You are on page 1of 45

LAPORAN TUTORIAL

SKENARIO 2 BLOK 6.1

KELOMPOK 3A
Anggota Kelompok :

Kurnia Sari G1A113108
Eka Setyorini .A. G1A114003
Fatmiati Ariska G1A115007
Nadia Emilda G1A115008
Riski Nanda Anggriyeni G1A115041
Hanna Asmar G1A115043
Anggun Fitria Putri G1A115026
Ulfadiya Putri G1A115045
Samuel Batara Bonar G1A115047
Bianti Putri Sekarani G1A115048

Dosen Pengampu :
dr. Ave Olivia Rahman, M. Sc

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI
UNIVERSITAS JAMBI
2017/2018

1

SKENARIO

Apa yang terjadi padaku?

Ny. A, 36 tahun, ibu rumah tangga, datang ke poliklinik obstetri dan ginekologi karena keluar
cairan putih kekuningan berbau sejak 1 minggu yang lalu.Siklus menstruasi normal.Riwayat KB
IUD sejak 4 bulan yang lalu.Sebelum melakukan pemeriksaan, dokter menjelaskan mengenai
gangguan haid dan menstruasi.Dokter kemudian melakukan pemeriksaan ginekologi dan IVA
test. Setelah dilakukan pemeriksaan IVA test, Ny. A disarankan untuk dilakukan pemeriksaan
pap’s smear.Ny. A tidak memiliki banyak pasangan, belum pernah mendapat imunisasi HPV.Ny.
A juga minta dijelaskan mengenai kanker serviks dan apa yang terjadi dengannya, pengobatan
serta pencegahannya.

2

KLARIFIKASI ISTILAH

1. Obstetri : spesialis pembedahan yang mengenai pelayanan kesehatan wanita selama masa
kehamilan, persalinan, dan nifas.
2. Ginekologi : ilmu yang mempelajari dan menangani kesehatan alat reproduksi wanita.
3. KB IUD : Intrauterine Device, diletakkan di dalam kavum uteri sebagai usaha
kontrasepsi, mengahalangi fertilisasi, dan menyulitkan ovum berimplementasi dalam
uterus.
4. IVA Test : inspeksi visual dengan asam asetat yang merupakan cara untuk mendeteksi
kanker leher rahim sedini mungkin.
5. Pap Smear : skrining untuk mendeteksi dini perubahan atau abnormalitas dalam serviks
sebelum sel-sel tersebut menjadi kanker.
6. Imunisasi HPV : imunisasi yang dapat melindungi wanita terhadap jenis infeksi Human
Papilloma Virus, mungkin bisa menurunkan resiko kanker rahim.
7. Kanker serviks : keganasan oleh virus HPV yang menyebabkan terjadi perubahan sel.

IDENTIFIKASI MASALAH

1. Makna klinis keluar cairan putih kekuningan, berbau sejak 1 minggu yang lalu?
2. Apa penyakit yang ditandai dengan keluarnya cairan seperti keluhan Ny. A?
3. Apa hubungan riwayat KB IUD sejak 4 bulan yang lalu?
4. Jelaskan indikasi, kontraindikasi, dan prosedur pemasangan IUD!
5. Apa saja gangguan haid dan siklus menstruasi?
6. Jelaskan pemeriksaan ginekologi!
7. Jelaskan indikasi, kontraindikasi, dan prosedur IVA Test!
8. Jelaskan mengenai indikasi, kontraindikasi, dan prosedur pap smear!
9. Jelaskan hubungan jumlah pasangan dengan keluhan Ny. A!
10. Jelaskan hubungan imunisasi HPV dengan keluhan Ny. A!
11. Jelaskan mengenai kanker serviks!
12. Apa yang terjadi dengan Ny. A?

3

CURAH PENDAPAT

1. Makna klinis keluar cairan putih kekuningan, berbau sejak 1 minggu yang lalu?
Jawab :
Dari skenario dapat diketahui bahwa cairan tersebut keluar melalui vagina, cairan
yang keluar bewarna putih kekuningan dan berbau merupakan ciri-ciri dari infeksi
bakteri, yang disebut dengan Vaginosis Bakterial.
Vaginosis bakterial merupakan sindrom klinis yang disebabkan oleh bertambah
banyaknya organisme komensal dalam vagina (yaitu gardnerella vaginalis, prevotella,
mobiluncus spp.) serta berkurangnya organisme lactobacilus yang menghasilkan
hidrogen peroksida.
Vaginosis bakterial timbul akibat perubahan ekosistem mikrobiologis vagina,
sehingga bakteri normal dalam vagina (lactobacillus) sangat berkurang.

Gejala klinis :
 50% perempuan yang menderita vaginosis bakterial tidak menunjukkan gejala
atau keluhan
 Bila ada keluhan, umumnya berupa duh tubuh vagina abnormal yang berbau amis,
berwarna abu-abu homogen, melekat di dinding vagina, seringkali terlihat di labia
dan fourchette
 pH sekret vagina berkisar antara 4,5 -5,5
 tidak ditemukan tanda peradangan pada vagina dan vulva

Terdapat berbagai kriteria dalam menegakkan diagnosis vaginosis bakterial,
umumnya digunakan kriteria Amsel, berdasarkan 3 dari 4 temuan berikut :

a) Duh tubuh vagina berwarna putih keabu-abuan, homogen, melekat di vulva dan
vagina
b) Terdapat clue cells pada duh vagina (>20% total epitel vagina yang tampak pada
pemeriksaan sediaan basah dengan NaCl fisiologis dan pembesaran 100 kali)
c) Timbul bau amis pada duh vagina yang di tetesi dengan larutan KOH 10% (tes
amin positif)
d) pH duh vagina lebih dari 4,5

4

Gonorea 3. A? Jawab : a. Vaginitis b.2. b. Apa hubungan riwayat KB IUD sejak 4 bulan yang lalu? Jawab : Ada hubungannya. dan prosedur pemasangan IUD! Jawab : Indikasi a) Usia reproduktif b) Keadaan multipara Kontraindikasi a) Hamil atau diduga hamil b) Infeksi leher rahim c) Radang rongga panggul d) Perdarahan pervagina e) Kehamilan ektopik 5 . Kurang jaga kebersihan reproduksi c. Komplikasi dari pemasangan IUD 4. Apa penyakit yang ditandai dengan keluarnya cairan seperti keluhan Ny. a. kontraindikasi. Letak pemasangan IUD kurang tepat. Trikomiasis c. Jelaskan indikasi. Kanker serviks d.

7. Polimenorae 2.5. dan prosedur pap smear! Jawab : Indikasi 1) Menikah 2) Pernah coitus 3) Mengalami keputihan Kontraindikasi 1) Wanita belum pernah coitus 2) Wanita dengan histenektomi Prosedur Biopsi sel serviks yang dicurigai adanya lesi prakanker atau kanker. Jelaskan pemeriksaan ginekologi! Jawab : Pemeriksaan ginekologi adalah pemeriksaan pada daerah genitalia eksterna dan interna wanita. 9. Amenorae 6. dan prosedur IVA Test! Jawab : Indikasi : Wanita sudah menikah > 18 tahun Prosedur : Swab dengan cairan asam asetat pada squamosacollumnar junction serviks. kontraindikasi. Hipermenorae Gangguan siklus menstruasi 1. Jelaskan hubungan jumlah pasangan dengan keluhan Ny. Jelaskan mengenai indikasi. 8. kontraindikasi. Jelaskan indikasi. Hipomenorae 2. A! Jawab : 6 . Oligomenorae 3. Apa saja gangguan haid dan siklus menstruasi? Jawab : Gangguan haid 1.

Dapat terjadi kemungkinan terkena kanker serviks. Keluhan dikarenakan Ny. 11. Jelaskan hubungan imunisasi HPV dengan keluhan Ny. 12. A belum divaksin HPV. A? Jawab : Suspek kanker serviks. 10. Untuk memperkuat diagnosis. A! Jawab : Ny. Apa yang terjadi dengan Ny. disebabkan karena HPV. Jelaskan mengenai kanker serviks! Jawab : Lesi primer (bukan lesi dari tempat lain) dari serviks. A belum divaksin HPV.A? Jawab : 7 .Menyingkirkan diagnosis banding karena penyakit menular seksual. 13. Bagaimana tatalaksana dari keluhan Ny.

berwarna abu-abu homogen. berdasarkan 3 dari 4 temuan berikut : a) Duh tubuh vagina berwarna putih keabu-abuan. Gejala klinis :  50% perempuan yang menderita vaginosis bakterial tidak menunjukkan gejala atau keluhan  Bila ada keluhan. yang disebut dengan Vaginosis Bakterial. prevotella. umumnya digunakan kriteria Amsel.5 -5. Vaginosis bakterial merupakan sindrom klinis yang disebabkan oleh bertambah banyaknya organisme komensal dalam vagina (yaitu gardnerella vaginalis. homogen. Vaginosis bakterial timbul akibat perubahan ekosistem mikrobiologis vagina.5  tidak ditemukan tanda peradangan pada vagina dan vulva Terdapat berbagai kriteria dalam menegakkan diagnosis vaginosis bakterial.) serta berkurangnya organisme lactobacilus yang menghasilkan hidrogen peroksida. cairan yang keluar bewarna putih kekuningan dan berbau merupakan ciri-ciri dari infeksi bakteri. melekat di dinding vagina. umumnya berupa duh tubuh vagina abnormal yang berbau amis. melekat di vulva dan vagina b) Terdapat clue cells pada duh vagina (>20% total epitel vagina yang tampak pada pemeriksaan sediaan basah dengan NaCl fisiologis dan pembesaran 100 kali) 8 . sehingga bakteri normal dalam vagina (lactobacillus) sangat berkurang. mobiluncus spp.ANALISIS MASALAH 1) Makna klinis keluar cairan putih kekuningan. berbau sejak 1 minggu yang lalu? Jawab : Dari skenario dapat diketahui bahwa cairan tersebut keluar melalui vagina. seringkali terlihat di labia dan fourchette  pH sekret vagina berkisar antara 4.

keganasan reproduksi. Keputihan yang fisiologis Keputihan yang fisiologis adalah cairan jernih.gonorrhoaea. cairan vagina. Leukorea adalah cairan yang keluar dari vagina. cairan ini tidak sampai keluar. keputihan. Dalam keadaan biasa. Keputihan fisiologis cairan jernih yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang. berbau tidak sedap. terasa gatal atau panas dan menyebabkan luka didaerah mulut vagina. namun belum tentu bersifat patologis. menjelang dan sesudah haid. memudahkan terinfeksi HIV melalui jalur seksual.Pada perempuan tidak hamil. A? Jawab : Leukorea ( duh tubuh. atau pengaruh hormon. vaginosis bakterial dapat meningkatkan resiko infeksi pasca histerektomi. sekresi uterus. bisa juga karena benda asing dalam vagina Berikut adalah kondisi yang memiliki gejala keputihan yang patologis : 9 . Keputihan patologis muncul karena infeksi vagina. penyakit radang panggul. yang dipengaruhi fungsi ovarium a. Keputihan patologis Keputihan patologis merupakan cairan eksudat dan cairan ini mengandung banyak leukosit. jumlahnya berlebihan. b. rangsangan seksual. flour albus. cairan yang muncul bewarna.5 Vaginosis bakterial seringkali dikaitkan dengan sekuele di traktus genital bagian atas. Sumber cairan ini dapat berasal dari sekresi vulva. Keputihan fisiologis muncul pada saat ovulasi.tidak berbau dan tidak gatal. Eksudat yang terjadi karena adanya luka. Pada ibu hamil yang menderita vaginosis bakterial dapat meningkatkan resiko persalinan prematur. c) Timbul bau amis pada duh vagina yang di tetesi dengan larutan KOH 10% (tes amin positif) d) pH duh vagina lebih dari 4. white discharge ) adalah nama gejala yang diberikan pada cairan yang dikeluarkan dari alat genital yang tidak berupa darah. resiko lebih mudah terinfeksi N. atau sekresi tuba falopii. sekresi serviks. infeksi cairan amnion dan korioamnionitis 2) Apa penyakit yang ditandai dengan keluarnya cairan seperti keluhan Ny. bayi dengan berat badan lahir rendah.

dan disertai rasa perih saat buang air kecil. Infeksi ini juga dapat diatasi dengan antibiotik. ketika berhubungan seksual vagina akan terasa sakit. 10 . berbusa. Jenis keputihan ini biasanya disebabkan oleh trikomoniasis. bengkak. dan berwarna putih seperti susu kental. Perubahan keseimbangan pada jumlah bakteri normal di vagina dapat menyebabkan vaginosis bakterialis. abu-abu. yaitu penyakit menular seksual yang disebabkan oleh organisme kecil bernama Trichomonas vaginalis. Ini juga termasuk infeksi yang umum terjadi dan tidak menular melalui hubungan seks. Penyakit ini bisa membuat keputihan berubah warna menjadi putih. Keputihan ini dipicu oleh infeksi jamur pada vagina. Karena itu. tanpa bau. keputihan kental berwarna putih disertai dengan rasa gatal. Infeksi ini dapat ditangani dengan antibiotik. dapat mengindikasikan gonore atau chlamydia (klamidia). gatal atau perih.Infeksi ini tidak menular melalui hubungan seks dan dialami oleh sebagian besar wanita. Trikomoniasis juga membuat vagina menjadi gatal dan nyeri saat buang air kecil. Penyakit ini membuat keputihan menjadi berwarna kuning atau kehijauan. kedua penyakit menular seksual ini dapat memicu infeksi serius pada organ reproduksi wanita. yaitu infeksi ringan pada vagina yang disebabkan oleh bakteri yang merugikan (patogen).Pembengkakan dan gatal- gatal di sekitar vagina serta nyeri saat buang air kecil dan berhubungan intim juga akan dialami oleh penderita trikomoniasis. Gejala-gejala lain yang menyertainya dapat berupa rasa gatal dan perih di sekitar vagina.  Gonore. segera temui dokter untuk menjalani pengobatan dengan antibiotik. yaitu penyakit menular seksual yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis.  Penumpahan lapisan rahim setelah melahirkan (lokia). atau kuning yang disertai dengan bau amis. dan rasa sakit di sekitar vulva. Gejalanya adalah keputihan disertai rasa nyeri atau pendarahan Jika dibiarkan.  Infeksi jamur. Indikasinya berupa lendir yang kental. dan pembengkakan pada vagina. Pengobatannya dapat dilakukan dengan obat antijamur yang dijual bebas di apotek. Lendir akibat infeksi ini biasanya berjumlah banyak. Vaginosis bakteri. Ciri-cirinya. atau vulva. kemerahan. Kondisi ini membuat keputihan berubah warna menjadi merah muda.  Trikomoniasis. berbau amis. dan berbau tidak sedap. Selain itu. Rasa nyeri pada tulang panggul atau saat buang air kecil serta munculnya pendarahan di luar siklus menstruasi atau setelah berhubungan seks yang menyertai keputihan.

Tiga kondisi tersebut menyebabkan keputihan berwarna cokelat atau merah yang disertai nyeri panggul dan perdarahan pada vagina. Usia reproduktif. Metode pengobatannya dilakukan dengan konsumsi tablet antivirus. Terjadi perdarahan pascacoitus dan nyeri panggul. 3) Apa hubungan riwayat KB IUD sejak 4 bulan yang lalu? Jawab : Jawab :Keputihan yang di alami bisa saja disebabkan oleh pemakaian KB IUD karena penggunaan KB IUD memicu rekurensi vaginalis bacterial dimana adanya keadaan abnormal pada ekosistem vagina akibat meningkatnya pertumbuhan flora vagina bakteri anaerob sehingga menyebabkan jamur dapat berkembang biak dan menyebabkan keputihan.  Herpes genital. Hal tersebut disebabkan oleh pada saat insersi KB IUD apabila alat-alat tidak disterilkan secara baik ataupun bisa juga karena pemasangan KB IUD yang tidak tepat.1 4) Jelaskan indikasi. dan apabila ada kuman-kuman yang masuk ke dalam vagina ataupun serviks uteri yang suatu saat akan menyebabkan infeksi. Namun. b. kontraindikasi. keputihan dapat berlebihan jumlahnya disertai darah segar atau darah yang bercampur dengan cairan berbau yang berwarna cokelat atau kuning keruh pekat. dan prosedur pemasangan IUD! Jawab : Indikasi: a. Pernah melahirkan dan mempunyai anak. kekambuhan mungkin terjadi karena virusnya tetap berada dalam tubuh pengidap meski gejala-gejalanya sudah hilang. Siklus menstruasi tidak teratur. Pada kanker serviks. Penyakit ini akan menyebabkan munculnya keputihan dengan lepuhan yang terasa sakit di sekitar organ intim. bahkan kanker serviks dan kanker endometrium. serta ukuran rahim tidak kurang dari 5 11 .

Menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi. Resiko rendah dari IMS. g) Ukuran uterus dengan alat periksa (sonde) berada diluar batas yang ditetapkan pada petunjuk terbaru tentang memasukkan AKDR. Tidak ada kontraindikasi.9 cm pada paragard dan mirena. uterus harus terekam pada kedalaman 6. e) Keberadaan miomata. b) Penyakit inflamasi pelvic (PID/ Pelvic Inflammatory Disease). g. f. Keadaan nulipara Kontraindikasi : a) Kehamilan. d. i. c) Karcinoma servik atau uterus d) Riwayat atau keberadaan penyakit katup jantung karena penyakit ini rentan terhadap endometritis bacterial. malformasi conginental. e. Tidak menghendaki metode hormonal. atau anomaly perkembangan yang dapat mempengaruhi rongga uterus. f) Diketahui atau dicurigai alergi terhadap tembaga atau penyakit Wilson (penyakit genetik diturunkan yang mempengaruhi metabolisme tembaga sehingga mengakibatakan penumpukan tembaga di berbagai organ dalam tubuh). h. Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang. Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi. h) Resiko tinggi penyakit menular sexual (pasangan sexual yang berganti-ganti 12 . cm. c.

meliputi hepatitis virus aktif atau tumor hati merupakan kontraindikasi hanya pada pengguna AKDR hormonal. i) Riwayat kehamilan ektopik atau kondisi yang dapat mempermudah kehamilan ektopik. pemakaian sarung tangan yang bersih (non-steril) sudah memadai. 3. 4. Tarikan ringan untuk meluruskan kanalis uteroservikalis membantu pemasangan AKDR di fundus. m) Diketahui atau dicurigai terkena carsinoma payudara merupakan kontra indikasi hanya pada pengguna AKDR hormonal. Sonde uterus dimasukkan dengan htai-hati untuk menentukan kedalaman dan arah rongga uterus serta arah dan kepatenan kanalis servikalis apabila dijumpai spasme/stenosis serviks. merupakan kontraindikasi hanya pada pengguna AKDR hormonal. Dengan demikian. HIV/AIDS. maka mungkin perlu dipertimbangkan pemberian anestetik lokal dan dilatasi os serviks. j) Servikitis atau vasginitis akut (sampai diagnosis ditegakkan dan berhasil diobati) k) Peningkatan kerentanan terhadap infeksi (seperti pada terapi kostikostiroid kronis. Bagian dari sonde dan alat pemasangan yang sudah terisi yang masuk ke dalam uterus jangan disentuh. 13 . diabetes. serviks dipajankan dengan speculum sementara wanita berbaring dalam posisi litotomi modifikasi atau posisi lateral. Serviks dibersihkan dengan antiseptik dan dipegang dengan forseps atraumatik 12 inci (forseps Allis panjang sering digunakan). Setelah pemeriksaan panggul bimanual. o) Sakit kepala migren dengan gejala neurologis fokal merupakan kontra indikasi hanya pada penggunaan AKDR hormonal Prosedur Pemasangan 1. Sepanjang prosedur. bahkan dengan tangan yang sudah bersarung. leukimia dan penyalah gunaan obat-obatan IV. l) Penyakit hati akut. harus diterapkan teknik “jangan menyentuh” (no touch technique). 2. n) Trombosis vena dalam / embolisme paru yang terjadi baru-baru ini merupakan kontra indikasi hanya pada penggunaan AKDR hormonal.

9.5. 8. AKDR dilepaskan sesuai instruksi spesifik untuk masing-masing alat kemudian alat pemasang dikeluarkan. AKDR dimasukkan ke dalam alat pemasangan sehingga AKDR akan berletak rata dalam bidang transversal rongga uterus saat dilepaskan.1 14 . Benang AKDR harus dipotong dengan gunting panjang sampai sekitar 3 cm dan os eksternus. AKDR jangan berada di dalam alat pemasanga lebih dari beberapa menit karena alat ini akan kehilangan “elastisitasnya” dan bentuknya akan berubah. dianjurkan untuk melakukan sonde kanalis ulang untuk menyingkirkan kemungkinan AKDR terletak rendah. AKDR harus diletakkan di fundus agar insidensi ekspulsi dan kehamilan rendah. 6. Setelah pemasangan. Tabung alat pemasanga secara hati-hati dimasukkan melalui kanalis servikalis. 7.

Menoragia. Biasanya disebabkan oleh gangguan hormonal. pada wanita usia 43 tahun 27.1 hari. Kelainan Siklus Haid 3) Polimenorea. yaitu perdarahan haid yang terjadi kurang dari 21 hari. yaitu tidak terjadi haid selama 3 bulan berturut – turut. Kelainan jumlah dan lama perdarahan Haid a. Tetapi terdapat variasi luas berdasarkan usia. yaitu perdarahan haid dengan jumlah darah > 80 ml dan/atau durasi perdarahan > 7 hari. Keadaan ini akibat gangguan endokrin. yaitu perdarahan haid yang lebih pendek dan/atau lebih kurang dari biasanya. endometriosis.3. 5) Amenorea. massa laktasi. dan menopause. konstitusi penderita. kehamilan. Gangguan Haid a. yaitu perdarahan haid yang terjadi lebih dari 35 hari. dengan interval 25 – 35 hari.5) Apa saja gangguan haid dan siklus menstruasi? Jawab : Siklus haid Normal 2.4 Haid adalah perdarahan secara periodic dan siklik dari siklus uterus. Rata – rata panjang siklus haad pada perempuan 12 tahun adalah 25. b. dan gangguan pada uterus. Panjang siklus haid yang normal atau di anggap sebagai siklus haid yang klasik adalah 28 hari. Hipomenorea. Amenorea juga merupakan tanda fisiologis pada saat sebelum pubertas.9 hari. Panjang siklus haid adalah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya. 4) Oligomenorea. disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium.1 hari dan pada usia 55 tahun 51. b. Amenorea patologis di bagi menjadi 2 : 15 . maupun kongesti ovarium karena peradangan.

radang. histerektomi. atas 18 tahun. sebelumnya pernah haid. yaitu perdarahan haid dengan jumlah dan/atau durasi yang meningkat dengan interval tidak teratur. sindrom Stein-Leventhal. t) Gagal produksi GnRH (5 %) amenorea hipotalamik. tumor  Gangguan gonad : Menopause immatur. Etiologi : Etiologi : p) Abnormalitas kromosom (45 %)  Gangguan Organik Pusat : Tumor. endometritis TB. yaitu belum Amenorea skunder. tumor sel granulosa dan sel teka. Metroragia. q) Keterlambatan pubertas obstruksi fisiologis (20 %)  Gangguan Kejiwaan : Syok Emosional. c. v) Hipopituitarisme (2 %) penyakit Simmonds.  Gangguan glandula suprarenalis : Sindrom Adrogenital  Gangguan Pankreas : Diabetes Melitus  Gangguan uterus-vagina : Sindrom Asherman. hilangnya fungsi ovarium. 16 . Perdarahan Diluar Haid . Insensitie ovary. r) Agenesis Mulllerian (15 %) psikosis. pseudosiesis. Amenorea primer. pernah terjadi haid hingga usia di namun sekarang tidak haid lagi. s) Septum Vaginal Transversal atau  Gangguan aksis HPO : Sindrom amenorea- Himen imperforata (5 %) Galaktorea. u) Anoreksia Nervosa (2 %)  Gangguan hipofisis : Sindrom Sheehan. obesitas. Menometroragia. anoreksia Nervosa. yaitu perdarahan haid dengan interval tidak teratur .  Penyaki-penyakit umum : gangguan Gizi.

Siklus ovarium a.siklus menstruasi normal 1. Jadi massa sel yang masih tetap pada tempat folikel yang pecah menjadi korpus luteum yang menyekresikan hormone progesterone dan 17 . dan oleh karena pembentukan cairan folikel makin bertambah. maka folikel makinterdesak ke permukaan ovarium. Ovulasi terjadi pada hari ke 14 setelah timbulnya menstruasi. Fase ovulasi Dengan bertambah matang folikel hingga akhirnya matang benar. c. Sel teka dan sel granulosa juga menyekresikan cairan folikular yang mengandung estrogen. sel teka dan sel granulosa terus mengadakan proliferasi . dan setiap folikel yang sedang tumbuh menjadi folikel vesicular. b. Fase Luteal Selama hari terakhir sebelum ovulasi dan diteruskan selama sehari atau lebih setelah ovulasi dibawah rangsangan hormon luteinisasi. Setelah antrum terbentuk. folikel pecah dan keluarlah cairan dari folikel bersama-sama ovum yang dikelilingi sel-sel kumulus oofurus.3 1. Hal ini disebabkan folikel yang berkembang pesat menyekresikan lebih banyak estrogen sehingga menimbulkan penghambatan umpan balik sekresi hormone gonadotropin FSH. Setelah pertumbuhan selama satu minggu atau lebih. malahan menonjol keluar. sisanya mulai mengalami involusi (atresia).Sel-sel pada permukaan ovarium menjadi tipis. sel teka dan sel granulosa terus berkembang pada satu kutub folikel.Kekurangan rangsangan FSH pada folikel yang tidak berkembang inilah yang menyebabkan folikel atresia.Penimbunan cairan ini dalam folikel menyebabkan terbentuknya antrum. Fase pertumbuhan folikel Pada sekitar permulaan siklus menstruasi konsentrasi FSH dan LH meningkat yang akan menyebabkan percepatan pertumbuhan sel teka dan sel granulosa dalam sekitar 20 folikel ovarium setiap bulan. Dalam massa ini terletak ovum. salah satu folikel mulai tumbuh keluar dari semua lumen. Bila folikel ini terus berkembang. sel-sel teka dan sel granulose mengalami luteinisasi.

b. besar. estrogen.3.Di bawah pengaruh estrogen yang sekresinya ditingkatkan oleh ovarium selama bagian pertama siklus ovarium. zat yang disekresikan. Siklus endometrium a. konsistensi uterus dan serviks. kondisi adneksa.Permukaan endometrium mengalami reepitelisasi dalam 3-7 hari setelah permulaan menstruasi. Setelah itu ia mulai mengalami involusi dan kehilangan fungsi sekresinya serta sifat lipidnya sekitar 12 hari setelah ovulasi yang kemudian menjadi korpus albikans. Estrogen menyebabkan proliferasi sel tambahan dan progesterone menyebabkan pembengkakan hebat dan pembentukan sekresi endometrium. Pemeriksaan ini merupakan rangkaian dari suatu prosedur pemeriksaan yang lengkap sehingga hasil pemeriksaan ini terfokus pada tampilan genitalia eksterna dan upaya untuk mengetahui arah. Fase Sekresi (fase progesterone) Selam separuh terakhir siklus seksual.1 18 .2. berkaitan dengan upaya pengenalan atau penentuan ada tidaknya kelainan pada bagian tersebut. Kelenjar tambah berkelok-kelok.5. 2. parametrium dan organ-organ disekitar genitalia interna (rongga pelvik).4 6) Jelaskan pemeriksaan ginekologi! Jawab : Pemeriksaan ginekologi adalah suatu prosedur klinik yang dilakukan secara bimanual untuk menentukan atau mengetahui kondisi organ genitalia wanita. sel-sel stroma dan sel-sel epitel dengan cepat berproliferasi. dan satu-satu nya sel epitel yang tertinggal terletak pada bagian dalam sisa-sisa kelenjar dan kriptus endometrium. progesterone dan estrogen disekresikan dalam jumlah besar oleh korpus luteum. Fase Proliferasi (fase estrogen) Setelah menstruasi hanya lapisan tipis stroma endometrium tersisa pada basis endometrium asli.

Perlangsungan penyakit/keluhan 3. perdarahan. dan konsistensi uterus b) Pemeriksaan adneksa dan parametrium c) Pemeriksaan ballotemen d) Konfirmasi kehamilan intra atau ektra uterin e) Konfirmasi peradangaan atau infeksi f) Pemeriksaan flour albus.INDIKASI a) Pemeriksaan bentuk. arah.1 NO. Keluhan utama 2. Identitas pasien 1. Jumlah anak dan siklus haid 4. besar. tumor pelvis Prosedur Pemeriksaan Ginekologi 5. Riwayat penyakit 5. LANGKAH KLINIK 1. ANAMNESIS DAN PERSETUJUAN PEMERIKSAAN 1 Menyapa pasien dan memperkenalkan diri 2 Lakukan anamnesis secara sistematis: 0. Riwayat berobat Jelaskan tentang prosedur pemeriksaan Jelaskan tentang tujuan pemeriksaan 19 .

PERSIAPAN 1 PASIEN a) Kapas dan larutan antiseptic b) Tampong tang c) Spekulum cocor bebek (Grave’s speculum) d) Meja instrumen e) Ranjang ginekologi dengan penopang kaki f) Lampu sorot 2 PEMERIKSA a) Sarung tangan DTT b) Apron dan baju periksa c) Sabun dan air bersih d) Handuk bersih dan kering c. MEMPERSIAPKAN PASIEN 1 Minta pasien untuk mengosongkan kandung kemih dan melepas pakaian dalam 20 . B. Jelaskan bahwa proses pemeriksaan mungkin akan menimbulkan perasaan khawatir atau kurang menyenangkan tetapi pemeriksa berusaha menghindarkan hal tersebut Pastikan bahwa pasien telah mengerti prosedur dan tujuan pemeriksaan Mintakan persetujuan lisan untuk melakukan pemeriksaan.

lakukan 21 . Tarik pangkat/gelang sarung tangan untuk mengencangkannya. kemudian tahan pangkal sarung tangan tersebut dengan ibu jari tangan kiri 4 Pasang sarung tersebut pada tangan kanan. arahkan dengan benar pada bagian yang akan diperiksa d.2 Persilahkan pasien untuk berbaring di ranjang ginekologi 3 Atur pasien pada posisi litotomi 4 Hidupkan lampu sorot. kemudian kencangkan dengan cara menarik pangkal/gekang sarung tangan  PEMERIKSAAN 1 Duduklah pada kursi yang telah disediakan. basahi dengan larutan antiseptik kemudian usapkan pada daerah vagina. sesuaikan dengan alur masing- masing jari tangan. 3 Ambil sarung tangan kanan dengan tangan kiri (yang telah menggunakan sarung tangan) dengan menyelipkan jari-jari tangan kiri dibawah lipatan sarung tangan. menghadap ke aspekus genitalis penderita 2 Ambil kapas. vulva dan perineum 3 Lakukan periksa pandang (inspeksi) pada daerah vulva dan perineum 4 Buka celah antara kedua labium mayus. ambil sarung tangan dengan ibu jari dan telunjuktangan kanan pada bagian sebelah dalam kemudian pasang sesuai dengan jari-jari tangan kiri. perhatikan muara uretra dan introitus (bila kandung kemih belum dikosongkan. MEMAKAI SARUNG TANGAN 1 Cuci tangan kemudian keringkan dengan handuk bersih 2 Buka lipatan sarung tangan.

kemudian keluarkan spekulum Gambar 1. pemasangankateter untuk mengeluarkan air kemih) 5 Raba dan telusuri labium mayus kanan dan kiri (terutama dibagian kelenjarBartolin) dengan ibu jari dan ujung telunjuk (perhatikan dan catat kelainan-kelainan yang ditemukan) 6 Ambil spekulum dengan tangan kanan. masukkan ujung telunjuk kiri pada introitus (agar terbuka). lepaskan pengungkit dan pengatur jarak bilah. masukkan ujung spekulum dengan arah sejajar introitus (yakinkan bahwa tidak ada bagian yang terjepit) lalu dorong bilah ke dalam lumen vagina 7 Setelah masuk setengah panjang bilah. f) Atur bilah atas dan bawah dengan membuka kunci pengatur bilah atas bawah (hingga masing-masing bila menyentuh dinding atas dan bawah vagina) 8 Tekan pengungkit bilah sehingga lumen vagina dan serviks tampak jelas (perhatikan ukuran dan warna porsio. putar spekulum 90º hingga tangkainya ke arah bawah. dinding dan sekret vagina atau forniks) 9 Setelah periksa pandang selesai. Pemeriksaan inspekulo 22 .

Tangan dalam memeriksa dinding vagina. konsistensi dan arahnya. dengan mencoba untuk mempertemukan kedua ujung jari tangan luar dan dalam) 23 . . g) Pindahkan jari-jari tangan luar dan dalam ke bagian isthmus (tentukan apakah ada tanda Hegar. masukkan jari telunjuk dan tengah tangan kanan ke dalam vagina (vaginal toucher) 12 Letakkan ujung-ujung jari tangan kiri pada suprasimfisis. kemudian secara bimanual tentukan besar uterus. buka labium mayus kiri dan kanan dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri. tentukan tinggi fundus uteri (apabila besar kandungan memungkinkan untuk diraba dari luar). keadaan parametrium dan kedua adneksa.10 Letakkan spekulum pada tempat yang telah disediakan 11 Berdirilah untuk melakukan tuse vaginal. Periksa konsistensi serviks.

Gambar 2. usapkan larutan antiseptik pada bekas sekret/cairan di dinding perut dan sekitar vulva/perineum1 15 Beritahu ibu bahwa pemeriksaan sudah selesai dan persilahkan ibu untuk mengambil tempat duduk 24 . Pemeriksaan bimanual untuk menilai uterus 13 Tangan kiri menahan uterus pada bagian suprasimfisis. keluarkan jari tengah dan telunjuk tangan kanan 14 Angkat tangan kiri dari dinding perut.

karena daerah zona transisional seringkali terletak kanalis servikalis dan tidak tampak dengan pemeriksaan inspikulo c. Indikasi Menjalani tes kanker atau prakanker dianjurkan bagi semua wanita berusia 30-45 tahun. biasanya 10-20 tahun lebih awal. dan prosedur IVA Test! Jawab : a. Kontraindikasi Tidak direkomendasikan pada wanita pasca menopause. Sejumlah faktor risiko berhubungan dengan perkembangan kanker serviks sebagai berikut: a) Usia muda saat pertama kali melakukan hubungan seksual (usia<20 tahun) b) Memiliki banyak pasangan seksual c) Riwayat pernah mengalami Infeksi Menular Seksual (IMS) d) Ibu atau saudara perempuan yang memiliki riwayat kanker serviks e) Hasil Papsmear sebelumnya yang tidak normal f) Wanita perokok g) Wanita yang mengalami masalah penurunan kekebalan tubuh dan (HIV/AIDS) b.7) Jelaskan indikasi. Prosedur 25 . Kanker rahim menempati angka tertinggi diantara kanker lain wanita. sehingga tes harus dilakukan pada usia dimana lesi pra-kanker lebih mudah terdateksi. kontraindikasi.

Asam asetat jangan disimpan untuk beberapa hari. Larutan asam asetat 3-5% Dapat digunakan asam cuka 25% yang dijual di pasaran kemudiandiencerkan menjadi 5% dengan perbandingan 1:4 (1 bagian asam cuka dicampur dengan 4 bagian air) Contohnya: 10 ml asam cuka 25% dicampur dengan 40 ml air akan menghasilkan 50 ml asam asetat 5 %. 4. Memastikan identitas . Larutan klorin untuk dekontaminasi peralatan d. Sarung tangan 6. memeriksa status dan kelengkapan informed consent klien 2. Lampu 3. Gunakan sarung tangan 6.Buat asam asetat sesuai keperluan hari itu. asam cuka 25 % diencerkandengan air dengan perbandingkan 1:7 (1 bagian asam cuka dicampur 7 bagian air) Contohnya : 10 ml asam cuka 25% dicampur dengan 70 ml air akan menghasilkan 80 ml asam asetat 3% Campur asam asetat dengan baik. Masukkan spekulum dan tampakkan serviks hingga jelas terlihat 26 . Klien diminta untuk menanggalkan pakaiannya dari pinggang hingga lutut dan menggunakan kain yang sudah disediakan 3. Atau 20 ml asam cuka 25 % dicampur dengan 80 ml air akan menghasilkan 100 ml asam asetat 5% Jika akan menggunakan asam asetat 3%. Kapas lidi 5.Alat dan Bahan 1. Tutup area pinggang hingga lutut klien dengan kain 5. Klien diposisikan dalam posisi litotomi 4. Bersihkan genitalia eksterna dengan air DTT 7. Metode Pemeriksaan 1. Spekulum 2.

5% selama 10 menit untuk dekontaminasi 12. jelaskan kepada klien kapan harus kembali untuk mengulangi pemeriksan IVA f. Jika SSK tampak. lakukan biopsy b. Terdapat kecurigaan kanker atau tidak : pemeriksaan adalah dokter ahli obstetri dan ginekologi . Jika a. Buang sarung tangan . Jika tidak dicurigai kanker. Periksa serviks sesuai langkah-langkah berikut : 18 Jika ya. misalnya hasil negatif namun SSK tidak tampak. lalu beri kesimpulan sementara. keunggulan. dan bahan sekali pakai lainnya ke dalam container ( tempat sampah) yang tahan bocor. 8) Indikasi. Keluarkan spekulum 11. lakukan IVA dengan mengoleskan kapas lidi yang sudah dicelupkan ke dalam asam asetat 3-5% ke seluruh permukaan serviks d. dan sekret dengan kapas lidi bersih 9. maka : dilakukan pemeriksaan mata(SSK) telanjang tanpa asam asetat. tentukan metode tata laksana yang akan dilakukan 10. kapas. Jelaskan hasil pemeriksaan kepada klien. dan kekurangan pap smear? Jawab : 27 . klien dirujuk . c.8. Tunggu hasil IVA selama 1 menit. rendam dalam larutan klorin 0. darah. prosedur. Jika ada (IVA positif) . Klien disarankan untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya lebih cepat atau pap smear maksimal 6 bulan lagi. perhatikan apakah ada bercak putih ( acetowhite epithelium) atau tidak e. identifikasi Sambungan Skuamo kolumnar Jika SSK tidak tampak . Bersihkan serviks dari cairan . serta rencana tata laksana jika diperlukan. sedangkan untuk alat-alat yang dapat digunakan kembali. pemeriksaan IVA tidak dilanjutkan . Jika tidak (IVA negatif). kapan harus melakukan pemeriksaan lagi.

Keuntungan 10. 8. Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan. 2. Adapun keuntungan pap smear adalah kemampuan pap smear mendeteksi kelainan sel displastik. Masukkan speculum ke dalam vagina. Mengambil sel pada saluran mulut Rahim. 7. Kekurangan Kekurangan pap smear adalah kemampuan mendeteksi HPV tetapi tidak mamp u mendifferensiasikan infeksi HPV tersebut sebagai infeksi HPV risiko rendah ataupun risiko tinggi. luka. 6. Ditemukan adanyaketerbatasan pap smear sebagai metode skrining. Spekulum kemudian dilepas. atau e. atau gangguan lain pada alat kelamin bagian luar.Indikasi a. Periksa apakah ada pembengkakan. 5. Kaca obyek akan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa. Radioterapi. pemantauan setelah tindakan pembedahan. Prosedur 1. inflamasi.7 28 . c. 3. dan pada daerah peralihan mulut Rahim dan vagina dengan menggunakan swab atau spatula kayu. baik keterbatasan sensitivitasmaupun spesifitas. b. Skrining pada wanita yang sudah melakukan hubungan seksual aktif. Letakkan sel-sel tersebut pada kaca obyek. Tujuannya agar mulut rahim dapat leluasa terlihat. Atur posisi dengan tidur terlentang dengan kedua kaki berada pada penyangga kaki di kiri dan kanan tempat tidur. 4. d. 9. Deteksi dini adanya keganasan pada serviks. pada puncak mulut Rahim. Kemoterapi kanker serviks.

Ny. Keluarnya cairan putih kekuningan ini bisa disebabkan keadaan fisiologis atau patologis. karna HPV ini menular lewat seks bebas dengan banyaknya pasangan. A! Jawab : Ny. penyakit menahun atau kelelahan kronis. Apabila pasangan seksual telah terinfeksi HPV maka penularan virus dapat terjadi.7% penyebab kanker serviks haruslah dicegah pada kondisi patologis ini. sehingga hubungan belum pernah mendapat imunisasi HPV akan memperbesar kemungkinan disebabkan oleh virus dan akan menyebabkan kanker serviks di kemudian hari. A belum mengenal HPV sehingga belum bisa mencegah virus tersebut menginvasi. Namun sehubungan Ny. menopause. A .A berusia 36 tahun 29 . neoplasma jinak. bakteri. parasit. 10) Jelaskan hubungan imunisasi HPV dengan keluhan Ny. Dikarenakan cairan yang keluar berwarna putih kekuningan dan berbau maka termasuk ke keadaan patologis. Oleh karena dampak tersebut. A terserang HPV karena tubuh Ny.9) Jelaskan hubungan jumlah pasangan dengan keluhan Ny. Belum pernah melakukan imunisasi HPV akan memperbesar kemungkinan Ny. HPV yang merupakan 99. Menurut skenario. sehubungan Ny. fistel di vagina. kelainan alat kelamin didapat atau bawaan. A tidak terinfeksi oleh HPV. A! Jawab : Untuk menyingkirkan dan memperkuat diagnosa bahwa penyakit Ny. gangguan keseimbangan hormon. A belum mendapat imunisasi HPV haruslah melakukan atau mendapat imunisasi HPV untuk menjadi proteksi sehingga menjadi upaya pencegahan terjadinya kanker serviks tanpa harus melakukan screening terlebih dahulu. virus). Dari faktor infeksi virus dan kanker seperti kanker serviks perlu diketahui adanya keterkaitan antara Human Papiloma Virus (HPV) dengan Ny. kanker. A belum pernah menerima imunisasi HPV yang mana juga akan menjadi bahan pertimbangan sebagai penyebab keadaan patologis tadi. A mengeluhkan keluarnya cairan putih kekuningan berbau sejak 1 minggu yang lalu. benda asing. Keadaan patologis tersebut dapat disebabkan oleh infeksi (jamur.

penyakit kanker leher rahim saat ini menempati urutan pertama daftar kanker yang diderita kaum wanita. Di seluruh dunia. 50% kematian terjadi di negara-negara berkembang. 30 . lebih dari 70% kasus yang datang ke rumah sakit ditemukan dalam keadaan stadium lanjut. 11) Jelaskan mengenai kanker serviks! Jawab : a. Periode laten dari fase prainvasif untuk menjadi invasive memakan waktu sekitar 10 tahun.000 kanker serviks baru dan 250. Kanker serviks yang sudah masuk ke stadium lanjut sering menyebabkan kematian dalam jangka waktu relatif cepat. Selain itu.000 kematian setiap tahunnya yang ± 80% terjadi di negara-negara sedang berkembang. insidens kanker serviks diperkirakan ± 40. usia penderita antara 30 – 60 tahun. Kanker serviks merupakan kanker primer yang berasal dari serviks (kanalis servikalis dan atau porsio).50 tahun. diperkirakan terjadi sekitar 500. Dari jumlah itu. Hanya 9% dari wanita berusia <35 tahun menunjukkan kanker serviks yang invasif pada saat didiagnosis. Selama kurun waktu 5 tahun. Hal itu terjadi karena pasien datang dalam stadium lanjut. Definisi Kanker leher rahim (serviks) adalah tumbuhnya sel-sel abnormal pada jaringan serviks.Menurut data Departemen Kesehatan RI. Saat ini di Indonesia ada sekitar 100 kasus per 100 ribu penduduk atau 200 ribu kasus setiap tahunnya.sehingga melakukan imunisasi HPV merupakan hal yang kurang efektif sehingga saran yang bisa diberikan kepada Ny. Di Indonesia. Epidemiologi Kanker serviks atau karsinoma serviks uteri merupakan salah satu penyebab utama kematian wanita yang berhubungan dengan kanker. A adalah agar melakukan screening kanker serviks secara rutin. Serviks adalah bagian ujung depan rahim yang menjulur ke vagina b. terbanyak antara 45.000 kasus pertahun dan masih merupakan kanker wanita yang tersering.

HPV dapat menyebabkan manifestasi klinis baik lesi yang jinak maupun lesi kanker. mempunyai 8 open reading frames (ORFs) dan dibagi menjadi gene early (E) dan late (L).sedangkan 53% dari KIS (kanker in-situ) terdapat pada wanita di bawah usia 35 tahun. Etiologi Penyebab utama kanker serviks adalah virus yang disebut Human Papilloma (HPV). vulva. Sifat onkogenik HPV dikaitkan dengan protein virus E6 dan E7 yang menyebabkan peningkatan proliferasi sel sehingga terjadi lesi pre kanker yang kemudian dapat berkembang menjadi kanker  Morfologi HPV Human papilloma virus (HPVs) adalah virus DNA famili papillomaviridae. yang banyak terkait dalam proses replikasi virus dan onkogen. anus dan penis. c. E5. E Protein Perananya E1 Mengontrol pembentukan DNA virus dan mempertahankan efisomal 31 . Tumor jinak yang disebabkan infeksi HPV yaitu veruka dan kondiloma akuminata sedangkan tumor ganas anogenital adalah kanker serviks. HPV virion tidak mempunyai envelope. Virus ini juga bersifat epiteliotropik yang dominan menginfeksi kulit dan selaput lendir dengan karakteristik proliferasi epitel pada tempat infeksi. mempunyai kapsid ikosahedral. E4. Genom HPV berbentuk sirkuler dan panjangnya 8 kb. dapat menginfeksi kulit dan mukosa epitel. sedangkan gen L mengsintesis 2 protein L yaitu L1 dan L2 yang terkait dengan pembentukan kapsid. Gen E mengsintesis 6 protein E yaitu E1. E6 dan E7. berdiameter 55 nm. E2. vagina. HPV tersebar luas.

p123) E6 Immortalisasi / berikatan dengan p 53. 34.p107. 35. 58. 42. 33. HPV tipe 16 paling sering dijumpai dan sekitar 32 . Tipe low-risk cendrung menyebabkan tumor jinak meskipun kadangkala dapat menyebabkan kanker antara lain kanker anogenital yaitu tipe 6.  HPV tipe low-risk (resiko rendah). 44. 52.  HPV tipe high-risk (resiko tinggi) Tipe high-risk (resiko tinggi) cenderung menyebabkan tumor ganas. 43. dan 81. trans activated / kontrol transkripsi E7 Immortalitas / berikatan dengan Rb1. 66. 61. 56. E2 E Mengontrol pembentukan / transkripsi / transformasi E4 Mengikat sitokeratin E5 Transformasi melalui reseptor permukaan (epidermal growt factor. 39. 45. 72. 54. Lebih dari 30 tipe HPV yang diklasifikasikan onkogenik atau resiko tinggi (high. 68 dan 82. platelet derivat growth factor. 11. 59. 51. 31.p130 L Protein Peranannya L1 Protein sruktur / mayor Viral Coat Protein L2 Protein sruktur / minor Viral Coat Protein  Klasifikasi HPV dibagi menjadi 2 yaitu virus tipe low-risk (resiko rendah) dan high-risk (resiko tinggi) yang dihubungkan dengan resiko keganasan.risk) sebab hubungannya dengan kanker serviks yaitu tipe 16. 70. 18.

Faktor Penyebab HPV (Human Papiloma Virus) merupakan penyebab terbanyak. Frekuensi hubungna seksual juga berpengaruh pada lebi tingginya resiko pada usia tersebut. HPV-31. Jika anda tidak dapat melakukan ini. pertimbangkan konsumsi multivitamin dengan antioksidan seperti vitamin E atau beta karoten setiap hari. (Schiffman.juga dapat dijadkan sebagai faktr resko terjadinya kanke servks.National Cancer Institute merekomendasikan bahwa wanita sebaiknya mengkonsumsi lima kali buah- buahan segar dan sayuran setiap hari. Wanita perokok mengandung konsentrat nikotin dan kotinin didalam serviks mereka yang merusak sel. dan dapat memenuhi servik selama intercourse. d.maka semain besar resiko terjamgkit kanker serviks. yaitu kurang dari 20 tahun. 33.1996). Sebagai tambahan perokok sigaret telah ditemukan sebagai penyebab juga. 45.  Paritas Kanker serviks sering dijumpai pada wanita yan sering melahirkan.aktifitas seksual yang dimulai pada usia dini. HPV-18. yeyapitidak pada kelompok usia lebih tua.6 Infeksi persisten HPV-16. 2. Laki-laki perokok juga terdapat konsetrat bahan ini pada sekret genitalnya.50% kanker serviks invasif dijumpai HPV tipe 18. 33 . Faktor penyebab dan faktor resiko kanker serviks 1. 31. Faktor Resiko  Pola hubungan seksual Studi epidemiologi mengungkapkan bahwa resiko terjangkit kanker serviks meningkat seiring meningkatnya jumlah pasangan. HPV-45 sering menyebabkan kanker serviks. 52 dan 58.Defisiensi beberapa nutrisional dapat juga menyebabkan servikal displasia. Hal ini diuga ada hubungannya dengan belum matannya derah transformas pada sia tesebut bila serin terekspos. Semakin sering melahirkan.

Penelitian tersebut juga mendapatkan bahwa semua kejadian kanker serviks invasive terdapat pada pengguna kontrasepsi oral. Selain itu. WHO mereview berbagai peneltian yang menghubungkan penggunaan kontrasepsi oral dengan risko terjadinya kanker serviks. Penelitian lain mendapatkan bahwa insiden kanker setelah 10 tahun pemakaian 4 kali lebih tinggi daripada bukan pengguna kontrasepsi oral. adanya kemungkinan bahwa wanita yang menggunakan kontrasepsi oral lain lebih sering melakukan pemeriksaan smera serviks.sehingga displasia dan karsinoma in situ nampak lebih frekuen pada kelompok tersebut.1996) mendapatkan bahwa peningkatan insiden kanker serviks dipengaruhi oleh lama pemakaian kontrasepsi oral. Diperlukan kehati-hatian dalam menginterpretasikan asosiasi antara lama penggunaan 34 . bahkan setelah dikontrol dengan variabel konfounding sepert pola hubungna seksual.  Merokok Beberapa peneitian menunukan hubungan yang kuat antara merokok dengan kanker serviks. Namun penelitian serupa yang dilakukan oleh peritz dkk menyimpulkan bahwa aktifitas seksual merupakan confounding yang erat kaitannya dengan hal tersebut.  Kontrasepsi oral Penelitian secara perspektif yang dilakukan oleh Vessey dkk tahun 1983 (Schiffman.Pemelitian di Amerika Latin menunjukkan hubungan antara resiko dengan multiparitas setelah dikontrol dengan infeksi HPV. menyimpulkan bahwa sulit untuk menginterpretasikan hubungan tersebut mengingat bahwa lama penggunaan kontraseps oral berinteraksi dengan factor lain khususnya pola kebiasaan seksual dalam mempengaruhi resiko kanker serviks. Penemuan lain mempekhatkan ditemkanna nikotin paa cairan serviks wanita perokok bahan ini bersifata sebaai kokassnoen dan bersama-sma dengan kasinoge yan elah ada selanjutnya mendoron pertumbuhan ke arah kanker.

Jikasudah terjadi kanker akan timbul gejala yang sesuai dengan penyakitnya. Jumlah pasangan ganda selain istri juga merupakan factor resiko yang lain. berhubungna dengan peningkatan resiko terhadap displasia ringan dan sedang. Manifestasi klinis Lesi pra-kanker dan kanker stadium dini biasanya asimtomatik dan hanya dapat terdeteksi dengan pemeriksaan sitologi. kontrasepsi oral dengan resiko kanker serviks karena adanya bias dan faktor confounding. Faktor defisiensi nutrisi. Rendahnya kebersihan genetalia yang dikaitkan dengan sirkumsisi juga menjadi pembahasan panjang terhadap kejadian kanker serviks.  Sosial ekonomi Studi secara deskrptif maupun analitik menunjukkan hubungan yang kuat antara kejadian kanker serviks dengan tingkat social ekonomi yang rendah. Hal ini juga diperkuat oleh penelitian yang menunjukkan bahwa infeksi HPV lebih prevalen pada wanita dengan tingkat pendidkan dan pendapatan rendah. Namun sampasaat ini tdak ada indikasi bahwa perbaikan defisensi gizi tersebut akan enurunkan resiko. Boon dan Suurmeijer melaporkan bahwa sebanyak 76% kasus tidak menunjukkan gejala sama sekali.. Gejala yang timbul dapat berupa perdarahan pasca-sanggama 35 . Penggunaan kondom yang frekuen ternyata memberi resiko yang rendah terhadap terjadinya kanker serviks.  Pasangan seksual Peranan pasangan seksual dari penderita kanker serviks mulai menjadi bahan yang menarik untuk diteliti. multilaritas dan kebersihan genitalia juga dduga berhubungan dengan masalah tersebut. yaitu dapat lokal atau tersebar. e.  Defisiensi gizi Beberapa penelitian menunjukkan bahwa defisiensi zat gizi tertentu seperti betakaroten dan vitamin A serta asam folat.

Dalam siklus sel p53 dan pRb berperan penting. dimana p53 memiliki kemampuan untuk mengadakan apoptosis dan pRb memiliki kontrol untuk proses proliferasi sel itu sendiri. Mekanisme pembelahan sel yang terdiri dari 4 fase yaitu G1. bermigrasi mengisi sel bagian atas. protein yang berperan banyak adalah E6 dan E7. hati (nyeri perut kanan atas. gejala yang berkaitan dengan kandung kemih dan usus besar. atau pembengkakan). Protein E6 mengikat p 53 yang merupakan suatu gen supresor tumor sehingga sel kehilangan kemampuan untuk mengadakan apoptosis. Bila penyakitnya sudah lanjut. G2 dan M harus dijaga dengan baik. Jika tumornya besar. Pada HPV yang menyebabkan keganasan. Sedangkan fase G (Gap) berada sebelum fase S (Sintesis) dan fase M (Mitosis). jika dibandingkan dengan HPV yang tergolong resiko rendah. Infeksi dimulai dari virus yang masuk kedalam sel melalui mikro abrasi jaringan permukaan epitel. gangguan kesadaran). Sementara itu. Sel basal terutama sel stem terus membelah. E7 berikatan dengan Rb yang juga merupakan suatu gen supresor tumor sehingga sel kehilangan sistem kontrol untuk proses proliferasi sel itu sendiri. kuning. sehingga dimungkinkan virus masuk ke dalam sel basal. Protein E6 dan E7 pada HPV jenis yang resiko tinggi mempunyai daya ikat yang lebih besar terhadap p53 dan protein Rb. berdiferensiasi dan mensintesis keratin. mekanisme utama protein E6 dan E7 dari HPV dalam proses perkembangan kanker serviks adalah melalui interaksi dengan protein p53 dan retinoblastoma (Rb). S. dapat terjadi infeksi dan menimbulkan cairan (duh) berbau yang mengalir keluar dari vagina. akan timbul nyeri panggul. Patofisiologi Petanda tumor atau kanker adalah pembelahan sel yang tidak dapat dikontrol sehingga membentuk jaringan tumor. F. paru (sesak atau batuk darah). Protein 36 . Selama fase S. dan lain- lain.atau dapat juga terjadi perdarahan di luar masa haid dan pasca menopause.33 Gejala lain yang timbul dapat berupa gangguan organ yang terkena misalnya otak (nyeri kepala.32. tulang (nyeri atau patah). terjadi replikasi DNA dan pada fase M terjadi pembelahan sel atau mitosis.

Jika sel tumor sudah terdapat >1mm dari membrana basalis. Sesudah tumor menjadi invasif. 37 . yang pada tingkat akhir (terminal stage) dapat menimbulkan fistula rektum atau kandung kemih. ginjal.virus pada infeksi HPV mengambil alih perkembangan siklus sel dan mengikuti deferensiasi sel. Tumor mungkin sudah menginfiltrasi stroma serviks. hipogastrika. Penyebaran limfogen ke parametrium akan menuju kelenjar limfa regional melalui ligamentum latum. hati . prasakral. akan tetapi secara klinis belum tampak sebagai karsinoma. dan kandung kemih. korpus uterus. tulang dan otak. Karsinoma serviks umumnya terbatas pada daerah panggul saja. praaorta. dan seterusnya secara teoritis dapat lanjut melalui trunkus limfatikus di kanan dan vena subklavia di kiri mencapai paru- paru. kelenjar-kelenjar iliak. obturator. maka prosesnya sudah invasif. Tergantung dari kondisi immunologik tubuh penderita KIS akan berkembang menjadi mikro invasif dengan menembus membrana basalis dengan kedalaman invasi <1mm dan sel tumor masih belum terlihat dalam pembuluh limfa atau darah. Tumor yang demikian disebut sebagai ganas praklinik (tingkat IB-occult). penyebaran secara limfogen melalui kelenjar limfa regional dan secara perkontinuitatum (menjalar) menuju fornices vagina. atau <1mm tetapi sudah tampak dalam pembuluh limfa atau darah. rektum.

American Cancer Society). Gangguan konsep diri 6. Perubahan terhadap pola seksual 5. Intoleransi aktivitas Perjalanan penyakit kanker serviks dari pertama kali terinfeksi memerlukan waktu sekitar 10-15 tahun. 2012. Penurunan CO 3. Kurang perawatan diri 8. Nyeri 2. Perfusi jar. Oleh sebab itu kanker serviks biasanya ditemukan 38 . tdk adekuat 4. Nutrisi <dari kebutuhan tubuh 7. At lanta. 1. Cervical Cancer.(Sumber : American Cancer Society.

dinding pinggul dan nodus limpa (IIIA menjalar ke vagina. Perjalanan penyakit dan staging 39 .IIIB menjalar ke dinding pinggul. rectum. pada wanita yang sudah berusia sekitar 40 tahun. IIB menjalar ke vagina dan rahim). sistem pencernaan. atau organ lain (IVA: Menjalar ke kandung kencing. mengganggu fungsi ginjal dan menjalar ke nodus limpa). hati. atau paru-paru ). pada stadium dua kanker meluas di serviks tetapi tidak ke dinding pinggul (IIA menjalar ke vagina/liang senggama. pada stadium empat kanker menjalar ke kandung kencing. Gambar. pada stadium III kanker menjalar ke vagina. rektum. menghambat saluran kencing. nodus limpa. IVB: Menjalar ke panggul and nodus limpa panggul.Ada empat stadium kanker serviks yaitu Stadium satu kanker masih terbatas pada serviks (IA dan IB). perut.

STADIUM CA SERVIKS Klasifikasi Stadium Ca Serviks menurut FIGO 0 Karsinoma in situ (karsinoma preinvasif) I Karsinoma serviks terbatas di uterus (ekstensi ke korpus uterus dapat diabaikan) IA Karsinoma invasif didiagnosis hanya dengan mikroskop. keterlibatan dari kelenjar getah bening supraklavikula. meskipun invasi hanya superfisial. pembedahan dan kemoterapi.0 cm atau kurang IB2 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar lebih dari 4.0mm dengan penyebaran horizontal 7.0 cm II Invasi tumor keluar dari uterus tetapi tidak sampai ke dinding panggul atau mencapai 1/3 bawah vagina IIA Tanpa invasi ke parametrium IIA1 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar 4.0 mm kedalamannya dan 7. dimasukkan ke dalam stadium IB IA1 Invasi stroma tidak lebih dari 3. Komplikasi Banyak wanita yang mengalami komplikasi kanker serviks.0 cm IIB Tumor dengan invasi ke parametrium III Tumor meluas ke dinding panggul/ atau mencapai 1/3 bawah vagina dan/atau menimbulkan hidronefrosis atau afungsi ginjal IIIA Tumor mengenai 1/3 bawah vagina tetapi tidak mencapai dinding panggul IIIB Tumor meluas sampai ke dinding panggul dan / atau menimbulkan hidronefrosis atau afungsi ginjal IVA Tumor menginvasi mukosa kandung kemih atau rektum dan/atau meluas keluar panggul kecil (true pelvis) IVB Metastasis jauh (termasuk penyebaran pada peritoneal.0 mm atau kurang IB Lesi terlihat secara klinik dan terbatas di serviks atau secara mikroskopik lesi lebih besar dari IA2 IB1 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar 4. Komplikasi terkait 40 .0 cm atau kurang IIA2 Lesi terlihat secara klinik berukuran dengan diameter terbesar lebih dari 4.0 mm atau kurang pada ukuran secara horizontal IA2 Invasi stroma lebih dari 3. atau para aorta. hati. paru. atau tulang) g.0 mm dan tidak lebih dari 5. Semua lesi yang terlihat secara makroskopik. mediastinal. Komplikasi dapat timbul sebagai akibat langsung dari kanker atau sebagai efek samping pengobatan seperti radioterapi.

. pendarahan kecil seperti dari vagina atau kebutuhan sering buang air kecil. merupakan mikroorganisme yang mendominasi pada wanita dengan sekret vagina normal.1. Gejala yang paling sering pada bakterial vaginosis adalah adanya cairan vagina yang abnormal (terutama setelah melakukan hubungan seksual) dengan adanya bau vagina yang khas yaitu bau amis/bau ikan (fishy odor). Gardnerella vaginalis dan Mycoplasma hominis. dengan kanker serviks dapat berkisar dari yang relatif kecil.. Mobilluncus sp. untuk mengancam kehidupan. 12) Apa yang terjadi dengan Ny...Vaginosis bakterial merupakan penyebab utama timbulnya sekret vagina yang berbau tidak sedap pada wanita usia reproduktif. penghasil hidrogen peroksidase (H2O2). Lactobacillus sp. A? Jawab : Suspect vaginosis Vaginosis bakterial (VB) adalah sindrom klinis akibat pergantian Lactobacillus sp. Mikroorganisme tersebut berperan dalam membantu pertahanan lingkungan vagina terhadap patogen dengan menjaga keasaman pH vagina dan produksi hidrogen peroksida (H2O2 Penyebab vaginosis bakterial bukan mikroorganisme tunggal. seperti pendarahan parah dari vagina atau gagal ginjal. Walaupun beberapa wanita mempunyai gejala 41 . Cairan seminal yang basa (pH 7. Manifestasi klinis Vaginosis Bakterial Wanita dengan bakterial vaginosis dapat tanpa gejala.11 Bau tersebut disebabkan oleh adanya amin yang menguap bila cairan vagina menjadi basa. yang merupakan flora normal pada vagina dengan bakteri anaerob konsentrasi tinggi (seperti : Bacteriodes sp. Pada suatu analisis dari data flora vagina memperlihatkan bahwa ada 4 kategori dari bakteri vagina ) sebagai antimokroba.2) menimbulkan terlepasnya amin dari perlekatannya pada protein dan amin yang menguap menimbulkan bau yang khas.

1 Sekret tersebut melekat pada dinding vagina dan terlihat sebagai lapisan tipis atau kelainan yang difus. Lactobacillus dengan flora campuran yang terdiri dari Gardnerella vaginalis.6 Pada penderita dengan bakterial vaginosis tidak ditemukan inflamasi pada vagina dan vulva. dan jarang berbusa.yang khas. pada VB.Sepertiga penderita mengeluh gatal dan rasa terbakar.Pada Gardnerella vaginalis dan bakteri anaerob dapat terjadi simbiosis. dan seperlima timbul kemerahan dan edema pada vulva. Bakterial vaginosis dapat timbul bersama infeksi traktus genital bawah seperti trikomoniasis dan servisitis sehingga menimbulkan gejala genital yang tidak spesifik. vaginalis dan bakteri anaerob. Nyeri abdomen.20 Patogenesis vaginosis bakterialis Vaginosis bakterial dihasilkan dari pergantian flora normal vagina. menghasilkan bau amis (fishy odor) saat cairan vagina dicampur dengan KOH10% atau disebut 42 . homogen. atau nyeri waktu kencing jarang terjadi.Lactobacillus vagina secara invitro menghambat pertumbuhan Gardnerella vaginalis. Flora normal vagina yang didominasi oleh Lactobacillus memilik pH < 4. viskositas rendah atau normal. bakteri anaerob dan Mobilluncus hominis. Gejala peradangan umum tidak ada.5 yang disebabkan produksi asam laktat. kalau ditemukan lebih ringan daripada yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis atau C. dispareuria. dimana Gardnerella vaginalis menghasilkan asam amino yang akan diubah oleh bakteri anaerob menjadi senyawa amin yang akan menaikkan pH yang merupakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan Gardnerella vaginalis.albicans. dan kalau ada karena penyakit lain.Diperkirakan produksi amin oleh flora mikrobial melalui aktivitas derkarboksilase. lebih tebal dan terdiri atas kumpulan sel epitel vagina yang memberikan gambaran bergerombol. pH > 4.Sebaliknya sekret vagina normal.1 Iritasi daerah vagina atau sekitar vagina (gatal. rasa terbakar). namun pada sebagian besar wanita dapat asimptomatik. Pada pemeriksaan biasanya menunjukkan sekret vagina yang tipis dan sering berwarna putih atau abu-abu.5 akibat dominasi G. bakteri anaerob Gram negatif menghasilkan H2O2 yang bersifat toksik dan melalui reaksi ion halide dengan peroksidase pada serviks yang merupakan bagian dari sistem antibakteria H2O2-halide-peroxidase.

43 . meliputi putrescine. Dosis obat : A. termasuk wanita hamil.whiff test. cadaverin dan trimethylamine pada pH alkali. akan menimbulkan keadaan yang lebih parah. maka penting untuk mencari obat-obat yang efektif yang bisa digunakan pada masa kehamilan. Cairan vagina wanita VB mengalami peningkatan kadar endotoksin. Sekitar 1 dari 4 wanita akan sembuh dengan sendirinya. bila bakterial vaginosis tidak diberi pengobatan. termasuk servisitis dan endrometritis. Clindamycin per oral 2 x 300 mg/hari selama 7 hari C. Ahli medis biasanya menggunakan antibiotik seperti metronidazol dan klindamisin untuk mengobati bakterial vaginosis. Namun pada beberapa wanita. dan bakteri lain mengalami penurunan jumlah. sialidase dan glikosidase yang menurunkan musin dan viskositas Peningkatan respon hospes terhadap VB didokumentasikan sebagai peningkatan kadar sitokin dan kemokin pada mukus serviks wanita VB dan penurunan sekresi leucocyte protease inhibitor. diduga karena volatisasi dari aromatik amin. dimana jenis obat yang digunakan hendaknya tidak membahayakan dan sedikit efek sampingnya.Efek VB pada epitel vagina dan pergantian sel epitel belum diketahui. Oleh karena itu perlu mendapatkan pengobatan. Setelah ditemukan hubungan antara bakterial vaginosis dengan wanita hamil dengan prematuritas atau endometritis pasca partus. belum diketahui mikroba lain yang merupakan sumber amin. Metronidazol jangan diberikan pada wanita hamil terutama trimester I. Tatalaksana dan komplikasi vaginosis bacterialis Penyakit baktrerial vaginosis merupakan penyakit yang cukup banyak ditemukan dengan gambaran klinis ringan tanpa komplikasi. hal ini diakibatkan karena organisme Lactobacillus vagina kembali meningkat ke level normal.Namun peningkatan konsentrasi bakteri anaerob patogen dan VB dapat meningkatkan resiko infeksi saluran genital atas. Semua wanita dengan bakterial vaginosis simtomatik memerlukan pengobatan. Mobilluncus diketahui juga menghasilkan trimethylamine. Metronidazol 500 mg per oral 2x/hari selama 7 hari ATAU B.

12. G. dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Prawirohardjo.S.enam tahun ed Philadelphia Lippincott Williams dan wilkins 2010 14.andrijono. Manual Prakanker Serviks. Indriatmi. 10. Lippincott Williams & Wilkins. Berek. Berek.Editor. FKUI : Jakarta.Edisi ketiga. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. 2014. 14. Moammad Jusuf Hanafiah.jakarta:PT Elex Media komputindo 15. 2005.sarwono. Nuranna. ed. United States : 2007 16. 6.cegah dan deteksi kankker serviks .S. Bustan.2010 . Lippincott Williams & Wilkins. 2007.Editors obstetric and gynecologys . M.dkk. Laila. 44 .Jakarta : Female Cancer Programme.prawirohardjo. Obstetric and Gynecologys.Edisi 2. 3.N. 13. Imam. (2009). United States : 2007 13. 2012. 11.Beckman.jakarta :PT Bina pustaka 12. 2008.2012. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.Jakarta : PT Bina Pustaka. Ilmu Kandungan . Arif dkk Editors. American Cancer Society. Hal 452-453 2.). B. DAFTAR PUSTAKA 1. Nuranna. 2012. Jakarta: EGC. dkk. Cervical Cancer. Berek & Novak’s Gynecology. Laila.OG . 8. Charless RB et al. Buku Acuan untuk Dokter dan Bidan. Dr. 2011. 6th Ed. ed. Editors. Edisi ketujuh. Buku Acuan untuk Dokter dan Bidan. 5. 7. I. Sarwono. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins. dkk.. 10. Rasjidi. 14. 4.Jakarta : Female Cancer Programme 9.ilmu kebidanan .Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2011. Berek & Novak’s Gynecology. Mansjoer. Edisi IV. Cetakan 2. Ilmu kandungan. Memahami kesehatan reproduksi wanita (2 ed. J. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Vaginosis Bakterialis. American Cancer Society.edisi ketiga. 2016. Dalam Prof. J. Jakarta: Sagung Seto.Charles RB at al. 2010.backman. 4. Wresti. Haid dan Siklusnya. At lanta. Hanifa Wiknjosatro Sp.

Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono. 2009. (editor). Edisi Kedua. Ilmu Kandungan. 45 . H.et all.380-387.17. Wiknjosastro. Serviks Uterus..