You are on page 1of 8

LAPORAN KASUS

MOLLUSCUM CONTAGIOSUM

Disusun untuk memenuhi tugas dokter internsip

Disusun oleh :
dr. Mohammad Rizky F

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


GELOMBANG II TAHUN 2017
RSAU DR. M. SALAMUN
BANDUNG
1. KETERANGAN UMUM
Nomor RM : 296312
Nama : An. K
Usia : 5 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Gegerkalong
Agama : Islam
Status perkawinan : Belum Menikah
Tanggal Masuk : 14 Agustus 2017

2. ANAMNESIS
A. Keluhan Utama :
Bintik-bintik sejak 1 bulan SMRS
B. Riwayat Penyakit Sekarang :
1 bulan SMRS ibu pasien mengatakan timbul bintik-bintik
berwarna putih di kaki sebelah kiri pasien. Bintik-bintik bergerombol dan
jumlah 3 bintik. Bintik-bintik ini tidak disertai dengan keluhan gatal,
nyeri.
1 minggu SMRS bintik-bintik ini menyebar ke betis sebelah kiri.

C. Riwayat Penyakit Dahulu :


Pasien mengaku keluhan seperti ini baru pertama kali dirasakan.

D. Riwayat Pengobatan :
Pasien sudah pernah diobati sendiri sebelumnya dengan menggunakan
obat kutil namun keluhan tidak sembuh. Kemudian os ke puskesmas dan
dirujuk ke poli bedah RSAU DR M SALAMUN.

E. Riwayat keluarga :
Riwayat keluhan serupa di keluarga disangkal.

F. Kondisi lingkungan sosial dan fisik :


Pasien berobat dengan menggunakan asuransi BPJS Kesehatan.
3. PEMERIKSAAN FISIK :
A. Keadaan Umum :
- Kesan Sakit : Tampak Sakit ringan
- Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital
Nadi : 97 kali/menit, regular
Pernapasan : 23 kali/menit
Suhu : 37,4C
TD : 110/80 mmHg

B. Status Generalis :
1) Kepala
Mata : Tidak ada kelainan
Telinga : Tidak ada kelainan
Hidung : Tidak ada kelainan
Mulut : Tidak ada kelainan
2) Leher : Tidak ada kelainan
3) Thorax
a. Pulmo
Inspeksi : Simetris, pengembangan dada kanan = kiri,
Palpasi : pengembangan dada kanan = kiri
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : Ronkhi (-), wheezing (-/-)
b. Cor: BJ I II intensitas normal, reguler, bising jantung (-)
4) Abdomen
Inspeksi : datar
Palpasi : Hepar dan Lien tidak teraba, supel, nyeri tekan (-)
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) normal
5) Ekstremitas : Akral hangat, nadi kuat, CRT < 2 detik, terdapat
papul berwarna kehitaman

C. Pemeriksaan Penunjang
Biopsi Ekstirpasi untuk mengetahui jenis penyakit nya. Dengan hasil
PA Moluscum Contangiosum

4. DIAGNOSIS BANDING
- Moluscum Contangiosum
- Veruka

5. DIAGNOSIS
Moluscum Contangiosum

6. PENATALAKSANAAN
A. Umum :
Perlu dijelaskan kepada pasien dan keluarga pasien mengenai penyebab,
kondisi pasien, dan pengobatan yang diberikan. Perlu juga di jelaskan
tentang penyakit Moluscum Contangiosum agar dapat terhindar dari
penyakit tersebut.

B. Khusus :
Pengobatan mengeluarkan isi mengeluarkan massa yang mengandung
badan moluskum.

7. PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam
Quo ad Sanationam : ad bonam
PEMBAHASAN

1. Definisi
Moluskum kontagiosum adalah penyakit kulit jinak yang disebabkan oleh
poxvirus. Manifestasi penyakitnya asimptomatis, diskret, papul licin

2. Etiologi
Etiologi dari penyakit ini adalah virus genus Molluscipoxvirus. Molluscum
Contagiosum Virus (MCV) merupakan virus double stranded DNA,berbentuk
lonjong dengan ukuran 230 x 330 nm.

3. Gejala Klinis
Masa inkubasi 1 bbrp mgg
Lesi soliter / multipel, bundar bentuk kubah, umbilikasi (+), 1-5 mm
sampai 10 mm
Lesi mula-mula keras, solid, merah muda dipijat massa berwarna
putih seperti nasi
Infeksi sekunder supurasi (+)
Gejala subyektif. (-)
Predileksi :
o Anak : wajah, badan, ekstremitas, perut bagian bawah
o Dewasa : pubis, genitalia, lipat paha
Cara penularan : kontak langsung, autoinokulasi
Anak-anak >>
Dewasa muda IMS

4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Histopatologi pada penyakit ini ditemukan badan moluskum
(Henderson Paterson bodies) yg mengandung partikel virus

5. Diagnosis
Diagnosis moluskum kontagiosum lebih banyak ditegakkan melalui
pemeriksaan fisik. Lesi yang ditimbulkan oleh MCV biasanya berwarna putih,
pink, atau warna daging, umbilikasi, papul yang meninggi (diameter 1 5 mm)
atau nodul (diameter 6 10 mm). Lesi moluskum kontagiosum dapat timbul
sebagai lesi multipel atau single (biasanya <30 papul). Walaupun pada pasien
biasanya asimtomatis, mungkin muncul ekzema di sekitar lesi dan pasien bisa
mengeluhkan gatal atau nyeri. Lesi moluskum kontagiosum pada pasien HIV
tidak sembuh secara cepat, dan mudah menyebar ke lokasi lain (seperti wajah) dan
biasanya terjadi kekambuhan jika diobati dengan terapi biasa. Lesi jarang
didapatkan pada daerah telapak tangan dan telapak kaki. Pada orang dewasa lesi
dapat pula ditemui di daerah perigenital dan perianal. Hal ini berkaitan dengan
penularan virus melalui hubungan seksual. Penegakan diagnosis moluskum
kontagiosum secara pasti dapat ditegakkan dengan pemeriksaan fisik lesi yang
cermat. Pemeriksaan histopatologi moluskum kontagiosum menunjukkan
gambaran proliferasi sel-sel stratum spinosum yang membentuk lobules disertai
central cellular dan viral debris. Lobulus intraepidermal dipisahkan oleh septa
jaringan ikat dan didapatkan badan moluskum di dalam lobulus berupa sel
berbentuk bulat atau lonjong yang mengalami degenerasi keratohialin. didapatkan
gambaran inflamasi predominan limfosit dan neutrophil pada pemeriksaan
histopatologi

6. Tatalaksana
Sangatlah penting untuk mendiskusikan risiko dan keuntungan bagi terapi
pasien dengan keluarga pada fase jinak karena moluskum kontagiosum sendiri
akan sembuh tanpa komplikasi pada individu tanpa komplikasi imunokompeten.
Pemberian terapi dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan meliputi
kebutuhan pasien, rekurensi penyakit serta kecenderungan pengobatan yang
meninggalkan lesi pigmentasi atau jaringan parut. Sebagian besar pengobatan
moluskum kontagiosum bersifat traumatis pada lesi. Terapi yang sering
diaplikasikan pada pasien moluskum kontagiosum seperti kuretase dan kryoterapi,
bagaimanapun kedua terapi ini menyakitkan bagi pasien. Terapi eviserasi
merupakan metode yang mudah untuk menghilangkan lesi dengan cara
mengeluarkan inti umbilikasi sentral melalui penggunaan instrumen seperti
skalpel, ekstraktor komedo dan jarum suntik. Penggunaan metode ini kebanyakan
tidak dapat ditoleransi oleh anak-anak. Suspensi podofilin 25% dalam larutan
benzoin atau alkohol dapat diaplikasikan pada lesi dengan menggunakan lidi
kapas, dibiarkan selama 1-4 jam kemudian dilakukan pembilasan dengan
menggunakan air bersih. Pemberian terapi dapat diulang sekali seminggu. Terapi
ini membutuhkan perhatian khusus. Efek samping lokal akibat penggunaan bahan
ini meliputi erosi pada permukaan kulit normal serta timbulnya jaringan parut.
Efek samping sistemik akibat penggunaan secara luas pada permukaan mukosa
berupa neuropati saraf perifer, gangguan ginjal, ileus, leukopeni dan
trombositopenia. Dapat pula menggunakan 0,05 ml podofilotoksin 5%
diaplikasikan pada lesi 2 kali sehari selama 3 hari. Kontraindikasi absolut bahan
ini pada wanita hamil. Sedangkan cantharidin merupakan agen keratolitik berupa
larutan yang mengandung 0,9% collodian dan acetone. Telah menunjukkan hasil
memuaskan pada penanganan infeksi Molluscum Contagiosum Virus (MCV).
Pemberian bahan ini terbatas pada puncak lesi serta didiamkan selama kurang
lebih 4 jam sebelum lesi dicuci. Cantharidin menginduksi lepuhan pada kulit
sehingga perlu dilakukan tes terlebih dahulu pada lesi sebelum digunakan. Bila
pasien mampu menoleransi bahan ini, terapi dapat diulang sekali seminggu
sampai lesi hilang. Efek samping pemberian terapi meliputi eritema, pruritus serta
rasa nyeri dan terbakar pada daerah lesi. Kontraindikasi penggunaan Cantharidin
pada lesi moluskum kontagiosum di daerah wajah.

7. Prognosis
Pasien umumnya dapat sembuh spontan namun biasanya setelah waktu yang
lama, dapat berbulan- bulan bahkan sampai tahunan. Dengan menghilangkan lesi
penyakit ini jarang atau tidak residif.