ASUHAN KEPERAWATAN DERMATITIS

Dermatitis kontak adalah respon peradangan kulit akut atau kronik terhadap paparan bahan iritan eksternal yang mengenai kulit. Dikenal dua macam jenis dermatitis kontak yaitu dermatitis kontak iritan yang timbul melalui mekanisme non imunologik dan dermatitis kontak alergik yang diakibatkan mekanisme imunologik dan dermatitis kontak alergik yang diakibatkan meka nisme imunologik yang spesifik Dermatitis kontak iritan adalah efek sitotosik lokal langsung dari bahan iritan pada sel-sel epidermis, dengan respon peradangan pada dermis. Daerah yang paling sering terkena adalah tangan dan pada individu atopi menderita lebih berat. Secara definisi bahan iritan kulit adalah bahan yang menyebabkan kerusakan secara langsung pada kulit tanpa diketahui oleh sensitisasi. Mekanisme dari dermatis kontak iritan hanya sedikit diketahui, tapi sudah jelas terjadi kerusakan pada membran lipid keratisonit. Menurut Gell dan Coombs dermatitis kontak alergik adalah reaksi hipersensitifitas tipe lambat (tipe IV) yang diperantarai sel, akibat antigen spesifik yang menembus lapisan epidermis kulit. Antigen bersama dengan mediator protein akan menuju ke dermis, dimana sel limfosit T menjadi tersensitisasi. Pada pemaparan selanjutnya

Dermatitis Kontak Iritan Penyebab munculnya dermatitis kontak iritan ialah bahan yang bersifat iritan, misalnya bahan pelarut, detergen, minyak pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu. Kelainan kulit yang terjadi selain ditentukan oleh ukuran molekul, daya larut, konsentrasi, kohikulum, serta suhu bahan iritan tersebut, juga dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor yang dimaksud yaitu : lama kontak, kekerapan (terus-menerus atau berselang) adanya oklusi menyebabkan kulit lebih permeabel, demikian juga gesekan dan trauma fisis. Suhu dan kelembaban lingkungan juga ikut berperan. Faktor individu juga berpengaruh pada dermatitis kontak iritan, misalnya perbedaan ketebalan kulit di berbagai tempat menyebabkan perbedaan permeabilitas; usia (anak di bawah umur 8 tahun lebih mudah teriritasi); ras (kulit hitam lebih tahan dari pada kulit putih); jenis kelamin (insidens dermatitis Dermatitis Kontak Alergi Dermatitis kontak alergi disebabkan karena kulit terpapar oleh bahan-bahan tertentu, misalnya alergen, yang diperlukan untuk timbulnya suatu reaksi alergi. Hapten merupakan alergen yang tidak lengkap (antigen), contohnya formaldehid, ion nikel dll. Hampir seluruh hapten memiliki berat mo lekul rendah, kurang dari 500- 1000 Da. Dermatitis yang timbul dipengaruhi oleh potensi sensitisasi alergen, derajat pajanan dan luasnya penetrasi di kulit. Dupuis dan Benezra membagi jenis -jenis hapten berdasarkan fungsinya yaitu: 1.Asam, misalnya asam maleat. 2.Aldehida, misalnya formaldehida. 3.Amin, misalnya etilendiamin, para-etilendiamin. 4.Diazo, misalnya bismark-coklat, kongo- merah. 5.Ester, misalnya Benzokain 6.Eter, misalnya benzil eter 7.Epoksida, misalnya epoksi resin

Pada fase ini terjadi sensitisasi terhadap individu yang semula belum peka. 11.Cr2+. hidroquinon. mempunyai andil pada terjadinya kerusakan tersebut. dalam beberapa menit atau beberapa jam bahan-bahan iritan tersebut akan berdifusi melalui membran untuk merusak lisosom. tekanan. Protein ini terletak pada membran sel Langerhans dan berhubungan dengan produk gen HLA-DR (Human Leukocyte Antigen-DR). Bahan iritan merusak lapisan tanduk. misalnya primin. misalnya Ni2+. penyakit kulit yang pernah atau sedang dialami (ambang rangsang terhadap bahan iritan turun)dari antigen akan timbul reaksi alergi C. prostaglandin dan leukotrin. misalnya kelembaban udara.Fase Sensitisasi Fase sensitisasi disebut juga fase induksi atau fase aferen. CD4+berfungsi sebagai pengenal komplek HLADR dari sel Langerhans. 9. . 10.kontak iritan lebih tinggi pada wanita). Diacil gliserida akan merangsang ekspresi gen dan sintesis protein. Dermatitis Kontak Alergi Pada dermatitis kontak alergi. sedangkan molekul CD3 yang berkaitan dengan protein heterodimerik Ti (CD3-Ti). menjadi komplek hapten protein.Quinon. pikril klorida. PAF akan mengaktivasi platelets yang akan menyebabkan perubahan vaskuler. misalnya untuk ion nikel saja atau ion kromium saja. Terjadi bila hapten menempel pada kulit selama 18-24 jam kemudian hapten diproses dengan jalan pinositosis atau endositosis oleh sel LE (Langerhans Epidermal). Juga akan menarik neutrofil dan limfosit serta mengaktifkan sel mast yang akan membebaskan histamin. untuk mengadakan ikatan kovalen dengan protein karier yang berada di epidermis. merupakan pengenal antigen yang lebih spesifik.8. Kemudian sel LE menuju duktus Limfatikus dan ke parakorteks Limfonodus regional dan terjadilah proses penyajian antigen kepada molekul CD4+ (Cluster of Diferantiation 4+) dan molekul CD3. Faktor kontribusi. Hg2+. misalnya DNCB.Halogenasi. sedang iritan lemah hanya pada mereka yang paling rawan atau mengalami kontak berulang-ulang.Patofisiologi Pada dermatitis kontak iritan kelainan kulit timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Dengan rusaknya membran lipid keratinosit maka fosfolipase akan diaktifkan dan membebaskan asam arakidonik akan membebaskan prostaglandin dan leukotrin yang akan menyebabkan dilatasi pembuluh darah dan transudasi dari faktor sirkulasi dari komplemen dan system kinin.Komponen tak larut. Sehingga perbedaan mekanismenya dengan dermatis kontak alergik sangat tipis yaitu dermatitis kontak iritan tidak melalui fase sensitisasi. misalnya terpentin. Ada dua jenis bahan iritan yaitu : iritan kuat dan iritan lemah. Co2+. gesekan dan oklusi. Pada dermatitis kontak iritan terjadi kerusakan keratisonit dan keluarnya mediator.mediator. ada dua fase terjadinya respon imun tipe IV yang menyebabkan timbulnya lesi dermatitis ini yaitu : a. oleh bahan kontaktan yang disebut alergen kontak atau pemeka. mitokondria dan komponen-komponen inti sel. Pada sel penyaji antigen (antigen presenting cell). Iritan kuat akan menimbulkan kelainan kulit pada pajanan pertama pada hampir semua orang.Logam.

2.Kemungkinan oleh karena sejumlah besar antigen menghindari sel Langerhans epidermal. radiasi sinar ultra violet dan riwayat dermatitis atopik. kerusakan sel Langerhans dan sel keratinosit serta pelepasan Prostaglandin E-1dan 2 (PGE-1.Kedua reseptor antigen tersebut terdapat pada permukaan sel T. Namun keadaan desensitisasi penuh tidak dapat dicapai. Proses peredaan atau penyusutan peradangan terjadi melalui beberapa mekanisme yaitu proses skuamasi. Pada saat ini individu tersebut telah tersensitisasi yang berarti mempunyai resiko untuk mengalami dermatitis kontak alergikb. Selanjutnya sel Langerhans dirangsang untuk mengeluarkan IL-1 (interleukin-1) yang akan merangsang sel T untuk mengeluarkan IL-2. dan belum terdapat ruam pada kulit. Selain itu sel mast dan basofil juga ikut berperan dengan memperlambat puncak degranulasi setelah 48 jam paparan antigen. Apabila dosis tinggi dari antigen disapukan secara epikutan maka dapat timbul toleransi. Keadaan toleransi ini dapat dirusak oleh siklofosfamid yang secara selektif menghambat sel supresor.2 berfungsi menekan produksi IL-2R sel T serta mencegah kontak sel T dengan keratisonit. akan dapat menurunkan sensitivitas DNCB. bahkan dapat menjadi tidak responsive. degradasi antigen oleh enzim dan sel. Akibatnya timbul berbagai macam kelainan kulit seperti eritema. serta sekresi eikosanoid. Pada aplikasi pertama dari antigen akan menggerakkan dua mekanisme yang berlawanan yaitu sensitisasi (pembentukan T helper cell) dan toleransi imunitas spesifik (pembentukan T supresor cell). PGE-1.Toleransi Imunologis Struktur kimia. Hiposensitisasi dapat dicapai dengan pemberian awal bahan allergen berstruktur sejenis dalam dosis rendah yang kemudian ditingkatkan secara bertahap. Akibatnya ambang rangsang untuk reaksi positif terhadap uji tempel akan meningkat. IL-1 dan INF gamma akan merangsang keratinosit memproduksi ICAM-1 (intercellular adhesion molecule-1) yang langsung beraksi dengan limfosit T dan lekosit. Pada saat ini telah terjadi pengenalan antigen (antigen recognition). Kedua keadaan imunologik ini selanjutnya dapat dimodifikasi oleh faktor-faktor eksternal seperti pemberian glukokortikoid topikal atau sistemik.2) oleh sel makrofag akibat stimulasi INF gamma. dosis dan cara penyajian dari suatu antigen sangat menentukan potensi sensitivitasnya. Hal ini disebut proses hardening (pengerasan). Namun proses hardening tidak timbul pada setiap orang dan dapat hilang bila terjadi pemutusan hubungan dengan bahan kontak alergen. diduga histamin berefek merangsang molekul CD8 (+) yang bersifat sitotoksik. Hiposensitisasi merupakan keseimbangan antara sel efektor dan supresor. yang akan bersirkulasi ke seluruh tubuh meninggalkan limfonodi dan akan memasuki fase elisitasi bila kontak berikut dengan alergen yang sama. edema dan vesikula yang akan tampak sebagai dermatitis. Toleransi imunologis dapat dirangsang oleh penggunaan bahan kimia yang sejenis seperti propilgallat (antioksidan dalam makanan) dan 2-4-dinitro-1-klorobenzen terhadap dinitroklorobenzen (DNCB). Sel Langerhans akan mensekresi IL-1 yang akan merangsang sel T untuk mensekresi Il-2. Hal ini dapat diterapkan pada sulfonamid dan poison ivy. Bila ini gagal secara teoritik . Selanjutnya IL-2 akan merangsang INF (interferon) gamma.Fase elisitasi Fase elisitasi atau fase eferen terjadi apabila timbul pajanan kedua dari antigen yang sama dan sel yang telah tersensitisasi telah tersedia di dalam kompartemen dermis. Eikosanoid akan mengaktifkan sel mast dan makrofag untuk melepaskan histamin sehingga terjadi vasodilatasi dan permeabilitas yang meningkat. Kemudian IL-2 akan mengakibatkan proliferasi sel T sehingga terbentuk primed me mory T cells. Proses ini pada manusia berlangsung selama 14-21 hari.

Namun demikian penelitian terakhir mengenai gambaran histologi. Menurut Adam hal ini akan merangsang makrofag di limpa untuk membentuk sel T supresor dan menimbulkan toleransi imunitas spesifik. Keluhan subyektif berupa gatal 2. tampak sejumlah besar sel langerhans di epidermis. Pada dermatitis kronik akan terlihat akantosis. Limfosit mendekatinya dan sel Langerhans menunjukkan aktivitas metabolik. sedang pada yang berat selain eritema dan edema yang lebih hebat disertai pula vesikel atau bula yang bila pecah akan terjadi erosi dan eksudasi. Pada saat yang sama migrasinya ke kelenjar getah bening setempat meningkat.Fase Sub Akut Jika tidak diberi pengobatan dan kontak dengan alergen sudah tidak ada maka proses akut akan . imunositokimia dan mikroskop elektron dari tahap seluler awal pada pasien yang diinduksi alergen dan bahan iritan belum berhasil menunjukkan perbedaan dalam pola peradangannya. Dermatitis kontak iritan umunya mempunyai ruam kulit yang lebih bersifat monomorf dan berbatas lebih tegas dibandingkan dermatitis kontak alergik. hiperkeratosis. 1. Secara teoritik dapat timbul keadaan quenching yaitu terjadinya potensiasi dari respon alergi dan iritan sehingga kombinasi dari bahan-bahan kimia dapat menimbulkan efek pemedaman yaitu berkurangnya ekspresi atau induksi sensitivitas3.Fase akut. tidak tampak adanya vesikel dan pada dermis dijumpai infiltrasi perivaskuler. Pemeriksaan ultrastruktur menunjukkan 2-3 jam setelah paparan antigen. Kelainan bergantung pada keparahan dermatitis. D. parakeratosis. spongiosis ringan. Gambaran tersebut merupakan dermatitis secara umum dan sangat sukar untuk membedakan gambaran histopatologik antara dermatitis kontak alergik dan dermatitis kontak iritan. seperti dinitroklorbenzen (DNCB) topikal dan injeksi ferritin intrakutan. Dermatitis sub akut menyerupai bentuk akut dengan terdapatnya akantosis dan kadangkadang parakeratosis. terbentuknya vesikel atau bula. Dermatitis kontak umumnya mempunyai gambaran klinis dermatitis. Derajat kelainan kulit yang timbul bervariasi ada yang ringan ada pula yang berat.Gambaran Histopatologis Pemeriksaan ini tidak memberi gambaran khas untuk diagnostik karena gambaran histopatologiknya dapat juga terlihat pada dermatitis oleh sebab lain. Pada dermatitis akut perubahan pada dermatitis berupa edema interseluler (spongiosis). Pada yang ringan mungkin hanya berupa eritema dan edema.Manifestasi Klinik Penderita umumnya mengeluh gatal. Kelainan kulit umumnya muncul 24-48 jam pada tempat terjadinya kontak dengan bahan penyebab. Lesi cenderung menyebar dan batasnya kurang jelas. Berikutnya sel langerhans yang membawa antigen akan tampak didermis dan setelah 4-6 jam tampak rusak dan jumlahnya di epidermis berkurang. yaitu terdapat efloresensi kulit yang bersifat polimorf dan berbatas tegas. Saat itu antigen terlihat di membran sel dan di organella sel Langerhans. pertambahan kapiler dan fibrosis. dan pada dermis terdapat dilatasi vaskuler disertai edema dan infiltrasi perivaskuler sel-sel mononuclear.dapat dilakukan induksi secara intra vena sehingga timbul tolerans terhadap alergen yang diberikan.

biasanya karena kecelakaan. bentuk kronis ini sulit sembuh spontan oleh karena umumnya terjadi kontak dengan bahan lain yang tidak dikenal. bahkan bisa bertahun-tahun kemudian. antralin. tanah. atau bula. kerja bangunan. lambat laun kulit tebal (hiperkeratosis) dan likenifikasi. Dermatitis kontak iritan kronis mungkin terjadi oleh karena kerjasama berbagai faktor. sehingga dermatitis kontak iritan akut lambat. batas kelainan tidak tegas. terlihat pula bekas garukan berupa erosi atau ekskoriasi. Pada umumnya kelainan kulit muncul segera. bahkan juga air). tetapi ada segera. berminggu atau bulan. kerja di bengkel dan berkebun . Lesi cenderung simetris. kelembaban rendah. baru mendapat perhatian. misalnya pada kulit tumit tukang cuci yang mengalami kontak terus menerus dengan deterjen. Kelainan kulit baru terlihat setelah 12-24 jam atau lebih. misalnya gesekan. tetapi bila bergabung dengan faktor lain baru mampu. Setelah kelainan dirasakan mengganggu. vesikula. Walaupun bahan yang dicurigai telah dapat dihindari. pelarut. batasnya kabur. pada awalnya terlihat eritema dan sorenya sudah menjadi vesikel atau bahkan nekrosis. Bila kontak terus berlangsung akhirnya kulit dapat retak seperti luka iris (fisur). edema ringan. membersihkan lantai. Kelainan baru nyata setelah berhari-hari. Banyak pekerjaan yang beresiko tinggi yang memungkinkan terjadinya dermatitis kontak iritan kumulatif. Gejala klasik berupa kulit kering. tetapi ada sejumlah bahan kimia yang menimbulkan reaksi akut lambat misalnya podofilin. Sehingga waktu dan rentetan kontak merupakan faktor paling penting. juga bahan contohnya detergen. penderita baru merasa pedih setelah esok harinya. maka dermatitis kontak iritan juga ada dua macam yaitu dermatitis kontak iritan akut dan dermatitis kontak iritan kronis. kelainan kulit berupa likenifikasi. Dermatitis iritan kumulatif ini merupakan dermatitis kontak iritan yang paling sering ditemukan. sehingga diabaikan oleh penderita. Kulit terasa pedih atau panas. Dermatitis Kontak Alergi Sebagaimana disebutkan pada halaman sebelumnya bahwa ada dua jenis bahan iritan. papula. disebabkan oleh kontak dengan iritan lembah yang berulang-ulang (oleh faktor fisik. trauma mikro. Dermatitis kontak iritan dengan bahan iritan air liur pada balita Dermatitis kontak iritan kronis atau dermatitis iritan kumulatif. krusta dan pembentukan papul-papul. berbatas tegas. misalnya : mencuci. Dermatititis kontak iritan akut. skuama. sabun. Bisa jadi suatu bahan secara sendiri tidak cukup kuat menyebabkan dermatitis iritan. asam fluorohidrogenat. eritema. Luas kelainan umumnya sebatas daerah yang terkena. Pada fase ini akan terlihat eritema. skuama. krusta serta eritema ringan.menjadi subakut atau kronis. memasak. panas atau dingin. Penyebabnya iritan kuat. Contohnya ialah dermatitis yang disebabkan oleh bulu serangga yang terbang pada malam hari (dermatitis venenata). Ada kalanya kelainan hanya berupa kulit kering atau skuama tanpa eritema. vesikel. 3.Fase Kronis Dermatitis jenis ini dapat primer atau merupakan kelanjutan dari fase akut yang hilang timbul karena kontak yang berulang-ulang. eritema.

Terdapat tanda-tanda dermatitis disekitar tempat kontak dan lain tempat yang serupa dengan tempat kontak tetapi lebih ringan serta timbulnya lebih lambat. pekerjaan. Penderita dermatitis atopik mengalami efek pada sisitem imunitas seluler. 3. Pada anamnesis perlu juga ditanyakan riwayat atopi. Sebaliknya jumlah sel T dalam sirkulasi menurun dan kepekaan terhadap alergen kontak menurun.Uji tempel dengan bahan yang dicurigai hasilnya positif. 4. dan IL-5 yang merangsang pembentukan eosinofil. beberapa kali atau satu kali tetapi sebelumnya pernah atau sering kontak dengan bahan serupa. pemeriksaan fisik dan uji tempel.Rasa gatal 5. Karena hal ini penting dalam menentukan terapi dan tindak lanjutnya. pengertian dan kerjasama yang baik dengan pasien. 3. 2. Pada muka . berbatas tegas dengan tepi yang lebih aktif. kosmetika. Karena beberapa bagian tubuh sangat mudah tersensitisasi dibandingkan bagian tubuh yang lain maka predileksi regional diagnosis regional akan sangat membantu penegakan diagnosis. kaca mata. Berbagai jenis kelainan kulit yang harus dipertimbangkan dalam diagnosis banding adalah : 1. riwayat kontaktan dan pengobatan yang pernah diberikan oleh dokter maupun dilakukan sendiri. lipat lutut dise rtai riwayat atopi pada penderita atau keluarganya.Dermatitis seboroik : bila dijumpai pada muka dan aksila akan sulit dibedakan. edema dan papula disusul dengan pembentukan vesikel yang jika pecah akan membentuk dermatitis yang membasah. 2. hobi.Dermatitis dishidrotik : erupsi bersifat kronik residif. Anamnesis ditujukan selain untuk menegakkan diagnosis juga untuk mencari kausanya. tidak berbatas tegas dan dapat meluas ke daerah sekitarnya.ASUHAN KEPERAWATAN A. yaitu mencegah kekambuhan. riwayat penyakit yang lengkap. Pemeriksaan fisik didapatkan adanya eritema. sering dijumpai pada telapak tangan dan telapak kaki. dimana sel TH2 akan memsekresi IL-4 yang akan merangsang sel Buntuk memproduksi IgE.Dermatitis atopik : erupsi kulit yang bersifat kronik residif. yang tumbuhnya setelah pada tempat kontak. obyek personal meliputi pertanyaan tentang pakaian baru. sepatu lama.Adanya riwayat kontak dengan suatu bahan satu kali tetapi lama.Dermatitis numularis : merupakan dermatitis yang bersifat kronik residif dengan lesi berukuran sebesar uang logam dan umumnya berlokasi pada sisi ekstensor ekstremitas. dan jam tangan serta kondisi lain yaitu riwayat medis umum dan mungkin faktor psikologik. perjalanan penyakit. 4. dengan efloresensi berupa vesikel yang terletak di dalam. pada tempat-tempat tertentu seperti lipat siku. 5.Dermatomikosis : infeksi kulit yang disebabkan oleh jamur dengan efloresensi kulit bersifat polimorf. ketelitian.Terdapat tanda-tanda dermatitis terutama pada tempat kontak.Pengkajian Untuk menetapkan bahan alergen penyebab dermatitis kontak alergik diperlukan anamnesis yang teliti. Kriteria diagnosis dermatitis kontak alergik adalah : 1. Diperlukan kesabaran. Lesi pada umumnya timbul pada tempat kontak.

Intervensi Keperawatan Diagnosa : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kekeringan pada kulit Tujuan : Kulit klien dapat kembali normal. berkurangnya derajat pengelupasan kulit. sering mengalami iritasi atau sensitisasi. Gunakan air hangat jangan panas. Pengolesan krim pelembab selama 2 ± 4 menit setelah mandi untuk mencegah penguapan air dari kulit. B. berkurangnya kemerahan. Harus dibedakan dengan dermatitis kontak alergik bentuk kronik. 7. ditandai dengan menghindari alergen . alis mata dan di belakang 6. Rasional : dengan mandi air akan meresap dalam saturasi kulit. Mandi lebih sering jika tanda dan gejala meningkat.Resiko kerusakan kulit berhubungan dengan terpapar alergen 3. ditandai dengan mengungkapkan peningkatan kenyamanan kulit.telinga. 6.terdapat di sekitar alae nasi. penyembuhan area kulit yang telah rusak Intervensi: Mandi paling tidak sekali sehari selama 15 ± 20 menit.Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus 5.Liken simplek kronikus : bersifat kronis dan redisif. Diagnosa 1 : Resiko kerusakan kulit berhubungan dengan terpapar alergen Tujuan : Tidak terjadi kerusakan pada kulit klien Kriteria hasil : Klien akan mempertahankan integritas kulit.Diagnosis Keperawatan Diagnosa keperawatan yang umumnya muncul pada klien penderita kelainan kulit seperti dermatitis kontak adalah sebagai berikut : 1. berkurangnya lecet karena garukan.Kurang pengetahuan tentang program terapi berhubungan dengan inadekuat informasi C.Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus. Kriteria hasil : Klien akan mempertahankan kulit agar mempunyai hidrasi yang baik dan turunnya peradangan.Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kekeringan pada kulit 2. Segera oleskan salep atau krim yang telah diresepkan setelah mandi.Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan pruritus 4.

Rasional : dengan mengetahui proses fisiologis dan psikologis dan prinsip gatal serta penangannya akan meningkatkan rasa kooperatif.Mengenali tindakan untuk meningkatkan tidur.Intervensi Ajari klien menghindari atau menurunkan paparan terhadap alergen yang telah diketahui.. 5. klien tidur nyenyak tanpa terganggu rasa gatal.Mencapai tidur yang nyenyak. Rasional: Udara yang kering membuat kulit terasa gatal. Tujuan : Klien bisa beristirahat tanpa adanya pruritus. lingkungan yang nyaman meningkatkan relaksasi. Menjaga agar kulit selalu lembab. Diagnosa 3 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus. 2. 4. .Menghindari konsumsi kafein. klien mengungkapkan adanya peningkatan rasa nyaman Intervensi Jelaskan gejala gatal berhubungan dengan penyebabnya (misal keringnya kulit) dan prinsip terapinya (misal hidrasi) dan siklus gatal-garuk-gatal-garuk. ditandai dengan berkurangnya lecet akibat garukan. Cuci semua pakaian sebelum digunakan untuk menghilangkan formaldehid dan bahan kimia lain serta hindari menggunakan pelembut pakaian buatan pabrik. 3. Diagnosa 2: Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan pruritus Tujuan : Rasa nyaman klien terpenuhi Kriteria hasil : Klien menunjukkan berkurangnya pruritus.Mempertahankan kondisi lingkungan yang tepat. Intervensi : Nasihati klien untuk menjaga kamar tidur agar tetap memiliki ventilasi dan kelembaban yang baik. Kriteria Hasil : 1. Rasional : menghindari alergen akan menurunkan respon alergi Baca label makanan kaleng agar terhindar dari bahan makan yang mengandung alergen Hindari binatang peliharaan.Melaporkan gatal mereda.

Kaji adanya gangguan citra diri (menghindari kontak mata. Rasional: membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi Tujuan : Terapi dapat dipahami dan dijalankan Kriteria Hasil : 1. 5.Kaji apakah klien memahami dan mengerti tentang penyakitnya.Memahami pentingnya nutrisi untuk kesehatan kulit.Dukung upaya klien untuk memperbaiki citra diri .Mengikuti dan turut berpartisipasi dalam tindakan perawatan diri. 5.Menguatkan kembali dukungan positif dari diri sendiri.Mendorong sosialisasi dengan orang lain. Rasional: Memberikan kesempatan pada petugas untuk menetralkan kecemasan yang tidak perlu terjadi dan memulihkan realitas situasi. citra diri dan reaksi serta pemahaman klien terhadap kondisi kulitnya. 2. 5. Rasional: Terdapat hubungan antara stadium perkembangan. Rasional: membantu meningkatkan penerimaan diri dan sosialisasi. Tujuan : Pengembangan peningkatan penerimaan diri pada klien tercapai Kriteria Hasil : 1.Melaksanakan mandi. 2. spt merias. ketakutan merusak adaptasi klien .Melaporkan perasaan dalam pengendalian situasi. 3. Rasional: klien membutuhkan pengalaman didengarkan dan dipahami. 3.Nilai rasa keprihatinan dan ketakutan klien. 4.Tampak tidak meprihatinkan kondisi. 4.Memiliki pemahaman terhadap perawatan kulit. Intervensi : 1.Menggunakan obat topikal dengan tepat. 6.Mengikuti terapi dan dapat menjelaskan alasan terapi.Diagnosa 4: Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak bagus.Menggunakan teknik penyembunyian kekurangan dan menekankan teknik untuk meningkatkan penampilan Intervensi : 1. bantu klien yang cemas mengembangkan kemampuan untuk menilai diri dan mengenali masalahnya.Mengembangkan peningkatan kemauan untuk menerima keadaan diri.Berikan kesempatan pengungkapan perasaan. 4. pembersihan dan balutan basah sesuai program. 6. Rasional: Gangguan citra diri akan menyertai setiap penyakit/keadaan yang tampak nyata bagi klien.Mengutarakan perhatian terhadap diri sendiri yang lebih sehat. 3.ucapan merendahkan diri sendiri).Identifikasi stadium psikososial terhadap perkembangan. . kesan orang terhadap dirinya berpengaruh terhadap konsep diri. 7. merapikan. 2.

mandi dan penggunaan obat-obatan lainnya.Memiliki pemahaman terhadap perawatan kulit. Rasional: Dengan terjaganya hygiene.Rasional: memberikan data dasar untuk mengembangkan rencana penyuluhan 2.Mengikuti terapi dan dapat menjelaskan alasan terapi. . Rasional: Klien harus memiliki perasaan bahwa sesuatu dapat mereka perbuat. kebanyakan klien merasakan manfaat. 4. 2. 3.Menggunakan obat topikal dengan tepat. 4. dermatitis alergi sukar untuk kambuh kembali D.. 3.Melaksanakan mandi. Rasional: memungkinkan klien memperoleh cara yang tepat untuk melakukan terapi.Peragakan penerapan terapi seperti.Nasihati klien agar selalu menjaga hygiene pribadi juga lingkungan.Evaluasi Evaluasi yang akan dilakukan yaitu mencakup tentang : 1.Jaga agar klien mendapatkan informasi yang benar. memperbaiki kesalahan konsepsi/informasi. pembersihan dan balutan basah sesuai program.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful