KINERJA LINK DENGAN SAMBUNGAN BAUT PADA STRUKTUR RANGKA BERPENGAKU EKSENTRIK

Muslinang Moestopo Aulia Mirza 1. PENDAHULUAN Perencanaan struktur bangunan mensyaratkan kekuatan, kekakuan dan stabilitas struktur dan komponenkomponennya. Struktur bangunan tahan gempa mensyaratkan pula daktilitas dan kemampuan menyerap dan memencarkan energi gempa yang ditunjukkan oleh kurva histeretik yang ‘gemuk’ dan stabil. Untuk struktur rangka baja, selama ini dikenal tiga jenis konfigurasi yang umum digunakan, yaitu struktur rangka pemikul momen (SRPM), struktur rangka berpengaku konsentrik (SRBK) dan struktur rangka berpengaku eksentrik (SRBE). Masing-masing konfigurasi memiliki kelebihan masing-masing dalam fungsinya sebagai struktur tahan gempa. Dalam fase elastik ,dimana struktur belum mengalami kelelehan pada seluruh komponennnya saat memikul kombinasi beban, termasuk beban gempa rencana, SRBK sangat ideal ,karena memiliki kekuatan dan kekakuan elastik yang sangat tinggi diantara ketiga jenis rangka baja. Sementara itu, dalam hal perilaku inelastik, dimana salah satu atau lebih komponen struktur telah mengalami kelelehan, SRPM lebih unggul, dengan daktilitas dan penyerapan energi yang paling tinggi.
SRBK SRBE SRPM

Gambar 1 Kurva Beban-Perpindahan Sistem Rangka Baja

Kelebihan masing-masing rangka SRBK dan SRPM diakomodasi dengan munculnya SRBE. Sistem portal ini diperkenalkan tahun 70-an yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Popov 3,4). SRBE memiliki daktilitas yang lebih tinggi dibanding SRBK. Hal ini disebabkan adanya elemen link yang berfungsi sebagai penyerap energi ketika struktur menerima beban lateral (gempa). Penyerapan energi ini diwujudkan dalam bentuk plastifikasi pada elemen link tersebut. Sementara itu,dengan adanya bresing, kekuatan dan kekakuan elastik dari SRBE lebih tinggi dibanding SRPM. Tujuan perencanaan, yang membatasi kelelehan hanya pada link saja, diterapkan melalui konsep Perencanaan Berbasis Kapasitas atau Capacity-Based Design. Dengan pendekatan ini, ukuran link disesuaikan untuk memikul beban lateral gempa yang ditentukan menurut aturan perencanaan 1). Sementara itu, komponen struktur lainnya dari rangka yang ditinjau, direncanakan berdasarkan gaya dalam yang diakibatkan link, yang telah leleh dan mengalami strain-hardening. Dengan perkataan lain, komponen struktur lainnya direncanakan sesuai kapasitas dari link. Dengan membuat link menjadi kompoen terlemah dalam sebuah SRBE, perencana dapat “memaksa” kelelehan daktail terjadi di elemen link, sementara menghindari mekanisme kegagalan getas pada komponen struktur lainnya. Kelelehan yang terjadi pada link idapat berupa kelelehan geser atau lentur yang cukup besar. Karena elemen ini diijinkan mengalami deformasi yang cukup besar, maka sistem bresing direncanakan untuk tidak mengalami kelelehan baik tarik maupun tekuk. Hal ini dimaksudkan agar kestabilan elemen link terjaga dengan baik. Ciri khas sistem ini adalah sistem pengaku yang diletakkan diagonal, akan tetapi salah satu atau kedua ujung batang pengaku terletak pada jarak tertentu dari pertemuan balok dan kolom.
Seminar HAKI 2006,Jakarta Agustus 2006 1

baik pada plat ujung maupun pada baut. Seminar HAKI 2006. Hal ini akan lebih cepat dibanding dan mudah dibandingkan melakukan hal yang sama pada link konvensional. kekakuan. LINK DENGAN SAMBUNGAN BAUT Setelah perilaku link terbukti cukup efektif dalam meningkatkan kinerja struktur tahan gempa. dan disipasi energi yang diperlihatkan oleh link dengan sambungan baut. Secara khusus disampaikan hasil pengujian laboratorium yang dilakukan terhadap spesimen link. maka upaya berikutnya yang perlu dilakukan adalah meningkatkan efisiensi dan nilai ekonomis dari struktur bangunan. Dalam gambar terlihat bahwa kerusakan link terlihat signifikan. Oleh karena itu. seperti terlihat pada Gambar 3. Kedua gaya tersebut yang akan mengakibatkan terjadinya plastifikasi pada elemen link. Perilaku link sebagai penyerap energi gempa diperlihatkan dengan jelas dalam kajian sebelumnya yang dilakukan penulis 5). Gambar 3 Kerusakan Link pada SRBE Makalah ini memaparkan sebagian dari hasil penelitian lanjut yang dilakukan oleh penulis. dimana link menggunakan las sebagai sambungan di kedua ujungnya. maka sambungan baut pada ujung-ujung link tidak boleh mengalami kerusakan. 2. termasuk akibat tegangan leleh sebenarnya (hasil uji tarik kupon) yang mungkin lebih besar dari tegangan leleh nominal dan strain-hardening. pengaku.e M V V M Gambar 2 Gaya-gaya pada elemen link Link adalah elemen yang berperilaku sebagai balok pendek yang pada kedua sisinya bekerja gaya geser dengan arah yang berlawanan serta momen yang diakibatkan oleh gaya geser tersebut. untuk memungkinkan penggantian link setelah gempa besar terjadi.. sementara komponen lainnya pada struktur rangka baja berpengaku eksentrik. momen yang bekerja pada ujung-ujung elemen link mempunyai besar dan arah yang sama (Gambar 2). yang meliputi kekuatan. yang mengkaji perilaku link dengan sambungan baut pada struktur rangka baja berpengaku eksentrik. yaitu kolom.Jakarta Agustus 2006 2 . Mengingat kerusakan pada struktur direncanakan hanya terjadi pada link. perencanaan sambungan baut harus mengakomodasi kuat ultimat link. tidak mengalami kerusakan. Karena gaya geser yang bekerja berlawanan arah dan dengan asumsi tidak ada beban gravitasi. maka usaha perbaikan struktur pasca gempa pun terfokus pada penggantian link yang telah ”rusak” atau leleh. Sambungan baut pada kedua ujung link (Gambar 4 (b)) merupakan cara efektif dalam menekan biaya dan waktu perbaikan struktur pasca gempa. terutama yang berada dalam daerah rawan gempa. link dapat dilepas dan dipasang dengan melepas dan memasang baut pada ujung-ujung link. Dengan adanya sambungan baut. Untuk menjamin kemudahan dalam penggantian link. dan balok.

untuk baut tanpa ulir pada bidang geser 3. spesimen akan dipasang pada tumpuan dan akan dibebani pada salah satu ujungnya dengan menggunakan aktuator. Perencanaan sambungan baut berdasarkan Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung (SNI 03-1729-2002). Untuk baut mutu tinggi (A-325) : f1 = 807 MPa f2 = 621 MPa r1 = 0. dengan mengikuti ketentuan perencanaan berdasarkan SNI 7) dan AISC1)..(*) …. Kedua ujung link akan disambung dengan menggunakan sambungan baut-plat ujung tipe flush. Spesimen merupakan link yang direncanakan pada bangunan sederhana dua lantai.9 . Gaya-gaya ujung link ini berupa gaya geser dan momen pada kondisi ultimat. untuk baut dengan ulir pada bidang geser r1 = 0.(a) (b) Gambar 4 (a) Konfigurasi Struktur Rangka Berpengaku Eksentrik (b) Link Baut-baut yang digunakan harus mampu memikul kombinasi gaya tarik dan geser yang timbul akibat gayagaya yang bekerja pada ujung-ujung link.Vu. Jumlah dan karakteristik tiap spesimen ditunjukkan pada Tabel 1. untuk baut yang memikul gaya geser terfaktor .75 ) = kuat tarik ultimat/putus baut (MPa) = luas penampang baut (mm2) = jumlah baut = jumlah bidang geser baut = tegangan tarik yang diperbolehkan selama bekerjanya geser.4 dan r2 = 1. Untuk memberikan gaya-gaya yang bekerja pada link. kajian dilakukan tehadap spesimen link seperti terlihat pada Gambar 5. PROGRAM EKSPERIMENTAL a.. dan gaya tarik terfaktor .5 dan r2 = 1. Seminar HAKI 2006.(*) ….5 .. untuk menjamin agar keruntuhan tidak terjadi pada las. Penyambungan antara link yang berupa profil IWF 200x100 dengan plat ujung dilakukan dengan menggunakan las penetrasi penuh. Spesimen Sebagai langkah awal dari rangkaian penelitian mengenai perilaku link dengan sambungan baut.Tu. yaitu pada saat terjadi strain-hardening.Jakarta Agustus 2006 3 . secara bersamaan harus memenuhi persyaratan: fuv = Vu n Ab φf Ab ft f1 – r2 fuv φ fub Ab n m ft > < r1 φv fub m ….(*) φf Tn = ft < Tu n f2 < dimana: = faktor reduksi kekuatan untuk fraktur ( =0. Hal yang sama juga dilakukan untuk menyambung plat pengaku dengan spesimen. Perencanaan sambungan menghasilkan sambungan dengan 6 buah baut A-325 berdiameter 20mm seperti terlihat pada Gambar 5.

Pemodelan dalam setup spesimen disesuaikan dengan peralatan yang tersedia di Laboratorium Kelompok Riset Struktur Bangunan.(a) (b) Gambar 5 Spesimen a) spesimen keseluruhan. Hasil uji tarik kupon dapat dilihat pada tabel 2. Instrumentasi dan Setup Setup dilakukan untuk memodelkan gaya-gaya yang bekerja pada link seperti laiknya pada struktur yang sebenarnya.Pengujian dilakukan dengan Universal Testing Machine (UTM) merk Dartec dengan kapasitas pembebanan 1500 kN. δ (a) (b) (c) Gambar 6 (a) Set-up pengujian (b) Spesimen terpasang (c) Set-up di laboratorium Seminar HAKI 2006. Tabel 2 Spesifikasi Bahan Sumber Profil 200x100 Plat (20mm) Bagian Sayap Badan Plat Ujung fy (MPa) 368 440 340 fu (MPa) 525 560 465 E (MPa) 213811 203578 204069 εy ( strain) 1876 1865 1801 b.Jakarta Agustus 2006 4 . Pusat Penelitian Antar Universitas. ITB). b) sambungan tipe flush Tabel 1 Data Spesimen Baut Spesimen M20 M22 Profil IWF 200x100 Diameter (mm) 20 22 Jumlah 12 12 Tebal plat (mm) 20 20 Spesifikasi bahan didapat dari uji tarik kupon dari IWF 200x100 dan plat ujung. Pusat Rekayasa Industri – ITB (dahulu Laboratorium Mekanika Struktur. Set up pengujian terlihat pada Gambar 6.

(3) Tersedianya hasil pengujian siklik dengan pola pembebanan sesuai Appendix S.Pengujian dilakukan pada Loading Frame dengan kapasitas aktuator sebesar 1000 kN dan stroke maksimum sebesar 200 mm. maka pembebanan pada dilakukan dengan mengikuti pola dan besar perpindahan seperti terlihat pada Gambar 7. ANALISIS HASIL a . AISC 0.084 254. Uji kualifikasi sambungan link ini harus dilakukan dengan mengendalikan sudut rotasi total. Data pengujian berupa data beban dan perpindahan. sambungan M22 memiliki kapasitas dalam memikul beban yang lebih besar dibanding M20. yang dialami oleh link sesuai dengan besaran sudut yang ditentukan dalam persyaratan tersebut. maka kapasitas stroke dibagi menjadi masing-masing 100mm untuk tarik dan tekan. AISC1) Perbandingan antara hasil pengujian kedua spesimen dengan persyaratan yang ditetapkan oleh AISC dirangkum pada Tabel 3.108 296. Hal ini disebabkan . γtotal . (2) Kekuatan sambungan minimal sama dengan kuat geser nominal link.7 2) Tabel 3 Perbandingan persyaratan AISC dengan hasil pengujian keterangan : 1) Vn = Kuat Geser Nominal = 0.8 1) Eksperimental Besaran θmax (rad) Vn (kN) M20 0. Seminar HAKI 2006. Vn. 60 40 20 δ (mm) 0 -20 -40 -60 Gambar 7 Pola Pembebanan Siklik Dengan Kontrol Perpindahan (δ) 4. menetapkan beberapa persyaratan mengenai sambungan link sebagai berikut : (1) Sambungan harus mampu melampaui sudut rotasi link maksimum berdasarkan panjang maksimum link. yang memperlihatkan bahwa hasil pengujian dari kedua spesimen telah memenuhi persyaratan.6 fy Aw 2) Kuat Geser Ultimat Spesimen Gambar 8 memperlihatkan hubungan beban-perpindahan monotonik hasil pengujian.pada kondisi leleh pertama.Jakarta Agustus 2006 5 . c.08 151. Dengan menggunakan hubungan : γtotal = δ / e. Dari gambar tersebut dapat dilihat M22 memiliki kapasitas untuk memikul beban yang lebih tinggi dibanding M20. Kinerja Sambungan AISC 1) . Pembebanan Pembebanan quasi-statik siklik dilakukan dengan kontrol perpindahan (displacement control) dengan menggunakan pola pembebanan yang disyaratkan oleh AISC1) . direkam dengan menggunakan Data Logger TDS-302.2 2) M22 0. Karena pembebanan yang dilakukan adalah siklik.

Walaupun memenuhi persyaratan untuk digunakan pada sambungan. Hal ini menghasilkan kekakuan sambungan M22 yang lebih tinggi dibandingkan sambungan M20.00 300 200 100 200.00 -50 -40 -30 -20 -10 -100. sedangkan M20 runtuh setelah siklus ke 2 untuk perpindahan 42mm. baik pada saat link masih elastik maupun ketika link telah mencapai leleh. yang disebabkan oleh perpanjangan pada baut-baut pada baris atas dan bawah akibat momen yang bekerja pada ujung-ujung link. menunjukkan bahwa M22 menyerap 60915 kNmm atau setara dengan 150% penyerapan energi kumulatif dari M20. (M22) Poly.00 B eb an (kN ) B e b a n (k N ) 0 -60 -40 -20 -100 -200 -300 -400 Perpindahan (mm) 0 20 40 60 0.00 0 10 20 30 40 50 -200. Perbandingan energi kumulatif pada akhir siklus ke 2 untuk 42mm. M22 menyerap 205% lebih tinggi dibanding M20.00 Peprindahan (mm) (a) Gambar 9 Kurva Histeresis (a) M20 (b) M22 (b) Hasil pengujian siklik menunjukkan M22 memiliki kurva histeresis yang lebih “gemuk” dibandingkan M20 (Gambar 9). yang merupakan fungsi luas penampang baut itu sendiri .00 100. namun kekakuan tarik baut M20 lebih kecil dibanding M22.350 300 250 Beban (kN) 200 150 100 M22 M20 Vn 50 0 0 10 20 30 Perpindahan (m m ) 40 50 60 Gambar 8 Deformasi Plat Ujung Spesimen Ukuran penampang baut yang lebih besar memberikan nilai kekakuan tarik yang lebih tinggi pada baut. Sebagian besar energi ini diserap ketika M22 mampu menempuh perpindahan 1 siklus penuh sejauh 54mm sebelum terjadi keruntuhan. Pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa terjadi pinching pada kurva M20. Seminar HAKI 2006. 300.00 -300.Jakarta Agustus 2006 6 . (M20) Energi (kN mm) 60000 50000 40000 30000 20000 10000 0 0 10 20 30 40 50 60 Perpindahan (mm) Gambar 10 Penyerapan Energi Kumulatif Kurva histeresis yang “gemuk” dan tidak adanya pinching menyebabkan penyerapan energi pada M22 lebih tinggi dibanding M20. 90000 80000 70000 M20 M22 Poly. Ditinjau dari jumlah penyerapan energi kumulatif (Gambar 10). Perpanjangan baut ini dipengaruhi oleh kekakuan tarik baut.

Pada kondisi ini. Sementara itu.fub. maka pada pelat terjadi kelelehan berupa sendi plastis sejarak d dari titik pusat sayap. Pada perencanaan-nya. gaya tarik P pada pelat sayap tidak dapat serta merta meningkat. yang dikenal dengan slip.Jakarta Agustus 2006 7 . Kondisi ini menyebabkan besarnya lengan momen yang bekerja pada penampang pelat ujung bertambah menjadi d’ dan letak sendi plastis di pelat bergeser menjauhi pelat sayap. Pengencangan baut yang optimal. tidak terjadi.(B) sebelum adanya perpanjangan baut. Sendi plastis ini terletak antara pelat sayap dengan baut. yaitu dengan gaya 70% dari kuat tarik nominal minimum baut . daerah ujung (atas dan bawah) pelat berfungsi untuk memikul momen akibat gaya tarik yang disalurkan oleh pelat sayap spesimen (P) pada Gambar 11. Hal ini menjelaskan gejala pinching pada kurva spesimen M20. dengan jarak kurang dari 40mm. Kekakuan awal sambungan baut sangat dipengaruhi oleh kondisi pengencangan baut. spesimen M20 mengalami perpanjangan baut yang lebih besar. (C) Setelah perpanjangan baut Pembebanan yang lebih besar menyebabkan baut mengalami perpanjangan tarik yang berlebih akibat momen (Gambar 11 (C)).b . yaitu memiliki deformasi permanen. baut masih dalam kondisi elastik. Gambar 12 Deformasi Pelat Ujung Spesimen Seminar HAKI 2006. kurang lebih sejarak 40mm + ½ diameter luar mur. Pelat ujung merupakan bagian dari sistem sambungan baut yang sejak awal direncanakan tidak mengalami kelelehan. yaitu jarak antara sisi luar pelat sayap dengan tepi lubang baut terluar. Gambar 11 Mekanisme Deformasi Plat Ujung :(A) sebelum pembebanan . maka M22 memiliki kekakuan aksial tarik yang lebih tinggi juga. Perilaku Baut Perilaku baut merupakan fokus dalam kajian ini. Namun pengamatan pasca-pengujian menunjukkan bahwa pelat telah leleh (Gambar 12). Hal inilah yang menyebabkan kekakuan awal M22 lebih tinggi dan tidak terjadi slip sewaktu masih berada dalam kondisi elastik. Dengan peningkatan luas penampang baut. Apabila beban P terus bertambah akibat meningkatnya gaya lateral pada struktur. kurang lebih 21%. akan menjamin kekakuan friksi yang tinggi antara kedua plat yaitu pelat-ujung dan dudukan. Ukuran baut yang digunakan pada spesimen M22 memiliki luas penampang 21% lebih besar dibandingkan dengan pada spesimen M20. Dengan demikian. dan berakibat pada harga momen link yang lebih cepat turun daripada pada spesimen M22. sehingga perpindahan akibat pergeseran antar pelat. yang mengakibakan sendi plastis pada pelat bergeser menjauhi pelat sayap. Sendi plastis ini terjadi akibat kapasitas momen pada penampang pelat telah terlampaui oleh momen pelat sebesar harga beban P dikalikan dengan lengan momen d. mengingat harga P d’ dibatasi oleh kapasitas momen pelat.

Moestopo. Report No. AUN-Seed Net Report INA-106. Moestopo. Daftar Pustaka 1.Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung. maupun disipasi energi. Chicago. Bandung. kekuatan. yang selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis struktur rangka baja tahan gempa.”General Behaviour of WF Steel Shear Link Beams”. and Dubina. Bruneau M. 5. 2005. Journal of the Structural Division.Jakarta Agustus 2006 8 . dengan cara mencegah bergesernya letak sendi plastis pada pelat sambung menjauhi pelat sayap link. “Bolted Links For Eccentrically Braced Steel Frames ”. “Kinerja Disposable Link Pada Struktur Rangka Berpengaku Eksentrik Dibawah Beban Siklik” . Seismic Provisions for Structural Steel Buildings. On Improved Performance of Eccentrically Braced Frames.D.. 6.M and Khairulah. December. Paramater diameter baut sangat berpengaruh pada kinerja link struktur baja berpengaku eksentrik. Vol. On Improved Performance of Steel Braced Frames.112. University of California.2002 Seminar HAKI 2006. SNI 03-1726-2002. Bandung.Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung. A. Kekakuan tarik dari baut berdiameter lebih besar akan dapat mempertahankan besarnya momen pada link. 3. . KESIMPULAN Beberapa hal penting dapat disampaikan sebagai hasil kajian yang disampaikan dalam makalah ini: a. A. 8. 7.M. Program Studi Teknik Sipil ITB . D. Kajian mengenai kinerja link dengan sambungan baut pada struktur rangka baja berpengaku eksentrik yang telah dilakukan menunjukkan hasil yang mendukung penggunaan link yang dapat diganti.5.ASCE. E. Uang C.P. 1986. The Polytechnica of Timisoara. c. SNI 03-1729-2002. American Institute of Steel Construction. and Popov. M. 2003.P. b. d. E. 10. 9th East Asia-Pacific Conference on Structural Engineering and Construction.Tesis Magister. McGraw-Hill. 2003. 9. “Behaviour of Long Links in Eccentrically Braced Frames”. Ductile Design of Steel Structures. Penggunaan baut dengan diameter lebih besar dari yang direncanakan. No 2: 362-382. dan disipasi energi yang signifikan. 2. and Popov. 2006. kekakuan. 4. 1998. UCB/EERC-89/01.2002. baik dalam hal kekuatan.. Bali. 1989. Kasai K. memberikan tambahan kekakuan. Engelhardt. Romania. February.M. Whittaker A. Mirza. Berkeley: Earthquake Engineering Research Centre. Stratan.2002.

* * *) Pengajar Program Studi Teknik Sipil. dan mencegah bergesernya letak sendi plastis pada pelat sambungan menjauhi pelat sayap.Jakarta Agustus 2006 9 . yang menunjukkan kekuatan. masing-masing dengan baut A-325 berdiameter 20 dan 22 mm. kekakuan. yang diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomis struktur rangka baja tahan gempa. dibandingkan dengan spesimen dengan baut berdiameter lebih kecil. Pusat Rekayasa Industri. Institut Teknologi Bandung **) Lulusan Program Magister Rekayasa Struktur. Institut Teknologi Bandung Peneliti Kelompok Riset Struktur Bangunan. Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan. dan disipasi energi yang lebih baik. dan sesuai dengan ketentuan dalam Seismic Provisions for Steel Structural Buildings (AISC. 2005). Link direncanakan menggunakan sambungan baut. pembebanan siklik pada link akan menghasilkan kurva histeresis yang ’gemuk’ dan stabil.KINERJA LINK DENGAN SAMBUNGAN BAUT PADA STRUKTUR RANGKA BERPENGAKU EKSENTRIK Muslinang Moestopo*) Aulia Mirza**) Abstrak Kajian mengenai kinerja link dengan sambungan baut dipaparkan dalam makalah ini sebagai bagian dari penelitian mengenai penggunaan link yang dapat diganti pada struktur baja berpengaku eksentrik. Dua buah spesimen link dari sebuah bangunan struktur baja dua lantai direncanakan sesuai dengan ketentuan SNI 03-1729-02 dan Seismic Provisions for Steel Structural Buildings (AISC. Pengujian laboratorium dilakukan dengan pembebanan siklik menggunakan kontrol perpindahan. Kekakuan baut dengan luas penampang lebih besar menambah kekakuan tarik baut. Dengan demikian. 2005). Penggunaan baut dengan diameter yang lebih besar memungkinkan pelat sayap link tetap dapat memikul gaya tarik akibat momen dengan lebih stabil. Institut Teknologi Bandung Seminar HAKI 2006. Program Studi Teknik Sipil. Hasil kajian menunjukkan kedua spesimen memenuhi ketentuan yang disyaratkan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful