You are on page 1of 9

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR ILMU NUTRISI DAN PAKAN HEWAN

Pembuatan Ransum Alami untuk Anjing Umur 2 Bulan

NOVITA PURTANSIA WAI


1409010030

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG
2015
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Nutrisi adalah substansi organik, yang dibutuhkan organisme untuk fungsi normal dari
sistem tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan. Nutrisi didapatkan oleh hewan dari
makanan yang dikonsomsi dan dari cairan yang selanjutnya akan diasimilasi oteh tubuh.

Kebutuhan nutrisi pada hewan dibagi atas nutrisi esensial dan nutrisi non esensial.
Nutrisi esensial adalah senyawa kimia yang harus ada dalam pakan. Sedangkan nutrisi non
esensial merupakan senyawa kimia yang dapat diproduksi langsung oleh tubuh hewan.

Kualitas nutrisi bahan makanan hewan merupakan faktor utama dalam menentukan
kebijakan dalam pemilihan dan penggunaan bahan makanan tersebut sebagai sumber zat
makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksinya. Kualitas nutrisi bahan
pakan terdiri atas komposisi nilai gizi, serat dan energi serta aplikasinya pada nilai
palatabilitas dan daya cerna.

Pada anjing, tahap pertumbuhan adalah periode fisiologis yang paling sulit dalam
hidupnya. Hal ini karena proses pertumbuhan yang begitu cepat dan intens. Selama periode
ini, bentuk dari anjing dewasa dan harmoni dari sosoknya ditentukan. Makanan memainkan
peran utama dalam proses pembentukan ini.

1.2. Tujuan

1. Mengetahui nutrisi untuk anjing berusia dua bulan


2. melakukan penyusunan ransum untuk anjing berusia dua bulan
BAB II

MATERI DAN METODE

2.1. Alat dan Bahan

 Alat
 Timbangan digital
 Timbangan manual
 Blander
 Wadah/piring
 Pisau

 Bahan
 Nasi 72 gr
 Susu formula cair 15gr
 Buncis 7,5gr
 Wortel 7,5gr
 Ikan kering 18gr
 Garam 1⁄4 sdm
 Minyak ikan 1 sdm
 Air secukupnya

2.2. Metode Kerja

Untuk mendapatkan hasil ransum yang sesuai bagi anak anjing berusia dua bulan,
proses pembuatan ransumnya perlu diperhatikan. Langkah-langkah pembuatan ransum untuk
anak anjing berusia dua bulan:

 Menimbang semua bahan makanan


 Bahan makanan yang telah ditimbang dihaluskan dan dicampur menggunakan
blander
 Bahan makanan yang telah halus dikeluarkan lalu ditimbang sebanyak 120gr
 Makanann yang telah siap diberikan kepada anak anjing
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil

 Pemberian : 120gr
 Dimakan : 18gr
 Sisa :102gr

3.2. Pembahasan

1. makanan untuk anak anjing

Pemberian pakan pada anak anjing berusia 2 bulan berbeda dengan pemberian makan
untuk anjing dewasa. Hal ini dikarenakan sistem pencernaan anak anjing yang belum sebaik
sistem pencernaan anjing dewasa dan juga kebutuhan nutrisi yang juga berbeda.
Pada pemberian makan pada anjing, untuk anjing berusia 2-3 bulan, diberikan 4kali
sehari, 3-6 bulan 3kqli sehari dan 6-12 bulan 2kali sehari. Anak anjing mulai dapat
menyepihkan susu atau mengganti susu induknya antara usia 3 atau 4 minggu. Idealnya
proses ini berlangsung perlahan-lahan selama beberapa minggu, hingga akhirnya dapat
meyepihkan susu induknya sepenuhnya.
Makanan yang diberikan selama masa pertumbuhan mengkondisikan kesehatan anjing
di masa depan.pemenuhan kebutuhan gizi anak anjing yang sedang bertumbuh
memungkinkan untuk mengamankan tahap penting dalam hidupnya. Untuk anak anjing dapat
diberikan makanan-makanan khusus seperti:
1. Susu dari induk
Anak anjing yang baru lahir hanya akan minum air susu induknya saja. Pada
tahap ini, anak anjing tidak memerlukan makanan tambahan baik makanan
lembut mupun padat.
2. Makanan lembut
Ketika anak anjing sudah mulai bisa melepaskan diri dari air susu induknya, anak
anjing dapat mengkonsumsi makanan yang bertekstur lembut. Hal ini
dikarenakan keadaan sistem pencernaannya yang belum memungkinkan anak
anjing untuk mengkonsumsi makanan yang lebih keras.
3. Makanan khusus untuk anak anjing
Anak anjing membutuhkan kira-kira duakali lebih banyak asupan nutrisi
dibandingkan dengan anjing dewasa. Makanan khusus ini memiliki level nutrisi
protein, karbohidrat, lemak, mineral, dan vitamin yang dibutuhkan bagi anak
anjing.

2. Proses makan
Rasa lapar dan nafsu makan merupakan bagian awal dari proses makan. Rasa lapar
didefinisikan sebagai suatu keinginan intrinsik hewan untuk mendapatkan jumlah makanan
tertentu untuk dikonsumsi. Sedangkan nafsu makan didefinisikan sebagai preferensi hewan
terhadap jenis makanan tertentu yang ingin dikonsumsi. Mekanisme rasa lapar dan nafsu
makan adalah suatu sistem regulator otomatis yang penting dalam usaha tubuh untuk
mencukupi kebutuhan nutrisi intrinsiknya (Guyton dan Hall, 2006).
Nafsu makan dan rasa lapar muncul sebagai akibat perangsangan beberapa area di
hipotalamus yang menimbulkan rasa lapar dan keinginan untuk mencari dan mendapatkan
makanan (Guyton dan Hall, 2006). Sinyal dari nafsu makan akan membangkitkan sensasi dari
rasa lapar yang menyebabkan timbulnya keinginan untuk makan. Kontrol dari keseimbangan
energi dan asupan makanan adalah hipotalamus. Hipotalamus memiliki sepasang pusat nafsu
makan yang terletak di bagian lateral hipotalamus.
Jumlah makanan yang dapat diterima tubuh diatur oleh nukleus paraventrikuler,
dorsomedial, dan arkuatus hipotalamus. Nukleus arkuatus sendiri adalah lokasi
berkumpulnya hormon-hormon dari saluran gastrointestinal dan jaringan lemak yang
kemudian akan mengatur jumlah makanan yang dimakan dan juga penggunaan energi
(Guyton dan Hall, 2006). Nukleus arkuatus mempunyai dua subset neuron yang memiliki
fungsi berlawanan. Satu subset mengeluarkan neuropeptida Y dan yang lain mengeluarkan
melanocotins. Neuropeptida Y adalah suatu stimulator nafsu makan yang paling potensial
yang akhhirnya mengakibatkan adanya peningkatan asupan makanan yang juga akan
meningkatkan berat badan.
Pusat ini dipercaya berfungsi memberi sinyal kepuasan nutrisional yang akan
menghambat pusat nafsu makan. Stimulasi elektrik pada daerah ini akan menyebabkan rasa
kenyang dan puas, yang dengan keberadaan makanan pun akan menyebabkan hewan coba
menolak makanan tersebut (aphagia). Sedangkan kerusakan pada daerah ini menyebabkan
hewan coba makan secara berlebihan dan terus menerus sehingga menyebabkan keadaan
obesitas yang sangat ekstrim (Guyton dan Hall, 2006).
Pusat-pusat nafsu makan tersebut saling terhubung melalui sinyal-sinyal kimia sehingga
dapat mengkoordinasikan perilaku makan dan persepsi rasa kenyang. Nukleus-nukleus
tersebut juga mempengaruhi sekresi berbagai hormon yang mengatur energi dan
metabolisme, termasuk hormon dari kelenjar tiroid, adrenal dan juga pulau-pulau Langerhans
dari pankreas (Guyton dan Hall, 2006). Pusat rasa lapar dan kenyang pada hipotalamus
tersebut dipadati oleh reseptor untuk neurotransmitter dan hormon yang mempengaruhi
perilaku makan. Hormon dan neurotransmitter tersebut terbagi atas substansi orexigenik yang
menstimulasi nafsu makan dan anorexigenik yang menghambat nafsu makan.
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam mengontrol pemasukan makanan, antara lain :
a. Ukuran simpanan lemak
Menurut teori lipostatik peningkatan simpanan lemak di jaringan adiposa
memberikan sinyal kenyang. Gliserol berfungsi sebagai sinyal yang mengalir
melalui darah antara simpanan lemak dan daerah-daerah di otak yang mengontrol
pemasukan makanan.
b. Tingkat pemakaian glukosa (teori glukostatik)
Rasa kenyang timbul karena sinyal yang ditimbulkan oleh peningkatan
penggunaan glukosa yang tersedia untuk digunakan karena zat tersebut sedang
diserap dari saluran pencernaan. Setelah penyerapan makanan selesai, terjadi
penurunan penggunaan glukosa oleh sel yang membangkitkan rasa lapar.
c. Tingkat sekresi kolesistokinin
Kolesistokinin merupakan hormon sluran pencernaan yang dikeluarkan dari
mukosa duodenum selama inggesti makanan, merupakan sinyal rasa kenyang
yang penting. Hormon ini dikeluarkan sebagai respon terhadap adanya nutrien di
usus halus.
d. Pengaruh psikososial
Kenikmatan yang diperoleh dari makanan dapat memperkuat perilaku makan.
Makanan dengan rasa lezat, aroma menggugah selera, dan bentuk menarik dapat
meningkatkan nafsu makan dan pemasukan makanan.Stres rasa cemas, depresi,
dan rasa bosan juga dibuktikan dapat mengubah perilaku makan melalui cara-cara
yang tidak berkaitan dengan kebutuhan energi.
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Pemberian pakan pada anak anjing berusia 2 bulan berbeda dengan pemberian makan
untuk anjing dewasa. Hal ini dikarenakan sistem pencernaan anak anjing yang belum sebaik
sistem pencernaan anjing dewasa dan juga kebutuhan nutrisi yang juga berbeda.
Rasa lapar dan nafsu makan merupakan bagian awal dari proses makan. Rasa lapar
didefinisikan sebagai suatu keinginan intrinsik hewan untuk mendapatkan jumlah makanan
tertentu untuk dikonsumsi.
Pada saat makan, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pemasukan
makanan, yaitu ukuran simpanan lemak, tingkat pemakaian glukosa (teori glukostatik),
tingkat sekresi kolesistokinin, pengaruh psikososial,
DAFTAR PUSTAKA

Sherwood, Luralee. Human Physiology. 6thed.USA: The Thomson Corporation.2007

Nugraha, F.2015. Pengaruh Pemberian Madu Randu Terhadap Presentase Lemak Tubuh Dan
Tebal Lipatan Kulit Pada Petugas Kebersihan Di UNISBA.Skripsi. Bandung

(http://hdl.handle.net/12345678/377 diakses 20 Desember 2015)

anjingkita.com/wmview.php

www.royalcanin.co.id/anak-anjng/
LAMPIRAN