Kolaborasi menjadi kata knnci dalam manajemen konservasi modem.

Menumnnya kepedulian tentang alam oleh sebagian besar umat manusia di dunia ini plus semakin minimnya keteladanan di dalam pengelolaan konservasi alam akan mempersulit totalitas pekerja konservasi dalam bergerak bebas. Mereka yang mencoba berbakti kepada alam tidak bisa lagi bekerj a sendiri, mereka membutuhkan banyak ternan untuk memuluskan tujuan yang ingin mereka cap ai, tujuan mulia untuk memelihara dan memperbaiki alam yang semakin msak ini. Pak Wir mencoba membahas tentang "kolaborasi" pada mbrik 'Liputan Utama' J ejak Leuser edisi ini, selain juga tentunya beliau tetap menulis di mbrik 'Dari Kepala Balai'.

Dengan tampilan yang agak berbeda, yang kami usahakan lebih dinamis, Jejak Leuser edisi ini juga memuat tentang keprihatinan seorang Kristof, Mahasiswa USU, terhadap keberadaanjumlah populasi Gajah Sumatera di alam yang semakin hari semakin menumn. Juga tulisan Pak Harto tentang kantong semar, tumbuhan 'pemakan' hewan yang temyata banyak sekali terdapat di dalam kawasan Taman N asional Gunung Leuser. Dan pada mbrik 'Potret', kami menampilkan Pak Selamat, Pegawai Balai TNGL Seksi Konservasi Wilayah III Alas Gayo yang telah 14 kali berhasil menapakkan kakinya di Puncak Leuser dan Loser sebagai pemandu.

Ada yang berbeda lagi, khusus pada edisi ini mbrik 'Intermezzo' memakan sampai 3 muka halaman. Tulisan menggelitik Bang Kafil, wartawan AP, yang menyoal tentang istilah-istilah asing dan (mungkin) keren yang sering dilontarkan punggawa-punggawa LSM di Indonesia dalam setiap percakapannya. Campur baur istilah inilah yang menjadi lucu ketika kita membacambrik itu.

Redaksi juga mengucapkan terima kasih kepada Bang Diding FFI atas gambar-gambar cantiknya yang selalu menghiasi setiap edisi J ej ak Leuser.

Selamat membaca ....

TNGL

Bisro Sya'bani

liT

Nurhadi

Balai Taman Nasional Gunung Leuser

Jl. Blangkejeren 37 Tanah Merah Kutacane Aceh Tenggara PO BOX 16 Kode Pos 24601

Telp. (0629) 21358 Fax. (0629) 21016

Ujang W Barata

~

Bisro Sya'bani

Jl. Suka Cita 12 Kel. Suka Maju Medan Johor, Medan, Sumatera Utara Telp/ Fax. (061) 7871521

Email: jejakleuser@yahoo.co.id

Sumber dana: DrPA BTNGL 2005

Redaksi Buletin "Jejak Leuser" menerima sumbangan tulisan yang berkaitan dengan aspek konservasi. Tulisan diketik dengan spasi tunggal, maksimal 4 halamam dan minimal 2 halaman kuarto dengan font Times New Roman 12. Naskah dikirim ke email : jejakleuser@yahoo.co.id dengan disertai identitas diri (termasuk foto penulis), serta foto-foto dan/atau gambar-gambar yang dapat mendukung tema tulisan. Naskah yang dikirimkan menjadi hak penuh redaksi Buletin "Jejak Leuser" untuk dilakukan proses editing seperlunya.

Tidak terelakkan, kolaborasi menjadi satu langkah strategis dalam pembangunan dan pengembangan organisasi (konservasi). Apa sebenarnya yang disebut sebagai kolaborasi itu? Seberapa penting kolaborasi di dalam sebuah organisasi?

Gajah Sumatera .... Ada kabar, populasinya dari hari ke hari semakin menurun.

Ada apa? Kenapa?

Adakah yang bisa kita lakukan untuk menghambat laju itu?

Kantong semar, tumbuhan 'pemakan' hewan itu ternyata banyak ditemukan di Taman Nasional Gunung Leuser. Setidaknya ada 6 jenis tumbuhan unik tersebut yang tersebar di kawasan ini. Kemampuan untuk membuat mangsa masuk ke 'mulut'nya cukup menarik untuk disimak.

~lt 0

secerw~ H"~r~~~v\' U~Vtg M~S~~ Ters~s~

Kawasan TNGL di Kabupaten Langkat sang at merana. Jl P

Perambahan dan illegal logging secara membabi buta rJjh\

memangkas areal konservasi itu. Fauna & Flora

International dengan CRU-nya menggandeng Pol hut

TNGL untuk menghambat tindakan-tindakan haram itu.

Selamat, so~~~~~~~£!~:~ng

menginjakkan kakinya di Puncak Leuser, maskot TNGL yang tidak semua orang mampu melakoninya. Dia bercerita tentang diri, kehidupan, perjalanan, pengalaman, serta harapan-harapannya selama mengabdi di Balai TNGL dan Leuser

Agenda Bersama

Dua kata yang menjadijudul sambutan Jejak Leuser kali ini, menjadi key words, menjadi suatu konsep yang sangat penting dalam kancah upaya konservasi di Indonesia, dan bahkan pada tataran global. Dalam kancah pemikiran konservasi di Indonesia, yang muncul di permukaan adalah diskursus tentang kerjasama. Lalu muncul wacana tentang aliansi, kemitraan, kolaborasi, dan beberapa wacana yang mirip dengannya, seperti jejaring kerja atau networking, dan seternsnya. Telah banyak pakar atau praktisi yang mencoba memberikan definisi tentang beberapa istilah tersebut di atas. Semakin didefinisikan semakin membuat rancu dan membingungkan publik. Tak pelak lagi, sistem politik dan budaya yang berkembang di berbagai bagian Indonesia turnt mewarnai dan membangun persepsi yang beragam tentang kerjasama, kolaborasi, kemitraan, dan sebagainya.

Di pedalaman Pulau Sumbawa misalnya, dikenal istilah gotongroyong, seperti di Jawa untuk pekerjaan yang menyangkut kepentingan bersama dalam perikehidupan sosial kemasyarakatan. Dalam sistem ini, besarnya tenaga yang dicurahkan tidak diperhitungkan secara mendetil, karena semuanya untuk kepentingan bersama yang sudah menjadi kesepakatan setempat, seperti membangun masjid atau gereja, bersih desa, dan membereskan halhal yang menyangkut kepentingan desa secara kekeluargaan. Tetapi yang menarik adalah konsep tentang exchange labour, khususnya pengalaman saya saat melakukan penelitian tahun 1986 di Desa Saneo, Kabupaten Dompu. Sistem ini hampir merata dipraktikkan di selurnh masyarakat Sumbawa. Didasarkan pada keterbatasan tenaga kerja dalam mengerjakan ladang, sawah, dan kebun, maka masyarakat harns menemukan solusi bersama, yang dianggap saling menguntungkan. Keterbatasan tenaga kerja dibandingkan dengan luas lahan dan lokasi lahan yang terpencar mendorong dibangun dan disepakatinya konsep exchange labour atau tukar tenaga tersebut. Dan kemudian menjadi "Agenda Bersama", menjadi kepentingan bersama. Apabila satu keluarga A membantu menyiapkan lahan di sawah selama 5 hari pada keluarga B, maka suatu saat keluarga B wajib membantu keluarga A

selama 5 hari untuk kegiatan apapun yang diperlukan oleh keluargaA, bisa membantu di sawah, ladang, kebun, maupun di hutan. Dalam contoh ini, "Agenda Bersama" menjadi Platform Bersama yang disepakati, melembaga, dan menjadi basis spirit untuk mengatasi persoalan kelangkaan tenaga kerja. Ini local wisdom yang menarik untuk diresapi dan difahami. Termasuk strategi penjagaan lahan dari gangguan hama dan ternak, dengan membangun sistem pemagaran dan penjagaan bersama yang sinergis.

Oleh karena itu, apapun dan siapapun yang akan melakukan kerjasama, perlu bertanya pada diri sendiri apakah cukup alasan untuk bekerjasama, berkolaborasi, bermitra, berjaringan, dan seternsnya. Apakah telah ditemukan dan atau disepakati tentang "Agenda Bersama". Apabila dalam seri diskusi ternyata belum dapat ditemukan pijakan bersama, kesepahaman tentang mengapa harns bekerjasama, maka sebaiknya harns dipikirkan ulang untuk berkolaborasi. Dalam konteks ini, visi bersama tidak atau belum ditemukan dan atau tidak cukup alasan untuk duduk dan bekerja sama. Dalam kenyataannya, banyak pihak, baik secara halus maupun secara

terang terangan, mencoba mendorong agenda dan prioritasnya untuk dikerjasamakan kepada pihak lain yang menjadi calon mitranya. Sementara itu, pihak yang mau diajak bekerjasama dalam posisi yang lemah atau bahkan tidak tahu apa yang akan dikerjakan yang menjadi mandatnya.

Apabila "Agenda Bersama" telah disepakati, maka masing-masing pihak saling berkontribusi sesuai dengan peran, otoritas, dan tanggungjawabnya. Dalam pola ini, para pihak yang bekerjasama dalam posisi memahami kekurangan dan kelebihan dan oleh karenanya, sepakat untuk saling mendukung (meminimalkan kekurangan dan mendorong sinergitas kekuatan), tentunya sematamata untuk mencapai tujuan bersama atau "Agenda Bersama" yang telah disepakati. Para pihak lalu mengalirkan sumberdayanya dan dipakai secara efektif dan efisien. Semangat yang dikembangkan akhirnya selalu mencari rnang-rnang bersama untuk mampu bersinergi. Pihak yang kuat dan lebih mampu akan membantu pihak yang masih lemah, untuk diperkuat, didorong, dan diangkat agar bisa sejajar dan lari bersama mencapai tujuan. Dalam pola ini, tidak ada konsep charity, atau client-patron relationship. Konsep tangan di atas dan tang an di bawah tidak berlaku. Yang dibangun adalah bagaimana memandirikan dan memperkuat pihak mitra yang memiliki kelemahan untuk menj adi lebih kuat dan lebih mandiri. Di dalamnya, tersirat proses siklik tentang pembelajaran bersama. Dengan demikian, mekanisme pemantauan dan evaluasi secara berkala dan kontinyu secara bersama, menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Terns terang, mekanisme pemantauan dan evaluasi seringkali dilupakan atau terlupakan, sehingga hampir tidak didapat lesson-learn atau proses pembelajaran. Idealnya, proses pemantauan dan ...... evaluasi dilakukan bersama para pihak yang

, berkolaborasi. Keterbukaan dan rasa saling percaya atau mutual trust menjadi kata kunci agar proses pembelajaran ini berlangsung dengan efektif, dan dalam suasana yang nyaman dan menyehatkan.

Selama para pihak tidak (kurang) mau mempelajari esensi keberhasilan dan atau kegagalan pola-pola kerjasama atau kolaborasi antara pemerintah dengan lembaga konservasi atau lembaga swadaya masyarakat, maka selama itu pula kita akan terjebak di dalam fatamorgana kerjasama, kolaborasi, kemitraan, aliansi, dan sebagainya, yang akhirnya dianggap sekedar sebagai tujuan (ends) bukan sebagai alat (means). Akhirnya, harns dilurnskan bahwa kerjasarna, kemitraan, kolaborasi, aliansi, jejaring kerja, sebenarnya hanya alat (means), yang digunakan untuk mencapai "Agenda Bersama" atau Tujuan Bersama (ends), dan bukan sebaliknya. Dalam konteks konservasi alam di Indonesia, pola-pola ideal seperti ini masih menjadi utopia. Inisiatifyang dimotori oleh Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI) dengan CIFOR tentang sharedlearning atau pembelajaran bersama antar pelaku kolaborasi pengelolaan kawasan-kawasan konservasi skala kecil, menjadi fenomena yang menarik untuk dipelajari dan bahwa terbukti polapola kolaborasi pemerintah-lembaga swadaya masyarakat atau kelompok swadaya masyarakat tersebut bukan sekedar utopia. * * *

4

--------------------------------------- Vol. 1 No.4 Tahun 2005

Email: inung_w2000@yahoo.com

Jejak (elise

Oleh: Ir. Wiratno,M.Sc*)

Oleh banyak pejabat Ditjen PHKA diakui bahwa dana pemerintah dalam membangun kawasan-kawasan konservasi xerru.uvtru terbatas. Sementara itu, persoalan pengelolaan kawasan konservasi semakin kompleks dan rumit. Perubahan tata guna 30 tahun misalnya telah membuat kawasan-kawasan konservasi dikepung oleh perkebunan skala besar (sawit) dan skala (karet, kopi), serta perambahan oleh masyarakat untuk kepentingan jangka pendek. Citra Landsat Pulau Sumatera menunjukkan kawasan-kawasan hutan alam yang masih tersisa tinggal di kawasan-kawasan konservasi. perubahan ini termasuk kebijakan khususnya selama otonomi daerah sejak 1998, telah pula merubah pola-pola fJ"'''",,'''''L''U'U''1 kawasan konservasi. Dengan keadaan yang demikian akan semakin berat untuk hanya bekerja sendiri tanpa mitra. sudah agak terlambat, dengan diterbitkannya Permenhut P 19 tentang Kolaborasi merupakan suatu langkah awal yang

strategis. Yang kita perlukan jawabannya adalah apakah para pengelo

kawasan konservasi sudah mulai berubah min d set - n y a

Beberapa p emikiran tentang kolaborasik

oleh karenanya, akan diulas tulisan berikut ini.

D efinisi yang cukup

bagus dari

"ko l ab or as i " adalah sebagai berikut: "suatu hubungan kerj asama yang saling menguntungkan dalam

mencapai tujuan bersama dengan saling memberikan tanggungjawab, otoritas, dan tanggunggugat untuk mencapai hasil" .

abor aSI m i menj adi satu langkah yang sangat

strategis, khususnya untuk membangun "Visi Bersama", Banyak organisasi yang secara internal menghadapi perbedaan pendapat, pandangan, prioritas, ukuran keberhasilan, dan bahkan ke mana organisasi hams dibawa. Kolaborasi ini hanya bisa dibangun melalui proses kerjasama yang menumbuhkan kepercayaan (trust) atau sebaliknya, dengan adanya trust, maka kerj asama akan meningkat dan selanjutnya menumbuhkembangkan tingkat-tingkat kepercayaan yang semakin tinggi. Grafik 1 menunjukkan hasil resultan antara semakin tingginya kerjasama dengan semakin dalamnya tingkat kepercayaan.

Dengan demikian kolaborasi bukan sekedar bekerjasama atau sarna-sarna bekerja, tetapi didalamnya terkandung common vision atau tujuan bersama. Hal ini dapat dilakukan melalui proses shared vision, yang dalam praktiknya tidak mudah dilakukan. Tujuan terse but juga saling menguntungkan bagi para pihak yang bekerjasama. Dalam konteks kerjasama tersebut hams ada kejelasan pembagian tanggungj awab, kewenangan, dan tanggunggugat.

Dalam pembangunan dan pengembangan organisasi, maka

Vol. 1 No. 4 Tahun 200S----------------------------------------------------------------------------------

S

Tinykat-tingkat K ornunlkasl

Tinggi

Defensif (M en a ng- Ka la h ata u Kal ah- M en a ng)

Si nergi stl k (Me n an 9- Me n an g)

.:

Penuh Respek (Komprom~

R endah

Rendah

Tinggi

Kerjasamil

a. MengapaNetwork

Banyak alasan kita perlu mulai membangun network, terutama mereka yang bergerak di bidang konservasi alam dan lingkungan. Beberapa latar belakang dan alasan dapatdikemukakan sebagai berikut;

X Terbukti bahwa di masa lalu, upaya konservasi alam dan penyelamatan lingkungan gagal dilakukan secara parsial oleh pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah kompleksitas permasalahan konservasi alam, dan segala keterbatasan (sumberdaya manusia, teknis, dana, sistim

perencanaan, sistim kerja, komitmen) lembaga pemerintah yang ditugasi pengelola

sumberdaya alamo Akibat dari kegagalan itu, masyarakat yang paling dekat dengan sumberdaya alam itulah yang pertama menanggung akibatnya (banjir, tanah longsor, pencemaran air, tanah, eksplosi hama dan penyakit), selain juga ditanggung oleh masyarakat luas baik nasional maupun intemasional (punahnya berbagai spesies satwa liar yang dilindungi, habitat alami yang msak dan tidak bisa dipulihkan, dan sebaginya);

Surr.-ber: Co\-12y Lei1dership Cent.er~ 1 ff!7

Pada Grafik di atas dapat dilihat, pada tahap awal, dimana tingkat kerjasama rendah dan rendahnya tingkat kepercayaan akan membuahkan situasi defensif (atau seringkali disebut sebagai situasi "menang"- "kalah" atau "kalah"-"menang"). Pada tahapan berikutnya ketika situasi kerjasama membaik dan mulai menumbuhkan rasa saling kepercayaan yang semakin membaik akan mengarah pada tumbuhnya rasa saling percaya, saling menghormati, dan saling menghargai.

Networking

Disamping kolaborasi dalam rangka membangun kemitraan, suatu mekanisme yang lebih luas adalah dengan membangun jaringan atau network. Network dalam konteks konservasi alam dan lingkungan mungkin memang belum didefinisikan secara konkrit. Apalagi, bila network itu mempakan multilevel-stakeholders, seperti antara Pemerintah-NGOMasyarakat, sampai kinipun masih dalam tahapan trial and error, dan dalam tahapan mencari identitas bersama. Mempakan suatu yang tidak pemah terbayangkan dapat terjadi di masa lalu. Jaringan ini dapat dipakai sebagai kendaraan oleh organisasi dalam melaksanakan kegiatankegiatan yang telah disepakati dalam rencana strategis yang telah disusun bersama.

Namun demikian, kita perlu mulai mendefinisikan apa yang disebut network itu. Dalam konteks konservasi alam dan lingkungan, network didefinisikan sebagai berikut :

cc Sistim kolaborasi multi-level stakeholder yang didasarkan pada kesamaan titik pandang tentang tujuan bersama yang hendak dicapai dan cara mencapainya, atas dasar kesadaran kolektif, dengan bertumpu pada semangat kebersamaan, saling pengertian, kesetaraan peran, saling menghormati dan menghargai, sertakemanfaatan bersama",

xPemerintah di mas a lalu sering meragukan kemampuan masyarakat akan upaya konservasi alam dan perlindungan lingkungan hidup. Dari sebagian besar pemenang Kalpatam adalah para individu anggota masyarakat bias a; seringkali korelasi antara tingkat pendidikan dengan kesadaran lingkungan tidak selalu linear;

xPermasalahan konservasi alam dan lingkungan terlalu kompleks untuk ditangani secara parsial, baik di tingkat bawah maupun di level advokasi. Penanganan di tataran policy maupun di level lapangan perlu melibatkan multidisipliner dan multi-level stakeholders. Pengalaman melakukan sistim kerj a seperti ini belum pemah dilakukan oleh pihak pemerintah, namun pada skala tertentu telah dimulai justru dari lembaga swadaya masyarakat;

XDengan menggunakan kendaraan bemama network, maka dapat mulai dibangun kesadaran kolektif yang nantinya diarahkan pada membangun agenda bersama yang menjadi komitmen untuk collective actions. Yang diharapkan adalah terbangunnya sinergi antar stakeholder dalam menyelesaikan masalah maupun mengembangkan potensipotensi yang ada untuk kesejahteraan masyarakat di level akarmmput;

XSecara tidak langsung, proses pencerahan atau enlightment dapat dilakukan di dalam simpul-simpul network. Hal ini

--------------------------------------- Vol. 1 No.4 Tahun 2005

6

dapat komunikasi asertif dikembangkan oleh fasilitator dalam network. Pencerahan perlu dilakukan karena dalam menangani isu-isu lingkungan banyak terjadi distorsi informasi, manipulasi informasi, sehingga masyarakat secara perlahan mengalami proses pembodohan, tidak pernah memperoleh informasi yang benar dari pihak-pihak yang berkompeten. Dengan demikian proses "penyuluhan yang mencerahkan" secara terus menerus berlangsung di dalam network, dalam rangka membangun tingkat kesadaran baru dengan tata nilai baru, yang merupakan awal dari tahapan "tangga koneksi", untuk menuju pada tingkatan "komitmen",

XDalam perspektif ekonomi, dengan keberhasilan membangun network, maka biaya dan waktu akan dialokasikan sangat efektif dan efisien. Namun demikian, diperlukan komitmen dan semangat yang tinggi dalam memulai membangunnya. Demikian juga, diperlukan waktu yang cukup lama agar proses interaksi dan komunikasi asertif itu berlangsung.

b. LangkahMembangunNetwork

Dalam membangun network, dapat ditempuh berbagai cara dan tahapan. Pengalaman membangun network konservasi alam di Yogyakarta, selama hampir satu tahun, memberikan beberapa pelajaran yang sangat berharga. Tahapan yang dapat dip ertimb angkan untuk dilalui adalah sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi SimpulNetwork

Yang dimaksud dengan simpul sebenarnya adalah para stakeholder itu. Identifikasi dapat dilakukan secara internal oleh organisasi di mana kita bekerja. Data dan informasi sekunder akan sangat membantu pada tahapan awal ini. Data dan informasi sekunder dapat diperoleh dari beberapa stakeholder yang telah dikenal, baik melalui forum formal maupun informal. Dari daftar stakeholder itu, maka mulai dilakukan sortir untuk mengelompokkan ke dalam beberapa kelompok, berdasarkan minat dan pengalaman. Dapat pula berdasarkan level kepentingannya, misalnya ada yang aktif di grass-root, ada yang membatasi diri di tingkat advokasi, ada yang keduanya.

tergantung pada pimpinannya. Kesulitan kadang timbul karena interest yang sangat beragam dan berubah-ubah, sehingga kita sulit mengelompokkannya. Modal awal untuk mendapatkan informasi adalah hanya mendengarkan (listening skill). Namun hal ini sering sulit, karena secara tidak sadar kita ingin menunjukkan eksistensi kita di forum dengan banyak bicara. Penyakit lama birokrat adalah dalam hal-hal seperti ini.

Hasil pengelompokan Ill! penting dalam hubungannya dengan kemungkinan kita akan masukan mereka pada simpul primer dalam network yang akan dibangun itu. Simpul-simpul mana yang sekiranya cukup strategis dalam mendukung gagasan kita itu. Sangat sering terjadi, hasil interpretasi kita ternyata tidak benar dan harus dikoreksi ulang. Diperlukan kemampuan melakukan banyak dinamika, review, dan seterusnya sampai kita menemukan simpul-simpul yang sudah cukup mengkristal dan berperan strategis.

2. Membangun KomunikasiAsertifAntar Simpul

Setelah melakukan identifikasi simpul-simpul mana yang potensial dan strategis untuk bersama-sama membangun network, langkah selanjutnya adalah mencoba mengetahui lebih dalam tentang kiprah dan potensi-potensi yang dimiliki masing-masing simpul. Melalui komunikasi yang asertif, yang saling menghargai dan mendorong berkembanguya dialog yang setara dan mendalam, maka potensi dan pokok perhatian masing-masing simpul itu akan terdata. Komunikasi dapat dikembangkan melalui forum-forum dialog bulanan atau berdasarkan topik-topik. Tidak selalu pihak pemerintah yang mengundang. Setiap kesempatan di mana berbagai simpul berkumpul, kita dapat secara tidak

Pengelompokan awal ini kemudian dilakukan pendalaman dengan cara membangun dialog awal dengan mereka. Pengalaman menunjukkan bahwa dialog tidak mudah. Kita hanya bisa membangun komunikasi setelah beberapa kali pertemuan. Seminar, lokakarya, diskusi-diskusi perlu diikuti karena pada forum-forum seperti itu kita dapat mencatat banyak hal dari calon simpul dari network yang akan kita bangun. Terkadang banyak terjadi bahwa Berkumpul dan berdialog, salah satu langkah membangun network

figur NGO maupun pecinta alam sangat

Vol. 1 No. 4 Tahun 200S------------------------------------------------------------------------------

7

langsung pendekatan, dan dialog secara terbuka tetapi intens dengan beberapa simpul yang potensial. Dalam mengembangkan dialog asertif itu, diperlukan kemampuan komunikasi dalam hal listening skill, dan yang lebih penting adalah membangun iklim dialog yang kondusif untuk tumbuhnya saling percaya atau trust building. Membangun kepercayaan ini merupakan modal awal berkembangnya hubungan yang lebih mendalam. Tanpa adanya kepercayaan dan frekuensi komunikasi yang tinggi, maka tidak akan peruah tercapai situasi menangmenang.

Kesadaran Kolektif

Melalui komunikasi yang asertif dan penuh dengan empati, akan dibangun suatu kesadaran kolektif, yaitu kumpulan dari kesadaran-kesadaran individu, kelompok, atau institusi sebagai hasil dari komunikasi asertif tersebut, yang telah berakumulasi dan mengkristal. Kesadaran kolektif adalah kesadaran bersama dari berbagai komponen masyarakat di berbagai level. Kesadaran tentang apa? Yaitu kesadaran tentang kerusakan lingkungan hidup, kerusakan kawasankawasan konservasi, kesadaran tentang perlunya us aha bersama dalam mengatasinya, kesadaran bahwa bila dilakukan secara parsial terbukti tidak akan membawa manfaat yang substansial dan cukup signifikan.

Kesadaran kolektif ini merupakan awal dari berkembangnya suatu collective actions, suatu gerakan bersama yang tentunya akan memberikan dampak yang sering luar biasa dan dampak bergandanya juga sering tidak terduga. Kesadaran kolektif ini juga dipicu dan didorong oleh suatu

fakta bahwa di mana-mana teruyata banyak orang yang merasakan hal yang sarna, dan melakukan hal yang sarna pula, tetapi belum ada sinergi, dan efek dari usaha-usaha yang parsial itu, sangat kecil. Sehingga, di sana-sini mulai timbul kekecewaan. Banyak dicetak sarjana, pasca sarjana, doktor; banyak dibangun pusat-pusat studi, namun juga diketahui tidak ada relevansinya dengan peningkatan kesadaran masyarakat, perbaikan kualitas lingkungan hidup dan konservasi alam.

Sinergi

Salah satu hasil dari proses kolaborasi dan networking tersebut adalah sinergi. Sinergi adalah suatu keadaan dimana secara keseluruhan lebih besar daripada jumlah bagianbagian penyusunnya. Sinergi merupakan inti sari dari kepemimpinan yang berpusat pada prinsip. Ia juga merupakan jalan tengah atau jalan yang lebih tinggi, seperti puncak dari sebuah segitiga. Perbedaan merupakan intisari dari apa yang disebut sebagai "sinergi",

Teruyata, sinergi merupakan situasi menang-menang. Dalam konsepsi tingkatan komunikasi seperti yang disajikan dalam Grafik 1, posisi "sinergi" menduduki peringkat paling atas. Sinergi ini merupakan suatu keadaan yang ditimbulkan dari resultante tingginya tingkatan kerjasama (saya lebih menyukai "tingkatan kolaborasi") yang secara bertahap meningkatkan kepercayaan atau trust.

Dalam pengembangan organisasi, shared vision hanya bisa dibangun apabila pemimpin dalam organisasi itu mampu mendorong tumbuhnya kerjasama di antara komponen dalam organisasi itu atau dengan pihak luar sehingga minimal dapat menumbuhkan situasi saling percaya. Tetapi fakta menunjukkan tidak mudah membangun situasi yang seperti itu. Diperlukan seorang yang memiliki kapasitas leadership yang cukup untuk dapat melakukannya.

Lokakarya wartawan peduli lingkungan yang diselanggarakan di Tangkahan, salah satu bentuk kolaborasi positif untuk usaha penyelamatan lingkungan hidup.

Tantangan Kolaborasi

Secara teoritis, membangun kolaborasi dan jaringan seakanakan mudah. Namun dalam kenyataannya, banyak sekali hambatan dan tantangan yang harus diatasi. Pertama, seringkali tahapan membangun kolaborasi

8

--------------------------------------- Vol. 1 No.4 Tahun 2005

menyusun proposal untuk suatu proyek tertentu tanpa melakukan cukup konsultasi dengan pengelola kawasan konservasi. Ketika proposal telah didanai dan baru dilakukan pertemuan dengan pengelola kawasan konservasi, terjadi perbedaan pandangan atau prioritas investasi.

Dalam kasus di atas, common vision atau common goal tidak dibangun bersama, dan kemudian pihak pengelola kawasan seolah-olah ditodong untuk bekerja sarna. Akibat lanjutan dari pola ini, tentu saja dukungan menjadi sangat minimal. Pengelola enggan mengalokasikan pendanaan sebagai dana pendamping. Ketika mitra kehabisan dana, kegiatan yang mungkin sangat bagus akan berhenti sarna sekali atau stagnan. Apabila sejak awal sudah dibangun kesepahaman, maka dana dan staf dapat dialokasikan secara bertahap, sehingga terj adi transfer of knowledge and skill dari mitra ke pengelolaan kawasan. Ketika mitra telah menghentikan proyeknya, pengelola sudah siap melanjutkan kegiatankegiatan tersebut secara mandiri. Kedua, kolaborasi dibangun dalam kondisi antara mitra dan pengelolakawasan konservasi tidak dalam posisi yang seimbang-sejajar. Pengelola kawasan konservasi dalam kondisi lemah dan mati suri, dengan berbagai alasannya. Dalam kondisi seperti ini, mitra sebaiknya menarik dan memberikan motivasi agar pengelola "bangun dari tidur" panjangnya. Hal ini tentunya sangat tidak mudah. Diperlukan political will, energi dan waktu yang tidak sedikit. Biasanya mitra tidak sabar dan meninggalkannya. Dalam kondisi ini kemitraan atau kolaborasi hanya lip service saja, dan hanya sekedar kerjasama di atas kertas. Faktanya, mitra bekerja sendiri dan pihak pengelola kawasan konservasi menjadi sekedar penonton. Akibat lanjutannya, dan seringkali hal ini lebih parah adalah bahwa seolah-olah mitra yang berkibar benderanya dan pengelola kawasan konservasi tenggelam dalam ketidakj elasan peran dan otoritas.

Salah satu dari upaya untuk menjawab tantangan ini antara lain adalah dengan memilih leader pengelola kawasan konservasi yang memiliki kapasitas leadership yang cukup, sehingga mampu membangun komunikasi dan proses belajar yang terus menerus. Leader yang kuat juga akan mampu membangun kinerj a staf pada tingkatan kedua atau second layer staff. Kebuntuan kolaborasi dapat disiasati dengan mendorong kolaborasi pada tataran teknis staf level kedua, khususnya staf fungsional.

Upaya lain adalah dengan mendorong upaya kolaborasi menjadi bagian dari penilaian kinerja pengelola kawasan konservasi. Selama ini, kinerja pengelola kawasan konservasijuga tidakjelas bagaimana dievaluasi. Pengelola yang berhasil membangun kolaborasi multipihak seolaholah sarna saja dengan pengelola yang bekerja sendiri. Hal ini merupakan tugas Jakarta, khususnya untuk melakukan pemantauan lapangan secara mend adak, dengan menggunakan prinsip triangulasi. Kinerja pengelola kawasan konservasi di-cross-check dengan para mitra atau melalui staf level 2 dan 3. Dengan demikian, akan semakin dapat dibangun penilaian kinerja pengelola kawasan konservasi yang dapat dipertanggungjawabkan dan credible. Penilaian ini kemudian dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan dalam menerapkan reward and punishment. Suatu tantangan yang tidak mudah namun bukan tidak mungkin dilaknkan secara bertahap dan konsisten.

*) Kepala Balai TNGL

Email: inung_w2000@yahoo.com

STOP IllIGAllOGGING ... !!!

Balai Taman Nasional Gunung Leuser

Vol. 1 No. 4 Tahun 200S------------------------------------------------------------------------------

9

In

Jejak (auser

GAJAO TIRAKHIR INDONI~IA;

f1f~ //AbUW ~,?

Oleh: Kristof RP Nainggolan*)

Dahulu, Gajah Asia (Elephas maximus) tersebar hampir di seluruh Asia dan Indocina serta menempati berbagai macam habitat seperti hutan hujan tropis dan padang rumput. Saat ini populasi gajahAsia telah menurun secara drastis dan saat ini jumlahnya hanya sepersepuluh populasi gajah Afrika. Di Indonesia, gajah Asia hanya terdapat di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Populasi manusia yang semakin meningkat secara langsung maupun tidak langsung telah merusak habitat satwa tersebut. Persaingan yang ganas untuk mendapatkan ruang hidup (living space) mengakibatkan berbagai macam penderitaan, fragmentasi kawasan hutan, hingga hilangnya penutupan hutan (forest cover). Konjlik antara gajah dan manusia, serta perburuan gajah untuk diambil gading dan kulitnya menjadi fa kto r utama mempercepat laju kepunahan mamalia besar ini.

Indonesia merupakan negara yang memiliki hutan tropis terluas ketiga di dunia setelah Brazil dan Zaire. Posisi ini menempatkan Indonesia sebagai negara mega-biodiversity. Diperkirakan sebanyak 300.000 jenis atau 17 % satwa dunia terdapat di Indonesia walaupun luas Indonesia hanya 1,3 % dari luas daratan dunia. Sebanyak 515 jenis mamalia, 1539 jenis burung, dan sebanyak 45% ikan dunia hidup di Indonesia. Kebanggaan ini membuat kita terlena dalam pemanfaatan sumber daya hutan yang mengarah pada pemanfaatan tidak rasional dan tidak bijaksana. Hal ini mengakibatkan dikenalnya Indonesia sebagai negara dengan

daftar panjang tentang satwa liar yang terancam punah. Hingga saat ini jumlah jenis satwa liar Indonesia yang terancam punah adalah 104 jenis burung, 19 jenis reptil, 60 jenis ikan, 29 jenis invertebrata, dan 128 jenis mamalia termasuk Gajah Sumatera (Elephas maximus Sumatranus) di dalamnya.

Gajah dan Manusia

Gajah Asia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan manusia. Zaman dahulu, raja-raja dan para penguasa memelihara ribuan gajah yang digunakan untuk upacara, berburu, ataupun untuk keperluan berperang. Bagi orang Asia, gajah mempunyai arti yang lebih penting daripada hanya sekedar binatang beban atau perang. Gajah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan dan kebudayaan mereka. Karya Hindu kuno acap kali mengacu pada gajah, dan banyak karya-karya besar yang terilhami oleh mamalia itu. Salah satu dewa yang paling terkenal adalah Ganesha, putra Siwa yang berujud fisik berupa gajah. Sebagai Dewa kebijaksanaan dan penolak bala (remover of obstacles),

Ganesha dihormati oleh masyarakat Hindu.

Saat ini gajah banyak digunakan di industri perkayuan dimana lebih dari 4000 ekor gajah dilatih untuk menarik kayu-kayu yang telah ditebang. Banyak anggapan bahwa gajah merupakan alat transportasi ideal untuk berbagai penelitian karena binatang buas (liar) biasanya tidak mengganggu gajah-gajah itu dan atau penunggangnya. Berkembang dari situ gajah kemudian dipakai untuk melakukan patroli di taman-taman nasional dan merupakan alat transportasi yang ideal di daerah-daerah yang sulit.

Gajah Sumatra Sebagai Bagian Dari GajahAsia

Sebagai mamalia darat terbesar yang hidup hingga saat ini, gajah terdiri dari dua spesies yaitu Gajah Asia (Elephas maxim us) dan Gajah Afrika. Gajah Sumatra adalah subspesies dari Gajah Asia dan merupakan jenis yang terkecil diantara Gajah-gajah Asia. Dibandingkan dengan Gajah Afrika, GajahAsia memiliki ukuran tubuh, daun telinga, dan gading yang cenderung lebih kecil. Dalam kehidupannya gajah lebih sering berkelompok dimana jumlah individu gajah dalam setiap kelompoknya berkisar antara 20 sampai dengan 60 ekor dan dipimpin oleh seekor gajah betina dewasa. Kemudian berturut-turut diikuti dibelakangnya oleh gajah-gajah jantan dewasa bergading panjang, gajah-gajah betina dan anak-anaknya, dan yang paling belakang adalah gajah-gajahjantan muda. Dalam suatu rombongan selalu ada seekor gajah pejantan, yakni gajahjantan dewasa yang kuat dan biasanya berukuran lebih besar dari anggota lainnya. Pejantan ini akan digantikan oleh gajah jantan dewasa lainnya melalui suatu pertarungan. Pejantan yang kalah akan terusir dari kelompoknya dan hidup soliter/menyendiri dan biasanya akan berperilaku ganas.

10

------------------------------------- Vol. 1 No.4 Tahun 2005

Masa hidup mamalia raksasa ini dapat mencapai 70 tahun, akan tetapi dalam kehidupan liar umumya relatif lebih pendek. Masa hamil gajah berkisar 19 sampai 21 bulan dimana umur kedewasaannya bam dimulai pada usia 25 tahun. Berat lahir seekor anak gajah dapat mencapai 90 kg dan pada usia dewasa berat tersebut akan terus bertambah hingga 3000 kg dengan tinggi bahu 1,7- 2,6 meter. Mamalia yang gemar akan tanaman pisang, palma, jahe-jahean, jenis bambu, dan berbagai tumbuhan merambat ini dapat memakan 200 kg hijauan selama tiga hari untuk tiap seekomya.

Mengapa Harus Optirnis?

Dalam acara Workshop Strategi Pengelolaan Gajah Sumatra di Provinsi Riau dan Sumatra Utara, pada 19 Juli 2004 di Pekanbaru, John Kenedi (waktu itu masih menjabat sebagai Kepala Balai Konservasi Sumberdaya Alam Riau) mengatakan bahwa pada tahun 1985 jumlah gajah di Riau diperkirakan mencapai 1067 hingga 1617 ekor. Kemudian menurun secara drastis sejak tahun 1999 sehingga pada tahun 2003 jumlahnya menjadi hanya sekitar 356 hingga 435 ekor saja. Dengan perkiraan itu jumlah Gaj ah Sumatera yang mati di Riau antara tahun 1985 hingga tahun 2003 adalah sekitar 1261 ekor. ltu artinyajumlahrata-ratakematiangajahdiRiau mencapai 66 ekor setiap tahunnya, atau telah terjadi penurunan populasi gajah sekitar 77,95 % dalam kurun waktu 19 tahun terakhir. Hal yang sarna juga terjadi di kantung-kantung habitat gajah lainnya, sehingga saat ini Gajah Asia menjadi salah satu satwa terancam punah (endangered).

Beberapa faktor utama penyebab kematian gajah dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Hilangnya Habitat

Saat ini sekitar 20 % populasi dunia hidup di dalam atau di sekitar sebaran GajahAsia. Dengan tingkat kenaikanjumlah penduduk yang besaruya 3 % pertahun, maka dalam waktu

23 tahun jumlah penduduk dunia akan menj adi dua kali lipat. Di sinilah letak akar masalah konservasi gajah Asia sebenamya. Hutan sebagai tempat tinggal gajah telah berkurang menjadi hanya sebagian kecil saja dari hutan tempat tinggalnya dahulu. Hutan India yang dahulu sangat luas, dimana gajah bebas berkeliaran, sekarang luasnya kurang dari 20 % dari luas negara tersebut dan hanya setengahnya yang sesuai untuk hidup gajah. Di Pulau Sumatera, areal hutan yang sangat luas telah dibabat untuk memberikan akamodasi bagi jutaan orang yang ditransmigrasikan. Sementara itu hutan-hutan di Indocina hancur karena peperangan yang berlangsung selama 30 tahun terus-menerus, terutama karena digunakannya defoliat kimia, napalm, dan pemboman besar-besaran selama perang Amerika- Vietnam.

2. Fragrnentasi Habitat Hutan

Fragmentasi habitat gajah sifatnya sangat merusak. Dalam setiap pergantian musim, gajah-gajah melakukan migrasi untuk memperoleh areal makanan yang lebih baik. Saat ini rute migrasi gajah telah terganggu dan kawanan gajah terus menerus harus menyingkir karena adanya pemukiman dan tanah pertanian baru, dimana kedatangan gajah-gajah tersebut tidak diinginkan. Kalau gajah tersebut bermigrasi melewati lahan pertanian (bahkan tidak jarang melewati daerah pemukiman), maka akan terjadi konflik karena orang mencoba mengusir gajah-gajah itu dengan tembakan senjata ataupun bomb crude. Gajah dan manusia pun terluka dan tidak j arang ada yang terbunuh.

3. Kernatian Gajah Selarna Penangkapan Liar Penangkapan gajah liar untuk dijinakkan telah menjadi ancaman yang serius bagi populasi gaj ah liar tersebut karena mengakibatkan menurunnya jumlah populasi yang serius. Ratusan gajah ditangkap setiap tahunnya untuk keperluan industri kayu, sayangnya metode penangkapan yang kasar telah menjadi salah satu sebab utama tingkat kematian gajah yang tinggi.

4. Perburuan Liar

Gajah jantan Asia sangat menderita akibat perdagangan gading. Hal ini sarna sekali bukan merupakan fenomena baru karena gading memang merupakan barang yang sangat berharga sej ak dulu kala dan para seniman juga para pemahat Asia memang sudah dikenal akan ketrampilan mereka dalam menyulap gading gajah menjadi barang indah. Laporan terakhir menunjukkan bahwa perburuan gajah untuk diambil gading, kulit, dan tulangnya semakin meningkat. Kulit gajah diselundupkan sebagai obat bisul dan luka, abu tulang gaj ah di gunakan sebagai obat sakit perut.

5. Ancaman Genetis

Semakin berkurangnya jumlah gajah besar bergading telah menimbulkan keprihatinan mengenai adanya pengaruh genetis terhadap spesies gajah tersebut. Kalau gajah yang mempunyai gading dibunuh maka jumlah pejantan dalam populasinya juga akan jauh berkurang dan ini mengakibatkan terjadinya rasio jenis kelamin yang tidak seimbang. Kondisi semacam itu selanjutnya akan mengakibatkan meningkatnya penyimpangan genetis (genetic duft) yang bisa menyebabkan terhambatnya pembiakan dan akhiruya menyebabkan tingginya tingkat kematian gajah yang masih muda dan perkembangbiakan yang rendah.

6. Penyakit

Contoh kasus, pada bulan Mei 1994 wabah haemorrhagic pepticaemia yang merupakan penyakit binatang teruak yang sebenaruya jarang terjadi pada gajah, menjadi penyebab utama matinya beberapa spesies seperti gajah di Taman Nasional Uda Walawe. Kalau sebuah epidemi terjadi pada sekelompok kecil gajah, akibat selanjutnya akan dapat membunuh semua anggota kelompok itu.

Pintu Keluar Pemecah Masalah

Dari berbagai faktor tersebut diatas tampak bahwa kunci untuk mewujudkan pelestarian gajah sepenuhnya terletak di tangan manusia. Program konservasi yang bisa mempertemukan kebutuhan manusia dan gajah harus menjadi perioritas utama. Survei-survei dan studi sosioligis perlu dilakukan di sekitar tempat hidup gajah untuk mencatat/mendeteksi adanya konflik antara gajah dan manusia. Gerakan anti peburuan liar sedini mungkin harus menjadi hal yang konkrit. Dari segi hukum, tindakan tegas

Kalau mereka punah, akankah kite melihat keceriaan seperti ini lagi?

dan keras harus ditegakkan bagi para pemburu dan penyelundup itu.

Masyarakat yang hidup berdampingan dengan gajah idealnya harus memperoleh keuntungan dari adanya gajahgajah tersebut tanpa mengurangi kelangsungan hidup dari gajah tersebut. Mereka dapat dipekerjakan dalam manajemen kawasan lindung, misalnya sebagai tenaga teknis lapangan. Dan apabila kawasan tersebut dapat dikomersialkan melalui kegiatan pariwisata yang merupakan sumber pendapatan, dana itu sebagian dapat juga dialokasikan kepada masyarakat setempat.

Kalau gajah di pandang sebagai sumber pendapatan dan kesejahteraan, sebuah simbol yang disediakan oleh hutan dalam hubungannya dengan hasil dan manfaat yang bisa digunakan, maka gajah akan dapat diselamatkan. Masa depan gajah dibumi tercinta ini sepenuhnya berada di tangan manusia yang telah hidup berdampingan dengan binatang tersebut selama ribuan tahun. Kelak hewan ini akan "hilang" dan hanya meninggalkan nama, apabila kita masih tidak mau tahu dan tidak berbuat sesutu untuk kelestarian mamalia besarini.***

*) Mahasiswa Jurusan Kehutanan Universitas Sumatera Utara, Medan - Aktifis KOMPAS-USU (Korps Mahasiswa Pecinta Alam dan Studi Lingkungan Hidup - USU)

Email: renaldi_82@yahoo.com

Referensi

Buletin Konservasi Alam. Volume 4 Nomor I Juni 2004. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.

Elizabeth Kemf & Peter Jakson. 1994. Gajah-gajah Asia di Belantara. WWF - Indonesia Programme.

Po Meurah. Volume 3 Nomor7 Januari-Maret2003.Fauna& Flora Interuational -Sumatran Elephant Conservation Programme.

Kompas. 2004. Sejak 1985, Ribuan Gajah Mati di Riau .. Jakarta

12

--------------------------------------- Vol. 1 No.4 Tahun 2005

Oleh: Drs. Soeharto Djojosudharmo*)

Kantong semar (Nepenthes sp.) adalah satu dari enam genera tumbuhan pemakan daging (kamivora) yang masuk ke dalam familia N epenthaceae yang tumbuh di Indonesia dan beberapa negara lain. Gerena lain dalam familia ini adalah Dionaea yang dijumpai di Amerika Serikat khususnya di negara bagian Carolina. Di selumh dunia terdapat 70 spesies Nepenthes, 40% di antaranya di pulau Kalimantan dan hanya 10% yang tumbuh di luar negara Asean. Kantong semar (pitcher plants), di Malaysia

Nepenthes gracillima

sering disebut periuk kera (monkey pots), sebutan ini paling tepat di tujukan kepada Nepenthes ampullaria karena bentuknya memang seperti periuk.

Kantong semar bukan bung a, bukan pula buah melainkan daun yang mengalami modifikasi. Tumbuhan ini umumnya hidup di tanah tandus, meskipun beberapa jenis juga hidup di

tanah subur, bahkan ada juga yang hidup di tanah yang mengandung belerang (solfatra). Selain di tanah tandus, tumbuhan ini biasanya hidup di tanah masam, dan miskin nitrogen. Serangga dan binatang lain yang dijeratnya memberi tumbuhan ini nitrogen yang diperlukannya. Kantong semar adalah tumbuhan independent, hidup di tanah, memanjatrendah atau menjulur bebas.

Distribusi

Di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser diketahui setidaknya terdapat 6 jenis kantong semar, yaitu Nepenthes ampullaria, Nepenthes tobaica, Nepenthes densiflora, Nepenthes gymnamphora, Nepenthes gracillima dan Nepenthes sp.

Nepenthes ampullaria mempakanjenis yang paling sering dijumpai di daerah dan rawa-rawa di bawah ketinggian 100 meter di atas permukaan laut. Nepenthes tobaica mempakan spesies endemik yang sering di jumpai di daerah Gunung Kemiri pada ketinggian 2600 - 3000 m.d.p.l. Sedangkan di daerah Gunung Bendahara tumbuhan ini dijumpai pada ketinggian 2000 - 2400 m.d.p.l. dan di Gunung Mamas, tumbuhan ini dijumpai pada ketinggian 1500 - 2000 m.dpl. Jenis Nepenthes gracillima banyak

Vol. 1 No. 4 Tahun 200S------------------------------------------------------------------------------

13

Nepenthes ampul/a via

dijumpai di pegunungan Bukit Barisan terutama di daerah Dairi, di tanah berbatuan yang tandus di antara pakis , rumput dan ilalang. Nepenthes ampullaria dan Nepenthes albo-marginta juga dijumpai di dekat pantai.

Karakteristik

Kantong semar merupakan tumbuhan pemanjat atau menjalar. Daunnya berbentuk antara oval dan lanset, tunggal tidak bergerigi dan panj ang tangkai berkisar antara 5- 10 em. Bagian ujung daun (apex) mengalami pemanjangan, mulamula bagaikan bangunan seperti eaeing atau eambuk (disebut tendril) sepanjang antara 15 sampai 30 sentimeter, bergantung pada jenisnya. Tendril ini berfungsi untuk memegang ranting dimana ia memanjat, selanjutnya tendril ini menggelembung membentuk kantong dengan tudung menyerupai tutup sebuah periuk.

Bentuk dari kantong pada tumbuhan kantong semar sangat bergantung dari jenisnya. Pada Nepenthes. ampullaria kantong (pitcher)-nya berbentuk seperti periuk dengan panjang sekitar 10 em dan garis tengah mulut kurang lebih 8 em, sedangkan pada Nepenthes gracillima lebih menyerupai tabung atau terompet dengan panj ang sekitar 20 em dan garis tengah mulut ± 8 em. Karena relatifberat bagi penyanggnya, umumnya ujung daun (kantong/ pitcher) ini menjuntai sampai tanah. Pada bagian luar kantong semar terdapat dua baris bangunan seperti duri (gerigi) vertikal. Sampai saat ini penulis belum dapat memahami apa fungsi dari bangunan bergerigi ini. Bibir dari mulut kantong, biasanya waruanya eukup meneolok. Meskipun bentuk dan ukuran tudung atau tutup kantong sangat bergantung pada jenisnya, tetapi akan selalu lebih keeil dari pada ukuran mulut kantong.

Tumbuhan ini memproduksi beberapa kelenj ar nektar berada

di bawah tutup dan di dalam mulut kantong diproduksi. Kelenjar ini berfungsi untuk menarik perhatian serangga atau binatang lain untuk mendekati tumbuhan ini yang selanjutnya akan dia 'makan'. Pada dinding dalam kantong terdapat sejumlah bulu, penulis menduga bulu-bulu ini berfungsi sebagai alat peraba/ sensor. Sekali serangga (dan atau binantang lain) hinggap di bibir mulut kantong yang atraktif tersebut, pasti akan tergelineir ke dalam kantong, terbenam ke dalam mangkuk bereairan kental dan lengket, dan dia tidak akan bisa keluar dalam keadaan hiduphidup. Kemudian di dalam kantong itu juga, tumbuhan ini meneerua binatang terse but. Kita dapat menemukan bahwa sejumlah besar kerangka

serangga dan binatang lain dijumpai pada kantong, ini dapat membuktikan betapa efektifnya perangkap tersebut.

Dari pengamatan yang peruah penulis lakukan dan ditambah dari beberapa referensi, setidaknya ada 68 jenis binatang dapat terperangkap di dalam kantong, termasuk Iaba-laba besar dan kepiting. Ken Rubeli melaporkan, pada beberapa jenis Nepenthes juga dijumpai kerangka binatang berukuran lebih besar, seperti katak, burung bahkan tikus. Walaupun begitu, menurut Rubeli juga, air pada kantong semar tersebut masih aman untuk dikonsumsi manusia. * * *

*) StafBalai TNGL Kantor Perwakilan Medan

Referensi:

POLUNIN, I. 1988. Plants and Flowers of Malaysia. Tien Wah Press, Singapore.

RUB ELI, K. 1986. Tropical Rain Forest in South-East Asia: a Pictorial Journey. Tropical Press SDN-BHD, Kuala Lumpur.

De WILDE. w.J.J.O. and DUYFJES, B.E.E. 1996.

Vegetations, Floristics and Plants Biogeography in Gunung Leuser National Park. in: Leuser a Sumatran Sanctuary (van Schaik c.p and Supriyatna, J. eds.) YB.S.H.I. Depok.

14

Vol. 1 No.4 Tahun 2005

@~I]J~

se~erw~ H-~r~~~Vt ~~Vtg M~$~~ Tm~$~

(Model Pemberdayaan Polhut)

Oleh: Subhan,S.Hut*)

Pada awalnya semua orang menganggap tidak ada lagi celah yang dapat dilakukan untuk menghentikan aktivitas illegal logging dan permasalahan lainnya di Seksi Konservasi Wilayah IV Besitang Balai Taman Nasional Gunung Leuser. Namun berkat kejelian pihakFFI (Fauna & Flora International) dalam melihat situasi yang berkembang dan didukung oleh pendanaan yang cukup, terbukalah sedikit celah yang memungkinkan kita untuk melakukan kegiatan penangkapan di jalur-jalur keluar kayu guna memutus mata rantai distribusi kayu dari dalam kawasan

Apa itu CRU?

tersebut dengan membentuk satu unit khusus yang diberi namaCRU (Conservation Response Unit).

CRU merupakan salah satu program yang ditawarkan FFI untuk merangkul berbagai pihak dalam rangka penyelamatan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dengan memanfaatkan satwa gajah dalam kegiatan operasionalnya.

Dalam kegiatannya, selain melibatkan Balai TNGL, FFIjuga melibatkan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Nanggroe Aceh Darussalam serta masyarakat di sekitar kawasan hutan dan selanjutnya diharapkan kebersatuan ini menjadi salah contoh format kolaborasi yang ideal dalam penanganan permasalahan kawasan pelestarian.

SejarahCRU

CRU yang dibentuk pada awal tahun 2003 mempunyai kegiatan yang bersifat preventif dan persuasif di dalam penanganan permasalahan. Observasi dan Monitoring merupakan bentuk kegiatan yang telah dilaksanakan oleh tim CRU. Dari kegiatan yang telah dilakukan selama ini, tim CRU telah banyak mengumpulkan data tentang permasalahan kawasan meliputi luas kerusakan, jenis permasalahan, peta "pemain" setiap permasalahan serta data lain yang diharapkan dapat membantu pihak-pihak terkait dalam menyelesaikan setiap permasalahan, terutama permasalahan kawasan.

Kerusakan kawasan hutan di Seksi Konservasi Wilayah IV Besitang yang telah mencapai ± 43.000 ha (data citra landsat tahun 2002) dimana ± 2l.000 ha diantaranya sudah berada pada kondisi kritis, mengundang keprihatinan banyak pihak

terutama organisasi yang bergerak di bidang konservasi. Salah satu pihak yang peduli dengan keadaan tersebut adalah Fauna & Flora Interuational (FFI), sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang berbasis pada konservasi lingkungan hidup. Dan didasari padakondisi kawasan TNGL yang semakin memprihatinkan itulah, FFI mencoba mencari format penyelesaian terhadap berbagai permasalahan

Vol. 1 NO.4 Tahun 2005

Pada tahap awal pihak FFI mencoba melaksanakan program melalui CRU ini pada 2 (dua) lokasi, yaitu di Resort Sekoci dan Tangkahan. Pengambilan lokasi pada kedua resort tersebut

didasarkan pada kenyataan bahwa pengelolaan manajeman permasalahan pada kedua resort tersebut dapat dikatakan sebagai dua sisi yang saling bertolak belakang, Pada satu sisi, Resort Sekoci merupakan resort dengan berbagai macam permasalahan, baik permasalahan kawasan maupun secara manajerial, dan di sisi lain resort Tangkahan merupakan salah satu resort percontohan dalam hal pemberdayaan masyarakat.

15

utnya, kehadiran Tim CRU di kedua resort terse but ternyata sangat banyak membantu Balai TNGL dalam menyelesaikan (atau paling tidak mengurangi) berbagai permasalahan di kedua resort tersebut. Satu dari banyak sumbangan Tim CRU adalah penyediaan data yang cukup lengkap yang sangat berharga sebagai bahan kajian Balai TNGL dalam 'menentukan sikap' terhadap berbagai permasalahan di kawasan tersebut.

Setelah berj alan selama 1 (satu) tahun di Resort Sekoci, dan aktifitas Tim CRU di kawasan itu dianggap telah berjalan optimal meskipun belum memperoleh solusi yang konkrit terhadap segala permasalahan di sekitar resort tersebut, serta belum dapat menghentikan laju kernsakan TNGL di kawasan terse but; pada awal tahun 2004 pihak FFI menghentikan program ini. Namun kegiatan di Tangkahan tetap j alan terns.

Namun, berhentinya kegiatan Tim CRU di Sekoci tidak berarti berhenti juga komitmen FFI untuk perang terhadap pernsakan kawasan TNGL. Pihak FFI mulai memikirkan alternatif solusi untuk menurnukan intensitas kernsakan, karena di satu sisi bila hanya mengandalkan kegiatan CRU yang selama itu hanya bersifat preventif dan persuasif, maka tidak banyak yang bisa diharapkan. Dan di sisi lain, bila dilakukan kegiatan represif (terntama tanpa persiapan dan pertimbangan yang matang) juga agak sulit implementasinya mengingat banyak faktor yang perlu dipertimbangkan terntama keberadaan pengungsi yang selalu dikaitkan dengan isu kemanusiaan serta semakin kuatnya j aringan kerj a illegal 10 gger.

Kegiatan penangkapan di luar kawasan hutan melalui jalurjalur keluar kayu mernpakan alternatif solusi yang saat ini

paling mungkin diterapkan. Kegiatan ini diharapkan dapat menurnnkan aktifitas illegal logging karena bila dapat direalisasikan secara maksimal, tentunya (sangat diharapkan) akan dapat memutuskan mata rantai distribusi kayu dari dalam kawasan.

Anggota Tim CRU Mobile

Dalam kegiatannya di lapangan, FFI secara aktif juga melibatkan personel Balai TNGL. Pada tahap awal, FFI merekrut 3 (tiga) orang polhut TNGL untuk bergabung dengan CRU Mobile, dan ditambah lagi perekrutan 1 (satu) orang Polhut TNGL lagi selang 3 bulan kemudian. Penentuan personel balai TNGL untuk dapat bergabung dengan Tim CRU Mobile ini didasarkan atas kemampuan, track record (bersih dan jujur) serta rekomendasi dari Balai TNGL.

Keberadaan jumlah personil yang hanya 4 (empat) orang dirasakan masih jauh dari cukup untuk meng-handle permasalahan illegal logging yang sudah cukup mengkhawatirkan, utamanya di Wilayah Besitang. Sehingga didasarkan atas keterbatasan jumlah personil tersebut pada bulan Maret dan April 2005 ada penambahan 3 (tiga) orang personil lagi masing-masing 2 (dua) orang Polhut dan 1 (satu) orang personel sebagai back up proses hukum.

Metoda Kerja

Metodakerja yang diterapkan Tim CRU Mobile sarna persis dengan metode yang digunakan dalam tug as rntin Polhut.

Secara garis besar cara kerja Tim CRU dibagi ke dalam 3 tahapan go yaitu pengumpulan informasi f melalui kegiatan patroli dan intelijen, penangkapan, dan proses hukum.

Kegiatan patroli dan intelijen dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang aktivitas illegal logging meliputi jalur distribusi kayu, modus operandi, peta pemainkayu, waktu operasi pemain serta data lain yang dianggap dapat membantu kegiatan penangkapan.

Kegiatan penangkapan tentunya akan dapat dilakukan dengan baik apabila data yang diperoleh dari kegiatan patroli dan inteligen bersifat akurat. Karena tuntutan ini, usaha menggandeng pihak lain (terutama masyarakat sekitar kawasan hutan) menjadi hal yang sangat krusial untuk

--------------------------------------- Vol. 1 No.4 Tahun 2005

Tim CRU Mobile, investigasi ke lapangan

16

, .

,~ bisa jadi bumerang kalau dilakukan ~ tidak dengan hati-hati dan penuh ~ pertimbangan. Oleh karena itu, FFI ~ melalui Tim CRU berpikir bahwa OJ apabila kegiatan represif dianggap tidak populer, bentuk kegiatan lain harus disiapkan dengan disesuaikan kebutuhan lapangan plus mempertimbangkan masukan para pihak dan program TNGL ke depan. Diharapkan kegiatan bentukan tersebut dapat bersifat edukatif (dan tentunya persuasif) dengan memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan.

Pemberdayaan Polhut

CRU Mobile menerapkan pola penanganan terhadap pelaku illegal logging melalui kegiatan yang sifatnya represif dengan menempatkan polhut TNGL di garis terdepan yang berarti memegang peranan penting bagi sukses tidaknyakegiatan tersebut.

Colt angkutan desa tertangkap oleh Tim CRU Mobile ketika mengangkut kayu Gurian mendukung kegiatan di atas. Selama ini, sudah banyak anggota masyarakat yang membantu kegiatan ini dengan mel_llberikan informasi - informasi penting khususnya tentang sekitar aktor dan modus operandi praktek illegal logging.

Keberhasilan kegiatan penangkapan selanjutnya diikuti dengan kegiatan pemeriksaan awal terhadap para pelaku di kantor S~ksi Konservasi Wilayah IV Besitang yang nantinya menghasilkan output berupa laporan kejadian dan Berita Acara Interogasi. Setelah proses ini, para pelaku berikut barang bukti hasil tangkapan diserahkan kepada pihak berwajib untuk dilakukan proses lanjutan guna menghasilkan keputusan hukum tetap dari pengadilan.

Dalam pelaksanaan kegiatannya, tidak sedikit bahkan banyak sekali, tantangan dan hambatan yang dihadapi tim CRU Mobile. Salah satunya adalah bahwa hampir semua pelaku illegal logging di-backing oleh oknum aparat keamanan dengan persenjataan lengkap, sedangkan Tim ~RU Mobile hanya bersenjatakan keberanian dan tanggung jawab moral.

Rencana Ke Depan

Untuk banyak kasus, teruyata kegiatan yang sifatnya represif tidak menjamin dapat menyelesaikan permasalahan bahkan

Pemberdayaan Polhut, melalui kegiatan seperti ini merupakan hal baru yang kiranya dapat dijadikan model p~rcont~han dalam penanganan terhadap illegal logger yang ~~n han cenderung meningkat. Bagi Polhut program seperti mi merupakan peluang yang harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan cara meningkatkan kualitas diri agar selalu siap bila suatu saat dibutuhkan dalam program -program lain yang membutuhkan peranannya.

Sangat mungkin program pemberdayaan Polhut akan cendrung meningkat seiring dengan makin parahnya kerusakan hutan dan makin besaruya perhatian pemerintah terhadap kerusakan tersebut. Hal tersebut menuntut kejelian Polhut membaca peluang agar tetap sejalan dengan perubahan pola penanganan terhadap illegal logging yang sedang dikembangkan. * * *

*) Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Besitang, Balai Taman N asional Gunung Leuser

Email: sbn20_03@yahoo.com

~-~ ~ adaWt ~ ~ ~ teWt ~~, tafd te'Z«4 ~ ~ maj«~.

(Margaret Blair John Stomes)

Vol. 1 No. 4 Tahun 200S---------------------------------------------------------------------------

17

Oleh: Kafil Yamin*)

"Staff workshop baru selesai tadi malam. Wuih! ... boring abis," kata Toto. Sebetulnya ia tak begitu berselera ngobrol sepagi ini, meskipun itu dengan TTM [Ternan Tapi Mesra]-nya, Titi. Kantuk masih menelikungjam delapan pagi ini, tapi Titi sudah berada di ruang tamu, apa boleh buat. la cuma sempat cuci muka, tanpa gosok gigi, untuk menemui Titi yang sudah nampak demikian segar dengan kerudung putih, baju biru langit bercorak bunga lili sampai bawah pinggang, celana jeans dengan asesoris seperti tambalan. Itu celana kesukaannya.

"Kan biasanya banyak game dan energizer di sela-sela session. Kok boring juga ?" timpal Titik.

"Iya sih. Cuman kan workshop itu nyu sun planning ke depan, yang long term, jadi kita discuss agak berat. Cepet boring."

"Lagian dari divisi Law Enforcement Monitoring kan team leader-nya aku. Berat tuh. Meskipun ada guidance dari outsourcing yang kita hire, tetap aja berat," tambah Toto, sambil mencoba ber-acting capek dan ngantuk agar Titi cepat berlalu. Lagi pula ia tak berani omong keras karena belum gosok gigi. Uap dari rongga mulutnya pasti akan mengurangi prestise di hadapan TTM -nya itu.

"Kamu masih capek ya? Ya udah nanti aja kita ketemu di sana pas break makan siang. Udah tau site-nya kan?" kata Titik menunjukkan pengertiannya.

"Tahulah. Site outbond-nya kan tetap di camping ground sebelah green corner itu kan ? Aku ke sana pas break makan siang deh!"

"Oke, Kutunggu ya? Kamu fasilitator session ke tiga lho. Jangan lupa paper-mu di-convert dulu ke powerpoint biar lebih singkat presentasinya. Jadi lebih banyak waktu untuk kegiatan outdoor."

"Oke Ti," "Oke. Bye To."

"Bye."

***

Tujuh menit sebelumjeda makan siang, Toto sudah sampai di temp at kemping yang dimaksud Titi. Ini kegiatan pembekalan dengan mengambil tempat di alamo Atau, menurut penjelasan Titi : Kegiatan 'fasilitasi' dalam bentuk outbond . Sekitar 50 warga Desa Sukaharta mengikuti kegiatan yang diprakarsai kata Titi, di-'inisasi' YPP [Yayasan Pemantauan Pribumi], atau yang sering disebut Titi : IMF [Indigenous Monitoring Foundation].

Sesi kedua masih tujuh menit lagi akan usai. Toto mengambil sebuah tempat di bawah pohon untuk membuka notebook-nya dan merapihkan presentasi powerpoint-nya. Baru saja duduk dan hendak membuka notebook, seorang gadis lewat dari arah samping, nampak tergesa-gesa. Toto mengenal dia.

"Kamu di sinijuga, Ta? Kok Titi gak bilang-bilang?" sapa Toto.

"Hey! Udah lama kamu nyampe To?" jawab Tata, gadis yang disapa itu.

"Iya lah. lni kan progamnya divisi Learning Center," jelas Tata lagi.

"Bukannya divisi Training dan Rural Shelter?" timpal Toto sok tahu.

"Bukan lah, divisi TRS lagi ngadain Shared Learning di Sukatahta. Eh, dah ketemu Titi?"

"Belum, Biar nanti aja."

"Oke, See you later ya?" Tata berlalu. "OK."

Toto segera menghidupkan notebook-nya dengan tenaga batere yang masih tersisa. Setelah powerpoint dibuka, tahulah ia bahwa ada foto yang

18

--------------------------------------- Vol. 1 No.4 Tahun 2005

belum dipasang. Segera ia mencari file temp at foto yang diperlukan itu tersimpan. Begitu ketemu dan mulai memeriksa foto mana yang diperlukan, tanpa ketahuan, Tati sudah ada di samping belakangnya ikut melihat fotofoto yang nampak pada thumbnail-nya.

la baru sadar ada orang lain di sebelahnya, Tati, dari divisi Learning Center juga.

"Ini foto-foto di mana To? Rasanya aku kenaI.

Nah! Malah ada aku, tuh," Kata Tati.

"Kamu bikin kaget aja. lni kan foto-foto waktu kita ngadain network meeting di Bodogol Convention Center."

"Masak ini BCC sih? Bukan ah, ini kan kantor LATIVI [Labuan Timur Integrated Verification Institution ]"

"Ah kamu. Liat baik-baik dong."

"0, iya. Habis banyak foto yang gakjelas sih.

Yang buram-buram gitu di-delete aja. Kan gak kepake juga," saran Tati.

"Aku mau upload dulu foto untuk presentasi.

Belum ketemu," jawab Toto.

"Kalo gak ada di situ ya di-browsing di file lain lah. Atau mungkin fotonya belum kamu transfer."

"Sudah, Aku ingat betul kok."

Foto yang dicari akhiruya ketemu juga. Toto segera memasangnya di bagian presentasi yang masih dikosongkan untuk foto. Setelah merapihkan beberapa bagian lagi, segera men-save presentasi itu dan mematikan notebook-nya.

"Session dua sudah abis. Selesai break nanti giliranku, kamu ngurusin apa nanti?"

"Aku kan lagi in charge di supply data dan informasi. Kita ketemu abis break ashar ya?"

"Boleh."

***

"Nah, untuk ini saya ingin bertanya kepada bapak-bapak dan ibu-ibu. Coba bapak Tito ini," Toto menunjuk Pak Tito yang sejak tadi terbengong-bengong. Session ini bebas rokok, maksudnya, bebas merokok. Pak Tito sudah menghabiskan satu bungkus lebih tiga batang Jarum Coklat sejak session pertama. Rokok yang tengah ia hisap sekarang pun tinggal seperempat lagi. Sambung menyambung.

"Selarna ini mekanisme pengelolaan sumber daya di desa Bapak gimana, Pak? Coba jelaskan .. " tanya Toto. Pak Tito terlihat agak terperanjat.

"Maaf Pak, di desa kami tak ada mekanisme.

Mungkin di desa lain. Yang mengelola ladang dan menggarap lahan Persetani [Perusahaan Seluruh Rutan Indonesia] ya kami-kami ini lah. Tapi di antara kami tak ada yang bemama mekanisme."

"Bukan orang, Pak Tito. Maksud saya cara.

Cara pengelolaannya bagaimana. Apakah secara kolaboratif atau masyarakat saja? Atau Persetani saja?"

Pak Tito tampak bingung.

"Tadi malam di TV ada tayangan tentang kegiatan para petani penggarap lahan Persetani di des a Sukahawa, ada yang nonton?" Toto mencoba menjelaskan dengan ilustrasi. "Tadi malamjam delapan di acara 'Around the Archipelago' ada yang nonton?" Toto bertanya lebih keras.

"Jam delapan saya nonton 'Friday Famous' di Matre TV," Ibu Tati menimpali.

"Saya kebetulan sedang nonton 'Headline News' di TV 9," kali ini Bu Tuti ikut nimbrung.

"Wah, kalo jam delapanan mah waktu saya menyimak acara 'Market Review'. Acara selanjutnya juga saya suka 'Inside Celebrities'," Bu Teti tak mau kalah dengan gaya bicara ibu menteri. "Di acara Market Review ada soal shareholder, sedangkan kita kan stakeholder. Jadi penting untuk kita."

"Kalo saya sih paling demen acara 'Indonesia Recovery'. Jadi banyak pengetahuan gito loh!" kali ini si Toti, pemuda tanggung itu, yang nyeletuk.

"Sudah! Sudah!! Kita bukan sedang ngomongin Check and Re-check atau Indonesian Idol. Maksud saya, dari tayangan 'Around the Archipelago' itu kita bisa tahu 'manajemen kolaboratif sumber daya alam itu bagaimana?" Toto jadi agak sewot.

Tita yang pandai mengarahkan itu temyata tak ada di kursi moderator. "Kemana bu Tita?" tanya Toto kepada floor.

"Tadi ke toilet Pak," jawab seorang Ibu. Terpaksa Toto melanjutkan tanpa bantuan moderator.

"Manajeman kolaboratif itu menjamin keamanan sumber-sumber daya alam, terutama hutan. Bapak-bapak dan ibu-ibu tahu apa akibatnya kalau hutan tidak aman? Terus dirambah? Terus ditebangi? Pak Tito, coba jawab, apa akibatnya?" Toto menunjuk Pak Tua ini.

"Kalo hutan dirusak Pak, otomotifterjadi banjir dan emosi, Pak."

"Otomatis erosi, maksud Pak Tito?" Toto meluruskan.

Toto senang karena temyata moderatomya Tita, yang sering membantunya meng-update data-data tentang 'manajemen kolaboratif [pengelolaan bersama] dalam pengelolaan [manajemen, juga] sumber daya alamo la cepat menangkap maksud para penanggap atau penanya dan pintar mengarahkan diskusi sehingga komunikasi terarah dan menghasilkan output [hasil juga] yangjelas.

Singkat saja Tita memperkenalkan dirinya tanpa ia harus menuliskan CV-nya. Saking sering memoderatorinya, Tita sudah hapal CVToto.

Dengan sedikit anggukan kepala dan sesungging senyum, Toto memulai:

"Selamat siang bapak-bapak dan ibu-ibu.

Sebelum kita memulai materi ini, kita perlu terlebih dahulu 'menyamakan persepsi' tentang posisi kita, warga desa Sukaharta, dalam 'manajemen kolaboratif sumber daya alamo Masyarakat desa Sukaharta adalah salah satu stakeholder utama dalam manajemen kolaboratif itu. Ini 'paradigma' yang kita anut."

Vol. 1 No. 4 Tahun 200S------------------------------------------------------------------------------

19

"Iya, erosi. Tapi emosi juga Pak. Semua kan jadi emosi kalau erosi."

"Tunggu Pak Tito. Kita harus 'menyamakan persepsi' dulu tentang emosi ini ... cc

"Cut! Cut!!" sela seseorang dari kursi moderator. Tita rupanya sudah kembali.

"Maanna ekspresinyaa?!!" Tita memotong. "Pak Tito, mata bapak harus bicara ! Ayo ulangi!" perintah sang moderator.

"Lha ya ndak bisa toh mBak. Lantas saya

Glossary [dalam konteks]:

Glossary: Daftar Istilah Acting: Lagak

Around the Archipelago: Seputar Nusantara Bird Watching: Pengamatan burung

Boring: Bosan.

Break: Jeda

Browsing: Penelusuran

Camping ground: Tempat kemping

Celebrities: Orang yang sering tampil di pesta mewah Check and Re-Check: Periksa ulang

Convention Center: Pusat Pertemuan

Convert: mengubah

CV [Curriculum Vitae]: Daftar riwayat hidup Cut: sudah, atau hentikan, atau tahan. Delete: menghapus

Discuss: berdiskusi

Energizer: Penambah tenaga

Fasilitasi: Pemberian bantuan

Fasilitator: Pemandu

Floor: Hadirin rapat atau diskusi

Friday Famous: Acara tayangan orang-orang terkenal tiap hari Jumat

Game: Permainan

Green Corner: PojokAsri Guidance: Arahan

Headline News: Berita Utama Hire: Menyewa

In charge: Menangani, bertugas, bertanggungjawab Inisasi: Mengawali, atau memprakarsai.

Indonesia Recovery: Pemulihan Indonesia Indonesian Idol: Idola Indonesia

Indigenous Monitoring Foundation: Yayasan Pemantau Pribumi.

omong pake apa?"

"Pake hidung!" timpal si Toti tengil itu. "Sudah! Sudah!! Kita break dulu. Kita akan lanjutkan session ini setelah acara bird watching," Tita menutup sesi.

***

*) Assossiated Press, J akarta- Bangkok

Market Review: Ulasan Pasar

LATIVI: Lembaga Pemeriksaan Terpadu Labuan Timur Learning Center: Pusat Pembelajaran

Manajemen kolaboratif: pengelolaan bersama Menyamakan persepsi: menyamakan pengertian Network meeting: Rap at jaringan kerja

Notebook: komputer lipat

Law Enforcement Monitoring: Pemantauan Penegakkan Hukum

Outbond: Kegiatan belajar di alam terbuka Outdoor: di luar

Outsourcing: Mengambil nara sumber dari luar orgamsasi

Output: Hasil

Paper: Makalah

Planning: Perencanaan

Paradigma: Asas ilmu pengetahuan

Rural Shelter: Dapur pembinaan pedesaan Session: Sesi

Save: Menyimpan

Shareholder: Pemegang saham

Shared Learning: Pembelajaran bersama Site: Tempat

Staff Workshop: Raker pengurus Stakeholder: Pemangku kepentingan Supply: Pasokan, memasok Training: Pelatihan

Team Leader: Ketua tim

Transfer: Memindahkan

Update: Memperbarui

Upload: Mengambil

Workshop: Raker [Rapat Kerja]

Penulis mohon maaf kalau daftar istilah lebih panjang dari naskah cerpennya.

20

--------------------------------------- Vol. 1 No.4 Tahun 2005

"~aCaa ~~, J4<f4 edd ~ ~ d4.t ~ di ~ ~ ~ di 1t4#f4#9 ~ Mtee" Sd4Ut ~ dMM J4<f4 ~~, edd dMi a«, di ~ (~: ~-w), J4<f4 ~ ~ ~ d4.t ~~, Sa<f4edd~~~~~ ~~~~",

Selamat, nama yang singkat namun tidak sesingkat pengalamannya di lapangan saat dia mengabdi pada lingkungan di Balai Taman Nasional Gunung Leuser. Meskipun masih jauh dari usia pensiun, namun pengalamannya di lapangan, khususnya di dalam kawasan TNGL wilayah Kabupaten Gayo Lues tidak terbantahkan lagi. Pengalaman 'menangani' kawasan konservasi di lereng Leuser tersebut telah dilakoni oleh bapak tiga anak ini semenjak tahun 1986, saat diterima sebagai pegawai honorer di Balai TNGL.

Setelah sembilan tahun bergelut sebagai pegawai honorer, akhirnya anugerahpun datang, suami dari Ida Lisma ini diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil secara utuh. Saat ini Selamat tercatat sebagai anggota Satuan Polhut Reaksi Cepat (SPORe) Macan Tutul, satuan elite Polhut yang ber-base camp di Medan, Sumatera Utara. "Sebelum masuk SPORC ini saya masih bisa berladang di sekitar rumah, tapi sekarang saya lebih banyak di Medan, jadi tidak sempat lagi bertanam", demikian ungkap Selamat saat ditanya kesibukan lain selain menj adi PNS.

Sebenaruya ada bagian yang menarik dari Selamat yang akan diungkap di rubrik "Potret" ini, yaitu tentang kariruya sebagai pemandu pendakian Gunung Leuser, simbol utama TNGL. Selama karirnya sebagai pemandu, pria kelahiran Blangkejeren 21 Juli 1964 ini telah berhasil menapakkan kaki di puncak tertinggi gunung tersebut sebanyak 14 kali! Dimulai dari tahun 1991 sampai dengan Leuser ditutup pada tahun 1999 karena konflik diAceh.

Karir Selamat di Leuser dimulai dari kondisi bahwa gaji sebagai tenaga honorer tidak cukup untuk menghidupi anak dan istrinya. Dia berusaha mencari celah penghasilan lain diluar gaji sebagai seorang honorer, dan kebetulan ada tawaran untuk menjadi porter sebuah pendakian Leuser. Gayungpun bersambut, awalnya hanya berbekal kantong plastik untuk membawa perbekalan pribadinya (karena belum mampu membeli ransel) dan bayaran yang hanya sebesar Rp 75.000,- dia mulai membawakan barang dan

unu~

peralatan para pendaki Leuser. Keinginan menjadi porter itu juga didasari bahwa dia ingin sekali melihat dari dekat Puncak Leuser, sedangkan dia tidak mempunyai dana yang cukup untuk naik ke puncak tersebut sebagai pendaki. Alasan lain yang dikemukakan Selamat adalah pada saat itu ada anggapan dari masyarakat bahwa Puncak Leuser tidak mungkin dicapai oleh siapapunjuga. Dia ingin mematahkan anggapanitu ...

Oleh Selamat, duakali menjadi porter dirasakan sudah cukup untuk 'naik pangkat' menj adi seorang pemandu. "Sebagai staf Balai TNGL saya ingin sekali mengenalkan dan menjelaskan kawasan saya ke para pendaki, selain juga saya ingin sekali melihat hal-hal yang tersembunyi di balik luasnya taman nasional temp at saya bekerja ini", demikian Selamat memberi alasan mengapa tertarik sebagai pemandu. Selamat yang juga sering memandu pendakian di Gunung Kemiri dan Gunung MamasAceh Tenggara ini bertutur, "Untuk mendaki Leuser kita harus mempunyai mental dan fisik dan mental yang kuat karena untuk mencapai puncak butuh perjalanan yang panjang dan maha berat. Beda dengan gunung-gunung lain, dibutuhkan waktu rata-rata seminggu untuk mencapai Puncak Leuser". Ketika ditanya mengapa begitu lama untuk mencapai Puncak Leuser yang tingginya tidak sampai 4.000 mdpl ini, Selamat memberi alasan, "Untuk mencapai Puncak, selain jalur yang sangat terjal dan harus melewati hutan lumut yang sangat lembab, para pendaki harus melewati dulu gunung-gunung yang mengelilingi Gunung Leuser".

"Adakalanya saya merasa sangat takjub ketika berada di atas, dengan leluasa saya bisa melihat betapa cantiknya taman nasional ini. Saat senja datang, saya bisa melihat matahari tenggelam Pantai Blang Pidie dan Aceh Selatan. Saat-saat itulah yang paling saya suka". Ketika ditanyakan hal yang paling tidak disukai ketika memandu, dengan cepat Selamat menjawab, "Saat dihantam hujan badai dan kabut, hingga masakpun menjadi tidak sempat lagi".

Dalam karirnya sebagai pemandu, sudah banyak tim

Vol. 1 No. 4 Tahun 200S------------------------------------------------------------------------------

21

f.HU"'f"""'«, antara lain: Mapala VI, Mapala Atmajaya Jakarta, Mapala IKJ, Mapala STIK, Pecinta Alam SMA 1 Mataram (dengan tim ini, Selamat menciptakan rekor yang cukup fantastis, hanya dalam waktu 6 hari mereka bisa naik-turun Leuser), dan selebihnya tim -tim dari negara asing. Sampai pada saat terjadinya konflik Aceh, tahun 1999 Gunung Leuser ditutup untuk pendakian, sampai sekarang Selamat pelum peruah lagi naik Leuser. Harapan besar untuk Leuser ke depan hanya dua; aktifitas pendakian Leuser yang beberapa waktu yang lalu sudah dibuka kembali, dapat berjalan dengan lebih tertib, atau paling tidak seperti saat sebelum ditutup. Dan untuk para pendaki, bawalah sampah kembali turun dan dibuang pada tempatnya.

lapangan, tepatnya di Pos Resort Marpunga. Saat berada di lapangan, kegiatan yang dilakukannya adalah pendekatanpendekatan kepada masyarakat tentang manfaat memelihara hutan di Kabupaten Gayo Lues. Kegiatan seperti itulah yang secara rutin (bahkan ketika masih jadi honorer) dilakukan Selamat selama berada di lapangan dengan tanpa pamrih. "Kehidupan Saya banyak dibantu oleh alam, maka saya harus membalas budi kepadanya. Saya harus mengajak orang-orang di sekitar hutan untuk tidak merusak hutan", Selamat memang juga sering menjadi pemandu bagi peneliti-peneliti alamo Dan dari memandu itu dia memperoleh tambahan penghasilan untuk menghidupi keluarganya.

Diluar sebagai pemandu pendakian Leuser, Selamat dikenal sebagai pegawai yang ulet dan berjiwa petualang. Dia

mengaku, lebih suka hidup di hutan daripada di kantor. Sebelum masuk SPORe, dalam satu bulan, dia hanya berkumpul dengan keluarga selama kurang lebih sepuluh hari saja, selebihnya dia menghabiskan waktu di lapangan (hutan). "Kalan satu hari saya tidak ke lapangan, rasanya ada yang mengganjal di hati. Saya merasa ada satu tug as yang belum saya kerj akan",

Bahkan pada saat konflikAceh meletus, di saat orang-orang beramai-ramai mengungsi, dia sekeluarga tetap berada

Dalam kesehariaannya Selamat yang bersahaja inijuga dikenal sebagai sosok yang tidak suka neko-neko dan selalu

patuh pada perintah pimpinan. Dia berujar, "Boleh tanya dengan siapa saja, saya sudah mengalami pergantian sembilan Kepala Balai TNGL, dan saya belum peruah sekalipun menolak perintah. Kapanpun dipanggil ke lapangan saya selalu siap karena saya memang cinta hutan.", Sebuah keteladanan yang saat ini masih sangat j arang ditemukan.

Pada akhir percakapan, Selamat berpesan," Rutan kita tuh tinggal sedikit, mari kita jaga sarna-sarna. Jangan kita rusak .... ". - ban-

Di suatu hari di Bulan Juli 1999 kami mencoba memulai petualangan itu, salah satu dari banyak petualangan saya menaiki punggung Gunung Leuser sebagai pemandu. Saat itu kami hanya berempat, 2 orang dari Mapala Institut Kesenian Jakarta, dan satu lagi ternan saya di Balai TNGL, Roy Dharmawan. Tanpa bantuan porter kami mengawali perjalananitu ....

Sore itu Blangkej eren, sebuah kota kecil di Kabupaten Gayo Lues, dengan cerahnya melepas kami untuk menggapai tekad menginjak puncak Leuser dan Loser. Dengan menumpang kendaraan umum, kami menuju persinggahan pertama di Kedah, sebuah desa di kaki bukit yang berketinggian 1.200 mdpl. Di desa itu kami bermalam untuk keesok harinya memulai sebuah petualangan menuju puncak gunung.

III

cerah memulai perjalanan selama 3 jam menuju Senebuk (pengunjung asing menyebutnya dengan Tobacco Heart), sebuah temp at yang merupakan pintu gerbang utama Leuser. Setelah melewati daerah orangutan itu, barulah 'petualangan yang sesungguhnya' dimulai, selama setengah hari kami harus melewati jalan terjal (kemiringan 75 derajat atau lebih), tanpa dapat menjumpai air (kalaupun ada, hanya bekas kubangan babi, tapi apa boleh buat?).

Setelah berjuang melawan kelelahan yanga amat sangat, akhirnya kami berhasil menemukan temp at yang kami anggap dapat dipakai untuk sekedar makan siang, walaupun cuma makan biskuit dan susu saj a.

Matahari mulai bergulir ke arah barat, kami harus secepatnya mencapai PuncakAngasan hari itu juga, karena hanya temp at itu saja yang terdapat air. Setelah kembali berjuang keras selama 6 jam, tidak peduli capek dan haus, kami akhimya sampai juga di Puncak Angasan (2.820 mdpl). Begitu sampai, saya 3 ajak rekan-rekan saya untuk cepat-cepat

em

Hari Pertama

Setelah serapan pagi, kami dengan wajah dan cuaca yang

22

--------------------------------------- VoL 1 NoA Tahun 2005

Menuju Bivak II, diiringi hujan deras dan angin yang kencang kami kembali melewati savana dan hutan lumut yang naik turun, Kami tetap berusaha tegar dan terns berjalan meskipun muka kami semakin parah terkelupas, bibir pecah-pecah dan sariawan, fisik kami semakin lemah ...

Keberadaan Bivak III tidak kami pedulikan lagi, dalam keadaan yang semakin payah kami hams terns berjalan berjalan dan terns berjalan untuk mencapai lokasi tempat sebagai camp kami. Akhirnya, di hari yang sudah gelap, pada ketinggian 2.800 mdpl kami menemukan lokasi untuk kami bermalam dan beristirahat. Waktu sudah menunjukkanjam 19.00, di tengah udaradinginyang amat sangat, kami tetap hams membangun tenda darurat di lokasi itu. Kami sarna sekali sudah tidak berselera lagi untuk makan di malam itu. Dengan bibir yang semakin sakit, saya paksakan diri untuk mengisi perut hanya dengan minum air huj an ...

Harikelima

Lega rasanya pagi itu, cuaca begitu cerah ... Namun, kami terlambat untuk berangkat melanjutkan perjalanan karena hams packing ulang. Semua baju basah, dan terpaksa sebagian besar kami tinggal untuk meringaukan beban. Jam 09.00 kami bam bisa berangkat menuju Puncak Loser dengan melewati Krueng Kluet II. Kembali kami menyusuri hutan lumut yang basah dan pada tengah hari kami sudah sampai savana (3.100 mdpl). Dan di situ pula kami dirikan camp. Kami tinggal semua barang kami di camp itu, yang kami bawa hanya mantel hujan, senter dan makanan kecil.

Puncak Loser tinggal selangkah lagi... Kami semakin bersemangat meskipun hujankembali turunl Denganjalan kami yang sangat pelan, lemah dan kedinginan akhirnya sebuahkebanggaanitusampai juga ....... Tepatjam 16.30, di bawah hujan yang amat sangat deras danjarak pandang yang hanya 2 meter, kami berhasil menginjakkan kaki di Puncak Loser .. " Kami berteriak lantang di puncak 3.404 meter itu .. ' , Kami berangkulan, Roy dan ternan-ternan IKJ menangis ham. Kami sudah acuh dengan kesakitan yang mendera badan kami, kami tidak peduli lagi bahwa kami tidak akan sampai ke Puncak Leuser, yang ada di dada kami saat itu adalah kebahagiaan yang luar biasa. Dengan deraan alam yang begitu hebat, kami tetap berhasil berdiri di atas puncak utara Sumatera ... , , ,

Hari kesembilan kami sudah kembali menginjak kota kecil kelahiran saya, Blangkejeren. Bahagia, bangga ... ' - ban-

membuat tenda, masak seadanya, serta evaluasi perjalanan seharian tadi. Akhirnya, ketika malam mulai semakin kelam, kamipun tidak kuasa menahan kantuk ... dan tidur ....

Harikedua

Jam 08.00, setelah sarapan seadanya, dengan diiringi gerimis, kami berangkat menuju Pepanyi. Selama perjalanan rintangan hebat mulai kami hadapi, dari 4 jam perjalanan naik turun hutan lumut, setengahnya hams kami lakukan dengan cara merayap di bawah akar Pohon Geseng dalam situasi huj an lebat dan kabut tebal. Setelah 4 jam 'bertempur', akhimya kami berhasil juga mencapai Papanyi (2.260 mdpl). Di bawah hujan yang semakin deras, kami masih sempat mengisi energi dengan makan biskuit. Dan Iagi-lagi kami hams memaksakan diri untuk sampai ke pintu gerbang savana pada sore itu juga. Alhamdulillah, setelah lima jam berj alan pelan dan diiringi hujan yang malah semakin deras, kami tiba juga di pintu gerbang savana untuk nge-camp. Di bawah hujan deras kami mendirikan tenda. Maksud hati untuk langsung beristirahat setelah seharian dihajar alam, tapi hujan yang sangat deras disertai badai serta badan yang sangat kedinginan membuat kami tidak bisa tidur. Untuk sekedar ngobrol saja, lidah ini terasa sangat kelu, meskipun perut melilit, rasanya makan tidak enak. Kami benar-benar merasa kecapekan .... Dan akhimya tanpa sadar, matahari temyata sudah menyembul dari ufuk timur. Tadi malam temyatakami tertidurjuga.

Hariketiga

Setelah persiapan sana-sini (termasuk meninggalkan bekal untuk pejalanan pulang yang kami gantung di pohon), diiringi cuaca yang cerah, jam 08.00 kami mulai menyusuri savana, melanjutkan perjalanan kami. Panassss .... ,

Untung saj a kami melewati empat hulu Sungai Alas, kami bisa mandi dan makan siang di situ. Total, seharian penuh kami menyusuri savana yang sangat panas itu hingga akhimyajam 17.00 kami sampai di atas Kolam Badak. Di tempat itu kami mendirikan camp karena selain angin tidak kencang, juga banyak tersedia air di lokasi itu.

Harikeempat

Perjalanan kami lanjutkan menuju Bivak I, II dan III. Di Bivak 1 kami menemukan banyak sekali kaleng-kaleng (yang katanya) bekas peninggalan ekspedisi Leuser pertama oleh Belanda. Dari Bivak I, Puncak Leuser kelihatan sangat dekat. Tapi temyata untuk menuju kesana kami hams jalan memutar sampai 2 hari lamanya karena jarak terdekat sangat sangat dan sangat terjal yang tidak mungkin dilalui.

~ ~ ~ jMti O!UU«)~, tafd ~ ~jMti O!UU«) ~ ~.

(Albert Einstein, 1879 - 1955)

Vol. 1 No. 4 Tahun 200S------------------------------------------------------------------------------

23

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful