You are on page 1of 27

PRESENTASE KASUS

KARBUNKEL

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
Di Bagian Dermatovenereologi Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul

Diajukan Kepada :
dr. Dwi Rini Marganingsih, M.Kes., Sp.KK

Disusun oleh
Hafiidz Fatich Rosihan
20174011152

SMF DERMATOVENEREOLOGY
RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2018

i
LEMBAR PENGESAHAN

PRESENTASI KASUS
KARBUNKEL
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
Di Bagian Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul

Disusun oleh
Hafiidz Fatich Rosihan
20174011152

Telah disetujui dan dipresentasikan
Pada Tanggal Desember 2018

Pembimbing

dr. Dwi Rini Marganingsih, M.Kes., Sp.KK

ii
KATA PENGANTAR

Assalamualaikumwarahmatullahwabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil’alamin, hanya itu kalimat pujian yang pantas penulis

persembahkan kepada Allah SWT atas segala nikmat, petunjuk dan kemudahan yang telah

diberikan kepada penulis sehingga penulis bias menyelesaikan pesentasi kasus ini yang diberi

judul “Karbunkel“. Shalawat dan salam buat junjungan alam Nabi Muhammad SAW,

keluarga, sahabat dan para pengikutnya.

Presentasi kasus ini selain disusun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk

mengikuti ujian akhir di bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, dan juga untuk

memberikan informasi kepada tenaga kesehatan maupun masyarakat mengenai Karbunkel.

Penulis menyadari presentasi kasus ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga kritik

dan saran sangat penulis harapkan. Dalam kesempatan yang sangat baik ini perkenankanlah

penulis mengucapkan penghargaan dan terimakasih yang tidak ternilai kepada:

1. Allah SWT, telah memberikan segala nikmat yang tidak terhingga sehingga

mampu menyelesaikan Presentasi Kasus ini dengan baik.

2. dr. Dwi Rini Marganingsih, M.Kes., Sp.KK selaku dokter pembimbing dalam

menyelesaikan presentasi kasus ini.

3. Teman-teman Co-Assistensi seperjuangan di RSUD Panembahan Senopati Bantul.

Wassalamu’alaikumwarahmatullahwabarakatuh.

Bantul, September 2018

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
LEMBAR PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
BAB I 1
PENDAHULUAN 1
BAB II 2
PRESENTASE KASUS 2
BAB III 5
TUNJAUAN PUSTAKA 5
A. DEFINISI 5
B. EPIDEMIOLOGI 5
C. ETIOPATOGENESIS 5
D. GEJALA KLINIS 6
E. HISTOPATOLOGI 7
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG 8
G. DIAGNOSIS 8
H. DIAGNOSIS BANDING 8
I. PENATALAKSANAAN 11
J. PROGNOSIS 12
BAB IV 13
PEMBAHASAN 13
BAB V 15
KESIMPULAN 15
DAFTAR PUSTAKA 16
LAMPIRAN 17

iv
BAB I

PENDAHULUAN

Karbunkel merupakan salah satu manifestasi dari infeksi kulit dan jaringan lunak
disekitarnya. Karbunkel terbentuk dari gabungan beberapa furunkel yang ber kelompok.
Furunkel merupakan nodul yang berisi nanah yang terbentuk dibawah kulit akibat infeksi
bakteri yang menyebabkan inflamasi pada folikel rambut dan jaringan sekitarnya. Karbunkel
memiliki lesi inflamasi yang lebih luas dengan dasar lebih dalam dan ditandai dengan nyeri
yang luar biasa. Pada umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus aureus yang
termasuk flora normal pada kulit, Bakteri tersebut masuk melalui luka, goresan, robekan dan
iritasi pada kulit.

Penyakit ini memiliki insidensi yang rendah. Belum terdapat data spesifik yang
menunjukkan prevalensi karbunkel. Karbunkel umumnya terjadi pada anak-anak, remaja
sampai dewasa muda. Statistik Departemen Kesehatan Inggris menunjukkan bahwa pada
tahun 2002 dan 2003 terdapat sekitar 0,19% atau 24.525 penderita berobat ke Rumah Sakit
Inggris dengan diagnosa furunkel abses kutaneus dan karbunkel.

Karbunkel dapat terjadi di seluruh bagian tubuh, predileksi terbesar penyakit ini pada
wajah, leher, ketiak, pantat atau paha. Setiap orang memiliki potensi terkena penyakit ini,
namun beberapa orang dengan penyakit diabetes, sistem imun yang lemah, jerawat atau
problem kulit lainnya memiliki resiko lebih tinggi. Gambaran klinis penyakit ini adalah
timbulnya nodul kemerahan berisi pus, panas dan nyeri. Diagnosis karbunkel dapat
ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang dikonfirmasi dengan pewarnaan gram dan
kultur bakteri .

Karbunkel dapat menimbulkan komplikasi yang cukup serius. Masuknya S. aureus ke
dalam aliran darah menimbulkan bakteremia. Bakteremia S.aureus dapat mengakibatkan
infeksi pada organ lain atau yang dikenal infeksi metastasis. Sekitar 30% kasus bakteremia
menimbulkan endokarditis. Pada tahap akhir, mengakibatkan sepsis yang dapat menyebabkan
kematian.

Penatalaksanaan karbunkel meliputi insisi, drainase pus serta pemberian antibiotik
sistemik. Umumnya penderita sembuh dengan terapi adekuat tersebut, namun ada beberapa

1
penderita yang mengalami rekurensi yang membutuhkan evaluasi dan penanganan lebih
lanjut.

2
BAB II

PRESENTASE KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. Y
No.RM : 63-61-80
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Bantul
Usia : 60 Tahun
Pekerjaan : Pensiun
Agama : Islam

B. ANAMNESA
1. Anamnesis
a. Keluhan Utama:
Benjolan Nyeri di Pipi Kanan
b. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke poli kulit RSPS dengan keluhan benjolan pada pipi kanan
yang timbul semakin besar sejak 1 bulan terakhir.. Pada mulanya hanya berupa bintil
seperti jerawat 1 buah sebesar kepala jarum pentul berwarna kemerahan. Gatal (-),
nyeri (+) terutama bila tertekan, benjolan berisi nanah (+), benjolan berisi cairan (-),
riwayat digigit binatang (-), demam (-), pasien lalu berobat ke bidan dan diberi 3
macam obat, salah satunya paracetamol sementara 2 obat lainnya tidak diketahui,
namun keluhan tidak berkurang malah semakin membesar dan tumbuh seperti
sekarang.

c. Riwayat Penyakit Dahulu
 Riwayat keluhan serupa disangkal
 Riwayat alergi disangkal
 Riwayat asma disangkal
 Riwayat DM tidak terkontrol
d. Riwayat Penyakit Keluarga
 Riwayat keluhan serupa disangkal

3
 Riwayat asma disangkal
 Riwayat alergi disangkal

e. Data Sosial, Ekonomi, dan Linkungan.
Pasien merupakan pensiunan dan tinggal dengan kedua anaknya dan
menantunya di rumah. Pasien lebih sering berdiam diri di rumah. Pasien mandi 2x
sehari menggunakan air bersih. Pasien menggunakan handuk dan perlengkapan mandi
sering bergantian dengan anaknya. Pasien mengaku jarang mencuci muka nya dan
suka berkeringat di rumahnya karena gerah.

2. Anamnesis Sistem
A. Sistem saraf pusat : Demam (-), penurunan kesadaran (-)
B. Sistem kardiovaskuler : Sesak (-), nadi (-), pucat (-), kaki bengkak (-)
C. Sistem respiratori : Batuk (-), pilek (-), sesak nafas (-), sering bersin (-)
D. Sistem urinaria : BAK (+) dalam batas normal
E. Sistem gastrointestinal : BAB (+) dalam batas normal . Riwayat DM tidak
terkontrol (GDS terakhir 400)
F. Sistem Anogenital : Anus, genitalia tidak ada kelainan
G. Sistem Integumental : Terdapat benjolan di pipi kanan.
H. Sistem musculoskeletal : Gerakan bebas aktif, lumpuh (-), nyeri otot (-)
I. Sistem sensori : Mata memerah (-), mata gatal (-)

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Kesan Umum
Kesan umum : Tampak sakit Ringan
Kesadaran : Compos Mentis
Suhu : 36,5o celcius
Nadi : 90x/menit.
Pernafasan : 18x/menit.

4
2. Pemeriksaan Generalisata : Tampak Baik
3. Pemeriksaan Kulit (foto UUK terlampir)

STATUS DERMATOLOGIS ( Lokasi- Efloresensi-Penyebaran)
 Lokasi : zigomatikum Dekstra
 Efloresensi : nodul eritema, , konsistensi keras, berisi infiltrat, pustula, krusta
 Penyebaran: regional

TES SENSIBILITAS KULIT( Raba- Nyeri): Tidak ada Kelainan

D. DIAGNOSIS BANDING
1. Karbunkel
2. Abses Zigomatikum
3. Folikulitis
4. Furunkel

DIAGNOSIS KERJA
Karbunkel

5
E. PENATALAKSANAAN
Langkah pengobatan karbunkel:
TERAPI
UMUM :

 Menjaga kebersihan wajah, salah satunya dengan mencuci wajah dengan bersih setelah
menggunakan kosmetik

KHUSUS :
 Ciprofloxacin 500mg, 2x1 tablet/ hari
 Paracetamol 500mg prn
 Kompres rivanol atau larutan NaCl 0.9% sebanyak 3x dalam 30 menit sehari
 Gentamisin salep 3x1, bila sudah 2 hari di kompres.

TINDAKAN : tidak dilakukan
PROGNOSIS :
QUO AD SANAM : bonam
QUO AD VITAM : bonam
QUO AD KOSMETIKUM : bonam

6
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Karbunkel adalah infeksi bakteri pada sekelompok folikel rambut dan jaringan
sekitarnya yang berdekatan3,15. Karbunkel terbentuk dari gabungan beberapa furunkel
yang berkelompok dan dibatasi oleh trabekula fibrosa yang berasal dari jaringan
subkutan yang padat7. Karbunkel merupakan nodul inflamasi pada daerah folikel
rambut yang lebih luas dan dasarnya lebih dalam daripada furunkel1,3.

Gambar 1. Karbunkel. Lesi menunjukkan furunkel konfluens multipel yang sebagian
mengeluarkan pus3.

B. EPIDEMIOLOGI
Karbunkel memiliki prevalensi yang kecil. Umumnya terjadi pada anak-anak, remaja
sampai dewasa muda3. Berdasarkan statistik Departemen Kesehatan Inggris, pada
tahun 2002 dan 2003 terdapat sekitar 0,19% atau 24.525 penderita yang berobat ke
Rumah Sakit Inggris dengan diagnosa furunkel abses kutaneus dan karbunkel. Dari
24.525 pasien tersebut terdapat 90% yang memerlukan rawat inap. 54% dari pasien
yang berobat tersebut adalah laki-laki dan 46% pasien adalah perempuan. Usia rata-
rata dari pasien yang berobat adalah 37 tahun. 72% berusia 15-59 tahun dan 6%
berusia diatas 75 tahun4.

7
C. ETIOPATOGENESIS
Perubahan Karbunkel disebabkan infeksi bakteri, umumnya stafilokokus
(Stafilokokus aureus)3. Bakteri S.aureus berbentuk bulat (coccus), memiliki diameter
0,5 – 1,5 µm, memiliki susunan bergerombol seperti anggur, tidak memiliki kapsul,
nonmotil, katalase positif dan pada pewarnaan gram tampak berwarna ungu7,11.
Kulit memiliki flora normal, salah satunya S.aureus. yang merupakan flora residen
pada permukaan kulit dan kadang-kadang pada tenggorokan dan saluran hidung.
Predileksi terbesar penyakit ini pada wajah, leher, ketiak, pantat atau paha. Bakteri
tersebut masuk melalui luka, goresan, robekan dan iritasi pada kulit7. Selanjutnya,
bakteri tersebut berkolonisasi di jaringan kulit. Respon primer host terhadap infeksi
S.aureus adalah pengerahan sel PMN ke tempat masuk kuman tersebut untuk
melawan infeksi yang terjadi. Sel PMN ini ditarik ke tempat infeksi oleh komponen
bakteri seperti formylated peptides atau peptidoglikan dan sitokin TNF (tumor
necrosis factor) dan interleukin (IL) 1 dan 6 yang dikeluarkan oleh sel endotel dan
makrofag yang teraktivasi. Hal tersebut menimbulkan inflamasi dan pada akhirnya
membentuk pus yang terdiri dari sel darah putih, bakteri dan sel kulit yang mati11.

D. FAKTOR RESIKO
Setiap orang dapat beresiko terkena karbunkel, namun terdapat beberapa
faktor yang dapat meningkatkan resiko, antara lain3,11 :

1. Karier S.aureus kronik (pada hidung, aksila, perineum, vagina).
2. Diabetes. Pada diabetes terjadi gangguan fungsi leukosit sehingga membuat tubuh sulit
untuk melawan infeksi.
3. Higiene yang buruk. Hal ini mempermudah bakteri berkolonisasi di permukaan kulit,
sehingga meningkatkan resiko infeksi.
4. Pakaian yang ketat. Iritasi yang terus menerus dari pakaian yang ketat dapat
menyebabkan luka pada kulit, membuat bakteri mudah untuk masuk kedalam tubuh.
5. Kondisi kulit tertentu. Karena kerusakan barier protektif kulit, masalah kulit seperti
jerawat, dermatitis, scabies, atau pedukulosis membuat kulit rentan menjadi furunkel atau
karbunkel.
6. Penggunaan kortikosteroid. Hal ini terkait dengan efek kortikosteroid berupa supresi
sistem imun tubuh.

8
7. Defek fungsi netrofil seperti pada pasien yang mendapatkan obat kemoterapi atau
mendapat obat omeprazole.
8. Penyakit imunodefisiensi primer seperti penyakit granulomatosa kronik, sindrom
Chediak-Higashi, defisiensi C3, hiperkatabolisme C3, hipogammaglobulinemia transient,
timoma dengan imunodefisiensi, dan sindrom Wiskott-Aldrich.

E. DIAGNOSIS
1. Anamnesa

Penderita datang dengan keluhan terdapat nodul yang nyeri. Ukuran nodul tersebut
meningkat dalam beberapa hari dan dapat mencapai diameter 3-10 cm atau bahkan
lebih. Beberapa pasien mengeluh demam dan malaise7.

2. Pemeriksaan Fisik

Terdapat nodul berwarna merah, hangat dan berisi pus. Supurasi terjadi setelah
kira-kira 5-7 hari dan pus dikeluarkan melalui saluran keluar yang multipel (multiple
follicular orifices). Karbunkel yang pecah dan kering kemudian membentuk lubang
yang kuning keabuan ireguler pada bagian tengah dan sembuh perlahan dengan
granulasi3,11.

3. Pemeriksaan Penunjang

Karbunkel biasanya menunjukkan leukositosis. Pemeriksaan histologis dari
karbunkel menunjukkan proses inflamasi dengan PMN yang banyak di dermis dan
lemak subkutan. Pada karbunkel, abses multipel yang dipisahkan oleh trabekula
jaringan ikat menyusup dermis dan melewati sepanjang pinggir folikel rambut,
mencapai permukaan melalui lubang pada epidermis yang terkikis7.

9
Gambar 3. Gambaran histopatologi Karbunkel6.

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis yang dikonfirmasi dengan
pewarnaan gram dan kultur bakteri3,7. Pewarnaan gram S.aureus akan menunjukkan
sekelompok kokus berwarna ungu (gram positif) bergerombol seperti anggur, tidak
bergerak16. Kultur pada medium agar MSA (Manitot Salt Agar) selektif untuk
S.aureus. Bakteri ini dapat mefermentasikan manitol sehingga terjadi perubahan
medium agar dari warna merah menjadi kuning10. Pada kultur S. aureus pada agar
darah menghasilkan koloni bakteri yang lebar (6-8 mm), permukaan halus, sedikit
cembung, dan warna kuning keemasan14. Uji sensitivitas antibiotik diperlukan untuk
penggunaan antibiotik secara tepat3.

10
Gambar 4. Gambaran Mikroskopik S.aureus dengan Pengecatan Gram16.

.

Gambar 5. Hasil Kultur S. aureus dalam Medium MSA10.

11
Gambar 6. Hasil Kultur S.aureus dalam Medium Agar Darah14
F. DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis Karbunkel Furunkel Folikulitis
Banding
Definisi Satu kelompok Peradangan pada Infeksi dimulai
beberapa folikel folikel rambut dan dengan adanya
rambut yang terinfeksi jaringan subkutan peradangan pada
sekitarnya. folikel rambut di kulit
kemudian menyebar
kejaringan sekitarnya
Etiologi Staphylococcus Staphylococcus Staphylococcus
aureus aureus aureus
Faktor pencetus Penderita Penderita Penderita
imunokompromise imunokompromise imunokompromise
seperti penderita seperti penderita seperti penderita
diabetes, obesitas diabetes, penderita diabetes, penderita
penderita penyakit penyakit penyakit
imunodefisiensi imunodefisiensi imunodefisiensi
Higienitas yang buruk Higienitas yang buruk Higienitas yang buruk.
Karakteristik Nodul multipel pada Nodul eritema, keras Noduleritema, milier
lapisan dermis dan yang disertai nyeri
subkutis yang disertai tekan
pus; bisa merupakan
gabungan dari
beberapa furunkel
Tempat Hidung, aksilla, Hidung,tengkuk,kulit Hidung, aksilla,
predileksi tengkuk dan perineum kepala, aksilla dan tengkuk dan perineum
perineum
Mekanisme Ketidakseimbangan Ketidakseimbangan Ketidakseimbangan
pH kulit, penderita pH kulit, penderita pH kulit, penderita
imunokomprimise  imunokomprimise  imunokomprimise 
mempermudah infeksi mempermudah infeksi mempermudah infeksi
foliker rambut oleh foliker rambut oleh foliker rambut oleh

12
S.aureusmerusak S.aureusmerusak S.aureusmerusak
integritas kulit (dermis integritas kulit (dermis integritas kulit (dermis
sampai subkutis ) sampai subkutis ) sampai subkutis )
Gejala klinis Nyeri tekan (+), Nyeri tekan (+), Nyeri tekan (-),
fluktuasi (+), gatal (+) fluktuasi (-), gatal (+), fluktuasi (-) gatal (+)
hangat (+) dan bisa hangat (-) dan tidak dan tidak terdapat
terdapat tanda-tanda terdapat tanda-tanda tanda-tanda infeksi
infeksi sekunder infeksi sekunder sekunder
seperti demam
Pemeriksaan Coccus gram (+), Coccus gram (+), Coccus gram (+),
Gram PMN (+++) PMN (++) PMN (+)

Kista Epidermal

Diagnosa banding yang paling utama dari karbunkel adalah kista epidermal yang
mengalami inflamasi. Kista epidermal yang mengalami inflamasi dapat dengan tiba-tiba
menjadi merah, nyeri tekan dan ukurannya bertambah dalam satu atau beberapa hari sehingga
dapat menjadi diagnosa banding karbunkel. Diagnosa banding ini dapat disingkirkan
berdasarkan terdapatnya riwayat kista sebelumnya pada tempat yang sama, terdapatnya
orificium kista yang terlihat jelas dan penekanan lesi tersebut akan mengeluarkan masa
seperti keju yang berbau tidak sedap sedangkan pada karbunkel mengeluarkan material
purulen3,7.

Hidradenitis Suppurativa

Hidradenitis suppurativa (apokrinitis) sering membuat salah diagnosis karbunkel.
Berbeda dengan karbunkel, penyakit ini ditandai oleh abses steril dan sering berulang. Selain
itu, daerah predileksinya berbeda dengan karbunkel yaitu pada aksila, lipat paha, pantat atau
dibawah payudara. Adanya jaringan parut yang lama, adanya saluran sinus serta kultur
bakteri yang negatif memastikan diagnosis penyakit ini dan juga membedakannya dengan
karbunkel3,7.

13
G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan karbunkel meliputi pembedahan untuk mengeluarkan pus, pemberian
antibiotic sistemik dan terapi adjuvans1,3,7.

2.11.1 Pembedahan
Terapi adekuat dari karbunkel adalah insisi dan drainase pus1,2. Persetujuan tindakan
medis diperlukan sebelum melakukan tindakan. Selanjutnya semua perlengkapan operasi
disiapkan. Pertama disinfeksi area karbunkel dan sekitarnya didisinfeksi dan dibatasi dengan
duk steril.. Anastesi lokal yang umumnya digunakan adalah lidokain 1%.. Scalpel dipegang
menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk membuat initial entry. insisi dilakukan
langsung ke pusat abses. Insisi dibuat searah dengan skin-tension line. Insisi dilebarkan untuk
membuat ruang yang cukup memadai sehingga semua pus dapat keluar. Hal ini dapat
mencegah terjadinya rekurensi. Pengambilan pus utuk kultur dapat menggunakan hapusan
atau spuit ke dalam ruang abses. Setelah pus mengalir spontan. klem yang berujung bengkok
untuk membuka seluruh ruang abses. Klem dimasukkan ke dalam ruang abses ke dalam
sampai menyentuh jaringan yang sehat, kemudian ujung klem dibuka dan digerakkan
melingkar untuk mengeksplorasi memisahkan jaringan sehat dan ruang abses. Selanjutnya
dilakukan irigasi menggunakan spuit tanpa jarum dengan normal saline sampai cairan irigasi
yang keluar dari ruang abses jernih. Wound-packing material ukuran seperempat atau
setengan inchi dimasukkan dalam ruang abses. Kemudian tutup luka dengan kasa steril dan
plester. Penderita follow-up setelah 2-3 hari, jika tidak ada pus, wound-packing material di
ambil5.

14
15
Gambar 7.. Insisi dan Drainase Abses5.

2.11.2 Antibiotik Sistemik

Antibiotik sistemik mempercepat resolusi penyembuhan dan wajib diberikan pada
seseorang yang beresiko mengalami bakteremia. Antibiotik diberikan selama empat sampai
tujuh hari3,7,11.

Bila infeksi berasal dari methicillin resistent Streptococcus aureus (MRSA) dapat
diberikan vankomisin sebesar 1 gram tiap 12 jam7. Pilihan lain adalah tetrasiklin, namun obat
ini berbahaya untuk anak-anak13. Terapi pilihan untuk golongan penicilinase-resistant
penicillin adalah dicloxacilin Pada penderita yang alergi terhadap penisilin dapat dipilih

16
golongan eritromisin. Pada orang yang alegi terhadap β-lactam antibiotic dapat diberikan
vancomisin7.

Terapi antimikrobial harus dilanjutkan sampai semua bukti inflamasi berkurang. Lesi
yang didrainase harus ditutupi untuk mencegah autoinokulasi. Pasien dengan karbunkel yang
berulang memerlukan evaluasi dan penanganan lebih komplek3,7,11.

Tabel 2. Manajemen furunkulosis atau karbunkel rekuren3,8,11
 Evaluasi penyebab yang mendasari dengan teliti
- Proses sistemik
- Faktor-faktor predisposisi yang terlokalisasi spesifik: paparan zat industri (zat
kimia, minyak).
- higiene yang buruk.
- Sumber kontak Staphylococcus: infeksi piogenik dalam keluarga, olahraga
kontak seperti gulat, autoinokulasi.
- Stahphylococcus aureus dari hidung : disini tempat dimana penyebaran
organisme ke tempat tubuh yang lain.terjadi. Frekuensi dari bawaan nasal
bervariasi : 10%-15% pada balita 1 tahun, 38% pada mahasiswa, 50% pada
dokter RS dan siswa militer.
 Perawatan kulit secara umum: tujuannya adalah mengurangi jumlah S.aureus
pada kulit. Perawatan kulit pada kedua tangan dan tubuh dengan air dan sabun
adalah penting. Sabun antimikrobial yang mengandung providone iodine atau
benzoyl peroxide atau klorheksidin 4% dapat digunakan untuk mengurangi
kolonisasi stafilokokus pada kulit.. Handuk yang terpisah harus digunakan dan
secara hati-hari dicuci dengan air panas sebelum digunakan.
 Jenis Pakaian : pakaian yang menyerap keringat, ringan dan longgar harus
digunakan sesering mungkin. Sejumlah besar stafilokokus sering berada pada
seprai dan pakaian dalam pasien dengan furunkulosis atau karbunkel dan dapat
menyebabkan reinfeksi pada pasien dan infeksi pada anggota keluarganya.
Pakaian secara terpisah dicuci dalam air hangat dan diganti tiap hari.
 Pertimbangan umum : beberapa pasien tetap memiliki siklus lesi rekuren.
Kadang-kadang, masalah dapat diperbaiki atau dihilangkan dengan menyuruh
pasien agar tidak melakukan pekerjaan rutin regular. Terutama pada individu
dengan stres emosional dan kelelahan fisik. Liburan selama beberapa minggu,

17
idealnya pada iklim sejuk atau kering akan membantu dengan cara menyediakan
istirahat dan juga menyisihkan waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan
program perawatan kulit.
 Pertimbangkan hal yang bertujuan eliminasi S.aureus (yang `peka methicillin
maupun yang resisten methicillin) dari hidung (dan kulit) :
- Penggunaan salep lokal pada vestibulum nasalis mengurangi S.aureus pada
hidung dan secara sekunder mengurangi sekelompok organisme pada kulit,
sebuah proses yang menyebabkan furunkulosis rekuren. Pemakaian secara
intranasal dari salep mupirocin calcium 2% dalam base paraffin yang putih
dan lembut selama 5 hari dapat mengeliminasi S.aureus pada hidung sekitar
70% pada individu yang sehat selama 3 bulan. Resistensi stafilokokus
terhadap mupirocin hanya didapatkan pada 1 dari 17 pasien. Profilaksis
dengan salep asam fusidat yang dioleskan pada hidung dua kali sehari setiap
minggu keempat pada pasien dan anggota keluarganya yang merupakan karier
strain infeksius S.aureus pada hidung (bersamaan dengan pemberian
antibiotik anti-stafilokokus peroral selama 10-14 hari pada pasien) telah
terbukti dengan beberapa keberhasilan8.
- Antibiotik oral (misalnya rifampin 600 mg PO tiap hari selama 10 hari) efektif
dalam mengeradikasi S.aureus untuk kebanyakan nasal carrier selama
periode lebih dari 12 minggu. Penggunaan rifampin dalam jangka waktu
tertentu untuk mengeradikasi S.aureus pada hidung dan menghentikan siklus
berkelanjutan dari furunkulosis rekuren adalah beralasan pada pasien yang
dengan pengobatan lain gagal. Namun, strain yang resisten rifampin dapat
muncul dengan cepat pada terapi seperti itu. Penambahan obat kedua
(dikloxacillin bagi S.aureus yang peka methicillin; trimethoprim-
sulfametaxole, siprofloksasin, atau minoksiklin bagi S.aureus yang resisten
methicillin) telah digunakan untuk mengurangi resistensi rifampin dan untuk
mengobati furunkulosis rekuren13.

18
H. PROGNOSIS
Umumnya pasien mengalami resolusi, setelah mendapatkan terapi insisi dan
drainase pus serta antibiotic sistemik3,7. Beberapa pasien mengalami komplikasi
bakteremia dan bermetastasis ke organ lain7,11 . Beberapa pasien mengalami
rekurensi, terutama pada penderita dengan penurunan kekebalan tubuh3,11.

19
BAB IV

PEMBAHASAN

Dari anamnesis didapatkan bahwa penderita mengeluh timbul bercak-bercak
kemerahan sejak berusia 30 tahun, bercak kemerahan tersebut terasa gatal diatas bercak-
bercak kemerahan tersebut terdapat skuama kasar yang berlapis-lapis berwarna putih, ini
merupakan tanda khas dari psoriasis vulgaris. Di keluarga maupun lingkungan sekitarnya
tidak ada yang mengalami penyakit yang sama. Penderita tidak memiliki riwayat alergi
demikian juga pada keluarganya.
Lesi pada kulit yang bersifat kronik residif, dimana pencetusnya adalah stres
psikologis, infeksi, tidak didasari oleh suatu kelainan genetik oleh karena dikeluarga pasien
tidak mengeluh kelainan yang sama, sehingga lebih dihubungkan dengan adanya gangguan
sistem imun.
Dari status dermatologinya didapatkan letak lesi yang menunjukkan tempat predileksi
Psoriasis Vulgaris yaitu lutut, siku, tungkai atas kanan dan kiri, serta tungkai bawah kanan
dan kiri. Dari effloresensi didapatkan makula hipopigmentasi yang berbentuk bulat sampai
lonjong dengan skuama halus diatasnya yang menandakan lesi tersebut sudah mulai
menyembuh serta terdapat beberapa plak eritema dengan skuama kasar yang berwarna putih
diatasnya yang menandakan lesi tersebut masih aktif.
Dari gambaran klinis diatas sangat menunjang diagnosis kita ke arah suatu psoriasis
vulgaris. Pengobatan medikamentosa pada pasien ini diberikan secara topikal dan sistemik.
Pengobatan topikal yang diberikan adalah preparat ter yaitu ter kayu (oleum kadini 9%) yang
ditambahkan asam salisilat 3%, asam benzoat 6%, betamethason cream sebagai
vehikulumnya digunakan vaselin, karena penetrasi obat ini paling baik dalam bentuk salep.
Khasiat kombinasi ini adalah sebagai antipruritus, keratoplastik, akantoplastik, vasokonstriksi
dan antiradang. Selain itu kombinasi obat tersebut juga ditujukan untuk memperbesar efek
antimitosis, oleh karena pada psoriasis pembentukan epidermis (turn over time) lebih cepat
hanya 3-4 hari sedangkan pada kulit normal lamanya 27 hari. Pengobatan sistemik pada kasus
ini adalah antihistamin 3x1 selama 7 hari sebagai terapi simptomatik oleh karena pasien
mengeluh gatal. Apabila gatal berkurang, infeksi sekunder dapat dicegah karena pasien tidak
menggaruk daerah yang gatal. Selain pengobatan KIE kepada pasien juga sangat penting.
Prognosis psoriasis vulgaris pada pasien ini baik walaupun tidak terjadi penyembuhan yang
sempur

20
BAB V

KESIMPULAN

Karbunkel merupakan abses pada kulitdan jaringan subkutan yang menggambarkan
perluasan sebuah furunkel yang telah menginvasi beberapa buah folikel rambut, karbunkel
berukuran besar dan memiliki letak yang dalam. Biasanya keadaan ini disebabkan oleh
infeksi stapilococcus.
Karbunkel paling sering ditemukan didaerah yang kulitnya tebal dan tidak elastis.
Bagian posterior leher dan bokong merupakan lokasi yang sering. Pada karbunkel, inflamasi
yang luas sering tidak diikuti dengan pengisolasian infeksi tersebutsehingga terjadi absorpsi
yang mengakibatkan panas tinggi, rasa nyeri, leikositosis dan bahkan penyebaran infeksi
kedalam darah.
Pada karbunkel : penderita diabetes mellitus, malnutrisi, gagal jantung, penyakit kulit
yang menyeluruh dan berat misalnya eritoderma, pemfigus dan pengobatan steroid lama,
walaupun dapat pada orang sehat. Tersering pada laki-laki, usia menengah dan usia tua

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Brunicardi, C. F. et al. 2005. Scwartz’s Principle Of Surgery, eighth edition .USA: the
McGraw Hill Companies Inc.

2. Chambers, Henry F, Moellering, Robert C, and Kamitsuka, Paul. 2008. Management
of Skin and Soft-Tissue Infection. NEJM.http:/www.nejm.org.

3. Craft N, Lee PK, Zipoli MT, Weinberg AN, Swartz MN, Johnson RA. 2008.
Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine 7th ed. New York: McGraw Hill
Medical

4. Departement of Health, England. 2003. Statistics about Carbuncle.
http://www.cureresearch.com/c/carbuncle/stats.htm.

5. Fitch, Michael T., Manthey, David E. et.al. Abscess Incision and Drainage. NEJM.
http:/www.nejm.org.

6. Friendlander, Ed. 1995. Infectious Disease: Histopathology of Carbuncles.
http.www.pathguy.com/lecture/infect.htm

7. G, Berger T. 2007. Furunculosis (Boils) and Carbuncles. In: McPhee SJ, Papadakis
MA, Tierney LM (eds).Current Medical Diagnosis and Treatment 46th ed. New
York: McGraw Hill.

8. G, M. Lindsay. 2006. The Treatment Triangle for Staphylococcal Infection. NEJM.
http:/www.nejm.org.

9. Jablonski, Nina G. 2006.Skin: A Natural History. University of Calofornia Press.
NEJM. http:/www.nejm.org.

10. Kaiser, Gary. 2002. Staphylococcus aureus growing on Manitol Salt Agar.
http:/student.ccbmcmd.edu/courses/bio141/lab manua/lab15/msasa.html

11. Lowy FD.2006. Staphylococcal Infections. In: Kasper DL, Braunwald E, et al (eds).
Harrison’s Principle of Internal Medicine 17th ed. New York: McGraw Hill.

12. Paus, Ralf and C, George. The Biology of Hair Follicles. NEJM.http:/www.nejm.org.

13. R, S. Daum. 2007 Skin and Soft Tissue Infections Caused by Methicillin-Resistant
Staphylococcus aureus. NEJM. http:/www.nejm.org.

22
14. Rebecca, Buxton. 2005. Blood Agar Plates and Hemolysis: Staphylococcus and
orther Catalase Positive Gram-Positive Cocci. Department of PathologyUniversity of
UtahSalt Lake City, UT 84132USA. http.microbelibrary.org/Culture
Media/details.asp.

15. Shear, N., Najwa E. dan Sabrina I. dan M Kerba 2000. Dermatology. Review Notes
Lecture Series. MCCQE.

16. W, Scott. 2003. Methicilin-resistant Staphylococcus aureus.AVMA Journals Home.
http://www.avma.org/onlnews/javma/nov03/031115a.asp

LAMPIRAN

23