You are on page 1of 8

B.

Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud Archaebacteria dan Eubacteria?
2. Bagaimanakah Ciri-ciri Archaebacteria dan Eubacteria?
3. Bagaimanakah Klasifikasi Archaebacteria dan Eubacteria?
4. Bagaimanakah Reproduksi Archaebacteria dan Eubacteria?
5. Bagaimanakah Peranan Archaebacteria dan Eubacteria?

C. Tujuan Penulisan
1. Agar dapat mengetahui pengertian Archaebacteria dan Eubacteria.
2. Untuk mengetahui Ciri-ciri Archaebacteria dan Eubacteria?
3. Untuk mengetahui Klasifikasi Archaebacteria dan Eubacteria?
4. Untuk mengetahui Reproduksi Archaebacteria dan Eubacteria?
5. Untuk mengetahui Peranan Archaebacteria dan Eubacteria?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Archaebacteria dan Eubacteria


Archaebacteria adalah organisme yang metabolisme energi khasnya membentuk gas
metana (CH4) dengan cara mereduksi karbon dioksida (CO2). Archaebacteria bersifat
anaerobik dan kemosintetik. Nama “archaebacteria,” dengan awalannya yang berarti “kuno,”
menunjukkan bahwa ini adalah kelompok yang sangat tua. Archaebacteria adalah kelompok
bakteri yang dinding selnya tidak mengandung peptidokglikan, namun membrane plasmanya
mengandung lipid. Archaebacteria ini hidup di lingkungan yang ekstrim. Archaebacteria terdiri
dari bakteri-bakteri yang hidup di tempat-tempat kritis atau ekstrim, misalnya bakteri yang
hidup di air panas, bakteri yang hidup di tempat berkadar garam tinggi, dan bakteri yang hidup
di tempat yang panas atau asam, di kawah gunung berapi, dan di lahan gambut.
Eubacteria adalah organisme bersel tunggal mikroskopis. Eubacteria kadang-kadang
disebut sebagai "bakteri sejati," membedakannya dari Archaeobacteria, organisme yang serupa
dengan beberapa perbedaan genetik dan gaya hidup yang signifikan. Sebagian besar organisme
yang kita anggap sebagai “bakteri” adalah Eubacteria, dari sepupu Arkean mereka lebih
memilih hidup di lingkungan yang ekstrim seperti pembangkit listrik tenaga nuklir dan
ventilasi hidrotermal.
Dalam rangka untuk menyelidiki definisi Eubacteria, pertama-tama perlu untuk
membahas detail dari klasifikasi ilmiah. Eubacteria berada di jantung perdebatan serius dalam
klasifikasi ilmiah yang membentuk kembali hirarki tradisional “Kingdom, Filum, Kelas, Ordo,
Famili, Genus, dan Spesies.” Awalnya, Eubacteria dianggap bagian dari kerajaan Prokaryota,
kadang-kadang disebut “Monera,” bersama dengan kerabat mereka yang Archaebacteria.
Organisme prokariotik seperti bakteri terutama ditentukan oleh ketiadaan inti sel. Hal ini
membuat mereka berbeda dari evolusi organisme hidup lainnya, dan telah menyebabkan
sejumlah adaptasi yang inovatif. Banyak prokariota juga bersel tunggal, meskipun hal ini tidak
selalu merupakan persyaratan untuk keanggotaan pada kerajaan ini. Selain kerajaan
Prokaryota, ahli biologi juga diklasifikasikan organisme dalam Animalia, Fungi, Plantae, dan
Protista.

B. Ciri-ciri Archaebacteria dan Eubacteria


1. Ciri-ciri Archaebacteria
Prokariota terbagi menjadi dua domain: archaea dan bakteri. Kita pertama-tama akan
melihat archaebacteria. Archaebacteria adalah prokariota pertama dan tinggal di lingkungan
yang ekstrim. Secara Evolusioner, mereka memiliki beberapa hal yang sama dengan bakteri
dan beberapa hal dengan organisme eukariotik (seperti kita). Meskipun mereka adalah
organisme yang pertama dikenal hidup di bumi, mereka masih ada, dan kita terus belajar lebih
banyak tentang organisme luar biasa ini yang hidup di lingkungan yang umumnya kita
menganggap tidak mungkin untuk dihuni. Archaea dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan
lingkungan di mana mereka tinggal. Ciri-Ciri umum Archaebacteria:
a. Ukuran archaebacteria 0,1-15 mikron.
b. Archaebacteria memiliki dinding sel.
c. Dinding sel terdiri dari polisakarida dan protein bukan peptidoglikan
d. Archaebacteria adalah organisme uniseluler prokariotik (tidak memiliki nukleus dan membran
inti sel).
e. Asam nukleat archaebacteria berupa rna.
f. Archaebacteria dapat tinggal di lingkungan ekstrim: lingkungan dengan derajat keasaman,
suhu, dan kadar garam yang sangat tinggi.
g. Reproduksi dengan cara pembelahan biner, pembentukan tunas, fragmentasi
2. Ciri-ciri Eubacteria / Bakteri Sejati
Kelompok kedua prokariota adalah nama yang lebih akrab bagi Anda. Kerajaan
Eubacteria adalah bakteri yang sejati. Mereka memiliki peran yang tak terhitung jumlahnya,
termasuk dekomposisi dan daur ulang nutrisi, pencernaan dan penyakit. Ciri-ciri umum
eubacteria adalah sebagai berikut:
a. Eubacteria adalah organisme Uniseluler prokariotik
b. Eubacteria dinding sel yang tersusun atas peptidoglikan (gula dan protein)
c. Ukuran tubuh Eubacteria sekitar 1 – 5 mikron
d. Eubacteria Berkembang biak dengan cara membelah diri, konjugasi , transformasi dan
transduksi (pemindahan sebagian materi genetik melalui perantara virus).
e. Eubacteria Dapat mensekresikan lendir ke permukaan dinding sel membentuk Kapsul.
f. Ada Eubacteria yang memiliki flagel dan ada juga Eubacteria yang tidak memiliki flagel
g. Eubacteria Hidup kosmopolitan, artinya dapat hidup di segala tempat, misalnya di darat, udara,
air, bahkan tubuh manusia
h. Apabila berada di lingkungan yang kurang menguntungkan Eubacteria akan membentuk
endospora.

C. Klasifikasi Archaebacteria dan Eubacteria


1. Klasifikasi Archaebacteria
Archaebacteria banyak ditemukan hidup di lingkungan ekstrim seperti di sumber air
panas, telaga garam, bahkan dalam saluran pencernaan hewan ruminansia (sapi, domba).
Berdasarkan lingkungan yang ekstrim Archaebacteriadibedakan menjadi 3 kelompok :
a. Metanogen
Kelompok ini merupakan archaebacter yang menghasilkan gas metana (CH4) dari hasil
reduksi karbondioksida. Metanogen hidup di tempat dimana tidak terdapat gas oksigen yaitu
di dasar lumpur atau dapat mengadakan simbiosis dengan hewan – hewan herbivora (sapi,
rayap). Metanogen sangat tidak dapat mentolerir keberadaan oksigen. Organisme ini akan mati
jika di habitatnya terdapat oksigen, meski hanya sedikit. Lingkungan anaerob obligat adalah
syarat penting bagi kelompok metanogen. Kemampuannya menghasilkan metana, bakteri ini
sering dimanfaatkan dalam pembuatan atau penguraian kotoran atau sampah untuk
menghasilkan metana. Adapun ciri – ciri metanogen ialah:
1) Anaerob obligat
Biasa ditemukan di dasar rawa atau di dalam perut hewan herbivora. Akan mati jika terdapat
oksigen.
2) Menghasilkan metana (CH4)
Metana merupakan senyawa buangan dari metabolisme karbondioksida menjadi makanan.
Metana buangan archaebacteria dapat dimanfaatkan sebagai bahan bahar (Biogas).
3) Berperan sebagai pengurai atau pembusuk
b. Halofil extreme
Kelompok ini merupakan penghuni wilayah lautan dengan kadar garam yang sangat
tinggi seperti laut mati, Great Salt Lake (Bahasa Yunani, halo= garam; philos= penyuka).
Beberapa spesies kelompok ini memiliki pigmen merah orodopsin. Sehingga koloni kelompok
ini terlihat seperti buih yang berwarna merah keunguan. Berbeda dengan methanogen,
kelompok halofil memerlukan oksigen untuk respirasi. Sementara kecukupan nutrisi diperoleh
dengan melakukan fotosintesis dengan pigmen merah yang dimilikinya. Ciri–ciri halofil:
1) Habitat: perairan dengan kadar garam tinggi
2) Aerobik dan fotosintetik
c. Termofil extreme
Termofil berasal dari Bahasa Yunani, termo artinya panas, sementara phylos artinya ialah
penyuka. Archae jenis ini dapat ditemukan di wilayah – wilayah terpanas bumi, dengan suhu
optimum antara 60°C sampai 80°C. Kelompok Sulfolobus (bakteri Sulfur) misalnya ditemukan
pada sumber mata air panas yang banyak mengandung sulfur atau di lereng gunung berapi
dengan suhu optimum mencapai 105°C. Kelompok ini memiliki DNA dengan komposisi
pasangan basa nitrogen sitosin – guanin yang banyak, sehingga tahan panas. Kelompok ini
merupakan kemoautotrof. Ciri umum termofil ialah:
1) Hidup di wilayah dengan suhu diatas 60°C
2) Kemoautotrof
2. Klasifikasi Eubacteria
Beberapa kelas dalam Eubacteria adalah sebagai berikut :
a. Kelas Azotobacteraceae
Ciri-ciri yang dimiliki oleh bakteri kelas Azotobacteraceae Adalah sel berbentuk batang, hidup
bebas di dalam tanah, mirip sel khamir,dan pada kondisi aerob dapat menambat
Misalnya, Azotobacter chlorococcum, Azotobacter indicus, dan Azotobacter agilis
b. Kelas Rhizobiaceae
Ciri-ciri bakteri kelas Rhizobiaceae adalah sel. Berbentuk batang atau bercabang, bersimbiosis
dengan legominosae membentuk bintil akar, dan mengonversi nitrogen udara yang dapat
bermanfaat bagi tumbuhan leguminosae. Misalnya, Rhizobium leguminosarum Membentuk
bintil akar pada akar Lathyrus, Pisum, Vicia Rhizobium japonicum Pada kedelaiAgrobacterium
tumefaciens menimbulkan pembengkakan pada akar pohon
c. Kelas Micrococcaceae
Ciri-ciri bakteri kelas Micrococcaceae adalah sel berbentuk ,berbentuk koloni tetrade, serta
kubus dan massa tidak beraturan. Contohnya, Sarcia dan Staphyloccus aureus yang bersifat
patogen serta dapat menimbulkan berbagai penyakit
d. Kelas Enterobacteriaceae
Kelas Eubacteria yang terdapat dalam kelas Enterobacteriaceae mbulkan fermentasi anaerobik
pada glukosa atau laktosa, hidup sebagai dekomposer pada serasah atau patogen pada manusia,
luran pernapasan dan saluran kencing Vertebrata. Contohnya E.coli yang terdapat di usus besar
manusia dan Vertebrata; Salmonela Typhosa yaitu patogen penyebab penyakit tifus; serta
Shigella Dysenteriae penyebab disentri
e. Kelas Lactobacillaceae
Illaceae berbentuk peluru dan dapat menimbulkan asam laktat. Contohnya, Lactobacillus
caucasicus Yang membantu pembuatan yogurt; Streptococcus pyogenes yang dapat
menimbulkan nanah atau keracunan darah pada manusia; serta Diplococcus pneumonia
sebagai penyebab pneumonia.
f. Kelas Bacillaceae
Sel Bacillaceae berbentuk batang dan berfungsi sebagai pembentuk endospora. Misalnya,
Bacillus antraks penyebab penyakit antraks dan Clostridium pasteurianum yaitu bakteri
anaerob
g. Kelas Neisseriaceae
Sel Neisseriaceae berbentuk peluru dan umumnya n.Misalnya, Neisseria meningitidis yaitu
bakteri penyebab meningitis;Neisseria gonorrhoeaepenyebab penyakit kencing nanah;
serta Veillonella parvula berada di mulut dan saluran pencernaan manusia dan hewan.

D. Reproduksi Archaebacteria dan Eubacteria


1. Reproduksi Archaebacteria
Seperti bakteri, reproduksi Archaebacteria adalah
aseksual.Archaebacteria dapat mereproduksi melalui pembelahan biner, di
mana sel induk membelah menjadi dua sel anak yang identik secara
genetik.Archaebacteria juga dapat bereproduksi secara aseksual melalui tunas
dan fragmentasi, di mana potongan-potongan sel pecah dan membentuk sel
baru, juga memproduksi organisme identik secara genetik.

2. Reproduksi Eubacteria

Bakteri dapat berkembang biak secara vegetatif (aseksual) maupun generatif (seksual)
a. Reproduksi secara Aseksual
Bakteri dapat berkembang biak secara aseksual dengan membelah diri (pembelahan biner) pada
lingkungan yang tepat atau sesuai. Reproduksi bakteri dapat berlangsung dengan sangat cepat. Pada
keadaan optimal, beberapa jenis bakteri dapat membelah setiap 20 menit. Anda bisa menghitung
jumlah bakteri hasil reproduksi dalam waktu 1 jam atau 1 hari, dengan rumus 2n (n jumlah
pembelahan). Pada kondisi yang kurang menguntungkan, sel-sel bakteri dapat mempertahankan diri
dengan pembentukan spora (endospora). Endospora artinya spora yang terbentuk di dalam bakteri.
Akan tetapi, ada pula jenis bakteri yang akan mati karena perubahan faktor lingkungan. Faktor
lingkungan ini adalah cahaya matahari yang terus-menerus, kenaikan suhu, kekeringan, dan adanya
zat-zat penghambat dan pembunuh bakteri, seperti antibiotika dan desinfektan.
b. Reproduksi secara Seksual
Bakteri tidak melakukan pembiakan seksual yang sebenarnya, seperti yang terjadi pada makhluk
hidup eukariot, karena bakteri tidak mengalami penyatuan sel kelamin. Meskipun demikian, pada
bakteri terjadi pertukaran materi genetik dengan sel pasangannya. Oleh karena itu, perkembangbiakan
bakteri yang terjadi dengan cara ini disebut perkembangbiakan paraseksual. Perkembangbiakan
parasekual bakteri dapat terjadi dengan tiga cara, yaitu transformasi, konjugasi, dan transduksi.
1) Transformasi, adalah pemindahan potongan materi genetik atau DNA dari luar ke sel bakteri
penerima. Dalam proses ini, tidak terjadi kontak langsung antara bakteri pemberi DNA dan
penerima. Contoh : Streptococcus pneumonia, Bacillus, Haemopphilus, Neisseria dan
Pseudomonas.
2) Konjugasi, yaitu pertukaran materi genetik dengan cara membentuk bangunan/
jembatan/selubung untuk menyalurkan materi genetiknya, atau reproduksi bakteri yang belum
diketahui jenis kelaminnya.
3) Transduksi, adalah pemindahan DNA dari sel pemberi ke sel penerima dengan perantaraan
virus. Dalam hal ini, protein virus yang berfungsi sebagai cangkang digunakan untuk
pembungkus dan membawa DNA bakteri pemberi menuju sel penerima.

E. Peranan Archaebacteria dan Eubacteria


1. Peranan Archaebacteria bagi Kehidupan Manusia
a. Enzim dari Archaebacteria ditambahkan ke dalam sabun cuci atau detergen untuk
meningkatkan kemampuan sabun cuci dan deterjen pada suhu dan pH tinggi.
b. Beberapa enzim Archaebacteria juga digunakan dalam industri makanan untuk mengubah pati
jagung menjadi dekstrin (sejenis karbohidrat).
c. Beberapa jenis Archaebacteria digunakan untuk mengatasi pencemaran, misalnya tumpahan
minyak.
2. Peranan Eubacteria bagi Kehidupan Manusia
Seperti telah disinggung pada bagian sebelumnya, bakteri mempunyai peran yang dapat
berlawanan. Di satu sisi bakteri dapat merugikan, tetapi disisi lain juga dapat sangat
menguntungkan.
a. Bakteri yang merugikan
Penyakit pada manusia yang ditimbulkan bakteri cukup beragam.Penyakit yang
ditimbulkan dapat menyerang berbagai organ tubuh mulai dari kulit sampai ke otak. Beberapa
contoh penyakit pada manusia yang disebabkan oleh bakteri dapat dilihat pada berikut :
Tabel II.1 Beberapa Penyakit yang Disebabkan Bakteri
Nama Penyakit Bakteri Penyebab
Demam Tiphoid Salmonella typhi
Kolera Vibrio chloreae
Disentri Shigella dysentriae
Nama Penyakit Bakteri Penyebab
Keracunan makanan Clostridium Staphylococcus sp.
Traveler diare Escherichia coli
Tifus Rickettsia typhi
Demam Q Coloiella burntii
Plague Pasteurella pestis
Dipteri Corynebacterium diphtheriae
Tubercolosis (TBC) Mycobacterium tubercolosis
Meningitis Neisseria meningitis
Demam Scarlet (Demam rematik) Streptococcus pneumoniae
Tonsilitis Streptococcus sp.
Gonorea Neisseria gonorrhoea
Sipilis Treponema pallidum
Tetanus Clostridium tetani
Gas gangren Clostridium perfringens

Bakteri dapat menimbulkan penyakit dengan berbagai cara. Cara yang pertama adalah
bakteri dapat menyebabkan iritasi atau luka. Selain itu, bakteri juga dapat secara langsung
menghancurkan sel inangnya sehingga sel inang menjadi rusak. Cara berikutnya adalah dengan
menghasilkan racun yang dapat mengganggu metabolisme sel inang. Karena bakteri dapat
merugikan manusia dengan berbagai sifat di atas, saat ini manusia memanfaatkan sifat-sifat
tersebut untuk membuat senjata biologis. Contoh bakteri yang digunakan sebagai senjata
biologis, misalnya Bacillus anthracis, penyebab penyakit antraks.
Penanggulangan penyakit yang disebabkan bakteri pada umumnya menggunakan zat
yang disebut antibiotik. Antibiotik dapat diproduksi dari monera lain atau dari jamur. Contoh
antibiotik yang terkenal, misalnya penisilin, tetrasiklin, dan sefalosporin. Tabel II 2.
menunjukkan beberapa antibiotika dan organisme penghasilnya.
Tabel II.2 Beberapa Antibiotik dan Organisme Penghasilnya
Macam Antibiotik Organisme Penghasil Kelompok
Penisillin Penicillium notatum Fungi/Jamur
Griseofulvin Penicillium griseovulvum Fungi/Jamur
Streptomisin Streptomyces griseus Actynomycetes
Chloramphenicol Streptomyces venezuelae Actynomycetes
Tetrasiklin Streptomyces aerofaciens Actynomycetes
Colistin Bacillus colistinus Bakteri
Polomiksin B Bacillus polymxa Bakteri
Bakteri juga dapat menyerang hewan ataupun tumbuhan. Contoh bakteri yang
menyebabkan penyakit pada hewan adalah Salmonella. Bakteri ini dapat menyebabkan
keracunan pada babi atau unggas karena dapat menghasilkan racun. Bakteri yang menyerang
tumbuhan, di antaranya Agrobacteriumtumifaciens menyebabkan penyakit crown gall pada
tanaman buah-buahan.
Secara tidak langsung bakteri juga dapat merugikan manusia karena dapat merusak bahan
pokok kebutuhan manusia. Makanan sebagai bahan pokok kebutuhan manusia, merupakan
media yang baik bagi pertumbuhan bakteri. Oleh karena itu, untuk mempertahankan agar
makanan tidak rusak oleh bakteri perlu dilakukan proses yang disebut sterilisasi. Sterilisasi
adalah suatu usaha membebaskan alat-alat atau bahan-bahan dari segala macam bentuk
kehidupan atau kontaminasi terutama oleh mikroba. Sterilisasi dapat dilakukan dengan
berbagai macam cara. Secara fisik, misalnya dengan pemanasan, sinar ultraviolet, dan sinar X;
secara mekanis, misalnya dengan cara penyaringan; secara kimia dengan menggunakan
desinfektan. Sterilisasi yang paling banyak digunakan biasanya adalah dengan cara pemanasan.
Sterilisasi dengan pemanasan biasanya mengguna-kan tekanan atm dan suhu 121􀁲C, selama
15 menit. Dengan proses ini, bakteri bersama sporanya akan mati sehingga makanan menjadi
lebih tahan lama.
b. Bakteri menguntungkan
Seperti telah dikemukakan, peran menguntungkan bakteri lebih banyak daripada peran
merugikan. Sembilan puluh sembilan persen (99%) bakteri justru dapat memberikan manfaat
bagi organisme lain khususnya manusia. Salah satu manfaat bakteri adalah dalam proses
penguraian makhluk hidup yang telah mati. Melalui proses ini, bakteri bersama dengan jamur
memecah materi organik menjadi materi anorganik. Sebagai contoh, protein yang tadinya
bersifat organik dapat diubah menjadi senyawa nitrat (NO3) yang bersifat anorganik. Contoh
bakteri yang dapat melakukan penguraian protein menjadi nitrat adalah Nitrosomonas dan
Nitrobacter. Nitrat oleh tumbuhan kemudian dipakai sebagai bahan baku pembentuk protein.
Protein dipakai untuk menyusun tubuh tumbuhan dan hewan. Tubuh tumbuhan dan hewan
yang telah mati, kemudian diuraikan lagi oleh bakteri menjadi senyawa nitrat. Dengan
demikian, terjadi suatu siklus materi.
Kegunaan lain dari bakteri adalah dapat menambat senyawa nitrogen dari udara. Peran
ini penting karena kebutuhan nitrogen tidak cukup hanya dipenuhi dari tanah sebagai hasil
proses penguraian di atas. Bakteri dapat memfiksasi atau menambat nitrogen dari udara dengan
cara bersimbiosis dengan akar tumbuhan kacang-kacangan atau dengan membentuk bintil akar.
Dalam simbiosis ini bakteri menyediakan nitrat yang dibutuhkan tumbuhan, sedangkan
tumbuhan menyediakan bahan makanan untuk menunjang hidup bakteri. Contoh bakteri
semacam ini adalah Rhizobium.
Bakteri juga dimanfaatkan dalam industri lain, seperti pembuatan asam cuka dari
fermentasi alkohol yang dilakukan oleh bakteri Acetobacter. Selain itu, bakteri juga digunakan
dalam produksi berbagai macam enzim, misalnya enzim glukosa isomerase diproduksi oleh
bakteri Bacillus subtilis. Beberapa produk yang dihasilkan bakteri dapat dilihat pada Tabel
berikut :
Tabel II.3 Beberapa Produk Industri yang Dihasilkan Bakteri
Produk Bakteri Penghasil Manfaat Produk
Enzim protease Bacillus subtilis Pelunak daging
Butano dan aseton Clostridium Pelarut
acetobulylicom
Indigo Escherichia coli Pewarna tekstil
Xanthan gum Xanthomonas Penggumpal makanan,cat,
campestris dan kosmetik
Cynocobalamin (Vit. Proionbacterium Makanan tambahan (food
B12) shermanii suplement)
Gelan Pseudomonas sp. Penggumpal makanan
Asam glutamat Corynobacterium Penyedap rasa
glutamicum
Interferon Escherichia coli Pengobatan infeksi virus

Enzim yang terdapat dalam beberapa bakteri juga dapat dimanfaatkan untuk
menguraikan selulosa menjadi CO2 dan CH4. CH4 atau gas metan sering disebut biogas.
Biogas kini telah banyak digunakan sebagai bahan bakar alternatif.