You are on page 1of 28

LAPORAN PENDAHULAN

MALARIA

Sesuai dengan penyebab malaria di bedakan berdasarkan jenis


plasmodiumnya. (Arif Muttaqin, dkk, 2011)

JENIS MALARIA
Jenis Penyebab Klinis
Malaria Plasmodium Malaria tropika adalah jenis malaria yang paling berat,
Tropika Falcifarum di tandai dengan panas yang iriguler, anemia,
splenomogali, parasitemia, dan sering terjadi
komplikasi. Masa inkubasi 9-14 hari. Malaria ini
menyerang semua bentuk eritrosit. Plasmodium
Falcifarum menyerang sel darah merah seumur hidup.
Infeksi plasmodium falcifarum sering sekali
menyebabkan sel darah merah yang mengandung parasit
menghasilkan banyak tonjolan untuk melekat pada
lapisan endotel dinding kapiler dengan akibat obstruksi
trombosis dan iskemik lokal. Infeksi ini sering kali lebih
berat dan infeksi lainnya dengan angka komplikasi
tinggi (Murphy, 1996)

Malaria Plasmodium Plasmodium malariae mempunyai tropozoit yang serupa


Kwartana malariae dengan plasmodium vivak, lebih kecil dan
sitoplasmanya lebih kompak/lebih biru.tropozoit matur
mempunyai granula coklat tua sampia hitam dan
terkadang mengumpul sampai terbentuk pita. Skizon
plasmodium malariae mempunyai 8-10 merozoit yang
tersusun seperti kelopak bunga/rosate. Bentuk gametosit
sangat mirip dengan plasmodium vivax tetapi lebih
kecil. (Cunha, 2008)
Ciri-ciri demam tiga hari sekali setelah puncak 48 jam.
Gejala lain adalah nyeri pada kepala dan punggung,
mual, pembesaran limpa, dan melaise umum.

1
Komplikasi jarang terjadi, namun dapat terjadi seperti
sindrome nefrotik dan komplikasi terhadap ginjal
lainnya. Pada pemeriksaan akan di temukan edema,
asites, proteinuria, hipoproteinemia, tanpa uremia dan
hipertensi (Dorsey, 2000)

Malaria Plasmodium Malaria tersiana (plasmodium Ovale) bentuknya mirip


Ovale Ovale plasmodium malariae, skizonnya hanya mempunyai 8
merozoid dengan masa pigmen hitam di tengah.
Karakteristik yang dapat di pakai untuk identifikasi
adalah bentuk eritrosit yang terinfeksi plasmodium ovale
dimana biasanya oval atau ireguler dan fibriated.
Malaria ovale merupakan bentuk yang paling ringan dari
semua bentuk malaria yang di sebabkan oleh
plasmodium ovale. Masa inkubasi 11-16 hari, walaupun
priode laten sampai 4 tahun. Serangan proksismal 3-4
hari dan jarang terjadi lebih dari 10 kali walaupun tanpa
terapi dan terjadi pada amalam hari ( Busch, 2003)

Malaria Plasmodium Malaria tersiana (plasmodium vivax) biasanya


Tersiana Vivax menginfeksi eritrosit muda yang diameternya lebih besar
dari eritrosit noramal, bentuknya mirip dengan
plasmodium falcifarum, namun seiring dengan maturasi,
tropozoid vivax berubah menjadi amoeboid. Terjadi atas
12-24 merozoid ovale dan pigment kuning tengguli.
Gametosit berbentuk aval hampir memenuhi seluruh
eritrosit, kromatinin eksternis, pigmen kuning. Gejala
malaria jenis ini secara periodik 48 jam dengan gejala
klasik trias malaria dan mengakibatkan demam berkala 4
hari sekali dengan puncak demam 72 jam (karmona,
2009).

B. PATOFISIOLOGI
1. Penghancuran eritrosit yang mengandung parasit dan fagosit eritrosit yang
mengandung parasit dan yang tidak mengandung parasit, sehingga terjadi anemia

2
dan anoksia jaringan. Dengan hemolisis intravaskuler yang berat dapat terjadi
hemoglobinuria (black water fever) dan dapat mengandung gagal ginjal.
2. Mediator endotoksin-makrofag : Pada saat skizogoni, eritrosit yang mengandung
parasit memacu makrofag yang sensitif endotoksin untuk melepaskan mediator
yang menyebabkan perubahan patofisiologi malaria.
3. Endotoksin berasal dari saluran pencernaan, sedangkan parasit menghasilkan
TNF yang merupakan monoksin yang terdapat dalam peredaran darah manusia
dan hewan yang terinfeksi malaria. TNF dapat menghancurkan plasmodim
falsifarum invitro dan dapat meningkatkan perlekatan eritrosit yang dihinggapi
parasit dengan endotel kapiler. Konsentrasi TNF dalam serum pada anak dengan
malaria falsifarum akut, berhubungan langsung dengan motilitas, hipoglikemia,
hiperparasitemia dan beratnya penyakit.
4. Sekuestrasi eritrosit yang terinfeksi : Eritrosit yang terinfeksi dengan stadium
lanjut plasmodium falsifarum membentuk tonjolan (knobs) pada permukaannya,
yang mengandung antigen malaria dan bereaksi dengan antibodi malaria dan
berhubungan dengan afinitas eritrosit yang mengandung plasmodium falsifarum
terhadap endotelium kapiler alat dalam, sehingga skizogoni berlangsung
disirkulasi alat dalam hingga terjadi gumpalan yang membendung kapiler-kapiler
alat-alat dalam. Protein dan cairan merembes melalui membran kapiler yang
bocor (menjadi permeabel) yang menimbulkan anoksia dan edema jaringan.
Anoksia jaringan yang luas dapat menyebabkan kematian yang punya 4 protein
kaya histidin yang berperan dalam sitoadheren sel endotel eritrosit yang
terinfeksi plasmodium falsifarum.

Patogenesis malaria ada 2 cara : pertama yang alami melalui gigitan nyamuk
ke tubuh manusia dan kedua yaitu induksi jika stadium aseksual dalam eritrosit
masuk ke dalam darah manusia melalui transfusi, suntikan atau pada bayi baru lahir
melalui plasenta ibu yang terinfeksi (kongenital).

Patogenesis malaria falsifarum dipengaruhi oleh faktor parasit dan faktor


pejamu (host). Yang termasuk faktor parasit adalah intensitas transmisi, densitas
parasit dan virulensi parasit. Yang masuk ke dalam faktor pejamu (host) adalah
tingkat endemisitas daerah tempat tinggal, genetik, usia, status nutrisi dan status

3
imunologi. Parasit dalam eritrosit mengalami 2 stadium yaitu stadium cincin pada 24
jam pertama dan satdium matur pada 24 jam kedua. Permukaan EP stadiumm cincin
akan menampilkan antigen RESA yang menghilang setelah parasit masuk stadium
matur, Permukaan membran EP Stadium matur akan mengalami penonjolan dan
membentuk knob dengan histidin Rich-protein-I sebagai komponen utamanya.
Selanjutnya bila EP tersebut mengalami merogoni, akan dilepaskan toksin malaria
berupa GPI (GlikosilPosfatidilinasitol) yang merangsang pelepasan TNF alfa dan
interleukin-I (IL-I) dari makrofag.

C. PATHWAY

4
D. MANIFESTASI KLINIS
1. Plasmodium vivax ( malaria tertiana )
a. Meriang
b. Panas dingin menggigil/ demam ( 8 sampai 12 jam, dapat terjadi dua hari
sekali setelah gejala pertama terjadi dapat terjadi selama 2 minggu setelah
infeksi)
c. Keringat dingin
d. Kejang-kejang
e. Perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi.

2. Plasmodium falcifarum ( malaria tropika )


a. Meriang
b. Panas dingin menggigil/ demam ( lebih dari 12 jam, dapat terjadi dua hari
sekali setelah gejala pertama terjadi dapat terjadi selama 2 miggu setelah
infeksi)
c. Keringat dingin
d. Kejang-kejang
e. Perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi.

3. Plasmodium malariae ( malaria kuartana )


a. Meriang
b. Panas dingin menggigil/ demam ( gejala pertama tidak terjadi antara 18
sampai 40 hari setelah infeksi terjadi. Gejala tersebut kemudian akan terulang
kembali setiap 3 hari )
c. Keringat dingin
d. Kejang-kejang

5
e. Perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi

4. Plasmodium ovale (jarang ditemukan) gejalanya mirip malaria tersiana :


a. Meriang
b. Panas dingin menggigil/ demam ( 8 sampai 12 jam, dapat terjadi dua hari
sekali setelah gejala pertama terjadi dapat terjadi selama 2 minggu setelah
infeksi)
c. Keringat dingin
d. Kejang-kejang
e. Perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi.
E. KOMPLIKASI
1. Malaria serebral, biasanya dimulai dengan adanya kejang pada anak, kesadaran
anak menjadi apatis sampai koma. Delirium, halusinasi atau mengamuk sangat
jarang dijumpai pada anak. Cairan serebrospinal biasanya dalam batas normal.
Gejala malaria serebral pada anak-anak paling dini biasanya adalah demam
dengan suhu 37,5-41C, tidak bisa makan dan minum, mual, batuk jarang diare.

2. Anemia, (Hb < 5 gr%).seorang anak yang mendadak menderita anemia berat
seringkali berhubungan dengan hiperparasitemia. Dapat pula terjadi sebagai
akibat penghancuran eritrosit yang mengandung parasit. Anak dengan anemia
berat dapat menderita takikardia dan dispnea.

3. Dehidrasi, gangguan asam-basa, dan elektrolit, ditandai dengan penurunan


perfusi perifer, rasa haus, berat badan turun 3-4%, nafas cepat dan dalam,
penurunan turgor kulit, peningkatan kadar ureum darah 6,5 mmol/l atau 40
mg/dl.

4. Hipoglikemia berat, terutama terjadi pada anak di bawah 3 tahun dengan gejala
kejang, hiperparasitemia, penurunanan kesadaran. Hipoglikemia berhubungan
dengan hiperinsulinemia yang diinduksi oleh malaria dan kina.

5. Gagal ginjal, jarang terdapat pada anak dengan malaria terutama pada anak kecil.
Gagal ginjal ini seringkali disebabkan oleh dehidrasi yang tidak diobati adekuat.

6. Edema paru akut, diduga karena peningkatan permeabilitas membran kapiler,


terjadinya emboli mikrovaskuler, koagulasi intravaskuler atau disfungsi
mikrosirkulasi pulmonal.

6
7. Malaria algid, adalah malaria falciparum yang disertai syok karena adanya
septikemia kuman gram negatif.

8. Kecendrungan terjadi perdarahan, misalnya perdarahan gusi, epistaksis, petekia,


dan perdarahan subkonjungtiva. Hal ini sering terjadi pada penderita yang non-
imun terhadap malaria.

9. Hiperpireksia, seringkali berhubungan dengan kejang, delirium, dan koma.

10. Hemoglobinuria, berkaitan dengan defisiensi G6PD, hemolisis akan berhenti


setelah pecahnya eritrosit tua.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan mikroskopis malaria
Diagnosis malaria sebagai mana penyakit pada umumnya didasarkan pada
manifestasi klinis (termasuk anamnesis), uji imunoserologis dan ditemukannya
parasit (plasmodium) di dalam penderita. Uji imunoserologis yang dirancang
dengan bermacam-macam target dianjurkan sebagai pelengkap pemeriksaan
mikroskopis dalam menunjang diagnosis malaria atau ditujukan untuk survey
epidemiologi di mana pemeriksaan mikrokopis tidak dapat dilakukan.
Diagnosis definitif demam malaria ditegakan dengan ditemukanya parasit
plasmodium dalam darah penderita. Pemeriksaan mikrokropis satu kali yang
memberi hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis deman malaria. Untuk itu
diperlukan pemeriksaan serial dengan interval antara pemeriksaan satu hari.
Pemeriksaan mikroskropis membutuhkan syarat-syarat tertentu agar
mempunyai nilai diagnostik yang tinggi (sensitivitas dan spesifisitas mencapai
100%).
a. Waktu pengambilan sampel harus tepat yaitu pada akhir periode demam
memasuki periode berkeringat. Pada periode ini jumlah trophozoite dalam
sirkulasi dalam mencapai maksimal dan cukup matur sehingga memudahkan
identifikasi spesies parasit.
b. Volume yang diambil sebagai sampel cukup, yaitu darah kapiler (finger
prick) dengan volume 3,0-4,0 mikro liter untuk sediaan tebal dan 1,0-1,5
mikro liter untuk sedian tipis.

7
c. Kualitas perparat harus baik untuk menjamin identifikasi spesies plasmodium
yang tepat.
d. Identifikasi spesies plasmodium
e. Identifikasi morfologi sangat penting untuk menentukan spesies plasmodium
dan selanjutnya digunakan sebagai dasar pemilihan obat.

2. QBC (Semi Quantitative Buffy Coat)


Prinsip dasar: tes floresensi yaitu adanya protein pada plasmodium yang
dapat mengikat acridine orange akan mengidentifikasi eritrosit terinfeksi
plasmodium. QBC merupakan teknik pemeriksaan dengan menggunakan tabung
kapiler dengan diameter tertentu yang dilapisi acridine orange tetapi cara ini tidak
dapat membedakan spesies plasmodium dan kurang tepat sebagai instrumen
hitung parasit.

3. Pemeriksaan imunoserologis
Pemeriksaan imunoserologis didesain baik untuk mendeteksi antibodi
spesifik terhadap paraasit plasmodium maupun antigen spesifik plasmodium atau
eritrosit yang terinfeksi plasmodium teknik ini terus dikembangkan terutama
menggunakan teknik radioimmunoassay dan enzim immunoassay.

4. Pemeriksan Biomolekuler
Pemeriksaan biomolekuler digunakan untuk mendeteksi DNA spesifik
parasit/ plasmodium dalam darah penderita malaria.tes ini menggunakan DNA
lengkap yaitu dengan melisiskan eritrosit penderita malaria untuk mendapatkan
ekstrak DNA.

G. PENATALAKSANAAN MEDIS
Obat anti malaria dapat dibagi dalam 9 golongan yaitu :
1. Kuinin (kina)
2. Mepakrin
3. Klorokuin, amodiakuin
4. Proguanil, klorproguanil
5. Primakuin
6. Pirimetamin
7. Sulfon dan sulfonamide

8
8. Kuinolin methanol
9. Antibiotic

Berdasarkan suseptibilitas berbagai macam stadium parasit malaria terhadap


obat antimalaria, maka obat antimalaria dapat juga dibagi dalam 5 golongan yaitu :

a. Skizontisida jaringan primer yang dapat membunuh parasit stadium praeritrositik


dalam hati sehingga mencegah parasit masuk dalam eritrosit, jadi digunakan
sebagai obat profilaksis kausal. Obatnya adalah proguanil, pirimetamin.

b. Skizontisida jaringan sekunder dapat membunuh parasit siklus eksoeritrositik P.


vivax dan P. ovale dan digunakan untuk pengobatan radikal sebagai obat anti
relaps, obatnya adala primakuin.
c. Skizontisida darah yang membunuh parasit stadium eritrositik, yang berhubungan
dengan penyakit akut disertai gejala klinik. Obat ini digunakan untuk pengobatan
supresif bagi keempat spesies Plasmodium dan juga dapat membunuh stadium
gametosit P. Vivax, P. Malariae dan P. Ovale, tetapi tidak efektif untuk
gametosit P. Falcifarum. Obatnya adalah kuinin, klorokuin atau amodiakuin;
atau proguanil dan pirimetamin yang mempunyai efek terbatas.

d. Gametositosida yang menghancurkan semua bentuk seksual termasuk gametosit


P. Falcifarum. Obatnya adalah primakuin sebagai gametositosida untuk keempat
spesies dan kuinin, klorokuin atau amodiakuin sebagai gametositosida untuk P.
Vivax, P. Malariae dan P. Ovale.

e. Sporontosida yang dapat mencegah atau menghambat gametosit dalam darah


untuk membentuk ookista dan sporozoit dalam nyamuk Anopheles. Obat obat
yang termasuk golongan ini adalah primakuin dan proguanil.

I. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
1. Identitas Pasien
Meliputi nama, umur, alamat, pekerjaan, pendidikan, jenis kelamin dan
penanggung jawab.

2. Tanda-tanda vital
SB : Meningkat (di atas 37,5o C)

9
TD : Tekanan darah normal atau sedikit menurun
N : Denyut perifer kuat dan cepat (fase demam)
R : Tackipnea, Napas pendek

3. Pola Fungsi keperawatan


a. Aktivitas/ istirahat
Gejala : Keletihan, kelemahan, malaise umum
Tanda : Takikardi, Kelemahan otot dan penurunan kekuatan.

b. Sirkulasi
Tanda : Tekanan darah normal atau sedikit menurun. Denyut perifer kuat
dan cepat (fase demam) Kulit hangat, diuresis (diaphoresis ) karena
vasodilatasi. Pucat dan lembab (vaso kontriksi), hipovolemia,
penurunan aliran darah. Konjungtiva anemis dan capillary refill >2
detik.

c. Eliminasi
Gejela : Diare atau konstipasi; penurunan haluaran urine
Tanda : Distensi abdomen

d. Makanan dan cairan


Gejala : Anoreksia mual dan muntah
Tanda : Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan, dan Penurunan
masa otot. Penurunan haluaran urine, kosentrasi urine .

e. Neuro sensori
Gejala : Sakit kepala, pusing dan pingsan.
Tanda : Gelisah, ketakutan, kacau mental, disorientas deliriu atau koma.

f. Pernapasan
Tanda : Tackipnea dengan penurunan kedalaman pernapasan .
Gejala : Napas pendek pada istirahat dan aktivitas

g. Penyuluhan/ pembelajaran
Gejala : Masalah kesehatan kronis, misalnya hati, ginjal, keracunan alkohol,
riwayat splenektomi, baru saja menjalani operasi/prosedur invasif, luka
traumatik.

10
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermia b/d peningkatan metabolisme, dehidrasi, efek langsung sirkulasi
kuman pada hipotalamus.
2. Perubahan perfusi jaringan b/d anemia, penurunan komponen seluler yang
diperlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrien dalam tubuh.
3. Aktual/resiko tinggi gangguan elektrolit (hiponatremi, hipokalemi) b/d diuresis
osmotik, diaforesis
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake makanan yang tidak
adekuat, anoreksia, mual/muntah.
5. Resiko tinggi infeksi b/d penurunan sistem kekebalan tubuh
6. Nyeri dan ketidaknyamanan b/d resfon inflamasi sistemik, mialgia, artralgia,
diaforesis.
7. Kecemasan b/d kondisi sakit, prognosis penyakit malaria falciparum
8. Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan
b/d kurangnya pemajanan, kesalahan interprestasi informasi, keterbatasan
kognitif.

C. RENCANA KEPERAWATAN
Hipertermia b/d peningkatan metabolisme, dehidrasi, efek langsung sirkulasi
kuman pada hipotalamus.
Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam terjadi penurunan suhu tubuh
Kriteria Hasil :
1. Klien mampu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan yang di berikan
2. Klien mampu termotivasi untuk melaksanakan penjelasan yang telah di berikan
Intervensi Rasional
Evaluasi TTV pada setiap pergantian Sebagai pengawasan terhadap adanya
sif atau setiap ada keluhan dari klien perubahan keadaan umum klien sehingga dapat
di lakukan penanganan dan perawatan secara
cepat dan tepat
Kaji pengetahuan klien dan keluarga Sebagai data dasar untuk memberikan
tentang cara menurunkan suhu tubuh intervensi selanjutnya.
Lakuakan tirah bafring total Penurunan aktivitas akan menurunkan laju

11
metabolisme yang tinggi pada fase akut, dengan
demikian akan membantu menurunkan suhu
tubuh
Beri kompres dengan hangat pada Dapat membentu mengurangi demam,
daerah aksila, lipat paha dan penggunaan es/alkohol mungkin dapat
temporal bila terjadi panas menyebabkan kedinginan dan menggigil. Selain
itu, alkohol dapat mengeringkan kulit.
Anjurkan klien untuk memakai Pengeluaran suhu tubuh seecara evaporasii
pakaian yang menyerap keringat berkisar 22% dari pengeluaran suhu tubuh.
seperti katun. Pakaian yang mudah menyerap keringan sangat
efektif meningkatkan efek dari evaporasi.
Anjurkan keluarga untuk melakukan Masase di lakukan untuk meningkatkan aliran
masase pada ekstermitas. darah ke perifer dan terjadi vasodilatasi perifer
yang akan meningkatkan efek evaporasi.
Penggunaan cairan penghangat seperti minyak
kayu putih dapat digunakan untuk
meningkatkan efektivitas intervensi masase.
Kolaborasi dengan dokter dalam Antipiretik bertujuan untuk memblok respons
pemberian obat antipiretik. panas sehingga suhu tubuh klien dapat lebih
cepat menurun.
Perubahan perfusi jaringan b/d anemia, penurunan komponen seluler yang
diperlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrien dalam tubuh.
Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam terjadi penurunan tingkat kesadaran dan dapat
mempertahankan Cardiac Output secara adekuat guna meningklatkan perfusi jaringan.
Kriteria Hasil :
1. Klien tidak mengeluh pusing
2. TTV dalam batas normal, tidak terjadi sesak, mual dan muntahtanda diaforesis dan
pucat/sianosis hilang, akral hangat, kulit segar, produksi urine >30 ml/jam, respon
verbal baik, EKG Normal.
Intervensi Rasional
Kaji status mental klien secara Mengetahui derajat hipoksia pada otak.
teratur.

12
Pertahankan tirah baring bantu Menurunkan kerja miokard dan konsumsi
dengan aktivitas perawatan. oksigen, memaksimalkan efektivitas dari
perfusi jaringan.
Panatau terhadap kecendrungan Hipotensi akan berkembangbersamaan dengan
tekanan darah, mencatat kuman yang menyerang darah.
perkembangan hipotensi, dan
perubahan pada tekanan nadi.
Perhatikan kualitas dan kekuatan Pada awalnya nadi cepat dan kuat karena
dari denyut perifer. peningkatan curah jantung, nadi dapat lemah
atau lambat karena hipotensi yang terus
menerus, penurunan curah jantung dan
vasokontriksi perifer.
Observasi perubahan sensori dan Bukti aktual terhadap penurunan aliran darah
tingkat kesadran pasien yang ke jaringan serebral adalah adanya perubahan
menunjukkan penurunan perfusi otak respons sensori dan penurunan tingkat
(gelisah, Confuse/bingung, apatis, kesadaran pada fase akut. Adanya kegagalan
samnolen). harus di lakuakan monitoring yang ketat.
Kurangi aktivitas yang merangsang Respons valsava akan meningkatkan beban
timbulnya respons valsava / jantung sehingga akan menurunkan curah
aktivitas. jantung ke otak.
Catat adnya keluhan pusing Keluhan pusing merupakan manifestasi
penurunan suplai darah ke jaringan otak.
Kolaborasi dengan tenaga kesehatan Jalur yang paten penting untuk pemenuhan lisis
lain dalam pemberian transfusi darah darah sebagai intervensi kedaruratan.
PRC (packed red cells).
Aktual/resiko tinggi gangguan elektrolit (hiponatremi, hipokalemi) b/d diuresis
osmotik, diaforesis
Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam tidak terjadi hiponatremi atau kondisi hiponatremi
dan hipokalemi dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
1. Klien tidak gelisah, klien tidak mengeluh nyeri kepal, mual dan muntah, GCS : 4,
5, 6.

13
2. TTV dalam batas normal.
3. Klien tidak mengalami defisit neurologis.
Intervensi Rasional
Kaji faktor penyebab dari situasi Kehilangan natrium yang mengakibatkan
atau keadaan individu dan faktor- defletional hyponatremia dapat disebabkan oleh
faktor yang dapat menurunkan mekanisme ginjal dan nonginjal. Kehilangn
osmolalitas serum. garam melalui nonginjal terjadi pada
kehilangan volume cairan seperti pada muntah,
diare, atau diaforesis yang berlebihan.
Monitor temperatur dan pengaturan Panas merupakan refleks dari hipotalamus.
suhu lingkungan. Peningkatan kebutuhan metabolisme dan
oksigen akan menunjang peningkatan TIK/ICP
(Intracranial Pressure).
Bantu pasien untuk membatasi Aktivitas ini dapat meningkatkan tekanan
muntah dan batuk. Anjurkan pasien intrkarnial dan intraabdominal. Mengeluarkan
untuk mengeluarkan napas apbila nafas sewaktu bergerak atau mengubah posisi
bergerak atau berbalik di tempat dapat melindungi diri dari efek valsava.
tidur.
Perttahankan kepala/leher pada Perubahan kepala pada satu sisi dapat
posisi yang netral, usahakan dengan menimbulakan penekanan pada vena jugularis
sedikit bantal. Hindari penggunaan dan menghambat aliran darah otak sehingga
bantal yang tinggi pada kepala. dapat meningkatkan tekanan intrakarnial.
Bantu pasien jika batuk atau muntah. Aktivitas ini dapat meningkatkan intratoraks
atau tekanan dalam toraks dan tekanan pada
abdomen dimana aktivitas ini dapat
meningkatkan tekanan TIK.
Observasi tingkat kesadaran dengan Perubahan kesadaran menunjukkan
GCS. peningkatan TIK dan berguna menentukan
lokasi dan perkembangan penyakit.
Kolaborasi :
Pemberian oksigen sesuai indikasi Mengurangi hipoksemia, dimana dapat
meningkatkan vasodilatasi cerebral dan volume

14
darah dan menaikkan TIK.
Berikan cairan intrvena jenis NaCL Pemenuhan natrium secara intravena akan
meningkatkan kadar natrium ke sirkulasi otak
Berikan obat deuretik osmotic Diuretik mungkin digunakan pada fase akut
contohnya : mannitol, furoscide untuk mengalirkan air dari brain cells dan
mengurangi edema cerebral dan TIK.
Memonitor tanda-tanda vital tiap 4 Adanya perubahan TTV secara cepat dapat
jam. menjadi pencetus aritmia pada klien
hipokalemi.
Berikan diet sumber kalium Sumber-sumber kalium termasuk buah dan sari
buah, sayur-sayuran segardan beku,daging
segar,dan makanan olahan. Sementara itu
pisang, aprikot, jeruk, avokad, kacang-
kacangan, kismis, kentang merupakan
pengganti garam yang mengandung 50 sampai
60 mEq kalium.

Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d


ketidakadekuatan intake nutrisi sekunder dari nyeri, ketidaknyamanan lambung
dan intestinal
Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam klien akan mempertahankan kebutuhan nutrisi yang
adekuat.
Kriteria Hasil :
1. Membuat pilihan diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam situasi
individu,menunjukkan peningkatan BB.
Intervensi Rasional
Kaji pengetahuan klien tentang Tingkat pengetahuandipengaruhi olehkondisi
intake nutrisi sosial ekonomi klien. Perawat menggunakan
pendekatan yang sesuai dengan kondisi
individu klien. Dengan mengetahui tingkat
pengetahuan tersebut, perawat dapat lebih
terarah dalam memberikan pendidikan yang

15
sesuai dengan pengetahuan klien secara efesien
dab efedktif.
Kaji riwayat nutrisi termasuk Peran perawat dalam mengawasi masukan
makanan yang disukai. Observasi kalori atau kualitas kekurangan konsumsi
dan catat masukan makanan pasien. makanan.
Diskusikan yang disukai klien dan Dapat meningkatkan masukan, meningkatkan
masukan dalam diet murni. rasa berpartisipasi atau kontrol.
Observasi dan catat kejadian mual gejalaGI dapat menunjukkan efek anemia
atau muntah dan gejala lain yang (hipoksia) pada organ.
berhubungan.
Monitor perkembangan berat badan. Penimbangan berat badan dilakuakan sebagai
evaluasi terhadap intervensi yang di berikan.
Resiko tinggi infeksi b/d penurunan sistem kekebalan tubuh
Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam tidak terjadi infeksi berhubungan dengan penurunan
sistem kekebalan tubuh.
Kriteria Hasil :
1. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi dan peradanganm sistemik
2. Leukosit dalam batas normal
3. TTV dalam batas normal.
Intervensi Rasional
Pantau terhadap kecendrungan Demam yang di sebabkan oleh endoktoksin pada
peningkatan suhu tubuh. hipotalamus dan hipotermia adalah tanda-tanda
penting yang merefleksikan perkembangan
status syok/penurunan perfusi jaringan.
Amati adanya menggigil dan Menggigil sering kali mendahului
diaforesis memuncaknya suhu pada infeksi umum.
Observasi tanda-tanda Dapat menunjukkan ketidaktepatan terapi
penyimpangan kondisi/kegagalan antibiotik atau pertumbuhan dari organisme.
untuk memperbaiki selama masa
terapi.
Berikan obat anti malaria sesuai Dapat membasmi atau memberikan imunitas
petunjuk. sementara untuk infeksi umum.

16
Pantau pemeriksaan laboratoris. Identifikasi terhadap penyebab jenis infeksi
malaria.
Nyeri dan ketidaknyamanan b/d respons inflamasi sistemik, mialgia, artralgia,
diaforesis.
Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam terjadi penurunan keluhan nyeri dan
ketidaknyamanan.
Kriteria Hasil :
1. Secara objektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi
2. Skal nyeri 0-1 (0-4). Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau
menurunkan nyeri
3. Klien tidak gelisah
Intervensi Rasional
Jelaskan dan bantu klien dengan Pendekatan menggunakan relaksasi dan
tindakan pereda nyeri nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan
nonfarmakologi dan noninvasif. kesepakatan keefektifan dalam mengurangi
nyeri.
Lakukan manajmen nyeri
keperawatan.
Istirahatkan klien pada saat nyeri Istirahat secara fisikologis akan menurunkan
muncul kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk
memenuhi kebutuhan metabolisme basal.
Meningkatkan intake oksigen sehingga akan
Ajarkanteknik relaksasi pernapasan menurunkan nyeri sekunder dari iskemia spina.
dalam pada saat nyeri muncul Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus
Manajmen lingkungan nyeri eksternal dan batasan pengunjung akan
1. Lingkungan tenang membantu meningkatkan kondisi oksigen
2. Batasi pengunjung ruangan yang akan berkurang apabila banyak
3. Istirahatkan klien pengunjung yang berada di ruangan. Istirahat
akan menurunkan kebutuhan oksigen jaringan
perifer.
Tingkatkan pengetahuan tentang Pengetahuan mengenai hal yang akan di rasakan
sebab-sebab nyeri dan membantu mengurangi nyerinya dan dapat

17
menghubungkan berapa lama nyeri membantu mengembangkan kepatuhan klien
akan berlangsung. terhadap rencana terapeutik.
Kecemasan b/d kondisi sakit,prognosis penyakit malaria falcifarum
Tujuan : secara objektif melaporkan rasa cemas berkurang
Kriteria Hasil :
1. Klien mampu mengungkapkan perasaannya kepada perawat.
2. Klien dapat mendemonstrasikan keterampilan pemecahan masalahnya koping dan
perubahan koping yang digunakan sesuai situasi yang dihadapi.
3. Klien dapat mencatat penurunan kecemasan/ketakutan di bawah standar.
4. Klien dapat rileks dan tidur/istirahat dengan baik.
Intervensi Rasional
Monitor respon fisik, seperti Digunakan dalam mengevaluasi derajat/tingkat
kelemahan, perubahan tanda vital, kesadaran/konsentrasi, khususnya ketika
dan gerakan yang berulang-ulang. melakukan komunikasi verbal.
Catat kesesuaian respons verbal dan
nonverbal selama komunikasi.
Anjurkan klien dan keluarga untuk Kesempatan diberikan pada klien untuk
mengungkapkan dan mengekspresikan rasa takutdan kekhawatiran
mengekspresikan rasa takutnya. tentang akan merasa malu akibat kurang kontrol
terhadap eliminasi usus. Ketakutan akan rasa
malu ini sering menjadi masalah utama.
Catat redaksi dari klien atau Anggota keluarga dengan responnya padaa apa
keluarga. berikan kesempatan untuk yang terjadi dan kecemasannya dapat
mendiskusikan perasaannya atau disampaikan kepada perawat.
konsentrasinya dan harapan
masadepan.
Anjurkan aktivitas pengalihan Meningkatkan distraksi dari pikiran klien
perhatian sesuai kemampuan dengan kondisi sakit.
individu, seperti nonton TV.
Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognesis dan kebutuhan pengobatan
b/d kurangnya pemajanan, kesalahan interprestasi informasi, keterbatasan
kognitif.

18
Tujuan : Dalam waktu 1 x 24 jam klien mampu melaksanakan apa yang telah di
informasikan.
Kriteria Hasil :
1. Klien mampu mengulang kembali informasi penting yang di berikan.
2. Klien terlihat termotivasi terhadap informasi yang di jelaskan.
Intervensi Rasional
Kaji kemampuan klien untuk Keberhasilan proses pembelajaran di pengaruhi
mengikuti pembelajaran (tingkat oleh kesiapan fisik, emosional dan lingkungan
kecemasan, kelelahan umum, yang kondusif.
pengetahuan klien sebelumnya dan
suasana yang tepat).
Tinjau proses penyakit dan harapan Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien
masa depan. membuat pilihan.
Berikan informasi mengenai terapi Meningkatkan pemahaman dan kerjasama dalam
obat-obatan, interaksi obat, efek penyembuhan serta mengurangi kambuhnya
samping, dan ketaatan terhadap komplikasi
program.
Diskusikan kebutuhan untuk Perlu untuk penyembuhan optimal dan
pemasukan nutrisional yang tepat kesejahteraan umum.
dan seimbang
Dorong periode istirahat dan Mencegah pemenatan, penghematan energi dan
aktivitas yang terjadwal meningkatkan penyembuhan.
Tinjau perlunya kesehatan pribadi Membantu mengontrol pemajanan lingkungan
dan kebersihan lingkungan dengan mengurangi jumlah penyebab penyakit
yang ada.
Tekankan pentingnya terapi Penggunaan terhadap pencegahan
antibiotik sesuai kebutuhan . terhadapinfeksi.

19
DAFTAR PUSTAKA

Arif Muttaqin. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Gangguan Gastrointestinal. Aplikasi
Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Salemba Medika.

Hariyanto. 2000. MALARIA . Jakarta : EGC

Prof. Dr. Putu Sutisna, DTMH. 2004. MALARIA SECARA RINGKAS. Jakarta: EGC

Joanne C. Mc Closkey dan Gloria M. Buleckek. 1996. NIC. Mosby.

Guyton and Hal. 1997. FISIOLOGI KEDOKTERAN. Jakarta : EGC.

Marion Johnson, Phd, Rn, dkk. 1997. NOC. Mosby

Budi Santoso. 2005. NANDA. Prima Medika

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta: EGC

Doenges, Marilynn E dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC

20
LEMBARAN PENGESAHAN

Mengetahui,
Ci Akademik CI Klinik

NIP: NIP:

21
RESUME GADAR DI RUANG IGD
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA ABEPURA

A. PENGKAJIAN
Tanggal MRS : 28-08-2017
Tanggal Pengkajian : 28-08-2017
No. RM : 08. 12. 29
Ruangan/Bangsal : IGD Bhayangkara
Diagnosa Medis : Malaria Tersiana +1

1. Biodata
a. Identitas Klien
Nama : Tn. E
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Umur : 29 Thn

22
Alamat : Jl. Comba Sentani
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
Status Perkawinan : Belum Menikah

b. Penanggung Jawab

Nama : Tn. N. K. W
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Umur : 24 Thn
Alamat : Jl. Comba Sentani
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Pendidikan : SMA
Pekerjaaan : Swasta
Status Perkawinan : Belum Menikah
Hub. Dengan Klien : Teman
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
a. Keluhan Utama
Demam 2 hari Sebelum MRS
b. Riwayat Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan demam 2 hari, pusing, badan-badan terasa sakit,
mual dan muntah 1x tiap makan dan minum, nafsu makan menurun dan lidah
terasa pahit.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah terjangkit malaria dan di rawat inap, tidak ada riwayat DM, HT,
Kolesterol.
4. Riwayat Alergi
Pasien tidak ada alergi obat-obatan.

B. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum : Sedang

23
2. Tinggi Badan : 135 cm
3. Berat Badan : 50 kg

4. B1 (Pernapasan)
a. Respirasi : 20 x/menit
b. Suara Napas : Normal
c. Sesak Napas : Tidak ada
d. Batuk : Tidak ada
e. Pernapasan Cuping Hidung : Tidak ada
f. Penggunaan otot bantu pernapasan : Tidak ada
g. SpO2 : 95 %

5. B2 (Bleeding/Kardiovaskuler)
a. TD : 110/70 mmHg
b. N : 100 x/menit
c. Suara Jantung : Normal (vesikuler)
d. Edema : Tidak ada
e. CRT : <3 detik
f. Akral : Hangat

6. B3 ( Brain/Persyarafan)
a. Kesadaran : E=4 V=5 M=6 dengan GCS=15, Compos Mentis
b. Persepsi Sensori
Pendengaran : Baik
Penciuman : Baik
Pengecapan : Kurang baik (rasa pahit)
Penglihatan : Baik
Perabaan : Baik

7. B4 (Bladder)
a. Produksi Urine : 1000 cc
b. Warna : Teh
c. Bau : Tidak dikaji

8. B5 (Eliminasi Bowel/Pencernaan)
a. Mulut : Bersih

24
b. Mukosa : Kering
c. Tenggorokan : Sakit
d. Nafsu makan : Menurun
e. BAB : Baik
f. Abdomen : Normal dan tidak ada nyeri tekan

9. B6 (Bone/Tulang dan Integument)


a. SB : 37,5C
b. Pergerakan Sendi : Baik
c. Ekstremitas atas dan bawah : Baik
d. Turgor kulit : Baik
e. Akral : Hangat

C. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
PEMERIKSAAN HASIL
Hemoglobin 14.9
Jumlah Leukosit 12.300
Hematokrit 45
Trombosit 150.000
Jumlah Eritrosit 5.4
Malaria/ DDR PV (+)
WBC 12.3
Lymph# 1.5
Mid# 0.8
Gran# 10.0
Lymph% 12.4
Mid% 6.9
Gran% 80.7
RBC 5.40
HCT 45.2
MCV 83.3

25
MCH 27.5
MCHC 32.9
RDW-CV 13.4
RDW-SD 43.7
PLT 150
MPV 9.0
PDW 16.2
PCT 0.135

D. THERAPY
NO NAMA OBAT DOSIS PEMBERIAN
1 IVFD RL 20 Tpm IV
2 Ranitidin 2 x 50 mg IV
3 Ondan centron 3 x 4 mg IV
4 Sanmol drip bila SB: 38,5C 3x1 IV
5 DHP 1 x 3 Tab selama 3 hari Oral
6 Primakuin 1 x 1 Tab selama 14 hari Oral

E. DAR
N DATA WAKTU ACTION RESPON
O
1 DS : Pasien Mengatakan 18.20 Mengukur TTV Tgl : 28-08-2017
Demam 2 hari TD : 110/80 mmHg Jam : 21.00
N : 99 x/menit
Pusing
R : 20 x/menit S: Pasien mengatakan
Badan-badan terasa SB : 37.5 C Pusing mulai
sakit SpO2 : 96 % berkurang
Demam sdah
Mual dan muntah 1x
18.55 Memasang infus menurun
tiap makan dan minum IVFD RL 20 Tpm Masih mual dan
Nafsu makan menurun muntah
19.05 Pemberian terapi Tenggorokan masih
dan lidah terasa pahit. sakit
Inj Ranitidin 50 mg
DO : Pasien Tampak Inj Ondancentron 4
mg O: Pasien tampak
KU : Sedang : Sedang Masih mual dan
19.35
Kesadaran : CM Pemeriksaan Lab muntah
Akral masih hangat
Observasi TTV Cek DL dan DDR
Observasi TTV
20.10

26
TD : 110/70 mmHg Observasi TTV TD : 120/90 mmHg
N : 100 x/menit TD : 110/90 mmHg N : 97 x/menit
N : 98 x/menit R : 20 x/menit
R : 20 x/menit R : 20 x/menit SB : 36.5 C
SB : 37,5 C SB : 36.9 C
SpO2: 95 % 20.40 A: Masalah belum
Observasi TTV teratasi
Akral : Hangat
TD : 120/90 mmHg
Mukosa : Kering N : 97 x/menit P: Intervensi
Tenggorokan : Sakit R : 20 x/menit dilanjutkan
SB : 36.5 C 1. Mengukur TTV
Nafsu makan : Menurun 2. Pemberian terapi
Malaria/DDR : PV (+) medis
Inj Ranitidin
50 mg
Diagnosa : Gangguan
Inj Ondan
kebutuhan nutrisi kurang dari centron 4 mg
kebutuhan tubuh
berhubungan dengan infeksi Pasien di pindahkan
di ruang rawat inap
plasmodium falcifarum. mambruk 8

LEMBARAN PENGESAHAN

Mengetahui,
Ci Akademik CI Klinik

NIP: NIP:

27
28