan kesehatan lainnya bebas dari pencemaran atau
rusak akibat debu, kelembaban dan cuaca.

Dalam Permenkes No. 284/Menkes/Per/III/2007 termaktub standar dan persyaratan Apotek
Rakyat. Dalam hal ketenagaan, sama seperti apotek lainnya, setiap Apotek Rakyat harus memiliki
apoteker sebagai penanggung jawab dan dapat dibantu oleh asisten apoteker.

Melalui Permenkes ini, pedagang eceran obat dapat mengembangkan diri menjadi Apotek Rakyat
setelah memenuhi syarat tertentu.Sementara itu, pedagang eceran obat yang statusnya sudah
berubah menjadi Apotek Sederhana secara langsung dianggap telah menjadi Apotek Rakyat.Dinas
kesehatan Kabupaten/Kota harus mengganti Izin Apotek Sederhana selambat-lambatnya dalam
jangka waktu 6 bulan sejak ditetapkannya Permenkes ini (8/3).

Apotek Rakyat dapat merupakan satu atau gabungan dari paling banyak empat pedagang eceran
obat.Gabungan pedagang eceran obat dibawah satu pengelola harus memiliki ikatan kerjasama
berbentuk badan usaha atau bentuk lainnya serta berada pada lokasi yang berdampingan.

Disebutkan pula bahwa pengelolaan persediaan obat dan perbekalan kesehatan semestinya dilakukan
sesuai dengan pengaturan pemerintah terhadap perencanaan, pengadaan dan penyimpanan yang
ditetapkan. Pengeluaran obat perlu memakai sistem FIFO (First In First Out). Maksudnya obat yang
lebih dulu dibeli atau disimpan pengelola juga harus lebih dahulu dijual atau dilekuarkan.Aturan lain
adalah FEFO (First Expire First Out); maksudnya obat yang tanggal kadaluarsanya lebih awal harus
lebih dulu dukeluarkan atau dijual.

Dalam memberikan pelayanan, seorang apoteker pada Apotek Rakyat harus melakukan pemeriksaan
resep dan sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap
kesesuaian antara resep dan obat.Apotek Rakyat dilarang menyerahkan obat dalam jumlah besar,
selain dilarang menjual obat-obatan narkotika dan psikotropika.

Pembinaan dan pengawasan terhadap Apotek Rakyat dilakukan oleh Depkes, Badan POM, Dinkes
Kabupaten/kota dengan mengikutsertakan organisasi profesi.Bila dalam pelaksanaannya ditemukan
bahwa suatuApotek Rakyat melakukan pelanggaran, maka dapat dikenakan sanksi berupa teguran
lisan, tertulis sampai dengan pencabutan ijin.
Tata cara memperoleh izin apotek rakyat :

 Permohonan Izin Apotek Rakyat diajukan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan
menggunakan contoh Formulir Model APR-1.

 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah
menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Balai POM untuk
melalukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan Apotek untuk melakukan kegiatan.

 Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM selambat-lambatnya 6 (enam)
hari kerja setelah permintaan bantuan teknis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
melaporkan hasil pemeriksaan setempat dengan menggunakan contoh Formulir Model APR-2

 Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 dan 3 tidak dilaksanakan,
Apoteker Pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi
dengan menggunakan contoh Formulir Model APR-3

 Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan hasil pemeriksaan
sebagaimana dimaksud angka 3, atau pernyataan dimaksud angka 4, Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan Surat Izin Apotek dengan menggunakan contoh
Formulir Model APR-4

 Dalam hal hasil pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Balai POM
dimaksud angka 3 masih belum memenuhi syarat Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
setempat dalam waktu 12 (dua belas) hari kerja mengeluarkan Surat Penundaan dengan
menggunakan contoh Formulir Model APR-5Terhadap Surat Penundaan sebagai mana
dimaksud dalam ayat 6, apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang
belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam jangka waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal Surat
Penundaan.

 Terhadap permohonan izin Apotek Rakyat yang ternyata tidak memenuhi persyaratan, atau
lokasi Apotek tidak sesuai dengan permohonan, maka Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota setempat dalam jangka waktu selambat-lambatnya 12 (dua belas) hari kerja
wajib mengeluarkan Surat Penolakan disertai dengan alasan-alasannya dengan menggunakan
contoh Formulir Model APR-6.
Ijin Pedagang Eceran Obat / Toko Obat (TO)

DASAR HUKUM

1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

2. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 167/Kab/VII/1972 tentang Pedagang Eceran Obat.
3. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1189A/Menkes/SK/X/1999 tentang Penetapan Ijin di
Bidang Kesehatan;

4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1331/Menkes/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas
Peraturan Menkes RI No. 167/Kab/B.VIII/1972 tentang Pedagang eceran Obat.

5. Keputusan Walikota Semarang No 875.1/2 Tahun 2011 tentang Pendelegasian Wewenang
Penandatanganan Perijinan dan Non Perijinan kepada Kepala Badan Pelayanan Perijinan
Terpadu (BPPT) Kota Semarang Kesehatan
Syarat - Syarat

Persyaratan yang harus dipenuhi :

1. surat Permohonan bermeterai Rp 6.000,-

2. surat Penunjukan pemilik toko obat kepada Asisten Apoteker (Pemilik Toko Obat).

3. surat Pernyataan keanggotaan asisten apoteker bermaterai Rp.6000,-.

4. foto copy KTP pemohon dan KTP Asisten Apoteker, SISS dan SIK Asisten Apoteker.

5. foto copy Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) / surat pernyataan dan copy lunas pajak tahun
terakhir.

6. foto Copy Ijasah Asisten Apoteker.

7. denah lokasi Toko Obat.

8. foto Copy SK Toko Obat lama (untuk perpanjangan).

Prosedur

PROSEDUR

1. Pemohon datang, mengajukan surat permohonan dilampiri persyaratan lainnya.

2. Setelah diteliti dan dinyatakan lengkap dan benar, berkas permohonan diagendakan dan
kepada pemohon diberikan bukti penerimaan berkas.

3. Berkas permohonan selanjutnya diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku

4. Apabila ijin telah diterbitkan, pemohon akan diberitahu dan selanjutnya bisa diambil diloket
pengambilan.
DAFTAR PUSTAKA
 Anggota IKAPI. 2010. Undang – Undang Kesehatan. Bandung: FM Fokusmedia.
 Adi Darmansyah, S.Pd, R.Y. Bambang Purwono,S.Pd, Heru Purwanto, S.H. 2010.
Undang – Undang Kesehatan. Jakatrta: PPB SMF-SMKF.
 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 918/ MENKES/ PER/
X/1993.
 Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1191/ MENKES/ SK/ IX/
2002.
 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 889/MENKES/
PER/V/2011.
 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1148/ MENKES/
PER/VI/2011
Diposting oleh angelica ardi di 18.45
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Reaksi:

2 komentar:

1.

Sell Tiket10 Oktober 2016 21.54

Tiket Pesawat Murah Online, dapatkan segera di SELL TIKET Klik disini:
selltiket.com
Booking di SELLTIKET.COM aja!!!
CEPAT,….TEPAT,….DAN HARGA TERJANGKAU!!!

Ingin usaha menjadi agen tiket pesawat??
Yang memiliki potensi penghasilan tanpa batas.
Bergabung segera di agen.selltiket.com

INFO LEBIH LANJUT HUBUNGI :
No handphone : 085365566333
PIN : d2e26405

Segera Mendaftar Sebelum Terlambat. !!!

Balas

Balasan
1.

Ibu Karen26 April 2017 23.57

Alhamdulillah semoga atas bantuan ki witjaksono terbalaskan melebihi rasa
syukur kami saat ini karna bantuan aki sangat berarti bagi keluarga kami di saat
kesusahan dengan menanggun 9 anak,kami berprofesi penjual ikan di pasar
hutang saya menunpuk di mana-mana sempat terpikir untuk jadikan anak bekerja
tki karna keadaan begitu mendesak tapi salah satu anak saya melihat adanya
program pesugihan dana gaib tanpa tumbal kami lansung kuatkan niat,Awalnya
suami saya meragukan program ini dan melarang untuk mencobanya tapi dari yg
saya lihat program ini bergransi hukum,Saya pun tetap menjelaskan suami sampai
dia ikut yakin dan alhamdulillah dalam proses 1 hari 1 malam kami bisa
menbuktikan bantuan aki melalui dana gaib tanpa tumbal,Bagi saudara-saudaraku
yg butuh pertolongan
silahkan hubungi
Ki Witjaksono di:O852-2223-1459
lebih jelas Kunjungi blog
klik-> PESUGIHAN TANPA TUMBAL

Balas

Muat yang lain...

Link ke posting ini

Buat sebuah Link

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Blog Archive
 ► 2015 (2)

 ▼ 2014 (6)

o ► September (1)

o ▼ Agustus (5)

 proposal jualan

 bungkus kopi
 i believe it...

 distribusi obat

 daun mint

 ► 2013 (1)

 ► 2012 (25)

Free Blogger Templates by Leelou Blogs | Design Elements by Just So Scrappy | Dedicated
Servers and Colocation Sponsored by Colocation America

Related Interests