ACTION RESEARCH HYPNOTHERAPI PADA PENANGANAN NYERI DAN

KECEMASAN PASIEN KANKER KOLON

Sakiyan, Program Studi Diploma Keperawatan Akademi Keperawatan Cilacap;
e-mail : kian_175@yahoo.co.id

ABSTRACT

Based Permenkes RI. No. 1109 of 2007 legalized complementary therapies carried out in
health facilities, Permenkes RI No. HK.02.02 / Menkes / 148/1/2010 on the Implementation
of License and Nurse Practice, hypnotherapy has become a complementary therapy used
by nurses.
Qualitative research design was used with action research approach to implement the
method hypnotherapy. The study population was patients who had undergone colon cancer
surgery and is undergoing chemotherapy who experience pain and anxiety. The study was
conducted for 6 weeks in the Banyumas General Hospital, with purposive sampling
technique gained 6 participants. The research instrument used in-depth interviews and
participant observation after getting the hypnotherapy intervention. Data processing and
data interpretation using NVivo software 9.0.204.0. research shows the level of pain and
anxiety hypnotherapy respondents declined after 1-3 cycles, the average decrease in pain
every cycle between 4 to 6.3, while the average decrease anxiety decrease between 7 to
15.8. Conclusions in hypnotherapy research helpful in reducing pain and anxiety of
patients who suffer from colon cancer and is undergoing chemotherapy in Banyumas
General Hospital.

Keywords: hypnotherapy, colon cancer, pain, anxiety.

PENDAHULUAN memberikan hypnoterapi untuk
Pasien yang mengalami kanker menangani masalah pasien.
memperlihatkan adanya stres dan depresi Hasil wawancara pada studi
yang ditunjukkan dengan perasaan sedih, pendahuluan di dapatkan informasi
putus asa, pesimis, merasa diri gagal, tentang masalah keperawatan yang sering
tidak puas dalam hidup, merasa lebih ditemukan pada pasien kanker kolon yang
buruk dibandingkan dengan orang lain, menjalani kemoterapi adalah nyeri dan
penilaian rendah terhadap tubuhnya, dan kecemasan, perawat di RSU Banyumas
merasa tidak berdaya. Kemungkinan menggunakan intervensi kolaboratif
terjadinya gangguan psikologi seperti farmakologis dengan pemberian analgetik
depresi, kecemasan, kemarahan, perasaan dan motivasi spiritual untuk
tidak berdaya dan tidak berharga dialami mengatasinya, penggunaan hypnosis
antara 23%-66% pasien kanker 5. sangat jarang dilakukan karena merasa
Berdasarkan Permenkes RI Nomor belum menguasai, serta tidak ada standar
1109 Tahun 2007, terapi komplementer operasional prosedur penerapannya.
bisa dilakukan di sarana kesehatan, Penelitian penggunaan hipnosis
Permenkes RI Nomor sebagai terapi untuk nyeri dan kecemasan
HK.02.02/Menkes/148/1/2010 terapi sudah cukup banyak, tetapi sering
komplementer yang bisa digunakan adalah dianggap belum mampu menjawab
terapi hipnosis atau hypnotherapi, keraguan masyarakat tentang aspek ilmiah
berdasarkan ketentuan di atas maka dan kecenderungan anggapan bahwa
perawat mempunyai kewenangan hypnosis sebagai terapi bertentangan
dengan keyakinan kepercayaan/ agama

Jurnal Ilmu Kesehatan. Vol.1 No.1 November 2014 | 1
tertentu, sehingga diperlukan penelitian interpretasi tersebut meliputi
lebih lanjut untuk menjawab kebutuhan mendeskripsikan fenomena yang
dan keraguan masyarakat tersebut. diteliti, mengumpulkan deskripsi
METODE PENELITIAN fenomena melalui pendapat
1. Desain Penelitian partisipan, membaca seluruh deskripsi
Penelitian ini menggunakan desain fenomena yang telah disampaikan
penelitian kualitatif dengan oleh partisipan, membaca kembali
pendekatan penelitian tindakan/ transkrip hasil wawancara dan
action research dengan mengutip pernyataan-pernyataan yang
mengimplementasikan metode bermakna, meneliti membaca kembali
hypnotherapi sebagai upaya penangan transkrip hasil wawancara, memilih
nyeri dan kecemasan pada pasien pernyataan-pernyataan dalam
kanker colon yang mendapatkan transkrip yang signifikan dan sesuai
terapi kemoterapi di RSU Banyumas. dengan tujuan khusus penelitian dan
2. Variabel Penelitian memilih kata kunci pada pernyataan
Variabel dalam penelitian ini adalah : yang telah dipilih dengan cara
a. Variabel bebas pada penelitian ini memberikan penanda dan kode tujuan
adalah hypnotherapi pada pasien khusus, menguraikan arti yang ada
kanker kolon. dalam pernyataan-pernyataan
b. Variabel terikat pada penelitian ini signifikan, peneliti membaca kembali
ada dua yaitu nyeri dan kata kunci yang telah diidentifikasi
kecemasan. dan berusaha menemukan esensi atau
3. Populasi dan Sampel Penelitian makna dari kata kunci untuk
Populasi dalam penelitian ini membentuk kategori, mengorganisir
adalah pasien kanker kolon yang kumpulan-kumpulan makna yang
sudah menjalani operasi terumuskan ke dalam kelompok tema.
pengangkatan kanker dan Peneliti membaca seluruh kategori
mendapatkan kemoterapi yang yang ada, membandingkan dan
mengalami nyeri dan kecemasan di mencari persamaan diantara kategori
RSU Banyumas. Pengambilan tersebut, dan pada akhirnya
partisipan menggunakan teknik mengelompokkan kategori-kategori
purposif sampling berdasarkan yang serupa ke dalam sub-sub tema,
karakteristik bersedia menjadi sub tema dan tema.
partisipan yang dinyatakan dalam
lembar persetujuan dan tidak terdapat HASIL
gangguan komunikasi verbal maupun Penelitian ini menghasikan 5 kategori
nonverbal, setelah dilakukan tema yang menjelaskan proses
penelitian di dapatkan partisipan hypnotherapi dan respon partisipan
sebanyak 6 orang. terhadap hypnotherapi yang dilakukan
4. Prosedur Pengumpulan dan Analisa dalam tiga siklus. Kategori tema di
Data uraikan berdasarkan tujuan khusus sebagai
Data dikumpulkan dengan berikut :
wawancara mendalam dan observasi 1. Pra Induksi
partisipan sebelum dan sesudah Proses pre-induksi dilakukan 3 kali
dilakukan hipnotherapi. Pengolahan yaitu sebelum induksi hypnoyherapi
data menggunakan software NVivo 1,2 dan 3, hasil pre induksi di dapatkan
9.0.204.0. Peneliti melakukan analisa data partisipan mengeluh adanya nyeri
data menggunakan metode yang dirasakan yaitu sangat nyeri, nyeri
interpretasi data Speziale, & berat dan juga kecemasan. Partisipan
29
Carpenter (2007) , langkah-langkah menginginkan nyeri dan kecemasannya

Jurnal Ilmu Kesehatan. Vol.1 No.1 November 2014 | 2
hilang atau berkurang, pernyataan “...dangu-dangu matane kulo abot
partisipan seperti diungkapkan sebagai terus turu...dadi kelalen kabeh larane,
berikut : karo penyakite /....... lama-kelaman
“Nggih niki sakite, ora mari-mari mata saya berat mengantuk terus tidur
larane,...mbuh kapan marine, ora bisa dan saya lupa rasa sakite”. (P2)
turu, nek turu ngimpi ketemu karo sing “....rasane mripate tambah
wis mati /Ya ini sakitnya, tidak abot...tambah ngantuk terus kulo
sembuh-sembuh, entah kapan turu...../... saya rasakan mata saya
sembuhnya, tidak bisa tidur, kalau semakin berat, semakin mengantuk
tidur mimpi ketemu sama orang-orang terus saya tertidur” (P5)
yang sudah meninggal.... (Partisipan “Nggih situasi pas teng gunung /ya
terlihat emosional, mata berkaca- situasi di gunung,.... Nggih niku wau
kaca...)” (P2) sedoyo rasane mpun sekeca,
“Nggih sakit sekali niki, kulo manut ndamelaken pikirane tenang/ semua
sing penting sakitnya saged rasanya nyaman, membuat pikiran
ical...mantun/ iya sakit sekali, saya tenang”. (P2)
nurut yang penting nyeri ini bisa “Niku pas jalan-jalan teng
hilang....sembuh”(P2) alas...hawane seger...akeh wit-wit sing
2. Induksi dan Deepening ijo, suara manuk pada moni....rasane
Proses induksi dan deepening kepenak/ itu pas jalan-jalan di
dilakukan bersama-sama, pada proses hutan...hawanya segar...banyak pohon-
hypnoterapi I proses ini menggunakan pohon hijau...suara burung
metode nafas dalam, pada hypnotherapi berkicau...rasanya enak di badan”.
tahap II menggunakan metode nafas (P5)
dalam dan metode mata berkedip “Yang tadi itu pas ke sawah, jalan-
sedangkan pada hypnotherapi tahap III jalan di sawah sedang panen padi,
menggunakan metode nafas dalam, jalan ke gubuk, masuk ke gubuk dan
metode mata berkedip dan metode tertidur...”.(P6)
imagery oleh terapis. Dari hasil induksi dan deepening ini
Dari hasil penelitian di dapatkan tingkat sugestifitas partisipan di ukur
data pada induksi dan deepening siklus menggunakan Davis-Husband Scale
1 partisipan merasakan otot terasa dan di dapatkan tingkat sugestifitas
kendor, rileks, nyaman, dan tidak terasa sebagai berikut :
sakitnya, pada induksi dan deepening 30
siklus 2 di dapatkan data respon Skala
25
partisipan berupa mata semakin lama Sugestifitas
20 Induksi 1
semakin berat, mengantuk, tidur, lupa 15 Skala
semua sakitnya, muncul rasa nyaman, 10 Sugestifitas
pada induksi dan deepening siklus 3 di Induksi 2
5 Skala
dapatkan data partisipan merasakan 0 Sugestifitas
berada di pantai, di gunung dan di Induksi 3
P1 P2 P3 P4 P5 P6
hutan, semuanya merasakan bisa tidur,
badan terasa nyaman, terasa ringan dan
hati gembira, hal tersebut diungkapkan Grafik 1. Tingkat sugestifitas partisipan
partisipan sebagai berikut : 3. Sugesti terapi
“Niku sing tarik nafas...teras otote Proses pemberian sugesti terapi
sami kendo...teras rileks...ngantos dilakukan setelah proses induksi dan
turu...sekeca/ yang tarik nafas, semua deepening, pada proses hypnoterapi I
otot terasa rileks dan sugesti terapi yang diberikan berupa
tertidur...nyaman”. (P4) metode relaksasi, pada hypnotherapi

Jurnal Ilmu Kesehatan. Vol.1 No.1 November 2014 | 3
tahap II menggunakan sugesti terapi tidur tadi rasanya enak, tidak terasa
yang diberikan menggunakan metode sakitnya”.(P2)
relaksasi dan metode perintah paradoks Pada hypnotherapi tahap III sugesti
sedangkan pada hypnotherapi tahap III yang diberikan menggunakan metode
sugesti yang diberikan menggunakan relaksasi, metode perintah paradoks
metode relaksasi, metode perintah dan metode pemisahan/ disosiasi
paradoks dan metode pemisahan/ partisipan yang merasakan melihat
disosiasi. semua rasa sakit dan kecemasan,
Pada proses pemberian sugesti memasukannya ke dalam botol, badan
terapi yang menggunakan metode menjadi nyaman dan kecemasan
relaksasi di dapatkan hasil semua hilang, seperti data wawncara berikut :
partisipan merasakan otot menjadi “Nggih pas weruh sakite terus kulo
rileks, badan terasa nyaman, nyeri lebetaken teng botol terus kulo bucal
berkurang, tidak terasa nyeri lagi, nyeri teng jurang....teras rasane awak
terasa lagi dan sakit belum hilang. Data kepenak...tambah kepenak niku/ Ya tadi
tersebut di atas dinyatakan partisipan pada saat melihat rasa sakit saya terus
sebagai berikut : saya masukan ke botol terus saya
“...otote sedoyo kendo, terus rasane buang ke jurang....setelah itu rasanya
awak kepenak....mandan badan saya nyaman...tambah nyaman”
mengurangi...ning siki malah krasa (P2)
maning larane nang weteng/ ... otot “banjur kulo saged weruh werna-werni
terasa kendor semua, rasanya badan sakite kulo, saged nyekel sakite
nyaman....agak mengurangi,....tetapi kulo...lajeng kulo pundhuti...teras kulo
nyerinya sekarang terasa di perut lebokaken teng botol niku....kulo buang
saya” (P2) teng laut....kendang adoh pisan...ora
keton malih.........bar niku kolo raose
“.... rileks, otote kendo, ...Sing pas lega....kepenak awake kulo / saya juga
turu....niku rasane kepenak../ ya itu ... bisa melihat semua rasa sakit dan
rileks, ototnya kendor, lemas, yang ketidaknyamanan saya, saya bisa
dalam kondisi tidur”. (P3) memegangnya...lalu saya pegang,...
Pada hypnotherapi tahap II dengan saya masukan ke dalam botol
menggunakan sugesti terapi yang tadi....saya buang ke laut....jauh sekali
diberikan menggunakan metode terbawa ombak laut...setelah itu sata
relaksasi dan metode perintah paradoks merasa lega...nyaman badan saya”.
di dapatkan data pasrtisipan merasakan (P3)
badan terasa nyaman, semua rasa
hilang, tenang, tidak terasa sakit. 4. Alerting
Pernyataan partisipan sebagai berikut : Proses alerting bertujuan untuk
“Wau niku sing pas ngitung siji sampai membawa partisipan kembali ke alam
seket, ...., terus kula mboten kraos sadar, pada semua tahap hypnotherapi
napa-napa,..../ Tadi itu yang berhitung menggunakan metode menghitung 1-
satu sampai lima puluh, ..., terus tidak 10, berdasarkan hasil penelitian di
terasa apa-apa,”.(P1) dapatkan data bahwa partisipan
menghitung dan tiap hitungan
Nggih niku sing kula ngitung...genah merasakan badan nyaman, segar dan
dadi turu terus kelalen hitungan ke sepuluh terbangun. Data
kabeh....kepenak/ Iya itu tadi pas wawancara partisipan pada saat proses
menghitung jadi tertidur terus lupa alerting sebagai sebagai berikut :
semuanya.....Ya pas turu krasane “....... pas ngitung sampe sepuluh
kepenak niku, ora krasa sakite/ Ya pas rasane awak kulo tambah

Jurnal Ilmu Kesehatan. Vol.1 No.1 November 2014 | 4
kepenak....terus kulo tangi /Pada saat 6
mengantuk dan tidur ya tidak
merasakan apa-apa, pada saat 4 Hypno 1
mengitung sampai sepuluh badan
terasa semakin enak.....terus saya 2 Hypno 2
bangun”. (P1) Hypno 3
0

“Pas ngitung satu sampai P1 P2 P3 P4 P5 P6
sepuluh....teras setiap hitungan rasane Grafik 2. Penurunan Nyeri
awak tambah seger, kepenak...lajeng
itungan sing kaping sepuluh kulo 40
tangi....ketika menghitung satu sampai
sepuluh,...setiap hitungan badan 30
Hypno 1
rasanya segar dan nyaman...terus saya 20
terbangun ketika hitungan ke sepuluh”. Hypno 2
10
(P3) Hypno 3
0
5. Penurunan nyeri dan kecemasan P1 P2 P3 P4 P5 P6
Penurunan tingkat nyeri dirasakan
oleh semua partisipan setelah proses Grafik 3. Penurunan Kecemasan
hypnoterapi di lakukan terlihat dari
penurunan scala nyeri yang di keluhkan PEMBAHASAN
partisipan, walaupun rasa nyeri muncul Pada pelaksanaan hypnotherapi
lagi sebelum hypnotherapi tahap peneliti menggunakan komunikasi
berikutnya, penurunan yang paling terapeutik dengan pendekatan
banyak terjadi pada hypnotherapi tahap interpersonal agar supaya segala sesuatu
3, rata-rata penurunan scala nyeri pasca yang berkaitan dengan nyeri dan
hypnotherapi tahap 1 adalah 4, pada kecemasan partisipan dapat terungkap dan
hypnotherapi 2 adalah 4,3 dan pada kemudian pesan-pesan hynotherapi dapat
hypnotherapi 3 sebesar 6,3 ini diterima sehingga akan membawa
menunjukan bahwa angka rata-rata manfaat/ efektif pada nyeri dan
penurunan nyeri terbanyak pada kecemasan yang dialami partisipanhal ini
hypnotherapi tahap 3. Penurunan nyeri sesuai dengan Nurindra (2008) 17,
juga di kemukakan oleh responden hypnosis adalah suatu seni komunikasi
sebagai berikut : yang persuasif untuk membuka pintu
“Nggih kirang sakite ....Nggih wau pas gerbang alam sadar seseorang sehingga
turu sekeca, ..../ Iya berkurang sugesti bisa di berikan, Sendjaja (2004)24
sakitnya....Tadi pas tidur rasanya juga menyampaikan bahwa dalam
nyaman, ...”(P4) komunikasi interpersonal memliki
karakter humanistik yaitu keterbukaan,
“Rasanya enak, sakitnya berkurang, empati, perilaku suportif, perilaku positif.
otot tubuh rileks ya.., di badan terasa Komunikasi interpersonal akan
semua...”(P6) efektif bila memiliki perilaku positif, 24
Sikap positif dalam komunikasi
“Nggih alhamdulillah berkurang interpersonal yang peneliti lakukan adalah
sanget... /iya berkurang,berkurang dengan memandang positif terhadap diri
sekali” (P1) sendiri sehingga yakin akan keberhasilan
Penurunan nyeri dan kecemasan hypnotherapi dan akan menularkan
tergambar dalam grafik berikut : keyakinan tersebut kepada partisipan, di
samping itu peneliti juga senantiasa

Jurnal Ilmu Kesehatan. Vol.1 No.1 November 2014 | 5
menjaga perasaan positif terhadap Kecemasan/ ansietas adalah
partisipan terkait dengan respon partisipan perasaan atau tidak nyaman atau
pada saat hypnotherapi dan interaksi kekhawatiran yang samar disertai
lainnya sepanjang waktu penelitian. respon autonom (sumber seringkali
1. Pra Induksi tidak spesifik atau tidak diketahui oleh
Tahap pra induksi bertujuan untuk individu); perasaan takut yang
mendapatkan data terkait dengan hal- disebabkan oleh antisipasi terhadap
hal yang dirasakan oleh partisipan, bahaya. Hal ini merupakan isyarat
termasuk harapan dan keinginan kewaspadaan yang memperingatkan
terhadap penyelesaian masalah yang individu akan adanya bahaya yang
dihadapi. Informasi mengenai hal memampukan individu untuk bertindak
tersebut akan dapat diperoleh jika menghadapi ancaman (NANDA,
terjadi hubungan saling percaya antara 2012). Sejalan dengan hal tersebut
terapis dengan partisipan, dalam hal ini menyatakan bahwa ansietas/ cemas
adalah peneliti dengan partisipan. meningkatkan persepsi terhadap nyeri
Interaksi antara peneliti dan partisipan dan nyeri bisa menyebabkan seseorang
dilakukan menggunakan pendekatan cemas.
komunikasi terapeutik yaitu dengan Seseorang yang mengalami
berhadapan dengan partisipan, kecemasan akan menunjukan perilaku
menampilkan sikap tubuh yang rileks, penurunan produktifitas, gelisah,
mempertahankan kontak mata, insomnia, kesedihan yang mendalam,
mempertahanan sikap terbuka. ketakutan, perasaan ketidakberdayaan,
Berdasarkan hasil wawancara dan bingung, khawatir, rasa tidak percaya
observasi pra induksi diketahui bahwa diri. Secara fisiologis juga akan
partisipan mengalami nyeri dan nampak ketegangan di wajah, suara
kecemasan. Patisipan yang mengalami bergetar, peningkatan ketegangan, hal
nyeri dalam kategori sangat nyeri ini tentu saja akan berdampak kepada
sejumlah 3 orang dan 3 orang penurunan kualitas hidup
31
mengalami nyeri berat. Sedangkan penderitanya . Kondisi
yang mangalami kecemasan terdiri dari ketidaknyamanan ini tentu saja
5 orang mengalami kecemasan berat membuat partisipan memerlukan
dan 1 orang mengalami kecemasan bantuan untuk penanganan
sedang hal ini tidak sesuai dengan yang keperawatan yang sesuai, dan mau
menyatakan bahwa lansia cenderung bekerja sama dalam upaya mengatasi
memendam nyeri yang dialami, karena masalah nyeri dan kecemasan yang
mereka menganggap nyeri adalah hal dihadapi, dengan dasar inilah maka
alamiah yang harus dijalani dan mereka peneliti membuat suatu perencanaan
takut kalau mengalami penyakit berat untuk melakukan hipnotherapi sebagai
atau meninggal jika nyeri diperiksakan. upaya penanganan nyeri dan
Perry & Potter, (2010)21, kecemasan yang dialami oleh
Partisipan mengalami kecemasan partisipan.
karena sakit yang tidak kunjung 2. Induksi dan Deepening
sembuh, nyeri yang dirasakan yang Induksi adalah merupakan suatu
menyebabkan terjadinya gangguan metode yang digunakan oleh terapis
tidur baik kualitas maupun (peneliti) untuk membimbing pasien
kuantitasnya, cerita orang-orang (partisipan) untuk mengalami suatu
tentang penderita penyakit kanker yang trance hypnotheray. Kondisi ini
tidak berumur panjang, kekhawatiran merupakan proses ini terjadi
tidak bisa beribadah dengan sempurna, perpindahan pikiran pasien dari pikiran
serta sering mengalami mimpi buruk. sadar (conscious mind) ke alam pikiran

Jurnal Ilmu Kesehatan. Vol.1 No.1 November 2014 | 6
bawah sadar (sub-conscious mind). mudah karena tidak banyak perintah
Trance hypnosis adalah suatu kondisi yang rumit sehingga tidak memerlukan
kesadaran dimana bagian kritis pikiran banyak waktu bagi partisipan untuk
sadar tidak aktif, sehingga partisipan mencerna, serta karena tidak adanya
sangat reseptif terhadap sugesti yang masukan dan saran dari partisipan pada
diberikan oleh hypnotist27. masing-masing metode karena
Deepening merupakan kelanjutan dirasakan sesuai dengan kondisi
dari induksi yang bertujuan untuk partisipan.
membawa partisipan pada tingkatan
trance hypnosis sehingga akan 3. Sugesti therapi
meningkatkan kemampuan partisipan Sugesti terapi yang di berikan
untuk menerima sugesti. Trance kepada partisipan pada penelitian ini
hypnosis dibagi menjadi beberapa menggunakan metode relaksasi,
tahap berdasarkan Davis-Husband perintah paradoks dan pemisahan/
Scale menjadi Hypnoidal, light trance, disosiasi, pemberian dilakukan ketika
medium trance, deep trance atau partisipan sudah memasuki kondisi
somnambulism 7. trance, akan lebih efektif apabila
Berdasarkan pengukuran tingkat sampai pada deep trance atau
sugestifitas setelah dilakukan induksi somnabulism karena pada tahap ini
dan deepening diketahui ada perbedan kondisi mental atau pikiran pasien
yang cukup tajam terkait dengan menjadi sangat sugestif 27.
tingkat sugestifitas pada masing- Setelah menjalani semua siklus
masing tahap siklus hypnotherapi, pada hypnotherapi di dapatkan data terjadi
siklus 1 diketahui rata-rata partisipan penurunan nyeri dan kecemasan pada
masih berada pada tahap midle trance, masing-masing siklus, penurunan nyeri
sedangkan pada siklus 2 dan siklus 3 dalam kisaran 4 sampai 6,3 dan
partisipan sudah bisa mencapai tahap penurunan kecemasan pada kisaran 7
deep trance, sehingga lebih sugestif sampai 15,8.
terhadap sugesti therapi, hal ini juga di Rata-rata penurunan nyeri tertinggi
dukung dengan hasil penurunan nyeri pada siklus hypnotherapi 3 yaitu pada
dan kecemasan yang lebih dirasakan angka 6,3, hal ini kemungkinan
pada hypnotherapi siklus 2 dan disebabkan karena pada tahap induksi
semakin meningkat pada sikul 3, hal ini dan deepening siklus 3 ini semua
sesuai dengan Sovodka (2010) 27 partsipan bisa memasuki level deep
bahwa pada kondisi deep trance pasien trance yang lebih dalam sehingga
akan lebih sugestif terhadap sugesti partisipan lebih sugestif terhadap
therapi. Ada banyak metode yang dapat sugesti terapi yang peneliti berikan, hal
digunakan dalam rangka untuk induksi ini sesuai dengan Sovodka (2010)27.
dan deepening dalam hypnotherapi. Berbeda dengan penurunan kecemasan
Ada banyak ragam metode induksi yang berdasarkan pengukuran dengan
dan deepening tetapi peneliti hanya menggunakan HARS ternyata di
menggunakan metode nafas dalam/ dapatkan penurunan kecemasan angka
deepth breathing, metode membuka rata-rata tertinggi pada siklus 1 disusul
dan menutup mata/ mata berkedip dan siklus 3 dan paling sedikit penurunan
metode imagery oleh terapis, hal ini kecemasan pada siklus 2, hal ini
dilakukan dengan beberapa dimungkinkan karena sebelum siklus 1
pertimbangan yaitu untuk keseragaman parisipan banyak mengalami gangguan
perlakuan, kondisi latar belakang tidur/ insomnia dan setelah
pendidikan partisipan yang sebagian hypnotherapi siklus 1 partisipan
besar berpendidikan sekolah dasar, menyatakan bisa tidur walaupun masih

Jurnal Ilmu Kesehatan. Vol.1 No.1 November 2014 | 7
belum puas tidurnya, hal tersebut yang terjadi di sekitarnya berikut
dijelaskan oleh Stuart31, Sundeen dengan berbagai stimulus yang
(2007)27 bahwa kecemasan akan diberikan oleh terapis.
menimbulkan respon fisiologis Kolcaba (2003)1 menyatakan
terhadap tubuh, di mana akan seseorang yang mengalami nyeri
menimbulkan respon neuromuscular berarti tidak terpenuhi kebutuhan rasa
berupa insomnia, gelisah, wajah nyaman dari partisipan, seseorang yang
tegang, kelemahan umum dll, selain itu nyeri akan mencari pertolongan untuk
hasil penelitian ini juga didukung oleh memenuhi kebutuhan rasa nyamannya,
penelitian Wahyu dan Arif (2008)35 dengan hipnosis peneliti dapat
yang menyatakan bahwa ada hubungan memenuhi kebutuhan rasa nyaman
antara kecemasan lansia dengan partisipan sejak tahap pra induksi, yaitu
kecenderungan insomnia di Panti dengan menggali permasalahan yang
Wredha Dharma Bakti Surakarta. melatar belakangi nyeri kemudian
Partisipan mengungkapkan bahwa membantu menyelesaikannya sehingga
mereka bisa memenuhi kebutuhan tidur partisipan merasa terbebas dari
mereka dengan hypnosis, lebih rileks permasalahan dan tentram (ease),
dan nyaman serta tidak lagi mengalami partisipan juga merasa mampu
mimpi buruk yang mengganggu mengatasi permasalahannya
kualitas tidur mereka. Hal ini didukung (transendece) karena ada orang yang
oleh penelitian Iriana (2014) Analisa akan membantunya, hal tersebut
menunjukkan ada hubungan antara terbukti saat penelitian, partisipan
kecemasan dengan kualitas tidur ibu menyatakan nyerinya berkurang
hamil di Poliklinik KIA Puskesmas langsung setelah selesai sesi hipnosis,
Helvetia Medan Tahun 2013. partisipan juga merasa lebih lega dan
Pada Penelitian Schnur, dkk. lebih segar saat terbangun dari
(2009)30. menggunakan pendekatan hipnosis, partisipan tampak lebih
RCT dengan menggabungkan terapi bersemangat dan lebih bugar.
perilaku (Cognitive-Behavioral Kondisi ketidaknyamanan berupa
Therapy and Hypnosis Intervention/ nyeri dan kecemasan yang dialami
CBTH) pada pasien kanker payudara akan membawa partisipan untuk
yang menjalani radiotherapi di mendapatkan tipe-tipe kenyamanan
dapatkan hasil bahwa CBTH memiliki didefiniskan sebagai dorongan (relief)
potensi untuk meningkatkan motivasi berupa kondisi partisipan yang
dari perempuan yang menjalani kanker membutuhkan kebutuhan yang spesifik
payudara radioterapi. dan segera, ketenteraman (ease) yaitu
Gunawan (2007)17 menjelaskan saat kondisi yang tenteram atau kepuasan
seseorang terhipnosis, fungsi analitis hati dan transcedence yaitu suatu
logis pikiran direduksi sehingga kondisi dimana individu mampu
memungkinkan individu masuk ke mengatasi nyeri dan kecemasanya.
dalam kondisi bawah sadar, dimana Berdasarkan teori Orem1,19, maka
tersimpan beragam potensi internal praktek dari aktivitas yang dimulai
yang dapat dimanfaatkan untuk lebih individu untuk menjaga kehidupan dan
meningkatkan kualitas hidup. Individu kesehatannya dalam hal ini adalah
yang berada pada kondisi hypnotic kegiatan partisipan untuk penanganan
trance lebih terbuka terhadap sugesti masalah nyeri dan kecemasannya
dan dapat dinetralkan dari berbagai disebut self care. Hal yang dibutuhkan
rasa takut berlebih, trauma ataupun rasa untuk menjaga kegiatan Self care
sakit. Individu yang mengalami adalah self care requisites, yang terdiri
hipnosis masih dapat menyadari apa tiga bagian, yaitu universal self care

Jurnal Ilmu Kesehatan. Vol.1 No.1 November 2014 | 8
requisites, developmental self care, nyeri sedang, kecemasan sedang maka
health deviation self care requisites. partisipan pada posisi partly
Kebutuhan universal self care compensatory system, partisipan hanya
requisites yaitu kebutuhan yang membutuhkan sebagian pelayanan
dibutuhkan oleh manusia berupa udara, keperawatan, partisipan masih
air, makanan, eliminasi, aktivitas dan bekerjasama dengan peneliti untuk
istirahat, menyendiri dan bersosialisasi memenuhi kebutuhannya, dan pada
serta pencegahan bahaya, sedangkan kondisi ini perawat bisa memulai
developmental self care requisites mempertimbangkan untuk memberikan
adalah kebutuhan tumbuh kembang pembelajaran tentang self hypnotherapi
dari manusia sepanjang perjalanan kepada pasien untuk mengatasi
kehidupan, sedangkan health deviation masalahnya, ketika sudah berada pada
self care requisites adalah ketika level nyeri ringan, kecemasan ringan,
seseorang sakit dan menggangu fungsi partisipan berada pada situasi
seseorang maka dia akan membutuhkan Supportive educative system dimana
bantuan seseorang1. Berdasarkan data partisipan bisa memenuhi sebagian
penelitian kebutuhan universal self kebutuhannya namun masih
care requisites yang belum terpenuhi membutuhkan bimbingan, ketika
oleh partisipan adalah kebutuhan akan pasien sudah berada pada kondisi nyeri
istirahat, aktifitas dan pencegahan dari ringan dan kecemasan ringan maka
bahaya nyeri sehingga mendorong pasien sudah bisa melakukan self
health deviation self care requisite hypnosis.
untuk meminta dukungan dan bantuan
orang lain sehingga kebutuhan self 4. Alerting
care/ menjaga kehidupan dan Alerting sering disebut juga dengan
kesehatannya terpenuhi. awakening merupakan tahap akhir dari
Nursing system dibagi menjadi tiga seluruh proses terapi. Nurindra
bagian yaitu wholly compensatory (2008)17 menyebutkan pengakhiran
nursing system yaitu orang yang adalah tahap untuk mengakhiri hipnotis
membutuhkan pelayanan keperawatan dan membawa partisipan kembali ke
secara total, Partly compensatory kondisi normal.
system yaitu orang yang membutuhkan Pada tahap ini pasien perlahan-lahan
pelayan keperawatan sebagian, perawat dibangunkan dari tidur hypnosis dan
dan pasien bekerja sama untuk mengembalikan sepenuhnya kepada
memenuhi kebutuhannya, Supportive kesadaran, tahap yang paling
educative system, adalah situasi dimana menyenangkan dari serangkaian tahap
pasien dapat memenuhi kebutuhannya hypnotherapi adalah ketika partisipan
namun masih membutuhkan terbangun, membuka mata dan
bimbingan1. Dalam konteks tersenyum kepada therapis, hal ini
permasalahan nyeri dan kecemasan menandakan proses hypnosis telah
yang di hadapi oleh partisipan, ketika memberikan manfaat kepada pasien.
partisipan berada pada kondisi sangat Pada pelaksanaan alerting pada 3 siklus
nyeri, nyeri berat, kecemasan berat hypnotherapi peneliti menggunakan
maka patisipan berada pada wholly metode menghitung 1-10 secara
compensatory sehingga membutuhkan perlahan-lahan dengan memberikan
secara total pelayanan keperawatan ucapan yang menguatkan terhadap
untuk mengatasinya, dan hypnotherapi proses sugesti, hal ini sesuai dengan
layak menjadi salah satu pilihan untuk Sovodca (2010)28 bahwa untuk
mengatasi masalah nyeri dan mengakhiri proses hypnotherapi,
kecemasan, ketika sudah sampai pada seorang therapis boleh mengucapkan

Jurnal Ilmu Kesehatan. Vol.1 No.1 November 2014 | 9
kata-kata yang semakin membuat menguasai teknik ketrampilan
pasien bersemangat dan yakin bahwa hypnotherapi mulai dari proses
masalahnya sudah terselesaikan. Hal pendidikan.
yang paling banyak ditemukan adalah
ekspresi senyum partisipan, yang
menunjukan bahwa nyeri dan KEPUSTAKAAN
kecemasannya berkurang atau hilang. 1. Alligood , MR; Tomey, AM;. (2006).
Nursing theory utilization &
application, third edition. ST Louis:
SIMPULAN DAN SARAN Mosby, Inc.
Simpulan 2. Boyle, P., & Leon, M. E. (2002).
Penelitian ini mendapatkan gambaran Epidemiology of colorectal cancer.
tentang manfaat hypnotherapi untuk British Medical Bulletin, 1–25.
mengatasi nyeri dan kecemasan pada 3. Brunicardi, F Charles; Andersen,
pasien dengan kanker kolon yang sedang Dana K; Billiar, Timothy R; Hunter,
menjalani kemotherapi, gambaran tersebut John G; Dunn, David L; Matthews,
sebagai berikut : Penurunan tingkat nyeri Jeffrey B; Pollock, Raphael E;.
dirasakan oleh semua partisipan setelah (2009). Schwartz's Principles Of
hypnoterapi di lakukan pada masing- Surgery. USA: The McGraw-Hill
masing siklus. Companies, Inc.
Penurunan tingkat nyeri yang paling 4. Brunner, Sudarth. (2002). Brunner,
besar dirasakan pada hypnotherapi tahap 2002, Buku ajar keperawatan
3, rata-rata penurunan scala nyeri pasca medikal-bedah, EGC, Jakarta.
hypnotherapi siklus 1 adalah 4, pada Jakarta: EGC.
hypnotherapi siklus 2 adalah 4,3 dan pada 5. Hadjam, M. (2000). Tinjauan
hypnotherapi siklus 3 sebesar Psikologis Tentang Kanker.
6,3.Penurunan tingkat kecemasan Yogyakarta: Fakultas Psikologi
dirasakan oleh semua partisipan setelah UGM.
dilakukan pada masing-masing siklus. 6. Hakim, A. (2010). Hipnoterapi :
Pada penurunan kecemasan paling besar Cara Tepat Mengatasi Stress, Fobis,
terjadi pada siklus 3, dengan rata-rata rata- Trauma dan Gangguan Mental
rata penurunan kecemasan pada Lainnya. Cet. I. Jakarta.:
hypnotherapi tahap 1 adalah sebanyak PT.Transmedia Pustaka.
15,8 pada tahap 2 sebanyak 7, pada tahap 7. Heap, Michael; Aravind, Kottiyattil
hypnotherai 3 sebanyak 9,83. K;. (2007). Hartland's Medical and
Dental Hypnosis. London: Churchill
Saran Livingstone.
Berdasarkan simpulan hasil penelitian 8. Kemmis, S; McTaggart, R;. (2000).
di atas, peneliti memberikan saran sebagai Participatory Action Research. New
berikut : York: Denzin & Y. Lincoln.
a. Diharapkan pemberian hypnotherapi 9. Koshy, V. (2005). Action Research
menjadi salah satu intervensi for Improving Practice, A Practical
keperawatan yang diatur dengan Guide. London : A SAGE
standar operasional yang berlaku pada Publications Company.
tataran pelayanan kesehatan. 10. Kroger, W. S. (2008). Clinical &
b. Penguasaan terapi hypnosis untuk Experimental Hypnosis In Medicine,
mengurangi nyeri dan kecemasan Densistry and Psychology.
hendaknya dimasukan dalam Philadelphia USA: Lippincott
kurikulum pendidikan keperawatan William & Wilkins.
sehingga perawat akan belajar

Jurnal Ilmu Kesehatan. Vol.1 No.1 November 2014 | 10
11. March, Angela ; Cormack, Dianne 23. Sadock, Benjamin James; Sadock,
Mc;. (2009). Modifying Kolcaba’s Virginia Alcot;. (2010). Kaplan &
Comfort Theory as an institution. Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis.
Holistic Nursing Practice, 78. Jakarta: EGC.
12. Marijata. (2006). Pengantar Dasar 24. Sendjaja, D.S. (2004). Pengantar Ilmu
Bedah Klinis. Yogyakarta: UPK- FK Komunikasi. Jakarta : Universitas
UGM. Terbuka
13. M., Kojima, et al. (2005). Perceived 25. Siregar, G. A. (2007). Deteksi Dini
Psychologic Stress and Colorectal Dan Penatalaksanaan Kanker Usus
Cancer Mortality:. Psychosomatic Besar. Medan: USU.
Medicine, the American 26. Sjamsuhidajat , R, Wim de Jong.
Psychosomatic Society, pp.67:72–77. (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah.
14. McCloskey, J., & Bulechek, G. (. Jakarta: EGC.
(2000). Nursing Interventions 27. Smeltzer, S. C; Bare, B;. (2006).
Classification (NIC) (3rd ed.). St. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Louis: Mosby-Year Book. Bedah Brunner & Suddarth (8 ed.,
15. Naibaho, D. (2002). Karakteristik Vol. III). (M. Ester, Penyunt., A.
Penderita Kanker Kolorectal yang Hartono, H. Y. Kuncara, E. S.
dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Siahaan, & A. Waluyo, Penerj.).
Medan. Medan: USU Repositori. Jakarta: EGC.
16. Niff, Jean Mc; Whitehead, Jack. 28. Sovodka, P. (2010). Secret of
(2002). Action Research: Principles Hypnotherapy. Jogjakarta:
and Practice. New York: FlashBooks.
RoutledgeFalmer. 29. Speziale, H., Streubert, H., &
17. Nurindra, Y. (2008). Panduan Self Carpenter, D. (2007). Qualitative
Hypnosis. Jakarta: www.hipnotis.net. Research in Nursing. Advancing the
18. Olwin Nainggolan, Anna Maria, S., Humanistic Imperative. London:
Marice, S. (2009). Faktor-Faktor yang Lippincoot Williams & Wilkins.
berhubungan dengan Tumor/ Kanker 30. Stoebl, BL; Molton, IR; Patterson ,
Saluran Cerna Berdasarkan Survei DR;. (2009). The efficacy of hypnotic
Kesehatan Nasional. Jakarta: analgesia in adult, a review literature.
Puslibang Depkes RI. Journal of Contemporary Hypnosis,
19. Orem, D. (2001). Nursing Concept of Vol. 26,no. 1, pp. 24-39.
Practical. St. Louis: The CV. Mosby 31. Stuart, G. W. (2005). Principles and
Company. Practice of Psychiatric Nursing. (9th
20. Oemiati, Ratih; Rahajeng, Ekowati; ed.). Canada: Mosby Elsevier.
Kristanto, Antonius Yudi;. (2011). 32. Strong, Jenni ; Unruh, Anita, M.
Prevalensi Tumor dan Beberapa (2002). Pain : Textbook for Therapist.
Faktor yang Mempengaruhi di Edinburg: Churchill Livingstone
Indonesia. Buletin Penelitian 33. Stuart, G; Sudeen, S;. (2007). Buku
Kesehatan, Vol. 39, No. 4, pp.190- Saku Keperawatan Jiwa (3 ed., Vol.
204. III). (Y. Asih, Penyunt., & A. Yani,
21. Perry, A. G; Potter , P. A;. (2007). Penerj.). Jakarta: EGC.
Fundamental of Nursing (6th ed.). 34. Taylor, S. E.; Dakof, G. A;. (1988).
Italy: Elsevier Health Science Social support and the cancer patient.
Division. In S. Oskamp & S. Spacapan (Eds.),
22. Rasjidi, I. (2010). Perawatan Paliatif The social psychology of health: The
Suportif & Bebas Nyeri Pada Kanker. Claremont symposium on applied
Jakarta: CV Sagung Seto. social psychology. Newbury Park,
California: Sage Publications.

Jurnal Ilmu Kesehatan. Vol.1 No.1 November 2014 | 11
35. Wahyu, W. Arif, W. (2008). Rumah Sakit Immanuel Bandung
Hubungan antara tingkat kecemasan Periode Januari 2005 ─ Desember
dengan kecenderungan Insomnia 200. JKM. Vol.8 No.2 Februari ,
Pada Lansia di Panti Whreda Dharma pp.138-143.
Bakti Mulia. Surakarta; tidak 37. Zahari, A. (2002). Deteksi Dini,
dipublikasikan Diagnosa dan Penatalaksanaan
36. Winarto, Emilia P; Ivone, July; Kanker Kolon dan Rektum. Suplemen
Saanin, Sri Nadya J;. (2009). Majalah Kedokteran Andalas, pp.63-
Prevalensi Kanker Kolorektal di 70.

Jurnal Ilmu Kesehatan. Vol.1 No.1 November 2014 | 12