Eutanasia

PENDAHULUAN Ilmu pengetahuan pada abad ini telah berkembang sangat pesat apabila dibandingkan dengan abad abad sebelumnya. Perkembangan ilmu pengetahuan telah memungkinkan begitu banyak penemuan yang sangat bermanfaat bagi kepentingan umat manusia, selain juga menimbulkan masalah-masalah baru. Kemajuan dan perkembangan yang demikian menakjubkan juga dialami dunia kedokteran. Alat-alat bantu untuk mempertahankan kehidupan seseorang seperti alat bantu napas dan pacu jantung juga telah berkembang selaras dengan majunya teknologi. Sudah sejak lama terdapat masalah bagi dokter dalam menghadapi penyakit yang tidak tersembuhkan, sementara pasien sudah dalam keadaan dari segi medis tidak ada harapan. Dalam situasi yang demikian ini, tidak jarang pasien meminta agar dibebaskan dari segala penderitaan dan tidak menginginkan diperpanjang hidupnya, atau di lain keadaan pada pasien yang sudah tidak sadar, keluarga pasien yang tidak sampai hati melihat penderitaan pasien menjelang ajalnya meminta kepada dokter untuk tidak meneruskan pengobatan atau bila perlu memberikan obat yang mempercepat kematian. Dari sinilah muncul istilah euthanasia, yaitu melepas kehidupan seseorang agar terbebas dari penderitaan, atau mati secara baik (mati enak). Beberapa waktu yang lalu, masalah euthanasia kembali mencuat menjadi pembicaraan di mediamedia cetak maupun elektronik, ketika di Australia terbetik berita seorang dokter melaksanakannya terhadap seorang pasien. Perbagai ulasan dan tanggapan muncul, baik yang sifatnya promaupun yang kontra, semuanya lengkap dengan argumentasi masing-masing. Pada kenyataannya, perdebatan tentang euthanasia memang telah diperkirakan oleh beberapa ahli, bersama beberapa masalah lain, yakni transplantasi organ tubuh manusia, inseminasi buatan, sterilisasi, bayi tabung dan abortus provokatus (pengguguran kandungan). Perdebatan atau kontroversi masalah-masalah tersebut lebih berfokus pada soal moralitas, etika maupun hukumnya. Perkembangan teknologi dan ilmu kedokteran yang begitu pesat akhir -akhir ini, ternyata tidak diikuti dengan kemajuan di bidang hukum dan etika. Profesor Separovic, seorang pakar hukum kedokteran menyatakan Contemporary developments have posed a whole series of new problem. One could even say: If medicine is in trouble because of too much change, law is in trouble of too little change . Bagi seorang dokter, masalah euthanasia merupakan suatu dilema yang menempatkannya pada posisi yang serba sulit. Di satu pihak teknologi kedokteran telah sedemikian maju, sehingga mampu mempertahankan hidup seseorang (walaupun hidup yang vegetatif atau vegetative state); sedangkan di sisi lain, pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap hak -hak individu juga berkembang tidak kalah pesat. Dengan demikian, konsep kematian dalam dunia kedoktera masa n kini telah dihadapkan pada kontradiksi antara etika, moral dan hukum di satu pihak; dengan kemampuan, ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang demikian maju di pihak lain sehingga memungkinkan untuk mempertahankan hidup vegetatif tadi. Dalam pembahasan tentang euthanasia, satu hal yang paling menentukan adalah hak menentukan nasib sendiri (the right of self-determination) sebagai bagian hak asasi manusia. Masalahnya adalah: Bagaimana dan sampai di mana batas hak tersebut? Apakah hak itu begitu mutlak, sampai-sampai ia berhak untuk mati (sekalipun secara terhormat)?

tanpa penderitaan. Perkembangan selanjutnya istilah euthanasia diartikan sebagai pengakhiran kehidupan karena belas kasihan (mercy killing) dan membiarkan seseorang untuk mati (mercy death). Mengakhiri penderitaan dan hidup seseorang yang sakit dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya Pemikiran yang timbul mengenai euthanasia. Kematian belas kasihan 3.DEFINISI Euthanasia berasal dari kata Yunani Euthanathos (Eu = baik. tanpa penderitaan. Ada tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk mengakhiri hidup seseorang 2. istilah euthanasia dipergunakan dalam tiga arti. penderitaan si sakit diringankan dengan memberikan obat penenang 3. menurut Robert H. Ada juga yang mengartikan sebagai a good or happy death. Pembunuhan belas kasihan 4. Membiarkan seseorang mati 2. Manusia diberi kemampuan oleh Tuhan untuk berpikir 2. Kemudian pengertian ini berkembang menjadi mengakhiri hidup tanpa penderitaan .William disebabkan oleh dua hal. dan thanathos = mati atau meninggal) secara etimologi berarti mati yang baik atau mati yang tenang . The Advanced Learner s Dictionary menyebutkan bahwa Euthanasia is bringing about an easy painless of death for persons suffering from incurable and painfull disease. Proses mengakhiri hidup yang dengan sendirinya berarti juga mengakhiri penderitaan tersebut dilakukan tanpa menimbulkan rasa sakit pada orang yang menderita tersebut 4. Webster s Dictionary memberi batasan pada euthanasia The putting of a person to death painlessly. menurut Kode etik Kedokteran Indonesia. Ketika hidup berakhir. Kematian otak/batang otak Dari batasan-batasan di atas dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure dalam euthanasia. especially one in a hopeless condition Di Indonesia. Lengkapnya euthanasia diartikan sebagai perbuatan mengakhiri kehidupan seseorang untuk menghentikan penderitaannya. yaitu 1. Tindakan tersebut dilakukan atas dasar rasa belas kasihan karena penyakit orang tersebut tidak mungkin dapat disembuhkan 3. untukyang beriman dengan nama Allah di bibir 2. pikiran. Berpindah ke alam baka dengan tenang dan aman. yaitu 1. yaitu 1. Manusia mempunyai kemampuan mental dan emosi untuk membuat keputusan dan menggunakannya seefektif mungkin Lamerton dan thiroux menyusun 4 kategori yang berkaitan dengan euthanasia. yaitu 1. Suetonius dalam bukunya Vitaceasarum merumuskan bahwa euthanasia adalah mati cepat tanpa derita. Pengakhiran hidup tersebut dilakukan atas permintaan orang itu sendiri atau atas permintaan keluarganya yang merasa dibebani oleh keadaan yang menguras tenaga. perasaan dan .

dilakukan pada pasien yang (sudah) tidak sadar. namun mengetahui adanya risiko yang dapat me mperpendek atau mengakhiri hidup pasien. Atau tindakan tertentu yang langsung menyebabkan kematian b) Euthanasia Aktif tidak Langsung (indirek) yaitu dilakukannya tindakan medik untuk meringankan penderitaan pasien. mempercepat kematian pasien atau mengakhiri hidup si pasien. Keputusan atau keinginan untuk mati ada pada pihak orang tua atau yang bertanggung jawab 3. Euthanasia sukarela (atas permintaan pasien). Ditinjau dari segi permintaan 1.keuangan Karena masih banyak pertentangan mengenai definisi euthanasia. Euthanasia Pasif (Euthanasia Negatif) Dokter atau tenaga kasehatan lainnya secara sengaja tidak (lagi) memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup kepada pasien. dilakukan atas permintaan pasien secara sadar dan berulang-ulang 2. Perbuatan yang membiarkan penderita meninggal. dimana keadaan ini diperburuk oleh keadaan fisik dan jiwa yang tidak menunjang 2. Voluntary Euthanasia Permohonan yang diajukan pasien atas kemauan sendiri. Ditinjau dari cara pelaksanaannya 1. Euthanasia aktif dapat dibedakan antara a) Euthanasia Aktif Langsung (direk) yaitu dilakukannya tindakan medik secara terarah yang diperhitungkan akan dapat mengakhiri hidup pasien atau memperpendek hidup pasien. Involuntary Euthanasia Keinginan yang diajukan pasien untuk mati tidak dapat dikerjakan sendiri (dilakukan bukan atas kemauan sendiri) misalnya seorang yang menderita sindroma Tay Sach. Euthanasia tidak sukarela (tidak atas permintaan pasien). Assisted Suicide Tindakan ini bersifat individual yang pada keadaan tertentu dan alasan tertentu menghilangkan rasa putus asa dengan bunuh diri 4. berbagai pendapat diajukan diantaranya 1. Tindakan yang langsung menginduksi kematian dengan alasan meringankan penderitaan tanpa izin individu bersangkutan dan pihak yang punya hak untuk mewakili. Dari penolakan tersebut . menunda operasi dan sebagainya 3. misalnya dengan memberikan obat untuk menghilangkan rasa nyeri dalam dosis yang sangat tinggi sehingga efek sampingnya kematian juga 2. dan biasanya diminta oleh keluarga pasien b. misalnya penghentian pemberian infuse. JENIS EUTHANASIA Euthanasia dapat ditunjau dari beberapa segi a. Euthanasia Aktif (Euthanasia Positif) Tindakan ini secara sengaja dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya u ntuk memperpendek. Tindakan yang secara tidak langsung menyebabkan kematian. misalnya gangguan atau penyakit jasmani yang dapat mengakibatkan kematian segera. Auto-Euthanasia Seorang pasien menolak secara tegas dengan sadar untuk menerima perawatan medis dan ia mengetahui bahwa hal ini akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya.

Menyingkirkan penyebab koma dengan henti napas yang irreversible . Fungsi spontan pernapasan dan jantung telah berhenti secara pasti (irreversible) B. pasien ternyata berada dalam stadium suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan lagi. yaitu sesudah resusitasi pasien tetap tidak sadar. Upaya resusitasi dilakukan pada keadaan mati klinis. tidak ada bantuan dalam proses kematian dengan tujuan memperpendek hidup pasien 4. EEG. Auto-euthanasia pada dasarnya adalah euthanasia pasif atas permintaan Adapula yang melihat pelaksanaan euthanasia dari sudut lain dan membaginya menjadi 4 (empat) kategori 1. Pasien dalam keadaan koma dan henti napas.4/88 merumuskan bahwa seseorang dinyatakan mati apabila A. Upaya resusitasi darurat dapat diakhiri apabila 1. Perkecualian untuk itu ialah hipotermia atau di bawah pengaruh barbiturate atau anesthesia 3. Meyakinkan bahwa telah terdapat prakondisi tertentu. tidak ada bantuan dalam proses kematian tanpa maksud memperpendek hidup pasien 2. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan surat keputusan Nomor 336/PB/A. atau hampir dapat dipastikan bahwa pasien tidak akan memperoleh kembali fungsi serebralnya. serta pupil tetap dilatasi selama paling sedikit 15-30 menit. ada bantuan dalam proses kematian tanpa maksud memperpendek hidup pasien 3. Terdapat tanda-tanda klinis mati otak. meskipun telah dilakukan resusitasi dan pengobatan optimal 4. Penolong terlalu lelah sehingga tidak dapat melanjutkan upaya resusitasi Diagnosis Mati Batang Otak Untuk menegakkan diagnosis mati batang otak diperlukan tiga langkah yaitu 1. yaitu tidak responsive walaupun sudah dibantu dengan ventilator b. Penyebabnya adalah kerusakan otak structural yang tidak dapat diperbaiki lagi karena gangguan yang dapat menuju mati : batang otak 2. Apabila terbukti telah terjadi kematian batang otak Yang dibuktikan dengan pemeriksaan penunjang seperti EKG. tidak timbul napas spontan dan refleks gag. ada bantuan dalam proses kematian dengan tujuan memperpendek hidup pasien KETENTUAN MATI DALAM KEDOKTERAN Kepustakaan mengenai beberapa konsep tentang mati yaitu a) Mati sebagai terhentinya aliran darah b) Mati sebagai saat terlepasnya nyawa dari tubuh c) Hilangnya kemampuan tubuh secara permanent d) Hilangnya fungsi manusia/kemanusiaan secara permanent untuk kembali sadar dan melakukan interaksi social Di Indonesia. yaitu a. yaitu bila denyut nadi besar dan napas berhenti dan diragukan apakah kedua fungsi spontan jantung dan pernapasan telah berhenti secara pasti. Diketahui kemudian bahwa sesudah dimulai resusitasi. Terdapat tanda-tanda mati jantung. yaitu asistol listrik membandel (garis datar pada EKG) selama paling sedikit 30 menit. Upaya resusitasi pada keadaan ini tidak memberikan banyak arti lagi. yaitu sesudah selama ½-1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa resusitasi jantung-paru 2.ia membut sebuah codicil pernyataan tertulis tangan).

tidak ada napas spontan Apabila tanda-tanda fungsi batang otak yang hilang di atas ada semua. Yang tidak menyetujui tindakan euthanasia Kelompok ini berpendapat bahwa euthanasia adalah suatu pembunuhan yang terselubung. Fungsi manusia seperti berpikir dan merasa hanya dapat berjalan apabila otak masih bekerja. bila atau tidak ada respon motor dalam distribusi saraf cranial terhadap rangsang adekuat pada area somatic 5. kelompok yang setuju dengan euthanasia menampilkan dua pandangan . deserebrasi) 3. Jika otak tidak lagi berfungsi. dengan tujuan utama menghentikan penderitaan pasien. Kelompok ini berpendapat bahwa hidup adalah semata-mata diberikan oleh Tuhan sendiri. bila atau tidak ada refleks muntah (refleks gag) atau refleks batuk terhadap rangsang oleh kateter isap yang dimasukkan ke dalam trakea Adapun tes yang paling pokok untuk fungsi batang otak adalah tes untuk henti napas Dengan berkembangnya teknologi kedokteran saat ini. Berakhirnya pernapasan dan detak jantung dulu merupakan gejala yang menentukan matinya seseorang. bagaimanapun keadaan penderita tersebut. bila atau tidak ada refleks vestibule-koklear 4. Dikatakanpula bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan tidak memiliki hak untuk mati 2. tindakan ini bertentangan dengan kehendak Tuhan. tetapi kini tidak lagi menjadi dasar penentuan matinya seseorang.3. yaitu 1. sehingga tak seorang manusia atau institusi pun yang berhak mencabutnya. maka berakhirlah kehidupan secara intelektual dan psikis walaupun pernapasan dan detak jantung masih ada. maka hendaknya diperiksa lima refleks batang otak. tidak ada refleks batang otak 5. para ahli membedakan antara mati klinis dan mati vegetatif. tidak ada sikap abnormal (dekortikasi. Memastikan arefleksi batang otak dan henti napas yang menetap Adapun tanda-tanda menghilangnya fungsi batang otak ialah 1. Alasan yang dikemukakan oleh masing -masing kelompok adalah 1. bila atau tidak ada respon terhadap cahaya 2. Mati otak dalam proses kematian menjadi tanda bahwa orang tersebut telah meninggal dunia BEBERAPA PANDANGAN TENTANG EUTHANASIA Masalah euthanasia menimbulkan pro dan kontra. Yang menyetujui euthanasia Kelompok ini menyatakan bahwa tindakan euthanasia dilakukan dengan persetujuan. Oleh karenanya. Salah satu prinsip yang menjadi pedoman kelompok ini adalah pendapat bahwa manusia tidak boleh dipaksa untuk menderita. koma 2. bila atau tidak ada refleks kornea 3. tujuan utamanya adalah meringankanDi dalam Voluntary Euthanasia Act (1969). Jadi. tidak ada sentakan epileptic 4.

namun jika otak tidak lagi berfungsi maka kehidupan secara intelektual dan psikis/kejiwaan telah berakhir. Prof. Dewan Kesehatan Belanda pada tahun 1974 pernah mengusulkan criteria mati otak. Fungsi berpikir atau merasakan pada manusia dapat berlangsung jika otak masih berfungsi. karena sebenarnya pasien telah meninggal dunia dengan tidak berfungsinya otak. Langsung tetapi tidak sukarela Dilakukan tanpa sepengetahuan pasien. mungkin istilah yang tepat adalah Euthanasia-semu. Tindakan ini dianggap sebagai bunuh diri 2. sekarang dimungkinkan jantung dan paru -paru tetap berfungsi. Belgia tahun 1979. walaupun fungsi otak telah berhenti. No assistance in the process of death with the intention to shorten life Kategori ini dapat digolongkan sebagai euthanasia pasif d. Sukarela tapi tidak langsung Pasien diberitahu bahwa harapan untuk hidup kecil sekali sehingga pasien ini berusaha agar ada orang lain yang dapat mengakhiri penderitaan dan hidupnya 3. Mati otak menjadi tanda bahwa seseorang telah meninggal dunia dalam proses kematian. Dalam Bahasa-Indonesia. akhirnya menyimpulkan adanya beberapa bentuk pengakhiran kehidupan yang sangat mirip dengan euthanasia. Oleh Professor Leenen kasu s-kasus demikian ini disebut sebagai Pseudo-Euthanasia dan secara hukum tidak dapat diterapkan sebagai euthanasia. Walaupun pernapasan dan detak jantung masih ada. Perasaan kasihan terhadap mereka yang menderita sakit berat dan secara medis tidak mempunyai harapan untuk pulih 2.ZP Separavic mengemukakan beberapa kategori berkaitan dengan euthanasia.1. Perasaan hormat atau agung terhadap manusia yang ada hubungan dengan suatu pilihan yang bebas sebagai hak asasi Menurut Fletcher tindakan euthanasia dapat dilakukan melalui beberapa cara seperti 1. tetapi sebenarnya ternyata bukan euthanasia. Assistance in the process of death with the intention to shorten life Kategori ini digolongkan sebagai euthanasia aktif Kajian dan telaah dari sudut medis. walaupun (mungkin) pernapasan dan detak jantungnya masih . y akni a. Bentukbentuk Pseudo-Euthanasia sebagaimana diuraikan oleh Leenan ialah 1) Pengakhiran perawatan medis karena gejala mati otak atau batang otak (brainstem death) Dengan teknologi kedokteran. Assistance in the process of death without the intention to shorten life Dalam kategori ini terdapat unsure kelalaian (Schuldelement) c. etika-moral maupun hukum oleh masing-masing pakarnya. Tidak langsung dan tidak sukarela Merupakan tindakan euthanasia pasif yang dianggap paling mendekati moral Dalam Kongres Sedunia tentang Hukum Kedokteran di Gent. yaitu otak mutlak tidak lagi berfungsi dan fungsi otak mutlak tidak lagi dapat dipulihkan Dalam keadaan seperti itu tidak ada tindak euthanasia. No assistance in the process of death without the intention to shorten life Contoh : kematian alamiah b. misalnya dengan memberikan dosis letal pada anak yang lahir cacat 4. Langsung dan sukarela Memberi jalan kematian dengan cara yang dipilih pasien.

Namun harus diingat bahwa dokter tidak berhak melepaskan respirator dari kedua pasien pertama tanpa izin. Penghentian tindakan terapeutik harus diputuskan oleh dokter yang . Kategori yang mirip dengan ini adalah euthanasia aktif tidak langsung. namun dengan efek samping/risiko hidupnya dipersingkat 3) Berakhirnya kehidupan akibat keadaan darurat karena kuasa tidak terlawan (force majeure) Keadaan ini sebenarnya telah diatur dalam pasal 48 KUHP. Ini berarti bahwa menurut etik kedokteran. melainkan untuk menghindari dokter bertindak di luar kompetensinya EUTHANASIA VERSUS ETIK DAN HUKUM KEDOKTERAN DI INDONESIA Peraturan pemerintah tahun 1969 tentang Lafal Sumpah Dokter Indonesia yang bunyinya sama dengan Deklarasi Jenewa 1948 dan Deklarasi Sydney 1968 menyebutkan bahwa Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan . maka pasien tersebut secara keseluruhan telah mati walaupun jantungnya masih berdenyut. apabila pasien sudah dipastikan mengalami kematian batang otak atau kehilangan fungsi otaknya sama sekali. menggugurkan kandungan (abortus provokatus) 2. dokter tidak diperbolehkan 1. dapat dikategorikan sebagai penganiayaan sebagaimana diatur dalam pasal 351 KUHP. Dalam pasal 9. Jika kemudian datang pasien ketiga yang juga memerlukan respirator. melainkan mengurangi atau menghilangkan penderitaannya. Tujuan utama langkah ini ialah sama sekali bukanlah memperpendek hidup pasien.ada (karena fungsi otonomnya) 2) Pasien menolak perawatan atau bantuan medik terhadap dirinya (sering disebut a uto-euthanasia) Secara umum dapat dikatakan bahwa dokter tidak berhak melakukan tindakan apapun terhadap pasien jika tidak diizinkan atau dikehendaki oleh pasien tersebut. Bab II Kode Etik Kedokteran Indonesia tentang kewajiban dokter kepada pasien. Penghentian perawatan seperti ini tidak dimaksudkan untuk mengakhiri/memperpendek hidup pasien. Seorang dokter tidak memulai atau meneruskan suatu perawatan/pengobatan. Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan . Misalnya di suatu RS hanya ada 2 buah alat bantu napas (respirator) yang telah terpakai oleh pasien yang membutuhkan. walaupun langkah ini akan mengakibatkan kematian pasien. tetap digolongkan sebagai Auto-Euthanasia. mengakhiri hidup seseorang yang sakit meskipun menurut pengetahuan dan pengalaman tidak akan sembuh lagi Akan tetapi. yakni memberikan obat penenang atau penghilang rasa sakit dengan dosis terapi setiapkali pasien kesakitan. Suatu tindakan yang dilakukan tanpa izin pasien. jika secara medik telah diketahui tidak dapat diharapkan suatu hasil apapun. yang hakikatnya adalah euthanasia pasif atas permintaan pasien. disebutkan bahwa seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Seandainya pasien ketiga meninggal karena tidak mendapat respirator. dokter harus memilih kepada siapa respirator harus dipasang. Beberapa ahli berpendapat bahwa jika pasien tidak memberi izin seperti ini. dokter tidak mungkin dipersalahkan karena ia berada dalam situasi darurat dan tidak melakukan sesuatu tindakan yang dapat dihukum 4) Penghentian perawatan/pengobatan/bantuan medik yang diketahui tidak ada gunanya lagi Kriteria medik harus selalu digunakan untuk menentukan apakah suatu langkah pengobatan atau perawatan berguna atau tidak.

membantunya dalam perbuatan itu. Pasal 345 KUHP Barangsiapa denagn sengaja menghasut orang lain untuk bunuh diri. Namun demikian ada pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) di mana euthanasia ini diatur secara tersirat. Hal ini sesuai dengan pendapat Professor Olga Lelacic yang menyatakan bahwa dalam kenyataan pasien yang meminta dokter untuk mengakhiri hidupnya. dihukum karena pembunuhan yang direncanakan (moord) dengan hukuman mati atau penjara selama-lamanya seumur hidup atau penjara semantara selama-lamanya 20 (dua puluh) tahun . si tersalah itu dihukum penjara paling lama sembilan tahun . karena ada tindakan menghilangkan nyawa orang lain Tindakan tersebut dapat diancam dengan pidana meskipun dilakukan atas permintaan sendiri yang dinyatakan dengan nyata dan sungguh-sungguh Pasal 338 KUHP Barangsiapa dengan sengaja menghilangkan nyawa orang lain. dihukum penjara paling lama dua belas tahun . atau memberikan daya upaya itu jadi bunuh diri. dihukum penjara paling lama dua tahun delapan bul n atau a denda paling banyak empat ratus ribu rupiah .berpengalaman kasus-kasus secara keseluruhan dan sebaiknya hal itu dilakukan setelah diadakan konsultasi dengan dokter yang berpengalaman. dengan penjara selama-lamanya 15 (lima belas) tahun . selain harus pula dipertimbangkan keinginan pasien. dihukum penjara selama-lamanya 4 (empat) tahun . keluarga pasien. dihukum karena maker mati. Pasal 340 KUHP Barangsiapa dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu menghilangkan nyawa orang lain. dasar etik moral untuk melakukan euthanasia adalah memperpendek atau mengakhiri penderitaan pasien dan bukan mengakhiri hidup pasien. Catatan Pasal 344 KUHP ini isinya mirip dengan tindakan euthanasia aktif. yaitu Pasal 304 KUHP Barangsiapa dengan sengaja menyebabkan atau membiarkan orang dalam kesengsaraan. tetapi ingin mengakhiri atau ingin lepas dari penderitaan karena penyakitnya. Sampai saat ini belum ada aturan hukum di Indonesia yang mengatur tentang euthanasia. sebenarnya tidak ingin mati. dan kualitas hidup terbaik yang diharapkan Dengan demikian. Pasal 344 KUHP Barangsiapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang disebutkan olehnya dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh. Pasal 359 KUHP Barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang lain. seperti yang diatur dalam Pasal 306 KUHP ayat (2) Pasal 306 KUHP Kalau salah satu perbuatan yang diterangkan dalam Pasal 304 mengakibatkan orang mati. sedang ia wajib memberi kehidupan. perawatan atau pemeliharaan pada orang itu karena hukum yang berlaku atasnya atau karena menurut perjanjian. dihukum penjara selama -lamanya 5 . Catatan Isi pasal di atas mirip dengan tindakan euthanasia pasif di mana ancaman pidananya lebih tinggi apabila orang yang dibiarkan itu akhirnya meninggal dunia.

2001.23/1992 tentang Kesehatan euthanasia tidak disinggung. yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati diancam dengan pidana penjara 12 tahun . Pada Pasal 344 KUHP sering disebut-disebut sebagai pasal euthanasia . kalau ia menuruti permintaan pasien untuk mati (euthanasia aktif). Etik dan Hukum di Bidangf Kesehatan. Surabaya: Komite Etik Rumah Sakit RSUD Dr. 2008. euthanasia terdapat dalam beberapa pasal Kitab Undang -Undang Hukum Pidana (KUHP) dan tersirat dalam beberapa pasal Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata). Surabaya. dimana posisi serba salah bagi para dokter ? Kalau dokter tidak bertindak apapun kemudian pasien meninggal. Sebaliknya. Demikianlah sedikit pandangan dari aspek hukum yang sampai saat ini masih merupakan dilema. Surabaya: Komite Etik RSUD Dr Soetomo. dia wajib memberi kehidupan. Dharmawan Surya. Dengan demikian. dapat dikenai pasal 344 KUHP yang berbunyi: Barangsiapa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. . Crisdiono. apabila tindakan medis yang tidak berguna sama sekali tersebut dilaksanakan oleh seorang dokter terhadap pasiennya den tanpa izin dari pasien tersebut. tetapi dalam UU No. 1315.(lima) tahun atau kurungan selama-lamanya 1 (satu) tahun . Secara hukum. Adapun hubungan hukum dokter-pasien juga ditinjau dari sudut perdata. Airlangga University Press. secara gan hukum dapat diterapkan pasal 351 KUHP (penganiayaan).Daeng. penderitaan pasien dengan risiko hidupnya diperbaiki. Unit Bioetik & Humaniora Kesehatan FK Unair. padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan. Soetomo.2006. 338. Pasal 1320 KUHPer data menyebutkan bahwa untuk mengadakan suatu perjanjian dituntut izin berdasarkan kemauan bebas dari kedua belah pihak. Etik Dan Hukum Di Bidang Kesehatan. antara lain 304. Pasal-pasal 1313. 345 dan 359. karena di Indonesia hak untuk mati masih belum ada. 340. 2001. diancam denagn pidana penjara dua tahun delapan bulan . Dinamika Etika dan Hukum Kedokteran Dalam Tantangan Zaman. Jakarta: EGC.B. Lalu. ia dapat dikenakan pasal 304 KUHP yang berbunyi: Barangsiapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seseorang dalam keadaan sengsara. DAFTAR PUSTAKA Achadiat M. perawatan atau pemeliharaan kepada orang itu. Ada beberapa pasal KUHP yang berkaitan dengan euthanasia.Kajian Biotik 2005. 1314. dan 1319 KUHPerdata mengatur hal perjanjian tersebut. Handoko.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful