You are on page 1of 22

PERUBAHAN FISIOLOGI DAN PSIKOLOGIS PADA MASA NIFAS &

MENYUSUI

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setelah persalinan seorang wanita akan mengalami masa nifas (peurperium).


Masanifasinidimulaisetelahplasentalahirdanberakhirketikaalat-
alatkandungankembalisepertikeadaansemulasebelumhamil.Masanifasmerupakanmasasesudahpersalina
n yang di perlukanuntukpemulihankembali organ reproduksidengantenggangwaktu 42 hariatau 6
mingguatau 1 bulan 7 hari . Padamasanifasiniselainmenyebabkanterjadinyaperubahan-perubahanpada
organ wanita, akanmenyebabkan pula terjadiperubahankondisikejiwaan (psikologi) ibu. Dari yang
semulabelummempunyaimomongankiniiatelahmenjadiibusekaligus orang tuabagibayimungilnya.
Menjadi orang tua,
adalahmasakrisistersendiridanibuharusmampumelewatimasatransisiini .Secarapsikologiseorangibuakan
merasakangejala-gejalapsikiartiksetelahmelahirkan. Beberapapenyesuaiandibutuhkanolehwanita yang
tengahmengalamimasamelahirkanbaiksecarafisikmaupunpsikis .Sebagianwanitaada yang
behasilmenghadapimasatersebutdansebagianwanitaada pula yang tidakbisamenyesuaikandiri,
bahkanbagimereka yang tidakdapatmenyesuaikan diri akanmengalamigangguan-gangguanpsikologis.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja perubahan fisiologis ibu pada masa nifas dan menyusui?
2. Apa saja perubahan psikologis ibu pada masa nifas dan menyusui?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui perubahan fisiologis ibu pada masa nifas dan menyusui.
2. Untuk mengetahui perubahan psikologis ibu pada masa nifas dan menyusui.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Perubahan Fisiologis Masa Nifas dan Menyusui


1. Perubahan Sistem Reproduksi
Perubahan alat-alat genital baik interna maupun eksterna kembali seperti semula seperti sebelum hamil
disebut involusi.
a) Involusi uterus.
Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi
sebelum hamil.
Proses involusi uterus adalah sebagai berikut:
1) Iskemia Miometrium – Hal ini disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus menerus dari uterus
setelah pengeluaran plasenta sehingga membuat uterus menjadi relatif anemi dan menyebabkan serat
otot atrofi.
2) Atrofi jaringan – Atrofi jaringan terjadi sebagai reaksi penghentian hormon esterogen saat pelepasan
plasenta.
3) Autolysis – Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterus. Enzim
proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah mengendur hingga panjangnya 10 kali panjang
sebelum hamil dan lebarnya 5 kali lebar sebelum hamil yang terjadi selama kehamilan. Hal ini
disebabkan karena penurunan hormon estrogen dan progesteron.
4) Efek Oksitosin – Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterus sehingga akan
menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini
membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan.
Ukuran uterus pada masa nifas akan mengecil seperti sebelum hamil. Perubahan-perubahan normal
pada uterus selama postpartum adalah sebagai berikut:
Involusi Uteri Tinggi Fundus Uteri Berat Diameter
Uterus Uterus
Plasenta lahir Setinggi pusat 1000 gram 12,5 cm
7 hari (minggu Pertengahan pusat 500 gram 7,5 cm
1) dan simpisis
14 hari (minggu Tidak teraba 350 gram 5 cm
2)
6 minggu Normal 60 gram 2,5 cm

2. Involusi Tempat Plasenta


Uterus pada bekas implantasi plasenta merupakan luka yang kasar dan menonjol ke dalam kavum
uteri. Segera setelah plasenta lahir, dengan cepat luka mengecil, pada akhir minggu ke-2 hanya sebesar
3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm. Penyembuhan luka bekas plasenta khas sekali. Pada permulaan
nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh thrombus. Luka
bekas plasenta tidak meninggalkan parut. Hal ini disebabkan karena diikuti pertumbuhan endometrium
baru di bawah permukaan luka. Regenerasi endometrium terjadi di tempat implantasi plasenta selama
sekitar 6 minggu. Pertumbuhan kelenjar endometrium ini berlangsung di dalam decidua basalis.
Pertumbuhan kelenjar ini mengikis pembuluh darah yang membeku pada tempat implantasi plasenta
hingga terkelupas dan tak dipakai lagi pada pembuangan lokia.
3. Perubahan Ligamen
Setelah bayi lahir, ligamen dan diafragma pelvis fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan saat
melahirkan, kembali seperti sedia kala. Perubahan ligamen yang dapat terjadi pasca melahirkan antara
lain: ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan letak uterus menjadi retrofleksi;
ligamen, fasia, jaringan penunjang alat genetalia menjadi agak kendor.
4. Perubahan pada Serviks
Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek, kendor, terkulai dan berbentuk seperti corong.
Hal ini disebabkan korpus uteri berkontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi, sehingga
perbatasan antara korpus dan serviks uteri berbentuk cincin. Warna serviks merah kehitam-hitaman
karena penuh pembuluh darah. Segera setelah bayi dilahirkan, tangan pemeriksa masih dapat
dimasukan 2–3 jari dan setelah 1 minggu hanya 1 jari saja yang dapat masuk.
Oleh karena hiperpalpasi dan retraksi serviks, robekan serviks dapat sembuh. Namun demikian,
selesai involusi, ostium eksternum tidak sama waktu sebelum hamil. Pada umumnya ostium eksternum
lebih besar, tetap ada retak-retak dan robekan-robekan pada pinggirnya, terutama pada pinggir
sampingnya.
5. Lokia
Akibat involusi uteri, lapisan luar desidua yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi nekrotik.
Desidua yang mati akan keluar bersama dengan sisa cairan. Percampuran antara darah dan desidua
inilah yang dinamakan lokia.
Lokia adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang
membuat organisme berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada vagina normal.
Lokia mempunyai bau yang amis (anyir) meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda-
beda pada setiap wanita. Lokia mengalami perubahan karena proses involusi. Pengeluaran lokia dapat
dibagi menjadi lokia rubra, sanguilenta, serosa dan alba. Perbedaan masing-masing lokia dapat dilihat
sebagai berikut:

Lokia Waktu Warna Ciri-ciri

Rubra 1-3 hari Merah Terdiri dari sel desidua, verniks


kehitaman caseosa, rambut lanugo, sisa
mekoneum dan sisa darah
Sanguilenta 3-7 hari
Putih bercampur Sisa darah bercampur lendir
merah
Serosa 7-14 hari Kekuningan/ Lebih sedikit darah dan lebih
kecoklatan banyak serum, juga terdiri dari
leukosit dan robekan laserasi
plasenta
Alba >14 hari Putih Mengandung leukosit, selaput
lendir serviks dan serabut jaringan
yang mati.
Umumnya jumlah lochia lebih sedikit bila wanita postpartum dalam posisi berbaring daripada berdiri.
Hal ini terjadi akibat pembuangan bersatu di vagina bagian atas saat wanita dalam posisi berbaring dan
kemudian akan mengalir keluar saat berdiri. Total jumlah rata-rata pengeluaran lokia sekitar 240
hingga 270 ml.
6. Perubahan Pada Vulva, Vagina dan Perineum
Selama proses persalinan vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan, setelah
beberapa hari persalinan kedua organ ini kembali dalam keadaan kendor. Rugae timbul kembali pada
minggu ke tiga. Himen tampak sebagai tonjolan kecil dan dalam proses pembentukan berubah menjadi
karankulae mitiformis yang khas bagi wanita multipara. Ukuran vagina akan selalu lebih besar
dibandingkan keadaan saat sebelum persalinan pertama.
Perubahan pada perineum pasca melahirkan terjadi pada saat perineum mengalami robekan.
Robekan jalan lahir dapat terjadi secara spontan ataupun dilakukan episiotomi dengan indikasi tertentu.
Meskipun demikian, latihan otot perineum dapat mengembalikan tonus tersebut dan dapat
mengencangkan vagina hingga tingkat tertentu. Hal ini dapat dilakukan pada akhir puerperium dengan
latihan harian.
7. Perubahan fisiologis masa nifas pada sistem pencernaan
Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya tingginya
kadar progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh, meningkatkan kolestrol darah,
dan melambatkan kontraksi otot-otot polos. Pasca melahirkan, kadar progesteron juga mulai menurun.
Namun demikian, faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal.
Beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan pada sistem pencernaan, antara lain :
a) Nafsu Makan
Pasca melahirkan, biasanya ibu merasa lapar sehingga diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan.
Pemulihan nafsu makan diperlukan waktu 3–4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar
progesteron menurun setelah melahirkan, asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau
dua hari.

b) Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat
setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan
motilitas ke keadaan normal.

c) Pengosongan Usus
Pasca melahirkan, ibu sering mengalami konstipasi. Hal ini disebabkan tonus otot usus menurun
selama proses persalinan dan awal masa pascapartum, diare sebelum persalinan, enema sebelum
melahirkan, kurang makan, dehidrasi, hemoroid ataupun laserasi jalan lahir. Sistem pencernaan pada
masa nifas membutuhkan waktu untuk kembali normal.
Beberapa cara agar ibu dapat buang air besar kembali teratur, antara lain:
1) Pemberian diet / makanan yang mengandung serat.
2) Pemberian cairan yang cukup.
3) Pengetahuan tentang pola eliminasi pasca melahirkan.
4) Pengetahuan tentang perawatan luka jalan lahir.
Bila usaha di atas tidak berhasil dapat dilakukan pemberian huknah atau obat yang lain.
8. Perubahan sistem perkemihan
Setelah proses persalinan berlangsung, biasanya ibu akan sulit untuk buang air kecil dalam 24 jam
pertama. Kemungkinanan penyebab dari keadaan ini adalah terdapat spasme sfinkter dan edema agar
kandung kemih sesudah bagian ini mengalami kompresi (tekanan) antara kepala janin dan tulang pubis
selama persalinan berlangsung.
Urin dalam jumlah besar akan di hasilkan dalam 12-36 jam post partum. Kadar hormone estrogen
yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan yang mencolok. Keadaan tersebut disebut
“dieresis” ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam 6 minggu.
Dinding kandung kemih memperlibatkan odem dan hiperymia, kadang-kadangodem trigonum
yang menimbulkan alostaksi dari uretra sehingga menjadi retensio urine. Kandung kemih dalam masa
nifas menjadi kurang sensitive dan kapasitas bertambah sehingga setiap kali kencing masih tertinggal
urine residual (normal kurang lebih 15 cc). dalam hal ini, sisa urine dan trauma pada kandung kemih
sewaktu persalinan dapat menyebabkan infeksi.

9. Perubahan sistem hematologi


Pada minggu-minggu terakhir kehamilan, kadar fibrinogen dan plasma serta faktor-faktor
pembekuan darah meningkat. Pada hari pertama post partum, kadar fibrinogen dan plasma akan sedikit
menurun tetapi darah lebih mengental dengan peningkatan viskositas sehingga meningkatkan faktor
pembekuan darah.
Leukositosis adalah meningkatnya jumlah sel-sel darah putih sebanyak 15.000 selama persalinan.
Jumlah leukosit akan tetap tinggi selama beberapa hari pertama masa post partum. Jumlah sel darah
putih akan tetap bisa naik lagi sampai 25.000 hingga 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita
tersebut mengalami persalinan lama.
Pada awal post partum, jumlah hemoglobin, hematokrit dan eritrosit sangat bervariasi. Hal ini
disebabkan volume darah, volume plasenta dan tingkat volume darah yang berubah-ubah. Tingkatan ini
dipengaruhi oleh status gizi dan hidarasi dari wanita tersebut. Jika hematokrit pada hari pertama atau
kedua lebih rendah dari titik 2 persen atau lebih tinggi daripada saat memasuki persalinan awal, maka
pasien dianggap telah kehilangan darah yang cukup banyak. Titik 2 persen kurang lebih sama dengan
kehilangan darah 500 ml darah.
Penurunan volume dan peningkatan sel darah pada kehamilan diasosiasikan dengan peningkatan
hematokrit dan hemoglobin pada hari ke 3-7 post partum dan akan normal dalam 4-5 minggu post
partum. Jumlah kehilangan darah selama masa persalinan kurang lebih 200-500 ml, minggu pertama
post partum berkisar 500-800 ml dan selama sisa masa nifas berkisar 500 ml.
10. Perubahan sistem kardiovaskuler
Selama kehamilan, volume darah normal digunakan untuk menampung aliran darah yang
meningkat, yang diperlukan oleh placenta dan pembuluh darah uteri. Penarikan kembali esterogen
menyebabkan dieresis yang terjadi secara cepat sehingga mengurangi volume plasma kembali pada
proporsi normal. Aliran ini terjadi dalam 2-4 jam pertama setelah kelahiran bayi. Selam masa ini, ibu
mengeluarkan banyak sekali jumlah urine. Hilangnya progesterone membantu mengurangi retensi
cairan yang melekat dengan meningkatnya vaskuler pada jaringan tersebut selama kehamilan bersama-
sama dengan trauma masa persalinan. Pada persalinan vagina kehilangan darah sekitar 200-500 ml,
sedangkan pada persalinan dengan SC, pengeluaran dua kali lipatnya. Perubahan terdiri dari volume
darah dan kadar Hmt (Haematokrit).
Setelah persalinan, shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relative akan bertambah.
Keadaan ini akan menyebabkan beban pada jantung dan akan menimbulkan decompensatio cordis pada
pasien dengan vitum cardio. Keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan
tumbuhnya haemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti sedia kala. Umumnya, ini akan
terjadi pada 3-5 hari post partum.
11. Perubahan tanda-tanda vital
a) Suhu badan
Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 derajat Celcius. Pasca melahirkan, suhu tubuh
dapat naik kurang lebih 0,5 derajat Celcius dari keadaan normal. Kenaikan suhu badan ini akibat dari
kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan maupun kelelahan. Kurang lebih pada hari ke-4 post
partum, suhu badan akan naik lagi. Hal ini diakibatkan ada pembentukan ASI, kemungkinan payudara
membengkak, maupun kemungkinan infeksi pada endometrium, mastitis, traktus genetalis ataupun
sistem lain. Apabila kenaikan suhu di atas 38 derajat celcius, waspada terhadap infeksi post partum.
b) Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali per menit. Pasca melahirkan, denyut nadi
dapat menjadi bradikardi maupun lebih cepat. Denyut nadi yang melebihi 100 kali per menit, harus
waspada kemungkinan infeksi atau perdarahan post partum.

c) Tekanan darah.
Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah dipompa
oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah normal manusia adalah sistolik antara
90-120 mmHg dan diastolik 60-80 mmHg. Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan darah
biasanya tidak berubah. Perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat
diakibatkan oleh perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi pada post partum merupakan tanda
terjadinya pre eklamsia post partum. Namun demikian, hal tersebut sangat jarang terjadi.
d) Pernafasan
Frekuensi pernafasan normal pada orang dewasa adalah 16-24 kali per menit. Pada ibu post
partum umumnya pernafasan lambat atau normal. Hal ini dikarenakan ibu dalam keadaan pemulihan
atau dalam kondisi istirahat. Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut
nadi. Bila suhu nadi tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan
khusus pada saluran nafas. Bila pernafasan pada masa post partum menjadi lebih cepat, kemungkinan
ada tanda-tanda syok.

12. Perubahan sistem endokrin


a) Hormon placenta
Hormon placenta menurun dengan cepat setelah persalinan. HCG (Human Chorionic
Gonadotropin) menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% dalam 3 jam hingga hari ke-7 post
partum dan sebagai omset pemenuhan mamae pada hari ke-3 post partum.

b) Hormone pituitary
Prolaktin darah akan meningkat dengan cepat. Pada wanita yang tidak menyusui, prolaktin
menurun dalam waktu 2 minggu. FSH dan LH akan meningkat pada fase konsentrasi folikuler ( minggu
ke-3) dan LH tetap rendah hingga ovulasi terjadi.
c) Hypotalamik pituitary ovarium
Lamanya seorang wanita mendapatkan menstruasi juga di pengaruhi oleh faktor menyusui.
Sering kali menstruasi pertama ini bersifat anovulasi karena rendahnya kadar estrogen dan progesteron.
d) Kadar estrogen
Setelah persalinan, terjadi penurunan kadar estrogen yang bermakna sehingga aktifitas prolaktin
yang juga sedang meningkat dapat mempengaruhi kelenjar mamae dalam menghasilkan ASI.

13. Perubahan sistem muskuloskeletal


Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah partus. Pembuluh-pembuluh darah yang berada di
antara anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan pendarahan setelah
placenta dilahirkan.
Ligament-ligamen, diafragma pelvis, serta fasia yang meregang pada waktu persalinan, secara
berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tak jarang uterus jatuh kebelakang dan
menjadi retrofleksi karena ligamentum retundum menjadi kendor. Tidak jarang pula wanita mengeluh
“kandungannya turun” setelah melahirkan karena ligament, fasia, jaringan penunjang alat genitalia
menjadi kendor. Stabilitasi secara sempurna terjadi pada 6-8 minngu setelah persalinan.
Sebagai akibat putusnya serat-serat plastic kulit dan distensi yang belangsung lama akibat
besarnya uterus pada waktu hamil, dinding abdomen masih agak lunak dan kendor untuk sementara
waktu. Untuk memulihkan kembali jaringan-jaringan penunjang alat genitalia, serta otot-otot dinding
perut dan dasar panggul, di anjurkan untuk melakukan latihan-latihan tertentu. Pada 2 hari post partum,
sudah dapat fisioterapi.
14. Kelenjar Mamae
a) Payudara
Puting susu, areola, duktus & lobus membesar, vaskularisasi meningkat (Breast Engorgement).
b) Laktasi
Masing – masing buah dada terdiri dari 15 – 24 lobi yang terletak terpisah satu sama lain oleh
jaringan lemak. Tiap lobus terdiri dari lobuli yang terdiri pula dari acini yang menghasilkan air susu.
Tiap lobules mempunyai saluran halus untuk mengalirkan air susu. Saluran – saluran yang halus ini
bersatu menjadi satu saluran untuk tiap lobus. Saluran ini disebut ductus lactiferosus yang memusat
menuju ke putting susu di mana masing – masing bermuara.Keadaan buah dada pada 2 hari pertama
nifas sama dengan keadaan dalam kehamilan. Pada waktu ini buah dada belum mengandung susu,
melainkan colostrum yang dapat dikeluarkan dengan memijat areola mamae. Colostrum adalah cairan
kuning yang disekresi oleh payudara pada awal masa nifas.Progesteron dan estrogen yang dihasilkan
plasenta merangsang pertumbuhan kelenjar – kelenjar susu, sedangkan progesterone merangsang
pertumbuhan saluran kelenjar. Kedua hormone ini mengerem LTH (prolactin). Setelah plasenta lahir,
maka LTH dengan bebas dapat merangsang laktasi.Pada kira – kira hari ke 3 postpartum, buah dada
menjadi besar, keras dan nyeri. Ini menandai permulaan sekresi air susu dan kalau areola mamae
dipijat, keluarlah cairan putih dari puting susu.

B. Perubahan Psikologis Masa Nifas dan Menyusui


Menjadi orang tua adalah merupakan krisis dari melewati masa transisi. Masa transisi pada postpartum
yang harus diperhatikan adalah :
1. Fase Honeymoon
Phase Honeymoon ialah Phase anak lahir dimana terjadi intimasi dan kontak yang lama antara ibu –
ayah – anak. Hal ini dapat dikatakan sebagai “ Psikis Honeymoon “ yang tidak memerlukan hal-hal
yang romantik. Masing-masing saling memperhatikan anaknya dan menciptakan hubungan yang baru.
2. Ikatan kasih ( Bonding dan Attachment )
Terjadi pada kala IV, dimana diadakan kontak antara ibu-ayah-anak, dan tetap dalam ikatan kasih,
penting bagi perawat untuk memikirkan bagaimana agar hal tersebut dapat terlaksana partisipasi suami
dalam proses persalinan merupakan salah satu upaya untuk proses ikatan kasih tersebut.
3. Fase Pada Masa Nifas
a) Fase dependent
Pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan, ketergantungan ibu sangat menonjol. Pada
saat ini ibu mengharapkan segala kebutuhannya dapat dipenuhi oleh orang lain. Rubin (1991)
menetapkan periode beberapa hari ini sebagai fase menerima yang disebut dengan taking in phase.
Dalam penjelasan klasik Rubin, fase menerima ini berlangsung selama 2 sampai 3 hari.
Ia akan mengulang-ulang pengalamannya waktu bersalin dan melahirkan.
Pada saat ini, ibu memerlukan istirahat yang cukup agar ibu dapat menjalan masa nifas
selanjutnya dengan baik.
Membutuhkan nutrisi yang lebih, karena biasanya selera makan ibu menjadi bertambah. Akan
tetapi jika ibu kurang makan, bisa mengganggu proses masa nifas.
b) Fase independent
Pada ibu-ibu yang mendapat perawatan yang memadai pada hari-hari pertama setelah
melahirkan, maka pada hari kedua sampai keempat mulai muncul kembali keinginan untuk melakukan
berbagai aktivitas sendiri. Di satu sisi ibu masih membutuhkan bantuan orang lain tetapi disisi lain ia
ingin melakukan aktivitasnya sendiri. Dengan penuh semangat ia belajar mempraktekkan cara-cara
merawat bayi. Rubin (1961) menggambarkan fase ini sebagai fase taking hold.
Pada fase taking hold, ibu berusaha keras untuk menguasai tentang ketrampilan perawatan bayi,
misalnya menggendong, menyusui, memandikan dan memasang popok. Pada masa ini ibu agak
sensitive dan merasa tidak mahir dalam melakukan hal-hal tsb, cenderung menerima nasihat bidan atau
perawat karena ia terbuka untuk menerima pengetahuan dan kritikan yang bersifat pribadi. Pada tahap
ini Bidan penting memperhatikan perubahan yang mungkin terjadi.
Pada beberapa wanita yang sulit menyesuaikan diri dengan perannya, sehingga memerlukan
dukungan tambahan. Hal ini dapat ditemukan pada :
1) Orang tua yang baru melahirkan untuk pertama kali dan belum pernah mempunyai pengalaman
mengasuh anak
2) Wanita karir
3) Wanita yang tidak mempunyai keluarga atau teman dekat untuk membagi suka dan duka
4) Ibu dengan anak yang sudah remaja
5) Single parent
c) Fase interdependent
Periode ini biasanya terjadi “after back to home” dan sangat berpengaruh terhadap waktu dan
perhatian yang diberikan oleh keluarga. Ibu akan mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayi,
ia harus beradaptasi dengan kebutuhan bayi yang sangat tergantung, yang menyebabkan berkurangnya
hak ibu, kebebasan dan hubungan sosial.
Pada fase ini, kegiatan-kegiatan yang ada kadang-kadang melibatkan seluruh anggota keluarga,
tetapi kadang-kadang juga tidak melibatkan salah satu anggota keluarga. Misalnya, dalam menjalankan
perannya, ibu begitu sibuk dengan bayinya sehingga sering menimbulkan kecemburuan atau rasa iri
pada diri suami atau anak yang lain.
Pada fase ini harus dimulai fase mandiri (letting go) dimana masing-masing individu
mempunyai kebutuhan sendiri-sendiri, namun tetap dapat menjalankan perannya dan masing-masing
harus berusaha memperkuat relasi sebagai orang dewasa yang menjadi unit dasar dari sebuah keluarga.
4. Bounding Attachment
Bounding merupakan satu langkah awal untuk mengungkapkan perasaan afeksi ( kasih sayang
)sedangkan Atachmen merupakan interaksi antara ibu dan bayi secara spesifik sepanjang waktu.Jadi
Bounding Atachmen adalah kontak awal antara ibu dan bayi setelah kelahiran, untuk memberikan kasih
sayang yang merupakan dasar interaksi antara keduanya secara terus menerus. Dengan kasih sayang
yang diberikan terhadap bayinya maka akan terbentuk ikatan antara orang tua dan bayinya.
5. Respon Antara Ibu dan Bayinya Sejak Kontak Awal Hingga Tahap Perkembangannya.
a) Touch ( sentuhan ).
Ibu memulai dengan ujung jarinya untuk memeriksa bagian kepala dan ekstremitas bayinya.
Dalam waktu singkat secara terbuka perubahan diberikan untuk membelai tubuh. Dan mungkin bayi
akan dipeluk dilengan ibu. Gerakan dilanjutkan sebagai gerakan lembut untuk menenangkan bayi. Bayi
akan merapat pada payudara ibu. Menggenggam satu jari atau seuntai rambut dan terjadilah ikatan
antara keduanya.
b) Eye To Eye Contact ( Kontak Mata )
Kesadaran untuk membuat kontak mata dilakukan kemudian dengan segera. Kontak mata
mempunyai efek yang erat terhadap perkembangan dimulainya hubungan dan rasa percaya sebagai
factor yang penting sebagai hubungan manusia pada umumnya. Bayi baru lahir dapat memusatkan
perhatian pada suatu obyek, satu jam setelah kelahiran pada jarak sekitar 20-25 cm, dan dapat
memusatkan pandangan sebaik orang dewasa pada usia kira-kira 4 bulan, perlu perhatian terhadap
factor-faktor yang menghambat proses tersebut
Mis ; Pemberian salep mata dapat ditunda beberapa waktu sehingga tidak mengganggu adanya kontak
mata ibu dan bayi
c) Odor ( Bau Badan ).
Indra penciuman bayi sudah berkembang dengan baik dan masih memainkan peranan dalam
nalurinya untuk mempertahankan hidup.
Penelitian menunjukan bahwa kegiatan seorang bayi, detak jantung dan pola bernapasnya
berubah setiap kali hadir bau yang baru, tetapi bersamaan makin dikenalnya bau itu sibayipun berhenti
bereaksi.Pada akhir minggu I seorang bayi dapat mengenali ibunya dari bau badan dan air susu
ibunya.Indra Penciuman bayi akan sangat kuat, jika seorang ibu dapat memberikan bayinya ASI pada
waktu tertentu.
d) Body Warm ( Kehangatan Tubuh )
Jika tidak ada komplikasi yang serius seorang ibu akan dapat langsung meletakan bayinya diatas
perut ibu, baik setalah tahap kedua dari proses melahirkan atau sebelum tali pusat dipotong.
Kontak yang segera ini memberikan banyak manfaat baik bagi ibu maupun sibayi kontak kulit agar
bayi tetap hangat.
e) Voice ( Suara )
Respon antara ibu dan bayi berupa suara masing-masing orang tua akan menantikan tangisan
pertama bayinya. Dari tangisan tersebut ibu merasa tenang karena merasa bayinya baik ( hidup ).
Bayi dapat mendengar sejak dalam rahim, jadi tidak mengherankan bila ia dapat mendengar suara-
suara dan membedakan nada dan kekuatan sejak lahir, meskipun suara-suara itu terhalang selama
beberapa hari terhalang cairan amniotic dari rahim yang melekat pada telinga.
Banyak Penelitian memperhatikan bahwa bayi-bayi baru lahir bukan hanya mendengar secara pasif
melainkan mendengarkan dengan sengaja dan mereka nampaknya lebih dapat menyesuaikan diri
dengan suara-suara tertentu daripada yang lain.Contoh ; suara detak jantung ibu.
f) Entrainment ( gaya bahasa )
BBL menemukan perubahan struktur pembicaraan dari orang dewasa artinya perkembangan bayi
dalam bahasa dipengaruhi diatur, jauh sebelum ia menggunakan bahasa dalam berkomunikasi (
komunikasi yang positip )
g) Biorhytmicity ( Irama Kehidupan )
Janin dalam rahim dapat dikatakan menyesuaikan dengan irama alamiah ibunya seperti halnya
denyut jantung. Salah satu tugas bayi setelah adalah menyesuaikan irama dirinya sendiri. Orang tua
dapat membantu proses ini dengan memberikan perawatan penuh kasih yang secara konsisten dan
dengan menggunakan tanda bahaya untuk mengembangkan respon bayi dan interaksi social serta
kesempatan untuk belajar.
6. Perubahan peran
Terjadinya perubahan peran, yaitu menjadi orang tua setelah kelahiran anak. Sebenarnya suami
dan istri sudah mengalami perubahan peran mereka sejak masa kehamilan. Perubahan peran ini
semakin meningkat setelah kelahiran anak. Contoh, bentuk perawatan dan asuhan sudah mulai
diberikan oleh si ibu kepada bayinya saat masih berada dalam kandungan adalah dengan cara
memelihara kesehatannya selama masih hamil, memperhatikan makanan dengan gizi yang baik, cukup
istirahat, berolah raga, dan sebagainya.
Selanjutnya, dalam periode postpartum atau masa nifas muncul tugas dan tanggung jawab baru,
disertai dengan perubahan-perubahan perilaku. Perubahan tingkah laku ini akan terus berkembang dan
selalu mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan waktu cenderung mengikuti suatu arah
yang bisa diramalkan.
Pada awalnya, orang tua belajar mengenal bayinya dan sebaliknya bayi belajar mengenal orang
tuanya lewat suara, bau badan dan sebagainya. Orang tua juga belajar mengenal kebutuhan-kebutuhan
bayinya akan kasih sayang, perhatian, makanan, sosialisasi dan perlindungan.
Periode berikutnya adalah proses menyatunya bayi dengan keluarga sebagai satu kesatuan/unit
keluarga. Masa konsolidasi ini menyangkut peran negosiasi (suami-istri, ayah-ibu, orang tua-anak,
anak dan anak).
7. Peran menjadi orang tua setelah melahirkan
Selama periode postpartum, tugas dan tanggung jawab baru muncul dan kebiasaan lama perlu
diubah atau ditambah dengan yang baru. Ibu dan ayah, orang tua harus mengenali hubungan mereka
dengan bayinya. Bayi perlu perlindungan, perawatan dan sosialisasi. Periode ini ditandai oleh masa
pembelajaran yang intensif dan tuntutan untuk mengasuh. Lama periode ini bervariasi, tetapi biasanya
berlangsung selama kira-kira empat minggu.
Periode berikutnya mencerminkan satu waktu untuk bersama-sama membangun kesatuan keluarga.
Periode waktu meliputi peran negosiasi (suami-istri, ibu-ayah, saudara-saudara) orang tua
mendemonstrasikan kompetensi yang semakin tinggi dalam menjalankan aktivitas merawat bayi dan
menjadi lebih sensitif terhadap makna perilaku bayi. Periode berlangsung kira-kira selama 2 bulan.
8. Tugas dan tanggung jawab orang tua
Tugas pertama orang tua adalah mencoba menerima keadaan bila anak yang dilahirkan tidak sesuai
dengan yang diharapkan. Karena dampak dari kekecewaan ini dapat mempengaruhi proses pengasuhan
anak.
Walaupun kebutuhan fisik terpenuhi, tetapi kekecewaan tersebut akan menyebabkan orang tua
kurang melibatkan diri secara penuh dan utuh. Bila perasaan kecewa tersebut tidak segera diatasi, akan
membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menerima kehadiran anak yang tidak sesuai dengan
harapan tersebut.
Orang tua perlu memiliki keterampilan dalam merawat bayi mereka, yang meliputi kegiatan-
kegiatan pengasuhan, mengamati tanda-tanda komunikasi yang diberikan bayi untuk memenuhi
kebutuhannya serta bereaksi secara cepat dan tepat terhadap tanda-tanda tersebut.
Berikut ini adalah tugas dan tanggung jawab orang tua terhadap bayinya, antara lain :
a) Orang tua harus menerima keadaan anak yang sebenarnya dan tidak terus terbawa dengan khayalan
dan impian yang dimilikinya tentang figur anak idealnya. Hal ini berarti orang tua harus menerima
penampilan fisik, jenis kelamin, temperamen dan status fisik anaknya.
b) Orang tua harus yakin bahwa bayinya yang baru lahir adalah seorang pdibadi yang terpisah dari diri
mereka, artinya seseorang yang memiliki banyak kebutuhan dan memerlukan perawatan.
c) Orang tua harus bisa menguasai cara merawat bayinya. Hal ini termasuk aktivitas merawat bayi,
memperhatikan gerakan komunikasi yang dilakukan bayi dalam mengatakan apa yang diperlukan dan
member respon yang cepat
d) Orang tua harus menetapkan criteria evaluasi yang baik dan dapat dipakai untuk menilai kesuksesan
atau kegagalan hal-hal yang dilakukan pada bayi.
e) Orang tua harus menetapkan suatu tempat bagi bayi baru lahir di dalam keluarga. Baik bayi ini
merupakan yang pertama atau yang terakhir, semua anggota keluarga harus menyesuaikan peran
mereka dalam menerima kedatangan bayi.
Dalam menunaikan tugas dan tanggung jawabnya, harga diri orang tua akan tumbuh bersama
dengan meningkatnya kemampuan merawat/mengasuh bayi. Oleh sebab itu bidan perlu memberikan
bimbingan kepada si ibu, bagaimana cara merawat bayinya, untuk membantu mengangkat harga
dirinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi suksesnya masa transisi ke masa menjadi orang tua pada masa
post partum adalah :
a) Respon dan dukungan dari keluarga dan teman
b) Hubungan dari pengalaman melahirkan terhadap harapan dan aspirasi
c) Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu
d) Pengaruh budaya

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Secara psikologis, setelah melahirkan seorang ibu akan merasakan gelaja-gejala psikiatrik,
demikian juga pada masa menyusui. Meskipun demikian, ada pula ibu yang tidak mengalami hal ini.
Agar perubahan psikologi yang dialami tidak berlebihan, ibu perlu mengetahui tentang hal yang lebih
lanjut. Wanita banyak mengalami perubahan emosi selama masa nifas sementara ia menyesuaikan diri
menjadi seorang ibu.
Penting sekali bagi seorang bidan untuk mengetahui tentang penyesuaian psikologis yang
normal sehingga ia dapat menilai apakah seorang ibu memerlukan asuhan khusus dalam masa nifas ini
atau tidak.
B. Saran
Meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam penanganan kasus ibu yang mengalami
perubahan fisiologi dan psikologis pada masa nifas.
perubahan fisiologi dan psikologi pada masa nifas dan

menyusui

A. Perubahan Sistem Kardio vaskuler masa nifas

Sistem peredaran darah atau sistem kardiovaskular adalah suatu sistem organ yang berfungsi

memindahkan zat ke dan dari sel. Sistem ini juga menolong stabilisasi suhu dan pH tubuh (bagian dari

homeostasis).

Organ-organ penyusun sistem kardiovaskuler terdiri atas jantung sebagai alat pompa utama,

pembuluh darah, serta darah. Sistem kardiovaskuler yang sehat ditandai dengan proses sirkulasi yang

normal, apabila sirkulasi terhambat akibat keabnormalan dari organ-organ penyusun sistem

kardiovaskuler ini maka akan dapat menimbulkan berbagai penyakit bahkan bisa mematikan.

1. Volume darah

Perubahan volume darah tergantung pada beberapa faktor, misalnya kehilangan darah selama

melahirkan dan mobilisasi serta pengeluaran caira ekstravaskuler (edema fisiologis). Kehilangan darah

merupakan akibat penurunan volume darah total yang cepat, tetapi terbatas. Setelah itu terjadi

perpindahan normal cairan tubuh y ang menyebabkan volume darah menurun dengan lambat. Pada

minggu ke 3 dan ke 4 setelah bayi lahir volume darah biasanya menurun sampai mencapai volume

darah sebelum hamil.

Pada persalinan pervaginam kehilangan darah sekitar 300-400 cc. bila kehiran melalui seksio sesaria,

maka kehilangan darah dapat dua kali lipat. Perubahan terdiri dari volume darah dan hermatokrit

(haemoconcentration). Bila perasalinan pervaginan, hematokrit akan naik dan pada seksio sesaria,
hemaktokrit cendrung stabil dan kembali normal setelah 4-6 minggu.

Tiga perubahan fisiologi pascapartum yang melindungi wanita:

 hilangnya sirkulasi uteroplasenta yang mengurangi ukuran pembuluh darah maternal 10% sampai 15%

 hilangnya fungsi endokrin plasenta yang menghilangkan stimulus vasolitasi

 terjadinya mobilisasi air ekstravaskuler yang disimpanselamaa wanita hamil

2. Curah Jantung

Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat sepanjang msa hamil. Segera

setelah wanita melahirkan, keadan ini meningkat bahkan lebih tinggiselamaa 30 sampai 60 menit

karena darah yang biasaya melintasi sikuir uteroplasenta tiba-tiba kembali kesirkulasi umum. Nilai ini

meningkat pada semua jenis kelahiran.

Setelah terjadi diuresis yang mencolok akibat penurunan kadar estrogen, volume darah

kembali kepada keadaan tidak hamil. Jumlah sel darah merah dan hemoglobin kembali normal pada

hari ke-5.
Meskipun kadar estrogen mengalami penurunan yang sangat besar selama masa nifas, namun

kadarnya masih tetap lebih tinggi daripada normal. Plasma darah tidak begitu mengandung cairan dan

dengan demikian daya koagulasi meningkat. Pembekuan darah harus dicegah dengan penanganan yang

cermat dan penekanan pada ambulasi dini.

Penarikan kembali esterogen menyebabkan diuresis terjadi, yang secara cepat mengurangi

volume plasma kembali pada proporsi normal. Aliran ini terjadi dalam 2-4 jam pertama setelah

kelahiran bayi. Selama masa ini ibu mengeluarkan banyak sekali jumlah urin. Hilangnya progesteron

membantu mengurangi retensi cairan yang melekat dengan meningkatnya vaskuler pada jaringan

tersebut selama kehamilan bersama-sama dengan trauma selama persalinan.

Setelah persalinan, shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relatif akan

bertambah. Keadaan ini akan menimbulkan beban pada jantung, dapat menimbulkan decompensation

cordia pada penderita vitum cordia. Keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi dengan

timbulnya haemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti sediakala, umumnya hal ini terjadi

pada hari 3-5 post partum.

Pada Sistem Kardiovaskuler

 Tanda-tanda vital

Tekanan darah sama saat bersalin, suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi

bradikardi.

 Volume darah

Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu

Persalinan normal : 200 – 500 cc, sesaria : 600 – 800 cc.

 Perubahan hematologik

Ht meningkat, leukosit meningkat, neutrophil meningkat.

 Jantung

Kembali ke posisi normal, COP meningkat dan normal 2-3 minggu.

B. Perubahan Sistem Hematologi Masa Nifas


Hematologi (Darah) adalah suatu suspensi partikel dalam suatu larutan kolid cair yang

mengandung elektrolit dan merupakan suatu medium pertukaran antar sel yang terfikasi dalam tubuh

dan lingkungan luar (Silvia A. Price dan Lorraine M. Wilson : 2005 )

1. Perubahan Vaskular Lokal

Perubahan lokal terlihat jelas pada tungkai bawah dan akibat tekanan yang ditimbulkan oleh

uterus terhadap vena pelvik. Oleh karena 1/3 darah dalam sirkulasi berada dalam tungkai bawah maka

peningkatan tekanan terhadap vena akan menyebabkan varises dan edema vulva dantungkai. Keadaan

ini lebih sering terjadi pada siang hari akibat sering berdiri. Keadaan ini cenderung untuk reversibel

saat malam dimana pasien berada dalam keadaan berbaring : edema akan direabsorbsi – venous return

meningkat dan output ginjal meningkat sehingga terjadi nocturnal diuresis. Bila pasien dalam keadaan

telentang, tekanan uterus terhadap vena akan juga meningkat sehingga aliran balik ke jantung menurun

dan terjadi penurunan cardiac output.

Suatu contoh ekstrim terjadi saat uterus menekan vena cava dan menurunkan CO sehingga

pasien terengah-engah dan dapat menjadi tidak sadarkan diri. Dapat terjadi sensasi nause dan gejala

muntah. Gejala ini – Supine Hypotensive Syndrome harus senantiasa diingat saat melakukan

pemeriksaan kehamilan pada pasien hamil lanjut.

Perubahan nilai hasil pemeriksaan darah seperti nilai haemoglobin merupakan akibat dari

kebutuhan kehamilan yang dipengaruhi oleh peningkatan volume plasma.


Terjadi peningkatan eritrosit sebesar 18% dan terjadi peningkatan volume plasma sebesar 45%.

Dengan demikian maka terjadi penurunan hitungeritrosit per mililiter dari 4.5 juta menjadi 3.8 juta.

Dengan semakin bertambahnya usia kehamilan, volume plasma semakin menurun dan hitung eritrosit

menjadi sedikit meningkat sehingga kadar hematokrit selama kehamilan menurun namun sedikit

meningkat menjelang aterm.

Packed Cell Volume (% ase )

Non – pregnant 40 – 42

Minggu ke 20 39

Minggu ke 30 38

Minggu ke 40 40

Perubahan kadar haemoglobin paralel dengan yang terjadi pada eritrosit. Mean Cell

Haemoglobin Concentration pada keadaan non pregnant adalah 34% yang berarti bahwa setiap 100 ml

eritrosit mengandung 34 g haemoglobin. Nilai ini selama kehamilan tidak berubah dengan demikian

maka nilai volume eritrosit total dan haemoglobin total meningkat selama kehamilan

Peningkatan volume plasma menyebabkan penurunan kadar haemoglobin.

Selama masa kehamilan kadar haemoglobin turun sampai minggu ke 36. Penurunan ini mulai terlihat

pada minggu ke 12 dan nilai minimum terlihat pada minggu ke 32.

Terlihat dari data diatas bahwa tidak ada satu nilai normal yang dapat ditemukan selama

kehamilan. Fakta ini penting dalam menegakkan diagnosa anemia dalam kehamilan. Pada minggu ke

30, kadar haemoglobin sebesar 105g/l adalah normal, namun nilai tersebut pada minggu ke 20

meunjukkan adanya anemia.

2. Zat besi
Dengan peningkatan jumlah eritrosit, kebutuhan akan zat besi dalam proses produksi

hemoglobin meningkat. Bila suplemen zat besi tidak diberikan, kemungkinan akan terjadi anemia

defisiensi zat besi.

Kebutuhan zat besi pada paruh kedua kehamilan kira-kira 6–7 mg/hari. Bila suplemen zat besi

tidak tersedia, janin akan menggunakan cadangan zat besi maternal. Sehingga anemia pada neonatus

jarang terjadi ; akan tetapi defisiensi zat besi berat pada ibu dapat menyebabkan persalinan preterm,

abortus, dan janin mati.

3. Leukosit

Terjadi kenaikan kadar leukosit selama kehamilan dari 7.109 / l dalam keadaan tidak hamil

menjadi 10.5.109 / l. Peningkatan ini hampir semuanya disebabkan oleh peningkatan sel PMN –

polimorfonuclear. Pada saat inpartu, jumlah sel darah

4. Trombosit

Pada kehamilan terjadi thromobositopoeisis akibat kebutuhan yang Kadar prostacyclin (PGI2)

sebuah “platelet aggregation inhibitor” dan Thromboxane (A2) sebuah perangsang aggregasi platelet

dan vasokonstriktor meningkat selama kehamilan.

Nilai rata – rata selama awal kehamilan adalah 275.000 / mm3 sampai 260.000 / mm3 pada

minggu ke 35. Mean Platelet Size sedikit meningkat dan life span trombosit lebih singkat.

5. Sistem Pembekuan Darah

Kehamilan disebut sebagai hipercoagulable state. Terjadi peningkatan kadar fibrinogen dan

faktor VII sampai X secara progresif.

Kadar fibrinogen dari 1.5 – 4.5 g/L (tidak hamil) meningkat dan sampai akhir kehamilan

mencapai 4 – 6.5 g/L. Sintesa fibrinogen terus meningkat akibat meningkatnya penggunaan dalam

sirkulasi uteroplasenta atau sebagai akibat tingginya kadar estrogen.

Faktor II, V dan XI sampai XIII tidak berubah atau justru malah semakin menurun.

Nampaknya peningkatan resiko tromboemboli yang terkait dengan kehamilan lebih diakibatkan

oleh stasis vena dan kerusakan dinding pembuluh darah dibandingkan dengan adanya perubahan faktor

koagulasi itu sendiri.


C. Konsep Dasar Perubahan Psikososial Dalam Masa Nifas

1. Perubahan peran

Terjadinya perubahan peran, yaitu menjadi orang tua setelah kelahiran anak. Sebenarnya suami

dan istri sudah mengalami perubahan peran mereka sejak masa kehamilan. Perubahan peran ini

semakin meningkat setelah kelahiran anak. Contoh, bentuk perawatan dan asuhan sudah mulai

diberikan oleh si ibu kepada bayinya saat masih berada dalam kandungan adalah dengan cara

memelihara kesehatannya selama masih hamil, memperhatikan makanan dengan gizi yang baik, cukup

istirahat, berolah raga, dan sebagainya.

Selanjutnya, dalam periode postpartum atau masa nifas muncul tugas dan tanggung jawab baru,

disertai dengan perubahan-perubahan perilaku. Perubahan tingkah laku ini akan terus berkembang dan

selalu mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan waktu cenderung mengikuti suatu arah

yang bisa diramalkan.

Pada awalnya, orang tua belajar mengenal bayinya dan sebaliknya bayi belajar mengenal orang

tuanya lewat suara, bau badan dan sebagainya. Orang tua juga belajar mengenal kebutuhan-kebutuhan

bayinya akan kasih sayang, perhatian, makanan, sosialisasi dan perlindungan.

Periode berikutnya adalah proses menyatunya bayi dengan keluarga sebagai satu kesatuan/unit

keluarga. Masa konsolidasi ini menyangkut peran negosiasi (suami-istri, ayah-ibu, orang tua-anak,

anak dan anak).

2. Peran menjadi orang tua setelah melahirkan

Selama periode postpartum, tugas dan tanggung jawab baru muncul dan kebiasaan lama perlu

diubah atau ditambah dengan yang baru. Ibu dan ayah, orang tua harus mengenali hubungan mereka

dengan bayinya. Bayi perlu perlindungan, perawatan dan sosialisasi. Periode ini ditandai oleh masa

pembelajaran yang intensif dan tuntutan untuk mengasuh. Lama periode ini bervariasi, tetapi biasanya

berlangsung selama kira-kira empat minggu.

Periode berikutnya mencerminkan satu waktu untuk bersama-sama membangun kesatuan

keluarga. Periode waktu meliputi peran negosiasi (suami-istri, ibu-ayah, saudara-saudara) orang tua

mendemonstrasikan kompetensi yang semakin tinggi dalam menjalankan aktivitas merawat bayi dan

menjadi lebih sensitif terhadap makna perilaku bayi. Periode berlangsung kira-kira selama 2 bulan.

3. Tugas dan tanggung jawab orang tua


Tugas pertama orang tua adalah mencoba menerima keadaan bila anak yang dilahirkan tidak

sesuai dengan yang diharapkan. Karena dampak dari kekecewaan ini dapat mempengaruhi proses

pengasuhan anak.

Walaupun kebutuhan fisik terpenuhi, tetapi kekecewaan tersebut akan menyebabkan orang tua

kurang melibatkan diri secara penuh dan utuh. Bila perasaan kecewa tersebut tidak segera diatasi, akan

membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menerima kehadiran anak yang tidak sesuai dengan

harapan tersebut.

Orang tua perlu memiliki keterampilan dalam merawat bayi mereka, yang meliputi kegiatan-

kegiatan pengasuhan, mengamati tanda-tanda komunikasi yang diberikan bayi untuk memenuhi

kebutuhannya serta bereaksi secara cepat dan tepat terhadap tanda-tanda tersebut.

Berikut ini adalah tugas dan tanggung jawab orang tua terhadap bayinya, antara lain :

1. Orang tua harus menerima keadaan anak yang sebenarnya dan tidak terus terbawa dengan

khayalan dan impian yang dimilikinya tentang figur anak idealnya. Hal ini berarti orang tua

harus menerima penampilan fisik, jenis kelamin, temperamen dan status fisik anaknya.

2. Orang tua harus yakin bahwa bayinya yang baru lahir adalah seorang pdibadi yang terpisah dari

diri mereka, artinya seseorang yang memiliki banyak kebutuhan dan memerlukan perawatan.

3. Orang tua harus bisa menguasai cara merawat bayinya. Hal ini termasuk aktivitas merawat bayi,

memperhatikan gerakan komunikasi yang dilakukan bayi dalam mengatakan apa yang

diperlukan dan member respon yang cepat

4. Orang tua harus menetapkan criteria evaluasi yang baik dan dapat dipakai untuk menilai

kesuksesan atau kegagalan hal-hal yang dilakukan pada bayi.

5. Orang tua harus menetapkan suatu tempat bagi bayi baru lahir di dalam keluarga. Baik bayi ini

merupakan yang pertama atau yang terakhir, semua anggota keluarga harus menyesuaikan

peran mereka dalam menerima kedatangan bayi.

Dalam menunaikan tugas dan tanggung jawabnya, harga diri orang tua akan tumbuh bersama

dengan meningkatnya kemampuan merawat/mengasuh bayi. Oleh sebab itu bidan perlu memberikan

bimbingan kepada si ibu, bagaimana cara merawat bayinya, untuk membantu mengangkat harga

dirinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi suksesnya masa transisi ke masa menjadi orang tua pada masa post

partum adalah :

1. Respon dan dukungan dari keluarga dan teman

2. Hubungan dari pengalaman melahirkan terhadap harapan dan aspirasi

3. Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu

4. Pengaruh budaya

Masa Adaptasi Ibu Dalam Masa Nifas

Ada tiga fase dalam masa adaptasi peran pada masa nifas, antara lain adalah :

1. Fase dependent

Pada hari pertama dan kedua setelah melahirkan, ketergantungan ibu sangat menonjol. Pada saat

ini ibu mengharapkan segala kebutuhannya dapat dipenuhi oleh orang lain. Rubin (1991) menetapkan

periode beberapa hari ini sebagai fase menerima yang disebut dengan taking in phase. Dalam

penjelasan klasik Rubin, fase menerima ini berlangsung selama 2 sampai 3 hari.

Ia akan mengulang-ulang pengalamannya waktu bersalin dan melahirkan.Pada saat ini, ibu

memerlukan istirahat yang cukup agar ibu dapat menjalan masa nifas selanjutnya dengan baik.

Membutuhkan nutrisi yang lebih, karena biasanya selera makan ibu menjadi bertambah. Akan

tetapi jika ibu kurang makan, bisa mengganggu proses masa nifas.

2. Fase independent

Pada ibu-ibu yang mendapat perawatan yang memadai pada hari-hari pertama setelah

melahirkan, maka pada hari kedua sampai keempat mulai muncul kembali keinginan untuk melakukan

berbagai aktivitas sendiri. Di satu sisi ibu masih membutuhkan bantuan orang lain tetapi disisi lain ia

ingin melakukan aktivitasnya sendiri. Dengan penuh semangat ia belajar mempraktekkan cara-cara

merawat bayi. Rubin (1961) menggambarkan fase ini sebagai fase taking hold.

Pada fase taking hold, ibu berusaha keras untuk menguasai tentang ketrampilan perawatan bayi,

misalnya menggendong, menyusui, memandikan dan memasang popok. Pada masa ini ibu agak

sensitive dan merasa tidak mahir dalam melakukan hal-hal tsb, cenderung menerima nasihat bidan atau

perawat karena ia terbuka untuk menerima pengetahuan dan kritikan yang bersifat pribadi. Pada tahap

ini Bidan penting memperhatikan perubahan yang mungkin terjadi.


Pada beberapa wanita yang sulit menyesuaikan diri dengan perannya, sehingga memerlukan

dukungan tambahan. Hal ini dapat ditemukan pada :

a. Orang tua yang baru melahirkan untuk pertama kali dan belum pernah mempunyai pengalaman

mengasuh anak

b. Wanita karir

c. Wanita yang tidak mempunyai keluarga atau teman dekat untuk membagi suka dan duka

d. Ibu dengan anak yang sudah remaja

e. Single parent

3. Fase interdependent

Periode ini biasanya terjadi “after back to home” dan sangat berpengaruh terhadap waktu dan

perhatian yang diberikan oleh keluarga. Ibu akan mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayi,

ia harus beradaptasi dengan kebutuhan bayi yang sangat tergantung, yang menyebabkan berkurangnya

hak ibu, kebebasan dan hubungan sosial.

Pada fase ini, kegiatan-kegiatan yang ada kadang-kadang melibatkan seluruh anggota keluarga,

tetapi kadang-kadang juga tidak melibatkan salah satu anggota keluarga. Misalnya, dalam menjalankan

perannya, ibu begitu sibuk dengan bayinya sehingga sering menimbulkan kecemburuan atau rasa iri

pada diri suami atau anak yang lain.

Pada fase ini harus dimulai fase mandiri (letting go) dimana masing-masing individu

mempunyai kebutuhan sendiri-sendiri, namun tetap dapat menjalankan perannya dan masing-masing

harus berusaha memperkuat relasi sebagai orang dewasa yang menjadi unit dasar dari sebuah keluarga.