You are on page 1of 34

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Desa Enu terletak di Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala Provinsi
Sulawesi Tengah yang secara geografis desa Enu terletak pada 00˚31’
54,3”BT dan 119˚46’ 36“LS. Kejadian longsor terjadi hampir setiap tahun di
Desa Enu. Melihat dari litologi Desa Enu terdiri atas aluvium dan endapan
pantai dengan material penyusun kerikil, pasir, lumpur, dan batu gamping
koral, di samping itu batuan yang terdapat di Desa Enu merupakan batuan
kerakal dan bongkah yang berada di lereng tebing sehingga mudah bergerak
atau menggelinding. Oleh karena itu, daerah tersebut dipilih sebagai lokasi
penelitian untuk mengetahui kedalaman lapisan batuan lapuk yang berada di
bawah permukaan tanah/batuan. Kemiringan lereng yang besarnya lebih dari
20 % yang diduga menyebabkan longsoran dari material yang berada pada
daerah tersebut.
Bencana longsor menimbulkan banyak kerugian terutama kemacetan lalu
lintas, bagi pengguna jalan daerah setempat maupun dari daerah lain yang
akan melewati jalan tersebut. Selain itu juga, bencana longsor dapat
menimbulkan dampak negatif jangka panjang seperti hilangnya lapisan tanah
(top soil) yang subur sehingga produktivitas tanah menurun. Faktor yang
menyebabkan gerakan tanah (tanah longsor) adalah topografi kemiringan
lereng, keadaan tanah (tekstur, struktur lapisan), curah hujan, gempa bumi
dan keadaan vegetasi hutan (Wuryata, 2004).
Penyelidikan tanah longsor ini dilakukan dengan menggunakan
menggunakan metode Geolistrik konfigurasi Wenner. Pemilihan metode
geolistrik ini didasarkan karena penggunaan geolistrik yang tidak terlalu
rumit dan cara pengolahan data yang mudah. Metode ini diharapkan dapat
digunakan unntuk menentukan bidang gelincir di desa Enu Kecamatan Sindue
Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah.

1

1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi bawah permukaan desa Enu.
2. Bagaimana keadaan bidang gelincir desa Enu.

1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui kondisi bawah permukaan desa Enu.
2. Menentukan bidang gelincir desa Enu.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Pemerintah

1. Memberikan informasi tentang kondisi bawah permukaan yang
meliputi kondisi bidang gelincir/ faktor yang menyebabkan
longsor pada daerah Enu Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala
Provinsi Sulawesi Tengah sehingga dapat dilakukan mitigasi
bencana.

1.4.2 Bagi Masyarakat

1. Memberikan informasi kepada masarakat Desa Enu Kecamatan
Sindue Kabupaten Donggala Propinsi Sulawesi Tengah tentang
kondisi lingkungan Desa Enu Kecamatan Sindue Kabupaten
Donggala Provinsi Sulawesi Tengah desa yang meliputi bencana
tanah longsor.

1.5 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah pada penelitian ini adalah :
1. Pengukuran dilakukan menggunakan geolistrik geolistrik.
2. Metode yang di gunakan yaitu metode geolistrik resistivitas
konfigurasi Wenner.

2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sifat Kelistrikan Batuan

a. Konduksi secara elektronik.

Konduksi ini terjadi jika batuan atau mineral mempunyai banyak
elektron bebas sehingga arus listrik di alirkan dalam batuan atau mineral oleh
elektron-elektron bebas tersebut. Aliran listrik ini juga di pengaruhi oleh sifat
atau karakteristik masing-masing batuan yang di lewatinya.Salah satu sifat
atau karakteristik batuan tersebut adalah resistivitas (tahanan jenis) yang
menunjukkan kemampuan bahan tersebut untuk menghantarkan arus listrik.
Semakin besar nilai resistivitas suatu bahan maka semakin sulit bahan tersebut
menghantarkan arus listrik, begitu pula sebaliknya. Resistivitas memiliki
pengertian yang berbeda dengan resistansi (hambatan), dimana resistansi tidak
hanya bergantung pada bahan tetapi juga bergantung pada faktor geometri
atau bentuk bahan tersebut, sedangkan resistivitas tidak bergantung pada
faktor geometri. Jika di tinjau suatu silinder dengan panjang L, luas
penampang A, dan resistansi R, maka dapat di rumuskan:

L

3

Sedangkan menurut hukum Ohm. 4 . resistivitas R dirumuskan : 𝑉 𝑅= 𝐼 Sehingga didapatkan nilai resistivitas (ρ) 𝐿𝑉 ρ= 𝐴𝐼 Namun banyak orang lebih sering menggunakan sifat konduktivitas (σ) batuan yang merupakan kebalikan dari resistivitas (ρ) dengan satuan mhos/m. 𝐿 R=ρ 𝐴 Dimana : R = Resistansi ρ = Resistivitas L = Panjang A = Luas Di mana secara fisis rumus tersebut dapat di artikan jika panjang silinder konduktor (L) dinaikkan. Di mana ρ adalah resistivitas (tahanan jenis) dalam Ωm. 1 𝐼𝐿 𝐼 𝐿 𝐽 σ= = = ( )( ) = ( ) ρ 𝑉𝐴 𝐴 𝑉 𝐸 Di mana J adalah rapat arus (ampere/m 2 ) dan E adalah medan listrik (volt/m). maka resistansi akan meningkat. dan apabila diameter silinder konduktor diturunkan yang berarti luas penampang (A) berkurang maka resistansi juga meningkat.

Namun pada kenyataannya batuan biasanya bersifat porus dan memiliki pori-pori yang terisi oleh fluida. Akibatnya batuan-batuan tersebut menjadi konduktor elektrolitik. Konduksi secara dielektrik. schlumberger menyarankan n = 2. Sebagian besar batuan merupakan konduktor yang buruk dan memiliki resistivitas yang sangat tinggi. contoh : mika. Konduktivitas dan resistivitas batuan porus bergantung pada volume dan susunan pori-porinya. Sedangkan a. Konduksi secara elektrolitik. terutama air. c.b. sehingga terjadi poliarisasi. bahkan tidak sama sekali. dan n adalah konstanta. φ adalah porositas. m disebut juga faktor sementasi. Elektron dalam batuan berpindah dan berkumpul terpisah dalam inti karena adanya pengaruh medan listrik di luar. Menurut rumus Archie: ρ e = ∂ ϕ-m S-n ρw di mana ρe adalah resistivitas batuan. Untuk nilai n yang sama. dan sebaliknya resistivitas akan semakin besar jika kandungan air dalam batuan berkurang. S adalah fraksi pori-pori yang berisi air. artinya batuan atau mineral tersebut mempunyai elektron bebas sedikit. Konduktivitas akan semakin besar jika kandungan air dalam batuan bertambah banyak. m. Peristiwa ini tergantung pada konduksi dielektrik batuan yang bersangkutan. Konduksi ini terjadi jika batuan atau mineral bersifat dielektrik terhadap aliran arus listrik. di mana konduksi arus listrik dibawa oleh ion-ion elektrolitik dalam air. 5 . dan ρw adalah resistivitas air.

Resistivitas batuan adalah fungsi dari konfigurasi elektroda dan parameter-parameter listrik batuan. aspek akuisisi data otomatis + pemodelan data (inversi).2. Prinsip kerja metode ini adalah dengan menginjeksikan arus ke bawah permukaan bumi sehingga diperoleh beda potensial. efek polarisasi dan menghindarkan pengaruh kapasitansi tanah yaitu kecenderungan tanah untuk menyimpan muatan maka biasanya digunakan arus bolak balik yang berfrekuensi rendah. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan keempat elektroda yang disusun sebaris. salah satu dari dua buah elektroda yang berbeda muatan digunakan untuk mengalirkan arus ke dalam tanah. yang kemudian akan didapat informasi mengenai tahanan jenis batuan. konsepnya antara lain. Arus yang dialirkan didalam tanah dapat berupa arus searah (DC) atau arus bolak-balik (AC) berfrekuensi rendah. Konfigurasi wenner Jenis konfigurasi Wenner termasuk resistivitas sounding. pengukuran untuk memperoleh informasi mengenai variasi resistivitas secara 2-D atau 3-D b. Dari pengukuran dapat diperoleh nilai resistivitas semua dengan melakukan perhitungan menggunakan persamaan: ∆𝑉 ρα = k 𝑙 6 .dan dua elektroda lainnya digunakan untuk mengukur tegangan yang ditimbulkan oleh aliran arus tadi. Untuk menghindari potensial spontan.2 Konfigurasi Geoolistrik Metode resistivitas pada dasarnya adalah pengukuran harga resistifitas (tahanan jenis) batuan. a. resistivity-mapping dg variasi spasi elektroda cukup banyak (n >>) c. Pengukuran menggunakan konfigurasi elektroda Wenner dilakukan dengan memindahkan masing-masing elektroda sesuai dengan aturan konfigurasi yang digunakan. sehingga resistivitas bawah permukaan dapat diketahui.: a.

kedua elektroda arus diletakkan di luar elektroda potensial. Gambar 2. untuk konfigurasi Wenner dihitung dengan persamaan: k = 2πα k sedangkan untuk faktor geometri konfigurasi Schlumberger dihitung dengan persamaan: [ 𝐿2 − 𝑙 2 ] k=π 2𝑙 Pada konfigurasi elektroda Wenner. 2012).1 Tabel referensi nilai resistivitas batuan 7 . Jarak antar elektroda mempunyai jarak yang sama panjang sebesar a. (Gokdi.dimana k adalah faktor geometri.

Berdasarkan peta geologi regional lembar palu (Sukamto. dan bertindak sebagai batuan lapuk serta berselingan dengan granit. 8 . sehingga kapan saja terjadi hujan dengan intensitas tinggi. terdapat granit lapuk yang menjadi batuan dasar. Sifat fisik litologi batuan yang ada di lokasi penelitian bersifat plastis dan urai sehingga diduga memiliki gaya kohesif yang lemah yang dapat meloloskan air.. sehingga membuat batuan di sekitarnya atau beban di atas batuan lapuk mudah lepas sehingga terjadi pergerakan tanah. Granit tersebut sudah hamper menyerupai pasir atau batuan urai. dkk. serta satuan aluvium yang berupa endapan pantai seperti material kerikil. dan granit segar.2. Dari hasil pengamatan lapangan lapisan lempung tersebut merupakan penutup batugamping yang berdekatan dengan tepi pantai tepatnya di sekitar Lintasan 1. konglomerat. batulempung. maka air akan terakumulasi disuatu lapisan bawah permukaan dan dapat sekaligus membawa tanah bergerak mengikuti kemiringan lereng. kemudian lapisan di bawahnya tetap terdapat sisipan- sisipan konglomerat.3 Referensi Bidang Gelincir di Daerah Penelitian Kondisi geologi daerah penelitian serta karakteristik gradien lereng memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kejadian longsor. Kehadiran lempung diduga merupakan hasil asosiasi air meteorik membuat lapisan material urai menjadi lebih halus sehingga terbentuk lempung. dan batugamping. Pada umumnya profil batuan bawah permukaan ialah pasir kasar berupa hasil pelapukan granit. dan lempung. Pada dasarnya batuan lapuk struktur bawah permukaan dapat diketahui dari nilai kecepatan gelombang geser yang tinggi yaitu memiliki kerapatan ikatan butiran yang kuat . 1973) lokasi penelitian berada pada satuan batuan molasa celebes sarasin dan sarasin (1901) dengan litologi yang umumnya dijumpai di lokasi ialah batupasir.Sehingga dapat diduga longsoran yang terjadi di lokasi penelitian dipicu oleh komposisi material yang bersifat urai dan lepas. Dari hasi pengamatan geologi permukaan di lokasi penelitian. lempung. pasir kasar.

Berdasarkan pengamatan geologi dan pemodelan data ReMi untuk ketiga lintasan pasir kasar hasil pelapukan granit lapuk. sehingga membuat lokasi tersebut rentan serta langganan terjadinya longsor. hilangnya tanah pertanian. Daerah yang rentan terhadap geseran tanah adalah daerah dekat atau sepanjang patahan. Akibat dari dua peristiwa alam tersebut dapat merusakan atau menghancurkan bangunan. tanah urugan dan bekas danau atau rawa merupakan daerah-daerah yang rentan terhadap kedua peristiwa alam tersebut. peretakan tanah atau bisa juga daerah itu dilalui patahan bumi. sistem irigasi. kemudian membuat kohesifitas tanah berkurang sehingga air tersebut dapat menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir. pergeseran tanah ini dapat terjadi karena longsor. memutuskan hubungan permukiman. bendungan dan jembatan. 9 . meretakan bendungan. Daerahdaerah lingkungan endapan sungai. Perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan. dan sistem alur sungai. atau material campuran tersebut bergerak ke bawah tanpa ada rekayasa (konstruksi sipil) gayapenahan yang berfungsi. sisipan lempung dan sisipan konglomerat merupakan bahan material yang mendominasi daerah lokasi penelitian yang hanya di sekitar dekat permukaan. Zona labil merupakan suatu wilayah yang menunjukkan daerah itu mempunyai kondisi tanah yang terus bergeser. tanah pertanian. terutama ketika suplai curah hujan yang tinggi. dan lainlain (Suseno 2007: 16). Kawasan permukiman (built-up areas). jaringan jalan. Ketika air metoerik yang mengalami infiltrasi terakumulasi di lapisan material urai tersebut. jaringan jalan raya dan kereta api. bahan rombakan. Kemudian pendugaan mengenai litologi batuan lapuk yaitu letak dari bidang gelincir di lokasi penelitian ialah granit kemudian sisipan lempung yang menutupi batugamping. maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti kemiringan lereng yang cukup curam dan ditambah oleh faktor gravitasi. Tipe longsoran yang ada di lokasi penelitian ialah longsoran aliran (translasi). kerikil. bekas pantai/zona pantai. tanah.

terutama pada batas antara tanah dan batuan di bawahnya. Daerah dengan ciri seperti itu merupakan daerah rawan longsor. daerah ini sangat labil karena kondisi tanah yang ada di sana terus bergerak. Longsoran umumnya terjadi jika tanah sudah tidak mampu menahan berat lapisan tanah di atasnya karena ada penambahan beban pada permukaan lereng dan berkurangnya daya ikat antarbutiran tanah akibat tidak ada pohon keras (berakar tunggang). energi gelombang gempa bumi akan 10 . hal ini dipengaruhi oleh gerakan lempeng-lempeng bumi secara konvergen atau saling bertumbukan. kejadian longsor sering diawali dengan kejadian hujan lebat terus menerus selama lima jam atau lebih atau hujan tidak lebat tetapi terus-menerus hingga beberapa hari. Jika suatu daerah termasuk kategori rawan longsor. tanah lereng terbuka yang dimanfaatkan sebagai permukiman. Geseran tanah yang sering terjadi adalah tanah longsor yang merupakan proses perpindahan massa tanah secara alami dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Faktor pemicu utama kelongsoran tanah adalah air hujan. sawah atau kolam (Suseno 2007:16). Juga diperburuk dengan jenis tanaman di permukaan lereng yang kebanyakan berakar serabut dan hanya bisa mengikat tanah tidak terlalu dalam sehingga tidak mampu menahan gerakan tanah. Selain merupakan daerah rawan longsor kawasan zona labil biasanya merupakan daerah yang di lalui oleh patahan bumi. Pergerakan kulit bumi yang berupa lempeng-lempeng tektonik itu muncul dalam wujud gelombang yang disebut gempa. tanah retak di atas lereng yang selalu bertambah lebar dari waktu ke waktu. Tanah longsor banyak terjadi di perbukitan dengan ciri-ciri: kecuraman lereng lebih dari 30 derajat. ladang. curah hujan tinggi. terdapat lapisan tebal (lebih dari 2 meter) menumpang di atas tanah/batuan yang lebih keras. pepohonan di lereng terlihat miring ke arah lembah. Pergerakan lempeng tektonik menciptakan kondisi terjepit atau terkunci dimana terjadi penimbunan energi dengan suatu jangka waktu tertentu yang untuk selanjutnya dilepaskan dalam bentuk gelombang gempa. banyak terdapat rembesan air pada tebing atau kaki tebing. air hujan leluasa menggerus tanah dan masuk ke dalam tanah. Dengan demikian.

bergerak ke bawah atau keluar lereng.Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir.dikonsentrasikan dan difokuskan jika gelombang gempa bumi melintas di jaur patahan. 11 . Longsoran rotasi Longsoran rotasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung. maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng.2 Longsoran translasi 2. tanah. Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Gambar 2. yakni : 1. Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan. Ada 6 jenis tanah longsor (ESDM 2007). goncangan dari gempa bumi ini dapat menggeser posisi tanah baik ke arah lateral ataupun horizontal dan dapat pula pada arah vertikal sehingga terjadi amblesan di sekitar patahan itu (Suseno 2007: 18). atau material campuran tersebut. bahan rombakan. Longsoran translasi Longsoran translasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.

Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu. Runtuhan batu Runtuhan batu terjadi ketika sejumlah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Pergerakan blok Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Gambar 2.5 Runtuhan batu 12 . Gambar 2.3 Longsoran rotasi 3.4 Pergerakan blok 4. Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga menggantung terutama di daerah pantai. Gambar 2.

pohon. Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. atau rumah miring ke bawah. volume dan tekanan air. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter jauhnya. Rayapan tanah Rayapan tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Di beberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai di sekitar gunung api. Gambar 2.7 Aliran bahan rombakan 13 . Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng.6 Rayapan tanah 6. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak. dan jenis materialnya. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Aliran bahan rombakan Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong oleh air.5. Setelah waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bias menyebabkan tiang-tiang telepon. Gambar 2.

getaran. erosi. Sedangkan gaya pendorong dipengaruhi oleh besarnya sudut lereng. penyusutan permukaan danau/waduk. material timbunan pada tebing. Bidang ini disebut bidang gelincir (slip surface) atau bidang geser (shear surface). beban tambahan. beban serta berat jenis tanah batuan. Tanah longsor semacam ini biasanya terjadi bilamana terdapat lapisan agak keras yang sejajar dengan permukaan lereng. Gaya penahan umumnya dipengaruhi oleh kekuatan batuan dan kepadatan tanah. Bentuk bidang gelincir ini sering mendekati busur lingkaran. Gambar 2. Sedangkan longsoran yang paling banyak memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan. Biasanya tanah yang longsor bergerak pada suatu bidang tertentu. bekas longsoran lama. Jenis longsoran translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia. dalam hal ini tanah longsor tersebut disebut rotational slide yang bersifat berputar. jenis penggunaan lahan. air. dalam hal ini tanah longsor disebut translational slide. batuan yang tidak kompak. tanah yang kurang padat dan tebal. jateng 2008). lereng terjal. Ada juga tanah longsor yang terjadi pada bidang gelincir yang hampir lurus dan sejajar dengan muka tanah.Pada prinsipnya tanah longsor terjadi bila gaya pendorong pada lereng lebih besar daripada gaya penahan.8 Tanah longsor rotational slide dan translational slide 14 . Sedangkan faktorfaktor penyebab tanah longsor adalah hujan. adanya bidang diskontinuitas dan penggundulan hutan (RAD PRB prov.

stratigrafi dan strukutur geologi. udara. vegetasi. Bidang luncurnya dapat berupa bidang rekahan. dimana material yang lepas tidak dapat tetap di tempatnya. Slum adalah keruntuhan lereng dimana batuan atau regolith bergerak turun dan maju disertai gerak rotasional yang bergerak berlawanan dengan arah massa yang bergerak. Biasanya materialnya jenuh air yang sering terjadi adalah mud flow. dan formasi susunan batuannya. air. Tipe gerak tanah ini terjadi di daerah dengan curah hujan tinggi seperti di Indonesia. beban batuan. 15 . Proses gerak tanah meliputi (Ristianto 2007: 21) : 1.aliran (flow) campuran sedimen. 2. kandungan air di dalam batuan. aliran debris dengan banyak air dan partikel utamanya adalah partikel halus. Falls dan Slides Gerak pecahan batuan besar atau kecil yang terlepas dari batuan dasar dan jatuh bebas dinamakan rock fall. Faktor-faktor geologi yang mempengaruhi terjadinya gerakan tanah adalah morfologi. atau meluncur (sliding). dengan memperhatikan kecepatan dan konsentrasi sedimen yang mengalir.Struktur geologi yang mempengaruhi gerak tanah adalah seperti komposisi lapisan. Biasanya terjadi pada tebing-tebing yang terjal. Adanya pengaruh dari beberapa faktor lain seperti curah hujan. kekar atau bidang pelapisan yang sejajar dengan lereng. Aliran (flow) Aliran terjadi apabila material bergerak turun lereng sebagai cairan kental dengan cepat. Jika material yang bergerak masih agak koheren dan bergerak di atas permukaan suatu bidang disebut rock slides. Kegagalan lereng Gaya gravitasi yang selalu menarik kebawah membuat lereng bukit dan gawir pegunungan rawan untuk runtuh. 3. gempa bumi dan lain sebagainya (Ristianto 2007: 21). kegagalan lereng secara mendadak yang mengakibatkan berpindahnya massa batuan yang relatif koheren dengan slumping. jatuh (falling). litologi.

16 . Horst adalah tanah naik. terjadi bila terjadi pengangkatan. membentuk breksi sesar atau fault breccia (Ristianto 2007: 24). debris avalance dan bloock glide. Ada beberapa jejak yang ditimbulkan oleh gesekan pada batuan diantaranya adalah gores garis atau slickensides. yaitu soil fall. gesekan antara batuan yang keras. permukaannya menjadi halus dan licin disertai goresan-goresan pada bidang sesar. sandrun. Kebanyakan gerak sesar menghancurkan batuan yang bergesekan menjadi berbagai ukuran tidak beraturan. earth flow. terjadi bila blok batuan mengalami penurunan. sedangkan gerakan terbanyak adalah jenis debris slide. Pada umumnya gerakan tanah terjadi pada daerah sekitar kontak ketidakselarasan antara satuan batu lempung dengan sisipan-sisipan batu pasir. rock fall. debris slide. sehingga menyebabkan lapisan kulit bumi retak atau patah. merupakan 51.83% dari seluruh gerakan. Berdasarkan pada klasifikasi Vernes dan Eckel dalam Ristianto (2007: 24) maka gerakan tanah terdapat tujuh jenis gerakan.4.Graben adalah tanah turun. Patahan Patahan yaitu gerakan pada lapisan bumi yang sangat besar dan berlangsung yang dalam waktu yang sangat cepat.Bagian muka bumi yang mengalami patahan seperti graben dan horst.

1’’. Kecamatan Sindue. BAB III METODE PENEITIAN 3. Provinsi Sulawesi Tengah dengan koordinat LS : 0o 31’ 23.1 Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Desa Enu.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3. yang diterbitkan oleh BAKOSURTANAL tahun 1991. Gambar 3. Kabupaten Donggala.1 Peta Lokasi Daerah Penelitian 17 .7’’ dan BT : 119o 49’ 36. Dalam hal ini kami menggunakan Peta Lembar Tavaili.1.

ACCU ACCU digunakan Sebagai sumber energi listrik Foto 3. 3. Resistivity Meter Resistivity Meter digunakan untuk mengukur nilai Tahanan Jenis Foto 3. Elektroda Elektroda yang digunakan yaitu 2 buah elektroda Potensial dan 2 buah elektroda Arus. Digunakan untuk menginjeksi arus listrik 18 .2 ACCU c. 3.1 Resistivity Meter b. Penelitian dilakukan pada pukul10.2 Waktu Penelitian Waktu penelitian ini berlangsung selama 1 hari pada hari Sabtu.2 Peralatan yang Digunakan Adapun alat dan bahan yang kami gunakan adalah .00 sampai 16.00 WITA. a.1. Tanggal 7 Mei 2016.

Patok Besi / Tembaga Patok besi/tembaga digunakan sebagai penanda jarak dan sebagai media yang menghantarkan listrik ke dalam tanah Foto 3.3 Elektroda d. Foto 3. Kabel Listrik Kabel listrik digunakan untuk menghantarkan listrik Foto 3.5 Patok f.4 Kabel Listrik e. GPS Garmin Gps Digunakan untuk mengambil data Kordinat dan data Topografi 19 .

7 Rol meter h. Foto 3. Kalkulator dan Alat Tulis Menulis Kalkulator dan alat tulis digunakan sebagai alat hitung dan alat untuk menulis Foto 3.6 GPS g. Tabel Data Sebagai tempat untuk menuliskan data–data yang diperoleh selama pengukuran i. Rol Meter Rol meter digunakan untuk mengukur jarak Foto 3.8 Kalkulator dan Alat Tulis 20 .

dan memasang patok pada setiap ujungnya. 1.10 Software Res2Dinv 3. j. 2. Pengambilan data dibagi menjadi 3 bagian . Tahap kedua adalah pengambilan data. Kemudian pasang meteran pada daerah yang akan digunakan untuk penelitian. Setelah itu. accu 12 volt ke resistivitimeter dan sambungkan capit dari resistivitimeter ke setiap elektroda. Tahap pertama yang dilakukan adalah Kajian Literatur yaitu Jurnal mengenai Bidang Gelincir dan Tanah Longsor.3 Prosedur Pengambilan Data Pada penelitian ini. Software Res2Dinv Software Res2Dinv digunakan sebagai Software yang di gunakan untuk mengolah data yang didapatkan di lapangan Gambar 3. Kemudian untuk pengukuran yang kedua dan seterusnya memindahkan elektroda arus dan elektroda potensial yang dilakukan secara bersama-sama dengan jarak yang sama pada setiap elektroda. Pengamatan Litologi. pasang elektroda arus (C1C2) dan elektroda potensial (P1P2) diawali dengan jarak terdekat yang telah disiapkan pada tabel pengukuran. Kemuadian 21 . Sedangkan tahap pertama yang dilakukan untuk pengambilan data yaitu mempersiapkan alat yang akan digunakan dalam percobaan ini. Pengambilan data Resistivity Batuan Pengukuran Resistivity batuan dilakukan pada satu lintasan. Setelah itu. Lintasan ini memiliki panjang lintasan 51 meter dengan jumlah patok 18 buah dengan jarak antar patok 3 meter.

3. Kemudian dilakukanpemodelan untuk menginversi data hasil pengukuran dan menggambarkannya dalambentuk 2D yang menggambarkan distribusi resistivitas batuan bawah permukaan lokasipenelitian dengan menggunakan aplikasiRes2Dinv.4. 3. Data yangdiperoleh merupakan data kuat arus.4 Teknik Analisis dan Interpretasi Data 3. Kemudian tahap akhir yang dilakukan adalah Interpretasi data dari hasil yang diperoleh di lapangan. Hasil interpretasi dibuat berdasarkan hasil resistivitas pada berbagai lapisan daerah penelitian. kemudian datatersebut diolah menggunakan Excel. data potensial. 22 . Jika terdapat pada area tertentu nilai resistivitas lapisan atas lebih rendah daripada lapisan bawahnya. data topografi. 3.1 Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan berdasarkan datageolistrik resistivitas konfigurasi wenner hasilpengukuran di desa Enu. Setelahdilakukan perhitungan dengan menggunakanSoftware Excel. setelah semua tersambung selanjutnya mengambil data yaitu catat arus (I) dan beda potensial (V).2 Interpretasi Data Interpretasi data dilakukan setelah melihat model yang didapatkan setelah tahap pengolahan data. area itulah yang disebut bidang gelincir. Pengambilan data Topografi di setiap patok. data hasil perhitungandimasukkan ke dalam notepade dan disimpandalam format dat.4.

Sulawesi dengan skala 1 : 250. batuan tertua di daerah yang dipetakan adalah metamorf dan tersingkap hanya pada pematang timur yang merupakan intinya. menurut Sarasin (1910). batugamping. dan menghubungkan pegunungan Sulawesi Tengah dengan Lengan Utara. bahwa sekis yang tersingkap di seantero Sulawesi berumur Palezoikum. 1973) dan seperti yang tertuang dalam Peta Geologi Tinjau Lembar Palu. batuan ini terdapat pada ketinggian lebih rendah pada sisi-sisi kedua pematang. Sekis terdapat banyak di sisi Barat. batupasir. tetapi di Donggala menurun hingga muka air laut. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Batuan ini menindih kompleks metamorf secara tidak selaras. Kompleks itu terdiri dari sekis ampibolit. bahwa rangkaian ini tersingkap luas. sekis. baik di pematang timur maupun pematang barat. tetapi boleh jadi pra-Tersier. Molasa Celebes Sarasin/ (Tmc). radiolaria dan batuan gunung api yang diendapkan di dalam lingkungan laut. Stratigrafi regional. Umur metamorfisme tak diketahui. Brouwer (1947) berpendapat. sedangkan genes dan pualam terdapat banyak di sisi Timur. genes dan pualam. umumnya selebar kurang dari 50 meter.000. menerobos kompleks batuan metamorf. Pematang Barat di dekat palu hingga lebih dari 200 meter tingginya. Geomorfologi regional secara fisiografi daerah Palu terdiri dari pematang timur dan pematang barat.1 Geologi Lokasi Kondisi Geologi daerah penelitian Desa Enu Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah termasuk dalam Geologi Regional Kota Palu (Rab Sukamto. Pematang Timur dengan tinggi puncak dari 400 meter hingga 1900 meter. menidih 23 . rijang. dengan berjangka dari diorit hingga granodiorit. kedua-duanya berarah Utara-Selatan dan terpisahkan oleh Lembah Palu (Fossa Sarassina). konglomerat. Endapan ini terutama terdiri dari serpih. menurut Alburg (1913). Di dalamnya terkandung rombakan yang berasal dari batuan metamorf. Tubuh-tubuh intrusi tak terpetakan. Formasi Tinombo / (Tts).

Di dekat kompleks batuan metamorf pada bagian Barat Pematang Timur endapan itu terutama terdiri dari bongkah-bongkah kasar dan agaknya diendapkan di dekat sesar. dan Lepidocyclina sp... Socal mengirakan bahwa fauna-fauna tersebut menunjukkan umur Miosen Tengah.secara tidak selaras Formasi Tinombo dan Kompleks Metamorf. dan tersebar luas diseluruh daerah. batugamping koral dan napal yang semuanya hanya mengeras lemah. batupasir.. Batuan intrusi telah diamati beberapa generasi intrusi.. ganggang gampingan. porfiri diorit dan granodiorit menerobos Formasi Tinombo. Orbulina universa. foraminifera pasiran. Amphistegina sp. Sebuah conto yang di pungut dari Tenggara Laebago selain fosil-fosil tersebut juga mengandung Miogysina sp.. Reussella sp. dimana yang tertua ialah intrusi andesit dan basal kecil-kecil di Semenanjung Donggala. dan Amphiroa. endapan sungai Kuarter juga dimasukkan ke dalam satuan ini. Rotalia sp. Solenomeris sp. Lethoporella.. Intrusi- intrusi ini mungkin merupakan saluran-saluran batuan vulkanik di dalam Formasi Tinombo. pelesipoda dan gastropoda.. Cycloclypeus sp. Siroclypeus sp.. Llithophyllum.. Batuan-batuan itu ke arah laut beralih jadi batuan klastika berbutir halus. Semuanya tak terpetakan. Globigerina. yakni sebelum endapan Molasa. Di daerah dekat Labean dan Tambu terumbu koral membentuk bukit- bukit rendah. Intrusi-intrusi kecil (selebar 50 meter) yang umumnya terdiri dari diorit. dan pengendapannya di dalam laut dangkal. Direktorat Geologi). delta dan laut dangkal merupakan sedimen di daerah ini.. Textularia sp. Acervulina sp. Di dekat Donggala sebelah Utara Enu dan sebelah Barat Labean batuannya terutama terdiri dari batugamping dan napal dan mengandung Operculina sp.. lumpur dan batugamping koral terbentuk dalam lingkungan sungai. yang menunjukkan umur Miosen (pengenalan oleh kadar. Miliolidae.. Alluvium dan Endapan Pantai (Qal) berupa kerikil. dan terdiri dari konglomerat. mengandung rombakan yang berasal dari formasi-formasi yang lebih tua. 24 . pasir.. dan kemungkinan juga di tempai lain. batulumpur. Pada kedua sisi Teluk Palu. Endapan itu boleh jadi seluruhnya berumur Holosen. Foram tambahan yang dikenali oleh Socal meliputi Planorbulina sp.

Gambar 4. memberikan penaggalan 8. Perlipatan yang kuat menyebabkan terjadinya sesar anjak yang berlangsung pada Miosen Tengah di lengan Timur Sulawesi dan bagian Tengah dari Mandala Geologi Sulawesi Barat. Penanggalan Kalium/Argon telah dilakukan oleh Gulf Oil Company terhadap dua contoh granodiorit di daerah ini. tersingkap di bawah koral Kuarter. Yang lainnya adalah suatu intrusi yang tidak dipetakan terletak kira-kira 15 Km Timurlaut dari Donggala. serta waktu yang bersamaan dengan transgresi lokal berlangsung di lengan 25 .6 juta tahun pada analisa K/Ar dari biotit.granit dan granodiorit yang telah dipetakan tercirikan oleh fenorkris feldspar kalium sepanjang hingga 8 cm.1 Peta Geologi Lembar Palu Gambar 4. Intrusi yang tersingkap di antara Palu dan Donggala memberikan penanggalan 31.0 juta tahun pada analisa kadar K/Ar dari feldspar. sedangkan pada Mandala Geologi Sulawesi Bagian Timur dimulai pada kapur Akhir atau Awal Tersier.1 Peta Geologi Lembar Palu Secara regional struktur geologi orogenesa di Pulau Sulawesi mulai berlangsung sejak zaman Trias. terutama pada Manggala Banggai Sula yang merupakan Mandala tertua.

5 -1 128.840 1-2-3-4 2 3 18.84 300 309 304 32 32 33 9.5 -1 171.836 12 37.888 18 15 -2 221.5 -1 81.298 7-8-9-10 8 3 18.5 -1 189.478 9.414 1 4.967 9-10-11-12 10 3 18.942 9.385 9 28.125 9.881 5.84 297 289 288 69 70 68 4.5 -1 141.698 9.333 2-4-6-8 18 6 37. Data Hasil Pengamatan Geolistrik Tabel 4.036 6 19.348 4.161 9 9.84 901 891 902 94 94 93 9.201 1-3-5-7 17 6 37.5 -1 189.418 11.Barat Laut.5 -1 180. dan suatu aktivitas vulkanik terjadi di lengan Uatara dan Selatan (Sukamto.375 9.076 3 10.132 10.84 625 567 565 59 58 58 10.68 447 427 478 70 69 68 6.031 7 22.84 349 346 341 43 43 43 8.656 9.188 7.212 9.126 4 13.5 -1 151.387 7.326 5.826 3-4-5-6 4 3 18.1 Data Hasil Pengukuran Geolistrik R No a k v I R Rata2 Label x z Roh Keterangan 1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 3 18.085 6-7-8-9 7 3 18.366 11-12-13-14 12 3 18.24 5.857 9.414 11 34.84 187 184 178 43 42 42 4. terutama pada Mandala Sulawesi Barat bagian Tengah.84 982 982 994 91 86 89 10.8 6. Fasa orogenesa Intra Miosen terlihat menonjol di beberapa tempat.909 6.5 10.712 8 25.529 13 40.84 347 350 351 42 41 42 8.93 8. mengangkat dan melipat endapan Mesozoikum dan sedimen tua lainnya kemudian terhenti oleh pengaruh gerekan horizontal dan yang menyebabkan sesar sungkup berarah Utara –Selatan atau Utara.2 Hasil Pengamatan a.606 9.5 -1 177.797 12-13-14-15 13 3 18.095 5 16.775 9.046 7.84 584 568 567 64 62 63 9.304 4.68 261 260 262 49 50 50 5.048 6.222 15 46.791 11.68 360 347 347 60 60 59 6 5.322 14 43.619 2-3-4-5 3 3 18.168 11. 4.238 4.846 13-14-15-16 14 3 18.318 6.5 -1 79.84 556 557 483 88 80 81 6.783 5.38 4.5 -1 157.261 8.962 6.536 8.593 9.128 4.5 -1 120.357 8.385 6. Tenggara Sulawesi.980 8-9-10-11 9 3 18.5 -1 209.903 6.255 19 18 -2 198.68 7.015 7.8 6.2 5. 1975).235 4.860 3-5-7-9 19 6 37.036 10.52 7.356 5-6-7-8 6 3 18.742 9.585 9.116 8.021 4-6-8-10 26 . sedangkan orogenesa sebelum Intra Miosen mungkin terjadi pada Kala Kapur Akhir hingga Miosen Awal.029 6.962 5.534 16 9 -2 246.68 442 437 428 63 62 62 7.84 361 362 361 47 49 48 7. Selatan-Tenggara.608 4-5-6-7 5 3 18. Gaya horisontal terhenti dan disusul terbentuknya sesar bongkah yang menyebabkan terjadinya terban ataupun sambul.031 9.059 10.426 14-15-16-17 15 3 18.517 10-11-12-13 11 3 18.5 -1 185.84 348 345 341 35 35 35 9.587 2 7.847 10 31.5 -1 182.84 306 306 304 45 45 44 6.549 15-16-17-18 16 6 37.84 845 841 833 84 83 83 10.84 323 321 317 34 32 33 9.741 10.989 17 12 -2 263.

010 39 24 -4 226.52 174 171 169 43 41 40 4.68 180 245 244 34 48 49 5.583 5.216 3.167 4.2 151 144 141 52 51 50 2.125 4.621 26 39 -2 174.294 5.458 6-10-14-18 43 15 94.2” 119o46’37.685 23 30 -2 214.849 44 25.841 42 33 -4 289.865 3.291 4.568 31 22.2 5.509 4.5 -5 268.035 7-1-13-16 35 9 56.52 253 248 250 60 59 60 4.046 4.5 -5 282.3” o 119 46’37.36 193 197 200 65 65 66 2.864 5.52 183 182 180 40 40 40 4.240 1-4-7-10 29 9 56.107 11-13-15-17 27 6 37.651 6-8-10-12 22 6 37.35 3.5 -3 244.2 Data pengukuran topografi Patok X Y Z 1 00 31’54.467 22 27 -2 205.82 2.444 5.808 3-9-11-15 40 12 75.52 231 233 229 60 59 59 3.815 3.68 364 350 344 45 51 52 8.969 3.476 4.862 8.62 4.849 3.542 29 16.921 2.371 4.36 163 158 157 47 47 48 3.815 3.388 8-11-14-17 36 9 56.611 25 36 -2 173.569 28 13.5 -3 233.067 2-6-10-14 39 12 75.36 198 196 196 61 62 63 3.361 3.468 3.5 -3 237.674 5.17 4.171 3.52 264 260 257 64 63 62 4.1” 119o46’37.104 4.68 215 208 217 38 40 37 5.282 5.835 4.5” 69 5 00o31’54.554 4-8-12-16 41 12 75.01 2.20 6 37.057 3-6=9-12 31 9 56.695 2-5-8-11 30 9 56.974 3.223 8-10-12-14 24 6 37.68 270 269 268 46 48 48 5.36 241 238 239 76 74 74 3.561 4.488 4.714 21 24 -2 290.5 -3 258.66 3.202 4-7-10-13 32 9 56.142 33 28.823 30 19.823 2.68 268 260 248 58 57 55 4.135 9-11-13-15 25 6 37.36 194 192 190 53 53 52 3.742 10-12-14-16 26 6 37.225 4.968 3.36 401 393 393 103 103 103 3.161 3.604 5.4” 71 7 00o31’53.55 4.5 4.120 5-8-11-14 33 9 56.5 -3 258.6” 72 27 .563 27 42 -2 171.653 3.731 4.903 2.229 3.574 20 21 -2 210.318 34 31.869 5.03 3.111 3.5 -5 270.52 263 261 257 62 60 67 4.2 153 151 149 51 56 51 3 2.216 4.946 12-14-16-18 28 9 56.996 45 28.291 4.203 4.645 41 30 -4 274.27 3.366 37 18 -4 253.6” 65 3 00o31’54.5 -3 256.132 36 37.245 3.574 1-6-11-16 44 15 94.984 7-9-11-13 23 6 37.52 194 189 188 41 42 42 4.5” 67 4 00o31’54.205 40 27 -4 241.893 3.147 35 34.01 2.5 4.754 3.85 5.126 4.241 4.145 4.68 131 136 134 30 30 27 4.19 7.089 6.5 -3 216.3” 119o46’37.126 24 33 -2 193.5 -3 234.367 4.52 309 306 309 72 70 72 4.344 2-7-12-17 45 15 94.016 5-7-9-11 21 6 37.5 -3 234.881 4.2” 119o46’37.195 32 25.68 190 193 193 40 43 42 4.979 5.03 3.75 4.6” o 63 2 00o31’54.622 3.595 4.575 4.541 9-12-15-18 37 12 75.687 5-9-13-17 42 12 75.2 286 282 280 95 95 93 3.106 6-9-12-15 34 9 56.172 38 21 -4 239.533 4.696 2.872 43 22.5” 71 6 00o31’54” 119o46’37.68 243 244 245 46 43 45 5.657 5.962 4.8” 119o46’37.687 1-5-9-13 38 12 75.52 204 199 201 53 53 52 3.223 3-8-13-18 Tabel 4.

7” 84 18 00o31’52.2 Stacking Chart pengukuran geolistrik 18 elektroda konfigurasi wenner 28 .4” 119o46’37.8 84 4.2” 119o46’37.8” 77 14 00o31’53.5” 75 13 00o31’53.6” 72 10 00o31’53.5” 119o46’37. Besarnya nilai datum point dapat diperoleh dengan cara sebagaiberikut: 𝑃1−𝐶1 𝐷 = 𝐶1 + 2 dimana.5” 119o46’37.1” 119o46’37.4” 119o46’37.8” 81 16 00o31’53. D = Datum point C1 = Jaraktitik 0 denganelektroda C1 P1 = Jaraktitik 0 denganelektroda P Gambar 4. 8 00o31’53.6” 72 9 00o31’53.3 Interpretasi Data Datum point atau titik pengukuran di bawah permukaan lintasan pengukuran merupakan titik tengahdari total spasi elektro dan arus dan tegangan.9” 119o46’37.6” 119o46’37.7” 75 12 00o31’53.1” 119o46’37.7” 73 11 00o31’53.7” 119o46’37.1” 119o46’37.8” 79 15 00o31’53.7” 82 17 00o31’53.

Penampang resistivitas semu hasil pengukuran Gambar 4.4 Hasil pengolahan data menggunakan software Res2dinv.Gambar 4.5 Penampang resistivitas semu hasil perhitungan 29 .3 Profil resistivitas semu dari jumlah ekspansi titik datum Gambar 4.

Berdasarkan dari model penampang menunjukan bahwa nilai resistivitas tersebut digambarkan dengan warna biru tua.2 meter. Pada titik b dan e.Gambar 4. Sedangkan anomaly dengan nilai resistivitas tinggi dengan nilai 2031 hingga 428 Ωm yang di interpretasikan dengan warna coklat dan coklat kemerahan yang diindikasikan sebagai batugamping (limestone).7 Model resitivitas batuan bawah permukaan dengan topografi di wilayah rawan longsor Desa Enu Kabupaten donggala a.75 – 7. Berdasarkan pada literatur yang telah ada. pada kedalaman 0. kemudian dilakukan pengolahan data lapangan dengan menggunakan software Res2Dinv. biru muda.6 Nilai resistivitas batuan bawah permukaan hasil pemodelan inversi Setelah semua data telah di dapat. d c b c e a Gambar 4. umumnya kurang kompak dan kurang kuat.750 hingga 3. nilai resistivitas batugamping berkisar antara 50 Ωm hingga 4x102 Ωm. hijau kebiruan. dan hijau dengan letak pada penampang Res2Dinv berada pada kedalaman 0. 30 .46 meter Kedalaman umumnya disusun oleh batulempung tufaan.

pada kedalaman 2. Kemudian pendugaan mengenai litologi batuan lapuk yaitu letak dari bidang gelincir di lokasi penelitian ialah granit kemudian sisipan lempung yang menutupi batugamping.25 – 5. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 31 . Pada titik d. sehingga membuat lokasi tersebut rentan serta langganan terjadinya longsor. Tipe longsoran yang ada di lokasi penelitian ialah longsoran aliran (translasi).56 meter terlihat bahwa lapisan ini merupakan lapisan dengan batuan keras (lempung) dengan resistivity yang tinggi. terutama ketika suplai curah hujan yang tinggi. Sehingga dapat diduga longsoran yang terjadi di lokasi penelitian dipicu oleh komposisi material yang bersifat urai dan lepas. atau material campuran tersebut bergerak ke bawah tanpa ada rekayasa (konstruksi sipil) gaya penahan yang berfungsi.75. Kedua batuan keras ini mengapit batuan lunak di tengah (titik b). Pada titik a dan c. Pada umumnya profil batuan bawah permukaan ialah pasir kasar berupa hasil pelapukan granit. dan granit segar. bahan rombakan. kemudian membuat kohesifitas tanah berkurang sehingga air tersebut dapat menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir.2. maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti kemiringan lereng yang cukup curam dan ditambah oleh factor gravitasi.25 meter terlihat nilai resistivity yang rendah yang mengindikasikan adanya kumpulan air yang terjebak di titik ini. c. Pada dasarnya batuan lapuk struktur bawah permukaan dapat diketahui dari nilai kecepatan gelombang geser yang tinggiya itu memiliki kerapatan ikatan butiran yang kuat. Ketika air metoerik yang mengalami infiltrasi terakumulasi di lapisan material urai tersebut. Kehadiran lempung diduga merupakan hasil asosiasi air meteoric membuat lapisan material urai menjadi lebih halus sehingga terbentuk lempung. lempung. tanah. Perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan. kemudian lapisan di bawahnya tetap terdapat sisipan- sisipan konglomerat.b. 0.

nilai resistivitas batugamping berkisar antara 50 Ωm hingga 4x102 Ωm. dkk. MENENTUKAN LITOLOGI DAN AKUIFER MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK KONFIGURASI WENNER 32 . pada kedalaman 2.75 – 7. hendaknya mahasiswa dapat memberikan perhatian lebih kepada arahan yang diberikan oleh dosen..25 – 5. umumnya kurang kompak dan kurang kuat. sehingga membuat lokasi tersebut rentan serta langganan terjadinya longsor. biru muda. Sedangkan anomaly dengan nilai resistivitas tinggi dengan nilai 2031 hingga 428 Ωm yang di interpretasikan dengan warna coklat dan coklat kemerahan diindikasikan sebagai batugamping (limestone). hijau kebiruan.75.56 meter merupakan lapisan dengan batuan keras (lempung) dengan resistivity yang tinggi.1 Kesimpulan Nilai resistivitas yang digambarkan dengan warna biru tua. Agar hal-hal yang dapat mengganggu praktikum dapat diminimalisir. Pada titik a dan c.25 meter diindikasikan adanya kumpulan air yang terjebak di titik ini. pada kedalaman 0. 5.2012. terutama ketika suplai curah hujan yang tinggi. DAFTAR PUSTAKA Gokdi.2 Saran Kegiatan Praktikum sebaiknya dilakukan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan dalam melakukan praktikum.2. Kedua batuan keras ini mengapit batuan lunak di tengah (titik b). 0. Pada titik d. H.750 hingga 3. Pada titik b dan e. Longsoran yang terjadi di lokasi penelitian dipicu oleh komposisi material yang bersifat urai dan lepas.5. Berdasarkan pada literatur yang telah ada. dan hijau berada pada kedalaman 0.2 meter.46 meter umumnya disusun oleh batulempung tufaan.

Bandung. PENENTUAN STRUKTUR BATUAN DAERAH RAWAN LONGSOR MENGGUNAKAN METODE SEISMIK MIKROTREMOR DI DESA ENU KECAMATAN SINDUE KABUPATEN DONGGALA. Suseno. N. danSudana. DAN SCHLUMBERGER DI PERUMAHAN WADYA GRAHA I PEKANBARU. Semarang :Unnes (tidak dipublikasikan). Jawa Tengah). Skripsi (Penentuan Resistivitas Tanah Pada Zona Labil Dengan Aplikasi Geolistrik Metode Tahanan Jenis Konfigurasi Schlumberger (Studi Kasus di Desa Bambankerep. Efendi. Sukamto. Jurusan Fisika FMIPA UGM. F.. Pekanbaru: Fakultas MIPA.Teori Dan Aplikasi Metode Resistivitas. Wiesbaden. 1901. Yogyakarta : Laboratorium Geofisika. D. 2015. Kota Semarang. H. 33 . Entwurf Einer Geologischen Beschreibung DerInsel Celebes. Syamsudin .. 2000.. Peta Geologi Tinjau LembarPalu. RAB. T. 1973. & Sandra. S. D. Skripsi (Penentuan Pola Resistivitas Batuan Di Daerah Labil dengan Aplikasi Geolistrik Metode Tahanan Jenis (Metode Schlumberger (Studi Kasus Di Sukorejo Kota Semarang)). Program Studi Geofisika... R. Volume 14. A. Suptandar. 2007.. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Wuryata. Hardjoprawiro. Kecamatan Ngaliyan. 2007. Purworejo dan Kebumen. Universitas Binawidya Ristianto. H. 1901. & Sarasin. Waluyodan Edy Hartantyo. Identifikasi Tanah Longsor dan Upaya Penanggulangan Studi Kasus di Kulon Progo. Sarasin.Sumadirdja. 2004.. P. Semarang :Unnes (tidak dipublikasikan).

34 .