You are on page 1of 19

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 TEORI DASAR


2.1.1 Pengertian Kondensor
Kondensor merupakan alat penukar kalor yang berfungsi untuk
mengkondensasikan uap keluaran turbin. Uap setelah memutar turbin langsung
mengalir menuju kondensor untuk diubah menjadi air (dikondensasikan), hal
ini terjadi karena uap bersentuhan langsung dengan pipa-pipa (tubes) yang
didalamnya dialiri oleh air pendingin.
Oleh karena itu, kondensor merupakan salah satu komponen utama
yang sangat penting, maka kemampuan kondensor dalam mengkondensasikan
uap keluaran turbin harus benar–benar diperhatikan, sehingga perpindahan
panas antara fluida pendingin dengan uap keluaran turbin dapat maksimal dan
pengkondensasian terjadi dengan baik.

Gambar 2. 1 Kondensor pada PLTU


Kondensor juga banyak digunakan dalam kehidupan kehidupan sehari-
hari baik itu dalam industri rumah tangga, industri otomotif, maupun dalam
industri farmasi dan obat-obatan. Di Indonesia sendiri, kondensor bukanlah hal
yang asing. Kondensor banyak kita jumpai dalam perangkat pendingin pada
mobil, maupun Air Conditioner yang terpasang pada gedung-gedung, instalasi
perkantoran atau fasilitas umum seperti mall dan supermarket.

7
8

Gambar 2. 2 Kondensor
Didalam sistem kompresi uap (vapor compression) kondensor adalah
suatu komponen yang berfungsi untuk merubah fase refrigerant dari uap
bertekanan tinggi menjadi cairan bertekanan tinggi atau dengan kata lain pada
kondensor ini terjadi proses kondensasi. Refrigerant yang telah berubah
menjadi cair tersebut kemudian dialirkan ke evaporator melalui pompa.

Gambar 2. 3 Kondensor pada sistem kompresi uap

2.1.2 Pengertian Kondensasi


Kondensasi berasal dari bahasa latin yaitu condensare yang berarti
membuat tertutup. Kondensasi merupakan perubahan wujud zat dari gas
atau uap menjadi zat cair.
Kondensasi terjadi pada pemampatan atau pendinginan jika tercapai
tekanan maksimum dan suhu di bawah suhu kritis. Kondensasi terjadi ketika
uap didinginkan menjadi cairan, tetapi dapat juga terjadi bila sebuah uap
dikompresi (yaitu tekanan ditingkatkan) menjadi cairan, atau mengalami
kombinasi dari pendinginan dan kompresi.
Contoh bentuk kondensasi dilingkungan sekitar adalah uap air
diudara yang terkondensasi secara alami pada permukaan yang dingin
dinamakan embun. Uap air hanya akan terkondensasi pada suatu permukaan
9

ketika permukaan tersebut lebih dingin dari titik embunnya atau uap air telah
mencapai kesetimbangan di udara, seperti kelembapan jenuh.
Titik embun udara adalah temperatur yang harus dicapai agar mulai
terjadi kondensasi diudara. Molekul air mengambil sebagian panas dari udara.
Akibatnya temperatur air akan sedikit turun. Di atmosfer, kondensasi uap airlah
yang menyebabkan terjadinya awan.
Molekul kecil air dalam jumlah banyak akan menjadi butiran air karena
pengaruh suhu, dan tapat turun ke bumi menjadi hujan. Inilah yang disebut
siklus air. Pengendapan atau sublimasi juga merupakan salah satu bentuk
kondensasi. Pengendapan adalah pembentukan langsung es dari uap air,
contohnya salju.
Cairan yang telah terkondensasi dari uap disebut kondensat. Sebuah
alat yang digunakan untuk mengkondensasi uap menjadi cairan disebut
kondensor. Kondensor umumnya adalah sebuah pendingin atau penukar panas
yang digunakan untuk berbagai tujuan, memiliki rancangan yang bervariasi,
dan banyak ukurannya dari yang dapat di genggam sampai yang sangat
besar. Kondensasi uap menjadi cairan adalah lawan dari penguapan (evaporasi)
dan merupakan proses eksothermik (melepas panas).

2.1.3 Prinsip Kerja Kondensor


Air laut sebagai media pendingin masuk ke box condensor
didistribusikan ke pipa-pipa kecil(tube condensor) untuk menyerap panas yang
diterima tube dari extraction steam LP-turbine.
Uap panas yang masuk ke kondensor dengan temperatur yang tinggi
dan bertekanan yang merupakan hasil proses dari turbin. Kemudian uap panas
masuk ke dalam Suction Pipe dan kemudian mengalir dalam tube.
Dalam tube, uap panas didinginkan dengan media pendingin air yang
dialirkan melewati sisi luar tube, kemudian keluar melalui Discharge Pipe
dengan temperatur yang sudah turun.
Prinsip kondensasi di kondensor adalah menjaga tekanan uap Superheat
Refrigerant yang masuk ke kondensor pada tekanan tertentu kemudian suhu
Refrigerantnya diturunkan dengan membuang sebagian kalornya ke medium
10

pendingin yang digunakan di kondensor. Sebagai medium pendingin


digunakan udara dan air atau gabungan keduanya. Dalam perancangan ini akan
digunakan air sebagai media pendingin.
Pada proses pendinginan (cooling) cairan refrigerant yang menguap di
dalam pipa-pipa Cooling Coil (evaporator) telah menyerap panas sehingga
berubah wujudnya menjadi gas dingin dengan kondisi superheat pada saat
meninggalkan Cooling Coil. Panas yang telah diserap oleh refrigerant ini harus
dibuang atau dipindahkan ke suatu medium lain sebelum ia dapat kembali
diubah wujudnya menjadi cair untuk dapat mengulang siklusnya kembali.

2.1.4 Komponen Utama dari Kondensor


Kondensor pada umumnya memiliki beberapa komponen utama,
dimana masing-masing komponen memiliki fungsinya tersendiri. Adapun
komponen-komponen utama dari kondensor adalah sebagai berikut:
1. Suction Pipe dan Discharge Pipe (Pipa saluran masuk dan pipa saluran
keluar).
a. Suction Pipe
Suction Pipe adalah pipa saluran masuk untuk masuknya media
pendingin ke dalam kondensor,yang mana media pendingin itu
berupa fluida cair yang bertekanan yang merupakan hasil dari
pemampatan di kompresor.
b. Discharge Pipe
Discharge pipe adalah pipa saluran keluar Refrigerant dari
kompresor melalui tube ke tangki receiver.

2. Tube ( Pipa dalam Kondensor )


Tube adalah pipa aliran yang dilalui Refrigerant yang bertekanan dan
panas yang merupakan hasil dari turbin melalui suction pipe dan akan
disalurkan ke discharge pipe dan kemudian diterima oleh tangki receiver.
Umumnya terdapat empat susunan tube yaitu, Triangular (30o), Rotate
square (60o), Square (90o), Rotate square (45o).
11

Gambar 2. 4 Lay-Out pada Tube


Susunan triangular memberikan nilai perpindahan panas yang lebih
baik bila dibandingkan dengan susunan rotate square dan square karena
dengan susunan triangular dapat menghasilkan turbulensi yang tinggi,
namun begitu tube yang disusun secara triangular akan menghasilkan
pressure drop (penurunan tekanan) yang lebih tinggi dari pada susunan
rotate square dan square. Apabila fluida yang digunakan memiliki tingkat
fouling yang tinggi dan memerlukan pembersihan secara mekanik
(mechanical cleaning) susunan tube secara triangular tidak digunakan,
sebaiknya digunakan susunan square, apabila jenis cleaning yang
digunakan adalah chemical cleaning, maka susunan tube secara triangular
dapat diperimbangkan kembali, mengingat untuk chemical cleaning tidak
memerlukan akses jalur ruang (acess lanes) yang lebih mseperti pada
mechanical cleaning.

3. Buffle
Buffle merupakan jarak bagi antar tube.
12

Gambar 2. 5 Jenis – jenis buffle yang ada pada tube

4. Water Box
Ruang air pendingin (refrigerant) yang terbuat dari baja karbon.

System air kondensat merupakan sumber pasokan utama untuk system


air pengisi ketel. Rentang system air kondensat adalah mulai dari hotwell
sampai ke deaerator. Pada kondensor juga diperlukan alat-alat pendukung
untuk pengoperasiannya , agar kerja kondensor bisa maksimal dan menaikkan
efesiensi siklus PLTU.

Komponen-komponen yang terdapat pada sistem air kondensat antara lain:

1. Hotwell adalah tangki penampung yang terletak di bagian bawah


kondensor dan berfungsi untuk menampung air hasil kondensasi uap bekas
di dalam kondensor sebagai pemasok utama sistem air kondensat.

2. Condensate Pump (Pompa kondensat) berfungsi untuk mengalirkan air


kondensat dari hotwell melintasi system air kondensat menuju
ke deaerator.
13

Sistem kondensat ini mempunyai 2 buah pompa kondensat yaitu satu


untuk cadangan (stand by) dan satu lagi beroperasi. Untuk menjamin
kontinuitas aliran air ke sisi isap (suction) pompa, maka tekanan pada sisi
isap pompa paling tidak harus sama dengan tekanan kondensor.

3. Gland Steam Condensor adalah penukar panas untuk mengkondensasikan


uap bekas dari perapat poros turbin.

4. Steam Air Ejector Condenser, Steam air ejector condenser ini digunakan
untuk mempertahankan vakum kondensor.

5. Low-Pressure Heater berfungsi untuk meningkatkan efisiensi siklus


dengan cara memanaskan air kondensat yang melintasinya.media pemanas
yang digunakan adalah uap yang dicerat/diekstrak dari turbin.

6. Starting Air Ejektor digunakan untuk menyedot dan membuang udara dari
sistem air pendingin utama agar air pendingin dapat mengisi seluruh
permukaan kondensor sehingga proses pendinginan efektif. Saluran
pembungan udara sisi air pendingin terletak pada bagian atas water box
sisi inlet dan sisi outlet condensor.

7. Ball Cleaning System (Tapproge Ball System) berfungsi untuk membersih


kan pipa-pipa (tubes) pendingin kondensor dari kotoran seperti lumpur dan
kotoran halus dengan cara menginjeksikan bola karet (Tapproge Ball)
kedalam pipa-pipa pendingin kondensor secara terus menerus proses ini
dilakukan oleh pompa sirkulasi (Circulation Pump) dengan cara
memompakan bola tapproge pada sisi masuk air pendingin dan mengambil
kembali bola pada sisi keluar air pendingin untuk selanjutnya
disirkulasikan kembali pada kondensor.

8. Deaerator merupakan komponen paling hilir dari sistem air kondensat.


Dearator ini mempunyai 2 fungsi utama yaitu memanaskan air kondensat
dan sekaligus menghilangkan gas-gas (non-condensable gas) yang tidak
dibutuhkan dari air kondensat. Media pemanas yang digunakan adalah
juga uap ekstrasi.
14

2.1.5 Macam – Macam Kondensor


A. Menurut Jenis Cooling Medium
Menurut jenis cooling mediumnya kondensor dibagi menjadi 3
jenis yaitu :
a. Air Cooled Condenser (menggunakan udara sebagai cooling
mediumnya).
Air Cooled Kondensor mengkondensasikan pembuangan
uap dari turbin uap dan kembali kondensat (cairan yang sudah
terkondensasi) ke boiler tanpa kehilangan air.

Gambar 2. 6 Air Cooled Condenser

b. Water Cooled Condenser (menggunakan air sebagai cooling


mediumnya).
Water Cooled Condenser yang paling banyak digunakan yaitu :
a) Shell and Tube Condenser
Shell and Tube Condenser atau Kondensor tipe Tabung dan
Pipa digunakan pada kondensor berukuran kecil sampai besar.
biasa digunakan untuk air pendingin berupa ammonia dan freon.
Seperti terlihat pada gambar didalam kondensor.
Tabung dan Pipa terdapat banyak pipa pendingin, dimana
air pendingin pengalir di dalam pipa-pipa tersebut, ujung dan
pangkal pipa pendingin terikat pada pelat pipa, sedangkan diantara
pelat pipa dan tutup tabung dipasang sekat-sekat untuk membagi
aliran air yang melewati pipapipa dan mengatur agar kecepatannya
cukup tinggi, yaitu 1,5 – 2 m/detik.
15

Gambar 2. 7 Shell and Tube Condenser


Air pendingin masuk melalui pipa bagian bawah kemudian
keluar melalui pipa bagian atas. Jumlah saluran maksimum
yang dapat digunakan sebanyak 12, semakin banyak jumlah
saluran yang digunakan maka semakin besar tahanan aliran air
pendingin. Pipa pendingin ammonia biasa terbuat dari baja
sedangkan untuk freon biasa terbuat dari pipa tembaga.
Jika menginginkan pipa yang tahan tehadap korosi bias
menggunakan pipa kuningan datau pipa cupro nikel. Ciri-ciri
kondensor Tabung dan Pipa adalah :
 Dapat dibuat dengan pipa pendingin bersirip sehingga
ukurannya relatif lebih kecil dan ringan.
 Pipa dapat dibuat dengan mudah.
 Bantuk yang sederhana dan mudah pemasangannya.
 Pipa pendingin mudah dibersihkan.

b) Shell and Coil Condenser


Kondensor tabung dan koil banyak digunakan pada unit
pendingin dengan Freon refrigerant berkapasitas lebih kecil,
misalnya untuk penyegar udara, pendingin air, dan sebagainya.
16

Seperti gambar dibawah ini, Kondensor tabung dan koil


dengan tabung pipa pendingin di dalam tabung yang dipasang pada
posisi vertical. Koil pipa pendingin tersebut biasanya dibuat dari
tembaga, berbentuk tanpa sirip maupun dengan sirip. Pipa tersebut
mudah dibuat dan murah harganya.
Pada Kondensor tabung dan koil, aliran air mengalir di
dalam koil pipa pendingin. Disini, endapan dan kerak yang
terbentuk di dalam pipa harus dibersihkan menggunakan zat kimia
(detergent).

Gambar 2. 8 Shell and Coil Condenser


Adapun cirri-ciri Kondensor tabung dan koil sebagai
berikut :
 Harganya murah karena mudah dalam pembuatannya.
 Kompak karena posisinya yang vertical dan mudah dalam
pemasangannya.
 Tidak perlu mengganti pipa pendingin, tetapi hanya perlu
pembersihan dengan menggunakan detergen

c) Tube and Tubes Condenser


Kondensor jenis pipa ganda merupakan susunan dari dua
pipa coaksial dimana refrigerant mengalir melalui saluran yang
terbentuk antara pipa dalam dan pipa luar yang melintang dari atas
ke bawah. Sedangkan air pendingin mengalir di dalam pipa dalam
arah berlawanan, yaitu refrigerant mengalir dari atas ke bawah.
17

Pada mesin pendingin berkapasitas rendah dengan Freon


sebagai refrigerant, pipa dalam dan pipa luarnya terbuat dari
tembaga. Gambar dibawah ini menunjukkan Kondensor jenis pipa
ganda, dalam bentuk koil. Pipa dalam dapat dibuat bersirip atau
tanpa sirip.

Gambar 2. 9 Tube and Tubes Condenser


Kecepatan aliran di dalam pipa pendingin kira-kira antara
1-2 m/detik. Sedangkan perbedaan temperature air keluar dan
masuk pipa pendingin (kenaikan temperature air pendingin di
dalam kondensor) kira-kira mencapai suhu 10oC. Laju perpindahan
kalornya relative besar.
Adapun cirri-ciri Kondensor jenis pipa ganda adalah
sebagai berikut:
 Konstruksi sederhana dengan harga yang memadai.
 Dapat mencapai kondisi yang super dingin karena arah
aliran refrigerant dan air pendingin yang berlawanan.
 Penggunaan air pendingin relative kecil.
 Sulit dalam membersihkan pipa, harus menggunakan
detergen.
 Pemeriksaan terhadap korosi dan kerusakan pipa tidak
mungkin dilaksanakan. Penggantian pipanya pun juga sulit
dilakukan.
18

c. Evaporatif Condenser (menggunakan kombinasi udara dan air sebagai


cooling mediumnya).
Kombinasi dari kondensor berpendingin air dan kondensor
berpendingin udara, menggunakan prinsip penolakan panas oleh
penguapan air menjadi aliran udara menjadi kumparan kondensasi.

Gambar 2. 10 Evaporatif Condenser

B. Menurut Jenis Desain


a. Berbelit-Belit
Jenis kondensor terdiri dari satu tabung panjang yang digulung
berakhir dan kembali pada dirinya sendiri dengan sirip pendingin
ditambahkan di antara tabung.

Gambar 2. 11 Kondensor Berbelit-Belit

b. Arus Parallel
Desain ini sangat mirip dengan radiator aliran silang. Alih-alih
bepergian refrigeran melalui satu bagian (seperti tipe serpentine)
19

sekarang dapat melakukan perjalanan di berbagai bagian. Ini


akan memberi luas permukaan yang lebih besar untuk udara
ambien dingin untuk kontak.

Gambar 2. 12 Kondensor Arus Parallel

c. Condenser Electric Fan


Kebanyakan kendaraan dengan AC membutuhkan kipas
listrik untuk membantu aliran udara, baik mendorong atau
menarik udara melalui kondensor, tergantung pada sisi mana
kondensor kipas ditempatkan.
Kebanyakan kendaraan modern sekarang memiliki kisi-kisi
depan yang lebih kecil atau bukaan bumper bar. Hal ini
menyebabkan kondisi aliran udara yang buruk terutama pada siaga
bila A/C kinerja dibatasi oleh jumlah aliran udara di atas
kondensor.

Gambar 2.12 Condenser Electric Fan


20

C. Berdasarkan Klasifikasi Umum


a. Surface Condenser
Prinsip kerja surface Condenser Steam masuk ke dalam shell
kondensor melalui steam inlet connection pada bagian atas
kondensor. Steam kemudian bersinggungan dengan tube kondensor
yang bertemperatur rendah sehingga temperatur steam turun dan
terkondensasi, menghasilkan kondensat yang terkumpul pada hotwell.
Temperatur rendah pada tube dijaga dengan cara
mensirkulasikan air yang menyerap kalor dari steam pada proses
kondensasi. Kalor yang dimaksud disini disebut kalor laten
penguapan dan terkadang disebut juga kalor kondensasi (heat of
condensation) dalam lingkup bahasan kondensor.
Kondensat yang terkumpul di hotwell kemudian
dipindahkan dari kondensor dengan menggunakan pompa kondensat
ke exhaust kondensat. Ketika meninggalkan kondensor, hampir
keseluruhan steam telah terkondensasi kecuali bagian yang jenuh dari
udara yang ada di dalam sistem.
Udara yang ada di dalam sistem secara umum timbul akibat
adanya kebocoran pada perpipaan, shaft seal, katup-katup, dan
sebagainya. Udara ini masuk ke dalam kondensor bersama dengan
steam.
Udara dijenuhkan oleh uap air, kemudian melewati air cooling
section dimana campuran antara uap dan udara didinginkan untuk
selanjutnya dibuang dari kondensor dengan menggunakan air
ejectors yang berfungsi untuk mempertahankan vacuum di
kondensor.
Untuk menghilangkan udara yang terlarut dalm kondensat
akibat adanya udara di kondensor, dilakukan deaeration. De-aeration
dilakukan di kondensor dengan memanaskan kondensat dengan
steam agar udara yang terlalut pada kondensat akan menguap.
21

Udara kemudian ditarik ke air cooling section dengan


memanfaatkan tekanan rendah yang terjadi pada air cooling section.
Air ejector kemudian akan memindahkan udara dari sistem.
Surface Condenser dibedakan menjadi dua jenis lagi, yaitu :
a) Horizontal Condenser
Air pendingin masuk kondensor melalui bagian
bawah, kemudian masuk ke dalam pipa-pipa pendingin dan
keluar pada bagian atas sedangkan arus panas masuk lewat
bagian tengah kondensor dan keluar sebagai kondensat pada
bagian bawah kondensor.

Gambar 2. 13 Horizontal Condenser


Kelebihan Kondensor horizontal adalah :
1. Dapat dibuat dengan pipa pendingin bersirip sehingga
relatif berukuran kecil dan ringan
2. Pipa pendingin dapat dibuat dengan mudah
3. Bentuk sederhana dan mudah pemasangannya
4. Pipa pendingin mudah dibersihkan

b) Vertical Condenser
Air pendingin masuk konddensor melalui bagian
bawah, kemudian masuk ke dalam pipa-pipa pendingin dan
keluar pada bagian atas Sedangkan arus panas masuk lewat
bagian atas kondensor dan keluar sebagai kondensat pada
bagian bawah kondensor.
22

Gambar 2. 14 Vertical Condenser


Keterangan :
1. Esterification reactor
2. Vertical frational column
3. Vertical Condenser
4. Horizontal Condenser
5. Storage device
Kelebihan Kondensor vertical adalah :
1. Harganya murah karena mudah pembuatannya.
2. Kompak karena posisinya yang vertikal dan mudah
pemasangan
3. Bisa dikatakan tidak mungkin mengganti pipa pendingin,
pembersihan harus dilakukan dengan menggunakan
deterjen.

b. Direct-Contact Condenser
Direct-contact Condenser mengkondensasikan steam dengan
mencampurnya langsung dengan air pendingin. Direct-contact atau
open Condenser digunakan pada beberapa kasus khusus, seperti :
1. Geothermal power plant.
2. Pada power plant yang menggunakan perbedaan temperatur di
air laut (OTEC)
23

Direct-contact Condenser dibagi menjadi dua jenis lagi, yaitu :


a) Spray Condenser
Pada Spray Condenser, pencampuran steam dengan air
pendingin dilakukan dengan jalan menyemprotkan air ke steam.
Sehingga steam yang keluar dari exhaust turbin pada bagian
bawah bercampur dengan air pendingin pada bagian tengah
menghasilkan kondensat yang mendekati fase saturated.
Kemudian dipompakan kembali ke cooling tower.
Sebagian dari kondensat dikembalikan ke boiler sebagai
feedwater. Sisanya didinginkan, biasanya di dalam dry-
(closed) cooling tower. Air yang didinginkan pada Cooling
tower disemprotkan ke exhaust turbin dan proses berulang.

b) Barometric dan Jet Condenser


Ini merupakan jenis awal dari kondensor. Jenis ini
beroperasi dengan prinsip yang sama dengan spray condenser
kecuali tidak dibutuhkannya pompa pada jenis ini. Vacuum
dalam kondensor diperoleh dengan menggunakan prinsip head
statis seperti pada barometric Condenser, atau menggunakan
diffuser seperti pada jet Condenser.

Gambar 2. 15 Jet Condenser


24

2.1.6 Sistem Pemeliharaan dan Pengamanan pada Kondensor

A. Sistem Pemeliharaan pada Kondenser


Pemeliharaan yang sering dilakukan pada condenser antara lain :
a. PM (Preventive Maintenance) yaitu check level baik sisi control
maaupun sisi mekaniknya
b. Check kondisi semua flange yang berhubungan dengan vacuum
maupun sisiwaternya.
c. Check kwalitas air hotwall (kemungkinan dapat tercampur dengan
air laut bila terjadi tube condenser bocor).
d. Corrective dapat dilakukan bila tube bocor dengan mematikan
salah satu sisi tube.
e. Bila kondisi overhoule atau pekerjaan pada saat unit mati
dilakukan cleaning tube dan juga test kebocoran dengan cara
hydraulic pressure dengan media uadara maupun air, eddy
current, PT check untuk sisi dinding tube ( tube baffle ).

B. Sistem Pengamanan pada Kondenser


Sistem pengaman sangatlah penting pada semua peralatan rotating
maupun non rotating. Pada condenserpun juga terpasang system
pengaman antara lain:
a. Level low dan High
b. Temperatur High , tapping ini terpasang pada sisi LP turbin
c. Vaccum breaker
d. Vacuum Low

2.1.7 Sistem Pengukuran dan Penerapan Rumus pada Kondensor

 Sistem Pengukuran dan Pengaturan Kondensor


Sistem pengukuran dan pengaturan dalam kondenser antara lain :
a) Differensial temperature condenser yang tinggi antara inlet
dan outlet, Jika tinggi maka dilakukan :
- condensor backwashing: yang dilakukan pada kondsi
25

tertentu tergantung kondisi air laut dari water intake.


- Ball cleaning system : dilakukan pada kondisi tertentu
tergantung kondisi air laut dari water intake.

b) Vacuum priming atau pompa venting untuk menghisap udara


yang terjebak pada water box. Ini dilakukan untuk menghindari
vacuum drop.

Proses pada kondensor yang terjadi adalah proses perpindahan panas. Panas dari
uap bekas diteruskan ke massa Fluida pendingin melalui media pemisah yaitu
permukaan perpindahan panas yang dibuat dengan pipa-pipa dengan ketebalan
yang tipis dalam jumlah banyak untuk mencapai effektifitas transmisi sesuai
persamaan :

Dimana :
Q = Jumlah panas yang harus dibuang ke kondensor (kJ/kg)
U = Koefisien perpindahan panas universal (kkal/jam)
A = Luas permukaan perpindahan panas (m²)
T = Temperatur uap masuk Kondensor (°C)
t i = Temperatur air pendingin masuk Kondensor (°C)
t o = Temperatur air pendingin keluar Kondensor (°C)