You are on page 1of 10

PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK CICIK

NOMOR : 04/PER/DIR/RSIA-C/III/2015
TENTANG
KEBIJAKAN PELAYANAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK CICIK

DIREKTUR RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK CICIK

Menimbang : a. Bahwa dalam uapaya meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit
Ibu dan Anak Cicik, maka diperlukan penyelenggaraan pelayanan
yang bermutu tinggi;
b. Bahwa agar pelayanan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Cicik dapat
terlaksana dengan baik, perlu adanya Peraturan Direktur tentang
Kebijakan Pelayanan Rumah Sakit Ibu dan Anak Cicik sebagai
landasan bagi penyelenggaraan seluruh pelayanan di Rumah Sakit
Ibu dan Anak Cicik;
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a
dan b, perlu ditetapkan dengan Peraturan Direktur Rumah Sakit
Ibu dan Anak Cicik;

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tentang
Pekerjaan Kefarmasian.
3. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197/
Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi Di Rumah
Sakit.
4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1203/Menkes/SK/XII/2008
tentang Standart Pelayanan Instensif Care Unit.
5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269 /Menkes/Per/III/2008
Tentang Rekam Medis.
6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1087/Menkes/SK/VIII/2008
tentang Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit
7. Keputusan Komisaris PT Fifa Medika No 01/SK/DIR/RSIA-
C/II/2013 tentang Struktur Organisasi Rumah Sakit Ibu dan Anak
Cicik.

Keputusan Komisaris PT Fifa Medika No 01/SK-DIRUT/FIFA- MEDIKA/1V/2008 tentang Penunjukan Direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak Cicik Ditetapkan di Padang Pada tanggal 23 Maret 2015 RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK CICIK dr.8 . Kharisma Rosa Direktur .

akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya Ditetapkan di Padang Pada tanggal 23 Maret 2015 RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK CICIK dr. MEMUTUSKAN Menetapkan : Pertama : PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK CICIK TENTANG KEBIJAKAN PELAYANAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK CICIK Kedua : Kebijakan pelayanan Rumah Sakit Ibu dan Anak Cicik sebagaimanatercantum dalam Lampiran Peraturan ini. dan apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini. Kharisma Rosa Direktur . Ketiga : Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pelayanan Rumah Sakit Ibu dan Anak Cicik dilaksanakan oleh Direksi dan Manajer Pelayanan Rumah Sakit Ibu dan Anak Cicik. Keempat : Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

psikologik. Pelayanan Instalasi :  Pelayanan Instalasi Gawat Darurat. termasuk dalam penggunaan alat pelindung diri (APD).  Pasien selalu diidentifikasi sebelum pemberian obat. Pelayanan Rawat Jalan sesuai dengan jadwal praktik dokter. NICU. sebelum pengambilan darah dan spesimen lain untuk . serta sesuai dengan etika profesi. atau segera diidentifikasi dengan proses triase berbasis bukti untuk memprioritaskan pasien dengan kebutuhan emergensi. sebelum transfusi darah atau produk darah lainnya. 3.  Pelayanan Kamar Operasi dilaksanakan dalam 24 jam. pedoman/panduan dan standar prosedur opersional yang berlaku.  Skrining dilaksanakan melalui kriteria triase. etika RS dan etiket RS yang berlaku. laboratorium klinik atau diagnostik imajing sebelumnya.  Kebutuhan darurat.Lampiran : Peraturan Direktur Rumah Sakit Ibu dan Anak Cicik Nomor : 04/PER/DIR/RSIA-C/III/2015 Tentang : Kebijakan Pelayanan Rumah Sakit Ibu dan Anak Cicik KEBIJAKAN PELAYANAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK CICIK 1. visual atau pengamatan. mendesak. Skrining dan triase :  Skrining dilakukan pada kontak pertama untuk menetapkan apakah pasien dapat dilayani oleh RS. 2. Identifikasi :  Setiap pasien yang masuk rawat inap harus dipasangkan gelang identitas pasien.  Seluruh staf RS dalam melaksanakan pekerjaannya wajib selalu sesuai dengan ketentuan Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit (K3). Laboratorium dilaksanakan dalam 24 jam. pemeriksaan fisik.  Pelayanan harus selalu berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien. Rawat Inap.  Seluruh staf RS harus bekerja sesuai dengan standar profesi.

6. .  Pasien yang ditransfer harus dilakukan stabilisasi terlebih dahulu sebelum dipindahkan. Penundaan pelayanan :  Memperhatikan kebutuhan klinis pasien pada waktu menunggu atau penundaan untuk pelayanan diagnostik dan pengobatan  Memberikan informasi apabila akan terjadi penundaan pelayanan atau pengobatan  Memberi informasi alasan penundaan atau menunggu dan memberikan informasi tentang alternatif yang tersedia sesuai dengan keperluan klinik mereka.  Merujuk berdasarkan atas kondisi kesehatan dan kebutuhan akan pelayanan berkelanjutan. Transfer/ perpindahan di dalam rumah sakit :  Transfer dilaksanakan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. 5. serta sebelumdilakukan tindakan. Transfer keluar rumah sakit / rujukan :  Stabilisasi terlebih dahulu sebelum dirujuk.  Proses rujukan didokumentasikan didalam rekam medis pasien. Pemulangan pasien :  DPJP yang bertanggung jawab atas pelayanan pasien tersebut.  Rujukan menunjuk siapa yang bertanggung jawab selama proses rujukan serta perbekalan dan peralatan apa yang dibutuhkan selama transportasi.  Rujukan kerumah sakit ditujukan kepada individu secara spesifik.  Kerjasama yang resmi atau tidak resmi dibuat dengan rumah sakit penerima. pemeriksaan laboratorium klinis. 7. 4. sebelum pemeriksaan radiologi.  Keluarga pasien dilibatkan dalam perencanaan proses pemulangan yang terbaik atau sesuai kebutuhan pasien. harus menentukan kesiapan pasien untuk dipulangkan.

Hak pasien dan keluarga :  Menghormati kebutuhan privasi pasien. anestesi.  Identifikasi organisasi dan individu penyedia pelayanan kesehatan di lingkungannya yang sangat berhubungan dengan pelayanan yang ada di rumah sakit serta populasi pasien. baik kontrak maupun milik rumah sakit.  Melindungi dari kekerasan fisik.  Rencana pemulangan pasien meliputi kebutuhan pelayanan penunjang dan kelanjutan pelayanan medis. perbekalan dan medikamentosa sesuai dengan kebutuhan pasien yang dibawa.  Pernyataan persetujuan (lnformed Consent) dari pasien didapat melalui suatu proses yang ditetapkan rumah sakit dan dilaksanakan oleh staf yang terlatih. Transportasi :  Transportasi milik rumah sakit. . lanjut usia dan lainnya yang berisiko mendapatkan perlindungan yang layak.  Resume pasien pulang dibuat oleh DPJP sebelum pasien pulang. dilengkapi dengan peralatan yang memadai. individu yang cacat. 9.  Informed consent diperoleh sebelum operasi.  Membantu mencari second opinion dan kompromi dalam pelayanan didalam maupun diluar rumah sakit. 8. harus sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku berkenaan dengan pengoperasian.  Anak-anak.  Resume berisi pula instruksi untuk tindak lanjut. dalam bahasa yang dipahami pasien.  Melindungi barang milik pasien dari pencurian atau kehilangan. kondisi dan pemeliharaan  Transportasi disediakan atau diatur sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien  Semua kendaraan yang dipergunakan untuk transportasi.  Salinan resume pasien pulang didokumentasikan dalam rekam medis.  Salinan resume pasien pulang diberikan kepada praktisi kesehatan perujuk. penggunaan darah atau produk darah dan tindakan serta pengobatan lain yang berisiko tinggi.

sosial. 12. respon terhadap aspek psikologis. Penolakan pelayanan dan pengobatan :  Memberitahukanhak pasien dan keluarga untuk menolak atau tidak melanjutkan pengobatan. termasuk pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan  Hanya mereka yang kompeten sesuai perizinan.10.  Asesmen awal setiap pasien meliputi evaluasi faktor fisik. manajemen nyeri. tanggung jawab berkaitan dengan keputusan tersebut dan tersedianya alternatif pelayanan dan pengobatan. Asesmen pasien :  Semua pasien yang dilayani rumah sakit harus diidentifikasi kebutuhan pelayanannya melalui suatu proses asesmen yang baku. serta persyaratan hukum dan peraturan. undang-undang dan peraturan yang berlaku dan sertifikasi dapat melakukan asesmen . o Posisi rumah sakit sesuai dengan norma agama dan budaya masyarakat.  Memberitahukan tentang konsekuensi. agama dan budaya pasien dan keluarganya serta keterlibatannya dalam keputusan pelayanan. psikologis. sosial dan ekonomi.  Memberitahukan pasien dan keluarganya tentang Menghormati keinginan dan pilihan pasien untuk menolak pelayanan resusitasi atau memberhentikan pengobatan bantuan hidup dasar ( Do Not Resuscitate ) o Rumah sakit telah menetapkan posisinya pada saat pasien menolak pelayanan resusitasi dan membatalkan atau mundur dari pengobatan bantuan hidup dasar. emosional. 11. Pelayanan pasien tahap terminal :  Mendukung hak pasien untuk mendapatkan pelayanan yang penuh hormat dan kasih sayang pada akhir kehidupannya  Perhatian terhadap kenyamanan dan martabat pasien mengarahkan semua aspek pelayanan pada tahap akhir kehidupan  Semua staf harus menyadari kebutuhan unik pasien pada akhir kehidupannya yaitu meliputi pengobatan terhadap gejala primer dan sekunder.

 Distribusi makanan secara tepat waktu.  Untuk asesmen kurang dari 30 hari.  Respon pasien terhadap terapi gizi dimonitor.bila diperkenankan kebijakan. Manajemen nutrisi :  Pasien di skrining untuk status gizi. . atau riwayat medis telah diperbaharui dan pemeriksaan fisik telah diulangi.  Asesmen awal medis yang dilakukan sebelum pasien di rawat inap. dan memenuhi permintaan khusus.  Produk nutrisi enteral disimpan sesuai rekomendasi pabrik. 13. atau sebelum tindakan pada rawat jalan di rumah sakit. Manajemen obat :  Elektrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan pasien kecuali jika dibutuhkan secara klinis dan tindakan diambil untuk mencegah pemberian yang tidak sengaja di area tersebut. 14.  Makanan disiapkan dan disimpan dengan cara mengurangi risiko kontaminasi dan pembusukan.  Asesmen awal keperawatan dilaksanakan dalam 24 jam pertama sejak rawat inap atau lebih cepat sesuai kondisi pasien atau kebijakan rumah sakit.  Data dan informasi asesmen pasien dianalisis dan diintegrasikan. sejak asesmen dicatat dalam rekam medis pasien pada saat masuk rawat inap  Asesmen awal termasuk menentukan kebutuhan rencana pemulangan pasien (discharge)  Semua pasien dilakukan asesmen ulang pada interval tertentu atas dasar kondisi dan pengobatan untuk menetapkan respons terhadap pengobatan dan untuk merencanakan pengobatan atau untuk pemulangan pasien. setiap perubahan kondisi pasien yang signifikan. tidak boleh lebih dari 30 hari.  Asesmen awal medis dilaksanakan dalam 24 jam pertama sejak rawat inap atau lebih dini/cepat sesuai kondisi pasien atau kebijakan rumah sakit.  Elektrolit konsentrat yang disimpan di unit pelayanan pasien diberi label yang jelas dan disimpan dengan cara yang membatasi akses (restrict access).

 Langkah-langkah dimonitor hasilnya. Risiko jatuh :  Penerapan asesmen awal risiko pasien jatuh dan melakukan asesmen ulang terhadap pasien bila diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau pengobatan.dari WHO Patient Safety).  Komunikasi dengan dan mendidik pasien dan keluarga tentang pengelolaan nyeri dan gejala dalam konteks pribadi.  Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat/mendokumentasikan prosedur “sebelum insisi / time-out” tepat sebelum dimulainya suatu prosedur / tindakan pembedahan. budaya dan kepercayaan agama masing-masing.15. 18. 16.  Menyediakan pengelolaan nyeri sesuai pedoman dan protokol. 17. Surgical Safety Checklist :  Digunakan suatu tanda yang segera dikenali untuk identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien dalam proses penandaan / pemberian tanda.  Pasien dibantu dalam pengelolaan rasa nyeri secara efektif. Manajemen nyeri:  Semua pasien rawat inap dan rawat jalan di skrining untuk rasa sakit dan dilakukan asesmen apabila ada rasa nyerinya.  Menggunakan suatu checklist untuk melakukan verifikasi praoperasi tepat-lokasi. tepat-prosedur. dan tepat-pasien dan semua dokumen serta peralatan yang diperlukan tersedia. .  Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi mereka yang pada hasil asesmen dianggap berisiko. Hand hygiene :  Mengadaptasi pedoman hand hygieneterbaru yang baru-baru ini diterbitkan dan sudah diterima secara umum (al. dan fungsional. tepat/benar. baik tentang keberhasilan pengurangan cedera akibat jatuh maupun dampak yang berkaitan secara tidak disengaja.  Menerapkan program hand hygiene yang efektif.

22. Peralatan di instalasi harus selalu dilakukan pemeliharaan dan kaliberasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.19. untuk menjamin semua sediaan farmasi tetap dalam kondisi yang baik. Komunikasi efektif :  Perintah lisan dan yang melalui telepon ataupun hasil pemeriksaan dituliskan secara lengkap oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan tersebut. 21.  Penyediaan tenaga harus mengacu kepada pola ketenagaan. Manajemen di instalasi :  Semua petugas instalasi wajib memiliki izin sesuai dengan ketentuan yang berlaku.  Setiap bulan wajib membuat laporan. 20. Kharisma Rosa Direktur .  Melaksanakan koordinasi dan evaluasi wajib dilaksanakan rapat rutinbulanan minimal satu bulan sekali.  Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh individu yang memberi perintah atau hasil pemeriksaan tersebut.  Perintah lisan dan melalui telpon atau hasil pemeriksaan secara lengkap dibacakan kembali oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan tersebut. Dalam melaksanakan tugasnya setiap petugas wajib mematuhi ketentuan dalam K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) Ditetapkan di Padang Pada tanggal 23 Maret 2015 RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK CICIK dr.