You are on page 1of 3

PENDAHULUAN

Pendidikan memiliki peranan penting dalam menghasilkan SDM yang berkualitas. Namun,
faktanya berdasarkan Human Development Index (HDI), Indonesia berada di peringkat ke
110 dari 188 negara yang diteliti. Tingkat pendidikan merupakan salah satu dimensi yang
mempengaruhi HDI (Human Development Report, 2015).

Tujuan pendidikan yang tercantum dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS
adalah untuk mengembangkan potensi siswa melalui aktivitas pembelajaran di sekolah. Salah
satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran adalah pemilihan model
pembelajaran yang tepat (Sutikno, 2014). Model pembelajaran yang mengkondisikan siswa
sebagai pusat belajar (student centered) diantaranya adalah Flipped and Inverted Classroom.

Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mampu
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan Negara(UU Nomor 20 Tahun 2003).
Pendidikan di Indonesia sebagian besar masih rendah, terlebih pada aktifitas siswa
dalam pembelajaran matematika. Karena salah satu cara untuk mengukur atau mengetahui
keberhasilan suatu proses pengajaran diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai materi
pelajaran yang disampaikan oleh seorang guru.
Strategi pembelajaran yang belum pernah digunakan atau jarang digunakan oleh guru pada
umumnya, yaitu dengan strategi pembelajaran flipped classroom. Dengan metode tersebut,
diharapkan dapat mengetahui aktifitas siswa ,respon siswa serta perbedaan hasil belajar
antara siswa dengan menggunakan strategi pembelajaran flipped classroom dan strategi
pembelajaran tradisional.

Pengertian
Menurut Johnson dalam jurnalnya strategi flipped classroom merupakan strategi
pembelajaran yang dapat memberikan pendidik dengan cara meminimalkan jumlah instruksi.
Strategi ini memanfaatkan teknologi yang menyediakan tambahan materi pembelajaran yang
mendukung siswa untuk mengakses materi secara online. Dengan adanya strategi baru yang
mungkin jarang sekali bahkan belum diterapkan di sekolah-sekolah pada umumnya,
diharapkan tingkat keefektifan siswa lebih baik.
Flipped Classroom adalah model pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi
melalui video pembelajaran. Kedua model ini didasarkan pada prinsip bahwa aktivitas
pembelajaran yang biasanya (secara konvensional) dilakukan di kelas menjadi dilakukan di
rumah. Begitu pula pekerjaan rumah yang biasanya dilakukan di rumah, menjadi diselesaikan
di kelas (Bergmann & Sams, 2012).

Pada model pembelajaran Peer Instruction Flip maupun Flipped Classroom, siswa menonton
video pembelajaran di rumah untuk menemukan konsep secara mandiri sehingga mereka
memiliki lebih banyak waktu di kelas untuk mengerjakan tugas, latihan soal, ataupun diskusi
(Adhitiya, et al. 2015). Penggunaan video pembelajaran memungkinkan siswa untuk
mengulangi penjelasan materi yang terdapat dalam video tersebut di rumah sampai siswa
benar-benar memahami konsep.
konsep dasar inverted classroom model adalah konten suatu unit pelajaran yang sepenuhnya
digital didalami secara online oleh pembelajar dengan memanfaatkan berbagai elemen digital
seperti video ajar, teks, dan komponen multimedia lainnya (deskripsi terperinci lihat
Handke/Schäfer 2012:94ff).

Lamgkah-Langkah pembelajaran

Pembelajaran flipped classroom dilaksanakan dengan cara memindahkan kegiatan yang
biasanya dilakukan di kelas, menjadi dilakukan di rumah. Sebelum pembelajaran di kelas
mengenai materi yang dibahas, siswa mempelajari materi pelajaran di rumah melalui video
materi dan sumber belajar internet materi diberikan oleh guru. Pada model ini, siswa lebih
siap dalam menerima pelajaran dan memungkinkan siswa memiliki waktu lebih di kelas
untuk mengerjakan latihan soal tingkatan analisis, sintesis dan evaluasi (Adhitiya, et al.2015).

Selanjutnya pada pembelajaran di kelas guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok.
Kemudian dilakukan diskusi dengan metode kooperatif learning. Peran guru pada
pembelajaran di kelas adalah memfasilitasi jalannya diskusi. Guru memberikan pertanyaan
atau soal mengenai materi yangbtelah dipelajari peserta didik. Guru juga memberikan sesi
Tanya jawab agar siswa dapat bertanya tentang pelajaran yang telah dibahas

Terakhir guru memberikan tes kepada siswa mengenai materi yang telah di bahas bersama.
Ini untuk mengukur pemahaman peserta didik mengenai materi yang telah diajarkan.

Penggunaan video dan sumber belajar online memungkinkan siswa-siswa untuk mengulangi
penjelasan materi yang terdapat dalam video dan sumber belajar online tersebut di rumah
sampai siswa benar-benar memahami konsep. Dengan demikian akuisisi pengetahuan tidak
terikat secara ruang dan waktu. Hasilnya adalah suatu otonomi pembelajar, yang tidak
dimungkinkan dalam pengajaran klasik dengan kerangka tetapnya: Para pembelajar dapat
memilih berbagai materi belajar, mereka dapat menempuh jalur belajar tersendiri dan bebas
menentukan intensitas belajar masing-masing.

Dengan demikian, tercapainya tujuan belajar akan lebih besar dibandingkan ketika siswa
hanya mendengarkan ceramah guru di kelas, yang biasanya hanya dilakukan sekali atau tidak
banyak pengulangan dalam penjelasan. Begitu pula bagi siswa yang tidak dapat mengikuti
pelajaran (misalnya karena sakit), tidak akan tertinggal karena mereka dapat tetap belajar
secara mandiri di rumah melalui video saumber belajar online yang telah diberikan
(Yousefzadeh & Asghar, 2015).

Jadi di kelas pembelajaran tinggal pada hal pendalaman lebih lanjut mengenai materi yang
telah diberikan. Siswa juga dapat bertanya mengenai pelajaran yang belum dipahami kepada
guru sehingga pembelajaran di kelas lebih interaktif karena tidak hanya berpusat pada guru
sebab ada diskusi antara guru dengan siswa mengani pelajaran yang dibahas.

Hasil Penelitian