You are on page 1of 5

JAMAN PENCERAHAN (AUFKLARUNG)

(Pokok Bahasan XI )

PENCERAHAN

(Aufklärung, Jerman; Enlightenment, Inggris; eclaircissement, Prancis) berlangsung selama abad


ke-17 dan ke-18.

Pada abad ini terjadi dua peristiwa penting, yaitu: The Glorious Revolution di Inggris tahun 1688
dan Revolusi Prancis tahun 1789.

sapare aude !
“beranilah berpikir sendiri”

Semboyan di atas menandai dimulainya jaman pencerahan. Immanuel Kant (1724-1804)


menegaskan bahwa “pencerahan” merupakan sikap pembebasan manusia dari ke-tidak-dewasa-an
(unmündigkeit) akibat kesalahannya sendiri.

Kesalahan itu terletak dalam keengganan atau ketidak-inginan manusia untuk memamfaatkan
rasionya; orang lebih suka berpaut pada otoritas lain di luar dirinya (wahyu ilahi, nasihat para ahli,
otoritas agama, atau negara).

Keyakinan pencerahan akan masa depan yang cerah mendapat dukungan kuat dari ilmu
pengetahuan yang berkembang pesat kala itu, terutama ilmu pengetahuan alam dan teknik.
Misalnya di Inggris, muncullah Isaac Newton (1643-1727) dengan hukum gravitasinya yang tidak
mengijinkan segala macam spekulasi atau hipotesis atas fenomena dunia, melainkan menjamin
kepastian. Hypotheses non fingo.

Di kalangan penyair, Newton dipuja sebagai pembawa terang: Nature and nature’s laws lay hid in
night. God said, “Let Newton be!” and all was light. (Pada awalnya alam dan hukumnya
tersembunyi dalam kegelapan malam. Allah berfirman “Jadilah Newton !”, maka segala sesuatunya
menjadi terang).

PENCERAHAN DI TIGA KAWASAN PENTING

1. Inggris

Dalam wilayah sosial-politik, dihasilkanlah naskah-naskah penting yang menjamin kebebasan


warga, mislahnya Habeas Corpus (1679) yang menetapkan bahwa seorang tahanan harus
dihadapkan kepada seorang hakim dalam waktu tiga hari dan diberi tahun atas tuduhan apa ia
ditahan. Hal ini menjadi dasar prinsip hukum bahwa seseorang hanya boleh ditahan atas perintah
hakim.

Dalam ranah lainnya, Undang-undang Pers tahun 1693 menjamin kebebasan berpendapat bagi
segenap warga. Ini berarti bahwa setiap orang memiliki hak untuk mengajukan kritik terhadap
otoritas gereja atau negara tanpa perlu merasa takut. John Locke (1632-1704) mendesak agar dalam
pemerintahan perlu ada pembagian kekuasaan dan memberikan jaminan atas hak kelompok
minoritas mengadakan oposisi.

2. Prancis
Pencerahan di Prancis berlangsung secara liberal dan radikal –dengan sentimen anti-Gereja.
Voltaire (1694-1778) menyerukan pemusnahan gereja “Ecrasez l’infâme !” (luluh lantakkan yang
buruk). Contoh lainnya, adalah pendirian patung Dewi Rasio di dalam katedral Notre Dame, tahun
1793.

Puncaknya adalah manakala Prancis mencapai Revolusi Prancis yang diawali dengan penyerbuan
penjara Bastille, tempat para tahanan politik dikurung, tanggal 14 Juli 1789.

3. Jerman

Pencerahan di Jerman lebih fokus pada persoalan moral dan upaya untuk menemukan hubungan
antara rasio dan agama.

Gotthold Ephrain Lessing (1729-1781) dalam bukunya Pendidikan Bangsa Manusia melihat bahwa
dengan dorongan semangat Pencerahan kelak akan tiba suatu jaman ketika kebenaran-kebenaran
wahyu Allah dalam kitab suci akan digantikan dengan kebenaran-kebenaran berdasarkan akal budi,
suatu jaman ketika orang “melakukan yang baik, karena hal itu adalah sesuatu yang baik, bukan
karena adanya semacam ganjaran yang datang daripadanya”

Suatu ‘otonomi manusia’ menjadi proyek besar di sini. Suatu otonomi dalam berpikir dan
menentukan tindakannya sesuai dengan prinsip-prinsip yang ia yakini sebagai sesuatu yang baik,
benar, dan tahan uji.

Hal ini pulalah yang kita dapati dalam filsafatnya Kant. Bagi Kant, sudah tiba saatnya untuk
menyatakan bahwa akal budi manusia adalah ukuran dan prinsip untuk segala-galanya; untuk apa
saja yang ia ketahui (segi epistemologi), untuk apa saja yang ia perbuat (segi moral), dan untuk apa
saja yang ia harapkan (segi teleologis).
Pandangan Kant di atas, mengarah pada ‘subjektivitas’ manusia. Berkat rasionya, sang ‘Aku’
menjadi pusat pemikiran, pusat pengetahuan, pusat perasaan, pusat kehendak, dan pusat tindakan
sehingga manusia bukan lagi sebagai viator mundi (peziarah di dunia), melainkan sebagai faber
mundi (pembuat dunia).

PARA FILOSOF JAMAN PENCERAHAN

Terdapat dua aliran filsafat yang saling bertentangan pada jaman ini, yaitu rasionalisme dan
empirisme.

RASIONALISME

(Khususnya di Prancis dan Jerman) adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa sumber
pengetahuan sejati adalah akal budi atau rasio, bukan pengalaman. Pengalaman hanya dapat dipakai
untuk menegaskan pengetahuan yang telah didapatkan dari rasio. Rasio sendiri tidak memerlukan
pengalaman; ia dapat menurunkan kebenaran-kebenaran dari dirinya sendiri berdasarkan asas-asas
yang pasti. Metode kerjanya bersifat deduktif. Contohnya Matematika.

PARA FILSUF RASIONALISME

Para filsuf Rasionalisme sepakat bahwa rasio manusia mampu mengenal dan menjelaskan seluruh
realitas berdasarkan asas atau prinsip pertama. Hanya mereka tidak sepakat mengenai jumlahnya.
Menurut Descartes, prinsip pertama itu memiliki dua (atau lebih tepat tiga) substansi. Adapun
Spinoza mengatakan hanya ada satu substansi. Sementara Leibniz mengatakan ada banyak substansi
yang disebutnya sebagai monade.
Descartes: “Cogito, ergo sum”

Rene Descartes (Nama Latinnya, Renatus Cartesius, 1596-1650) dijuluki Bapak Filsafat Modern.

Filsafat Descartes berawal dari satu pertanyaan: Apakah ada metode yang pasti sebagai dasar untuk
melakukan refleksi filosofis? Untuk menjawabnya, Descartes melakukan apa yang kemudian
dinamakan sebagai sikap keragu-raguan radikal. Ia menganggap bahwa segala sesuatu yang ada
hanyalah tipuan, dan tidak ingin menerima apapun sebagai ssesuatu yang benar, jika kita tidak
memahaminya secara jelas dan terpisah. Hanya yang bisa dipahami dengan jelas dan terpisah itulah
yang menjadi norma untuk menentukan kepastian dan kebenaran.

Namun, jika segala sesuatu diragukan keberadaannya, ada satu hal yang sama sekali tidak bisa
diragukan lagi sehingga harus diterima secara mutlak, yakni kenyataan bahwa Aku yang sedang
meragukan segala sesuatu ini ada! Orang bisa menyangkal segala sesuatu, namun ia tidak bisa
menyangkal keberadaan dirinya sendiri. “Saat aku mencermati dan berpikir bahwa segala sesuatu
adalah salah…, pada saat itu aku menyadari kebenaran ini:
“Aku berpikir, maka aku ada”. Kebenaran ini tampak sangat jelas dan pasti, sehingga anggapan
kaum Skeptis tida bisa mengguncangkannya. Sehingga aku merasa yakin aku bisa menerima
kebenaran ini sebagai prinsip pertama filsafat yang tengah aku cari ”
Ungkapan Descartes mengisyaratkan satu hal bahwa pemikiran atau kesadaran tidak bisa
dipisahkan dari diri seseorang. Hakikat manusia adalah pemikiran (res cogitans)
“Benar, aku hanyalah makhluk yang berpikir … Makhluk yang bisa meragukan, mengamati,
membenarkan, menolak, menginginkan, tidak menginginkan, berimajinasi, dan merasakan”
Bagi Descartes, kesadaran diri seseorang harus diterima sebagai kebenaran karena saya
memahaminya dengan jelas dan terpisah. Dan inilah kerangka-bangun filsafat Descartes.

Berkat kesadaran diri yang diperoleh dari refleksi atas keraguan radikal, Deskartes membangun
suatu jalan kepastian intuitif yaitu dengan cara dua langkah:

1. Arah “ke dalam” atau pada kesadaran individu bersangkutan.

Menurut Descartes, karena segala sesuatu dari luar tidak bisa dipercaya, manusia perlu mencari
kebenaran dalam dirinya sendiri, sambil menggunakan kriteria di atas (jelas dan terpisah). Sebagai
hasilnya, Descartes menemukan bahwa dalam diri manusia ada tiga hal yang disebutnya “ide-ide
bawaan” (Ideae innatae).
a. Ide pemikiran (cogitatio)
b. Ide Allah (deus)
c. Ide keluasan (extentio)

2. Arah “ke luar”.

Dari adanya kesadaran diri (cogito), Descartes berusaha memahami realitas alam-dunia. Seperti
halnya para pemikir Yunani dan Skolastik, Descartes juga sampai pada kesimpulan bahwa apa yang
ada merupakan suatu substansi, yakni “ada” yang berdiri sendiri. Menurut Descartes, selain (1)
Allah, masih ada dua substansi lain, yakni (2) jiwa yang dalam hal ini adalah pemikiran, (3) materi
atau keluasaan. Namun, karena Descartes meragukan keberadaan segala sesuatu, maka ia kesulitan
untuk menerima adanya suatu realitas lain di luar kesadaran, yakni realitas alam-dunia material
yang mempunyai kejelasan dan keterpisahan tersendiri. Saat menghadapi hal ini, Descartes
menemukan jalan keluarnya pada Allah sebagai penyebab pandangan kesempurnaan.

Bagi Descartes, Allah sebagai wujud sempurna tidak mungkin menipu. Disinilah, Descartes
menjadikan Allah sebagai penjamin kepastian pengetahuan kita mengenai realitas material-empiris
atau alam dunia.
Proses pengetahuan di awali dari “Aku” melalui Allah menuju dunia. Dilihat dari sisi objek-
materialnya (dunia), Allah adalah yang pertama, segala sesuatu berdasar kepada-Nya. Namun,
dilihat dari sudut proses pengetahuan, kesadaran manusialah yang pertama.

Tugas filsafat adalah:


“Mendapatkan pandangan yang menjadikan hidup ini bisa menghasilkan buah bukan mengusahakan
pegetahuan yang bersifat teoritis (Skolastik), filsafat harus mengusahakan pengetahuan praktis yang
memungkinkan kita mengenali daya dan kekuatan dari api, air, udara, bintang, dan segala sesuatu di
sekitar kita –seperti halnya pekerjaan yang dijalani oleh para pengrajin. Dengan demikian, filsafat
haruslah mampu memanfaatkan daya dan kekuatan dari semua unsur tersebut untuk segala macam
keperluan praktis manusia sehingga menjadikan kita sebagai tuan dan pemilik alam ini”
EMPIRISME

Adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa pengalaman (empeiria, Yunani) merupakan sumber
utama pengetahuan, baik pengalaman lahiriah ataupun pengalaman batiniah. Rasio bukan sumber
pengetahuan, tetapi ia bertugas untuk mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman untuk
dijadikan pengetahuan. Metodenya bersifat induktif. Contohnya Ilmu Pengetahuan Alam.

PARA FILSUF EMPIRISME

Rasionalisme dianut oleh para filsuf di wilayah Eropa, sedangkan Empirisme berasal dari Inggris.
Empirisme dirintis oleh Francis Bacon yang menekankan metode empiris-eksperimental dalam
menyelidiki apa yang bisa diketahui manusia. Setelah Bacon, Hobbes mendasarkan filsafat
politiknya pada penelitian empiris atau motivasi-motivasi manusia yang dibandingkannya dengan
sebuah arloji. Locke membangun epistemologinya dengan didasarkan pada anggapan bahwa semua
pengetahuan manusia berasal dari pengalaman indrawi.

Locke: “Anggap saja, pikiran itu … seperti selembar kertas putih”

John Locke (1632-1704), lahir di Wrington dekat Briston. Persahabannya dengan Robert Boyle,
seorang ahli kimia Inggris, membangkitkan minatnya pada pendekatan empiris. Sejak tahun 1691,
Locke yang menderita penyakit asma akut ini, hidup di pedesaan hingga wafatnya pada tahun 1702.
Pada batu nisannya terdapat kata-kata yang ditulis oleh Locke sendiri saat masih hidup:
“Wahai para pejalan kaki, berhentilah sejenak ! Di sini terbaring John Locke. Kalau Anda bertanya,
orang seperti apa dia, ia akan menjawab: seorang yang hidupnya puas dengan hal-hal sederhana, ia
memang dibesarkan oleh ilmu pengetahuan, namun apa yang telah dijalankan seluruh hidupnya
adalah pengabdian pada kebenaran. Pelajarilah ini dari tulisannya-tulisannya !”
Tentang Pengetahuan

Dari manakah sumber pengetahuan yang bisa dipercaya? Dari mana pengetahuan itu berasal? Locke
menjawabnya, “Pengalaman. Semua pengetahuan kita berdasarkan pengalaman; dan dari
pengalaman inilah pengetahuan itu berasal.

Sebelum mengalami sesuatu, pikiran atau rasio kita seperti tabula rasa atau kertas kosong. Baru
kemudian kertas itu mendapat isinya dari pengalaman.

Ada dua macam pengalaman yang bisa dibedakan, yaitu ;


1. “Pengalaman lahiriyah” (sense atau external sensation) atau pengalaman indrawi, yang
berhubungan dengan realitas material yang ditangkap dengan pancaindra kita, dan
2. “Pengalaman batiniah” (internal sense atau reflection) yang terjadi apabila kesadaran melihat
aktivitasnya sendiri dengan cara “mengingat”, “menghendaki”, “meyakini”, dan sebagainya.
Dari dua macam pengalaman ini diperoleh “pandangan-pandangan sederhana” (simple ideas), yakni
isi kesadaran yang berfungsi sebagai data-data empiris. Pandangan ssederhana ini masih bisa
dibedakan menjadi empat jenis, yaitu pandangan yang:
1. Diterima hanya oleh satu indera kita, misalnya warna diterima oleh indera mata, bunyi diterima
oleh indra telinga;
2. Diterima melalui beberapa indra, misalnya ruang dan gerak;
3. Dihasilkan berkat refleksi kesadaran, misalnya kenangan atau memori;
4. Yang menyertai saat-saat terjadinya proses penerimaan atau refleksi, misalnya rasa tertarik,
minat, dan waktu.
5. Dalam menerima pandangan ini, pemikiran atau rasio sama sekali pasif. Baru kemudian, setelah
pandangan sederhana ini tersedia, rasio bekerja membentuk “Pandangan Kompleks” (Complex
Ideas) dengan cara membandingkan, mengabstraksi, dan menghubungkan pandangan-pandangan
sederhana tersebut.

Dalam hal ini ada tiga jenis pandangan kompleks yang bisa dibedakan, yaitu:
1. Substansi atau sesuatu yang berdiri sendiri, misalnya manusia atau tumbuhan;
2. Modi atau pandangan kompleks yang keberadannya bergantung kepada substansi, misalnya siang
adalah modus dari hari;
3. Hubungan sebab-akibat, misalnya pandangan kausalitas dalam pernyataan: “air mendidih karena
dipanaskan dengan api hingga 100 celsius”.
4. Kalau “Pandangan Sederhana” berasal secara langsung dari pengalaman indrawi, maka
“Pandangan Kompleks” tidak bisa diamati secara langsung, tetapi diketahui melalui kombinasi-
kombinasi dari berbagai pandangan tunggal.
5. Demikianlah, Locke merasa yakin telah dapat menjelaskan terjadinya pengetahuan manusia.[]