You are on page 1of 29

BAB I

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Bronchopneumonia


1. Pengertian
Bronchopneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang
mengenai parenkim paru. Bronchopneumonia adalah radang paru-paru yang
mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-
bercak Infiltrat (Whalley and Wong, 1996).
Bronchopneumina adalah frekuensi komplikasi pulmonary, batuk produktif yang
lama,tanda dan gejalanya biasanya suhu meningkat, nadi meningkat, pernapasan
meningkat (Suzanne G. Bare, 1993).
Bronchopneumonia disebut juga pneumoni lobularis, yaitu radang paru-paru yang
disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda-benda asing (Sylvia Anderson, 1994).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus
paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan oleh
bakteri,virus, jamur dan benda asing.
Pneumonia pada anak dibedakan menjadi :
1. pneumonia lobaris
2. pnuemonia intertisial
3. bronko pneumonia
Bronko pneumonia disebut juga pnuemonia lobaris, yaitu radang paru – paru
yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur dan benda – benda asing.

1
2. Anatomi fisiologi
a. Anatomi
GAMBAR 1
ANATOMI SALURAN NAFAS

b. Fisiologi Saluran Nafas


Pernafasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara yang mengandung
oksigen dan menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2 sebagai sisa
dari oksidasi keluar dari tubuh. Adapun guna dari pernafasan yaitu mengambil O2
yang dibawa oleh darah ke seluruh tubuh untuk pembakaran, mengeluarkan CO2
sebagai sisa dari pembakaran yang dibawa oleh darah ke paru-paru untuk
dibuang, menghangatkan dan melembabkan udara. Pada dasarnya sistem
pernafasan terdiri dari suatu rangkaian saluran udara yang menghantarkan udara
luar agar bersentuhan dengan membran kapiler alveoli. Terdapat beberapa
mekanisme yang berperan memasukkan udara kedalam paru-paru sehingga
pertukaran gas dapat berlangsung. Fungsi mekanis pergerakan udara masuk dan
keluar dari paru-paru disebut sebagai ventilasi atau bernafas. Kemudian adanya
pemindahan O2 dan CO2 yang melintasi membran alveolus-kapiler yang disebut
dengan difusi sedangkan pemindahan oksigen dan karbondioksida antara kapiler-
kapiler dan sel-sel tubuh yang disebut dengan perfusi atau pernafasan internal.
Proses bernafas terdiri dari menarik dan mengeluarkan nafas. Satu kali
bernafas adalah satu kali inspirasi dan satu kali ekspirasi. Bernafas diatur oleh

2
otot-otot pernafasan yang terletak pada sumsum penyambung (medulla
oblongata). Inspirasi terjadi bila muskulus diafragma telah dapat rangsangan dari
nervus prenikus lalu mengkerut datar. Ekspirasi terjadi pada saat otot-otot
mengendor dan rongga dada mengecil. Proses pernafasan ini terjadi karena
adanya perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru.
Proses fisiologis pernafasan dimana oksigen dipindahkan dari udara ke dalam
jaringan-jaringan dan karbon dioksida dikeluarkan ke udara ekspirasi dapat dibagi
menjadi tiga stadium. Stadium pertama adalah ventilasi, yaitu masuknya
campuran gas-gas ke dalam dan keluar paru-paru. Stadium kedua adalah
transportasi yang terdiri dari beberapa aspek yaitu difusi gas-gas antara alveolus
dan kapiler paru-paru (respirasi eksterna) dan antara darah sistemik dengan sel-sel
jaringan, distribusi darah dalam sirkulasi pulmonal dan penyesuaiannya dengan
distribusi udara dalam alveolus-alveolus dan reaksi kimia, fisik dari oksigen dan
karbondioksida dengan darah. Stadium akhir yaitu respirasi sel dimana metabolit
dioksidasi untuk mendapatkan energi dan karbon dioksida yang terbentuk sebagai
sampah proses metabolisme sel akan dikeluarkan oleh paru-paru. (Hidayat, 2006)
3. Patofisiologi
Proses terjadinya bronkopneumonia dimulai dari berhasilnya kuman pathogen
masuk ke cairan mukus dalam jalan nafas. Kuman tersebut berkembang biak di
saluran nafas atau sampai di paru-paru. Bila mekanisme pertahanan seperti sistem
transport mukosilia tidak adekuat, maka kuman berkembang biak secara cepat
sehingga terjadi peradangan di saluran nafas atas, sebagai respon peradangan akan
terjadi hipersekresi mukus dan merangsang batuk. Mikroorganisme berpindah karena
adanya gaya tarik bumi dan alveoli menebal. Pengisian cairan alveoli akan
melindungi mikroorganisme dari fagosit dan membantu penyebaran organisme ke
alveoli lain. Keadaan ini menyebabkan infeksi meluas, aliran darah di paru sebagian
meningkat yang diikuti peradangan vaskular dan penurunan darah kapiler .
Edema karena inflamasi akan mengeraskan paru dan akan mengurangi kapasitas
paru, penurunan produksi cairan surfaktan lebih lanjut, menurunkan compliance dan
menimbulkan atelektasis serta kolaps alveoli. Sebagai tambahan proses
bronkopneumonia menyebabkan gangguan ventilasi okulasi partial pada bronkhi dan
alveoli, menurunkan tekanan oksigen arteri, akibatnya darah vena yang menuju atrium
kiri banyak yang tidak mengandung oksigen sehingga terjadi hipoksemia arteri.

3
Efek sistemik akibat infeksi, fagosit melepaskan bahan kimia yang disebut
endogenus pirogen. Bila zat ini terbawa aliran darah hingga sampai hipotalamus,
maka suhu tubuh akan meningkat sehingga terjadi demam dan menggigil, hal tersebut
juga menyebabkan meningkatnya kecepatan metabolisme. Pengaruh dari
meningkatnya metabolisme adalah penyebab takhipnea dan takhikardia, tekanan
darah menurun sebagai akibat dari vasodilatasi perifer dan penurunan sirkulasi
volume darah karena dehidrasi, panas dan takhipnea meningkatkan kehilangan cairan
melalui kulit (keringat) dan saluran pernafasan sehingga menyebabkan dehidrasi.
Terdapat cairan purulen pada alveolus juga dapat mengakibatkan peningkatakan
tekanan pada paru sehingga dapat berakibat penurunan kemampuan mengambil
oksigen dari luar juga mengakibatkan berkurangnya kapasitas paru. Penderita akan
berusaha melawan tingginya tekanan tersebut menggunakan otot – otot bantu
pernapasan (otot interkosta) yang menimbulkan retreksi dada sehingga gerakan dada
tidak simetris.
Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas
selama beberapa hari. Suhu dapat naik secara mendadak sampai 39–40°C dan
mungkin disertai kejang karena demam yag tinggi. Anak sangat gelisah, dispneu,
pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung dan sianosis di
sekitar hidung dan mulut. Batuk biasanya tidak dijumpai di awal penyakit, anak akan
mendapat batuk setelah beberapa hari, dimana pada awalnya berupa batuk kering
kemudian menjadi produktif.
4. Etiologi
Timbulnya bronkopneumonia adalah bakteri, virus, mikroplasma, jamur dan
protozoa. Bronkopneumonia juga dapat berasal dari aspirasi makanan, cairan, muntah
atau inhalasi kimia, merokok dan gas. Bakteri penyebab bronkopneumonia meliputi :
a. Bakteri gram positif
b. Streptococcus pneumonia (biasanya disertai influenza dan meningkat pada
penderita PPOM dan penggunaan alkohol).
c. Staphylococcus (kuman masuk melalui darah atau aspirasi, sering
menyebabkan infeksi nasokomial).
d. Bakteri gram negatif
e. Haemaphilius influenza (dapat menjadi penyebab pada anak-anak dan
menyebabkan gangguan jalan nafas kronis).

4
f. Pseudomonas aerogmosa (berasal dari infeksi luka, luka bakar, trakeostomi,
dan infeksi saluran kemih).
g. Klebseila pneumonia (insiden pada penderita alkoholis).
h. Bakteri anaerob (masuk melalui aspirasi oleh karena gangguan kesadaran,
gangguan menelan).
i. Bakteri atipikal (insiden mengingat pada usia lanjut, perokok dan penyakit
kronis).
5. Tanda dan Gejala
Bronkopneumonia biasanya di dahului oleh infeksi saluraran nafas bagian atas
selama beberapa hari. Suhu biasa nya mencapai 39-40°c. Anak sangat gelisah, dispea,
pernafasan cepat dan dangkal disertai dengan pernafasan cuping hidung dan sianosis
di sekitar hidung dan mulut. Batuk biasa nya tidak di jumpai di awal penyakit, anak
akan mendapatkan batuk setelah beberapa hari, dimna pada awlanya berupa batuk
kering kemudian menjadi batuk produktif.
6. Komplikasi Bronchopneumonia
a. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau kolaps
paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang.
b. Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam rongga pleura
terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.
c. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang.
d. Infeksi sitemik.
e. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.
f. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.
7. Pemeriksaan Diagnostik (Mansjoer, 2006)
a. Foto polos : digunakan untuk melihat adanya infeksi di paru dan status pulmoner
b. Nilai analisa gas darah: untuk mengetahui status kardiopulmoner yang
berhubungan dengan oksigenasi
c. Hitung darah lengkap dan hitung jenis: digunakan untuk menetapkan adanya
anemia, infeksi dan proses inflamasi
d. Pewarnaan gram: untuk seleksi awal anti mikroba
e. Tes kulit untuk tuberkulin: untuk mengesampingkan kemungkinan terjadi
tuberkulosis jika anak tidak berespon terhadap pengobatan
f. Jumlah lekosit: terjadi lekositosis pada pneumonia bacterial. Menurut Ngastiyah;
1997; 41, pemeriksaan laborat didapatkan leukosit meningkat mencapai 15.00-

5
40.000/cm3, urine biasanya lebih tua dan terdapat albuminuria ringan dan pada
analisa gas darah tepi menunjukkan asidosis metabolic dengan atau beberapa
lobus
g. Tes fungsi paru: digunakan untuk mengevaluasi fungsi paru, menetapkan luas dan
beratnya penyakit dan membantu memperbaiki keadaan
h. Spirometri statik digunakan untuk mengkaji jumlah udara yang diinspirasi
i. Kultur darah spesimen darah untuk menetapkan agen penyebab seperti virus
8. Penatalaksanaan Medis (Mansjoer, 2006)
a. Pemberian oksigen 1-2 liter/menit, diberikan bila terdapat tanda hipoksemia
seperti : gelisah dan cyanosis.
b. Cairan intravena (NFD), biasanya diperlukan campuran dektrose 10% : NaCl 0,9%
= 3:1 + KCL 10Meq/500 ml cairan
c. Jika sesak terlalu hebat ,bisa di berikan makanan enteral bertahap melalui selang
nasogastrik dengan feeding drip.
d. Steroid
e. Bronkodilator (ventolin) diberikan pada kondisi sekret yang kental.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
 Pengkajian
1. Identitas pasien
2. Keluhan utama
Sebagian besar keluhan utama bronkopneumonia adalah sesak nafas. Sesak nafas
yang muncul akibat dari adanya eksudat yang menyebabkan sumbatan pada lumen
bronkus.
3. Riwayat Penyakit
a. Riwayat penyakit sekarang
Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran pernapasan bagian
atas selama beberapa hari. Suhu tubuh dapat naik sangat mendadak sampai 39-
40oC dan kadang disertai kejang karena demam yang tinggi.
b. Riwayat penyakit dahulu
Anak dengan bronkopneumonia sebelumnya pernah menderita penyakit
infeksi yang menyebabkan sistem imun menurun.

6
c. Riwayat penyakit keluarga
Terdapat anggota keluarga menderita penyakit paru-paru atau penyakit infeksi
saluran pernafasan yang dapat menularkan kepada anggotanya, keadaan ini
dapat memberikan petunjuk kemungkinan penyakit tersebut diuraikan.
4. Riwayat Kehamilan
Penyakit bronkopneumoni tidak dipengaruhi oleh adanya gangguan atau kelainan
pada kehamilan/persalinan.
5. Riwayat Tumbuh Kembang
a. Perkembangan
 Anak merasa sedih karena tidak dapat berkumpul bersama teman
sebayanya
 Anak memilik keinginan untuk sembuh
 Anak merasa bosan karena tidak dapat terlalu banyak beraktivitas
b. Pertumbuhan
 BB anak menurun ½ kg setelah 3 hari dirawat
 TB anak 98 cm
6. Riwayat Imunisasi
Anak yang tidak mendapatkan imunisasi beresiko tinggi untuk mendapat penyakit
infeksi saluran pernapasan atas atau bawah karena sistem pertahanan tubuh yang
tidak cukup kuat untuk melawan infeksi sekunder. Imunisasi yang diperlukan,
diantaranya; BCG, DPT, Polio, Hepatitis B dan Campak.
7. Riwayat psikososial spiritual
Riwayat psikososial merupakan respon anak terhadap penyakit dan dampak dari
hospitalisasi sesuai dengan tahap perkembangannya yaitu takut dan menangis bila
didekati oleh orang yang tidak dikenal.
8. Pemeriksaan umum
Kesadaran compos mentis sampai koma, keadaan umum lemah dan gelisah, suhu
tubuh 39-400C, nadi cepat dan lemah, respirasi cepat dan dangkal, BB sesuai
dengan umur.
9. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik head to toe pada anak dengan bronkopneumonia
menurut Riyadi, 2009:

7
a. Kepala
 bentuk kepala
 warna rambut
 distribusi rambut
 ada lesi atau tidak
 hygiene
 ada hematoma atau tidak
b. Mata
 sklera berwarna merah (ada peningkatan suhu tubuh)
 kaji reflek cahaya
 konjungtiva anemis atau tidak
 pergerakan bola mata
c. Telinga
 simetris atau tidak
 kebersihan
 tes pendengaran
d. Hidung
 ada polip atau tidak
 nyeri tekan
 kebersihan
 pernafasan cuping hidung
 fungsi penciuman
e. Mulut
 warna bibir
 mukosa bibir lembab atau tidak
 mukosa bibir kering (meningkatnya suhu tubuh)
 reflek mengisap
 reflek menelan
f. Dada
 Paru – paru
Inspeksi : Irama nafas tidak teratur, pernapasan dangkal,
penggunaan otot bantu napas
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan

8
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Suara paru ronchi
 Jantung
Inspeksi : Tidak ada pembesaran pada dada sebelah kiri
Perkusi : Suara jantung terdengar redup
Auskultasi : Nada S1 S2 dan lub dup
g. Abdomen
Inspeksi : bentuk, lesi
Palpasi : Splenomegali, hepatomegali, nyeri tekan, nyeri lepas, turgor kulit <3
detik
Perkusi : Suara abdomen timpani
Auskultasi :Bising usus meningkat (normal 4-9x/menit)
h. Ekstremitas
 Pergerakan sendi terbatas (nyeri sendi)
 kelelahan (malaise)
 kelemahan
 CRT <2 detik dan keluhan
i. Genetalia dan anus
 kelengkapan (laki-laki: penis, skrotum; perempuan: labia minora, labia
mayora, klitoris)
 fungsi BAB
 fungsi BAK
10. Pemeriksaan Penunjang
a. Foto polos : ditemukan adanya infeksi di paru dan status pulmoner
b. Nilai analisa gas darah: untuk mengetahui status kardiopulmoner yang
berhubungan dengan oksigenasi
c. Hitung darah lengkap dan hitung jenis: ditemukan adanya proses inflamasi
d. Pewarnaan gram: untuk seleksi awal anti mikroba
e. Tes kulit untuk tuberkulin: untuk mengesampingkan kemungkinan terjadi
tuberkulosis jika anak tidak berespon terhadap pengobatan
f. Jumlah lekosit: terjadi lekositosis pada pneumonia bacterial. Menurut
Ngastiyah; 1997; 41, pemeriksaan laborat didapatkan leukosit meningkat
mencapai 15.00-40.000/cm3, urine biasanya lebih tua dan terdapat albuminuria

9
ringan dan pada analisa gas darah tepi menunjukkan asidosis metabolic dengan
atau beberapa lobus
g. Tes fungsi paru: digunakan untuk mengevaluasi fungsi paru, menetapkan luas
dan beratnya penyakit dan membantu memperbaiki keadaan
h. Kultur darah spesimen darah untuk menetapkan agen penyebab seperti virus

10
BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Identitas

a. Identitas Pasien

Nama : An. B

Usia : 3 bulan

Jenis Kelamin : Laki-laki

Status Marital : Tidak Kawin

Agama : Islam

Pekerjaan : Tidak bekerja

No. Medrec : 16. 108481

Alamat : Cikondang 01/16, Pasanggrahan Baru, Sumedang

Tanggal Pengkajian : 29 Februari 2016

Tanggal Masuk RS : 29 Februari 2016

Diagnosa Medis : Bronchopneumonia

b. Identitas Penanggung Jawab

Nama : Ny. P

Usia : 24 Tahun

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Agama : Islam

Status Marital : Kawin

Hubungan dengan Pasien : Ibu Kandung

Alamat : Cikondang 01/16, Pasanggrahan Baru, Sumedang

11
2. Riwayat Kesehatan

a. Keluhan Utama

Ibu pasien mengatakan anaknya sesak nafas.

b. Riwayat Kesehatan Sekarang

± 1 minggu SMRS ibu pasien mengatakan anaknya batuk-batuk kemudian

disertai dengan sesak.

Pada saat dikaji, sesak masih. Ibu pasien mengatakan sesak bertambah bila

anaknya sudah batuk-batuk. Sesak terlihat berkurang bila sedang tidur. Ibu pasien

mengatakan bila terlihat sesak, perut anaknya terlihat mengampul-ampul. Sesak

membuat anaknya rewel dan sulit untuk tidur.

c. Riwayat Kesehatan Dahulu

Ibu pasien mengatakan anaknya belum pernah dirawat di Rumah Sakit.

d. Riwayat Kesehatan Keluarga

Ibu Pasien mengatakan di keluarga tidak ada yang mempunyai penyakit yang

sama dengan pasien. Ibu pasien mengatakan di keluarganya juga tidak ada yang

mempunyai penyakit menular seperti TBC atau hepatitis.

e. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran

 Sebelum menikah dan setelah hamil ibu melakukan imunisasi TT.

 Kehamilan pasien cukup bulan (usia 9 bulan)

 Pasien lahir dengan berat 3,5 kilogram dengan bantuan dokter dan bidan di

Rumah Sakit Umum Sumedang

f. Riwayat Tumbuh Kembang

 Motorik halus : Pasien dapat memegang tangan dengan cengkraman yang


kuat
Masalah: tidak ada

12
 Motorik kasar : Saat pasien ditidurkan, karena pasien menangis terus dia
mencoba untuk mengangkat-angkat kepalanya seolah-olah
mau bangun.
Masalah: tidak ada
 Verbal : Pasien mengoceh “mam mam mam” dan berteriak
kencang saat dicubit telapak kaki.
Masalah: tidak ada
 Sosial : Saat sedang tenang, pasien mengamati tangannya sendiri,
kemudian mencoba memasukkan tangan ke mulut karena
saat itu pasien dalam keadaan puasa.
Masalah: tidak ada
g. Riwayat Imunisasi

No Jenis Imunisasi Waktu Pemberian


1. Hb0 0 bulan
2. BCG 1bulan
3. DPT 2 bulan
4. CAMPAK -
5. POLIO 2 bulan

3. Pola Aktivitas Sehari-hari

DI RUMAH DI RUMAH
NO ADL
(sebelum sakit) SAKIT

1. Nutrisi

a. Makan

 Jenis ASI Puasa

 Frekuensi sering

 Porsi tidak dihitung

 Cara makan menetek

b. Minum

 Jenis ASI Puasa

13
 Frekuensi Sering

 Jumlah Tidak hitung

 Cara minum menetek

Masalah Tidak ada masalah

2. Eliminasi

a. BAK

 Frekuensi Tidak tentu 1x ganti diapers

 Warna Urine Kuning jernih Kuning jernih

 Jumlah Tidak dihitung Tidak dihitung

 Cara pengeluaran sendiri sendiri

 Penggunaan alat tidak ada tidak ada

bantu

b. BAB

 Frekuensi 1-2 kali sehari Pasien belum

lembek BAB di rumah


 Konsistensi
Tidak ada sakit
 Masalah BAB
sendiri
 Cara pengeluaran

Masalah Tidak ada masalah

3. Istirahat Tidur

 Waktu tidur 12-14 jam 11-12 jam

 Kebiasaan sebelum Minum ASI

tidur

 Masalah tidur Tidak ada

14
Masalah Tidak ada masalah

4. Personal Hygiene

 Mandi 2 kali sehari Pada saat dikaji

 Keramas Setiap hari saat pukul 19.30

mandi pasien sedang

 Gosok Gigi 2 kali sehari menangis

 Potong kuku 1 minggu sekali

 Membersihkan telinga 2 hari sekali

 Cara melakukan Dibantu oleh ibu

Masalah Tidak ada masalah

4. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan Umum

1) Ekspresi : Menangis

2) Emosi : Labil

b. Status kesadaran

Compos Mentis (E=4, M=6, V=5)

c. Tanda-tanda Vital

1) Nadi : 130 x/ menit

2) Suhu : 37° C

3) Pernafasan : 60x/menit

d. Pemeriksaan Head to Toe


1) Kepala
Inspeksi : Tidak terdapat lesi, keadaan rambut bersih.
Palpasi : Bentuk kepala bulat, kesimetrisannya simetris, tidak teraba
benjolan.

15
2) Muka
Inspeksi : Kulit wajah terlihat kemerahan.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dari sinus
3) Mata
Inspeksi : Simetris, konjungtiva berwarna merah muda, sklera berwarna
putih, reflek pupil ada.
4) Hidung
Inspeksi : Bentuk hidung simetris, slym ada, mukosa hidung lembab,
terpasang 02 1 liter/menit, PCH tidak ada
5) Telinga
Inspeksi : Letak telinga simetris di kedua sisi, kebersihan telinga baik.
Palpasi : Tidak terdapat benjolan di sekitar tulang mastoid.
6) Mulut
Inspeksi : Warna bibir merah muda, bibir terlihat kering
7) Leher
Tidak terdapat adanya benjolan.
8) Dada
a) Paru – paru
Pengembangan dada simetris, auskultasi terdapat suara ronchi, retraksi
intercostal ada.
b) Jantung
Auskultasi jantung lub dub, tidak terdengar suara nafas tambahan.
c) Abdomen
Tidak ada nyeri tekan. Bising usus : 6x/menit.
9) Ekstermitas Atas
Rentang gerak normal, pasien terpasang infuse KaEN 1B di tangan sebelah
kanan.
10) Ekstermitas Bawah
Rentang gerak normal. Kekuatan otot

5 5
5 5

16
11) Kulit

Turgor kulit baik < 3 detik, kulit teraba hangat.

5. Data Psikologis, Sosiologis dan Spiritual

a. Psikologis : Pasien menangis saat diperiksa

b. Sosial : Pasien menangis saat diperiksa


c. Spiritual : Pasien belum melakukan aktivitas ibadah apapun. Pasien hanya
menangis
6. Kebutuhan Pendidikan Kesehatan

Ibu pasien mengatakan mengetahui anaknya sakit batuk dan sesak nafas. Ibu

pasien ingin mengetahui bagaimana proses penyembuhan dari penyakit anaknya

tersebut.

7. Perencanaan Pasien Pulang

NO. KRITERIA PASIEN YA TIDAK


1. Pengaruh rawat inap terhadap:
 Pasien dan keluarga pasien 
 Pekerjaan 
 Keuangan
2. Bantuan diperlukan dalam hal:
 Minum obat 
 Mandi 
 Makan 
 Diet 
 Menyiapkan makanan 
 Berpakaian 
 Edukasi kesehatan 
 Transportasi
3. Adakah yang membantu keperluan tersebut 
diatas?
4. Apakah pasien hidup/tinggal sendiri setelah 
keluar dari rumah sakit?
5. Apakah pasien menggunakan peralatan medis di 
rumah setelah keluar rumah sakit (cateter,NGT,
double lumen,oksigen)?
6. Apakah pasien memerlukan alat bantu setelah 
keluar dari rumah sakit (tongkat, kursi roda,
walker,dll)
7. Apakah pasien memerlukan bantuan/perawatan 
khusus di rumah setelah keluar rumah sakit?
8. Apakah pasien bermasalah dalam memenuhi 

17
kebutuhan pribadinya setelah keluar dari rumah
sakit (makan,minum, toileting,dll)?
9. Apakah pasien memiliki nyeri kronis dan 
kelelahan setelah keluar dari rumah sakit?
10. Apakah pasien dan keluarga memerlukan edukasi 
kesehatan setelah keluar dari rumah sakit (obat-
obatan, nyeri, diit, mencari pertolongan, follow
up,dll)?
11. Apakah pasien dan keluarga memerlukan 
keterampilan khusus setelah keluar dari rumah
sakit (perawatan luka, injeksi, perawatan
bayi,dll)?
Kesimpulan:
Membutuhkan edukasi perencanaan pulang 

8. Data Penunjang

Tanggal Pemeriksaan : 29 Februari 2016

Jenis Pemeriksaan Hasil Unit Nilai Rujukan

Hematologi
Hematologi Rutin
Hemoglobin 10,5 gr/dl 10,1-12,9
Hematokrit 30,4 % 28-41
Leukosit 7.900 /uL 6000-17.500
Trombosit 327.000 Ribu/mm3 217.000-497.000
Hitung Jenis Leukosit
Basofil 0.0 % 0-1
Neutrofil Batang 3.0 % 3-5
Neutrofil Segmen 30.00 % 40-65
Limfosit 60.00 % 25-50
Eosinofil 2.0 % 1-5
Monosit 5.0 % 4-8
9. Terapi

Tanggal 29 Februari 2016

 Kaen 1B 30 gtt/menit (micro)

 Cefotaxime 2x140 mg (IV)

 Dexamethasone 2x1 amp (IV)

 Sagestam 2x7mg (IV)

 Aminophylin 28 mg tiap 6 jam (IV bolus)

18
 Nebulizer (ventolin ½ amp) 2x/hari

 Pasien puasa

Tanggal 01 Maret 2016

 Kaen 1B 30 gtt/menit (micro)

 Cefotaxime jadi 2 x 250 mg (IV)

 Dexamethasone jadi 2 x ½amp (IV)

 Sagestam jadi 2 x 10mg (IV)

 Aminophylin stop

 Nebu stop

 ASI/PASI 8x20-30cc/spen

 Nebu (ventolin ½amp) (extra)

Tanggal 02 Maret 2016

 Kaen 1B 30 gtt/menit (micro)

 Cefotaxim 2 x 250mg (IV)

 Dexamethasone 2 x ½amp (IV)

 Sagestam 2 x 10mg (IV)

 ASI/PASI 8x20-30cc/sonde

Tanggal 03 Maret 2016

 Kaen 1B 30 gtt/menit (micro)

 Cefotaxim 2 x 250mg (IV)

 Dexamethasone 2 x ½amp (IV)

 Sagestam stop

 ASI/PASI 8x40 cc/sonde

Tanggal 04 Maret 2016

 Kaen 1B 30 gtt/menit (micro)

19
 Cefotaxim 2 x 250mg (IV)

 Dexamethasone 2 x ½amp (IV)

 ASI/PASI 8x50 cc/sendok sisa sonde

Tanggal 05 Maret 2016

 Kaen 1B 30 gtt/menit (micro)

 Cefotaxim 2 x 250mg (IV)

 Dexamethasone 2 x ½amp (IV)

 ASI/PASI adlib

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN MENURUT PRIORITAS

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi


sekret, ditandai dengan:
DS:
Ibu pasien mengatakan anaknya sesak
DO:
 Keadaan umum compos mentis
 Sesak masih RR=60x/menit
 Retraksi intercostal ada
 PCH tidak
 Batuk ada
 Slym ada
 O2 1 liter/menit
 Pasien puasa
 Suara nafas ronchy

20
C. INTERVENSI KEPERAWATAN

No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi


Keperawatan Hasil
1. Bersihan jalan nafas  Tupan: Setelah 1. Observasi keadaan umum
tidak efektif dilakukan tindakan dan tanda-tanda vital tiap
berhubungan keperawatan selama 3 jam
dengan peningkatan 3x24 jam bersihan jalan 2. Observasi suara nafas tiap
produksi sekret, nafas dapat efektif. pergantian shift
ditandai dengan:  Tupen: Setelah 3. Atur posisi tidur kepala
 DS: dilakukan tindakan lebih tinggi atau posisi
Ibu pasien keperawatan selama miring
mengatakan 1x24 jam bersihan jalan 4. Lakukan teknik clapping
anaknya sesak nafas efektif dengan fingers dengan cara
 DO: kriteria: menepuk-nepuk punggung
 Keadaan umum  Sesak nafas berkurang pasien terutama saat batuk
compos mentis  RR=30-40x/menit 5. Berikan tindakan
 Sesak masih  Retraksi intercostal keperawatan sesuai
RR=60x/menit berkurang advice:
 Retraksi  Batuk berkurang a. Isap lendir tiap shift
intercostal ada  Slym sedikit 6. Berikan terapi sesuai

 PCH tidak advise

 Batuk ada
 Slym ada
 O2 1 liter/menit
 Pasien puasa
 Suara nafas
ronchy

21
D. IMPLEMENTASI

DIAGNOSA IMPLEMENTASI NAMA


NO EVALUASI
KEPERAWATAN JAM KEGIATAN TTD

1. Bersihan jalan nafas tidak Senin, 29 Februari 2016 Senin, 29 Februari 2016
20.15
efektif berhubungan
19.30 Mengobservasi keadaan umum S : Ibu pasien mengatakan sesak
dengan peningkatan dan tanda-tanda vital anaknya masih (Sinta
R/ Keadaan umum compos O : Keadaan umum compos Devy A)
produksi sekret, ditandai
mentis, pasien rewel mentis, sesak masih
dengan: TTV: N= 130x/menit, RR:62x/menit, retraksi
R=60x/menit, Suhu= 37°C intercostal ada, PCH tidak, O2
 DS:
1 liter/menit, batuk masih,
Ibu pasien mengatakan 19.35 Mengatur posisi tidur miring slym banyak, suara nafas
R/ Pasien menangis terus ronchy masih.
anaknya sesak
A : Ketidakefektifan bersihan
 DO: 20.00 Melakukan isap lendir jalan nafas
R/ Slym banyak. Pasien menangis P : Lanjutkan intervensi
 Keadaan umum compos saat dilakukan tindakan tapi I : 1. Observasi keadaan umum
mentis tampak nyaman setelah dilakukan dan tanda-tanda vital tiap 3
tindakan. jam
 Sesak masih 2. Observasi suara nafas
RR=60x/menit Mengobservasi keadaan umum 3. Atur posisi tidur miring
dan tanda-tanda vital 4. Lakukan isap lendir
 Retraksi intercostal ada R/ Keadaan umum compos 5. Berikan terapi sesuai
 PCH tidak mentis, pasien rewel advice
TTV: N= 134x/menit, R : Hipertermi
 Batuk ada R=62x/menit, Suhu= 38,7°C
 Slym ada

22
 O2 1 liter/menit Mengobservasi suara nafas
R/ suara nafas ronchy masih
 Pasien puasa
 Suara nafas ronchy

23
F. CATATAN PERKEMBANGAN

PARAF DAN
TANGGAL CATATAN PERKEMBANGAN
NAMA JELAS

01 Maret 2016 S : Ibu pasien mengatakan sesak anaknya


masih,demam masih
O : Keadaan umum compos mentis, sesak
masih RR=60x/menit, retraksi
intercostal masih, PCH tidak, batuk
ada, slym banyak, O2 1 liter/menit,
demam masih S=38°C, badan teraba
panas, pasien puasa total, suara nafas
ronchy ada.
A :  Ketidakefektifan bersihan jalan
nafas berlanjut
 Hipertermi
P :  Observasi suara nafas
 Atur posisi tidur kepala lebih tinggi
 Lakukan suction
 Observasi suhu tiap 4 jam
 Berikan kompres dingin di area
(Sinta Devy)
leher, ketiak dan selangkangan
 Berikan terapi sesuai advise
I :  (08.00) Memberikan kompres
dingin di area leher, ketiak dan
selangkangan
R/ Kompres terpasang. Pasien
tenang saat dikompres.
 (09.00) Mengobservasi keadaan
umum dan tanda-tanda vital
R/ Keadaan umum compos mentis.
TTV: N: 140x/menit, S: 37,3°C,
RR=60x/menit.
 (09.00) Memberikan terapi
antibiotik dan steroid
R/Terapi sudah diberikan.
Cefotaxime 140mg, Dexa-M 1 amp,
Sagestam 7mg. Alergi tidak ada.
Pasien menangis saat diberikan
suntikan.
 (09.15) Mendampingi visite dokter
R/advice ASI/PASI 8x20-30cc/spen
 (09.30) Memberikan diet PASI
20cc/spen
R/Pasien menangis mau lagi,
muntah tidak ada. ASI habis.
 (12.00) Memberikan diet PASI

24
20cc/spen
R/ASI habis. Pasien menangis saat
ASI habis. Muntah tidak.
 (12.30) Melakukan suction
R/ Slym banyak. Pasien menangis
saat dilakukan tindakan. Pasien
nampak nyaman saat sudah
tindakan. Pasien mulai terlihat
mengantuk.
 (13.00) Mengobservasi keadaan
umum dan TTV
R/ Keadaan umum compos mentis.
TTV: N: 138x/menit, S: 36,2°C,
RR=48x/menit.

E Keadaan umum compos mentis, sesak


masih, RR=48x/menit, retraksi masih,
PCH tidak, 02 1 liter/menit, batuk ada,
slym banyak, demam turun S=36,2°C,
badan hangat, ASI/PASI 8x20-30cc/spen,
reflek isap dan nelan baik, muntak tidak
ada, suara nafas ronchy, bab 2x cair.

02 Maret 2016 S : Ibu pasien mengatakan sesak anaknya


masih,demam tidak.
O : Keadaan umum compos mentis, sesak
masih RR=60x/menit, PCH tidak,
retraksi intercostal ada, batuk masih,
slym banyak, 02 2 liter/menit, ASI 20-
30cc/sonde, demam tidak,S=37,1°C,
muntah tidak, bak lancar, bab belum.
A :  Ketidakefektifan bersihan jalan
nafas berlanjut
 Hipertermi dalam perbaikan (Sinta Devy)
P :  Observasi suhu tiap 3 jam
 Atur posisi tidur miring
 Lakukan suction
 Berikan terapi sesuai program
pengobatan
I : (21.00)
 Mengobservasi keadaan umum
dan ttv
R/ Keadaan umum compos mentis.
TTV: N:134x/m, R: 44x/menit, S:
37°C
 Memberikan diet ASI 20cc/sonde
R/retensi tidak ada. Pasien nampak
tertidur. Muntah tidak.

25
 Memberikan terapi injeksi
antibiotik dan steroid
R/ terapi antibiotik Cefotaxime
250mg, Sagestam 10mg, Dexa-M
½ amp. Pasien tidur saat diinjeksi.
Alergi tidak ada.
(24.00)
 Mengobservasi keadaan umum
dan TTV
R/ Keadaan umum compos mentis.
TTV: N:136x/m, R: 46x/menit, S:
37°C
 Memberikan ASI 20cc/sonde
R/ retensi tidak ada. ASI masuk.
Pasien tidur saat diberikan ASI.
Muntah tidak ada.
03 Maret 2016
(03.00)
 Mengobservasi keadaan umum
dan TTV
R/ Keadaan umum compos mentis.
TTV: N:138x/m, R: 46x/menit, S:
37°C
 Memberikan ASI 30cc/sonde
R/ retensi tidak ada. ASI masuk.
Pasien tidur saat diberikan ASI.
Muntah tidak ada.
(05.00) Mengobservasi TTV
R/ N: 138x/menit,R:46x/menit, S:
37,3°C
(05.45) Melakukan isap lendir
R/ Pasien menangis saat dilakukan
tindakan, tapi terlihat lega setelah
dilakukan isap lendir. Slym
banyak.
(06.00) Memberikan ASI 30cc/sonde
R/ retensi tidak ada. ASI masuk.
Pasien tidur saat diberikan ASI.
Muntah tidak ada.
(06.30) Mengobservasi suara nafas
R/ suara nafas ronchy masih
E Keadaan umum compos mentis, sesak
masih RR=46x/menit, retraksi intercostal
masih, PCH tidak, batuk masih, slym
banyak, O2 2 liter/menit, muntah tidak,
bak lancar, bab belum, demam tidak
S=37,3°C, badan teraba hangat, ASI
30cc/sonde, suara nafas ronchy masih.

26
03 Maret 2016 S : Ibu pasien mengatakan sesak anaknya
sudah berkurang,demam tidak.
O : Keadaan umum compos mentis, sesak
berkurang RR=40x/menit, PCH tidak,
retraksi intercostal ada, batuk masih,
slym banyak, 02 2 liter/menit, ASI
40cc/sonde, demam tidak,S=37,2°C,
badan teraba hangat.
A :  Ketidakefektifan bersihan jalan
nafas berlanjut
 Hipertermi teratasi
P : Lanjutkan intervensi
I : (21.00)
 Mengobservasi keadaan umum
dan ttv
R/ Keadaan umum compos mentis.
TTV: N:132x/m, R: 44x/menit, S:
36,8°C
 Memberikan diet ASI 40cc/sonde
R/retensi tidak ada. Pasien nampak
tertidur. Muntah tidak. (Sinta Devy A)
 Memberikan terapi injeksi
antibiotik dan steroid
R/ terapi antibiotik Cefotaxime
250mg, Dexa-M ½ amp. Pasien
menangis saat diinjeksi. Alergi
tidak ada.
(24.00)
 Mengobservasi keadaan umum
dan TTV
R/ Keadaan umum compos mentis.
TTV: N:136x/m, R: 44x/menit, S:
36,8°C
 Memberikan ASI 40cc/sonde
R/ retensi tidak ada. ASI masuk.
Pasien tidur saat diberikan ASI.
Muntah tidak ada.
04 Maret 2016
(03.00)
 Mengobservasi keadaan umum
dan TTV
R/ Keadaan umum compos mentis.
TTV: N:132x/m, R: 42x/menit, S:
36,7°C
 Memberikan ASI 40cc/sonde
R/ retensi tidak ada. ASI masuk.
Pasien tidur saat diberikan ASI.
Muntah tidak ada.

27
(05.00) Mengobservasi TTV
R/ N: 130x/menit,R:42x/menit, S:
36,8°C
(06.00) Melakukan isap lendir
R/ Pasien menangis saat dilakukan
tindakan, tapi terlihat lega setelah
dilakukan isap lendir. Slym
banyak.
(06.00) Memberikan ASI 40cc/sonde
R/ retensi tidak ada. ASI masuk.
Muntah tidak ada.
E Keadaan umum compos mentis, sesak
berkurang RR=42x/menit, retraksi
intercostal berkurang, PCH tidak, batuk
kadang-kadang, slym banyak, O2 2
liter/menit, ASI 40cc/sonde, muntah tidak
ada, demam tidak S=36,8°C, badan
teraba hangat, bak lancar, bab belum.

28
BAB IV

PENUTUP

Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa


lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan
oleh bakteri,virus, jamur dan benda asing.
Bronkopneumonia biasanya di dahului oleh infeksi saluraran nafas bagian atas
selama beberapa hari. Suhu biasa nya mencapai 39-40°c. Anak sangat gelisah, dispea,
pernafasan cepat dan dangkal disertai dengan pernafasan cuping hidung dan sianosis
di sekitar hidung dan mulut.
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada An. B penulis dapat
menyimpulkan beberapa hal:
Pengkajian dimulai pada tanggal 29 Februari 2016, dari pengkajian ditemukan
satu diagnosa yang penulis angkat yaitu, Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
berhubungan dengan peningkatan produksi sekret. Di akhir evaluasi, penulis
menegakkan satu diagnosa lagi yaitu Hipertermi. Penulis melakukan intervensi,
implementasi serta evaluasi dari tanggal 29 Februari-04 Maret 2016. Dari kedua
diagnosa tersebut, satu diagnosa sudah teratasi pada hari kedua implementasi dan satu
diagnosa yaitu bersihan jalan nafas tidak efektif masih dalam perbaikan sampai hari
ke lima implementasi.

29