TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.

com/

Judul aslinya "Thay Tong Yoe Hiap Toan" (Hokkian) "Da Tang You Xia Zhuan" (Mandarin) Karya : Liang Ie Sheng Saduran : OKT Sumber DJVU : Manise Dimhader & BBSC dimhader Ebook oleh : Dewi KZ http://kangzusi.com/ atau http://dewikz.byethost22.com/ http://kangzusi.info/ http://ebook-dewikz.com/

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Keterangan Dewi KZ : 1. Karangan Liang Ie Shen ini Judul aslinya "Thay Tong Yoe Hiap Toan" (Hokkian) atau "Da Tang You Xia Zhuan" (Mandarin). 2. Mulai dimuat sebagai cerita bersambung di koran Hongkong pada 1 Januari 1963, dan berakhir pada 14 Juni 1964. 3. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh OKT di tahun 1964, diterbitkan oleh penerbit Mekar Djaja, Jakarta, dalam 16 jilid. Kemudian oleh Penerbit Sejahtera Indah Tahun 1980. 4. Termasuk dalam seri karya Liang Ie Shen yang disebut sebagai "Serial Dinasti Tong", karena menceritakan kisah di jaman pemerintahan Kaisar Lie. 5. Tokoh-tokoh ceritanya a.l. Toan Kui Ciang, Tiat Mo Lek, Hee Leng Song, Khong-Khong Jie, dll. 6. Urutan Trilogi Dinasti Tong adalah : a. Pendekar Aneh [Nu Di Qi Ying Zhuan Lie Tee Kie Eng] disadur oleh Boe Beng Tjoe terdiri dari 12 jilid diterbitkan oleh Mekar Jaya. b. Kisah bangsa Petualang, Serial ini dilanjutkan dengan "Tusuk Konde Pusaka" atau "Liong Hong Po Tjhee Yan" (Hokkian) atau "Long Feng Bao Chai Yuan" (Mandarin), dengan tokoh-tokoh ceritanya a.l. Toan Kek Shia, Su Jiak Bwee, dll., di samping masih munculnya juga tokohtokoh dari "Kisah Bangsa Petualang". Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh S. D. Liong di tahun 1965, diterbitkan oleh penerbit Pantja Satya, Semarang, dalam 18 jilid. c. Serial ini diakhiri dengan cerita ke-3, berjudul "Jiwa Ksatria" atau "Hui Kiam Sim Mo' (Hokkian) atau "Hui Jian Xin Mo" (Mandarin), dengan tokoh-tokoh ceritanya a.l. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Can Pek Sin, Tiat Ceng, Tiat Leng, Thie Po Leng, Lauw Bong, Liong Seng Hong, dll., di samping masih munculnya juga tokoh-tokoh dari "Kisah Bangsa Petualang" dan "Tusuk Konde Pusaka". Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh O. P. A. di tahun 1967, diterbitkan oleh penerbit Marga Raya, Jakarta, dalam 16 jilid. ---ooo0dw0oo---

Dikarenakan djvu dari BBSC pada Jilid 5 isinya diputus ditengah-tengah oleh percetakan, maka kami lengkapi dengan djvu dari Manise, trims yeeee Jilid 1 “Selamat Tahun Baru!” ”Selamat Tahun baru !” Demikian ucapan kebahagian pada pagi hari tanggal satu bulan satu dari tahun Thian Po ke dari masa kerajaah Tong dan ucapan itu dihaturkan kepada seorang She Su bernama It Jie, yang tinggal di dusun Su Kee Cun dusun pegunungan terpisah enam puluh lie lebih di luar kota Tiang an. It Jie ini pada tahun Kay Goan ke 22 pernah lulus sebagai Cin Su, ujian tingkat tiga, oleh karena ia tidak suka memangku pangkat, belum sampai usia pertengahan, ia sudah pulang ke kampung halamannya, untuk hidup dalam ketenangannya si orang desa. Oleh karena ia memiliki gelarnya itu dan hidupnya damai, penduduk kampung menghormati nya dan biasanya mereka datang pagi-pagi menghaturkan selamat pertukaran tahun. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Hari itu, habis mengantar tetamunya pulang, It Jie menggeleng-geleng kepala dan sambil. menghela napas, ia berkata seorang diri : “Selagi suasana begini rupa, apakah yang harus dibuat girang ?” Justeru itu, dari dalam rumahnya ia mendengar suara ’eyah ! eyah’ dari bayi yang baru dilahirkan, di susul dengan letusannya petasan bambu yang berisik dan ramai ! Mendengar tangisan itu, Cin Su tersenyum dan berkata dalam hatinya : ”Kalau toh kegirangan maka itu mulainya saat hari ini ! Tambahnya satu anak akan membikin rumah tanggaku tambah gembira !” Seorang pembantu lalu daiang. akan memberitahukannya atas lahirnya seorang anak lalu ia berkata pada pembantunya: ”Kau sediakan empat macam barang antarkan untuk Toan Toaya, antarkan sekarang juga sekalian kau undang dia datang kemari untuk minum arak !” Sambil berkata demikian ia heran dan berpikir : “Setiap tahun baru dia lah yang datang paling dulu memberi selamat padaku, kenapa hari ini dia tidak datang atau mungkin terlambat?” Pembantu itu menerima baik perintah majikannya, akan tetapi belum ia pergi, ia sudah tertawa dan berkata : “Loo ya, tak usah Toan Toaya di undang! lihat, bukankah ia sedang berjalan kemari?” Pembantu itu menoleh sambil menunjuk keluar dan dari luar terlihat seseorang sedang menuju rumahnya sambil mulutnya ber-senandung. „Haha, saudara Toan !” tertawa tuan rumah. “Kenapa kau baru datang ? aku telah menyediakan arak untukmu!” Toan Toaya itu namanya, Kui Ciang, berumur empat puluh lebih sedikit, tubuhnya kekar seperti orang yang mengerti ilmu silat, sebaliknya Su It Jie seorang sastrawan, maka http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

persababatan mereka agak ganjil. Tapi kenyataannya tidak demikian. Disamping ilmu silat, Kui Ciang paham ilmu surat. Tapi ia bukan penduduk asli Su Kee Cun. la datang baru sepuluh tabun lebih. Sebab ia jujur dan Bun Bu Coan Cay mengerti silat dan surat berbareng, maka It Jie suka bergaul dengannya, bahkan keduanya menjadi sahabat yang kekal Atas sambutan tuan rumah itu, Kui Ciang tertawa. “Ada sebabnya kenapa aku terlambat, saudara Su !” katanya. “Apakah itu ?”, ”Istriku baru melahirkan seorang bayi !” ,.Oh! selamat, selamat!” seru It Jie. ”Sungguh kebetulan ! apakah anakmu itu pria, atau wanita ?” Pria! sahut Kui Ciang. “Eh, kau berkata begitu apakah enso pun melahirkan.” It Jie tertawa. “Ya.” sahutnya. ”Aku hanya memperoleh anak perempuan.” ”Kalau begitu aku mesti menambah pemberian selamatku !” It Jie heran. Kui Ciang tertawa ”Saudara tahukah kejadian-kejadian belakangan in? ”. “Raja sudah merampas Yo Tay Cin Kui Hui. Yo Tay Cin itu isterinya pangeran Siu Ong Lie Mo Itulah ke jadian selama tahun Thian Po ke empit. Yo Khui Hui bukan main disayang Raja. Belum tiga tahun, ketiga kakaknya telah di angkat menjadi Tay Jin. Bahkan menurut kabar bulan yang lalu. kakak sepupunya, Yo Kok Tiong telah diang kat menjadi perdana mentri, hingga kedudukannya jadi sangat tinggi dan mulia. Inilah yang mengubah suasana, hingga kalau ada orang yang mendapat anak perempuan, sanak dan sahabat-sahabatnya http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pada berduyun-duyun datang memberi selamat. Katanya jaman sekarang mengutamakan anak perempuan bukan jaman menghargai anak lelaki, Kau telah mendapat anak perempuan, saudaraku, bukankah kau pantas diberi selamat dua kali lipat?” Tapi It Jie tidak senang : ”Jika aku meng hargai pangkat, pada sepuluh tahun yang lalu tidak nantinya aku pulang ke kampungku untuk hidup sebagai orang desa seperti sekarang ini !” katanya. ”Tidak puas aku menyaksikan segala manusia hina main gila. memenuhkan istana ! mana dapat aku menelad contoh Yo Kok Cong?”, Kui Ciang tertawa.” Jangan gusar saudara Su!. Mustahil aku tidak kenal sifatmu? aku hanya bergurau!” ia lantas menthela napas dan menambahkan lesu: ”keadaan sekarang menyedihkan hingga harus ditangiskan … makin lama pemerintahan makin buruk, hingga entah bagaimana jadinya . ...“ ”Sudahlah buat apa kita perbatikan urusan itu !” kata It Jie. “Mari kita minum sampai mabuk lalu keduanya minum sampai mabuk!. Lalu keduanya itu minum arak mereka masing-masing” It Jie berjanji sambil mengetuk-ngetuk meja. Ia menyanyikan syairnya Lie Tay Pek tetapi ia mengagumi Touw Hoe. Katanya ”Touw Hoe ada di Tiang an, diharuskan Raja berdiam didalam Istana, kalau tidak. Pasti suka aku pergi menemuinya,. .. “ Disebutnya nama Touw Hu membuat Kui Ciang ingat syairnya penyair itu. Ia tertawa dan katanya : ”Saudara Su, di antara syairnya Touw Hu ada kata kata mengenai terlahirrya anak anak laki dan perempuan, bahwa anak perempuan baik sekali, maka itu pantas kau diberi selamat berlipat kali, sekarang jaman kacau perang meminta korban kalau diingat memang lebih baik mendapat anak perempuan !” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

It Jie mengeringi tawanya. Masa bodoh syairnya Touw Hu itu ! katanya. “Tetapi sekarang aku ingat suatu …” ”Tentang anak-anak kita, bukankah mereka terlahir bersamaan dalam satu malam? Bagaimana jika kita berbesan ?” Kui Ciang diam sejenak lantas ia menjadi girang sekali. “Sebenarnya,” katanya, ”begitu aku mendengar kau memperoleh anak perempuan, telah ada dalam pikiranku itu banya aku tidak berani buka mulut, sekarang saudara yang mengajukannya, bagus sekali kebetulan aku mempunyai sepasang tusuk kondai kemala, baiklah itu dijadikan tanda mata. Ini dia !” Orang she Toan ini merogo sakunya dan mengeluarkan perhiasan rambut itu. Melihat tusuk Kondai itu It Jie melengak. Kemala itu licin dan bersinar, indah mirip kemala Kothein, pula di kepalanya ada bertaburan mutiara, yang terang bercahaya. ”Bagaimana dia mempunyai kemala mustika ini ?” pikirannya heran. Semenjak pindah ke Su Kee Cun, hidup-nya Toan Kui Ciang sempit sekali. Dia cuma mengandalkan beberapa murid, yang belajar silat padanya. Ada kalanya dia ditolong sahabatnya she Su. Sekarang dia mempunyai pesalin kemala berharga itu aneh, bukan? Meski demikian, ia percaya kejujuran orang ia tidak menyangka jelek. Kui Ciang dapat menerka hati sahabatnya, tanpa bertanya, ia memberikan penjelasannya. ”Selama tahun Ceng Koan kakekku tutut Jenderal Lie, Ceng berperang dengan bangsa Turki, di sana di Kotheun ia mendapatkan sepasang tusuk kundai kemala. Pulang perang, Baginda Thay Coang menghadiahkan sepasang mutiara asal Lam Hay. Kakekku memanggil tukang yang pandai, mutiara itu ditaburkan pada tusuk kundai itu. Selanjutnya barang perhiasan itu disimpan sebagai pusaka http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

keluarga Toan-Inilah sebabnya, meski aku hidup melarat, tak mau aku jual kemala ini.” ”Pantas saudara gagah, tak tahunya kau-lah turunan Jenderal !” kata It Jie. Di mulut ia berkata demikian, dihati ia heran, kenapa tak pernah Kui Ciang menuturkan sesuatu tentang leluhurnya itu. Itu toh suatu kehormatan ? Kui Ciang minum araknya, lalu ia berkata pula : , Aku tidak mempunyai ba-rang simpanan lainnya, kecuali ini, maka tak pernah aku pisahkannya dari tubuhku. Nama tusuk kundai ini ialah Liong Hong Poo Cee. Tusuk kondai yang satu berukiran naga-nagaan, dan yang lainnya burung hong. Sekarang yang burung hong ini aku jadikan tanda mata.” ”Kau memakai pesalin mustika, saudara, aku berterima kasih, “ kata It Jie. Ia sebenarnya berat menerimanya, akan tetapi mengingat, dibelakang hari barang toh akan kembali pada keluarga Toan ia menerima juga. Kemudian ia periksa kemala itu ia girang dan kagum. Ukirannya sangat bagus dan hidup la memuji. ”Sekarang coba saudara lihat yang naga ini, “ Kata Kui Ciang, sambil menunjuk-kan yang satu lagi. Kembali It Jie menjadi kagum. Yang naga ini tak kalah indahnya. Kembali ia memberikan pujiannya. “Sekarang ini dorna, mengusai Negara, entah bagaimana jadinya nanti,” kata Kui Ciang kemudian ”maka ada maksudnya kenapa sepasang kemala ini aku pisahkan, aku jadikan pesalin ia agak sangsi ia tidak berkata terus.” ”Apa maksudnya ?” It Jie bertanya, “kita sudah jadi sanak, diantara kita tak ada lagi. yang tak dapat diutarakan.” “Kau sadar saudara, meski hari ini harian tahun baru, aku percaya kau tidak akan menganggap aku bicara sial.. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

.aku maksudkan, andai kau di belakang hari keluarga kita bercerai , disebabkan bencana perang. anak anak kita bisa menggunakan kemala ini sebagai bukti untuk mereka melanjutkan pecakapan mereka. . . “It Jie tertawa. ”Saudara terlalu memikir jauh !” katanya. Tapi dalam hatinya ia berkata “Kita tinggal bersama didalam sebuah desa. Umpama benar terjadi perang kita tetap akan bersama juga ! mana bisa kita berpisah ?” walaupun demikian, karena orang bicara dengan sungguh-sungguh ia mau, percaya itu mungkin suatu alamat buruk. Ia paksa tertawa. Ia kembalikan kemala yang satu, “Anakku belum diberi nama. “ kata Kui Ciang kemudian, ”mengingat pengetahuan saudara luas tolong kau yang memilihkan dan memberikannya.” “Anakku juga belum diberi nama! kata It Jie tertawa. Waktu itu di luar rumah terlihat salju berterbangan, ada yang nempel di pohon bu-nga bwee. Melihat itu, tuan rumah menghirup araknya dan Katanya sambil tertawa. ”Aku paling suka bunga bwee. maka itu aku akan berikan nama Jiak Bwee pada anakku. Karena sekarang dorna memerintah dan mungkin saatnya datang untuk satu anak anak laki menunggang kuda untuk berperang, baik anak saudara dinamakan Kek Sia, Saudara setuju?”. Koei Ciang menepuk tangan. ”Bagus! bagus! ia memuji, Jiak Bwee berarti mirip bunga Bwee dan Kek Sia berarti menakluki kesetanan. maka nama nama itu ialah nama nama yang tepat.” ”Hah semoga setelah besar mereka tak menyia-nyiakan pengharapan orang tua mereka!” It Jie pun girang dan turut bertepuk tangan. Tapi pada waktu itu d luar terdengar suara berisik, dari terompet, dan jeritan anak anak. “Eh terjadi perkara apakah di luar?’ kata It Jie heran ”hari ini harian tahun baru, apa mungkin http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pembesar negeri memerintahkan hamba hamba nya memungut pajak? Mari kita lihat!” Koei Ciang setuju, maka keduanya bangkit dan ke luar Maka setibanya di depan kedua besan ini dapat melibat debu beterbangan,yang disebabkan sebarisan serdadu, yang seragam dan senjatanya berkilau dan kudanya pilihan serdadu yang paling depan membawa sehelai bendera sulam benang emas yang lebar dan mentereng yang bersulamkan huruf “An” yang huruf sulamnya indah. Disusul oleh dua pembawa bendera lain, hanya kedua bendera ini bersulamkan huruf huruf ’Peng Louw Ciat Touw Su’ dan ’Hoan yang ciat touw su’. Dijaman Tong, pangkat Ciat Touw Su suatu pangkat penting. Didalam suatu kota, atau daerah, Ciat Touw Su menguasai pemerintah militer dan sipil, hingga dia mirip Raja kecil. Sekarang satu orang merangkap jabatan Ciat Touw Su dari dua kota. itulah hebat dan belum pernah terjadi dulu. “Akhirnya An Lok San!’. kata Su It Jie, hatinya bercekat. Dijaman itu, nama An Lok San tak ada yang tak tahu atau mendengamya, hanya orangnya baru kali ini Su It Jie melihatnya. Seragamnya mentereng sekali sikapnya garang. Dia duduk diatas kudanya, dan diiringi oleh hamba dan hanya sambil berseru-seru anak anak jangan perduli segala kunyuk di tengah jalan: ”Injak mati pada mereka. Tidak ada perkara-nya! larikan kudamu! hari ini Tayjin hendak pergi ke kota Tiang an untuk memberi selamat tahun baru pada Kui Huei Nin nio!”. “Kui huei Nio nio” ialah ‘Yang Mulia selir Raja’. An Lok San ketika baru tiba di Tiang-an kota Raja, dia langsung menempel Yo Kui. Meskipun dia berusia lebih tua, selir Raja itu mengakui dia sebagai anak angkatnya. Karena itu dihari tahun baru ini dia mesti memberi selamat tahun baru kepada ibu angkatnya itu! Dia sudah diangkat jadi Ciat Touw Su kedua kota Peng louw dan Yang Hoan, dia belum puas dan ingin menjadi Ciat Touw http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Su wilayah Hoo Tong. Maka ia perlu mengambil hati ibu angkatnya itu! Di hari tahun baru semua orang bersuka ria, demikian juga di dusun Su Kee Cien dan sekitarnya orang saling berkunjung dan memberi selamat, anak anak tak terkecuali banyak diantara bermain melempar uang didepan jalan. Pada saat itu lewatlah An Lok San dengan barisan pengiringnya yang garang, maka tidak ampun lagi rombongan anak-anak itu menjadi korban cambukkan bitigga menangis menjerit dan lari. Diantara dewasapun ada beberapa korban hingga tak ada orang yang berani menolong anak-anak itu. Tiga bocah dibawah usia sepuluh tahun menjadi lemas, tak dapat nienyingkir. Berarti mereka akan jadi korban kaki kuda. Tiba-tiba melesat sesosok bayangan. menyambar kedua bocah di tangan kiri dan kanannya, kedua bocah itu dileparkan kepinggir jalanan. Tinggal bocah yang ketiga. Dan waktu itu seekor kuda lari kearahnya, dan penunggangnya memukulkan cambuk kearahnya Melihat ada orang ditengah jalan, kuda itu berjingkrak mengkat tinggi kedua-kaki depannya, celakalah penolong itu berikut sibocah, tapi dia gesit dan berkelit ke kiri. Hanya tak dapat dia lolos dari cambuk, sehingga bajunya robek Su It Jie mulanya mengira Toan Kui ciang, sahabatnya tetapi setelah ia melibat jelas ternyata penolong itu ialah seorang desa yang muda. Ketika barisan sudah lewat, pemuda itu menurunkan sibocah seraya berkata :”Tolong paman antarkan anak ini”. Dan kebetulan orang tua anak-anak itu datang mencari anaknya masing-masing. Juga sejumlah orang lainnya datang berkumpul. Ketika iiu. diam-dlam pemuda desa itu pergi ketika orang hendak menghaturkan terima kasih padanya, ia sudah lenyap . . . Su It Jie tidak kenal pemuda itu Tanpa menoleh, ia bertanya kepada Toan Kui ciangg: “Apakah saudara kenal dia?” dan ternyata dia tidak memperoleh jawaban Ketika ia berpaling http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sahabatnya itu tak ada disisinya langsung ia mencari. Dan ia melihat sahabat-nya sudah pergi jauh dan cepat sekali dengan kepalanva dikerobongi seperti takut dingin. Sebentar saja Kui ciangg sudah sampai dibawah pohon besar di depan rumahnya. It Jie mau memanggil sahabatnya itu, tetapi ia merasa heran ”Kui ciangg” suka menolong orang dan bukannya seorang pengecut tetapi kenapa tadi dia tak suka menolong anak-anak itu dan dengan diam-diam dia berlalu sampai dia tidak menyapa lagi padaku? Ah mungkin dia takut ada yang mengenalinya ? tanpa memanggil lagi, ia berjalan cepat pulang, Sampai didepan rumah-nya Kui ciangg sudah menanti diambang pintu. begitu ia masuk pintu langsung ditutup sahabatnya itu, yang terus bertanya : ”apakah barisan serdadu itu sudah pergi jauh ? ” ”sudah’, sahut It Jie ”mari kita bicara di dalam!” Kui ciangg memotong, It Jie heran bukan main. Mereka masuk, disini Kui ciangg mengunci pintu pula. “Saudara Koan”‘ tanja It Jie, karena heran sehingga ia jadi curiga, “apakah kau pernah melakukan suatu pelanggaran ? Kui ciangg menyeringai. Ia menuang arak dan menghirupnya sekali teguk, Apakah saudara mencurigai aku pernah melanggar undang-undang?” dia bertanya sambil menatap. “Tidak sama sekali !” It Jie mengawasi. “Yang benar ialah dengan satu bajingan!” aku pernah bentrok

“Saudara” kata It Jie, heran , ”kau bukannya seorang pengecut, kenapa kau nampak jeri terhadapnya?”

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang menghela napas. “Panjang untuk menutur”, katanya masgul. ,Saudara kira siapa bajingan itu? dialah An Lok San si Ci at Touw Su dari Peng Louw dan Hoan Yang yang barusan lewat itu!’” ‘Ah, An Lok San’, It Jie terkejut, ‘Ya’ sahut Kui Ciang. ”Sudah beberapa tahun belum pernah aku menuturkan hal-ikhwalku, sekarang waktunya. Aku anak Yu Ciu, aku pindah kemari untuk menghindar dari An Lok San itu!” It Jie mengawasi, ia tidak memotong kata-kacanya, Kui Ciang menghirup pula arak-nya, lalu melanjutkan ; “kakekku berulang-ulang membuat jasa hingga dia diangkat menjadi panglima di kota Ya Ciu. suatu jabatan militer tak tinggi dan tak rendah. Sayang sekali ayahku mati muda maka itu aku mewariskan kepandaian silat kakekku itu Dalam usia muda aku bercampur dengan pemuda-pemuda yang tak karuan aku menganggap diriku sebagai seorang gagah yang. berhati mulia, dan aku suka mencampuri urusan yang tak adil. separuh dari kawan-kawan itu hanya mengharapkan menggemblok pelesiran kepadaku, Diantara yang satu ialah An Lok San, Ketika itu dia belum memakai she An” Masih It Jie berdiam. ia mendengarkan sambil mengawasi sahabatnya. ”Lok San berasal orang bangsa Ouw diwilayah Barat”, Kui Ciang melanjutkan “Dia she Khong ibunya orang Turki, yang menikah dengan An Yan Yan sehingga dia memakai she ayah tirinya.” ”Sudah tak perduli asal usulnya!” kata It Jie. tertawa, “Dia An Lok San, dia tetap An Lok San!, kemudian bagaimana?.” “An Lok San rnengerti enam bahasa asing, maka itu dia menjadi Hoe Sie Long, Di Yu Ciu itu tinggal bercampuran http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pelbagai bangsa, tugas Hoa Sie Long ialah mengurus segala urusan dagang dan lainnya diantara bangsa itu juga menjadi juru bahasa. penterjemah andaikata mereka tak mengerti jelas pembicaraan satu dengan yang lain. Dengan demikian dia mendapat ketika mengakali kaum saudagar. Di muka umum dia tampak mulia dan murah hati, suka menolong sesamanya dia juga mengerti silat. Mulanya aku tidak tahu sifat aslinya itu aku jadi suka bersahabat dengannya. Baru belakangan aku mengetahuinya. Pernah aku memberi nasihat padaaya. Di depanku dia mendengar, dibelakangku tindakkannya makin jadi. Demikian satu kali, dengan surat palsu dia memeras seorang saudagar, dia minta gadisnya saudagar itu, baru urusan akan dibikin habis. Hal itu ketahuan olehku aku hajar dia. Sesudah iiu aku putuskan persahabatanku An Lok San lalu besoknya dia menghilang. Selang beberapa tahun, tahu-tahu dia telah menjabat Peng Ma Su dalam pasukan tentara kota Peng Louw. Dia ditolong ayah tirinya yang memperkerjakannya di bawahan Ciat Touw Su Thio Yu Kui dari kota-Yu Ciu. Dia pandai bekerja, dia cepat meningkat. Belum dua tahun, dia sudah diangkat jadi Ciat Touw Su muda kota Peng Louwdengan kedudukannya di kota Yu Cie. Ketika itu, aku telah menghambur-hamburkan warisan kakekku, aku telah ditinggal pergi kawan-kawanku. Aku tahu An Lok Sin bangsa Soauwjin, manusia rendah hina-dina. Aku kuatir dia membalas dendam padaku, maka aku langsung meninggalkan tempat kediamanku itu. Buat beberapa tahun aku merantau, sampai aku tiba menetap di sini. Siapa sangka, hari ini aku bertemu dengannya. di sini. Saudara Su, aku kuatir hari ini pun hari perpisahan kita …” Mendengar keterangan itu, Su It Jie tidak menjadi kaget.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

”Aku kira perkara besar bagaimana,” katanya. “Itu hanya perkara di masa muda, setelah lewat beberapa tahun mungkin An Lok San sudah tidak ingat lagi !” ”Sebaliknya, saudara Su. An Lok San menganggap itu sebagai malu besar, sampai dia matipun mungkin dia tak akan melupa-kannya. Jika aku tidak menyingkir, bencana mungkin menjadi hebat. Aku tidak takut mati tapi aku tak suka perkaraku merembet kepada anak isteriku dan sababat atausanakku juga! An Lok San sedang berpengaruh. Tidakkah saudara lihat bagaimana sikapnya barusan?” It Jie mengerti tetapi ia masih tidak memandang sehebat pandangan sahabatnya. Iapun berat berpisah dengan sahabat, yang telah menjadi besarnya ini. Tadi ada banyak orang tak mungkin dia melihat kau, saudara,” katanya menghibur. ”Tetapi pepatah mengatakan berjaga-jaga paling baik. Kita harus memandang dan sudut yang buruk kalau kita menanti sampai bencana datang pasti sukar kita menghindarnya. An Lok San menjadi anak angkat Yo Koei, dia tentu sering mundar mandir dan lewat disini, lama-lama mesti dia melihat aku. “Kita bersahabat, kitapun telah berbesan.’ kata It Jie. Maka kalau saudara mau pergi mari kita pergi bersama.” Kui Ciang heran, iapun bersusah hati. “Kau baik sekali, saudaraku.” katanya, masgul. “Mana dapat kau rnengikuti aku? itu berarti penderitaan, lagi pula sekarang isterimu baru melahirkan…. “ It Jie tertawa. ”Apakan isteri saudara juga baru bersalin bukan?” dia balik menanya. ”Isteriku mengerti silat, tubuhnya kuat?” kata Kui Ciang, “‘kapan perlu. dia dapat berangkat sembarang waktu. Tidak demikian dengan istrimu! mana dia sanggup menderita dalam perantauan?”. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

”Meski begitu, buat berangkat tak mungkin saudara berangkat sekarang juga,” kata It Jie yang masih tetap memandang urusan secara enteng. “Sekarang An Lok San pergi ke Tiang an sedikitnya sehabis Goan siauw baru dia pulang ke Yu ciu. Benar istrimu kuat , ia tidak seharusnya menempuh perjaianan sekarang. Aku pikir baiknya saudara menanti lagi sepuluh hari atau setengah bulan, baru kita berangkat bersama sama.” Kata kata itu beralasan, Kui Ciang dapat mempertimbangkannya. Memang. tak mungkin An Lok San lekas pulang ke Yuciu. Kalau An Lok San mau mencari dia, tentu itu dilakukan nanti dalam pcrjalanannya pulang ke Yu ciu. ”Baiklah,” katanya kemudian. “Baik kita berangkat satu hari di muka Goan siauw.” Goan siauw adalah cap go me, perayaan tahun baru hari kelima belas. Sampai disitu It Jie bertanya kepada sahabatnya kalau ia kenal pemuda tadi, yang gagah dan hatinya mulia. Kui Ciang menggeleng kepala. “Aku tidak kenal, melihatpun tidak, ‘ katanya heran.” Aku menyingkir selekasnya aku melihat An Lok San. Kalau begitu, itulah peristiwa tadi…….” Kui Ciang masih duduk berbicara sekian lamanya, sesudah rombongan An Lok San pergi sepuluh li. ia meminta diri seraya mengundang It Jie besok datang kerumahnya. Sesudah mengantar sahabatnya sampai diluar. It Jie masuk kedalam, melihat isterinya. Isterinya lemah, sebaliknya bayinya sehat dan mungil, hingga ia menjadi girang sekali. Ia tuturkan kepada isterinya mengenai perjodohan bayinya Kui Ciang dengan bayinya sendiri dan menunjukkan tusuk kundai kemala yang bertaburan mutiara mustika itu. Tapi tentang niatnya menyingkir dari ancaman An Lok San, ia beium memberi tahukan isterinya ia kuatir isterinya yang masih lemah, menjadi terkejut. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Nyonya Su, Louw Sie. Dari keluarga hartawan di Hoo tong. Tetapi melihat tusuK kundai kemala itu. Dia kagum. ”Aneh saudara Toan mernpunyai kemala ini! katanya. inilah sebab ia tahu Kui Ciang miskin.” Louw sie tidak memandang hina kemiskinan keluarga Toan, ia tidak menentang keputusan suaminya berbesan dengan keluarga itu. Ia memang lebih setuju puterinya dinikahkan dengan orang yang mengerti silat. ”Hanya, aku agak kuatir …” katanya. ”Apa itu,isteriku ?” ”Dia meski tapi dia mempunyai kemala ini …” ”Apakah kau mengira kemala ini didapat dari jalan tak halal?” ”Bukan. Aku percaya dia bukan sembarang orang. Kalau dia bukan turunan orang berpangkat tinggi, dia mesti dari golongan orang gagah. sebangsa “Keng Ko atau Liap Ceng”. Mengapa dia puas hidup melarat disini? tak mungkinkah dia pernah menerbitkan, onar besar ?” Diam-diam It Jie mengagumi pandangan. isterinya itu. “Aku pun mulanya mencurigai saudara Toan harya aku tak menerka sebagai isteriku,” katanya di dalam hati. Masih ia menyembunyikan urusan Kui Ciang dengan An Lok San, melainkan ia katakan: “Kau benar saudara Toan dari keluarga panglima perang. Mungkin saudara Toan ada musuh-nya tetapi aku rasa tak usalah kita menguatirkannya. Habis memesan isterinya menyimpan tanda mata itu. It Jie keluar pula untuk mengunjungi saudaranya yang usianya lebih lanjut maka sekalian ia mendengar sesama penduduk kampungnya masih ramai membicaran kegalakan An Lon San, yang mereka kutuk, sebaliknya mereka puji si anak muda tidak dikenal. Ia pun lega hatinya. Ia tidak mendengar bicara http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

didusunnya ada orang asing. Maka pikirannya: “kalau An Lok San mengenali Kui Ciang seharusnya dia mengirim orang untuk menyelidikinya.” Sampai malam baru It Jie pulang sehabis bersantap setelah jauh malam ia masuk ke kamar tulisnya. Isterinya baru melahirkan, ada bidan yang menemaninya. Ia tidur pisah, Ketika itu sudah jam dua kira-kira. Begitu ia masuk kamar tulis ia tercengang .. Di situ ada seorang yang tidak dikenal mukanya orang itu berewokan dan karena, pakaiannya seragam militer. Belum ia sempat menyapa orang itu sudah bangkit dan memberi hormat padanya sambil tertawa dan berkata: “maafkan aku yang menjadi tamu tanpa diundang. Mengingat saudara To An pun orang Kang ouw, kau tentu tidak merasa aneh bukan?” Meski ia pelajar lemah, It Jie tidak kaget Begitu ia dipanggil ‘’saudara Toan’ ia langsung menduga kepada duduknya perkara. Pikirnya : “tadi Kui ciangg menyingkir ke rumahku ini, pantas orang salah menerka.’ “Kau siapa tuan?” ia bertanya. “Ada urusan apa tuan datang kemari? tolong kau terangkan”. Ia berlaga pilon. Baru sekarang ia mulai kuatir. Opsir itu mengawasi. ia berpikir : “An Tayswee bilang dia pandai silat dan lihay, kenapa dia sekarang mirip pelajar yang lemah-lemah? apakah dia terkejut dan takut atau dia berpurapura?” ia langsuig duduk dan berkata; “Aku Tian Sin Su berpangkat Piau kie Jiang kosen dibawahan An Tayswee, Jiat touw su dari Peng louw.” Ia mengulangi she dan namanya itu dan menulisnya juga dimeja dengan air teh, tetapi tangannya kuat di meja itu terlihat tapak jarinya. Ia bicara dengan lagu suaranya orang Shoatang.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sengaja opsir ini berlaku melit demikian. Dia orang kang ouw atau Sungai telaga, kalangan Hek Too. Jalan Hitam, yang kesohor, dia ingin orang mengenalnya dan menjadi ciut hatinya. Dia menghendaki ”Toan Kui Ciang ‘ jeri kan tak berani melakukan perlawanan. Tapi Su It Jie tidak mengerti silat dan tidak kenal dia. It Jie pun sudah lantas berpikir. “Kiranya Tian Jiang kosen!” katanya, tawar tak nampak dia jeri. “Memang sudah lama aku mendengarnya. Silakan Jiangkosen memberi tahukan maksud kedatangan jiangkosen”. “Benar dia pandai berpura-pura,” pikir Sin Su, yang melihat orang tak takut. Maka ia makin percaya orang benar Toan Kui Ciang Ia merabah kemeja, membikin lenyap tulisnya yang sedikit melesak itu, Ia tertawa dan kata : ”Aku tidak sangka tuan telah mengenal namaku, Kita sekarang berkedudukan lain tetapi kita asal dunia Kang Ouw, dari itu aku minta sukalah kau memberi muka padaku supaya aku tak merasa sulit.Tuan, mari kita berangkat bersama!” It Jie tetap berpura pilon. ”Kau aneh, Tian Jian Kun. Kita tidak kenal satu dengan lain. kau hendak mengajak aku pergi kemana ? Aku belum pernah mengalami ada orang mengundang tetamu tengah malam buta-rat begini“ Mendadak Tian Sin Su berjingkrak bangun, wajahnya tegang. ”Tuan Toan”, katanya, keras ”kau orang kenamaan dan aku datang memakai cara hormat kaum Kang Ouw, mustahil kau menghendaki tak meminum arak kehormatan hanya arak dendaan? Kau mau turut atau tidak, kau bilanglah! Jangan kau berpura-pura saja! Apakah begini caranya seorang enghiong?” It Jie tertawa.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Aku bukan enghiong: aku memang tak ketahui maksud Tiah Jiangkosen ! mengundang orangpun harus dengan penjelasan maksudnya undangan?” ”Oh, kau rnenghendaki maksudnya?” Sin Su mengulangi. ”Baiklah. kau boleh tanyakan kepada An Tayswee kami nanti !” “Oh, undangan jadi datang dari An Lok San ?” tanya It Jie, menegasi. ”Ya, An Tayswee pun memesan, biar bagaimana, kau mesti dapat diundang datang. tak dapat kau tak pergi !” ia berhenti sedetik, la!u merobah suaranya menjadi lunak : “Tuan Toan, kau cerdas, tak usah aku menjelaskannya Aku ini diperintah, aku bekerja turut perintah. maka itu aku minta janganlah kau persulit aku.” It Jie lagi mengulur waktu. Ia sangsi, pergi atau tidak ? Kalau ia pergi, tak tahu ia apa jadinya nanti. Ia benci bangsa dorna, dengan begitu dengan sendirinya ia membenci An Lok San si hina-dina Kalau ia tdak pergi, ia kuatir untuk Kui Ciang, sahabat dan besannya itu. Dengan tidak pergi, ia mesti menjelaskan hal itu bukankah hal itu berbahaya untuk Kui Ciang sendiri. “Ah, baiklah aku pergi,” pikirnya. “Kalau An Lok San tahu orangnya salah menangkap. dia tidak akan bunuh aku. Kalau Toan Toako yang pergi, ia pasti akan dihina ! mana mungkin ia mau mengerti ?” maka ia tertawa dan berkata : “An Tayswee kenal aku dan dia mengutus satu jenderal mengundang aku, inilah satu keborinatan besar ! inilah harapan baik untukku ! siapa tahu kalau aku akan memperoleh pangkat? hahahaha ! aku telah diundang tak dapat tidak aku pergi !” Hati Sin Su sudah tegang. ia meraba bahwa ia akan menggunakan kekerasan, maka legalah hatinya mendengar perkataan orang itu. Ia tertawa dan berkata : ”Benar-benar tuan cerdas katanya kau dan An Tayswee sahabat-sahabat http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

lama, maka asal kau suka bicara baik. pasti tentulah kau memperoleh pangkat. Tuan Toan, aku telah menyiapkan kuda, mari kita berangkat !’”‘ ”Eh, begitu kesusu!” kata tuan rumah “Mana mungkin bilang berangkat langsung berangkat!” Sin Su terperanjat, wajahnya suram, Tapi lekas dia tertawa. ”Tuan mempunyai urusan apa?” dia bertanya ”An Tayswe pesan supaya. tuan datang sebelum terang tanah! aku dapat menanti tetapi Tayswee sendiri tak dapat menganggur menunggui kau!’ “Aku toh harus pamitan dengan keluargaku. bukan?” tanya It Jie. Sin So tertawa, “Jika bukannya aku sudah mengetahui kau pasti aku menyangka kaulah satu Siu cai si-kutu buku buat apa main pamit-pamitan lagi? lagi pula mana ada tempo untuk kau bicara banyak? bagaimana kalau isterimu menangis? sampai siangpun tentu kita belum tentu berangkat! lagi pula sekarang tengah malam, mana dapat kau membuat terkejut keluargamu?” ia berkata begitu, didalam hati ia pikir; “Toan Kui Ciang ternama besar mengapa dia tidak tahu aturan Kang Ouw? kenapa tak miripnya ia dengan orang sungai telaga?” It Jie dapat membaca hati opsir ini. ia memang bukan mau pamitan dari isterinya itu. Tak mau ia membuat takut dan kuatir. Ia memikir lain. Ia telah menduga Sin Su pasti akan menolak, Ia merasa lega mengetahui Sin Soe tidak menyebutnyebut keluarganya “Kau benar, Ciangkun,” ia berkata ”Tapi aku sedikitnya harus meninggalkan surat bahkan aku tak tahu kapan aku akan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pulang? surat perlu untuk membuat isteriku tidak terkejut, bingung dan kuatir.” Sin Soe terlihat terdesak. „Baiklah kata nya, kau boleh menulis sarat tapi jangan kau sebut sebut An Tayswee cukup kau beritahukan kepergianmu itu kalau nanti kau pulang akan memperoleh kehormatan.” „Aku mengerti!” It Jie tertawa. „Aku tidak akan sebut An Tayswee!” dan ia langsung menulis suratnya bunyinya memberitahu kan ia pergi untuk satu urusan, dan berpesan kalau ada kesulitan, isterinya boleh minta bantuan saudara dan sahabatnya. Sin Soe melihat orang menulis dia berdiam saja. It Jie melipat suratnya, ia letakkan di tengah meja sambil melakukan itu ia berkata dalam hatinya : “isteriku cerdik kalau besok kau membaca suratku ini, tentu kau dapat menerka aku dalam bahaya, dengan demikian dia pasti akan memberitahukannya Toan Toako. Isteriku tentu berduka tapi itu lebih baik dari pada ia berduka sekarang. Toan Toako pasti dapat mengantar keberangkatan mereka bersama-sama. , . “ Sin Su orangnya pandai tapi dia kurang pengalaman. Tian Sin Su pandai bekerja, terutama An Tayswee nya . . . . . ”perlahan sedikit,” katanya ketika mereka hendak berjalan keluar, Setibanya diluar, ia langsung lompat naik ke atas genteng. Ketika ia menoleh ia tidak melihat ada orang, kemudian apapun turun. ”Apakah kau tidak jadi pergi?” “aku berada di rumahku untuk pergi keluar rumah tak pantas aku berlaku seperti !” sahut It Jie , “Kita dapat mengambil jalan pintu depan”.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kata-kata itu tepat. Demikian seharusnya tindakan orang kang ouw kenamaan. walaupun dia diancam dan dipaksa, tapi dia harus jalan melalui pintu depan. Itu nama-nya kehormatan. Kembali Sin Soe kalah meskipun di dalam hatinya ia merasa tidak senang tetapi ia menurut dan mengambil jalan dari pintu depan. Tiba di luar It Jie melihat tiga ekor kuda sudah siap dengan pelananya, gopsir dengan pakaian hitam maju sambil memberi hormat ia berkata: “Inikah tuan Toan ? Aku Sie Siong. Dahulu aku pernah tinggal di Yu Cie, dan aku pernah mengagumi nama tuan maka hari ini aku senang bertemu denganmu !” An Lok San mempunyai beberapa bawahannya yaitu Ko Sen, dan Sie Siong ini adalah salah satu diantaranya. It Jie membalas hormat seraya berkata ia pernah dengar nama besar orang she Sie itu. Kata kata ini membuat orang senang dan tertawa terbahak bahak. „Kabarnya”, kata Sin Soe ”untuk urusan keluarga Lie di Ceng Hoo Kauw kamu hampir bentrok, benarkah itu ?”. „Benar“ sahut Sie Siong, gembira. „Waktunya juga sudah ditetapkan tapi kemudian muncul muridnya Hong Jam Kek, pertempuran di batalkan secara damai, sehabis itu kita berpisah. Hahaha ! inilah peristiwa empat belas tahun yang lalu. Sin Su tertawa.” Selanjutnya kita akan jadi kawan sejati, maka kami bergaulah erat-erat. It Jie tidak tahu peristiwa Ceng Hoo Kauw itu, ia hanya bicara sekedarnya. Ia mau selekasnya berangkat jadi tak ada waktu untuk mengobrol. Sin Su berjalan di depan, Sie Siong di belakang. It Jie diapit di tengah Sie Siong asalnya seorang penjahat besar, mahir dalam ilmu pedangnya San Kog Kiam Hoat. Ia di-tugaskan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengikuti Tian Sin Su supaya ia dapat membantu apabila Sin Su menghadapi perlawanan. It Jie duduk di punggung kuda dengan pikiran yang kacau. Ia berpaling ke arah rumahnya. Ia sangsi memikirkan isterinya. ia tak tahu ia dapat bertemu dengan isterinya lagi atau tidak. Begitu pula dengan anak perempuannya. Bagaimana sedihnya si anak apabila sampai besar dia tak pernan melihat, ataupun mengenali ayahnya ? ia juga heran kenapa, selama Sin Su berada di rumahnya tetap sunyi ? bukankah ia berdua telah berbicara beberapa kali agak keras suara mereka? Mungkin isterinya tidur nyenyak, tapi bagaimana dengan pembantunya serta bidan ? Cin Su ini tidak bisa menunggang kuda tapi ia tidak memperoleh kesulitan, Kudanya itu kuda biasa dipakai di medan perang, tanpa kendalian, dia dapat lari. Kota Tiang-an terpisah hanya enampuluh lie, maka dalam tempo dua jam, mereka bertiga sudah tiba. Mereka berhenti di kaki bukit di mana ada sebuah rumah besar, yaitu gedungnya An Lok San. Ketika itu sudah jam lima, Sin Su dan Sie Siong tamunya masuk dari pintu pojok dimana tamu tersebut diminta menunggu di Pek Houw Tong, diruang harimau putih, tempat berkumpulnya para wie su pengiring atau pahlawan pribadi. Dengan gembira Sie Siong memperkenalkan, “Tuan ini ialah tuan Toan Kui Ciang abli pedang kenamaan Yu ciu, dan di belakang hari kamu dapat memohon pelbagai petunjuk darinya.’ Di dalam ruangan itu ada beberapa wie-su. Mereka semua heran dan ada yang beseru ”Oh !” mereka bangkit untuk memberi hormat. Diantaranya ada yang heran kenapa Toan Kui Ciang itu mirip Siucay seorang pelajar. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Su It Jie membawa sikap luar biasa. Ia duduk dengan tenang, siapa memberi hormat padanya, dibalas dengan mengangguk secara tawar. Seorang wie-su berkata : ”Toan Tayhiap luas pengetahuannya, aku ingin menanyakan sesuatu, dapatkah ?” ”Jangan menggunakan banyak adat peradatan. Bicaralah !” kata It Jie seraya mengangkat tangan, mencegah. “Selama belakangan ini ada Khong Khong Jie yang terkenal lihay apakah tayhiap ketahui hal-ikhwal dia ? kami berniat mengundang orang kenamaan itu, apakah tayhiap dapat menunjukkan jalannya?” „Apa itu Khong Khong Jie ? Aku belum pernah mendengarnya,” sahut It Jie. Para wiesu terkejut. Mereka bungkam, mereka beranggapan Toan Kui Ciang ini tak memandang pada Khong Khong Jie. Mungkin benar Kui Ciang pandai luar biasa. Sin Su tersenyum. ”Bagaimana ?” tanya seorang wie-su. “Sulit“ sahut wie-su itu.” Yang tua pandai, entah ilmu silat dari kalangan mana Ada lagi yang muda, entah muridnya atau bukan, dia mirip anak dusun tetapi dia hebat sekali. sampai Thio Tong-nia kena dilukai.” ”Apakah parah lukanya ?” Sin Su bertanya. ”Syukur dia tak cacad. tapi sedikitnya dia meski istirahat tiga bulan Tian Ciang Kun tampaknya kau harus turun tangan sendiri …” Mendengar disebutnya si pemuda dusun, It Jie ingat peristiwa didepan rumahuya. Piauw-kie Ciangkoan tertawa. ”Toan Toako sudah datang, biarlah jasa ini diserahkan padanya!, Toan Toako, bukan kah kau dapat menolong luka tusukan jarum rabasia Bwee-hoa ciam ? http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Belum sempat It Jie menyahut, di ambang pintu terdengar suara nyaring : ”Tayswee menitahkan Tian Ciangkun berdua Sie Ciang Kun mengajak Toin Kui Ciang menghadap ! Itulah tanda terang tanah dan An Lok San sudah datang di kantornya. Sin Su dan Sie Siong langsung membawa It Jie, baru mereka menaiki tangga sudah terdengar suara An Lok San tertawa dan berkata dengan nyaring : ”Sahabat Toan, dahulu kau mengatakan aku pengangguran dan bajingan tak ada gunanya, hari ini kita lihat bagaimana ? kau yang maju atau aku ?” It Jie sengaja tunduk dan menutup mulut Sin Su jauh lebih tinggi darinya, maka An Lok San tidak dapat melibat jelas padanya. „Toan Kui Ciang, kau takut toh ?” katanya pula. ”Mengingat persahabatan kita, kau mengangguklah padaku dan mengaku salah, suka memberi jabatan pada kau ! Aku kekurangan seorang tukang rawat kuda, suka aku menghadiahkan jabatan itu padamu !” la berkata demikian tetapi di dalam batinnya ia berpikir : „Setelah kau mengangguk dan mengaku salah aku akan perintah orang memotong lututmu dan memusnahkan ilmu silatmu, agar seumur hidupmu terhina ! Itu lebih baik daripada aku membabat kutung tubuhmu menjadi dua potong!” Ketika An Lok San kesenangan tiba-tiba Su It Jie mengangkat kepalanya dan berkata nyaring : ”Aku yang rendah pernah lulus sebagai Cinsu dan pernah memangku pangkat longkoan. Sekarang Tayswee menghendaki aku merawat kuda, itu tak cocok dengan undang-undang pemerintah agung ! untuk itu mungkin harus diajukan dahulu surat permohonan kepada Sri Baginda Raja untuk meminta perkenan dan supaya kedudukanku dihapus dulu !” Memang ada aturannya Kaisar Tong Cong Lie Sie Bin, yang menghargai kaum pelajar, untuk memberi kebebasan kepada setiap pelajar yang pernah turut dalam ujian negeri, lagi pula http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pelajar pelajar yang telah mencapai tingkat tiga, seperti Cinsu itu. An Lok San terkejut, dia langsung mengawasi dengan mata membelalak. “He, siapa kau ?” tanyanya keras. “Mengapa kau datang kemari ?” ”Akulah Cinsu dari kerajaan Tong yang agung, namaku Su It Jie !” sahut Cinsu itu. ”Tentang sebabnya meugapa aku dalang ke-mari, kau tanya saja ini kedua Ciangkun!” An Lok San langsung memukul-mukul meja. ”Gila-gila ! Aku perintah kamu membekuk Toan Kui Ciang, kenapa kau tangkap orang ini ?” Tian Sin Su kaget bukan main, dia rnengeluh ditempat yang salah, ia berkata cepat. “Benar-benar kami sudah pergi kerumah siorang sbe Toan Benar-benar aku telah mengatakan Tayswee mengundang Toan Kui Ciang langsung orang ini mengikuti kami” “Kapan aku katakan bahwa aku Toan Kui Ciang?” tanya It Jie. ”Kamu sendiri memaksa aku mengaku jadi Toan Kui Ciang. kamu paksa tingkahmu galak seperti malaikat jahat ? mana dapat aku membantah ? mana berani aku melawan paksaanmu ? kau sendiri yang mengatakan kau sudah mendatangi dan memuasiki rumah keluarga Toan !, Ciat-touw su boleh kau mengirim lagi orang-orang untuk melakukan pemeriksaan! Di kampungku tak ada orang yang tak mengenal aku! Agar kau mendapat kepastian rumahku keluarga Su atau rumah keluarga Toan!” Sie Siong terpaksa maju kemuka, ”Mungkin kami membuat kekeliruan,” katanya “akan tetapi Tayswee sendiri melihatnya di siang hari orang yang berkerundung kepala itu lari masuk kerumah dia ! Tayswee mengenalnya sebagai Toan Kui Ciang dan dia masuk ke dalam rumah ini untuk bersembunyi, maka http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bagaimanapun dia harus dicurigai! mereka ada hubungannya satu dengan yang lain ! untuk menangkap Toan Kui Ciang, Tayswee harus bertindak dari orang ini!” Dia orang itu menjadi Kee-ciang yang dipercaya, An Lok San suka memberi muka kepada maka itu, habis menegur ia memandang Su It Jie. ”Kau juga bukan mahluk baik-baik !” bentaknya, ”jangan kau andalkan gelar Cinsumu itu! dimataku gelarmu tak berharga sedikitpun! untuk membunuh kau sudah seperti menginjak semut! Lekas katakan, dimana Toan Kui Ciang itu” Tepat pada waktu itu, seorang hamba masuk. ”Ada apa?” tanya An Lok San membentak. wiesu itu menekuk sebelah kakinya, “harap Tayswee ketahui keluarga Toan Kui Ciang sudah diundang datang.” Tian Sin Su berdusta waktu dia mengatakan It Su bahwa keluarga Cinsu itu tidak diganggu. An Lok San ingin membekuk Toan Kui Ciang dan tidak akan keluarga Toan dberi lolos. Sin Su berdua ragu-ragu melayani Kui Ciang, maka itu mereka menggunakan akal bulusnya. Mereka berdua menangkap ”Kui Ciang” dengan akal kawan mereka, yang bersembunyi diatas genting! Nyonya Su semua ditahan dengan mudah, sebab sedang Sin Su melayani It Su bicara, Sie Siong Su dan menyulut hio yang asapnya membuat istrinya tidur tak sadarkan diri. An Lok San tertawa. “Bagus! “katanya” sekarang aku mau lihat, kau menghendaki isteri dan anakmu atau tidak? kau menyerah atau tidak? Hahaha?” Belum berhenti tertawanya Ciat-touw-su, It Jie sudah membentak: “Bajingan jahat jangan kau keterlaluan! apakah salahnya Toan Toako terhadapmu! sungguh menyedihkan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Pemerintah Agung telah memakai kau sebagai jenderal! jika aku mati sebagai setanpun aku tidak memberi ampun padamu.” Mendengar anak-isterinya ditangkap Cin-su menjadi naik darah hingga ia lupa segalanya. An Lok San terkejut. tentu sekaii ia menjadi gusar. Akan tetapi sebelum ia membentak akan memberikan perintahnya, sudah ada pahlawan pribadinya yang turun ingin Dadanya It Jie ditinju sehingga dia roboh dengan muntah darah, tubuhnya rebah dan pingsan. Ciat-touw-su itu menghela napas. “Seorang pelajar begini keras hati. sungguh jarang ada katanya. Kau menghendaki kemauan baik aku akan membuat kau hidup terus! aku akan siksa kau hingga kau menderita! aku akan lihat, kau tunduk atau tidak!”. Cinsu ini terlalu menuruti suara hatinya,” kata Su Su Beng yang berada di sampingnya An Lok San. „Kalau sebentar dia sadar, dia pasti ingat isteri dan anaknya, kalau Goanswee memberi budi padanya, mustahil dia tak akan menyerah ‘. Su Su Beng ialah Hu ciat-touw-su dari Peng Jouw, kedudukannya hanya dibawahan An Lok San. diapun menjadi saudara angkat orang she An ini, meskipun demikian. dalam hal kecerdasan, dia mengatasi sepnya itu. ”Kau benar,” kata An Lok San, yang! langsung menitahkan membawa pergi cinsu untuk ditahan. Sie-su yang menawan Nyonya Su It Jie menanyakan, apa yang harus diperbuat terhadap tawanannya ini. ”Masukan dia da lam ternpat tahanan wanita!” An Lok San memerintah, singkat. “Baik,” sahut wie su itu tapi ketika dia mengundurkan diri, sepnya bertanya “Tahan dulu! bagaimana rombongan wanita itu bawa dia kemari!” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Tayswee, dia berwajah biasa saja!” Sie Siong berkata “Dia baru saja habis melahirkan anaknya . ..” “Sial, Sial” kata An Lok San tanpa menanti orang bicara habis. “Hai, kau telur busuk! kenapa wanita habis bersalin dibawah kemari? “ Di jaman itu orang banyak pantangannya wanita bersalin dianggap sial, maka itu Ciat-touw-su menjadi gusar. Wi-su yang malang itu mendongkol, katanya dalam hati: “Kau yang menyuruh aku menangkap, bagaimana aku tidak menangkapnya ? . . . . Ketika itu It Jie sudah siuman, dia berkata gusar: “Kau memandang enteng jiwa manusia aku ini sudah tahu ! Tapi aku tidak takut. tidak nanti aku datang kemari” Semua orang heran atas keberanian Cin su itu. An Lok San gusar sehingga dia memukul meja.“Seret dia pergi teriaknya “Hajar dia sampai mati! “Sabar, Goanswee, ‘”kata seseoreng yang berada di sisi Ciattouw su. ”Harap Goanswee mau mendengar perkataanku. “ Dialah Su Su Beng, sang adik angkat. “Apa katamu, saudara Su” An Lok San bertanya. “Su It Jie ini sastrawan te kenal dia terkenal juga karena keberaniannya, ‘ kata Su Su Beng. “Kabarnya belum lama ia lulus sebagai Cin su dia pernah mengajukan bagaimana keamanan negara yang terdiri dari sepuluh fasal di antaranya dia menyerang Sin jiang Lie Lim Hoa, hingga kesudahannya dia meletakan jabatannya. Maka kalau sastrawan seperti dia dibinasakan, akibatnya buruk. Bukankah pernah terjadi Lie Thay Pek mengacau Istana.yaitu sewaktu Su dia dipengaruhkan akhirnya dia menyuruh Kho Lek http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Soe membuka sepatunya dan Yu Kui-Hui menggisik bak ? Terhadap sastrawan gila itu Sri Baginda pun dapat mengalah, dari itu mengapa Goanswee tidak mau mengalah terhadap Cin su ini ? Membinasakan dia tidak adi artinya, sebaliknyai dunia akan mengetahui bahwa Goanswee menghargai orang orang pandai surat. Bagaimana Goanswee pikir ?” An Lok San kasar tetapi dia dapat ber-pikir. kata-katanya Su Su Beng masuk dalam otaknya. Memang dia diam-diam ada maksud besar untuk merampas takhta kerajaan Tong. “Hahaha” dia tertawa. “Raja dapat mengampuni Lie Thay pek kenapa aku tidak dapat mengampuni kau ? Baiklah, aku saka dengan keberanianmu yang besar ! Agaknya kau pandai, suka aku mengangkat kau menjadi Kie-sit ! Mengenai Toan Kui Ciang, kau jangan kuatir, kau bantu aku mencarinya, dia pun aku akan berikan suatu pangkat dalam pasukan tentaraku ! kau setuju, bukan ?” Tapi Su It Jie tetap gusar untuknya, pangkat Kie-sit itu semacam sekertaris pribadi tak ada harganya. “Aku si orang she Su bodoh tetapi pernah aku membaca kitabnya nabi dan rasul-asul !” dia membentak. “Maka itu aku dapat, membedakan si pengkhianat dari menteri setia ! Pangkat anugerah pemerintah Agung aku tampik, mana aku sudi merendahkan diri sendiri menghamba pada satu pengkhianat.” Itu hinaan hebat dan tak dapat An Lok San menerimanya. Su Su Beng pun menjadi pucat. “Kau . , . kau …. tak tahu diri ?” katanya, suaranya gemetar. “Baiklah!” An Lok San berseru. “Kamu bangsa pelajar tak memandang padaku, aku juga tidak membutuhkan kamu ! tanpa kau, aku masih dapat sesuka hatiku !” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tengah ketegangan itu. Su Su Beng habis daya, ada seorang Wiesu yang datang menghadap. Dia heran juga mengapa Sie Siong mengatakan isteri It Jie tak cantik, tetapi sedang ia yang membantu Louw-sie naik ke kereta. dan melihat sendiri kecantikan nyonya itu. Itu waktu Sie Siong berkata : “Isterinya It Jie habis bersalin, untuk menempatkan dia dalam kamar tahanan istana ini pun tidak tepat. Maka baiknya dia dibawa ke rumah Pie cit saja.” “Buat apakah itu ?” tanya An Lok San. “Anak Pie cit yang paling kecil belum berhenti menyusu,” kata hamba itu. „Kebetulan istri It Jie baru melahirkan, jadi ia dapat menyusui anak Pie cit itu.” „Sie Ciangkun, hari ini kau menjadi murahhbati sekali,” kata sep itu. ”Baiklah, jika kau tidak memandang sial, kau bawalah dia!“ Sie Siong mengucap terima kasih. Dia senang bukan main. Dia memang setan paras elok yang selalu kelaparan. Dia tertarik ter-hadap Louw sie sehingga dia berani mengatakan nyonya itu wajahnya tak cantik Dia telah memikir setelah Louwsie pulih kesehatannya, dia hendak merebutnya …. „Toan Kui Ciang belum tertangkap,” kata An Lok San kemudian,” maka itu, Tian Ciangkun, Sie Ciangkun pergi kamu sekali lagi mencarinya. Dia mungkin belum pergi jauh.” Sehabis berkata, Ciat-toew-su menyerahkan Leng-cian, lencana titahnya. Ia pun menugaskan empat Wiesu lain, untuk membantu kedua pengawalnya itu. Kedua pengawalnya itu menerima tugas, mereka langsung mengundurkan diri. Sehabis berpisah dari Su It Jie, Toan Kui Ciang langsung pulang untuk menemui isterinya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Nyonya Kui Ciang, Touw Sie, ada buyut-nya Touw Kian Tek di jaman Cap Pee Loo Hoan Ong jaman pemberontak dari delapan belas Raja-raja muda. Ketika Touw KianTek berhasil ditumpas Lie Sie Bio, turuTiannya tetap bidup dalatn Lot Lim, dunia Rimba. Hijau. terus melakukan pekerjaan “tanpa modal. ” Touw sie, yang bernama Sian Nio, bida dari saudara saudaranya. Da pandai silat, dia tak setuju menjadi begal atau berandal. Pada suatu hari dia bertemu Kui Ciang. ke duanya bertempur, tidak ada yang kalah din menang. hingga mereka jadi tertarik satu dengan yang lain, dan langsung mereka menikah, sebagai isteri Sian Nio pandai membawa diri, hingga semua tetangganya mengira dialah wanita pedusunan yang biasa saja. Begitu bertemu isterinya Kui Ciang menuturkan masalahnya babwa ia sudah mengikat jodoh bayi mereka dengan keluarga Su, Touw-sie senang menerima kabar itu. Ia setuju keputusan suaminya, setelah itu Kui Ciang menuturkan masalabnya ia melihat An Lok San, karena ia sudah memperoleh keputusan dengan It Jie untuk pindah dari Su Kee Cun ini untuk menyingkir dari bajingan yang bintangnya sedang cemerlang. ”Menghindar adalah tindakan yang baik” kata Touw-sie . ”Sekarang kita harus waspada, Kita mesti jaga kalau-kalau sebelum Goan siauw, An Lok San nanti mengirim orangnya untuk menangkap kau.” ”Kau benar,” kata Kui Ciang. ”Kau pikir bagaimana?” ”Dihari-bari biasa, biasanya An Lok San mempunyai banyak orang Tak usah kita kuatir,” kata Sian Nio. ”Sekarsng ini lain habis bersalin, tenagaku kurang banyak se-kali. Lagi pula ada bahaya, aku berdua anak kita dapat mengganggu kebebasanmu . . . . “ http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

”Apa katamu?” tanya Kui Ciang „Sebagai suami isteri, bukankah kita harus hidup dan mati bersama? mana bisa aku menyesalkan kau? ” “Bukan begitu!” isterinya tertawa. “Kita mati bersema, itu bagus! Tapi, apa kau tak pikirkan keturunanmu? Maka itu, aku , ..” ”Kau bicaralah!” suaminya mendesak. ”Kau sangsikan apa?” ”Aku bicara tetapi kau jangan gusar” kata sang isteri „Aku pikir baiknya kau ijinkan aku berangkat terlebih dulu, maksudku, aku berangkat lebih dulu kau belakangan. Artinya kau menanti sampai nyonya Su sudah sehat baru kau berangkat bersamanya. Untuk sekalian melindunginya. Kau menyusul kerumahku …….” ”Apa?” mata Kui Ciang membelalak. ”Kau mau pulang kerumahmu?” ”jangan kau kuatir!” Sian Nio tersenyum. ”Sekarang ini mungkin aku tidak dapat bertahan terhadap prajurit-prajuritnya An Lok San, tetapi kalau baru segala kurcica di tengah jalan aku tidak takut maka itu kau ijinkan aku membawa anak kita aku mau berlindung dulu di rumah kakakku yang sulung untuk. sementara waktu saja, Bersama keluarga Sa itu kau menyusul aku kesana.” Kui Ciang masih tidak puas, „Isteriku kau ingat apa katamu ketika dulu kau mengikuti aku keluar pintu?” tanyanya. ”Pasti aku ingat!” sahut isterinya. “Dahulu paman dan kakakku mengajak kau bekerja sama kau menolak keras. Sampai kita bentrok, Ketika itu aku telah katakan kecuali mereka mencuci tangan tidak nanti aku pulang lagi, tak sudi aku menjadi orang jahat!” “Nah ! apakah sekarang mereka sudah cuci tangan ?” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Sekarang kita lagi menghadapi ancaman bencana . . . .” ”Tidak ! kehormatan kita tidak dapat dirintangi kesukaran! lagi pula sekarang, selagi kita terancam bahaya kita pergi ke sana, seperti mereka tidak mentertawai, aku sendiri tidak punya muka !” Sian Nio tahu benar tabiatnya suaminya. la menghela napas. ”Jika kau tidak setuju, sudah ah . . . .” katanya, masgul. Kui Ciang kuatir isterinya berduka, lalu ia menghiburnya „An Lok San sedang menempel Yo Kui-hui.” katanya,” dia sekarang lagi bersenang-senang di kota Raja, belum tentu dia begitu perlu mencari kita. Atau kalau toh dia berani mencarinya, tak mungkin dalam beberapa hari ini, maka itu biarlah aku memikirkannya Tubuhmu kuat, tapi kau baru melahirkan, kau jangan banyak pikir. Pergilah kau beristirahat !” Kui Ciang hidup melarat, tak kuat ia memelihara pembantu atau bidan untuk merawat isterinya, maka ia sendiri mesti mem-bantu isterinya itu. Kemudian ia pergi memeriksa senjatanya, pedang dan senjata rahasia. Ia membersihkan pedangnya itu. ”Pedang, Oh pedangku,” ia berkata perlahan. “Sudah belasan tahun aku menyimpan kau, mulai hari ini aku akan menggunakan kau pula “ Tengah ia termenung itu Kui Ciang mendengar suara perlahan-lahan di luar rumahnya. Seorang yang ahli, tahulah ia apa artinyai suara itu. Maka ia berkata dalam hatinya : ”Baik kau datang ! rupanya malam ini aku mesti membuka pantangan membunuh !” Malam ini malam tanggal satu rembulan! belum ada hanya bintang-bintang bertaburan maka itu, pekarangan rumahnya menjadi gelap. Ia langsung bersembunyi di pojok tembok, http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tangannya mencekal pedang dan senjata rahasiannya itu. Mulanya ia mengambil dua Samleng Touw-kut-piauw, piauw yang beracun, kemudian ia tukar itu dengan dua potong thie lian cie, biji teratai besi yang tak ada racunnya. Pada saat itu dua sosok bayangan berkelebat lewat di atas tembok. ”Kau rebah” membentak Kui Ciang seraya bergerak dari tempat persembunyiannya, dan tangannya terayun. Ia membentak karena tak mau ia main bokong. Habis menyerang, Kui Ciang tercengang. Kedua thie-lian-cie seperti kecemplung di laut, tak mengenai sasaran, tak terdengar suara jatuhnya di tanah Itulah bukti liehay-nya pihak lawan. Segera terdengar suara tertawa yang nyaring dan kata katanya „Moay-hu senjata rahasiamu makin liehay !” Kui Ciang kenal suara itu, dia heran “Oh, shaku !” dia menyambut. Suara tadi suara dari seorang berusia lanjut, terdengar pula: “kiranya kau masih ingat sanakmu ! sudah sepuluh tahun lebih kita berpisah, mengapa kau tidak pernah memberitakan sesuatu ?” Touw Sian Nio mempunyai lima kakak laki-laki , dan orang tua itu ialah kakaknya yang ketiga, namanya Leng Hu. Kui Ciang tak suka bekerja sama dengati ipar iparnya itu tetapi ia mengakui sanaknya. Maka ia langsung menyambut iparnya yang ketiga itu, ia mengundang masuk. Cepat cepat ia menyalakan lilin Heran Kui Ciang melibat iparnya itu yang bajunya berlumuran darah. Sang ipar pun datang bersama seorang muda berumurl kira-kira delapan belas tahun, yang mirip anak

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

petani sikapnya pendiam, dia berdiri disisi Leng Hu dengan mengawasi tuan rumah secara tawar. ”Tengah malam mereka datang kemari, mau apakah mereka?” Kui Ciang menduga-duga. Rupanya dia menderita luka … ’Anak tolol, kau tidak mengenal aTuran ” Leng Hu menegur kawannya. “Kau bertemu saudara yang lebih tua mengapa kau tidak memberi hormat ?” Bocah itu langsung memberi hormat dengan bertekuk lutut dan menganguk tiga kali dan memanggil : „ Kouwthio!” Kui Ciang membungkuk untuk membangunkan, di dalam hati kecilnya ia berkata : ”Ketika kita berpisah. shako hanya mempunyai seorang anak perempuan, kalau ini puteranya tak nanti dia sebesar ini . . . “ Anak tanggung itu menolak tangan orang seperti yang tak suka dibangunkan. Ia bangkit sendiri. Bersamaan dengan itu, sepotong thie-lian-cie jatuh dari tangannya, dia pun berkata dingin : ..Kouwthio, ini aku kembalikan thie lian cie Kouwthio !” Kui Ciang melengak. Ia mengira kepada kaki tangannya An Lok San, maka ia mengambil sikap turun tangan lebih dulu. Meski demikian ia tak mau menggunakan senjata rahasia yang beracun, dan di waktu melempar, ia memakai tenaga tujuh bagian. Ia tidak menduga yang datang saudara sendiri. Lagi pula tak heran kalau Leng Hu dapat menyambutnya senjata itu, tidak demikian dengan bocah ini. „Hm !” terdengar suaranya Leng Hu, yang menegur bocah itu : “Sungguh dungu! Kau sudah memasuki dunia Kangouw selama dua tahun, mengapa lagakmu seperti si hijau ?” Anak muda itu berdiri diam, matanya mengawasi Kui Ciang. Leng Hu berkata pula : „Lain kali diwaktu malam gelap jangan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

lancang menyambut senjata rahasia ! syukur teratai besi kouwthiomu tidak ada racunnya kalau tidak, dengan tenaga dalammu mana dapat kau menutup jalan darahmu ? kalau terkena racun, walaupun kau tidak mati pasti tanganmu akan cacad seumur hidupmu !” ---oo0dw0ooo--Jilid 2 Ia mengeluarkan sebuah thie-lian cie dari tangan bajunya. mengembalikan kepada Kui Ciang, kepada si bocah ia terus berkata : “Bukankah kau telah mempelajari mendengar suara senjata rahasia ? Dari suaranya saja kau sudah mesti tahu senjata itu dilempar-kan dengan tenaga berapa besar, maka itu kau harus mengimbangi suara itu. Kalau kau sanggup kau sambutlah dengan ujung baju, kalau tidak, kau mesti berkelit !” “Terima kasih, sha-cek!” kata si anak muda, yang memanggil sha-cek, paman yang nomor tiga, “Nasihat ini hanya benar separuhnya,” Pikir Kui Ciang. “Kalau orang bertemu ahli yang pandai, suara anginnya tak dapat diandalkan lagi . . . ” ia melirik si anak rruda yang jari tangannya hitam. Cepat-cepat ia mengeluarkan obatnya dan kata nya : “Tanpa pengalaman tanpa pengetahuan! untuk anak muda, tambah pengalaman tambah bagus! tapi aku sendiri, semasa aku berusia sebaya dengannya, aku tak sepandai dia! Apakah tanganmu sakit? sambil dipakaikan obat ini kau akan cepat sembuh!” Kata kata yang terakhir ini ditujukan kepada si anak muda. Tapi dia menolak tangan yang berikutnya untuk diberi obat, sambil berkata dingin : „Tak usah! luka ini tak menghancurkan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tulang, nyeri sedikit tak apa! kalau mesti memakai obat dapatkah orang disebut enghiong.” Touw Leng Hu menyaksikan itu, dia tertawa dan berkata : “Sudah, moayhu, jangan layani dia! Dia mau jadi enghiong, maka tak apa dia tersiksa terasa nyeri sedikit !” ”Ha, anak yang bertabiat keras!” pikir Kui Ciang. ”Mungkinkah dia tak senang terhadapku?” ia menyenangi anak ini walaupun sikapnya sargat dingin, tiba-tiba ia ingat sesuatu, maka ia berkata pula dalam hatinya; ”Mungkinkah dia ini bocah yang tadi menolong anak-anak dari injakan daki kuda?” ia hendak menanyakan Leng Hu, atau iparnya itu sudah mendahului bertanya; “Eh, mana adikku? . . , , . Belum suara itu berhenti, belum sempat Kui Giang menjawab dari atas genting sudah terdengar tertawa geli dan halus, disusul dengan lompat turunnya sesosok tubuh, yang langsung berkata; “Shako, angin apa yang meniup kau datang kesini?” Dan Touw Sian Nio muncul diantara mereka, Nyonya Kui Ciang juga mendengar suara datangnya tetamu malam karena ia tahu, pasti suaminya sudah berjaga-jaga, ia keluar dari belakang, untuk merondai rumahnya, setelah melihat dan merasa yakin tidak ada mu suh, baru ia kembali, kebenaran ia mendengar suara kakaknya yang ia kenal itu, ia langsung menyahut dan memberi hormat. “0h, Liok-moay, kau tak melupakan kebiasaanmu kaum rimba hijau. kata sang kakak tertawa juga. Eh. mengapa mukamu pucat? Apakah kau sakit?” Sian Nio tertawa tanpa menjawab. Kui Ciang tertawa dan menjawab; ”Dia bukannya sakit hanya tadi malam dia melahirkan seorang bayi laki-laki!” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Kionghie! Kionghie!” kata Leng Hu girang. “Oh, sayang aku si shaku, aku tidak membawa apa-apa untuk hadiah!” Si anak muda langsung memberi hormat kepada nyonya, Sian Nio heran, orang memanggil kouwthio kepada suaminya. ”Keponakan yang mengenalnya?” ‘ mana ini?” tanyanya, ”aku tidak

”Apakah adikku masih ingat Tiat Cee-cu dari Yan san?” Leng hu balik menanya, ”Oh,” kata Sian Nio. ”Jadi dialah keponakan yang nama kecilnya di panggil Mo lek? aku ingat sekarang diharian aku menikah dencan Kui Ciang Tia, ceecu datang kepesta dengan membawa putranya ini!” ”Memang dialah bocah ini!” kata leng hu. ”Ah sungguh cepat sekali hari berlalu” kata Sian Nio ”tanpa terasa belasan tahun sudah berlalu. Dia telah menjadi seorang enghiong!” ”Apakah Tiat Ceecu baik?” Ditanya begitu, mata si anak muda menjadi merah. “Tiat Ceecu menutup mata dua tahun sepeninggalnya kamu” kata Leng Hu memberitahu ”Anak ini langsung dipungut anak oleh Toako. Dia berotak cerdas sekali, dalam belajar silat dia mengungguli anak-anak yang lain Itulah sebabnya aku membawa dia. Mo lek, apakah kau ingin belajar ilmu jarum rahasia Bwee hoa ciam? nah lain kali kau belajar pada bibimu!” Mo lek ini puterannya Tiat Ceecu, yang bernama Kun Lun. orang suku Ouw. Dijaman Tong itu, diwilayah utara orang Han tinggal bersama dengan orang Ouw, isterinya Tiat Kun Lun ialah gadisnya Hong Kui Siang, seorang jago dari kota Hoan yang. Keluarga Hong ada hubungannya dengan keluarga Touw. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tiat Kun Kun pandai, dia bergaul erat dengan Touw maka setelah meninggal, Mo lek diserahkan pada kakaknya Leng Hu. Kemudian Sian Nio bertanya kepada kakaknya ; „shako, kenapa bajumu ada darahnya? apakah dijalan kau telah melukai atau membunuh orang ?”‘ “Aku pernah membunuh banyak orang kali ini hampir aku dibunuh orang” sahutnya. Nyonya Toan heran, “shako bertemu dengan musuh yang tangguh? Apa yang terjadi dirumah kita?” “Baru hari ini aku sampai disini,” kata Leng Hu, sebenarnya aku ingin minta bantuan bantuan kamu dalam urusan dua urusan ini !” ”Silakan tuturkan,” kata Kui Ciang, singkat. la mendahului isterinya. “Pertama-tama aku mau minta moayhu memberi obat padaku,” kata ipar yang nomor tiga itu? ”Sebenarnya aku sangat malu, Inilah yang pertama kali aku mengalami kekalahan dan terluka juga!”, Kui Ciang heran. “Dia agaknya terluka sedikit. kerapa dia sampai minta obat padaku ?” pikirnya. Tengah ia berpikir itu tiba-tiba ia mendengar suara cita sobek. Itulah Touw Leng Hu, yang tanpa menanti membuka bajunya, sudah sobek itu, untuk memberi lihat dadanya dimana ada sebuah titik merah sebesar tusukan jarum. Dia pun langsung berkata „Kau lah ahli, kau tentu kenal ini!” Kui Ciang kaget, mukanya pucat. „Inilah jarum Pee bie ciam !” serunya. “Apakah shaku dengan keluarga Tong dari Kiam-lam bermusuhan ?”

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Jarum Pee-bie ciam itu jarum alis putih lihay sekali. Siapa terlukakan itu dan racunnya masuk ke jantung. akan tewaslah jiwa-nya Leng Hu terluka di dada dekat dengan jantungnya, maka itu dia terancam bahaya maut. „Orang yang rnelukai ini belum aku tahu hal ikhwalnya,’ kata jago she Touw itu,” meski demikian aku merasa pasti dia bukanlah orang keluarga Tong.” “Apakah shako kena dibokong tanya Sian Nio” “Bukan !“ sahut kakak itu. “Kami berdiri depan berdepan, kami bertempur secara laki-laki, rneski benar dia telah menggunai senjara rahasia yang beracun ini, tak dapat aku membilang apa-apa.’ Jikalau Tong itu kesohor sebagai ahli senjata rahasia tetapi dalam ilmu silat mereka bukanlah lawan keluarga Touw kalau mereka hendak mengalahkan Leng hu, mereka mesti main curang. Sekarang kejadiannya tidak demikian. “Orang itu dapat melukai dengan senjata rahasia, kenapa dia masih melukai juga sedikit dengan pedang?” ia heran tapi ia tidak mau menanya. sebab Leng Ho sendiri membungkam. Maka ia kata : “Obatku. Leng ce Kie Tok Wan bukan obat tepat untuk luka senjara rahasia tetapi dengan dibantu tenaga dalam shaku, aku rasa cukup dengan sebutir luku shaku akan sembuh.“ Ketika dulu hari kakeknya Kui Ciang berperang ke Barat disana dia mendapatkan pohon obat Leng cie dan ribuan tahun, maka pohon obat itu diambil dan dijadikan bahan obat menyembuh racun, biasanya cocok untuk pelbagai macam keracunan, maka juga Leng Hu memintarnya. Sian Nio lantas pergi ke dalam, akan mengambi obatnya, sembari kaluar pula ia tertawa dan kata: “Anak kita tidur http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

nyenyak sekali, aku dapat tempo urtuk menemani kamu bicara shako apa itu hal yang kedua?’ Leng Hu mengawasi tajam, romannya sungguh sungguh. “Adikku, aku tak tahu kau masih ingat persaudaraan kita atau tidak ?“ tanyanya sebelum dia menjawab. “Hebat pertanyaan kau ini shako! ‘kata si nyonya. “Kita bersaudara kandung mengapa aku tidak ingat“. “Jikalau kau masih ingat kita bersaudara” kata Leng Hu, masih berharap aku minta kau bersarna moyhu pulang ke rumah kita, untuk kamu menolongi jiwa kami!‘. Leng Hu kenal balk sifat Kui Ciang sebagai turunan Jenderal, Ia tidak mau bergaul dengan keluarga orang jahat, karena ini dia tidak mau bicara langsung hanya secara tidak langsung kepada adiknya. Kakak itu mengawasi adik perempuannya, dan Sian Nio mengawasi suaminya. Adik ini bersangsi sekali. ”Shako, baiklah kau bicara dulu biar jelas, “kata kemudian. “Apakah yang telah terjadi ?” Tauw Leng Hu tetap memandang adik-nya. ”Orang keluarga Ong di Peng Yang belum lama ini sudah bentrok dengan keluarga kita, dia berkata, ‘ Kita bertempur hebat tetapi, sungguh malu. beberapa kakakmu yang tidak punya guna telah kena dikalahkan mereka “. Keluarga Ong itu sama dengan Keluarga Touw. Mereka turunan Ong Sie Tong. Setelah Ong Sie Tong ditumpas Lie Sie Bin anak cucunya seperti anak cucunya Touw Kian Tek semua hidup sebagai orang orang jahat. Kedua keluarga pun bermusuh, tidak heran kalau mereka bermusuh turun temurun sering mereka bentrok.’ berterang’ atau bergelap. Hanya kali ini, heran Sian Nio mendengar perkataan kakaknya ini. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sampai kepada turunan mereka ini. Keluarga Ong itu kalah dari pada keluarga Touw Lima saudara laki-laki keluarga Touw gagah semuanya, murid mereka pun berjumlah puluhan, semua tersohor dalam Rimba Hijau, keluarga Ong terdiri cuma dari satu orang, Yaitu Ong Pek Thong. Dia ini gagah tapi dia kalah dibanding dengan lima saudara Touw, jangan kata dikepung berlima satu awan satu juga dia masih tak nempil, Ong Pek Thong mempunyai dua anak, satu pria dan satu wanita dan murid muridnya juga lebih sedikit maka itu setiap mereka bentrok pihaknya yang tentu kalah. Maka akhirnya, pihak Ong selalu mengalah kalau bersamprokan, mereka menyingkir lebih dulu. Inilah sebab yang mengherankan Sian Nio. “Kau tidak tahu Liok moay, “ kata Leng Hu yang bisa membadi keragu-raguan adiknya itu “Sekarang ini dunia Jalan Hitam beda dari pada dulu, sekarang jamannya anak muda dan kita kaum tua, kita kena tertindih mereka.” Sejak ia turut suaminya Sian Nio sudah mengundurkan diri, maka itu ia asing dengan perubahan jaman. Tapi mengenai keluarganya, ia ingat baik sekali, ia tetapi memperhatikannya. ”Apakah Ong Pek Thoang telah mengundang bantuan orang liehay ? Siapakah pembantunya itu? Apakah kakak yang lainnya pun pada terluka ?” “Benar Ong Pek Thong mengundang orang liehay, ialah Ceng Ceng Jie.” ”Ceng Ceng Jie ?” mengulangi si nyonya. „Aku belum pernah mendengarnya . . . .” “Kita tinggal bersembunyi di dusun ini sudah belasan tahun, pantas kita menjadi si tuli !” kata Kui Ciang, bersenyum. “Selama uang belakangan ini dalam dunia Kang Ouw telah muncul dua orang yang liehay sekali,” Touw Leng Hu http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menerangkan pula. „Mereka masih sangat muda, barangkali usianya belum dua puluh tahun. Ceng Ceng Jie satu diantaranya Yang lainnya ialah Khong Khong Jie. Kami belum pernah melihat Khong Khong Jie tapi dia kabarnya lebih liehay daripeda Ceng Ceng Jie, katanya liehay luar biasa. . . .!” Alisnya Sian Nio berbangkit. ”Liehay luar biasa bagaimana ?” tanya dia. “Bicara dari hal Ceng Ceng Jie saja, benarkah dia dapat mengalahkan kakak berlima ?” Sian Nio nampak halus tapi sebenarnya tabiatnya keras. Leng Hu kenal tabiat adiknya ini, ingin dia membangkitkan kemarahannya. Maka dia menghela napas dan kata dengan lesu : “Sudahlah, buat apa disebut-sebut pula. Kali ini keluarga kita roboh benar-benar. Toako terlukakan, dan Sie-tee juga terkena sebatang jarum Pee bie ciam….” Toako itu, sang kakak sulung, Leng Ciok namanya, menjadi pemimpin Rimba Hijau di wilayah Utara, ilmu silatnya liehay sekali, sampai Kui Ciang pun mengaguminya. Sekarang ia mendengar Toako itu, ipar pertama, mendapat luka juga, ia terkejut. Dari tak ada perhatiannya, ia menjadi ketarik hati. „Pada suatu hari Ong Pek Thong dagang dengan membawa Ceng Ceng Jie,” kata Leng Hu, meneruskan keterangannya. „Ceng Ceng Jie itu kurus kering mirip seekor kunyuk, kami tak memandang mata padanya. Tapi dia justeru menantang kami berlima melayani dia seorang diri. Tentu sekali kami tidak mau meruntuhkan nama kami. maka itu. kami mengajukan dulu Jieko. Baru beberapa jurus, sudah terkurung sinar pedangnya. Soetee dan Ngo tee melihat gelagat buruk terpaksa mereka maju membantui. Nyatanya mereka bertiga kena terdesak mundur. Oleh karena terpaksa, aku maju bersama Toako. Toako menggunakan tamengnya, Thian Su Sin-pay, ia tidak takut senjata tajam, ia maju di depan, kami berempat dikiri dan kanan. Hebat kami bertempur. Dalam setengah jam dapat kami http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengurung dia. Tepat dia terkurung, dia mengeluarkan jarum rahasianya itu Pee bie ciam . . . ! Kui Ciang berpikir : „Kamu mengeroyok orang, pantas orang menggunakan senjata rahasianya.” ”Jikalau dia ialah orang lain, jarumnya itu pasti tidak dapat berbuat apa apa atas diri kami ” Leng Hu melanjutkan, „Dia benar benar liehay. Di samping pedangnya yang liehay itu, dia menggunai senjata rahasianya itu kami dijadapi kesulitan Kalau kami menyingkir dari pedang sukar kami menghindari jarum rahasia. Begitu juga sebaliknya. Akhirnya terpaksa kami bersedia terkena jarum daripada tertikam atau terbabat pedansr Syukur toako liehay dengan tamengnya, Jieko dan ngo tee dapat membela dirinya. Aku ber sama sietee ayal sedikit, lantas kita terkena jarum aku di dada, sie tee di kaki. Toako berkelahi terus, celaka ia terpapas kutung dua jeriji tangan kirinya. Di saat kalap, kamipun dapat mengguratkan pedang kami dua kali padanya. Sampai di situ berhentilah pertempuran itu.” Sian Nio menghela napas lega. „Masih beruntung, itulah bukan roboh runtuh!” katanya. ”Ceng Ceng Jie terluka. cuma di kulit.” kata Leng Hu. “Kami terluka parah. Bukankah itu berarti keruntuhan?” ”Bagaimana dengan lukanya sieko?” Adik perempuannya memberati kakaknya yang ke empat. Kalau kakak tuanya, terkutung dua jerijinya, tidak seberapa, „Syukur sie-tee terluka bukan ditempat yang berbahaya,” kata Leng Hu, „Racun jarum tak nanti menyerang cepat, ke jantung, Sedikitnya sietee dapat bertahan satu bulan.” Meski begitu sampai itu waktu dua puluh hari sudah lewat. Kui Ciang pikir, kalau begitu Ceng Ceng Jie benar lihay sekali. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Touw Leng Hu berkata pula; ”Liok moay kau anggauta keluarga Touw, kau ketahui baik sifat kami. Belum pernah minta bantuan pihak luar. Tapi kau termasuk Keluarga Touw, maka itu tak terhina kalau aku minta bantuan kamu!” Sian Nio tetap bersangsi, ia mengawasi suaminya, tak berani ia lancang membuka mulutnya. Leng Hu melihat keadaan itu. ia berkata pula: „Turut penglihatanku, di jaman ini cuma ilmu pedang moayhu yang dapat melayani Ceng Ceng Jie. Mengenai kau Liok moay, toako semua mengharapi jarum rahasiamu. Kau telah mewariskan sempurna kepandaian ayah, ilmu pedang dan senjata rahasia. Toako minta aku menyambut kau suoaya selagi moayhu melayani musuh kau hajar dia dengan Bwee hoa ciam. Dengan begitu barulah kita mempunyai harapan dapat kemenangan dan nana baik Keluarga Touw dapat dilindungi. Maka juga kami sangat mengandal kepada kamu berdua suami isteri! ‘ Sian Nio tetap diam, ia tidak berani mengambil putusan. Ia terus mengawasi suaminya Kui Ciang nampak kurang puas. „Shako.” ia berkata,adikmu baru saja habis bersalin…, Juga Ceng Ceng Jie dia maui merawat lukanya dulu,” kata Leng Hu. „Sebelum sembuh tidak nanti dia berani datang menantang. Lagi pula adikku tidak ber tempur langsung, dia menanti dipinggiran untuk melepaskan jarum rahasianya, Aku rasa habis sebulan baru kita dapat bertempur pula.” „Toan Long. kau pikir bagaimana akhirnya Sian Nio tanya suaminya. Inilah menandakan lagi ia sudah tidak ada soal lagi tinggal putusan sisuami. „Rumah tangga kau mempunyai urusan, kau hendak pulang, aku tidak dapat menghalang-halangi” sahut Kui Ciang. ”Ilmu silatku sudah banyak tahun tak dilatih pula, maka itu aku merasa tak dapat aku melawan Ceng Ceng Jie yang demikian lihay.” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Mukanya Leng Hu menjadi pucat. Tak puas dia. “Jikalau kau tidak suka pergi, bilanglah terus terang!” katanya keras „Kaulah bangsa enghiong, bangsa hiap kek, kau tidak sudi mengaku, kami sebagai sanak, meka juga keluarga Touw tak demikian tebal mukanya berani minta banuanmu!” „Shako, tak tepat kau bicara begini.” kata Kui Ciang, „Aku ingin bicara kau sudi mendengar atau tidak terserah padamu.” „Bicaralah !” ”Ingin aku memberi nasihat supaya kamu menggunai ini ketika yang baik untuk mencuci tangan, buat mengundurkan diri,” kata Kui Ciang, terus terang. „Bukankah Ong Pek Thong itu cuma memperebuti nama kosong sebagai jago Rimba Hijau? jikalau ke tempat yang sepi, apakah dia dan Ceng Ceng Jie masih akan mencarinya buat membikin habis Keluarga Tauw?” “Nasihat yang berharga’!’ kata Leng Hu. mengejek. „Kau bukan anggauta Keluarga Touw. Tetapi kau menikah putrinya, keluarga itu kau tentunya ketahui ajaran Keluarga kami! Kami lebih suka binasa daripada terhina! Sudah seratus tahun lebih, tak pernah ada orang yang menghina kami! Tak dapat kami! mengelepoti kepala kami! Taruh kata kami hendak mencuci tangan? itu mesti terjadi sehabis kami membalas dulu sakit hati in!” „Bicara dari hal pembalasan rasanya kamu lebih banyak, rasanya kamu lebih banyak berhutang jiwa orang,” kata Kui Ciang, sungguh-sungguh. „Orang Rimba Hijau hidup diatas golok, maka itu bagi mereka terkalahkan atau terbinasakan adalah soal tak dapat dihindarkan. Jikalau kamu terus main balas-membaias tak lapisnya, seteleh Ceng Ceng Jie terbunuh, siapa berani jamin tak nanti muncul Ceng Ceng Jie yang kedua ?” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang tidak pandai bicara, hebat kata katanya ini, sedang itu waktu, Leng Hu lagi panas hatinya Sian Niopun serba salah. Ia kenal sifat suaminya itu hingga tak berani ia membantui adiknya meskipun ia telah memikirkannya. Touw Leng Hu mengibas tangannya, ia kata dengan kemendongkolan yang ditahan : ”Anggap saja aku datang ke pintu yang salah ! Aku membikin kehilangan muka sendiri ! Nah, aku meminta diri!” “Shako!” Sian Nio berkata, “Shako. Kau duduk dulu! mari kita bicara baik-baik!” Tapi Kui Ciang berkata : “Shako telah berkeputusan untuk menuntut balas ! sesuatu orang ada cita-citanya sendiri, tidak berani aku mencegah atau mengasi pikiran lagi. Ini dua butir obat Leng cie Kie Tok Wan harap kau bawa pulang untuk sieku.” Leng Hu sudah berbangkit. “Tak usah!” dia kata “Taruh kata dia dapat disembuhkan, dia toh bakal terluka pula di tangannya Ceng Ceng Jie!” „Sekarang sudah malam, shako,’ kata Sian Nio, berduka. „Kalau kau mau berangkat, berangkatlah besok pagi . . .’ Leng Hu berdiam, dingin sikapnya, Si anak muda, yang sejak tadi berdiam saja, yang cuma tertawa dingin, mendadak membuka mulutnya. Katanya : “Berdiam di sini satu malam tidak apa, hanya kalau sebentar datang sahabatnya kouwthio, sahabat yang memangku pangkat kalau dia melihat disini ada penjabat besar, itulah tidak bagus, pasti berabe dan sulit!, paling benar mari kita berangkai sekarang juga! ‘ Kui Ciang melengak ia berjingkrak. „Mo Lek, apa katamu?” tanyanya La heran bukan main ia berpikir: “Seumurku, aku tidak mempunyai sahabat pembesar negeri. “Mungkinlah http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mereka maksudkan Su It Jie? Tapi Su Toako sudah lama meletakan jabatannya. Laginya, mereka ini berdua baru saja sampai disini mana mereka ketahui Su Toako itu sahabatku?’ Mo Lek minggir ke samping. „Sahabatmu itu sahabat jempol !” dia kata pula, keras. „Apakah kau takut aku menyebutnya ? kau tidak mau membiarkan kami pergi, apakah kau hendak membekuk kami untuk diserahkan pada sahabatmu si pembesar negeri itu supaya kau memperoleh jasa ? Benar tadi yang menolongi anak-anak dari kaki kuda ialah aku ! Aku pula yang menyerbu An Lok San ! kau mau apa ?” Touw Leng Hu membentak : “Bukankah ayah angkatmu telah memberi pengajaran kepadamu ? Tujuan tak sama, tak dapat orang bekerja sama, maka itu, buat apa kau banyak omong lagi, tidak apa kau menerbitkan onar tetapi dengan begitu kau bawa-bawa tulang tuaku ini ! Bisa-bisa kau nanti mengantarkan jiwaku di sini !” Kata-kata itu ditujukan kepada Tiat Mo Lek, akan tetapi di lain pihak, dimaksudkan juga terhadap Toan Kui Ciang. Touw Sian Nio terperanjat. ”Shako, shako katanya Apakah artinya perkataanmu ini ?” Sekalipun Kui Ciang tidak dapat turut kau pergi menghadapi Ceng Ceng Jie. dia tidak nanti memusuhkan kau apapula untuk menangkap kamu buat diserahkan kapada pembesar negeri ! kau . . kamu pandang dia orang macam apa ?” Kui Ciang lompat ke pintu, untuk menghalangi. “Shako” katanya. Dingin, “kau omong dulu biar jelas, baru kau pergi!” ”Enak kau bicara !” kata Leng Hu, dingin. „Sesuatu orang ada pikirannya sendiri tak dapat orang dipaksa ! kau hendak pergi ke tempatnya An Lok San untuk memperoleh jasa dan pangkat, tak heran kau tak sudi mengenal sanak lagi ! Tapi aku http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mau minta sukalah kau ingat persabatan kaum Kang-Ouw. kau tunggu sesudah aku pergi, baru kau pergi memberi kisikan kepada pembesar negeri ! Tak dapatkah iru ? Andaikata kau benar-benar hendak kami, meski Tou Leng Hu bukan lawan kau, dia tak nanti manda diam saja diringkus kau !” „Shako !” Sian Nio berkata keras. „Apakah shako bilang kau tidak tahu, An Lok San justeru musuhnya Toan Long kami justeru baru saja mendamaikan soal mengangkat kaki dari sini, buat menyingkir dari ancaman bencana ! ‘ Ketika itu, Kui Ciang sudah lantas menjadi tenang „Shako, di sini mesti terjadi salah mengerti,’ katanya sabar. ”Coba kau jelaskan, mengapa kau menyangka aku mau pergi kepada An Lok San untuk mengharap pangkat” Leng Hu menjadi heran timbullah keraguannya ia melihat orang tidak lagi main sandiwara ia menjadi mau percaya. „Di bawahnya An Lok San ada dua punggawanya yang sangat diandalkan,” ia kata pun menjadi sabar. “Merekalah Tian Sin Su dan Sie Siong Bagaimana pergaulan kau dengan mereka itu ?’” „Pernah aku mendengar nama mereka itu,” Kui Ciang jawab. „Dulu hari karena urusan keluarga Lie di Ceng Hoo Kauvv, Sie Siong telah menantang aku mengadu pedang-Ketika itu muncul adiknya Kong Jiam Kek, maka urusan dapat didamaikan hingga batal kita bertempur. Semenjak itu, terus sampai di saat ini, aku belum pernah bertemu pula dengan mereka itu.” Touw Leng Hu heran bukan main. “Benarkah perkataan kau ini ?” ia menegasi. ,Ah, benar benar aneh?” Ia mehentak. “Taruh kata kau tidak percaya aku, kau mesti percaya adikmu !’ sahut Kui Ciang. “Kau tanyalah dia. apakah aku pernah mendusta !” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Memang mereka itu berdua tidak ada hubungannya dengan kami,” kata Sian Nio. “Shako mengapa kau menuduh mereka ada sangkutannya dengan Kui Ciang ?” Touw Leng Hu mengawasi adiknya. .,Di muka desa ini ada sebuah rumah,” ia kata, di depan rumah itu ada tiga buah pohon cemara, tuan rumahnya seorang berumur lebih kurang empatpuluh tahun, dialah seorang pelajar berkulit putih dan tak berkumis. Benarkah orang itu tidak ada sangkutannya dengan kamu ?’ „Dia itu benar sahabat karibku,” sahut Kui Ciang. „Dia sie Su dan namanya It Jie Benar dia pernah menjadi pembesar negeri akan tetapi dia sudah meletaki jabatan sejak belasan tahun yang lalu. Dia dipecat karena dia berani menyerang menyerang menteri dorna Lie Lim Hu ! Ha ! kau menyebutnyebut aku bergaul dengan pembesar negeri, jadi kau maksudkan dia ! Dialah sastrawan satria, meski dia pernah memangku pangkat dialah orang berhati mulia !” “Dia menjadi pembesar, apakah kau tahu dia mempunyai perhubungan apa dengan An Lok San ?” Leng Hu tanya pula. “Su Toako bersahabat denganku selama sepuluh tahun, aku tahu dia justeru sangat membenci An Lok San, hingga tak ada soalnya bahwa dia bersahabat dengan pembesar buruk itu !” „Masih ada satu hal yang shako belum ketahui,” Sian Nio menyela. „Tadi malam isterinya Su Toako itu telah melahirkan seorang anak perempuan, lantas kita kedua Keluarga mengikat ini perjodohan anak anak kita. Dengan sendirinya Su Toako itu juga cin kee kau.’ Lcng Ha mengurut-urut kumisnya. „Benar-benar aku tidak mengarti!” ujarnya. “Baik aku menjelaskan dari mula mula.”

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang dan isierinya mendengari. “Pada beberapa tahun yang telah lewat ada seorang sahabat yang memberitahukan aku bahwa ia pernah melihat kau di kota Tian-an, ketika kau tengah berjalan dengan tergesa gesa,” Leng Hu menutur. „Aku lantas menduga kau tinggal di dekat kota Tiang-an. Maka bersama Mo Lek aku menyusul kemari Pada tiga hari yang lalu kami bertemu dengan delapan pahlawannya An Lok San di jalan Hong siang. Kita bentrok.” „Apakah kau bermusuhan dengan An Lok San?” Sian Nio bertanya. ”kau meninggalkan Rimba Hijau belum sepuluh tahun, mengapa kau masih tak mengerti duduknya hal ?” kakak itu balik bertanya „Rumah kita keluarga Touw berada di dalam wilayah pengaruhnya An Lok San Itu berarti kita harus menerima baik undangannya untuk bekerja di bawah perintahnya. Bukankah ini sederhana dan singkat?” „Aku tahu itu!” kata si adik tertawa. ”Hanya ketika aku meninggalkan rumah kita An Lok San belum menjadi cat-touwsu, hingga aku tidak tahu bahwa rumah kita ber ada dalam daerah kekuasaannya.” ”Kita bukan saja tidak menerima baik undangannya untuk menghamba terhadapnya,” Leng Hu menyambung, „Bahkan diharian dia menggabung menjabat pangkat ciat-touw su dari Hoan-yang-sie tee sudah berguru dengan dia, ialah sie tee sudah curi sepotong baju bulu rase yang mahal miliknya Yo Kui Hui yang dihadiahkan kepadanya. Maka itu sudah sejak lama dia hendak membekuk kita. Ong Pek Thong itu sahabatnya Tian Sin Sie yang bawahannya An LoK San sahabat-sahabat Jalan Hitam. Setelah Tian Sin Sie menghamba pada An Lok, San Pek Tbong lantas menghubunginya. Maka itu aku menduga, bentrok-anku dengan orang-orangnya An Lok San di jalan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Hong-siang itu disebabkan bisikannya Ong Pek Thong. Kita dipegat hendak ditawan.” Kui Ciang berpikir: “Di dalam Rimba Hijau ada tingkat yang tinggi dan yang rendah. Ipar-iparku itu tidak sudi bekerja sama pembesar negeri, kalau dibanding dengan Ong Pek Tbong mereka menang banyak …” Touw Leng Hu menyambangi “Kami di kepung delapan pahlawan pribadi An Lok San itu. Mereka bukan dari kelas satu tetapi ilmu silat biaca. apapun satu diantaranya,Thio Tiong Cie. dia bekas orang Jalan Hitam yang berkenamaan. Senjata ialah sepasang Houw tauw kauw gaetan berkepala macan-macanan luka dilenganku ini ialah bekas gaetannya itu yang lihay itu , . , ..” ”Sha cek. kau biasa mengangkat musuh!” kata sikacung menyela sambil tertawa.”Sebenarnya kalau bukannya sengaja sha Cck menggunai tipu mana dapat dia mendekati sha cek?” „Mo lek!”‘ kata paman itu sungguh-sungguh ”orang muda semacam kaulah yang paling mudah dihinggapi penyakit memandang enteng kepada musuh! Jikalau kau tidak meng ubah cacatmu ini dibelakang hari kau bisa menderita karenanya! Kau ketahui pengajaran musuh, merebut kemenangan ialah yang paling utama! Lebih cepat kita menang lebih baik pula, supaya tak usah terjadi hal-hal di luar dugaan. Sekalipun sang singa untuk menerkam kelinci dia mesti menggunakan seluruh tenaganya, sedang kita bukannya singa dan pihak sana bukannya kelinci, ingat lah kejadian hari itu Aku telah terluka jarum Pee-bie ciam dan mereka mengeroyok. Sudah terang mereka ingin sekali dapat membekuk kita. Coba aku tidak menggurat siasat, untuk memancing Tio Tiong Cie, pasti, sukar kita meloloskan diri. Caramu berkilat itu waktu main keras saja. Itulah berbahaya” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Habis menegur keponakan itu, Leng Hu menoleh kepada Kui Ciang untuk menerus kan keterangannya. ”Aku benci pada Thio Tiong Cie sebab-perbuatannya yang busuk itu mau mencelakai orang golongan sendiri,-‘ Katanya „aku, memancing, hingga dia datang dekat padaku. Aku hajar dia dengan Pek Lek Ciang, hingga patah tulang iganya. Justeru itu, dia pun menggaet aku.” „Apakah di antara mereka ada Tian-Sin Su dan Sie Siong?” Sian Nio tanya “Mereka itu termasuk punggawa, perang, mereka tidak bercampuran dengan kawanan pahlawan pribadi An Lok San itu” sahut Leng Hu “Atau mungkin mereka anggap delapan orang itu sudah cukup untuk melayani aku si tua bangka!” Ia tertawa, ia melanjuti : “Syukur delapan orang itu tidak memandang mata padaku. Umpama kata Tian Sin Su dan pie Siong turut serta, selagi aku terluka itu pastilah aku bukan lawan mereka, tentu sekali sekarang aku tidak dapat bertemu dengan kau, adikku.” Sian Nio heran. “Shako,” katanya, „habis kata-katamu barusan . . .” Leng Hu dapat menerka. “Kau tentu tidak mengerti kenapa tadi aku menyebut-nyebut nama mereka itu berdua, bukankah hari itu aku tidak berjodoh bertemu dengan kedua punggawa itu, tetapi malam ini … “ Kui Ciang pun heran. „Malam ini ?” dia tanya. „Di mana kamu bertemunya ? „Justeru di dalam desa ini ! Belum satu jam !” „Sebenarnya, bagaimana hal itu ?” Sian Nio tanya.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Kau jangan tuntunannya.”

kesusu.

Nanti

aku

jelaskan

menurut

Dan Leng Hu .melanjuti : “Kita lewat di jalan Hong siang itu tepat di harian tahun baru. Ketika kita sampai di muka desa ini, kita bertemu dengan pasukan tentaranya Aa Lok San, yang katanya lagi menuju ke kota Tiang-an, guna An Lok San memberi selamat tahun baru kepada Yo kui hui. Kami takut menimbulkan onar, kami sembunyi di lembah. Lain dengan ini bocah, dia seperti anak kerbau yang tak takut harimau, dia justrru pergi ke mulut lembah, untuk menonton” „Syukur aku pergi melihat!” Mo Lek memotong. „Aku jadi dapat melihat kouwthio. Kouwthio menutupi kepala dengan baju kulit jalannya pesat seperti lari. hingga aku menduga ialah ssorang ahli silat yang mahir ilmunya enteng tubuh.” „Liehay matanya bocah ini,” Kui Ciang pikir. „Ketika itu, tanpa sengaja aku berjalan cepat, dua tindak menjadi satu. Karena dia dapat melihat lariku itu. tentu begitu juga dengan orang-orangnya An Lok San yang banyak yang, mesti ada yang memergoki aku … “, Di situlah terjadi anak anak diganggu kudanya para pahlawan pribadi an Lok San itu ! Mo Lek memotong. ‘Sejumlah anak kecil mau ditabrak dan diinjak kuda aku lantas menolongi mereka . . . ” Touw Leng Hu tertawa.’ Syukur mereka repot melanjuti perjalanan, tak ada temponya untuk mencekuk kau!” kata paman ini. ‘ Lebih syukur ialah kau melihat kouwthio-mu Tidak demikian pasti aku tidak lantas mendapat tahu kamu tinggal di sini! kau tahu. begitu Mo Lek menyebut kau, aku lantas menduga Mo Lek melihat ke rumah mana kau masuk, aku merasa itulah rumahmu.”

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Jadi kamu sudah pergi ke rumah keluarga Su” Kui Ciang tanya. “Benar. Justeru di depan rumah dia itu aku melihat Tian Sin Su berdua Sie Siong !” Kui Ciang terkejut hingga ia berseru. “Apakah kamu tidak masuk ke dalam rumah Keluarga Su itu?” Ia tanya. “Entah bagaimana dengan Su Toako …” „Aku melihat seorang sasterawan usia lebih kurang empat puluh tahun yang mukanya putih dan tanpa kumis, ia ada bersama mereka itu kedua pihak bicara sambil terawa-tawa. Tentu sekali tidak berani aku masuk ke dalam rumah itu. “ Kui Ciarg heran. “Apakah kau dengar pembicaraan mereka ? Apakah katanya mereka itu ?” “Bersama Mo Lek aku sembunyikan diri di atas pohon kami melihat mereka menunggang kuda. Aku mendengar suaranya sie siong, yang mengatakan : Taysu tentu akan memberikan pangkac tinggi padamu. Dua kali aku mendengar disebutnya tuan Toan. Karena kuda mereka dilarikan kesas, aku tak dengar apa-apa lagi Agaknya mereka sangat menghargai si yuan Toan itu …” „Pantas kamu menduga mereka sahabatku! kemudian bagaimana?“ itu berdua sahabat

”karena aku mendapat kenyataan rumah itu bukan rumah kau, aku meninggalkannya. Aku pergi menanyakan setiap rumah. Dengan banyak susuh barulah aku dapat mencari ke sini. Coba bukan karena kau beri anak denganku pasti aku tidak berani menemui kau! Baiklah telah aku menjelaskan semua moku sekarang terserah kepada kau. kau hendak membiarkan kami pergi atau tidak. Umpama kata benar kau hendak menangkap kami, untuk diserahkan pada An Lok san silahkan turun tangan!” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kata kata yang belakangan ini dikeluarkan secara dingin. Bertepatan dengan dikeluarkannya kata-kata penutup itu turun tangan, Kui Ciang berteriak seraya berlompat untuk berlari keluar. Leng Hu terkejut hingga dia pun berseru: ‘ Kau ! . . . kau ! . . . Benarkah kau …” Dia menduga kepada ipar itu mau lari kepada An Lok San. Dia kaget dia mau lari menyusul. Sian Nio lompat menyamber baju kakak nya itu. “Shako kau sembrono sekali! “sang adik berkata keras. ,Apa? “kakak itu tanya heran. “Jikalau dia mau mencelakai kau, tak dapatkah dia lantas keturunan ditangan sendiri? ‘adik itu kata. ‘Mustahil dia diketulungannya mencari kawan pembantu ? Apakah kau tidak menyargka bahwa diapun dapat menduga kau bisa melarikan diri ?” Leng Hu berpengalaman, pasti ia mengerti adiknya ini hanya barusan saking kaget tak sempat ia berpikir lagi. Maka ia tidak memaksa lari, ia manghentikan tindakannya seraya berpalirg. Justeru itu ia melihat Mo Lek dengan pisau belati di tangannya lagi meneancam punggung Sian Nio Bocah itu menyangka bibi ini melupakan kakaknya dan hendak mencelakainya. ”Mo Lek, jangan” Leng Hu membentak. Terus ia memandang adiknya dan berkata : ”Liok Moay kau bicara, kau bcaralah ! Aku serahkan jiwaku kepada kau !” Touw SianNio sebaliknya tertawa. „Shako jangan kau gelisah tidak karuan !” katanya. „Kau dengar aku.” Nyonya Kui C:ang menyingkirkan sumbu lilin, membikin lilin itu tambah terang, habis itu ia tuturkan permusuhan suaminya dengan Lok San, begitupun hal persahabatan Kui Ciang dengan Su It Jie, hingga kedua keluarga mau menyingkir bersama.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Leng Hu menjadi tenang. Baru sekarang ia begitupun Mo Lek tahu duduknya penrsoalan. Ketika itu terdengar suara kokok ayam, tanda sudah jam lima, sedang bayinya Kui Ciing mendusin dan menangis. “Sekarang aku mau memberi susu kepada anak itu,” kata Sian Nio, sembari tersenyum. „Anak itu tahu diri. dia tidur sampai fajar, baru dia mendusin Dia harus bertemu dengan shakonya !” Nyonya ini masuk ke dalam, kemudian ia keluar pula sambil mengempo anaknya. „Anak ini berbakat.” kata Leng Hu, „Dia dapat belajar silat nanti …” Baru orang she Touw itu berkata, demikian, tiba tiba mereka mendengar siu!an nyaring dari Kui Cang yang terus berkata seorang diri : „Pedang mau keluar dari sarungnya, untuk mengutungi kepalanya si orang jahat ! Inilah pembalasan bukan untuk perkara kecil !” Menyusul itu terdengar juga , suara pedang disentil. Ketika suami itu bertindak masuk, Sian Nio heran. Belum pernah ia menyaksikan suaminya gusar demikian. Alis dan kumisnya bangun berdiri, matanya berapi, tindakannya tetap tubuhnya tegak, la sampai melengak. Tiba-tiba Mo Lek menghampirikan. „Aku bersalah, kouwthio !’ katanya, seraya terus berlutut untuk mengangguk-angguk tiga kali sampai kepalanya membentur lantai !” Kui Ciang membungkuk, akan memimpin bangun bocah itu. Dia tertawa. “Bagus !” katanya. „Kau dapat membedakan salah dan benar, kaulah seorang laki laki sejati !” Leng Hu juga telah jelas segala apa, maka ia menghampiri ipar itu, guna mengakui kekeliruannya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Shako itu mau memberi hormat, Kui Ciang menyingkir „Di waktu begini, buat apa pakai adat-peradatan,” katanya. „Shako, ada satu urusan untuk mana aku hendak minta bantuan kau . .” Sekarang Leng Hu yang tertawa. „Di-antara sanak sendiri, mana ada permintaan brntuan ?” kata dia. Sengaja Leng Hu tertawa sebab ia melihat Kui Ciang bersungguh-sungguh Tertawa itu dapat mambantu melegakkan hati mereka. Kui Ciang menunjuk anaknya, ia kata” “Shako, aku minta kau suka merawat anak serta ibunya, sebentar lagi, setelah cuaca terang, kau ajaklah mereka pergi!” Ia tidak menanti jawaban, ia mengeluarkan sejilid buku, yang mana ia serahkan pada isierinya; „Sian Nio, baik-baik kau rawat anak kita ! setelah dia dewasa, kitab ilmu pedangku ini kau serahkan padanya!” Sian Nio mengawasi sang suami, tidak lantas ia menyambuti buku itu. Ia memang mau membawa anaknya pulang kerumah ibunya siapa sangka sekarang getas sekali suaminya itu berkata demikian. Berbareng dengan itu, ia merasakan firasat jelek. „Kau ambillah!” kata Kui Ciang, menghela napas. Ia mengerti kesulitannya isteri itu. „Ada kemungkinan kita juga tak bakal bertemu pula satu dengan lain “ .” „Toan long, kau hendak pergi kemana ?” sang isteri menanya. Ia menanya meski ia sudah bisa menduga tujuh sampai delapan bagian. „Aku mau pergi mencari Sa Toako!” sahut suaminya itu. ”Apakah kau telah pergi ke rumahnya? sebenarnnya apa sudah terjadi ? Bagaimana dengan isteri dan anaknya Su Toako?”

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Mereka telah dibawa pergi kaki tangannya An Lok San” Sian Nio terkejut hingga dia menjerit. ”Benarkah?”‘ tanya dia “Sungguh tak kusangka….” „Sebenarnya itu sudah dapat diduga” kata sang suami. „Kemarin aku keliru, aku lari menyingkir ke rumahnya. Begitulah An Lok San penyangka Su Toako sebagai aku!” Sian Nio heran „Su Toako seorang cinsu mengapa dia tidak membantah?” Leng Hu menyahuti adiknya itu. Ia kata; “Aku mendengar Tian Sin Su membilang hendak memberi pangkat padanya! Maka itu, moayhu, aku lihat manusia sukar diduga! Kau…” „Tidak!” Kui Ciang memotong Sian Nio. jangan kau tidak ketahui sifatnya Su Toako! untuk keselamatanku maka dia berdiam saja dirinya disangka aku. Ketika aku barusan tiba dirumahnya itu sudah kosong Aku masuk ke kamar mereka, aku dapat membaui sisa asap pulas. Dikamar tulis aku menemui suratnya Su Toako. Ini, kau baca sendiri!” Sian Nio menyambut surat itu dan membaca. “Kau lihat, bagaimana Su Toako telah memikir jauh!” kata pula Kui Ciang. ”Inilah suratnya untuk kita. Suratnya itu menganjuri isrerinya mencari sahabat itu, yang tak ditulis she dan namanya? siapa kalau bukannya kita? kau cerdas, Sian kau mesti dapat menerka! ‘ Pasti sekali Touw Sian Nio mengerti. Maka ia menjadi mendongkol sekali ‘„Tian Sin Su dan Sie Siong asal orang Kang Ouw, kenapa sekarang mereka jadi begini rendah?” katanya sengit. „Sampaipun wanita dan anak kecil mereka tak mau melepaskannya! “ „Begitulah, keluarga Su mendapat susah karena aku, apakah aku dapat berdiam saja?” tanya Kui Ciang. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sian Nio merasa hatinya sakit, ia sangat berkuatir. An Lok San mempunyai banyak orang kosen. Kepergian Kui Ciang ke sana pasti berarti menghampirkan ancaman bahaya besar. Celakanya, ia insaf, umpamakan ia menjadi suaminya itu, pasti ia akan berbuat demikian juga. Suami isteri itu sama-sama berdiam, mata mereka saling mengawasi. Baru kemudian, dengan tangan bergemetar, Sian Nio menyambuti kitab suaminya ”Toan Long, kau pergilah!” katanya-”Semoga orang baik dilindungi Thian, supaya kau bersama-sama Su Toako dan Su Toa So dapat kembali dengan selamat Aku menyesal, karena habis bersalin, tak dapat aku mengikut kau . , .” Kui Ciang bersenyum. “Kau harus merawat dan mendidik anak kita sampai dia besar!” katanya. „Perbuatan kau itu lebih berharga daripada kau turut aku mengadu jiwa!. Itulah tugas yang jauh terlebih sulit!” Aku tidak dapat memisah diri mengiring kau, maka itu aku cuma dapat minta bantuannya shako.” Ia menguatkan hati, untuk berlalu tetap tenang, toh muaranya berat, senyumnya tak dapat menyelimuti kedukaan hatinya. Leng Hu menyaksikan itu, dia tertawa, „Kui Ciang!” katanya, ”mengandal kepada ilmu silatmu, belum tentu kau tidak dapat kembali dengan tak kurang suatu apa! Kau harus ingat bahwa kami lagi menantikan kau untuk menghadapi Ceng Ceng Jie” Kata-kata ini juga melainkan alibi. Kui Ciang boleh gagah luar biasa tetapi sekarang dia mesti memasuki kedung naga dan guna harimau. Dapatkah sepasang tangan melawan empat? Buat menolong diri sendiri masih sukar, apalagi buat sekalian menolongi lain orang? http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kembali terdengar ayam berkeruyuk. “Sudah sampai waktunya!” kata Kui Ciang ”Nah, mari kita berangkat bersama, sebentar dimulut desa baru kita berpisah.” Malam itu orang tidur nyenyak, di tengah jalan belum nampak lain penduduk Rumah Kui Ciang di mulut desa dari itu, ia mesti melewati rumahnya Su It Jie, Disitu mendadak Kui Ciang berhenti, ”Mari kasih aku lihat muka anak kita!” katanya. Sian Nio mengangsurkan anaknya Kui Ciang mencium anak itu, terus ia kata, berat ; “Umpama kata aku tidak dapat pulang dan Su Toako tak pulang juga, setelah anak kita ini besar kau harus cari tahu tentang acaknya Su Toako itu! Harap iaja ia dapat tetap berada didalam dunia…”seandainya lama kau tidak dapat keterangan, kau tunggulah sampai tiga puluh tahun usia mereka baru kau nikahkan anak kita kepada lain nona. Tusuk Kundai itu kausimpan baik-baik, sebagai tanda mata.” „Kau jangan kawatir segala apa aku nanti beritahukan dia,” sahut Sian Nio, air matanya melele. “Sepuluh tahun kiia menjadi suami isteri, selama itu aku cuma membikin kau bercapai lelah,” kata Kui Ciang, ”maka itu kau terimalah hormatku!’ “Aku telah mendapat suami gagah sebagai kau, tak perduli bagaimana jadinya nanti, aku puas,’ berkata Sian Nio. „Maka kau pun terima hormatku !” Lantas suami isteri itu saling memberi hormat. Kui Ciang sudah lantas berlompat, untuk berangkat tanpa menoleh lagi. Ia kuatir istrinya melipat air matanya. „Kouwthio. tunggu !” mendadak ia dengar suaranya Tiat Mo Lek.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Mau apa kau?” ia tanya. , Aku mau turut kouwthio pergi ke Tiang-an !” kata bocah itu “Mau apa kau turut aku?” ”Untuk meluaskan pandangan mata di kota ini !” Kui Ciang tertawa. „Tahukah kau buat apa aku pergi ke Tiang-an ?” ia tanya, „Ini bukan kepergian uniuk main-main …” „Aku tahu kouwthio mau pergi ke rumahnya An Lok San untuk menolongi orang mulia she Su itu !” sahut si anak muda. „Bibi baru melahirkan, dia masih lemah. dan sha-cek pun terluka sekarang ia mesti lekas pulang jadi mereka semua tak dapat turut kouw thio dari itu selagi aku menganggur, baiklah aku yang ikut untuk menjadi kawan kouwthio …” “Inilah perjalanan adu jiwa !” kata paman itu sungguhsungguh. “Kau tahu tidak ? Tak dapat aku mengajak kau !” “Kouwthio. kau terlalu memandang enteng kepadaku!” katanya, sungguh-sungguh. ”Apakah cuma kouwthio seorang yang diijinkan menjadi seorang enghiong atau hoohan? Tak perduli kouwthio suka atau tidak, aku mau ikut !” Hati Kui Ciang tergerak. „Baik!” katanya. “Kau bersemangat, suka aku mengajak kau. Hanya ingat, setibanya,di Tiang-an kau mesti dengar kataku !” „Pasti !” sahut si anak muda. Leng Hu kurang setuju anak itu turut pergi, tetapi ia sendiri tidak dapat membantu, ia terpaksa membiarkan. Ia juga tahu tabiat dari si bocah yang sukar dibujuki. Maka ia berkata : „Kepandaian anak ini sudah lumayan. Sedikitnya ia pun dapat menjadi juru kabar. Kau ajaklah dia, memperoleh pengalaman !”

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Baik, shako,” kata Kui Ciang. „Jangan kuatir. aku akan jaga baik baik padanya sampai di Tiang-an, aku pun dapat mengaturnya. Andainya aku dapat melindungi jiwaku dan dapat mengajak Su Toako pulang, pasti aku nanti pergi ke Yi ciu menemui kamu untuk sekalian mencoba main-main dengan Ceng Ceng Jie ! ‘ Di dalam hatinya, Kui Ciang sudah mengambil keputusan untuk mewariskan kepandaiannya kepada Tiat Mo Lek, untuk mencegah bocah ini turut ia memasuki gedungya An Lok San. Mo Lek sangat cerdas, ia dapat menangkap maksudnya pembicaraan dua orang itu, maka ia pun kata dalam hatinya: „Setibanya di Tiang an aku pun ada dayaku ! kau- hendak memisahkan aku, tak dapat!’ Ia berpikir, terus ia berdiam saja. Leng Hu puas, hingga ia merasa girang. Perjalanan Kui Ciang berbahaya tetapi segala apa belum tentu. Ia mengharapi kembalinya ipar ini, untuk dia menghadapi Ceng Ceng Jie, su(aya urusan dua keluarga Touw dan Oag daAat dibereskan. Sian Nio juga lega hatirya mengetahui Mo Lek bakal turut suaminya maka ia kata: ‘Toan Long, baiklah di Tiarg an kau bekerja dengan melihat gelagat, jikalau sulit untuk turun tangan jangan dipekakan, umpamama kata kau membutuhkan bantuan, suruhlah Mo Lek lekas pularg !” „Aku mengerti,” sahut Kui Ciang- “istriku, kau rawat saja dirimu baik-baik ! Ingat pesanku, rawat anak kita !” habis berkata ia lantas berangkat, diikuti Mo Lek. Ia menuju langsung ke Tiang an, yang terpisahnya cuma enam puluh lie, tak lebih. Tiga hari kemudian maka di dalam sebuah rumah makan di samping pintu Beng-hong-mui, dari kota Tiang-an, terlihat munculnya dua tetamu asing untuk rumah makan tersebut

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Pintu kota Bong hong-mui adalah pintu kota terbesar untuk wilayah istana Kerajan Tong. Rumah makan itu justem terletak d sampingnya Maka itu tetamu tetamunya tidak sembarang orang banyak pembesar, sipil dan militer, yang rumahnya jauh, yang tak keburu pulang untuk bersantap. Yang lainnya ialah pegawai pegawai istana yang lagi lepas berdinas serta sahabatsahabatnya. Maka itu, kalau lain rumah makan ramainya malam, rumah makan ini di siang hari, Dengan begitu, para tetamu umumnya kenal satu dengan lain. Demikian kedua tetamu baru itu, yang tak ada yang kenal. Yang satu berumur empat puluh lebih romannya gagah tubuhnya dilapis baju kulit, di pinggangnya ada pedangnya. Kawannya ialah seorang muda umur tujuh atau delapan belas tahun, potongan, stau romannya, mirip anak hartawan atau berpangkat. Dia pun mempunyai mata yang tajam. Walaupun dua orang ini asing, lain lain tetamu tidak memperhatikannya. Mereka itu menyangka orang tentu datang ke kola Raja untuk pesiar atau hendak mencari pangkat, hal mana adalah umum. Dua orang itu ialah Toan Kui Ciang dan Tiat Mo Lek. Setibanya Kui Ciang dikota Raja lantas ia menumpang pada Hoy Jin, seorang pendeta kenalannya. Dulunya, kakek-nya sering menderma kepí da kuil itu. Ia menumbang tinggal separuh bersembunyi, selama mencari tempat kediaman An Lok San. Ia datang ke rumah makan ini dengan maksud tujuannya itu. Ia percaya ia akan memperoleh keterangan di tempat di mana ada banyak hamba negeri. Untuk itu, mereka mesti membeli pakaian yang lebih baik. Ketika itu tengah hari, waktunya- restoran ramai. Pada meja dekat jendela ada beberapa tetamu, satu diantaranya seorang relajar usia pertengahan, yang dandanannya sederhana. akan tetapi ia dihormati yang lain-lainnya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Roman orang ini beda dari pada yang kebanyakan, entah siapa dia …” pikir Kui Ciang. „Beberapa kawannya pun bukan sembarang orang …” Tengah ia mengawasi orang itu, orang pun menoleh kepadanya. .Pedang yang bagus ! pedang yang bagus” dia lau memuji tiba-tiba tangannya menumbuk meja. „Heran pelajar ini,” pikir Kui Ciang, terkejut. .Pedangku belum dihunus, dan sudah mengenali …” Orang itu terus menggapai dan kata : „Mari, mari!” ada arak wangi, mari kita minum bersama, sampai mabuk l Untuk bersahabat tak usailah main tanya she dan nama dulu ! Mari, mari minum di sini, aku sekalian ingin pinjam lihat pedangmu!” Biarnya ia orang Kang Ouw kawakan, Kui Ciang toh heran. Pengalaman seperti ini baru yang pertama kali. Biasanya suatu pantangan orang yang tidak dikenal yang meminjam lihat pedang orang lain. Orang ini, Kui Ciang merasa, seperti mempunyai pengaruh yang tak dapat ditolak. Tanpa pikir pajang lag, ia menghampiri. „Kau baik sekali, tuan, terima kasih !” ia kata. „Aku kuatir pedangku ini tak berharga disebut pedang yang bagus, dan cuma-cuma bakal mengotorkan mata tuan ….” Pedang ini pusaka keluarga Toan, mulanya didapat kakeknya sebagai hadiah dari Jenderal Lie Ceng ketika kakeknya itu turut berperang ke Barat, begitu di hunus, sinar pedang itu bergemerlapan. “Meski bukan Kui Ciang atau Bok Shia ‘toh pedang ini luar biasa !” kata pelajar itu tertawa “Kau datang dari mana ?” “Dari Ya Ciu,” sahut Kui Ciang.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

”Oh, jauh !” kata lagi orang itu. “Jalananpun berbahaya ! Tanpa pedangmu ini, sukar untuk kau tiba di Tiang an ! Ah, mengikat pedang ini, aku jadi ingat tentang petualanganku semasa muda !” “Sampai sekarang ini, kegemaran Haksu masih belum lenyap!” kata satu tetamu, tertawa lebar. Pelajar itu, yang dipanggil “Hak Su.” suatu sebutan mulia, tertawa. „Begitulah orang yang mengandali arak dari Seri Baginda Raja !” katanya. Mendadak ia berbangkit, tangannya menyentil pedang, terus ia bersenandung memuji pedang itu : “Botol emas arak sepuluh ribu, penampan kemala isi masakan selaksa tahil. Menghentikan cangkir melempar sumpit, tak dapat dahar, menghunus pedang memandang ke empat penjuru kosong belaka …” Belum ia berhenti bersenandung itu, maka seorang berpangkat, yang jubahnya tersulam ular naga, menghampirkan seraya berkata. “Tuan, tuan, mungkinkah kau…?” Seorang tua, yang duduk bersama si pelajar, berkata terperanjat : ‘Oh bukankah kau Gouw Su Ma ? Lie Hak Su. inilah Su Ma Gouw Kun dari ouw ciu, orang segolongan dengan kita !” Kui Ciang heran, ia berdiam saja. Ia masih belum tahu, siapa Hak Su ini. Pelajar itu tertawa pula, kembali ia bersenandung, menyebut-nyebut Ceng Lian Kie Su, mendengar mana mana si Suma tertawa dan kata; ”Benarlah tuan Ceng Lian Kie Su, sudah lama aku mendengar nama tuan, bagaimana beruntung ini hari aku dapat menemukannya!” Kui Ciang heran dan girang. Kiranya pelajar ini ialah orang yang ia dan Su It Jie paling mengaguminya, penyair besar Lie Pek yang kesohor! http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Memang penyair besar itu, kecuali ilmu surat dan syair, mengerti juga ilmu pedang. Kegemarannya ialah minum arak., bersyair dan bergaul mengamal. Ia memilih sendiri julukanya itu Ceng Lian Kie Su Cerg Lian ialah Teratai Hijau, dan Kie Su berani! pelajar aiau pembesar yang lak bertugas lag:, yang hidup bebas dan damai. Sebaliknya orang menyebutnya Lie Tek Sian, kaiena gerak-geriknya halus mirip dewa. Di masa mudanya ia gemar pesiar membawa-bawa pedang mendaki gunung Ngo Bie San Tay Heng San dan lainnya melajari sungai-sungai besar meneicipi. juga arak wangi pelbagai kota. Setibanya ia di kota Tiang an ini, karena diajar kenal dan dipujikan Pit Sie Siauw Kam Ho Tie Ciang, namanya lantas jadi tersohor, hingga ia dihormati segala pihak. Sampaipun Raja Baginda Tong Hian Cong, mendengarnya dan, dengan cara luar biasa, mengangkat ia menjadi Han Lim Hak Su serta ia sering diundang ke istana untuk bergama sama memandangi bunga bung«, mendengarkan tetabuan minum arak dan bersyair. Maka taklah heran ia dihormati orang banyak. Dan tak heran pula, ia mengagumi pedangnya Kui Ciang hingga ia mengundang orang tak dikenal itu minum bersama. Kui Ciang girang berbareng berduka. “Kalau Su Toako berada di sini berapa girang nya dia! “pikirnya. Lie Pek tertawa, sembari mengembalikan pedang orang ia kata; “Hari ini aku girang sekali! sudah aku mendapat lihat pedang bagus aku juga memperoleh kenalan baru ! Meski aku minum sampai pusing! “Dengan tangan kanan menarik Kui Ciang dan tangan kiri memegang Gouw Kun, ia mengajak me reka itu duduk bergama di mejanya. “Mari minum! mari minum! “katanya berulang-ulang, dan ia menenggak araknya berulang kali juga. Kemudian ia meloloskan sepatunya dan melemparkan kopiahnya sera ya berkata kata pula. “Oh, oh. aku sudah mabuk! benar-benar http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mabuk! “akhirnya menggeros.

ia

mendekam

di

meja

nampasnya

“Ah, hebat! “kata satu pembesar dalam satu meja itu. “Benar benar Hak Su mabuk bagaimana kalau seri Baginda memanggil ia untuk membuat syair?” „Jangan kau kuatir!” kata yang lain. “Kau tahu, dalam mabuknya dia dapat menulis syair terlebih bagus lagi!” Selama itu Kui Ciang telah belajar kenal dengan orang-orang sesama meja itu Selain Su Ma Gouw Kun itu. s! orang tua ialah Pit Sie Siauw Kam Ho Tie Cing, penyair juga, dan si anak muda yang tampan bernama Cui Cong Cie, Seorang she Thio bernama Hiok diaiah penulis pandai huruf model Co Jie. Yang lain-lainnya juga cukup ternama. Untuknya sendiri Kui Ciang menyambutnya nama palsu. Selagi Lie Pek itu tidur, Ho Tie Ciang mengajaki sahabatsahabatnya turun memasang omong bicara diri hal syair dan menulisnya. “Sayang kau tidak siang-siang datang ke Tiang-An,” kemudian kata Tie Ciang kepada Gouw Kan. „Bukankah di Ouw Ciu itu terkenal araknya yang dinamakan arak Ow-teng-ciu? Apakah kau bekerja disana untuk arak itu? Eh. ya, buat apakah kau sekarang datang ke sini?” ,Aku datang kemari karena panggilan untuk menjabat pangkat disini.” Gouw Kun menjawab “Sudah lima hari aku tiba tetapi aku masih belum peroleh panggilan untuk menghadapi Seri Baginda” Ho Tie Ciang heran. .,Seri Baginda jarang memperhatikan urusan pemerintahan, mengapa kau boleh di panggil menghadap? ‘ ia tanya, hening sejenak lalu menanya; “Kau pernah bertemu dengan Yo Kok Tiong atau tidak?” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Tidak.” “’Kalau begita lekas kau sedia kan bingkisan untuknya!” kata Tie Ciang tertawa. ia menambahkan; “Kalau barang tak segera di siapkan, uang emas pun boleh, bahkan lebih baik. Kalau perdana menteri kita itu melihat emas berkilauan mudah untuk bicara dengannya.” Gouw Kun tertawa. „Beberapa tahun aku memangku pangkat, sekuku kosong!” katanya: „Darimana aku memperoleh emas taruh Kata aku mempunyai uang, apakah aku tak dapat pakai itu untuk membeli arak? Kenapa aku mesti menghadiahkan Yo kok Tiong?” “Suma tidak tahu,” Tie Ciang menjelaskan “Semenjak Yo kok Tiong berkuasa, dia biasa menjual pangnar. Pembesarpembesar kota, asal bukan orangnya, tentu lantas ditukar. Kau dipanggil datang, inilan maksudnya, dan dia sekarang pasti lagi menanti bingkisanmu. Siapa tahu kau kurang pengalaman…” Ia tertawa dan kata pula: “Bagaimana kalau kita membantu kepada kau? Mungkin sebab kau ternama baik, dia ajal ajalan menukar kau dengan lain orang. Sekarang dia tentu mengharapi madapmu. Asal kau memberi muka padanya, tentu urusanmu beres!-‘ Gouw Kun gusar. “Lebih suka aku hilang kopiah kebesaranku, tak suka aku membaiki menteri besar itu!” katanya.’Baiklah kita jangan omongi pula urusan bingkisan!” “Kau putih bersih, saudara Gouw, itu bagus,” kata Tie Ciang. Cuma kau tidak memikir jauh. Bagaimana kalau kau digantikan orang yang tamak? Tidakah penduduk Ouw ciu bakal mengeluh? Kami bukan menganjuri Yo kok Tiong, kami memikirkan kebaikan rakyatmu! Sekarang ini pembesar yang baik terlalu sedikit, maka itu. yang masih dapat, baiklah dipertahankan.....”

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kalau saudara Gouw tidak mau merogo saku, baiklah kata Cong Cie. “Ada satu jalan lain yaitu coba bicara dengan Lie Pik Sia. Dialah salah satu sahabat tukang minum arak. Dialah yang Touw Hu puji dalam syairnya. Dia temberang dan royal tapi dia juga jujur.” Gouw Kun menghela napas. “Ho Tay jin menasihati aku menyayanyi penduduk OuW Ciu, itu benar,’ katanya,” tetapi keadaan begini buruk, hatiku menjadi tawar, Taru-h kata sekarang aku mengirim bingkisan, berapa lama aku dapat menjabat terus? Aku bukan tukang memeras rakyat, dari mana aku dapat uang lagi nanti? Maka biarlah peserah kepada Thian…”” Tie Ciang masih mau bicara pula ketika ia batal sebab ia mendengar suara pelayan. Suaranya hormat: “Oh Leng ho Tayjin, Hari ini Tayjin datang lambat…” Melihat orang diperlakukan hormat demikian, Gouw Kun tanya: “Dia berpangkat apa nampaknya dia agung sekali?” Tie Ciang tertawa dan menjawab: “Mungkinkah dia memangku pangkat dalam pasukan Ie Lim kun, sebagai pahlawan pengiring Seri Baginda Raja Kau jangan pandang ringan pangkatnya itu, dia sebenarnya lebih mewah daripada kita. Tuan tuan besar pengiring Seri Baginda itu kebanyakan langganannya rumah makan ini maka juga pelayan pelayan sangat suka membaiki mereka…”” „Mungkin Lie Haksu hendak diundang ke istana,” kata seorang pembesar lain.Lantas terhibat tiga orang naik ditangga, yang satu dandan sebagai opsir Ie Lim Kun, yang dua seperti opsir biasa, pinggangnya dilihat dengan ikat pinggang emas serta sepatunya sepatu peranti menunggang kuda. Rupanya merekalah opsir tentara di tapal batas. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si opsir Ie Lim Kun lantas berkata pada pelayan “Aku membawakan tamu dua orang tamu agung. Inilah Gui Ciang Kun dan ini Sie Ciang Kun. Lekas siapkan kami meja pilinan? ‘ Pelayan itu memberi hormat, lantas dengan cepat ia memimpm mereka ke sebuah meja dekat jendela. Bersama opsir Ie Lim Kun itu, yang dipanggil Leng ho Tayjin, yang berpangkat touw itu, ada seorang opsir yang gemuk. Dia melihat Lie Pek mendekam dimeja dan menggeros keras, kopiah dan sepatunya terletak sembarangan di pinggiran, bauk araknya keras sekali. Diapun melihat seorang lain, yang kumisnya berlepotan air bak, lagi menggerak-geraki tangan dan kakinya, menantang orang minum arak. Dia mengerutkan alis dan berkasa: “Orang bilang inilah rumah makan paling tersohor untuk kota Tiang an, kenapa di sini orang membiarkan si mahasiswa rudin itu menggoler di sini?….” „Stt!”‘ berisik Leng ho Tayjin sambil menarik tangan orang. ‘Yang lagi tidur itu ialah Hak su Lie Ceng Lian yang paling disayang Seri Baginda Raja.” Opsir itu terperanjat, ia lantas membungkam dan nampaknya jengah, diatn diam ia menarik Lie Hak su serta orang yang satunya itu Thio Hiok. Yang belakangan ini masih minum sambil memasang omong dengan asyik lega juga hatinya mendapat tahu orang tidak mendengar suaranya barusan. Ketika itu Toan Kui Ciang sudah kembali ke mejanya. Tiat Mo Lek lantas berkata perlahan padanya: ‘ Dua orang itu ialah orang orangnya An Lok San yaitu Gui San, Sue Sie Siong.” ---ooo0dw0ooo---

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Jilid 3 „Kau sabar, jangan terbitkan onar,” Kui Ciang memberi ingat. Ada tiga buah meja lain di ruang itu, yang ditempati anggautaanggauta Ie Lim Kun, melihat pada Leng Ho Tayjin, mereka pada menyapa. Leng Ho Tayjin sambil tertawa berkata pada mereka itu : „Mari aku perkenalkan kamu kepada sahabatsahabat baru ! Inilah Gui Ciang Kun serta Sie Ciang Kun, semua berada dibawah perintahnya An Ciat touw su.” Semua orang Ie Lim Kun itu memberi hormat pada Gui Sin Su dan Sie Siong. Mereka itu tahu benar, An Lok San ialah Ciattouw-su yaag paling besar kekuasaannya atas tentara serta diapun anak pungut Yo Kui Hui. Selama mendengari maka Toan Kui Ciang ketahui touw ut she leng ho itu bernama, Tahu bahwa kedudukannya diantara semua hadirin itu ialah yang paling tinggi, maka juga semua orang sangat menghormatinya. Gui Sin Su dan Sie Siong, yang mengantar An Lok San, karena An Lok San ditahan Yo Kui Hui di istana, dapat tempo luang sampai sebentar sore untuk mereka memapak cukong atau tuannya itu. Toang Kui Ciang sementara itu berpikir : „Rumah makan ini dekat dengan pintu Beng hong mui. Baiklah sebentar malam aku datang pula kemari untuk menantikan, kalau naati mereka ini pergi menyambut An Lok San, aku kuntit mereka , . . “ Tiat Mo Lek tak kuatir dia dikenali Sin Sa dan Sie Siong karena perbuatannya me-colongi anak anak,sebab sekarang ia dandan sebagai anak keluarga hartawan atau berpangkat, tak lagi sebagai anak dusun. Dua orang itupun tak memperhatikan lain lain orang karena mereka repot dengan arak mereka serta beromong omong terus. Mereka lebih asyik mengawasi si Lie Pek. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Toan Kui Ciang tidak berkuatir akan tetapi ia mau berlaku berhati-hati. Maka itu ia anggap lebih baik ia lekas meninggalkan rumah makan itu. Tengah ia mau memanggil pelayan untuk membayar uang arak, justeru ada datang seorang tetamu baru, yang lantas saja menanya dengan suara keras : “Apakah Lie Hak Su lagi minum arak disini ?” Dialah seorang opsir, yang lain seragamnya daripada seragamnya Sin Sudan Sie Siong. Bahan kainnya bahan kasar. Meski hawa dingin, dia memakai sepasu rumput. Dia membekal golok panjang, yang sarungnya terbuat dari cula badak yang mahal, model kuno Sarung itupun diikatkan runce benang emas. Tanpa sarung mahal itu, dia mirip dengan seorang serdadu rudin. Ketika Kui Ciang memandang orang itu ia terperanjat Opsir itu berumur lebih kurang tiga puluh tahun, matanya tajam sekali, kumis dan berewoknya kaku. Dia bermuka penuh debu toh sifat gagahnya tak lenyap. Ia ingat satu orang hanya ia masih ragu ragu . . . Leng Ho Tat lak senang dengan lagaknya opsir itu. “He, kau orang macam apa?” dia menegur. „Dapatkah kau menyebut Lie Hak Su seperti caramu barusan” Opsir itu tertawa. Dia kata : „Aku mencari Lie Hak Su, ada apa sangkutannya dengan kau ? Kenapa kau usilan?” ,Kau bicara keras-keras, itu artinya kau tidak kenal aturan Sie Sione menegur. „Lie Hak Su lagi tidur nyenyak. kenapa kau bikin banyak berisik? Melihat romanmu begini kasar tak mungkin Lie Hak su mempunyai sahabat semacammu !” . Tadi Sie Siong kenal Lie Pek, dia omong sembarangan, dia menyesal maka sekarang dia bawa aksinya itu, sekalian membantui Leng Ho Tat, dia ingin mendapat muka dari pembesar kawan kasannyaHak Su itu. Dia pikir : .Kali ini tidak http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

nanti aku keliru melihat orang pula ! Jahanam ini tentulah tak lebih tak kurang seorang opsir rendah di perbatasan. Mustahil benar dia kenal Lie Pek !” Tidak tiu saja, orangnya An Lok San ini mencoba menghadang opsir itu, hingga dia menjadi gusar. Lantas dia kata ketus : “Kau melihat orang dengan mata anjingmu !” tangannya pun lantas menolak. .Apakah kau mau bertempur ?” tanya Sie Siong, tertawa dingin. Dia mengulur tangannya guna mencekal tangan orang itu, niatnya memutar tangannya, supaya orang jadi buah tertawaan para hadirin. Di luar dugaannya dia gagal, bahkan dialah yang terdorong hingga terhuyung hampir menubruk tanah! Leng Ho Tat terkejut, ia tahu Sie Siong ialah Kiam-kek, ahli pedang, dari Ceng Ciu dan disebelah pedang, orang liehay senjata rahasianya serta pandai menangkap tangan orang. Siapa sangka, sekarang jago Ceng Ciu itu ketemu batunya. Hcrarnya ia tak melihat gerakannya opsir perbatasan yang rudin itu Sie Siong menjadi gusar sekali. Dia mau menghunus pedangnya. Ho Tie Ciang lantas datang sama tengah. ”Lie Haksu itu luas pergaulannya. menyayanginya, itulah bagus. Tuan ini” Sie Ciang Kun

“Aku she Lam !” Kata si opsir perbatasan. „Yakni Lam Selatan dari empat penjuru timur barat, utara dan selatan!” „Saudara Lam,” kata Tie Ciang pula, “kaulah kenalan Lie Hak su, harap kau tidak kecil hati atas cegahannya Sie Ciang Kun ini. Benar-benar Lie Hak-su telah minum banyak arak sekarang dia lagi tidur . . . .” Sie Siong berdiam. Bagus Tie Ciang datang menyelak. Sekarang dia mau menduga orang berpangkat tidak rendah. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Opsir she Lam itu memandang ke sekitarnya. ”Itulah Lie Hak-su yang tidur di meja ’ ia tanya. ”Tidak salah,” sahut Tie Ciang. ”Ialah Lie Haksu.” ”Kau bikin banyak berisik, kiranya kau tidak kenal Lie Hak-su !” kata Sie Siong, yang kumat mendongkolnya. Dia tidak menyangka opsir ini tidak mengenali Lie Pek. „Kapannya aku bilang aku kenal dia” kata opsir she Lam itu. „Sebenarnya ada urusan apa tuan mercari Lie Hak-su ?” tanya Tie Ciang, heran. „Aku kenal seorang sahabatnya Lie Haksu, dialah yang menitipkan surat untuk aku menyampaikannya,” sahut opsir itu. „Siapakah sahabat tuan itu?” Tie Ciang tanya pula, Ia percaya, asal sahabatnya Lie Pek, tentu ia kenal atau pernah mendengarnya. “Ialah sahabat she Kwee. Surat ini aku mesti serahkan sendiri, tidak dapat aku pakai perantara lain orang.” ”Belum pernah aku dengar Lie Hak-su menyebut sahabatnya orang she Kwee…”” pikir Tie Ciang. Tapi ia pandai membawa diri, sebab orang tak sudi menyebutnya, ia tidak mau menanyakan lebih jauh. Tapi ia kata, manis: „Lie Hak-su tidur entah sampai kapan, apakah kau ingin aku membangunkannya ?‘ „Tak usah ! Tak usah !” kata opsir she Lam itu. „Biar aku minum disini sekalian menantikan sampai dia mendisin.” Ia lantas teriaki pelayan nyaring : „Bawakan aku arak putih lima kati serta tiga kari daging kerbau ! ‘ Sie Siong melirik, romannya puas. Dia kata: „Bagus! nyata mataku dapat melihat tepat! Dengan ini dia mau mengatakan: http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Kau lihat, apa aku bilang ! Lie Hak-su mana punya sahabat semacammu ? aku salah terka !” Opsir she Lam itu lantas minum dengan bernapsu dan dahar dagingnya dengan lahapnya ia tak memperdulikan sikapnya orang. Sie Siong jadi berani, dia tertawa dan berkata pula: ”Rumah makan ini rumah makan paling terkenal untuk kota Tiang an hahaha ! siapa sangka sekarang ada yang menganggapnya seperti warung nasi di tepi jalan . . . !” Orangnya An Lok San ini mentertawai orang hanya memesan arak putih dan daging kerbau sedang di rumah makan itu ada tersedia arak yang harum dan banyak macam makanan yang lezat lezat. Kali ini opsir she Lam itu menggedruk-kan poci araknya dan kata dengan keras : „Aku makan apa aku suka ! Dapatkah kau usilan” Poci arak itu terbuat dari perunggu, karena digedrukkan keras, melesaklah dia ke dalam meja ! Melihat demikian, semua orang heran. Sie Siong pun kaget. Tapi dia mau memegang nama-nama, maka dia kata : “Kau jangan berlagak ! Di sini bukan tempat bertempur, jikalau kau benar kosen, beranikah kau berjanji untuk kita memilih suatu tempat buat berunding ?” Biar bagaimana, suaranya orang she Sie ini tak sekeras semula. Opsir she Lam iiu tertawa dingin. „Terserah kepada kau !” sahutnya, gagah „Pasti aku akan melayanimu, Hanya aku mesti tunggu sampai aku telah bicara dengan Lie Hak Su, baru aku akan menemui kau!”

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Melihat kepandaian orang, Kui Ciang merasa pasti, katanya dalam hati : „Tak salah lagi inilah benar dia ! Aku tidak sangka aku bertemu dengannya disini.” Meski demikian karena di situ ada banyak orang, ia mau menanti ketiga untuk menyapa dan berbicara dengannya. Gui Sin bu ada bersama Sie Song akan tetapi selama aksinya rekan iiu, dia berdiam saja, dia campak jeri. Kui Ciang melihat lagaknya itu, mukanya pun pucat benar dia merabah gagang goloknya, tak pernah dia menarik itu. Ia tidak nengerti, la lantas menduga : „Tentu orang she Gui ini kenal orang she Lam itu, mungkin mereka Bermusuhan, kaiau begini mungkin bakal ada pertunjukkan yang menarik hati” .” Sie Siong kata dalam hati kecilnya : “Kau boleh lihay ilmu silatmu bertangan kosong tetapi dengan pedang belum tentu aku dikalahkan kau !” Tengah dia hendak menetapkan janji dan Ho Tie Ciang serta yang lainnya ingin datang sama tengah, tiba tiba mereka mendengar suara genjoreng tiga kali, disusul dengan ini kata-kata keras : „Firman Seri Baginda Raja !” Dalam sekejap, seluruh lauwteng menjadi sunyi. Para orang berpangkat lantas ber-bangkit untuk berdiri diam di pinggiran. Cuma pemilik rumah makan yang maju, untuk menyambut, seraya dia menanya hormat: “Selamat datang, tiongsu tayjin ! Belum tahu Seri Baginda Raja memanggil siapa ?” Kejadian ini, bukan baru satu kali ini, pemilik rumah makan itu dapat menduga yang dipanggil mestinya Lie Pek, akan tetapi ia menanya untuk memperoleh kepastian. “Ti-ong Su” itu ialah sebutan untuk thaykam, atau orang kebiri, yang ditugaskan membawa firman, akan tetapi kali ini petugas pembaca firman itu bukan thaykam hanya seorang pemain musik, Lie Ku Lian namanya. Inilah sebab dia disayangi Raja dan diberi pangkat pemimpin. Ho Tie Ciang dan yang lainnya kenal dia. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lie Ku Lian maja ke depan ia tidak menjawab tuan rumah hanya berkata nyaring: „Firman rremanggil lantas kepada Lie Hak Su untuk menghadap Seri Baginda Raja di paseban Sim Hiang Teng !” Di belakang pembawa firman ini berada seorang taykam yang membawa kopiah, jubah ikat pinggang dan Chio hut untuk Lie Thay Pek. Melihat Lie Hak Su lagi tidur, Lie Ku Lian tertawa dan kata : „Kembali Lie Hak Su sinting ! Setiap Baginda Raja menghendaki ia lantas menghadap, bagaimana sekarang ? kebetulan Ho Tayjin berada di sini. Tolonglah tayjin membantu menyadarkannya !” Tie Ciang suka sekali membantu, maka bersama pemain musik itu’ia menghampakan Lie Pek untuk dikasi bangun. Tiba-tiba Lie Pek menolak dengan kedua tangannya , dengan mulut mengeluarkan bau arak ia mengoceh; „Aku mabuk dan ingin tidur, tuan pergilah!” Dan tanpa mengangkat kepalanya ia tidur pula. Karena tolakan itu, Ku Lian dan Tie Ci ang, terhuyung hampir jatuh. Ku Lian menyeringai dan kata: ,Ah. kali ini mabuknya lebih hebat lagi! “Bagaimana?” „Kita gototg saja!’ kata Taykam, „Biar bagaimana dia meski salin pakaian dulu! Eh pemilik hotel , lekas ambil air!” “Untuk apa Seri Baginda memanggil Lie Hok Sun?” tanya Tie Ciang pada Ku lian yang ia kenal baik. Sebagai Pit Sie Siauw Can, ia pun menjadi pembesar yang selalu berdekatan dengan Raja. Tahun ini kota Yang Ciu mengirim bingkisan pohon bunga bouwtan banyak macam Lie Ku Lian menjawab. „Semua itu di tanam di luar paseban Sim Hiang Tang, ditimurnya” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pengempang Hia Keng Tie. Hari ini bunga itu pada mekar, maka Seri Baginda menitahkan menyiapkan santapan di paseban itu, untuk berjamu bersama Yo Kui Hui. MesiK pun memperdengarkan lagu-lagu tetapi Seri Baginda masih kurang puas maka aku lantas di perintahkan membawa kuda Baginda kuda Giok Hoan Cong untuk menyambut Lie Hak Su. Lihat disana itu kuda Baginda sudah siap sedia!” Ketika itu tuan rumah kembali dengan sebaskom air. Ku Lian minta sabuk yang ia celup di dalam.air, setelah memeras sedikit ia letaki itu di jidat Lie Hak Su. Ia pun perintah pelayan mengambil empat lembar seko-sol, guna dipakai mengurung Hak Su itu, Sam bil tertawa ia kata: „Syukur aku ketahui tabiat Lie Hak Su, aku pergi lebih dulu ke Han Lim le mengambil kopiah dan pakaian nya lengkap. Benar saja dia datang kemari’ dengan pakaian biasa. Lie Pek dikurung dengan sekosol. Kui Ciang dan yang lainnya tak dapat melihat apa yang dilakukan terhadapnya oleh Kui Lian beramai, hanya tak lama ia mendengar suaranya Hak Su itu! „Suasana begini indah. Aku belum puas minum! Syair apakah yang Lharus dibuai?” Lie Kun Lian terdengar berkata-kata tapi tak jelas, hanya Lie Pek tertawa dan berkata pula: “Ha bunga-bunga bouwtan dari Yang Ciu sudah pada mekar! Warnanya merah, ungu, kuning muda, putih dan lainnya! Seri Bagindapun menyediakan arak dari Li-tang Cit! Baiklah nanti aku pergi, untuk mencicipi! Dengan memandang kepada bunga-bunga dari Yang Ciu itu suka aku pergi ke sana! ‘ Lalu terdengar lantai papan lauwteng berbunyi, rupanya disebabkan terlalu gembira, penyair jago minum arak itu sudah me-nari-nari . . . Sebentar kemudian, Lie Pek sudah nampak muncul diluar sekosol dengan pakaian rapi, akan tetapi ia tetap http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berbau arak. matanya keriyap, jalannya limbung. Hingga ia mesti dipepayang beberapa thay-kam. Justeru itu si opsir she Lim bertindak kedepan orang. Lie Pek menghentikan tindak kannya ia mengawasi, lalu berkata : “Oal seorang yang gagah! Eh, kau “ kau… kau” Orang she Lam itu lantas berkata: , Aku datang .membawa suratnya Kwee Leng Kong. aku justeru mau bertemu denganmu…” Belum habis kata-kata itu, beberapa thaykam menolak tubuh orang seraya mengusir : „Macam apa kau? Lekas pergi!” „Kurang ajar!” Lie pek membentak. „Kamu berani mengusir sahabat karibku?” ia lantas mementang kedua tangannya, hingga dua orang kebiri roboh terjengkang Semua orang heran, seorang berpangkat berbisik pada rekan disisinya: Aneh! tadi dia tidak mengenali Lie Hak Su, sekarang dia jadi sahabatnya . .” Habis menyingkirkan orang-orang kebiri itu, dengan tubuh terhuyung, Lie Pek mendekati si opsir she Lam. sambil menunjuk ia tertawa terbahak dan berkata: , Kau tidak kenali aku? Aku justeru kenal kau! kau!….kau ….kau…. kau tentulah saudara Lam Pat! Ha-baha! setelah bertemu Lam Pat. siapa kesu-dian memperduliksn pula segala Kui Hui ? Mari. mari! Mari kita minum pula!” Lie Ku Liai menghampirkan opsir yang dipanggil Lam Pat itu, ia menjura terhadapnya dan berkata dengan perlahan: „Seri Baginda lagi menantikan Lie Hak Su, kau bantulah aku…. Lie Pek maju pula, tubuhnya terhuyung hingga ia mesti pegangi meja. „Lam Pat! Lam Pat! mengapa kau tidak minum arak’” Katanya „Eh, ya apa katamu barusan? kau menyebutnyebut entah apa loo kong kong. “kau kata kau membawa http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

entah barang apa untuk . . . . Hihaha! kau Lam Pat, mengapa kau menjadi …. pesuruh? Lucu! lucu! lekas bicara biar terang!” Hak Su ini belum sadar benar, telinganya salah mendengar, orang menyebut Kwee Leng Kong ia mengatakan. “Loo Kong Kong. Lam Pat itu tertawa. ‘Nyatalah Hak Su orang sekaum dengan kami! “katanya “Sekarang ini ada kuda Raja menantikan di depan rumah makan, untuk membawa kau ke istana, taruhkata kau menemani aku minum aku akan minum tak puas, maka itu baiklah tunggu sebentar malam setelah tempomu luang, baru aku temani kau minum semalam suntuk! „Bagus, “kata Hak su itu, ‘”Kau benar! baiklah sebentar habis aku bertemu dengan Raja baru aku menemui kau itu waktu memang kita dapat minum dengan terlebih memuaskan !” Ho Tie Ciang lantas nimbrung: “Lie Hak Su tinggal di rumahku, asal#kau tanya-tanya rumah ke’uarga Ho dikota Barat, pasti kau akan menemuinya !” Orang she Lam itu menyahuti: “Tuan toh Ho Siauw Kam ? aku tahu! “ia ketahui maksudnya Tie Ciang yang meminta ia membiarkan Lie Pek lekas pergi. Ia pun tahu riak Su itu la?i mabuk tak dapat ia bicara banyak atau menyerahkan suratnya. Lie Kun Lian bersama Tie Ciang semua memayang Lie Pek turun dari lauwteng rumah makan untuk menuju ke istana. Dengan begitu, kawan-kawan mereka lantas bubaran. Orang she Lam itu menggeleng kepa a ia kata senang diri: “Bencana tengah mengancam tapi di Istana orang kelelap dalam pelesiran . . . Tiba tiba ia menepuk meja dan kaca nyaring: ‘Sayang Lie Hak Su!. . . “Lan tas ia meneguk meneguk habis araknya setelah itu, dengan melemparkan sepotong uang perak, ia mau berlalu dari rumah makan itu. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru itu Leng Ho Tat Dan Sie Si-ong menghampiri. Saudara Lam tunggu dulu! ‘ kata si orang she Leng Ho, tertawa. Alis Lam Pat terbangun, “Ke mana?” tanyanya. Apakah sekarang juga kita pergi ke cuali ini si orang she Sic apakah kau pun ingin turut ambil bagian ? ‘ Ia menyangka orang rnau menjanjikan pie bu bertanding mengadu kepandaian. Leng Ho Tat tertawa. „Saudara Lam Pat, aku bukan mau menjanjikan tempat dan waktu adu pedang! “ katanya. Lam Pat mementang matanya. „Bukan buat adu pedang” katanya. ”Habis mau apa kau menahan aku ? ‘ Sie Siong maju setindak, dia memberi hormat. „Aku tidak kenal kau, saudara,” katanya, ”tadi aku berlaku kurang hormat padamu aku minta kau tidak buat kecil hati.” Lam Pat tertawa dalam hatinya , pikirnya : „Mereka tentu melihat bagaimana Lie Pek melayani aku maka sekarang mereka merubah sikapnya ini , . . .” Tapi ialah orang dengan dada lapang, meski ia tak menghargai Sie Siong ini, sebab orang telah minta maaf, ia tidak mau berpikiran cupat. Maka ia tertawa dan kata : “Itulah urusan kecil, tak apa ! Oleh karena Sie Ciang Kun tak ingin kita mengadu pedang, nah harap kau mengijinkan aku pergi terlebih dulu !” „Tanpa berkelahi orang tak berkenalan !’ kata Leng Ho Tat. “Saudara Lam Pat, tak ada halangannya bukan untuk kita duduk-duduk dulu sebentaran ?” „Tak berani aku menerima kehormatan itu !” sahut si opsir she Lam „Dengan kata-katamu ini, saudara Lam, kau jadinya masih kurang puas hati.” kata Leng Ho Tat Tertawa. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Saudara Lam Pat, kita sesama orang Rimba Persilatan,” Sie Siong menyela “Leng Ho Touw-ut paling gemar bergaul, maka itu aku harap sandar? janganlah segan memberi pengajaran kepadanya.” Lam Pat berkata dalam hatinya : „Dua orang ini mempunyai ilmu silat yang baik, mengapa sikapnya menjemukan” tapi ia duduk pula. Ia tanya, tawar : „Tuan-tuan, ada apakah pengajaranmu” „Memang ada yang kami ingin tanyakan kau, saudara Lam.’” sahut Leng Ho Tat tertawa. “Barusan saudara menyebut nyebu Kwee Leng Kong. Adakah ia Kwee Cu Gie dari kota Kiu Goan ?” Kwee Cu Gie itu kemudian berjasa besar hingga dianugerahkan menjadi Pangeran Hun Yang Ong. Hanya ketika itu ia masih menjabat Thoysiu atau residen dari sebuah kota, hingga belum banyak yang mengenal namanya. Toan Kui Ciang pun heran karenanya hingga ia berpikir : , Leng Ho Tat menjadi touw-ut dari Ie Lim Kun dan Sie Siong punggawanya An Lok San kalau mereka menghormati Lie Hat-su, itulah pantas, Lie Hak su dihargai Raja. Kenapa dia sekarang agak menghormati seorang thoysiu ? Eatah orang macam apa Kwee Cu Gie itu. Lam Pat agak bersangsi, tapi toh ia menjawab. „Benar, orang yang menitipkan surat kepadanu untuk Lie Hak su benar Kwee Kun Siu. Apakan tuan-tuan kenal dia?” „Ya,” sahut Leng Ho Tat Perkenalan Lie Pek dengan Kwee Cu Gie bukan sembarang perkenalan. Mulanya itu peristiwa kebetulan. Pada suatu hari Lie Pek pesiar di batas kota Pian Ciu. Di sana ia bersomplokan dengan serombongan serdadu bersenjataki n toya lagi mengiring sebuah kerangkeng per-sakitan. Orang http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

yang dikurung itu, di matanya si penyair, beroman luar biasa, la menjadi ketarik hati dan menanyakannya. Nyata orang itu bernama Kwee Cu Gie, bekas pian ciang, atau punggawanya Ciat-touw-su Ko Sie Han di Liong See. Dia ditugaskan menilik sisa rangsum tentara, apa lacur serdadu se-bawahannya sembrono, serdadu itu membikin rangsum itu terbakar habis, karena dia yang bertanggung jawab, dia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Sekarang dia bawa untuk menjalankan hukumannya itu. KweCuGie memberi keterangan dengan suaranya yang ryaring umpama berkata seperti bunyi genta. Lie Pek mendengarkau sambil mengasih jalan kudanya, mengikuti, kemudian ia menanya tentang ilmu militer, ilmu silat dan kitab perang. Kwee Cu Gie menjawab dengan cepat dan rapi. Dia pun bicara dengan wajar, hingga tak mirip seperti orang yang mau pergi ke tempat kematian-nya. Lie Pek kagum dan heran, ia berpikir : ”Tak sedikit orang gagah yang kukenal, tetapi orang yang tepat menjadi sastrawan utama dialah ini!” Maka dari itu ia tetus mengikuti sampai ditempatnya Ko Sie Han, ia menghadap perwira tinggi itu untuk meminta kan keampunan bagi Kwee Cu Gie. Ciauw-touw su itu luas pardangannya. dia memang mengagumi penyair itu, maka dia suka berbuat baik. Permintaan si penyair diluluskan. Hukuman mati Kwee Cu Gie dibatalkan, ia dibebaskan, lalu ditempatkan tetap dalam pasukan tentara, untuk nanti ia membuat jasa guna menebus dosarya iiu. Lewat beberapa tahun Kwee Cu Gie benar berhasil mendirikan jasa, dari itu ia diberi pangkat thaysiu dari kota Kia Goan itu.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lie Pek tahu sahabatnya iru mendapat kedudukan baik. ia senang sekali, tetapi hal pertolongannya itu tak pernah ia ceritakan kepada siapa juga, maka juga Ha Tie Ciang tidak mendapat tahu. Kwee Cu Gie juga mendapat kabar halnya Lie Pek berada di kota raja di mana dia disayang raja, hanya dalam kedudukan mirip tetamu, jadi dia tidak dipakai untuk mengurus pemerintahan sedang kawanan dorna lagi menguasai negara. Ia peicaya, orang sebagai Lie Pek itu, tak nanti dapat hidup selayaknya didalam suasana keruh itu, dari itu ia mau mengajarnya untuk tinggal bersama. Demikian ia menulis surat dan minta seorang sahabatnya menyampaikan suratnya itu. Sahabat itu ialah yang Lie Pek menyambutnya “saudara Lam Pat.” Dialah opsir yang Kwee Cu Gie menjadikan pembantunya. Dia anak yang ke delapan, nama benarnya yaitu Lam Cee In. Untuk kedua wilayah Yan dan Tio (Hoopak dan shoasay), dia terkenal sebagai Yu hiap, orang pengembara. Selama dua puluh tahun, dunia kang ouw atau Sungai Telapak mengenal dua jago, ialah sepuluh tahun yang pertama Toan kui Ciang, dan sepuluh tahun kemudian, sesudah Kut Ciang mengundurkan diri. ialah dianya. Selama di Kiu Goan pernah dia seorang diri memukul mundur tiga ratus penjahat perbatasan bangsa Kiang, hingga di-sana dia menjadi buah bibir rakyat: “Lam Pat barulah laki-laki sejati!” Atas pertanyaan Leng Ho Tat, karena orang she Leng ho ini dipercaya benar kenal Kwee Cu Gie, Lam Pat memberitahukan juga surat itu memang dari Kwee Cu Gie thaysiu dari kota kiu goan itu. Diluar dugaan, mendengar jawaban Lam Pat, sambil tersenyum Leng ho Tat kata: ‘Surat itu belum diterima olen Lie Haksu, bagaimana kalau dikasi pinjam lihat sebentar padaku?” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Pat melengak. Ia menjadi tidak senang. Walaupun surat bukan surat rahasia, tak pantas orang pinjam linat suratnya lain orang. „Tayjin bergurau!” katanya. “Mana dapat surat lain orang diberi pinjam lihat?” Leng ho Tat tertawa dingin. Ia tanya pula: ‘Saudara Lam Pat, barusan kau kata kau menyayangi Lie Haksu apakah artinya itu?” Dari tidak senang, Lam Cee In menjadi gusar. “Jadinya kau memeriksa aku?” ia tanya. “Hak apakah kau mempunyai?” Leng ho Tat bersikap tenang. ‘ Lie Haksu itu memperoleh kebaikan budi Seri Baginda Raja,” dia kata, “telah dikirim tiongsu berikut kuda Seri Bagindi sendiri untuk menyambut!” Dia ada demikian disayang, mengapa kau bilang dia harus disayangi? Maaf aku yang bodoh, benar benar aku tidak mengerti! Aku miita sangat supaya kau menjelaskannya.” Dijawab demikian, tidak dapat Cee ln membilang apa apa. Ia menyabarkan diri. “Aku tidak mempunyai tempo untuk bicara denganmu !” akhirnya ia kata. Sie Siong tertawa mengejek. „Ada tempo untuk adu pedang, tidak ada tempo berbicara. Benarkah ?” katanya. Leng-ho Tat berpura menyelak di tengah. “Kau serahkan surat itu padaku,” katanya. „Mari kita mencari lain tempat untuk memasang omong. Akan aku tetap memperlakukan kau sebagai sahabat.” „Hm!” Cee In mengasi dengan suara dingin. „Apakah kau kira aku Lam Pat kena digertak orang ? Jikalau aku tidak serahkan suratku ini, bagaimana ?” Tiba-tiba air mukanya Leng-ho Tat berubah. „Kau bekerja untuk pembesar di perbatasan !” dia membentak. „Kau http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mencoba membaiki seorang menteri istana ! kau juga mengandung maksud hati tidak puas, kau menghina Seri Baginda Raja ! Dosamu merangkap dua, apakah kau masih memikir untuk merat ?” Sejak tadi Toan Kui Ciang menonton saja, sekarang ia menjadi heran bukan main. Tadi ia melihat Leng-ho Tat menghormati Lam Cee In dan matur maaf, ia menyangka touwut itu bangsa bina tukang mengumpak-umpak, karena Lie Hak Su, dia mau menempel Cee In. Siapa sangka dalam tempo sependek ini, dia mengubah sikap menjadi demikian getas dan keras. Ia berpengalaman, ia toh heran. Leng-ho Tat sudah lantas mengeluarkan senjatanya, yaitu sepasang gaetan Hok-ciu-kauw, lalu dengan tipu silat “Menggulung layar” dengan gaetan kiri dia menyambar dari samping dengan gaetan kanan dia menggores ke dada ! Lam Cee In tidak menghunus goloknya, cuma dadanya disedot, sebelah tangannya di ulur. Dengan begitu robeklah baju didadanya hingga terdengar suara memberebetnya. Berbareng dengan itu juga terdengar suara nyaring di telinga, karena tangannya itu mampir keras pada sasarannya yaitu telinganya si touw-ut ! Leng-ho Tat menjadi seperti kalap, Ia gusar tak kepalang. Maka ia lantas mengulangi serangannya dengan beringas. Masih Cee In tidak mengeluarkan senjatanya. Ia melayani lawan dengan kegesitan dan kelincahan, ia main lompat berkelit ke samping atau mundur. Kalau toh ia maju, tangannya meluncur. Begitulah sampai tiba saatnya, selagi mengancam dengan tangan kiri, ia cabut goloknya, untuk menyerang dengan gegamannya itu. Di saat itu Sie Siong maju, untuk menyerang, hingga pedang dan golok bentrok keras suaranya berisik, lelatu apinya meletik. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Untuk kagetnya si orang she Sie, goloknya gugus ! Bukan main kagetnya Sie Siong, yang terjulukkan Ceng-ciu Kiam Kek, ahli pedang dari kota Ceng ciu. Tahulah ia bahwa lawan menggunai golok mustika, yang tajam luar biasa. Ia tidak takut, bahkan ia panas hati. Maka ia maju pula dengan mengubah caranya bersilat beruntun tiga kali ia menyerang: keatas, ketengah dan kebawah! Juga Leng ho Tat mengumbar hawa amarahnya, Dia terlebih gagah dari pada Sie Siong, sedang seumurnya inilah yang pertama kali dia kena dicaplok orang. Maka dia menyerang hebat sekali. Dia menggunai jurus ‘ Gie thian wa tee” atau menutuk langit menggiris bumi,’” Kebetulan dia berada dibelakang lawan, laetannya menerkam punggung dan menyengkeram dengKul dengan berbareng. Justeru itu, Sie Sio.jg mendesak dari depan. Didalam keadaan terancam itu, Lam Pat sudah mengasi lihat kecerdasan dan kesehatannya. Ia seperti melihat lawannya mendadak ia mene.idang dengan sebelah kakinya kebelakang seraya tubulnya dejerunukan kedepan, untuk melindungi punggungnya itu. Tepat sekali tendangan kakinya, yang naik dari bawan ke atas mengenai tangan lawan yang mencekal gaetan itu! Leng ho Tat kesakitan dan kaget, gaet-annya itu terlepas. Dengan menjerunuk keie-pan, Lam Pat mengancam Sie Siong, hingga punggawa itu mesti mundur, setelah maia, ia mengangkat tubuhnya berdiri, untuk berlompat kesampingnya Teng-ho Tat. Sembari lompat itu. ia tertawa. Tiat Mo Lek menonton dengan perhatian. ‘Bagus,” ia berseru dengat pujiannya Ia kagum untuk tipu silatnya jago dari Yan Tio itu. Ia baiu saja diajari Touw Leng Giok ilmu melawan musuh didepan dan dibelakang, bagaimana harus menyelamatkan diri, ia belum melatih sempurna, atau sekarang ia melihat contoh yang bagus ini. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Cee In mendengar suara pujian itu, ia sudah lantas melirik. ‘Eh, itu toh Toan Toako?’ katanya dalam hati. Tepat ia berpikir itu, Cee In dibikin kaget oleh gerakannya Gui Stin Su kawannya Sie Siong ini, yang semenjak tadi berdiam saja, mendadak sudah mengangkat meja, sambil berseru dia menimpuk, guna menghalang-halangi jalan. Mata Cee In mendelik, dia berseru: ‘Bagus, ya! kiranya kau si penjahat besar menjadi opsir tentera!” „Ngaco belo!” Sin Su membentak. “Akulah Ciang Kun dari Penglouw! Bagaimana kau berani mencemarkan namaku?” Cee In melengak , dia bersiul, lalu dengan mendongkol dia kata nyaring: “Tak ada bedanya pembesar negeri atau bangsat! Pantas di-jaman begini negara kacau!” Sembari berkata itu, dia lompat menyerang orang she Gui itu. Sin Su terperanjat, mundur dua tindak. Berbareng dengan itu, Sie Siong menyerang dengan pedangnya1 maka dengan memutar goloknya, Cee In menangkis, membikin senjata mereka beradu, hingga pedang terpental!” “Berontak! Berontak!” Leng Ho Tat berseru berulang-ulang “bangsat ini sudah menghina Pemerintah, dia mencemarkan Panglima Perang! Dialah si pemberontak pengacau negara, setiap orang dapat membunuhnya, mencincang tubuhnya! Seruan itu berpengaruh, karena beberapa opsir yang mengenalnya, lantas turun tangan membantui mengurung Lam Cee In. Sebelum menghamba kepada An Lok San, Gui Sin Su menjadi begal tunggal Satu kali di jalan besar Peng Ciu, selagi membegal serombongan saudagar, dia bersamplokan dengan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Pat. dia diserang, hingga gagal usahanya itu dan kena terbacok satu kali. Karena itu. dia jadi mendendam sakit hati. Ini pula sebabnya kenapa sedari tadi dia berdiam saja. Ialah dia takut nanti dikenali Lam Pat dan nanti mendapat malu. Sie Siong heran kawan itu tidak membantui dia ketika dia pertama kali bentrok dengan Lam Cee Ia, ketika dia kembali kemejanya, dia tanya sang kawan. Tidak berani Sin Su mendusta pada kawan sendiri, maka pada kawan ini dan Leng ho Tat ia tuturkan permusuhannya dengan Lam Cee In. Inilah yang membikin mencari gara-gara, hingga akhirnya terjadilah pertempuran itu. Pada itu. Leng-ho Tat masih mempunyai satu maksud lain Kwee Cu Gie cuma menjadi thaysiu. tetapi ia pandai mengatur tentara, karena ia tidak mau menghamba kepada An Lok San ia dibenci orang she An itu. Berbareng dengan itu. Lie Pek dibenci Yo Kok Tiong, cuma Kok Tiong tidak bisa berbuat apa apa disebabkan nama besar Thay Pek, yang pun lagi disayang raja. Yo Kok Tiong sendiri tidak mendapat kecocokan dengan An Lok San, keduanya saling berlomba mengambil hati. Di mulut mereka baik, di hati mereka saling mencari jalan untuk disayang raja. Leng ho Tat ketahui pertentangan diam-diam diantara Yo Kok Tiong dan An Lok San itu ia memikir mencari jalan untuk memperoleh keuntungan karenanya. Sekarang datang Lam Cee In yang membawa suratnya Kwee Cu Gie untuk Lie Thay Pekja mengasah otaknya Ia pikir: „Aku harus dapatkan suaranya Kwee Cu Gie ini, tak perduli apa bunyinya, sesudah aku berhasil akan aku haturkan itu kepada Yo Kok Tiong. untuk Yo Kok Tiong mencari tukang munulis huruf yang pandai, guna meniru tulisannya orang she Kwee itu, guna menuduh dia niat berhianat dan berontak. Mungkin Seri Baginda Raja tak mempeicayainyai sedikitnya dia dapat dituduh sudah http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

beisekongkol denganpi-hak luar, bahwa dia berkomplot sendiri Soal demikian darat membangkitkan kebencian Raja. Maka itu, taruh kata Lie Pek tidak diusir, kepercayaan atas dirinya pasti berkurang. Kwee Cu Gie juga tentu bakal kerembet-rembet. Dengan perbuatanku ini, aku bisa menempel Yo Kok Tiong dan An Lok San berbareng. Bukankah dengan sekali pukul aku memperoleh dua hasil?” Sebenarnya Leng ho Tat ingin tarik Lam Cee In kepihaknya, tetapi orang tidak sudi bersahabat dengannya, maka ia ambil sikapnya yang keras itu sambil menuduh yang tidak-tidak. Diatas lauwteng itu ada belasan serdadu le Lim Kun serta pengawal istana, yang menjadi sahabatnya siorang she Lengbo, mereka itulah yang maju demi mereka mendengar Leng ho Tat berseru-seru itu. Selagi orang dikepung, Leng-ho Tat berpikir pula : “Jahanam ini menyatakan puasnya terhadap Pemerintah, dia juga membawa suratnya Kwee Cu Gie bahkan dalam hal membawa surat itu, dia sudah mengaku sendiri, maka kalau semua orang disini menjadi saksi dipihakku. sekalipun dia dibunuh mampus, tidak nanti, aku dianggap bersalah aku dapat melanjutkan rencanaku.” Begitulah dia mengajuri ora ig menyerang untuk membinasakan Cee In, hinnga Cee In menjadi terkepung hebat, hingga ramailah suara senjata senjata mereka, ditambah dengan terbalik baliknya kursi dan meja, terutama dengan jatuh hancurnya piring mangkuk dan cawan arak. Sedang lain lain tetamu, yang ketakutan semua lari serabutan menyingkir jauh. Pihak pemilik rumah makan men jerit-jerit minta pertempuran dihentikan, sia-sia saja jeritan mereka itu, hingga saking takut, inerekapun pada menyembunyikan diri. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Cee In menjadi sangat gusar, maka ia menyerang hebat dengan goloknya. Setiap meja atau kursi, yang mengadang dihadapan-nya, ia dupak mental, hingga ada tiga opsir yang dibentur dan ketindihan meja hingga mereka terluka, sampai sekian Lama mereka’ tak dapat merayap bangun. Leng-bo Tat juga maju lagi. Hebat dia mainkan sepasang gaetannya. Sedang GuiSm Su, dengan tangan kosong, bersilat dengan Kim Kong Ciang, tangan Kim Kongnya yang liehay. Biar bagaimana, Lam Cee In kena terkurung, babkan kurungan itu makin lama menjadi makin ringkas, hingga sukar ia meloloskan diri. Diantara pengawal istana, Lwee-sie wie. ada seorang yang menggunakan senjata rahasia yaitu tiga batang paku Touw-kut teng. Atas itu, Lam Cee In berkelit, atau lantas ia merasai pundaknya teresngkeram keras seperti terjepit dengan jepitan besi . . . Itulah serangannya Gui Sin Su. Cee In berkelit justeru kesamping si orang she Gui. Dia segera mengulur tangannya. Sie Siong melihat demikian ia girang se kali. Segera ia bertindak maju, pedangnya diluncurkan ke kaki orang, mengarah jalan darah Hoan tiauw di dengkul. Juga Leng-ho Tat melihatnya, juga dia maju, dengan menggerakan ke dua gaetan nva, hendak dia menggaet kedua kaki musuhnya. Masih ada dua opsir lain yang lari memburu dengan golok di tangan, berniat membabat kutung tangan orang. Di saat Lam Cee In terancam bahaya itu mendadak Sie Siong membatalkan tikaman-nya. Ia lantas menangkis ke belakang. Itulah sebab memdadak ia mendengar angin menyambar di belakangnya. Ia tahu pasti ada orang yang menyerangnya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dengan keras terdengar suara “Traang !” Itulah beradunya orang she Sie ini dengan pedang penyerangnya. Lantas disusul dengan suara nyaring lainnya. Hanya itu suara golok yang terbabat kutung oleh pedang si penyerang itu, dan golok itu goloknya seorang opsir lain. Habis menangkis itu Sie Siong lantas me lihat siapa si penyerang Ia telah memutar tubuh dengan sebat. Ia mengenali orang adalah orang yang tadi minum arak bersama Lie Pek ialah Toan Kui Ciang, orang yang namanya sudah lama ia dengar akan tetapi dengannya ia belum pernah bertemu. Toan Kui Ciang melihat Lam Cee In terancam bahaya, ia lompat maju untuk menolong. Oleh kerena ia tidak dapat membantu menangkis, ia menyerang orang she Sie itu, hingga Sie Siong batal menikam terus pada si orang she Lam. Ia tahu opsir itu liehay ia mergarah jalan darah cie tong di punggung, ia menduga tentulah Sie Siong tahu dirinya dibokong, maka ia sudah siap sedia. Begitu senjaia mereka bentrok, begitu datang si opsir yang menggenggam golok itu, yang terus membacok kepadanya, maka ia meneruskan menangkis sambil membabat golok orang. “Sie Siorg !” kata Kui Ciang tertawa, kau harus belajar lagi sepuluh tahun untuk ilmu pedangmu ini !” Bukan main panas ratinya orang sbe Sie itu. Ia lantas menikam ke perut orang yang dianggapnya takabur itu. Itulah tipu silat “Bintang mengejar rembulan.” Kui Ciang berlaku sangat sebat. Ia menangkis. Begitu menangkis, begitu ia menyerang, bahkan dua kali ia mendesak. Sie Siong terkejut. Ia terdesak. Terpaksa ia menjatuhkan diri ke lantai, untuk menyelamatkan dirinya, sedang pedangnya diang-Ikat, guna menangkis Maka pedang mereka beradu nyaring. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dua opsir lainnya maju menyerang Kui Ciang. Itu berarti pertolongan untuk Sie Siong, Apa lacur, senjata mereka itu kena dibabat kutung, hingga mereka tercengang, Sie Siong berlompat bangun, dia pun bingung, keringat dingin membasahi punggungnya. Tidak ia sangka musuh ini demikian li hay. “Kui Ciang menaugkis serangannya seorang sie wie, setelah itu ia lompat kepada siorang she sie, guna mengulangi serangannya. Ia mendesak sampai lawannya itu repot. „Kau …. kau siapa?” tanya Sie Siong yang menanya di luar kehendaknya, Leng-ho tat juga gagal dalam percobaan nya menggaet kakinya Lam Cee In. Mendadak ada sebuah mangkuk yang terbang kea-rahnya, Tepat mangkuk itu jatuh di lantai te pai kakinya sampai, maka ia kena menginjak nya.Mangkuk itu pecah hancur dengan suara berisiknya ia pun terpeleset hingga hampir ia menubruk lantai Ketika ia sudah mengangkat kepala ia mendapatkan penyerang dengan mangkuk itu ialah seorang bocah umur enam atau tujuh belas tahun, la heran berbareng gusar. “Eh, binatang kau cari mampus?” ia mc negur dengan bentaknya. Ia belum menutup rapat mulutnya, atau bocah itu ialah Tiat-Mo Lek sudah heilompat sampai di depannya! Tentu sekali ia tidak memandang mata Ia menurunkan gaetan kirinya, ia mengangkat yang kanan untuk digeraki terlebih jauh. „Kena!” ia berseru nyaring. Tiat MoLek membacok dengan goloknya, golok itu kena disambut gaetan kiri, Inilah kehendak Leng-ho Tat, untuk ia dapat merampas genggaman lawan. Si anak muda terkejut, akan tetapi ia ti dak menjadi gugup. Tentu sekali ia ingin me loloskan goloknya itu. Mendadak kakinya menoker mangkok ditanah hingga mangkuk itu http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

terangkat dan menyamber ke muka orang Walaupun itu bukan senjata rahasia Leng ho Tat, toh kuatir nanti kena di serang maka ia berkelit, hingga mangkuk lewat disisi nya. Celaka seorang sie-wie yang ocrada di belakang, dia terkena mangkuk tanpa ampun lagi hingga kepalanya pecan. Dua wie-su lain nyapun terluka pecahan mangkuk itu. Gaetan kiri dari Leng-ho Tat, masih me nyangkel go’pknya Mo Lek. Ia hendak membetot guna merampas golok lawan atau sedikitnya membuat terlepas. Maksud ini tidak ke sampaian. Telapak tangannya masih nyeri bekas ketendaug Lam Cee Tn tadi. Mo Lek me-iiggunai ketikanya mi, dia menarik goloknya sambil di putar, dia berhasil meloloskan nya setelah memapas kuntug dua buah giginya gaetan lawan itu. Touw-ut itu menjadi mendongkol sekali. Lawannya toh bocah yang ia tak lihat mata-Maka ia maju pula dengan serangannya yang bengis. „Liehay”! Tiat Mo Lek jerseru melihat datangnya serangan. Ia berkelit, goloknya-pun diu rik pulang. Tetapi ia menarik pu-lan2 bukan buat mengundurkan diri, hanya justeru dengan sangat cepat ia membalas menyerang ! Leng ho Tat kaget dan heran. Serangan itu di luar dugaannya. Serangan itu serangan pedang tetapi lawan bersenjatakan golok Pula ilmu silat yang digunai ialah satu jurus dari Pat Sian Kiam, ilmu pedang Delapan dewa. Percuma dia berkelit, lengannya sudah kena tergores lecet tiga dim panjangnya ! Selama beberapa hari Tiat Mo Lek berada bersama Toan Kui Ciang, ia telah di ajarkan ilmu pedang. Ia pun di janjikan akan dicarikan pedang yang bagus, guna menggantikan goloknya. Sekarang menghadapi lawan yang tangguh, dengan golok ia http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bersilat dengan ilmu pedang maka itu menjadi diluar dugaan si Touw-ut. Leng-ho Tat mendongkol bukan main. Syukur dia tidak terluka parah. Sebenarnya dia hendak menghajar mampus bocah ini, atau dia mendapat kenyataan Sie Siong terancam bahaya. Kawan itu sudah terdesak Kui Ciang, kalau dia tidak membantui, untuk menolongi bisa-bisa kawan itu menemui ajalnya. Maka terpaksa dia meninggalkan si bocah, untuk menghampirkan si orang she Sie. Toan Kui Ciang tidak takut walaupun ia dikepung dua opsir, bahkan sebaliknya, ia mendesak mereka itu, hingga sinar pedangnya seperti menutupi kedua musuhnya. Sementara itu Gui Sin Su girang sekali sebab ia telah berhasil menyengkeram pundaknya Cee In. Ia caenggunai tipu silat Houw Jiauw Kimra ciu, tangkapan Kuku Harimau, ingin ia membikin remuk tulang pipe orang untuk itu ia terus mengerahkan tenaganya. Mendadak ia menjadi kaget sekali. Beda dari semula, ia merasa seperti menyengkeram besi tak dapat ja meremasnya, Tengah ia kaget itu, Cee In berseru mengguntur, tubuhnya Cee In diajukan sambil menyingkur, maka maka di lain saat, ia terangkat dan terpelanting jatuh, begitu keras hingga papan lantai gempur, hingga ia terjatuh terus ke bawah lauwteng. Di saat itu tibalah dua opsir yang mau mengeroyok itu. Cee In berseru menyambut mereka itu, yang bergenjatakaii masing ma-sing golok panjang. Setelah menangkis bacokan, ia membalas. Dengan satu bacokan ia menabas kutung sebelah lengan satu opsir, dan opsir yang lainnya dihajar kelenger dengan belakang golok yang diteruskan dipakai menggempur !

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Beberapa opsir lainnya kaget, hingga mereka berseru : “Pembunuhan ! Pembunuhan !” mereka itu tidak berani maju guna membantu rekan mereka. Ketika itu Toan Kui Ciang berseru: “Mo Lek, jangan membunuh orang ! Lekas angkat kaki!’ Sambil berkata begitu, orang sbe Toan ini meluncurkan pedangnya ke tangannya Leng ho Tat. tepat ia menusuk, hingga orang kesakitan dan gaetan terlepas dari cekatannya. Di lain pihak, Lam Cee Ia telah berhasil memukul terlepas pedangnya Sie Siong. Maka berdua mereka landas menggeser tubuh ke dekat jendela. Justeru itu terdengar Tiat Mo Lek berseru nyaring. Inilah sebab ia mendapat lihat di mulut tangga muncul seorang opsir yang tadi-tadinya ia belum pernah melihatuya, opsir itu hitam mata dan kulit mukanya, tubuhnya tinggi dan besar, hingga dia mirip malaikat. Ia tidak tahu orang liehay atau tidak, ia lantas membacok. Ia hendak meryingkir; tak suka ia ada orang yang menghalang-halangi. Opsir itu melihat serangan sambil tertawa. “Bocah cilik, ilmu golokmu baik !” dia memuji. Sembari berkata itu. dia bergerak bagaikan kilat. Dia berkelit, dua tangannya bekerja : Tangan kiri menyambar golok, untuk dirampas, tangan kanan mencekuk tubuh orang, hingga Mo Lek lantas terangkat tinggi ! Itulah yang membikin si bocah berteriak. Toan Kui Ciang kaget Ia melihat si opsir memutar tubuh Mo Lek dan sambil tertawa dia berkata : Bocah ini besar nyali-nya ! Baiklah, aku beri ampun padamu !” Meski demikian ia melemparkannya ke luar jendela ! Kui Ciang sudah lompat menikam, la hendak mencegah dilemparnya bocah itu pedangnya meluncur ke muka orang. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Opsir itu berani dan sebat, ia bukannya mundur hanya maju, tangannya bergerak dalam jurus ‘ Merogo saku mengeluarkan barang. “Dengan lima jeriji yang kuat, ia hendak menyengkeram jalan darah Kiok-tie dari si orang Toan. Melihat hebatnaya tangan itu, siapa terkena bersamber mestinya dia habis daya. To an Kui Ciang melihat serangan itu. ia me nginsafi bahayanya. Tapi ia telah jadi mata merah. Bukankuh Mo Lek sudah dibuang ke luar jendela? Ia menjadi nekad. Maka ia berkelahi terus, ia menyerang hebat ke dengkul opsir itu .ambil ia berteriak. “Bayar pulang jiwa sahabat cilikku!” Oisir muka hitam itu tak menyangka orang berlaku mati matian itu. Itulah hebat! umpama kata ia berhasil menjambak Kui Ciang, dengkulnya sendiri bisa menjadi kurban dengkul itu akan bercacad. maka tak mau ia mengadu jiwa. Terpaksa ia membatalkan serangannya seraya ia berlompat ke samping sedang dari muluinya terdengar tertawa serta kata-kata ini! “Siapa membinasakan bocah cilik itu? kau lihat dulu biar jelas!” Justeru itu dari bawa lauwteng terdengar suaranya Tiat Mo Lek: ”Kouwthio, apakah kamu masih bertempur terus? Baiklah kau ajar adat kepada si muka hitam itu!” Opsir rnuka hitam itu tertawa pula. “Hebat bocah cilik itu! “ katanya. “Sudah dia tidak mau menerima kebaikan budiku dia juga mencaci aku!” Toan Kui Ciang kata: “Baiklah, aku terima kebaikanmu ini! kita jangan saling ganggu! ‘ karena ini. ia batal melakukan penyerangan pula. Tapi Leng-ho Tat berseru: “Dua orang ini penghianat! ut tie Touw ut, aku lepas mereka’” Opsir muka hitam itu Ut tie Pak namanya. Dialah buyut dari Ut tie Kiong. Panglima perang berjasa yang turut membangan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kerajaan Tong. Dia berdua saudara. Saudaranya itu bernama Lam dan berpangkat tong nia, Komandan dari Kim-Kun, pasukan pengiring Raja. Dia sendiri menjadi Tay-too Sie-wie, pengiring yang bersenjatakan golok diri Kaisar dan pangkat Liong Hong Kie-touw ut, maka juga ia berkedudukan terlebih tinggi dari pada Long-ho Tat. Di dalam Istana, dialah satu di antara Sam Toa Kho-ciu, si Tiga Terliehay. Ilmu silatnya yang istimewa ialah “Khong Ciu Jip Pek Jin, “atau ” Tangan kosong merampas senjata. “Tempo dulu hari Cin-ong Lie Sie Bin (Kaisar Tong Thay Cong sebelum naisc tachta) menyerang negara bagian Gui (Lie Bit), di lembah Ngo Kok dia bertemu dengan Sian H ong Sin yang gagah dari pasuka Wa Kong Kun, di situ Lie Sie Bin dikerja Sian Hiong Sin sampai diso-lokan Tauw Hun Kan, hampir dia kena ditangkap syukur Ut tie Kiong datang menolongi, dengan tangan kosong orang sheUt-tie ini merampas tombak Sian Hiong Sin yang beratnya tiga puluh tiga kati. Karena itu nama Uttie Kiong, atau Ut-tte Keng Tek, menjadi tersohor, Ut-tie Pak tidak merampas pedangnya Toan Kui Ciang ia menjadi kagum sekali berbareng dengan itu semangatnya menjadi teibangun ia tertawa bergelak dan kata: “A-ku tidak perduli kau siapa! Ilmu Silat pedang kau liehay, mesti kau belajar kenal lagi beberapa jurus! ‘ Lantas ia menyerang dengan dua tangannya, dengan tipu silat Menggantung cambuk tunggal. ‘ Dengan tangan kiri ia mencopa menangkap lengan, untuk menggencet nadi, dengan tangan kanan ia mau merampas pedang, Hati Kui Ciang lega. Ia mendapat kenyataan Tiat Mo Lek tidak kurang suatu apa, maka tak ingin ia mengadu jiwa dengan o-rang yang berperi kemanusiaan ini. Ia tidak menghiraukan orang liehay, ketika ia disam-ber itu, ia

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menggeser ia tubuhnya ke samping. Ia bergerak sargat cepat hingga ia menjadi berada di belakang orang. „Awas Pedang! “ia berseru seraya pedang nya dipakai meiotok jalan darah hong-hu di punggung touw-ut itu. Sengaja ia mengasi dengar suaranya .ebab ia mengagumi lawan ini sebagai laki laki sejati Tiat Mo Lek tidak dibinasakan, ia ingin membalas budi. “Kau tak usah berlaku belas kasihan ! Kata Ut tie Pak tertawa. Dia memutar tubuh sambil tangannya menyamber ke belakang. Itulah dua gerakan berbareng : Berkelit dan menyerang. Ujung pedang Kui Ciang tidak sampai pada sasarannya, sebanknya ujung bajunya kena tersamber hingga robek, bahkan kalau ia kurang sebat, pedanguya pun akan kena dirampas. „Tangan yang liehay !” Kui Ctang berseru memuji, sambil ia menyerang dengan sebat sekali. Ia merabuh, hingga sinar pedangnya berkilauan di sekitar lawan itu, memain di antara berkelebatannya bayangan orang. „Bret !” demikian terdengar satu suara, “Pedang yang liehay!” Ut tie Pak berseru. Dia ingin sangat merampas pedang orang, dia berlaku alpa, maka ujung bajunya terserempet putus. Maka dia pun memuji o.ang yang ladi memuji liehaynya tangannya. „Kita seri” berkata Kui Ciang. “Aku masih mempunyai urusin penting, maafkan aku, tak dapat aku menemani lebih lama “, Habis berkata itu, itu ia lompat ke jendela yang ia hajar dengan kepalannya untuk ia termpat lebih jauh ke luar, terjun ke bawah!”

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ut-tie Pak tidak memburu atau menghalang-halangi, ia hanya memutar tubuh guna menghadang di depan Lam Cee In. “Kau pun pertunjuki kepandaianmu !” ia, lalu menantang terus ia menyerang. Cee In tidak punya kegembiraan orang ini, ia tunggu sampai tangan si touw-ut hampir tiba, mendadak ia berkelit, belakang goloknya dipakai mengetok tangan orang itu. Ut-tie Pak iiehay sekali. Benar tangannya itu beradu dengan belakang golok, akan tetapi berbareng dengan itu, tangannya itu meluncur terus, menepuk lengan Cee In, hingga lengan itu bergetar, goloknya mental! Ia berseru : :,Bagus ! kita pun seri l” Mengenai ketikannya yang baik, Lam Cee In berlompat ke luar jendela yang tadi didobrak Toan Kui Ciang. la lompat berjumpalitan melewati jendela itu Ut tie Pak pun berlompat untuk menyambar, akan tetapi ia cuma kena menyamber kayu jendela, hingga patah sebuah jerujinya tak dapat ia menangkap kaki lawannya itu. Bukan tak sengaja orang she Uttie ini menyamber gagal, ia bersandiwara dan baik sekali peranannya itu. Memang ia ingin mengasi lolos si lawan untuk mana ia mempunyai alasannya sendiri. Kalau ia bersungguh-sungguh, mungkin ia berhasil. Dengan Lam-Cee In, kepandaiannya berimbang, masingmasing memiliki keunggulan dan kelemahannya sendiri. Tadi ia mencekal tangan Lam Cee In, Cee In menghajar ia dengan belakang lolok. Kalau ia digacek benar-benar dengan tajamnya golok itu, pasti sudah tangannya lerkutung, atau sedikitnya teiluka parah. Cee In berbuat baik, ia balas itu dengan kebaikan juga. Sudah lumrah, orang gagah menyayangi orang gagahDemikian ia menyamber “gajal,” supaya sang lawan lolos.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Sayang! Sayang!” Leng-ho Tat berseru berulang ulang. Ia tidak ketahui permainan komedi itu. Lantas ia mau pergi menyusul. “Jangan! ‘ berkata Ut-tie Pak, yang mencegah dengan suaranya yang dalam, “Untuk dapat menangkap dua orang itu, U bun Tong-nia dan Cin Touw-ut mesti diminta bantuannya, sebab percuma kita menyusul mereka, kita bukan lawan mereka itu! Mari duduk, untuk kita bicara. Bukankah kau mengatakan dua orang itu pemberontak? Apakah ada buktinya untuk tuduhan kau itu? kau jelaskan padaku, nanti aku melaporkan kepada Seri Baginda Raja. kemudian akan ku minta Junjungan kita memerintahkan U-bun Tongnio dan Cin Touw ut turun tangan membantu aku.” Yang disebut U-bunTongnia itu, sikomandan, adalah U bun Thong dari pasukan Gie Lim Kun, dan Cin Touw-ut ialah Cin Siang, buyutnya Cin Kiong, salah satu panglima dan menteri gagah dan berjasa yang turut membangun Kerajaan Tong. Mereka itu berdua bersama sama Ut-tie Pai ialah disebut Tay Lwe Sara Toa-klo-ciu, tiga pahlawan tergagah dalam istana. Leng ho Tat telah menyaksikan kegagahannya Lam Cee In dan Toan Kiu Ciang, ia percaya benar katanya Ut tie Pak. Jadi iapun beranggapan, bantuannya U bun Thoang dan Cin Siang harus didapatkan. Karena ini ia suka menurut. Setelah berdiam sebentar ia menuturkan apa sebabnya maka terjadi pertempuran iiu hingga Lam Cee In hendak dibekuk, demikianpun Toan Kui Ciang yang membantui Cee In. Ut tie Pak tertawa bergelak. ”JiKalau menurut keterangan kau ini. kau tidak mempunyai bukti untuk tuduhanmu terhadap mereka bahwa mereka pemberontak! ‘ kata dia. “kau harus ketahui Kwee-cu Gie itu perwira yang berjasa dan sangat diandalkan melindungi wilayah perbatasan dan Lie Haksu menjadi orang kesayangan Seri Baginda, tak dapat kita menenhttp://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tang mereka cuma disebabkan kita hendak membikin Yo Kok Tiong bukankah tak ada untungnya bahkan ada ruginya jikalau kita tak berhasil merobohkan perwira dan rak u itu, Benar orang she Tam itu telah menyatakan tak puasnya terhadap pemerintah Agung tetapi itu bukan kata kata yang berat. Tak diingat dialah seorang gagah perantauan yang ternama, yang luas pergaulannya, jikalau kita berbuat salah terhadapnya, kita bisa dapat susah. Umpama kata satu waktu kita dimestikan bertugas keluar daerah. Tidakkah kita bisa diganggu dia? menurut pikiranku, permusuhan itu baiklah disingkirkan tetapi jangan diperhebat. Saudara Leng-ho, baik urusan ini dibikin sudah saja! ‘ Ut-tiePak kenal baik sifatnya Leng-ho Tat, maka itu ia mengeluarkan kata katanya, untuk membikin ciut hati orang. Iapun, selain pangkatnya lebih tinggi, baru saja ia memberikan bantuannya, hingga orang menjadi selamat. Maka itu, Leng-ho Tat suka mendengar nasihatnya itu. Disamping itu, buat minta bantuannya U-bun Thoang dan Cin Siang, Ut-tie Pak dibutuhkan sangat. Dia sebenarnya tidak puas tetapi dia menurut. Cee In sendiri tiba dijalan besar dengan tidak kurang suatu apa. Ia lantas menjeput golok mustikanya, tidak ayal lagi. ‘bersama sama Toan Kui Oang dan Tiat Mo Lek ia menyingkirkan diri. Ia n engenakan seragam, ti. dak sda orang yang mengejarnya. Dite ngah ja -lan ada beberapa serdadu peronda, tetapi mereka tidak ketahui peristiwa dirumah makan itu, tidak ada yang menghalang-halangi. Maka tak terlalu lama tibalah sudah mereka bertiga ditempat yang sunyi. Disini mereka tidak berlari-lari lebih jauh, malah mereka pertahankan tindakan mereka. „Saudara Lam,” berkata Kui Ciang tertawa, “setelah sepuluh tahun kita berpisah, hampir aku tidak mengenali kau! Jikalau http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bukannya Lie Haksu menyebut namamu, mungkin aku tidak berani mengakui kau” „Sebaliknya, Toan Toako, kau sendiri tak berubah banyak,” sahut Cee In. “Apakah enso tidak datang bersama? dan ini saudara kecil, putera siapakah dia?” Tiat Mo Lek tertawa. Dia mendahului Kui Ciang menjawab. “Kau tidak mengenali aku, aku sebaliknya mengenali kau!’ demikian katanya ”Bukankah kau orang gagsh yang dijuluki Mo kiam Kek? kenapa barusan kau memakai golok dan bukannya pedang? ya, barusan kau bersilat bagus sekali mulanya golok, lalu kaki! Aku sendiri berat sekali, sekian lama aku berlatih aku tidak berhasil.” Kui Ciang tertawa. ‘Bocah ini tidak boleh melihat kepandaian lain orang!” karanya. “Asal dia dapat melihat, dia lantas mau mempelajarinya! Saudara Lam, apakah kau lupa dia? Dialah puteranya Cee-cu Tiat Kun Lun. Dialah siainak nakal bernama Mo Lek!” „Ha, pantas dia lihay setali! Cee In memuji. “Dulu ketika aku mengikuti guruku mengunjungi Touw Ceecu, dia masih ingusan, tapi sekarang dia sudah jadi begini besar!” „Selama sepuluh tahun banyaklah terjadi perubahan.” kata Kui Ciang bersenyum.’ Bukankah kaupun dulu sebesar dia teJapi sekarang kau terpuji umum sebagai hiap kek, orang gagah yang berhati mulia! Apakah gurumu baik?” “Suhu masih tetap seperti dulu!” Cee In menawab. “Dia masih terumbang-ambing ke-timur dan barat dengan pekerjaannya meno-longi orang menggosok kaca. Hanya sekarang ini adik seperguruanku Lui Ban Cun yang mengikuti dia, maka juga pedangkuaku serahkan pada-iya. Golokku ini aku dapat hadiah dari Thaysiu Thio Sun dari kota Hoay yang.” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Selama beberapa tahun ini akupun lagi mencari loo-jin-kee gurumu itu,” kata Tiat Mo Lek, “Sayang sampai sekarang aku masih belum berjodoh menemuinya…” „Buat apakah kau mencari orang tua itu?’ tanya Kui Cang, tertawa. “Apakah kau hendak menuntut pelajaran menggosok kaca?” Matanya Mo Lek terlihat merah. Mendiang ayahku menyuruh aku mencarinya,” sahutnya perlahan Dijaman dahulu itu orang mamakai kaca-rasa dari kuningan atau tembaga, setelah dipakai sekian lama, alat berkaca itu mesti digosok untuk dibikin bersih dan berkilau, maka juga itu waktu ada Suatu cabang pekerjaan, ialah “menggosok kaca” namanya. Gurunya Cee In menjadi seorang gagah pengembara yang menyembunyikan diri, dari itu sengaja ia hidup bekerja sebagai tukang gosok kaca. Den an begitu ia bisa hidup merdeka serta dapat ketika merantau, untuk berkenalan dengan orang orang gagah lainnya. Oleh karena itulah maka ia dikenal sebagai MoKeng Loo-jin, siorang tua tukang gosok kaca. Lam Cee In biasa mengikuti gurunya, dia suka menggosok pedang, maka orang Kangouw menggelarkan dia Mo Kiam Kek, situkang gosok pedang. ---ooo0dw0ooo Jilid 4 Pada dua belas tahun yang lampau Mo Keng Loojin dan Mo Kiam Kek pernah menerima undangannya Touw-kee Houw. lima saudara Harimau Keluarga Touw, mereka menjadi tetamu terhormat di benteng Touw Kee Cee. Di sana Cee In bertemu dengan Toan Kui Ciang dan istri serta Tat Mo Lek. Itulah perkenalan mereka. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tiat Kun Lun mempunyai dua sahabat paling akrab: yaitu Touw Leng Ciok dari Touw Kee Ngo Houw, dan yang lainnya Mo Keng Loojin. Kepada orang tua itu pernah ia menitipkan anaknya Lantaran Mo Keng Loojin tak tentu tempat kediamannya, hingga ianya jadi sukar dicari, Tiat Kun Lun menitipkan anaknya kepada Touw Leng Ciok, buat diangkat menjadi anak. Karena itu, Mo Lek mencari Mo Keng Loojin. “Kami pun pernah dengar kabar meninggalnya Tiat Cee cu,” kata Lam Cee In, “lalu kemudian kami mendengar juga hal gunungnya diserbu pasukan tentara negeri, begitu-pun tentang sering terganggunya Touw Kee Cee hingga orang mesti sering berpindahan. Suhu pun sangat memikirkan kau, adik Tiat. Syukur sekarang kita dapat bertemu di sini. Kau hendak mencari guruku, itu tak sukar. Besok aku mau pergi ke Hoayyang, mari kuturut aku. Suhu menjanjikan aku bertemu di kota itu.” “Ini … ini . . , kata Mo Lek, yang ragu ragu, sedang sebenarnya ia mau mengatakan „Inilah baik” Ia lantas merubahnya : “Inilah baik, cuma besok belum dapat aku turut kau …” Lam Cee In mengawasi ialah orang Kang Oaw berpengalaman, maka ia berpikir “Turut pendengaran, Tiat Kun Lui terbinasa ditangan musuh, sedang barusan waktu nama ayahnya disebut sebut, mata anak ini menjadi merah, air matanya mengembeng, kalau begitu, benarlah pendengaranku itu. Ia dipesan ayahnya mencari guruku, pasti itu bukan urusan menitipkan anak, pastilah itu urusan permintaan tolong membalaskan sakit hati. Hanya kenapa ia menampik ajakanku pergi menemui guruku? Apakah ia mempunyai urusan yang lebih penting dari pada sakit hati ayahnya itu ?”

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Habis berpikir begitu, orang she Lam in berkata pada Toan Kui Ciang : “Toan Toako ada urusan apa toako berdua datang ke kota Tiang an ini ?” Kui Ciang menoleh kepada Mo Lek. “Tidak ada urusan yang penting,” sahutnya. “Kami cuma ingin menjenguk sahabat . . . “ “Siapakah sahabat itu?” “Dia bukan sahabat Rimba Persilatan, kalau aku menyebut nya belum tentu saudara kenal. Sekarang ini saudara berdiam dimana ? Apa boleh saudara berdiam kira-kira dua hari lagi ? Besok Mo Lek boleh pergi menjenguk kau.” Lam Cee In heran hingga ia jadi tambah curiga, Ia pikir:”Persahabatanku dengan Toan Toaku bukan persahabatan karib tetapi begitu jauh aku tahu dialah orang jujur dan baik. sebagaimana tadi dibuktikan dia lantas membantu aku. Kenapa sekarang dia agak ragu-ragu? Mungkinkah dia menganggap aku sebagai orang luar? yang lebih aneh lagi dia kata Mo Lek dapat menjenguk aku! Kenapa dia tak mau menyebutkan tempat kediamannya kepadaku? Apakah sebabnya ini? Dia lah orang gagah kenamaan, tak selayaknyalah sikipnya ini” Orang she Lam ini berpikir demikian umpama dia mengetahui pikirannya Toan Kui Ciang. Sebelum begitu otak orang she Toan ini bekerja keras sekali, dia terombang ambing dalam keragu raguan, Sebenarnya dia ingin bicara dengan jujur akan tetapi akhirnya dia mengambil putusan akan pertaruhkan jiwanya sendiri saja. Malam sebentar dia mau pergi ketempatnya An Lok San guna menolongi Su It Jie, Dia tahu besar sekali faedahnya kalau Lam Cee In membantunya. Bukankah dia bakal memasuki Kedung naga dan sarang harimau? Tapi diapun tahu baik sekali bahwa An Lok San mempunyai orang-orang yang liehay! itulah berbahaya untuk minta bantuannya Cee In, Apa jadinya apa bila apa lacur Cee In http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menemani dia membuang jiwa di sana? Tak tega dia! Di sebelah itu Cee In sekarang lagi membantu Kwee Cu Cie diperbatasan, disana tenaganya dibutuhkan jikalau ia terbinasa di sini, Kwe Cu Cie kehilangan sebelah lengannya. Dan masih ada beberapa yang ketiga, yang membuatnya malu hati. Dalam pertempuran dirumah makan, tadi, membantui Cee In, maka kalau sebentar malam dia minta Cee In membantuinya itulah sama saja dengan ianya meminta pembalasan budi. Inilah tak nanti dia lakukan, meski mungkin orang menganggapnya layak. Untuknya, menagih budi. Merusak martabat seorang ksatria. Maka dia mengeraskan hati tak mau dia memberi keterangan, Tia Mo Lek cerdik, ia mengerti sikapnya Kui Ciang meski ia ingin bicara, ia toh me nutup rapat rapat mulutnya. Lam Cee In tidak berani menanyakan. Ia pun terhitung orang yang tingkatnya lebih muda. Oleh karena mesti berdiam ia menjadi likat sendirinya. Kui Ciang lantas menyimpangi pembicaraan mereka. ”Apakah Tio Sun yang sekarang menjadi Taysiu di kota Hoay-yang?’ dia tanya. “Kabarnya dulu dia pernah mengepalai pasukan perang menggempur bangsa Kiang dan beberapa kali memperoleh kemenangan yang gilang gemilang. Dia panglima yang pintar dan gagah!” Cee In mengangguk. „Sekarang ini aku berniat pergi dulu ke Hoay-yang,” ia kata. ”Darisana baru aku kembali ke Kiu goan sana aku hendak menemui thay-siu itu. Suasara di perbatasan sekaang guncang. An Lok San memegang Kekuasaan besar atas tentara. Yang dia pakai sebagian besar orang-orang sulu bangsa 0uw Siang dan malah dia merencanakan menelan wilayah pelbagai ciat touw-su, guna memperbesar pengaruhnya. Kelihatannya dia bakal menjadi mara bencana http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

besar. Kwee Leng Kong ketahui aku sahabatnya Thio Thiy-siu, maka aku diutus untuk kita membuat perhubungan, supaya kalau sampai terbit malapetaka, dapar kita bekerja sama, untuk saling membantu, kebetulan guruku bakal sampai di Hoay-yang lain bulan, maka kita berjanji membuat pertemuan di tempatnya Thio Thaysiu itu.” Demikian mereka berbicara sambil berjalan, sampai mereka telah mengitar melewati Cie Kiai Shia, Kota terlarang, terus sampai di kaki gunung Le San. Di atas gunung itu ada sebuah istana peristirahatan. Mulai dari tanjakan Geng Loan Po, wilayah itu dijadikan wilayan terlarang yang dijaga barisan wie su. Dibawaban tanjakan Geng Loan Po itu ada sebuah bangunan, yang mentereng indah mirip istana Lam Cee In menunjuk kepada bangunan itu. romannya mendongkol. “Jahanam An Lok San pandai sekali membahagiakan dirinya!’ Katanya, sengit. “Setiap tahun dia berdiam di kota Tiang an paling lama dua bulan, toh dia telah membangun gedung itu yang seperti istana mewahya. Dia hidup besar dan cukup, tapi kasihan orang orang peperangan yang membelai tapal batas, mereka kurang pakaian dan kurang makan, mereka mesti bernaung dibawah tenda saja untuk melindungi diri dari matahari angin dan hujan.’ “Oh, kiranya itu gedungnya An Lok San!” kata Kui Ciang, heran terkejut. Maka berpikiran dia: “Tadi kita bertarung di rumah makan, aku justeru bersangsi sekali untuk sebentar malam pergi pula kesana menanti kan An Lok San. Mudah orang mengenali. Sekarang aku mendapat tahu sarangnya ini. tak usahlah aku pergi lagi ke rumah makan itu, sebentar saja ia di sarangnya. Hanya gedung ini dekat istana, tempat yang Terlarang inilah berbahaya Sulit untuk masuk kesana menolongi orang”” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang berpikir sambil tunduk alisnya mengkerut. Cee In melihatnya, ia menduga kawan ini mendongkol karena kemewahannya gedung An Lok San itu. Mimpi pun tidak dia bahwa sebentar malam kawannya mau menyatroni gedung itu! Ketika itu matahari sudah doyong ke barat. “Hari ini aku bertemu dengan kau saudara senang hatiku,” Cee In kata. „Hanya sayang kita belum dapat berbicara dengan lama dan asyik Sebentar aku mesti pergi ke-gedungnya Ho Siauw kam untuk mengunjungi Ceng Lian Haksu. Maka itu, saudaraku andaikata besok kau mempunyai tempo luang, aku mima sukalah kau dan Mo Lek datang kepondokan ku untuk kita berbicara lebih jauh”. Kui Ciang mengangguk Leng-ho Tat berniat mencelakai kau, saudara Lam,” ia kata, “kalau sebentar malam kau pergi kerurnahnya orang she Ho itu, baiklah kau berhati-hati.” Cec In tertawa. „Dirumahnya Ho Siauw kam di mana pun ada Ceng Kian Haksu,” katanya “aku rasa dia tidak nanti main gila! Meski begitu, tentu aku akan berlaku waspada.” „Besok ada janjiku dengan seorang sahabat.” kata Kui Ciang, “Aku kuatir kita tidak bakal bertamu pula. saudara Kam Pula mungkin besok ada suatu urusanku yang bakal memusingkan saudara, apalagi benar terjadi demikian, nanti aku suruh Mo Lek yang menyampaikannya.’ Cee In heran, ia menjadi masgul. Tetap orang tidak mau omong terus terang padanya. Ia cuma bisa mengangguk. Sampai diisitu, mereka berpisahan. Kui Ciang mengajak Mo Lek pulang ke pondokannya, lantas dia mengunci pintu kamarnya , ”Mo Lek,” katanya ”tempo berkumpul kita tinggal dua jam lagi, Bagaimana dengan ilmu pedang yang aku ajari kau? kalau http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ada bagian bagian yang kurang jelas, sekarang kau tanyakan aku.” Orang she Toan ini menghadapi saat ber-pisahan hidup atau mati tapi toh ia masih tak melupakan pelajaran silat Keponakannya itu. Mendengar itu. si anak muda menjadi sangat terharu, mendadak ia menangis terus ia menjatuhkan diri berlutut didepan sang kouwthio. Seumurnya, kecuali ketika ayahnya menutup mata, belum pernah Mo Lek menangis, maka kali ini luar biasakah ia mengucurkan air mata dan nangis terisak Ia mengangguk tiga kali hingga kepalanya membentur lantai. “Kouwthio,” katanya “aku minta sukalah kau ijinkan aku memanggil suhu padamu! Suhu! . . Suhu ! . .” Kui Ciang memimpin bangun. “Dengan mendapatkan murid sebagai kau, tidak nanti aku menyesal ” katanya, bersenyum. “Hanya sayang tidak dapat aku mewariskan semua kepandaianku kepada ku. ialah tak dapat memberinya sekaligus dalam waktu yang singkat. Lain dan itu, hari kemudian kau penuh dengan pengharapan besar, kau bakat melebihkan aku. maka itu jangankah kita menjadi guru dan murid” Dengan kata-kata ini K.ui Ciang maksudkan supaya Mo Lek mencari lain guru saja. ” Suhu. tidak dapat kau menolak!” kata Mo Lek, memaksa. “Aku mesti minta kau menerimanya! suhu kau akuilah aku sebagai muridmu!” Kui Ciang tertawa, senang la untuk kesungguhan hati si bocah. ”Kau bikin aku kewalahan, anak!” katanya ”Baiklah, untuk sementara aku sebagai muridku. Tapi lain hari kalau jodoh kita sudah habis, kau perlu mencari lain guru. Maukah http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kau berjanji ? Kalau tidak tak suka mengambil kau sebagai muridku! ” Mendengar itu, Mo Lek jadi bertambah berduka, air matanya turun deras sekali Kui Ciang menarik tangan orang, ia menepas air matanya. “Anak tolol, buat apa nangis?” katanya, tertawa „Sekarang bukan waktunya main menangis bilang bagian apa yang kau kurang terang lekas kau tanyakan!” Mo Lek cerdas tetapi masih rada sulit ia menerima pelajaran silat dari pamannya ini. Itulah sebab sukarnya ilmu silat yang diwariskan itu. Pula ditempat begini, di saat hati sangat pepat mana dapat dia belajar benar? „Baiklah, sebagai guru hendak aku menguji kau!” kata Kui Ciang melihat orang diam saja, “Coba kau baca teorinya diluar kepala!” Mo Lek paksa menahan air matanya, ia lantas mengapalkan ajaran guru ini. Ia sebenarnya sudah faham hanya kedukaan membikin otaknya rada gelap, ia membuat beberapa kesalahan. Kui Ciang memberikan keerangan, untuk membenarkan itu. “Kau dapat mengapal ini, baik sekali” katanya kemudian, „Lain waktu, apabila kau dapat guru yang pandai, dari gurumu itu kau dapat minta pengajaran terlebih jauh.” Demikian paman dan keponakarr, sang guru dengan muridnya. Padi kira-kira jam dua. Kui Ciang lantas menyalin pakaian dengan ya neng ie, yaitu dandanan untuk ke luar malam yang singkat. Ia pesan muridnya: ”Kalau besok terang tanah aku tidak kembali kau mesti lekas mengangkat kaki dari sini, kau pergi kepala Lam Tayhiap kamu pergi lebih dulu ke Hoay yang setelah kau bertemu dengan Mo Keng Loojin. tolong kau sampaikan permintaanku kepadanya agar dia suka http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

membantu ayah angkatmu Inilah janjiku kepada pamanmu yang ketiga. Aku sendiri. aku kuatir tak dapat aku membantu lebih jauh padamu, maka juga aku minta bantuannya Mo Keng Loojin bersahabat baik dengan ayah angkatmu, aku percaya dia akan suka membantu “ Mo Lek ingin turut guru itu. tetapi karena ia duga pasti Kui Ciang bakal menolak, ia tidak bilang suatu apa, ia mengangguk dengan menyahut “Ya” berulang u!ang. Di dalam hati ia telah buat rencana lain Berpisah dari muridnya, Kui Ciang langsung menuju ke gunung kira kira jam tiga. Malam itu rembulan tidak muncul, ada juga bintang bintang yang sinarnya guram. Dengan bantuannya bintans-bintang itu, ia memandang ke bangunan yang mewah itu. Ia cuma melihat sebuah jalan miring yang kecil dan sempit untuk tiba di istananya An Lok San itu. Di mulut jalanan itu ada penjagaan oleh dua ora ig wie su. Di belakang gedung ialah batas istana Kaisar yang terlarang itu. Tak usah disebut lagi bahwa penjagaan di sana pasti lebih kuat pula. „Jikalau aku paksa menerobos, andaikata dua wie su ini menemui kematiannya, yang disebelah atas tentu mengetahuinya ” Kui Ciang pikir-“Bagaimana sekarang ?” Ketika itu seekor burung besar terbang bergelapakan dari alas sebuah pohon. Melihat burung itu, Kui Ciang mendapat akal Ia menjumput sepotong batu, ia menyentil itu kesebelah belakang kedua wie-su. Kaget mereka itu berdua, keduanya berpaling dengan gesit Kui Ciang sudah siap sedia ia menggunakan saatnya yang baik itu. Dengan satu lompatan enteng dan pesat, ialah dengan “Teng-peng touw-sui” atau “Menyebrang dengan menginjak kapu kapu.” ia melerat melebati kedua cinteng itu. la dapat http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

lewat tanpa suara apa-apa, tanpa terlihat. Ketika ia menoleh ke bslakanj, ia sudah menjauhkan diri tujuh atau delapan tombak. Dengan cepat ia menyembunyikan diri didalam rumpun rumput. „Aku merasa aneh,” kata wie-su yang satu pada kawannya. “Aku seperti mendengar suara timpukan batu yang biasa digunakan oleh orang yang suka keluar malam. Aku kan menjaga di depan sini, pergi kau meronda ke belakang kita mesti jaga supaya tak ada orang yang nyelundup naik ke mari.” Kedua wie-su biasa saja kepandaian silatnya tetapi mereka rupanya berpengalaman. Maka ketika mendengar kata-kata mereka itu, Kui Ciang mengeluh dalam hatinya : “Ini sulit . …” ia tidak berani sembarang keluar dari tempatnya bersembunyi Syukur sekali, mereka itu tidak mencari ke arah rumput tebal. Lega juga hati Kui Ciang. Meka ia berpikir, selagi orang membalik tubuh, ingin ia maju lebih jauh. Tengah ia mau melompat, mendadak ia mendengar suara batu jatuh di sisinya, menyusul mana ia melihat sesosok tubuh berlompat sampti di depannya. Orang itu bergerak sangat cepat bagai bayangan. Kui Ciang lompat, tangannya diluncurkan, untuk menyerang. Orang itu berkelit, dia berkata perlahan sekali : „Apakah Toan Tayhiap ? lekas kembali, atau akan ada bahaya jiwa !” Tak suka Kui Ciang menurut nasihat itu. Meski demikian, ia toh lompat juga ke belakang sebuah pohon besar, karena si wie-su telah kembali. “Siapa ?” tanya wie.su itu bengis. Akan tetapi : “Oh, kiranya Liap Ciangkun ! Aku kira ada si tukang jalan malam yang menimpukan batunya” Orang yang dipanggil Liap Ciangkun tertawa. “Malam ini ada datang utusan Seri Baginda, aku perlu melakukan perondaan istimewa.” ia menjawab. „Aku mau coba. kamu waspada atau http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tidak. Nah, lihat di sana, itulah si tukang keluar malam yang kamu curigai!’ Sambil berkata, Ciang kun, atau jenderal, ini mengayun sebelah tangannya, meluncurkan sebatang panah tangan, atas mana seekor burung besar, yang biru terbang keluar dari antara pepohonan, lantas menjerit dan jatuh ke tanah. „Itulah Kokobeluk!” kota Liap Ciangkun, tertawa. “Rupanya dia mengambil sarang burung lainnya lalu dia bikin jatuh hingga kamu mendengar seperti suara batu Tapi benar, suara yang belakangan ialah suara batu tulen yang dilemparkan olehku, guna mencoba kamu bertelinga jeli dan getap atau tidaK, kamu setia terhadap tugas kamu atau tidak. Bagus kamu bagus !” Kedua wiesu itu tertawa senang mereda dengan pujian itu. Maka mereka pun kata : “Kami harap sudi apakah kiranya Liap Ciangkun nanti bicara baik tentang kami di depannya Sie Cie hui !”‘ Teranglah kedua wiesu ini orang sebawahannya Sie Siong, sedang ini Liap Ciangkun berada di atasan mereka tapi masih di bawahan Ciangkun she Sie itu, pasti dia orang kepercayaan Sie Siong Kui Ciang heran Ia tidak kenal Liap Ciangkun itu. Siapakah dia ? Kenapa dia mau membantuinya ? bukankah orang bermaksud baik menasihati ia untuk lekas mengundurkan diri ? Toh orang itu orangnya An Lok San ! Pusing ia memikirkannya. Ketika itu kedua wiesu bergama Ciangkun itu sudah meronda ke mulut jalanan. „Biarnya ini istananya Giam Lo Ong, malam ini aku toh mesti memasukinya ! ‘ kata Kui Ciang dalam hati. Keras niatnya menolong Si It Jie, hingga ia menjadi nekad. Dan tanpa menghiraukan nasihat Liap Ciangkun tadi, ia maju kearah gedung itu sekalian. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Di depan gedung ada penjagaan tapi Kui Ciang tidak raemperdulikannya. Dengan berhati hati juga dengan kegesirannya, ia melewatinya. Ia selalu main sembunyi. Ia sampai di pintu belakang. Di sini ada dua wiesu yang menjaga. Penjagaan di sini tak serapat di sebeiah depan. Inilah rupanya orang pikir tak usah berkuatir ada orang datang dan turun dari atas gunung Bersembunyi di belakang sebuah batu besar, Kui Ciaus memasang kuping. Kedua wiesu itu lagi pasang omong hal An Lok San menghadap Yo Kui hui di dalam keraton. Yang satunya bicara sambil tertawa. “Aku tidak percaya,” kata yang lain tertawa juga. „Benarkah terjadi demikian ? menurut kau maka Raja tentulah menjadi si kura kura !” „Kau tidak percaya ?” kata yang pertama yang termokmok. “Tahukah kau bahwa utusan Sri Baginda masih ada di dalam sini tengah berbicara ? Dia datang mewakili ‘Raja dan Kui hui mengantarkan apa yang dinamakan uang cuci arak. Ciat touw su kita hari ini bukan cuma nyalinya besar tapi diapun beruntung dapat banyak uang karun. Kawannya itu gembira. Dia tertawa ,Lo Gui !” kata dia, „Benar-benarkah Ciat-touwsu kita dimandikan oleh Kui hui coba kau jelaskan ! Maukah kau ?” „Ketika Ciattouwsu kita masuk dalam keraton,” menutur si gemuk, Kui-hui Nio-nio lagi mandi air rendam kunga di ruang belakang, begitu dikabarkan tibanya Ciattouwsu kita, dia lantas keluar menyambut, tanpa nyisir atau dandan lagi. dia cuma mengerebongi diri dengan sutera tipis …” „Dengan begitu, apakah dia tidak jadi kedinginan?”

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

”Dasar orang desa tolol!” kata si gemuk tertawa , Di dalam keraton di empat penjuru tembok ada perapiannya, di dalam pedupaan pun ada dipasang hio wangi, maka itu tak perduli di luar salju turun hebat, di dalam keraton bahwa terus hangat seperti dimusim semi !” “Ah!” mengeluh si kurus menarik napas, „entah sampai kapan aku mendapat giliran mengikut Tayswee masuk ke Keraton. Supaya aku mempunyai ketika membuka mataku lebar lebar. Jikalau bisa begitu tak kecewa hidupku ini … . Loo Gui, Nio nio ke luar dengan berkerobong tipis, apakah Seri Baginda tidak menegur dia kurang hormat?” Wiesu she Gui itu tertawa, “Seri Baginda sangat menyintai Kui hui, mana dia mau menegur laginya di dalam istana, ciat touwsu kitalah yang paling dipercayakan. Dia hanya tidak menyangka orang yang dia paling percaya itu justeru telah main gila dengan-orang yang dia paling cinta !” Si kurus heran. „Aku tidak tahu tayswee memiliki kepandaian apa maka ia dapat menempel kui-hui berbareng dipercayakan Seri Baginda …” katanya. Si orang she Gui tertawa pula. „Kaulah orang baru, mana kau tahu ! dilahir tay-swee tampak kasar, sebenarnya dia cerdik sekali. Pernah suatu hari Seri Baginda panggil tayswee madap di istana Ciauw Keng Kiong untuk pasang omong. Baginda lihat tayswee gemuk sekali, sambil menunjuk perutnya yang besar, sembari memain ia tanya : „Perut anak ini besar seperti guci entah barang apa disimpan di dalam situ ? Atas perkataan itu. tayswee memberi hormat dan menyahuti : „Tidak apa-apa hanya hati yang merah ! Hamba ingin dengan hati merah ini mengerjakan segala apa untuk Seri Baginda ! “Seri Baginda girang, ia puji menteri itu setia. Demikian dia jadi dipercaya.”

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si kurus tertawa. , Ah, kita jadi melantur!” katanya. „Sekarang kau ceritalah tentang Kui-hui Nio-nio.” Si Gui tertawa, lantas dia membawa aksinya si tukang cerita. „Habis mandi Nio nio mengenakan baju sutera tipis, dadanya terpetah, tangan bajunya tergulung. Melihat itu Seri Baginda memuji dan bersenandung syair pujian : „Lembut bagaikan daging kepala ayam ! Atas itu tayswee menimpali : “Berlemak seperti susu.” Si wiesu kurus tertawa terpingkal-pingkal air matanya keluar, tangannya memegangi perutnya. “Jenaka tayswee kita!” katanya “Seri Ba ginda pun tertawa geli sebagai kau.” Keduanya ketawa pula, Ketika Kui-hui Nio-nio muncul, tayswe memberi hormat sambil memujikan panjang umur kata Seri Baginda: Lok San kau keliru! buat menghormati orang mesti memberi hormat pada ayah dulu! Seri Baginda berkata sambil tertawa. Lantas tayswee menyahuti: Hamba orang Ouw. Kebiasaan orang Ouw ialah menghormati ibu dulu, baru ayah. Raja senang sekali dan mengatakan tayswee jujur Kemudian tayswee bilang bahwa tiga hari yang lalu ialah ulang tahunnya, Mendengar itu Nio-nio berkata Memelihara anak, dihari ketiga anak itu harus dimandikan, kau mengakui aku ibu, kau belum menjalankankan aturan, baiklah hari ini kau dimandikan, benar benar pakaian tayswee dilolosi, ia dikerobongi mirip bayi, lalu dinaiki keatas joli dan diarak disekitar istana. Nio-nio dan Seri Baginda turut mengarak. Orang semua tertawa gembira ” Toan Kui Ctang menggeleng kepala. ”Benar-benar raja gila!” kata dalam hati. „Kau tahu Lao, Tio masih ada yang lebih gila!” kata si Cui pula. Habis itu Seri Baginda mengangkat tayswee merangkap jabatan ciat touwsu wilayah Ho-tong dan tanpa menanti sampai besok malam ini telah dikirim utusan membawa hadiah barang permata, katanya wisit upacara http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

permandian itu. Sampai sekarang tayswee masih menemani Utusan Seri-Baginda minum arak “ „Pantas malam ini penjagaan ditambah!” kata wiesu she Thio itu, si kurus. “Tinggal kita mesti berdiam di sini minum angin barat daya, sampai sebentar jam lima baru ganti giliran!” „Kau jangan mendumal!” kata si Gin si gemuk. „Ini justeru tugas bagus. Tayswee tambah pangkat dan mendapat hadiah, mungkin besok dia akan memberi presen. Sekarang kita menjaga disini besok kita akan dapt bagian Kita!’ Kui Ciang sebaliknya berpikir: “Inilah kebetulan! Baik aku bekuk mereka lalu aku pakai mereka memaksa An Lok San merdeka-kan Su It Jie…” lantas dia bekerja. Kedua wiesu masih bicara tempo mendadak dada mereka terhajar keras, tanpa bersuara, mereka roboh. Itulah sebab thie liancie, biji teratai besi Kui Ciang mengenai telak jalan darahnya, soan-kie hiat. Tetus Kui Ciang lompat kesisi mereka itu dengan tangannya ia menggempur hancur sebuah batu keras, sembari berbuat begitu, dia kata bengis ‘Jikalau kau menyayangi jiwa kamu dengar perkataanku” Kedua wiesu ketakutan. ‘Baik, baik,….” kata mereka. ”Buka bajumu, mari aku pinjam!” kata Kui Ciang. Wiesu, yang rubuhnya rada berimbang, menyerahkan pakaiannya. Habis itu Kui Ciang menotok pingsan oraag itu, yang tubuhnya ia lemparkan ke rumput tebai. Sigemuk ketakutan, dia menjublak. “An Lok San bersama utusan raja ada dimana?” tanya Kui Ciang. ‘Mari antar aku.!” Wiesu itu bergemetaran, tak dapat ia bicara. ‘”Apakah kau, cuma takut pada An Lok San tidak pada aku? lihat batu itu, contohnya! Apakah kau lebih kuat dari pada batu itu?” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si gemuk ketakutan, terpaksa ia mengikuti, Kui Ciang tempel jalan darah jie-khie di-pinggang orang, ia jalan berbareng sambil memesan: “kalau ada yang tanya, bilang saja kau lagi tukar giliran” „Kalau rahasia kita ketahuan?” ”Nanti aku yang melayani, kau jangan takut.’ Wiesu itu mati akal. Dari pintu belakang mereka memasuki taman. Kui Ciang bikin kopiahnya melesak, hingga hampir separoh mukanya tertutup, Mereka pun sebisanya jalan ditempai sepi. kalau toh ada beberada wiesu lainnya yang melihat, mereka itu tidak curiga. Habis melewati gunung gunungan, didepan terlihat sebuah gedung yang apinya terang. “Itu dia tempatnya tayswee dan utusan Seri Baginda,” kata siGui “Aku toh tak perlu menemani lebih jauh?…” Baru Kui CiangTmau menjawab, didepan mereka berkelebat satu bayangan, yang lantas menegur: “Gui Loo Sam? “Ya, aku hendak menukar giliran!” si gemuk menjawab. Kui Ciang menyiapkan dua biji teratai besi Ia merasa mengenali suara orang itu, yang berkata dingin: “An Lok San lagi menemani utusan dari Seri Baginda minum arak, siapapun dilarang datang dekat! kalau kau giliran tukar, kau mesti pergi, kenapa kau keluyuran disini? kalau kau ganggu tayjn, awas batok kepalamu“ Sigemuk menyahuti “Ya” beberapa kali” atas mana orang itu pergi kejalan lainnya. Kui Ciang mengenali orang ialah si Liap Ciang-kun. Ia merasa suara barusan ditujukan kepadanya, supaya ia jangan sembrono hanya pergi mengundurkan diri. Ia heran.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Siapa orang itu?” ia tanya si Gui. ”Dialah Liap Hong Ciang Kun, huciang pasukan pengawal pribadi tayswee.” Kui Ciang lantas ingat ahli pedang tua Liap Peng ditok cu. Hoan-yang, nama anak-nya dia itu rasanya Liap Hong. Pikirnya: “Kiranya dia, tapi aku belum mengenalnya, kenapa dia selalu menolongi aku? Aneh! Dia benar bukan hiap-kek dan namanya tak ber-cacad, kenapa dia jadi punggawa kepercayaannya An Lok San?” Si gemuk kata ketakutan, dahinya keringatan: ‘Syukur kita ketemu Liap Ciangkun. Dia memang baik hati. kalau umpama kata kita bertemu Gui Ciangkun, pasti kita celaka… Tapi. tolong lepaskan aku, aku ingin beristirahat.” „Baik, kau bo’eh beristirahat!” kata Kui Ciang, yang mendadak menotok urat gagu o-rang. supaya orang tak dapat berkutik. Ie menyeretnya kedalam guha seraya kata, “Gui Loo Sam, maaf! kau tahan sabar dua jam, nanti kau bebas sendiri.” Kui Ciang tinggalkan wiesu itu, ia lompat naik keatas pohon, untuk mengitari kedalam gedung. An Lok San duduk beradu diatas pemba-lirgan bersama seorang opsir yang bertubuh kekar. Empat opsir menanti di kedua pinggiran, di utaranya ada Sie Siong. Kata ia dalam hatinya: “Dia ini mestinya utusan raja. Kenapa dia bukannya orang kebiri? ‘ Adalah aturan di istana, utusan istana terdiri dari orang kebiri atau thaykam. Ia heran tapi tak bercuriga keras. “An Tayjin, kebetulan kau datang hari ini, “ terdengar utusan raja itu. “Sebenarnya hari ini Kui-hui Nio nio lagi bergusar. Syukur kau dapat menghiburnya.” „Kenapa Nio-nio gusar? “ http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

”Tak lain tak bukan disebabkan syairnya Lie Haksu. “Bagaimama itu?” Mendengar disebutnya Lie Hek, Kui Ciang memasang telinga. “Sebelum tayjin datang, Seri Baginda dan Nio nio minum arak di paseban Tim Hiang Teng menikmati keindahan bunga buwtan, “menerangkan si utusan raja. Sri Baginda gembira sekali dia perintah memanggil Lie Haksu. Haksu itu lagi sinting di rumah makan, dengan susah payah Lie Ku Liang datang memanggil “ . “ „Apakah Nio-nio menganggap dia kurang ajar? ‘Bukan. Sudah biasa Lie Pek berlaku berkepala besar. Baginda pernah menyusuti dengan jubah sendiri ilarnya haksu itu serta menyuruh Nio nio mencekoki godokan untuk menghilangkan mabuk araknya.” An Lok San menggelengkan kepala. “Dia terlalu dikasi hati! “ katanya. “Setelah Lie Hak su sadar dia disuruh menulis syair. Dia menulis tiga ruas. Menarik syairnya itu. Maukah tayjin aku bacakan?” „Aku orang kasar, tak mengerti aku”. “Syair itu pujian untuk Nio nio, sederhana bunyinya, tapi Nionio gusar.” “Heran. Nio nio dipuji tapi dia gusar. Kanapa? Aku jadi ingin mendengarnya. “ Utusan itu membacakan syair itu. „Raja senang mendengarnya, ia suruh Lie Ku Lian membikin lagunya serta sekalian mainkan itu, untuk dinyanyikan beramairamai. Memang itu sedap didengar.” „Memang bagus bunyinya syair itu,” kata Lok San tertawa. „Kalau begitu tayjin seorang ahli !” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Girang Lok San dipuji Ia lantas tanya syair yang kedua dan ketiga. “Habis syair yang pertama itu yang Baginda puji. Baginda minta dua lagi Lie Haksu minta presen arak dulu. Baginda berkata dia toh baru sinting. Dia tidak mau mengerti, katanya makin sinting makin dia dapat bersyair. Baginda tertawa. Pantas kau dinamakan Dewa Arak! katanya. Lantas Baginda menyuruh ambil anggur dari See-liang berikut cawan emasnya. Bak-hie juga dipakai bak-hie yang biasa di pakai Sri Baginda dan Nio-nio disuruh memeganginya …” ”Hm, dia dipuja seperti Thian !” kata Lok San. „Habis menenggak kering araknya, Lie Haksu lantas menulis pula. Juga kedua syair ini disukai baginda, yang kembali menitahkan dibikinkan lagunya, untuk dibunyikan dan dinyanyikan seperti yang pertama. Saking gembira Baginda sendiri turut meniup seruling dan Nio nio disuruh menabuh piepee. Setelah puas. Lie Ku Lian diperintah mengantarkan Lie Haksu pulang ke gedung Han Lim Ie,” Lok San heran. “Baginda senang, kenapa Nio nio gusar ?” dia tanya. ”Sebenarnya Nio-mo juga girang, ketika ia kembali kekamarnya ia masih menyanyikan syair itu. Lantas Kho Lek Su mengatakan dia heran Nio-nio bergembira, sedang sebenarnya sebaliknya mestinya. Nio nio tidak mengerti dan tanya apa sebabnya. Kho Lek Su berkata, dengan syair itu Nio nio disamakan dengan Tio Hui Yan. Mendengar itu Nio-nio menjadi gusar, ia menjadi benci Lie Haksu.” „Siapa itu Tio Hui Yan ?” tanya Lok San. „Tio Hui Yan ialah permaisuri yang cantik dari Kaisar Seng Tee dari Ahala Han.” “Toh Nio nio tidak direndahkan dibandingkan dengan Tio Hui Yan ?” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Tayjin tidak tahu. Tio Hui Yan bertubuh langsing ia disayangi umpama kata ia ditiup angin. Pernah Baginda berkata main-main pada Nio nio „Kalau kau, biarlah kau ditiup terlebih sering…. ketika Nio-nio bersaing dengan Bwee Hui. Bwee Hui pun mengatakan dia budak gemuk. Maka itu Nio-nio menjadi gusar.” Lok San tertawa. “Oh, begitu katanya “Menurut aku, wanita gemuk terlebih bagus!” Utusan Raja bersenyum ada artinya senyumnya itu. „Bagaimana ?” tanya Lok San. tak mengerti. ”Apakah aku tidak benar ?” Utusan itu berkata perlahan. Lantas tuan rumah menggeprak meja. mukanya merah padam. „Sungguh Lie Pek jahat!” katanya. „Pantas Nio-nio gusar!” Tio Hui Yan telah main gila dengan hamba keraton nama Yan Cek Hong, dia di kenal sebagai ratu cabul dalam jaman Ahala Han. Kho Lek Su menghasut bahwa Lie Pek membandingkan Yo Kui hui dengan ratu cabul itu. Tentu sekali kui-hui menjadi gusar dan sangat membenci haksu itu, karenanya pantas Lok San bergusar juga. Si utusan tertawa. „Jangan gusar. An Tayjin,” katanya. „Lie Pek membuat Nio nio gusar mana dia dapat bertahan lama di dalam istana ? Dia boleh disayang Seri Baginda tetapi tak nanti dia dapat melawan Nio-nio! Kho Lek Su pun liehay ! Maka sakit hati apa juga bakal terlampiaskan!” “Apakah Kho Lek Su bermusuh dengan Lie Pek?” „Apakah tayjin masih belum tahu ? Tahun dulu negara Put Hay mengirim utusan membawa suratnya dalam bahasa asing Di dalam istana tidak ada menteri yang mengerti bahasa itu, kemudian Hoo Tie Ciang memujikan Lie Pek. Dia ini http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengerti bahasa itu. dia membacanya dan menulis juga surat balasannya dalam bahasa asing itu. Khan negara itu ditegur untuk sikapnya yang tidak hormat. Dengan begitu Kerajaan Tong terlinding, ketika itu Lie Pek lagi mabuk, selagi mau menulis suratnya itu, ia menghendaki Yo Kok Tiong menggosok oak dan Kho Lek Su membukai kaos kakinya. Demikian Kho Lek Su telah lama mencari kesalahannya. “Baiklah kalau begitu,” kata An Lok San. „Besok akan aku kirim bingkisan untuk Kho Kong kong.” Tiba-tiba ia menoleh kepa da Sie Siong, menanya ’”Kabarnya kamu membuat huru hara di rumah makan. Bagaimana romannya orang she Lam itu?” Sie Siong memberikan keterangan sambil mematahkan Lok San mendengari, ia ber pikir, ia berdiam saja. Siutusan seoaliknya, menanya jelas tentang ilmu silat orang. Kui Ciang memasang telinga, ia heran utusan ini seorang ahli silat, Lok San mendengari sekian lama mendadak ia menepuk tangan. „Aku tak percaya dia demikian bernyali besar!” dia berseru. Belum berhenti seruan nya itu, atau dua biji, senjata rahasia menyamber kedalam. disusul dengan lompat masuknya sesosok tubuh manusia. Semua orang terperanjat. Kui Ciang tidak dapat menahan sabar lagi. ia menyerang dengan teratai besinya. Ia menyerang saling menyusul kepada An Lok San dan si utusan. Ia mengarah jalan darah mereka, supaya mere ka roboh tak berdaya, la sudah pikir habis merobohkan mereka iiu. ia mau tolongi Suit Jie dengan jalan menggunai mereka atau salah satunya menjadi manusia tanggungan Ia lihay dalam hal menggunai senjata rahasia ia percaya umpama An Lok San lolos, si utusan pasti tidak. Tapi dugaannya meleset, Utusan itu lihay sekali. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Teratai besi kecil seperti biji kacang, di timpuki Kui Ciang melesatnya pesat bukan kepalang tetapi si utusan berseru: “Baik!” sambil tangannya mengangkat sumpinya, menjepit teratai besi yang pertama dan ketika yang kedua tiba, ia menyampok dengan sumpitnya itu hingga kedua biji teratai ber adu keris, dua batang sumpitnya itu patah, ditengahnya, menjadi empat-potong. „Oh” berseru si utusan heran. lantas dia tertawa bergelak seraya berkata „Benar-benar ahli pedang, dari Yu-ciu kesohor bukan namanya saja! malam ini dapat aku mementang lebar mataku!” Teranglah dengan kata-katanya itu, ia sudah lantas mengenali penyerangnya, Dia memang bulan lain orang dari pada satu di antara Tay-lwee Sam Toa Kho-ciu, tiga orang tergagah di dalam istana, ialah U-bun Thong. Bersama-sama Cin Siang dan Ut tie Pak, dia menjabat Liong Kie Touw ut, akan tetapi dia merasa kurang disayangi Raja. Dia cuma merasa sendirinya, bukan dia d bedakan. Sebabnya yaitu Cin Siang dan Ut-tie Pak turunan menteri panglima pendiri Kerajaan Tong, dia serd.ri dari keluarga biasa. Dia berang gapan Raja lebih akrab dengan dengan kedua rekannya itu. Sebenarnya Raja tidak membedakan mereka. Apa yang beda yaitu, Cin Siang dan UtUe Pak tidak membaiki segala dorna, U-bun Thong sendiri di dalam menempel Yo Kui-hui, di luar merapati An Lok San. Ia berbuat begitu dengan niat memperkokoh kedudukannya. Demikian kali ini, mengantar wisit mandi itu, U-bun Thong ditolong oleh Yo Kui-hui, yang memohon Raja mengutusnya. Ia seorang liehar, ia tidak kenal Tean Kui Ciang tetapi ia tahu Kui Ciang bermusuh atau lebih benar dimusuhkan An Lok San. Dengan me-nyambuti teratai bes;, dan itu dicampur dengan kcierangan tentang ilmu pedang orang, ia lantas menyangka Kui Ciang Tepat terkaannya itu http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ketika itu Sie Siong bersama dua wie su lainnya sudah memegat Kui Ciang Mereka bertempur di ruang dalam. Karena kedudukannya sebagai kim-cee, utusan Raja, U bun Thong tidak mau lantas turun tangan. An Lok San kaget karena serangan gelap itu, lebih-lebih mengetahui penyerangnya itu ialah Kui Ciang, musuh yang ia lagi cari. Ia kagum karena U-bun Thong dapat menghalau kedua biji teratai besi. Dengan lantas hatinya menjadi tetap, hingga ia dapat berpikir: „Biarpun kau gagah. Kui Ciang, kau datang seorang diri kemari, tidak nanti kau sanggup melayani orang-crang sebawahanku ! Di sini pun ada U-bim Touw-ut! Maka ia berbangkit dari kursinya, sembari tertawa ia kata : „Aku kira siapa tak tahunya kau, sahabat baik ! bicaralah secara baik ! Buat apa kau menggunai senjata! Benarkah kau tidak ingat lagi persahabatan kita dan ingin sekali ambil jiwaku?’ Kui Ciang mendesak mengurdurkan Sie Siong. ia pun menangkis dua musuh lainnya, habis itu ia menjasi dengar suaraoya yang nyaring : ,An Lok San, kaukah si hina yang memperoleh angin baik ! kau hendak mencari balas, buat apa ku menggunai caramu yang rendah ? kau dipat mencari aku, kenapa kau membikin celaka sahabatku ?” An Lok San tertawa. “Itulah salah mengerti !” sahutnya. “Tapi walaupun kesalahan, kesalahan ada kebaikannya ! Jikalau aku tidak keliru menangkap sahabatmu itu, mana dapat aku mengundang kau tuan yang terhormat, datang kemari?, Baiklah kau ketahui, tiada maksudku membikin susah sahabat.nu itu. Kebetulan sekali sekarang kau telah datang, ingin aku meminta kau suka bekerja pada aku disini.” Kui Ciang bersenyum ewah. „Hm! Bekerja untukmu ! katanya, dingin. An Lok San tertawa lebar. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Aku merangkap jabatan Ciattouwsu untuk Peng louw, Hoauyang dan Hoo tong !” katanya nyaring „Jikalau kau bekerja untukku, apakah itu menghina martabatku ?” Berulangkali Kui Ciang mengasi dengar ‘Hm” yang nyaring. Lantas dia berkata tak kalah nyaringnya : “Di mataku kaulah dahulu buaya darat sekarang buaya darat juga! Bedanya ialah sekarang kau berbuat kejahatan lebih banyak dan lebih besar ! Dulu kau cuma mencelakai rakyat jelata, rakyat baik-baik, sekarang kau mencelakai rakyat berbareng tentara juga ! Hahaha ! Apakah kau sangka setelah kau menjadi ciat-touwsu lantas aku memandang tinggi kepadamu? Hm !” An Lok San sudah memikir memainkan sandiwara kucing menangkap tikus. Ia percaya tak nanti Toan Kui Ciang dapat lolos lagi Maka ingin ia lebih dulu mengejek dan menghinanya, guna melampiaskan kemendong-kolannya, maka sungguh di luar dugaan sekarang ia justeru didamprat habis habisan oleh musuhnya ini ! Bahkan ia dihina di muka umum, di beber rahasianya dibadapan tetamu dan orang orang sebawahannya ! Bukan main gusarnya ia. Tak dapat ia tertawa pula. Ia lantas mengasi lihat romannya yang bengis. „Manusia tak tahu diri !” ia membentak. “Hayo, kamu semua hajar dia sampai mampus” Toan Kui Ciang tidak takut. Dia tertawa berkakak. „Aku telah berani datang ke tempatmu ini, itu tandanya aku sudah tidak memikir untuk berlalu pula dengan masih hidup!” dia kata, keras. ”Hanya untuk kau membinasakan aku, rasanya itu taklah terlalu mudah! Haha!” Sambil berkata begitu, Kui Ciang tidak berdiam saja. Orang sudah maju untuk menyerang padanya. Ia memasang mata tajam, kakinya bergerak, tangannya bergerak juga. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

„Aduh !” demikian satu jeritan. Maka seorang busu telah tertancap dadanya dengan pedang hingga darahnya mengucur keluar, hingga terpaksa dia mesti mengundurkan diri. „Kantong nasi ! kantong nasi !” An Lok San mencaci berulang ulang. „Lekas panggil beberapa orang yang berarti !” Sie Siong maju meskipun ia jeri. Ia kenal baik liehaynya si orang she Toan. Ia malu mendengar dampratan pembesarnya itu. „Bagus !” berseru Kui Ciang menyambut pecundangnya itu. Ia lantas bersilat dengan sebat. Sie Siong kaget hingga ia terpaksa mundur. Toh ia masih terlambat. Tahu-tahu pundaknya terasa dingin dan sakit, pundak itu mengeluarkan darah. Ujung pedang musuh membuat goresan pada pundaknya itu ! Syukur untuknya, selagi dia diserang itu, Kui Ciang pun diserang oleh seorang wiesu yang bersenjatakan sepasang gaetan. Wiesu itu bukan sembarang wiesu. Untuk menolong diri Kui Ciang menarik pulang pedangnya sambil ia berkelit, kalau tidak pastilah dia bakal patas tulang pipeenya. Dengan tak perduli bakal di damprat, dia terus berkelit, uutuk mundur. Toan Kui Ciang benci sekali sama pecundangnya ini. Dialah yang secara bengis sudah menangkap Su It Jie. Maka ia tidak sudi melepaskannya Habis membebaskan diri dari *aetan sambil berseru, ia berlompat maju, guna menyusul orang she Sie ini. Di depannya menghalang seoranj wiem ia men dupak dengan kaki kanannya. Wiesu yang bergegaman gaetan pun menghadang pula tapi dia dipaksa mundur setelah gae;annya dibik.n terpental. Setelah itu meluncurlan pedang yang tajam ke punggungnya si pecundang! Tepat di waKtu yang berbahaya untuk Sie Siong itu Kui Ciang dibikin terkejut oleh suara angin di sebelah belakangnya. Ia http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menduga kepada serangan membokong. Batal ia menikam Sie Siong, terpaksa ia memutar tubuh sambil menyampok kebelakang. „Aku tidak menyangka An Lak San mempunyai orang seliehay ini, “pikirnya. Sebagai juga punggungnya ada matanya, pedang menyambar kelengan orang, sedang tubuhnya mendadak untuk berkelit. Kedua senjata mereka lantas beradu keras. Si penyerang mundur tiga tindak, orang yang diserang berguncang tubuhnya. Senjata mereka itu memperlihakan api meletik. „Ilmu golok yang bagus! Ilmu pedang yang liehay! Ya, dua duanya liehay “Itulah pujiannya U bun Thong Kui Ciang sudah lantas melihat penyerangnya, ia menjadi tercengang saking heran Orang itu ialah Liap Hong, yang berulang kali sudah menolongi ia secara diam diam yang mengisiki secara samar untuk ia menyingkirkan diri. Wiesu yang bersenjata gaetan bernama Thio Tiong Cie dia kosen seimbang denpan Sie Siong. Dialah salah seorang yangdiandalkan An Lok San. Melihat musuh menju-blak, dia lantas maju menyerang pula. Hebat dia menggunai sepasang gaetannya, yang me nyamber ke bawah Kui Ciang kaget. Itulah serangan di luar sangkaan. Ia lantas berkelit, tetapi tidak untung, ujung celananya kena tersamber juga hingga robek! Liap Hong pun maju pula sambil berseru nyaring: ‘Sorga ada jalannya kau tidak pergi kau memasuki neraka yang tiada pintunya! saat kematiaumu sudah tiba, masih kau berani, mengganas!”‘ Hebat kata-kata itu tetapi Kui Ciang menerimanya sebagai nasihat untuk ia mengangkat kaki, maka ia heran dan kata http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dalam hatinya: “Dia Hu Ciang pribadi dari An Lok San pantas kalau dia bekerja sungguh-sungguh untuk majikannya, tetapi heran dia seperti menyayangi aku. Kenapakah?” Liap Hong maju. Ia berkelahi sungguh-sungguh sekarang ia mendapat kenyataan Kui Ciang jauh terlebih liehay dari padanya, ia menyerang tanpa ragu-ragu. Kui Ciang tidak ingin mencelakai orang yang baik hati itu, ia melayani dengan keias. tetapi tanpa menfgunai tipu silatnya yang’ dapat merobohkan orang. Karena ini. dikepung berdua, ia menjadi kalah angin. Ia terdesak. U Bun Thong menyaksikan pertempuran itu Ia kata didalam hatinya: “Toan Kui Ciang memiliki ilmu pedang yang sempurna ia dapat tergolong orang kelas satu, akan tetapi ia belumlah pantas dan sesuai seperti yang dunia Rimba Persilatan memujinya!” Ketika itu Tan Sin Su datang bersama beberapa kawannya. Mereka melibat Kui Ciang terdesak, lantas mereka maju. Sia Su dengan bernapsu. Ia ingin membalas sakit hati untuk peristiwa dirumah makan, karena ia ta hu pedang Kui Ciang pedang mustika, sengaja ia membawa golok yang berat tiga puluh tiga kati, yang tebal sekali ia percaya pedang musuh tak bakal dapat memapas kutung gokol-nya itu, Ini pula yang membikin ia berani merangsak. Repot Kui Ciang dikepung oleh enam wiesu pilihan. Ia menangkis kekiri dan kanan ia menyerang selekasnya ada kesempatan. Satu kali pedangnya bentrok ji ga dengan golok Sin Su. Ia dapat menyampingkan pedangnya itu yang kena dibikin mental. Justeru itu. ga-etannya Thio Tiong Cie masuk, kali ini tangan bajunya yang kena dirobek. Syukur ia dapat meneruskan mengelir, tangannya. Meski begitu lengannya tergores jaga, kulitnya mengeluarkan darah. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Liap Hong miju selagi orang terlukakan itu. Dia menyerang dengan tikaman “Ular putih menyemburkan bisa.” Goloknya meluncur ke tenggorokkan lawan. Kui Ctng melihat bahaya mengancam, ia memutar tubuhnya. Itulah tipu silat “Membungkuk menanam yangliu”. Sambil berputar ia membalas menyerang. Mendadak terdengar jeritan “Aduh! ‘ itu-lah jeritannya Liap Hong, yang kena perutnya terlukakan Dia masih mencoba berlompat mundur, habis itu dia toh roboh. Hingga dengan begitu pengurungan menjadi mengasi lihat satu lowongan. Bukannya tak disengaja Lip Hong terluka dan roboh. Sampai disaat itu ia masih hendak menolongi Kui Ciang, guna membukai jalan lolos, lain orang tidak ketahui pertolongannya itu tetapi Kui Ciang menginsafinya. Maka Kui Ciang melengak sedetik dan berkata di dalam hrtinya : “Jikalau aku tidak terbinasa, di belakang hari mesti aku balas budinya orang ini. Hanya sekarang, mana dapat aku menerima budi kebaikanmu! Tanpa dapat menolongi Su Toako, mana ada muka aku menyingkir seorang diri ?” Kui Ciang menggunai ketikannya itu. la keluar dari kurungan Tetapi ia tidak lari menyingkir, ia justeru memburu kearah An Lok San ! Tian Sin Su dan yang lainnya menjgdi kaget, lekas-lekas mereka menyusul guna merintangi. Selagi mereka repot dan bi gung tiba-tiba terdengar suara nyaring dari U-bun ThongJago istana itu tertawa terbahak, dia kata. : „Setelah menyaksikan ilmu pedang Tuan Toan yang demikian indah, aku menjadi rada gatal! tuan-tuan, tolong kamu menunda seoentar, biarlah aku mempertontonkan kejelekanku ! Ya, kejelekanku !” Suaranya itu segera dibaiengi dengan lompat majunya, kedua http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tangannya terlihat kosong, jubahnya berkibar kibar, maka sekejab saja ia sudah tiba di hadapan Toan Kui Ciang. Menampak majunya jago istana itu, Tian Sin Su semua bernapas lega. Mereka tahu kejumawaannya jago itu, tanpa periniah lagi, mereka peda mengundurkan diri. Hingga disitu terbuka suatu gelanggang. Toan Kui Ciang mengawasi orang bicara demikian macam, sedang sikap dedak orang pun garang. Katanya di dalam hati : ”Kiranya ini utusan Raja seorang gagah ! . . . .” Berdiri di depan Kui Ciang. U bun Thong memperlihatkan siap terkebur. “Tuan Toan ahli pedang yang terbesar, bukankah tadi kau bermaksud menangkap aku ?” dia tanya “Sekarang aku sudah herdiri di depanmu, mengapa kau masih tidak mau turun tangan ?” Kui Ciang berlaku tenang. “Kau hendak mengadu kepandaian secara orang Bu-Iim, tidak mau aku menang sendiri, ia menyahut sabar. ,Kau keluarkanlah senjatamu!” U-bun Thcng tertawa lebar. „Benar-benar kau ahli pedang kenamaan. Tuan Toan” ia berkata. „Tak kecewa kau! Tapi tak usahlah kau berkuatir untuk diriku walaupun kau memiliki pedang mustika, tidak nanti kau mudah saja melukai aku U-bun Thong!” Mendengar orang memperkenalkan diri itu barulah Toan Kui Ciang mendapat tahu utusan raja ini sebenarnya salah satu Jago istana yang namanya tersohor berendeng dengan Ut-tie Pak. Ia tidak takut, bahkan ia mendongkol. Belum pernah ia menghadapi orang yang berani memandang tak matanya secara begini. Ia kata dalam hatinya : „Apakah kau sangka nama besarmu sebagai jago istana dapat menindih padaku ? Aku sangsi kepandaianmu berkelahi dengan tangan kosong dapat melebihkan keliehayannya Ut-tie Pak !” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dalam iimu silat tangan kolong melawan senjata, Ut-tie Pak memang kesohor sebagi jago nomor satu. selama pertempuran di rumah makan, Kui Ciang sudah menguji jago itu. ia menang unggul, maka itu ia menganggap U-bun Thong terlalu jumawa. „Benarkah ?” ia berkata menjawab jago istana yang jumawa itu, “Kalau begitu, silahkan kau mulai memberikan pengajaranmu!” Meski kegusarannya meluap-luap, Ku Ciang masih dapat menguasai diri uutuk tidak menyerang terlebih dulu. Lawan bertangan kosong, ia hendak mengalah untuk memberi kesempatan kepada lawan itu. „Baik” jawab U-bun Thong dengan berseru. „Untuk berlaku hormat tak ada jalan yang terlebih baik dari pada menerima perintah ! Nah. kau berlaku hati-hatilah menyambutnya”. Jago istana itu segera mulai dengan penyerangannya. Toan Kui Ciang memasang mata. Ia melihat orang tidak menggunai ilmu silat Kim-na-ciu atau Menangkap, juga bukannya ilmu silat Lo Han Kun yang liehay hanya ilmu silat Utara Tiang Kun yang umum. In menjadi heran. Mungkinkah dengan ilmu silat umum ini dia dapat melayani pedangku?” ia tanya di dalam hati. ,Ia disohorkan sebagai jago istana aku tidak percaya dia benar benar demikian liehaynya . . ..“ Tengah Kui Diang berpikir itu kepalan yang besar dari lawan sudah jaenyambar, ia menangkis tanpa bersangsa sedikit juga. „Trang!” Itulah satu suara bentrokan yang nyaring, yang diiring dengan terpencarnya lelatu api akibat bentrokan itu, Nyatalah U-bun Thong bukan besar omong tetapi juga ia licik sekali.Didalam genggamannya dia telah menyiapkan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

senjatanya, ialah sepasang poankoan pit yang sangat pendek, Sengaja dia tidak mau memberitahukan itu. Sengaja ia mau membikin Kui Ciang menyangka dia bertangan kosong, supaya Kui Kui Ciang menjadi mendongkol dan memandang kepadanya. Dia sudah pikir, kalau orang gu sar dan menyerang dengan sengit baru dia menyambut dengan senjatanya yang istimewa itu. Demikian sudah terjadi Tentu sekali dia membuat lawannya heran, Justeru itu. dia melakukan penyerangan lebih jauh. Dengan Cara sangat cepat. Dengan tangan kiri diangkat. dia menyerang dengan tangan kanannya, Dua-dua dengan senjatanya itu, Dia menyerang selagi orang belum sempat menarik pulang pedangnya, Dia sudah siap-sedia, dia da pat melakukannya. Sasarannya ialah jalan jalan darah jia-khie dibawahan tiga lawannya itu. Sungguh cara berkelai yang licin sekali, Syukurlah Toan Kui Ciang bernyali besar dan teliti sekali. Ia tidak tahu U-bun Thong menyembunyikan senjata rahasia dalam tangannya akan tetapi melihat dia menggunai Pak-pay Tiang Kun. ilmu silat „Tangan panjang” dari pihak utara semacam ilmu silat yang umum sekali, timbul kecurigaan maka itu ia tidak kena dicurigai lawannya itu. Ia tidak saja tidak memandang tak mata lawannya ini sebaliknya ia waspada luar biasa, hingga ia ketahui dengan jurus yang pertama itu lawan itu belum mengeluarkan kepandaiannya. Demikian disaat seperti kilat berkelebat itu kedua pihak sudah bergerak sangat sebat dan lincah. Poankoan Pit U bun Tnong me-nyambar ke jalan darah Jie khie dan Toan Kui Ciang, Tepat ketika ujung pit hampir mengenai baju lawan, sekonyong konyong pedang Kui Ciang berkeredep. ujungnya menusuk ke kaki penyerangnya itu. Kui Ciang berbuat demikian sambil ia mendak. Itulah siasat memenolong diri dengan mengancam kelemahan musuh. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

U-bun Thong terkejut. Dengan seoat ia berkelit. Dengan begitu bebaslah dirinya. Dengan begitu selamat juga Toan Kui Ciang. Dengan jago istana itu berkelit terpisahlah mereka berdua. Hanya sejenak kedua pihak sudah memperlihatkan kepandaian mereka itu. Hampir kedua-duanya roboh sebagai kurban senjata masing masing. Baru sekarang U bun Thong menginsafi liehaynya Kui Ciang. Rupanya tadi orang belum menggunai seluruh kepandaiannya, Diam diam ia merasa jeri sendirinya. Habis merenggang itu, kedua pihak lantas merapat pula. Kui Ciang ii.gin melakukan pembalasan, ia memutar pedangnya, untuk menaikan terus terusan sampai tiga kali, hingga pedangnya itu bersinar tak hentinya, datangnya bagaikan dari delapan penjuru angin. Dengan begitu, tubuh U bun Thong nampak seperti dikurung sinar pedang. Menyaksikan itu, semua busu melongo, hati mereka gentar. Sungguh henat si orang she Toan, sungguh bercahaya keselamatannya U-bun Thong …. Sebagai jago istana, U-bun Thong meng-gunai poan-koanpit, alat mirip perabot tulis, yang luar biasa. Umumnya poankoanpit berukuran dua kaki delapan dim, akan tetapi sepasang miliknya ini cuma tujuh dim seluruhnya. Ukurannya senjata ini sesuai dengan pepatah dalam ilmu silat yang berbunyi : „Satu dim pendek, satu dim bahaya” Berbahaya untuk musuh, tetapi pun berbahaya untuk diri sendiri apabila ada ketemui lawan yang jauh terlebih liehay. U bun Thong ketahui itu, maka ia telah membuat persiagaan.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Selagi Toan Kui Ciang mendesak itu dengan timbul harapannya akan memperoleh kemenangan sekonyongkonyong ia mendengar suara menjentrek pada senjata lawannya. Untuk herannya ia mendapat kenyataan poankoanpit musuh mendadak tambah panjang dengan tujuh dim. Itulah persiagaannya U-bun Thong, yang gamannya genggaman rahasia. Sebab koanpoanpit itu dilengkapi dengan pesawat rahasia, hingga kapan dikehendaki, panjangnya dapat diiambah dengan empat kali tujuh dim setiap kali memencetnya tujuh dim. Itulah hebat. Tak perduli Toan Kui Ciang sangat liehay, ia toh menjadi kurban senjata rahasia itu. Dengan terdengarnya suara rnem-berebet, pecahlah ujung bajunya tersentuh ujung senjata lawannya itu. Hebatnya ujung baju itulah ujung di depan perut. Semua busu yang menonton, lantas bersorak. Hanya, belum lagi berhenti sorak mereka itu tiba-tiba mereka dikejutkan teriakan „Aduh!” tertahan dari mulutnya U bun Thong tubuh siapa sudah lantas mencelat mundur Apabila orang melihatnya, pundak jago istana itu mengucurkan darah yang memerahkan bajunya. Toan Kui Ciang tidak melainkan liehay ilmu pedanenya tetapi ia juga mahir tenaga dalamnya, ketika barusan ujung poankoanpit mengarah perutnya, ia menyedot napas membuat perutnya kempes ciut, hingga bajunya yang kena tersentuh senjata lawan itu. Berbareng dengan itu, ia bukan hanya mengelit diri, ia jjga bekerja Dengan sebat sekali pelangnya diluncarkan ke arah pundak lawan justeru tangan lawan lagi diulur. Pula ia dengan terhisap, tubuhnya turut maju ke depan. Maka walaupun U bun Thoag lekas mengundurkan diri tak luput pundaknya itu di mampirkan ujang pedang, hingga kulit dagingnya tergores luka mensucirkan darah. Masih syukur, saking sebatnya dia mundur, dia dapai melindungi tulang pipeenya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Begitulab, saking kaget berhentilah soraknya semua busu, semua berbalik menjadi tercengang ! Baru saja U bun Thong sesumbar bahwa pedang Toang Kui Ciang tidak bakal melukai dia, atau sekarang pedang lawan itu membikin darahnya mengalir, tentu saja da menjadi sangat kaget dan malu berbareng. Dia bukan menjadi putus asa dan menyerah dia justeru menjadi sangat murka. Maka dia berseru : Orang she Toan, jikalau malam ini aku dapat membiar kau lolos, aku sumpah U-bun Thong bukanlah seorang manusia!” Dan dengan sepasang senjatanya itu ia lantas menyerang dengan hebat sekali. Sebagai keistimewaan poankoanpit, senjata itu dipakai menosok jalan darah. Toan Kui Ciang mengerti lawannya kalap, ia tidak mau memandang enteng. An Lok San pun berseru : „Benar ! paling benar dia ditawan hidup-hidup ! Hayo, kenapa kamu semua menjublak saja ? Kenapa kamu tidak segera membantui U bun Touw-ut meringkus bangsat ini Kata-kata Jerderai itu merupakan anjuran? berbareng titah. Tian Sin Su bersama Thia Tiong Cis bukannya tidak mempunyai pikiran untuk turun tangan guna memberikan bantuan mereka. Mereka tidak mewujudkan pikiran itu lantaran mereka ragu ragu Mereka kenal U bun Thong sebagai seorang jumawa dan besar kepala, mereka tidak berani sembarang maju. Mereka juga ingin menyaksikan kepandaiannya jago itu, maka ita, mereka terus menonton, Mereka mau menduga, meskipun Kui Ciarng gagah, tak nanti orang, sbe Toan itu dapat bertahan terus menens. Siapa nyana kesudahannya ada di luar sangkaan mereka,-Maka itu sekarang, dengan adanya suara An Lok San, mereka tak bersangsi. pula. Dengan lantas mereka maju menyerarg. U bun Thong tidak melarang orang membantui ia. Sekarang ia tahu bahwa ialah bukan lawan Kui Ciang. Justeru karena http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

majunya dua kawan ini segera suasana berubah lain. Ialah ia telah mendapat angin. Pertempuran terlangsung dengan, sinar pedang Toan Kui Ciang nampak makin lama, makin ciut kalangannya, An Lok San melihat, itu, legalah hatinya Sekonyong-konyong saja, selagi Toan Kui Ciang mulai dirangsak itu, terdengar seruannya yang nyaring dan tubuhnya berlompat bagaikan naga lincah sedang pedangnya berkelebat bagaikan kilat Kesudahannya itu Tian Sin Su terhuyung-huyung beberapa tindak, karena dengkulnya telah ditikam pedang lawan, sedang Thio Tiong Cie menjerit lantaran sebuah jeriji tangannya kena terpapas kutung ! Semua itu terjadi selagi si orang she Toan mencoba membarengi menoblos kurungan U bua Thong berseru sereya berlompat menyerang musuh. Ia kaget melihat kedua kawannya itu menjadi kurban. Maka ia menjadi gusar dan sengit. Ia menyerang selagi musuh baru saja menabas jari tangannya Tiong Cie, sebelum pedangnya ditarik pulang. Berbareng dengan itu, Kui Ciang pun berseru, pedangnya diayun ke belakang. Lantas, jatuhlah poankoanpit orang she Ubun itu! Kui Ciang terpaksa berlaku berani demikian melawan poankoanpit dengan tangan kirinya itu. Tangannya itu terluka parah hingga selanjutnya tak dapat diangkat pala untuk digunakan lagi. U-bun Thong terkejut mendapatkan Toao Kui Ciang berlaku nekad demikian, Tapi kesudahannya itu membikin ia puas juga. Biar bagaimana, ialah pihak menang. Seorang siesu menjemput toankoanpit untuk dilemparkan kepada jago istana itu. U-bun Thong menyambuti, terus ia http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berkata nyaring : „Bangsat ini tinggal sebelah tangannya, biarnya dia galak, dia tidak dapat mengganas lagi. Lekas ringkus padanya, Jaga, jangan kasi dia lari.” ---ooo0dw0ooo--Jilid 5 Kui Ciang bersiul lama dan kata keras, "Sungguh satu jago istana! Sungguh liehay luar biasa! Sungguh garang! Bukan saja kau menjadi orang berharga di depan Sri Baginda, pula kau berbareng menjadi anjing penjaga pintu dari An Lok San! Hm! Kau takut aku lari? Jangan kau kuatir! Sejak aku masuk ke istana ini, aku sudah tidak memikir untuk keluar pula dengan masih hidup!" Seluruh mukanya U-bun Thong menjadi. merah. Ia sangat terhinakan. "Aku tidak mau adu lidah denganmu!" ia membentak "Lihat poan-koan-pit!" Benar-benar ia lompat maju, untuk menyerang. Kui Ciang pun maju, dari itu, keduanya lantas bertarung pula. Semua U-bun Thong, Toan Kui Ciang, Thio Tiong Cie dan Tian Sin Su telah terluka, yang terparah ialah lukanya Kui Ciang. Yang kedua yaitu Tian Sin Su, yang terbacok dengkulnya, meski dia tak leluasa lagi berlompatan, dia masih bisa membantu mengurung musuh. Walaupun tinggal sebelah tangannya, Kui Ciang berkelahi dengan nekad, ia tetap gagah. Di antara orang-orangnya An Lok San, yang tergagah ialah Tian Sin Su, Sie Siong, Liap Hong dan Thio Hong Cie berempat. Liap Hong dan Sie Siong bergantian terluka parah, sekarang http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tinggal Sin Su bersama Tiong Cie. Ini sebabnya mereka masih dapat membantu U-bun Thong. Yang lainnya semua tak punya guna, ketika mereka mencoba maju mendekati Kui Ciang, dengan lantas mereka kena dilukakan dan mesti mundur karenanya. Maka itu, yang lainlainnya tidak dapat membantu lagi. Bahkan mereka membikin gelanggang terhalang oleh kehadiran mereka. U-bun Thong melihat orang seperti "menyesakkan dunia," dia menjadi mendelu, maka dia berteriak keras, "Pergi kamu melindungi Tayswe! Jangan kamu berkumpul di sini mendatangkan malu!" Sekalian Wiesu itu mendengar kata, semua lantas mengundurkan diri, hingga tinggallah Sin Su berdua Tiong Cie, yang membantu terus. Tidak lama, Sin Su berkelit dengan sia-sia, ketika dia lompat, dia kena ditikam. Untung bagus baginya, lukanya enteng. Meski begitu, ia merasa sangat nyeri. Menggunai ketika Kui Ciang menyerang Sin Su itu, U-bun Thong juga menggunai ketikanya, bahkan dia memencet poankoan-pitnya, untuk diulur terlebih panjang. Dengan begitu, dia dapat menyerang sedikit lebih jauh. Kui Ciang dapat melihat serangan pit, ia berkelit. Hanya celaka ? miliknya, tengah ia berlompat, gaetan Tiong Cie menyamber pahanya, hingga paha itu tergores luka. Syukur ia tidak sampai roboh. An Lok San kaget dan kagum. Ia menjadi berkuatir U-bun Thong juga bukan lawannya musuh yang tangguh itu. Kalau orang she U-bun itu kalah, ia pasti akan menghadapi ancaman bahaya. Sebaliknya, ia tidak dapat berlalu dari situ. U-bun

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Thong menjadi utusan kaisar dan utusan itu sekarang lagi berkelahi mati membelai dia. Selagi An Lok San bingung, ia melihat munculnya Sie Siong bersama beberapa Wiesu lainnya, yang mendorong datang seorang tawanan. Sie Siong muncul sambil mengasih dengar seruannya berulang kali. "Su Toako!" Kui Ciang memanggil keras ketika ia sudah melihat siapa itu yang dibawa datang. Orang itu ialah Su It Jie. Dia kurus kering, romannya seperti orang sakit. Teranglah dia sangat tersiksa. Sie Siong memasang pedangnya di punggung orang tawanan itu, dia berkata nyaring, "Toan Kui Ciang, berhenti beraksi! Asal kau maju lagi satu tindak, akan aku tikam Su Toako-mu ini!" Gusarnya Kui Ciang bukan alang kepalang, akan tetapi buat keselamatannya Su It Jie, ia berhenti bersilat. Ia hanya menyiapkan pedangnya kalau-kalau U-bun Thong menyerangnya. Ia memandang An Lok San, untuk berkata dengan gagah, "Musuhmu ialah aku, ada hubungannya apakah kau dengan orang she Su ini? Kau boleh bunuh atau cingcang aku, aku bersedia, tetapi kau mesti merdekakan dia!" Baru sekarang An Lok San dapat bernapas lega. Ia tertawa lebar. "Bagus!" serunya. "Sekarang letakilah pedangmu, nanti aku Beri ampun pada orang she Su ini, supaya dia tidak memperoleh kematiannyaf!" Kui Ciang tertawa dingin. "Apakah kau sangka aku bocah umur tiga tahun yang dapat kau permainkan?" ia kata nyaring. "Tak sukar untuk kau http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menghendaki aku meletaki pedangku! Sekarang kau biarkan aku mengantar Su Toako, sampai lewat sepuluh lie, dari sana aku nanti balik lagi bersama-sama orang-orangmu, itu waktu aku nanti serahkan pedangku ini!" An Lok San tertawa. "Kau tidak percaya aku, maria dapat aku percaya kau!" katanya. "Lekas kau letaki pedangmu! Tidak ada tawar menawar lagi!" Kui Ciang sangat gusar dan mendongkol, otaknya bekerja keras sekali. Ketika itu U-bun Thong bersama Tian Sin Su dan Thio Tiong Cie berdiri mengitari Kui Ciang dengan senjata mereka diancamkan ke arah tubuh yang berbahaya. Sulit untuk menyingkir dari ancaman itu. Tiba-tiba Su It Jie berkata, "Kasihlah aku bicara sebentar dengan Toan Toako!" "Baik!" menjawab Lok San. "Kau boleh menasihati dia supaya dia suka menakluk! Aku- hargai kau sebagai sastrawan, pasti aku tidak nanti membikin susah padamu! Jikalau kau sudi memangku pangkat, aku nanti berikan pangkat, jikalau sebaliknya, kau segera akan dimerdekakan, supaya kau hidup berkumpul dengan keluargamu! Toan Kui Ciang ini sahabat kekalku, walaupun dia berlaku tidak menghormati aku, dapat aku memberi ampun padanya! Maka itu tak usahlah kau menguatirkan keselamatan sahabatmu ini." Mendengar disebut-sebutnya keluarganya, muka It Jie menjadi merah dan pucat bergantian. Ia gusar bukan main. Beberapa kali bibirnya bergerak tanpa menerbitkan suara, alisnya juga berkerut dan bergantian, akhirnya alis itu bangun berdiri dan ia kata nyaring, "Toan Toako, daripada aku yang http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

hidup untuk mencari balas, lebih baik kau! Untuk kau tidak dipaksa mereka, aku akan berangkat terlebih dulu! Kau sayangilah dirimu, pergi kau menerobos keluar!" Belum berhenti suaranya orang she Su ini, ia sudah membuang dirinya dengan keras kebelakangnya, maka punggungnya lantas nancap di ujung pedangnya Sie Siong yang dipakai mengancamnya itu! Mimpi pun tidak Sie Siong bakal terjadi hal demikian. Ia kaget sekali, tak keburu ia menarik pedangnya. Malah hebatnya, selain darah lantas menyemprot keluar, ujung pedang juga menembusi ulu hati si orang tawanan! Su It Jie mendengar perkataan An Lok San, ia tidak mempunyai harapan lagi, maka ia pikir, daripada ia yang ketolongan, lebih baik Kui Ciang yang kabur. Kalau ia berkurban, tak akan dua-duanya roboh. Berbareng dengan berkurbannya It Jie itu, Kui Ciang berseru keras dan pedangnya bekerja. Matanya pun merah menyala. Sebatang gaetannya liong Jie sapat sebagai kesudahan dari serangan dahsyat itu. Dia tidak sempat menarik pulang senjatanya itu. U-bun Thong sebaliknya mengulur pula poankoan-pitnya. Kui Ijiang tidak menyerang orang she U-bun itu, ia hanya lompat ke depan, guna menghampirkan An Lok San. Ia terlalu bersakit hati hingga ia melupai segala apa. Keinginannya yang keras ialah membalas untuk sahabatnya itu. Karena itu, ujung poan-koan-pit mengenai punggungnya. Tapi ia liehay, ia menutup dirinya dan membikin tubuhnya licin dengan ilmu silat "( iam le Sip-pat Tiat". Maka itu, meski poankoan-pit mengenai tepat tetapi lak telak. Dasar U-bun Thong liehay, ujung senjatanya dapat menggores http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Berbareng dengan itu, Tiong Jie maju pula dengan terus menolak, maka selagi berlompat, Kui Ciang tak dapat mempertahankan diri lagi, terus ia jatuh roboh. U-bun Thong girang sekali. Ia maju sambil menyerang dengan poan-koan-pit kiri. Kui Ciang sendiri lagi jatuh itu ingat suatu apa, di dalam hatinya ia kata, "Tidak! Aku tidak dapat mati!" Ia ingin membalas untuk Su It Jie. Maka entah dari mana datangnya tenaganya, sambil berteriak ia mencelat bangun dengan lompatan "Le Hie Ta Teng" atau "Ikan gabus meletik". U-bun Thong tercengang. merasa telinganya pekak, sampai ia

Pedangnya Kui Ciang, yang menyerang, bentrok dengan poan-koan-pit hingga ujung pit itu putus. U-bun Thong menjerit, telapakan tangannya terasa nyeri. An Lok San kaget, mukanya menjadi pucat, dengan gugup dan suara terputus-putus, ia memberikan perintahnya, "Datangkan...! I >atangkan barisan panah dan gaetan!" \ "An Tayjin, jangan takut!" U-bun Thong berseru. Dia kaget tetapi dia lekas sadar. Dialah orang dengan banyak pengalaman bertempur. "Penjahat ini tidak dapat mengganas terlebih jauh! Jangan dekati dia! Kilarkan saja!" Siasat itu lantas digunai, Kui Ciang benar-benar dikurung. Sia-sia dia berlompatan, tenaganya sudah berkurang. Dia terluka di tangan, kaki, pundak dan punggung, dia juga telah mandi darah. Dia tampak seperti orang kalap. Sin Su dan Tiong Cie turu-t mengurung saking terpaksa. Tiong Cie menggunai cuma sebatang gaetan. Sin Su tak http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

merdeka bergerak sebab luka di dengkulnya itu. Mereka berdua bertempur dengan hati gentar. Sie Siong tak terluka parah, terpaksa ia turut mengurung. Bersama ia ada dua orang Wiesu lainnya yang menjadi pembantunya. Dalam ilmu silat, mereka ini terhitung kelas lima atau enam. Dengan cepat tibalah dua belas serdadu yang bersenjatakan gaetan peranti menggaet tubuh dan kaki musuh. Gaetan itu panjang setombak lebih. Mereka lantas mengurung di empat penjuru, terus mereka bekerja. Kui Ciang berseru, ia membabat kutung dua buah gaetan yang menyamber kakinya. Tapi serangan datang berbareng dari empat penjuru, betisnya kena tergaet juga, maka robohlah rubuhnya. Ia lantas bangun untuk berduduk di lantai. Sin Su girang, ia maju membacok. Kui Ciang berseru pula, berbareng dengan itu pedangnya dapat membabat kutung lagi dua gaetan. Gaetan yang mengenai betisnya nancap terus, hingga kakinya mengucurkan darah. Ia cabut itu, untuk dipakai menimpuk Sin Su. Orang she Tian itu kaget, hingga ia mendelong. Syukur untuknya, Sie Siong menolak tubuhnya. Meskipun demikian, gaetan melukai kulit kepalanya. Gaetan itu meluncur terus, maka celaka si serdadu yang bersenjatakan itu, dia terhajar dadanya, dia roboh terjengkang. Kui Ciang masih duduk di lantai, ia putar pedangnya guna membela dirinya. Dalam keadaan seperti itu, ia melupakan rasa nyerinya. Lagi tiga gaetan kena ia babat putus! An Lok San jeri. Kata ia di dalam hati, "Aku sudah berpengalaman berperang tetapi belum pernah aku melihat orang sekosen dia!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sie Siong mundur, dia berdiri di samping jenderalnya itu. Dia kata, "Dia sudah tak dapat bangun berdiri untuk menyingkir, baiklah Tayswe datangkan barisan panah, untuk segera mengambil jiwanya!" Lok San setuju, ia mengangguk. "Memang inilah cara satu-satunya," katanya. "Ya, kenapa masih belum juga tiba?" Ia memberikan pula titahnya, untuk mendesak lekas datangnya barisan itu. Kepada U-bun Thong ia menyerukan, "U-bun Touw-ut! Jangan adu jiwa lagi dengannya! Barisan panah akan segera tiba!" Muka U-bun Thong merah. Ia malu dan mendongkol. Musuh sudah mendeprok tapi dia masih juga belum dapat diringkus. Dari enam orang, tinggal ia sendiri yang belum mundur. Dalam penasaran, ia menggertak gigi, terus ia merangsak. Ia tidak berkeinginan mengasih hidup pada musuh yang gagah ini. Selagi ia maju, mendadak ia mendengar suara berisik datangnya dari luar. Di sana orang berteriak-teriak dan lari mendatangi. An Lok San menduga pada barisan panahnya. Atau ia menjadi heran. Suara berisik itu suara orang kaget dan ketakutan. Selagi ia heran, di muka pintu terlihat seorang pengawal berteriak-teriak, "Kebakaran! Kebakaran! Celaka! Kebakaran!" Lok San menjadi bingung. "Tangkap pembunuh! Tangkap pembunuh!" demikian datang lain suara berisik. Pengawal pintu terdiri dari beberapa orang, suara teriakannya mereka itu belum berhenti, atau bagaikan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

terdampar gelombang, mereka kena digempur roboh dari tempat jagaannya masing-masing! Menyusul itu tertampak munculnya dua orang, yang satu mengenakan seragam, yang lainnya seorang bocah umur enam atau tujuh belas tahun. "Ada apa?" bentak Lok San. "Kenapa kamu lancang masuk kemari?" Pertanyaan itu belum berhenti, atau dia sudah dibentak, "An Lok San! Kau mencelakai Toan Toako, maka ingin aku mengambil jiwamu!" Berbareng dengan itu, orang itu lompat untuk menerjang. Untuk^ ini ia tidak menanti sampai dapat mengusir mundur semua Wiesu, hanya1 ia lompat lewat di atasan kepala mereka! Beberapa tukang gaet lagi menggaet, gaetan mereka kena ditabas kutung, maka itu berisiklah bentrokan golok dengan pelbagai gaetan besi itu. Juga si anak muda turut maju. Dia muda tetapi dia hebat. Dia menggunai goloknya, tangan kosong dan tendangan! Beberapa Wiesu kena dibikin terjungkal, juga beberapa tukang menggaet. Lalu terdengar seruan Tian Sin Su, "Lam Ce In, kau bernyali besar sekali!" Dua orang itu memanglah Ce In bersama Mo Lek! Toan Kui Ciang tidak mau merembet-rembet sahabat, ia mendusta terhadap Ce In, tetapi Mo Lek bocah cerdik, dia dapat menduga hati orang, diam-diam dia telah mengingat baik tempat kediaman orang. Kepada Kui Ciang ia berjanji tidak akan meninggalkan kuil, tetapi seberlalunya sanak itu, lantas dia pergi mencari Ce In. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Ce In telah berjanji dengan Lie Pek malam itu, untuk habis magrib berkumpul di rumah Hoo Tie Ciang. Ketika Mo Lek sampai di tempat menginapnya Ce In waktu sudah jam tiga, Ce In belum pulang. Dia meninggalkan surat, lantas dia pergi ke rumah Tie Ciang. Ce In minum gembira sekali hingga ia lupa pulang. Mo Lek muncul dengan tiba-tiba. Lie Pek tidak takut atas datangnya bocah itu, bahkan dia lantas mengajak minum bersama! Mo Lek tidak mempunyai kegembiraan untuk bersuka-ria, ia lantas bicara pada Ce In, menutur dugaannya mengenai maksudnya Kui Ciang. Ce In kaget, lantas ia pamitan dari Lie Pek, terus ia lari bersama si anak muda. Meski demikian, ia datang terlambat, Su It Jie sudah hilang jiwanya dan Kui Ciang lagi terancam bahaya maut. Tian Sin Su mengenali orang, dia berteriak, tetapi dia tidak berani melayani, bahkan dia mundur. An Lok San melihat suasana buruk. Sekarang ia juga lupa kepada utusan raja. Ia melupai kedudukannya sebagai "Tayswe". Maka dengan mencekal tangan Sin Su, untuk orang melindunginya, ia mundur ke houwtong, ruang belakang! Hati Sie Siong telah dibikin ciut oleh Lam Ce In. Sudah begitu, dia tak secerdik Tian Sin Su. Pula karena lukanya lebih hebat, ketika itu dia masih belum sempat mengundurkan diri. "Orang she Sie!" Ce In membentak. "Rupanya kau belum puas dengan pertempuran kita di rumah makan! Mari kau maju, mari!" Ce In berkata demikian, toh ia sendiri yang lompat untuk menghampirkan lawan itu, begitu sampai, begitu ia menyerang dengan golok mustikanya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sie Siong tidak berani melawan, apapula itu waktu dia sudah terluka. Maka dia mendahului berlompat, untuk berlari. Adalah Thio Tiong Cie yang maju, untuk membantu padanya. Orang she Thio ini menyerang dengan lantas. Lam Ce In berkelit ke samping, sambil berkelit, ia menangkis serangan gaetan dari lawan itu. Ia menggunai jurus "Burung belibis berbaris di tengah udara". Gaetan Tiong Cie sudah dirusak yang sebelah oleh Toan Kui Ciang, sekarang tinggal yang sebelah lagi, ketika senjata itu beradu dengan golok Ce In, dia kaget sekali. Senjatanya itu terkuningkan menjadi dua potong, hingga dia menjadi bertangan kosong. Menampak demikian, sedang dua orang itu sudah berlepotan darah, Ce In berseru, "Golok mustika tak membunuh orang yang sudah terlukai" Benar-benar ia menarik pulang goloknya itu, yang sudah diayun, sebaliknya, dengan kesehatan luar biasa, ia berlompat dengan dupakan dua-dua kakinya. Itulah tendangan "Wan-yoh Siang Hui Kiak" atau "Kaki kerlingnya burung Wan-yoh". Sie Siong kena didupak punggungnya, tubuhnya lantas terjerunuk. I'hio Tiong Cie kena tertendang pinggangnya. Kalau Sie Siong terjungkal jauh setombak lebih, orang she Thio ini terguling menggelinding seperti luili buh Ketika itu U-bun Thong menyerang Toan Kui Ciang yang sudah terluka dan duduk. Ia telah pikir untuk paling dulu membinasakan lawannya ini. Begitulah, dengan poan-koan-pit kiri menangkis pedang lawan, dengan yang kanan ia menotok hebat sekali.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru itu Lam Ce In sudah berlompat, untuk membacok punggung orang she U-bun itu, guna ia menolongi Kui Ciang. U-bun Thong liehay. Ia mendapat tahu adanya bokongan. Batal menikam Kui Ciang, ia berkelit ke samping, seraya memutar tubuh, ia menangkis. Ia membuat dua gerakan berbareng. Untuk berkelit, ia menggunai tipu "Naga mendekam bertindak" dan buat menangkis, ia pakai tipu "Menabuh lonceng emas". Ketika senjata mereka beradu, terdengarlah suara yang nyaring. Akibatnya itu poan-koan-pit kena dibikin gompal sedikit dan tangan komandan itu sakit dan kesemutan, sedang tubuhnya terhuyung tiga tindak. Toan Kui Ciang sudah tidak dapat bergerak. Ia melihat musuh terhuyung ke arahnya, ia mencoba menabas, tetapi ia gagal, ujung pedangnya tak sampai kepada dengkul lawan'itu. Lam Ce In tak sempat mengejar U-bun Thong. "Toako!" ia memanggil seraya ia lompat kepada kawannya, yang tubuhnya segera diangkat. "Oh, saudara Lam, kau datang...!" kata Kui Ciang, yang terus muntah darah dan tak sadarkan diri. Itulah sebab ia telah berkelahi terlalu lama dan terluka, hingga tenaganya habis. U-bun Thong girang melihat Lam Ce In menolongi Toan Kui Ciang. Coba ia disusul, mungkin ia terancam bahaya. Ia kata di dalam hatinya, "Kau menggendong Toan Kui Ciang, aku tidak takut padamu!" Maka ia maju pula dengan berani. Dengan dua-dua poan-koan-pit, jago istana ini melakukan serangannya. Dengan pit kiri ia mencari tiga jalan darah tionghu, kiok-tie dan siauw-hu, dan dengan pit kanan mengancam jalan darah te-hu di kakinya Kui Ciang. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Ce In tidak menangkis, hanya dengan berlompat ia mengelit diri berbareng menyingkirkan Kui Ciang dari ancaman bahaya. U-bun Thong tidak puas, dia merangsak, untuk mengulangi serangannya. "Kau telengas sekali!" Ce In berteriak. Ia berlompat untuk serangan ke kakinya, selagi turun itu, ia membalas menyerang dengan bacokan goloknya. Inilah tidak disangka. Luar biasa Ce In, yang dapat berlompat sambil menggendong orang. U-bun Thong berkelit, kedua tanganya ditarik pulang. Hampir kedua senjatanya kena tertabas golok mustika. Ia menjadi jengah karena kelitnya itu. Ia bukannya mundur hanya menjatuhkan diri, hanya ia tidak kelabakan seperti Sie Siong tadi. Toh pakaiannya kotor. Ce In terus membuka jalan, untuk menyingkir dari tempat berbahaya itu. Dua orang Wiesu kena ditendang hingga terjungkal. Dengan suara bengis ia berseru, "Hidup siapa membuka jalan! Mati siapa merintangi aku!" Dan goloknya diputar hebat, sinarnya bergemirlapan. Kawanan Wiesu jeri, tak ada lagi yang merintangi. Tatkala itu api sudah berkobar-kobar. Tiat Mo Lek sudah bekerja. Bocah ini hidup dalam kalangan penjahat, dia banyak pengetahuannya dan pula cerdik, dia senantiasa membekal bahan api. Maka dia menyelusup ke dalam gedung An Lok San dan membakar di beberapa tempat, guna menerbitkan kebakaran. Itu juga suatu siasat mengalutkan, untuk memudahkan pihaknya mengangkat kaki.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Rombongan Busu repot berlari-lari guna memadamkan api, maka kacaulah keadaan di istana peristirahatan An Lok San itu. Pasukan panah t«lah disiapkan tapi pasukan ini tidak berani lancang menggunai panah mereka, takut nanti memanah kawan. Tiat Mo Lek menyaksikan itu, dengan berani ia tertawa dan kata nyaring, "Malam ini aku tidak berhasil membunuh An Lok San, tetapi hatiku puas!" U-bun Thong gusar dan penasaran, ia lompat kepada si bocah, untuk menotok. Mo Lek berani, ia bukannya lari menyingkir hanya menangkis. Ia menggunai satu tipu silat ajarannya Toan Kui Ciang. Nampak ia gagah sekali. Jago istana itu heran hingga dia tidak berani berlaku sembrono. Dengan berhati-hati dia mendesak. Mo Lek berlaku gesit, kecuali menangkis, ia lebih banyak berkelit. .Satu kali ia terdesak, ia samber tubuh seorang Wiesu, yang ia terus lemparkan pada jago istana itu. U-bun Thong tidak berani melukai orangnya An Lok San, terpaksa ia memapaki tubuh si Wiesu, guna dipegang dan dikasih turun dengan perlahan. Hanya dengan begitu, ia membikin si bocah sempat menyingkir jauh, hingga ia hilang di antara orang banyak, guna menyusul I ie ln. Bukan main mendongkolnya U-bun Thong, dia lari mengejar keras sekali. Mo Lek main api, akibatnya ada baiknya ada buruknya. Baiknya ialah orang repot memerangi api. Buruknya ialah rombongan Wiesu lainnya berlari-lari mendatangi, untuk datang membantu. Dengan begitu, mereka jati i memapaki dua orang yang lagi berlari-lari untuk menyingkir itu. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Syukur Lam Ce In cerdik. "Bagus kamu datang!" ia teriaki kawanan Wiesu itu. "Lekas kamu membantu memadamkan" api! Di dalam juga ada beberapa penjahat yang belum kena dibekuk!" Karena teriakannya ini, ia tidak dipegat kawanan Wiesu itu. Inilah sebab ia mengenakan seragam Wiesu dan orang tak sempat melihat tegas atau berpikir lagi. Dengan cepat sekali ia lari ke lain arah, di bagian dimana jumlah Wiesu sedikit sekali, untuk nyeplos di antara mereka itu... Tengah kawanan Wiesu itu bingung, mereka mendengar teriakannya U-bun Thong dan Leng-ho Tat, "Pegat dua orang itu! Merekalah orang-orang jahat yang menyamar!" U-bun Thong mengejar dari belakang dan Leng-ho Tat memegat dari depan, untuk merintangi. Ketika itu mereka ini berdualah yang bergilir menjaga dan semua Wiesu itu menjadi orang-orang sebawahan mereka. Lam Ce In bekerja terus. Dua Wiesu roboh di ujung goloknya. Ia lari ke tanjakan, ia masuk ke dalam rimba. Tiat Mo Lek tercandak seorang Wiesu, lantas ia kena dibikin repot. Wiesu itu pandai ilmu Te-tong-too, berkelahi dengan golok sambil bergulingan di tanah, dengan menyerang sambil bergelindingan itu, dia membuat si anak muda bingung. Dua batang goloknya menyamber-nyamber. Si anak muda gagah tetapi ia kurang pengalaman berkelahi, tak biasa ia melayani Te-tong-too. Sudah begitu, dua Wiesu lain keburu menyandak, hingga ia jadi dikepung bertiga. Dua Wiesu yang belakangan ini bersenjatakan gembolan dan sepasang ruyung, keduanya senjata-senjata yang berat. Lam Ce In di dalam rimba menoleh ke belakang. Ia lihat kawannya terhalang, ia menjadi berkuatir. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Mo Lek, sambut pedang!" ia berseru. Ia menghunus pedangnya Toan Kui Ciang, yang ia terus lemparkan. Celaka Wiesu yang bergegaman ruyung itu, pedang nancap di punggungnya tanpa dia berdaya, hingga lantas dia roboh. Tiat Mo Lek mendengar dan melihat, ia lompat kepada Wiesu itu, di saat tubuh orang roboh, ia menyamber gagang pedang, untuk dicabut. Ia berlompat dengan kepala turun dan kaki naik, tepat samberannya, sebat tarikannya. Maka lantas pedang berada di tangannya. Gerakannya ini membikin tercengang kedua Wiesu lawannya itu. Tiat Mo Lek tidak mau mensia-siakan ketika. Ia lompat kepada Wiesu yang berkelahi dengan ilmu Te-tong-too itu, ketika ia menyerang, ia membabat kutung sepasang golok orang. Ketika ia membalik tubuh, ia kena tikam lengannya Wiesu yang memegang gembolan, hingga gembolan yang berat itu terlepas dan jatuh bergelindingan ke bawah bukit. "Leng-ho Tat!" Ce In membentak. "Jikalah kau tidak sayang jiwamu, mari masuk ke dalam rimba ini!" Bukan main kerasnya bentakan itu, burung-burung pada kaget dan terbang kabur. Kaget dan ciut hatinya, Leng-ho Tat tidak berani mengejar ke dalam pepohonan lebat itu. "Kamu maju!" terdengar perintahnya U-bun Thong, yang sudah menyusul. Leng-ho Tat mengambil busur dari tangannya seorang serdadu tukang panah, ia menarik itu, untuk dilepaskan ke arah Lam Ce In. Sayang untuknya, tangannya bergemetaran, maka anak panahnya meluncur ke samping sasarannya. U-bun Thong menyaksikan itu, dia mendongkol. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Mari!" serunya seraya merampas busur dari tangan kawannya. Ia memang lebih menang dalam ilmu silat dan tenaga daripada kawan ini. Ketika ia memanah, anak panahnya meluncur sambil memperdengarkan suara nyaring. Tiat Mo Lek sudah menyusul Lam Ce In ketika ia melihat aksinya si orang she U-bun. Tentu sekali ia kuatir Ce In kena terpanah sebab kawan itu lari membawa tubuh Kui Ciang. Ia lantas lompat seraya menyampok anak panah itu. U-bun Thong mendongkol panahnya dirintangi. Mo Lek pun bukannya tidak mendapat hajaran. Anak panah^itu melesat sangat keras, meski ia menyampok, telapak tangannya tergetar dan terasa nyeri, hingga ia terperanjat. "Bagus, bocah cilik!" U-bun Thong berseru saking mendongkol. "Kau berani menghalang-halangi aku, kau mesti dibunuh lebih dulu!" Segera meluncur anak panah yang kedua, sekarang arahnya ke arah si bocah. Tiat Mo Lek sudah sampai di tepi jurang. Tidak ada jalan mundur untuknya. Buat tangkis panah juga sukar. Mendadak ia menjadi nekad, bukannya ia lompat nyamping atau menyampok, ia justeru berseru melemparkan dirinya ke bawah. Lam Ce In melihat itu, ia kaget stekali. Tapi kagetnya tak cuma sampai di situ. Anak panahnya U-bun Thong sudah meluncur pula, sekarang ke arahnya. Dalam kagetnya, ia menangkis meruntuhkan anak panah itu. Ketika itu, U-bun Thong sudah lari mendekati. "Orang she Lam, kau masih memikir untuk kabur?" tanyanya, mengejek. "Taruh kata kau sendiri dapat kabur, tidaklah si orang she Toan! Untuk kebaikan kau, kau letaki http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

orang she Toan itu, melihat kau seorang laki-laki, suka aku membiarkan kau lolos!" Lam Ce In murka. "U-bun Thong, kau majulah!" ia menantang. "Mari kita melakukan pertempuran yang memutuskan!" U-bun Thong tertawa. "Buat apa aku melayani kau si orang yang bakal segeramenemui ajalnya?" katanya mengejek. "Tapi suka aku memberi nasehat kepadamu! Mari menyerah! Jikalau kau tidak suka dengar nasehat baik, biarlah, kau boleh temani si orang she Toan membuang jiwa! Lihat ini panahku!" U-bun Thong liehay dan telengas, dengan saling susul ia melepaskan anak panah yang kempat dan kelima. Lam Ce In menjadi repot. Ia mesti melindungi Kui Ciang yang ia terus gendong. Tak leluasa ia menangkis, tak merdeka ia berlompatan dengan gesit seperti biasanya. U-bun Thong tidak mau berhenti dengan panahnya. Ia melepaskan terus menerus hingga tiba saatnya anak panah yang kesembilan, yang memilih kakinya Kui Ciang sebagai sasarannya. Sekarang ini orang she Lam itu menghadapi bencana. Ia sampai di tepi jurang hingga tak ada jalan lainnya lagi. Ia mesti nekad melawan atau roboh terpaksa. Tapi ia ingin hidup, ia ingin sahabatnya bebas. Mendadak ia mengertak gigi, ia kata dalam hatinya, "Toan Toako, kita sama-sama terbebas atau sama-sama terbinasa! Mari kita serahkan jiwa kita kepada Thian!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

U-bun Thong tidak mau memberi kesempatan orang berpikir, kembali ia menyerang dengan anak panah, sampai beruntun tiga kali! Dalam keadaan sangat terancam itu, mendadak Lam Ce In berseru keras, sambil tangan kirinya memondong erat-erat tubuhnya Toan Kui Ciang, ia lompat turun, tangan kanannya mencekal keras goloknya! Ia menelad perbuatannya Tiat Mo Lek! U-bun Thong terkejut bahna heran. Inilah ia tidak pernah sangka. Ketika ia melongok ke bawah, ia melihat jurang curam dan gelap, ia berdiri menjublak. "Dia terjun berdua, dia mestinya mati..." demikian pikirnya, la tidak berani terjun untuk menyusul. Sebenarnya ia pun memperoleh tiga luka pedang hanya semuanya itu ringan. Lam Ce In nekad tetapi ia membekal golok mustikanya. Golok itu dipakai sebagai andalan terakhir. Ketika ia lompat turun, dengan goloknya ia tancapkan ke tembok jurang. Tiga kali ia berbuat demikian, hingga saban-saban tubuhnya tertahan tergantung. Baru setelah itu ia tiba di dasar jurang, kakinya menginjak tanah yang keras. Walaupun jiwanya ketolongan, jago she Lam ini tidak luput dari belasan luka-luka baret, hanya karena ia kuat, ia dapat bertahan. Kalau lain orang, pastilah dia sudah rebah dengan napas empas-empis... "Mo Lek! Mo Lek!" Ce In memanggil beberapa kali, setelah ia dapat berdiri dengan tegar. Belum berhenti panggilan itu, dari rumpun di samping terlihat sesosok bayangan hitam merayap keluar, dari mulutnya bayangan itu terdengar jawaban yang perlahan yang disusul rintihan. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ce In tahu bocah itu kuat dan berkepala besar, maka itu, ia terkejut mendengar rintihannya. "Mo Lek, bagaimana?" tanyanya cepat. "Apakah lukamu parah?" Si anak muda menggigit keras giginya atas dan bawah. "Tidak seberapa," sahutnya, Bagaimana dengan paman Toan?" "Cuma kakiku keseleo...

Tak dapat bocah ini melupakan pamannya. "Apakah kau membawa bahan api?" Lam Ce In balik menanya. "Ada," jawab Tiat Mo Lek, yang terus merogo ke sakunya, untuk segera menyalahkannya. "Ini!" katanya pula, tangannya diulur. Di terangnya api tampak muka Kui Ciang sangat pucat, tubuhnya berlumuran darah, masih ada darah hidup yang meleleh keluar. Bukan main berkuatirnya Ce In. Ia lantas pondong sahabat itu, dibawa ke solokan, untuk mencuci luka-lukanya, buat segera diobati. Untuk membersihkan darahnya, ia menyobek ujung baju. Tiat Mo Lek merayap menghampirkan. "Bagaimana, ada harapan?" tanyanya, berkuatir. "Untuk sementara, darahnya sudah berhenti mengalir..." sahut Ce In, suaranya dalam. "Bagaimana?" tanya pula Mo Lek. Ce In tidak lantas menjawab. Selang sedikit lama, baru terdengar suaranya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Toako bertubuh kokoh dan kuat tenaga dalamnya," katanya, "Nadinya pun belum berhenti. Yang perlu sekarang ialah pertolongan tabib..." Mendengar itu, Mo Lek bergerak cepat untuk berduduk. Ia mementang matanya lebar-lebar. "Bagaimana?" katanya, bingung. "Di sini di mana kita dapat mencari tabib?" "Jangan bergelisah!" kata Ce In. "Mesti ada jalannya! Apakah baju dalammu bersih? Mari, kasih aku buat membalut lukanya..." Ce In dan Mo Lek mandi darah, cuma pakaian dalamnya yang masih bersih. Demikian mereka berdua bekerja. Baru mereka selesai, dari atas jurang tertampak sinar api. Ce In lantas mendekam. Dari atas itu lantas terdengar suara orang, "Aku tidak percaya tiga manusia itu masih hidup! Besok saja kita datang ke mari untuk mengangkat mayat mereka!" "Setan bernyali kecil!" terdengar bentakan yang lain. "Apakah kau takut jatuh dan nanti mampus karenanya? Kau peganglah pinggangku! Mari kita satu demi satu turun!" "Benar!" kata orang yang ketiga. "Kita makan gaji, kita mesti bekerja setia! Kita perlu lekas-lekas mendapatkan mayat mereka, supaya tayswe menjadi tenang hatinya!" Itulah beberapa Wiesu, yang lagi menacari, yang mau turun ke jurang dengan menggunai bantuannya dadung. "Mo Lek," tanya Ce In gelisah, suaranya perlahan, "Apakah dua-dua kakimu terluka?" "Bukan, cuma sebelah yang keseleo," sahut si bocah. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Mari kasih aku lihat," kata Ce In, sesudah mana ia menyambung tulang yang keseleo itu, untuk terus diuruti, setelah mana ia menabas cabang pohon, untuk batangnya dijadikan tongkat. Kemudian ia kata, "Mo I ek! Inilah saat mati dan hidup! Lekas kita menyingkir!" Suara itu dalam dan berpengaruh. Ce In pun segera memanggul tubuhnya Kui Ciang. Mo Lek menggigit giginya, ia bangun berdiri, lalu dengan menggunai tongkatnya itu, ia paksa ikut si orang she Lam menyingkir dari jurang itu. Hampir tanpa berhenti, mereka lari sepuluh lie lebih, hingga jauh di sebelah depan mereka, mereka menampak samarsamar sebuah rumah sucinya malaikat tanah. Mereka berlari-lari terus. Mo Lek menguatkan hati, napasnya memburu. Ia sudah lari jauh kira-kira dua puluh lie. Lam Ce In mendengar napas orang makin memburu, ia menoleh. Ia melihat Mo Lek mandi peluh, jalannya setindak demi setindak. Ia merasa sangat terharu, kemudian ia berhenti untuk pasang telinga. "Untuk mereka itu dapat menyusul, sedikitnya mereka memerlukan tempo satu jam," pikirnya. Maka ia melanjuti pada si bocah, "Saudara kecil, kau menderita... Mari kita singgah di dalam kuil malaikat tanah itu!" Rumah berhala itu sudah rusak tidak keruan, sarang labahlabahnya pun banyak, akan tetapi aneh, di dalamnya mereka dapatkan satu orang yang lagi tidur menggeros di depan meja abu.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dialah seorang tua dengan pakaian rombeng, kedua kakinya melintang, tongkatnya menjadi bantalnya. Dia tidur nyenyak sekali, sebagaimana nyaring bunyi hidungnya mendengkur. Di sisinya ada buli-buli arak, yang baunya menyerang hidung. Setumpuk tabunan, apinya sudah mulai padam. "Rupanya dia seorang pengemis pengembara," kata Mo Lek. Ce In mengawasi, lalu ia menyerukan suara perlahan bahna herannya. Ia mendapat kenyataan, walaupun orang hanya tukang minta-minta dan pakaiannya banyak tambalannya, pakaian itu bersih, sedang tongkatnya yang hitam bukannya tongkat kayu hanya mestinya dari besi. Mo Lek sangat letih, ia tak perduli apa juga. Ia lantas menjatuhkan diri untuk berduduk. Kedua kakinya terasa sangat sakit, begitu ia bercokol, begitu ia tak berkutik pula! Lam Ce In masih bersangsi, akan tetapi ketika ia merasai tubuh Kui Ciang mulai dingin, terpaksa ia pun berduduk. "Sayang tabunan itu sudah padam..." kata Mo Lek. "Nanti aku tambahkan kayunya," mengucap Ce In, yang terus menghampirkan si pengemis untuk mengambil beberapa potong kayu yang berserakan di sisi dia. Orang she Lam ini heran atas tongkat orang, tanpa sanggup melawan bujukan hatinya, ia mengulur tangannya untuk menyentilnya perlahan. Ia lantas mendengar suara yang luar biasa, bukan suara kayu, bukan juga suara besi. Maka, entah tongkat itu terbuat dari bahan apa... (Tambahan dari cetakan baru) Sekonyong-konyong pengemis itu membalik tubuhnya, terus ia bergerak untuk bangun berduduk. Dengan lantas ia menunjuki gusarnya, dia kata, “He, bocah, aku si tuan besar http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pengemis lagi enak-enak tidur, kenapa kau bikin banyak berisik hingga aku menjadi mendusin? Eh, eh, kamu, kamu orang apa?” Dia terus menanya, sedang matanya kesap-kesip. Dia kaget untuk mendapatkan orang yang berdiri di depannya, orang yang mandi darah. Lam Ce In memberi hormat. “Maaf, lo-toaya!” katanya. Ia memanggil “lo-toaya” atau tuan besar. “Bukannya sengaja kami membuat berisik membikin kau mendusin! Sahabatku itu terluka, kami meminjam rumah suci ini untuk singgah dan beristirahat...” “Kenapa kau terluka?” si pengemis tanya. Nampak dia masih heran. “Kami ketemu berandal!” sahut Mo Lek. “Ah!” mengeluh si pengemis. “Jaman sekarang ini makin lama jadi makin tidak keruan macam! Kita terpisah dari kota raja Tiang-an Cuma tiga puluh lie, toh di sini masih ada orang jahat...” Tiat Mo Lek tahu keterangannya itu mungkin disangsikan orang, akan tetapi ia mempunyai alasan apa lainnya? Terpaksa ia mendUsta demikian. Syukur si pengemis, habis mendumal, dia tak menanyakan lebih jauh. Ketika itu Lam Ce In sudah letih bukan main. Ia merasakan tulang-tulangnya seperti telah pada copot. Akan tetapi, dibanding dengan Tiat Mo Lek, ia masih lebih mendingan. Diam-diam ia memasang mata. Ia mendapatkan mata si pengemis tajam luar biasa. Itulah bukan mata dari kebanyakan tukang minta-minta. Maka itu, ia kaget di dalam hati. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Entahlah dia orang macam apa?” pikirnya. “Celaka kalau dia seorang jahat. Rasanya tak sanggup aku menempur dia...” Pengemis tua itu mengawasi Toan Kui Ciang. “Lukanya sahabatmu ini tak ringan,” katanya. “Memang,” sahut Ce In. “Hebat kawanan penjahat tidak mempunyai perikemanusiaan itu, mereka telah membacoknya belasan kali...” “Hawa udara sekarang sangat dingin, sahabatmu luka parah, ada kemungkinan dia bertambah berat keadaannya,” kata pula si pengemis. “Nanti aku tolongi kamu menyalakan api, untuk kamu dapat menghangatkan diri.” Melihat orang baik hati, hati Ce In menjadi sedikit lega. “Terima kasih, sahabat,” bilangnya. “Memang aku hendak meminta beberapa potong kayu untuk dinyalakan.” “Kita sama-sama orang bersengsara, jangan sungkansungkan,” kata pengemis itu. Ia berhenti sebentar, ia tertawa, terus ia menambahkan, “Beberapa potong kayu bakar ini masih kurang. Touw Te Kongkong biasa melindungi orang baik, maka itu baik kita pinjam meja abunya, pasti dia tidak bakal menyalahkan kita...” Kata-kata itu disusul perbuatan si pengemis. Ia mengangkat tongkat hitamnya dan menghajar meja hingga roboh ringsak. “Sungguh tenagamu besar, lo-jinke!” Tia Mo Lek memuji. “Aku sudah tua, aku sudah tak punya guna!” kata si pengemis tertawa. “Rupanya meja ini sudah terlalu lanjut usianya, maka diketok perlahan saja, dia lantas habis nyawanya...”

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tabunan ditambah kayu, lantas nyalanya bertambah besar, suaranya juga meretek. “Aku masih mempunyai setengah buli-buli arak, mari kita minum bersama,” kata lagi si pengemis, yang ramah. “Kita minum seorang sedikit, guna menambah kesegaran!” “Mana dapat kami mengganggu kau, lo-jinke?” kata Lam Ce In. Si pengemis tua tertawa. “Seumurku aku biasa makan dan minum makanan dan arak orang secara Cuma-Cuma!” kata dia. “Jikalau aku mesti menelad kamu, segala apa mesti dengan berterang, maka tak usahlah aku menjadi si tukang minta-minta lagi! Mari, mari! Habis minum dapat aku si tua mengemis pula!” Dan ia mengulurkan buli-bulinya. Lam Ce In mengangkat tangan guna menyambuti, ia membuka tutupnya buli-buli itu. Lebih dulu ia membaui. Ialah seorang Kang Ouw ulung, ia pandai membedakan bau arak yang dicampuri racun atau tidak. Apabila ia tidak merasakan sesuatu, dengan hati lega ia mencegluknya satu kali. “Baguskah arak ini?” si orang tua tanya, tertawa. “Bagus, bagus!” Ce In menjawab dengan pujian. “Baunya pun harum, harum sekali!” Akan tetapi air kata-kata itu bukan melainkan harum. Setelah turun ke dalam perut, Ce In merasakan sesuatu yang mengagum ia. Arak itu mendatangkan hawa hangat di dalam tubuhnya. Ia tidak merasakan sari obat atau lainnya. Ia menjadi heran juga. Kecuali rasa hangat, lekas sekali, ia merasa segar, kesehatannya hampir pulih dalam sesaat itu.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Ah, aku menduga keliru terhadapnya,” ia pikir. Ia menyesal yang ia sudah menaruh curiga sedang orang bermaksud baik. Habis Ce In, datang gilirannya Mo Lek minum arak itu. Ia mencegluk dua kali. “Harum, harum!” ia memuji. Pengemis itu tertawa. “Kamulah orang-orang yang mengerti barang baik!” dia memuji. “Sebenarnya inilah arak simpanan seratus tahun yang sukar aku si orang tua mendapatkannya.” Ce In sudah mengetahui khasiatnya obat itu, ia tidak bersangsi sedikit juga. “Terima kasih lo-jinke,” ia kata. “Hanya sahabatku ini luka parah dan ia masih pingsan...” “Tak apa, itulah mudah!” kata si pengemis. Ia lantas pegang mulutnya Toan Kui Ciang, untuk dibuka, setelah mana, ia menuang araknya, kemudian terus ia meraba enteng ke punggung orang yang terluka tak sadar itu. Tiba-tiba Kui Ciang bergerak, tubuhnya berbalik, kontan dia tumpah darah, yang menyembur. Darah Itu hitam dan bau. Tiat Mo Lek kaget, lupa pada kakinya yang sakit, ia berjingkrak bangun. “Kau... kau... kau bikin apa?” tanyanya. Ia tahu pengemis itu orang luar biasa, tetapi melihat kelakuan orang, ia jadi curiga, maka ia jadi gusar sekali. Ia hendak mendamprat atau baru ia kata, “Kau...” maka Lam Ce In sudah mengedipi mata padanya, dari itu lekas-lekas ia mengubah haluan, dampratannya berubah menjadi pertanyaannya itu.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Terima kasih lo-jinke!” Lam Ce In kata. “Dengan darahnya keluar, maka tak usahlah kami menguatirkan pula jiwanya sahabatku ini!” Mendengar itu barulah Mo Lek mendusin si pengemis justeru lagi menolongi. Ia menjadi malu sendirinya. Ce In lantas peluk tubuh Kui Ciang, untuk terus memanggilmanggil di telinga orang, “Toako! Toako, sadarlah! Di sini siauwte! Apakah toako dengar siauwte?” Kui Ciang tidak menjawab, hanya ia muntah darah pula. Baru habis itu, mendadak ia berseru, “Su Toako! Su Toako, jangan pergi dulu, tunggu aku! An Lok San! An Lok San! Kau... kau... sangat kejam! Kalau nanti aku Kui Ciang mati, akan aku bekuk padamu!” Ce In kaget. Kawannya itu telah membuka rahasia. “Toan Toako! Toan Toako!” ia kata di telinga sahabat itu. “Inilah aku! Inilah aku! Apakah kau sudah tidak mengenali aku?” Kelihatannya Kui Ciang menjadi tenang, tetapi ia masih menyebut-nyebut, “Su Toako” dan mencaci An Lok San, hanya sekarang ia seperti caranya orang sakit ngelindur. Matanya si pengemis bersinar tajam kapan dia mendengar disebutnya nama An Lok San dan nama orang yang luka itu sendiri, paras mukanya juga menyatakan dia heran. Hanya sekilas lalu, romannya kembali seperti biasa. Dia menunjuk pada darah di mulut sakit itu dan kata pada Ce In, “Darah yang telah berubah menjadi merah itu tak dapat kena ditelan pula. Sekarang biarlah dia dapat tidur barang sekejap.” Sembari berkata begitu, dengan kesehatan luar biasa, ia menotok tubuh Kui Ciang pada dua jalan darah. Ia berlaku http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sebat, tetapi totokannya enteng. Dengan lantas Kui Ciang berhenti ngelindur. Maka lekas juga dia tidur pulas di dalam pelukan Ce In, yang sejak tadi masih memelukinya. Lantas pengemis itu menghela napas lega. “Syukur masih ada arakku hingga dapat darah dia dibikin lumer ilnn keluar, kalau tidak, habislah dayaku si pengemis!” katanya. Ia tertawa sekarang. Sebagai ahli silat, Ce In ketahui si pengemis ialah seorang liehay. Totokan dia itu luar biasa dan besar faedahnya. Ia ketahui, dengan darah kotornya keluar, Kui Ciang menjadi mendapat darah bersih. Ia tahu baik, ia sendiri tak dapat menotok cara demikian. Oleh karena lenyap semua kecurigaannya, lantas Ce In berkata, menanya, “Lo-cianpwe, terima kasih untuk pertolonganmu ini! Apakah lo-cianpwe sudi memberitahukan she dan nama besar lo-cianpwe kepadaku?” Si pengemis tertawa. “Tak usahlah kau repot menanyakan tentang siapa diriku,” sahutnya. “Sebaliknya ingin aku menanya lebih dulu kepada kamu. Rupanya musuh kamu bukannya penjahat, hanya An Lok San!” “Tidak salah!” Tiat Mo Lek menalangi Ce In menjawab. “Benarlah itu babi terokmok yang harus dicincang mampus berlaksa kali! Dia telah menganiaya Paman Toan sampai paman menjadi begini rupa! Tadi aku tidak tahu kau siapa, lo-cianpwe, terpaksa aku mendusta, sekarang aku minta lo-cianpwe suka memberi maaf padaku.” “Kau tidak salah!” berkata si pengemis tertawa. “Walaupun An Lok San menjadi Ciat-touw-su dari tiga kota, dia tak bedanya dengan penjahat!” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Mo Lek masih hendak bicara, ketika dia batal secara mendadak. Dia berlc-ga hati melihat si pengemis tidak menggusarinya. Tapi barusan dia berjingkrak, itulah berbahaya untuk kakinya yang terluka, di waktu baru lompat, dia tidak merasa apa-apa, tapi sekarang dia merasa nyerai sekali, hingga hampir dia menjerit karenanya. “Engko kecil jangan bergerak!” berkata si pengemis tua. “Aku si pengemis, kecuali minta-minta, masih ada kebisaan pada tanganku, maka jikalau kau percaya aku, mari aku obati juga lukamu!” Mo Lek juga lenyap semua kecurigaannya. “Terima kasih, lo-cianpwe, terima kasih!” katanya. “Suka sekali aku menerima pertolongan lo-cianpwe.” Pengemis itu sudah lantas ‘memberikan pertolongannya. Ia meraba ke kaki orang yang terluka dan mengurutnya perlahanMahan, ia menekan jalan darahnya. Mo Lek merasa heran. Seketika itu rasa nyerinya seperti lenyap, hingga ia dapat meluncurkan kakinya dan menendang! Saking girang, ia tertawa lebar. “Lo-jinke, sungguh lo-jinke liehay!” dia memuji. “Sekarang ini aku sudah tidak merasa sakit, dapat aku berkelahi satu kali lagi!” Sebaliknya si orang tua mengasih lihat roman sungguhsungguh. “Tidak dapat!” katanya keras. “Jangan kata berkelahi, bergerak pun kau tak dapat sembarang bergerak! Luka kamu berdua bukannya ringan! Kau tahu, melihat gerak nadi kamu, kamu rupanya habis berlompat dari tempat yang tinggi sekali hingga anggauta-anggauta dalam tubuhmu pada bergerak. Sekarang ini baru luka luarmu yang tersembuhkan, baru http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

darahmu dapat disalurkan pula. Untuk menyembuhkan luka di dalam itu, kamulah yang mesti berikhtiar sendiri. Eh engko kecil, apa kau mengerti ilmu semedhi, untuk menyalurkan napasmu?” Kembali Ce In dibuat kagum oleh pengemis tua ini. Orang seperti menyaksikan sendiri peristiwa tadi. Dia jadinya pandai mengobati dan pandai ilmu silat juga, matanya sangat tajam. Dengan dia menanya Mo Lek saja berarti dia sudah menduga bahwa ia mengerti ilmu semedhi itu. “Aku mengerti sedikit, lo-jinke,” Mo Lek jawab. “Bagus!” berseru pengemis itu. “Sekarang telah pulih kesegaran kamu, kamu boleh duduk bersemedhi, guna menyalurkan pernapasan kamu, untuk mengembalikan seluruh tenaga kamu. Kamu boleh bersemedhi dengan hati tenang, apa juga terjadi di sekitar kamu, jangan hiraukan! Kamu mesti dapat menenangkan diri hingga kamu melihat seperti tak melihat, mendengar seperti tak mendengar. Baiklah, sang tempo pun sudah tidak ada lagi, lekas kamu mulai bersemedhi!” Ce In mengerti maksudnya pengemis itu. Dengan tidak menanyakan sampai jelas urusan mereka, si pengemis ingin kesegaran mereka pulih dan tenaga mereka kembali di dalam tempo yang paling cepat. Rupanya pengemis itu juga sudah berjaga-jaga kalau-kalau orang atau orang-orangnya An Lok San datang menyusul. Sebagai orang yang telah berdasar baik, Ce In bersemedhi tak lama, lantas nyamanlah ia merasa seluruh tubuhnya. Justeru itu, ia lantas mendengar ringkikan kuda dan suara bicara orang yang telah lantas tiba di depan kuil Ia mendengar satu suara, “Di dalam kuil itu ada sinar api, mari kita lihat!” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Walaupun ia merasa pasti si pengemis seorang luar biasa, Ce In toh berkuatir. “Tidak kusangka, musuh datang begini lekas,” pikirnya. “Sekarang aku lagi bersemedhi di saat paling penting, tidak dapat aku membantu dia... Dapatkah dia bertahan seorang diri?” Tengah Ce In berpikir begitu, serombongan orang sudah bertindak masuk di ambang pintu kuil. Benar saja mereka orang-orangnya An Lok San, bahkan yang memimpinnya ialah U-bun Thong serta Leng-ho Tat. U-bun Thong itu cerdik, tidak menanti orang-orangnya memeriksa lembah atau selat, ia sudah lantas dapat menerka, ia segera menyusul dengan menunggang kuda. Di sebelah Leng-ho Tat, ia telah minta bantuannya dua jago lainnya dari istana, ialah Gu Cian Kin dan Liong Ban Kun. Mereka ini ialah dua di antara empat Siewie yang mendapat Su Toa Kimkong atau Empat Kimkong Besar. Mereka ini tak seliehay U-bun Thong sendiri, atau Ut-tie Pak atau Cin Sian, tetapi mereka masih lebih menang daripada Leng-ho Tat. Demikian mereka sampai di rumah suci malaikat tanah itu. U-bun Thong bertindak di depan. Begitu ia tiba di ambang pintu, ia lantas mendengar dampratan, yang ia duga mesti keluar dari mulutnya seorang tua. “He, dari mana datangnya sekawanan anak kambing haram hingga mereka mengganggu ketenteramannya aku si pengemis di dalam rumah suci ini?” demikian dampratan itu. U-bun Thong menjadi gusar, hingga hendak ia mengunibar kegusarannya itu, atau mendadak Leng-ho Tat, dengan muka pucat dan tubuh menggigil, dengar suara gemetaran, berkata, http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Maaf, maaf! Aku yang muda tak ketahui lo-cianpwe berdiam di sini! Harap lo-cianpwe terima hormatnya aku yang muda!” Si pengemis mengangkat kepalanya, sepasang matanya mencilak. “He, Leng-ho Tat, bocah, kau masih mengenali aku, ya?” katanya dingin. Lalu ia menuding dengan tongkatnya untuk membentak, “Bocah, kalau kau masih mengenali aku, kau mestinya masih ingat juga tabiatku! Apakah kau masih tidak mau lekas-lekas menggelinding pergi?” Leng-ho Tat ketakutan, mukanya menjadi sangat pucat. “Ya, ya,” sahutnya, terus ia membalik tubuh, untuk berlari. U-bun Thong gusar menjambak rekan itu. sekali, ia mengulur tangannya,

Leng-ho Tat kaget. Baru sekarang ia ingat ia ada bersama kawan itu. Ia menjadi malu dan takut, mukanya menjadi merah, dengan terpaksa, lekas-lekas ia kata, “U-bun Tayjin, locianpwe itu ialah Se-gak Sin Liong Hong-hu Sianseng!” Mendengar itu, U-bun Thong juga terperanjat. Ia memang ketahui orang bernama Hong-hu Siong itu, yang gemar merantau, yang hidupnya sebagai pengemis. Dialah satu di antara Kang Ouw Cit Koay, Tujuh Siluman Kang Ouw. Karena dia jago Hoa San Pan dan gerak-geriknya mirip “Naga sakti yang terlihat kepalanya tak ekornya,” dia memperoleh julukannya itu Se-gak Sin Liong, Naga Sakti dari Se-gak Hoa San, gunung Hoa San di barat. Leng-ho Tat asal orang Hek Too, Jalan Hitam, kira sepuluh tahun yang lalu dia turut gurunya membegal serombongan saudagar, gurunya itu kejam, sudah membegal juga membunuh. Mereka bertemu Hong-hu Siong, mereka kena dibekuk. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sang guru lantas dihukum rangket tiga puluh rotan. Dia, yang itu waktu belum terkenal dan baru masuk golongan kelas dua, diberi keringanan, yaitu Cuma dirangket lima rotan, meski begitu karena luka-lukanya dia mesti merawat diri setengah tahun. Dia tidak sangka, di sini dia bertemu pula jago dari gunung Hoa San itu. Ketika U-bun Thong baru menginjak ambang pintu, ia lantas mendapat lihat keadaan di dalam ruang berhala malaikat itu. Lam Ce In dan Tiat Mo Lek lagi duduk bercokol dan Tan Kui Ciang rebah di dekat mereka. Di depan mereka itu berada si pengemis. Meski ia jeri terhadap pengemis itu, ia toh tidak dapat melepaskan orang-orang yang lagi dicarinya. Ia berpikir, “Toan Kui Ciang sudah mirip mayat, Lam Ce In telah terluka, taruh kata pengemis bangkotan ini liehay, mustahil tidak dapat aku melawannya? Aku toh ada bersama saudara-saudara Gu dan Liong! Dia kesohor, itu baru pendengaran saja! Mustahil dia benar-benar liehay luar biasa?” U-bun Thong jago kelas satu, dia tidak dapat disamakan dengan Leng-ho Tat dan lainnya, walaupun dia dikejutkan oleh nama Se-gak Sin Liong, si Naga Sakti dari gunung Hoa San, dia toh tidak takut. Maka dia maju pula satu tindak, dengan merangkap kedua tangannya, dia memberi hormat. “Hong-hu Sianseng,” katanya, “Kita ada seumpama air sumur yang tidak saling bentrok, oleh karenanya tidak ada niatku untuk mengganggu kau, hanya oleh karena aku mendapat firman Sri Baginda Raja, untuk menangkap orang jahat yang menentang raja, tak dapat aku tak datang ke mari. Aku minta, sianseng, sudi apakah kau membiarkan aku dapat melakukan tugasku ini.”

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Biasanya U-bun Thong berkepala besar, maka itu inilah yang pertama kali dia bicara dengan cara sungkan dan hormat terhadap lain orang. Hong-hu Siong tidak menyambut sikap menghormat itu sebagaimana layaknya. Sebaliknya, kedua matanya mencilak. Dan ia tertawa dingin pula. “Ha, aneh!” katanya. “Memang aku si pengemis tua kadangkadang suka juga meminta belas kasihan secara memaksa akan tetapi sejak dahulu belum pernah ada sepak terjangku yang ingin menggulingkan pembaringan naga atau umpama kata perbuatan mengemplang mati kepada putera mahkota! Maka kenapakah sekarang mendadak aku dituduh menjadi orang jahat yang melawan Raja?” U-bun Thong menahan kemendongkolannya, dia menahan sabar sebisa-bisa. “Aku bukan menyebut kau, sianseng, aku hanya menunjuk kepada ketiga sahabat itu!” kata dia seraya menuding Toan Kui Ciang bertiga. “Mereka ini membakar istananya An Ciat-touw-su serta sudah juga melukakan beberapa Siewie istana! Aku menjadi Liong Kie Touw-ut, aku mengepalai sekalian Siewie itu, tak dapat tidak, aku mesti mengundang kedua sahabat ini pergi ke kantor pembesar negeri untuk menanya jelas kepada mereka!” Hong-hu Siong menggaruk-garuk kepalanya. “Ah, urusan ini sungguh membikin aku si pengemis tua menjadi bingung!” katanya. Mau atau tidak, kemendongkolannya. U-bun Thong menunjuki juga rasa

“Aku telah bicara begini jelas, ada apa lagi yang masih membingungkan kau?” tanya dia. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Nah, kau lihat saja keadaan mereka itu!” kata Hong-hu Siong. “Sahabat she Toan itu, jiwa dia pun tak dapat terjamin akan dapat tertolong atau tidak! Menurut keterangan mereka, mereka sudah bertemu kawanan penjahat yang mau merampas harta benda dengan melakukan pembunuhan jiwa orang, mereka melawan, mereka tak berdaya, maka terjadilah lukaluka begini macam! Sebaliknya kau membilang merekalah orang-orang jahat yang menentang Raja! Mereka Cuma dua orang dewasa serta seorang bocah cilik, mungkinkah benar mereka menyateroni rumahnya An Lok San untuk melakukan pembakaran serta mencoba melakukan pembunuhan? Hm! Hm! Tidak, aku tidak percaya sama sekali! Kecuali kau keluarkan firman raja untuk diperlihatkan padaku!” U-bun Thong tak dapat menahan sabar lagi. Dia gusar. “Aku memandang hormat kepada kau sebagai seorang cianpwe Rimba Persilatan, aku berlaku luar biasa sungkan terhadapmu!” dia kata keras. “Kenapa kau sebaliknya mempersulit aku? Kejahatan itu baru dilakukan mereka, didalam keadaan sangat kesusu, mana sempat aku meminta firman Sri Baginda Raja? Kau lihatlah seragamku ini! Akulah Liong Kie Touw-ut! Mungkinkah palsu?” Hong-hu Siong tertawa dingin. “Sukar untuk dibilang! Sukar!” katanya. “Di jaman seperti sekarang ini ada banyak penjahat yang memalsukan diri menyamar menjadi pembesar negeri! Laginya, bukankah kau barusan omong dari hal firman raja? Dan sekarang kau tidak dapat membuktikannya! Maka terang sekali kau sudah omong dusta! Satu kali kau sudah mendusta, aku si pengemis tua tidak dapat percaya lagi pada kau!” U-bun Thong gusar hingga dia kelabakan. Tapi dia masih menginsafi kedudukan pengemis itu. Maka dia mencoba http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menguasai dirinya, masih dia ingin bicara dengan caranya kaum Kang Ouw. Dia dapat berlaku sabar, tidak demikian dengan kedua kawannya yang menjadi jago-jago istana itu. Sudah belasan tahun Hong-hu Siong tak muncul di muka umum, kedua orang itu tidak kenal dia. Maka juga belum berhenti suara Hong-hu Siong mendengung, mereka berdua sudah menghunus senjatanya masing-masing. Gu Cian Kin bergegaman sebuah kapak soan-hoa-hu yang besar dan berat, dan Liong Ban Kun bersenjatakan kim-pwe-too yang tebal. Sembari maju mereka berseru, “Segala pengemis sebagai kau berhak untuk membutuhkan firman Sri Baginda Raja? Hm! Hm! Kau menghendaki firman? Nah, inilah dia firmannya!” Dengan berbareng, mereka itu menyerang. Hong-hu Siong mengangkat tongkatnya untuk dilintangi, guna menangkis, hingga di situ terdengarlah bentrokan yang sangat keras yang memekakkan telinga. Ia pun berseru, “Inilah firman yang tak tepat!” Bentrokan itu mendatangkan lelatu api. Tapi yang hebat ialah akibat lainnya. Tubuh Gu Cian Kin dan Liong Ban Kun besar seumpama badan kerbau, akan tetapi tubuh mereka itu mental hingga ke luar pintu kuil! Kagetnya U-bun Thong tidak terkira. Kedua kawan itu ahliahli silat Gwa-kang yang liehay, yang tenaganya besar luar biasa. Kapaknya Cian Kin saja berat lima puluh enam kati, dan goloknya Ban Kun berat empat puluh tiga kati. Di lain pihak, tongkat Hong-hu Siong tetap sebatang tongkat, walaupun itu terbuat dari besi. Maka dihajar kapak dan golok berat, mestinya tongkat itu kutung buntung!

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kejadiannya taklah demikian. Tongkat itu utuh, tak kurang suatu apa, sebaliknya, kapak dan golok gompal! Dan anehnya, kecuali senjata mereka rusak bercacad, tubuh mereka mental terbang! Baru sekarang U-bun Thong menginsafi liehaynya si Naga Sakti dari gunung Hoa San, jadi nama orang terkenal bukan terkenal melulu. Hebat kepandaian si pengemis dalam hal ilmu meminjam tenaga untuk menghajar lawan. Itulah kepandaian di puncaknya kemahiran. Dengan kulit mukanya merah padam, U-bun Thong menghampirkan si pengemis. Ia mengulur sebelah tangannya seraya berkata dengan pujiannya, “Sungguh aku kagum! Sungguh aku kagum! Lo-cianpwe, dengan memandang kepada muka terang lo-cianpwe, suka aku U-bun Thong menyudahi saja urusan ini sampai disini!” Hong-hu Siong melemparkan tongkatnya, ia tertawa lebar. “Terima kasih untuk kebaikan hati Touw-ut!” sahutnya. Ia pun mengulur tangannya, guna menyambuti tangan si pahlawan istana, guna berjabatan. U-bun Thong menjadi ahli menotok jalan darah, dia kesohor sekali. Di waktu tangan mereka bersampokan, dengan lantas dia mengerjakan jeriji-jeriji tangannya, tengah, telunjuk dan manis, untuk menotok si pengemis. Sebab dengan sikapnya yang manis itu dia lagi menggunai akal muslihat keji, supaya diluar tahu orang, diluar dugaan, dapat dia menotok! “Tak usah sungkan!” kata Hong-hu Siong. “Silahkan Touw-ut berangkat pergi!” Mendadak U-bun Thong kaget. Mendadak jari-jari tangannya membentur telapakan tangan yang panas seperti bara marong! Tak tahan dia untuk tidak menjerit keras. Rasa nyerinya segera http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menyerang ulu hatinya. Lekas-lekas dia melepaskan jabatan tangannya, untuk lompat mundur ke pintu, untuk terus mengangkat langkah panjang! Tiat Mo Lek menyaksikan peristiwa di depan matanya itu, ia girang bukan kepalang. “Bagus! Bagus!” serunya. “Aduh...!” dan ia meringis-ringis. Bocah ini masih rendah pokok dasar tenaga dalamnya, di saat bersemedhi itu, dia tak dapat berseru semacam itu, maka juga habis berseru kegirangan, ia menjerit kesakitan. Hong-hu Siong mengerutkan alisnya. “He, bocah, mengapa kau tak dengar nasihatku si orang tua?” dia menegur. “Sudah kukatakan, apa juga yang terjadi, tak dapat kau usil, sekarang kau menentangnya!” Meski dia menegur, pengemis itu toh lekas-lekas menolongi bocah itu dengan jalan mengurutnya, guna membantu mengumpul pula tenaga dalamnya itu. Sementara itu, semua musuh sudah kabur, maka kuil kembali kepada ketenangannya. Hong-hu Siong menggunai ujung tongkatnya mengorek api, untuk dibikin menyala pula. Ia berdiam, seperti ia lagi memikirkan sesuatu. Tak jarang ia melongok ke arah pintu, ke luar pintu. “Ha, langit bakal lekas menjadi terang!” tiba-tiba ia berkata seorang diri. Ketika itu Lam Ce In sudah selesai dengan semedhinya, maka tenaganya bakal segera pulih seluruhnya. Dia menyaksikan kejadian barusan, dia dapat mengendalikan diri, tetapi sekarang, melihat kelakukannya si pegemis, dia heran, hingga ingin dia bicara. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tapi justeru itu Hong-hu Siong tiba-tiba bangun berdiri, untuk memesan dengan sungguh-sungguh, “Sebentar, apa juga yang terjadi, aku minta kamu kedua tuan-tuan jangan campur tahu!” Itulah pesan yang tadi, yang sekarang diulang, hanya sekarang i lengan terlebih sungguh-sungguh. Ce In berdiam, ia heran. Katanya di dalam hati, “Kenapa dia mengulagi pesannya ini begini wanti-wanti? Mungkinkah bakal terjadi pula peristiwa yang luar biasa, yang diluar sangkaan?” Tengah Lam Ce In berpikir itu, telinganya mendengar suara kelenengan kuda yang datangnya jauh dari luar kuil. Ia menjadi heran, maka ia menduga-duga. Ia ingat kepada An Lok San. “Sekalipun U-bun Thong sudah kalah, dia masih mempunyai pahlawan siapa lagi yang gagah?” demikian terkanya. “Taruh kata ada datang lagi beberapa orang, mereka pasti bukannya lawan dari Hong-hu Siong. Ah, dasar orang yang usianya sudah lanjut, cara bicaranya pun menjadi rada melit... Aku telah mengenal ilmu silatmu, buat apa kau memesan lagi berulangulang?” Suara kelenengan terdengar makin dekat. Hong-hu Siong terus duduk bersila. Wajahnya nampak luar biasa. Ia seperti bergelisah dan berduka. Ce In sekarang telah mendapat kepastian, orang yang datang itu Cuma seorang penunggang kuda. Tentu saja, ia menjadi semakin heran. Ia kata dalam hatinya, “Dengan satu dua gebrakan, Hong-hu Siong dapat mengusir pergi pada Ubun Thong. Habis, ada siapa lagi yang dapat membuatnya jeri?” Selagi ia berpikir itu, Lam Pat melihat masuknya seorang ke dalam kuil. Untuk herannya, ia melihat seorang nona dengan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pakaian serba putih, la tadinya menyangka seorang pria yang romannya gagah dan bengis, tak tahunya seorang gadis remaja yang cantik manis, yang tubuhnya ramping! Begitu ia bertindak di ambang pintu, mata si nona diarahkan ke seluruh ruang. Ia melihat seorang rebah karena terluka parah dan dua orang lagi berduduk bersemedhi dengan tubuhnya berlepotan. Darah. Ia nampaknya heran. Tapi terang sasarannya bukan Toan Kui Ciang. Segera ia menyapu ke arah Hong-hu Siong, terus ia mengawasi tajam. “Bangsat tua she Hong-hu.’” Sekonyong-konyong ia mendamprat, “Hari ini telah tiba hari kematianmu! Masih kau tidak mau lekas berbangkit buat menerima kebinasaanmu?” Hong-hu Siong mengangkat kepalanya. Dia memandang si nona itu. Dia tak menjadi gusar atau kurang senang. “Apakah kau Nona He?” dia tanya perlahan, tenang. “Aku telah menduga bahwa kau bakal mencari aku. Kita berdua tidak berselisih tidak bermusuh, sekarang ini pertemuan kita ialah pertemuan yang pertama kali, mengapa kau hendak membunuh aku?” Nona itu memegang gagang pedangnya. “Bangsa ceriwis dan cabul yang jahat, siapa pun berhak membunuhnya!” ia kata bengis. “Apakah untuk itu di antara kita mesti ada permusuhan dulu?” Ce In lagi bersemedhi akan tetapi mendengar kata-kata si nona, dia terkejut. Tentu sekali, herannya menjadi bertambah. Aneh sikapnya dua orang itu. Hong-hu Siong memang aneh tingkah lakunya, di dalam kalangan Kang Ouw ada yang membusukinya, tetapi di mata ia, dialah seorang gagah perkasa yang berhati mulia, yang sering berbuat baik. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sekarang si nona mengatakan Hong-hu Siong cabul dan jahat, untuk itu Hong-hu Siong katanya harus dibunuh. Ia heran, ia tidak percaya! Ia menyangsikan pendengarannya itu. Seorang gagah perkasa dikatakan cabul dan jahat, dia mesti gusar sekali. Tidak demikian dengan Hong-hu Siong si jago. Dia tetap sabar. “Siapakah orangnya yang bicara demikian terhadapmu?” dia tanya, perlahan. Biar bagaimana, suaranya tawar. “Tak dapat kau perdulikan itu!” si nona menjawab dengan bentakannya. “Nama busukmu sudah tersiar sangat luas! Apakah kau tidak punya telinga untuk mendengarnya?” “Tidak apa kau tidak sudi menyebutkannya,” kata Hong-hu Siong, tenang luar biasa. “Tanpa kau membilangnya, aku telah dapat menerka beberapa bagian. Sekarang aku hendak tanya kau, bukankah kau mendengarnya dari seorang yang kau paling percaya?” Nona itu menjadi gusar. “Aku bukan datang ke mari untuk mendengar pelbagai pertanyaanmu!” katanya keras. “Hm! Apakah kau hendak memancing keteranganku supaya kau dapat pergi dengan diam-diam untuk membunuh orang itu? Jangan kau bermimpi! Sekarang aku menghendaki kau terbinasa di ujung pedangku ini!” Hong-hu Siong menanya pula, “Kau hendak membunuh aku. Adakah itu pikiran kau sendiri atau kau diperintahkan lain orang?” Nona itu agaknya tidak sabaran. Dia menegur, “Apakah kau masih hendak memutar lidahmu untuk memperlambat waktu?” “Bukan! Aku hanya tak sudi menjadi setan penasaran yang mati tidak keruan!” sahut Hong-hu Siong. “Jikalau kau hendak http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

membunuh aku, kau mesti mengasih keterangan supaya aku mati puas!” Si nona menahan sabar. “Bagaimana kalau pikiranku sendiri? Bagaimana kalau perintahnya lain orang?” dia tanya. “Jikalau itu kehendakmu sendiri, kau harus mempunyai bukti yang cukup kuat untuk membeber kejahatanku, supaya aku menjadi rela menyerah.” Kata-kata Hong-hu Siong ini juga jadi pemikirannya Lam Ce In. Nona itu melengak sejenak. Dia seperti tidak mempunyai bukti untuk menunjuki kejahatan orang. “Jikalau lain orang yang hendak membinasakan aku!” kata pula Hong-hu Siong, tanpa menanti orang sempat berpikir, “Maka pergilah kau pulang untuk memberitahukan dia itu bahwa di dalam dunia ini ada terlalu banyak urusan yang sangat sukar dibedakan kebenaran dan kepalsuahnya, karena itu kau suruhlah dia bersabar lagi sekian waktu, sampai nanti ketahuan duduknya hal yang sebenarnya. Selama hidupnya, aku Hong-hu Siong, mungkin aku juga pernah melakukan sesuatu perbuatan yang buruk, akan tetapi kopiah kecabulan dan kejinahan pastilah tak dapat dipakaikan di atas kepalaku!” “Aku tak percaya obrolan setanmu!” bentak si nona, gusar. “Aku Cuma tahu kaulah si hantu jahat yang tak ada kejahatan apa juga yang kau tak lakukan! Hm! Hm! Apakah kau takut mati, hantu? Percuma-Cuma kau mainkan lidahmu untuk menyangkal, maka kau bangkitlah menyambut ‘ pedang!” Hong-hu Siong tertawa.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Jikalau aku takut mati, tidak nanti aku menjanjikan kau datang ke mari!” katanya. “Bagus!” kata si nona. “Kalau begitu, kenapa kau masih tidak mau menggeraki tanganmu? Apakah bukan kau masih hendak menantikan beberapa kawanmu lagi?” “Seumurku aku tidak mempunyai kawan!” “Baiklah! Kau mempunyai kawan, baik! Kau tidak mempunyai kawan, baik juga! Sekarang aku hendak mengandalkan pedangku ini untuk mengadu jiwa denganmu!” “Jikalau kau benar hendak membunuh aku, kau bunuhlah! Pasti aku tidak mau menggeraki tangan terhadapmu!” Nona itu berdiri menjublak. “Aku tidak akan membunuh orang di tangan siapa tak ada sepotong besi juga! Lekas kau ambil tongkatmu!” “Aku sudah bilang tidak mau menggeraki tanganku, pasti aku tidak akan menggerakinya! Jikalau kau hendak membunuh aku, bunuhlah! Jikalau tidak, hendak aku pergi!” Nona itu tetap hendak menggunai cara kaum Kang Ouw untuk membunuh orang di depannya itu, sekarang Hong-hu Siong membantah, dia menjadi hilang pegangannya. Maka itu ia terus berdiam saja “Sekarang aku telah ketahui tentang dirimu,” berkata Honghu Siong, sabar, “Dan aku ketahui juga siapa itu yang menghendaki jiwaku! Jikalau aku kehilangan jiwaku tetapi dengan begitu dapat aku membikin lenyap penasaran sesuatu orang, itu juga suatu perbuatan baik! Baiklah, telah aku bicara, apabila tetap kau tidak hendak membunuh aku, aku si pengemis tua mau pergi!” Nona itu menggigit giginya, dia menjumput tongkat di tanah. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Bangun!” serunya. “Sambutlah!” Hong-hu Siong menyambuti tongkatnya, untuk dilemparkan ke sisinya. Sembari tertawa, dia kata, “Apa yang diri sendiri tak menyukai, janganlah itu dilakukan atas diri lain orang! Aku pikir, pepatah ini cocok denganmu, ialah kau juga pasti tidak menyukai lain orang memaksakan kau melakukan sesuatu yang kau tak sukai!” Nona itu menggigit gigi pula. Ia mengangkat pedangnya dan membentak, “Baik! Kau hendak menggunai akal muslihatmu ini untuk meloloskan jiwamu! Tak dapat aku diperdayakan! Kau mesti dibunuh!” Kali ini dia benar-benar telah mengambil keputusannya. Segera pedangnya meluncur ke dadanya Hong-hu Siong! Di saat ujung pedang maut itu hendak merampas jiwa si pengemis, mendadak ada sinar putih bagaikan rantai perak berkelebat, lalu terdengarlah suara senjata bentrok. Pedang si nona kena tertangkis mental! Hong-hu Siong menghela napas. “Lam Tayhiap, buat apa kau usilan?” katanya perlahan. Tapi Lam Ce In, yang telah bergerak secara tiba-tiba, tidak membenarkan jawabannya, hanya dia memandang si nona, untuk berkata dengan keras, “Nona, jikalau kau hendak membunuh orang, kau harus memakai aturan! Kau menuduh Hong-hu Cianpwe sebagai manusia cabul dan jahat tetapi kau tak dapat menunjuki buktinya! Tak puas aku si orang she Lam dengan caramu itu!” Si nona menarik pulang pedangnya, untuk diperiksa, maka ia melihat ujung senjata itu telah gompal sedikit. Ia menjadi sangat gusar. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Kau membantu setan ini, kau juga pasti bukan orang baikbaik!” dia membentak. “Baik! Kau tidak puas, akan aku bunuh kau dulu, baru kita bicara lagi!” Si nona menyangka Ce In konco Hong-hu Siong, ia lantas menyerang dengan sengit sekali, hingga pedangnya itu bersinar berkelebatan. Tiga kali beruntun ia menikam bagian-bagian anggauta yang berbahaya karena selama itu Ce In terus main mundur atau berkelit. Menampak demikian, Ce In pun jadi panas hati, maka ingin ia menabas kutung pedang orang. Begitulah ia membacok dengan hebat! Si nona tahu lawan menggunai golok mustika, ia mau menyingkir dari bentrokan Di saat Ce In hendak berseru, “Kena!”, mendadak ia tarik pulang pedangnya secara lincah sekali, untuk setelah itu, segera menikam pula! Ce In terperanjat. Syukur ia tidak menabas dengan sepenuh tenaganya. Dengan tindakan “Poan Liong Jiauw Pou,” ia menyingkirkan dirinya, goloknya ditarik untuk melindungi tubuhnya. Meski demikian, ia masih terlambat, ujung bajunya masih kena tertikam! Si nona tak berhenti sampai disitu, terus dia mendesak, terus dia menikam berulang-ulang. Ce In telah mendapat .pulang tenaganya,, akan tetapi karena rangsakan si nona, ia repot juga, ia sampai Cuma bisa membela diri. Pembelaan dirinya itu kokoh sekali, ia pun membuat si nona tak mampu menoblosnya. Ketika itu juga Mo Lek telah pulih kesehatannya sampai tujuh atau delapan bagian. Dia tetap berdiam di tempatnya, sambil beristirahat, ia menjagai Toan Kui Ciang. Di lain pihak, dengan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

perasaan tertarik, ia menonton pertempuran itu. Ia kagum untuk kepandaian menggunai pedang dari nona itu. Ia masih muda tetapi ia mengerti baik halnya ilmu pedang. Maka ia kata dalam hatinya, “Kelihatannya ilmu pedang nona itu tak dibawahnya ilmu pedang Paman Toan dan Ceng Ceng Jie...” Lam Ce In melayani dengan ilmu golok Yu Sin Pat-kwa Toohoat, maka dia bergerak dan menjaga diri dalam kedudukan “Delapan pintu” dan “Lima tindak”. Sedikit juga dia tak kacau meskipun dia didesak hebat. Selama bertempur itu, dengan perhatiannya, dia mulai menginsafi ilmu pedang nona itu. Begitulah satu kali mendadak dia berseru sambil membacok hebat, akan kemudian merangsak terus sama hebatnya. Si nona, dari merangsak menjadi kena terdesak, hingga ia terpaksa main mundur. Begitu ketarik hati Mo Lek hingga ia berseru memuji, “Bagus! Bagus!” Mo Lek telah bersemedhi cukup, tak takut ia terganggu karena seruannya itu. Akan tetapi, melihat lagaknya itu, Honghu Siong mendelik kepadanya. Menyusul seruan Mo Lek, si nona bergerak pula secara luar biasa. Dia dapat membebaskan diri dari desakan, kembali dia balik merangsak. Di antara sinar golok, dia bergerak bagaikan kupu-kupu berkelebatan di antara bunga-bunga. Maka itu, mereka berdua menjadi sama hebatnya. Nona itu heran mendapatkan Lam Ce In demikian gagah. Tiba-tiba ia menunda penyerangannya, untuk menanya keras, “Kau siapa? Kau begini gagah, kenapa kau kesudian menjadi gundalnya si bangsat tua?” Ce In berseru keras dan lama, ia melintangi goloknya di depan dadanya. Lantas ia menjawab nyaring, “Satu laki-laki, http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berjalan dia tidak menukar namanya, berduduk dia tidak menukar shenya! Aku ialah Lam Ce In dari Gui-ciu! Nona, aku numpang tanya she dan namamu yang mulia? Kenapakah nona hendak membunuh Hong-hu Sianseng?” Nona itu terkejut. “Apakah kau Gui-ciu Lam Pat?” dia tanya cepat. “Benar, itulah aku yang rendah,” sahut Ce In. “Ada pengajaran apakah, nona?” Nona itu tampak bingung. Semenjak Toan Kui Ciang mengundurkan diri, selama sepuluh tahun ini, Yu-hiap atau jago pengembara di jaman itu yang hidup berpetualangan, ialah Lam Ce In yang paling ternama. Dia telah mendengar nama orang, baru sekarang dia menemui orangnya. Dia heran mendapatkan orang baru berumur lebih kurang tiga puluh tahun. Setelah berpikir sebentar, nona itu berkata sabar tapi tetap, “Lam Tayhiap, baiklah kau jangan campur urusan umum ini!” Ce In berkata, “Membunuh orang ialah urusan sangat besar, mana dapat itu dikatakan urusan umum? Kau hendak mambunuh orang, kau mesti dapat menjelaskan alasannya, jikalau tidak, aku si orang she Lam, tak dapat aku tidak mencampur tahu!” Mukanya si nona menjadi merah. “Lam Ce In, kecewa kau disebut tayhiap!” katanya nyaring. Nyata dia tak sabaran. “Mengapa kau tak dapat membedakan hitam dari putih? Kau kira bangsat tua ini orang macam apa?” “Hong-hu Sianseng ialah orang gagah perkasa yang berhati mulia!” sahut Ce In. “Siapakah yang tak tahu itu? Kau mencaci http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dan menghina Hong-hu Cianpwe, kau tak dapat menyebutkan alasannya, itulah tak selayaknya!” Nona itu tertawa mengejek. “Bangsat tua she Hong-hu ini ialah bangsat tukang tipu dunia!” kata dia nyaring. “Namanya saja kesohor tetapi sebenarnya dialah si hantu yang biasa berbuat jahat secara sembunyi-sembunyi! Kecewa kau menjadi tayhiap, kau kasih dirimu diabui!” “Kau menuduh dia jahat, mana buktinya?” Ce In tanya. Nona itu terbangun sepasang alisnya. Dia seperti juga tak sudi bicara. Tapi akhirnya dia mengambil juga keputusannya. Kata dia keras, “Ibuku ialah saksinya! Apa yang dikatakan ibuku tak dapat aku tidak percaya! Ibuku pernah melihat dengan matanya sendiri bangsat tua ini membunuh suami orang dan merampas isteri korbannya itu! Aku mencaci dia sebagai si penjahat cabul, apakah aku salah? Aku mendapat tugas dari ibuku untuk menyingkirkan dia! Lam Ce In, kau terkenal gagah mulia, malam ini aku tidak membutuhkan bantuanmu, tetapi kau sendiri, sedikitnya kau harus berpeluk tangan saja, kau menonton, jangan kau menghalangi aku!” Ce In kaget, hingga mau atau tidak, ia menoleh kepada Hong-hu Siong. Ia melihat si pengemis gagah menghela napas perlahan. Tentu sekali, ia menjadi heran, hingga ia beragu-ragu dalam hatinya, “Mungkinkah benar tuduhannya nona ini?” Ia melirik pula, tetapi ia tidak melihat orang likat atau jengah, orang menghela napas rupanya karena merasa kasihan atau sayang. Itulah melainkan rasa terharu. Maka sebagai seorang yang bermata tajam dan luas pengalamannya, ia berpikir pula, “Melihat sikapnya Hong-hu Siong ini, dia pastilah terfitnah. Mengapa dia tidak menyangkal? http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kenapa, dia rela membiarkan nona ini hendak membunuhnya? Pastilah urusan yang ruwet bagian dalamnya, urusan yang dia tidak mengingini orang luar mengetahuinya...” Si nona melihat Ce In masih tetap menghadang, ia gusar hingga sepasang alisnya bangun berdiri. Dia kata gusar, “Aku telah omong jelas! Apakah kau masih hendak menghalangi aku?” “Aku telah mendengar tetapi masih ada bagian-bagian yang kurang jelas bagiku,” sahut Ce In tenang. “Kau menyebut Hong-hu Sianseng telah membunuh suami orang dan merampas isterinya. Siapakah sepasang suami isteri itu? Apakah she dan namanya? Selainnya ini, apakah masih ada saksi lainnya atau bukti sesuatu barang? Dan, bagaimana sebenarnya duduknya peristiwa dulu hari itu...” Nona itu gusar sekali. “Semua itu ibuku yang membilangi aku!” ia kata sengit. “Ibuku tidak nanti mendusta! Maka itu, buat apa saksi atau bukti barang lagi?” Lam Ce In sebaliknya berpikir, “Kelihatannya ibunya juga menyembunyikan sesuatu, atau dia belum menjelaskan semua...” Dalam sengitnya si nona sudah menyerang. Ce In tangkis serangan itu, ia menahannya, lantas ia kata ‘nyaring, “Kau percaya ibumu, aku percaya Hong-hu Cianpwe, inilah soal sulit! Sekarang aku berada di sini,- maka malam ini tak dapat kau membunuh orang! Menurut pikiranku, baiklah kau menunda, kau berhenti dulu sampai disini. Kau berikan she dan namamu serta alamatmu juga, lalu kau menunggu sampai aku sudah membuat penyelidikan. Selambatnya dalam tempo

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tiga bulan, pasti akan aku mengunjungi kau, untuk aku menjenguk ibumu, guna kita bicara dengan terang dan jelas.” Nona itu kembali gusar. “Kau tidak mau percaya ibuku, buat apa kau menemuinya?” dia tanya. “Hm! Jangan kau menyangka kau telah ternama besar! Belum pasti ibuku suka menemui kau! Hayo, kau minggir atau tidak? Jikalau tidak, jangan kau katakan aku tak sungkansungkan!” Di mulut si nona mengatakan demikian, kakinya telah bertindak maju, dengan pedangnya ia sudah menyerang pula. Ce In telah tidak mau mundur. Ia sudah mulai mengenal ilmu silat nona itu, maka ia percaya, walaupun ia sulit mengalahkannya, sedikitnya ia bakal menang di atas angin. Hanya di dalam hatinya, ia kata, “Sungguh malu aku mesti melayani dia... Tanpa golok mustika, ada kemungkinan aku bukan lawannya!” Di dalam halnya tenaga dalam atau latihan, Ce In jauh terlebih unggul, maka itu habis menyerang hebat terus menerus tanpa hasil, dahi si nona sudah mandi peluh. Dia melihat lawannya tetap tenang dan segar. Lantas dia merasa bahwa dia akan tak ungkulan. Akhirnya dia kata dengan sangat mendongkol, “Kenapa kau mengadu jiwamu melindungi bangsat tua ini?” Lam Ce In menyahut sabar, “Sebabnya ialah pertama aku percaya I long-hu Cianpwe bukan orang busuk dan kedua dia telah melepas budi menolongi jiwaku. Kau hendak membinasakan dia, mana aku dapat membiarkannya?” Nona itu heran. “Apakah itu pertolongan jiwamu?” ia tanya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru itu Toan Kui Ciang ngelindur pula, “Su Toako! Su Toako! Aku di sini! Aku di sini! Apakah toako masih mengenali aku Toan Kui Ciang?” Nona itu kaget, dia berseru, segera dia lompat ke arah Kui Ciang. Tiat Mo Lek lagi menjagai Kui Ciang, melihat kelakuan si nona, dia kaget, dengan lantas dia menyambar dengan pedangnya dan membabat seraya membentak, “Bangsat wanita kejam! Paman Toan telah terluka parah begini rupa tetapi kau masih hendak mencelakainya?” Berbareng dengan itu, Ce In juga berlompat sambil menyerang. Nona itu melihat pedangnya Mo Lek, dia menangkis dengan ilmu huruf “Menempel,” lalu meneruskan memutar tangan, dia menyampok ke belakang kepada goloknya jago dari Kui-ciu. Terus dia berseru dan menanya, “Tahan dulu! Siapakah dia?” Dia menunjuk kepada Toan Kui Ciang. Ce In menjawab tenang, “Dialah Yu-ciu Tayhiap Toan Kui Ciang! Apakah kau pernah mendengar namanya Toan Tayhiap?” Nona ini melengak, dia terkejut. “Benarkah dia Toan Kui Ciang?” dia menegasi. “Habis mana orang yang bernama Su It Jie?” Ce In juga heran. “Nona, kau kenal Su It Jie?” ia menanya cepat. “Jangan tanya aku!” kata nona itu. “Kau bilang saja sekarang, bagaimana dengan Su It Jie?” “Su It Jie?” Ce In balik menanya. “Dia telah dipaksa An Lok San hingga dia telah membunuh diri!” Wajah si nona menjadi padam. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Kalau begitu Toan Tayhiap ini telah dilukakan An Lok San?” dia tanya. Ce In heran, bukannya ia menjawab, ia justeru menanya, “Nona! Kau rupanya ketahui duduknya kejadian! Tidak salah, untuk menolongi Su It Jie, Toan Tayhiap sudah menyateroni An Lok San di istananya, di sana dia sendirian saja, dia tidak sanggup melawan banyak kaki tangannya An Lok San, maka dia terlukakan parah! Syukur kami bertemu dengan Hong-hu Cianpwe ini, dia memberikan pertolongannya, jikalau tidak, pastilah sudah sedari siang-siang Toan Tayhiap kehilangan jiwanya...” Lam Pat berhenti sejenak, lantas dia menambahkan, “Kami juga tadi malam telah bertarung di dalam istananya bangsat she An itu, sayang kami terlambat, kami tak berhasil menolongi Su It Jie...” “Ah, aku tahu sudah!” kata nona itu, sekarang sikapnya berubah. “Syukur ada kamu, maka Toan Tayhiap tidak terjatuh ke dalam tangan bangsat she An itu, bukankah?” “Betul, tepat terkaanmu!” Mo Lek campur bicara. “Mari aku jelaskan pula! Lukanya Lam Tayhiap dan lukaku ini juga Honghu Lo-cianpwe yang menyembuhkannya! Bahkan Hong-hu Locianpwe telah memukul mundur barisan pengejar dari bangsat she An itu! Kenapa kau mengatakan lo-cianpwe busuk?” Nona itu tampak bingung. Ia berpikir. “Dan bagaimana dengan isterinya Su It Jie?” tanya ia kemudian. Ce In melengak. “Aku tak tahu...” sahutnya. “Gila!” si nona membentak. “Bagaimana kau tak tahu?” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Memang Ce ln tidak tahu apa-apa sebab Kui Ciang belum pernah menuturkannya. Ketika Mo Lek menariknya, mengajak ia membantui Kui Ciang, Mo Lek juga tidak menyebut-nyebut hal isteri It Jie itu. Melihat nona itu memperhatikan urusan dua keluarga Toan dan Su, walaupun ia tak menyukai sikap si nona, Mo Lek sudi juga bicara. Ia kata, “Kami tidak melihat isteri dan anaknya orang she Su itu. Mungkin mereka masih terkurung An Lok San di sana. Jikalau kau ingin ketahui hal mereka, jikalau kau mempunyai nyali besar, pergilah kau cari An Lok San untuk menanya padanya!” Disenggapi Mo Lek, parasnya si nona berubah. Mendadak dengan pedangnya dia menuding Hong-hu Siong, terus dia kata bengis, “Dengan memandang Toan Tayhiap maka malam ini aku memberi ampun kepada jiwamu, hanya lain kali, apabila aku telah mendapat bukti dari perbuatanmu yang jahat, akan aku perhitungan pula denganmu!” Hong-hu Siong tertawa berduka. Ia nampak mau bicara, tetapi akhirnya batal. Nona itu mendadak berlari keluar, untuk lompat naik ke ? atas punggung kudanya, lantas dia berkata nyaring, “Aku He Leng Song! Kamu boleh beritahukan namaku ini kepada Toan Tayhiap!” Menyusul itu terdengar suara kelenengan kuda, yang kudanya dikaburkan, hingga lenyaplah suaranya. Hingga sunyilah gelanggang itu. Tiat Mo Lek heran bukan main. “Hong-hu Lo-cianpwe,” kata ia pada Hong-hu Siong. “Nona He ini tangguh tetapi dia tak nanti dapat melebihkan U-bun Thong, selagi dengan mudah saja lo-cianpwe dapat http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengalahkan orang she U-bun itu, mengapa lo-cianpwe seperti jeri terhadapnya? Bukankah dia pasti bukan lawan lo-cianpwe?” Hong-hu Siong tertawa meringis. “Aku si pengemis tua menerima cacian dan dibikin mendongkol, itu perkara yang lumrah, itulah tidak ada artinya,” sahutnya. “Sebenarnya ingin aku terbinasa di tangan dia, supaya dia tak usah pergi membunuh lain orang...” Tiat Mo Lek heran. Ia hendak menanya pula, atau Hong-hu Siong sudah mendahului, “Aku si pengemis tua sudah bicara banyak, tentang urusan ini tak suka aku membicarakannya pula. Lam Tayhiap, jikalau kau percaya aku si pengemis tua, aku minta sukalah kau jangan perdulikan lagi urusanku ini.” Ce In menduga pasti orang mempunyai kesukaran yang tak dapat dijelaskan. Maka ia pikir, “Menurut dia, rupanya dia bertanggung jawab untuk urusan lain orang, tetapi tuduhan cabul dan jahat itu hebat sekali, bagaimana dia dapat menerimanya? Di dalam urusan lain bolehlah orang menjamin sesuatu...” Karena berpikir begini, ia terus berdiam. Mo Lek juga tidak menanya lagi. “Langit sudah terang,” berkata Hong-hu Siong kemudian. “Aku si pengemis tua masih mempunyai lain urusan, ingin aku berangkat lebih dulu. Tentang Toan Tayhiap, tak usahlah kamu buat kuatir, mungkin lagi dua jam dia bakal mendusin. Di sini ada satu peles obat, kamu kasihlah dia makan satu hari tiga butir, setiap kalinya satu. Setelah dia makan habis obat ini, mungkin dia akan mendapat pulang kesehatannya seperti sediakala.” Lam Ce In menyambuti peles obat itu. Ia melihat jumlah butirnya dua puluh. Maka itu, itulah obat untuk tujuh hari. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Lo-cianpwe,” ia tanya jago tua itu, “Apakah lo-cianpwe hendak memesan sesuatu untuk Toan Tayhiap?” Hong-hu Siong tertawa. Dia kata, “Aku si pengemis tua telah terlalu sering menerima budi orang, dari itu tak suka aku bicara dari hal pembalasannya. Laginya, untuk membalas begitu banyak, tentu aku tidak sanggup. Bukankah barusan kamu juga telah menolongi selembar jiwaku? Itu pun sudah berarti pembalasan.” Ia berhenti sebentar, baru ia menambahkan lagi, “Toan Tayhiap menjadi seorang yang sadar akan budi dan dendaman, kalau sebentar dia mendusin, aku minta jangan kamu memberitahukan dia bahwa obat ini pemberianku si pengemis tua, supaya tak usahlah dia buat pikiran.” “Itulah tak dapat, lo-cianpwe!” kata Mo Lek, menentang. “Jikalau dia tanya siapa yang menolongnya, tak dapat kami tidak menjelaskan!” “Begini saja,” kata si pengemis tua. “Kau beritahukan dia hal ditolongnya lukanya, dan halnya obat, kau bilang itulah obatnya Lam Tayhiap. Bukankah siapa mengerti ilmu silat, dia senantiasa membekal obat-obatan buatan sendiri, kecuali yang beda hanya khasiatnya? Jikalau diberitahukan aku si pengemis tua yang memberikan, nanti menjadi tidak enak...” Mendengar kata-kata orang, Ce In menjadi timbul pula kecurigaannya. Tiat Mo Lek tertawa. Dia kata pula, “Lo-cianpwe yang mengobati dia kalau Toan Tayhiap ketahui itu, bukankah itu sama membuat pikirannya?” Hong-hu Siong berpikir.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Kalau begitu baiklah, akan aku memesan sesuatu kepadanya,” kata dia. “Dengan begini maka kita satu pada lain jadi tidak berhutang budi...” “Apakah itu, cianpwe?” Ce In tanya. Hong-hu Siong mengeluarkan sebuah cincin besi, ia masuki itu ke subuah jerijinya Toan Kui Ciang, sembari melakukan itu, ia kata, “Tolong kamu sampaikan pesanku kepada Toan Tayhiap. Aku minta pertolongannya. Kalau nanti dia bertemu dengan seseorang yang memakai cincin serupa ini, mohon dia memandang mukaku, sukalah dia berlaku murah terhadapnya.” Mo Lek heran hingga ia berpikir, “Entah pengemis tua ini hendak melakukan kegaiban apa...? Meski ia heran dan curiga, ia tidak berani menanya apa-apa. Ia muda sekali usianya tetapi pengalamannya kaum Kang Ouw sudah cukup banyak, ia ketahui pantangan kaum itu. Maka dengan hormat ia menyahuti. “Jangan kuatir, lo-cianpwe, nanti aku sempatkan pesan locianpwe ini kepada Toan Tayhiap.” Hong-hu Siong menjumput tongkatnya, terus ja berjalan keluar. Di ambang pintu, mendadak ia berhenti dan menoleh, kepada Lam Ce In ia berkata, “Ah, hampir aku lupa! Pada bulan yang lalu di kota Tok-koan, aku telah bertemu dengan gurumu, Lam Tayhiap.” “Apakah ada pesannya guruku itu?” Ce In tanya. “Gurumu itu membilangi bahwa dia mau pergi ke Hoay-yang, akan tetapi karena ada urusan lain, keberangkatannya itu ditunda sampai lain bulan tanggal pertengahan. Dia membicarakan hal kau, tayhiap, katanya segala perbuatan tayhiap dalam dunia Kang Ouw beberapa tahun ini, semua dia sudah ketahui. Dia menyatakan girang dan syukurnya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kemudian dia tanya aku, aku kenal tayhiap atau tidak. Aku bilang nama aku pernah dengar, orang aku belum pernah menemukan. Lantas gurumu kata, dalam beberapa hari ini tayhiap akan pergi ke Hoay-yang. Dia kata padaku, ‘Thio Sun yang menjadi Thaysiu kota Hoay-yang adalah seorang berarti, maka pengemis tua, jikalau kau tidak mempunyai urusan apaapa, tak halangannya kau jalan-jalan ke kota Hoay-yang itu. Aku tahu kau biasa menyukai anak-anak muda, maka bolehlah kau sekalian menemui muridku itu. Apabila kau bertemu dengannya, tolong kau sampaikan pesanku ini kepadanya, umpama kata dia mempunyai urusan lain di Ngo-goan, dia tak usah menunggui aku di Hoay-yang.’ Ha, ha! Tidak kusangka, sebelum aku sampai di Hoay-yang, di kuil rusak ini aku telah bertemu denganmu secara kebetulan ini!” Baru sekarang Lam Ce In ingat, ketika tadi mereka baru memasuki kuil, Hong-hu Siong mengawasi ia dengan perhatian luar biasa. Pikirnya, “Tidak heran sebelum menanyakan jelas tentang diriku, dia sudah lantas sudi mengobati kami. Rupanya suhu telah melukiskan roman dan potongan tubuhku kepadanya.” Sebenarnya Ce In bersangsi juga. Toan Kui Ciang belum sembuh, dia seharusnya diantar pulang ke Touw Ke Ce, untuk dia berobat dan beristirahat. Tiat Mo Lek harus menjadi pelindungnya. Mo Lek cerdik dan gagah, untuk pantarannya, sukar mencari tandingannya, meski begitu, dia tetap seorang bocah, tak tenang hati Ce In membiarkan bocah itu sendirian mengantari Kui Ciang. Maka sekarang, kebetulan ia mendengar pesan gurunya itu, ia lantas mengubah pikiran, mengambil suatu keputusan baru. Begitulah, sehabis kepergiannya Hong-hu Siong, orang she Lam ini kata pada Mo Lek, “Mo Lek, aku tak jadi pergi ke Hoayhttp://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

yang, hendak aku menemani kau mengantar Toan Tayhiap ke Touw Ke Ce. Di sana, setelah menolongi tayhiap, apabila kau tidak mempunyai urusan lain, boleh kau turut aku pergi ke Hoay-yang untuk menemui guruku.” Mo Lek girang sekali. “Itulah bagus!” katanya. “Tapi, bukankah kau mempunyai suratnya Kwe Cu Gie yang hendak disampaikan kepada Thio Thaysiu? Dengan kau mengantari kami, apakah urusanmu itu tidak menjadi gagal?” “Tidak,” sahut Ce In. “Urusan surat itu terlambat satu bulan pun tidak apa. Surat itu dikirim Kwe Leng-kong sambil lalu dan bunyinya juga Cuma mengajak Thio Thaysiu bekerja sama andaikata terbit bencana. Mereka itu berdua saling menghargai, sekalipun tidak ada surat menyurat, apabila terbit sesuatu kejadian, pasti mereka bekerja sama, untuk membela negara.” Mo Lek mengangguk. “Sekarang belum terang tanah, nanti aku pergi mengambil pakaian untuk salin,” kata dia. Ce In tahu orang berniat mencuri. Maka dia tertawa. Dia pesan, “Kau berhati, hati, jaga jangan sampai kau kena terbekuk orang!” “Itulah tak bakal terjadi!” kata Mo Lek dengan pasti. Bocah itu pergi sampai setengah jam, masih dia belum kembali. Ce In menjadi berkuatir juga. “Jangan-jangan kekuatiranku berbukti...” pikirnya bergelisah. Justeru itu mendadak terdengar suara roda kereta di luar kuil. Orang she Lam ini kaget, lantas ia pergi melihat. Lantas hatinya menjadi lega. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Itulah Mo Lek yang kembali, hanya bersama sebuah kereta keledai! “Eh, mengapa kau mencuri kereta keledai?” ia tegur. “Inilah bukan kereta curian!” sahut Mo Lek. “Aku tukar ini dengan sepotong uang goanpoo emas!” Mau tidak mau, Ce In tertawa. “Sungguh kau berbahagia!” katanya. “Kau masih mempunyai goanpoo emas!” “Tetapi uang emas itu bukan kepunyaanku, itulah miliknya seorang hartawan. Aku pergi mencuri beberapa potong pakaian di rumahnya, sekalian saja aku jemput beberapa potong goanpoonya. Lantas aku pergi ke bengkel kereta. Hari sudah mendekati fajar, tuan rumah masih belum mendusin dari tidurnya, aku tak sempat mengasih bangun, dari itu aku lemparkan saja sepotong goanpoo, lantas aku siapkan kereta keledainya ini. Celaka keledai ini, dia tidak dengar kata, ketika mau keluar dari pintu pekarangan, dia rewel, dia meringkik keras suaranya yang berisik membikin sadar tuan rumah. Mulanya mereka berteriak-teriak, ‘Ada pencuri! Ada pencuri!’ Dari atas kereta aku lemparkan uang goanpoo sambil aku berkata nyaring, ‘Aku bukan pencuri! Aku hanya malaikat uang!’ Rupanya mereka lantas melihat uang emas itu, sebentar saja sirap teriakannya, diganti dengan seruan kegirangan, bahkan mereka tidak mengejar juga!” Habis berkata itu, Mo Lek tertawa berkakak, tapi lekas ia menambahkan, “Sebenarnya, mencuri tetap mencuri, Cuma bedanya aku mencuri hartanya si hartawan, tidak si melarat! Dengan sepotong goanpoo emas dapat dibeli sepuluh buah kereta keledai, mereka itu hilang sebuah kerela tetapi mendapat sepotong goanpoo, mereka masih untung besar!” Mau atau tidak, Ce In mesti tertawa. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ketika itu cuaca sudah terang. Keduanya lantas menyalin pakaian, kemudian mereka menggotong Toan Kui Ciang dinaiki ke atas kereta, direbahkan di tempat yang lunak, yang Mo Lek telah sediakannya. Ce In yang memegang tali les, maka selang satu jam, keduanya sudah sampai di wilayah kecamatan Lim-tong. Hati mereka lega sebab mereka melihat tidak ada yang mengejar. Dengan begitu dapatlah mereka berdua memasang omong dengan asyik. Banyak yang dapat mereka bicarakan. (Lanjutan) Ce In seorang hiap-su, orang gagah kenamaan dan Mo Lek anak muda keluarga Rimba Hijau. Saking gembira, sering mereka tertawa. "Kau masih begini muda, sudah pandai kau mencuri!" kata si orang she Lam. "Kalau nanti kau sudah dewasa, kau bakal jadi liehay sekali! Cuma aku kuatir nanti tak ada orang yang berani membuka perusahaan piauwkiok!" "Aku, aku masih terpaut jauh!" kata Mo Lek tertawa. "Kau tahu siapa yang menjadi malaikat pencuri nomor satu di kolong langit ini?" "Dialah Sam-ciu Sin-kay Kie Tie," sahut Ce In. "Bukan! Sam-ciu Sin-kay telah orang sisihkan! Sekarang ini yang nomor satu ialah Khong Khong Jie! Dia pernah mengadu kepandaian dengan Kie Tie. Kie Tie dapat mencuri sebatang seruling kemala dari Pangeran Leng Ong, sebaliknya Khong Khong Jie dapat mencurinya dari tangan Kie Tie sendiri! Mereka bertaruh, Kie Tie kalah! Khong Khong Jie telah mengulangi pencuriannya sampai tiga kali, hingga Kie Tie takluk benarbenar, maka juga Kie Tie rela menyerahkan seruling itu, buat http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Khong 'Khong Jie menyerahkan pulang pada Leng Ong untuk mendapat hadiah. Sekarang ini di dalam kalangan Hek Too hampir tak ada yang tak mengetahui julukan Biauw Ciu Khong Khong!" "Telah aku dengar nama besar dari Khong Khong Jie," kata Ce In, "Cuma aku tahu hal ilmu pedangnya. Sayang aku belum pernah bertemu dengannya." Tiat Mo Lek mengawasi sahabatnya dan kata sambil tertawa, "Sekarang kau bakal pergi ke rumahnya ayah angkatku, ada kemungkinan kau bakal bertemu dengan Khong Khong Jie. Umpama kata kau tidak bertemu dengan Khong Khong Jie sendiri, mungkin dengan adik seperguruannya, yaitu Ceng Ceng Jie!" Lam Ce In heran. Sebenarnya ia mau menanya, untuk minta keterangan, tetapi mereka mendadak mendengar Toan Kui Ciang menjerit, "Aduh!" "Bagus, dia tahu merasa nyeri," kata Ce In. Benar saja, lewat sekian lama Kui Ciang dapat membuka mata. "Oh, saudara Lam, kau di sini?" kata orang she Toan itu. "Mana Su Toako? Di sini di mana? Apakah aku lagi bermimpi?" Biar bagaimana, pikirannya Kui Ciang masih kacau. "Toan Toako, kita sudah lolos dari bahaya," Ce In memberitahukan. "Kita sekarang berada di dalam wilayah Limtong." Kui Ciang berpikir, lantas ia mulai ingat segala apa. Tapi ia masih berpikir terus. Sementara itu roda kereta juga berputar tak hentinya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Setelah sadar dan merasakan nyeri, Kui Ciang pun merasai bagaimana ia terkocok pulang pergi di atas kereta itu, hingga kesadarannya pulih dengan cepat, hingga ia menjadi ketahui bahwa ia bukan lagi tidur bermimpi. Lam Ce In memeluki sahabat itu. Ia melihat muka orang yang pucat dan matanya tak bersinar terang. "Su Toako, kau mati bersengsara..." kemudian terdengar Kui Ijiang berkata. "Akulah yang mencelakai kau...!" Suaranya perlahan, lalu dia mengucurkan airmata. "Toan Toako, kau mesti pelihara dirimu baik-baik," Ce In berbisik. "Kau mesti mencari balas untuk Su Toako!" Kui Ciang terkejut. Segera berkumandang pesannya Su It Jie, " Toan Toako, daripada aku yang hidup untuk mencari balas, lebih baik kau! Supnya kau tidak dipaksa mereka, aku akan berangkat terlebih dulu! Kau sayangilah dirimu, pergi kau menoblos keluar!" Ia pun lantas ingat Louw-sie, isterinya It Jie, serta bayinya, yang masih berada di mulut harimau. Maka ia mengertak gigi, ia menahan keluarnya airmatanya. Seperti juga ia lagi menghadapi arwah It Jie, ia kata, "Benar, Su Toako, aku akan dengar kata-katamu!" Terus ia kata pada Ce In, "Saudara Lam, aku bikin kau berabeh! Untukku, kau sudah menentang bahaya!" Ia pun kata pada Tiat Mo Lek, "Mo Lek, anak baik! Kau tidak dengar pesanku tetapi aku tidak akan menegurmu...!" Ce In dan Mo Lek berlega hati. Kui Ciang sudah sadar dan menjadi tenang. Kemudian Kui Ciang mencoba mengerahkan tenaganya. Ia merasa seluruh tubuhnya lemah, tak ada tenaganya sedikit http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

juga. Ia menjadi masgul sekali hingga ia menarik napas panjang. "Kiranya aku terluka begini parah..." katanya. "Sampai kapan aku baru dapat menuntut balas...?" "Kouwthio, legakan hati," Mo Lek menghibur. "Lo-cianpwe Hong-hu membilangi kami, setelah lewat tujuh hari, kesehatanmu bakal pulih seperti sediakala!" Kui Ciang melengak. "Hong-hu Siong?" katanya, mengulangi. "Apakah kau maksudkan Se-gak Sin Liong Hong-hu Siong, satu di antara Kang Ouw Cit Koay?" Walaupun dia heran, Kui Ciang menjadi tenang. "Benar," Mo Lek menjawab. "Luka kita semua diobati oleh Hong-hu Lo-cianpwe." "Kalau begitu, jiwaku jadi telah ditolong oleh lo-cianpwe itu?" Kui Ciang menegaskan. "Benar," Mo Lek memberi kepastian. "Luka kouwthio mengeluarkan darah tak hentinya, luka di dalam juga parah, lantas Hong-hu Lo-cianpwe menotok membikin darah itu berhenti, lalu itu disusul dengan pertolongan mengurut serta arak obat yang diminumkan." Kui Ciang berdiam, paras mukanya berubah. Akhirnya ia menghela napas. "Aku tidak sangka bahwa diluar tahuku, aku telah mendapat pertolongan jiwa dari dia," katanya. "Aku telah berhutang budi, sungguh berat menerimanya..." Mo Lek heran sekali hingga ia tercengang. Ia heran tetapi ia tidak berani menanya apa-apa. Budi toh bisa dibalas. Mudah, bukan? Toh Kui Ciang bersusah hati. Kenapa? http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Apakah ada yang tak tepat, saudara Toan?" tanya Ce In. Beda dari si bocah, orang she Lam ini berani mangajukan pertanyaan. Kui Ciang memandang penolongnya itu. "Saudara Lam, kau telah menolong aku, aku sangat bersyukur terhadapmu," ia kata. "Tapi kita ada dari satu golongan, aku menerima budi kau, aku puas. Akan tetapi Honghu Siong? Aku sudah menerima budinya, aku tak tahu bagaimana nanti kelak di kemudian hari..." Ce In dan Mo Lek heran, sampai mereka terperanjat. Hampir berbareng keduanya menanya, "Bukankah Se-gak Sin Liong juga orang dari Hiap-gie-too?" "Saudara Ce In, kau muncul lebih belakang belasan tahun daripada aku, tak heran kau tak ketahui hal ikhwal dia itu," kata Kui Ciang, menerangkan. "Pada itu waktu, nama dia tercemar sekali." Ce In heran hingga ia sudah lantas menanya pula, "Namanya tercemar? Menurut kau ini, bukankah ia jadi sudah pernah melakukan perbuatan-perbuatan buruk? Kenapa yang aku dengar semua hal-hal yang baik? Bahkan guruku pernah membilangi aku, meskipun sepak terjangnya Hong-hu Siong aneh sekali, dia tak kecewa menjadi orang Hiap-gie-too." "Kalau begitu, gurumu itu, saudara Lam, dia menyembunyikan apa yang buruk dan memuji apa yang baik. Memang benar Hong-hu Siong telah melakukan perbuatanperbuatan baik, malah itu melebihkan banyaknya perbuatanperbuatannya yang busuk. Perbuatannya yang busuk itu dapat membikin orang menudingnya dengan rambut kepala bangun berdiri!" Mukanya Lam Ce In menjadi pucat. Benar-benar dia heran. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Toan toako," katanya, "Apakah toako dapat menuturkan beberapa diantara perbuatan-perbuatannya Hong-hu Siong itu?" "Baik!" menjawab Kui Ciang. "Nanti aku tuturkan perbuatannya yang buat beberapa puluh tahun telah menjadi buah bibir orang banyak. Dia pernah merampas harta tak halal dari kedua Ciat-touw-su Louw Liong dan Khouw Ciu, harta itu dipakai menolongi rakyat kurban-kurban bencana sungai Huang Hoo. Seorang diri dia telah menempur dan menyingkirkan lima jago dari Yan-tio. Dia pun telah mendamaikan kedua partai Khong Tong dan Yan San yang berselisihan hingga dengan begitu bencana Rimba Persilatan dapat dihindarkan." "Semua hal itu aku sudah ketahui," kata Ce In. "Coba kau lulurkan bagian-bagian yang mencemarkan namanya itu." "Diantara itu ada beberapa yang hebat," Toan Kui Ciang kata. "Pada satu waktu ada beberapa orang pergi ke Thian San mencari teratai salju, waktu mereka itu berjalan pulang, mereka dipegat, dibegal dan dibunuh, cuma satu diantaranya yang dapat lolos. Satu waktu ia melindungi satu penjahat cabul gelar Say Cek Hong, lantaran mana dia melukai It Teng Siansu dari Siauw Lim Pay, hingga pihak Siauw Lim Pay mencarinya guna menuntut balas, tetapi ketika kemudian pihak Siauw Lim mendengar dia merampas harta untuk menolongi kurbankurban banjir, perkaranya tidak dilarik panjang, cuma Say Cek Hong yang dicari dan disingkirkan..." "Apakah dia pernah membunuh suami orang dan merampas isteri kurbannya itu?" tiba-tiba Mo Lek memotong. Kui Ciang heran hingga dia mendelong mengawasi. "Kenapa kau ketahui peristiwa itu?" dia balik menanya.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Ce In pun terkejut, hingga dia menanya keras, "Ya, benarkah kejadian itu?" "Peristiwa itu masih menjadi soal gelap sampai pada sekarang ini," berkata Kui Ciang. "Hanya menurut sangkaan, sembilan dalam sepuluh mungkin benar perbuatan Hong-hu Siong..." Ce In berdiam, otaknya bekerja. "Sebenarnya, bagaimanakan duduknya itu," ia tanya. Kui Ciang suka menceritakan. "Itulah peristiwa pada dua puluh tahun yangbaru lalu," kata ia. "Ketika itu ada sepasang yu-hiap atau jago pengembara muda. Yang pria bernama He Seng To dan yang wanita Leng Soat Bwe. Telah banyak perbuatan gagah dan mulia yang mereka itu lakukan. Setelah bersatu tujuan, mereka juga bersatu hati, demikian sesudah mengikat tali pertunangan, mereka lantas menikah. Bukan main ramainya perayaan nikah mereka itu. Orang-orang Kang Ouw, kenal atau tidak, berduyun-duyun datang untuk menghadiri, guna memberi selamat. Siapa tak kagum menyaksikan sepasang sejoli itu sama gagah, sama mulia hatinya? Aku menjadi sahabatnya kedua mempelai, aku pun menjadi salah satu tetamu mereka. Diluar dugaan siapa juga, justeru di malam pernikahannya, sepasang pengantin itu menemui kenaasan mereka... Aku masih ingat benar peristiwa itu. Bersama banyak yang lain, kita bergurau di kamar pengantin, habis itu kami berkumpul pula melanjuti menenggak air kata-kata, hingga semua menjadi separuh sinting. Justeru itu dari kamar pengantin terdengar jeritan keras, hebat dan menyayatkan! Segera aku sadar dari sintingku, lupa pada adat istiadat, aku memburu ke dalam, masuk terus ke dalam kamar. Tiba di dalam, aku tercengang! Mempelai laki-laki roboh di lantai dan mempelai wanita lenyap! Dengan lantas aku mengasih bangun pada He Seng To. Dia http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

telah terluka sangat berat hingga dia tak dapat bicara: Dengan menaruh mulutku di telinganya, aku tanya dia berulang-ulang, 'Siapa si penjahat? Siapa si penjahat?' Dia masih mengenali aku sebagai sahabatnya, dia mengawasi aku, dia suka menjawab. Dengan tangan gemetar, dengan jeriji telunjuknya, dia mencelup ke darahnya, lantas dia menulis di lantai. Dia mencoret-coret beberapa kali, tulisannya tak keruan. Sayang sebelum ia menulis habis, napasnya sudah berhenti berjalan. Ah, sinar matanya! Tak dapat aku lupakan itu! Dia seperti minta tolong aku membalaskan sakit hatinya itu...! Aku perhatikan tulisannya itu. Huruf pertama 'Hong'. Huruf kedua baru saja dua coretan yang mirip huruf 'Sip' - 'Sepuluh'. Aku katakan mirip sebab tulisannya miring dan panjangnya tak berjauhan. Di dalam dunia ini tidak ada orang she Hong, sebab 'Hong' itu adalah 'Hong' yang berarti 'Raja'. Sebelum aku mengutarakan dugaanku, lantas ada orang yang berseru, 'Si pembunuh pastilah Hong-hu Siong!'" "Kalau orang hanya mengandal tulisan tak lengkap itu, itu belum dapat dipastikan," kata Ce In. "Itulah bukti yang tak sempurna." "Benar," Kui Ciang bilang. "Ada beberapa orang yang berpendapat sama seperti kau, saudara Lam. Banyak yang ragu-ragu. Ada pula yang menyangka mungkin si penjahat pesuruhnya Raja. Ketika itu diketahui He Seng To bermusuh dengan Kong-sun Tam, salah seorang Wiesu dari istana. Mungkin si pembunuh ialah Wiesu she Kong-sun itu." "Dugaan itu beralasan juga sedikit," kata Mo Lek. "Tak beralasan sama sekali!" tiba-tiba kata Kui Ciang nyaring. Tiat Mo Lek melengak, Lam Ce In berdiam. Keduanya heran. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Dua-dua she Kong-sun dan Hong-hu adalah rangkap," Toan Kui Ciang menjelaskan. "Untuk penulisannya, huruf 'Kong' dari Kong-sun jauh lebih sederhana daripada huruf 'Hong' dari Hong-hu. Sekarang cobalah pikir! Ketika itu He Seng To lagi mendekati kematiannya, kenapa dia bukannya menulis huruf 'Kong' hanya huruf 'Hong' yang terlebih sukar, yang lebih banyak coretannya itu? Jikalau benar si penjahat ialah Kongsun Tam, cukup dia menulis satu huruf 'Kong' dan lantas orang mengerti. Pula tak usahlah dia memutar jalan, bukannya menunjuk 'Kong-sun' hanya orangnya kaisar - 'Hongte'. Lainnya hal lagi, ilmu silat He Seng To dan I.cng Soat Bwe lebih liehay daripada ilmu silatnya Kong-sun Tam. Jadi tidaklah mungkin Kong-sun Tam dapat membinasakan He Seng To dan lalu merampas Leng Soat Bwe. Jadinya orang membelai Hong-hu Siong cuma disebabkan orang menyayangi nama baiknya sebagai orang gagah, untuk menolong membebaskannya dari tuduhan." Mo Lek tunduk. Dia sependapat dengan "orang" yang disebutkan Kui Ciang itu. Lam Ce In terus heran dan bersangsi. Ia ragu-ragu sangat. "Menurut bicaranya Toan Toako ini, perbuatan-perbuatan baik dan mulia dari Hong-hu Siong jauh terlebih banyak daripada perbuatan-perbuatannya yang buruk," ia berpikir. "Satu hal saja, yaitu menolong rakyat dari bencana alam, sudah suatu jasa yang besar. Hanya benar juga, perbuatan buruknya dapat membuat rambut orang bangun berdiri... Itulah dua macam perbuatan yang sangat bertentangan satu dengan lain. Menurut pantas, tak layaknya itu dilakukan oleh satu orang. Masih ada satu hal lain lagi. Guruku menjadi seorang yang sangat dapat membedakan perbuatan baik, daripada perbuatan jahat, jikalau kelakuannya Hong-hu Siong benar demikian buruk, mustahil guruku tak menuturkannya kepadaku? Mustahil http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

karena menyembunyikan perbuatan buruk itu, guruku tak menyebutnya sama sekali? Bukankah heran, sebaliknya daripada membenci, guruku justeru mengikat persahabatan dengan Hong-hu Siong?" Toan Kui Ciang melihat orang berdiam saja dan agak bersangsi, ia dapat menerka hati sahabat ini. Ia hanya berdiam sebentar, lantas ia menyambungi keterangannya. "Peristiwa terjadi pada dua puluh tahun yang sudah lampau," kata ia. "Setelah peristiwa itu, jarang sekali Hong-hu Siong muncul di muka umum, dan kapan orang mendengar pula tentangnya, semua dari * perbuatan-perbuatanhya yang mulia dan baik, benar ada satu atau dua yang buruk, tetapi itu bukanlah kejahatan besar. Itulah sebabnya mengapa aku menjadi berlaku ayal-ayalan mewujudkan pembalasanku untuk sahabatku itu. Hanya dapat aku terangkan, apabila aku berhasil memperoleh keterangan yang benar, tetap aku akan membuat perhitungan dengannya!" "Didalam itu hal telah ada satu orang yang hendak membuat perhitungan dengannya," kata Mo Lek. Kui Ciang heran hingga matanya menjadi terbuka lebar. "Siapa?" dia tanya, cepat. "Dialah seorang nona umur lebih kurang dua puluh tahun," Mo Lek menjawab. "Dia menyebut dirinya He Leng Song. Nona itu kata kau mungkin ketahui tentangnya." Kui Ciang menjadi sangat ketarik hati. "Bagaimana romannya nona itu?" dia tanya, bernapsu. "Dimanakah dia bertemu dengan Hong-hu Siong? Di manakah hal ini kau dengarnya, ataukah kau mengetahuinya sendiri?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Aku melihat dan mendengarnya sendiri," sahut Mo Lek. "Tempatnya ialah di dalam kuil tadi." Lantas pemuda ini memberikan penjelasannya, kemudian ia mempetakan potongan tubuh serta romannya nona He Leng Song itu. Sampai disitu, Lam Ce In turut bicara. Ia kata perlahan, "Aku tidak tahu bahwa urusan ini menyangkut urusannya He Tayhiap. Hanya, oleh karena Hong-hu Siong telah menolong jiwa kita bertiga, maka selama urusan belum menjadi terang benar-benar, ingin aku menghadang dahulu di depannya nona itu. Toan Toako, adakah kau menyesali sikapku ini?" Toan Kui Ciang menggeleng-geleng kepala. Ia berdiam. "He Leng Song... He Leng Song..." katanya kemudian, perlahan dan berulang-ulang. Parasnya pun menandakan ia sangat ragu-ragu. Sebenarnya di saat itu, pada benak kepalanya telah berbayang wajahnya seorang wanita lain, ialah Leng Soat Bwe. Gambaran He Leng Song dari Mo Lek justeru gambaran Leng Soat Bwe itu... Di antara Kui Ciang dan Soat Bwe ada terbenam satu kisah asmara. Mereka berdua bersahabat erat jauh sebelumnya Soat Bwe bersahabat dengan He Seng To. Hanya selagi Kui Ciang sangat mengagumi nona itu dan menaruh cinta terhadapnya, si nona sendiri masih mengambang perasaannya. Belakangan muncullah He Seng To, lantas Soat Bwe menyintai orang she He itu, hingga kejadian dia lebih banyak berada berduaan dengan Seng To daripada dengan Kui Ciang. Tak lama maka Kui Ciang menginsafi keadaan, ialah ia ketahui si nona mencintai Seng To.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia satu laki-laki sejati, ia jujur dan terhormat, tak sudi ia menjadi penghalang. Ia pun tak membenci atau bersakit hati. Buat guna si nona sendiri, untuk kebaikan Seng To, ia suka mengalah, bahkan Seng To ia anggap sebagai sahabat kekal, seperti saudara sendiri. Itulah untuk membahagiakan Soat Bwe! Ketika kemudian terjadi He Seng To terbinasa secara hebat dan menyedihkan itu, dan Leng Soat Bwe lenyap tidak keruan paran, Kui Ciang berduka bukan main. Karena itu, sesudah lewat sepuluh tahun, baru ia menikah dengan Touw Sian Nio. Ia menyintai isterinya ini, tetapi terhadap Soat Bwe, cintanya tetap melekat, tak dapat ia melupai Nona Leng itu. Maka itu mendengar gambarannya Mo Lek tentang Leng Song, ia lantas ingat bekas kekasihnya itu. Maka juga ia menjadi seperti orang linglung Ia ingat syairnya yang ia pernah tulis untuk Soat Bwe, bunyinya,

Soat leng bwe hoa y om, leng song tok cu kay
artinya,

Salju dingin, bunga bwe indah permai, es membeku, buyar sendirinya
"Bukankah He Leng Song itu puterinya Leng Soat Bwe?" demikian ia berpikir, menerka-nerka. "Soat Bwe tentu masih ingat baik sekali syairku itu maka ia memberikan nama Leng Song kepada puterinya ini. Tapi He Seng To sudah meninggal dunia, darimana datangnya ini bocah she He?" Bingung Kui Ciang, maka juga ia jadi berpikir keras dan seperti linglung itu, ada juga rasa girangnya. Pikirnya pula, "Jikalah He Leng Song benar anaknya Soat Bwe, bukankah Soat Bwe masih ada di dalam dunia ini?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kouwthio," "berkata Mo Lek, yang seperti memecah kesunyian, "Hong-hu Siong telah memberikan sebuah cincin kepadamu. Itulah cincin yang sekarang berada pada jari tanganmu." Kui Ciang heran, ia seperti orang baru sadar dari mimpinya. Sebelum menjawab si bocah, ia berpikir pula, "Soat Bwe menitahkan nona' ini pergi membalaskan sakit hati, terang sudah bahwa Hong-hu Siong ialah pembunuh suaminya dahulu hari itu. Hanya si nona benar anaknya atau bukan, tak dapat aku tak memperhatikannya..." Lalu ia dibuatnya sukar. Soal yang baru telah muncul. Honghu Siong baru saja menolong jiwanya. Tak ada manusia gagah dan-terhormat yang membunuh tuan penolongnya... Kui Ciang mengusut-usut cincin di jari tangannya itu. "Apakah Hong-hu Siong ada meninggalkan kata apa-apa?" ia tanya Mo Lek. "Dia seperti juga telah mendapat tahu di muka bahwa kouwthio bakal tak sudi menerima pertolongannya itu," menyahut Mo Lek, "Maka dia cuma minta satu hal dari kau. Katanya dengan begitu kau dan dia sama-sama tak ruginya, tak saling berhutang budi... "Apakah permintaannya itu?" tanya Kui Ciang, mendesak. "Permintaannya itu ialah," kata Mo Lek, "Kalau kelak di belakang hari kau bertemu seorang yang memakai cincin yang serupa dipakai kau sekarang, sukalah kau berlaku murah hati terhadapnya." Mendengar itu, Kui Ciang bernapas lega. "Oh, dia tidak meminta apa-apa untuk dirinya sendiri," katanya sabar. "Baik, dapat aku melakukan itu. Biarlah nanti, http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

setelah aku berhasil menuntut balas untuk Su Toako, baru aku pergi cari Hong-hu Siong. Umpama kata dia dapat membunuh aku, maka sudah tidak ada soal apa-apa lagi, tetapi apabila akulah yang berhasil membunuh dia, habis itu aku akan membunuh diriku sendiri, supaya dengan begitu bereslah sudah budi dan sakit hati di antara kita!" Mo Lek dan Ce in terkejut, mereka tercengang. Sungguh hebat orang she Toan ini. Dia benarlah laki-laki sejati! Tapi karena mereka kenal baik tabiat Kui Ciang, terutama sekarang pikiran orang gagah ini lagi tegang, mereka berdiam saja, tak mau mereka memberi nasehat atau membujuki. "Mana nona itu?" kemudian Kui Ciang tanya lagi. "Dia sudah pergi," sahut Mo Lek. "Dia tidak membilang kita ke mana dia mau pergi. Menurut dugaanku, mungkin dia pergi mencari An LokSan..." Kui Ciang kaget sekali. "Kau...! Kau bagaimana tahu dia pergi mencari An Lok San?" tanyanya, bingung dan bergelisah. "Dia... dia pergi cari An Lok San untuk apakah?" "Aku tak tahu tetapi aku menduga saja," sahut Mo Lek. "Dia tanya n ku perihal sahabatmu she Su itu, tentang isteri dan anaknya sahabatmu itu. Aku bilangi dia halnya si orang she Su sudah dicelakai An Lok San dan hahwa isteri dan anaknya belum berhasil ditolongi. Mendengar jawabanku itu, dia sangat tergerak hatinya. Sebenarnya dia telah bersumpah hendak membunuh Hong-hu Siong, Lam Tayhiap telah mencegahnya, dia masih tidak mau mengerti, akan tetapi setelah mendengar keteranganku itu, dia seperti lantas berpikir lain - rupanya dia terpengaruh urusan yang terlebih penting. Dia pergi dengan lantas! Maka itu aku menyangka dia hendak menolongi Nyonya Su dan anaknya itu." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kembali Kui Ciang kaget. "Bagaimana ini?" dia berseru dalam bingungnya. "Mana dapat dia dibiarkan seorang diri memasuki sarang harimau dan kedung naga?" ?? Mo Lek turut menjadi bingung. "Ini cuma pikiranku, inilah belum pasti..." katanya perlahan. "Ilmu pedang nona itu liehay sekali. Lam Tayhiap menempur dia dengan memakai golok mustika, selama beberapa puluh jurus, keduanya sama unggulnya. Maka itu umpama kata dia tidak berhasil menolongi Nyonya Su itu serta anaknya, aku percaya dia sendiri akan dapat meloloskan dirinya." "Nona itu suka menunda membunuh Hong-hu Siong sebagian disebabkan dia mendapat tahu Hong-hu Siong sudah menolongi kau," Lam Ce- In turut bicara. "Dia rupanya masih menyangsikan orang jahat atau orang baik - dia masih belum jelas benar akan duduknya hal. Saudara Toan, yang paling perlu sekarang ini ialah perawatan dirimu, jikalau kau menguatirkan nona itu, baiklah, mari aku antar dulu kau sampai di perbatasan wilayah pengaruh Touw Ke Ce, setelah itu aku segera pergi menyusul dia!" ---ooo0dw0ooo--Jilid 6 "Ya, inilah benar!" Mo Lek pun bilang. "Setelah nanti bertemu dengan ayah angkatku, dapat kita minta bantuannya mengirim banyak orang-orangnya guna menyelidiki halnya nona she He itu. Ayah angkat kau kenal banyak orang Kang Ouw, mungkin dia akan berhasil memperoleh endusan. Nona itu sudah pergi selama tiga jam, kalau kita susul dia sekarang, kita tak bakal menyandaknya." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang menghela napas. "Ya, apa boleh buat," keluhnya. Mo Lek heran mendapatkan orang demikian memperhatikan si nona He. Sebaliknya Kui Ciang heran mengetahui Nona He sangat memperhatikan Keluarga Su, hingga dia menyangka, "Apakah dia mempunyai perhubungan erat dengan Keluarga Su? Jikalau Su Toako kenal He Seng To suami isteri, mengapa aku tidak mendapat tahu? Mengapa aku belum pernah mendengar mereka itu menyebut-nyebutnya?" Demikian Kui Ciang terbenam dalam keheranan. Sementara itu Nona He - He Leng Song - sudah melakukan perjalanannya dengan sangat cepat. Benar seperti Tiat Mo Lek, dia hendak pergi menolongi Nyonya Su dan anaknya. Hanya dia tidak langsung menuju ke rumahnya Tayciang Sie Siong, orang sebawahannya An Lok San itu. Inilah sebab ia telah mendapat tahu Nyonya Su itu telah diminta Sie Siong dari An Lok San. Tempo Leng Song sampai di kota Tiang-an, hari sudah tengah hari. Dia lantas berdandan sebagai seorang nona tukang penjual silat. Dia pun segera mencari dahulu rumah penginapan. Dan dia memilih pondokan yang biasa ditempati oleh orang-orang golongan Kang Ouw, sebuah pondokan kecil, yang pasti tak akan menolaknya. Lalu malam jam tiga, dia mengenakan ya-heng-ie, yaitu pakaian peranti keluar malam, yang warnanya hitam dan singsat. Secara diam-diam d ia keluar dari pondoknya, untuk menuju ke rumahnya Sie Siong. Untuk itu dia telah mencari tahu terlebih dahulu. Keluarga Sie tinggal di Tiang-an, rumahnya terletak tak seberapa jauh dari istananya An Lok San.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Didalam ilmu ringan tubuh, Leng Song memang dua lipat daripada Lam Ce In. Tanpa diketahui siapa juga, dia berhasil memasuki rumahnya Sie Siong. Maka itu dengan lantas dia mendapat dengar dua orang lagi bicara, yang seorang pria, yang seorang lagi wanita. Dia lantas mengintai, hingga dia dapat melihat si pria dandan sebagai opsir, dan si wanita ialah seorang nyonya muda dengan roman sangat lesu dan kucai, sedang pakaiannya sangat sederhana. "Nyonya Louw, kau harus lekas berangkat!" kata si opsir. “Aku telah membawakan kau seperangkat pakaian pria. Sekarang ini Sie Ciangkun belum pulang, silahkan kau salin pakaian. Untuk sementara ini, aku minta sukalah kau bersedia merendahkan diri menjadi orang sebawahanku, supaya dapat aku mengajak kau pergi. Tentang puterimu, kau dapat membiarkan dia duduk di dalam kereta. Kusirku dapat dipercaya, tidak nanti dia membuka rahasia." Leng Song lantas dapat menerka siapa si nyonya muda. Itulah Louw-sie, atau Nyonya Louw dari Hoo-tong, isterinya Su It Jie. Ia belum kenal dan belum pernah bertemu juga dengan Louw-sie, tetapi dari suara panggilannya si pria, ia mengetahui pasti. Mulanya ia memikir hendak membinasakan opsir mau menemui Louw-sie, untuk memperkenalkan memberitahukan bahwa kedatangannya itu untuk tetapi mendengar suaranya si opsir, segera ia pikirannya itu. itu, baru ia diri, guna menolong, mengubah

Suaranya si opsir diluar dugaannya sekali, la menjadi heran dan girang dengan berbareng. Katanya di dalam hati, "Aku tidak sangka sekali ada orang sebawahannya An Lok San yang berhati begini mulia dan bernyali besar sekali. Sebenarnya aku http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bingung memikirkan si anak, bagaimana aku harus membawa dia menyingkir, maka dayanya opsir ini baik sekali. Baiklah, aku membiarkan dia yang menolong..." Ketika itu Nyonya Su mengangkat kepalanya. Dia nampak bimbang, sinar matanya pun penuh kedukaan. Sekian lama dia berdiam, baru dia mengasih dengar suaranya. "Liap Ciangkun, aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih untuk kebaikan hati kau ini," katanya, halus. "Cuma, jikalau aku mesti berangkat pergi, aku mesti berangkat bersama-sama suamiku." Dengan disebut shenya itu, maka teranglah si opsir Liap Hong adanya, orang yang pernah menolongi secara diam-diam pada Toan Kui Ciang. Mendengar suara si nyonya, opsir itu berpikir. "Su Sianseng sekarang masih di tahanan," kata ia sesaat kemudian. "Penjagaan di markas jenderal sangat keras, dalam waktu seperti sekarang ini, sulit untuk dia meloloskan dirinya. Maka itu baiklah nyonya berdua menyingkir terlebih dulu, nanti aku berdaya pula untuk menolong Su Sianseng..." Louw-sie menatap Liap Hong. Tiba-tiba dia menanya. "Liap Ciangkun, aku minta sukalah kau tidak mendustai aku!" katanya sungguh-sungguh. "Sebenarnya apakah sudah terjadi atas diri suamiku itu?" Agaknya Liap Hong bersangsi. "Ketika itu hari dia tiba di sini," sahutnya, ayal, "Mungkin disebabkan dia penasaran dan mendongkol, dia muntah darah beberapa kali. Sekarang dia lagi berobat." "Tentang itu aku sudah tahu," berkata Louw-sie. "Apa yang aku tanya ialah hal dia sekarang, dia sudah mati atau masih http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

hidup! Aku dengar dari-budak perempuan yang melayani aku, kemarin malam ada penyerbuan terhadap istana An Lok San. Orang hendak membunuhnya. Satu malam telah terbit onar itu, beberapa jiwa telah terhilang. Siapakah penyerbu itu? Bukankah dia Toan Kui Ciang? Apakah dia berhasil menolongi suamiku, atau apakah dia sendiri yang kena ditawan hingga dia dihukum mati bersama? Liap Ciangkun, aku mohon kau omong terus terang, jangan kau mendustai aku!" Liap Hong menggigit giginya. "Toan Toako telah mendapat luka berat," sahutnya, "Walaupun dia tidak kena ditangkap, mungkin dia sukar ditolong lagi. Tentang Su Sianseng, dia... dia... dia telah membunuh dirinya di tempat peristiwa...! Maka itu, nyonya, kau mesti lekas menyingkir, sekarang juga! Tak dapat kau mengharap Toan Tayhiap nanti dapat datang menolongi kamu!" He Leng Song yang lagi mengintai dan mencuri dengar pembicaraan mereka itu menduga, setelah mendapat kabar buruk itu, Nyonya Su bakal menangis menggerung-gerung atau dia kaget hingga dia roboh semaput. Diluar dugaannya itu, meski benar tubuh si nyonya menggetar, dia tak jatuh tak sadarkan diri. Rupanya si Nyonya Sudah menduganya. Dengan menggunai kedua tangannya, Lauw-sie bertahan kepada meja di depannya. Dia hanya menjublak sejenak, terus dia mengasih dengar tuamnya yang perlahan tetapi berat, "Aku tidak mau pergi!" Bukan main herannya Liap Hong, begitu pun Leng Song. Opsir itu pikir, begitu ia memberi keterangan yang benar itu, si nyonya bakal lantas berangkat, siapa tahu, Nyonya Su justeru menolak!

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Liap Hong lantas kata perlahan, "Sie Ciangkun mengandung maksud buruk terhadap kau, hujin. Kau... kau harus menjaga diri'baik-buik..." "Aku tahu," jawab Louw-sie. "Aku mengucap banyak terima kasih untuk kebaikan kau ini. Tapi kepunisanku sudah tetap, tak dapat itu ilirubah pula. Kecuali Sie Siong melemparkan aku, pasti aku tidak akan berlalu dari sini!" Kata-kata itu bukan melainkan diluar dugaannya Liap Hong. He Leng Siong pun tidak menyangkanya sama sekali. Maka si nona menjadi terperanjat. "Ibu membilangi aku Louw-sie berpandangan luas, kenapa sekarang dia menjadi begini keruh pikirannya?" ia berpikir. "Mungkinkah ini disebabkan asabatnya mendapatkan goncangan yang keras sekali hingga dia menjadi tak dapat berpikir jernih lagi?" Leng Song berpikir demikian, ia toh merasa aneh. Ia melihat wajah Nyonya Su wajah dari ketetapan hati, meski benar parasnya pucat. Itulah wajah yang mengandung semangat, pertanda dari suatu keputusan yang * telah dipikir matang/ buah dari pemikiran yang jernih. Mantaplah hati si nona tetapi sikapnya tenang. Sikap Louw-sie bukan sikap dari orang yang pikirannya kacau. Justeru itu terdengar suara tindakan kaki. Liap Hong menghela napas. "Oleh karena keputusan kau sudah pasti, nah, jagalah dirimu baik-baik, hujin," kata ia. Baru orang she Liap ini berlalu dari pintu samping, Sie Siong bertindak masuk. Dia lantas mengasih dengar suaranya sabar, "Hujin, ingin aku bicara dengan kau, tetapi aku kuatir http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengganggu dan membikin kaget padamu, kiranya kau belum tidur..." "Kau hendak bicara apa?" tanya Louw-sie. "Apakah aku memperlakukan kau baik?" Sie Siong tanya. "Sie Ciangkun, kau telah melindungi kami ibu dan anak," kata Louw Sie, "Kau telah tidak membiarkan kami terjatuh ke dalam tangannya An Lok San, untuk itu aku sangat bersyukur." Sepasang alisnya Sie Siong terbangun. Dia bersenyum. "Kau tahu aku bermaksud baik terhadapmu, itu bagus!" kata dia, tertawa. "Sebenarnya, hujin, aku sangat mengagumimu. Maka itu sekarang aku mau minta kau pandang rumah ini sebagai rumahmu sendiri, supaya kau tinggal di sini dengan hati tenang. Aku girang apabila aku dapat senantiasa berdekatan dengan kau..." Sembari berkata, opsir ini bertindak mendekati. Sebelum orang datang dekat, Louw-sie sudah berkata sungguh-sungguh, "Sie Ciangkun, aku minta sukalah kau ingat bahwa akulah isterinya seorang yang telah memperoleh gelaran dari Pemerintah Agung, maka itu, jikalau kau memperlakukan aku dengan aturan, dapat aku berdiam di sini, apabila sebaliknya, disinilah aku bakal menerima kematianku!" Gagah sikap si nyonya, walaupun Sie Siong seorang militer berhati keras, dia gentar juga. Bagaikan seorang hamba yang menerima firman, dia lantas menghentikan tindakannya. Tetapi, dia lantas berkata sambil tertawa manis, "Ah, mengapa berkata begini? Untukku, sudah suatu kehormatan yang besar sekali yang hujin sudi tinggal di sini! Mana berani aku memperlakukan kau kurang hormat...?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Leng Song melihat orang sukar sekali mengeluarkan katakata umpakannya itu hingga ia tertawa dalam hatinya. Louw-sie lantas menanya, "Kamu tidak mengijinkan aku bertemu dengan suamiku, apakah maksudnya?" "Oh, kiranya hujin selalu memikirkan suami hujin?" kata Sie Siong. "I'antas hujin tak dapat tidur sampai jauh malam begini. Aku kuatir hujin tak bakal bertemu pula dengan suami hujin itu..." "Kenapa begitu?" si nyonya tanya, menegaskan. "Apakah... apakah telah terjadi sesuatu atas diri suamiku itu?" Leng Song tahu Louw-sie sengaja menanyakan apa yang dia tahu, ia tak dapat menerka maksud orang. Sie Siong lantas memperlihatkan roman sangat berduka. Ketika ia menyahuti, ia berkata dengan perlahan, "Sebenarnya warta ini tak tega aku memberitahukannya kepada kau, hujin, setelah aku berpikir berulang-ulang, aku anggap lebih baik aku memberitahukan juga. Ini bukanlah suatu berita yang baik, akan tetapi mengingat hujin seorang yang cerdas, aku percaya, berita ini yang pahit getir, setelah aku sampaikan, akhirnya bakal berbalik menjadi manis..." "Sebenarnya warta apakah itu?" Louw-sie mendesak. » "Tak beruntung suamimu, hujin, dia telah meninggal dunia," sahut Sie Siong. "Suamimu itu tak sudi menurut kepada Tayswe, sudah begitu tadi malam dia berkongkol dengan orang jahat, yang datang menyerbu istana, selama satu pertempuran kacau, suamimu terkena goloknya salah seorang Busu dari Tayswe..." Sebegitu jauh Louw-sie mencegah airmatanya, akan tetapi sekarang ini ia tak sanggup menahannya terlebih jauh, ia lantas menangis tersedu-sedu. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sie Siong mengawasi. Ia melihat dalam tangisnya itu si nyonya semakin ayu dan manis, ia menjadi merasa kasihan. Maka ia kata perlahan untuk membujuki, "Hujin, orang yang telah menutup mata tak dapat hidup kembali, karena itu, selagi kau baru bersalin, baiklah kau jaga dirimu baik-baik. Tentang penghidupanmu yang bakal datang, jangan kau buat kuatir, semuanya ada aku yang nanti urus dan jamin. Bahkan jikalau kau setuju, aku ingin kau menjadi penulis pribadiku, untuk kau sekalian mendidik dan memberi pelajaran kepada anak-anakku. Tentang kematian suamimu, itu memang benar hal yang menyedihkan, tetapi orang sudah meninggal dunia, apa bisa dibilang lagi? Sebaliknya dengan begitu beres sudah urusan dia, " urusannya itu tak bakal merembet-rembet pula kepada kau! Hujin, legakanlah hatimu, kau anggaplah tempatku ini sebagai tempat kau menempatkan dirimu untuk selama-lamanya." Louw-sie mengangkat kepalanya, ia terisak. "Ciangkun, kau baik sekali," kata ia. "Tentang tawaranmu untuk aku bekerja padamu, baik belakangan saja kita bicarakan perlahan-lahan. Sekarang ini aku sebatangkara, kalau suka aku mohon Ciangkun membantui aku mengurus jenazahnya suamiku sampai dengan penguburannya." "Inilah mudah!" sahut Sie Siong cepat. "Memang aku telah mohon ijinnya An Tayswe untuk mengurusnya. Sekarang ini jenazah suami hujin telah berada di luar gedung, tinggal menantikan hujin memilih hari untuk menguburnya." Louw-sie mengangguk. Ia kata pula, "Sekarang masih ada suatu permintaanku yang kurang pantas. Kami menjadi suami isteri, karena itu sudah selayaknya aku berkabung untuk suamiku, tetapi aku di sini tidak mempunyai rumah tangga, karena itu tak tahu apakah Ciangkun sudi memberi perkenan buat aku mengatur meja abu suamiku di sini serta untuk penghabisan kalinya aku menemui suamiku itu?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Itulah permintaan yang tak selayaknya. Adalah anggapan apes atau pantangan menempatkan jenazah bukan sanak bukan kandung di rumah sendiri, tetapi Sie Siong ingin mengambil hatinya si nyonya cantik, dengan lantas ia memberikan persetujuannya. Kata ia lantas, "Hujin puteri dari sebuah keluarga terhormat dan juga menjadi nyonya yang memperoleh gelaran dari Pemerintah Agung, dari siang-siang aku telah menduga hujin bakal melakukan perkabungan untuk suamimu, dari itu tanpa menanti perintahmu, aku sudah mengaturnya semua. Mana orang?" Benarlah, dengan cepat sekali muncul pelbagai hamba yang membawa datang segala macam keperluan alat sembahyang, seperti sin-cie, hio-louw, cek-tay, lilin dan hio serta gin-coa, disusul dengan peti jenazah. Semua itu sudah lantas diatur rapi di dalam sebuah ruang di dalam gedung itu. Sedang dua orang budak perempuan membawakan pakaian berkabung. Habis menyalin pakaian, Louw-sie menyuruh membuka tutup peti, untuk ia melihat wajah suaminya untuk penghabisan kali, sembari menangis, ia kata, "Suamiku, oh, kau sungguh bersengsara..." "Sudah hujin, jangan kau terlalu bersedih" Sie Siong membujuk. Ia lantas menitahkan kedua budak menarik si nyonya, untuk dibujuki, sedang orang-orangnya diperintah lekas menutup dan memantek peti mati itu. Louw-sie menjalankan kehormatan dengan menjura dalam terhadap suaminya itu, dengan suara sangat berduka ia kata, "Seorang kesatria terbinasa untuk orang yang mengenalnya, seorang wanita memberi wajahnya untuk orang yang mencintainya, maka itu suamiku, kau dapat melakukan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tanggung jawabmu terhadap Toan Toako, aku mana dapat tak bersetia terhadapmu...?" Habis mengucap itu, mendadak nyonya ini mengeluarkan gunting dari dalam tangan bajunya dengan apa ia terus menusuk mukanya berulang kali! Sie Siong kaget bukan main. Itulah diluar dugaannya. Ia pula tak dapat berlompat untuk mencegah. Di sisinya si nyonya ada budak-budak perempuan yang ditugaskan melayaninya. Di samping itu, luka di dengkulnya bekas tikaman pedang Toan Kui Ciang membuatnya kurang leluasa bergerak. Maka ia melainkan menjublak mengawasi. Ketika beberapa budak dapat merampas gunting dari 'tangan si nyonya, muka Louw-sie sudah terluka dan berlumuran darah. P&sti sekali karena luka-lukanya itu, lenyaplah kecantikannya yang menggiurkan hati Sie Siong. Ketika itu Louw-sie meratap, "Suamiku, baiklah kau mengerti, untuk anak kita, untuk sementara aku tidak akan mati dulu, maka sudilah kau maafkan aku...!" Kemudian budak perempuan kecil yang melayani Louw-sie mempepayangnya masuk ke ruang belakang Sie Siong merasa sayang berbareng mendongkol dan gusar. Maka bagaikan gunung berapi meletus mendadak, dia deliki budak-budaknya dan mendampratnya, "Apakah kamu semua bangkai hidup? Kenapa kamu tidak mencegah? Sungguh celaka! Bagaimana ini bisa terjadi? Buat apa kamu masih berdiam saja di sini? Pergi semua!" Koanke, atau kuasa rumah keluarga Sie, tanya perlahan, "Apakah perlu diundangi tabib untuk menolong Louw-sie?" Sie Siong masih gusar, maka sebelah tangannya melayang, "Plok!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kau gila!" bentaknya. "Apakah kau hendak bikin urusan jadi diketahui umum? Pernah apa kau dengan dia maka kau menjadi repot tidak keruan?" Koanke itu lantas sadar kenapa Sie Siong sangat memerlukan Louw-sie. Tak lain tak bukan, itulah guna mengambil hatinya nyonya yang cantik itu. Sekarang si Nyonya Sudah rusak mukanya, wajahnya telah menjadi bercacad, dia tentu tak membutuhkannya pula. Setelah sadar, guna mengambil hati si majikan, ia cepat-cepat kata, "Ya, ya, aku tolol! Aku tolol sekali! Karena itu, ruang ini perlu dirombak, bukan?" Sie Siong mengulapkan tangannya. Dia justeru hendak mengatakan, "Peti matinya juga buang sekalian!" atau mendadak dia batal sendirinya. Sebab dia melihat Liap Hong bertindak masuk seraya orang she Liap itu berkata, "Aku dengar kau lagi mengurusi jenazahnya Su Cinsu, kenapa kau nampaknya begini gusar?" Liap Hong ini pernah adik misan dari Sie Siong, ia pun menjadi sebawahan. Di dalam halnya ilmu silat, Liap Hong juga jauh terlebih liehay. Banyak jasanya yang ia dapat mengandal dari bantuannya opsir she Liap ini. Karena itu, di antara rekan-rekannya, cuma Liap Hong yang dapat datang atau masuk kerumahnya tanpa pemberitahuan lagi. Sebagaimana kali ini orang she Liap itu masuk terus ke dalam, hingga dia mendengar suara bengis dari kakak misan. "Memang aku lagi sangat mendongkol karena urusan ini!" katanya sengit. "Kau lihat! Masa di kolong langit ini ada perempuan yang begini tidak tahu diri? Aku perlakukan dia mirip permaisuri atau ratu, sampai aku tak menghiraukan kesialan, ruang ini aku jadikan ruang kebaktian untuk ia terhadap suaminya, tetapi dia tak memperdulikan kebaikanku http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ini, dia cuma ingat suaminya saja! Dia kata, wanita itu cuma untuk orang yang mengerti dirinya sendiri! Begitulah, setelah suaminya mati, dia merusak kecantikannya! Hm! Hm! Kalau aku tak tahan sabar, pasti aku telah membunuhnya!" Liap Hong tertawa. "Apakah kau maksudkan Su Hujin?" dia tanya. "Kalau benar dia, harus kau ingat dialah wanita terhormat! Dia telah baca tentang wanita-wanita setia dan putih bersih, tentang kitabkitab pujangga, karenanya tak seharusnya kau memikir hendak mendapatkannya. Sekarang dia telah merusak wajahnya, dia justeru harus dipuji dan dihormati! Kenapa kau umbar napsu amarahmu? Buat apa kau membangkitkan kemarahannya? Laginya kalau kau mau menolong orang, kau mesti menolong sampai diakhirnya! Sekarang kau ganggu dia, kalau hal ini sampai teruwar, pasti orang banyak akan mencelamu! Maka itu baiklah kau membiarkan dia berkabung untuk suaminya, supaya sebaliknya kau mendapat nama harum." Sebenarnya, terhadap sikapnya Louw-sie merusak wajahnya, Sie Siong merasa sedikit kagum, maka itu, meski dia lagi mendongkol dan gusar itu, mendengar nasihatnya Liap Hong, lantas dia dapat menyabarkan diri. "Baiklah," katanya. "Dengan memandang kepada kau, suka aku memberi ijin buat dia berdiam terus di sini. Biar dia nanti mengajari ilmu surat kepada anakku..." Ketika itu, Louw-sie telah diantar ke dalam kamarnya. Oleh karena orang tahu Sie Siong, si majikan lagi gusar, tidak ada orang yang berani datang merawatnya kecuali seorang budak kecil yang mulanya Sie Siong mewajibkan mengurusnya. Budak ini baik, dia membalut lukanya si nyonya, dia telah pergi kepada seorang pengawal untuk minta obat luka. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Louw-sie meletaki kepalanya di bantal kepala. Bantal itu bersulamkan sepasang burung wanyoh atau bebek mandarin. Darahnya meleleh membuat bantal sulam itu, di betulan sulaman wanyoh, menjadi penuh darah. Dengan dia berada sendirian, nyonya ini tidak mendengar apa-apa lagi. Didalam kesunyian itu, ia kata dalam hatinya, "Pastilah orang tidak berani datang melihat aku pula. Inilah lebih baik lagi! Su-long, suamiku, kau boleh tenangkan dirimu menantikan aku..." Tiba-tiba gorden tersingkap. Tanpa terdengar tindakan kakinya, seorang nona masuk ke dalam kamarnya itu. Ia menjadi kaget. "Siapa kau?" ia tanya cepat. "Cara bagaimana kau berani menjenguk aku?" Ia menyangka nona itu salah satu budak lainnya. Nona itu menyahuti perlahan, "Ie-ie Tiap, jangan kaget, jangan takut... Aku datang untuk menolongi kau. Akulah He Leng Song. Ibuku ialah kakak misanmu, Leng Soat Bwe. Ie-ie masih ingat, bukan?" Louw-sie atau Nyonya Su menjublak bahna heran. Memang, nama kecilnya ialah Bong Tiap, artinya "Bermimpikan kupukupu". Nama itu tak ada yang ketahui kecuali teman-temannya semasa kecil serta suaminya. Sekarang nona ini mengetahuinya, bahkan ia dipanggil Ie-ie, bibi. Ia lantas menatap. Ia melihat seorang nona yang tidak dikenal, hanya roman nona ini benar mirip dengan romannya Soat Bwe, kakak misannya itu. Karena ini, ia tidak menyangsikan lagi. Ia girang berbareng kaget. Lantas ia cekal erat-erat tangan si nona.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kau mirip benar ibumu!" katanya. "Bagaimana caranya kau masuk kemari?" Perbuatan nona itu pun mengherankannya. Leng Soat Bwe gadisnya seorang pembesar, dengan Louwsie dia pernah misan. Dia kakak karena usianya lebih tua delapan tahun. Ketika Bong Tiap baru berumur sebelas tahun, Soat Bwe ikut ayahnya yang menjadi Cam-kun dari seorang pembesar berpangkat Ciat-touw-su di kota Louw-liong. Semenjak itu keduanya tak pernah saling bertemu pula. Sang tempo telah lewat dua puluh satu tahun. Semasa masih kecil itu, Soat Bwe dan Bong Tiap saling menyayangi. Sang kakak baik hatinya, sang adik cerdas. Pada masa usianya delapan atau sembilan tahun, Bong Tiap pernah dengar orang tua omong halnya Soat Bwe tak menyukai pekerjaan yang menjadi kewajiban wanita, yaitu menyulam dan lainnya, sebaliknya dia gemar ilmu silat, bahkan satu kali, ketika dia diuji dengan salah satu Busu ayahnya, dia telah merobohkan Busu itu. Hal ini Bong Tiap tak tahu pasti, maka ia tanyakan kepada kakak misannya itu, sekalian ia minta diajari ilmu pedang. Atas itu Soat Bwe sembari tertawa kata padanya, "Kau cuma mendengar ocehan mereka! Siapa bilang aku mengerti ilmu silat pedang? Yang benar aku sering mengintai para Busu lagi berlatih, dengan diam-diam aku meneladnya. Maka itu aku jadi mengerti beberapa jurus. Ayahku pembesar militer tapi orang masih mentertawakan aku yang mengerti sedikit ilmu silat, apapula kau. Buat apakah kau mempelajarinya?" Bong Tiap memang tak ketarik dengan ilmu silat, ia minta diajari separuh bergurau, maka permintaannya ditolak kakaknya itu, ia diam saja. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tak lama ayah Leng Soat Bwe memangku jabatannya, dia menutup mata di LouwTiong. Lalu sehabis itu, Bong Tiap tak mendengar kabar apa-apa lagi dari keluarga Leng itu. Ia tidak pernah menyangka kakak itu telah tersohor sebagai liehiap, wanita gagah perkasa. Ketika kemudian Bong Tiap menikah, ia seperti telah melupai kakak misannya itu. Sekarang, berselang dua puluh satu tahun, di saat ia menghadapi kemalangan ini, siapa nyana gadisnya si kakak misan muncul secara tiba-tiba. Bahkan nona itu, sang keponakan, hendak menolongnya. Leng Song sudah lantas menolongi bibinya itu mencegah darahnya keluar terus. Ia kata dengan perlahan sekali, "Ie-ie, jangan takut! Tak ada yang tahu aku datang dan masuk ke mari! Ie-ie jangan sangsi pula, mari aku gendong kau pergi!" Louw-sie menggeleng kepala. "Untukku kau sudah menempuh bahaya ini, aku sangat bersyukur terhadapmu," katanya. "Akan tetapi, aku sudah mengambil kepastian, aku tidak mau pergi dari sini!" Leng Song melengak saking heran. Dia jadi bergelisah sendirinya. "Kenapa?" tanyanya cepat. "Apakah ie-ie kuatir tak sanggup aku menggendong ie-ie keluar dari tempat berbahaya ini? Ie-ie jangan kuatir! Ilmu silatku belum dapat dibilang tinggi sekali tetapi semua Busu di sini tak ada yang aku takuti!" "Aku percaya kepandaian kau," berkata Louw-sie. "Sedarilaku kecil telah kuketahui ibumu pandai silat ilmu pedang. Kau puterinya, kau juga tentulah seorang wanita gagah. Oh, bicara tentang ibumu itu, aku dan dia telah tidak bertemu dua puluh satu tahun lamanya! Apakah ibumu baik?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Baik!" sahut Leng Song singkat. "Kapannya ibumu itu menikah?" Louw-sie menanya. "Aku tak tahu hal menikahnya itu! Bagaimana dengan ayahmu! Dimanakah dia berusaha?" Matanya si nona menjadi guram. "Ketika aku terlahir, ayah sudah menutup mata," sahutnya. "Ie-ie Tiap, inilah urusan keluarga, dapat di belakang hari kita bicarakan pula perlahan-lahan. Aku tidak mengerti kenapa ie-ie tidak piau pergi? Menurut aku, ini bukannya tempat dimana ieie dapat berdiam lebih lama pula! Benar ie-ie telah merusak parasmu, untuk mematikan hatinya si orang she Sie yang busuk itu, tetapi dimana ie-ie masih mempunyai sanak, buat apa ie-ie bernaung berlindung pada lain orang? Buat apa ie-ie berdiam di sini untuk hanya memandang cecongor orang?" Nyonya Su menyeringai, ia tertawa sedih. "Aku sudah mempunyai pikiranku sendiri!" sahutnya. "Kelak ' dibelakang hari kau bakal mengerti. Budak pelayanku bakal lekas kembali, kau pergilah lekas! Aku sangat kangen kepada ibumu, maka tolong kau tuturkan lagi pada sesuatu mengenai ibumu itu... Bagaimana caranya maka kamu mengetahui aku mendapat susah di sini?" "Semenjak aku dilahirkan, aku tinggal bersama-sama ibuku," Leng Song memberi keterangan. "Kami tinggal di dalam sebuah desa kecil'di kaki gunung Giok Liong San. Setiap hari ibu mengajari aku surat dan silat, cuma sebegitu, tak lebih, tak ada istimewa. Tahun yang baru lewat, ibu menganjurkan aku merantau. Aku telah masuk usia delapan belas tahun dan ibu bilang baiklah aku pergi mencari pengalaman, sebab kepandaian silatku sudah cukup maju. Ibu sekalian memberi tugas kepadaku, ialah untuk mencari kau, ie-ie. Pada tanggal tiga kemarin ini aku sampai di rumah engku, ipar ibuku, baru aku mendapat tahu ie-ie telah menikah dengan Keluarga Su. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru itu aku menjadi mendapat tahu juga bahwa pada tanggal satu malam, ie-ie lenyap tidak keruan paran. Engku semua menjadi bergelisah memikirkan ie-ie. Lantas aku pergi ke tempat kediaman ie-ie, untuk mencari keterangan. Kebetulan aku bertemu seorang muridnya Toan Tayhiap. Dia mengatakan bahwa juga Keluarga Toan lenyap pada tanggal dua. Murid Toan Tayhiap itu pun menyebut halnya pada tanggal satu An Lok San telah lewat di dusun ie-ie, lalu ketika dia pergi ke rumah gurunya, guna memberi selamat tahun baru, dia melihat roman gurunya guram, beda daripada biasanya. Mendengar semua itu, aku menduga bahwa lenyapnya kedua keluarga mesti bersangkut paut satu dengan lain. Ibu pernah omong padaku halnya permusuhan di antara kedua keluarga An dan Toan. Mengingat bahwa orang tentu banyak yang mengenal Toan Tayhiap, aku segera berangkat ke kota raja ini guna mencarinya. Tak usah aku menjelaskan lagi bagaimana caranya aku membuat penyelidikan, terangnya ialah aku berhasil mengetahui halnya ie-ie dibawa lari An Lok San. Kemudian lagi berkat bantuan seseorang, aku mendapat dengar perihal satu orangnya An Lok San omong tentang ie-ie ada di rumah orang she Sie ini. Sebenarnya tadi malam aku hendak datang ke mari, apa mau aku terhalang oleh suatu janji, maka itu baru sekarang aku tiba di sini!" Habis menutur itu, si nona memegang tangan bibinya itu. "Ie-ie Tiap," katanya, menambahkan, "Sebenarnya apakah maksud ie-ie? Apakah ini disebabkan ie-ie hendak membalas sakit hatinya ie-thio? Taruh kata itu benar, aku anggap paling baik ie-ie menyingkir dulu dari mulut harimau ini. Nanti bersama-sama ibuku ie-ie dapat memikirkan daya menuntut balas!" Louw-si tertawa meringis. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Pembalasan sakit hati?" katanya. "Bagaimana mudah untuk mengucapkannya! Istana An Lok San bukan seperti rumah ini! Dia mempunyai banyak pahlawan! Meski benar kamu ibu dan anak gagah perkasa, kamu yang berjumlah sedikit tak dapat melawan yang jumlahnya besar! Di samping itu, tugas menuntut balas untuk suamiku ialah tugasku sendiri! Maka itu tak dapat dalam urusan yang begini berbahaya, aku membuatnya kamu ibu dan anak nanti terembet-rembet!" "Apakah dengan berdiam di rumah Keluarga Sie ini, ie-ie dapat menuntut balas?" tanya Leng Song heran. "Dapatkah ieie membinasakan An Lok San?" Saking bingung, Nona He mengeluarkan pertanyaannya itu. Ia menyesal. "Aku lemah, tetapi aku dapat berpikir!" kata dia, suaranya dalam. "Untuk mencari balas tak selamanya orang mesti mengandalkan golok atau pedang! Aku sudah mengambil keputusannya, tak dapat itu diubah! Pergilah kau pulang, kau sampaikan hormatku pada ibumu, kau tanyakan kewarasannya! Bilangi juga bahwa aku sangat bersyukur kepadanya, bahwa selanjutnya tak usahlah ia pikirkan pula padaku..." Suara Nyonya Su parau tetapi itulah suara pasti, seperti pastinya air mukanya, meskipun muka itu mandi darah. Maka itu dia nampak menjadi keren. Sebenarnya Leng Song tidak puas, akan tetapi ia tidak sanggup mengubah lagi putusannya nyonya itu, maka ia terpaksa berdiam. Tak mau ia membujuk pula. Tapi ia tanya, "Ie-ie, masih ada apa lagi pesanmu?" "Coba kau tarik dekati aku ayunan itu," minta si nyonya. "Aku ingin melihat anak perempuanku..." Leng Song menurut. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Anak itu merasakan goncangan, dia membuka matanya, rupanya dia melihat muka ibunya lain daripada biasanya, lantas dia menangis. "Diam, manis!" Louw-sie membujuki bayinya itu, yang ia tepuk tepuk perlahan. "Jangan takut! Meski roman ibumu menakuti tetapi hatiku tetap menyayangimu!" Anak itu seperti mengerti perkataan ibunya, dia berhenti menangis. Leng Song menyaksikan itu, ia terharu bukan main. Louw-sie berpaling kepada si nona. "Mengenai Toan Tayhiap, kemarin aku mendengar satu kabaran hal dia," katanya. "Karena menolongi suamiku, dia sudah bertempur dcng.ni pahlawan-pahlawannya An Lok San dan telah terluka parah karenanya hanya entahlah, bagaimana keadaannya, dia mati atau tidak. Dapatkah k.m menolongi aku mencari dia?" "Memang aku hendak memberitahukan kau, ie-ie," kata si noua "Kemarin malam aku telah bertemu dengan Toan Tayhiap. Dia baru sa|a lolos dari istananya An Lok San. Dia menyingkir ke sebuah kuil tua..." "Habis bagaimana dengan dia?" si nyonya tanya, bernapsu. "Benar, dia telah terluka parah. Akan tetapi dia belum mati." Leng Song menjelaskan mengenai Toan Kui Ciang. Louw-sie kaget berbareng girang, hingga ia berdiam sekian lama "Kalau nanti kau bertemu pula dengannya, "Kata ia selang m"..mI "Tolong kau sampaikan sepatah dua perkataanku. Ialah kami ibu il.m .mak berada di dalam gua harimau, meski aku berkeputusan merawat anakku mi, harapanku tipis sekali, http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

segala apa sukar dipastikan dari sekarang, maka itu karena aku tidak ingin mensia-siakan puteranya, apabila pulcr.mya 'feJ sudah besar dan dewasa, baiklah dia mencarikan jodoh lainnya, supaya puteranya itu dapat menikah." Leng Song heran. "Oh, kiranya ie-ie berbesan dengan Toan Tayhiap..." kat.mya. Ketika itu terdengar tindakan kaki di luar. "Sudah waktunya kau pergi!" kata Louw-sie menghela napas. Leng Song pun menarik napas. "Ie Tiap, rawatlah dirimu baik-baik!" pesannya. "Pesanmu ini akan aku ingat baik-baik." Nona He lantas menyingkirkan diri dengan naik ke atas genteng. Segera juga budak pelayan datang bersama dua orang opsir, yang satunya ialah yang Louw-si sebut sebagai Liap Hong. Mereka itu datang membawakan obat luka buat si nyonya. Matanya Liap Hong tajam. Ia melihat sesosok bayangan berkelebat. Ia terkejut. Lantas ia menghentikan tindakannya seraya terus berkata, "Tak dapat aku masuk ke dalam kamar hujin. Siauw Hong, kau saja yang menolongi menyampaikan hormatku! Bukankah kau masih ingat caranya menggunai obat luka itu? Oh, saudara Lauw, tolong kau menjelaskannya lagi sekali!" Busu she Lauw itu menjadi pujaannya Siauw Hong, maka Siauw Hong meminta obat luka kepadanya untuk Louw-sie, kebetulan sekali mereka bertemu dengan Liap Hong. Aturan rumah tangga Sie Siong keras. Siauw Hong ketahui itu, maka ia tahu juga, ia dapat dihukum Sie Siong apabila Sie Siong ketahui ia mencari obat untuk Louw-sie. Tapi, bertemu http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dengan Liap Hong, keduanya selamat. Liap Hong ketahui maksud orang, dia suka menolongi. Ada bersama dia, sekalipun Sie Siong sendiri tak akan menghukumnya. Liap Hong membiarkan dua orang itu berbicara, ia keluar seorang diri. Setelah melihat ada orang di dekatnya, ia lompat naik ke atas genteng. Selagi ia mengawasi kelilingan, tiba-tiba ia merasakan angin menyambar, lalu ujung pedangnya Leng Song sudah diarahkan terhadapnya. Nona He lantas berkata perlahan, "Kau jangan bersuara, aku tidak mau membunuhmu!" S Liap Hong menoleh dan melengak. Ia melihat seorang nona cantik berdiri di hadapannya, pakaiannya singsat, romannya gagah. "Liap Ciangkun, aku tahu kaulah seorang baik," kata Leng Song selagi orang mengawasi padanya. "Bahkan selanjutnya aku masih mengharap segala bantuanmu untuk Louw-sie." Lega hati Liap Hong. Sekarang ia ketahui orang datang untuk menolong Louw-sie. "Jikalau Louw-sie terancam sesuatu," Leng Song memesan, "Tolong kau mengirim orang memberi kabar pada ibuku di dusun Se Kong Tin di gunung Giok Liong San. Ibuku dipanggil Soat Bwe, asal namanya disebutkan, seluruh penduduk mengenalnya. Mengenai kau, Liap Ciangkun, aku menyayangimu. Kau baik dan gagah, mengapa kau kesudian menjadi kaki tangannya orang jahat? Umpama kata dibelakang hari kau tak dapat tempat pada An Lok San, kau boleh menjauhkan diri, nanti aku membicarakan halmu kepada Toan Tayhiap, supaya Toan Tayhiap memberikan suaranya untukmu, agar dengan begitu tidaklah kaum Kang Ouw nanti memandangmu sebagai musuh." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Liap Hong terkejut mendengar si nona menyebut nama Leng Soat Bwe, sampai sekian lama baru ia dapat menenangkan diri. "Terima kasih untuk kebaikan hati kau ini, liehiap," kata ia kemudian. "Untuk Louw-sie, dimana tenagaku sanggup, aku bersedia memberikan bantuanku. Aku pun mohon bantuan liehiap, yaitu apabila liehiap bertemu Toan Tayhiap, tolong sampaikan hormatku kepadanya serta tolong mintakan maafnya yang aku terpaksa menempur padanya." "Baik!" sahut si nona. "Asal kau bertujuan menjadi orang baik, tidak nanti Toan Tayhiap memusuhkanmu!" Habis berkata, Leng Song menarik pulang pedangnya, terus ia berlompat pergi, hingga sekejab saja ia lenyap seperti asap buyar. Ia berlalu dengan hati lega tanpa merasa bahwa saking percaya pada Liap Hong, ia telah membocorkan tempat kediaman ibunya. ********* VII Sementara itu Lam Ce In yang bersama Tiat Mo Lek mengantarkan Toan Kui Ciang berangkat ke Touw Ke Ce, selama tiga hari telah dapat melakukan perjalanannya dengan hati lega. Di tengah jalan itu tidak ada terjadi sesuatu. Di hari kempat, tibalah mereka di Peng-louw. Dari situ, lagi dua ratus lie, akan tibalah mereka di tempat yang menjadi lingkungan pengaruh Touw Ke Ce. Selama itu, kesehatannya Toan Kui Ciang maju pesat. Dia dapat dahar bubur. Ce In dan Mo Lek menjadi semakin lega hati. Hari itu selagi kereta keledai jalan di jalanan pegunungan, mendadak terdengar suara mengaungnya "Hiang Cian," yaitu http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

panah yang dapat bersuara nyaring. Menyusul itu, yang menjadi suatu isyarat, dari pengkolan gunung terlihat munculnya dua orang penunggang kuda berpakaian hitam. "Ah, itulah segala bangsat cilik yang matanya buta!" kata Tiat Mo Lek tertawa. "Mereka menganggap kita seperti kambing-kambing gemuk, tak tahunya mereka melanggar dato!" Kedua penunggang kuda itu sudah lantas mengasih dengar suara, "Yang duduk di kereta itu apakah Tayhiap Toan Kui Ciang? Cecu kami mengundang Tayhiap!" Tiat Mo Lek heran. "Aneh! Orang justeru datang mengundang!" katanya seorang diri. "Dua orang ini bukan orang-orangnya ayah angkatku! Tempat; ini bukan wilayah pengaruhnya Ong Pek Thong serta di sini juga belum pernah terdengar ada mengeram penjahat asal lain tempat! Ah, siapakah mereka?" Toan Kui Ciang mendengar suara orang, ia menyingkap tenda kereta. "Aku tidak kenal dua orang itu," kata ia. "Lam Hiante, tolong kau bicara dengan mereka itu, untuk menyampaikan penolakanku." i Sebenarnya Tiat Mo Lek ingin sekali maju bicara akan tetapi Lam Ce In sudah mendahului ia, terpaksa ia berdiam diri di atas kereta, menemui Kui Ciang. "Aku numpang tanya, siapakah itu cecu kamu yang terhormat?" Ce In tanya setelah menghampirkan kedua penunggang kuda itu. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kalau nanti Toan Tayhiap sudah bertemu dengannya, tentu tayhiap akan mengenalnya sendiri!" sahut satu di antara kedua penunggang kuda itu. "Toan Tayhiap sedang sakit," kata Lam Ce In, "Kami dalam perjalanan buru-buru mengantarnya pulang ke rumah sanaknya di Touw Ke Ce, karena itu/ jikalau cecu kamu ialah sahabatnya tayhiap, justeru dari sini ke Touw Ke Ce cuma seperjalanan dua hari, silahkan minta ia berkunjung saja ke Touw Ke Ce untuk dapat bertemu satu dengan lain." Touw Ke Ngo Houw, Lima Harimau dari Touw Ke Ce, menjadi pemimpin Rimba Hijau di Utara, karena itu Lam Ce In tak sangsi-sangsi untuk bicara dengan sebenar-benarnya, bahkan ia sengaja memberitahukan itu dengan maksud menggertak agar pertempuran dapat dicegah. Kedua penumpang kuda itu tak berubah parasnya mendengar disebutnya Touw Ke Ce. Yang satu malah berkata, "Tentang Toan Tayhiap kurang sehat kewarasannya, siangsiang kami sudah mendapat tahu. Justeru karena itu maka cecu kami mengundangnya. Cecu ingin, karena pernahnya terlebih dekat, baiklah Toan Tayhiap berobat di tempat kami saja." Yang lainnya lantas menambahkan, "Nama besar Toan Tayhiap telah lama kami dengar, sungguh kebetulan hari ini tayhiap lewat di sini maka itu biar bagaimana, kami harus dapat mengundangnya datang ke benteng kami untuk bertemu dengan sekalian saudara kami!" Lam Ce In orang Kang Ouw ulung, mendengar suaranya kedua orang, ia lantas bisa menduga bahwa orang yang disebut "Cecu," ketua benteng, oleh dua orang ini pasti mengandung maksud tidak baik terhadap Toan Kui Ciang. Bahkan dia mesti musuh. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Rupanya musuh hendak merampas Kui Ciang selagi Kui Ciang sakit, supaya Kui Ciang tidak dapat membantui Touw Ke Ce. Ia pun percaya, cecu itu sebenarnya tak bersahabat dengan Kui Ciang. Kalau tidak, tidak perlunya dia tak mau muncul sendiri atau pun mengirimkan saja kartu namanya. Walaupun demikian, ia masih dapat berlaku sabar. "Cecu kamu baik sekali, kebaikannya itu diterima oleh Toan Tayhiap," berkata ia. "Tetapi keluarga Touw itu sanaknya, sudah selayaknya dia harus pergi dulu kepada sanaknya itu untuk membuat pertemuan. Tayhiap lagi sakit, tak dapat ia bertemu dengan kamu, tuan-tuan, maka itu dia telah memesan padaku untuk meminta kamu menyampaikan pada cecu kamu, andaikata cecu kamu itu tidak dapat berkunjung ke Touw Ke Ce, nanti saja setelah sembuh, tayhiap akan pergi berkunjung kepada cecu kamu itu." Dua penunggang kuda itu mengasih lihat roman tawar. "Benarkah Toan Tayhiap mengatakan demikian?" kata yang satunya. "Baiklah, anggap saja demikian jawabannya atas undangan kami! Tapi kami menerima perintah cecu, maka itu kami sendiri yang minta tayhiap suka menemui cecu kami!" Habis berkata begitu, orang itu berseru, maka lantas dari pelbagai rumpun rumput dan aling-alingan batu besar terlihat keluarnya kawanan berandal dengan semuanya membekal senjata masing-masing. Lam Ce ln menjadi mendongkol, maka dengan menerbitkan suara nyaring, ia menghunus golok mustikanya, lalu dengan goloknya itu ia menuding kedua penunggang kuda tersebut. "Apakah perbuatan kamu ini bukannya menyulitkan orang?" ia menegur. "Kamu memaksa, baiklah! Karena kamu menghendaki begini, aku Lam Pat, suka aku mewakilkan Toan Tayhiap melakukan perjalanan ke benteng kamu itu! Hanya http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

terlebih dahulu baiklah kamu tanya golokku ini dia suka mengijinkan aku pergi atau tidak! Orang kamu sudah kumpul atau belum? Silahkan mereka maju berbareng!" Dua orang itu terkejut mendengar disebutnya nama Lam Pat, mereka mengawasi sekian lama, lantas mereka saling memandang. Cuma sebentar, keduanya tertawa lebar. "Kiranya Lam Tayhiap dari Gui-ciu!" kata yang satu. '''Maaf, kami benar-benar kurang hormat! Hanya, Lam Tayhiap, suararriu barusan ternyata memandang enteng sekali kepada kami! Kami orang-orang tak ternama, tak berani kami menempur kau satu dengan satu, tetapi juga benar kami bukannya bangsa kurcaci, yang gemar akan kemenangan main keroyok, maka itu, kebetulan kami berdua saudara pernah mempelajari semacam ilmu golok, justeru ada ini ketika yang bagus, ingin kami mohon tayhiap memberi pelbagai petunjuk kepada kami! Apakah tayhiap sudi? Atau kalau tayhiap menganggap permohonan kami ini tidak adil, nah silahkanlah itu saudara kecil she Tiat yang berada di atas kereta datang kemari untuk bermain bersama-sama! Kami tahu bahwa kami bakal kalah, tetapi kami akan rela menerima kekalahan kami itu!" Ce In tertawa dingin. "Jikalau tuan-tuan pasti ingin menempur kau si orang she Lam, tentu selalu suka aku menemani!" kata ia. "Tuan-tuan maju satu orang, akan aku menyambut dengan sebatang golokku ini, andaikata tuan-tuan maju berdua berbareng, aku akan menyambutnya dengan ini golok sebatang juga!" Dua penunggang kuda itu lompat turun dari kudanya masing-masing. Keduanya tertawa keras. "Benar-benar Lam Tayhiap orang gagah perkasa!" kata yang satu. "Baiklah, kami berdua saudara akan mempertunjuki kejelekan kami! Tetapi, tayhiap, tak sanggup kami menerima http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kata bertempur dari tayhiap barusan, kami cuma mohon pengajaran. Karena golok tayhiap sangat tajam, kami juga mohon sukalah tayhiap berlaku murah hati!" "Kata-kata yang bagus! Kata-kata yang bagus!" Ce In berseru. "Tuan-tuan, jangan kamu terlalu merendah! Karena kamu cuma ingin melatih ilmu silat kamu dengan aku si orang she Lam, baiklah, mari kita main-main hanya sampai batas saling towel, jadi di antara kita tak ada soal siapa kalah siapa menang!" Kedua orang itu menghunus golok mereka. "Silahkan tayhiap memberikan pengajaran!" katanya. "Eh, tunggu dulu!" mendadak Ce In berkata. Dua orang itu heran hingga melengak. Ce In memasuki goloknya ke dalam sarungnya, ia menoleh ke arah kereta untuk berkata nyaring, "Mo Lek, mari kita tukar golok kita!" Ia pun meloloskan golok dari pinggangnya, terus dilempar ke kereta. Mo Lek menyambuti dengan heran. Toan Kui Ciang sambil rebah kata perlahan, "Mo Lek, serahkan golok di pinggangmu kepadanya!" Kui Ciang sebagai juga Ce In, adalah bangsa "Tayhiap," orang gagah sejati, maka itu dengan golok mustika atau pedang mustika, mereka tak sudi membinasakan segala orang tak ternama, tetapi kedua lawan ini telah menyebut mereka tak mau main keroyok, jadi Ce ln tak suka pakai golok mustikanya itu.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Terpaksa Mo Lek melepaskan goloknya dan melemparkannya pada Ce In. Lam Pat menyambuti golok untuk terus berkata kepada kedua lawan, "Tuan-tuanlah tuan rumah, karena tetamu tak dapat berlaku lancang, silahkan tuan-tuan yang mulai!" "Baik!" sahut dua orang itu. "Kami menurut perintah! Kami cuma minta tayhiap suka memberi maaf dan tak berlaku sungkan!" Habis itu keduanya mulai menyerang. Mereka itu mencekal golok, satu di tangan kiri, satu di tangan kanan, masing-masing dibantu jeriji tangannya yang kosong. Golok mereka tadi dicabut dengan berbareng dengan suara "Srett!" yang nyaring. Ce In heran kapan ia sudah melihat cara orang menyerang. Nyata ia salah menyangka. Tadinya ia menduga orang ialah orang-orang tak ternama, tak tahunya serangan mereka itu lantas menjadi hebat, suatu tanda mereka itu pandai sekali menggunai goloknya masing-masing. Liehay Lam Ce In! Di saat golok menghampirkan batok kepalanya, ia bersiul keras dan nyaring, rubuhnya pun bergerak, goloknya diangkat ke atas, menyambut serangan dahsyat itu! "Tranggg!" demikian suara yang nyaring, hingga dua kali. Dengan begitu juga terpisahlah golok-golok mereka. "Bagus!" dua orang itu memuji. Tapi, meski mulut mereka memuji, berdua mereka maju pula, guna mengulangi serangan mereka, dari kiri dan kanan. Yang satu dengan golok di tangan kanan, yang lain dengan golok di tangan kiri. Rapat dan erat

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

penyerangan mereka itu, pula sempurna caranya mereka membela diri. Tiat Mo Lek menonton dari atas kereta, ia kagum'.dan berkuatir... Tiga buah golok berkelebatan hebat sekali, turuh dan naik sangat pesat, la tidak menonton lebih lama lagi atau mendadak ia terkejut sendirinya. Kata ia dalam hatinya, "Bukankah mereka itu berdua yang dipanggil Im Yang Too, itu dua saudara Cio yang kesohor? Pantas mereka ketahui namaku!" Dua saudara Cio itu, yang sulung bernama It Liong dan yang bungsu It Houw. Mereka biasa bekerja dalam dunia Hek Too atau Jalan Hitam, berusaha tanpa modal. Untuk wilayah Se Liang, mereka dikenal baik sebagai "Tok Kak Too" atau " Begal Kaki Tunggal". Itu artinya begal yang biasa bekerja sendiri, tanpa kawah lain orang. Hanya di dalam halnya mereka ini, mereka berdua saudara bekerja sama. Di waktu bertempur, mereka pun masingmasing, mencekal golok di tangan kanan dan di tangan kiri. Disebabkan sifat si kakak lebih licik dan si adik lebih terbuka, mereka dijuluki Im Yang Too itu, ialah si "Golok Im" dan si "Golok Yang". Tiat Mo Lek turunan leluhur penjahat, semasa hidupnya ayahnya, Tiat Kun Lun, ayah itu bersama-sama Touw Leng Ciok dan Ong IVk Thong mendapat julukan "Lok Lim Sam Pa" atau "Tiga Jago Lok 1 im (Rimba Hijau)''. Karena itu, ia kenal baik banyak penjahat, atau sedikitnya pernah mendengar nama saja. Dalam hal ini, ia lebih menang daripada Lam Ijer In tak perduli berpengalaman... Mengetahui orang ialah Im Yang Too, Mo Lek menjadi berkualu untuk kawannya itu. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Paman Lam tak kenal asal-usulnya dua saudara Cio ini, dia kena diakali!" katanya dalam hati. "Begitulah Paman Lam tak menggunai gnloV mustika hanya memakai golok biasa saja!" Berbareng dengan itu, bocah she Tiat ini juga heran mengenai II Liong dan It Houw. Sebagai Tok-kak-too, dua saudara itu tersohor ilal.tm Jalan Hitam, selalu mereka bekerja berdua, tak pernah mereka bei kawan lain orang, maka itu heran sekarang mereka muncul dan bekerja bual apa yang disebut "Cecu," ketua benteng atau rombongan penjahat lainnya Pikirnya, "Apa mungkin mereka sudi merendahkan diri bekerja di bawah perintah lain orang dan rela menjadi hanya tauwbak, pemimpin sebawahan?" Lam Ce In bertempur hebat dengan dua saudara Cio itu. (a>luk mereka terus berkilauan, tubuh mereka berlompatan, sebentar iapal sebentar bercerai. Mereka bergerak dengan pesat dan lincah sekali Mala orang biasa jadi kabur melihati golok-golok berkeredepan. Seru d.m l.uua mereka bertempur, Mo Lek menjadi tambah berkuatir. Tengah si bocah bingung, ia dikejutkan bentakan Lam Ije In disusul dengan suara beradunya keras senjata mereka itu, lalu bertiga mereka mencelat mundur masing-masing, terpisah satu dari lain! Parasnya dua saudara Cio menjadi pucat lalu guram. Mereka mendapatkan goloknya masing-masing tinggal separuh, sebab golok mereka itu pada buntung kutung! Lam Ce In di lain pihak berdiri tenang, hanya dengan menyekal terus goloknya, terus ia menjura, sembari memberi hormat itu, ia kata tenang, "Terima kasih sudah suka mengalah! Sekarang dapatkah kami dibiarkan berlalu bersamasama kereta kami?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ce In mengurungi goloknya kedua lawan sedang goloknya sendiri golok biasa, tak heran ia membuat musuh-musuhnya menjublak. Mereka itu kagum dan heran. Itulah bukti bahwa tenaga dalamnya jauh terlebih mahir. Kawanan penjahat semua mengulur lidah dan matanya mendelong... Setelah sunyi sejenak maka dari antara tumpukan-tumpukan batu yang kacau terdengar siulan nyaring dan lama, menyusul mana terlihat munculnya orang yang bersiul itu. Dialah seorang yang berusia masih sangat muda, ditaksir baru lebih kurang dua puluh tahun, roman dan dandanannya mirip pemuda pelajar, sedang di tangannya terdapat sebuah kipas, yang ia pakai mengipas perlahan tak hentinya. Hanya, apabila diawasi terlebih lama, nampak dalam kehalusan macam itu tersembunyi sifatnya licik atau sesat. Ketika mulanya dua saudara Cio memegat kereta, sampai berkumpulnya semua kawan penjahat, orang muda itu tak nampak, jadi teranglah dia baru tiba. Lam Ce In heran. Ialah orang ulung dan berpengalaman dan waspada. Sekalipun tengah berkelahi, ia masih mengambil kesempatan akan kadang-kadang melirik ke sekitarnya, dan telinganya dipasang juga. Sejak tadi tak pernah ia melihat anak muda itu, tak pernah ia mendengar tindakan kaki. Jadi, sedari kapan anak muda itu tiba di situ? Begitu melihat pemuda pelajar itu, kawanan berandal bertempik sorak. Mereka girang bukan main. Cuma dua saudara Cio yang mukanya berubah menjadi merah saking jengah. Mereka melemparkan golok buntung mereka, akan berkata sukar kepada si pemuda, "Siauw-cecu, kami berdua saudara menyesal...!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Anak muda itu sebaliknya, tertawa manis. "Memang mana bisa kamu mengganggu Lam Tayhiap?" katanya. "Biarlah aku sendiri yang memaksa mengundangnya!" Ia mengangkat kipasnya, ia menghadapi Ce In sambil tertawa, terus ia kata, "Kami mengundang dengan sesungguhnya hati, apakah benar-benar Lam Tayhiap dan Toan Tayhiap tak sudi memberi muka kepada kami?" "Siauw-cecu mengundang kami berulang-ulang, kami sangat berterima kasih," menjawab Ce In, "Hanya menyesal sekali, tak dapat aku menerima undangan cecu, terpaksa aku mesti menampik. Sekarang ini Toan Tayhiap lagi sakit dan isterinya lagi mengharap-harap kedatangannya di Touw Ke Ce! Tentang itu tadi telah aku jelaskan pada kedua hio-cu dari perbentengan siauw-cecu. Aku mohon dimaafkan saja." Pemuda itu melirik, dia tertawa. "Sungguh sayang aku sendiri yang telah meminta leng-cian perintahan!" kata dia. "Karena itu, tak dapat tidak, mesti aku mengundang Lam Tayhiap beramai! Bagaimana sekarang? Lam Tayhiap, maafkan aku, ingin aku mengutarakan sesuatu yang kurang pantas. Tak perduli tayhiap beramai ingin lekas-lekas melanjuti perjalanan kamu tetapi pasti aku mesti menahan kamu!" Hati Ce In menjadi panas. Itulah paksaan! Tak sudi ia dipengaruhi orang. "Baiklah!" ia menjawab dalam murkanya, suaranya keras. "Jikalau siauw-cecu mempunyai kepandaian untuk menahan kami, persilahkan! Sekarang ini percuma kita ngoceh saja!" Anak muda itu sabar sekali, dia tertawa pula. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Sungguh tayhiap jujur dan polos!" katanya. "Baik! Hendak aku mengandali kipasku ini untuk main-main sejurus dua jurus dengan tayhiap!" Menutup kata-katanya itu, ia maju seraya lantas menyerang! Dengan ditutup, kipas si anak muda bergerak sebagai poankoan-pit, senjata yang merupakan alat tulis. Jadi itulah senjata peranti menotok jalan darah. Yang di arah pula jalan darah kinceng dari Lam Ce In. Cepat dan lincah tangan pemuda itu bergerak. "Pantas dia jumawa, kiranya liehay ilmu totoknya," pikir jago she Lam ini, "Dia tak ada dibawahan U-bun Thong!" Karena ini, sahabatnya Toan Kui Ciang ini berlaku sabar dan waspada. Ketika kipas mengancam, ia tidak lekas-lekas menangkis atau berkelit mundur atau nyamping. Sebaliknya ia menanti. "Lepas tanganmu!" ia berseru ketika serangan tiba. Ia menyambut dengan belakang golok, menghajar senjata orang itu. Berbareng dengan itu, si anak muda juga berseru, "Lepas tanganmu!" Itulah sebab tanpa menanti kipasnya dibikin terpental, dia sudah membaliknya, buat dipakai menempel belakang golok lawan. Kedua senjata bentrok keras, lalu kipas si anak muda terpental, hanya kipas itu tak lepas dari cekalan. Golok Ce In sendiri tak bergeming. Dengan begitu orang she Lam ini menang unggul sedikit sekali, hingga lebih surup apabila mereka dikatakan seimbang. Anak muda itu tidak kaget, dia bahkan tertawa. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Dua-dua tak melepaskan tangannya!" katanya, gembira. "Mari lagi! Mari lagi! Kita coba pula!" Dan dia menggeser tubuhnya maju, tindakannya yang pertama ke samping, lalu disusul dengan tindakannya yang kedua, maka juga dilain saat dia sudah berada di sebelah belakang lawannya, untuk dengan sama gesitnya mengulangi serangannya, kembali menotok jalan darah! Hanya kali ini dia mengarah jalan darah Hong-hu. Punggungnya Lam Ce In seperti ada matanya, ia lantas menyampok ke belakang, menangkis sambil menyerang. Senjatanya panjang, senjata lawan pendek, maka itu sebelum ujung kipas si anak muda mengenai sasarannya, goloknya sudah mendahului memapas ke lengannya anak muda itu. Pemuda itu terkejut, dia lantas menarik pulang tangannya, kipasnya diputar naik, guna disingkirkan. Pundaknya pun dikasih turun. Akan tetapi dia masih terlambat sedikit. Senjata mereka berdua bentrok dengan mengasih dengar suara nyaring. Ia kaget karena telapakan tangannya terasa nyeri. ^ "Ilmu golok yang bagus!" dia memuji sambil dia lompat mundur tiga tindak. Lam Ce In telah memutar tubuhnya, dengan lantas ia maju menyerang. Ia seperti tidak mau mengasih hati. Dengan begitu ia mencegah si anak muda dapat berlompat mundur lebih jauh, dia mesti melayaninya walaupun dia menjadi repot. Terus Ce In mendesak. Ketika ia membacok dengan jurus "Menghajar gunung Hoa San," ia berseru keras. Goloknya menyambar dengan mengeluarkan suara angin menderu. "Bagus!" berseru si anak muda. Dia berkelit dengan mendak, habis itu dia lompat mencelat dengan jumpalitan jauhnya satu

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tombak. Nyata dia gesit sekali dan nyalinya besar, walaupun terdesak, hatinya tetap tabah. Penyerangannya Ce In itu dilakukan dengan tenaga delapan bagian, tetapi si anak muda menggunai tipu huruf "Lolos," dia dapat menyelamatkan dirinya, karena itu, dia lolos dengan kipasnya tak terlepas dari cekalan. Biar bagaimana Ce In kagum. "Dalam dunia Kang Ouw sekarang ini muncul orang-orang muda yang liehay," katanya di dalam hati. "Dulu hari sewaktu usiaku sebaya ini, aku tidak seliehay dia ini..." Tengah orang memikir demikian, si anak muda menggunai ketika untuk menyerang. Dia tak menjadi kapok atau takut. Dia maju sambil berlompat. "Benarkah kau hendak mengadu jiwamu!" tanya Ce In keras. Ia menegur sambil membabat ke bawah, guna memapas kedua kaki lawannya. Melihat datangnya bahaya itu, si anak muda mengangkat kedua kakinya. Sambil membebaskan diri itu, dia menyerang terus, mengarah alisnya lawan. Dia menotok jalan darah yangpek. Itulah hebat. Itulah perlawanan mati hidup bersama. Kalau Ce In menyerang terus, ia bisa berhasil, sebaliknya, alisnya bisa tertotok. Ia bersangsi, karena ia anggap ia bukan menghadapi musuh besar. Disamping itu ia merasa suka kepada si anak muda untuk kegesitan dan nyali besarnya. Demikian ia menarik pulang goloknya, sambil menangkis, ia mundur. Si anak muda benar berani dan bandel. Justeru lawan itu mundur, justeru dia merangsak. Dia membalas menyerang.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Mau atau tidak, Ce In mesti main mundur. Keras rangsakan anak muda itu. Kalau Ce In menyayangi si anak muda itu, anak muda itu sebaliknya. Dia justeru hendak membuat nama Ce In yang sudah tersohor sebagai seorang petualang besar, sebagai jago pengembaraan, ingin dia merobohkannya. Supaya dia menggantikan mendapat nama besar itu. Dia masih muda dan baru saja muncul, kalau dia dapat pecundangi seorang jago tua, tidakkah namanya naik seketika? Itulah sebabnya dia berani berlaku nekad, untuk roboh bersama. Pemuda itu berpikir demikian. Tak dia pikir lebih jauh bahwa percuma dia mengadu jiwa secara begitu. Ce In bisa terluka, tapi sama-sama terluka, dia yang lebih celaka. Sebab dia pasti bakal buntung kedua kakinya! Tak gunanya kalau dia menjadi bercacad tak dapat berjalan. ---ooo0dw0oo--Jilid 7 Hal ini dia ingat belakangan, maka diam-diam mengeluarkan keringat dingin di punggungnya. dia

Walaupun begitu, keras sekali niatnya merobohkan Ce In, dia sangat bandel dan berani. Tanpa menghiraukan bahwa orang memikir baik untuk dirinya, dia mulai dengan penyerangannya pula, untuk mendesak sekali. Kembali Ce In menjadi repot. Kipas si pemuda sebentar dibuka sebentar ditutup. Dibuka kipas itu bergerak seperti golok memapas, ditutup seperti alat peranti menotok jalan darah. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kipas itu terbuat dari baja dan tulang-tulangnya dibikin berujung tajam. Lam Ce In menjadi sengit. Ketika ia sedang diserang, ia berseru dengan bentakannya. Ia diarah lengannya. Sambil berseru itu, ia menolak keras. Si anak muda terkejut, dia terhuyung tiga tindak, terus dia muntah darah. Akan tetapi Ce In pun tidak bebas seluruhnya. Ujung kipas mampir juga di lengannya, hingga lengannya itu menjadi borboran darah. Kawan-kawan si anak muda terkejut mendapatkan tuan mudanya terluka, sambil berseru-seru mereka maju. "Semua mundur.'" membentak si anak muda, hingga orangorangnya itu merandek. Ia bertindak dengan tindakan "Naga'melingkar" menghampirkan Ce In, sedang kipasnya dibuka. Sambil maju itu, ia kata dingin, "Sama-sama kita telah mandi darah, tetapi kita belum kalah atau menang, keduanya tidak rugi, maka itu, mari maju, mari kita bertempur pula!" Ce In memindahkan goloknya ke tangan kiri. "Baik!" ia menjawab tantangan. "Kau begini bandel, akan aku membikin kau dapat mencapai cita-citamu! Jikalau didalam batas seratus jurus aku tidak berhasil mengalahkan kau, aku puas, suka aku mengaku kalah! Selama seratus jurus ini, siapa terluka, bercacad atau mati, dia terserah kepada nasibnya!" Sebagai seorang jago, Ce In mengasih dengar suaranya itu, dengan begitu berarti ia memandang lawan muda itu sebagai lawan seimbang.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Habis muntah darah, mukanya si anak muda menjadi pucat, akan tetapi mendengar suara Ce In, mendadak wajahnya bercahaya, dia tertawa lebar dan kata nyaring, "Lam Tayhiap, aku justeru menghendaki kata-katamu ini!" Lantas dia menyerang. Ce In menangkis, terus ia menangkis hingga tiga kali. Ia kata, "Bagaimana kalau kau roboh didalam seratus jurus itu?" Si anak muda dapat menerka hati orang, dia menyahut sambil tertawa, "Paling juga aku menyerahkan nyawaku padamu! Kita berdua bertanding, inilah urusan kita, sedang urusan ayahku mengundang orang, itulah urusan lain, keduanya itu tak dapat dicampur menjadi satu!" Dia melihat langit, lantas dia teriaki orang-orangnya, "Sang sore bakal tiba, kamu tak usah menantikan lagi pertempuranku ini dengan Lam Tayhiap, jangan menunggui sampai siapa kalah dan siapa menang, lekas kamu menyambut Toan Tayhiap pulang ke benteng!" Suara itu didengar, maka orang-orangnya menyahuti lantas bergerak ke arah kereta. itu sambil

Lam Ce In menjadi mendongkol dan gusar sekali. Nyatalah orang sangat licik. Itu pula berbahaya untuk Toan Kui Ciang, yang baru mulai segar. Mana dapat Kui Ciang menyambut serangan sedang Tiat Mo Lek bersendirian? Karena gusarnya, ia menyerang hebat, goloknya seperti tak mengenal kasihan. Sayang ia mesti menggunai tangan kiri. Sebaliknya si anak muda, dia dapat bergerak dengan leluasa dengan kipasnya yang liehay itu. Bahkan dia mendesak seru. Tiat Mo Lek melihat orang meluruk ke arahnya. Begitu serangan datang, sembari duduk di atas kereta, ia membabat. Untungnya ia memakai golok mustika dari Ce In. Maka juga dua http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

batang tombak serta sebatang golok lantas lantas terbabat kutung goloknya itu. "Majulah, siapa tidak takut mampus!" ia berseru. Ia pun mendongkol. Cio It Liong tertawa. Kata dia, "Saudara Tiat, aku memandang mata pada mendiang Tiat Cecu, tak memikir aku untuk mempersulit kau! Bukankah kau pun orang Jalan Hitam seperti kami? Tak tahukah kau aturan Rimba Hijau kita, kalau kita mengundang tetamu, apabila tetamu itu tidak datang, itulah suatu pantangan besar? Hari ini Toan Tayhiap menjadi tetamu kami yang utama, kamu berdua ialah tetamu tukang menemani, karena itu, benarkah kau tidak hendak minum arak pemberian selamat hanya menginginkan arak dendaan?" Tiat Mo Lek tertawa dingin, la menjawab, "Cio Lotoa, tak kusangka kau masih mempunyai kulit muka untuk bicara denganku perihal aturan Rimba Hijau! Kaulah orang Rimba Hijau kelas satu, kenapa kau suka menjadi gundal orang? Ya, itu pun masih tidak apa! Kau sudah mewakilkan majikanmu mengirim surat undangan. Surat undangan sudah ditolak, kalau toh undangan hendak diulangi, si pembawanya mesti lain orang, orang yang baru, kau mesti mengalah!" Mukanya orang she Cio itu menjadi merah. Tajam perkataannya si bocah. Maksudnya itu membilang, tadi dia kalah oleh Ce In. Karena kalah, dia tak berderajat buat terus mewakilkan majikannya "Mengundang tamu". Sebagai jago Rimba Hijau, yang mengerti aturan kaumnya, tak berani dia maju pula. Sebaliknya seorang penjahat lain, yang tubuhnya tinggi dan besar, lantas menggantikan dia. Dia ini berkata nyaring, "Baiklah, aku yang menggantikan menjadi wakil untuk http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengundang tetamu! Tiat Siauw-cecu, aku minta sudi apakah kau memberi muka padaku!" Kata-kata itu dibarengi dengan serangannya. Dia menggunai sebuah gembolan tembaga yang berat. Senjata itu menyatakan bahwa dia memiliki tenaga yang besar sekali. Tiat Mo Lek masih berdiam di atas keretanya, ia tidak merdeka. Tak dapat ia bergerak kesana kemari atau berlompatan. Atas datangnya serangan, terpaksa ia menangkis. Benar ia menggunai golok bnustika tapi golok itu tak dapat menebas gembolan yang tebal. Maka itu tangannya tergetar dan kesemutan, ngilu dan nyeri. Syukur ia telah memperoleh tak sedikit petunjuk dari Toan Kui Ciang dari itu ia mengerti ilmu "Meminjam tenaga untuk menghajar tenaga" Demikian goloknya meleset ke pinggiran gembolan, terus nyerempet baju lawan, hampir ujungnya mampir di tulang selangka. Sayang ia masih kurang latihan, kalau tidak, senjata musuh bisa terlepas karena dia terlukakan parah. Penjahat itu gusar sekali, maka dia mendamprat, "Bocah, kalau begitu benar kau menghendaki arak dendaan! Baiklah, mari'kita tak berlaku sungkan-sungkan lagi!" Dia lantas mengulangi serangannya, yang hebat. Dua penjahat lain pun maju guna mengepung, masingmasing menggunai ruyung baja dan roda besi, semua senjatasenjata yang tak mudah terbabat kutung. Dengan begitu Mo Lek lantas menjadi terdesak. Selagi begitu, Toan Kui Ciang menyingkap tenda kereta, rubuhnya menyender di senderan. Ia melihat jalannya pertempuran, ia kata nyaring, "Tiat Mo Lek, berhenti! Mereka itu datang untukku, biarlah mereka datang padaku!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Penjahat yang mencekal gembolan tertawa. "Dasar Toan Tayhiap orang yang mengerti suasana!" katanya. "Sebenarnya kami mengundang tayhiap dengan maksud hati yang sungguh-sungguh!" Ia maju mendekati, sebelah tangannya diulur, maksudnya buat memimpin orang yang terluka parah itu. Kui Ciang kata tawar, "Aku si orang she Toan, aku dapat menerima yang lunak tetapi tidak yang keras! Kau ini menarik tetamu, bukannya mengundang! Maka pergilah kau suruh majikanmu sendiri datang ke mari!" Penjahat itu tak memandang mata pada Kui Ciang. Orang, lagi sakit. Memang dia memimpin untuk menarik. Dia tak tahu Kui Ciang seorang cerdik Ketika tangannya nempel dengan tangan si sakit itu, dia kaget bukan main! Kui Ciang berlaku sangat sebat. Ia memutar tangannya dan menangkap, tenaganya berbareng dikerahkan. Segera tangan si penjahat meretek, sebab tulangnya patah seketika, hingga dia menjerit kesakitan keras sekali, gembolannya terlempar mengenai dua kawannya hingga mereka itu terluka. Kedua kawannya orang itu kaget tetapi mereka lantas menyerang Kui Ciang. "Pergi kamu!" Kui Ciang membentak sambil kedua biji matanya mencilak sedang tangannya diulur. Ia menyampok roda besi hingga senjata istimewa itu terpental membentur ruyung kawannya! Perlawanan Kui Ciang ini sebenarnya berbahaya. Ia lagi berkelahi sambil duduk, tak merdeka dia untuk menggeraki kakinya.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Hebat bentroknya senjata kedua penjahat itu. Yang tersampok terpental, yang terbentur terpental juga, maka keduanya roboh bersama, tubuh mereka terlentang. Mo Lek tertawa melihat kesudahan itu. "Bagus! Bagus!" ia memuji. Semua penjahat mundur sendirinya. Kaget dan jeri mereka menyaksikan Kui Ciang demikian Iiehay. Sekarang si orang she Toan menghunus pedangnya, sambil terus bersender, ia kata keren, "Tuan siapa lagi yang mau maju menyampaikan surat undangan?" Setelah makan obat beberapa hari Kui Ciang maju baik, tapi ia perlu beristirahat, siapa tahu sekarang ia justeru menggunai tenaga berlebihan, maka itu setelah melayani ketiga musuh itu, ia merasakan darahnya mendesak naik dan matanya pun berkunang-kunang cuma berkat hati yang kuat, dapat ia mempertahankan diri. Ia berseru untuk menggertak saja. Penjahat-penjahat lainnya dapat digertak, tidak persaudaraan Cio. Mereka orang Rimba Hijau ulung. Mulanya saja mereka kaget, lantas mata mereka yang tajam dapat melihat tegas wajahnya Kui Ciang. Mereka juga mendengar suara orang kekurangan dorongan tenaga dalam. Itulah tanda luka yang belum sembuh betul. "Maju!" mereka berteriak seraya bersiul. Kawanan penjahat lantas maju lagi, mengurung kereta. Cio It Liong malu untuk maju pula, ia berbisik pada kawannya yang bersenjata ruyung. Penjahat itu kelihatan girang, lantas dia maju ke depan. ^ Kata dia pada Kui Ciang, "Toan Tayhiap, karena kau tak sudi memberi muka kepada kami, harap kau maafkan kami terpaksa http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berlaku tak sungkan lagi! Kawan-kawan, hayo maju! Pakailah senjata rahasia!" Hebat anjuran yang berupa perintah itu. Lantas semua penjahat itu mengeluarkan senjata gelap mereka, seperti golok terbang, kim-chie-piauw, panah tangan dan bandring. Semua senjata itu meluruh ke arah si sakit. Untuk menjaga diri, Kui Ciang putar hebat pedangnya. Tak dapat ia menggeraki tubuh untuk berkelit. Sudah bagus ia cepat sekali dapat menyalurkan napasnya. Tiat Mo Lek kaget berbareng gusar. Ia maju ke depan Kui Ciang, guna mengalingi. Ia putar goloknya guna menghalau setiap senjata rahasia. Ia kata nyaring, "Oh, kawanan bangsat hina dina! Sungguh kamu membikin ludas muka terang jagojago Rimba Hijau!" Penjahat yang memegang ruyung tertawa. "Tiat Siauw-cecu!" katanya, "Kau sendiri tidak menghormati, mana dapat kau menyesalkan kami? Jangan kau takut! Umpama kata kau terluka, nanti aku obaVi kau...!" Ketika itu Mo Lek luput dengan penjagaan dirinya. Dua panah tangan mengenakan padanya dan sebutir batu mampir di dahinya hingga dahi itu luka mengeluarkan darah. Syukur kawanan penjahat ingin menangkap hidup padanya, mereka itu tidak menggunai racun. "Mo Lek, kau masuk ke dalam kereta!" Kui Ciang menitahkan melihat bocah itu terluka. Si bocah tidak mau masuk, dia tetap bertahan. Tepat itu waktu terdengar suara larinya kuda, yang mendatangi, tempo kuda telah datang dekat, terlihat

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

penunggangnya, seorang.nona, bahkan dialah Nona He Leng Song. Nona He lantas melihat pertempuran di antara Lam Ce In dan si anak muda, ia rupanya merasa heran maka ia mengasih dengar suara "Ai!" perlahan. Si anak muda, yang lagi berkelahi itu, melihat juga si nona, mukanya lantas berubah, ia pun mengasih dengar seruan "Ai!" itu. Tapi ia lagi didesak Ce In, ia repot membela diri, tak sempat ia berpikir lainnya. Si nona juga melihat kereta lagi dikurung penjahat dan Tiat Mo Lek repot bukan main, maka itu, kalau tadinya ia mau menghampirkan Ce In, sekarang ia merubah haluan, ia larikan kudanya ke arah kereta. Kawanan penjahat melihat datangnya orang baru, mereka menyangka pada musuh, lantas mereka menyambut dengan pelbagai senjata rahasia mereka. Leng Song kuatir kudanya terluka dengan satu lompatan "Ikan emas menyerbu gelombang," ia lompat turun dari binatang tunggangan itu, sembari berlompat, ia menghunus Ceng Song Kiam, dari itu dengan pedangnya itu ia membela diri, menangkis serangan, hingga ramailah terdengar suara membentur pelbagai senjata gelap itu. Semua penjahat heran, mereka terkejut. Justeru begitu si nona maju terus, menghampirkan mereka sampai dekat, hingga selanjutnya tak merdeka mereka menggunai terus senjata rahasia. Si nona juga bergerak dengan lincah ke segala penjuru, hingga ia membikin musuh menjadi bingung. Setiap pedangnya ditusukkan, atau ditabaskan, tentu-tentu ada musuh yang

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menjerit kesakitan atau terhuyung dengan senjatanya lepas dari tangannya. Ilmu silat pedang Nona He liehay dan luar biasa siapa terkena itu tentulah dia terluka dan senjatanya terlepas dari tangannya tapi dia tanpa terluka parah kecuali rasa nyerinya yang mengagetkan dan mengecilkan hati. Seorang penjahat dengan golok besar menjadi gusar. Dia merangsak maju. Dengan lantas dia membacok si nona. Dia ingin menghajar terlepas pedangnya nona itu. Leng Song berkelit, terus ia menikam. Tapi lawan itu kosen, dia bisa berkelit juga. Atas itu Nona He maju pula. Ia lantas menggunai tipu silatnya yang liehay. Mulanya ia menggeser ke kiri, guna dapat menyerang dengan tepat. Penjahat itu melawan dengan baik, ketika ia menangkis, senjata mereka beradu keras. Akan tetapi kali ini, begitu senjata beradu, begitu si penjahat berkaok kesakitan. Diluar kesanggupannya membela diri, dengkulnya kena dipapas, maka robohlah dia, bahkan tubuhnya terguling, terus ke kaki gunung! Rombongan musuh menjadi takut, mereka lantas lari bubar. Persaudaraan Cio sudah menukar senjata mereka, ketika mereka melihat suasana buruk itu, dengan terpaksa mereka maju mengepung Nona He. Nona ini liehay, ia melawan dengan gagah, apamau ia mendapatkan dua saudara itu dapat bersilat bersatu padu, serangannya yang berbahaya dapat dihalau. Mereka itu terus mengurung rapat. "Mo Lek, kau bantui nona itu!" kata Kui Ciang, yang menyaksikan pertempuran main keroyok itu.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kawanan penjahat tak lari semua, masih ada yang dari jauh menyerang dengan senjata rahasia mereka, tetapi sekarang Kui Ciang bisa membela dirinya. Senjata rahasia itu tak sebanyak tadi dan dipakai menyerang dari jarak jauh, ancaman bahayanya kurang. Haji Mo Lek panas, maka itu, mendengar perintahnya Kui Ciang, ia lantas lompat turun dari kereta, guna menceburkan diri dalam pertempuran. Tiga lukanya tidak menyebabkan dia letih. Dua saudara Cio bukannya lawan Leng Song, cuma kalau Mo Lek tidak datang, mereka masih dapat bertahan sekian lama, sekarang dengan munculnya si bocah liehay, mereka lantas keteter. Mo Lek juga memakai golok mustikanya Ce In. Mulanya golok sebatang dari Cio It Houw tertabas golok si bocah. It Houw kaget. It Liong melihat gelagat, dia lantas tarik tangan saudaranya itu, buat diajak menyingkir dari gelanggang. Mo Lek mau menghajar, tetapi si nona mencegah ia. "Musuh kabur tak usah dikejar!" kata nona itu, tertawa. "Adik kecil, kau ampuni mereka itu!" Si nona lantas menoleh, akan memandang pertempuran Ce In dengan si anak muda. Pertempuran berjalan tetap seru, hanya semenjak munculnya si nona, si pemuda nampak gelisah. Rupanya dia ingin lekas menghentikan pertempuran, dia mencoba mendesak hebat pada musuhnya. Berulang kali dia menggunai jurus yang membahayakan. Ce In gagah, dia berpengalaman, dia dapat melihat keadaan lawan. Dia senang mendapatkan dia diserang hebat itu. Dia melayani dengan sabar, sembari dia mencari ketika. Dengan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

lincah dia mengeluarkan ilmu golok "Yu Sin Toan Bun Too". Dia bergerak mundur, agaknya dia terdesak. Si anak muda mendapat lihat orang-orangnya kena dipukul mundur, ia jadi tambah gelisah. Satu kali mendadak ia berseru, "Akan aku adu jiwaku denganmu!" dan terus ia menyerang keras berulang kali. Meski didesak hebat, selang enam atau tujuh jurus, Lam Ce In justeru tertawa nyaring dan kata, "Bagus!" Dengan begitu mulailah serangan membalasnya. Maka lekas juga si anak muda berbalik terdesak. "Lam Tayhiap, tahan...! Tahan...!" seru Leng Song akhirnya. Justeru itu ujung golok si orang she Lam telah mampir di pundak si anak muda, melukai panjang lima dim, hingga darahnya mengucur. Syukur ada seruan si nona, kalau tidak, tak dapat golok itu ditahan. Ce In jadi membenci pemuda itu, hingga ingin ia menghajarnya hingga bercacad. Walaupun ia menang, di dalam hatinya Ce In mengeluh sendirinya. Kemenangannya itu didapat di dalam jurus yang ke lima puluh satu. Inilah diluar dugaannya. Pikirnya, "Kalau dia tak bergelisah, mungkin sampai seratus jurus belum bisa aku merobohkannya..." Anak muda itu lompat keluar gelanggang, mukanya merah. Dia memegang kipasnya sembari menjura dan berkata, "Ilmu silat golokmu ilmu silat yang bagus sekali! Aku berterima kasih dapat menerima pengajaran kau ini! Karena gunung hijau dan air biru itu kekal adanya, sampai lain kali kita bertemu pula!" Kata-kata yang pertama ditujukan kepada Lam Ce In, akan tetapi di waktu mengakhirinya, pemuda itu memandang Nona He, atas mana bibir si nona bergerak, hanya batal ia http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengucapkan sesuatu, sebab si anak muda sendiri sudah lantas lari kabur. Ia nampak bingung... Lam Ce In menyerahkan goloknya kepada Tiat Mo Lek, untuk ditukar dengan goloknya sendiri. Ia sebenarnya heran tetapi ia kata pada si nona, "Nona, terima kasih banyak untuk bantuanmu!" Mo Lek heran, tak dapat ia menahan diri. "Nona He, apa nona kenal penjahat itu?" dia tanya. Muka si nona merah, ia menjawab likat, "Pernah aku bertemu dia satu kali, kita bukannya sahabat satu dengan lain..." Ce In heran tetapi ia tidak berani menanyakan. Sampai disitu, ketiganya bertindak ke kereta. Toan Kui Ciang sudah menanti, begitu orang tiba, ia menanya, "Inikah Nona He?" Leng Song menyahuti, "Ya," lalu ia memberi horrhat dengan merangkap kedua tangannya kepada Kui Ciang. Ia pun lantas rrienanyakan kewarasannya Kui Ciang kepada siapa ia memanggil pehu, paman tua. Melihat nona itu, Kui Ciang teringat kepada Pek Ma Liehiap Leng Soat Bwe, Jago Wanita Kuda Putih. Sekarang ia dipanggil pehu, kesangsiannya lantas lenyap. "Bukankah ibumu she Leng dan namanya Soat Bwe?" ia tanya terus terang, tanpa ragu-ragu. Leng Song kembali menyahuti, "Ya," lalu ia tertawa dan kata, "Setiap orang membilang bahwa aku mirip ibuku, ternyata Toan Pehu melihatnya sama!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang berdiam sejenak. Ia terganggu kesangsian lainnya. Tapi akhirnya ia menanya juga, "Aku belum menanyakan tentang ayahmu..." "Ayahku she He asal dari Louw-liong," sahut si nona, "Namanya ialah Seng To. Ketika aku dilahirkan, ayah sudah menutup mata..." Kui Ciang heran hingga ia berpikir, "Ketika itu malam mereka menikah, baru saja He Seng To masuk dalam kamarnya, dia lantas nampak bencana, kenapa sekarang bisa terlahir anak dara ini? Merekalah pemuda gagah perkasa dan nona gagah putih bersih, tidak nanti sebelumnya pernikahannya dilangsungkan, mereka sudah terlebih dahulu main gila... tidak nanti!" Masih ada satu lagi, yang menambah keheranannya Kui Ciang. Menyebut-nyebut ayahnya itu, Leng Song tak berduka luar biasa. Kalau dia tahu bencana yang merampas jiwa ayahnya itu, tak nanti dia tak minta bantuannya untuk mencari balas untuk ayahnya itu. "Mungkinkah ibunya belum menuturkan pada dia tentang nasib ayahnya itu?" ia berpikir terlebih jauh. "Dia telah menjadi dewasa begini, kenapa ibunya masih merahasiakannya?" Tak dapat Kui Ciang memecahkan keragu-raguannya itu, bahkan sebaliknya, ia menjadi semakin heran. Leng Song pun heran melihat sikap diam dari Kui Ciang itu, hanya selagi ia hendak berbicara, orang telah mendahuluinya. "Sekarang ini ibumu berada di mana?" tanya Toan Tayhiap. Nona itu tidak segera menjawab, ia agak bersangsi. "Dulu hari itu aku sering ada bersama ayah dan ibumu," Kui Ciang kata pula. "Kitalah sahabat-sahabat kekal."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ibu memang pernah membicarakan urusan persahabatannya dengan pehu," si nona kata akhirnya. "Hanya sekarang ini setelah hidup menyembunyi banyak tahun, ibu tak memikir pula untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Ibu meminta aku menyampaikan hormatnya kepada pehu serta mohon sukalah pehu memaafkannya." Kui Ciang heran sekali. Maka bertambahlah keheranannya. Katanya di dalam hati, "Kenapa Soat Bwe tak mau menemui sekalipun aku? Mungkinkah karena kecelakaannya dulu itu dia menjadi tawar, hati, sampai pun sakit hati suaminya dia tak memikir untuk membalasnya?" Kui Ciang tahu tak perlu dia menanyakan terlebih jauh tentang ibu orang. Hanya sebentar, ia menukar haluan. Ia tanya, "Katanya kau berniat membinasakan Se-gak Sin Liong Hong-hu Siong, entah buat urusan apakah itu?" "Ibu membilangi aku dialah hantu kepala yang tak ada kejahatan yang tak diperbuatnya!" menjawab si nona. "Maka itu aku dipesan untuk membinasakannya guna menyingkirkan satu bencana dunia Kang Ouw!" Keterangan ini bersamaan saja dengan keterangannya ketika baru-baru ini si nona berikan kepada Lam Ce In, cuma sekarang dia tidak membawa-bawa urusan yang menyangkut dirinya sendiri. Kui Ciang berpikir. "Apa yang ibumu bilang tidak salah, Hong-hu Siong memang orang busuk," kata ia, "Maka kalau kita menyingkirkan dia untuk keselamatan dunia Kang Ouw, itulah tugas kita kaum pembela keadilan. Tapi Hong-hu Siong itu gagah luar biasa, ilmu silatnya tinggi sekali, kau seorang diri, aku kuatir kau bukanlah lawan setimpal dari dia. Jikalau ada tempat untuk bantuanku, suka sekali aku membantu padamu, hanya http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sekarang belum dapat. Sekarang ini di hadapanku ada suatu urusan sangat penting, yang harus diselesaikan. Apakah tak lebih baik kau sekarang turut aku pergi ke Touw Ke Ce? Kau tunggu sampai kesehatanku sudah pulih seluruhnya dan aku juga telah selesai dengan urusan yang aku sebutkan ini, nanti aku temani kau mencari Hong-hu Siong!" "Terima kasih atas kebaikan pehu," berkata si nona. "Hanya ibu memesan aku bahwa lebih baik aku menyingkirkan dia dengan tenagaku sendiri, tak usah aku mohon bantuan lain orang. Pehu, urusan yang kau hendak selesaikan itu telah aku ketahui. Nyonya Su telalj memesan beberapa kata-katanya untuk disampaikan kepada pehu..." Kui Ciang terkejut. "Jadi malam itu kau benar-benar telah menyateroni istana An Lok San?" ia tanya. He Leng Song tertawa. "Tidak!" sahurnya. "Aku hanya pergi ke gedungnya Sie Siong. Bangsat she Sie itu tergila-gila dengan kecantikan Nyonya Su, untuk itu dia telah minta si nyonya dari An Lok San!" Kui Ciang gusar sekali hingga ia mengayun tangannya menghajar kereta. "Kurang ajar!" teriaknya. "Jikalau aku tidak dapat membalas sakit hatinya Su Toako dan Su Toaso, aku sumpah tak mau menjadi orang!" Habis mengumbar napsu amarahnya itu, Kui Ciang menjadi reda sendirinya. Ia berbalik menjadi berduka.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Su Toaso dari keluarga sastrawan yang terhormat, mana dapat dia menerima kehidupan semacam itu?" katanya. "Perihal itu pehu tak usah buat kuatir," Leng Song memberi penjelasan. "Ie Tiap-ku itu sudah ketahui Sie Siong berniat jahat terhadap * dirinya, dia mendahului merusak mukanya. Maka itu meski benar dia sekarang berada di tempat berbahaya, kesucian dirinya dapat terjamin." Lebih jelas Leng Song tuturkan apa yang terjadi malam itu di gedung Sie Siong sebagaimana yang ia saksikan sendiri. Kui Ciang, Ce In dan Mo Lek menggoyang-goyang kepala dan menarik napas, masgul, berduka dan kagum. Bahkan Ce In sambil menunjuki jempolnya, memuji, "Pasangan gagah dan terhormat itu membuatnya orang kagum!" "Nona He, barusan kau memanggil apa pada Nyonya Su?" Kui Ciang menegasi. "Ie-ie," menerangkan Nona He. "Ibuku ialah kakak misannya. Namanya Tiap, maka itu aku memanggilnya Ie Tiap." "Dengan begitu kamu jadinya bersanak dekat," kata Kui Ciang. "Dulu-dulu aku tidak mengetahuinya. Karena ini kau tentunya telah menerima pesan ibumu untuk menolongi ieiemu itu bukan?" "Bukan," sahut Leng Song. "Sudah lama ibu hidup menyendiri, telah putus segala hubungannya dengan pihak luar, hanya benar sekalian keluar, aku dipesan untuk menyerepi kabar tentang Ie-ie Tiap itu. Aku telah tiba di dusun dimana pehu tinggal bersama-sama Su Cinsu, setelah menyelidiki barulah aku ketahui peristiwa yang sebenarnya. Memang, setelah bertemu dengan ie-ie, aku hendak menolongnya menyingkir dari tempat berbahaya itu. Sayangnya ie-ie tidak mau ditolongi." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang heran hingga ia tercengang. "Bagaimana, dia tak sudi pergi dari tempat berbahaya itu?" tanyanya. "Benar! Bagaimana juga aku bicara, ie-ie tak dapat dibujuk!" Kui Ciang heran tak kepalang. "Sungguh gelap pikiran!" ia ngoceh seorang diri. Ia mengerutkan alisnya. Lalu ia kata, "Su Toaso wanita sejati, dia mengambil keputusan begitu, pasti dia telah mempunyai rencananya! Apakah ada lain pesannya lagi kepada kau untuk disampaikan padaku?" "Ie-ie ada menyebut urusan kamu berdua keluarga yang telah berjanji berbesan satu dengan lain," kata Leng Song. "Ieie membilangi aku, karena kedudukannya itu, ia tak tahu bagaimana nanti jadinya kelak di kemudian hari, maka itu ie-ie kata, umpama kata putera pehu sudah dewasa, apabila ada jodohnya yang cocok, ie-ie menganjurkan pehu bolehlah menikahkannya." Kui Ciang menghela napas. "Dalam kedudukannya sebagai itu, dia masih memperhatikan anakku," katanya, berduka. "Sungguh dia baik sekali. Tapi tak perduli apa jadinya dengan dia dan puterinya itu, jodohnya anak-anak kita itu tak nanti aku putuskan!" Ia berdiam sebentar, lantas ia menambahkan, "Nona He, jikalau kau tidak mempunyai lain urusan, marilah kita berangkat bersama! Hari akan lekas sore, kita harus berangkat sekarang, supaya sebentar kita tak gagal mendapatkan pondokan." Leng Song berdiam, ia nampak bersangsi. "Terima kasih, pehu," katanya sesaat kemudian. "Aku masih mempunyai sedikit urusan lagi, tak dapat aku berangkat http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bersama. Touw Ke Ce cuma kira duaratus lie dari sini, baiklah lagi beberapa hari aku berkunjung ke sana." Mendengar begitu, Kui Ciang tidak berani memaksa. Maka kedua pihak lantas berpisahan. Kui Ciang mengawasi orang berlalu dengan menunggang kudanya, di dalam hatinya timbul pelbagai ingatan, halnya diilu hari ia bersahabat dengan orang tuanya nona gagah ini... ********* VIII JLje In mengendarai kereta keledai melakukan perjalanannya, selang dua hari tiba sudah ia di kaki gunung Hui Houw San di wilayah kota Yu-ciu. Hui Houw San berarti Gunung Harimau Terbang, nama gunung itu cocok dengan gelaran kelima saudara Touw, yaitu Touw-ke Ngo Houw, atau Lima Harimau Keluarga Touw. Macamnya gunung mirip lima ekor . harimau lagi menongkrong, keletakannya berbahaya seperti biasanya gunung lainnya. Sampai itu waktu, Toan Kui Ciang telah sembuh seluruhnya. Itulah berkat setiap hari tiga kali ia makan obat pulung. Ketika itu sudah lewat tujuh hari. Bahkan sekarang tenaganya bertambah melebihkan sebelum ia terluka itu. Ia menyangka Ce In memberikan ia makan obatnya Mo Keng Lojin, karena tidak diberitahukan, tak tahu ia bahwa obat ialah obatnya Se-gak Sin Liong Hong-hu Siong, si Naga Sakti dari Segak, gunung Hoa San. Selagi kereta memasuki jalan gunung, di mulut gunung mereka sudah dipapak Touw Leng Ciok, yang dari siang-siang telah memperoleh kabar. Sembari tertawa nyaring ketua Hui Houw Sein itu kata, "Kau menantu dari Keluarga Touw, http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sekarangkau dapat diminta datang! Sudah sepuluh tahun kau pergi, tak pernah kau memberi warta sedikit jua!" Toan Kui Ciang datang membantui Keluarga Touw bukan disebabkan keinginannya sendiri, sekarang dia telah datang, mau atau tidak ia mesti bicara ramah dengan sang toaku, iparnya yang paling tua itu, begitu pun dengan Leng Hu. Begitulah atas penyambutan Leng Ciok itu, ia menghaturkan maafnya, karena ia sudah datang terlambat. Kemudian ia menanyakan jelas duduknya pertempuran sekalian ipar itu melawan Ceng Ceng Jie. Leng Ciok mengasih lihat tangan kirinya. "Syukur semua jerijiku ini tidak terpapas habis!" katanya tertawa. "Meski begitu, kami toh kena dirobohkan!" Yang hilang ialah dua jeriji. Melihat itu, hati Kui Ciang berdenyut. "Kebetulan kau datang sekarang, moayhu!" kata Leng Hu. "Janji waktu yang diberikan Ong Pek Thong bersama Ceng Ceng Jie tinggal empat hari lagi. Sebenarnya adik Sian dan yang lainnya berkuatir menantikanmu, kuatir terjadi sesuatu di tengah jalan, syukur kau telah tiba dengan tidak kurang suatu apa!" "Justeru di tengah jalan telah terjadi sesuatu!" berkata Kui Ciang, tertawa. "Syukur ada saudara Lam Pat ini yang menolong melindungi, jikalau tidak, tak dapat aku nanti menemui Ceng Ceng Jie..." Ia lantas mengajar kenal Ce In dengan sekalian iparnya. Baru sekarang Touw Leng Ciok semua ketahui, kawan iparnya itu ialah Lam Ce In atau Lam Pat yang tersohor, maka itu, mereka menjadi sangat girang. Kata Leng Hu, "Dengan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

adanya kamu berdua suami isteri dan dibantu Lam Tayhiap, kita tak usah kuatirkan lagi Ceng Ceng Jie!" Lam Ce In tertawa. "Aku datang untuk menonton keramaian saja, aku tak berarti apa-apa!" katanya. Selagi bicara itu tibalah mereka di muka perbentengan dimana mereka lantas disambut oleh Touw Sian Nio dan tiga saudara lainnya. Belum sebulan Kui Ciang berpisah dari isterinya tetapi pertemuan ini membuat mereka girang berbareng terharu. Itulah sebab ia seperti sudah mati hidup pula. Sian Nio juga berduka mendengar kebinasaannya Su It Jie, sang besan, serta Nyonya Su dan anaknya tak dapat ditolongi. Tanpa merasa, ia mengucurkan airmata. "Sekarang ini kamu bantulah dulu kami," berkata Touw Leng Ciong. "Setelah kita berhasil mengalahkan Ceng Ceng Jie, kami semua nanti turut kamu pergi mencari An Lok San serta Sie Siong semua, guna membuat perhitungan! Kita sudah berkumpul sekarang, baik kita tidak omong lagi hal yang mendatangkan kedukaan!" -. "Moayhu," tanya Leng Hu, "Kau bilang di tengah jalan kau bertemu begal, apakah di antaranya ada satu begal muda yang bersenjatakan kipas besi peranti menotok jalan darah?" Kui Ciang heran. "Bagaimana kau ketahui itu?" ia balik menanya. "Kami pun telah bertemu dengannya di tengah jalan!" sahut Leng Hu tertawa. "Bocah itu liehay sekali, jikalau bukan Liokmoay ada beserta, aku bukan tandiangan dia itu!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang lantas menoleh kepada isterihya. Dari sinar matanya, nyata ia seperti menyesali dan merasa berkasihan. Ia seperti mau membilang, "Bukankah kau baru habis melahirkan anak? Bukankah tak selayaknya kau menggunai terlalu banyak tenaga? Mana dapat kau melakukan pertempuran?" Meski begitu, suami ini ketahui baik sekali untuk membantu saudaranya, isteri itu tidak dapat tidak turun tangan. Dengan sinar matanya itu ia menunjuki-berapa besar ia menyintai sang isteri. Touw Leng Hu dapat membade hati iparnya itu. Dia tertawa lebar. "Liok-moay, suamimu begini menyayangi kau, pantas juga kau hampir melupai rumah orang tuamu!" katanya. Kemudian ia berpaling pada iparnya, untuk menambahkan, "Moayhu, kau jangan kuatir. Sama sekali adikku tidak menempur musuh itu, bahkan ia pun tak berkisar dari keretanya. Ia cuma mengandalkan panahnya dengan apa ia memukul mundur kepada musuh! Anak muda itu liehay sekali, sesudah dihajar tiga kali, baru dia mundur!" Ilmu panah pelurunya Touw Sian Nio belum pernah dipertunjuki semenjak ia menikah dengan Toan Kui Ciang, sampai Kui Ciang sendiri belum tahu sampai dimana liehaynya, maka itu mendengar keterangan iparnya itu, suami ini kaget berbareng girang, ia girang sekali. Touw Leng Hu tertawa. "Semasa hidupnya ayah dahulu," ia kata, "Ayah sudah berlaku berat sebelah! Semua kepandaian yang berarti dari ayah telah diwariskan kepada Liok-moay! Dialah si burung Hong-hong Keluarga Touw, dan kami kelima Harimau tak dapat melawan sekor Hong-hong!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Koko, kau berlelucon terhadapku!" kata Sian nio tertawa "Bagaimana dengan ilmu tameng Kun Goan Pay kau yang terdiri dari liga puluh enam jurus itu? Ilmu itu tak dapat aku pelajarkan!" "Sudah! Sudah!" Leng Ciok menyela sama tengah. "Kalau kamu bicara terus-terusan, tak lebih tak kurang, kamu main memuji satu pada lain! Apakah itu tak akan membikin orang tertawa sampai giginya copot f" "Memang juga begal muda itu liehay sekali!" Lam Ce In turut bicara. "Dia dapat menyambuti tiga buah peluru dari enso, aku juga kagum terhadapnya!" Demikian orang memuji ilmu panah peluru Sian Nio, akan tetapi Nyonya Kui Ciang sendiri tidak girang karenanya, bahkan ia nampak berduka, akan tetapi orang menyangka ia merendahkan diri. Cuma Kui Ciang yang mengenal baik hati isterinya, ia tahu isterinya berduka benar-benar. Rupanya ada sesuatu yang membuat isteri itu bersusah hati. Ia melainkan belum tahu, urusan apa itu. Karena itu, hatinya menjadi tidak tenang. "Tahukah kamu siapa pembegal muda itu?" kemudian Leng Ciok tanya. "Baru dua hari yang lalu aku mendapat tahu tentangnya." "Apakah dia sebawahannya Ong Pek Thong?" Kui Ciang tanya. "Bukan melainkan orang sebawahan, bahkan puteranya!" sahut Leng Hu. "Kabarnya Ong Pek Thong mempunyai cuma seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan," kata Leng Ciok, "Dan katanya pula semenjak masih kecil mereka itu sudah diperintah berguru pada lain orang. Anak laki-lakinya itu baru saja pulang http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dari perguruan." Mendengar itu, hati Kui Ciang bercekat. Kalau si pemuda sudah liehay, setahu bagaimana keliehayan dari guru anak muda itu. "Jangan-jangan bentrokan ini bakal jadi meluas," pikirnya. "Bagaimana nanti akhirnya? Kapankah aku bakal dapat menjauhkan diriku?" Kui Ciang lantas disambut dengan sebuah jamuan. Ce In dan Mo Lek turut hadir bersama. Habis bersantap, baru ia dapat bertemu dengan leluasa dengan isterinya di dalam kamar mereka. "Engko Ciang," kata Sian Nio sambil menarik napas, "Kau datang untuk membantu saudara-saudaraku, buat itu aku sangat faersyukur, hanya aku kuatir, urusan keluargaku ini bakal merembet-rembet kau..." "Mulanya memang aku tidak niat datang ke mari," Kui Ciang bilang, "Akan tetapi aku telah berjanji dengan kakakmu, maka urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kau sendiri. Kita menjadi suami isteri, mengapa kau bicara begini?" "Engko, coba kau lihat dulu surat ini," kata Sian Nio, perlahan sekali. Dan ia menyerahkan sepucuk surat. Kui Ciang menyambuti, untuk dibuka dan dibeber. Surat itu ditujukan kepada Touw Sian Nio sendiri. Nyonya itu diberi nasehat untuk membujuki suaminya jangan campur urusan Keluarga Touw itu. Katanya itulah untuk melindungi nama baik dari Kui Ciang, supaya kedua pihak tidak sampai bentrok hingga ada kemungkinan dua dua roboh dan celaka. Surat itu tidak memakai nama dari si pengirim. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Dari mana datangnya ini?" tanya Kui Ciang setelah ia berdiam sejenak. "Diantarnya kemari kira-kira jam tiga semalam," sahut Sian nio. "Ketika itu aku lagi tidur nyenyak. Mendadak aku mendengar satu suara di dalam kamar. 'Aku berlompat bangun. Nyata orang sudah berlalu,hanya di bantal kepalaku, aku mendapatkan surat ini. Kau lihat di belakangnya <ida lagi tulisannya." Kui Ciang menurut. Ia membalik surat itu. Ia melihat hurufhuruf yang ditulis cepat, suatu tanda surat itu baru ditulis setibanya orang di dalam kamar. Bunyinya ialah, "Aku mengambil tusuk kundai sebagai peringat.m saja! Besok suamimu bakal tiba di sini, maka itu, bakal terjadi mara bahaya atau keberuntungan, semua itu terserah kepada kamu suami isteri berdua1 Baik-baiklah kamu menimbangnya!" Kui Ciang terperanjat. "Apa...... apakah kau kehilangan tusuk kundai kemala itu?" ia tanya isterinya. "Bukannya tusuk kundai kemala naga-nagaan yang menjadi landa mata," sahut sang isteri. "Itulah tusuk kundai kemala yang aku biasa pakai setiap hari." Kui Ciang menghela napas. "Bagus!" katanya. "Kalau yang lenyap ialah tusuk kundai naga nagaan itu, malu kita terhadap Su Toako. Apakah kakakkakakmu ketahui urusan surat dan tusuk kundai kemala itu?" "Aku belum memberitahukan mereka. Mereka sangat mengharap harap kedatanganmu, engko, mereka sebagai http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mengharapi mendung di waktu musim kering, jikalau mereka mendapat tahu, pasti mereka bakal bersusah hati. Pasti sulit untuk mereka, mereka menahan kau atau tidak..." Sian Nio berhenti sebentar, baru ia menambahkan, "Surat ini membilang kau bakal tiba hari ini, mulanya aku ragu-ragu mempercayainya Maka itu aku terus berdiam saja menunggui kau. Aku pikir untuk nanti berdamai dengan kau, engko. Sekarang, bagaimana pikiranmu?" Diluar dugaan, Kui Ciang berkata gagah, "Kita suami isteri, mana dapat kita digertak orang? Seperti aku sudah bilang, sebenarnya aku tidak ingin terlibat dalam urusan Jalan Hitam ini, akan tetapi dengan adanya surat ini, sekarang aku mengambil keputusan untuk berdiam di sini, aku bersedia menempur Ceng Ceng Jie dan Khong Khong Jie!" "Kalau begitu, kau benar!" berkata isteri itu. "Aku duga inilah suratnya Khong Khong Jie! Katanya dia menjadi kakak seperguruan dari Ceng Ceng Jie dan sangat kesohor kepandaiannya sebagai pencuri, di kolong langit ini tanpa lawan..." "Aku juga pernah dengar perihal dia. Sekarang terbukti liehaynya itu. Meski begitu, kita jangan takut, cukup asal kita berlaku waspada." Sian Nio berani seperti suaminya itu. "Dengan kau berada di sisiku, walaupun ada musuh yang terlebih liehay, aku tidak takut," katanya, perlahan tapi tetap. "Kau belum lihat anak kita, pergilah kau melihatnya! Tahukah kau hari ini hari apa? Hari ini justeru hari ulangnya satu bulan!" Kamarnya Sian Nio ini bertetangga dengan sebuah kamar lain yang dipakai untuk bayinya. Leng Ciok pun menyediakan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dua orang bujang perempuan guna mengurus anak itu. Maka juga, buat melihat anaknya, Kui Ciang mesti pergi ke kamar yang satunya itu. Kebetulan anaknya lagi tidur nyenyak. "Anak kita sehat sekali," kata Sian Nio. "Selama satu bulan ini, belum pernah ada alamatnya dia menderita penyakit sesuatu. Aku tidak tahu bagaimana wajah tunangannya..." Menyebut tunangan anaknya, Sian Nio dan suaminya ingat Keluarga Su, dengan lantas mereka jadi berduka. Malam itu, suami isteri itu bicara lebih banyak pula. Masingmasing menjelaskan pengalamannya sendiri sejak mereka berpisah kira satu bulan itu. Sampai jam lima masih mereka belum tidur. Justeru itu mendadak mereka mendengar satu suara dan melihat sesuatu yang putih menyambar masuk dari mulut jendela! Suami isteri itu selamanya waspada. Dengan sebat sekali Sian nio sudah menyerang dengan seraup jarum rahasianya, sedang Kui Ciang dengan pedang terhunus menyusul berlompat keluar, terus naik ke atas genteng. Sian Nio pandai menggunai senjata rahasia, lebih-lebih jarum rahasia bwe-hoa-ciam dan panah peluru kim kong sin-tan, maka sungguh diluar dugaannya, jarum rahasianya itu tidak memberi hasil apa-apa, tak ada suaranya sama sekali, suatu tanda orang tak terlukakan sekalipun dengan sebatang jarumnya. Di atas genteng, Kui Ciang tidak melihat apa-apa. Ketika memandang ke sekitarnya, ia mendapatkan suasana sunyi, benteng Touw Ke Ce sedang tidur pulas, kecuali di depan dan di belakang dengan tentu-* tentu terdengar suara si orangorang ronda.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia heran, ia menjadi penasaran. Ia lantas mengempos tenaga dalamnya, guna mengasih dengar suara dengan "Toan Im Jip Bit," ilmu meminjam suara halus tetapi jauh terdengarnya. Ia tanya, "Kalau kau mempunyai nyali untuk datang ke mari, kenapa kau tidak mempunyai nyali untuk membuat pertemuan?" Suara itu tidak mendapat penyahutan, ada juga selang sejenak, dari jauh terdengar suara "Hm!" beberapa kali, suara tertawa dingin, yang disusuli dengan ini kata-kata, "Tak usahlah kau terlalu keburu napsu...!" Suara itu pun halus, tetapi orangnya tak nampak. Menurut dugaan Kui Ciang, orang yang berbicara itu sudah meninggalkan benteng Touw Ke Ce kira satu lie jauhnya! Dengan cepat Sian Nio menyusul suaminya, berdiri di belakang suaminya itu. "Dia tak dapat disusul lagi!" kata suami itu, menyeringai. "Ilmu ringan tubuh dia jauh melebihkan kepandaian kita berdua!" "Dia bukan cuma liehay ilmu ringan rubuhnya," kata sang isteri. "Coba kau lihat..." "Apa?" tanya Kui Ciang, heran. "Kau lihat!" kata sang isteri, "Apakah kau mendapatkan sebatang jarum juga di tanah atau di atas genteng ini? Teranglah dia telah menyambuti seraup jarum rahasiaku itu! Entah ilmu apa itu yang dia telah gunakan..." Kui Ciang menginsafi kata-kata isterinya itu.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Karena kita tidak dapat menyusul dia, mari kita kembali ke dalam," ia mengajak. "Kita lihat dia mengantar apa lagi untuk kita......" Sian Nio menurut, maka keduanya lompat turun dari genteng, terus masuk ke kamar mereka. Benar-benar mereka memperoleh sesuatu. Di meja kecil di kepala pembaringan ada tertancap sebatang golok liu-yap-too, ujungnya golok menusuk sehelai kertas. Karena lemasnya golok, ujungnya masih terus bergoyang perlahan. Itulah benda tadi yang berwarna putih mengkilap. "Inilah permainan mengirim surat dengan perantaraan golok!" kata Kui Ciang tertawa. Ia tidak takut atau berkecil hati. "Dia menyangka dengan begini dia dapat menggertak mundur padaku. Dia salah lihat!" "Coba lihat dulu apa dia tulis!" sang isteri menganjuri. Kui Ciang mencabut golok itu, mengambil kertasnya. Ia membaca, "Lebih dahulu adat kehormatan, kemudian baru mengangkat senjata! Dengan mengirim surat golok ini, aku memberi tempo tiga hari kepadamu, supaya kau lekas meninggalkan gunung ini!" Di belakang itu ada tambahannya lagi, yang berbunyi, "Jikalau kau memandang ringan pemberian ingat ini, maka aku akan mengambil sesuatu yang kamu paling hargakan! Setelah itu nanti kau bakal berduka dan menyesal seumur hidup kamu!" Kui Ciang tertawa. "Yang kami paling hargakan ialah jiwa kami!" katanya, memandang enteng. "Kelihatannya dia orang liehay dan terhormat, kenapa dia menggunai cara hina ini untuk menggertak orang?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ya, inilah aneh!" kata Sian Nio. "Inilah yang membuat aku heran!" Tiba-tiba Kui Ciang pun sadar. Memang aneh perbuatan orang itu. Bukankah dia liehay? Buat apa dia berbuat begini? Kenapa dia seperti jeri terhadap keluarga Touw? Bukankah, kalau mereka bertempur, belum tahu siapa yang bakal menang atau kalah? Kenapa kau terus-terusan dfberi ingat dan digertak itu? Ketika itu terdengar suara tindakan ramai mendatangi. Tempo Kui Ciang membuka pintu kamar, buat melihat, ia mendapatkan Touw Leng Ciok datang bersama-sama Leng Hu dan Leng Cek serta Lam Ce In dan Tiat Mo Lek. Mereka datangnya tanpa janji terlebih dulu. Itulah sebab mereka telah mendapat dengar suara dan gerak-geriknya Kui Ciang dan isterinya. Kui Ciang lantas memberi lihat surat ancaman itu. Muka Leng Ciok lantas berubah, terus ia berkata seorang diri, "Inilah pasti perbuatan Khong Khong Jie. Kabarnya dialah kakak seperguruan Ceng Ceng Jie dan sekarang dia datang guna mendukung adik seperguruannya itu!" Touw Leng Hu menjadi pemimpin Rimba Hijau di wilayah Utara tetapi mendengar disebutnya nama Khong Khong Jie, air mukanya lantas menjadi berubah. Itu menandakan bahwa Khong Khong Jie benar-benar bukan sembarang orang. Sebenarnya Khong Khong Jie muncul dalam dunia Sungai Telaga baru beberapa tahun saja. Toan Kui Ciang tertawa. Dia kata, "Toako, aku telah memberikan . janjiku kepadamu, meski mesti mati, aku tidak bakal menyesal. Aku tidak ambil mumat dia Ceng Ceng Jie atau Khong Khong Jie, akan aku tempur mereka itu! Aku mau lihat http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Khong Khong Jie orang macam apa di dalam tempo tiga hari dia bisa mengambil kepala di batang leherku ini!" Kui Ciang menganggap kata-kata surat ancaman itu mengenai "barang yang paling dihargakan" adalah batok kepalanya. Dengan perlahan ketenangan dirinya. "Kui Ciang!" katanya tertawa pada iparnya itu, "Setelah menyembunyikan diri sepuluh tahun, semangatmu gagah tak kurang daripada dulu hari itu! Baiklah! Kau tidak takut, apapula kami Touw Ke Ngo Houw, kami bukan bangsa takut mampus! Segera aku menitahkan semua tauwbak membikin penjagaan keras selama tiga hari ini! Siang dan malam kita mesti waspada! Kita berjumlah besar, di sini juga ada Lam Tayhiap, kenapa kita mesti takut pada Khong Khong Jie?" Kata-kata jago Touw Ke Ce Ini dibuktikan dengan titahnya yang diberikan kepada orang-orangnya, untuk semua melakukan penjagaan dengan berhati-hati. Toan Kui Ciang dan isterinya tidak berdiam saja, mereka juga bergantian membantu melakukan pengawasan. Dalam suasana tegang itu mereka berhasil tiga hari dan dua malam tanpa terjadi sesuatu. Maka di malam ketiga, malam terakhir, orang membuat penjagaan istimewa. Di mana-mana api dipasang terang-terang dan semua orang seperti lupa tidur. Sekalipun yang tidak bertugas, matanya turut tak dipejamkan. Pada kira jam tiga maka di ujung barat laut perbentengan telah terdengar satu suara nyaring jelas, "Khong Khong Jie datang!" Touw Leng Hu mendapat pulang

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Toan Kui Ciang bersama isterinya berada di dalam kamar ketika mereka mendapat dengar seruan itu. Touw Sian Nio lantas menyambar busurnya, untuk pergi keluar, tetapi suaminya mencegah. Segera juga terdengar seruan serupa, yang datangnya dari ujung timur laut. "Khong Khong Jie datang!" Beruntun empat kali suara itu mendengung, setiap kalinya di ujung penjuru perbentengan. Toan Kui Ciang terkejut juga. Hebat pihak lawan itu. "Hm! Hm! Hm!" demikian ia lantas mendengar suara, yang datangnya dari luar kamarnya. Ia mengenali baik, itulah suara yang ia dengar pada beberapa malam yang lalu. Ia lantas beseru dengan pedang di tangan, ia lompat keluar. Justeru itu terdengar teriakannya Touw Sian Nio, "Celaka!," disusul dengan jeritan bayi yang menangis kaget, disusul pula dengan teriakan bujang dan babu pengasuh yang berisik dan kacau. Satu bayangan tubuh yang hitam pun mencelat naik ke atas genteng di belakang kamar, terus kabur ke arah barat. Saking pesatnya, dalam sekejapan bayangan itu sudah melalui belasan rumah. Kui Ciang mimpi pun tidak bahwa Khong Khong Jie mengarah bayinya, ia kaget bukan main, ia lantas lari mengejar sekeras bisa, hingga dengan cepat ia telah meninggalkan orang-orang di sebelah belakangnya. Bagaikan angin, ia lari terus sampai di tepian gunung. Di depan matanya ia melihat sesosok tubuh yang hitam, hanya di

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

lain saat, benda hitam itu lenyap walaupun rembulan bercahaya guram hingga mestinya ia masih bisa mendapat lihat! Touw Sian Nio, yang menyusul, heran melihat sikap suaminya itu, tanpa menanya lagi, ia dapat menduga kepada hal buruk. Setelah menikah sepuluh tahun lebih, baru sekarang mereka memperoleh putera, bisa dimengerti bahwa luar biasa kesayangan mereka terhadap anak mereka. Maka itu, ia berdiam mengawasi suaminya, yang pun menjublak mengawasi padanya. Keduanya ruwet pikirannya hingga mereka tak tahu harus mengucapkan apa. Baru selang sejenak, Toan Kui Ciang dapat juga menguasai harinya. Sang isteri sebaliknya tak dapat menahan keluarnya airmatanya. Tak lama tibalah Touw Leng Ciok beramai. Melihat saudaranya sekalian, tak sanggup Sian Nio bertahan lagi, ia lantas menangis, sembari menangis, ia kata, "Toako, keponakanmu hilang...!" Mukanya Leng Ciok menjadi merah. Ia jengah sekali. "Liok-moay, kau sabar," kata ia, membujuk adik yang nomor enam itu. "Mari kita pulang dulu untuk berdamai terlebih jauh..." Kui Ciang setuju, maka pulanglah mereka ke benteng. Leng Ciok memanggil kumpul semua saudaranya, bersamasama mereka berapat di dalam kamar rahasia. Keluarga Touw menjadi keluarga Rimba Hijau yang berkenamaan selama puluhan tahun, kali ini walaupun mereka berjaga-jaga keras, benteng mereka masih dapat didatangi Khong Khong Jie, yang dapat masuk dengan merdeka, yang merdeka juga mengambil barang apa yang disukainya, tentu http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sekali mereka gusar dan malu sekali. Itulah hinaan besar untuk mereka! Baru-baru ini mereka dipermainkan Ceng Ceng Jie, sekarang lebih hebat lagi! Mana dapat mereka diam saja? Lima saudara Touw itu gusar semua, dalam murkanya, pikiran mereka pun kacau. Lantas ada yang menyarankan surat tantangan terhadap Khong Khong Jie atau menyerbu ke rumah Ong Pek Thong, guna membekuk semua anggauta keluarganya, supaya orang-orang tawanan itu dapat dipakai sebagai bahan pertukaran. "Khong Khong Jie tak ketahuan tempat kediamannya, kemana kita menyampaikan surat tantangan untuknya?" kata Leng Ciok. "Kalau kita minta perantaraannya Ong Pek Thong atau Ceng Ceng Jie, pasti itu bakal mendatangkan tertawaan orang!" Di dalam Rimba Persilatan ada aturan, surat tantangan mesti disampaikan langsung kepada orang yang tersangkut sendiri, kalau orang memakai perantara, itu menyatakan si penantang tidak punya guna, lebih lagi kalau si perantara justeru sahabatnya musuh. Keluarga Touw pemimpin Rimba Hijau, tak dapat keluarga itu berbuat demikian. Kata Leng Ciok kemudian, "Kalau begitu tidak ada lain jalan daripada kita serbu Keluarga Ong untuk membekuk semua anggautanya." Toan Kui Ciang bangun berdiri. "Seorang laki-laki mesti berbuat secara laki-laki juga!" kata dia nyaring. "Khong Khong Jie menggunai cara rendah yang busuk sekali, mana dapat kita menelad perbuatan buruknya itu?" Touw Leng Ciok menghela napas. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Begini tak dapat, begitu tak dapat, paling baik kita mengaku kalah saja..." kata dia lesu. "Liok-moay, baiklah besok kamu suami isteri pergi turun gunung, tak usah kau turut pula kami di dalam air keruh ini... Kami hendak menyatakan kepada Ong Pek Thong dan Ceng Ceng Jie bahwa kami sudah kalah dan suka menyerah, lalu kami akan menyerahkan benteng kami ini kepada mereka! Teranglah Khong Khong Jie menculik puteramu sebab dia menghendaki kamu suami isteri mengundurkan diri, jangan kamu campur urusan kami di sini. Jikalau kamu sudah mundur, buat apa dia dengan anak kamu? Maka itu, tentu dia bakal menyerahkannya pulang..." Ketika itu Toan Kui Ciang mendapat satu pikiran. Ia ingat besok ada hari perjanjian pertemuan di antara Ceng Ceng Jie dan Touw Leng Ciok, itu artinya, besok Ceng Ceng Jie bakal datang. Maka ia lantas kata nyaring, "Toaku, kau keliru! Dengan kau berbuat demikian bukan cuma nama Keluarga Touw menjadi runtuh, aku si orang she Toan sendiri bakal tidak mempunyai muka lagi untuk ditaruh dalam dunia Kang Ouw! Besok Ceng Ceng Jie bakal datang, nanti aku tempur dia. Mungkin aku bukan tandingannya tetapi aku mengharapi kemenangan, andai kata aku berhasil, Khong Khong Jie tentulah bakal muncul sendirinya. Maka itu waktu kami berdua saudara akan menempur mati-matian kepadanya!" Inilah yang diharap Leng Ciok dengan kata-katanya barusan. Ia ingin kata-kata itu keluar sendiri dari mulutnya sang ipar. Karena itu, ia lantas kata, "Moayhu termashur sekali, maaf, aku kesalahan omong! Memang benar, seorang laki-laki lebih baik terbinasa daripada terhina! Perkara telah menjadi begini rupa, baik, mari kita mengadu }iwa kita! Mungkin sekali besok Khong Khong Jie datang bersama adik seperguruannya!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sampai disitu rapat mereka, semua lantas keluar untuk masing-masing beristirahat. Toan Kui Ciang dan isterinya mencoba menyingkirkan kedukaan mereka. Besok mereka akan menghadapi lawan tangguh, maka keduanya lantas duduk bersemedhi, guna mengumpul tenaga. Kapan sang besok muncul, dari masih pagi sekali orang sudah bangun tidur. Semua lantas merasa hati masing-masing tegang sendirinya. Mereka sudah lantas siap sedia menanti tibanya rombongan Ceng Ceng Jie. Sampai siang, Ceng Ceng Jie belum juga datang. Orang heran, orang membicarakannya, menduga-duga! Lawan datang atau tidak? Kenapa lawan terlambat? Tepat tengah hari, selagi orang menanti-nanti, mereka mendengar tiga kali suara panah nyaring. Itulah tanda tangan Rimba Hijau. Benar saja, habis itu terlihat masuknya seorang tauwbak, yang terus berkata, "Ceng Ceng Jie sudah datang! Dia minta bicara kepada cecu semua! Sekarang dia lagi menantikan di depan gunung!" Lima saudara Touw sudah lantas menjemput senjatanya masing-masing, dengan cepat mereka bertindak keluar. Kui Ciang mengikuti bersama isterinya dan Ce In serta Mo Lek. Sebagai tetamu, atau setengah tetamu, mereka mesti berjalan belakangan. Sampai di lapangan di luar, di sana cuma nampak satu orang yang romannya mirip kunyuk. "Dialah Ceng Ceng Jie..." Tiat Mo Lek membisiki Kui Ciang. Janji kali ini janji di antara Ong Pek Thong dan Touw Leng Ciok, guna suatu keputusan orang bertempur atau menakluk, benar pihak Ong Pek Thong mengajukan surat yang terbubuhkan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tanda tangannya berdua Ceng Ceng Jie, sebenarnya dialah orang yang bersangkutan. Seharusnya Ong Pek Thong muncul bersama sejumlah orangnya. Maka itu aneh sekarang cuma Ceng Ceng Jie seorang yang nampak. Karena orang heran, kembali hati mereka dibikin tambah tegang. Touw Leng Ciok dongkol sekali. Segera ia maju menghampirkan. "Mana Ong Cecu?" dia tanya singkat, suaranya kaku. Ceng Ceng Jie menjawab sambil tertawa, "Apakah kau sudah rampung menulis surat pernyataan taklukmu atau belum? Kalau sudah, mari serahkan padaku, untuk aku bawa pulang, buat diserahkan lebih jauh pada Ong Cecu! Setelah Ong Cecu menerima surat menaklukmu itu, pasti dia akan datang sendiri kemari!" Leng Ciok gusar bukan main. Dialah pemimpin suatu rombongan Rimba Hijau, dia mendongkol sekali, hatinya panas. Tapi dia dapat tertawa bergelak. "Sekarang kau bicara urusan itu, apakah itu bukan masih terlalu pagi?" dia tanya, sabar. "Kalau Ong Cecu tidak datang, baiklah, urusan kedua pihak boleh ditunda dulu! Di sini ada seorang sahabat yang ingin membuat perhitungan denganmu!" Tanpa menanti lagi, Toan Kui Ciang bertindak ke depan. Ia menghadapi Ceng Ceng Jie, untuk terus berkata dengan tawar, "Bukankah kejadian semalam itu perbuatan kakak seperguruanmu?" Ceng Ceng Jie tertawa. "Kejadian apakah itu?" ia tanya. "Hm! Apakah kau tak takut menjadi malu kalau aku menyebutkannya?" tanya Kui Ciang. "Jikalau kamu hendak mencoba aku si orang she Toan, aku bersedia meluluskannya! http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kenapa kamu mesti menculik anakku yang baru berumur satu bulan? Perbuatan itu perbuatan orang gagah dari golongan manakah?" Ceng Ceng Jie tertawa terbahak. "Kiranya kau bicara dari kejadian tersebut itu?" dia mengulangi. "Benar! Itulah perbuatan kakak seperguruanku! Kakak seperguruanku menyayangi namamu yang besar, tak ingin ia narnamu itu rusak hingga dirimu turut bercelaka, dari itu dengan maksud baiknya, dia sudah berulang kali memberi nasehat padamu, tetapi siapa suruh kau tidak mau mendengar kata?" "Fui!" Kui Ciang berludah. "Maksud baik demikian macam ini cuma dapat diucapkan oleh seorang manusia hina dina! Baiklah, kita jangan bicara saja! Mana saudaramu itu, suruh dia datang menemui aku!" "Awas!" kata Ceng Ceng Jie, suaranya dalam. "Kalau lagi sekali kau caci kakak seperguruanku itu, nanti aku tidak mau berlaku sungkan lagi kepadamu! Jangan kau berjumawa dengan namamu yang terkenal sebagai tayhiap, seorang jago besar, sebenarnya kakakku tak melihat, barang sebelah mata juga! Masih terlalu pagi untuk kau menemui kakak seperguruanku itu! Sebelum menemui dia, baik kau ketemukan dulu pedangku ini! Bagaimana, kau maju seorang diri atau kamu semua maju berbareng?" ---ooo0dw0ooo--Jilid 8 Baru kata-kata itu habis diucapkan, atau Kui Ciang telah menghunus pedangnya, diturut oleh penantangnya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Kamu menculik anakku, urusan ini tidak mengenai mereka ini!” kata Kui Ciang, dingin. “Kamu berdua datang untuk Toan Kui Ciang seorang, aku bersiap sendiri menemui kamu! Maka itu, tak perduli kau datang sendiri, atau kau datang bersama kakak seperguruanmu, si orang she Toan akan melayani kamu sendiri saja!” “Sungguh mulut besar!” Ceng Ceng Jie tertawa. “Tak kecewa kau dipanggil tayhiap! Tapi anakmu itu bukan anakmu sendori, dari itu aku masih memikir untuk belajar kenal dengan pelurunya isterimu!” Sian Nio mendongkol, dia lantas menjawab, “Peluruku tak dipakai menghajar seorang rendah yang tak bernama! Sebentar setelah kau dapat mengalahkan pedang suamiku, baru kau bicara pula!” Nyonya Toan bicara dengan tenang, tetapi nadanya keras. Ceng Ceng Jie bersiul panjang dan nyaring, terus dia tertawa lebar. Dia pun menyentil pedangnya. “Baiklah, mari kita main-main!” katanya. “Kau menjadi separuh tuan rumah, Toan Tayhiap, sebagai tetamu tak dapat aku berlaku kurang ajar, maka kau mulailah! Silahkan!” Toan Kui Ciang sangat jemu tetapi sebagai seorang tayhiap, ia mau memegang tinggi martabatnya. Ia benar lantas menyerang akan tetapi Cuma separuh, sebagai gertak. “Bagus, ya!” bentak Ceng Ceng Jie mendongkol. “Bukankah kau tak memandang mata padaku?” Habis berkata, dengan luar biasa sebarnya, ia lantas menikam. Ia pun menindak di tengah, tiong-kiong, suatu tanda ia menantang sangat.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang gusar sekali. Ia tidak bergeming. Ketika pedang lawan tiba, mendadak ia menapas. Itulah jurus “Kim Peng Tian Cie” atau “Garuda emas mementang sayap”. Melihat perlawanan Kui Ciang, pihaknya pada bersorak memuji, bukan karena orang she Toan menang, hanya cara bersilatnya yang sempurna itu. Suara nyaring sekali lantas terdengar, orang pun melihat muncratnya lelatu api. Justeru itu tubuh Ceng Ceng Jie mencelat tinggi, dari atas ke bawah, dia membacok hebat ke arah punggung lawannya, di jalan darah Hong-hu. Kui Ciang memutar tubuh sangat cepat, sembari mutai, pedangnya berkelebat, maka untuk kedua kalinya senjata mereka bentrok pula. Ceng Ceng Jie berlompat mundur tiga tindak. Kui’ Ciang menyerang sambil mengajukan diri, karena musuh maju, ia maju dua tindak. Hampir-hampir ia tak dapat menahan tubuhnya. Itulah hebat. Benar mereka baru bertempur dua jurus tetapi setiap serangan itu berbahaya bukan main. Siapa lambat sedikit saja, pasti dia akan jadi kurban pedang. “Benar-benar Toan Tayhiap liehay!” kata Ceng Ceng Jie. Toan Kui Ciang berdiam, di dalam hati, ia jengah sendirinya. Di dalam satu-dua gebrakan, tak dapat ia mengenali musuh bersilat dengan ilmu silat partai mana. Ceng Ceng Jie itu, habis memuji, sudah lantas menyerang pula. Sekarang keduanya sama-sama berlaku waspada, mata dibuka tajam, kaki tangan bergerak cepat dan lincah http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Beginilah peristiwa itu, tepat kedua pedang bentrok, tepat tiba peluru-pelurunya Touw Sian Nio. Kim-wan itu berat, Sian Nio pun menggunai tenaga sepenuhnya. Si nyonya menarik busurnya sampai menjadi bundar sekali. Maka hebat menyambarnya sekalian pelurunya itu, mirip dengan hebatnya jarum bwe-hoa-ciam. Ceng Ceng Jie liehay, ia masih dapat menyambut ketiga peluru itu. Sayangnya dia sekarang lagi menyerang Kui Ciang dengan perhatian dan tenaga sepenuhnya. Tentu sekali dia menjadi sangat repot. Kendati begitu, dia masih dapat mementil balik dua buah peluru. Adalah perluru yang ketiga, yang mengenai belakang pedangnya. Tanpa dapat dipertahankan pedangnya itu tak lurus lagi arahnya, akan tetapi, justeru dia meleset tak dapat melukai Toan Kui Ciang, ujung pedang Kui Ciang sebaliknya membuatnya terluka. Semua orang terperanjat, mereka sampai melengak, semua menahan napas. Sampai Ceng Ceng Jie sudah lenyap, masih mereka tinggal menjublak. Barulah paling belakang Tiat Mo Lek berseru dengan pujiannya, “Bagus!” Maka semua orang sadar, lantas semuanya turut bersoraksorai. Touw Leng Ciok maju, untuk memberi selamat kepada iparnya, akan tetapi Toan Kui Ciang tetap tak bergembira seperti semula, tak ada tanda-tandanya bahwa ia girang dengan kemenangan. Itulah sebab semenjak ia muncul dalam dunia Kang Ouw, inilah yang pertama kali ia bertempur dengan mendapat bantuan orang, tak perduli pembatu itu ialah isterinya. Ia beranggapan kemenangannya bukan kemenangan dengan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kementerengan, sedang kaburnya Ceng Ceng Jie tak dapat terkejar olehnya... Touw Leng Hu kata sambil tertawa, “Moayhu berhasil melukai Ceng Ceng Jie, itu berarti penasaran kita telah terlampiaskan. Sayangnya ialah dia masih dapat lolos...!” Touw Sian Nio sebaliknya menghela napas. Kata ia, “Meski kita menang, dia tapinya dapat kabur, maka itu, kepada siapa kita minta pulung anak kita?” “Sudah Liok-moay, jangan kau bersusah hati!” Touw Leng ijiok menghibur. “Kecuali Khong Khong Jie dan Ong Pek Thong suka menyerah, tak nanti mereka dapat tak memunculkan diri. Sekarang mari kita pulang dulu untuk minum arak kemenangan!” Di dalam benteng orang lekas sekali dapat menyajikan barang hidangan. Sambil tertawa nyaring, Touw Leng Ciok kata, “Baru sepuluh tahun kita berpisah, Kui Ciang, ilmu pedangmu maju pesat sekali! Khong Khong Jie dapat terlebih liehay daripada Ceng Ceng Jie, tak nanti dia dapat melawan kamu suami isteri!” Tiat Mo Lek, dengan roman duka, turut berkata, “Khong Khong Jie beberapa kali menggertak kouwthio, rupanya dia telah mendapat lihat gelagat, rupanya dia merasa dialah bukannya lawan kouwthio! Sekarang, setelah pertempuran ini, aku kuatir dia tidak berani datang pula ke mari...” Dua orang itu bicara secara bertentangan satu dengan lain. Touw Leng Ciok hendak membesarkan hati Kui Ciang, Mo Lek sebaliknya menunjuki kedukaannya dengan cara lain. Dia kuatir kalau Khong Khong Jie tidak muncul, sukar untuk mendapatkan pulang anak Kui Ciang.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Toan Kui Ciang menggeleng kepala, ia kata, “Mo Lek, tidak dapat kau memandang enteng musuh secara demikian, seperti caramu ini!” Justeru itu mendadak Touw Leng Hu berseru, “Eh, apakah itu?” Tuan rumah ini berseru sambil matanya mengawasi ke penglari, maka semua orang lainnya, yang terperanjat, turut memandangnya ke arah itu. Di atas penglari ada sesuatu yang tergantung. Tanpa ayal lagi, Touw Leng Ciok menimpuk d«Eii)’,an huitoo, golok terbangnya, membikin gantungan itu putus dan barangnya jatuh, sedan)* Touw Leng Ciok bergerak menyambutinya. Itulah sebuah kotak kecil. Sebagai ahli, Leng Ciok sudah lantas mendapat tahu kotak itu tanpa pesawat rahasia, maka itu terus ia membuka tutupnya. Maka ia mendapatkan di dalam kotak itu sehelai kartu nama terbuat dari sehelai kertas merah. Touw Sian Nio duduk di sisi kakaknya, dia melihat tegas, lantas dia berseru heran, “Inilah kartu namanya Khong Khong Jie!” Touw-ke Ngo-houw – Lima Harimau Keluarga Touw – saling mengawasi, semuanya tercengang. Di waktu siang terang benderang, dan di muka orang banyak, Khong Khong Jie dapat menggantung kotak kartu namanya itu di atas penglari dalam ruang mereka berkumpul! Bukankah itu sangat luar biasa? Selang sesaat, Touw Leng Ciok dapat menenangkan hatinya. Lantas dia berseru, “Khong Khong Jie! Kau sudah datang, kenapa kau tidak berani perlihatkan mukamu? Kenapa kau main http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bersembunyi seperti lakukanya hantu? Apakah caramu ini cara seorang laki-laki?” Belum lagi berhenti teguran itu, di antara mereka sudah terdengar tertawa berkakak yang nyaring, dan belum lagi sirap tertawa itu, di antara mereka terlihat berkelebatnya sesosok tubuh, yang seperti burung melayang, lantas tiba di muka meja perjamuan itu. Orang itu juga terus berkata nyaring, “Sudah lama aku datang ke mari! Apakah kamu semua buta mata kamu?” Serentak semua hadirin bergerak bangun, dengan serentak juga mereka menghunus senjata mereka. Kecuali Toan Kui Ciang dan Lam Ce In, yang dapat menguasai dirinya masingmasing. Karena bangunnya itu secara demikian, meja itu terbentur, mangkuk dan cangkir terbalik tumpah isinya. “Bagaimana, hai?” Khong Khong Jie berseru. Dia tertawa nyaring pula. “Apakah kamu semua mau main keroyok?” * Namanya Khong Khong Jie sudah terkenal selama beberapa tahun yang paling belakang ini, akan tetapi di antara sekalian tamu itu, baru sekarang mereka melihat orang punya potongan tubuh dan wajah. Dialah orang dengan tubuh yang luar biasa. Dia tinggi tak sampai lima kaki, sedang wajahnya ialah wajah kebocah-bocahan, kepalanya gede. Selagi bicara itu, dia menggeraki tangan dan kakinya, tingkah polahnya sangat jumawa. Selagi semua orang mengawasi, Kui Ciang mengajukan diri. “Kecewa kepandaian kau yang liehay ini!” ia kata. “Kenapa kau lakukan perbuatan seperti seorang pancalongok? Walaupun berlipat kali kegagahan kau ini, tak dapat kau berlaku jumawa begini!” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Kau sebaliknya, kecewa kau mendapat julukan tayhiap!” Khong Khong Jie membaliki. Dia tertawa mengejek, “Kenapa dengan tidak membedakan hitam atau putih kau membelai segala penjahat besar Rimba Hijau? Apakah perbuatan kau ini juga dapat dibuat menjadi kebanggaanmu ?” Toan Kui Ciang melengak. Touw Leng Ciok gusar sekali. “Apakah Ong Pek Thong bukannya penjahat besar Rimba Hijau?” dia tanya. “Dia juga tak jauh banyak terlebih baik daripada kami! Kenapa kau juga menjadi tukang pukulnya itu?” Khong Khong Jie tertawa lebar. “Pertama-tama aku bukannya seorang tayhiap!” dia menjawab. “Ong Pek Thong bersahabat denganku, maka itu aku membantunya. Kedua, bicara dari hal kelakukan Rimba Hijau, Ong Pek Thong kalah daripada tingkah kamu! Bukankah perkara di Se Ke Chung perbuatan kamu? Sudah kamu hitam makan hitam, kenapa juga membinasakan keluarga itu ayah berikut anaknya? Ketika itu musim penyakit menular, kamu justeru merampas obat-obatan itu, kamu menumpuknya! Dengan begitu kamu menyebabkan kematiannya entah berapa banyak jiwa! Kamu tahu atau tidak? Apakah kamu ingin supaya aku membebernya satu demi satu semua perbuatan kamu? Atau untuk berlaku adil, kau bicara dari keburukan Keluarga Ong, lantas aku pun bicara kebusukan dari Keluarga Touw, supaya dengan begitu Toan Tayhiap dapat menimbang!. Nanti kamu boleh lihat, di antara kamu berdua, siapa yang perbuatan jahatnya terlebih banyak! Bagaimana?” Dua keluarga Ong dan Touw sama-sama keluarga penjahat yang sudah “turun temurun,” selama beberapa puluh tahun ini. Keluarga Touw jauh terlebih berpengaruh daripada Keluarga http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ong, maka bicara dari hal usaha mereka, sudah tentu lebih banyak perbuatannya Keluarga Touw Di mata kaum Rimba Hijau, semua perbuatan itu lumrah saja. Di matanya Khong Khong Jie, itu lain lagi. Khong Khong Jie menganggap perbuatan Touw Leng Ciok kepada sesama kaum Rimba Hijau berlebihan, sebab dia suka membasmi sampai di akar-akarnya, meski sebenarnya, yang dibasmi ialah sesama Lvimba Hijau yang menjadi musuh-musuhnya, kalau kaum saudagar, tidak ada yang diganggu jiwanya Meski demikian, mendengar kata-kata Khong Khong Jie itu, Toan Kui Ciang telah mesti mengeluarkan keringat dingin. Ketika dulu hari Kui Ciang menikah dengan Touw Sian Nio, tak lama dia mengajak isterinya pindah ke lain tempat, selama sepuluh tahun, tak sudi dia mempunyai perhubungan lagi dengan Keluarga Touw, keluarga isterinya itu. Sebab dari itu ialah dia tak sudi ikut-ikutan sekalian iparnya melanjuti pekerjaan mereka tanpa modal itu. Karenanya, selama sepuluh tahun, dia tak tahu lagi segala perbuatan ipariparnya itu. Sekarang dia mendengar Khong Khong Jie membeber rahasia itu, dia kaget sekali. Dia kata dalam hatinya, “Benar aku tolol! Kenapa aku campur urusan air keruh ini?” “Brak!” demikian terdengar suara nyaring pada meja, sebab Touw Leng Ciok menggepraknya. “Kami melakukan usaha kami, mana dapat kami tidak merampas dan tidak melukai orang?” dia tanya, bengis. “Meski benar kami merampas obat dengan mana kami mencari untung, itu bukannya pekerjaan yang dilakukan tanpa memperbahayakan jiwa kami! Kau bocah, kau tidak tahu aturan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kami kaum Jalan Hitam, maka itu kau baiklah jangan omong banyak lagi!” Touw Leng Hu juga turut bicara. Dia kata, “Kau menyebutkan Keluarga Ong itu! Keluarga itu berkongkol dengan sebawahannya An Lok San, dia meminjam tenaga hamba negeri mencelakai sesama kaum Rimba Hijau! Itulah perbuatan yang terlebih rendah lagi! Jikalau kau hendak bicara memakai aturan, kita mesti pakai aturan Rimba Hijau! Mari kita undang berkumpul semua jago Rimba Hijau, untuk mereka yang menimbangnya!” Khong Khong Jie tertawa. “Aku tak mempunyai kebanyakan tempo!” kata dia. “Jikalau begitu, jangan kau banyak omong lagi!” bentak Touw Leng Ciok. “Baik kita menggunai aturan Rimba Hijau, siapa yang menang dialah yang lebih kuat!” Khong Khong Jie melirik. “Toan Tayhiap!” dia tanya. “Kau bukan orang Jalan Hitam, bagaimana pendapat kau?” Semua persaudaraan Touw, mengawasi Toan Kui Ciang. berikut Touw Sian Nio,

Orang she Toan itu bersangsi sebentar, baru ia menjawab perlahan, “Perselisihan Rimba Hijau, tak aku perdulikan, tetapi kau telah memuli! Anakku, kau menghina aku, maka tak dapat tidak, aku mesti menempurmu!” Kembali Khong Khong Jie tertawa lebar. “Inilah kata-katamu yang aku harap-harap!” kata dia. “Aku tahu sebelumnya kau dapat menempur aku, sulit untuk kau membereskan soalmu dengan sanak keluargamu ini. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dia berhenti sebentar, lantas dia menambahkan, “Baik! Mari kila tetapkan kata-kata kita! Jikalau kau kalah, tidak dapat kau mencampur lalui lagi urusan dua keluarga Ong dan Touw ini! Jikalau aku yang kalah, lvgitu juga dengan aku! Setelah kita bertanding itu, tidak perduli siapa kalah dan siapa menang, akan aku mengembalikan anakmu! Aku anggap syarat kita ini pantas sekali, maka itu, bagaimana pikiran kau?” Khong Khong Jie, terutama Ong Pek Thong, ingin sekali mendesak Toan Kui Ciang tak mencampuri urusan persengketaan kedua keluarga bukan disebabkan mereka takut terhadap Toan Kui Ciang pribadi. Yang mereka kuatirkan ialah Kui Ciang itu tersohor dan banyak sahabat atau kenalannya, mereka takut sahabat-sahabat itu nanti dalang membantui. Kalau itu sampai terjadi, bagaimana mereka bisa melawan? Toan Kui Ciang setuju dengan usul Khong Khong Jie. “Aku setuju dengan kau!” kata ia. “Silahkan hunus pedangmu I Mari kita mencari keputusan!” “Tunggu sebentar!” kata Khong Khong Jie. Dia berpaling pada Touw Leng Ciok. Dia kata, “Aku dan Toan Tayhiap berurusan menurut t ara kaum Rimba Persilatan! Bagaimana dengan pihak kamu? Apakah kita menuruti aturan Rimba Hijau?” “Kau bersendirian di sini, habis aku mesti bicara dengan siapa?” kata Leng Ciok tawar. Ini artinya, jikalau mereka toh hendak bicara menurii! Aturan kaum Rimba Hijau, di situ Ong Pek Thong mesti hadir. Nama Khong Khong Jie telah melewati nama Ong Pek Thong akan tetapi namanya itu baru berimbang dengan nama Touw Leng Ciok, karena itu, dengan derajat seimbang, Khong Khong Jie belum dapat mewakilkan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Pek Thong. Leng Ciok mau memegang martabatnya, maka ia hendak bicara sendiri dengan Ong Pek Thong. “Inilah mudah!” berkata Khong Khong Jie, yang nampak tak jadi kurang senang. Mendadak ia bersiul nyaring dan lama. Belum lama berhenti siulan itu maka dari arah luar terdengar sambutan nyaring yang berbunyi, “Ong Pek Thong dari Yan San datang mengunjungi Touw Cecu!” Ong Pek Thong dan Khong Khong Jie telah berjanji matang, begitu Khong Khong Jie dan Touw Leng Ciok selesai bicara atas isyarat, ia mesti muncul. Ia datang tepat sekali, maka juga, begitu siulan terdengar, begitu ia menjawab dan muncul di muka benteng. Leng Ciok terperanjat hingga air mukanya berubah. Ia dapat lekas menenangkan diri, lantas ia memberikan perintahnya, “Buka pintu benteng! Undang Ong Cecu masuk! Jangan bersikap kurang hormat!” Segera juga terlihat bertindak masuknya seorang berusia enam puluh tahun, wajahnya bercahaya merah, tangannya menuntun seorang nona yang umurnya baru enam atau tujuhbelas tahun. Nona itu melihat ke kiri dan kanan, agaknya dia sangat gembira. Begitu dia berseru, “Eh paman! Kamu masih belum mulai mengadu pedang?” Khong Khong Jie tertawa. “Pamanmu lagi menantikan tibanya ayahmu!” dia menjawab. “Kenapa Cuma kau yang datang? Mana kakakmu?” Nona itu tertawa manis.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Aku sengaja datang untuk menyaksikan keramaian!” sahutnya. “Kakak kedatangan tetamu! Maka biarlah aku yang menonton sendiri!” Hati Lam Ce In bercekat. Tahulah ia sekarang pemuda berbaju kuning yang itu hari memegat kereta ialah putera Ong Pek Thdng ini. Ia lantas menduga-duga, “Tetamu siapa yang mesti dilayani putera Ong Pek Thong itu? Apakah dia bukannya He Leng Song?” Ia ingat Nona He sebab hari itu ia melihat sikap si nona terhadap si anak muda luar biasa sekali, menyaksikan itu, ia merasa kurang enak. Sekarang ia mendengar suaranya nona ini, keraslah dugaannya itu. Ia heran. Mendengar keterangan orang itu, harinya menjadi tidak tenteram. Sebisa-bisanya ia menenteramkannya. Kata ia, “Aku perduli apa tetamunya itu Nona He atau bukan?” Ketika itu terdengar suaranya Ong Pek Thong, “Anak Yan, kenapa kau sembrono sekali? Lekas kau memberi hormat kepada Touw Pehu kau itu! Ah bocah ini, aku yang menyebabkannya menjadi manja begini! Touw Toako, aku minta sukalah memaafkannya!” Touw Leng Ciok tertawa. “Di antara saudara sendiri buat apa kita omong begini sungkan!” katanya. ‘Baiklah kita segera membicarakan urusan perdagangan kita hari ini!” Ong Pek Thong mengawasi. “Bukankah itu telah kamu bicarakan matang?” dia tanya. “Kita * menurut aturan Rimba Hijau saja. Aku tak dapat mengatakan lainnya lagi.” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Leng Ciok lantas berkata, membaca di luar kepala, “Yang menang menjadi jago! Yang mati perkaranya tak ditarik panjang! Yang kalah mesti mundur dari dunia Rimba Hijau dengan sebawahannya semua mengikuti pimpinan yang baru, tetapi yang tak sudi mengikut, dia dapat membubarkan dirinya sendiri, Cuma dia tak dapat hidup pula sebagai orang Jalan Hitam!” “Setuju!” kata Ong Pek Thong. “Aturan ini kau ingat baik sekali, Touw Toako! Kita memakai aturan ini! Hanya, Touw Toako, buat guna kau, suka aku memberi nasehat...” “Ong Toako, kau mempunyai nasehat berharga apa?” Touw Leng Ciok tanya. “Aku yang muda senang sekali mendengarnya!” Demikian kedua kepala begal itu, mereka saling membahasakan saudara satu dengan lain, hingga siapa yang tak ketahui duduknya hal, tak nanti menyangka bahwa mereka sebenarnya bermusuh mati-matian, bahwa segera juga mereka bakal bertempur untuk mati atau hidup! “Aku hendak bicara tentang pertempuran kita!” kata Ong Pek Thong. “Bukankah kita memakai aturan Rimba Hijau? Aku kuatir kaulah yang bakal menjadi pihak yang rugi! Ingat bahwa kita adalah sahabat-sahabat dari beberapa puluh tahun! Jikalau kita salah tangan, aku pasti bakal merasa tak enak hati! Maka itu, aku pikir, baiklah kau mengundurkan diri saja, untuk mana cukup asal kau membuat suatu surat perjanjian untukku...” Nasihat itu berarti nasehat Touw Leng Ciok menyerah kalah dan mengajukan surat pernyataan menakluk, habis mana Leng Ciok mesti mengundurkan diri, supaya dia tak usah bercelaka karena kalah bertanding. Mendengar itu, Leng Ciok menjadi mendongkol sekali. Maka ia tertawa terbahak-bahak. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Terima kasih untuk kebaikan hatimu ini, Ong Toako!” kata ia. “Aku juga justeru mempunyai semacam pikiran untuk dipakai memberi nasehat pada toako! Toako datang dari tempat yang jauh, apabila lacur kau menampak kerugian, apabila ada terjadi sesuatu atas dirimu, pasti aku akan sangat bersusah hati!” Kata-kata Touw Leng Ciok ini berarti bahwa sebagai tuan rumah, ia berjumlah banyak dan bakal berbuat sebisanya guna merebut kemenangan, sedang di pihak Ong Pek Thong, mereka Cuma bertiga berikut anak daranya itu. Ong Pek Thong menyambut nasehat itu dengan tertawa. “Jikalau saudara Touw tak dapat menerima nasehatku, tak bisa lain, terpaksa aku mesti mengiringi dan menemanimu!” kata dia. “Baiklah, kedua pihak sudah bicara jelas, siapa mati siapa hidup, dia paserah kepada Thian Yang Maha Kuasa! Jadi tak usahlah ada yang bersusah hati nanti! Baik! Baik! Sekarang mari kita mulai dengan mengadu pedang! Inilah pertandingan yang sukar disaksikan selama seratus tahun!” Khong Khong Ji lantas menggapai. “Toan Tayhiap, mereka sudah selesai bicara!” katanya. “Sekarang tinggal urusan kita! Cuma tadi masih ada sepatah kata yang aku belum sempat ucapkan. Sudah lama aku mendengar Nyonya Toan adalah jago wanita, karena itu apakah dapat kita sekalian memakai aturan Rimba Hijau supaya nyonyamu turut maju bersama?” Perkataannya Khong Khong Jie ini berarti, disamping ia menantang Touw Sian Nio, itu pun bermaksud, umpama kata Kui Ciang kalah, maka Sian Nio harus tak mencampur tahu lebih jauh urusan keluarga Touw, keluarganya itu. ‘ Kui Ciang mengerutkan alis. Ia berpaling kepada isterinya.^ http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Baiklah!” katanya. “Kalau sebentar aku gagal, kau boleh turut maju!” Toan Kui Ciang menginsafi liehaynya Khong Khong Jie, ia percaya dalam pertandingan pedang ini ia tidak mempunyai harapan. Bukankah melawan Ceng Ceng Jie saja sudah sulit untuknya? Maka itu ia pikir, baiklah isterinya turut turun tangan. Berterang terlebih baik daripada cara diam-diam. Sian Nio mengerti, ia mengangguk. 1 “Toan Tayhiap!” Khong Khong Jie berkata pula, “Ketika tadi kau melayani sute-ku, aku lihat kau suka mengalah terhadapnya, maka itu sekarang, suka aku yang mengalah, supaya kaulah yang menyerang terlebih dahulu!” Kui Ciang terkejut juga. Dengan begitu menjadi ternyata, tadi Khong Khong Jie telah menyaksikan pertempurannya melawan Ceng Ceng Jie. Tapi ia tidak berayal. Ia lantas menghunus pedangnya. “Silahkan keluarkan pedangmu,” ia mengundang. Sejak tadi Khong Khong Jie muncul dengan kedua tangannya kosong, tetapi sebab ia menantang mengadu pedang, Kui Ciang menyangka orang membekal joan-kiam, pedang lunak, yang biasa disimpan melilit di pinggang. Siapa tahu, atas undangannya itu, Khong Khong Jie kata tawar, “Toan Tayhiap, aku minta tak usah sungkan-sungkan! Kali ini kaulah yang turun tangan lebih dulu, silahkan kau mulai!” Kui Ciang menjadi gusar sekali.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Jadi kau hendak melawan pedangku dengan tangan kosong?” kata dia keras. “Kalau begitu, biar bagaimana pun, aku si orang she Toan tak dapat melayani kau!” Khong Khong Jie tertawa. “Maaf! Maaf!” katanya. “Toan Tayhiap menjadi ahli pedang berkenamaan di jaman ini, mana berani aku melayani kau dengan tangan kosong? Akan tetapi setiap orang mempunyai senjatanya masing-masing yang istimewa, dari itu, tayhiap, tak usahlah kau banyak usil! Sekarang ini sudah tidak siang lagi, aku minta silahkan kau lekas mulai!” Dalam mendongkolnya, Kui Ciang kata di dalam hari, “Ingin aku lihat bagaimana kau mencabut pedangmu!” Lantas ia menyerang dengan tipu silat “Burung walet menggaris pasir,” mencari dada lawan itu. Begitu sinar putih berkelebat, begitu ujung pedang tiba pada sasarannya. Semua hadirin terperanjat. Semestinya Khong Khong Jie tak mempunyai ketika lagi akan akan menghunus pedangnya, pedang yang tak tahu di mana disimpannya, sebab tergantung di pinggang tidak, terlibat tidak juga. Bahkan ada orang-orang yang punggungnya mengeluarkan keringat dingin! Justeru orang terperanjat itu, justeru orang mendengar tertawanya Khong Khong Jie, yang terus berkata nyaring, “Kehormatan mesti saling balas, ada pergi ada datang! Aku pun hendak menggunai senjataku!” Sebat luar biasa, pahlawannya Ong Pek Thong ini membalik tangannya yang kanan, maka itu terdengarlah satu suara nyaring, dari beradunya pedang, atas mana Toan Kui Ciang terpaksa mesti mundur tiga tindak, sedang tubuhnya terhuyung, sebisanya dia mencoba mempertahankannya.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Baru sekaranglah orang melihat di tangan Khong Khong Jie ada senjatanya, sebilah pedang yang sangat pendek, yang lebih pendek daripada pisau belati yang umum. Senjata itu disembunyikan di dalam tangan baju, mata liehay dari Kui Ciang sampai tak melihatnya, baru setelah diserang, senjata itu dikeluarkan dipakai menangkis, demikian hebat, hingga bentrokan membuat si penyerang yang terpental mundur sendirinya. Tangkisan juga dilakukan disaat ujung pedang hampir mengenai dada. Pedang Khong Khong Jie itu bersinar biru, tajamnya luar biasa. Pedang Kui Ciang pedang mustika, akan tetapi sekarang, bentrok dengan pedang lawan, pedang itu gompal sedikit, hingga dia menjadi terkejut. Menyusul bentrokan itu, selagi tubuh Kui Ciang belum berdiri tegak, tubuh Khong Khong Jie sudah melesat maju. Ia hendak membalas menyerang, kehendak itu diwujudkan segera. Pedangnya yang tajam itu sudah lantas berkelebat di muka lawannya. Kui Ciang bukan musuh ringan walaupun barusan ia telah terpental mundur, kendati belum sempat memasang kudakuda, ia dapat mundur setindak, untuk mengelit diri. Setelah mana, tak kalah sebarnya, ia menyerang pula dengan tipu silat “Lie Kong memanah batu”. Hanyalah ini serangan menabas lengan lawan, maka juga itu menyerupai serangan untuk memecah tikaman lawan. ^ Khong Khong Jie memuji, memperoleh gelaran tayhiap!” “Hebat! Pantaslah orang

Ia lantas menarik pulang lengannya, tubuhnya terus berlompat ke samping kiri, dengan begitu sembari berlompat itu, ia juga dapat meneruskan menyerang pula, mengarah jalan darah jie-khie di iga lawan. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Orang semua kagum. Itulah serangan saling balas yang dahsyat sekali. Kui Ciang kena terdesak, umpama kata ia “sukar bernapas”. Ia mundur tetapi ia tidak menjadi gugup, gerakan pedangnya tidak menjadi kalut, karena mana ia dapat membela diri sambil menyerang juga. Cuma ia mesti main mundur. Kalangan persilatan mengenal kata-kata “Satu dim pendek, satu dim bahaya”. Inilah tepat bagi Khong Khong Jie, yang pedangnya sangat pendek itu. Meski pedangnya istimewa, ia toh dapat mendesak lawannya, seorang tayhiap. Pertempuran berlanjut terus. Sinar kedua pedang berkilauan, bergeraknya sangat cepat. Kui Ciang terus terdesak tetapi tetap tak menjadi kacau. Lam Ce In yang gagah berdebaran hatinya menyaksikan pertempuran itu. “Jikalau Toan Tayhiap tidak sangat tabah hati, tentulah siang-siang ia telah kena dipecundangi...” ia pikir. Ketika Kui Ciang menempur Ceng Ceng Jie, selama setengah jam belum pernah ia mundur satu tindak juga, akan tetapi kali ini menghadapi Khong Khong Jie, suheng atau kakak seperguruan Ceng Ceng Jie, dengan lantas ia dipaksa mundur, bahkan tubuhnya terpelanting terhuyung, dari situ orang bisa menerka liehaynya Khong Khong Jie. Maka juga orang mengawasi pertempuran dengan hati tegang. Kui Ciang mesti mundur atau berkelit ke kiri dan kanan. Tak juga ia dapat lolos dari serangan bertubi-tubi dari lawannya. Pedang pendek Khong Khong Jie bergerak sangat cepat dan liehay, selalu mengancam di depan, kiri atau kanan, menabas atau menikam. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Touw Sian Nio memasang mata, akhirnya ia menyiapkan senjata rahasianya. Dalam hal kepandaian menggunai senjata rahasia, Sian Nio sudah mencapai puncak kemahiran. Ia dapat menyerang berbareng dengan dua-dua tangannya, tangan yang kanan dengan tujuh biji kim-wan atau “Peluru emas,” tangan yang kiri dengan seraup bwe-hoa-ciam, jarum mirip bunga Bwe. Demikian, apabila si nyonya telah melihat saatnya, tanpa ayal lagi ia melakukan serangannya yang berbahaya itu. Tujuh kim-wan mencari tujuh jalan darah lawan dan seraup jarum menuju langsung ke muka. Karena jarak mereka berdua dekat, dapat dimengerti lebih hebatnya lagi serangan itu. “ Orang terkejut. Umumnya mereka menganggap Khong Khong Jie terancam bahaya hebat. Paling juga dia dapat menyingkir dari peluru, tidak dari jarum rahasia. Atas serangan itu, Khong Khong Jie berseru, “Senjata rahasia yang liehay!” Segera pedangnya berkelebat dan tubuhnya mencelat. Segera terdengar suara nyaring dari beradunya senjata-senjata tajam berulang-ulang, disusul dengan jeritan, “Aduh!” tiga kali yang datang dari sisi gelanggang pertempuran. Tujuh Kim-wan kena tersampok mental. Touw Leng Ciok kaget. Dengan tameng kim-pay, ia menyampok sebuah peluru yang meletik ke arahnya. Touw Leng Hu dan Touw Leng Cek, yang berada di kiri dan kanannya tidak terluka, tetapi adik mereka yang nomor lima, Touw Leng

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tam, terkena tulang keringnya. Dua kurban lainnya, ialah dua tauw-bak, yang terhajar embun-embunannya. Habis menyelamatkan diri, Khong Khong Jie tertawa. “Jarum juga ingin aku kembalikan pada kamu!” katanya, yang lantas menggeraki pedangnya. Untuk herannya semua orang, seraup jarum bwe-hoa-ciam berkumpul menjadi satu di ujung pedang pendek, seperti juga ujung pedang itu ada besi beraninya. Ketika pedang dikibaskan, semua jarum itu buyar hancur, terbang seperti bunga rontok. Touw Sian Nio gagah dan tabah tapi toh dia kaget sekali, hingga mukanya menjadi pucat. Tak ia sangka musuh demikian liehay. Habis itu, Khong Khong Jie berseru pula, “Toan Hujin, aku telah belajar kenal dengan pelbagai senjata rahasiamu, maka sekarang masih ada ilmu golokmu Yu-sin Pat-kwa-too! Aku kira toh kau tak berkeberatari untuk memberi pelajaran itu padaku!” Selagi berkata itu, Khong Khong Jie tidak berdiam saja, terus ia menempur Kui Ciang, terus ia mendesak mundur lawannya itu, sampai Kui Ciang mundur lagi tiga tindak. Touw Sian Nio menyambuti, “Baiklah, kami berdua suami isteri akan melayani kau!” Lantas ia mengeluarkan sepasang golok tipis dan lemas, liuyap-too, untuk lompat menyerang. Goloknya itu satu panjang, satu lagi pendek. Sian Nio sangat disayang ayahnya, ia pun cerdas dan rajin, maka ia berhasil mewariskan semua kepandaian ayahnya itu, dan ilmu golok Pat-kwa itu, Yu-sin Pat-kwa-too, merupakan salah satu yang istimewa.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Khong Khong Jie ketahui tentang ilmu golok itu, dengan berani ia menantangnya. Sinar golok lantas berkeredepan mengurung lawan, membantui Kui Ciang. Tubuhnya Sian Nio pun sebat sekali mengimbangi bergeraknya golok itu. Maka celakalah kalau orang kalah gesit melayaninya. Dengan majunya isterinya, semangat Kui Ciang bertambah, pedangnya lantas bergerak lebih hebat. Ia terdesak tapi tetap ia tak dibikin kelabakan, ia dapat berlaku tabah dan sebat. Segera juga Khong Khong Jie tak dapat mendesak lebih jauh pada Kui Ciang. Dia mesti memecah perhatian, guna berjagajaga dari kedua goloknya Sian Nio. Kui Ciang berbesar hati tetapi berbareng ia merasa malu sendirinya. Di dalam hatinya ia mengeluh, “Aku malu...” Itulah sebab, sebagai tayhiap, seorang jago, ia mesti menempur musuh dengan main keroyok! Sudah begitu, musuh pun tetap tangguh! Touw Leng Ciok senang melihat suami isteri itu telah turun bersama menghalang Khong Khong Jie, akan tetapi lega hatinya tidak lama atau mendadak ia menjadi terperanjat. Itulah sebab dengan tiba-tiba Khong Khong Jie berseru nyaring, sambil berseru, dia merubah siasat berkelahinya, dia terus melakukan serangan pembalasan. Begitu hebat dia mempergunakan pedang pendeknya, Kui Ciang dan isterinya seperti terkurung sinar pedang. Khong Khong Jie berlompatan gesit ke pelbagai penjuru guna mengurung sepasang suami isteri itu. Disampingnya pandai itu, Khong Khong Jie cerdas sekali. Didalam tempo yang pendek ia telah memperhatikan ilmu golok http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sian Nio, habis mana, ia melakukan serangan membalasnya itu, hingga ia segera menjadi si penyerang pula. Ilmu golok Touw Sian Nio membutuhkan kelincahan tubuh, supaya ia dapat bergerak dengan merdeka dan gesit ke empat penjuru. Hal ini dapat diterka Khong Khong Jie, lantas Khong Khong Jie mengatasinya. Khong Khong Jie dapat melakukan itu karena ia menang unggul dalam ilmu ringan tubuh. Bahkan selain Sian Nio, pedang Kui Ciang turut kena dikekang oleh kesehatannya itu. Di antara para hadirin, kecuali Lam Ce In dan Touw Leng Ciok, tak ada yang lantas melihat perubahan itu. Di mata biasa, mereka itu bertiga saling menyerang sama hebatnya. Orang umumnya merasa tegang sendiri karena kehebatan pertempuran itu. “Inilah berbahaya,” pikir Leng Ciok setelah ia menyaksikan pula sekian lama. Ia tidak mau menanti ketika lagi, tanpa pikir banyak-banyak, ia lantas bertindak. Mulanya ia melirik kepada saudarasaudaranya dan mengedipi mata, habis itu ia berseru, “Ong Cecu, mari kita membantu meramaikan!” Lalu ia memutar kim-paynya dan tanpa menanti jawabannya Ong Pek Thong, ia lompat menyerang saingan itu, yang diarah batok kepalanya!. Menyusuli gerakan kakaknya itu, Touw Leng Hu mengulur tangannya yang panjang menyerang pada Ong Yan Ie! Touw Leng Ciok menjadi tertua dari Touw-ke Ngo-houw – Lima Harimau Keluarga Touw, dia pun menjadi pemimpin Rimba Hijau, kepandaiannya dapat dimengerti, dia tak dapat http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dipandang ringan, akan tetapi diserang hebat si nona, meski dia tidak lantas terlukakan, dia toh terdesak mundur berulangulang. Menampak demikian Touw Leng Hu lantas berseru, tak menghiraukan balutan lukanya, ia maju sambil memutar goloknya, guna menyerang nona itu. Touw Leng Sin bersama Touw Leng Cek dan Touw Leng Tam telah menurut buat, mereka juga menghunus senjatanya masing-masing, serentak mereka maju mengepung puterinya Ong Pek Thong. Ong Yan Ie benar-benar bernyali besar, bukannya dia mundur atau berkuatir, dia justeru tertawa nyaring. Kata dia dengan gembira, “Akan aku menemani beberapa paman Touw ini main-main! Ayah, kau duduk saja menonton keramaian!” Sembari berkata begitu, dia bekerja terus. Dengan gerakan “Menunjuk langit menggaris bumi,” Nona Ong menikam Touw Leng Sin di kirinya, lalu ke kanan, dia menabas kepada Touw Leng Tam. Leng Tam masih dibalut kakinya, tulang keringnya bekas dihajar peluru emas nyasar dari Sian Nio, karena itu gerakannya tak sebat lagi, justeru itu si nona menyerang dengan cepat luar biasa, segera dia menjerit keras dan tubuhnya roboh terguling. Ujung pedang si nona berhasil menabas dengkulnya. Dengan robohnya ini satu penyerang, pengepungan menjadi meninggalkan sebuah lowongan kosong. Ong Pek Thong bertindak keluar, dengan angkuh dia duduk di tengah-tengah Cie Gie Thia, ruang rapat. Itulah “Kursi Kebesarannya” Touw Leng Ciok, kursi yang memakai alas kulit harimau. Sembari duduk itu dia .tertawa terbahak-bahak, terus http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dia berkata nyaring, “Inilah dia anak kerbau yang tak takut harimau! Baiklah, ayahmu akan menonton keramaian ini! Anak Yan, berhati-hatilah!” Kui Ciang melihat kelima Harimau maju tanpa menghiraukan lagi kehormatan Rimba Persilatan, ia menjadi masgul dan menyesal, tidak ayal lagi ia mengibaskan pedangnya, untuk lompat keluar kalangan, untuk terus berkata nyaring, “Khong Khong Jie, aku menyerah kalah! Sian Nio, mari kita pergi!” Sebenarnya, kalau mereka bertarung terus, suami isteri ini masih dapat bertahan sekian lama, tetapi keadaan membikin tayhiap itu putus asa. Maka ia mengambil keputusan itu tanpa memperdulikan ia bakal ditertawakan orang atau tidak... Hati Sian Nio gentar. Inilah ia tidak sangka. Tentu sekali, ia lantas menjadi bingung. Ia harus turut suaminya itu atau tetap membelai kakak-kakaknya? Kelima kakak itu lagi menghadapi saat mati hidup! Sebaliknya ia melihat suaminya sudah bertindak di ambang pintu! Kalau ia tidak ikut suaminya itu maka putuslah cinta kasih suami isteri yang sudah berjalan sepuluh tahun itu! Mereka tentu akan berpisah buat selama-lamanya... Khong Khong Jie tertawa pedangnya ke dalam sarungnya. terbahak. Dia menyimpan

“Terima kasih yang kau suka mengalah!” katanya nyaring. “Di dalam tempo tiga bulan, akan aku menantikan di kuil Ceng Hong Koan di gunung Giok Sie San di kota Liang-ciu! Sembarang waktu kamu suami isteri yang mulia dapat datang untuk mengambil pulang anak kamu!” Touw Sian Nio melengak. Dia memang telah keluar kata, kalau dia kalah, dia tak bakal memperdulikan lagi urusan kakak-

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kakaknya, sekarang suaranya Khong Khong Jie memberi ingat dan menyadarkan dia pada janjinya itu. Dialah wanita jantan, dia menjunjung kehormatan dan kepercayaan, tak dapat dia melanggar itu. Maka itu, setelah berdiam sejenak, tak perduli hatinya nyeri, dia lantas menyimpan sepasang goloknya, dengan tindakan limbung, dia menyusul suaminya ke pintu. Dia berkepala pusing, matanya berkunang-kunang. Sudah begitu, dia pun tak berani menoleh untuk memandang lagi pada saudara-saudaranya. Kui Ciang melihat isterinya terhuyung, ia lompat untuk memegangi, maka dengan separuh dipepayang, Sian Nio turut suaminya meninggalkan gelanggang, buat lari turun dari gunung. Khong Khong Jie membiarkan orang berlalu, sambil tertawa dia kata pada Ong Pek Thong, “Ong Toako, sekarang pun datang ketikaku untuk menonton keramaian! Ha, ha! Bagus, bagus, keponakanku!” Dia menyerukan Yan Ie, “Bagus ilmu pedangmu! Aku lihat, tak usah sampai lagi sepuluh tahun, dia pasti bakal menyandak ilmu pedangku!” “Saudara, kau terlalu mengangkat tinggi, kau terlalu memuji bocah itu!” menyambut Ong Pek Thong, tertawa. “Sebagai paman, seharusnya saja kau mendidik lebih jauh kepada keponakanmu itu!” “Baik!” seru Khong Khong Jie, yang memberi janjinya. “Anak ini Cuma kurang latihannya! Nah, lihatlah itu, jurus itu mestinya dikendorkan sedikit, dia mesti menanti sampai lawan menyerang, baru dia menabas lengannya! Nah, itu pun terlalu ke kanan! Oh, lekas, lekas gunai jurus ‘Bintang melayanglayang’! Ah, sayang, sayang!” Khong Khong Jie bersama Ong Pek Thong duduk berhadapan, berbicara dengan asyik, seperti juga di sisi mereka http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tidak ada or^ng lain, sedang sebenarnya di dekat mereka orang lagi bertempur maty-matian. Mereka menganggap pertempuran itu bagaikan permainan. Si nona, dengan mendapat pelbagai petunjuk dari samping, berkelahi semakin hebat. Sebenarnya, persaudaraan Touw, dengan lima lawan satu, masih berkelebihan tenaga untuk mengalahkan si nona, tak perduli mereka kekurangan Touw Leng Kam dan Touw Leng Hu yang, karena memandang enteng kepada musuh, sudah kutung sebelah tangannya, hingga mereka berempat memiliki tinggal tujuh buah lengannya, hanya sayang setelah berlalunya Toan Kui Ciang suami isteri, orang-orang Touw Ke Ce telah kehilangan semangatnya. Kempat saudara itu, dengan beradanya Khong Khong Jie, telah gentar hatinya, apapula jago itu tak hentinya memberi petunjuk pada nona lawannya. Touw Leng Ciok berkuatir dan bergusar sekali, hingga ia menjadi nekad, sambil mengertak gigi, dengan sepasang paynya ia melakukan serangan mati-matian, untuk mati bersama dengan musuhnya. Ia menerjang berikut tubuhnya yang ditubrukkan. Ia bertubuh tinggi dan besar, berikut pay-nya itu, ia bagaikan bukit roboh... Melihat cara menyerang hebat itu, Khong Khong Jie berkata, “Hok-te Keng-liong-kiam!” Si nona sudah lantas menjatuhkan dirinya, begitu jatuh, pedangnya menyambar. Dengan satu suara keras, kaki kiri Touw Leng Ciok sebatas dengkul kena terbabat putus. Liehay sekali si nona melaksanakan petunjuk itu, petunjuk tipu silat pedang “Naga mendekam”. Habis itu si nona berlompat bangun dengan gerakan “Le-hie Ta-teng” atau “Ikan gabus meletik”. Berbareng http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dengan bangun berdiri itu, selagi lawannya kaget dan kesakitan, ia menendang terlepas sebatang golok lawannya itu. Sembari tertawa, ia tanya ayahnya, “Ayah, biarkan mulut hidup atau jangan?” Itulah pertanyaan yang berarti musuh harus dibiarkan hidup atau tidak... Belum sempat Ong Pek Thong menjawab puterinya itu, Touw Leng Ciok sudah berteriak terhadapnya, “Ong Pek Thong, meskipun aku menjadi hantu, akan aku balas sakit hati ini! Tak Nanti aku memohon ampun!” Habis berseru itu, mendadak dengan pay-nya – kim-pay – ia menghajar kepalanya sendiri! Maka pecahlah kepala jago Touw Ke Ce Ini, tubuhnya terguling, nyawanya terbang melayang... Tiat Mo Lek menyaksikan ayah angkat itu terbinasa, hatinya terasakan hancur. Maka ia pun menjadi nekad. Dengan lantas ia mencabut goloknya, untuk maju menerjang, guna membunuh si nona. Hanya baru sebelah kakinya bertindak atau sebelah lengannya menjadi kaku sendirinya, terus disusul dengan lunak lemas seluruh tubuhnya, hingga ia mesti berdiam saja tak dapat bergerak. Ketika ia menoleh, karena ia tahu orang telah totok padanya, ia melihat Lam Ce In lagi mencekal lengannya yang kaku itu dan Ce In terus berbisik padanya, “Mo Lek, sekali-kali jangan kau turun tangan!” Baru setelah itu terdengar jawaban Ong Pek Thong kepada anaknya, “Melepas harimau mudah, menangkapnya sukar, http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

maka itu karena lima Harimau dari Touw Ke Ce tak takluk pada kami Keluarga Ong, haruslah membabat rumput berikut akarnya, satu juga tak dapat ampun!” “Baik ayah, aku turut perintah!” berseru si nona dengan penyahutannya tanda mengerti, terus dia menghadapi Touw Leng Ciok, untuk berkata sambil tertawa manis, “Paman Touw, aku telah menerima perintah ayahku, hari ini ingin aku memberi selamat jalan kepadamu!” Kata-kata itu ditutup dengan satu tabasan, maka Leng Ciok roboh tanpa ampun pula. Matanya Touw Leng Hu menjadi merah, dalam gusarnya itu, ia berlompat kepada si nona. Nona itu sebaliknya sangat waspada dan gesit, ia mendahului menyambut dengan tikamannya ke ulu hati di mana pedangnya nancap! Touw Leng Sin menjadi nekad. Didalam ilmu silat, dia Cuma dibawahan kakak tuanya. Dia berteriak, “Ong Pek Thong, akan aku adu jiwaku denganmu!” Tanpa menanti si nona menerjang kepadanya, dia lompat kepada Ong Pek Thong, guna menghajarnya dengan tongkatnya. Si nona sebaliknya sudah lantas bergerak, guna menyusul padanya. Sebat sekali nona itu mencabut pedangnya dan berlompat. Ong Pek Thong sendiri tertawa berkakak dan menjawab, “Touw Lao-jie, aku masih ingin hidup beberapa tahun lagi! Baik kau berangkat terlebih dulu supaya kau dapat berkumpul bersama saudara-saudaramu!” Touw Leng Sin tidak menjawab ejekan itu, tongkatnya sudah turun ke arah musuh, atau mendadak punggungnya terasa dingin dan sakit, karena pedang si nona sudah nancap di punggungnya itu! http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Ce In menyaksikan kejadian itu, ia anggap si nona terlalu telengas, maka juga meski ia sudah menyatakan tidak campur urusan kedua keluarga itu, ia panas hatinya, ia gusar sekali. Ketika itu di dalam ruang itu ada belasan tauwbak Touw Ke Ce, semuanya pengikut-pengikut lama Keluarga Touw, mereka semua setia kepada pemimpin mereka, maka dari itu,”semua mata mereka menjadi merah, tanpa perdulikan apa lagi, mereka maju menyerang nona itu. Si nona menyambut belasan penyerangnya. Ia menunjuki kelincahannya. Bagaikan cecapung memain di air atau kupukupu beterbangan di antara bunga, ia berputaran disekitar lawan-lawannya, atau nyeplos molos di sisi mereka itu. Setiap ia menyerang, ia mengarah bagian-bagian anggauta yang berbahaya, maka selang sekian lama, sudah tujuh atau delapan musuh yang roboh terluka. Ong Pek Thong mengerutkan alis memandang pertempuran macam itu, kata dia, “Touw Lao-toa memerintahkan orangorang semacam ini maju menjual jiwa untuknya, sungguh tak kecewa dia menjadi kepala Rimba Hijau, dia menyebabkan orang kagum terhadapnya! Dengan begini bolehlah dia nanti mati dengan mata meram!” Ce In mengertak gigi, ia menahan diri sebisa-bisa. Ia kata berulang-ulang dalam hatinya, “Tak dapat aku turut terlibat dalam arus mata air ini! Tak dapat aku turut terlibat dalam arus mata air ini! Sekalipun untuk Tiat Mo Lek, tidak dapat aku kena terlibat arus mata air ini!” Lantas ia menarik tangannya Mo Lek, buat diajak pergi dari tempat yang keruh itu.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tiba-tiba satu sinar pedang berkelebat dan seorang nona menegur bengis, “Mau pergi kemana?” Pedang itu menyambar dengan satu tipu silat yang berbahaya kepada Lam Pat. Ce In berkeliat, dengan mengangkat tangannya, ia menekan pedang itu. Si nona terperanjat hingga dia melengak. Dia merasakan telapakannya panas akibat tekanan atau tolakan itu. Ketika ini digunai Ce In mengajak Mo Lek berjalan terus. “Kau siapa?” si nona membentak setelah dia sadar. Kembali dia menyerang dengan pedangnya yang liehay itu. Kali ini dia menggunai tikaman “Bianglala putih menutupi matahari”. Karena Ce In sudah lewat, dia menikam punggung orang she Lam itu. Ce In ketahui datangnya serangan, ia menangkis ke belakang. Orang segera mendengar suara saling susul, “Sret!” dan “Tiang!” Itulah suara dari robeknya baju Ce In dan mentalnya pedang si nona. Tangkisan Ce In sedikit terlambat tapi toh masih mengenai sasarannya. Si nona terkejut. Pedangnya tersampok hampir terlepas. Tapi ia tidak menjadi takut, bahkan tanpa bersangsi ia lompat lebih jauh, guna melewati Ce In berdua, guna menghadang pula. Ia tertawa dan kata, “Aku tidak sangka paman Touw dapat menyembunyikan seorang yang liehay! Beritahukan namamu, lantas kita mencoba-coba pula!” Ce In menghela napas dalam hatinya. Ia pikir, “Dia masih begini muda tetapi dia sudah telengas sekali, aku kuatir http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dibelakang hari dunia Rimba Persilatan bakal tambah dengan satu hantu baru...” “Eh, kenapa kau tidak mau bicara?” si nona menegur kembali sambil tertawa. “Apakah kau jeri terhadap paman Khong Khong Jie itu? Kalau benar begitu, jangan kau kuatir! Aku tak usah dibantu dia! Sebenarnya siapakah kau?” Ce In melintangi pedang di depan dadanya. “Aku Lam Ce In dari Gui-ciu!” sahutnya. “Aku mengantarkan Toan Tayhiap datang ke mari, aku bukan bala bantuan yang diundang Keluarga Touw! Aku juga tidak memikir mencampuri keruwetan kamu kedua keluarga. Jikalau nona berkukuh hendak memberi pengajaran kepadaku, nah, terpaksa aku si orang she In akan menemani juga padamu!” Mendengar itu, Ong Pek Thong sudah lantas berlompat bangun sambil berseru. Dia pun kata, “Oh, kiranya Lam Tayhiap! Anak Yan, jangan kurang ajar!” Tapi si nona menanya, “Jadinya kaulah yang telah melukai kakakku? Ayah...!” Dia seperti memohon ayahnya mengijinkannya turun tangan Ong Pek Thong mendengar panggilan “Ayah” itu, ia mengasih dengar suaranya yang bengis, “Anak Yan, kau kembali! Jangan rewel!” Ia lantas bangun, untuk lekas memberi hormat pada Ce In. Ia kata, “Kemarin ini anakku tak tahu apa-apa, dia telah berlaku kurang hormat kepada kau, tayhiap, untuk itu aku minta sukalah kau memberi maaf.” Sikap itu halus dan hormat, beda dengan sikapnya menghadapi Keluarga Touw. Mau atau tidak, Ce In menjadi heran. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dalam dunia Kang Ouw, “Muka” adalah soal paling penting. Maka disana ada pepatah, “Orang menghormati orang satu tombak”. Maka itu Ce In, walaupun ia tak puas, ia mesti membalas hormatnya Pek Thong. Ia kata, “Aku si orang she Lam tak ketahui pemuda itu ialah putera Ong Cecu, aku menyesal, harap maaf!” Ia hanya hening sejenak, lantas ia menambahkan, “Aku datang bersama Toan Tayhiap, aku harus pergi bersama dia, karena itu apakah cecu dapat mengijinkan aku berlalu?” Ong Pek Thong tertawa. “Karena Lam Tayhiap bukan orang Touw Ke Ce, sudah tentu kau * tidak mempunyai sangkutan dengan urusan kita ini,” katanya. “Mana aku berani menahan tayhiap?” Ce In luas pergaulannya, tak kalah dengan terkenalnya Toan Kui Ciang, sedang gurunya, Mo Keng Lojin, menjadi satu di antara Bu Lim Sam Lo, Tiga Tertua Rimba Persilatan, yang ilmu silatnya tak tahu orang dimana batasnya. Ong Pek Thong ketahui itu, maka Pek Thong suka memberi muka. Ia mengangguk. “Kalau begitu, terima kasih!” kata Ce In. Ia lantas menarik tangannya Tiat Mo Lek, buat diajak pergi bersama. “Aku minta anak muda ini ditinggalkan!” mendadak Pek Thong bilang. Ce Lam terkejut. “Dia juga bukan orang Touw Ke Ce!” ia kata cepat. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

“Bukankah dia yang bernama Mo Lek, anaknya Tiat Kun Lun?” Pek Thong tanya. “Aku dengar kabar dia menjadi besar di rumah Keluarga Touw.” “Tidak salah, dia memang menjadi besar di Touw Ke Ce,” sahut Ce Lam. “Meski demikian, dia bukannya murid keluarga Touw. Aku minta sukalah cecu melepaskannya.” Buat guna Tiat Mo Lek, inilah yang pertama kali Ce In minta kebijaksanaan orang. Tiat Mo Lek telah ditotok urat gagunya oleh Ce In, tidak dapat dia bicara, meski demikian, matanya masih melek, maka itu dia mengawasi Ong Pek Thong dengan sorot mata yang bengis. Ong Pek Thong tertawa tawar. “Lam Tayhiap,” katanya, “Setelah kau ketahui asal-usul dia, mustahil kau tidak ketahui juga bahwa dialah anak angkat dari Touw Lao-toa? Karena itu terang dia menjadi anggauta Keluarga Touw.” “Bocah itu bernyali sangat besar!” Khong Khong Jie campur bicara. Ia bicara dengan Ong Pek Thong. “Kau lihat bagaimana dia memandang kau dengan sinar matanya gusar! Rupanya dia membenci kau sampai di dalam sumsumnya!” “Hm!” Pek Thong mengasih dengar ejekannya. “Coba dengar apa kata dia!” kata Khong Khong Jie pula. Terus dia menyentil dengan dua jeriji tangannya, memetilkan sebuah thie-lian-cie atau biji teratai besi dengan apa dia menotok bebas pada Tiat Mo Lek. Tiat Mo Lek memang gusar sekali, maka juga begitu dia bebas, begitu dia membentak, “Ong Pek Thong, jikalau kau

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

takut aku menuntut balas nanti, sekarang lekas kau bunuh aku!” Ce In kuatir anak itu menerjang, ia mencekal keras tangannya. “Ong Toako, bocah ini benar-benar pandai bicara!” kata Khong Khong Jie pula. “Jikalau kau tidak membiarkannya dia pergi, benar-benar kelihatannya kau jeri terhadapnya.” Ong Pek Thong habis daya. Dia mengulapkan tangannya. “Baik, kau pergilah!” katanya. “Akan aku menunggu kau untuk kau nanti mencari balas!” Ce In lantas tarik tangan bocah itu buat diajak berlalu dari pintu benteng. Dimana-mana di atas gunung ia melihat banyak liauwlo, yaitu tentara Touw Ke Ce. Merekalah semua liauwlo yang tak sudi menakluk pada pihak Ong, mereka pada pergi mencari jalan hidup sendiri. Dengan terus memegangi tangan Mo Lek, Ce In berlari-lari sampai belasan lie. Mereka meninggalkan jauh kawanan liauwlo di belakang mereka, tetapi mereka tidak dapat melihat Toan Kui Ciang. Akhirnya Mo Lek berhenti lari, di terus menangis. Ce In tahu orang sangat bergusar dan berduka, ia membiarkan, baru setelah lewat sekian lama, ia kata sabar, “Ayah angkatmu sekeluarga, semua orang-orang yang hidupnya di ujung golok, maka juga, kalau bukan mereka yang membunuh orang, orang lain yang membunuhnya. Karena itu kau harus dapat mengerti dan membuka pikiranmu hingga lapang.” ---ooo0dw0ooo---

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Jilid 9 "Meski demikian, tak selayaknya mereka terbinasa di tangannya si bangsat tua Ong Pek Thong ayah dan anak!" berkata Mo Lek sengit. "Kau lihat kekejaman mereka hari ini! Jikalau mereka menjadi kepala Rimba Hijau, pasti mereka bakal jauh terlebih kejam daripada ayah angkatku itu!" Ce In menghela napas. "Di dalam Rimba Hijau itu, ada berapa banyak orang yang dapat dibilang hiap-too?" ia tanya. Ia menyebut "Hiap-Too" atau penjahat budiman. "Ayahmu terhitung satu di antaranya, juga Koay Ma Yauw dari kota Thong-ciu. Yang lain-lainnya sulit untuk membilangnya. Aku beri ingat kepada kau baiklah peristiwa hari ini kau anggap sebagai satu impian jahat saja, setelah kau sadar, habislah sudah. Dan sejak hari ini kau juga baik jangan hidup pula di dalam Rimba Hijau!" "Ayah angkatku melepas budi merawat dan mendidik, aku sepuluh tahun lamanya," jawab Mo Lek, "Dapatkah karenanya sakit hati ini tak usah dibalas?" Ce In tahu orang masih panas hati, mengertilah ia nasehat lebih jauh tak ada faedahnya, maka ia kata, "Jikalau kau berniat mencari balas maka sudah selayaknya kau lebih-lebih menyayangi dirimu! Barusan Ong Pek Thong melepaskan kau bukan karena hatinya yang baik, dari itu baiklah kau lekas-lekas menyingkir jauh dari sini." Mo Lek, yang tadinya berduduk, berjingkrak bangun. Ia menepas kering air matanya.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Paman Lam, banyak yang kau ucapkan barusan, cuma ada beberapa kata-kata yang masuk dalam otakku!" kata ia. "Aku biasa omong terus terang, kau tidak gusar padaku, bukan?" Mendengar itu, di dalam hatinya Ce In menghela napas dan pikir, "Ini macam sakit hati dan balas membalas dunia Rimba Hijau, sampai kapan sampai diakhirnya?" Ia menjawab, "Kau berhati besar dan keras, itulah sifatnya seorang gagah! Tapi keras itu mudah patah, dari itu, kekerasan mesti dipakai pada tempatnya. Ah...! Aku tahu, kata-kataku ini sekarang ini pasti kau tak dapat terima, dari itu baiklah kita tunggu sampai beberapa tahun lagi, umpama kata kita dapat bertemu pula, itu waktu barulah aku mau bicara secara perlahan-lahan dengan kau. Sekarang mari kita cari dulu Paman Touw-mu itu!" Mo Lek menurut, ia mengikut. Jalan selintasan, mereka berpapasan dengan satu pasukan liauwlo yang mengibarkan bendera dengan sulaman huruf "Ong" dan di muka barisan itu nampak puteranya Ong Pek Thong duduk di atas kudanya dengan romannya sangat puas, cuma mukanya bengkak bengap, rupanya dia bekas habis berkelahi. Sebenarnya pemuda itu datang bersama barisannya guna merampas Touw Ke Ce, barusan di tengah jalan dia bertemu Toan Kui Ciang suami isteri, oleh Touw Sian Nio dia diberi persen sebutir peluru panah, siapa tahu sekarang ini dia berpapasan pula dengan Lam Ce In dan Tiat Mo Lek. Dia menjadi terperanjat. Dalam herannya dia berpikir, "Bagaimana Khong Khong Jie? Kenapa mereka semua dibiarkan lolos?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tauwbak yang berada paling depan melihat Mo Lek, yang dia kenali, dia majukan kudanya untuk menghampirkan, guna menangkap anak muda itu. Mo Lek gusar, ia pun maju sambil membentak. "Jangan!" teriak Ce In, yang hendak mencegah. Tapi si tauwbak sudah tiba dan sudah lantas menyerang dengan tombaknya, atas mana Mo Lek tangkap senjatanya itu, terus ditarik, maka robohlah dia. Terus Mo Lek mengayun tombak orang, yang ia dapat rampas itu, kalau tidak ada cegahan Ce In, mungkin tubuhnya sudah tertancap di tanah tertusuk tombaknya itu sendiri. Ce In segera menyerukan si pemimpin pasukan berandal itu, "Ong Siauw-cecu, kau mau apa? Apakah kau ingin bertanding pula dengan aku si orang she Lam?" Anak muda itu, yang berseragam kuning, melihat Ce In berdua, lantas tertawa lebar. ^ Mo Lek gusar. "Jangan jumawa!" dia membentak. "Kamu juga cuma mengandal pada Khong Khong Jie!" Anak muda itu tidak meladeni bicara. "Bukankah ayahku yang melepaskan kamu?" dia tanya. Dia menanya begitu karena dia melihat dandanan Ce In dan Mo Lek berdua rapih dan bersih, tak ada tanda-tandanya mereka terluka. Kalau mereka itu menempur Khong Khong Jie, tidak nanti mereka dapat mundur dengan tubuh utuh. Mukanya Ce In merah. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kalau benar, bagaimana?" ia tanya. "Apakah kau tidak puas dan hendak menahan kami?" Pemuda berbaju kuning itu tertawa. "Aku panglima pecundang, tak dapat aku bicara dari hal kegagahan," sahutnya terus terang, tetapi nada kejumawaan. "Tapi kamu juga jangan berlagak gagah di depanku! Karena ayahku sudah melepaskan, membiarkan kamu turun gunung, maka kamu silahkan pergilah!" Pemuda itu menggeraki leng-kie, bendera titahnya, maka barisannya lantas bergerak membuka jalan ke kiri dan kanan. Lam Ce In benci anak muda ini. Rasa benci itu mulai sejak pertama kali ia menemuinya. Sekarang ia mendengar suara orang, ia menyaksikan lagak tengiknya itu, ia gusar sekali. Hampir ia umbar amarahnya tatkala ia ingat, "Baru saja aku nasehati Mo Lek jangan sembrono, kenapa kau melupai itu?" Maka ia lantas mengendalikan diri. Dengan menuntun tangan Mo Lek, ia lantas berjalan pergi. Mereka terus berjalan cepat. Selang belasan lie, mata Ce In yang tajam melihat dua orang di bawahnya sebuah pohon besar. Bahkan ia mengenali Toan Kui Ciang beserta isteri. "Toako! Toako!" ia lantas memanggil. "Siauwte bersama Mo Lek di sini!" Kui Ciang menyahuti, suaranya tapi dalam. Touw Sian Nio berdiam saja, sinar matanya guram. Ia baru seperti orang mendusin ketika Mo Lek, yang lari ke arahnya, sudah lantas menangis. Tubuhnya terus menggigil, bergemetar keras. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Bagaimana?" tanya dia. "Mereka... mereka..." Mo Lek menangis pula. "Gie-hu telah menutup mata!" ia memberitahukan kematian ayah angkatnya. "Kempat paman juga mati semuanya...! Kouwkouw, kau... kau..." Tubuh Sian Nio menggigil pula. Ia tahu Mo Lek minta ia menuntut balas. "Apakah Khong Khong Jie yang menurunkan tangan jahat?" ia tanya. "Bukan," sahut si bocah cepat. "Dialah anak perempuannya Ong Pek Thong! Budak celaka itu jauh terlebih ganas dari Khong Khong Jie! Kouw-kouw, kau..." Mata Sian Nio berdiam, sinarnya dingin. Mo Lek melihat itu, dia berdiam. Diluar dugaan, Sian Nio tidak menangis. Tapi sikapnya itu membuktikan bahwa hatinya karam, bahwa ia berduka melebihi daripada ia menangis menggerung-gerung. Hanya lewat sekian lama, dia ngoceh sendiri, "Bagaimana dapat aku bertemu sekalian kakakku itu di alam baka...? Kui Ciang... Kui Ciang..." "Sian Nio," menyahut sang suami, berduka bukan main, "Didalam lain urusan aku selalu bersedia untukmu, hanya didalam ini urusan, tak dapat aku berbuat apa-apa." Sepasang suami isteri ini telah mengenal baik diri masingmasing. Kui Ciang tahu apa yang dipikir dan dikehendaki http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

isterinya, tetapi Sian Nio juga insaf, buat guna janjinya dengan Khong Khong Jie, tidak dapat suami itu menuntut balas guna kelima saudaranya itu. Tiba-tiba Sian Nio mengangkat kepalanya. "Engko!" ia memanggil suaminya. "Seumurku ini sekarang aku cuma mau minta satu hal kepadamu. Inilah hal yang kau pasti dapat lakukan." "Apakah itu, adikku?" "Selama di desa kau membuka rumah perguruan silat, kau sebenarnya belum pernah menerima seorang murid yang sah," berkata isteri itu, "Maka sekarang aku mau minta kau menerima dan mengarlgkat Mo Lek menjadi ahli warismu. Mo Lek, apakah kau suka mengangkat kouwthio sebagai gurumu?" Pertanyaan yang belakangan ini ditujukan kepada si bocah she Tiat. Dua-dua Kui Ciang dan Mo Lek melengak. Hanya sebentar, keduanya lantas dapat menerka hatinya Sian Nio. Mo Lek sudah lantas menjatuhkan diri, berlutut di depan Kui Ciang, untuk mengangguk-angguk. Ia mau menjalankan aturan besar mengangkat guru. Untuk itu, ia mesti berlutut tiga kali dan mengangguk sembilan kali. Ia baru mengangguk satu kali ketika tiba-tiba; "Tahan dulu!" kata Kui Ciang, yang terus mengasih bangun bocah itu. "Bagaimana?" tanya Sian Nio heran. "Apakah kau tak sudi terima dia menjadi muridmu?" "Aku memikir untuk kebaikannya," menjawab Kui Ciang. "Seharusnya dia mencari seorang guru yang jauh terlebih liehay daripada aku." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kouwthio," berkata Mo Lek, "Kalau aku dapat mewariskan ilmu pedangmu, aku sudah merasa puas." Kui Ciang tertawa sedih. "Meski kau dapat mewariskan semua kepandaianku, kau masih tidak dapat melawan Khong Khong Jie," ia kata. "Buat apakah itu?" "Tetapi," berkata Mo Lek, "Kalau itu dipakai melawan Keluarga Ong ayah dan anak masih berlebihan. Aku percaya Khong Khong Jie tidak bakal selamanya menjadi pelindung keluarga itu!" Kui Ciang dan isterinya sudah berjanji kepada Khong Khong Jie untuk selanjutnya tidak campur lagi urusan kedua keluarga Touw dan Ong, karena itu Sian Nio menghendaki Kui Ciang menerima Mo Lek sebagai murid. Ia mengharap bocah ini guna pembalasan sakit hati keluarganya itu. Kui Ciang tidak mau campur urusan itu tetapi di satu pihak ia berat terhadap isterinya, kedua ia pun menyayangi si bocah yang bakatnya baik sekali. Maka ia mau memikirkan suatu jalan sama tengah. Sembari memegangi si bocah, Kui Ciang kata pada Ce In, "Saudara Lam, kau ingin minta kau membawa Mo Lek ke Sui Yang supaya dia dapat berguru kepada gurumu. Aku pun minta kau sampaikan kepada gurumu itu supaya ia membuat kecualian dengan menerima bocah ini." "Semasa hidupnya Tiat Cecu, ia bersahabat rapat dengan guruku," kata Ce In. "Guruku juga pernah memesan aku mendengar-dengar kabar perihal Mo Lek. Maka itu, aku percaya, permintaan kau ini bakal kesampaian." Kui Ciang lantas kata pada Mo Lek, "Mo Lek, kita sudah berdiam bersama sekian lama, kali ini kita bakal berpisahan, http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

benar atau tidak dapat menerima kau sebagai murid, akan tetapi dapat aku menghadiahkan kau suatu persenan yang tidak berarti, ini hanya cukup buat menandakan hati kami suami isteri." Berkata begitu, tayhiap ini menyerahkan kitab ilmu pedangnya seraya ia menambahkan, "Inilah kitab pedang warisan keluargaku yang aku tambahkan dengan ilmu pedang lainnya yang aku telah kumpul selama dua puluh tahun, kau ambillah. Telah aku ajarkan kau pelbagai keterangan penting mengenai ilmu pedang, maka asal memahamkannya lebih jauh, kau bakal memperoleh kemajuan pesat. Kau berbakat baik, kau tidak akan nampak kesulitan." Bocah itu kaget. "Kouwthio!" katanya. "Ini... ini... mana dapat! Mana bisa aku menerima warisan ilmu pedang keluargamu?" "Tidak apa!" Kui Ciang mengasih keterangan. "Untukku, aku sudah hafal di luar kepala isinya kitab ini, sedang sekarang ini anakku masih terlalu kecil. Sekarang kau bawalah kitabku ini. Di belakang hari, apabila anakku berhasil lolos dari bahaya dan dia dapat berumur dewasa, kau dapat cari dia untuk memulanginya. Untuk itu, tempomu masih banyak..." "Anak tolol..." Sian Nio membujuk, "Di saat seperti ini buat apa kau berkukuh pula? Kouwthio tidak mau terima kau sebagai murid karena dia mau mengatur terlebih sempurna. Kau terimalah, kalau nanti kau dapat belajar dengan baik, aku pun sangat berterima kasih padamu." Matanya Mo Lek menjadi basah dan merah, ia menyambuti kitab itu, habis mana ia paykui terus hingga tiga kali. Itulah tanda ia diterima sebagai separuh murid.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Jangan kuatir, kouthio," kata ia, yang memberi janjinya, "Tidak nanti Mo Lek mensia-siakan harapan kouwthio dan kouw-kouw!" Baru sekarang, Sian Nio mengasih lihat wajah yang se'dikit terang, hingga ia dapat bersenyum. Katanya, "Kalau dia berhasil mendapatkan pelajaran ilmu dalam dari Mo Keng Lojin dan dia berhasil juga meyakinkan kitab ilmu pedang ini, taruh kata belum tentu dia dapat mengalahkan Khong Khong Jie, sedikitnya dia dapat adu jiwanya!" "Saudara Lam," kemudian kata Kui Ciang pada Ce In, "Selanjutnya aku serahkan Mo Lek kepadamu, aku harap kau suka terus membantunya. Kau telah membatu aku, budimu sangat besar, tak dapat aku lupakan itu. Di sini kita berpisahan sekarang, aku harap kau baik-baik di jalan!" Lam Ce In terharu, apapula ketika mereka berempat, dalam dua rombongan, saling memberi hormat dan berpisahan. Kui Ciang dan isterinya menuju ke Giok Sie San, Liang Ciu, buat meminta pulang anak mereka. IX 'T je Tn berdua Mo Lek tetap melakukan perjalanan cepat. Orang she Lam itu kuatir Ong Pek Thong nanti merubah pikiran dan mengirim orang untuk menyusul Mo Lek, itulah berbahaya. Selang belasan lie, setelah cuaca mulai sore, mereka mampir di sebuah warung teh di tepi jalanan, untuk dahar dan minum sambil sekalian beristirahat. Warung teh itu warung merangkap rumah makan. Ketika masuk, mereka melihat di situ sudah ada dua orang yang bertubuh besar, sedang di depan pekarangan ditambat dua ekor kuda. "Kuda itu bukan sembarang kuda!" Mo Lek kata perlahan. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Meski begitu, dua orang itu dapat mendengar, keduanya lantas menoleh. Lantas dua-duanya menjadi kaget, bahkan yang satu sampai mengeluarkan seruan tertahan. Mo Lek dan Ce In pun heran. Dua orang itu dua opsirnya An Lok San hanya sekarang mereka dandan sebagai rakyat jelata. Ce In kenali yang berseru itu sebagai Thio Tiong Cie, satu di antara empat jagonya An Lok San. Ia tidak kenal temannya, malam itu ia telah menempurnya. Dalam pertempuran di istananya An Lok San dimana dengan golok mustikanya ia melukai belasan Busu, Ce In telah membuatnya dua orang ini seperti "pecah nyali," tidak heran kalau sekarang, bertemu di sini, mereka itu kaget tidak terkira. Thio Tiong Cie lantas berbangkit, untuk menghampirkan. "Oh, hotmat. Lam Tayhiap!" dia menyapa seraya membWri

"Tayhiap baik?" "Tak terluka tak terbinasa, kenapa aku tidak baik?" sahut Ce In. "Kamu berdua juga baik, bukan?" Kawannya Tiong Cie itu, pada malam itu, telah kena dilukakan, sekarang ini lukanya itu baru saja sembuh, maka itu dia likat sendirinya. Dia paksa bangun, untuk memberi hormat. "Terima kasih tayhiap, aku baik-baik saja!" katanya. "Malam itu 'kami bekerja karena kami menjalankan titah," kata pula Thio Tiong Cie, "Karena itu harap tayhiap suka memaafkan kami!" Ce In bersenyum, ia mengulapkan tangannya.. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Tidak apa!" sahutnya. "Silahkan duduk dan dahar terus!" Mo Lek sebaliknya memandang mendelik kepada dua orang itu. "Eh, kamu telah menyalin pakaian!" tegurnya. "Kamu tentu hendak bekerja diam-diam untuk melakukan lagi suatu kebusukan!" "Saudara kecil bergurau!" kata Thio Tiong Cie tertawa, sedang air mukanya berubah saking kaget. "Kami dapat tugas baru untuk melakukan penyelidikan, maka itu kami dandan begini rupa. Ah, sudah bukan siang " lagi, kami perlu lekas berangkat! Maaf, maaf, tak dapat kami menemani lebih lama pula...!" "Tunggu sebentar!" kata Mo Lek. "Perkara apakah itu?" "Perkara kecil, tak berarti," Tiong Cie menjawab, cepat. "Cuma perkara dua dusun bertempur satu pada lain..." "Sudah, Mo Lek," kata Ce In. "Kita jangan usilan! Biarkan mereka pergi!" Ketika itu, kedua orang itu sudah keluar dan naik atas kuda mereka, kata-katanya Ce In seperti pengampunan besar, maka segera mereka mengaburkan kuda mereka masing-masing. "Hm!" kata Mo Lek, masih penasaran. "Lagak mereka mencurigai, pasti mereka bakal melakukan suatu yang busuk. Mustahil perkara perkelahian desa dengan desa menyebabkan merekalah yang diutus mengurusnya?" "Kau benar, urusan memang mencurigai," kata Ce In. "Tapi kita mana kebanyakan tempo untuk segala urusan di luaran itu?" Mo Lek berdiam.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ketika itu tukang warung, yang usianya sudah lanjut, menghampirkan Ce In berdua. Dia memberi hormat. Dia kaget mendengar orang menyebut "Lam Tayhiap". Ce In minta arak dan daging. "Apakah warungmu ini maju?" dia tanya. "Terima kasih!" sahut tuan rumah. "Syukurlah dalam beberapa hari ini banyak sekali tetamu yang berlalu lintas di sini!" Mendengar itu, hati Ce In tergerak. "Tetamu-tetamu macam apakah itu?" Mo Lek tanya. Kembali tuan rumah tertawa. "Kalau tidak salah, tuan-tuan juga orang-orang Kang Ouw!" sahutnya. "Maaf, tuan-tuan, kami cuma berdagang," kami tidak memperdulikan hal ihwalnya para tetamu. Hanya dekat di sana ada bukit Hui Houw San serta para pemimpinnya sering singgah di sini..." Selagi tuan rumah ini bicara itu ada datang lagi dua penunggang kuda, mereka itu tidak turun, mereka cuma melemparkan uang, buat minta dua cangkir teh, yang mereka minum sambil duduk terus di atas kuda mereka, setelah mana mereka berlalu dengan cepat. "Dua orang itu seperti aku kenali rupanya," kata Mo Lek perlahan, "Sayang aku tak ingat lagi dimana pernah aku melihat mereka." Touw Ke Ce banyak menerima kunjungan tetamu, dari itu Mo Lek sering melihat banyak orang, cuma karena ia masih terlalu kecil, ia tak ingat semua, ia melainkan memperhatikan orang-orang yang menjadi sahabat kekal. Kalau yang datang orang biasa saja, Leng Ciok tidak memanggil ia keluar buat menemui. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tak lama datang pula beberapa rombongan tetamu, kebanyakan yang membekal golok dan menunggang kuda, tandanya merekalah orang-orang Rimba Hijau. Sebagai dua yang tadi, mereka minum sebentar, lantas mereka pergi pula. Hingga tuan rumah cuma melayani di muka pintu. Akhirnya Ce In menjadi berpikir juga. Ia tanya dirinya sendiri, kenapa muncul demikian banyak orang, waktu toh sudah sore, dan mereka itu mau apa... Lalu ada tetamu yang sikapnya ragu-ragu. Dia berhenti di depan pintu, dengan bahasa rahasia, dia kata pada kawannya, "Di depan itu jalan cagak dua! Bagaimana, kita pergi ke gunung Hui Houw Wan atau ke selat Liong Bin Kok? Kedudukan Touw Lo-toa sudah tak kokoh lagi, kalau kita tidak terima undangannya pihak Ong, dibelakang hari kita; bisa dapat susah..." Muka Mo Lek berubah sendirinya. Ce In melihat itu, ia menekan tangan orang dan kata, "Dijaman ini ada banyak sekali tukang jilat! Disaat ini, buat apa kau turuti hatimu?" Mo Lek menurut, tetapi dia panggil tuan rumah untuk tanya dimana pernahnya Liong Bin Kok. "Liong Bin Kok?" tuan rumah baliki. "Buat apakah?" "Ada sahabatku di sana," jawab si anak muda. "Oh, begitu! Selat itu terpisah dua puluh lie di barat sini. Lewat sedikit saja ialah Sam Yang Kong." Sam Yang Kong yaitu tanjakan di mana Ce In pertama, kali bertemu si pemuda berpakaian kuning. Mo Lek mengerutkan alis. Selagi ia mau bicara pula, telinganya mendengar ringkik kuda di luar warung. Lagi dua orang tetamu baru tiba. Mereka tidak kesusu seperti http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kebanyakan yang tadi, mereka masuk untuk memesan barang hidangan. Dengan memandang matanya lebar-lebar, Mo Lek mengawasi mereka itu. Mendadak ia bangun dari kursinya, ia memapaki mereka, untuk lantas maju merangkul! Orang itu kaget sekali, akan tetapi setelah ia melihat siapa yang merangkul padanya, ia menjadi heran. "Oh, kiranya Tiat Siauw-cecu!" serunya. "Kenapa siauw-cecu berada di sini?" "Su Toasiok, aku justeru hendak menanya kau!" kata Mo Lek. "Kenapa kau berada di sini? Apakah kau mau pergi ke Liong Bin Kok guna menjumpai dan menghormati pemimpin yang baru?" Orang yang dipanggil toasiok itu, paman, bernama Su Ciang. Dialah sahabat dan kawan sekerja Keluarga Touw. Dialah congkoan, atau pengurus dari pelbagai markas cabang Keluarga Touw di wilayah kota Yu Ciu. Orang yang kedua ialah kawannya, yang bernama Thia Thong,. yang menjadi orang kepercayaannya Touw Leng Ciok. "Ah, siauw-cecu, mengapa kau menanya begini?" kata Su Ciang, masgul. "Mana dapat aku pergi ke Liong Bin Kok? Itu namanya menyerah dan menakluk! Kami justeru mau pulang ke Hui Houw San guna menyerep-nyerepi kabar! Siauw-cecu, kau berada di sini, mungkin, mungkinkah urusan telah jadi rusak?" Mo Lek berduka dan hatinya panas, tetapi dia kata, "Sekarang ini benteng Hui Houw Ce telah dimusnahkan Keluarga Ong! Ayah angkatku bersama kempat paman, semuanya sudah tidak ada di dalam dunia...!" Su Ciang kaget hingga ia menjublak. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Sekarang bukan saatnya berduka!" kata Mo Lek. "Su Toasiok, jikalau kau tidak sudi menakluk, tidak dapat kau pulang ke Hui Houw Ce, sebaliknya kau lekas kembali, untuk memberitahukan semua markas cabang supaya mereka membubarkan diri masing-masing! Bilangi mereka, selama Ki\nh lUmi'Mi /'i luitlutf gunung-gunung masih hijau, maka tak usahlah kita takut kehabisan kayu bakar! Toasiok mengerti sekarang?" Su Ciang sadar. "Ya, aku mengerti," sahutnya. Lam Ce In mengagumi bocah itu. Pikirnya, "Mo Lek masih sangat muda tetapi tindakannya ini tepat sekali, dia dapat melihat jauh! Teranglah dia mengandung cita-cita untuk satu kali membangun pula usaha Keluarga Touw. Dengan begini celakalah dunia Rimba Hijau, dunia itu tak bakal mengalami hari-hari yang tenang..." Kemudian Mo Lek tanya orang she Su itu, "Keluarga Ong mengundang pemimpin-pemimpin Rimba Hijau datang ke Liong Bin Kok, apakah maksudnya? Tahukah kau, toasiok?" "Sebenarnya juga, aku telah menerima surat undangannya," Su Ciang menjawab. "Tadinya Keluarga Ong berkuatir kita nanti menyateroni benteng mereka, maka itu mereka membangun benteng yang dapat bergerak, hingga tak tentu markasnya yang tetap. Baru paling belakang mereka mengambil kedudukan di lembah Liong Bin Kok itu. Di dalam surat undangannya itu Keluarga Ong menyebutkan bahwa Hui Houw Ce telah termusnahkan, maka mereka mengundang orang datang menghadirkan pesta kemenangan. Pasti sekali semua orang mengerti, namanya saja undangan, sebenarnya keluarga itu menghendaki semua orang tunduk di bawah perintahnya!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Hm!" Mo Lek mengasih dengar ejekannya. Dia mendongkol sekali. Dia mengerti sekarang apa perlunya pihak Ong berpusat di Liong Bin Kok, yaitu untuk memudahkan aksinya menumpas Hui Houw Ce, bahwa sekarang Ong Pek Thong lagi berdaya menghapus pelbagai cabang Hui Houw Ce itu. Tatkala itu matahari sudah doyong ke barat. Su Ciang, dan Thia Thong tak dahar lama, mereka tidak mempunyai kegembiraan, maka itu mereka lantas pamitan dari Mo Lek, untuk berangkat pergi. Tuan rumah terkejut mendapat tahu bocah itu sebenarnya siauw-cecu, ketua muda, dari Hui Houw Ce. Dia lantas menghampiri dan kata, "Oh, oh, kiranya siauw-cecu! Kalau begitu siauw-cecu, suka aku memberi nasehat supaya lekaslekas siauw-cecu berlalu dari sini! Tempat ini terpisah dekat sekali dengan lembah Liong Bin Kok!" "Kau jangan berkuatir untukku!" kata Mo Lek, dingin. "Aku memang mau segera berangkat! Tidak nanti aku bikin kau kena terembet-rembet!" Ketika itu ada datang lagi dua penunggang kuda, masingmasing datangnya dari timur dan barat jalan besar. Mereka itu berbareng tiba di depan warung. Orang yang satu bertubuh besar dan kekar, yang lainnya orang usia pertengahan, tak berkumis dan mukanya putih. Si orang bertubuh besar memberi hormat sambil menyapa terlebih dulu, "Saudara Thouw, apakah kau hendak pergi ke Liong Bin Kok?" Orang usia pertengahan itu tertawa. Dia menjawab, "Oh, tidak! * Akulah seorang bu beng siauw cut, Ong Pek Thong mana kenal aku! Aku mau pergi ke dusun Han-chung." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Saudara Thouw, kau pandai sekali membawa dirimu!" kata si orang bertubuh besar dan kekar itu. Inilah sebab si orang she Thouw menyebut dirinya "Bu Beng Siauw Cut," yang berarti "Serdadu kecil yang tak mempunyai nama". "Kau sangat berbahagia sebab kau merdeka, seorang diri kau dapat pergi kemana kau suka, sama sekali tak ada rintangannya. Sungguh aku kagum terhadapmu! Seharusnya aku pun pergi ke Han-chung, guna menghaturkan selamat panjang umur, akan tetapi aku telah membangun pusatku dalam wilayah Yu Ciu tak dapat lagi aku tidak pergi ke Liong Bin Kok." Mereka itu bicara dalam bahasa kaum Kang Ouw, Mo Lek mengerti itu, maka tahulah ia yang si orang bertubuh besar dan kekar itu seorang cecu, pemimpin rombongan, sedang si muka putih ialah seorang Yu Hiap, petualang kaum Kang Ouw. Orang usia pertengahan itu tertawa. "Kalau begitu, baiklah kita masing-masing membawa diri kita sendiri!" katanya. "Cuma, saudara Ciu, aku minta sukalah kau tidak menyebut-nyebut namaku serta Han-chung, untuk tak menerbitkan sesuatu gara-gara!" "Aku mengerti!" sahut orang she Ciu itu, yang cuma singgah untuk mencegluk secangkir teh, lantas dia berangkat pula dengan cepat. Si orang she Touw dengan sabar menambat kudanya, baru ia bertindak masuk ke dalam warung. Ia minta arak, untuk terus diminum. Lam Ce In sudah mau berangkat ketika ia melihat orang she Touw itu. Ia membatalkan niatnya, terus ia mengawasi. Ketika http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

itu, orang itu juga menoleh ke arahnya, hingga sinar mata mereka bentrok. "Oh, sungguh kebetulan!" kata keduanya hampir berbareng. "Eh, saudara Lam Pat, mengapa kau berada di sini?" si orang she Touw tanya. "Thouw Shako, kenapa kau pun berada di sini?" tanya Ce In. Demikian mereka saling menanya. Habis itu Ce In kata pada kawannya, "Mo Lek, mari! Kau kasih hormat pada ini Paman Thouw! Inilah paman yang dunia Kang Ouw menyebutnya Kim-kiam Che-long Thouw Pek Eng!" Memang Pek Eng seorang petualang yang pandai ilmu pedang serta mengerti ilmu obat-obatan, maka juga dia mendapat julukannya itu si Pedang Emas (Kim Kiam) dan Kantung Hijau (Che-long). Yang belakangan ini julukannya sebagai tabib. Dia merdeka bebas, kegemarannya ialah pesiar atau merantau. Tak suka dia memamerkan nama. Sebaliknya dia suka sekali melakukan segala apa yang baik, untuk mana dia biasa bekerja secara diam-diam. Dia datang atau pergi kemana dia suka, tak ketentuan, maka itu dia muncul atau menghilang secara tiba-tiba. Karena ini juga mengenai nama, dia kalah terkenalnya dengan Lam Pat. Pertama kali Ce In menemukan Touw Pek Eng yaitu pada tujuh tahun yang lampau, ketika ia baru mulai muncul dalam dunia Kang Ouw, maka itu, ia memandang si petualang dan tabib sebagai cianpwe, orang yang terlebih tua dan tinggi tingkatnya. Kemudian, sesudah mereka bicara satu dengan lain, ternyata mereka ada dari tingkat dan derajat yang sama, dari itu, mereka saling membahasakan saudara. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ce In berkata pula, memperkenalkan Mo Lek, "Aku baru turun dari gunung Hui Houw San. Saudara kecil ini ialah puteranya mendiang Cecu Tiat Kun Lun dari Yan San." Thouw Pek Eng berdiam, dia berpikir. "Di sini bukannya tempat kita bicara," kata ia kemudian. "Mari kita bicara sambil berjalan." Ia lantas membayar uang araknya, terus ia keluar, untuk meloloskan tambatan kudanya, guna sambil menuntun binatang itu berjalan bersama-sama Ce In dan Mo Lek. Tadi itu, Mo Lek telah memberi hormat pada jago she Thouw ini. "Sekarang ini sudah malam, saudara Lam, kamu berdua hendak singgah dimana?" Pek Eng tanya. "Untuk kita, dimana saja kita sampai," sahut Ce In. Pek Eng mengangguk. "Saudara Lam, apakah kau pernah dengar namanya Han Tam?" tanya dia kemudian. Ditanya begitu, Ce In terperanjat. "Apakah saudara Thouw maksudkan Han Lo-cianpwe si ahli totok yang namanya sangat tersohor?" dia menegaskan. "Benar! Hari ini hari ulang tahunnya yang ke enam puluh." "Apa?" tanya Ce In heran. "Apakah ia tinggal di sini?" "Ya, di tempat terpisah tiga puluh lie," sahut Pek Eng. "Setujukah kau kalau kita sama-sama pergi memberi selamat kepadanya?" "Sebenarnya aku belum pernah bertemu dengan Han Locianpwe," Ce In menerangkan. "Yang benar ialah dia dan guruku kenal baik satu dengan lain." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Sebetulnya, ada sedikit sekali orang yang ketahui tempat kediamannya Han Lo-cianpwe itu," Pek Eng menjelaskan. "Aku tahu sudah banyak tahun dia tidak pernah muncul, tak mau dia menemui sembarang orang, tetapi kau ini lain, saudara Lam. Dia pernah memberitahukan aku tentang persahabatannya dengan gurumu dan dia pernah memuji kau. Karena itulah maka aku berani mengajak kau mengunjungi dia." "Jikalau begitu, layak aku pergi memberi selamat padanya" Ce In bilang. "Tempat tinggalnya itu terpisah berapa jauh dari Liong Bin Kok?" "Terpisahnya ialah yang satu di barat, yang lain di selatan," Pek Kng mengasih keterangan. "Tempat ini ialah Hoay Sie Chung, maka ketiga tempat merupakan seperti perapian kaki tiga. Jaraknya tempat masing-masing kira tiga puluh lie. Saudara Lam, kau jangan kuatir, meski keletakan dekat, halangannya tidak ada sama sekali. Han Lo-cianpwe tinggal menyendiri di sini, sampai pun Keluarga Touw tidak mendapat tahu, dari itu. Keluarga Ong yang baru datang, tidak nanti dia mendapat tahu juga." "Aku bukan jeri terhadap Keluarga Ong," Ce In terangkan, "Aku hanya tidak ingin nanti merembet-rembet Han Locianpwe, hingga dia mendapat pusing tidak keruan." Thouw Pek Eng tertawa. "Sebaliknya Han Lo-cianpwe bukannya orang takut segala kepusingan!" katanya. "Sikapnya lo-cianpwe yaitu, kalau tidak terpaksa, tak sudi dia berurusan dengan orang. Kamu baru turun dari Hui Houw Ce, mungkin sekali lo-cianpwe ingin bertemu dengan kamu." Hati Ce In tergerak. Perkataannya orang she Thouw ini mesti mengandung arti. Maka ia menerima baik ajakan tanpa bersangsi lagi. Bahkan ia melekaskan tindakannya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dengan begitu, selang setengah jam, tibalah mereka di sebuah dusun kecil yang berdampingan dengan satu gunung. Tatkala itu asap telah muncul dari setiap rumah. Thouw Pek Eng menuju langsung ke rumah Han Tam. Ia menarik gelang pintu beberapa kali, ia memanggil-manggil tuan rumah sambil ia perkenalkan dirinya. Ketika kemudian pintu dibuka, yang membukai Han Tam sendiri, si jago tua. "Pek Eng, kau datang terlambat!" kata tuan rumah tertawa. Pek Eng tidak membilang apa-apa, hanya ia berkata, "Han Locianpwe, aku telah mengundang untukmu ini dua tuan-tuan!" Ce In sudah lantas memandang tuan rumah, yang umurnya sudah enam puluh lebih akan tetapi orangnya masih segar dan matanya tajam, tak ada tanda-tandanya bahwa dia telah berusia lanjut. Dia memelihara kumis dan jenggot, yang terbagi menjadi tiga dan bajunya hijau, hingga dia mirip seorang cerdik pandai di dalam gambar lukisan. Ia lantas memberi hormat seraya berkata, "Lam Ce Iri muridnya Mo Keng Lojin menghaturkan selamat kepada lojinke!" Han Tam tercengang, lalu dia tertawa terbahak. "Kiranya kau, Lam Sieheng!" kata dia, girang. "Aku dan gurumu adalah sahabat-sahabat kekal untuk beberapa puluh tahun, baru hari ini aku dapat melihat wajahnya murid sahabatku itu, inilah diluar dugaan! Aku girang sekali! Kau telah sampai di sini, sieheng, kau anggaplah bahwa kau telah pulang ke rumahmu sendiri, maka itu, jangan kau menjadi likat atau tak leluasa. Ha, ha! Sebenarnya angin apakah yang meniup kau hingga di sini r Mo Lek pun lantas memberi hormatnya sampai dia berlutut dan mengangguk-angguk.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tuan rumah memimpin bangun bocah itu. "Saudara kecil ini toh..." katanya. "Dialah putera Cecu Tiat Kun Lun dari Yan San," Ce In memotong, memperkenalkan. "Dengan Tiat Cecu, aku pun pernah bertemu muka," kata Han Tam. "Di dalam dunia Rimba Hijau, dialah orang satusatunya yang aku paling kagumi, maka itu, kamu semua bukanlah orang-orang luar!" "Setelah Tiat Cecu meninggal dunia," Ce In mengasih keterangan, "Touw Leng Ciok mengambil anak ini sebagai anak pungut, tapi sekarang Keluarga Touw telah musnah, aku mengajaknya untuk menyingkirkan diri. Kebetulan saja tadi kita bertemu saudara Thouw, maka itu kami jadi mendapat tahu hari ini ada hari ulang tahun lo-cianpwe." Han Tam mendengar keterangan itu tanpa menjadi kaget, cuma alisnya mengkerut sedikit, suatu tanda ia seperti telah menduganya. "Kamu datang kebetulan sekali," katanya kemudian. "Kebetulan sekali di sini pun ada beberapa sahabat. Baru saja mereka itu bercerita perkara di antara kedua keluarga Ong dan Touw itu. Nah, mari masuk, kita bicara di dalam." Han Tam merayakan pesta shejit, yang datang hanya beberapa sahabat yang pergaulannya paling rapat dengannya, kecuali Thouw Pek Eng, ada empat lainnya yaitu Sat-sie Siangeng, dua jago she Sat dari Ceng Hay (Laut Hijau), Liong Chong Siangjin dari Bek Cek San, serta Sin Cecu dari Kim Ke San. Tiga yang pertama itu tetamu-tetamu dari tempat yang jauh, dan satu yang belakang itu asal wilayah Yu Ciu dan dia jago Rimba Hijau.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Semua orang lantas saling memberi hormat, untuk berkenalan, habis itu masing-masing mengambil tempat duduknya. Setelah itu, Lam Ce In menuturkan jalannya pertempuran di antara kedua keluarga Ong dan Touw dengan kesudahan runtuh dan tumpasnya Keluarga Touw itu. Orang heran mendengar kabar Toan Kui Ciang dengan isteri pun roboh di tangannya Khong Khong Jie, sampai mereka mendelong saling mengawasi. Lalu terdengar Han Tam menghela napas seraya terus berkata, romannya berduka, "Khong Khong Jie seorang yang cerdas luar biasa, kalau begitu sepak terjangnya, kali ini dia berlaku sembrono sekali..." "Saudara Han, apakah maksudmu ini?" tanya Liong Chong Siangjin heran. "Dia digunai sebagai alat oleh Keluarga Ong, dia tak sadar," kata tuan rumah. "Dia menganggap perbuatannya itu tepat sekali! Bukankah itu namanya sembrono?" Liong Chong mengerutkan alis, agaknya dia tak puas, dia berniat menanya pula, atau menentang anggapan tuan rumahnya itu, tetapi waktu dia melihat matanya Lam Ce In dan Tiat Mo Lek, dia membatalkan niatnya itu. Dia ingat Tiat Mo Lek menjadi anak angkat Touw Leng Ciok, tak baik dia bicara terus urusan Keluarga Touw itu. Pendeta ini tidak puas terhadap dua-dua Keluarga Ong dan Keluarga Touw, bahkan kalau dibandingkan, dia lebih tak puas lagi terhadap Keluarga Touw. Karena itu, dia berpendapat, "Khong Khong Jie membantu pihak Ong, paling banyak itulah sikap si kuat membantu si kuat. Semua itu bentrokan di antara kaum Rimba Hijau, di dalam hal itu, tak dapat orang dari hal siapa benar dan siapa salah, maka juga tak dapat dibilang soal sembrono atau tidak..." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Han Lo-cianpwe," Ce In tanya, "Rupa-rupanya lo-cianpwe kenal Khong Khong Jie. Benarkah?" "Bukan melainkan aku kenal padanya," menjawab tuan rumah. "Ketika dia masih kecil, pernah aku mengempo-empo padanya!" Sat-sie Siang-eng dan lainnya menjadi heran. Bahkan Thouw Pek Eng berkata, "Selama beberapa tahun ini, kaum Kang Ouw telah digemparkan Khong Khong Jie seperti juga langit ambruk dan bumi gempa, siapa juga tidak tahu asal-usul dia, siapa sangka Han Lope dan dia justeru mempunyai hubungan sebagai paman dan keponakan! Dia demikian liehay, entah siapakah gurunya?" "Guru dia ialah seorang liehay yang tabiatnya aneh," Han Tam menerangkan. "Gurunya itu seperti aku, she dan namanya tak ingin lain orang mendapat tahu. Aku bersahabat dengannya, itu, maafkan aku, terpaksa kau tak dapat memberitahukan she dan namanya itu." Ia hening sejenak, lalu ia menambahkan, "Sayang aku menerima warta ini terlambat, dan aku pun tak ketahui dimana tempat beradanya Khong Khong Jie, karenanya aku menjadi tidak dapat kesempatan guna mencegah sepak terjangnya itu..." Lam Ce In hendak membuka mulutnya ketika ia batal. Ia mendapat dengar satu suara yang perlahan sekali di luar rumah, seperti ada orang yang datang. Ia sampai melengak. Tapi suaranya tuan rumah lantas terdengar, "Anak Hun, apakah kau sudah pulang? Di sini ada beberapa paman, semuanya bukan orang luar, maka marilah masuk, supaya kau menemuinya." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Atas perkataan Han Tam itu, di ambang pintu terlihat masuknya seorang anak perempuan yang baru mulai besar, umurnya ditaksir baru empat atau lima belas tahun, rambutnya terjalin menjadi dua buah kuncir, yang ditekuk dan diikat mirip sepasang kupu-kupu. Roman dia masih kekanak-kanakan. Ketika dia bertindak masuk, dia lari berjingkrakan. Sembari tertawa, dia kata, "Ayah, tugas yang kau berikan ini bukan tugas yang bagus! Hampir aku kepergok, hingga hampir aku tak dapat meloloskan diri...!" "Inilah anakku, Cie Hun namanya!" kata Han Tam pada sekalian tetamunya tanpa ia menghiraukan perkataannya bocah itu. "Dia baru saja kembali dari lembah Liong Bin Kok." Ce In heran, di dalam hati ia terkejut. Setelah itu, tuan rumah kata pada puterinya, "Mari, kau lebih dulu memberi hormat pada sekalian pamanmu ini!" Cie Hun, si nona cilik, tidak lantas menjalankan perintah ayahnya itu. Lebih dulu dia menghadapi Mo Lek, sembari menunjuk si anak muda, dia tanya ayahnya, "Umur dia sama dengan umurku, apa aku mesti panggil paman juga padanya?" "Ha, dasar bocah!" kata Han Tam tertawa. "Inilah salahku yang tidak lantas memberikan keterangan! Begini, anak! Dua tetamu ini kau boleh panggil kakak saja. Ini Lam Ce In, murid kepala dari Mo Keng Lojin. Dan ini Tiat Mo Lek, puteranya mendiang cecu dari benteng Yan San." Cie Hun nampak girang. "Lam Toako!" kata dia gembira, "Dunia Kang Ouw menyebut kau Lam Tayhiap! Sudah lama aku mengagumi nama besarmu!" Kemudian dia menoleh pada Tiat Mo Lek, untuk meneruskan berkata, "Juga namamu pernah aku dengar orang menyebutnya! Kaulah si bintang cilik Siauw Che Kun di dalam http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Rimba Hijau, kalau kau bekerja, kau berandalan dan sedikit telengas! Ya, kau pun telah aku mengaguminya!" Mukanya Tiat Mo Lek menjadi merah. Dia memang sedang ruwet pikirannya dan berduka. Maka perkataan bocah wanita itu membikin dia serba salah, menangis tak dapat, tertawa tak dapat juga. Dia menjadi sangat jengah. "Hai, bocah banyak mulut!" Han Tam menegur puterinya itu. "Kau tidak tahu aturan sekali! Aku lihat, di kolong langit ini tak ada bocah yang melebihkan kau nakalnya! Hayo lekas, kau menghaturkan maaf kepada kakakmu ini!" Lantas si nona, dengan lagak tua bangka, memberi hormat pada semua tetamunya. Dia kata, "Aku yang kecil tidak tahu apa-apa, aku telah mengucapkan kata-kata yang salah, aku mohon supaya kakak memberi maaf padaku!" Mendengar itu, melihat tingkah orang, semua orang tertawa, tak terkecuali Mo Lek. "Nah, kau sudah bergurau cukup atau belum?" tanya Han Tam pada anaknya. "Sekarang kau boleh bicara dari urusan tugasmu. Kau dengan Khong Khong Jie atau tidak?" "Bicara sebenarnya, aku tidak bertemu dengannya," sahut Cie Hun. "Apa yang aku lihat ialah sekor kera yang besar!" "Nona Hun," Lam Ce In menyelak, "Apakah nona bukan maksudkan Ceng Ceng Jie adik seperguruan dari Khong Khong Jie?" Nona itu tertawa geli. "Dasar Lam Toako yang sangat pintar!" kata dia, tak likatlikat. Wajar sekali dia memanggil toako atau kakak kepada Ce In sekalipun mereka berdua baru berkenalan di detik ini. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Begitu mendengar aku, Lam Toako lantas saja dapat mengetahui siapa si kera yang aku maksudkan itu! Tidak salah! Manusia yang romannya aneh luar biasa itu benarlah Ceng Ceng Jie!" Mau atau tidak, semua orang bersenyum. "Bicara terus!" sang ayah menitah. "Aku masuk ke dalam lembah Liong Bin Kok kira jam dua," Cie Hun melanjuti keterangannya. "Ketika itu di dalam lembah ramai sekali keadaannya. Semua liauw-Io besar dan kecil, tengah menenggak arak kegirangan! Ong Pek Thong sendiri berpesta bersama empat orang lain di dalam sebuah kamar, mereka terpisah dari orang-orangnya. Di luar tembok pekarangan tumbuh beberapa pohon hoay, yang besar dan tinggi melewati tembok, banyak cabangnya, lebat daunnya, maka aku mendekam di tempat yang lebat itu, mengintai mereka dengan terang sekali. Aku tidak lihat Khong Khong Jie di situ, maka itu aku tidak menggunai isyarat rahasia yang ayah ajari." "Selainnya Ceng Ceng Jie, siapa itu tiga orang lainnya?" Han Tam tanya. "Yang satu ialah seorang muda umur lebih kurang dua puluh tahun, yang romannya sangat mirip dengan Ong Pek Thong," sahut si anak. " "Jidat dia itu bengkak dan biru, rupanya dia bekas orang hajar." "Oh, dialah Ong Liong Kek, puteranya Ong Pek Thong!" kata Han Tam. "Lukanya itu bekas dihajar pelurunya kouw-kouwku," Mo Lek beritahu. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kouw-kouwmu?" kata Cie Hun. "Oh, tentulah dia Nyonya Touw Sian Nio isteri dari Toan Tayhiap! Kalau begitu ketika Keluarga Ong ayah dan anak serta Khong Khong Jie memukul pecah Hui Houw Ce, kau hadir di sana. Benar, bukan?" "Jangan nyimpang!" kata Han Tam kepada puterinya, "Sebentar kau boleh minta Lam Toako-mu itu memberikan keterangannya. Sekarang lanjuti dulu penuturanmu. Siapa itu dua orang lainnya lagi?" "Merekalah orang asih karena mereka bicara dengan lidah penduduk lain tempat," Cie Hun melanjuti pula. "Orang yang satu tangan kirinya dikasih turun, dia rupanya bekas terluka dan belum sembuh..." Lam Ce In terperanjat. "Aku tahu dua orang itu!" katanya. "Merekalah Busu-nya An Lok San. Yang terluka itu tak tahu aku namanya, tetapi luka di tangan kirinya itu bekas bacokanku. Yang tak terluka itu Thio Tiong Cie, satu di antara empat jagonya An Lok San." "Pantas kalau begitu!" kata si nona. "Aku saban-saban mendengar mereka menyebut-nyebut Thaysu! Ayah, terkaan ayah tidak meleset. Benarlah Ong Pek Thong si rase tua mempunyai hubungan erat dengan An Lok San." Ia berhenti sebentar, untuk sedetik kemudian menambahkan, "Begitu aku tiba lantas aku melihat Ong Pek Thong memberi selamat secawan arak kepada si kera gede, ialah Ceng Ceng Jie, katanya, 'Hari ini kita telah melabrak Hui Houw Ce, inilah kejadian yang paling membuat aku girang, sayang kakak seperguruanmu sudah lantas pulang, tak dapat aku mencegahnya. Maka besok, harian pesta kita, kita kekurangan dia seorang. Aku menyesal...'

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

'Begitu memang tabiatnya kakak seperguruanku itu/ kata Ceng Ceng Jie. 'Dia nampak gemar mencampuri urusan lain orang hanya setelah urusan selesai, lantas dia mengangkat kaki, selamanya dia tak menghiraukan jasanya' Lantas orang yang terluka tangan kirinya itu berkata, 'Thaysu kami juga sudah lama mengagumi nama besar kakak seperguruanmu itu. Thaysu ingin mengundangnya, sayang belum didapat orang perantaraan yang cocok. Entah bagaimana dengan tuan sendiri, apakah tuan suka membantu?' Ceng Ceng Jie menggeleng kepala. Tapi dia tertawa. 'Sukar, sukar!' katanya. 'Demikian rupa tabiatnya kakak seperguruanku itu, maka juga dia tak dapat terkekang hingga hilang kemerdekaannya. Jangan kata baru Thaysu kamu, biar pun raja sendiri, tak nanti dia dapat diundang/ Lantas orang, orang she Thio itu, Thio..., Thio..." "Thio Tiong Cie!" Ce In tambahkan. "Ya. Lantas Thio Tiong Cie kata pada Ong Pek Thong, 'Dengan begini jadi ternyata Ong Cecu bermuka terang sekali! Sungguh beruntung Cecu dapat mengundangnya!' Ong Pek Thong tertawa. Dia kata, 'Aku bersahabat kekal dengan mendiang ayahnya. Di samping itu pada kira sepuluh tahun yang lalu Touw Lotoa sudah melakukan suatu perbuatan tak bagus, ialah dia hitam makan hitam, dia telah membinasakan Se Chungcu sekeluarga di kecamatan Tiauwkoan. Kebetulan sekali, Se Chungcu itu menjadi sanak tingkat tertua dari Khong Khong Jie, maka juga begitu aku omong hendak menyerbu Hui Houw Ce, dia lantas menyatakan suka memberikan bantuannya!'

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Thio Tiong Cie tertawa bergelak. Dia kata memuji, 'Ini pun bukti dari Ong Cecu bakal berhasil! Di belakang hari pastilah Thaysu kami bakal mengharap banyak bantuanmu, cecu!' 'Terima kasih, terima kasih,' kata Ong Pek Thong. 'Dalam hal ini, kita bekerja sama dengan masing-masing memperoleh untungnya. Aku si orang tua juga pasti bakal mengandal banyak kepada thaysu kamu itu!' Kemudian Ong Pek Thong menambahkan kepada Ceng Ceng Jie, 'Mengenai ini, tak apa kakak seperguruanmu tidak hadir bersama. Aku pun kuatir dia nanti kurang setuju dengan tindakan kita ini. Ini pula sebabnya aku tak dari siang-siang membicarakah dengannya.' 'Tapi Ong Cecu jangan kuatir/ berkata Ceng Ceng Jie, 'Nanti aku bicara dengannya. Akan aku bicara dengan sabar. Umpama kata kakak seperguruanku itu tidak setuju, tidak nanti dia sampai menentang/ Atas itu, Ong Pek Thong mengucap terima kasih. Lagi sekali dia memberi selamat dengan secawan arak. Lagi-lagi dia mengutarakan pengharapannya Ceng Ceng Jie nanti berhasil bicara dan membujuk kakak seperguruannya itu." Menutur sampai disitu, Han Cie Hun berhenti, untuk menghirup air tehnya. Han Tam berpikir, lalu dia kata, perlahan. "Bukankah barusan aku menyayangkan Khong Khong Jie?" katanya. "Aku kuatir dia kena orang pergunakan. Inilah sebabnya kekuatiranku itu. Sudah terang An Lok San mengandung niat menjadi raja, untuk satu pihak dia membaiki semua panglima orang suku Ouw di perbatasan, di lain pihak dia mau berkongkol dengan Ong Pek Thong. Kalau Ong Pek Thong berhasil menjadi kepala Ikatan Rimba Hijau, dia hendak http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dibujuk atau dipancing bekerja sama, untuk digunakan sebagai alat!" "Oh, begitu pikiran toako!" kata Liong Chong Siangjin. "Aku tadinya menyangka toako berat sebelah. Sekarang ternyata Ong Pek Thong itu terlebih busuk dan terlebih jahat dari Touw Leng Ciok!" Baru saja ia mengucap begitu, si pendeta sudah lantas menjadi menyesal. Dengan begitu dia menganggap Keluarga Touw busuk sekali. Bukankah di situ ada Lam Ce In, orang yang berpihak kepada Keluarga Touw? Bukankah di situ ada Tiat Mo Lek, anak angkat salah satu anggauta keluarga itu? Tapi, Lam Ce In lantas berkata, "Taysu, pertimbanganmu adil sekali! Sayang yaitu Toan Toako-ku masih belum ketahui perkara ini. Mengenai perjalanannya ke Hui Houw Ce ini, Toan Toako menyesal bukan main." "Anak Hun, bagus sekali penyelidikan kau ini!" kata Han Tam pada puterinya. "Bagaimana kemudiannya? Ada apa lagi yang kau dengar?" "Belakangan?" sahut si anak. "Aku mendengar satu hal yang sangat diluar dugaan!" "Bagaimana?" tanya si ayah cepat, "Apakah Ceng Ceng Jie memergoki kau?" "Aku tidak tahu siapa yang dia pergoki itu...!" sahut si nona. "Bagaimana?" Pek Eng tanya, heran. Dia memotong. "Apakah benar ada orang lain yang nyalinya begitu besar hingga dia berani menyateroni Liong Bin Kok?" Sementara itu, Cie Hun sudah bicara terus, "Ketika itu hatiku berdebaran. Aku mendapatkan cabang pohon bergoyanggoyang, mengasih dengar suara yang halus. Ceng Ceng Jie http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

benar liehay. Dia sudah lantas berlompat bangun, sambil melemparkan cawan araknya, dia berseru, 'Di luar ada orang!'" "Ceng Ceng Jie memang liehay!" kata Han Tam kaget juga. "Bagaimana kau bisa meloloskan dirimu? Apakah kau menyebut nama atau julukanku?" Anak itu tertawa. "Ceng Ceng Jie tidak muncul," katanya. "Aku juga tidak menyebut nama ayah. Peruntunganku bagus sekali, dalam ancaman bencana itu, aku mendapat keselamatan. Aku ketemu bintang penolong!" "Siapa yang telah menolongi kau?" si ayah tanya. Dia menduga, untuk di dalam lembah Liong Bin Kok, cuma seorang tua yang liehay yang dapat menolong puterinya itu. Tetapi Cie Hun, si anak, tertawa. "Ayah menerka keliru!" kata anak itu. "Bintang penolongku itu seorang nona yang cantik, dibanding dengan aku, dia tak lebih tua seberapa." "Aneh! Siapakah nona itu?" i "Sabar, ayah! Ayah sabar mendengar ceritaku." Lantas; anak ini berlagak beraksi seperti tukang cerita yang ulung. "Maka di itu waktu," dia melanjuti, "Mendadak puteranya Ong Pek Thong menggoyang-goyangi tangannya. Kata dia perlahan/Itulah seorang sahabatku! Jangan kuatir. Nanti aku undang dia masuk!' Aku heran, hingga aku menduga-duga. Aku tanya diriku, kenapa pemuda itu kenal aku... Aku menduga akulah yang kena kepergok. Habis berkata, dia sudah lantas lompat ke atas tembok pekarangan. Justeru itu di sebuah pohon Hoay muncul si nona cantik.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Rupanya dia, sudah bersembunyi di pohon itu, hanya aku tidak mendapat tahu. Melihat Ong Liong Kek, nona itu berkata dingin, 'Ong Kongcu, kiranya kaulah Ong Siauw-cecu! Sungguh aku kurang hormat, kurang hormat!' Aku melihat Ong Liong Kek menjadi likat. 'Nona He, bukannya aku mendustakan kau/ katanya. 'Ini... ini...' Baru aku ketahui nona itu she He. Dia memotong perkataannya Ong Liong Kek, 'Siapa kau sebenarnya, tidak ada sangkutannya denganku!' suaranya dingin. 'Aku cuma hendak menanya kau, apa yang kamu bikin atas dirinya Toan Pehu-* ku?' 'Yang mana itu Toan Pehu kau?' Liong Kek tanya. 'Dialah Toan Tayhiap, Toan Kui Ciang!' si nona beritahu." Mendengar itu, Ce In terperanjat. "Jikalau begitu nona itu bukan lain daripada He Leng Song..." katanya di dalam hati. "Ah, benar-benar dia ada hubungan dengan anaknya Ong Pek Thong itu!" Cie Hun melanjuti pula penuturannya, "Aku lihat Ong Liong Kek melengak. Dia kata, 'Oh, kiranya Toan Kui Ciang itu pamanmu! Mereka... mereka berdua suami isteri...' Si nona memotong, 'Mereka kenapa?' Ong Liong Kek menjawab, suaranya agak perlahan, "Mereka berdua tak dapat melawan Khong Khong Jie, mereka mengangkat kaki, kabur...' 'Apakah benar begitu?' si nona tegasi. 'Buat apa aku mendustai kau?' Liong Kek jawab. 'Kami bukannya bangsa berandal yang biasa sembrono membunuh orang!' 'Mereka itu menyingkir ke mana?' si nona tanya pula. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

'Mana aku tahu? Mungkin mereka lari pulang...' 'Baik!' kata si nona nyaring. 'Jikalau aku tidak berhasil mencari mereka itu, akan aku datang pula kepadamu!' Habis berkata, nona itu lantas berangkat pergi. Ong Liong Kek pergi menyusul. Aku menggunai ketika itu buat mengangkat kaki juga." Han Tam mengeluarkan napas lega. "Jikalau begitu, nona she He itu datang ke Liong Bin Kok untuk mencari Toan Tayhiap," kata ia. "Dia pasti orang sebangsa golongan kita. Kenapa kau tidak mau undang dia kemari, untuk kita memasang omong? Aku tahu ilmu silatnya anak Ong Pek Thong itu, kalau kau bertempur dengannya, kau tidak akan sanggup melawannya, sebaliknya dalam ilmu ringan tubuh, dia tak dapat menandingi kau. Menurut kau, anak, ilmu ringan tubuh nona itu pasti jauh terlebih mahir daripada kepandaian kau, maka itu pasti sudah anaknya Ong Pek Thong tak bakal dapat menyusul dia. Apa mungkin nona itu tak sudi bertemu dengan kau?" "Ayah menduga tepat," kata Cie Hun. "Memang juga Ong Liong Kek tidak berhasil menyandaknya. Aku berlalu dari Liong Bin Kok belum lima lie, aku melihat dia kembali dengan lesu. Dia tidak dapat melihat aku, dari itu aku pun tidak mau mengganggunya. Setelah aku berjalan lebih jauh lima atau enam lie, tiba-tiba aku mendengar suara kelenengan kuda, yang datang dari sebelah depan. Kiranya dialah si nona she He, yang sudah kembali. Sekarang dia menunggang sekor kuda putih. Dia kembali untuk mencari aku." "Apa kata nona itu?" "Paling dulu dia tanya aku, aku dari pihak Keluarga Touw atau bukan. Aku menjawab bukan. Dia pun tanya aku kenal http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Toan Tayhiap atau tidak. Aku jawab tidak. Lantas dia tanya pula, 'Habis, buat urusan apakah kau pergi ke Liong Bin Kok?' Aku percaya dialah seorang lurus, maka aku tidak niat mendustakan dia. Begitulah aku menjawab secara terus terang. Aku membilangi aku hendak mencari Khong Khong Jie. Setelah itu aku mengundang dia datang ke rumah kita, untuk sedikitnya tinggal buat satu malam. Aku menjanjikan membantui ia mencari Toan Tayhiap. Mendengar ajakanku itu, aku lihat air mukanya berubah dengan mendadak, lalu ia berkata, 'Hm! Aku tidak sempat!' Dia mengeprak kudanya, dikasih kabur. Aku jadi kebogehan. Melihat romannya itu, dia rupanya sangat membenci Khong Khong Jie." ^ Han Tam tertawa. "Rupanya dia salah mengerti," kata orang tua ini. "Terang dia rada terburu napsu..." Sat-sie Siang-eng dan Sin Cecu heran. Mereka orang-orang Kang Ouw dan pergaulan mereka luas, pendengaran mereka banyak, akan tetapi mereka tidak pernah ketahui tentang nona she He itu, karena mana mereka jadi tak dapat menduga si nona orang macam apa. Mo Lek ingin campur bicara, akan tetapi ketika ia melihat Ce In, kawan itu mengedipi mata padanya, maka ia urung bicara. Tetapi ia heran kenapa paman she Lam itu mencegah ia membeber halnya Leng Song. "Sekarang kita biarkan dulu hal nona she He itu," berkata Han Tam kemudian. "Mari kita bicarakan hasil penyelidikannya Cie Hun. Terang sudah Ong Pek Thong berkongkol dengan An Lok San. Inilah suatu kepastian. Bagaimana sekarang kita harus bertindak?" Sin Cecu dari benteng Kim Ke San, yang bernama Thian Hiong, bertabiat keras, dia lantas berkata, "Ong Pek Thong http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ingin menjadi kepala Ikatan Rimba Hijau, itulah urusannya sendiri, tetapi kalau dengan begitu dengan dia mau kita turut padanya, untuk membantu bangsa Ouw merampas pemerintah, tak dapat!" "Hanyalah tentang akal muslihatnya itu," berkata kedua saudara Sat, "Semua itu tidak atau belum diketahui saudarasaudara kita dari Rimba Hijau. Aku pikir mesti kita bongkar atau beber akal muslihat itu, supaya saudara-saudara kita tak usah kena diakali hingga mereka dapat dituntun hidungnya..." "Itu benar, tetapi bagaimana caranya?" Thian Hiong tanya. Thouw Pek Eng, yang sedari tadi berdiam saja, campur bicara. "Sin Cecu," ia tanya, "Bukankah Ong Pek Thong ada mengirim surat undangan kepadamu?" "Benar! Tapi aku tidak takut padanya, aku tidak mau datang untuk menghadiri pestanya itu!" sahut si jago dari gunung Kim Ke San. "Menurut aku, lebih baik kau pergi!" kata Pek Eng tertawa. "Dengan kau pergi itu, kita dapat menjadi pengikutpengikutmu. Han Lo-cianpwe, bagaimana pikiran lo-cianpwe?" "Pikiranmu itu baik," sahut Han Tam, "Cuma Ce In dan Mo Lek, juga dua saudara Sat, sulit pergi ke sana. Mereka semua dikenali Ong Pek Thong. Dia mana bisa dikelabui matanya?" "Tentang itu lo-cianpwe tak usah kuatir," Pek Eng berkata. "Aku yang muda mengerti juga kepandaian menyalin rupa." Han Tam tertawa. "Aku cuma tahu laote sebagai tabib pandai, tak tahunya kau pun pandai ilmu menyamar! Hanya aku berusia begini tua, mana dapat aku menyaru jadi pengiringnya Sin Cecu?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Pek Eng tertawa "Aku dapat membikin lo-cianpwe lebih muda dua puluh tahun!" katanya. "Cuma sulitnya yaitu jenggot lo-cianpwe mesti dipotong sedikit supaya menjadi terlebih pendek. Itulah sayang." Ia berhenti sebentar, terus ia menambahkan, "Buat yang lainnya, semua mudah, yang paling sukar ialah Liong Chong Siangjin, sudah tubuhnya tinggi besar luar biasa, kepalanya pun gundul." "Jikalau begitu, tidak ada jalan lain daripada minta sukalah Siangjin merendahkan diri menjagai gubuk reyotku ini sekalian ia menemani anakku," kata Han Tam bersenyum. "Tidak!" kata Cie Hun. "Aku ingin menyaksikan keramaian itu!" "Keponakanku, aku lihat, lebih baik kau jangan turut," berkata Pek Eng. "Kau masih terlalu kecil, taruh kata kau salin macammu, umpama kata kau menjadi kacung liauwlo, mungkin Ong Pek Thong yang licin dapat mengenali penyamaranmu. Maka itu lebih baik kau tinggal di rumah." Cie Hun tidak mau mengerti, dia lantas menunjuk Mo Lek. "Umur dia berimbang dengan umurku, kalau dia dapat pergi, kenapa aku tidak?" dia membantah. Han Tam tertawa. "Coba kau berdiri berendeng dengannya!" kata ayah ini. "Coba kau lihat, bukankah dia lebih tinggi daripada kau? Kalau dia menjadi kacungnya Sin Cecu pasti tak ada yang curigai. Kau lain lagi. Laginya, kalau kau menyamar menjadi laki-laki, kau lebih mudah dikenalinya." ---ooo0dw0ooo--http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Jilid 10 "Walau bagaimana, aku mesti pergi!" anak itu membantah. "Paman Thouw, tolong kau carikan jalan untuk aku dapat turut!" Orang menjadi kewalahan. Thouw Pek Eng lantas berpikir. "Sudah, begini saja!" kata dia kemudian. "Kau baik menyamar menjadi anak perempuannya Sin Cecu. Masih masuk di akal kalau Sin Cecu datang menghadiri pesta dengan mengajak puterinya yarig disayang. Karena kau tidak dikenal, kau pun boleh tak usah menyamar lagi." "Apakah itu tak keterlaluan untukku?" tanya Sin Thian Hiong tertawa. "Sudah Han Lo-cianpwe menjadi pengiringku, lalu sekarang puterinya pun diakui sebagai puteriku!" "Itulah bukannya soal!" Han Tam tertawa. "Bukankah kau mendapatkan semuanya?" Liong Chong Siangjin tertawa. "Kamu semua senang, kamu menghadiri pesta dan melihat keramaian," katanya. "Aku sendiri, aku mesti menunggu rumah, kesepian! Sungguh sebal!" "Semua ini hanya untuk sementara waktu," berkata Pek Eng. "Sekarang sudah pasti. Saudara Mo Lek, kau menjadi kacung, dan kita semua, menjadi sebagai tauwbak." "Menjadi tauwbak boleh juga!" kata Sin Cecu. "Dengan begitu pihak Ong diberi kehormatan, sampai pun segala tauwbakku turut datang memberi selamat padanya!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sampai disitu, Thouw Pek Eng lantas bekerja. Ia mengeluarkan obatnya untuk mengubah warna kulit orang, maka sebentar kemudian terlihat Han Tam menjadi lebih muda dua puluh tahun, kulit keriputnya pun dapat disamarkan. Demikian setelah terang tanah, rombongan Sin Cecu ini berangkat menuju ke Liong Bin Kok, lembah sarangnya Ong Pek Thong. Han Cie Hun gembira sekali, karena ia telah kesampaian keinginannya. Cuma Lam Ce In yang berpikir keras. Ia memikirkan Hee Leng Song. Untuk kalangan Rimba Hijau di Yu-ciu, nama Sin Thian Hiong terkenal sekali, la benar-benar bertabiat keras dan angkuh. Ketika keluarga Touw menduduki benteng Hui Houw Ce sebagai ketua Ikatan Rimba Hijau, pelbagai Raja Gunung lainnya datang membajar upeti tahunan, cuma ia yang tidak menghiraukannya. Touw Leng Ciok tak senang dengan sikapnya itu tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa, kesatu dia sendiri lagi punya urusan penting, kedua dia tahu Sin Kee Ce itu tangguh. Ong Pek Thong tahu sifatnya Thian Hiong, benar ia mengirim undangan, tetapi ia tidak mengharap banyak tetamunya itu nanti datang memenuhkan undangannya itu, maka juga tempo ia menerima kartu nama Thian Hiong, yang datang berkunjung, ia heran sekali, dengan tergesa-gesa ia menuntun anaknya keluar buat menyambut sendiri kepada tetamu yang berkepala besar itu... Setelah kedua pihak saling memberi hormat, Sin Thian Hiong kata "Ong Cecu berhasil merobohkan dan merampas Hui Houw Ce, pantaslah kau diberi selamat! Sudah sekian lama Kim Kee San dibikin tak puas oleh Keluarga Touw, baru sekarang hatiku lega, karena itu, kaisni semua bersyukur. Karena itu juga maka http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sekarang aku datang bersama beberapa saudaraku ini, untuk menghaturkan selamat!' Ong Pek Thong berlaku merendah untuk pujian itu, ia pun mengucap terima kasih. Sin Thian Hiong bisa sekali bicara. Dia kata pula, datangnya itu selain buat memberi selamat dan membilang terima kasih, juga sekalian untuk mohon perlindungan ini Beng-cu, atau kepala Ikatan Rimba Hijau, yang baru. Lalu dia tertawa bergelak dan menambahkan, "Cecu tahu, pesta ini suatu pesta yang langka, jarang ada selama seratus tahun! Begitulah anak perempuanku ini, yang belum pernah mengembara, saking gembiranya, turut datang bersama!" Ong Pek Thong girang bukan main. la belum menjadi Bengcu, tetapi jago dari Sin Kee Ce sudah mengakuinya. Tapi ia bisa berpikir, ia sedikit curiga. Ia kata dalam hatinya, "Kim Kee San berselisih dengan Hui Houw Ce, aku berhasil menumpas Keluarga Touw, pantaslah kalau dia senang dan bersyukur kepadaku, pantas juga dia datang bersama beberapa tauwbaknya memberi selamat padaku. Sebenarnya kita tidak bersahabat satu dengan lain, sekarang dia sekalian mengajak puterinya, tidakkah itu berlebihan? Mungkinkah karena dia hendak mengambil hatiku maka dia jadi berlaku begini manis budi? Biasanya dialah bukan tukang mengangkat angkat orang..." Ketika itu mendadak Ong Liong Kek menghampirkan Tiat Mo Lek "Saudara kecil ini she apa?" dia tanya. Diam-diam Sin Thian Hiong terperanjat. "Dialah kacung pengiringku," dia menjawab lekas. "Dia tidak tahu aturan, harap Siauw-cecu tidak berkecil hati." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia pun mengarang nama palsu untuk pengiring tetironnya itu. Tiat Mo Lek telah tak dapat menahan rasa hatinya. Waktu melihat Ong Liong Kek, musuhnya, sinar matanya berubah tajam sekali — sinar itu sinar bermusuh atau membenci sangat. Liong Kek melihat itu, dia jadi heran, karena perhatiannya tertarik, dia jadi mengajukan pertanyaan itu. Mo Lek cerdik ia insyaf akan kekeliruannya itu, maka ingin ia membetulkan. "Tong-kee mengajak aku ke mari, aku jadi ingat suatu hal lama," kata dia. "Di sini bukan tempat kau bicara, kau mundur!" kata Thian Hiong, yang kuatir orang banyak bicara. "Biarkan dia bicara, tak apa," kata Liong Kek. Mo Lek lantas mengasih lihat roman takut dan ragu-ragu. "Baiklah, kau boleh bicara!" kata Thian Hiong kemudian, ajgak terpaksa. "Aku ingat satu hal," kata Mo Lek. "Bukankah tong-kee pernah menyuruh aku pergi ke Hui Houw Ce? Ketika itu aku dimarahi mereka. Sebabnya itulah tong-kee tidak mengirim bingkisan kepada mereka. Aku telah diikat dan diusir pergi. Sekarang sebaliknyalah Keluarga Ong. Di sini aku disambut secara baik. Maka itu aku jadi ingat kejadian dulu hari itu. Sekarang ini aku jadi girang berbareng mendongkol!" Ong Liong Kek tertawa lebar. "Oh, kiranya begitu, saudara kecil!" katanya Sedang mereka bicara itu, dua orang muncul dari dalam. Yang satu Ceng ceng Jie, yang lain gadisnya Ong Pek Thong. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tuan rumah lantas mengajar kenal. Katanya, "Inilah Sin Cecu dari kim kee San yang namanya sangat terkenal dalam dunia Rimba Hijau. Ini adalah Ceng Ceng Jie, ahli pedang dunia Kang Ouw yang kesohor." "Sudah lama aku mengaguminya!" kata Ceng Ceng Jie, singkat dan angkuh. Lantas dengan mata tajam dia menyapu semua tetamunya itu. Ketika dia melihat Han Tam, dia terkejut di dalam hatinya. Sebagai ahli silat, dia dapat melihat sinar mata luar biasa dari jago she Han itu. Lekas dia menghampirkan dan menanya, "Apakah she mulia dan nama besar dari cecu ini?" Han Tan menjawab cepat, "Aku si orang she Han cuma menjadi serdadu kecil yang tak ada namanya dari Kim Kee San." Sin Thian Hiong pun berkata, "Han Toako ini menjadi tongkee kedua di Kim Kee San, dia datang belum lama." "Syukur, aku girang sekali dengar pertemuan ini!" Ceng Ceng Jie berkata. la turut bicara. "Ong Toako, muka toako terang sekali hingga dapat mengundang Han Toako datang ke mari!" Ia tertawa, terus ia menambahkan, "Aku merasa beruntung dapat satu sahabat baru!" Ia lantas mengulur tangannya, untuk berjabatan. Ong Pek Thong heran hingga ia terperanjat. Aneh sikap Ceng Ceng Jie. Dia tidak menghormati Sin Thian Hiong hanya seorang tauw-bak. Maka ia mengawasi saja.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ceng Ceng Jie hendak menguji tauwbak tetamunya itu, maka di waktu mereka saling jabat, dia mengerahkan tenaga Siauw Thian Chee atau "Bintang kecil". Itulah semacam tenaga dalam yang mahir, mulanya lunak, lalu keras, dengan itu tubuh pihak sana dapat dibikin menjadi lemas tak berdaya hingga jatuh terkulai di lantai. Han Tam bersenyum. "Terima kasih, maaf!" katanya, sabar. Ceng Ceng Jie telah mengerahkan tenaganya. Ia menjadi heran. Ia mendapatkan orang seperti tak bertenaga, toh orang tak roboh seperti apa yang ia kira. Ia melihat orang bersikap wajar saja. Dalam herannya ia kata dalam hati, "Tenaga dalam orang ini sukar ditaksir. Mungkin suheng Khong Khong Jie juga tak seliehay dia..." Tengah ia berpikir begitu, si "Kera Besar" ini, seperti katanya Nona Han Cie Hun, mendadak terkejut. Tiba-tiba ia merasai nadinya kaku atau lemas sendirinya. Han Tam jago totok, selagi berjabat tangan itu, dengan tenaga dalamnya ia menggempur tiga kali pada nadi orang. Lekas-lekas Ceng Ceng Jie menarik pulang tangannya. "Han Tongkee liehay sekali!" katanya. "Aku takluk, aku takluk!" Han Tam pun tak mau memandang enteng, karena orang dapat bertahan dari serangannya itu. Ong Pek Thong lantas mengerti bahwa orang diam-diam sudah mengadu kepandaian. Ia menjadi kaget dan heran, ia pun berkuatir. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Katanya di dalam hati, "Di antara tauwbak-tauwbak Kim Kee San ada orang begini liehay, jangan-jangan sulit buat aku menjadi beng-cu..." Puterinya tuan rumah sebaliknya girang sekali, hingga dia berjingkrak berlompatan, tangannya ditepuk berulang-ulang, tanda girangnya. Dia tertawa dan kata nyaring, "Aku mendapat kawan! Kau ini namanya siapa?" Dia tanya Cie Hun. Ong Pek Thong lantas berkata, "Inilah anak perempuanku, namanya Yan Ie. Dia paling suka bermain, lari sana dan lari sini, hingga orang panggil dia Siauw Yan, si Walet Kecil. Dan ini puterinya Sin Cecu," ia teruskan pada gadisnya. "Nah, pergilah kau menemaninya!" Ong Yan Ie alias Siauw Yan tertawa pula. "Bagus!" dia berkata. "Ayah mengundang semua orang tua, bagus encie ini menjadi tetamuku! Encie Sin, mari kita memain di sana!" Keluarga Ong membuat pesta besar-besaran, untuk tetamunya yang berjumlah besar itu ia dapat menyediakan tempatnya. Lembah Liong Bin Kok, atau Naga Tidur, yang tadinya kosong belukar, telah disiapkan dari siang-siang. Pembangunan dimulai sejak beberapa bulan yang lalu. Kecuali benteng dan rumah-rumah lainnya untuk semua orang, ialah sekalian liauwlo, dibuat juga suatu taman yang besar dan luas beberapa bauw berikut lauwteng atau ranggon serta pelbagai paseban, semuanya lengkap, bahkan untuk tontonan, telah diberdirikan dua panggung wayang. Telah ditetapkan pesta akan dimulai tengah hari tepat, maka itu selagi masih ada tempo satu jam kira-kira, para tetamu http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pada menyenangi diri dengan pesiar di taman atau menonton wayang, atau duduk berkumpul berkelompok-kelompok untuk memasang omong. Semua tetamu memperoleh kemerdekaannya. Demikian Ong Yan Ie, ia menemani Han Cie Hun. Usia mereka memang tak berjauhan. Ia berkesan baik terhadap tamunya yang cantik dan lincah itu. Mereka jalan-jalan sambil berpegang tangan, melihat-lihat taman yang indah. Dalam gembiranya, Yan Ie menutur hal diruntuhkannya benteng Hui Houw Ce dari Keluarga Touw. Cie Hun sebaliknya tak puas, ia tak gembira seperti semula, maka ia melayani bicara sekedarnya saja. "Kawanmu yang she Han itu liehay!" hata Yan Ie, yang menukar haluan bicara. "Tadi dia dan Ceng Ceng Jie mengadu kepandaian secara diam-diam. Kau melihat atau tidak, encie?" "Benarkah begitu?" tanya Cie Hun berlagak pilon. "Aku tidak tahu..." Yan Ie tertawa. "Kita bagaikan sahabat-sahabat kekal, mengapa kau begini merendahkan diri?" kata dia. "Apakah encie menganggap aku sebagai orang luar? Tadi mereka itu saling menguji kepandaian, turut penglihatanku, Han Tongkee kamu itu rupanya menang unggul. Han Tongkee demikian liehay, ayahmu mesti berada di sebelah atas dia! Bukankah bapak harimau tak mempunyai anjing dan panglima gagah tak mempunyai serdadu lemah? Encie Sin, pasti ilmu silatmu pun mahir sekali!" "Aku dilahirkan bebal," kata Cie Hun, "Maka itu meski aku pernah belajar silat beberapa hari, apa yang aku bisa tak dapat dinamakan kepandaian. Encie Ong, aku minta janganlah kau menempelkan emas di mukaku..." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Cie Hun tak gembira, ia bicara tawar. "Aku tidak percaya!" kata Yan Ie tertawa. Lantas dia menggenggam tangan tetamunya, sengaja dia mengerahkan tenaganya beberapa bagian. Dia membataskan diri karena dia kuatir Cie Hun tak sanggup bertahan. Cie Hun telah mendengar halnya Yan Ie selama menempur Keluarga Touw sudah berlaku telengas sekali, sekarang ia tak berkesan manis terhadap nona itu, ia panas hati, ia tak puas. Karena itu, ketika ia dipaksa diuji ini, diam-diam ia mengibasi tangan bajunya. Yan Ie tidak curiga apa-apa ketika tahu-tahu dia tertotok pada jalan darah jie-khie di pinggangnya dekat iga, tanpa merasa dia merasa nyeri hingga dia berteriak, "Aduh!" Berbareng dengan itu, Cie Hun juga menjerit, "Aduh!" dan tubuhnya mundur kaget sampai enam atau tujuh tindak. Yan Ie mengutamakan pengerahan tenaga lunak menjadi keras, maka itu tangannya mencekal mulanya perlahan, lalu menjadi kuat. Ketika itu kebetulan sekali Ong Liong Kek lewat di dekat mereka, dia terkejut mendengar saudara dan tetamunya itu pada menjerit, segera dia menghampirkan adiknya dan menegur, "Adik, mengapa kau berlaku tak hormat pada tetamu kita?" Yan Ie menahan sakit, ia kata sembari tertawa, "Kita cuma lagi main-main! Siapa sangka kau menganggapnya sungguhsungguh, koko!" Cie Hun pun tertawa sambil menahan nyerinya. Ia kata, "Encie Ong lagi mengajari aku. Inilah atas permintaanku!" Ong Liong Kek mengerutkan alis. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Memang baik kamu saling berlatih," katanya, "Cuma tak baik sekarang ini, mestinya sebentar setelah pesta bubar. Kalau taman kosong, bukankah bagus?" Ong Liong Kek teliti dan sabar. Ia dapat menduga kedua nona lagi menguji kepandaian. Sebab itu, timbullah kecurigaannya. Ong Yan Ie lebih gagah daripada Liong Kek, kakaknya itu, sekarang dia tak mendapat angin menguji Cie Hun, tentu sekali sang kakak menjadi heran. Pikir Liong Kek, "Kawan dan anaknya Sin Thian Hiong begini liehay, kenapa dulu-dulu dia tak mau menjadi jago Rimba Persilatan? Kenapa dia justeru menerima menjadi sebawahannya Keluarga Touw? Dan sekarang, kenapa mereka sudi tunduk pada Keluarga Ong kami? Tidakkah dalam ini ada kepalsuannya?" Karena kecurigaannya ini. Liong Kek lantas pergi mencari Ceng Ceng Jie, untuk memberitahukan dan berdamai. Kedua nona berjalan-jalan terus di dalam taman, diam-diam mereka saling memuji kepandaian masing-masing. Karena itu juga, mereka - atau lebih benar Nona Ong - tidak berani menguji terlebih jauh. "Encie Sin, ilmu totokan mengebutmu ini sangat liehay," kata Yan Ie tertawa. "Bagaimanakah hubungan encie dengan Losianseng Han Tam?" Ditanya begitu, Cie Hun terkejut di dalam hati. Pikirnya, "Sudah lama ayah menyembunyikan diri, kalau bukan orang Rimba Persilatan kelas satu, tak ada yang kenal ayah. Kenapa dia ini, yang masih begini muda, mendapat tahu nama ayah?" Ia pun seorang cerdik, ia tidak mau mengentarakan kagetnya itu, maka ia sengaja berlagak pilon. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Orang macam apa Han Tam itu?" ia tanya. "Aku cuma kenal seorang she Han, ialah Paman Han yang hari ini datang bersama-sama aku. Siapa itu Lo-sianseng Han Tam? Maaf, aku tidak tahu." "Han Tam itu," kata Yan Ie, "Menurut keterangan guruku, dialah ahli totok nomor satu di kolong langit di jaman ini. Barusan aku melihat ilmu totok kau, encie, aku jadi ingat Han Lo-sianseng itu, aku mengira kaulah muridnya." "Kepandaianku yang tak berarti adalah buah ajarannya ayahku sendiri," kata Cie Hun bersandiwara terus, "Sekarang aku bertingkah mempertunjuki di sini, aku malu, aku mengundang buah tertawa saja! encie, aku justeru mengagumi kau buat ilmu Bian Ciang serta menutup dirimu itu! Encie, siapakah guru encie yang terhormat?" "Tabiat guruku sama dengan tabiat Han Lo-sianseng itu," sahut Yan Ie, "Ialah mereka sama-sama tidak menyukai orang lain, orang ketahui nama mereka, maka itu aku tidak berani menyebutkan namanya." Mendengar itu, Cie Hun tahu orang sudah mulai mencurigai pihaknya, akan tetapi ia tidak takut. Ia turut datang ke mari justeru karena niatnya untuk mengacau di lembah Liong Bin Kok ini, guna membanguni naga tidur... Mereka pesiar terus. Yan Ie mengajak tetamunya pergi ke tempat wayang. Di antara banyak orang, ia tiba-tiba melihat seorang pengemis, ia menjadi heran. "Eh!" serunya, "Mengapa kamu membiarkan pengemis masuk ke mari? Lekas usir dia pergi!" Orang-orangnya Keluarga Touw menjadi kaget. Sebenarnya juga, mereka tak memperhatikan pengemis di antara sekian banyak tetamunya itu. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Mana dia? Mana dia?" begitu beberapa hamba menanya. Dalam tempo yang sangat pendek, pengemis itu sudah menghilang. Yang paling heran ialah Ong Yan Ie. Maka hendak ia pergi mencari sendiri. Tapi itu waktu pesuruh ayahnya sudah datang menyusul memanggil ia dan ia kembali guna menemani tetamu dalam medan pesta. Ketika itu tengah hari tepat. Di dalam kamar itu dimanamana terdengar suara tambur dan gembreng, tanda mengundang para tetamu menghadiri perjamuan. Masingmasing mereka segera diundang berduduk. Ong Pek Thong bersama puterinya menemani Sin Thian Hiong dan rombongannya Han Cie Hun. Ong Pek Thong diapit Ceng Ceng Jie di kiri dan seorang tua yang romannya aneh di sebelah kanan. Han Tam hadir di meja tuan rumah ini. Lam Ce In bersama Thouw Pek Eng dan rombongan duduk di sebuah meja lain. Meja ini berdampingan dengan meja kepala. Diam-diam Ce In memasang mata. Maka ia melihat dua orangnya An Lok San, yang mengenakan pakaian preman, duduk di meja lain berdekatan dengan meja mereka. Kawannya mereka itu berdua ia tak kenal siapa adanya. Setelah tiga idaran maka si orang tua di kanannya Ong Pek Thong, menepuk tangan tiga kali. Ia berbangkit memandang semua tetamunya. Itulah tanda bahwa ia hendak bicara. Sebenarnya dialah Tie Swie, seorang jago Rimba Hijau yang namanya cuma dibawahan Touw Leng Ciok dan Ong Pek Thong, cuma dia menjadi sahabat karib dari Pek Thong. Begitu dia berdiri, banyak orang tahu apa yang dia bakal ucapkan. Demikianlah dia angkat bicara, "Orang-orang yang memangku pangkat ada kepalanya! Kepala itu ialah yang dipanggil raja! Kita yang menjadi berandal, kita juga mempunyai pemimpin. Pemimpin kita ialah yang dipanggil http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

beng-cu! Selama beberapa puluh tahun, yang menjadi beng-cu kita terus menerus ialah Keluarga Touw. Keluarga itu cuma tahu mencelakai orang lain, untuk menguntung! diri sendiri, mereka tak mengenal persaudaraan. Maka mereka mirip si raja tak bijaksana yang tolol! Aku percaya tuan-tuan yang hadir di sini, semua pernah diganggu mereka itu. Tapi sekarang ini Toako Ong Pek Thong telah menolongi kita menyingkirkan bencana Rimba Hijau itu, Hui Houw Ce telah dilabrak musnah, maka juga dunia Rimba Hijau gembira sekali. Sekarang selesai sudah urusan Keluarga Touw. Sekarang muncul soal si pemimpin. Pemimpin itu perlu. Tanpa pemimpin ada, seumpama kawanan naga tanpa kepala, dapat terjadi orang main berebutan, hingga bencana kecelakaannya bertambah besar. Maka juga kita, kita mirip negara, yang tak boleh ada satu hari tanpa rajanya. Ya, kita tak boleh ada satu hari tak ada pemimpin kita. Menurut aku, karena Ong Toako sudah menolongi kita menyingkirkan si pemimpin yang tak bijaksana itu, baiklah kita minta saja ia yang menggantikan kedudukan Keluarga Touw, ialah kita angkat ia menjadi beng-cu kita yang baru! Bagaimana pendapat tuan-tuan?" Keluarga Ong sudah berkomplotan, segala apa sudah diatur, maka lantas ada banyak suara yang menyambut anjuran Tie Swie, yang menyatakan setuju, sedang mereka yang jeri terhadap Pek Thong, menurut memberikan suaranya, untuk mengekor. Kelihatannya sudah pasti Ong Pek Thong bakal diangkat menjadi Beng-cu ketika Sin Thian Hiong berbangkit. "Aku ingin bicara!" berkata tetamu ini. Dalam sekejap saja, suara berisik menjadi sirap. Tie Swie heran hingga dia melengak. "Sin Cecu, apakah cecu mempunyai pendapat lain?" ia tanya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Aku bukannya tak setuju Ong Toako menjadi beng-cu, sahut Thian Hiong. "Cuma ada satu hal yang aku masih kurang mengerti. Untuk itu aku mohon keterangan dari Ong Cecu dan Tie Cecu." "Keterangan apa itu yang Sin Cecu minta?" Tie Swie tanya. "Barusan Tie Cecu bilang, orang berpangkat ada raja yang menjadi kepalaya," kata Thian Hiong, "Maka itu, kita pun perlu menunjang seorang pemimpin, untuk dia mempersatukan perintah, untuk kita menentang pemerintah. Bukankah begitu maksud ringkas dari Tie Cecu?" "Ya, begitulah maksudnya!" Tie Swie memberi kepastian. "Bagus.'" kata Sin Thian Hiong. "Sekarang ingin aku menanya, kalau begitu maksud kita, kenapa di dalam pertemuan Rimba Hijau hari ini ada diundang juga sebawahannya An Lok San? Apakah maksud yang sebenarnya? Ong Cecu, dapatkah kau memberi penjelasan kepada semua saudara di sini?" Ong Pek Thong terkejut, air mukanya berubah. Tapi dia mesti menebali kulit. "Dimana ada orangnya An Lok San di sini?" tanya dia sambil berbangkit berdiri. "Siapakah yang sudah menyiarkan berita burung? Sin Cecu, aku lihat kau keliru mempercayai obrolan cerita burung itu?" Tak menanti suara orang berhenti, Lam Ce In sudah berbangkit buat terus menunjuk ke meja di sampingnya, kepada Thio Tiong Cie. "Inilah orangnya An Lok San, pangkatnya Touw-ut bagian penyerbu. Dan orang di sisinya itu ialah Busu dari An Lok San!" Mendengar itu, hadirin menjadi ramai. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru itu mendadak muncul seorang pengemis, yang berlari-lari mendatangi sambil tertawa geli haha-hihi. Sangat cepat larinya dia, sebentar saja dia sudah sampai di mejanya Thio Tiong Cie. Ong Yan Ie terkejut. Ia mengenali pengemis yang tadi ia pergoki itu, yang hilang pula dengan cepat. Pengemis itu menjura kepada Thio Tiong Cie, sembari tertawa, dia kata, "Pesta ini pesta besar yang sukar diketemukan pula, maka itu aku si pengemis hendak memohon persen! Lebih dulu aku minta persen dari tuan pembesar negeri, habis itu baru dari tuan rumah!" Salah seorang hadirin, yang bertubuh besar dan gemuk, sudah lantas membentak, "Pengemis bau, tempat ini tempat apa? Mana dapat dibiarkan kau mengacau di sini?" Terus dia mengangkat satu poci arak, untuk dipakai menimpuk kepala orang! Hebat serangan itu ke batok kepala. Di dalam pesta Rimba Hijau semacam ini orang biasa menggunakan cangkir besar dengan potongan-potongan daging besar juga, maka itu, tempat araknya pun mesti terbuat dari tembaga atau besi, yang muat kira lima kati arak. Demikian poci arak yang dipakai si gemuk, beratnya seperti gembolan! Akan tetapi si pengemis tertawa berkakak. "Belum lagi dipersen uang hendak dihadiahkan arak!" katanya. "Baiklah! Terima kasih!" Dia mementang mulutnya, untuk menyambuti. Karena dia dongak, tepat dia kena gigit mulut poci!

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si gemuk kaget, hingga dia menarik pulang poci itu. Apa celaka, poci itu tak bergeming, tak perduli dia bertubuh besar dan gemuk dan mestinya besar juga tenaganya. Justeru itu dua orang yang berduduk bersama Thio Tiong Cie sudah lantas bangun untuk menyerang si pengemis, atas mana pengemis itu menggeraki kedua tangannya untuk menyampok. Maka beradulah tangan mereka dengan keras. Kesudahannya itu kedua penyerang itu terpelanting mundur, terhuyunghuyung beberapa tindak, hampir mereka terguling. "Kie Lojie!" Tie Swie berseru. "Kalau kau tidak melihat muka pendeta, aku minta kau pandanglah wajah Sang Buddha! Hari ini hari baik dari Ong Toako, jikalau kau mempunyai suatu urusan, mari kau bicara dengan tuan rumah, harap jangan kau mendahului turun tangan!" Mendengar suaranya Tie Cecu, para hadirin lantas menjadi heran dan girang, mereka itu gempar. Di dalam dunia pengemis itu waktu ada tiga pengemis yang luar biasa, yang namanya sangat tersohor. Yang satu yaitu Seegak Sin-liong Hong-hu Siong, yang satu lagi ialah Ciu-kay Kie Tie si Pengemis Pengarakan. Dan pengemis yang ketiga yakni Hong-kay We Wat si Pengemis Edan. Mereka bertiga dimalui karena kegagahan mereka. Sekarang Tie Wie menyebut Kie Lojie, maka pengemis ini ialah Ciu-kay si Pengemis Pengarakan, tukang menenggak air kata-kata! Maka itu kagetlah orang-orang pihak Ong, sedang yang kegirangan adalah mereka dari rombongannya Thouw Pek Eng. Dalam keadaan kacau itu, rombongan Tiong Cie berbangkit melupakan satu kurungan. Thouw Pek Eng serta Sat-sie Siang Eng pun maju, guna mendekati si pengemis jago arak.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ketika itu Kie Tie sudah menyedot habis isinya poci arak, kemudian ia membuka mulutnya untuk memuntahkan itu seperti semprotan atau semburan terhadap mereka yang mengurungnya. Hebat arak itu, yang turun bagai hujan, siapa terkena itu, dia merasakan mukanya sakit seperti terhajar peluru kecil halus. Kie Tie tertawa, dia mengangkat pundaknya, dia kata nyaring, "Ong Cecu! Tie Cecu! Lihat oleh kamu! Bukankah itu mereka yang mulai menyerang lebih dulu? Bagaimana kamu hendak mempersalahkan aku?" Lam Ce In lantas maju menerjang Thio Tiong Cie. Orangnya An Lok San itu terserang matanya oleh arak, itulah rintangan untuknya. Dalam keadaan biasa, dapat dia melayani Ce In sampai tiga puluh jurus, sekarang baru satu jurus, dia sudah kena dicekuk! Juga orang satunya lagi dari An Lok San sudah lantas terbekuk Pek Eng. Beberapa orang semeja, yang menjadi kawan-kawannya Tiong Cie berdua, mau maju, akan tetapi mereka dihadang Kie Tie dan Sat-sie Siang Eng. Kie Tie tertawa nyaring dan kata, "Segera bakal ada pertunjukan ramai, maka buat apa kamu membikin ribut? Kenapa kamu tidak mau diam saja menonton pertunjukan yang menarik hati itu?" Beberapa orang itu melengak. Lam Ce In bersama Thouw Pek Eng, dengan masing-masing membawa orang-orang tangkapannya masing-masing, pergi naik ke panggung wayang. Itu waktu, pertunjukan wayang berhenti sendirinya sebab ada keributan tak disangka-sangka itu. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Melihat datangnya dua orang ini, anak-anak wayang, berikut tukang tetabuannya, pada lari menyingkir ke panggung belakang. Wajah Ong Pek Thong menjadi merah padam dan pias. Dia menyambar poci arak dan membantingnya ke tanah keraskeras. "Tahan!" dia berseru, nyaring. Justeru itu Han Tam telah menggunai sumpitnya menyambar poci arak, yang kena terjepit. "Ong Cecu, sabar!" dia berkata. "Kalau ada bicara, marilah kita bicara baik-baik, tak usah cecu bergusar! Arak ini arak yang harum dan sedap sekali, sayang kalau sampai terbuangbuang!" Ong Pek Thong menggunai tenaga beberapa ratus kati, maka heran ia Han Tam dapat menjepit poci araknya itu yang besar dan berat. Melihat itu ia menjadi kaget berbareng gusar sekali. Ia pun menjadi malu dan jengah, hingga untuk sejenak ia jadi membungkam. Baru kemudian ia berkata dengan suara dalam, "Semua orang yang hari ini datang ke Liong Bin Kok ini menjadi sahabat-sahabat baikku, maka itu aku hendak memohon sahabat-sahabat suka memberi muka padaku! Aku minta, ada urusan apa juga, baiklah kita bicarakan lain hari!" Mendengar itu, Han Tam tertawa. "Ong Cecu, kata-katamu ini dikeluarkan karena kau kurang pikir sedikit!" kata dia. "Inilah justeru urusan besar! Justeru sekarang hadir semua saudara dari pelbagai penjuru, justeru perlu sekarang kita bicarakan urusan ini! Kita perlu bicara jelas sekarang supaya Ong Cecu tidak sampai kehilangan muka!" Sin Thian Hiong pun turut bicara. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kata dia nyaring, "Benar! Justeru sekarang orang banyak hendak mengangkat kau sebagai beng-cu, sebagai pemimpin kita, justeru ada orangnya pembesar negeri yang nelusup masuk di antara kita! Jikalau perkara ini tidak diperiksa terang sekarang juga, bukankah akan terjadi ada saudara-saudara yang nanti menyangka kau berkongkol dengan pembesar negeri! Itulah sangkaan keliru yang berbahaya sekali! Kalau dua orang itu benar Busu dari An Lok San, mereka pasti bukan sahabat cecu! Kita mau menjelaskan ini justeru untuk kebaikan cecu sendiri!" Ong Pek Thong bungkam, mukanya merah padam. Hebat kata-katanya Han Tam dan Thian Hiong itu. Ketika itu Lam Ce In dan Thouw Pek Eng sudah membawa kedua orang tawanannya ke muka panggung. Di bawah itu sebaliknya telah berkumpul banyak orang, ialah para hadirin atau tetamu. Di antara orang banyak itu lantas ada yang menanya, "Kamu bilang dua orang ini menjadi orang atau Busunya An Lok San! Untuk itu kamu mempunyai bukti apa?" "Benar!" lantas ada suara yang menimbrung. "Siapa tahu kalau mereka ini berdua orang-orang dari Kim Kee San, yang hendak memfitnah Ong Toako! Maka perlulah ada bukti atau saksi! Siapa dapat membuktikan mereka benar orang-orangnya An Lok San?" Pasti sekali mereka itu ialah orang-orangnya An Lok Sah. Dan mereka dapat sambutan lagi dari kawan-kawan mereka. Tentu, di antara meieka itu, walaupun ada yang ketahui siapa Tiong Cie dan kawannya itu, meieka berlagak pilon. "Aku dapat memberi bukti!" berseru Kie Tie, yang berada di antara banyak orang. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dia bersuara dingin, suaranya tak keras, tetapi tajamnya menusuk telinga. Maka suaranya itu membungkam suara berisik orang-orangnya Ong Pek Thong itu. "Ada bukti apa?" ada juga orang yang bertanya. "Buktinya ada di tubuh mereka!" Kie Tie menjawab, tertawa. Lam Ce In disadarkan Kie Tie, ia lantas menggeledah tubuhnya Thio Tiong Cie. Maka ia dapat menarik keluar Houw Tauw Kim-pay, yaitu lencana emas berkepala harimau, benda pertanda kalau An Lok San menitahkan orang atau orang-orang kepercayaannya pergi bertugas, bahkan dengan itu, pesuruh ini dapat memberi perintah pada tentara atau pembesar militer setempat. Di antara orang-orang Rimba Hijau ada yang mengenali kimpay itu. Karena itu orang-orangnya Ong Pek Thong lantas pada menutup mulut. "Buat apa kamu datang kemari?" Lam Ce In tanya dua orang tangkapannya. "Lekas kamu mengasih keterangan!" Thio Tiong Cie bangsa keras kepala, dia berdiam. Ce In memencet lengannya, hampir tangannya itu remuk, akan tetapi dia terus bungkam. Sebaliknya kawannya tak dapat bertahan, sebab dia disiksa Thouw Pek Eng yang menggunai tipu silat Hun-kin Co-kut Ciu, hingga tangannya bisa salah urat atau salah laku, yang mendatangkan jasa nyeri bukan buatan. Dia tak tahan maka dia menjerit keras, "Aduh!" "Bicaralah!" bentak Pek Eng. "Kalau tidak, kau bakal merasai yang terlebih hebat lagi!" "Baik, hoohan, aku bicara!" kata orang itu. "Akan aku bicara!" Tepat di itu waktu, Ceng Ceng Jie mengayun tangannya. Maka dua potong pisau belati melesat melayang! http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Han Tam telah memasang mata, ia melihat gerakan orang itu, ia pun segera menggeraki pula sumpitnya, melesat sebagai senjata rahasia. Pisau belati Ceng Ceng Jie itu aneh. Di tengah jalan, kedua pisau memutar haluan, hingga keduanya tak dapat disusul kedua batang sumpit. Terus pisau belati itu balik menyambar ke arah panggung! Thouw Pek Eng melihat datangnya senjata, ia menangkis dengan pedangnya, maka sebilah pisau jatuh ke panggung. Akan tetapi yang kedua lolos, tepat kerongkongnya si Busu disambar nancap, hingga suara orang lantas saja berhenti! Han Tam gusar. "Ceng Ceng Jie, mengapa kau membunuh orang untuk membungkam mulutnya?" ia menegur. Justeru itu di bawah panggung terdengar suara berisik, lalu terdengar tegurannya Ong Liong Kek yang tertawa dingin, "Sin Cecu, bagus benar sepak terjangmu! Tak kusangka, siauw-cecu dari Hui Houw Ce justeru menjadi pengiringmu!" Ong Liong Kek berkata benar. Dia telah membongkar rahasianya Tiat Mo Lek. Karena kecurigaannya, dia lantas bekerja. Dia menyuruh beberapa orangnya mengatur perangkap. Tiat Mo Lek tidak menyangka apa-apa, tadi dia pergi ke bawah panggung menonton wayang. Di sana dia melihat Cio It Liong dan Cio It Houw kedua saudara. Sebagai seorang cerdik,dia lantas menyingkir. Dia berjalan dengan cepat sambil tunduk. Tapi dia memangnya diarah, dia disusul. Cio It Liong pun menegur, "Tiat Siauw-cecu, kau hendak pergi kemana?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru itu beberapa tauwbak muncul. Mereka itu sudah siap sedia. Mereka membanjur Mo Lek dengan air di dalam tahang. Itulah hebat. Kalau mereka bertempur, tak mudah dua saudara Cio memperoleh kemenangan. Sekarang Mo Lek dibanjur, selagi dia gugup, dia diserang. Maka belum sampai puluhan jurus, dia sudah kena ditangkap. Celakanya, karena tersiram air, penyamarannya locot. Dia lantas dikenali. Bukan main girangnya Ong Pek Thong ketika dia menerima laporan dari anaknya yang telah lantas datang ke situ itu, guna menegur Sin Thian Hiong. Ong Pek Thong pun berseru, "Kamu lihat! Lihat bocah ini! Dialah anak angkat dari Touw Lotoa! Dialah Tiat Mo Lek! Sin Thian Hiong membawa dia kemari, apakah maksudnya? Tak usah aku terangkan lagi, tuan-tuan pastilah sudah mengerti! Baiklah! Mereka datang untuk membalaskan sakit hatinya Keluarga Touw! Sekarang mereka mau menunjang ini bocah bau! Tuan-tuan, sekarang bilanglah terus terang, kamu masih hendak menunjang bocah ini atau kamu suka turut padaku?" Sin Thian Hiong tidak takut meski rahasia sudah pecah. Dia berseru, "Tuan-tuan jangan kasih diri tuan-tuan terjebak oleh Ong Pek Thong! Baiklah tuan-tuan jangan dibikin terlibat urusan permusuhan dua keluarga Ong dan Touw! Urusan permusuhan dua keluarga itu boleh ditunda sampai lain hari! Sekarang yang mesti dibikin jelas ialah, Ong Pek Thong sekongkol dengan An Lok San, dia seperti mau membantu harimau mengganas, sebab dia hendak membantu bangsa Ouw merampas Tionggoan, negara kita! Tuan-tuan, apakah tuantuan masih hendak mengekor padanya?" Mendengar keterangan itu, yang mereka percaya, sebagian dari para hadirin itu sudah lantas membubarkan diri. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Konco-konconya Ong Pek Thong berjumlah besar, tidak menanti Sin Thian Hiong bicara habis, ada beberapa diantaranya yang sudah lompat naik ke atas panggung untuk menyerang Lam Ce In. Maka itu kacaulah keadaan, hingga Sin Thian Hiong tak dapat ketika bicara lebih jauh. Lam Ce In menghunus golok mustikanya. Ia berdiri belakang membelakangi dengan Thouw Pek Eng. Dengan siasat ini ia menangkis musuh. Dengan lekas panggung telah terkurung tiga lapis orangnya Ong Pek Thong. Mereka itu terdiri kebanyakan dari penjahatpenjahat besar Rimba Hijau, umumnya mereka kosen, maka di dalam tempo yang pendek, tak dapat Ce In berdua memukul mundur pada mereka. Thio Tiong Cie dapat kesempatan membebaskan diri, bukannya dia kabur, dia justeru menerjang. Di antara banyak kawan, dia menjadi tidak takut. Di atas panggung orang bertarung, di tanah pun terjadi pertempuran tak kalah serunya. Ong Pek Thong hendak berlalu dari medan pesta tapi Han Tam kata padanya, "Ong Cecu, kejadian ini harus diselesaikan! Tak dapat kau berlalu dengan begini saja!" Sembari berkata begitu, orang she Han ini mengulur tangannya ke pundak orang. Hanya belum lagi ia mencekal, lantas ia merasakan sambaran angin dingin ke arahnya. Di luar dugaan, Ceng Ceng Jie telah mengangkat meja, yang dia pakai merintangi Sin Thian Hiong, yang mau maju. Selagi berbuat begitu, dia melihat Pek Thong terancam, tidak ayal lagi, dia lompat menyerang Han Tam. Tak perduli dia bahwa dengan cara begitu dia main membokong. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Han Tam melihat datangnya bahaya. Ia batal menyerang terus pada Pek Thong. Ia membalik tubuh buat menangkis serangan curang itu. Ceng Ceng Jie membuka kepalannya, atas itu dari tangannya melesat sesuatu yang berkilau seperti halilintar, menyambar pada musuh. Itulah pisau belati, bekalnya. Han Tam berniat menotok lawan itu, tetapi diserang dengan pisau belati itu, ia mesti membela diri. Ia mengelit tangannya. Ia sebat sekali, sambil berkelit, seraya mendak, ia meneruskan menyabet ke bawah, ke arah dengkul penyerangnya itu. Ceng Ceng Jie awas dan gesit. Dia menolong diri dengan menggeser kakinya. Dia tak berhenti sampai disitu. Dari samping dia meluncurkan tangannya yang memegang pisau belagi, guna menikam dada musuh. Han Tan mendak untuk terus menjejak tanah, hingga tubuhnya mencelat naik. Sambil mencelat itu, sebelah kaki digunakan, diteruskan mendupak lengannya Ceng Ceng Jie, niatnya buat membikin terlepas pisau belati lawan itu. Ceng Ceng Jie liehay, ia menyingkirkan tangannya, ia terus menyerang lagi. Dengan berada di samping, dapat ia mengarah iga lawannya dimana ada jalan darah jie-khie. "Bagus!" seru Han Tam. Dari samping, ia menyampok ke arah pergelangan tangan lawannya itu. Ceng Ceng Jie lompat berkelit lincah, tetapi ia mengasih dengar suara nyaring, "Bret!" Ia bebas dari serangan itu. Sebagai ganti pergelangannya, tangan bajunya yang robek.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Maka hebatlah pertempuran di antara dua jago ini. Ceng Ceng Jie tak kalah tapi pun Han Tam tak berhasil memperoleh kemenangan cepat. Sementara itu Ong Pek Thong telah dapat ketika buat menjauhkan diri. Tiat Mo Lek panas sekali, dia menghunus goloknya guna menyerang saudara-saudara Cio. Ia basah kuyup seperti ayam tercebur, dia hendak menuntut balas. Belum dia menyerang, tiba-tiba dia mendengar satu suara nyaring. "Tiat Siauw-cecu, dengar! Sebenarnya aku memandang kepada kau! Bukankah kemarin ini paman Khong Khong Jie telah membiarkan kau hidup terus? Kenapa sekarang kau datang pula ke mari? Bukankah itu berarti, sorga ada jalannya kau tak pergikan, kau justeru masuk ke neraka yang tak ada pintunya!" Itulah suaranya seorang nona. Lalu terdengar suaranya Ong Pek Thong, "Anak Yan, buat apa kau bicara saja dengannya? Ingatlah, membabat rumput mesti berikut akarnya! Lekas kau bunuh dia." Tiat Mo Lek tak menghiraukan bahaya. Ia tahu ia bukan lawan si nona tetapi dalam murkanya ia menyerang nona itu. Ong Yan Ie mengerutkan alis. "Apakah benar-benar kau kesusu mau menghadap Raja Akherat?" tanya dia. Lantas dia menyerang ke dada si anak muda. Mo Lek menangkis dengan goloknya. Ia nekad, ia bersedia mengadu jiwa. Ingin ia mati bersama. Maka ia menggunai ilmu pedang yang ia baru dapatkan dari Kui Ciang. Ia merangsak http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tanpa menghiarukan bencana. Sayang ia belum sempat melatih mahir ilmu pedangnya itu. Ilmu pedang mengutamakan kelunakan, ilmu golok kekerasan, sekarang Mo Lek memindahkan ilmu pedang kepada goloknya, biar ia bisa menyerang hebat tetapi tetap ia meninggalkan lowongan atau kekosongan. Yan Ie lebih liehay, si nona lantas dapat melihat cacad orang itu. Dengan memutar tubuh, dia berkelit, terus dia maju. "Awas!" seru puteri gagah dari Ong Pek Thong, yang pedangnya meluncur cepat. Mo Lek terkejut, ia berkelit dengan gugup, meski begitu ia tidak dapat membebaskan diri seluruhnya, bajunya kena terobek dan ujung pedang menowel kulit dagingnya! "Celaka aku!" ia berseru dalam hati ketika ia merasai hawa dingin di iganya. Ia percaya jiwanya bakal melayang, tapi lantas ia menjadi heran. Yan Ie tidak menikam terus, pedangnya ditarik pulang. Kata si nona perlahan, "Nyalimu benar besar! Lekas kau pergi! Aku beri ampun pada jiwamu!" Hanya sekejap Mo Lek melengak. "Siapa kesudian diberi ampun?" serunya. Mendadak ia membacok! "Ah!" seru si nona, tetap perlahan. "Tak dapatkah kau tak omong keras-keras? Hati-hati nanti ayahku mendapat dengar...!" Melihat si anak muda demikian berani, Nona Ong menjadi menyukainya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Syukur itu waktu pertempuran di panggung berisik sekali dan Ong Pek Thong lagi repot memimpin orang-orangnya menyerang Sin Thian Hiong semua, maka itu selain tidak ada yang mendengar juga tak ada yang memperhatikan dua anak muda ini. Mo Lek telah menjadi seperti kalap. Ia tidak memperdulikan si nona, ia menyerang pula, beruntun sampai tiga kali. Benarbenar ia mau mengadu jiwa. Yan Ie menjadi gusar. "Bocah bau, kau tidak dapat melihat salatan!" bentaknya. Terpaksa ia melayani sekalian membela dirinya. Ia terus merangsak. Dengan tipu silat "Bidadari melemparkan torak," ia merapatkan diri, untuk menikam nadi si anak muda, guna memaksa orang melepaskan goloknya. Tengah Nona Ong angin menyambar di pengalamannya sudah yang pandai. Ia tahu serangan. menyerang itu, mendadak ia merasa belakangnya. Ia masih muda tetapi banyak, sedang ia pun muridnya guru artinya angin itu, ialah anginnya satu

Dengan sebat ia gunai jeriji kirinya menolak goloknya Mo Lek, sama sebarnya ia menangkis ke belakang, menghalau serangan. Tatkala ia menoleh, ia melihat penyerangnya itu Han Cie Hun. "Oh, kiranya Encie Sin!" Nona Ong kata tertawa. "Bagus! Bagus! Memang aku ingin mencoba kepandaian encie! Tadi encie menyimpannya, sekarang mesti dikeluarkan! Supaya aku dapat membuka mataku!" "Ah, hantu wanita cilik yang telengas!" Cie Hun mendamprat. "Hari ini kau tak akan lolos dari keadilan!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Benar?" tanya Yan Ie tertawa. Dia Jenaka dan riang gembira, tak mudah diterka. "Jikalau aku telengas maka ini sahabat baik siang-siang pasti sudah lenyap jiwanya! Jikalau kau tidak percaya, kau tanyakanlah dia!" Mo Lek sangat mendongkol. Tak sudi ia bicara. Ia maju pula dan menyerang dengan hebat. Cie Hun pun maju, dari itu, Yan Ie kena dikepung berdua. Nona Han menggunai sepasang poan-koan-pit, senjata yang mirip alat tulis (pit), peranti menotok jalan darah, dengan begitu ia menggunai kepandaiannya yang menjadi ajaran ayahnya. Tapi' Yan Ie gagah, tak gampang dia dikalahkan. Karena adanya Mo Lek, puterinya Ong Pek Thong kalah angin juga. Di bawah panggung orang bertempur secara kacau itu, di atas panggung pertempuran tak kalah hebatnya. Dengan belakang membelakangi, Lam Ce In dan Thouw Pek Eng menyambut pelbagai penyerangan. Jumlah musuh besar sekali, walaupun Ce In gagah dan ia telah berhasil merobohkan beberapa orang, ia dan kawannya masih tak dapat mengundurkan penyerang-penyerangnya itu. Kie Tie mencegluk isi buli-buli yang besar, umpama kata perutnya menjadi gendut, setelah itu dia tertawa terbahakbahak, dia kata dengan gembira, "Pertempuran ini sangat menarik hati untuk ditonton! Tak dapat tidak, aku si pengemis tua mesti membantu meramaikannya! Ha, ha!" Dia lantas menghampirkan panggung, terus dia mementang mulutnya, untuk menyemburkan araknya. Bagaikan diserang hujan deras, beberapa musuh yang berada paling dekat sudah lantas roboh atau terpelanting. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Hebat serangan arak itu, yang membuat mata perih dan nyeri serta tubuh nyeri juga. Setiap tetes arak merupakan seperti peluru. Benar serangan itu tidak segera meminta jiwa, tetapi orang kelabakan dan kesakitan tak terhingga. Di antara kawanan penjahat ada seorang she Ciok nama Sam Seng, dia terkenal kosen, senjatanya ialah cambuk hongliong-pian yang berbuku tujuh, ketika itu ia justeru merabuh kakinya Ce In. Dia menggunai silat "Angin puyuh menyapu pohon Yang-liu". Karena dia maju ke muka, dia kena tersembur arak, lantas matanya tak dapat melihat. Menampak demikian, Ce In berseru, goloknya berkelebat. Tidak ampun lagi, jago itu roboh. Karena itu, terbukalah satu lowongan. Tanpa ayal pula, Lam Pat mengajak kawannya lompat turun dari panggung. Pembantunya Ong Pek Thong yaitu Tie Swie menyaksikan perbuatannya Kie Tie itu, ia lantas menegur, "Kie Lojie, kitalah air sumur yang tidak saling mengganggu dengan air kali, mengapa sekarang kau mengacau begini rupa? Bukankah perbuatanmu ini berarti kau sangat tidak memandang mata kepada tuan rumah?" Kie Tie tertawa. "Kamu toh tidak mengundang aku?" dia membaliki. "Karena kamu -tidak mengundang aku, buat apa aku menjual muka kamu? Lain dari itu, kau tahu sendiri tabiatku si pengemis tua, satu kali aku ketagihan arak lantas aku tidak memperdulikan lagi muka atau bukan muka! Maka mari, mari, mari! Kau tidak mengundang aku minum arak, aku sendiri suka mengundangmu minum barang sedikit!" Dengan lantas Ciu-kay menyembur ke arah Tie Swie. mementang pula mulutnya,

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Bukan main gusarnya si orang she Tie. Dengan lantas ia melakukan satu serangan "Udara kosong," guna menyampok balik hujan arak itu, habis mana ia maju, untuk menyerang, bahkan dengan hebat. Kie Tie menganggap orang sebagai kenalan lama, ia menyembur tanpa mengerahkan tenaga dalam, ia cuma mau main-main, maka itu diluar dugaannya, ia lantas diserang hebat. Tie Swie itu memang pandai Kim Na Hoat, ilmu menangkap, untuk mana dia bisa berkelahi rapat. Sudah begitu, dia pun lantas dibantui beberapa kawannya yang termasuk orang-orang kosen undangannya Ong Pek Thong. Maka itu, ia terpaksa mesti bertempur secara sungguh-sungguh. Lam Ce In membuka jalan untuk dapat mempersatukan diri dengan Sin Thian Hiong, tengah ia maju itu, tiba-tiba ia merasakan sambaran angin kepada punggungnya. Diluar sangkaan, ia telah diserang Ong Liong Kek, puteranya Ong Pek Thong, yang sekarang mengenalinya, hingga ia mesti memutar tubuhnya menghalau serangan itu. Ong Liong Kek tertawa dan kata, "Orang she Lam, kau terlalu! Bukankah kemarin ayahku berlaku murah hati membiarkan kau kabur turun gunung, kenapa sekarang kau datang pula bahkan1 dengan menyamarkan diri? Kau mengacau, apakah ini perbuatannya 'seorang enghiong atau hoohan?" "Tutup mulut!" Ce In membentak. "Beranikah kau masih bicara tentang seorang enghiong atau hoohan denganku? Kamu ayah dan anak, kamu sudah kesudian menjadi anjinganjingnya An Lok San!" Sembari menegur itu, Ce In menyerang. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ong Liong Kek tidak berani banyak omong lagi, ia melakukan perlawanan, maka bertarunglah mereka dengan hebat. Didalam pertarungan kacau itu, yang paling seru ialah pasangan di antara Ceng Ceng Jie dengan Han Tam. Ceng Ceng Jie telah mengeluarkan Kim-ceng Tiat-kiam, yaitu pedang besinya yang istimewa tetapi Han Tam tetap melawan dia dengan sepasang tangan kosong. Tangannya itu, baik telapakan mau pun jerijinya, merupakan seperti dua macam alat senjata, bahkan jari tangannya mirip dengan Poan-koan-pit, gegaman beroman seperti alat tulis peranti menotok jalan darah. Ceng Ceng Jie liehay, dia pun gesit sekali, tetapi sudah bertempur sekian lama, dia tak dapat berbuat banyak, pedangnya seperti tak mempan terhadap tangan dari darah dan daging... Ceng Ceng Jie muncul baru beberapa tahun, Han Tam sebaliknya mengundurkan diri sudah lama, maka itu ia tidak tahu bahwa orang yang mengaku sebagai tauwbak dari gunung Kim Kee San itu seorang jago tua bahkan ahli totok yang kenamaan, ia menjadi heran. Setelah bertempur sekian lama, Han Tam lantas mulai dengan penyerangannya dengan ilmu silat "Hud In Ciu," atau "Tangan mengebut mega". Serangannya ini merupakan campuran dari tabasan, tekanan, totokan dan tusukan. Ceng Ceng Jie repot menangkis atau berkelit, jarang ketikanya untuk membalas menyerang. Ia gesit dan waspada, sebat kelitnya, tetapi satu kali dia kena juga ditowel lengannya, hingga kontan ia merasa kesemutan pada tiga jalan darahnya, giok-heng, yauw-kong dan kiok-tie. Syukur untuknya, ia telah menutup jalan darahnya dan totokan tidak keras, ia menjadi tak usah sampai roboh terguling. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ketika itu Ong Pek Thong telah memimpin orang-orangnya mengurung Sin Thian Hiong. Ia menduga orang she Sin itulah pemimpinnya pihak pengacau pestanya itu, maka ia pun maju sendiri. Ingin ia dapat menawan hidup-hidup pada Thian Hiong. Dua saudara Sat, yaitu Sat-sie Siang Eng, bertempur rapat bersama-sama Thian Hiong, mereka gagah, tetapi dikurung banyak orang, mereka repot juga, tak dapat mereka memecahkan kurungan. Han Tam berkelahi sambil memasang mata keempat penjuru, dengan lantas ia dapat melihat Thian Hiong terkepung itu, lantas dengan satu serangan ia paksa Ceng Ceng Jie mundur, sembari mendesak itu, ia kata, "Dengan memandang muka suhengmu, aku tidak mau melukai kau, maka mundurlah kau!" Ceng Ceng Jie terkejut. "Kau siapa, tuan?" ia tanya. "Kau pulang, untuk tanyakan keterangan suhengmu, nanti kau ketahui sendiri," sahut Han Tam. "Sekarang aku tak mempunyai tempo untuk bicara banyak!" Lalu sambil bersiul nyaring, jago tua ini lompat untuk lari ke arah Sin Thian Hiong. Ceng Ceng Jie bingung, ia kata di dalam hati kecilnya, "Tak perduli apa yang dia bilang benar atau salah, dia katanya kenal kakak seperguruanku, baik sekarang aku jangan melayani dia lebih lama pula!" Tepat itu waktu dua-dua Ong Pek Thong dan Ong Liong Kek, ayah dan anak, mengasih dengar seruan mereka meminta bantuan. Ceng Ceng Jie dengar suara orang, seharusnya dia pergi pada Pek Thong, akan tetapi suaranya Han Tam membuatnya jeri, ia pergi pada Liong Kek.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Ce In benci sangat pada Liong Kek, ia menyerang dengan hebat, goloknya dipakai menyerang secara beruntun, setiap kalinya bertambah hebat. Disamping ia, Thouw Pek Eng dengan pedangnya menangkis lain-lain musuh. Selang tiga puluh jurus. Liong Kek lantas terdesak hebat, dengan terpaksa ia membuka jalan, habis menangkis, ia lompat mundur untuk lari menyingkir. Akan tetapi Lam Ce In tidak mau mengerti. "Kau rasai!" bentaknya, sambil goloknya menyerang dari atas ke bawah. "Jangan bunuh dia!" teriak Pek Eng, mencegah. "Bekuk bocah itu hidup-hidup!" Lam Ce In lantas saja mengerti maksudnya Thouw Pek Eng. Itulah untuk membekuk puteranya Ong Pek Thong guna dijadikan orang jaminan. Ia pikir, "Kelihatannya cuma ada ini satu jalan untuk membikin Ong Pek Thong membubarkan kurungannya ini!" Hebat orang she Lam ini, begitu ia berpikir dan setuju, ia lantas bekerja. Goloknya sudah lantas dikasih bekerja. Hanya dalam beberapa jurus, kipas besi Ong Liong Kek sudah kena dikekang. Berbareng dengan itu laur,an kirinya meluncur dalam tipu silat "Yu Liong Tam Jiauw," atau 'Nay,.' mengulur kuku," menyambar ke arah tulang pipa atau tulang selangka lawannya itu. Ong Liong Kek juga liehay. Dia terdesak, dia melihat ancaman bahaya. Maka dia berlaku waspada. Ketika disambar itu, di saat tangan orang hampir tiba pada bajunya, mendadak dia menjejak tanah untuk lompat berjumpalitan dengan jurus "Kim Lie Coan Po," atau "Tambra emas meletik menembusi ombak". Maka bebaslah dia. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ce In menjadi mendongkol. Dia lompat menyusul dengan lompatan "Teng In Ciong," atau "Naik di atas mega". Begitu datang dekat, dia terus membacok. Sekonyong-konyong ada seorang yang berlompat maju untuk menghadang. Orang itu gesit sekali. Dia pun sudah lantas menggunai pedangnya. Maka golok dan pedang beradu keras sambil memuncratkan lelatu api. Lantas dia berseru sambil menyapa, "Ilmu golok yang liehay! Tuan, bukankah kau Lam Pat dari Gui-ciu?" Orang yang demikian liehay, Ceng Ceng Jie adanya. Tepat dia menolongi Ong Liong Kek. Karena Ce In terus menyerang, dia mesti melayani bertempur. "Tidak salah!" Ce In menjawab. "Lam Pat dari Gui-ciu itulah aku yang rendah! Kau liehay, tuan, mengapa kau sudi membantu harimau? Tidakkah kau harus disayangi?" Ceng Ceng Jie tertawa. "Di sini bukan tempat bicara!" katanya. "Hari ini juga bukan saatnya untuk berunding! Kemarin ini di gunung Hui Houw San tak ada kesempatan untukku menerima pengajaran dari kau, aku menyesal, maka bagus sekali hari ini kita bertemu pula! Lebih dulu hendak aku belajar kenal lebih jauh dengan ilmu golok kau, tuan, kemudian baru aku akan mendengar nasehatmu! Bagaimana?" Ong Liong Kek telah dapat memperbaiki kedudukannya, menenangkan diri. Hanya sebentar, ia menjadi murka. Ia merasa sangat malu. Maka ia maju pula. Ia kata nyaring, "Ya! Hari ini, siapa yang menang, dialah yang kuat! Tak usah melayani dia ngoceh!" Lalu dia mendahului menyerang. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ceng Ceng Jie tidak niat dua melawan satu, tak sudi dia main ngepung, akan tetapi karena sudah terang Liong Kek bukan lawan dari Lam Pat, terpaksa dia maju juga. Dia ingat dialah orang undangannya Ong Pek Thong, yang diundang dengan hadiah luar biasa. Tadi pun ia sudah merasa tidak enak hati karena adanya Han Tam tak dapat dia membantui Ong Pek Thong. Sekarang mana dapat dia membiarkan puteranya Pek Thong mendapat celaka? Kepandaian Lam Ce In berimbang dengan kepandaiannya Toan Kui Ciang, seharusnya ia tidak dapat terkalahkan Ceng Ceng Jie, akan tetapi sekarang keadaannya lain. Sudah sekian lama ia bertempur, keuletannya menjadi berkurang, sekarang Ceng Ceng Jie dibantu Ong Liong Kek, yang termasuk tenaga baru, ia merasa sulit. Belum sampai dua puluh jurus, ia sudah jatuh di bawah angin. Thouw Pek Eng juga bertempur terus, dia paksa memukul mundur beberapa lawannya, habis itu dia memburu kepada Ce In, lantas berdua mereka bertempur bersama. Dengan begitu keadaan Lam Pat menjadi tak terlalu berbahaya. Hanya sayang, Pek Eng sendiri pun sudah letih, dia tidak bisa berbuat lebih daripada itu, pihaknya cuma sanggup membela diri. Tengah keadaan mengancam itu, mendadak ada orang berseru, "Nona Hee datang!" Liong Kek mendengar itu, lantas dia tercengang. Tak ayal lagi dia mencoba berpaling. Maka dia mendapat lihat Hee Leng Song mendatangi dengan wajahnya bengis. Nona itu bergusar dengan sepasang alisnya yang lentik bangun berdiri. Seorang tauwbak maju menyambut padanya, tauwbak itu disampok mundur. Ia maju terus dengan pedang terhunus. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Ce In heran. Ceng Ceng Jie cerdik sekali. Justeru lawannya itu menoleh, justeru dia menyerang hebat, bagaikan kilat pedangnya menikam Lam Pat. Justeru itu tibalah Leng Song. Dengan lantas dengan tipu silat "Peng See Lok Gan," atau "Burung belibis turun di pasir datar," dengan pedangnya - pedang Ceng Kong Kiam ia menyerang ke kaki dari saudara seperguruan Khong Khong Jie itu! Maka berbahayalah dua-dua Lam Ce In yang lengah itu dan Ceng Ceng Jie yang bernapsu merobohkan musuh. Mereka berdua sama-sama bergerak dengan sangat cepat. Ceng Ceng Jie berseru kaget, tubuhnya terus mencelat ke depan, dengan begitu dia menjadi tertolong dari pedang si nona. Dengan begitu, Ce In turut tertolong juga. Ceng Ceng Jie batal meneruskan menikam padanya. Ong Liong Kek bingung dan jengah.' "Nona Hee, apakah benar-benar kau hendak memusuhkan aku?" dia tanya, ragu-ragu. "Kau... kau... dengar aku bicara..." Leng Song memotong, "Segala perbuatan kamu ayah dan anak, sekarang aku ketahui jelas!" demikian si nona. "Apalagi yang kau hendak bilang?" -ooo0dw0oooJilid 11 "Bagaimana?" tanya Liong Kek, bingung. "Jadi di antara kita sudah tidak ada bicara lagi...?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Baik!" seru Nona Hee. "Sekarang aku hendak menanya satu kali lagi kepadamu! Benar atau tidak kamu telah bikin celaka pada Toan Tayhiap?" "Itu?" tanya Liong Kek, heran. "Tidak!" "Habis kenapa aku tidak dapat mencari dia?" "Itu... itu..." Susah Liong Kek bicara. Mo Lek lantas mendahuluinya. "Nona Hee, Toan Tayhiap masih hidup!" kata pemuda she Tiat itu. "Aku tahu tentang tayhiap itu! Mari kita keluar dulu dari kepungan ini, baru kita bicara!" "Baik!" menjawab Leng Song, yang percaya orang she Tiat itu. Lantas ia menoleh pada Liong Kek dan membentak, "Masih kau tidak mau menyingkir!" Kata-kata itu dibarengi dengan tabasan pedangnya. Liong Kek terkejut sekali. Tahu-tahu tangan bajunya sudah terbabat kutung. Dia terhuyung mundur sampai beberapa tindak, mukanya pucat pasi. Meski begitu, dia mengulapkan tangan seraya berseru, "Kasih dia pergi!" Leng Song tertawa dingin. "Kau boleh lihat!" bentaknya. Terus ia menikam. Tapi baru di tengah jalan, ia lantas menahan, untuk diubah dengan lain jurus. Tak perduli si nona liehay, Ceng Ceng Jie dapat melayani. Tiga kali dia diserang, lalu empat kali dia membalas. Selama itu, tak pernah pedang-pedang mereka beradu. Toh serangannya masing-masing berbahaya, semua mengarah anggauta-anggauta yang merupakan tempat-tempat kematian. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Selama itu sudah lantas terlihat kepandaian kedua lawan ini. Ceng Ceng Jie menang gesit sedikit. Si nona menang untuk pelbagai jurusnya yang luar biasa. Mau atau tidak, Ceng Ceng Jie menyedot hawa dingin, la sudah lantas berpikir, "Aku percaya, dengan bekerja sama suheng Khong Khong Jie, dapat aku malang melintang di kolong langit ini, siapa tahu dalam Rimba Persilatan ada begini banyak orang liehay! Tak usah disebut orang she Han itu, hanya ini nona di depanku! Untuk dapat merebut kemenangan, rasanya aku mesti menanti sampai seratus jurus dulu..." Itu waktu Han Tam sudah berhasil memukul mundur rombongannya Ong Pek Thong, bersama-sama Sin Thian Hiong ia telah lepas dari kurungan. Ceng Ceng Jie yang waspada dapat melihat suasana, ia tahu tak ada harapan lagi, maka ia lantas berkelit dari si nona, terus dia ajak Ong Liong Kek mengundurkan diri. Ketika itu Han Cie Hun berseru, "Ayah, itulah nona Hee!" Han Tam menjawab anaknya, ia kata pada Leng Song, "Terima kasih Nona Hee sudah membantu kami! Marilah kita bicara di luar!" Cie Hun dan Mo Lek masih dikurung Yan Ie serta persaudaraan Cio, melihat demikian, Leng Song lari kepada mereka itu sembari kata, "Adikku, malam itu aku keliru menyangka jelek padamu!" Ia lantas menyerang membikin mundur Cio It Liong dan Cio It Houw! Ong Yan Ie gusar, kata ia keras, "Kakakku berlaku baik kepada kau, kenapa kau pandang kami kakak beradik sebagai musuh?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia berkelit dari serangannya Mo Lek, lantas ia maju rrienyerang Nona Hee dengan sebelah tangannya yang kosong. "Lepas tanganmu!" berseru Leng Song. Berbareng dengan seruannya itu, pedang si nona menusuk lengannya Yan Ie. Pedangnya itu mendatangkan sorot berkilau. Ia juga berbareng menyerang dengan tangan kiri yang kosong. Ia melakukan ini setelah berkelit dari serangan nona she Ong itu. Yan Ie terkejut, ia kalah sebet. Tiba-tiba ia merasakan lengannya nyeri seperti tertusuk jarum. Ia menjerit dengan pedangnya terlepas dan terlempar. Mo Lek lantas membacok padanya. Syukur ia masih sempat berkelit, terus ia lari ke dalam rumpun pohon bunga. Ia melihat lengannya, di situ ada tiga titik merah, darah yang keluar dari lukadi kulit. "Sayang! Sayang!" kata Mo Lek berulang-ulang Ia tidak tahu Leng Song berbuat baik, kalau tidak, lengan Yan Ie mestinya sudah buntung. Melihat semua kejadian itu, Kie Tie tertawa dan kata, "Tie Lotoa, semua sahabatku mau pergi, tak enak kalau ketinggalan cuma kita berdua, dari itu maaf, aku pun tak dapat menemani kau lebih lama pula!" Habis berkata, ia memutar tubuhnya, tepat ia dapat menolak dua penjahat yang mau mengepung padanya, hingga mereka itu berdua mental ke depan Tie Swie. Menyaksikan demikian, Tie Swie lantas menyambar kedua orang itu yang terpelanting ke arahnya. Ia mencekal keras sampai mereka menjerit-jerit seperti dua ekor babi berkuwingkuwing! Bukan main mendongkolnya ia, lekas-lekas ia melepaskan cekalannya, niatnya menyusul lawannya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Akan tetapi waktu itu Ciu-kay si Pengemis Pengarakan sudah berkumpul bersama Han Tam semua, berlalu dari medan pertempuran itu. Ong Pek Thong menyesal bukan main. Ia pun malu. Diluar dugaannya, rahasia sekongkolannya dengan An Lok San telah dibeber di muka umum. Di antara para hadirin ada tetamutetamu yang. bukan konconya. Karena ini, dari para tetamu itu, tujuh atau delapan bagian sudah lantas bubar, sedang dari konconya sendiri ada separuh yang hatinya telah berubah. Orang tak setuju dia bekerja sama pihak pembesar negeri. Mendapat kenyataan musuh demikian tangguh, Pek Thong dan Ceng Ceng Jie juga tidak berani mengejar, mereka cuma bisa berseru-seru beraksi saja... -ooo0dw0oooRombongannya Sin Thian Hiong telah lekas meninggalkan Liong Bin Kok. Han Tam tertawa sendirinya setelah menyaksikan tak ada musuh yang mengejar. "Dengan pertempuran ini kita tidak memperoleh kemenangan tetapi dengan begini kita berhasil memberi pukulan kepada Ong Pek Thong! Mereka menjadi renggang satu dengan lain dan kaum Rimba Hijau pun tak bakal kena lagi didustai mereka!" Selagi begitu, Kie Swie menghampirkan Hee Leng Song, ia memandang si nona dengan teliti, ia mengeleng-gelengkan kepalanya.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lalu katanya sangat kagum, "Sungguh seorang nona yang elok! Sungguh mirip dengan Leng Liehiap di jamannya liehiap itu!" Kie Tie mengasih turun buli-bulinya, ia gelogoki itu ke mulutnya, untuk menenggak air kata-katanya, habis itu ia kata, "Akulah yang dipanggil Ciu-kay Kie Tie! Nona Hee tentunya pernah mendengar ibumu menyebut-nyebut aku...!" "Belum pernah..." sahut si nona. Pengemis itu ketemu barunya, hingga ia melengak. Lantas ia tertawa. Mulutnya sudah berkelemik, hendak mengatakan sesuatu tetapi batal. Sebagai gantinya, untuk menutupi malu, ia tertawa. Lam Ce In hendak mencegah kejengahan, ia lantas berkata, "Nona Hee, kau telah membantu banyak kepada kami, untuk itu aku menghaturkan diperbanyak terima kasih!" "Kau aneh!" kata si nona. "Kenapa kau repot dengan ucapan terima kasihmu? Kau telah mengantar melindungi Paman Toanku, untuk itu aku belum menghaturkan terima kasih padamu!" Inilah jawaban yang tidak disangka-sangka Ce In. Ia seperti ketemu pakunya. Ia jengah. Itulah rasa pahit-pahit manis! Benar Leng Song telah menegur padanya tetapi teguran itu menyatakan tegas si nona telah memandangnya sebagai orang sendiri... "Mo Lek," kemudian Nona Hee tanya si anak muda, "Kau' bilang Paman Toan mau pergi ke kelenting Ceng Hie Koan di gunung Giok Sie San, kota Liang-ciu, sebenarnya untuk apakah itu?" Mo Lek telah menerangkan apa yang terjadi di gunung Hui Houw San, maka ia menambahkan, "Mereka diundang oleh Khong Khong Jie yang hendak membayar pulang anak mereka." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Oh, kiranya begitu!" kata si nona. "Kalau begitu, dibandingkan dengan adik seperguruannya, Khong Khong Jie masih boleh dibilang bukannya seorang busuk!" Han Tam campur bicara, ia kata, "Selama beberapa tahun ini aku belum pernah ketemu dengan Khong Khong Jie akan tetapi aku menaruh perhatian terhadap sepak terjangnya, aku mendapat kenyataan dia cuma rada berandalan, yaitu dia suka menemui lawan yang setimpal dan karena namanya menjadi terkenal, dia juga tak luput dari kejumawaan, akan tetapi dia belum pernah melakukan kejahatan. Kali ini perbuatannya itu disebabkan dia kena dipedayakan Ong Pek Thong ayah dan anak." Mendengar disebutnya nama Ong Pek Thong dan anak itu, Leng Song berduka, dia lantas runduk dan tak berkata suatu apa lagi. "Nona Hee," Ce In bertanya, "Sukakah nona mengasih keterangan bagaimana caranya maka dahulu hari nona dapat berkenalan dengan ayah dan anak itu?" "Tentang itu tidak ada yang aneh!" sahut si nona. "Kita bertemu di tengah jalan! Adalah umum orang Kang Ouw biasa merantau dan umum juga kita bertemu dengan orang-orang yang tidak dikenal. Tentu sekali aku tidak tahu bahwa merekalah berandal-berandal Rimba Hijau!" Kembali Ce In "menemui pakunya". Kembali ia merasa pahitpahit manis. Sebagai orang yang berpengalaman, dapat ia menerka bahwa tadinya Leng Song berkesan baik terhadap Ong Liong Kek, bahwa mungkin ada terselip urusan asmara. Hanya sekarang sirnalah sang asap dan buyarlah sang mega... "Nona Hee," berkata Han Tam, "Rumahku terpisah dari sini cuma tiga puluh lie, bagaimana jikalau aku minta nona suka mampir padaku untuk beristirahat?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Terima kasih, Han Lo-cianpwe," menyahut si nona. "Aku telah mempunyai janji dengan Toan Tayhiap untuk menjenguknya di gunung Hui Houw San, lantaran ada suatu urusan, aku telah terlambat beberapa hari. diluar dugaan, Toan Tayhiap telah mendapatkan peristiwanya itu, sekarang setelah aku ketahui di mana beradanya ia, hendak aku lekas menyusulnya ke Giok Sie San!" Habis berkata, Nona Hee bersiul nyaring dan panjang. Atas itu segera terlihat seekor kuda putih lari keluar dari dalam hutan, untuk menghampirkan si nona. Kuda itu dapat lari keras. Tiat Mo Lek kagum, dia kata, "Kuda ini dilihatnya tidak menarik perhatian, siapa tahu dia nyata jauh terlebih baik daripada kuda merah miliknya ayahku dahulu hari!" Leng Song sudah lantas lompat naik atas kudanya, dengan merangkap kedua tangannya kepada orang banyak ia meminta diri, guna segera berangkat menyusul Toan Kui Ciang. "Nona Hee," kata Ce In tiba-tiba, "Aku hendak bicara lagi sedikit..." "Apakah itu?" tanya si nona singkat. "Mengenai urusan dengan Hong-hu Siong itu," kata Lam Pat. "Sepulangnya aku, akan aku minta keterangan pada guruku, mungkin aku akan memperoleh penjelasan, mungkin nanti aku dapat membantu kau mencari padanya, dari itu tolong nona meninggalkan alamatmu." "Arah kepergianku sukar ditentukan," sahut si nona. "Aku pikir lebih mudah untuk aku yang mencari kau. Maka itu baiklah setelah aku bertemu dengan Paman Toan, akan aku turut paman pergi ke Thay-goan guna mencari kau di sana!" Ce In setuju, bahkan ia gembira sekali. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Baik!" sahutnya. "Baik, aku nanti menunggui kau di gedungnya Kwe Thaysiu di kota Kiu-goan." Nona Hee sudah lantas mengeprak kudanya lari, hingga Ce In mesti mengawasi kepergiannya itu. "Paman Lam!" Mo Lek menegur, "Orang telah pergi jauh! Kelihatannya paman masih hendak membicarakan sesuatu dengannya, kenapa paman tidak mau lekas-lekas memanggilnya? Sekarang sudah tak keburu lagi, maka mari kita pun berangkat.” Mukanya Ce In menjadi merah. "Setan cilik, mulut jahil!" tegurnya secara bergurau. "Urusan dengan Hong-hu Siong?" kata Kie Tie tiba-tiba. ”Bukankah nona itu hendak menuntut balas terhadap Hong-hu Siong?" "Benar," sahut Mo Lek. "Hanya urusan itu masih menjadi persoalan. Hong-hu Siong bilang bukannya dia yang membunuh tetetapi Toan Siokhu menyebut dia..." "Tunggu dulu, tunggu dulu!" kata Kie Tie pula. "Dia hendak menuntut balas untuk siapa? Apakah buat ibunya?" Ce In heran hingga ia mengawasi jago tua itu. "Mungkinkah lo-cianpwe ketahui perkara itu?" ia tanya. "Nona itu tidak membilang dia mau melakukan pembalasan untuk ibunya, dia hanya bilang dia menerima perintah ibunya untuk menyingkirkan satu orang yang berbahaya untuk dunia Kang Ouw. Menurut Toan Tayhiap, di malam pernikahan mereka, kemanten laki-laki yang terbinasa di tangan Hong-hu Siong ialah Hee Seng To yang menjadi ayahnya si nona. Hanya tak jelas hubungan perkara itu dengan keluarga si nona lantaran si nona sendiri tak tahu duduknya hal. Mendengar http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

keterangan beberapa pihak, cuma-cuma aku menjadi tambah pusing dibuatnya. Lo-cianpwe suka memberi penjelasan kepada kami semua?" Kie Tie melirik orang she Lam itu, lantas dia tertawa. "Ehem, kau nampaknya sangat memperhatikan si nona!" katanya. Lalu dia menggeleng kepala. Tapi hanya sebentar, ia tertawa pula. Lantas dia berkata lagi, menyambungi, "Sekarang belum tiba saatnya untuk bicara! Meski demikian, dapat aku menolongi kau melakukan sesuatu..." Ce In heran hingga kembali ia berdiam saja. "Ada urusan apakah dari aku maka dia mau mewakilkan mengurusnya?" ia tanya hati kecilnya. Kie Tie cuma berhenti sebentar, segera dia berkata pula, "Apa yang kau pikir dalam hatimu, yang kau belum ucapkan, aku telah mengetahuinya! Kau jangan kuatir akan aku menjadi comblangmu! Umpama kata dia tidak menggubris aku si pengemis bau, akan aku cari si Toan kecil untuk ia membantu aku berbicara dengannya!" Muka Lam Ce In menjadi merah karena likat. "Lo-cianpwe bergurau!" katanya. "Siapa bilang aku bergurau?" kata jago tua itu, romannya sungguh-sungguh. "Sekarang juga aku akan pergi! Baiklah aku omong terus terang pada kau! Dengan datang ke lembang Liong Bin Kok, aku sengaja hendak menantikan Nona Hee itu, cuma ia nampaknya sebal terhadap aku si pengemis bangkotan! Baiklah, sekarang aku mau pergi mencarikan dia seorang suami yang cocok dengan rasa hatinya, aku percaya kemudian dia bakal menjadi suka terhadapku!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Benar-benar jago tua ini lantas berlari pergi. "Kie Lojie!" Han Tam berseru. "Kalau kau tiba di Giok Sie San dan bertemu dengan Khong Khong Jie, kau beritahukan dia halnya Ong Pek Thong sudah berkongkol dengan An Lok San, andaikata dia tidak percaya pembilanganmu, bilangi dia bahwa itulah kata-kataku!" "Aku mengerti!" berkata Kie Tie, yang masih sempat menjawab. "Hayo, tak dapat aku berayal lagi, nanti tak keburu aku menyusul dia!" Seperginya pengemis itu, Han Tam berkata kepada kawankawannya, "Diantara tiga pengemis aneh dalam dunia Sungai Telaga, Hong-kay We Wat si edan membenci kejahatan seperti dia membenci musuhnya, kalau dia turun tangan, dia agak telengas. See-gak Sin Liong Hong-hu Siong adalah yang sepak terjangnya rada aneh, dia separuh lurus dan separuh sesat, sulit untuk memastikannya. Tentang ini pengemis tukang tenggak susu macan, Ciu-kay Kie Tie, walaupun dia berandalan, dia paling rajin dan bersungguh-sungguh, gemar sekali dia membantu atau menolong orang. Di antara orang-orang tiga agama dan enam golongan, dia mempunyai sahabatsahabatnya. Dia cuma mempunyai suatu cacad, ialah hatinya terlalu lemah, kalau dia bukan bertemu dengan orang sangat jahat, tak mudah dia menjadi gusar, maka juga di antara sahabat-sahabatnya, selain orang baik-baik ada juga orang buruk." "Barusan dia tidak sudi bicara, mungkinkah itu disebabkan dia hendak menutupi keburukannya Hong-hu Siong?" Ce In tanya. "Aku kira itulah tak mungkin," menjawab Han Tam. "Umpama kata benar Hong-hu Siong melakukan perbuatan semacam itu, tidak nanti We Wat berdiam saja. We Wat http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menjadi sahabatnya dua orang she Leng dan Hee itu, pastilah dia sudah bekerja sama menyingkirkan Hong-hu Siong dari ini dunia! Memang, perkara darah itu pernah menyebabkan kegemparan Rimba Persilatan dan pernah beberapa orang gagah membantui Keluarga Hee mencari tahu si pembunuh! Aku tidak nyana sampai sekarang, sudah berselang dua puluh tahun, perkara itu masih tetap gelap!" "Ayah," berkata Han Cie Hun, "Setelah peristiwa di Liong Bin Kok ini, aku rasa kita tak dapat tinggal dengan aman lagi di tempat kita ini, maka itu aku pikir baiklah kita pergi ke Giok Sie San..." Han Tam tertawa. "Aku tahu kau memang ingin pergi ke sana untuk turut dalam keramaian!" katanya. "Benar, ayah!" sahut si nona. ."tapi kepergian kita akan ada baiknya. Umpama kata terjadi bentrokan pula di antara Khong Khong Jie dan Toan Tayhiap, ayah dapat datang sama tengah untuk berusaha mendamaikannya." "Jikalau kau menduga demikian, kau pasti akan kecele!" kata ayah itu. "Khong Khong Jie telah memberikan janjinya akan membayar pulang anak orang, mana bisa terjadi mereka kedua belah pihak berkelahi pula? "Apakah ayah tidak kuatir suteenya, Ceng Ceng Jie, nanti main gila, mengacau diantaranya?" tanya pula si anak dara. "Aku pernah pikir kemungkinan itu," Han Tam menjawab, "Akan tetapi Kie Tie sudah berangkat ke sana, seandainya Ceng Ceng Jie mau main gila, Kie Tie bakal tiba terlebih dahulu, dia akan menyampaikan pesanku, maka itu, meskipun benar Khong Khong Jie tidak mempercayai Kie Tie sendiri, dia mesti percaya aku." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia hening sejenak, terus ia menambahkan, "Apa yang aku buat kuatir ialah mereka itu bakal tak melepaskan pada Lam Tayhiap serta Tiat Siauw-cecu. Maka itu aku pikir baiklah kita berangkat terus malam ini, untuk mengantarkan mereka ke Hoay-yang, kemudian bersama Lam Tayhiap kita pergi ke Kiugoan untuk menemui Kwe Leng-kong, guna membeber sekongkolan di antara Ong Pek Thong dengan An Lok san, supaya Kwe Leng-kong dapat mengatur persiagaan. Aku mau menduga, Khong Khong Jie dan Lam Tayhiap mungkin dari musuh akan berbalik menjadi sahabat-sahabat satu dengan lain, hingga kemudian dia akan suka pergi ke Kiu-goan." Ce In dan Mo Lek girang sekali mendengar perkataannya jago tua she Han itu. Lebih girang pula Tiat Mo Lek meski kegirangannya itu disimpan di dalam hatinya. Ia ternyata sangat suka bergaul dengan Han Cie Hun, yang usianya sepantaran. Sejak berkenalan, mereka merasa sangat cocok satu dengan lain, hingga tak suka ia berpisahan... -o0dw0oHee Leng Song tengah mengaburkan kuda putihnya ketika dengan tiba-tiba ia mendengar suara memanggil di sebelah belakangnya, "Nona Hee, tunggu sebentar! Aku si pengemis tua hendak ada bicara denganmu!" Ia lantas menoleh dan melihat si pengemis tukang mabuk. Dengan di punggungnya tergendol buli-bulinya yang besar, pengemis itu bernapas mengorong, meski demikian, dengan lekas dia sudah menyandak. Ia menjadi heran, ia mengawasi terus. "Kudaku lari keras sekali, kenapa pengemis tua ini dapat menyusul aku?" ia kata di dalam hati. "Dengan begini bukankah ternyata dalam ilmu ringan tubuh dia melebihkan Khong Khong Jie?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Nona itu berpikir demikian tanpa ia ketahui, meski benar barusan dia telah mengambil jalan memotong, sebab dia kenal baik keadaan tempat yang dilalui ini. Leng Song tidak puas. Ia sebal untuk orang punya bau arak. "Ada urusan apa Kie Lo-cianpwe?" ia tanya terpaksa. "Kabarnya nona mau pergi membunuh See-gak Sin Liong Hong-hu Siong, benarkan itu?" Kie Tie tanya langsung. "Benar!" jawab Leng Song, terus terang. "Dia telah melakukan banyak kejahatan, maka aku menerima perintah ibuku untuk menolong dunia Kang Ouw menyingkirkan ancaman malapetaka!" "Hong-hu Siong tidak dapat dibinasakan!" kata Kie Tie. Kembali Leng Song heran. "Kenapa tak dapat?" ia tanya. "Tuduhan ibumu bahwa dia telah melakukan perbuatanperbuatan busuk itu, tak ada satu jua yang benar-benar dilakukan tangannya sendiri!" Nona Hee menjadi gusar, hingga ia melupakan ia lagi berhadapan dengan seorang lo-cianpwe, yang martabatnya jauh terlebih tinggi. "Ngaco!" ia membentak. "Menurut kau, mustahilkan ibuku mendusta?" "Ibumu juga bukannya mendusta," kata Kie Tie. Ia tidak menjadi tidak senang. "Didalam urusan kamu ini telah terbit salah faham! Musuhnya ibumu bukannya dia!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Memang juga ibuku sendiri tak langsung bermusuh dengannya!" kata Leng Song. "Sebenarnya dia telah mencelakai bukan sedikit orang, maka juga ibu berniat mesti membunuhnya! Aku lihat, yang salah mengerti ialah kau!" "Keliru! Keliru! Keliru...!" kata Kie Tie berulang-ulang. Leng Song heran, ia mengawasi. Ia melihat sikap orang luar biasa sekali. "Kenapa keliru?" ia menegaskan. Si pengemis tukang tenggak susu macan menghela napas. "Ah...!" katanya. "Soal ini tak dapat aku bicara jelas denganmu. Sekarang ini di mana adanya ibumu? Hendak aku bicara sendiri dengannya!" "Ibuku tak menemui orang luar!" jawab si nona tawar. "Kalau kau mau bicara, bicara saja dengan aku!" Kie Tie mengerutkan kening. Ia bersangsi. "Jikalau kau tidak suka bicara padaku, ya sudah!" kata Leng Song. "Nah, aku hendak lekas-lekas melanjuti perjalananku!" Nona ini menarik tali les kudanya atas mana si kuda putih menggeraki keempat kakinya. "Baiklah!" Kie Tie berkata, nyaring. "Baik, akan aku bicara denganmu!" Leng Song menahan pula kudanya. Dengan sikap ogahogahan atau tak sabaran, ia berpaling. "Kau bicaralah!" katanya. "Dapat aku mendengar, tak usah kau bicara keras-keras!" Kie Tie mengawasi, dia kata, "Hong-hu Siong tidak ada sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah itu, orang yang http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berlaku tak selayaknya terhadap ibumu itu ialah seorang lainnya. Dia..." "Bagaimana?" Leng Song menyelak, tak sabaran. "Dia itu, walaupun dia berhati tak lurus, dia tak dapat dibunuh olehmu!" Nona Hee tertawa tawar. "Benar-benar aku tidak mengerti apa maksud kata-katamu itu!" katanya. "Bagus benar! Hong-hu Siong itu orang baik, dia tak dibunuh! Lalu itu orang lainnya, dia orang jahat, tetapi dia tak dibunuh juga! Bagaimana aneh perkataan kau ini? Sudahlah, tak usah kau bicara lebih jauh! Aku tahu kau dengan Hong-hu Siong satu komplotan!" Kie Tie sabar sekali. "Tak dapatkan kau mendengari lagi satu perkataanku?" dia tanya. Mendadak jago tua ini mencelat ke depan hingga tahu-tahu dia sudah menyambar buntut kuda si nona. Sambil menarik binatang tunggangan itu dia menanya, "Tahukah kau, nona, kau she apa? Kau bukannya she Hee dan ayahmu juga bukannya Hee Seng To!" Leng Song gusar sekali, hingga ia sudah lantas menghunus pedangnya. "Angin busuk!" ia membentak sengit. "Jikalau kau mau main gila, pergilah ke lain tempat, tak dapat aku mendengar suaramu yang bau busuk!" Perkataan itu ditutup dengan serangan pedang yang cepat sekali. Kie Tie tidak mau melayani, ia melepaskan cekalannya sambil ia berlompat mundur. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru orang menyingkir, si nona mengeprak kudanya untuk dikasih kabur. Selang tak lama, ia sudah lari jauhnya belasan lie karena kudanya itu lari sangat pesat. Ia mendongkol dan gusar, tetapi ia pun heran hingga timbul keragu-raguannya. "Dia mabuk arak tetapi dia tak mabuk hingga lupa daratan," ia berpikir. "Mustahilkan jauh-jauh dia menyusul aku cuma untuk mengasih dengar ocehan belaka? Mungkinkah dia bermaksud benar-benar? Ah, tak mungkin... Setiap orang mengatakan romanku mirip dengan ibuku, maka itu kenapa aku bukannya anak ibuku itu? Ibu mempunyai cuma seorang suami, kenapa ayahku bukannya Hee Seng To? Hm! Tak perduli si pengemis bau cuma ngaco belo, dia tetap sudah menghina ibuku!" Meski demikian, walaupun ia menyangsikan Kie Tie, Nona Hee tetap bersangsi. Maka lekas-lekas ia mengambil keputusan, "Toan Tayhiap menjadi sahabat kekal ibuku, baik aku tunggu sampai aku bertemu dengannya, nanti aku sampaikan padanya kata-kata si pengemis edan ini, hendak aku lihat apa kata tayhiap..." Karena itu, Leng Song mesti menyusul Toan Kui Ciang dan Touw Sian Nio, suami isteri itu yang pikirannya sedang terganggu soal keselamatan anak mereka. Mereka melakukan perjalanan terus menerus, tak siang tak malam. Maka pada suatu hari tibalah mereka di kaki gunung Giok Sie San. Dengan Lantas Sian Nio diganggu oleh kesangsiannya. Khong Khong Jie menjadi musuh besar keluarganya - Keluarga Touw - sekarang dia hendak pergi kepada musuh itu untuk minta pulang anaknya! Ia merasa malu dan likat, sedang juga, hatinya diliputi kedukaan dan kemarahan besar.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang dapat mengerti pikiran sang isteri, di tengah jalan ia sudah mengasih penjelasan dan hiburan, belum dapat ia membikin lega hati isterinya itu. Demikian mereka membuat perjalanan, sampai mereka tiba di gunung Giok Sie San. Gunung itu tinggi dan penuh salju, yang tak putusnya, hingga dipandang dari jauh, puncaknya yang putih mirip sebuah tiang kemala yang menjulang menembusi mega. Pula jalanan mendaki gunung sukar sekali, banyak batunya yang besar dan luar biasa bentuknya. Dari mulut gunung terlihat sebuah selat dan lembah yang panjang, tak nampak ujungnya. Penglihatan selat itu menyeramkan. "Engko," kata Sian Nio, yang timbul kecurigaannya. "Kalau Khong Khong Jie mengandung maksud buruk, dan dengan jalan ini dia menjebak kita ke dalam perangkapnya, pasti kita bisa celaka tanpa ada yang ketahui...!" "Kau terlalu bercuriga, adikku," kata Kui Ciang, menghibur. "Khong Khong Jie terlebih liehay daripada kita, jikalau benar dia berniat membikin kita mati, buat apa dia memilih jalan ini?" "Tapi," kata si isteri, yang kecurigaannya tak mudah lenyap, "Tapi ingat gunung Giok Sie San ini terpisah jauh delapan ratus lie dari gunung Hui Houw San, kenapa dia bukan ambil tempat yang dekat hanya memilih tempat jauh ini guna menyembunyikan anak kita?" Pertanyaan ini benar dan Kui Ciang juga tak mengerti, akan tetapi guna membujuki isterinya, ia menjawab, "Mungkin dia mau pertontonkan ilmu ringan tubuhnya, supaya dia dapat menaklukkan kita..." Khong Khong Jie itu, habis menculik anaknya Kui Ciang, lantas di hari keduanya, lewat tengah hari, berangkat ke Hui http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Houw San dimana cfia mengajukan tantangannya. Maka itu, kalau benar dia telah pergi ke Giok Sie San, hingga dia mesti melakukan perjalanan pergi pulang demikian cepat, sungguh ilmu ringan tubuhnya luar biasa sekali. Touw Sian Nio menggeleng kepala. "Aku tidak percaya dia di dalam tempo satu malam dan satu hari dapat melakukan perjalanan seribu lie lebih!" katanya. "Aku lebih percaya kalau dia cuma memancing kita datang ke mari!" "Kalau tidak demikian, mungkin gunung inilah rumahnya," Kui Ciang membujuk pula. "Boleh jadi sekali dia tidak percaya Ong Pek Thong maka dia kirim orangnya membawa anak kita pulang ke rumahnya ini, untuk disembunyikan di sini." "Begitulah kau percaya Khong Khong Jie?" sang isteri tanya. "Kita sudah sampai di sini, kita percaya atau tidak kesudahannya sama saja!" kata sang suami. "Apa daya sekarang? Aku percaya kita dapat naik ke atas puncak dalam tempo setengah harian. Mari kita naik terus, sampai di atas baru kita lihat, nanti kita mandapat tahu segala apa!" "Sebenarnya aku tidak tahu Giok Sie San begini jauh," kata Sian Nio ragu-ragu, "Maka juga selama di sepanjang jalan, makin lama kecurigaanku makin besar. Aku lihat, pastilah perjalanan kita ini perjalanan sia-sia belaka. Taruh kata benar Khong Khong Jie tidak berniat mencelakai kita, sedikitnya dia pasti sengaja hendak mempermainkannya!" "Adik Sian," kata sang suami, sabar, "Aku minta janganlah kau pandang segala urusan dari sudut buruknya..." Belum berhenti kata-kata Kui Ciang atau mereka segera mendengar suara yang menggelegar keras, hingga mereka terkejut dan lantas mengangkat kepala, melihat ke atas. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Untuk kagetnya mereka, mereka mendapatkan sebuah batu besar lagi menggelinding turun ke arah mereka. Dengan lantas mereka lompat berkelit. Mulanya tayhiap itu sangka itu hanya batu yang menggelinding secara kebetulan saja, tak tahunya, habis itu, lantas terdengar suara lainnya, lantas mereka melihat jatuhnya beberapa batu lain saling susul! "Ada orang di atas!" Sian Nio berseru. Benarlah Nyonya Toan ini. Ketika beberapa buah batu itu jatuh terus tanpa meminta korban, di atas gunung terlihat munculnya beberapa orang. "Telur tolol!" berteriak seorang diantaranya. "Siapa suruh kamu datang sendiri masuk dalam jaring perangkap? Kamu sudah memasuki tempat kematian, apakah kamu masih memikir buart hidup lebih lama pula?" Toan Kui Ciang jadi sangat gusar, maka ia lantas berteriak, "Khong Khong Jie! Aku menganggap kaulah seorang laki-laki sejati, tak tahunya kau begini hina dina! Marilah kau perlihatkan dirimu!" Dari atas itu terdengar ejekan, "Untuk membereskan kamu dua butir telur apa kami membutuhkan bantuan Khong Khong Jie?" Kata-kata itu diiring dengan tertawa dingin. Kui Ciang menduga orang ialah orang suruhannya Khong Khong Jie, maka dalam murkanya ia tertawa dingin dan kata, "Sungguh tidak tahu malu yang kamu menggunai ini cara sangat rendah! Apa perlunya kau menyembunyikan diri?" Sian Nio sangat mendongkol.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Buat apa melayani segala manusia hina itu?" kata dia. "Mari kita menghajarnya!" Lantas sang nyonya ini menggunai biang panahnya, untuk menyerang dengan pelurunya! Rombongan itu berada di atas gunung yang tinggi, maka itu, peluru panahnya Sian Nio mesti menyerang jauh sekali. Sebaliknya mereka itu dari tempat terlebih tinggi, leluasa menyerang dengan butir-butir batunya, yang turunnya gencar. Sian Nio gusar sekali, ia berlompat. Akan tetapi ia segera ditarik Kui Ciang, suaminya. Ketika itu sebuah batu besar jatuh secara hebat, hampir mengenai nyonya itu. Ketika jatuh di kobakan dengan suara sangat berisik, lumpur pun muncrat berhamburan, hingga suami isteri itu tak luput. "Sungguh berbahaya!" kata Sian Nio, yang mengeluarkan keringat dingin. "Aku yang menyebabkan kesulitan kau ini..." kata Kui Ciang, menyesal. "Inilah lantaran aku terlalu percaya orang!" Sian Nio menggertak gigi. "Sudah kepalang, mari kita maju terus!" kata isteri yang setia itu. "Tak perduli kita menghadapi bahaya!" Kui Ciang mengiringi isterinya itu, maka dengan tak menghiraukan serangan batu, mereka maju bersama. Di tanjakan gunung, tumpukan salju terkena getaran, selagi angin keras sekali, getaran membuatnya pecah melekah, lalu jatuh runtuh, meluruk merupakan kepingan-kepingan es yang besar. Hebatnya itu tak kalah dengan jatuhnya butiran-butiran batu. Kui Ciang mendapat beberapa luka lecet karena ia selalu melindungi isterinya. Syukur itu tidak membahayakan. Terpaksa http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ia ajak isterinya itu bersembunyi di tempat yang gerohong. Ini berbahaya. Musuh melihatnya dan mengincar dengan timpukan batu ke arah mereka. Beberapa buah batu hampir mengenai. Mereka menjadi letih, karena beberapa batu, yang menimpa ke arah mereka, mesti disampok mental. "Syukur belum gempa salju..." kata Kui Ciang, "Hanya..." Ia berhenti sebentar, ia mendongkol sekali. "Sungguh menyebalkan! Apakah benar kita mesti membuang jiwa di sini?" Memang, kalau sampai gempa salju, pasti akan jatuh meluruk ke bawah, salju tentu akan mengurung segala gerohong atau tempat rendah. Dengan begitu, mana dapat mereka melawan salju? Touw Sian Nio tertawa meringis, katanya, "Kita sudah menjadi suami isteri sepuluh tahun, kalau aku dapat mati bersama-sama berbareng di dalam satu hari, satu bulan dan satu tahun, akan aku mati tanpa penasaran...!" Selagi berlindung itu, Kui Ciang mendapatkan serangan batu mulai tak gencar lagi. "Kelihatannya kita belum boleh putus asa," kata ia. "Mari kita keluar, untuk melihat. Tak dapat kita manda binasa tanpa berdaya..." Baru saja suami isteri ini keluar dari tempatnya berlindung, telinga mereka lantas mendapat dengar suara hirup pikuk di atas gunung, Mereka lantas dongak, hingga mereka melihat orang seorang perempuan tengah menyerang kalang kabutan pada musuh. Segera mereka memburu najk. "Nona Hee di sana?" Kui Ciang berteriak menanya. "Toan Peehu di sana?" ada jawaban wanita di atas itu. "Lekas naik, marilah kita menyerang musuh!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang menjadi bersemangat. "Mari!" ia mengajak isterinya. Hee Leng Song melihat suami isteri itu bagaikan terkurung, ia lantas mendaki dari lain arah, ia tiba di atas tanpa rintangan, maka itu dapat ia lantas menyerang musuh, hingga mereka itu tak dapat terus menghujani Kui Ciang berdua dengan batu. Itulah yang membikin hujan batu berkurang. Sian Nio mendaki cepat, begitu berada di atas, dengan pelurunya ia menyerang seorang musuh di depan Leng Song. Tak ampun lagi, musuh itu terhajar jitu dan roboh. Membarengi itu. Nona Hee menikam terguling satu musuh lainnya. Dengan naiknya Nyonya Toan, musuh menjadi terkepung dari dua jurusan. Kui Ciang pun sudah lantas menyusul isterinya. Seorang kepala bandit lantas berteriak-teriak dengan katakata rahasianya, mengisyaratkan ada bahaya. Sian Nio menyerang terus, hingga lagi beberapa penjahat pecah kepalanya. Menampak demikian, Kui Ciang teriaki isterinya, "Hajar saja jalan darah tiauw-hoan! Kita membutuhkan mulut yang hidup!" Dengan tiga butir pelurunya, Sian Nio mengincar tiga kepala penjahat. Dengan beruntun semua pelurunya itu meluncur ke arah sasarannya masing-masing. Seorang penjahat melihat bahaya, ia bisa menolong dirinya dengan jalan menangkis, tetapi dua kawannya, yang di kiri dan kanannya, menjadi kurban. Yang satu terhajar lengannya, yang lain kakinya, tepat jalan darah tian-hoan di pahanya menjadi sasaran, tanpa ampun dia roboh seketika. Si kepala penjahat cerdik, ia lantas menendang kawannya yang terluka itu hingga terguling ke bawah, ia sendiri menyusul http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dengan menjatuhkan diri, buat bergelindingan turun. Ia menjadi nekad hingga ia tak menghiraukan bahaya lagi. Contoh kepala penjahat itu contoh bagus, ia lantas ditelad oleh kawanan berandal, semua lantas lari ke pinggiran, untuk pada menjatuhkan diri, hingga Leng Song tak dapat mengejar pada mereka itu. Baru saja musuh kabur, atau Kui Ciang berteriak, "Celaka! Salju gempal!" Inilah sebab ia merasa kakinya bergerak tidak keruannya, yang mana disusul dengan suatu bunyi dahsyat. Tapi sambil berteriak itu, ia lompat ke atas, untuk lari naik. Sian Nio sudah lantas berlari naik juga. Dafi atas salju meluruk ke bawah. Itulah hebat yang kawanan penjahat, yang tak keburu menyingkir lebih jauh. Maka mereka itu, satu demi satu, kena teruruk, hingga terdengar saja jeritan menyayati hati dari mereka. "Sayang, sayang..." kata Kui Ciang, yang hatinya pun terharu, sebab tak tega ia mendengar jeritan itu, walau pun itulah jeritan musuh. "Sayang apa?" tanya Sian Nio heran. "Sayang tak ada musuh yang kena ditangkap hidup supaya kita bisa mengorek keterangan dari mulutnya," sahut sang suami. "Tak usah ditanya lagi, mereka pasti kambratnya Khong Khong Jie!" kata sang isteri. "Engko, apakah sampai di saat ini kau tetap mempercayai dia?" Kui Ciang berdiam. Ia terus ragu-ragu. Katanya di dalam hati, "Mereka ini termasuk golongan kelas dua atau kelas tiga. Mustahil Khong Khong Jie malu turun tangan sendiri, untuk mencelakai aku, mestinya ia pakai tenaga orang yang liehay! http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kenapa ia pakai sebangsa mereka ini yang tidak punya guna?.Hanya, kalau mereka bukan suruhan Khong Khong Jie, kenapa mereka ketahui aku beramai mau mendaki gunung Giok Sie San?" Ketika itu Leng Song datang menghampirkan. Nona itu menyelamatkan diri dengan menyingkir di lain tempat. Sian Nio telah mendengar dari suaminya hal Nona Hee, ia tahu orang menjadi puterinya Pek-ma Lie-hiap Leng Soat Bwe, maka ia menjadi kagum, dalam hatinya ia memuji, "Sungguh seorang nona cantik! Toako kata dia mirip ibunya, tak heran dulu hari ibunya membikin dunia Kang Ouw menjadi tergilagila!" "Eh, Leng Song!" Kui Ciang menegur. "Bagaimana kebetulan, kau pun datang ke sini? Sungguh berbahaya! Syukur ada kau!" "Toan Peehu, kau telah terpedayakan Khong Khong Jie!" kata Nona Hee. "Khong Khong Jie bersama ayah dan anak Keluarga Ong itu sudah berkongkol, mereka sudah bersepakat untuk membantu An Lok San yang lagi siap sedia untuk berontak. Kui Ciang terkejut. "Benarkan itu?" dia tanya. "Tak salah lagi, peehu!" sahut si nona. "Aku telah mendengar dan melihatnya sendiri! Bahkan mereka itu sudah mulai melaksanakannya!" Leng Song lantas memberikan penuturan perihal peristiwa di lembah Liong Bin Kok, bagaimana mulanya ia mendengar pembicaraan orang lalu besoknya ia turut di dalam pertempuran di dalam lembah itu.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Aku kuatir mereka di sini nanti mencelakai kau, peehu, maka aku lekas-lekas menyusul kemari," si nona menambahkan. "Nah, apa kataku?" kata Sian Nio pada suaminya. "Kau tetap masih percaya Khong Khong Jie?" Kui Ciang berdiam. Nyatanya di dalam urusan ini terselip suatu kekeliruan. Ketika malam itu Leng Song mendapat dengar pembicaraan di Liong Bin Kok, yang dengan Ong Pek Thong ayah dan anak bukan Khong Khong Jie hanya Ceng Ceng Jie. Di situ hadir Thio Tiong Cie dan lainnya. Benar An Lok San minta bantuan mereka. Waktu itu si nona tidak mendengar perkataannya Ong Pek Thong bahwa untuk sementara Pek Thong mau sembunyikan urusan dari Khong Khong Jie. Si nona mau percaya saja Ceng Ceng Jie dan Khong Khong Jie, yang menjadi suheng dan sutee, kakak beradik seperguruan, sama kelakuannya. Pula habis bertempur di Liong Bin Kok itu ia sudah tergesagesa berangkat menyusul Toan Kui Ciang, ia menjadi tidak berkesempatan mendengar omongan Han Tam untuk disampaikan pada Khong Khong Jie itu. Leng Song kuatir Kui Ciang nanti mendapat susah di Giok Sie San ini disebabkan ia bercuriga terhadap sikapnya Ong Liong Kek. Ialah Ong Liong Kek sudah tidak mau memberitahukan ia kemana arah tujuan kepergiannya Kui Ciang, bahkan Liong Kek sengaja mendustakan ia bahwa mungkin Kui Ciang berangkat ke Tiang-an, hingga ia mesti melakukan perjalanan jauh secara sia-sia. Kuda putihnya sudah kabur tiga ratus lie lebih tetapi di jalan ke Tiang-an itu ia tak lihat paman she Toan itu, karena mana, http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ia lekas kembali ke Liong Bin Kok, sampai besokannya di waktu pertempuran, ia mendengar dari Tiat Mo Lek halnya Kui Ciang telah pergi mencari Khong Khong Jie Ia masih menegasi Ong Liong Kek, masih anaknya Ong Pek Thong itu tak mau omong secara terus terang, hingga ia menjadi masgul berbareng mendongkol. Nona Hee tak tahu persekutuannya Pek Thong ayah dan anak. Mereka itu melakukan segala apa diluar tahunya Khong Khong Jie. Pek Thong dan anaknya ketahui baik sekali Toan Kui Ciang menjadi menantu Keluarga Touw, mereka kuatir dibelakang hari Kui Ciang nanti mencari balas untuk keluarga mertuanya itu, akan tetapi di muka Khong Khong Jie, mereka terpaksa membiarkan Kui Ciang dan Sian Nio berlalu dengan merdeka. Baru kemudian, seberlalunya Khong Khong Jie, mereka lantas bekerja. Mereka menulis surat dan mengirimnya dengan perantaraan burung dara, memberitahukan cabang di Liang-ciu, supaya orangnya mengatur "tentara sembunyi" di dekat Giok Sie San, guna merintangi dan membinasakan Kui Ciang sami dan isteri itu. Di antara Leng Song dan Liong Kek ada perkenalan yang erat sekali, karena itu, waktu si nona ketahui jelas perihal Ong Liong Kek, ia berdua, cuma kepada Kui Ciang ia tak mau menyebut-nyebut namanya pemuda she ong itu. Kui Ciang menjadi bersangsi. Telah cukup kesaksian hal perbuatannya Khong Khong Jie. Isterinya menyangsikan dan Leng Song memberikan kesaksiannya. Nona Hee tak dapat diragu-ragukan. Toh ia heran. Bukankah Khong Khong Jie gagah perkasa? Kenapa sekarang Khong Khong Jie bersikap rendah, untuk menghadapi ia dan isterinya, dia main gila seperti itu? http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Wajah Sian Nio menjadi guram. Ia berkuatir dan berduka. "Kelihatannya anak kita terancam bahaya..." berkata ia. "Khong Khong Jie telah sengaja memperdaya kita, mana mungkin dia sudi membayar pulang anak kita itu?" Kui Ciang pun berkuatir dan bingung, akan tetapi dia dapat mengambil keputusan. "Sekarang ini baik kita cari Khong Khong Jie dulu!" katanya. "Kita nanti bicara dengannya!" "Memang tidak bisa lain," kata Sian Nio. "Jikalau aku tidak dapat pulang anakku, aku tidak mau hidup pula, hendak aku mengadu jiwa dengannya!" Leng Song pun setuju buat mencari Khong Khong Jie, maka ia suka mengikuti. Dengan Kui Ciang jalan di muka, bertiga mereka mendaki gunung, untuk memanjat puncak Giok Sie San. Mereka tidak menghadapi rintangan apa-apa. Ketika matahari mulai doyong ke barat, mereka telah mencapai puncak tertinggi. Luar biasa puncak gunung itu. Di situ kedapatan pohonpohon bunga dan rumpun rumput. Di situ ada burung-burung dan binatang kaki empat. Di situ pun terdapat beberapa sumber air hangat, hingga hawanya menjadi lebih hangat daripada di bawah gunung. Yang paling dulu terlihat Kui Ciang ialah sebuah rumah suci kaum tosu atau imam. Dengan lantas pada hatinya timbul pengharapan. Lekas ia menghampirkan kelenteng itu dan mengetuk pintu. Ia pun berkata nyaring, "Aku si orang she Toan memenuhkan janji datang kemari! Aku mohon tuan rumah suka keluar menemui aku!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ketukan pintu itu, kata-kata itu, tak memperoleh jawaban. Tempo Kui Ciang mengulanginya, tetapi tidak ada suara apaapa dari dalam kelenteng. Sian Nio tidak sesabar suaminya. Maka dia kata sambil tertawa dingin, "Dia telah melakukan kesalahan, mana dia berani menemui kita? Sampai waktu ini, buat apa kita masih berlaku sungkan terhadapnya? Terjang saja pintunya!" Kui Ciang merangkap kedua tangannya, untuk memberi hormat ke arah pintu. "Khong Khong Jie!" katanya, nyaring. "Jikalau kau tetap tidak mau keluar, aku minta janganlah kau sesalkan aku si orang she Toan berlaku tidak hormat padamu!" Benar-benar tidak ada penyahutan, pintu tak terbuka dari dalam. Maka itu, tanpa berayal lagi, Kui Ciang menyerang dengan kepalan Kim Kong Ciang! Dengan bersuara nyaring dan berisik, kedua daun pintu menjeblak terbuka. Touw Sian Nio sudah lantas bersiap dengan panah pelurunya, sedang Leng Song menghunus pedangnya. Kui Ciang bertindak masuk dengan diiring isterinya dan nona itu. Tiba di dalam, mereka bertiga mendapatkan kelenteng kosong. "Mungkinkah dia jeri dan kabur?" tanya Leng Song, raguragu. Kelenteng itu tidak besar, di dalam tempo singkat, Kui Ciang bertiga dapat menggeledah seluruhnya. Di dalam kamar yang terakhir, Sian Nio menemukan sebuah ayunan kosong serta beberapa helai pakaian wanita. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Mendadak dia menangis dan berkata, "Anak kita telah dicelakai...!" Kui Ciang berlaku tenang. Buat apakah dia mencelakai seorang bayi?" katanya, tetapi suaranya dalam. "Memang benar anak kita pernah berada di sini. Itulah bukti bahwa dia tidak bicara dusta..." Tapi Sian Nio gusar. "Anak kita tidak ada, Khong Khong Jie tidak ada juga!" katanya nyaring. "Taruh kata anak kita benar tidak dibinasakan, tetapi sudah pasti dia telah menyembunyikannya pula di lain tempat! Engko, dia menghendaki jiwa kita, kenapa kau masih bicara begini tentang dia?" Sudah sepuluh tahun suami isteri ini menikah dan hidup bersama rukun dan damai, saling menyinta dan saling menghormati. Inilah pertama kali Sian Nio bicara keras demikian rupa terhadap suaminya itu. Kui Ciang tidak menjadi kurang senang atau gusar. Ia sabar sekali. Ia dapat memahami hati isterinya itu. "Aku memikir dari sudut lain," kata ia tenang. "Jikalau benarbenar Khong Khong Jie tidak membayar pulang anak kita, pasti aku mengadu jiwaku dengannya!" Habis berkata suami ini mengawasi sekitarnya. "Kelihatannya ada seorang wanita yang mengurus anak kita," katanya kemudian. "Seprai di dalam ayunan ini masih basah bekas air kencing, rupanya belum lama orang berlalu dari sini. Sekarang cuma belum dapat diketahui wanita itu pernah apa dengan Khong Khong Jie." "Percuma kau memikirkan ini!" kata Sian Nio, yang hatinya cemas. "Paling benar kita cari Khong Khong Jie si manusia rendah itu, baru kita akan mendapat kepastian!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Baru Nyonya Toan berhenti bicara, atau dari luar mereka bertiga mendengar ini suara nyaring, "Benar-benar Toan Tayhiap seorang yang dapat dipercaya! Aku minta dimaafkan yang aku telah melanggar janji!" Kui Ciang lantas berseru, "Itulah Khong Khong Jie!" Tanpa menanti lagi, Sian Nio sudah lantas lompat, untuk terus lari keluar. Kui Ciang dan Leng Song segera menyusul. Di luar tampak Khong Khong Jie seorang diri dan kedua tangannya kosong. Tidak ada bayinya di tangannya itu. Bukan main gusarnya Sian Nio. "Bagus ya!" teriaknya. "Sudah kau menipu kami datang ke gunung ini, sekarang kau sembunyikan juga anak kami!" Dalam murkanya, Nyonya Toan segera menyerang dengan tiga butir pelurunya. Khong Khong Jie berlaku celi dan gesit, dengan lincah ia berkelit dari tiga peluru maut itu. "Sabar, sabar!" katanya. "Tahan! Mari kita bicara dulu!" Kui Ciang menyandak. "Adik Sian Nio, sabar!" kata suami itu. "Mari kita dengar dulu apa katanya!" Khong Khong Jie lantas berkata, "Untuk sementara belum dapat aku membayar pulang anak kamu! Aku minta kamu jangan kuatir apa-apa, kamu boleh tetapkan hati kamu! Anak kamu itu selamat tidak kurang suatu apa, dan aku jamin keselamatannya!" "Kenapa kau tidak dapat segera membayar pulang?" Kui Ciang tanya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Khong Khong Jie nampak jengah. "Sebab... sebab..." katanya sukar. "Sebab apa?" bentak Sian Nio. "Jikalau hari ini kau tidak membayar pulang anakku, pasti aku tidak mau mengerti!" Khong Khong Jie mengulapkan kedua tangannya. "Pendeknya, aku jamin!" katanya. "Pasti aku nanti membayar pulang anakmu! Hanya sekarang, aku tidak berdaya!" "Nanti? Nanti kapan?" tanya Kui Ciang. "Itu... itu..." kata Khong Khong Jie, ragu-ragu, "Itu tak dapat aku pastikan..." "Kau bersangsi!" bentak Kui Ciang. "Kau bersangsi apakah? Sebenarnya, ada apakah sebabnya?" "Toan Tayhiap, kali ini aku menyesal terhadapmu!" kata Khong Khong Jie. "Aku harap kau jangan menanyakan terlebih jauh! Jikalau kau percaya aku, mari kita mengikat tali persahabatan. Aku bilang, anakmu berada di tangannya satu orang, hal itu ada baiknya, tidak ada jahatnya!" Sian Nio menjadi sangat gusar. "Siapa kesudian percaya lagi obrolan setanmu!" dia membentak. "Oh, manusia hina dina yang tak tahu malu! Kebetulan kami tidak mampus tercelakakan olehmu, daripada nanti kami dibikin celaka lebih jauh dengan perbuatanmu yang sangat rendah, baik sekarang saja kami serahkan jiwa kami kepadamu!" Khong Khong Jie gusar bukan kepalang. Dialah seorang kosen yang angkuh, yang kepalanya besar. Seumurnya dia belum pernah terhinakan orang. Maka tubuhnya menjadi bergemetaran. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Hai, perempuan busuk, mengapa kau berani lancang mendamprat aku?" dia berteriak. Kui Ciang pun telah timbul amarahnya, maka itu, melihat orang berani menghina isterinya, ia lantas menghunus pedangnya. "Kenapa jikalau kami mencacimu?" ia tanya. "Bukankah kau pantas dicaci maki?" Khong Khong Jie gusar hingga dia berkaokan. "Bagus, Toan Kui Ciang, bagus!" teriaknya. "Kau pun mencaci aku! Kenapa aku pantas dicaci?" "Aku mendamprat karena kau tak tahu benar tak tahu salah!" sahut Kui Ciang. "Karena kaulah si manusia jahat yang membantu Kaisar Tiu melakukan kejahatan! Aku mencaci kau karena kau berbuat jahat, kau toh menyangkal! Kaulah satu manusia rendah! Kaulah si bangsat cilik sangat hina dina dan sangat tak tahu malu!" Wajahnya Khong Khong Jie menjadi merah padam. "Toan Kui Ciang, kau mesti berlutut padaku dan mengangguk-angguk meminta ampun!" dia berteriak. "Kalau tidak, jangan kau harap kau nanti dapat turun dari gunung ini!" Kui Ciang tertawa dingin. "Sekalipun kau menekuk lutut dan manggut padaku berulang-ulang, aku juga tidak akan mengasih ampun padamu!" Kui Ciang membaliki. "Tidak salah, dalam ilmu silat kau jauh terlebih liehay daripada aku, akan tetapi satu laki-laki, mati tinggal mati, untuknya tak ada yang ditakuti! Meski aku terbinasa di tanganmu, hendak aku mencaci terus padamu!" "Baik!" Khong Khong Jie berteriak. "Karena kau menganggap aku satu manusia jahat, jangan kau sesalkan aku yang aku http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tidak menaruh belas kasihan lagi! Hayo, kau makilah pula padaku!" Mendadak tubuh jago ini mencelat dan sebelah tangannya meluncur ke muka orang. Hebat serangan itu. Akan tetapi Toan Kui Ciang sudah siap sedia, la lantas saja berkelit. Karena pedangnya sudah dihunus, ia juga lantas balas menyerang, bahkan terus sampai tiga kali beruntun tefhpo tabasannya yang pertama gagal begitu pun yang kedua kali. Touw Sian Nio juga tidak diam saja. Ia lompat maju dengan bacokannya. Liehay Khong Khong Jie. Ia lolos dari serangan berulangulang dari Kui Ciang, ia bebas dari bacokan Sian Nio, ketika ia berkelit seraya terus menyambar ke arah Kui Ciang, meskipun tayhiap itu berkelit, tak urung punggungnya kena terserempet tangan terbuka hingga dia merasakan sangat panas dan nyeri. Sebenarnya Khong Khong Jie mau menghajar muka. Syukur Kui Ciang lolos, kalau tidak, dia pasti malu bukan main. Dalam murkanya Kui Ciang serukan isterinya, "Adik Sian, kau benar! Untuk melayani ini bangsat sangat jahat, kita cuma harus mengadu jiwa!" Ketika itu Khong Khong Jie telah lompat mencelat, ia hendak membalas menyerang. Karena berlompat itu, ia menjadi turun dengan kepala di bawah dan kaki di atas. Sementara itu tangannya sudah menghunus pisau belatinya yang tajam luar biasa. Tanpa menanti menginjak tanah, ia menangkis senjatanya suami isteri itu. Ia mengeluarkan kepandaiannya, karena niatnya menghajar terlepas pedang dan goloknya kedua lawan itu. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kui Ciang sudah merantau semenjak dia masih muda sekali, sudah sering dia melakukan pertempuran, dari itu, benar dia kalah gagah dari Khong Khong Jie akan tetapi dia menang pengalaman, maka juga, melihat orang mencelat tinggi, dia sudah lantas dapat maksudnya lawan itu. Dia lantas menggeraki pedangnya dalam satu gertakan, lantas dia membarengi golok isterinya. Satu bentrokan tak dapat dielakkan. Itulah beradunya pisau belati dengan golok si nyonya. Bentrokan itu dibarengi dengan suara robek! Kui Ciang dan isterinya mundur masing-masing tiga tindak. Sian Nio terkejut. Goloknya, golok bian-to yang sangat tajam, telah "terlukakan" pedang lawannya. Sebaliknya, Khong Khorig Jie turun di tanah dengan kaget dan mendongkol. Ujung bajunya telah kena ditublas pedang Kui Ciang. Syukur ia masih sempat berkelit, kalau tidak, tangannyalah yang bakal terluka. Jurus ini menyebabkan kedua pihak meluap kemurkaannya. Maka ketika mereka merapat pula, mereka mengeluarkan kepandaiannya masing-masing. Khong Khong Jie gusar sebab merasa terhina, suami isteri itu nekad karena hendak membelai anak mereka. Maka pertempuran ini jauh lebih dahsyat daripada pertempuran mereka di gunung Hui Houw San. Kui Ciang bertempur mati-matian, pedangnya senantiasa mengeluarkan suara angin keras. Sian Nio dengan ilmu golok Pat-kwa-to mencoba mengurung lawannya yang tangguh itu, selalu ia mencari sasaran yang berbahaya. Sejak kegagalan di Hui Houw San, suami isteri ini telah berunding dan memikirkan semacam ilmu silat gabungan pedang dan golok yang diperuntukkan melawan Khong Khong http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Jie, sekarang tiba saatnya untuk mencoba itu. Benar-benar mereka memperoleh kemajuan. Tengah ia bertempur hebat itu, Khong Khong Jie terdengar menghela napas dan berkata masgul, "Kamu suami isteri sangat mendesak padaku, aku tidak bisa berbuat lain, terpaksa aku mesti mengorbankan jiwaku untuk melayani kamu..." Kalau tadi dia gusar, sekarang Khong Khong Jie berduka. Toan Kui Ciang dapat mendengar kata-kata orang itu. "Mustahilkah benar-benar Khong Khong Jie ada kesulitannya yang dia tak dapat beritahukan pada lain orang?" Justeru ia berpikir itu, justeru ia melihat perubahan silat si lawan. Pisau belati Khong Khong Jie lantas berputaran, menyamber ke timur dan ke barat, ke selatan dan ke utara, bergeraknya sangat cepat, hingga sinar pisaunya berkilauan, hingga ia nampak berada di pelbagai penjuru. Menampak demikian, Kui Ciang terkejut. Terpaksa dari menyerang ia mengambil siasat membela diri. Ini membuatnya terdesak. Maka lekas juga terdengar pula suara bentrokan senjata, kali ini pisau belati melawan pedang, bahkan beruntunruntun sampai sembilan kali! Mulanya tidak ada niat Khong Khong Jie memusuhkan Kui Ciang, walaupun ia dikepung hebat, meski juga ia murka sekali. Ia cuma memikir mengalahkan mereka itu. Siapa tahu setelah bertempur itu, Kui Ciang berdua menjadi nekad. Sebab menganggap ia benar-benar manusia busuk. suami'.isteri ini

Didalam keadaan seperti itu, ia mesti membela dirinya, atau ia bakal celaka. Maka tak ayal lagi, ia mengeluarkan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kepandaiannya. Itulah semacam tipu silat terdiri dari sembilan jurus berantai, yang dapat menyusun serangan beruntun sembilan kali. Khong Khong Jie masih merasa sayang, maka juga tadi ia telah mengasih dengar helaan napas serta suara penyesalan itu. Ketika Toan Kui Ciang melayani Ceng Ceng Jie, Ceng Ceng Jie pernah menggunai semacam ilmunya Khong Khong Jie ini. Tatkala itu ia dapat bertahan. Sekarang lain, kendati ilmu silatnya serupa. Itulah sebab Khong Khong Jie beda daripada Ceng Ceng Jie. Ceng Ceng Jie baru dapat melakukan tingkatan ketujuh. Khong Khong Jie pula menang berlipat ganda ilmu ringan rubuhnya daripada Ceng Ceng Jie, sang sutee, maka dia dapat bergerak cepat luar biasa. Begitulah, meski Kui Ciang berkelahi dibantu isterinya, ia segera terdesak, ia menjadi repot membela diri. Sian Nio juga turut terdesak musuh yang tangguh itu. Leng Song menonton saja sekian lama itu, setelah melihat suasana, ia maju seraya menyerukan Sian Nio, "Bibi Toan, silahkan mundur! Kau gunai saja pelurumu menghajarnya!" Dengan memutar pedangnya, ia maju menggantikan Nyonya Toan Kui Ciang itu. -ooo0dw0oooJilid 12 Didalam ilmu pedang, Nona Hee tak dapat melawan Kui Ciang, akan tetapi dibanding dengan Sian Nio dengan goloknya, http://ebook-dewikz.com/ terus, guna

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ia menang banyak. Maka itu Khong Khong Jie menjadi heran dibuatnya. "Siapakah yang mengajari kau ilmu pedangmu ini?" dia tanya. Leng Song tidak menjawab, ia hanya mendesak. Tiga kali berantai ia menyerang hebat, dan setiap jurusnya itu terpecah pula dalam tiga jurus lain. Ia menyerang sambil menggertak. Disamping si nona, Kui Ciang turut merangsak. Khong Khong Jie heran sekali. Sekarang tak sempat ia menanya pula si nona. Dengan mereka itu merangsak secara demikian, ia tidak berkesempatan memecah pemusatan pikirannya. Sian Nio mengambil tempat di pinggiran. Ia menuruti pikirannya Leng Song. Begitu siap, ia mulai dengan serangan panah pelurunya. Mulanya ia melepaskan tiga kali beruntun, mengincar Khong Khong Jie pada ketiga jalan darah bie-cian di atas, hong-hu di tengah dan hoan-tiauw di bawah. Ia liehay, disini ia mengasih lihat keliehayannya, meski orang bertempur bertiga dan bergerak gesit tak hentinya, sasarannya itu dapat ia cari. Khong Khong Jie pun memperlihatkan kegesitan dan keliehayannya. Dengan beruntun ia dapat mengelit diri dari dua peluru yang pertama. Untuk itu ia berlompat dan menyambut dengan tangan bajunya, lalu yang ketiga, ia tangkis dengan pisau belatinya. Meneruskan gerakan senjatanya itu, ia menikam ke arah iga Leng Song di mana ada jalan darah hun-bun. Tapi ia gagal, karena si nona waspada. Dilain pihak Kui Ciang, yang menggunai ketikanya dengan baik, sudah menebas ujung bajunya!

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Bukan main gusarnya jago ini. Ketika tadi ia menyambut dua buah peluru Sian Nio, semua peluru itu kena tergulung, sekarang ia menggunai itu untuk menyerang balik, membalas kepada Kui Ciang. Suaminya Sian Nio celi matanya dan gesit tubuhnya, dia dapat berkelit. Khong Khong Jie tidak berhenti dengan serangan peluru saja, ia membarengi menikam dengan pisau belatinya. Ia mencari sasaran yang berupa ulu hatinya Toan Tayhiap. Kui Ciang mesti berkelit, demikianpun Leng Song. Ketika itu Sian Nio tidak menyerang pula. Ia melihat orang rapat sekali. Tiba-tiba terdengar Khong Khong Jie berseru nyaring, menyusul itu, mereka bertiga berlompat mencar. Leng Song kaget sekali. Tusuk kundai di kepalanya telah kena disambar kutung pisau belati Khong Khong Jie, walaupun ia berkelit sebat sekali. ' Adalah di itu waktu, Touw Sian Nio memanah pula. Mendadak tubuh Khong Khong Jie jatuh terguling. Kiranya dia menggunai "Kun Tee Tong" atau ilmu silat "Roboh bergulingan" guna menyelamatkan diri, menyusuli mana, sambil bergulingan itu, ia membabat bergantian ke kakinya Kui Ciang dan Leng Song. Sian Nio bekerja pula, kembali ia memanah. Dua-dua Kui Ciang dan Leng Song berkelit sambil berlompat, Kui Ciang yang berlompat lebih dulu lalu membalas menyerang dengan cepat. Khong Khong Jie berkelit, karena mana, hampir peluru Sian Nio mengenai suaminya.. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Hanya sekejap, ketiga musuh sudah lantas bertempur pula secara rapat. Karena ini, kembali Sian Nio menunda pelurunya. Ia baru menyerang setiap kali ia melihat lowongan. Untuk itu ia mesti bermata sangat celi dan bertindak sangat cepat. Hanya, meski ia sudah mengorbankan belasan peluru, terus ia tidak mendapatkan hasil. Khong Khong Jie liehay tetapi dia repot juga. Dia mesti berhati-hati dari panah peluru itu. Karena ini, menghadapi desakan Kui Ciang dan Leng Song, mereka menjadi seimbang. Tatkala itu matahari sudah turun jauh ke barat. Sang magrib mendatangi. Kedua pihak sudah bertempur setengah jam. Tengah pertempuran berlangsung terus, tiba-tiba mereka mendengar ada seruan untuk mereka, "Eh, kenapa kamu bertempur! Berhenti! Berhenti!" Kui Ciang sudah lantas mengambil kesempatan akan melirik ke arah suara itu. Maka ia melihat seorang pengemis dengan pakaian banyak tambalan serta buli-buli di punggungnya, sembari berlari-lari keras, pengemis itu lari ke arah mereka. Ia pun segera mengenali Ciu-kay Kie Tie si Pengemis Pemabuk. Juga Khong Khong Jie mengenali pengemis tukang tenggak arak itu, ketika ia melihat Kui Ciang berhenti menyerang, ia menghentikan perlawanannya, ingin ia menyapa si pengemis. Justeru itu, Sian Nio memanah, maka pelurunya mengenai dahi orang, hingga sasarannya itu mengucurkan darah! Hee Leng Song tak mau berhenti, ia lompat menyerang. Khong Khong Jie gusar, dia menangkis. Maka bentroklah senjata mereka satu dengan lain, setelah mana, jago itu kembali membabat ujung tusuk kundai kemala si nona. Syukur Kui Ciang maju pula, guna membantu Leng Song. Karena ini, mereka bertiga jadi bertarung pula. Kie Tie menjadi kurang puas. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Touw Liehiap," ia kata pada Sian Nio, "Aku minta kau memberi muka padaku si pengemis tua!" Sian Nio lagi sengit, ia tidak menghiraukan perkataan orang, ia melanjuti serangannya. Menampak demikian, Ciu-kay menggelogoki isi buli-bulinya, habis itu ia menyemburkan keras ke arah medan pertempuran. Serangan ini membuat repot kepada Khong Khong Jie bertiga. Mereka tak takut terlukakan, tetapi mereka tak sudi dibikin mandi arak. Kie Tie menyembur pula, kali ini ke arah Sian Nio. Ia mau mencegah nyonya itu memanah terlebih jauh. Muka Nyonya Kui Ciang lantas kena kecipratan arak, dia menjadi tidak senang. "Kie Lo-cianpwe!" serunya, "Aku bukan tidak sudi memberi muka kepada kau tetapi manusia ini jahat luar biasa! Dia telah merampas anak kami! Kalau dia dibiarkan lolos, kepada siapa kami harus minta pulang anak kami! Dapatkah kau yang menggantinya?" Mendengar itu, Kie Tie menjadi melengak. Touw Sian Nio berkata pula, nyaring, "Jikalah lo-cianpwe tidak suka membantu kami, tidak apa, tetapi janganlah locianpwe merintangi kami, kalau tidak, maaf, peluruku nanti tidak mengenali kau!" Kata-kata si nyonya diiring samberan pelurunya, yang mengenai buli-buli Kie Tie. "Marilah kita bicara!" Ciu-kay berseru. Dia sadar dari melongonya. "Jangan kau menyerang pula! Jangan kau menyerang pula! Kalau mustikaku ini rusak, aku si pengemis tua tidak punya lagi susu macan untuk ditenggak!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru itu Hee Leng Song berseru, "Toan Peehu, jangan ladeni pengemis bangkotan itu! Dialah konco musuh!" Toan Kui Ciang menjadi bersangsi, apa pula pada saat itu ia melihat pihaknya mulai menang unggul. Laginya, kalau ia mundur, Leng Song tentu bakal segera terdesak lawan. Maka terpaksa ia berkelahi terus. Habis menyingkir dari arak, mereka bertiga merapat diri pula. Pada Kie Tie, Toan Tayhiap berseru, "Kie Lo-cianpwe maaf, aku minta kau tanya tentang urusan kita ini kepada isteriku, setelah kau ketahui jelas duduknya, baru kau datang memisahkan kita!" Touw Sian Nio menyambungi kata-kata suaminya tanpa menanti Kie Tie menanyakannya. Ia kata, "Dia yang menjanjikan kami datang kemari, tetapi di mulut gunung tadi dia memasang orang tersembunyi untuk mencelakai kami, hampir kami suami isteri mati tertimpa hujan batu! Kami tiba di sini, kami bertemu dengan dia, ketika kami minta pulang anak kami, dia menolak memulanginya! Sampai saat ini kami belum tahu anak kami masih hidup atau sudah mati! Lo-cianpwe, silahkan kau timbang dengan adil! Pantas atau tidak jikalau kami mengadu jiwa kami?" Ketika tadi Kie Tie lewat di mulut gunung, ia memang melihat beberapa mayat. Ia menjadi bersangsi. "Khong Khong Jie, bagaimana ini?" dia tanya. Rupanya Khong Khong Jie pun panas hatinya. "Kau hendak tanya aku dalam urusan apa?" dia balik menanya, keras. "Apakah benar-benar kau hendak membinasakan mereka ini suami isteri?" tanya Ciu-kay. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Gila!" berteriak Khong Khong Jie. "Mana itu dapat terjadi? Jikalau aku hendak membunuh mereka, pasti aku telah melakukannya siang-siang!" "Jikalau begitu, kenapa kau tidak mau membayar pulang anak mereka?" Kie Tie tanya pula. Khong Khong Jie berdiam, tak dapat dia menjawab. Inilah justeru kesulitannya. Hal itu yang membuatnya merasa malu sendirinya. Kalau tidak, tentulah tadi dia sudah menjelaskan, atau membereskannya pada Kui Ciang suami isteri itu. Sebenarnya Kie Tie dan Khong Khong Jie cuma kenalan sambil lalu, tidak ada hubungan erat di antara mereka, karena itu sudah sewajarnya saja ia percaya Toan Kui Ciang dan tak mempercayai kakak seperguruan Ceng Ceng Jie itu. Ia pun berpikir, "Han Tam membilang dia baik tetapi ketika Han Tam mengenalinya, dia masih kecil, sekarang mereka sudah berpisah buat banyak tahun, siapa tahu dia sudah berubah sifat?" Karenanya, ia menjadi curiga. Maka itu, melihat orang berdiam, ia lantas menanya pula suaranya keras, "Khong Khong Jie, kenapa kau ragu-ragu? Sebenarnya bagaimanakah duduknya hal?" Didesak begitu rupa, Khong Khong Jie menjadi tidak senang, ia menjadi gusar. "Orang tua she Kie, apakah kau hendak memeriksa aku?" ia menegur. "Inilah urusanku, tak usah kau campur tahu!" Kie Tie menggelogoki araknya, ia berkata dingin, "Aku bukannya hendak memeriksa kau! Laginya aku si pengemis tua, seumurku belum pernah aku usilan mencampuri urusan lain orang! Tapi sekarang aku datang kemari karena aku diminta tolong oleh Lo-cianpwe Han Tam. Han Lo-cianpwe menyuruh http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

aku tanya kau, benarkah kau menjadi kemaruk harta atau pangkat, maka kau jadi bekerja sama dengan Ceng Ceng Jie, adik seperguruanmu itu?" Sebetulnya Han Tam menghendaki Kie Tie memberitahukan saja kepada Khong Khong Jie perihal sekongkolan dari Ong Pek Thong dengan Ceng Ceng Jie yang mau bekerja sama dengan An Lok San, dan untuk menanya Khong Khong Jie tahu atau tidak urusan dua orang itu, tetapi guna mengesankan hal, ia bicara dengan sikap menegur itu. Khong Khong Jie sangat menyayangi adik seperguruannya, dari itu ia menjadi gusar. "Pengemis tua, kenapa kau ngaco belo?" tegurnya pula. "Apakah yang tak benar dari adik seperguruanku itu? Kenapa kau bersikap begini rupa?" Kie Tie tertawa dingin ketika ia memberikan jawabannya, "Adik seperguruanmu itu sudah tak segan membantu harimau mengganas! Mustahilkah kau belum ketahui sepak terjang adik seperguruanmu itu!" "Apa kau bilang?" Khong Khong Jie bentak. "An Lok San lagi mementang pengaruhnya, tidaklah heran dia dapat membeli Ong Pek Thong!" jawab si pengemis pengarakan. "Yang tidak disangka-sangka ialah adik seperguruanmu itu! Dia juga rela menjadi gundal! Sekarang ini Ong Pek Thong dan An Lok San telah bekerja sama, mereka berkongkol, kelakuan mereka itu sudah diketahui oleh orangorang gagah di kolong langit ini! Mengenai adik seperguruanmu itu, apakah masih hendak kau menyangkal?" Khong Khong Jie tercengang. Tapi cuma sejenak, dia lantas membentak, "Angin busuk! Kau memfitnah orang!" Kie Tie gusar, ia terus mengubarnya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Khong Khong Jie!" ia kata nyaring. "Kau muncul dalam dunia Kang Ouw belum lama, kenapa kau jadi begini jumawa? Cara bagaimana kau berani mencaci aku si pengemis tua?" Khong Khong Jie mengerti disini mesti terselip sesuatu, akan tetapi dia muda dan keras tabiatnya, dia menjadi tak sudi menggubris si pengemis. Maka dia tertawa nyaring dan kata, "Bagus, ya! Kau pandang aku Khong Khong Jie bukan sebagai manusia! Kalau begitu, buat apa kau bicara secara sahabat denganku? Pengemis tua, kau majulah!" Selama itu, Khong Khong Jie melayani Kie Tie berbicara dengan dia masih terus menempur Toan Kui Ciang dan Hee Leng Song, mereka kedua pihak sama unggul, tetapi karena perhatiannya sangat terpengaruhkan, dan dia pun mendongkol, pemusatannya menjadi terganggu. Begitulah ketika Toan Kui Ciang menikam secara liehay, pundaknya kena tertowel hingga terluka dan mengucurkan darah! Kejadian ini membikin dia menjadi panas hati, dengan hebat dia maju, guna merangsak orang she Toan itu, ketika pisau belatinya meluncur, dia mengarah ulu hatinya lawan. Justeru itu Kie Tie berlompat maju. Pengemis ini tak suka mengadu mulut, terlebih jauh. Ia menangkis senjata si jago muda. Buli-buli dan pisau belati bentrok satu dengan lain. Buli-buli, yang dipandang sebagai mustika itu, kalah kuat, ujung pedang menumblas bolong, maka seketika juga isinya - arak yang harum - molos keluar dan berhamburan di tanah! Touw Sian Nio terkejut, dia berseru.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Justeru itu terdengar juga siulannya Khong Khong Jie, yang tubuhnya mencelat tinggi, untuk mengangkat kaki, sampai peluru si nyonya tak dapat menyusulnya. Dari kejauhan cuma terdengar suaranya ini, "Toan Kui Ciang, jikalau kau hendak membenci aku, terserah kepada kau! Tentang anakmu, dibelakang hari pasti aku akan bayar pulang kepada kamu! Dan kau, pengemis tua, denganmu biarlah dilain kali kita bertemu pula! Sekarang aku hendak melakukan penyelidikan, sesudah itu, nanti aku cari kau untuk membereskan perhitungan kita ini!" Ketika suara itu berhenti, tubuh Khong Khong Jie pun turut lenyap. Touw Sian Nio lantas menghampirkan suaminya. Ia terkejut melihat muka suami itu penuh darah. "Apakah kau terluka?" dia tanya. "Di mana lukanya?" "Tidak apa-apa," sahut Kui Ciang, yang tertawa getir. "Pisau belati Khong Khong Jie dapat menikam aku!" Tapi Kui Ciang benar terluka dan lukanya sama dengan lukanya Khong Khong Jie. Tadinya pelurunya sang isteri nyasar ke dahinya. Setelah melihat luka suaminya itu, Sian Nio mengerti kekeliruannya. Ia menjadi menyesal, malu dan berduka. Tapi ia pun mendongkol. Maka ia kata sengit, "Oh, itu bangsat jahat! Sayang tadi peluruku tidak menghajar picak matanya!" Kui Ciang sebaliknya kata di dalam hatinya, "Kalau tadi Khong Khong Jie mengulangi serangannya, kalau tidak terbinasakan, aku mestinya terluka parah. Syukur Kie Locianpwe telah menalangi aku, hingga dia rusak buli-bulinya. Sebenarnya, asal ia mau, Khong Khong Jie dapat menyerang terus, kenapa ia tak berbuat demikian? Bukankah http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

penyerangannya itu cuma siasat untuk dia dapat berlompat mundur, guna mengangkat kaki, jadi bukan untuk mencelakai aku?" "Sudah, adik Sian," kata ia, mendengar suara isterinya itu. "Dia sudah kabur, dan lukaku pun ringan, tak usah kau mencaci dia. Tak usah kau bersusah hati..." Kie Tie tidak dapat memikir Khong Khong Jie berlaku murah hati terhadapnya, dia tertawa lebar. Kata dia, "Toan Tayhiap, benar-benar kau berhati mulia, tak sembarang orang dapat menyamai kau!" Kembali dia tertawa, lantas dia menambahkan pada Sian Nio, "Toan Toaso, sekarang kau toh tak dapat mencaci pula aku si pengemis tua, bukan?" "Oh, maaf lo-cianpwe!" kata Sian Nio lekas, sambil memberi hormat. "Sayang buli-buliku ini!" kata pula Kie Tie tertawa. "Ha, ha, ha! Inilah upahnya aku suka usilan terhadap urusan orang lain!" Kui Ciang pun menghaturkan maaf kepada pengemis jago itu. Selama itu, Hee Leng Song berdiri diam di pinggiran, ia tertawa dingin, ia tidak menghiraukan mereka itu. Kie Tie pun seperti tak menghiraukan segala apa, dia masih tertawa dan kata, "Hari ini aku mendapat dua rupa pengajaran! Benar-benar, gemar mencampuri urusan luar berarti membakar diri sendiri! Bukan saja Khong Khong Jie membenci aku, bahkan Nona Hee turut mendongkol terhadapku!" Kui Ciang heran. Ia tak mengerti sikapnya Leng Song itu. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Keponakanku," ia berkata kepada nona itu, "Lo-cianpwe ini bukan lain orang, hanya dialah yang dunia Kang Ouw memanggilnya Ciu-kay Kie Tie! Marilah kau pun menghunjuk hormatmu kepadanya!" "Kita berdua sudah bertemu terlebih dahulu daripada ini," berkata Nona Hee tawar. "Hm! Meski dia bukannya konco dari Khong Khong Jie, dia toh konconya Hong-hu Siong! Tidak dapat aku memandang sebagai lo-cianpwe!" Paras Kui Ciang berubah, ia menjadi jengah sekali. "Keponakanku, harap kau bicara tak melupai adat kehormatan," kata ia, masgul. "Kau baru muncul di dalam dunia Kang Ouw, mungkin ada yang kau belum ketahui jelas. Kie Locianpwe ini bersama Hong-hu Siong serta seorang pengemis lain, yaitu Hong-kay We Wat, adalah yang dijulukkan Kang Ouw Ie-kay. Apa yang beda ialah sepak terjang Hong-hu Siong tak sama dengan sepak terjang mereka berdua. Hong-hu Siong itu manusia aneh, dia sesat, dia suka berbuat jahat dan keliru. Tidak demikian dengan We dan Kie Lo-cianpwe ini, mereka bahkan tersohor sekali sikapnya membenci kejahatan seperti musuh! Mana dapat Hong-hu Siong disamakan dengan mereka itu berdua? Maka itu aku percaya kau mestinya telah memperoleh pendengaran yang keliru. Keponakanku, mari kau memberi hormat pada Kie Lo-cianpwe!" Leng Song berdiri tetap dan tegak, sepasang alisnya bangun berdiri. Kelihatannya ia hendak bicara tetapi rupanya malang terhadap Tan Kui Ciang. Toan Tayhiap menjadi heran sekali, hingga ia ingin bicara lebih jauh atau Kie Tie, yang tertawa lebar, mendahului ia. "Toan Tayhiap, kata si pengemis, "Kaulah seorang yang aku hormati, hanya kata-katamu kali ini tidak tepat!" "Kenapa tak tepat?" ia tanya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Aku si pengemis tua, tak sanggup aku bicara sempurna seperti kau," kata Kie Tie perlahan dan sabat. "Di mataku, aku si pengemis tak demikian baik seperti katamu barusan, sedang Hong-hu Siong tidak demikian busuk seperti uraianmu ini!" "Nah, bagaimana?" kata Leng Song menyelak, tawar. "Kau masih membilangnya dia bukan konconya Hong-hu Siong! Di dalam segala bidang, dia membelai orang she Hong-hu itu! Dia membeli Hong-hu Siong, kenapa aku dicegah untuk menuntut balas?" Kui Ciang mengerutkan alisnya. "Bagaimana ini?" ia tanya Leng Song. Ia bingung sekali. "Di antara kau dan Kie Lo-cianpwe ada selisih paham apa, keponakanku?" Nona Hee habis sabarnya. "Bukan melainkan selisih paham!" sahut Leng Song sengit. "Toan Peehu, jikalau aku tidak memandang kau, pasti sekarang aku sudah melakukan pembalasan sakit hatinya ibuku!" Mau atau tidak, Kui Ciang terkejut. "Apa kau bilang?" ia tanya. "Kie Lo-cianpwe menjadi sahabat karib dari almarhum ayahmu, cara bagaimana dia dapat menjadi musuh ibumu?" Mukanya Nona Hee menjadi merah. Ia jengah. "Dia... dia omong tidak keruan terhadap aku!" teriaknya. "Dia menghina ayah dan ibuku...!" Mata Kui Ciang dipentang lebar dipakai mengawasi CIu Kay, si pengemis jago arak. Kie Tie tidak menjadi gusar, sebaliknya dia bersenyum. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Nona Hee," katanya, sabar, "Coba kau ulangi apa katakataku untuk didengar oleh Toan Peehu kau ini, agar dia menimbangnya benar atau tidak aku berlaku tak pantas terhadapmu?" Kui Ciang memandang si nona. "Keponakanku," kata ia, sabar, "Aku dan ayahmu menjadi sahabat kekal, terhadapku kau boleh menyebutkan segala apa, tidak ada halangannya." Leng Song mendongkol sekali. "Dia... dia membilangi aku bahwa aku bukannya orang she Hee!" kata dia keras. "Dia juga kata ayahku bukannya Hee Seng To! Itu... itu... bukankah suatu penghinaan untuk ayah dan ibuku?" Saking gusar, nona ini hendak menghunus pedangnya. Kecurigaan, atau kesangsian Toan Kui Ciang, timbul secara tiba-tiba. Ia lantas ingat peristiwa di malaman pernikahan di antara Leng Soat Bwe dan Hee Seng To itu. Hee Seng To terbinasakan dimalaman itu. Maka itu, dari mana datangnya anak bernama Leng Song ini? Dulu hari pun ia sudah pusing memikirkannya, siapa tahu sekarang Kie Tie menimbulkannya. "Sabar," ia kata kepada nona itu. Ia terus menoleh kepada Kie Tie untuk segera menanya, "Kie Lo-cianpwe, itulah peristiwa yang selama dua puluh tahun telah menjadi perkara yang tergantung saja. Mestinya lo-cianpwe ketahui itu..." Kie Tie mengulapkan tangannya. "Itulah urusan yang tak leluasa untuk dibicarakan di sini!" katanya. Kui Ciang dapat dikasih mengerti, ia berpengalaman luas. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kalau begitu, mari kita pergi bicara di sana," katanya hening sejenak. "Keponakanku, kau sabar dulu. Urusan ini sangat penting, mesti aku dapat membikinnya menjadi terang! Kau toh percaya aku, bukan?" Leng Song berdiam, ia mengangguk. Kie Tie sudah lantas berjalan, maka Kui Ciang menyusulnya. Mereka berjalan sampai kira setengah lie dimana mereka mencari tempat yang sepi. "Ketika peristiwa menyedihkan itu terjadi, aku tidak di tempat kejadian," Kie Tie memberikan keterangannya. "Tapi aku tahu, kau sendiri justeru berada di sana. Katanya pembunuhan terjadi sehabisnya orang bersenda gurau menggodai sepasang mempelai." "Tidak salah," Kui Ciang membenarkan. "Terjadinya itu tak sampai setengah bakaran sebatang hio habis orang bersenda gurau itu. Mempelai laki-laki telah terbunuh dan mempelai perempuan terculik." "Kalau begitu, kau percaya perkataanku, bukan?" tanya Kie Tie. "Pasti sekali Hee Seng To tak dapat mempunyai Nona Hee itu sebagai puterinya yang tulen?" "Hal itu... aku mau percaya," kata Kui Ciang, meskipun ia ragu-ragu. "Habis, siapakah orang yang menjadi ayah yang sejati itu?" Kie Tie tidak lantas menjawab, sebaliknya dia menanya dulu, "Apakah kau pernah bertemu muka dengan pembunuh itu?" "Malam itu rembulan guram dan bintang-bintang jarang, aku cuma mendapat lihat punggungnya," Kui Ciang jawab. "Barangkali yang lain-lainnya?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Pasti sekali lain-lain orang juga tak ada yang melihat mukanya pembunuh itu!" sahut Kui Ciang pula. "Kalau tidak, tidak nanti perkara itu menjadi perkara gantung sampai sekarang ini..." "Tepat!" kata si pengemis. "Semua kamu tidak melihat pembunuh itu, tetapi kenapa kamu menerka Hong-hu Siong, bahkan menerka secara pasti sekali?" "Mengenai itu ada sebabnya," Kui Ciang memberi keterangan. "Sebelumnya dia menghembuskan napasnya yang terakhir, mempelai laki-laki itu meninggalkan tulisan yang belum lengkap. Ialah dia menulis hanya sebuah huruf 'Hong'. Itu yang pertama. Yang kedua, punggungnya pembunuh itu terlihat sama dengan punggungnya Hong-hu Siong. Dan yang ketiga, jikalau dia bukannya Hong-hu Siong, kenapa Leng Bwe menghendaki puterinya itu membinasakan dia?" Untuk menjelaskan, Kui Ciang menuturkan peristiwa sedih malam itu sebagaimana yang ia saksikan sendiri. Kie Tie menghela napas. "Pantaslah Hong-hu Siong yang dicurigai," katanya, masgul. "Mempelai laki-laki mati kecewa dan mempelai perempuan malang nasibnya, karena sampai sekarang ini duduknya kejadian tetap masih belum jelas..." "Sebenarnya bagaimana duduknya hal itu?" tanya Toan Kui Cian, yang bemapsu memperoleh perjelasan. "Siapa pembunuh yang sebenarnya itu?" "Pembunuh itu bukannya Hong-hu Siong," menyahut Kie Tie, "Cuma dengan Hong-hu Siong, dia ada sangkut pautnya. Pembunuh itu, dia... dia..." Kui Ciang menjadi sangat tidak sabaran, begitu juga isterinya dan Leng Song. Itulah perkara gantung yang sudah berjalan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dua puluh tahun. Ia menjadi tidak sabaran karena Kie Tie main ayal-ayalan. . "Dia... dia siapakah?" ia tanya mendesak. "Dia..." Mendadak terasa sampokan angin dari belakang. "Ada orang!" teriak Kui Ciang terkejut. "Kau!" Kie Tie berseru seraya dia mementang kedua tangannya, untuk melindungi Kui Ciang, akan tetapi belum berhenti suaranya itu atau rubuhnya sudah roboh terbanting! Kui Ciang kaget bukan kepalang. Tapi ialah seorang jago, dapat ia menguasai dirinya. Ia tahu itulah hasil perbuatan serangan gelap dengan senjata rahasia. Tanpa menanti sampai ia menoleh lagi, untuk melihat siapa tukang bokong itu, tubuhnya sudah mencelat berputar, untuk lompat menghampirkan penyerang itu, sedang pedangnya telah dihunus dan dipakai melindungi dirinya. Ia menjaga diri kalaukalau serangan gelap itu diulangi. Berbareng dengan itu terdengar dampratan Leng Song, yang juga sudah lantas mengejar. Penyerang itu berlompat lari sambil membalik kepalanya, terdengar suaranya yang aneh. Suara itu tertawa bukan, menangis bukan. Toh nadanya sedih. Ia mengasih dengar suara itu sambil mengawasi Nona Hee. Toan Kui Ciang sudah lantas mengenali orang itu. Dia bukan lain daripada Hong-hu Siong. Ia menjadi mendongkol dan gusar sekali. Tengah orang berdiam mengawasi Leng Song, ia lompat menerjang dengan satu tikaman hebat. Hong-hu Siong masih sempat menangkis dengan tongkatnya, tetapi terdengarnya satu suara nyaring, ujung tongkat itu kena terhajar hingga "terluka". http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dilain pihak, tangan Kui Ciang tergempur hingga telapakannya terasa nyeri dan kesemutan, hingga ia mesti mundur guna mempertahankan kuda-kudanya. Menggunai ketikanya yang baik itu, Hong-hu Siong lompat nyamping, untuk menyingkir ke dalam rimba. Sementara itu Kie Tie, setelah robohnya, cuma mengasih dengar suara menyayatkan satu kali, terus tidak terdengar apaapa lagi, karena mana Kui Ciang lari balik untuk menolongi. Hee Leng Song sebaliknya, dia mengejar terus. Dia sampai tidak menghiraukan teriakan Kui Ciang, yang memanggil dia kembali. Touw Sian Nio kuatir nona itu mendapat celaka, sebaliknya daripada suaminya, dengan membawa panahnya, ia lari menyusul, guna memberikan bantuannya kalau itu dibutuhkan. Kui Ciang membiarkan isterinya pergi. Meski ia tahu Hong-hu Siong liehay, sebagaimana bentrokan barusan telah memberi bukti kepadanya, akan tetapi ia percaya Leng Song dibantu isterinya itu tak nanti terkalahkan orang she Hong-hu itu. Ia hanya memerlukan memeriksa Kie Tie. Mukanya pengemis itu lantas saja menjadi bersemu hitam dan dari ujung mulutnya mengalir darah, yang mendatangkan bau bacin yang keras. Menampak demikian, orang she Toan ini menjadi kaget sekali. Itulah tanda dari bencana besar. Tatkala ia mengulur tangannya meraba tubuh orang, nyata napas Kie Tie telah lantas berhenti jalan. Ia menjadi mendongkol dan berduka sekali. Ia melongo sekian lama, akhirnya - tanpa merasa lagi ia menangis.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kie Lo-cianpwe," katanya, sangat menyesal, "Kau masih mengatakan bukannya Hong-hu Siong. Sekarang jiwamu diantar pergi oleh tangannya..." Terang sudah duduknya kejadian. Hong-hu Siong berada di dekat-dekat situ, ia bersembunyi untuk memasang mata dan telinga. Ia takut Kie Tie nanti membuka rahasia, maka ia menurunkan tangan dengan membokong dengan senjata rahasianya yang berbisa itu. Terang ia hendak membinasakan Kie Tie dan Kui Ciang berdua tetapi Kie Tie melindungi si orang she Toan, yang menjadi tertolong terhindar dari bahaya maut, hanya dia sendiri yang menjadi korban. Coba Kie Tie bukan si jago tua, tidak nanti Hong-hde Siong menurunkan tangan jahat itu. Hanya, apa yang aneh, Kie Tie membilang Hong-hu Siong bukan pembunuhnya ayah Nona Hee. Pula aneh, Kie Tie dapat mati lantas sedang dia tangguh. Kenapa dia tidak mau segera menyebutkan nama si pembunuh? Kalau si pembunuh benar Hong-hu Siong, apa mungkin dia mau melindungi orang she Hong-hu itu dengan memegang rahasia namanya, hingga dia sudi mengorbankan jiwanya? Sambil menenangkan diri, Toan Kui Ciang membuang tempo untuk membikin lenyap rasa nyeri di tangannya. Ia ingat senjatanya Honghu Siong, lantas ia mencari kayu atau ujung tongkatnya Hong-hu Siong yang kena terbabat pedangnya tadi. Ia berhasil mendapatkan. Ujung tongkat itu memberi harum kayu cendana asal Lam Hay, Laut Selatan. "Hong-hu Siong berpikir, "Tongkat Rimba Persilatan tongkat ini mesti mempunyai tongkat kayu asal Lam Hay," ia itu hendak aku jadikan bukti. Semua jago yang tua-tua mesti mengenalnya. Ujung aku jadikan bukti dari perbuatannya yang http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

jahat. Aku pun mesti minta bantuannya beberapa orang tertua untuk mereka itu mencari balas buat Kie Lo-cianpwe...!" Tak lama maka terlihat Leng Song dan Sian Nio kembali dengan tangan kosong. "Rimba sangat lebat, penjahat itu dapat lolos," kata sang isteri. "Bagaimana dengan Kie Lo-cianpwe?" "Tak beruntung untuknya, ia sudah menutup mata karena lukanya," sahut Kui Ciang, masgul. "Mari bantu aku, supaya kita dapat menguburnya di sini..." Sian Nio heran. "Kenapa dia mati demikian lekas?" katanya, yang segera menghampirkan. Ialah ahli senjata rahasia. Lantas ia berseru tertahan, "Inilah akibatnya jarum beracun yang begitu mengenai lantas menutup kerongkongan! Kenapa Hong-hu Siong dapat menggunai senjata rahasia yang begini jahat?" Di jaman itu banyak jago Rimba Persilatan menghargai martabat sendiri. Di antara golongan kelas satu, sangat sedikit orang yang menggunai senjata itu. Sekarang Hong-hu Siong menggunai jarum jahat, tidak heran Sian Nio menjadi tercengang. "Benar!" kata Kui Ciang. "Tadi aku ingat sampai kesitu, adik Sian. Menurut apa yang aku tahu, Hong-hu Siong belum pernah menggunakan senjata rahasia, apapula senjata rahasia yang dipakaikan racun. Mustahilkah... mustahilkah...?" Sian Nio dapat membade hati suaminya. Ia menggeleng kepala.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Tak mungkin!" katanya. "Tak mungkin Hong-hu Siong itu Hong-hu Siong palsu! Bukankah kita bertiga melihatnya tegas sekali?" "Ibuku membilangi aku Hong-hu Siong licik dan jahat tak lawannya!" kata Leng Song. "Maka itu aku mau percaya, dia biasa tak menggunai senjata rahasia melulu siasatnya untuk membikin martabatnya naik tinggi, tetapi sekarang ini, di saat begini mendesak, dia tidak dapat memilih jalan lain, maka juga senjata yang paling jahat dan berbisa pun dia gunai!" Kui Ciang merasa si nona bicara terpengaruhkan rasa bencinya, akan tetapi ia telah melihat sendiri kepada Hong-hu Siong, maka itu, bersangsi atau tidak, ia mau menerima baik pikiran nona itu. "Hiantit-lie," kata ia, kemudian, "Hendak aku menanya kau satu urusan. Aku dengar halnya kau baru ini di gunung Lee San, di dalam kuil Thouw Tee Bio, telah bertemu dengan Honghu Siong. Kau katanya hendak membunuh dia, tetapi dia duduk tak bergeming di lantai, dia menyerah untuk dibunuh. Benarkah itu?" "Tidak salah, itulah benar," sahut si nona. "Karena itu juga, ketika itu Lam Tayhiap kena diabui dia, Lam Tayhiap menganggap dialah seorang baik hingga aku dicegah membunuhnya. Menurut anggapanku, perbuatan dia itu waktu mestinya perbuatan sandiwara saja, itu menandakan kelicikannya. Dia rupanya percaya betul bahwa Lam Tayhiap bakal menghalang-halangi aku!" Mendengar demikian, Kui Ciang heran. "Ketika itu aku tak sadarkan diri," katanya. "Ketika itu Honghu Siong yang telah menolongi aku dengan memukul mundur musuh, kemudian dia menolongi jiwaku hingga aku mendusin dan selamat. Itulah kenyataan. Tapi sekarang terjadi peristiwa http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ini. Kenapa dulu dia berbuat sangat baik padaku, dia telah menolong aku dua kali? Kenapa sekarang dia justeru hendak membinasakan aku? Kenapa?" "Engko, kau selalu mengambil pandangan dari sudut yang menyenangkan," kata Sian Nio. "Apakah yang aneh disini? Bukankah kau pernah membilangi bahwa ketika dia semula menolongi kau, dia mengharap supaya kau nanti membalas budi kepadanya, supaya kau dari imusuh memandangnya sebagai sahabat? Sekarang dia ketahui permusuhan tak dapat didamaikan pula, dia pula takut Kie Tie nanti membeber hal yang sebenarnya hingga kau ketahui duduknya perkara, maka itu dia pasti ingin menurunkan tangan jahat atas dirimu!" Leng Song telah menjadi tidak sabaran. Begitu mendengar perkataannya Sian nio, dia lantas menanyai Kui Ciang, "Sebetulnya, apakah yang si pengemis tua bilang padamu?" Kui Ciang ayal-ayalan ketika ia menjawab, membilang bahwa Hong-hu Siong bukanlah musuh tetapi di saat yang paling penting, yaitu ketika menyebutkan- she dan namanya musuhmu itu, dia dibinasakan Hong-hu Siong..." "Dia... dia kamu, akan dia hendak telah lantas

"Baik, biarkanlah urusan ini!" kata Nona Hee kemudian. "Ibuku juga bermaksud untuk hanya menyingkirkan bahaya bagi orang banyak, bukan buat permusuhan yang tak dapat tak dibereskan di antara Hong-hu Siong dengan kami. Yang aku hendak tanyakan ialah, apakah pengemis tua itu ada menyebutkan sesuatu yang mengenai riwayat diriku?" "Dia belum sampai menyebutkan," sahut Kui Ciang, yang kembali ragu-ragu, nampaknya dia jengah. "Hanya... hanya aku mau percaya bahwa apa yang dia telah bilangi kau kiranya bukan hal ngaco belo saja. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Parasnya Leng Song menjadi pucat, alisnya rapat satu dengan lain. Hatinya memang seperti terbenam dalam kegelapan, maka sekarang, boleh ia tak percaya Kie Tie tetapi ia harus percaya Kui Ciang. Ia lantas tunduk dan mengeluarkan kata-kata yang tidak tegas, "Mungkinkah ibu ada menyembunyikan apa-apa kepadaku?" ia berpikir. Ia berhenti sejenak, terus ia tanya pula Toan Tayhiap, "Toan Peehu, kaulah sahabatnya ayahku, dapatkau kau memberikan keterangan padaku?" Kui Ciang bersangsi, sulit untuk ia berbicara. Maka ia mesti berpikir keras. "Semenjak ayahmu menikah, aku tak pernah melihat pula ia serta ibumu," ia menjawab kemudian. "Hanya, menurut apa yang aku duga, Hong-hu Siong itu mungkin benar musuh orang tuamu, maka itu ibumu menghendaki kau membunuhnya bukan cuma guna menyingkirkan bencana untuk umum tetapi sekalian buat membalaskan sakit hatinya sendiri..." Leng Song cerdas, maka ia lantas dapat merasa Kui Ciang tidak bicara seluruhnya. Walaupun demikian, berdasarkan keterangan Kui Ciang ini, ia mau menduga bahwa tentang asal usulnya sendiri mestilah suatu soal yang ruwet. Maka ia menggigit bibirnya. "Baikah, peehu!" katanya. "Jikalau peehu tidak dapat menjelaskan, baik nanti saja aku pulang untuk menanya kepada ibuku sendiri..." "Bukannya aku tidak mau bicara," kata Kui Ciang, sabar, "Aku hanya tidak dapat bicara lantaran masih ada hal-hal yang aku belum jelas.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Aku rasa kalau nanti kau sudah bertemu dengan ibumu baru kau akan megerti duduknya hal yang benar." "Aku belum pernah bertemu dengan ibumu," kata Sian Nio pada si nona, "Akan tetapi sudah lama aku mendengar dan mengagumi dia. Dapatkah aku pergi untuk menjenguk ibumu itu?" "Bibi suka mengunjungi kami, aku bersyukur bukan main, pasti kami akan menyambut dengan girang sekali," menyahut Leng Song, "Hanya di dalam hal ini, aku tak dapat mengambil keputusan sendiri. Maka itu bagaimana kalau aku pulang dulu untuk menanyakan ibu, habis mana baru aku memberi kabar kepada bibi? Tabiat itu ada sedikit aneh, ia tak suka bertemu dengan orang yang belum dikenal..." Dengan perkataannya ini, masih ada sesuatu yang si nona sembunyikan. Itulah pesan wanti-wanti dari ibunya supaya alamatnya juga jangan diberitahukan kepada Toan Kui Ciang. Sian Nio tidak dapat memaksa, sedang Kui Ciang berdiam saja. "Lam Tayhiap sudah pergi ke Hoay-yang," kata Leng Song kemudian. "Turut apa yang aku tahu, dia hendak menyampaikan kepada Thio Sunbu dan Kwe Cu Gie tentang komplotan di antara Ong Pek Thong ayah dan anak dengan An Lok San. Dari Hoay-yang, dia mau kembali ke Kiu-goan. Lam Tayhiap minta aku menyampaikan dan menanya kau, peehu, apakah kau suka pergi menemui dia di Kiu-goan atau tidak?" Pertanyaan ini ada baiknya untuk Kui Ciang. Ada alasan untuknya membuka mulut. "Aku memang mau pergi ke Kiu-goan," sahurnya. "Kalau nanti kau sudah bertemu dengan ibumu, andaikata ada sesuatu

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

yang diperlukan dari aku, kau boleh pergi ke Kiu-goan akan mencari aku di sana." Leng Song mengangguk. Sampai disitu, bertiga mereka lantas bekerja, guna menggali tanah, guna mengubur mayatnya Kie Tie. Kui Ciang berduka bukan main menyaksikan kuburannya pengemis jagoan itu, yang tak mestinya terkubur di tempat belukar itu. Selesai mengubur, ketiga orang ini bersama-sama turun gunung. Selagi berjalan, semua berdiam. Mereka merasa hati mereka masing-masing berat sekali. Baru kemudian Touw Sian Nio menarik napas. "Selama beberapa bulan ini," katanya masgul, "Pelbagai urusan yang tak menyenangkan hati datang bersilih ganti, lalu akhirnya kita menjadi rumah hilang dan orang menutup mata... Semua itu mirip dengan impian buruk yang tak pernah tamat!" Kui Ciang merasa sulit menghibur isterinya, tetapi ia paksa tertawa dan kata, "Mungkin itu disebabkan kita sudah merasakan hidup berbahagia sepuluh tahun lamanya, maka Thie-kong sengaja membuat kita merasakan penderitaan..." Leng Song tidak turut bicara. Ia hanya memanggil kuda putihnya, yang terus muncul. "Sampai kita bertemu pula!" katanya seraya lompat atas kudanya, untuk terus kabur dengan menepas airmata... Hari dan bulan berlalu dengan cepat, banyak yang telah berganti rupa. Sejak Ong Pek Thong dan anak-anaknya memukul hancur benteng Hui Houw San, tujuh tahun telah berselang. Selama tujuh tahun ini, banyak perubahan dalam dunia Sungai Telaga. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dengan runtuhnya Keluarga Touw, Keluarga Ong telah menggantikannya. Benar telah terjadi itu kekacauan di lembah Liong Bin Kok dimana rahasianya Keluarga Ong terbuka, hingga kaum Rimba Hijau menjadi terpecah, Ong Pek Thong tetap tercapai cita-citanya menjadi Lok-lim Beng-cu, ketua kaum Rimba Hijau, dan orang Rimba Hijau yang menghamba kepadanya juga berjumlah besar. Maka dalam kalangan Rimba Hijau itu, pengaruhnya menjadi besar sekali, bahkan paling besar. Dengan begitu juga, maka orang telah mulai melupakan kemashuran Touw-kee Ngo-houw, Lima Harimau Keluarga Touw dari gunung Hui Houw San itu. Di kalangan pemerintahan, sebaliknya, Pemerintah Agung nampak makin lemah, sedang pengaruhnya An Lok San bertambah besar, dengan kedudukannya sebagai pembesar dari tiga kota Hoan-yang, Peng-pou dan Hoo-tong, dia seperti sebuah negara yang merdeka sendiri di bagian utara itu. Dia mempunyai tentara dan rangsum yang jumlahnya melebihkan rangsum dan tentara pemerintah. Pada suatu hari di dalam bulan sembilan dari tahun Thian Po ke empat belas dari Kerajaan Tong, di tanah datar di dalam wilayah kota Peng-yang, ada seorang penunggang kuda yang lagi mengaburkan kudanya. Dialah seorang perwira dengan potongan yang disebut "berpinggang beruang dan berpunggung harimau". Inilah tidak heran, sebab dialah Cin Siang, turunan dari Jenderal Cin Siok Poo, salah satu panglima perang yang turut membangun Kerajaan Tong, dan sekarang dialah satu di antara Toa-kho-ciu, orang tergagah, di dalam istana kaisar. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Cin Siang sedang bertugas, dia diperintah mengikut Tiong-su Phang Sin Wie yang diutus Pemerintah Agung untuk menemui An Lok San, guna "menghibur" itu Ciat-touw-su yang sangat besar pengaruhnya, guna membikin hati tenteram. Dia mengaburkan kudanya sebab dia berlalu secara diamdiam dari kota Hoan-yang yang menjadi tempat kedudukannya An Lok San. Dia mau pulang ke kota raja guna menyampaikan laporan kepada pemerintah tentang cita-cita atau aksinya An Lok San untuk menerbitkan huru-hara, buat berontak terhadap Pemerintah Agung. Pada tujuh tahun yang sudah berlalu, Kwe Cu Gie sudah mengajukan laporan rahasia kepada Raja Hian Cong halnya An Lok San lagi bekerja keras "membeli" orang-orang Rimba Hijau serta mengumpulkan kuda dan tentara, untuk persediaannya berontak merobohkan pemerintah, tetapi laporan itu tidak dihiraukan. Raja sedang sangat percaya pada Ciat-touw-su itu yang disayanginya, sedang Yo Kui-hui telah bicara baik perihal panglima di perbatasan itu. Didiamkannya laporan rahasia itu membuatnya An Lok San merdeka dengan persiapannya itu. An Lok San cerdik. Tahun dulu itu dia tidak segera mengangkat senjata disebabkan tiga soal. Pertama-tama persiapannya belum matang. Kedua lantaran siasatnya menggunai tenaga Ong Pek Thong menghadapi rintangan. Dan ketiga, dia telah mendengar selentingan perihal laporan rahasia dari Kwe Cu Gie itu. Maka terpaksa dia terus beraksi bersetia kepada Kaisar Hian Cong, yang diabuinya. Dengan demikian juga, tahun ketemu tahun, pemberontakannya belum dapat diletupkan. Barulah tahun ini dia merasa waktunya sudah tiba buat turun tangan karena tentaranya sudah berjumlah besar dan kepala perangnya http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

banyak. Dia percaya bahwa dialah yang bakal merebut kemenangan. Demikian dengan alasan "mempersembahkan kuda" dia telah menghaturkan suratnya. Dia kata daerah perbatasan tempat bertugasnya itu menjadi tempat yang mengeluarkan kuda pilihan, maka ia sudah memilih tiga ribu ekor lebih dan mempersembahkannya kepada junjungannya yang maha agung. Dia menjelaskan kudanya itu dapat dipakai andaikata Raja mau menyerang ke timur atau menerjang ke barat, sebab setiap, kuda telah diperlengkapi pelana yang dapat memuat dua orang serdadu. Dia kata dia mengutus dua puluh empat Hoan-ciang, perwira suku perbatasan, guna mengantari semua kuda itu, sedang hari keberangkatannya bakal dipilih dan ditetapkan. Karena itu dia minta Raja memerintahkan semua pembesar, yang daerahnya bakal dilalui rombongan kuda itu, bersiap sedia menyambut dan mengatur rumput makanan kuda. Kapan Kaisar Hian Cong menerima surat itu, mau atau tidak, timbul juga kecurigaannya, tak perduli ia sangat percaya panglimanya itu. Ia pikir, kalau seekor kuda dapat membawa dua serdadu, tiga ribu ekor berarti enam ribu serdadu, dan rombongan itu diantar juga dua puluh empat Hoan-ciang, sedang setiap Hoan-ciang mesti ada pengikutnya lagi. Tidakkah jumlahnya semua akan ada kira sepuluh ribu jiwa? Kalau mereka itu dibiarkan memasuki kota Tiang-an, tidakkah mereka membahayakan? Lantas Raja mengadakan sidang. Para menteri menganggap An Lok San harus dicurigai dan tak dapat dipercaya. Mereka kata berbahaya kalau "kudanya" An Lok San itu dibiarkan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

memasuki kota raja. Maka mereka mengusulkan supaya An Lok San ditegur. Walaupun para menteri bersikap demikian rupa, Kaisar Hian Cong bersangsi. Ia masih tak percaya An Lok San benar berniat berontak. Karenanya ia kuaur, kalau An Lok San ditegur, dia jadi tak senang hati dan benar-benar berontak. Kesangsian Raja menyebabkan seorang menteri tua mengusulkan untuk dengan lunak mencegah An Lok San mengirimkan hadiah kudanya itu. Usul itu diterima baik. Maka itu Tiong-su Phang Sin Wie lantas diutus ke Hoan-yang. Dalam firman kepada An Lok San, Raja puji kesetiaan panglirna itu, bahwa ia merasa senang, kemudian dengan manis hadiah ditampik, yaitu katanya kuda itu tak usah dikirim ke kota raja. Sebagai alasan dikemukakan kuda mesti berjalan untuk banyak hari sedang itu waktu permulaan musim rontok, musim panen. Dikatakan baiklah pengiriman ditunda saja sampai lain musim. Phang Sin Wie bersama Cin Siang telah tiba di Hoan-yang. An Lok San gusar sekali. Dari kota raja ia sudah menerima warta rahasia dan mengetahui duduknya hal. Ia tidak mau keluar menyambut utusan kaisar, dan ketika Phang Sin Wie membacakan firman, ia juga tidak mau menjalankan kehormatan dengan bertekuk lutut, bahkan dia duduk agungagungan di atas pembaringannya, sebuah pembaringan model pembaringan orang Ouw (Tartar). Setelah firman dibacakan, berulang kali dia tertawa dingin, dengan roman murka dia kata, "Aku dengar kabar Yo Kui-hui di dalam keraton belajar menunggang kuda, aku pikir Raja menggemari kuda, aku di sini mempunyai banyak kuda pilihan, maka mau aku mempersembahkannya. Kalau begini bunyi firman, baiklah, tak apa aku tidak mempersembahkan!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Phang Sin Wie melihat pasukan pengiringnya An Lok San teratur rapi, tak mau ia membantah. An Lok San memberi tempat beristirahat pada utusan itu, tapi ia memperlakukannya tawar sekali. Lewat beberapa hari, Phang Sin Wie mau pulang ke kota raja, ia mohon menghadap An Lok San, ia menanya ada surat balasan atau tidak. Atas itu An Lok San kata, "Firman menyebut lain musim, itu artinya sampai bulan sepuluh, sekalipun aku tidak mempersembahkan kuda, aku sendiri bakal datang ke kota raja untuk melihat pemerintahan, dari itu, buat apa aku memberi balasan? Bahkan kau sendiri, tak usah kau kesusu pulang, kau tunggu saja sampai bulan sepuluh, nanti kita berangkat bersama-sama!" Phang Sin Wie tidak berani banyak omong. Ia tahu pasti An Lok San benar mau berontak. Sekembalinya ke gedung penginapannya, ia lantas berdamai dengan Cin Siang. Ia minta Cin Siang lekas pulang guna memberi kisikan pada raja, supaya raja siap sedia. Cin Siang gagah, dia dirintangi oleh orang-orangnya An Lok San tetapi dia lolos. Demikian dia kabur dari kota Hoan-yang, siang dan malam, dan besokannya tengah hari, dia sudah meninggalkan kota seratus lie lebih. Karena itu, meski kudanya jempol, kuda itu toh sangat letih dan mulurnya berbusa. Terpaksa dia mau singgah, supaya kudanya bisa mengaso, makan rumput dan minum. Itu waktu Cin Siang berada di kaki gunung. Tiba-tiba dia dipegat serombongan pasukan berkuda, yang muncul dari tikungan gunung. Mereka itu memegat sambil meminta uang cukai jalan. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Jalan gunung ini kami yang buka! Pohon-pohon di sini kami yang tanam! Siapa mau lewat di sini, dia mesti membayar sewa jalan!" demikian katanya. Cin Siang gusar hingga dia berseru, "Bapak kamu she Cin ini justeru kakek moyang berandal! Kamu kawanan kurcaci tak tahu nol putul, kamu berani memegat kau?" Terus dia gunakan sepasang ruyung kim-cong-gan menyerbu kawanan pemegat itu. Sepasang senjata itu ada senjata turunan, beratnya enam puluh empat kati. Dulu hari Cin Siong alias Siok Po, leluhurnya telah menggunakan senjata itu membantu Lie Sie Bin membasmi delapan belas raja-raja muda hingga akhirnya bangunkan Kerajaan Tong. Sekarang Cin Siang menggunainya melabrak hebat pada kawanan perintangnya ini! Dari dalam pasukan berandal dengan mendadak muncul dua orang penunggang kuda yang bersamaan romannya, yang usianya masing-masing usia pertengahan. Mereka itu mencekal golok masing-masing di tangan kiri dan tangan kanan. Dengan lantas mereka mengepung kepada Cin Siang dan serangannya hebat sekali, sebab dua batang golok mereka merupakan sebagai segelempang bianglala! Cin Siang terperanjat. Ia lantas merasa bahwa ia lagi berhadapan bukan dengan sembarang penjahat. Tapi ia tidak takut, bahkan ia menyambut mereka dengan seruannya, "Bagus!" Sepasang ruyung sudah lantas bekerja menangkis serangan dahsyat itu. Dua tenaga baru itu ialah dua saudara she Cio yang terjuluk Im-yang-to atau golok "Im Yang". Keduanya menjadi sebawahan yang diandalkan Ong Pek Thong karena ilmu golok http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mereka yang luar^ biasa. Mereka selalu berkelahi berdua, disebabkan senjata mereka yang dicekal dengan tangan kiri dan kanan masing-masing. Cin Siang tidak mau mengasih hati walaupun orang liehay. Ia ingin lekas-lekas mengundurkan musuh. Baru beberapa jurus, mendadak ia menangkis hebat dengan sepasang ruyungnya. Dua kali beruntun terdengar bentrokan keras, lalu goloknya Cio It Liong kena dibikin terbang, disusul dengan mentalnya golok Cio It Houw! Justeru itu ada terdengar suara panah nyaring. Untuk kaum Rimba Hijau, itulah isyarat untuk menghentikan pertempuran, tetapi untuk peperangan resmi, itu dapat diartikan sebagai perbuatan menghina. Cin Siang tidak senang, ia menangkis panah itu, membuatnya terpental, hanya berbareng dengan itu ia merupakan jemparing bertenaga besar sekali. Segera juga muncul si pelepas panah, seorang penunggang kuda lainnya. Dialah seorang pemuda yang tampan dan gagah romannya. Karena dialah Ong Liong Kek, anaknya Ong Pek Thong. Liong Kek pandai ilmu totok, senjatanya yang biasa ialah sepasang thie-san-ie atau kipas besi, akan tetapi senjata pendek itu tak leluasa dipakai dalam pertempuran sambil menunggang kuda, maka ia tukar itu dengan sepasang poankoan-pit, gegaman semacam alat tulis yang istimewa, ialah empat kaki lebih panjangnya, sedang yang umum ialah enam kaki delapan dim. "Tuan!" Liong Kek menyapa setelah dia datang dekat, "Didalam pasukan pemerintah ada perwira segagah kau, itulah hal yang langka! Tuan, mengapa kau kesudian menjual jiwamu http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kepada negara? Lebih baik tuan turut kami menjadi Raja Gunung, untuk kita hidup merdeka! Tidakkah itu bagus?" "Bangsat cilik, angin busuk!" Cin Siang membentak, seraya dengan Kim-cong-gan, ruyungnya, ia lantas menyerang. Liong Kek waspada. Ia berkelit dengan sebat. Tubuhnya berguling, untuk berputaran pada perut kudanya. Itulah tipu silat "Kim-lie Coan-po," atau "Ikan gabus menembus gelombang". Kedua kakinya dengan liehay menyantel pada pelananya. Cin Siang ingat perjalanannya. Begitu serangannya itu gagal, ia mengedul tali lesnya dan kedua kakinya menjepit perut kudanya, untuk membikin kuda itu berlompat kabur. Akan tetapi baru kudanya memutar kepala, lawannya sudah lompat menyusul untuk naik di punggung kudanya itu. Liehay si anak muda, ia berlompat dengan menggunai tipu lompat "It-ho Ciong-thian," atau "Burung jenjang terbang ke langit". Sambil berlompat itu, ia juga menyerang dengan alat totoknya. Cin Siang menangkis tetapi jgagal, orang sudah bercokol di punggung kudanya. Ia terkejut, lebih-lebih sebab dengan senjatanya yang berat enam puluh empat kati itu, sulit untuk bertempur rapat. Ong Liong Kek tidak mensia-siakan waktunya yang baik itu. Segera dia menotok. Cin Siang tidak dapat menangkis, ia berkelit, akan tetapi poan-koan-pit sudah mendahului mengenai dadanya hingga terdengar satu suara nyaring. Ia tidak roboh atau terluka, sebab ia memakai baju lapis lunak, sedang totokan itu kurang tepat. Maka itu cuma baju perangnya yang pecah.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Cin Siang menjadi sangat gusar. Ingin ia membikin pembalasan. Dengan sebat ia menancap ruyungnya di sela pelananya, setelah itu sambil berseru keras, "Pergilah kau!" Ia menyamber kepada musuhnya itu, menyamber ikat pinggangnya, untuk terus mengangkat tubuh dia itu! Liong Kek kaget sekali. Itulah kejadian yang ia mimpikan pun tidak. Tidak disangka sekali orang berani melepaskan senjatanya, untuk sebaliknya menggunai tangan kosong! Bukankah tadi bersenjata dia seperti tak berdaya? Kenapa dia berani berlaku demikian berani? Maka ia lantas menyerang, sepasang pirnya ditotokkan ke jalan darah kin-ceng kiri dan kanan. Hanya baru ia menotok, tubuhnya sudah kena diangkat. Cin Siang tersohor untuk tenaganya yang besar luar biasa. Ketika si anak muda kena diangkat, ia merasakan sangat nyeri sampai ke ulu hatinya, hingga lenyaplah tenaga perlawanannya. Benar kedua senjatanya menotok lepat akan tetapi tidak ada hasilnya, bahkan kedua tangannya terpaksa diturunkan sendirinya. Dua saudara Cio menjadi sangat kaget, tetapi mereka masih ingat mengeprak kuda mereka dengan niatnya menolong! Tapi mereka terlebih kaget lagi. Mereka mendengar Liong Kek menjerit mengeluh dan rubuhnya diangkat bagaikan badan ayam yang enteng, karena tubuh jago muda itu dapat dibulang-balingkan, diputar seperti titiran. Cin Siang berseru, "Dengan membinasakan bangsat cilik ini cuma-cuma mengotorkan tanganku!" Lantas ia melepaskan cekalannya, membikin tubuh orang terlempar pergi. Kuda Cin Siang kuda yang terlatih baik, yang telah sering maju di medan perang. Sebenarnya kuda itu sudah letih sekali, http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

akan tetapi menghadapi saat-saat yang berbahaya, dia dapat bertindak tepat. Begitulah dia meringkik keras, dia mengangkat keempat kakinya, buat berlompat untuk terus lari menerjang kurungan. Dengan menerbitkan suara menderum, dari terdengar suaranya anak-anak panah menyamber. belakang

Cin Siang berseru pula. Ia menancap pula senjatanya, yang ia sudah cabut buat dipakai menerjang musuh, dengan tangan kosong, ia menyambuti dua batang jemparing, untuk ditimpukkan dengan keras. Celaka dua tauwbak yang mengejar, yang melepaskan panah itu, tak sempat mereka menangkis atau berkelit, anak-anak panah itu sudah kembali dan menancap di tubuhnya masingmasing, maka dengan satu teriakan hebat, keduanya roboh terguling dengan jiwanya melayang dalam sekejap. Kejadian tersebut membuat sekalian liauwlo menghentikan pengejaran mereka. Sementara itu, Liong Kek tidak roboh binasa atau terluka. Selagi dilemparkan, ia meneruskan bergerak untuk jumpalitan, maka ia turun di tanah dengan tidak kurang suatu apa. "Orang she Cin!" ia kata, tertawa dingin. "Hendak aku lihat, berapa jauh kau dapat menyingkir dari sini? Anak-anak, jangan perdulikan dia!" Cin Siang heran. Ia mau menyangka orang menggertak padanya. Ia pikir, "Coba aku tidak mau lekas kembali ke kota raja, mesti aku ajar adat kepadamu..." Maka ia lari terus. Sebentar saja sudah kabur belasan lie. Di sini kudanya lantas lari perlahan dengan napasnya mengorong.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Syukur ada kau, kudaku!" kata Cin Siang sambil mengusapusap leher kudanya itu. Kemudian ia berpikir pula, "Aku bukannya opsir yang mengantar rangsum, buat apa kawanan berandal itu memegat aku? Ah, aku mengerti sekarang! Telah lama aku mendengar kabar An Lok San berkongkol dengan Rimba Hijau, mungkin inilah rombongan konconya itu..." Selagi memikir begitu, Touw-ut ini mendengar suara teguran yang nyaring tapi halus, "Cin Tayjin, meski kau tidak letih, kudamu tentu sudah capai sekali! Silahkan kau turun untuk beristirahat dulu!" Dengan terkejut Cin Siang menoleh, maka ia melihat seorang nona yang cantik muncul di hadapannya, melintang di tengah jalan. Di belakang nona itu ada rombongannya, semua liauwlo wanita, jumlahnya belasan, dan mereka itu membawa sehelai bendera sulam air emas yang merupakan seekor burung walet. Rombongan itu memernahkan diri sebagai perintang. "Kau bikin apa?" tanya Touw-ut ini heran. "Apakah kamu juga, nona-nona, melakukan pekerjaan Jalan Hitam yang tidak memakai modal?" Nona itu sangat cantik, maka itu meski Cin Siang menduga dia terang tak bermaksud baik, ia menyaksikan merekalah kawanan berandal. Karena itu ia mengajukan pertanyaannya itu. Si nona tertawa. "Cin Tayjin, nyatalah kau memandang sangat enteng kepada kami!" katanya. "Apakah kau kira pekerjaan Jalan Hitam tanpa modal itu cuma pekerjaan bangsa pria? Tapi janganlah kau takut! Aku tidak menghendaki jiwamu, aku melainkan memikir mengundang kau datang ke tempat kami, untuk berdiam buat http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

beberapa hari! Kau sudah melakukan perjalanan cepat dan jauh sekali, sudah selayaknya kau singgah untuk beristirahat!" "Aku tidak mempunyai tempo luang untuk dilewatkan bersama kamu!" Cin Siang menjawab. "Maka itu lekaslah kau membuka jalan untukku!" -ooo0dw0oooJilid 13 Seorang serdadu wanita itu tertawa. "Kau berani sekali!" katanya. "Nona kami mengundang kau menjadi tetamu kami, kenapa kau tidak tahu salatan?" Tak sudi Cin Siang melayani orang perempuan, ia menahan sabar. "Kita tidak begini baik perjalananku kau memberi kenal satu dengan lain, aku bersyukur yang kamu hati," ia kata. "Tapi aku perlu melanjuti sebab aku mempunyai urusan penting! Tolong aku lewat!"

Si nona, yang sedari tadi mengawasi saja, mendadak tertawa. "Cin Tayjin," ia berkata, "Menurut perkataan kau ini, kau jadinya seperti si orang yang diberi selamat dengan arak sudah menampik tetapi sebaliknya kau meminta arak dendaan! Apakah kau tahu aturan kami kaum Rimba Hijau?" Cin Siang mementang sepasang matanya. "Apakah katamu?" dia menegas. "Kau sungkan menjadi tetamu kami," kata si nona, "Karena itu terpaksa kami harus memandang kau sebagai kambing http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kami! Kau harus ditangkap untuk dijadikan bingkisan untuk kami!" Cin Siang mendongkol berbareng merasa lucu. Maka ia tertawa berkakak. "Jadi kau juga belajar memberandal?" tanyanya. "Apakah kau tahu bahwa aku baru saja keluar dari dalam barisan berandal? Kau baik ketahui sepasang senjataku ini, kesatu tidak menghajar orang yang tidak punya nama dan kedua tidak melayani kaum wanita! Aku beri ingat kepada kamu baiklah kamu bubaran saja!" Nona itu tidak menjawab, ia juga tidak membilang suatu apa, hanya dari seorang prajuritnya ia menyambuti sebatang busur lengkap, untuk dengan itu mendadak dia memanah kudanya si perwira. Cin Siang terperanjat, akan tetapi ia masih keburu menyampok anak panah. Karena itu, ia kembali menjadi terkejut. Kali ini disebabkan ia merasa jemparing itu bertenaga besar. Inilah diluar dugaannya. Kudanya lompat berjingkrak disebabkan jemparing melesat ke kakinya! Ia lompat turun dari kuda yang ia sayang itu, sambil menepuk-nepuk ia kata, "Kudaku, kudaku, pergilah kau ke depan! Di sana kau tunggui aku!" Kuda itu benar-benar mengerti, dia terus lari menuju ke jalanan samping mereka. Barisan si nona pun bekerja sangat sebat, mendadak mereka menggunai empat buah gaetan, kuda itu lantas tergaet roboh, sedang seorang nona menyamber lesnya, hingga dia lantas kena ditarik. "Itulah kuda jempolan!" berkata si nona tertawa. "Baikbaiklah rawat lukanya!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kemudian ia menoleh kepada Cin Siang, untuk berkata sambil tertawa terkekeh, "Cin Tayjin, kudamu ini kuda jempolan, cuma masih ada kekurangannya! Dan itu sepasang kim-gan, yang mengkilat kuning, pasti itu terbuatnya dari emas perada dan beratnya mungkin seratus kati, itulah tentu besar harganya! Sekarang begini saja, kuda itu ditambah kim-gan itu, senjatamu itu, cukup untuk memberi muka padamu, maka kau tinggallah, silahkan kau pergi!" Cin Siang gusar bukan main. "Jikalau kau masih ngoceh saja, awas, aku tak akan sungkan-sungkan lagi!" katanya sengit. Si nona tertawa. "Apakah sekarang kau suka menempur kami bangsa perempuan?" ia tanya. "Baiklah! Asal kau dapat menangkan pedangku ini, akan aku memberi kemerdekaan padamu untuk lewat di sini dan kudamu juga akan aku bayar pulang!" Cin Siang mendongkol bukan main. Ia lantas menghajar sebuah pohon di sisi jalan, hingga pohon itu patah dan roboh. "Nona, lihatlah biar tegas," ia kata. "Kau lihat senjataku bukan senjata main-main! Apakah benar kau hendak menempur aku satu sama satu?" Si nona bersenyum. "Telah aku melihat tegas!" sahutnya. "Cuma harus kau ingat, pohon itu pohon mati dan manusia ialah manusia hidup! Aku tidak percaya senjatamu itu dapat melukakan aku! Disebelah itu aku tahu baik sekali bahwa pedangku ini pedang yang tak dapat dibuat permainan!" Cin Siang menjadi kewalahan. "Baik!" katanya. "Karena kau bicara besar, kau majulah!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Si nona dengan sabar merapihkan ikat pinggangnya, lalu mendadak ia memutar pedangnya sambil berseru, "Kau sambutlah!" Lantas juga ia menyerang, membabat lengan orang! Cin Siang percaya si nona liehay hanya ia tidak menyangka orang dapat melayaninya, karena itu ia merasa berkasihan dan ia berkuatir nanti melukai orang, maka ketika ia menangkis, ia menggunai tenaga tiga bagian. Kesudahan sikap berkasihannya itu, ia menjadi kaget sekali, nyata si nona liehay. Dia menyerang untuk menggertak saja, ketika dia menarik pedangnya, yang mental tertangkis, dengan tiba-tiba dia meneruskan itu untuk menyerang dada lawan dimana ada jalan darah soan-kie. Dalam kaget bukan main, Cin Siang masih sempat membela diri. Ia melengat dengan tipu silat, "Tiat-poan-kio" atau "Jembatan besi" Ia dapat bergerak dengan sebat hingga ujung pedang lewat di atasan mukanya sedikit. Lalu, sebelum si nona sempat menyerang pula, lekas-lekas ia berdiri tegak, untuk melakukan serangan membalas dengan sepasang ruyungnya. Meski begitu, ia masih tak sudi membinasakan si nona, maka ia menyerang ke arah senjatanya nona itu dengan keinginan membikin senjata itu terlepas dan jatuh. "Sungguh liehay!" si nona berseru seraya ia menggunai tipu huruf "Lolos". Ketika pedangnya nempel dengan ruyung lawan, ia menariknya pulang dengan tubuhnya lompat melejit. Bahkan ruyung kanan si Touw-ut mengenai tempat kosong, hingga tubuhnya meluncur sedikit ke depan! Si nona tidak berhenti setelah ia bebas itu. ia segera melakukan pembalasan!

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sampai disitu, Cin Siang tidak berani memandang ringan kepada lawannya ini. Ia mendapat kenyataan orang gesit luar biasa dan tenaga dalamnya pun mahir. Karena ini, ia menjadi berlaku sungguh-sungguh. Sepasang kim-gan digeraki hingga berkilauan dan suara anginnya menderu-deru. Si nona tidak menajdi jeri meskipun ia dilawan keras. Ia tertawa dan berkata, "Cin Tayjin, bukankah sepasang ruyungmu ini diperantikan menghajar bangsa orang gagah? Hari ini kau memberi pengajaran kepadaku, aku jadi sangat girang dan bersyukur sekali terhadapmu!" Itulah melulu kata-kata untuk memperolok-olok. Sembari bergurau itu, si nona tapinya tidak beralpa. Dengan liehay ia menggunai pedangnya. Muka Cin Siang menjadi merah sendirinya. Orang telah menyindir kepadanya. Ia pun mendongkol karena hampir saja iganya kena tertikam ketika si nona merabuh ke kiri dan kanan, untuk mempermainkannya. "Bangsat licik!" ia berteriak saking mendongkol. Ia menyerang dengan pukulan "Heng-in Toan-hong," atau "Awan melintang memutus puncak". Ia menggunai sepasang ruyungnya. Ia sampai melupai sang lawan ialah seorang wanita - seorang nona! Nona itu cerdik. Ia tahu bahaya, ia tidak mau menangkis. Ia berkelit. Kembali ia melawan dengan menggunai kelincahannya. Sia-sia belaka Cin Siang berlaku keras. Ia tetap tidak berhasil menghajar si nona. Hanya, disamping itu, walaupun ia gesit, si nona sebaliknya tak dapat merapatkan lawan yang tangguh itu. Inilah sebab ilmu pedangnya itu belum mencapai puncak kemahiran, dia masih belum sempurna latihannya. Demikian mereka nampak sama unggul. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ketika Cin Siang kabur dari Hoan-yang, dia lebih banyak mengambil jalan sawah atau belukar, yang sukar dilaLuinya, sekarang dia berkelahi begini keras, tenaganya keluar banyak sekali. Lama-lama dia merasa letih juga. Disebabkan penjagaannya yang rapat, si nona belum dapat menggunai kesempatannya guna balik mendesak. Tengah mereka itu berkutat, dari kejauhan terdengar riuh suara kaki kuda berlari-lari dan berisiknya suara kelenengannya. Cin Siang dapat mendengar suara itu, ia mengambil kesempatan buat menoleh sebentar. Lantas- saja ia mengeluh di dalam hatinya. Di sana mendatangi rombongan tentara berandal, ialah rombongan yang tadi dilabrak! Ong Liong Kek, yang menunggang kuda, tertawa lebar. "Orang she Cin!" teriaknya. "Apa aku bilang? Tak dapat kau lolos! Sekarang kau tak dapat membilang apa-apa lagi, bukan? Ha, ha, ha!" Lalu sambil mengangkat sepasang poan-koan-pitnya, ia berseru, "Adik Yan, inilah bukan saat orang bertanding mengadu kepandaian! Buat apa kau mensia-siakan tempo melawannya? Ah, buat apakah gaetan kamu itu? Hayo, lekas kamu bantui nona kamu! Lekas kamu bekuk musuh!" Kata-kata yang belakangan itu ditujukan kepada barisan wanita. Memang nona itu adiknya Ong Liong Kek, yaitu Nona Ong Yan Lie. Barisan wanita itu tidak berani bergerak tanpa ada perintah nonanya, tetapi sekarang si majikan muda, tak berani mereka tidak menurut. Maka dengan lantas semuanya bekerja. Begitulah mereka maju dengan belasan gaetan mereka, mengarah kakinya si Touw-ut. Ong Liong Kek sendiri sudah lantas tiba, maka ia menyerbu guna membantui adiknya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Barisan wanita itu sudah terdidik baik, hebat mereka menyerang dengan gaetan mereka, senjata yang panjang dan bercagak itu. Mereka mengurung dari jauh dan menyerang setiap lowongan, semua serangannya dengan beraturan. Cin Siang mendongkol dan penasaran. Ia lantas menyerang dengan tendangan berantai "Cin-pou Wan-yoh Lian-hoan-twie". Ia berhasil menendang mental dua buah gaetan, atau yang ketiga menyantel betisnya. Masih ia dapat berlaku sebat, sebelum kakinya ditarik, ia berseru nyaring smabil menggempur hingga gagang gaetan patah. Si liauwlo wanita, yang menggaetnya, kaget, hingga dia menjadi kena tergertak dan kalah sebat. Lama-lama Cin Siang menjadi letih. Dikurung terus menerus, ia tidak mempunyai kesempatan untuk membuang napas, guna mendapat sedikit ketika beristirahat. Di depannya ada Ong Yang Ie yang gesit dan Liong Kek yang merupakan satu tenaga baru. Repot ia melayani desakan mereka, lebih repot lagi karena gaetan menyamber-nyamber tak hentinya, sedikit ayal saja, ia bisa mendapat susah. Satu kali Poan-koan-pit Liong Kek mengenai sasarannya, hingga baju si Touw-ut menjadi pecah dan robek. Syukur ia memakai baju lapis baja, kalau tidak, siang-siang ia sudah tertotok roboh. Ia tidak manda ditotok itu, selagi tertotok, ia menggempur senjata lawannya. Liong Kek terkejut. Tangannya mental dan telapakannya nyeri dan sesemutan. Cin Siang menggunai ketikanya yang baik itu. Memang ia telah melihat, di antara dua lawannya itu si nona, atau adik, jauh terlebih gagah dari si pria, sang kakak, maka itu, ia memasang mata kepada si pria, untuk didesak, guna lebih dulu http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

merobohkan musuh pria ini. Ia percaya, asal Liong Kek mundur atau roboh, ia akan bisa lompat guna meloloskan diri. Demikian datang saatnya itu, habis ditotok, ia menggempur Poan-koan-pit si lawan. Inilah satu ketika yang baik. Apa mau, justeru ia menggempur Liong Kek, justeru ia membuat lowongan. Yan Ie yang matanya celi melihat itu, lantas si nona tidak mensia-siakan ketikanya, dia terus saja menikam. Cin Siang terperanjat, ia kesakitan. Serangan si nona mengenai lengannya bagian atas, hingga baju lapisnya kena tertusuk, hingga ia lantas mengucurkan darah. Ia terperanjat berbareng gusar. Sambil berseru, ia menyerang hebat dengan sebelah ruyungnya. Liong Kek yang menjadi sasaran. Tapi Liong Kek waspada, dapat ia berkelit, membarengi mana, ia juga membalas menyerang. Kedua senjatanya tepat mengenai pundak Touw-ut itu, di betulan jalan darah kin-ceng. Cin Siang kaget bukan main. Sejenak itu, lenyap tenaga di sebelah lengannya itu. Liong Kek melihat itu, dia tertawa lebar. "Orang she Cin, kematianmu sudah ada di depan matamu, apakah kau masih hendak berlaku kosen?" ejeknya. "Lekas kau lemparkan sepasang ruyungmu, lantas kau berlutut dan mengangguk hingga kepalamu mengeluarkan suara nyaring, dengan begitu mungkin aku akan memberi ampun kepadamu!" Puteranya Ong Pek Thong menghina untuk membalas dendamnya karena tadi ia kena dicekuk dan dilempar musuh itu, kalau ia tidak sebat dan pandai berjumpalitan, pasti ia terbinasa atau sedikitnya terluka parah. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Cin Siang berludah. Ia gusar sekali. Ia kata nyaring, "Akulah si harimau dari tanah datar, aku tetap seekor harimau yang galak! Kau bangsa anjing, kau berani menghina aku?" Kata-kata keras itu diikuti dengan serangan berantai. Walaupun tenaganya sudah berkurang, Touw-ut ini tetap gagah, sikapnya pun berpengaruh. Liong Kek muda tetapi ia sudah tersohor dalam Rimba Hijau, tidak urung ia terkejut juga. Ia tidak menyangka musuh masih begini gagah. Tanpa merasa ia mundur dua tindak. Yan Ie melihat kakaknya itu terpukul mundur, ia kata dengan tenang, "Engko, buat apa engko mengadu jiwa dengan dia? Dialah yang telah menjadi binatang di dalam kurungan!" Liong Kek menenangkan diri. "Kau benar, adik!" ia menjawab. "Baiklah kita menanti sampai otot-ototnya lemah dan tenaganya habis, nanti perlahan-lahan kita bekuk dan bunuh padanya...!" Lantas dua saudara ini maju pula untuk mengurung dengan selalu berlompatan berputaran, di dalam hal mana mereka tetap dibantu barisan wanita yang menggunai gaetan panjang itu, hingga Cin Siang terus kena dikurung. Segera juga Touw-ut itu merasakan sulit sekali. Tak dapat ia membuka jalan untuk menyingkirkan diri. Karena terkurung terus, ia mendapat luka-luka di kaki dan tangan, hingga darahnya membasahi baju lapisnya. Baju luarnya sendiri sudah robek disana-sini. Ia sulit tetapi ia tidak takut, bahkan ia menjadi nekad. Tak sudi ia menyerah kalah, terus ia melawan sebisa-bisanya. Di saat Touw-ut itu terancam bahaya, orang semua mendapat dengar suara kuda lagi mendatangi dengan keras. Sin Siang menyangka kepada bala bantuan musuh. Ia tetap http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tidak jeri, untuknya, musuh bertambah atau berkurang, tidak menjadi soal, tak ia pikirkan lagi. Tetapi ia berdaya, guna menoblos kurungan. »< Tiba-tiba kurungan musuh menjadi kurang rapatnya. Di antara mereka terdengar teriakan-teriakan. Di situ terlihat seorang penunggang kuda yang muda. Selagi mendatangi, dia berseru, "Kawanan berandal she Ong, apakah kamu masih mengenali aku?" Begitu datang dekat, dia mengayun sebelah tangannya. Maka terlihatlah satu sinar putih dan terang, menyusul mana terdengar satu suara nyaring dari patahnya tiang bendera burung walet sulam Yan Ie. Patahnya tiang bendera menjadi satu soal yang hebat. Itulah pantangan atau tabu. Maka juga Ong Yan Ie lantas menjadi sangat gusar, shingga dia membentak sekeras-kerasnya, "Celaka duabelas! Apakah kau sudah dahar hati serigala atau jantung macan tutul maka kau berani menentang datuk?" Ketika itu dua saudara Cio sudah maju ke muka, guna memegat si anak muda. Anak muda itu tidak mau bertempur di atas kuda, dia lompat turun dari binatangan tunggangannya itu, sembari maju, dia berteriak berulang-ulang, "Minggir! Minggir! Suruh pemimpinmu datang kemari!" Dua saudara Cio tidak takut, bahkan sebaliknya, mereka memandang enteng kepada orang yang usianya masih muda itu. Sembari tertawa mereka kata, "Jangan kau bicara besar! Sebentar, setelah kau berhasil merampas sepasang golok kami, baru kau buka pula mulutmu lebar-lebar! Apakah kau masih belum mau mundur?"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lantas dua saudara itu maju berbareng, membacok dengan golok mereka, sasaran mereka sama yaitu pinggang, tetapi datangnya senjata mereka masing-masing, satu dari kiri dengan tangan kiri, satu pula dari kanan dengan tangan kanan. Itulah dia bacokan "Im-yang-to," atau golok "Im Yang". Itu pula bacokan yang liehay sekali. Sudah banyak orang gagah yang roboh di tangannya dua saudara itu - Cio It Liong dan Cio It Houw. Mereka menggunai masing-masing tangan kiri dan kanan, hingga tubuh mereka seperti merupakan hanya sebuah tubuh. Si anak muda gesit sekali, belum berhenti suaranya dua saudara itu, dia sudah menyerang dengan pedangnya. Dia membulang-balingkan pedangnya hingga dia berhasil membikin mental goloknya Cio It Liong, hingga It Liong menjadi terkejut. Baru sekarang It Liong melihat tegas si anak muda. "Kau... Tiat... Tiat Siauw-cecu?" teriaknya kaget. "Tak salah!" sahut si anak muda, bengis. "Kamulah dua bangsat yang suka merendahkan diri kamu! Apakah tetap kamu masih kesudian menjadi gundalnya si bangsat she Ong?" Mulutnya pemuda itu, ialah Tiat Mo Lek, menegur hebat, tangannya tak berhenti bekerja. Dengan bengis ia menyerang dua saudara itu. Pula aneh serangannya, hingga It Liong dan It Houw menjadi bingung. Belum pernah mereka melihat ilmu pedang semacam itu. Terpaksa mereka main mundur saja. Yan Ie memburu ke arah kedua saudara Cio, mengenali si anak muda, dia kata nyaring, "Aku kira siapa, kiranya kau, Tiat Mo Lek! Apakah kau sudah tidak ingat budiku dahulu hari yang telah tidak membunuhmu? Mengapa sekarang kau merusak benderaku? Apakah maksudmu?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sesudah lewat tujuh tahun, Tiat Mo Lek telah menjadi seorang pemuda yang romannya gagah dan tampan, maka juga di dalam hatinya, Nona Ong berkata, "Tidak disangka si hitam legam ini sekarang menjadi semakin tampan..." Tiat Mo Lek menunjuki kegusarannya. "Di antara aku dengan kau ada permusuhan yang besar laksana lautan!" katanya nyaring juga. "Aku tidak cuma hendak merusak benderamu ini! Hm! Hm!" Mendengar demikian, bukannya dia gusar, Yan Ie justeru tertawa. "Habis kau mau apa lagi?" tanyanya. "Apakah kau masih hendak mengambil kepalaku yang berada di batang leherku ini?" Kedua matanya Mo Lek mendelik. "Benar!" sahutnya, berseru. Dan lantas ia menyerang si nona dengan tipu silatnya "Lie Kong Sia-cio," atau "Lie Kong memanah batu," senjatanya meluncur ke dada si nona cantik. Ong Yan Ie tertawa pula. "Bukankah permusuhan itu harus dibuyarkan dan bukannya diperhebat?" katanya manis. "Kenapa kau jadi begini galak?" Tapi si nona tidak cuma bicara saja, ia melintangi pedangnya menangkis serangan itu, hingga senjata mereka beradu nyaring dua kali, karena dua kali Mo Lek menyerang saling susul. Bentrokan itu membuat Yan Ie terperanjat. Tangannya tergempur hingga kesemutan. Tahulah ia sekarang Tiat Mo Lek yang sekarang bukan Tiat Mo Lek yang dahulu. Entah ilmu pedang pemuda itu, yang terang ialah tenaganya menjadi tambah besar sekali, tenaga itu sudah jauh melampaui http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

tenaganya sendiri. Oleh karena itu, segera ia menjadi tidak berani berlaku alpa. Ketika itu Cin Siang mendapat napas. Perginya Ong Yan Ie membuatnya mendapat ketika, tak perduli ia tetap dikurung Ong Liong Kek bersama rombongannya. Begitulah ketika satu kali ia berseru, ia membikin seorang tauwbak roboh terguling dengan kepala pecah dan polo belarakan! Kagetnya Liong Kek tak terkira. Tak disangka meskipun sudah lelah, musuhnya itu masih demikian tangguh, la pun tidak dikasih ketika untuk berpikir, ia lantas diserang Touw-ut itu, yang berani merangsak kepadanya. Ia tidak berani menangkis, dengan sebat ia berkelit. Cin Siang menggunai ketikanya yang baik ini. Ia tidak menerjang lebih jauh pada musuh hanya membuka jalan untuk nerobos keluar dari kurungan, sambil melepaskan diri itu ia teriaki Tiat Mo Lek, "Congsu, mari kita pergi!" Mo Lek dapat mendengar ajakan itu, ia lantas memberikan jawabannya, "Pergilah kau sambil jalanmu sendiri! Aku hendak membasmi dulu kawanan berandal ini, baru aku mau pergi!" Cin Siang membiarkan pemuda itu, ia berlalu dengan terpaksa. Ia tidak berani berkelahi terus karena lukanya parah, hingga ia cuma dapat menggunai sebelah tangannya, hingga tak dapat ia berkelahi terlebih lama pula. Urusannya pun sangat penting, tak dapat ia melalaikannya disebabkan urusan Rimba Persilatan. Begitulah ia berlalu seorang diri. Kawanan berandal lantas berteriak-teriak, berniat memegat. Kudanya Ong Liong Kek lari maju. Kuda itu seekor kuda yang telah berpengalaman di medan perang.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Marilah kamu!" bentak Cin Siang sambil dia lompat kepada kuda itu, untuk disamber, lalu dengan sebelah tangannya itu ia menarik dan menekan. Tak ampun lagi binatang itu mendekam. Cin Siang lompat naik ke punggung kuda itu, tetapi binatang itu tidak mau lantas bergerak lari. "Bagus, ya!" bentak si Touw-ut. "Kau tidak mau dengar perintahku!" Sambil berkata begitu, Cin Siang menjambak ke belakang, menjambak kempolan kuda, atas mana lima jerijinya yang kuat membikin kempolan itu terluka dan mengeluarkan darah. Saking nyerinya, binatang itu meringkik keras, keempat kakinya lantas bergerak, membawanya lari. Dari atas kudanya, selagi kuda itu kabur, Cin Siang menanya keras, "Congsu, apakah she Congsu?" Tiat Mo Lek, yang dipanggil Congsu itu - orang gagah menjawab, "Aku Tiat Mo Lek dari Hui Houw San!" Cin Siang lantas perkenalkan diri, "Aku Liong Kie Touw-ut Cin Siang! Tiat Siauw-enghiong, budi pertolonganmu ini dibelakang hari saja aku membalasnya!" Sembari berkata begitu, ia mengeprak kudanya buat dikaburkan lebih keras. Mo Lek tidak tahu Cin Siang menjadi turunan Cin Kiong alias Siok Po, ia tertawa dalam hatinya dan berpikir, "Sungguh tidak aku sangka aku telah menolongi seorang perwira pemerintah!" Meski begitu, ia tidak memperlambat pertempurannya. Kawanan berandal masih berseru-seru, atas mana Liong Kek kata pada mereka, "Sudah, jangan perdulikan itu pembesar anjing! Lebih baik kita bekuk saja ini bangsat cilik!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dengan kata-katanya itu dia pun hendak melindungi mukanya sebab sebenarnya dia jeri terhadap Cin Siang yang gagah itu. Di sebelah itu, ia ingin menyingkirkan Mo Lek, yang dia anggap sebagai musuh besarnya. Pada tujuh tahun yang lampau Tiat Mo Lek turut Lam Ce In ke Hoay-yang dimana ia diterima menjadi muridnya Mo Keng Lojin. Ia menjadi murid yang nomor tiga. Mengikuti jago tua itu, ia memperoleh banyak kemajuan, sedang kitab silat yang diberikan Toan Kui Ciang kepadanya, ia berhasil juga memahaminya. Dibawah petunjuk gurunya, ia dapat menciptakan sejumlah tipu silat yang baru. Sekarang, berhubung dengan suasana yang panas, ia bersedia pergi ke Kiu-coan guna menemui kakak seperguruannya, untuk membantu Kwe Cu Gie. Maka adalah diluar terkaannya, di sini ia bertemu dengan saudara Ong kakak beradik. Mo Lek percaya, mengandali hasil pelajarannya tujuh ^ahun, dia mestinya bakal dapat membunuh musuhnya, tetapi diluar tahunya, selama tujuh tahun itu, kepandaiannya Ong Yan Ie telah maju pesat juga. Begitulah bertempur sampai lima atau enam puluh jurus, walaupun ia menang unggul, Ong Yan Ie tak gelagatnya bakal kalah. Tengah bertempur itu, dalam penasarannya, Mo Lek menyerang dengan tipu silat "Tok-pek Hoa-san" atau "Menggempur gunung Hoa San". Dengan begitu, pedangnya digunai sebagai golok, untuk membacok tinggi, dari atas ke bawah. Itulah tipu silat yang ia ciptakan dari ilmu pedangnya Toan Kui Ciang, maka penyerangannya itu sudah enteng dan cepat lagi antap dan berat http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ilmu pedang yang telengas!" Ong Yan Ie berseru. Ia tidak berkelit, hanya justeru menangkis dengan melintangi pedangnya. Maka bentroklah kedua senjata dengan bersuara nyaring, lalu keduanya seperti menempel satu dengan lain. Yan Ie kalah tenaga, pedangnya kena tertekan. Ia merasakan telapakan tangannya bergetar dan nyeri. Celakanya tak dapat ia meloloskan pedangnya itu, hingga ia mesti tertekan berikut punggungnya yang menjadi melengkung perlahan-lahan. Ong Liong Kek menjadi gusar sekali. "Bangsat kecil, jangan bertingkah!" dia berseru. "Lihat kipasku!" Dan ia bergerak maju dengan kipas besinya, untuk menotok punggung dimana ada jalan darah Hong-hu. Dengan begitu Mo Lek menjadi seperti terkepung berdua. Ia mesti membela dirinya. Sebab tak dapat ia hanya berkelit, terpaksa ia melepaskan tekanannya, untuk dengan pedangnya menangkis kipas yang mengancam dengan bahaya maut itu. Kipas Liong Kek lantas kena disampok mental. Yan Ie liehay sekali, begitu pedangnya bebas, begitu ia menyerang Ia melupakan nyeri pada telapakan tangannya. Mo Lek berkelit sambil memutar rubuhnya, dengan begitu ujung pedang lewat di ujung dahinya. Ketika kedua saudara Ong itu mendesak padanya, ia terus melayani dengan ilmu silat "Ya-cian Pat-hong," atau "Berperang di delapan penjuru di waktu malam". Ia mencoba menahan majunya kipas dan pedang Cenj; Kong Kiam. Ong Yan Ie tertawa manis. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Aku tidak sangka setelah tujuh tahun tidak bertemu, sekarang ilmu silatmu menjadi begini liehay!" katanya. "Sungguh kau mendatangkan kegirangan dan pantas diberi selamat! Maaf, terpaksa kami kakak beradik mesti bekerja sama menempur kau!" Mo Lek panas hati. "Kamu boleh maju semuanya!" ia membentak. "Tidak ada halangannya! Hari ini mesti kau mampus atau aku terbinasa!" Nona Ong tertawa. "Engko, bocah ini benar-benar mau mengadu jiwa dengan kita!" kata dia. "Ya, biarlah dia pergi menghadap Raja Akherat!" sahut Liong Kek si kakak, yang terus menyerang dengan hebat, dengan ujung kipasnya ia mencari setiap jalan darah lawannya. Mo Lek tidak takut akan tetapi ia melihat suasana tidak bagus untuknya. Kepandaiannya Liong Kek tidak dapat dipandang ringan. Ketika tadi dia menempur Cin Siang, nampaknya dia tak sanggup bertahan dalam satu gebrakan. Tapi itu ada sebabnya, ialah karena tenaga Cin Siang besar luar biasa, tak berani dia mengadu senjatanya dengan kim gan, ruyungnya si orang she Cin. Sebaliknya menghadapi Mo Lek, meski dia kalah kepandaian, tenaga dalamnya berimbang. Pula, kalau melawan Cin Siang dia menggunai Poan-koan-pit, sekarang dia memakai thie-sie, kipasnya senjatanya yang utama, yang paling cocok dipakai bertempur rapat, sedang juga ia melawan bersama adiknya. Demikian Mo Lek Tak dapat segera merebut kemenangan. Sambil bertempur itu, Mo Lek lantas ingat, "Toan Tayhiap dan Lam Suheng berulangkah memperingati aku supaya aku jangan menuruti hati muda dan hawa amarah, tak dapat aku http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

terlalu mengandalkan ilmu kepandaian sendiri, jangan setelah keluar dari rumah perguruan, aku menghendaki lantas terwujudnya pembalasan sakit hatiku. Aku sudah dapat bertahan tujuh tahun, kenapa aku mesti mengumbar amarah dalam satu hari ini? Sekarang musuh berjumlah banyak dan aku sedikit, baiklah kau bersabar sampai lain hari..." Ong Liong Kek sebaliknya sudah banyak pengalamannya berkelahi, dengan lantas dia melihat romannya Mo Lek berubah, dengan lantas dia menduga, maka itu, tanpa ayal lagi, dia lantas mendesak. "Jalan ke sorga ada, kau tidak ambil, kau sebaliknya memasuki neraka yang tidak ada pintunya!" dia mengejek. "Kau sudah masuk sendiri ke dalam perangkap, maka kau dapat masuk tidak dapat keluar pula!" Dia terus membentak untuk memberikan isyaratnya. Mendengar bentakan itu, barisan wanita sudah lantas maju menyerang. Rata-rata mereka menggunai gaetan untuk membangkol kaki musuh. Liong Kek sendiri bersama Yan Ie mendesak hebat. Mo Lek bukan seperti Cin Siang, yang mengenakan baju lapis besi, sedang sepatunya sepasang sepatu rumput, ia menjadi terdesak, baik oleh itu kakak beradik mau pun dari gaetan yang berjumlah besar. Liong Kek perkeras desakannya, mendadak dia menyerang dengan tipu silat "Ular beracun menyemburkan bisa," dengan kipasnya dia menotok ke jalan darah cie-tong. Mo Lek menjadi repot dan bingung, sebab ketika itu pedangnya kebetulan lagi ditangkis Yan Ie. Tidak ada jalan untuknya kecuali membuang diri, guna berkelit sambil bergulingan. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sementara itu pasukan wanita dari Yan Ie sudah terdidik baik. Mereka dapat bekerja dengan melihat salatan, dan mereka pun sebat. Mereka lantas menggaet ke tempat dimana orang menjatuhkan diri. Sia-sia Mo Lek membuang diri, betisnya sudah lantas terkena gaetan begitu pun kakinya. Dengan lantas ia terluka dan mengeluarkan darah yang mengucur deras. Ong Liong Kek tertawa mengejek. "Apakah kau masih mau mengganas?" demikian tanyanya dingin. Dengan kipas yang ditutup, dia lantas menyerang ke arah batok kepala. Mo Lek dapat berlompat bangun akan tetapi tubuhnya limbung, darahnya mengalir terus, dagingnya di betis dan kaki terluka hancur karena terobek gaetan. Dapatkah dia membela diri? Kalau dia kena dihajar, pastilah kepalanya remuk... Justeru orang terancam bahaya, sekonyong-konyong Ong Yan le menangkis kipas kakaknya, hingga kipas dan pedang beradu keras!" "Jangan bunuh dia!" berseru si nona. Liong Kek heran hingga dia melengak. "Kenapa jangan?" tanyanya setelah hilang herannya. Yan Ie berlompat maju, guna menotok Mo Lek yang sudah tak berdaya, kemudian ia panggil budaknya guna membelenggu orang tawanan itu. "Engko, kau cerdik disatu waktu, butek pikiranmu dilain saat!" kata ini adik tertawa. "Coba kau pikir masak-masak! Bangsat cilik ini telah memperoleh kepandaian terlebih jauh, sekarang dia datang kemari, kau tahu apa maksudnya?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Pasti dia datang untuk maksud mencari balas!'" sang kakak menjawab. "Pasti dia sekalian hendak merampas pulang gunungnya, gunung Hui Houw San!" "Tepat terkaanmu!" kata si nona. "Sekarang kau pikir pula! Dia seorang diri, apakah dapat dia melakukan tugas besar dan berat itu? Bukankah kedudukannya Keluarga Touw telah dibangun hampir seratus tahun? Bukankah keluarga itu mirip dengan leluwe, itu binatang merayap yang kakinya ratusan? Bukankah itu berarti keluarga itu banyak pengikutnya, yang masih setia terhadapnya? Sekarang ini orang jerikan kita, mereka pun tidak ada yang pimpin, mereka jadi tidak berani bergerak. Sekarang Tiat Mo Lek kembali! Bukankah dia sudah mengatur persiapan? Mungkin dia sudah berkongkol dengan orang-orang ayah angkatnya! Maka itu dapatkah kita membunuh dia sebelum kita dengar dulu keterangannya?" Liong Kek tertawa. "Benar!" sahutnya. "Dasar kau terlebih teliti daripada aku! Aku mendongkol untuk kegalakannya, maka aku menuruti saja suara hatiku!" Ia hening sebentar, terus dia menambahkan, "Tapi bangsat cilik ini sangat berkepala batu, aku kuatir kita sukar mengorek keterangan dari mulutaya..." "Biarlah, kita bawa saja dia ke Liong Bin Kok," kata Yan Ie. "Di sana kita tanya dia dengan perlahan-lahan, nanti kita gunia segala macam daya upaya." "Baik, aku turut kau," kata Liong Kek akhirnya. "Kita sudah berhasil membekuk dia, kita bawa dia pulang. Baik kita serahkan dia pada ayah, biar ayah yang mengambil putusan, supaya hati ayah menjadi senang!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Selagi Liong Kek berkata itu, dari kejauhan terlihat debu mengepul naik, lalu tampak munculnya sebuah pasukan tentara berkuda, datangnya sangat cepat, maka juga dilain saat sudah terdengar si pemimpin tentara menanya dari jauh-jauh, "Apa Ong Siauw-cecu di sana?" "Benar!" Liong Kek menjawab. "Thio Tong-nia, kau datang sendiri?" Memang perwira itu Thio Tiong Cie, salah seorang terkosen dari An Lok San. Tiong Cie menahan kudanya begitu dia sudah tiba. "Apakah kamu tidak melihat Cin Siang?" dia tanya. Mukanya Liong Kek menjadi merah. "Dia sudah kabur..." sahurnya jengah, suaranya tak lancar. Ketika Cin Siang itu mengangkat kaki, kapan minggatnya diketahui oleh Busu yang ditugaskan meniliknya, si Busu sudah lantas melepas burung dara untuk memberi kabar kepada Ong Pek Thong, minta Ong Pek Thong memerintahkan orang memegatnya. Dan Liong Kek dan adiknya ialah orang-orang yang diberi tugas oleh Ong Pek Thong itu. Maka itu Liong Kek malu atas kegagalannya. "Sudah berapa lama perginya dia?" Tiong Cie tanya. "Sudah lama juga," jawab Liong Kek. "Sebenarnya hampir aku berhasil menawannya," berkata Yan Ie, "Apa mau kami bertemu satu musuh lain, selagi kami bertempur kacau, dia dapat meloloskan diri. Sekarang ini kami letih semua, tak dapat kami mengejar dia." Dengan kata-katanya itu Yan Ie seperti mau bilang, kalau Tiong Cie hendak mencoba menangkap juga Cin Siang, dia http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

boleh pergi menyusul sendiri, pihaknya sulit memberikan bantuannya. Thio Tiong Cie menjadi sangat tidak puas, akan tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tak dapat ia memaksa ini kakak beradik membantu padanya, sebab orang bukannya orang sebawahan An Lok San, bahkan untuk berontak, An Lok San, sang tuan, membutuhkan bantuan Keluarga Ong. Ia tidak dapat mengejar sendiri sebab ia tahu kegagahannya Cin Siang. Di antara tiga Toa-kho-ciu, orang terkosen di istana, Cin Siang yang paling gagah, maka kalau ia mengejar sendiri, ia seperti mengantarkan jiwa. "Baiklah," katanya kemudian, untuk memutar kemudi. "Tayswe kami sudah lengkap persediaannya, tinggal tunggu harinya untuk mulai bergerak maju ke kota raja guna merampas kerajaan, dari itu tak usah kita kuatirkan dia dapat lari untuk memberi kisikan. Sekarang ini An Tay-swe lagi repot mengumpulkan pelbagai perwira, bagaimana kalau Ong Siauwcecu turut aku pulang ke Hoan-yang?" Ong Liong Kek tidak dapat memberikan jawabannya. Ia bersangsi. "Inilah kebetulan!" berkata Yan Ie, mendahului kakaknya. "Tidak leluasa untuk ayah muncul di Hoan-yang, engko, baiklah kau yang pergi ke sana! Bangsat kecil ini serahkan padaku yang membawa, kau jangan kuatir." Liong Kek setujui pikiran adiknya itu. "Jikalau begitu, baiklah, asal kau berhati-hati di tengah jalan!" dia memesan. "Kau tahu, aku sangat membenci dia, maka itu, kalau dia hendak dihukum mati, tunggulah sampai aku pulang!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sampai disitu, kakak beradik itu lantas memecah pasukan liauwlo mereka. Liong Kek lantas ikut Thio Tiong Cie berangkat ke Hoan-yang, dan Ong Yan Ie mengiringi Tiat Mo Lek pulang ke lembah Liong Bin Kok. Menurut perintahnya Yan Ie, Mo Lek diikat di atas kuda. Pada punggung kuda dipasangi tempat duduk yang tebal. Luka Mo Lek pun dibalut rapi. Mo Lek diam saja atas segala perlakukan itu. Selagi tertotok itu, ia tidak dapat bergerak dan tak bisa bicara. Tatkala itu sudah lewat tengah hari. Yan Ie kuatir orang tawanannya nanti tergoncang-goncang keras, ia menyuruh barisan wanitanya berjalan perlahan-lahan. Karena ini, di waktu magrib mereka baru melaLui kira empat puluh lie. Untuk sampai di Liong Bin Kok, jalanan masih ada lima puluh lie kira-kira. Dua orang tauwbak lantas menghampirkan pemimpinnya untuk menanya apa mereka mesti melanjuti perjalan malammalam. Yan Ie tertawa. "Kamu tidak letih, tetapi aku sudah letih sekali!" katanya. "Kita tidak mempunyai urusan penting, kita pun cuma mengiring satu bangsat kecil, buat apa kita berjalan terus malam-malam?" Itulah keputusan yang diharap-harap kawanan liauw-lo wanita itu, dari itu kedua tauwbak itu menjadi sangat girang. Lantas mereka mengundurkan diri, guna menitahkan membangunan tenda banyaknya tiga buah. Yang satu untuk Nona Ong serta sekalian pengiringnya pribadi, satu untuk semua prajurit wanita, dan yang satu lagi buat Mo Lek seorang diri. Itulah titahnya si nona. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Mo Lek rebah seorang diri, luka-lukanya mendatangkan rasa nyeri, perutnya kelaparan. Kecuali di betis dan di ujung kaki, ia mendapat banyak luka lain sebab tergaet sebelum ia ditotok si nona. Tengah ia menderita itu, tiba-tiba pintu tenda ada yang pentang, lalu nampak Yan Ie bertindak masuk sambil bersenyum. Si nona sudah lantas membetulkan sumbu lilin hingga cahaya apinya menjadi lebih besar. "Tiat Siauw-cecu, apakah kau masih membangkang?" tanya si nona tertawa. Ia mengulur tangannya, menotok bebas orang tawanan itu. Mendadak Mo Lek membentak, "Jikalah kau hendak membunuh aku, bunuhlah! Aku Tiat Mo Lek, aku tidak dapat dihinakan!" "Siapa mau membunuh kau?" si nona tanya, tertawa pula. "Siapa mau menghina padamu? Ah, kau benar-benar tidak tahu kebaikan orang! Kau tahu, aku datang untuk mengobati kau!" Lantas si nona mau membukai balutan orang tawanan itu. Tiba-tiba Mo Lek menggeraki kakinya. "Pergi!" bentaknya. "Aku... aku..." Mendadak dia berhenti bicara. Karena ia meronta itu, tangannya kena membentur buah susu si nona. Ia menjadi likat, lekas-lekas ia menarik pulang tangannya itu dan berhenti berbicara. Di dalam luka dan lapar sangat, Mo Lek kehilangan tenaganya, maka benturannya itu tidak membahayakan si nona. Tapi Yan Ie menjadi melengah, dia jengah sendirinya, sampai mukanya menjadi merah. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ha, adakah kau seekor kerbau?" dia tanya, mendongkol. "Kenapa kau kasar begini rupa? Sekalipun kerbau masih tahu halnya orang berlaku baik terhadapnya! Hm! Manusia tak kenal budi!" Nona itu menonjok dahi orang! "Tak perlu aku dengar kepalsuan kau ini!" kata Mo Lek sengit. "Inilah tangis si kucing untuk si tikus! Biarnya kau dapat menyembuhkan aku, tak dapat aku menerima baik budimu!" Meski ia berkata demikian, Mo Lek menjadi rada lunak. Ia tak lagi meronta atau mau memukul orang... Ong Yan Ie membukai balutan. "Ah, anak bandel yang tak mengenal aturan!" katanya. "Sebenarnya tidak niatku memperdulikan kau tetapi lukamu ini hebat! Sungguh, tak tega aku menyaksikan kau menderita begini rupa!" Ia lantas mengeluarkan obat luka, untuk memborehkan luka orang itu. Setiap orang Rimba Hijau mesti memiliki obat luka dan obat luka buatan Keluarga Ong manjur sekali. Begitu Mo Lek diobati, lantas ia merasa adem seluruh tubuhnya dan rasa nyerinya pun berkurang banyak. Semenjak masih kecil, belum pernah Mo Lek berdekatan dengan seorang wanita seperti kali ini, sekarang Nona Ong mengobatinya, kulit daging mereka beradu satu dengan lain, napas mereka juga saling menghembus dan tercium. Mo Lek mencoba menahan napas akan tetapi gagal, ia dapat mencium juga bau harum dari tubuh si nona. Ia menjadi tidak keruan rasa, ia merasa nyaman. Lantas ia mengertak gigi. '.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Tiat Mo Lek, Tiat Mo Lek!" katanya di dalam hati. "Kaulah laki-laki sejati! Apakah kau lupa sakit hati ayah angkatmu?" Ia pun mengerahkan tenaganya, hingga papan yang tertindih tubuhnya menjadi berbunyi nyaring. Ong Yan Ie mengerutkan alis. "Tidak keruan kenapa kau mengumbar pula adatmu?" ia tanya. "Mo Lek, kenapa kau membenci begini sangat kepadaku?" "Inilah pertanyaan sengaja dari kau!" sahut Mo Lek, gusar. "Kau tahu tapi toh kau tanyakan! Hm! Aku beri nasehat kepada kau, lebih baik kau bunuh saja padaku! Tidak demikian, asal napasku masih berjalan, pasti aku akan membalaskan sakit hatiku!" "Aku telah membunuh ayah angkatmu, tapi dia bukan ayahmu yang sejati," kata si nona. "Di dalam kalangan Rimba Hijau orang saling bunuh dan saling membalas dendam, bukankah itu lumrah sekali?" "Kau memandangnya lumrah akan tetapi aku mengukirnya di dalam hatiku!" Mo Lek kata keras. "Aku menyimpan itu di dalam hati sanubariku!" "Baik!" Nona Yan berkata, tertawa. "Biarnya kau mau membalas sakit hati, sekarang kau mesti jaga dirimu baik-baik! Kau sudah tak.dahar satu hari, bukan? Tanpa dahar, dari mana nanti datangnya tenagamu untuk mencari balas?" Mo Lek melengak, ia berdiam. Ia tak dapat menangis atau tertawa. Seorang budak perempuan datang menghampirkan, dia menyuguhkan semangkuk teh.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Silahkan minum, Tiat Siauw-cecu," katanya. "Minumlah selagi masih panas!" "Apakah ini?" Mo Lek tanya. "Inilah obat racun!" kata Yan Ie tertawa. "Kau berani minum atau tidak?" "Aku takut apa!" sahut Mo Lek. Ia melengak dan mencegluk minuman itu. Tapi segera ia merasakan sesuatu yang manis dan adem, setelah itu, ia merasa segar sekali. Kiranya itulah som-thung, air obat jinsom Si budak tertawa. "Nona!" katanya, "Nona pandai sekali membujuki orang minum obat!" Terus dengan mengundurkan diri. membawa mangkuk kosong dia

"Jangan kau kegirangan!" kata Mo Lek mengancam. "Tidak perduli kau lepas budi apa, di antara kita permusuhan tak dapat dibikin habis musnah!" "Sebenarnya aku tidak memikir memberikan penjelasan," kata Yan Ie, "Akan tetapi kau begini sangat membenci aku, tak dapat tidak aku mesti mengucapkan juga beberapa kata-kata. Ketika itu waktu kami menggempur gunung Hui Houw San, usiaku baru empat belas tahun. Kala itu aku cuma tahu ayah angkatmu adalah satu jago Rimba Hijau yang galak dan biasa menghinakan yang lemah. Ayahku memerintahkan aku membunuh ayah angkatmu, waktu itu aku tidak merasa bahwa perbuatanku itu salah..." Si nona tidak mau mengaku salah, tapi di depan Mo Lek, ia mesti bicara lain. Hati Mo Lek bergerak. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Benar," pikirnya, "Itu waktu dia benar seorang nona cilik yang belum tahu apa-apa. Maka itu si penjahat utama ialah ayahnya bersama Khong Khong Jie, orang yang membantu ayahnya itu!" Memikir begini, kebencian pemuda ini berkurang dua bagian. Tapi cuma sejenak, ia sudah lantas berpikir pula, "Aku tak usah perdulikan ketika itu dia sudah mengerti keadaan atau belum! Mengerti begitu, tak mengerti begitu juga! Yang terang dialah musuhku yang telah membinasakan ayah angkatku! Mana dapat aku mengampuni dia?" Ong Yan Ie sangat cerdas, dengan melihat air muka orang, dia sudah dapat menerka hati orang. Dia lantas tertawa dan kata, "Tiat Siauw-cecu, apa sekarang kau merasa baikan?" Mo Lek terluka parah tetapi itu melainkan luka di kulit dan daging, meski tenaganya belum pulih seluruhnya, kesegarannya sudah pulang kembali empat atau lima bagian. Sebenarnya ia bersyukur juga akan tetapi ia bangsa keras kepala. "Baikan atau tidak baikan, ada apa sangkut pautnya dengan kau?" ia tanya ketus. "Aku tak perduli dengan lagakmu ini yang baik hati berpura-pura!" Yan Ie tertawa geli. "Siapa yang mencoba-coba menarik hatimu?" dia tanya. "Apakah kau menyangka aku hendak membiarkan kau si busuk hidup karena kau dianggap sebagai mustika? Apakah kau tahu apa sebabnya aku menanya kau barusan?" Mo Lek heran. "Habis, apa artinya?" ia tanya. Nona Ong tertawa. "Jikalau kau sudah baik, hendak aku mengusir kau pergi!' sahutnya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Mo Lek heran sekali hingga ia mendelong. "Apa?" tanyanya. "Kau hendak membiarkan aku pergi?" "Benar!" jawab si nona. "Bukankah kau hendak menuntut bala*? Jikalau aku tidak membiarkan kau pergi, mana kau dapat membalasnya Aku hanya takut kau mengatakan aku takut akan pembalasanmu ilu, karenanya hendak aku melepaskan kau supaya kau pergi dari sini! Baikiah sekarang kau coba-coba menggeraki otot-ototmu, apakah kau sudah dapai menunggang kuda? Kudanya Cin Siang telah aku obati hingga sembuh Kuda itu jempolan, dapat aku memberikan kepada kau. Kalau kau maju pergi, kau pergilah cepat-cepat! Jikalau tidak, sampai di Liong Bin Kok, aku sudah tidak berkuasa lagi!" Mo Lek tahu orang menggunai alasan saja untuk membuat ia suka mengangkat kaki. Untuk sementara, ia menjadi ragu-ragu sekali, hingga tak tahu ia mesti bertindak bagaimana. Nona Ong sudah lantas buntalannya si anak muda. menyerahkan senjata dan

"Semua barangmu ada di sini," kata dia. "Dan ini sebungkus daging, kau boleh dahar nanti di tengah jalan!" Mo Lek menggigit giginya. Dengan terpaksa ia mengulur tangannya menyambuti. Tapi ia berkata, "Kalau dibelakang hari kau terjatuh ke dalam tanganku, aku juga bakal mengasih ampun satu kali kepada jiwamu!" Ong Yan Ie tertawa. "Jadi kalau buat yang kedua kali ini, kau tidak bakal mengasih ampun, bukan?" tanyanya. "Baiklah! Secara demikian aku jadi dapat berlaku waspada, supaya aku tak usah sampai terjatuh ke dalam tanganmu!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Habis berkata, nona ini mencekal tangan orang, untuk dituntun keluar dari dalam kubu-kubu. Tiba di luar ia dongak akan melihat langit. "Malam ini rembulan permai sekali,"- katanya. "Apakah kau kenal jalanan?" "Tak usah kau mencapaikan hati untukku!" kata Mo Lek sengit. "Hm! Sekarang aku hendak omong lebih dulu kepada kau! Kali ini kau melepaskan aku, apakah kau tidak akan menyesal kelak dibelakang hari?" Nona itu tertawa manis. "Aku sengaja bersiap sedia menantikan kedatanganmu untuk kau membalas sakit hatimu, kenapa aku mesti menyesal?" jawabnya. "Eh, apakah kau tidak hendak mengambil selamat tinggal dari aku?" Ketika itu budak tadi datang dengan kudanya Cin Siang. Justeru itu juga di udara terdengar tiga kali suara panah nyaring, suara mana disusul bunyinya terompet yang disuarakan oleh serdadu-serdadu wanita yang lagi meronda. "Celaka!" Yan Ie berseru. "Ada musuh menyerbu di waktu malam!" Benar saja, dari arah timur dan barat nampak dua barisan serdadu lagi mendatangi, mereka itu mengambil sikap mengurung. Diwaktu malam seperti itu, sulit untuk segera mengetahui berapa besar jumlah musuh dan musuh itu dari pihak mana. Ong Yan Ie lantas berkata, "Pihak musuh datang dengan sudah siap sedia, itulah tak menguntungkan kita! Lekas memerintahkan semua mundur dengan teratur!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Perintah itu dikeluarkan dengan si budak terus diberikan bendera titah, untuk dia melaksanakan titah pengunduran itu. Setelah itu dengan mendadak Nona Ong mencekal keras pada tangannya Tiat Mo Lek. Si Anak muda tidak menyangka, ia kaget dan kesakitan, hingga ia menjerit, "Aduh!" "Kau mau apa?" ia menanya, gusar. "Tenagamu belum pulih, tak dapat kau melawan musuh," berkata si nona. "Kalau kau bertempur dalam satu pertempuran kacau balau, itulah sangat berbahaya untukmu! Aku mengantari Sang Buddha, mesti aku mengantarnya sampai di Langit Barat! Maka mari kau turut aku, untuk kau molos dari gunung ini, nanti selanjutnya kau boleh menyingkir seorang diri saja!" Tanpa menanti jawaban lagi, Yan Ie mengangkat tubuh orang, buat dikasih naik atas kuda, ia sendiri menyusul lompat naik sembari berkata, "Jikalau kau tak dapat duduk tetap, kau peluk pinggangku! Yang perlu ialah menyingkirkan diri lolos dari sini!" Sementara itu pertempuran sudah berjalan kacau sekali. Yan le menggunai pedangnya secara hebat hingga beberapa musuhnya kena ia tikam atau tabas hingga roboh dari atas kudanya. Ia keprak kudanya untuk dapat lari keluar dari kalangan! Kuda itu kuda dengan pengalaman berperang, tanpa iliramhiik lagi, dia dapat lari terus, untuk menerjang keluar dari pengepungan, Iclapi Yan Ie bukanlah majikannya, dia seperti hendak mengganggu si nona, telagi kabur itu, kalau dia menghadapi rintangan, sengaja dia berlompat tingg'. Nona Ong pandai menunggang kuda, ia tidak merasakan hebatnya gangguan binatang itu. Tidak demikian dengan Tiat http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Mo Lek yang terluka kakinya, betis dan tulang keringnya, akibat pelbagai gaetan musuh. Hampir dia jatuh. Dengan terpaksa dia memeluk erat-erat pinggangnya si nona Karena ini dia mengeluh sendiri, "Sungguh aku malu..." Di antara musuh segera terdengar teriakan-teriakan, diantaranya satu suara nyaring, "Entah kemana kaburnya si bangsat kecil she Ong Sungguh sial kita bertemu ini barisan wanita!" Teranglah itu suara yang menyatakan segan menempur orang perempuan. Mo Lek dapat mendengar suara itu, ia rasa ia mengenalnya, hanya di saat itu ia tidak dapat lantas ingat suara siapa itu. Ketika itu pun sudah terdengar lagi suara berisik di antara musuh. "Eh, apakah itu bukan anak perempuannya Ong Pek Thong? Lihat di belakangnya itu, di atas kuda, ada seorang laki-laki yang menggemblok!" "Ya, ya, benar! Tapi orang itu tak mirip-miripnya kakaknya' Siapakah dia?" "Ha, ha, ha! Kau lihat! Lihat pria itu, dia memeluknya si wanita erat sekali! Tidak salah lagi, dia mestinya laki-laki liarnya!" "Jangan perduli dia siapa!" ia mendengar pula suara yang lainnya "Kita bekuk saja si wanita itu kalau dia benar-benar anak perempuannya Ong Pek Thong! Dia terlebih liehay daripada kakaknya! Jikalau kita berhasil menyingkirkan dia, itu berarti kita melenyapkan sebelah lengannya Ong Pek Thong!" Suara nyaring yang pertama tadi menyambuti, "Baiklah! Nanti aku maju menghajar dengan kapakku! Orang-orang http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sebawahannya itu kawanan wanita bau, tidak ada harganya untuk dikapak, biarkan saja mereka semua lolos kabur!" Habis itu segera terlihat majunya seorang yang bertubuh besar yang berkumis berewokan tebal, yang tangannya membulang-balingkan sebuah kapak besar, kudanya maju pesat sekali. Mo Lek dapat melihat orang itu, ia terkejut. Dialah Sin Thian Hiong, cecu atau ketua dari benteng Sin Kee Ce dari gunung Kim Kee San! Sin Thian Hiong menjadi seorang Rimba Hijau yang kenamaan untuk wilayah Utara. Ia berdiri sendiri, tidak menurut kepada Keluarga Touw, tidak menghamba kepada Keluarga Ong. Adalah setelah runtuhnya Keluarga Touw dari Hui Houw Ce, sesudah pertemuan di Liong Bin Kok dimana rombongannya Han Tam membeber rahasianya Ong Pek Thong, ia jadi bermusuh dengan keluarga yang menjadi pengkhianat Rimba Hijau itu, yang tak segan berkongkol dengan An Lok San. Ia telah mendengar kabar hal Ong Liong Kek membawa pasukan perangnya, entah kemana perginya. Tidak tempo lagi, ia pun membawa barisannya, untuk bersembunyi di tengah jalan yang bakal dilewati rombongan Liong Kek, guna memegat dan menyerangnya. Ia menduga biasa saja, yaitu Liong Kek keluar untuk melakukan usaha tanpa modal. Diluar dugaan, ternyata Ong Liong Kek sudah turut Thio Tiong Cie pergi ke Hoan-yang, hingga ia cuma bertemu dengan Ong Yan Ie, adiknya pemuda she Ong itu. Tiat Mo Lek kenal Sin Thian Hiong ketika satu malam dimuka Kepergian mereka ke Liong Bin Kok, mereka berkumpul di rumahnya Han I ,im. Ketika itu di waktu malam dan sang waktu http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

juga sudah lewaf tujuh tahun, tidak heran kalau Sin Thian Hiong tidak mengenali padanya dan sebaliknya dengan ia yang ingatannya kuat. Maka sekarang dia lantas mengenali. Baru Mo Lek berpikir untuk menyapa Thian Hiong atau mendadak ia ingat dirinya dalam keadaan bagaimana. Pikirnya, "Aku tengah memeluki K-ulisnya musuh, paman Sin seorang jujur, bagaimana nanti aku dapat membersihkan diri?" Ketikaatu Thian Hiong sudah lantas tiba, dengan segera dia menyerang dengan kapaknya. Ong Yan Ie tertawa dingin. "Eh, orang sembrono, cara bagaimana kau berani menghina aku secara begini?" tegurnya. Nona Ong tidak menangkis hanya ia berkelit dengan memiringkan tubuhnya, berbareng dengan itu, pedangnya diluncurkan sama sebarnya guna membalas menyerang. Kapaknya Thian Hiong mengenai tempat kosong. Ia menyesal. Justeru itu, ia pun kaget. Pundaknya mengasih dengar suara memberebet! Ujung pedangnya si nona telah mengenakannya! Yan Ie terintang karena ia dipeluki Tiat Mo Lek, kudanya juga kuda yang pertama kali untuknya, maka itu walaupun ilmu pedangnya liehay, meski seharusnya ia dapat merampas jiwanya Sin Thian Hiong, sekarang ia melainkan dapat melukai ringan sekali. Sin Thian Hiong menjadi gusar sekali, ia memutar kudanya untuk mengampak pula. Ia telah ketahui si nona liehay, ia tidak mau gunai tenaganya secara keterlaluan. Ia mengandalkan pada kapaknya yang gagangnya lebih panjang daripada pedang, maka itu ia mengarah leher kuda. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kapak musuh itu berat sekali, Yan Ie tahu itu, sebenarnya tak mau ia mengadu senjata atau tenaga, maka syukurlah kudanya itu kuda yang telah berpengalaman di medang perang, kuda itu cerdik sekali, sebelum kapak tiba, tanpa diisyaratkan lagi oleh penunggangnya, dia sudah lantas berlompat, untuk pergi ke belakang kuda lawan, terus dia menjentil! Kudanya Sin Thian Hiong juga kuda jempolan, sebab itulah kuda asal Mongolia, akan tetapi dia kalah besar, tak dapat dia bertahan, dia kena dijentil hingga roboh, hingga penunggangnya roboh bersama. Ong Yan Ie tertawa. "Bagus!" serunya. "Apa sekarang masih berani banyak lagak?" Si nona lantas membungkuk untuk menyerang musuh itu. Tiat Mo Lek memeluki pinggang langsing dari Yan Ie. Selama si nona menempur Sin Thian Hiong, beberapa kali sudah ia berpikir, ia terganggu keragu-raguan. Tenaganya belum pulih seluruhnya, akan tetapi ilmu totoknya tidak lenyap, jikalau ia mau, dapat ia menotok jalan darah jie-khie dari si nona. Jikalau ia menotok nona itu, mesti dia habis tenaganya, tak usah Mo Lek yang turun tangan, dia pasti bakal terbinasa di tangan Thian Hiong. Mo Lek tapinya tidak lantas menotok. Ia dicegah oleh rasa malunya. "Seorang laki-laki sejati," demikian ia pikir, "Jikalah dia mau membuat pembalasan, dia mesti lakukan itu secara laki-laki juga! Dia ini sangat percaya aku, cara bagaimana aku dapat membokongnya...?" Belum habis Mo Lek berpikir, Thian Hiong sudah roboh bersama kudanya itu dan dia terancam bahaya maut. Mendadak si anak muda mengambil keputusannya. Tak suka ia http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menotok si nona, tak sudi juga ia membiarkan Thian Hiong terbinasa. Maka itu di dalam saat maut mengancam Sin Thian Hiong, ia mengerahkan semua tenaganya, ia memeluk keras dan mengangkat tubuh Yan Ie. Maka kejadianlah ujung pedang tidak meminta jiwa Thian Hiong dan Thian Hiong keburu ditolongi dibawa menyingkir. "Apa kau bikin?" tanya Yan Ie gusar sekali. "Apakah kau kenal binatang itu?" Ia lantas membalik tangannya, hendak melemparkan orang jatuh dari kudanya. Mo Lek tidak menjawab, ia hanya menatap mengawasi. Ketika mata mereka bentrok sinarnya, Yan Ie menghela napas. "Bagus!" serunya. "Bagus kau masih mempunyai rasa peri kemanusiaan, kau tidak menggunai ketikamu yang baik untuk mencelakai aku..." Tengah si nona berkata begitu, satu penunggang kuda lain tiba di antara mereka. Penunggang kuda itu seorang nona yang cantik. Ketika Mo Lek melihat nona itu, hatinya goncang. Ia mengenali Han Cie Hun, anak daranya Han Tam. "Bagus!" Yan Ie berseru. Dia pun mengenali nona itu. "Kiranya kau, Encie Han! Kita harus menguji dulu kepandaian kita!" Pada tujuh tahun dulu ketika Han Cie Hun menyamar menjadi anaknya Sin Thian Hiong dan turut dalam pertempuran di Liong Bin Kok, ia telah bertarung beberapa kali dengan Ong Yan Ie. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tak lama setelah itu, Yan Ie ketahui siapa adanya nona itu. Maka ia telah memikir mencarinya, buat menempur pula, guna membalas sakit hati yang dia telah dipermainkan. Maka kebetulan sekali sekarang mereka bertemu satu pada lain. Cie Hun tertawa. "Aku justeru datang kemari karena aku ingin belajar kenal dengan ilmu pedangmu, encie!" kata ia yang lantas mengajukan kudanya terlebih jauh, untuk menyerang dengan tipu silat "Cit-chee Poan-goat," .llan "Bintang tujuh menemani si puteri malam". Kuda mereka berdua telah datang dekat satu dengan lain, il.ui penyerangan itu yang berulang-ulang sampai tujuh kali, semuanya mencari jalan darahnya Nona Ong! Han Tam menjadi ahli totok nomor satu. Cie Hun lelah mewariskan kepandaian ayahnya itu, yang kurang baginya ialah latihan, hingga ia belum dapat memahirkannya, walaupun demikian, untuk dunia Rimba Persilatan, hanya Khong Khong Jie dan saudara seperguruannya yang dapat menandingi. Oleh karena itu, melihat datangnya serangan sangat dahsyat itu, Yan Ie menjadi kaget. Segeralah terdengar suara nyaring dari beradunya kedua senjata, hingga telinga menjadi ketulian. Didalam keadaan seperti itu, Yan Ie masih dapat menangkis serangan, hingga mereka jadi bertempur seru. -ooo0dw0oooJilid 14 Tampaknya kedua nona itu sama tangguhnya, masingmasing mempunyai keistimewaannya sendiri. Cuma Yan Ie http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sedikit terhalang, karena ada oianj,-, yang menggembloki punggungnya. Demikian diluar keinginannya, ujunjt rambutnya kena terbabat kutung lawannya itu. Selama itu Mo Lek terus mendekam di punggung Nona Ong. lu la k berani ia menggeraki mukanya guna melihat Nona Han. Ia malu sekali. Pula kesudahannya akan sulit untuknya, karena ia bukan tertawan hanya ditolongi si nona. Cie Hun telah melihat lawannya dirangkul orang, ia menghentikan serangannya. "Bukankah orang dibelakangmu itu telah terluka?" ia tanya. "Kau kasih dia turun! Aku tidak mau menyerang orang yang sudah terluka! Dengan begitu kau pun jadi dapat ketika untuk mengeluarkan kepandaianmu, supaya kita bisa bertempur hingga salah satu menang atau kalah...!" Cie Hun menduga orang terluka sebab ia melihat orang tidak membantui Yan Ie. Ia pun tidak dapat melihat muka orang yang pucat. Yan Ie tidak menjawab. Selagi Nona Han berhenti menyerang, ia mengeprak kudanya untuk membuat binatang itu berlompat maju. Cie Hun tertawa. "Orang itu pernah apa denganmu?" tanya puterinya Han Tam. "Apakah kau kuatir dia nanti terjatuh ke dalam tangan pihakku? Jangan kau menerka demikian! Kami orang-orang Rimba Persilatan sejati, tak nanti kami sembarang melakukan pembunuhan! Pula tidak nanti kami sembarang membunuh orang tawanan! Jangan kau kuatir! Karena kau bakal tidak dapat lolos dari tanganku, lebih baik kau turunkan dia, supaya kita dapat bertanding dengan merdeka! Umpama kata kau dapat mengalahkan aku, nanti aku mintakan pertimbangannya http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sin Cecu, supaya kau dimerdekakan, diberi ketika untuk mengangkat kaki dari sini, sebab kita telah bertempur satu lawan satu!" Ketika itu orang-orangnya Sin Thian Hiong sudah menyiapkan tambang-tambang untuk menjirat kaki kuda guna merintangi jalan umum. Karena itu, kudanya Nona Ong mesti berhenti berlari, tak dapat dia maju terus. Cie Hun sendiri segera menghampirkan. "Bagaimana?" tanyanya, tertawa. "Apakah kau tak sampai hati mengasih dia turun supaya kau dapat menempur aku satu sama satu?" Ong Yan Ie menjadi gusar. "Buat apa kau ngoceh saja?" bentaknya. "Urusanku tak dapat kau campur tahu!" Lantas dia putar kudanya dan menikam dadanya Nona Han. Tikaman itu keras sekali. Cie Hun mendekam di punggung kudanya, buat mengelit diri, setelah itu, ia membalas membabat. Itulah serangan "Hoktee Keng-liong-kiam," atau "Naga mendekam memutar diri". Gerakan mereka itu membuat kuda mereka saling melewati. Yan Ie berkelit pula. Ketika ia mendekam, Mo Lek turut rpendekam juga. Justeru itu ia dikejutkan kudanya. Binatang itu meringkik dengan tiba-tiba, sambil meringkik dia berlompat, kedua kaki depannya terangkat tinggi. Kaget lompatnya kuda itu, kaget si nona karena rubuhnya merosot turun. Inilah dapat dimengerti karena ia digembloki terus oleh Mo Lek. Kuda itu kuda terdidik baik, dia mengenal majikannya dan setia. Ketika Cin Siang berperang ke selatan dan utara, beberapa kali dia menolongi majikannya itu dari ancaman bahaya. Dia tahu Ong Yan Ie musuh, dan dia telah merasakan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

serangan gaetan barisan wanita nona itu, maka tak puas dia ditunggangi si nona. Sekarang si nona lagi berperang dengan pihak lawan, dia rupanya mau membuat pembalasan, maka dia berjingkrak secara tiba-tiba itu! Han Cie Hun girang sekali. Begitu lawan jatuh dari atas kuda, ia lompat turun dari kudanya, untuk menyerang jalan darah nona itu. Ketika Tiat Mo Lek jatuh, tidak dapat ia terus memeluki Yan Ie, dengan begitu mereka menjadi jatuh berpisahan. Setelah tubuhnya mengenai tanah, ia terus menggulingkan diri, menghampirkan Nona Ong. Ia melihat datangnya serangan dari Cie Hun. Di dalam bingungnya entah dari mana datangnya, dengan lantas ia menyampok pedang Nona Han. Cie Hun tercengang. Ketika itu ia seperti mengenali si anak muda. Justeru begitu, sekonyong-konyong, "Encie Han!" Itulah suara Mo Lek, yang menyapa. Terkejut dan heran, Cie Hun menarik pulang pedangnya. "He, Mo Lek!" ia berseru. "Kau?" Selagi berlakunya semua itu, Yan Ie yang gesit, yang roboh dengan tidak terluka, sudah lantas berlompat bangun bagaikan ikan meletik. Ia sudah menggunai tipu "Lee-hie Ta-teng," atau "Ikan gabus meletik". Ketika ia bangun berdiri, ia telah memisahkan diri beberapa tombak jauhnya. "Celaka! Berandal perempuan itu mau kabur!" teriak Han Cie Hun. Ia lantas mau mengejar, atau mendadak Mo Lek menjerit, "Aduh!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Entah disengaja atau bukan, pemuda itu roboh ke dadanya. Ia menjadi terkejut sekali hingga batal ia mengejar, bahkan melupakan likat atau malu, ia lantas menyanggapi, memeluk tubuh orang. "Ah, Mo Lek!" ia berseru, "Kau benar-benar terluka! Apakah lukamu parah?" Ong Yan Ie menoleh, melihat dua orang itu kenal satu dengan lain, ia tertawa dingin, terus ia membulang-balingkan pedangnya, guna menyerbu, buat memecahkan kurungan. Di situ tidak ada lain orang yang dapat menandingi padanya kecuali Nona Han, maka juga di dalam tempo yang pendek, ia sudah lolos dan bebas. Sin Thian Hiong telah berhasil menggunai tambang menangkap kuda uy-piauw-ma, ia kembali dengan merasa girang dan puas. Ia kata, "Gadisnya Ong Pek Thong lolos, tetapi kita mendapatkan kuda ini, tidaklah kita kecewa! Dan kau, kau berhasil membekuk si bocah, bukan? Eh, eh, apakah kau bukannya Tiat Siauw-cecu?" Ia menanya demikian, langsung kepada si anak muda, setelah ia melihat tegas muka orang, hingga ia menjadi heran. "Paman Sin, sudah lama kita tak bertemu!" kata Mo Lek, mengangguk. "Memang akulah Mo Lek..." Thian Hiong tetap heran. "Ha, kau telah menjadi begini besar!" katanya, kagum. "Dengan begini teranglah Tiat Lo-cecu telah mempunyai turunannya! Kau tahu, kita semua selalu memikirkanmu!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia berhenti sebentar, lalu ia menanya sungguh-sungguh, "Mo Lek, bagaimana ini? Kenapa kau nampaknya sangat bersahabat baik dengan anak perempuan musuh?" Mukanya Mo Lek merah sampai pada telinganya. Ia berdiam karena sulit untuk ia memberikan keterangannya. Han Cie Hun tertawa. "Paman Sin, kau terlalu!" katanya. "Mo Lek telah mendapat luka, apakah kau tidak lihat?" Thian Hiong agak terkejut.. "Oh, kau terluka?" katanya. "Jadinya kau kena tangkap mereka?" "Memang!" Nona Han mendahului menjawab. "Baru saja aku bebaskan ia dari totokan..." "Pantas, pantas dia duduk di atas kuda seperti patung!" Sin Thian Hiong berkata pula. "Sampai pun melihat aku, dia tidak menyapa! Bagaimana, apakah lukanya parah?" Diam-diam Mo Lek bersyukur kepada Nona Han. "Syukur, paman, aku terluka ringan," ia menjawab. "Nona Han," kata Thian Hiong pada Cie Hun, "Obat lukamu lebih manjur daripada obat lukaku, lukanya Mo Lek itu, tolong kau saja yang obati. Sebentar baru kita bicara pula!" Thian Hiong menjadi pemimpin, pertempuran telah berakhir, hari pun akan segera mulai terang tanah, maka perlu ia melakukan pemeriksaan kepada orang-orangnya, untuk melihat mereka yang terluka atau terbinasa, guna merapihkannya, supaya begitu cuaca terang, mereka dapat segera pulang ke gunung.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Han Cie Hun menarik tangannya Mo Lek, buat diajak memilih tempat, di situ keduanya duduk berendeng. Ia lantas periksa lukanya si anak muda. Terus ia tertawa dan kata, "Nona itu memperlakukan kau tanpa kecelaannya! Obat luka Keluarga Ong lebih mujarab daripada obatku, maka tak usahlah aku menguatirkan lagi lukamu ini!" Mo Lek menjadi likat sekali. "Encie Han, kau menggodai aku!" katanya. "Apakah aku omong salah?" tanya Cie Hun, tertawa pula. "Apakah obat ini bukan obat yang dia borehkan kepada lukamu?" Terpaksa Mo Lek mengangguk. "Ya, dia yang mengobati aku," ia mengaku. Cie Hun batuk satu kali. Lantas ia menunjuki roman sungguh-sungguh. "Sekarang datang giliranku menanya kau!" katanya. "Sebenarnya, bagaimanakah duduknya hal? Tadi aku telah mendusta untuk membantu padamu, tetapi sekarang ku mesti omong terus terang padaku!" "Aku terluka, karenanya aku kena ditawan," Mo Lek menjawab. "Dia hendak membawa aku ke Liong Bin Kok..." Nona Cie tertawa. "Tetapi belum pernah aku menyaksikan ada orang tawanan yang diperlakukan sebaik kau tadi," katanya. "Sudah kau tidak ringkus, jalan darahmu pun tidak ditotok, sebaliknya dia mengajak kau duduk bersama di atas seekor kuda, bahkan dia membiarkan kau memeluki tubuhnya!" Muka Mo Lek kembali menjadi panas, telinganya terasa panas. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Aku juga tidak dapat mengerti maksudnya itu," ia kata perlahan. "Aku dengan dia ada musuh besar satu dengan lain, permusuhan yang dalam seperti lautan, ketika aku ditawan dia, aku telah pikir bahwa aku bakal tidak hidup lama lagi." Cie Hun tertawa geli, ia mengeluarkan jari tengahnya untuk menusuk perlahan pemuda di sisinya. "Dasar anak tolol!" katanya. "Kau benar-benar tidak mengerti atau cuma berlagak pilon saja, kau tetap mensia-siakan maksud baik dia itu! Aku telah melihatnya sejak tujuh tahun yang lalu! Ketika itu dia masih seorang nona cilik, tetapi ketika itu dia sudah menyukai kau! Ketika di Liong Bin Kok kamu bertempur, bukankah dia telah menaruh belas kasihan padamu? Kau bilang, kau masih ingat atau tidak peristiwa dulu hari itu?" Mo Lek malu berbareng mendelu. "Encie Han, jangan kau goda aku!" katanya keras. "Sudah aku bilang, kita bermusuh seperti dalamnya lautan, tak perduli bagaimana sikapnya terhadap aku, sakit hatiku tetap mesti dibalaskan! Jikalau kau tidak percaya aku, baik nanti aku bersumpah kepadamu...!" Cie Hun membekap mulut orang. "Kau mau membalas sakit hati atau tidak, itulah urusanmu!" katanya tertawa. "Apa perlunya aku menghendaki kau bersumpah? Sudah, jangan kau omong keras-keras, nanti orang dengar, mereka dapat mentertawakan kita!" Perkataan Nona Han ini mempunyai dua maksud. Yang pertama seperti si nona mengatakan Mo Lek takut hubungannya dengan Ong Yan Ie diketahui orang. Yang lainnya, nona itu menganggap sumpahnya seperti lelucon. Maka itu, si anak muda lantas bungkam. Tatkala itu Sin Thian Hiong sudah kembali. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Bagaimana, apakah lukamu sudah tidak nyeri lagi?" dia tanya. "Kau dapat menunggang kuda atau tidak?" "Aku berterima kasih kepada Nona Han buat obatnya yang mustajab," sahut Mo Lek. "Sekarang ini aku merasa jauh terlebih enakan. Dari itu soal menunggang kuda bukannya soal lagi." "Baiklah kalau begitu! Sekarang mari, aku mengundang kau datang ke bentengku untuk kau beristirahat buat beberapa hari! Di sana masih ada beberapa orang yang kau kenal!" Itu waktu cuaca sudah terang, maka Thian Hiong lantas mengasih perintah untuk pasukannya mulai berangkat pulang. Mo Lek hendak pergi ke Kiu-goan menjenguk suhengnya, si kakak seperguruan, Lam Ce In, akan tetapi ingat kepada lukanya, ia membatalkan niatnya. Ia memang sudah dapat menunggang kuda, tetapi bagaimana andaikata di tengah jalan ia bertemu musuh? Pasti tak dapat ia berkelahi untuk melawan musuh itu. Pula, Thian Hiong dan Cie Hun adalah sahabat-sahabat dengan siapa sudah bertahun-tahun ia tidak bertemu, tak dapat ia menampik kebaikan hati mereka itu. Maka ia menerima baik undangan. Kuda uy-piauw-ma dari Cin Siang, yang kena ditangkap, dicoba dinaiki seorang tauwbak, tetapi lacur tauwbak itu, dia kena dibikin roboh terguling. Melihat demikian, Sin Thian Hiong tertawa. "Benar-benar seekor kuda jempolan!" dia memuji. "Sayang adatnya rada kasar! Dia tak sudi ditunggangi sembarang orang! Dapat aku naik di atasnya, cuma tak dapat aku lakukan itu. Kalau dia dipaksa tunduk, dia tak puas."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Nanti aku yang coba," berkata Cie Hun, yang terus menghampirkan kudanya Cin Siang itu. Karena kena tergaet, binatang itu terluka kakinya, dagingnya robek, benar orangnya Ong Yan Ie pernah memberi obat dan lukanya dibalut, akan tetapi setelah pertempuran barusan, balutannya sudah terlepas. Cie Hun melihat luka itu, ia lantas mengobati dan membungkusnya. Habis itu ia menepuk-nepuk leher binatang itu, sembari tertawa dan dia kata, "Mari kita bersahabat! Apakah kau mau?" Kuda itu mengangkat kepalanya dan meringkik keras. Itulah pertanda bahwa dia mengerti maksud si nona. Ketika dia mengasih turun kepalanya, perlahan-lahan dia menjilati nona itu, setelah mana dengan jinak dia membiarkan si nona lompat naik atas punggungnya. Sin Thian Hiong tertawa. "Dasar kau cerdik, kau mempunyai akal!" kata dia. "Baiklah, kuda ini aku berikan padamu!" Sebenarnya kuda itu bukan berterima kasih kepada Cie Hun karena dia diobati, dia hanya bersyukur lantaran barusan Nona Han sudah mengusir Ong Yan Ie. Dia memandang Yan Ie sebagai musuh, maka senang dia melihat musuhnya kabur. Ketika mereka berangkat, Cie Hun mengajak Mo Lek naik bersama di atas kuda uy-piauw-ma itu. "Mo Lek, kau lapar atau tidak?" tanya si nona. "Aku mempunyai rangsum kering. Kau lihat, bagaimana aku sembrono, sampai aku lupa tanya kau sudah dahar atau belum..."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Mo Lek bersyukur memerlukannya.

kepada

si

nona,

yang

sangat

"Terima kasih," ia menjawab. "Aku juga masih mempunyai abon. Cukup asal kau membagi sedikit air padaku." Abon itu ialah abon pemberiannya Ong Yan Ie, karena itu, selagi meggayam daging halus itu, Mo Lek ingat peristiwanya dengan Nona Ong. Tiba-tiba ia melengak sendirinya. "Eh, kau pikirkan apa?" Cie Hun menegur, heran. "Oh, tidak apa-apa!" sahut si anak muda gugup. "Apakah ayahmu baik-baik saja? Dulu hari itu ayahmu berbuat baik sekali kepadaku, maka aku ingin sekali menjenguknya!" "Ayahku baik," si nona menyahut. "Hanya kalau kau hendak menemuinya, mungkin maksudmu tak kesampaian! Ayahku tidak ada di dalam benteng." Mo Lek mengawasi si nona. Dia tertawa. Cie Hun bersenyum. "Taruh kata aku suka menjadi ratu berandal, Paman Sin pasti tak akan mengijinkannya," ia kata. "Sebenarnya ayahku mesti pergi jauh untuk menjenguk sahabatnya, tak suka ia mengajak aku, lalu aku disuruh berdiam di benteng, dititipkan pada Paman Sin." Thian Hiong berjalan di sebelah depan, dia mendengar pembicaraan muda-muda itu, dia berpaling sambil tertawa. "Bukannya dia dititipkan padaku, untuk aku melihat-lihatnya, hanya dialah yang membantu aku!" katanya. "Jikalau tidak ada Sat-sie Siang-eng bersama dia di bentengku, tentu dari siangsiang Ong Pek Thong sudah berhasil merampas bukit Kim Kee Nia!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Di antara Liong Bin Kok dan Kim Kee Nia ada jarak seratus lima puluh lie lebih, maka itu di waktu magrib, pasukannya Sin Thian Hiong telah kembali ke bentengnya. Semua tauwbak, besar dan kecil, lantas menyambut. Sat-sie Siang Eng, yaitu dua jago she Sat, bersama Liong Chong Siangjin, yang menjadi tetamu, berdiam terus di dalam benteng, maka itu, kedua belah pihak saling bertemu sesudah Thian Hiong beramai masuk ke dalam. Mo Lek menjadi kenalan lama sekalian tetamu itu, maka juga di waktu bertemu, begitu habis saling memberi hormat, kedua pihak lantas bicara banyak dan asyik, membicarakan peristiwa di sarangnya Ong Pek Thong itu. Melihat kuda uy-piauw-ma, semua orang memuji. "Sebenarnya, bagaimana caranya kamu?" tanya Liong Chong Siangjin. kuda ini didapatkan

"Itulah binatang tunggangannya Ong Pek Thong," Nona Han memberi keterangan. "Paman Sin yang merampasnya!" "Keliru!" kata Liong Chong Siangjin. Cie Hun heran hingga ia melengak. Ketika ia hendak menanya orang suci itu, Mo Lek sudah mendahului. "Kuda ini sebenarnya kudanya seorang perwira," kata pemuda ini. "Ketika itu si perwira kebetulan lagi terkurung. Aku maju menolongi dia, maka dia dapat lolos dari kurungan dan kabur." Lebih jauh, Mo Lek menjelaskan jalannya pertempuran ketika ia membantui si perwira. "Apakah kau ketahui namanya perwira itu?" Liong Chong tanya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ketika dia sudah lolos, dia memperkenalkan dirinya padaku. Dia she Cin, namanya kau lupa." "Nah, ini barulah benar!" kata pula Liong Chong. "Perwira itu bernama Siang. Dialah cucunya Cin Siok Po, panglima yang berjasa yang turut membangun Ahala Tong. Aku kenal kuda ini. Cin Siang menjabat pangkat tetapi dia gemar bergaul dengan orang kaum pengembara. Tatkala dahulu hari aku mengembara sampai di kota raja, pernah aku disambut dan dilayani dia." Mendengar itu, Cie Hun tertawa. "Kalau demikian adanya, kuda ini cuma dapat kita pakai buat sementara waktu saja!" katanya. "Kita harus berdaya upaya untuk membayarnya pulang kepada pemiliknya." Sin Thian Hiong berdiam sekian lama. "Memulangkan kuda ialah urusan kecil," katanya. "Tentang Cin Siang itu, pernah aku dengar dia mengikuti utusan pemerintah pergi ke Hoan-yang, sekarang An Lok San hendak membekuk dia, rupanya perkara telah berubah jalannya. Karena ini, pemimpin ini lantas mengirim mata-matanya pergi mencari kabaran ke kedua tempat, yaitu di Hoan-yang dan ke Liong Bin Kok. Sampai disitu, Mo Lek menjadi berdiam di Kim Kee Nia, untuk merawat lukanya. Thian Hiong semua repot mengatur penjagaan, karena itu setiap hari mereka cuma mengguh'ai kesempatan sedikit waktu untuk menjenguknya, satu atau dua kali saja. Dilain pihak, Cie Hun menemaninya setiap detik. Mereka bisa bicara banyak tanpa menjadi bosan, soalnya ialah ilmu silat dan pengalaman masing-masing.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Sesudah berselang lima hari, lukanya Tiat Mo Lek telah menjadi sembuh. Ketika itu mata-matanya Thian Hiong juga telah pada kembali dengan beruntun. Mata-mata yang pergi ke Hoan-yang membawa berita halnya An Lok San benar sudah berontak, alasannya ialah untuk menyingkirkan dorna Yo Kok Tiong. Dia menggeraki lima belas laksa serdadu tetapi dia mengatakan dua puluh laksa jiwa. Oleh karena majunya dia, pihak Liong Bin Kok juga repot bersiap sedia guna memapaknya. Begitulah Ong Pek Thong sudah menyiarkan Lok Lim Cian - Panah Rimba Persilatan - dengan apa dia memerintahkan semua berandal, turut bergerak juga, untuk mereka semua bekerja sama. Mendengar berita itu, Mo Lek lantas menyatakan bahwa ia hendak berangkat. Ia kuatir, kalau nanti peperangan terbit, perjalanannya dapat terhalang. Ketika ia meminta diri, Sin Thian Hiong tidak mencegah atau menahannya. Sebaliknya, ia lantas dijamu. Thian Hiong memesan, apabila ia telah tiba di tempat tujuannya, sukalah ia memberitahukan Lam Ce In bahwa apabila dia dibutuhkan, dia suka meninggalkan Kim Kee Nia untuk memberikan bantuannya. Han Cie Hun hadir bersama dalam perjamuan itu. Nampaknya Mo Lek menyayangi mesti berpisahnya dari si nona. Sebaliknya si nona tertawa dengan gembira, dia seperti tak memperdulikan perpisahan itu. Sin Thian Hiong memberi persen seekor kuda pilihan untuk si pemuda, dia pun mengantar serintasan. Ketika Mo Lek berada di tengah perjalanan, di depan matanya berpeta wajah cantik dan manis dari dua orang nona. Yang satu ialah Ong Yan Ie, yang lainnya Han Cie Hun. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia pun berpikir, "Yan Ie seperti tak kerasan meninggalkan aku, heran Cie Hun, kenapa ia mengantarkan aku pun tidak...” Tengah aa berpikir itu, tiba-tiba telinganya mendengar suara larinya kuda. Dengan lantas ia berpaling ke belakang. Untuk herannya, ia melihat Nona Han yang lagi mendatangi. "Adik Hun!" ia memanggil, heran dan girang. "Kenapa kau menyusul?" Setelah bergaul erat beberapa hari itu, Mo Lek sudah mengubah panggilannya kepada si nona, tak lagi encie atau kakak, hanya adik, alau langsung namanya. Ia pun terlebih tua tiga tahun daripada nona itu. Nona Han tertawa. "Aku tidak mengantarkan kau!" katanya. "Aku tahu, di dalam hatimu, kau mencaci aku!" Mo Lek tahu ia digodai, ia tidak memperdulikan. "Tempat ini sudah terpisah jauh dari benteng," katanya. "Apakah kau datang seorang diri?" Pemuda ini menanya demikian karena dia berkuatir untuk si nona. Thian Hiong menjadi musuh Pek Thong, meski si nona gagah, kalau ia bersendirian saja, ia terancam bahaya. Tempat sekitar itu tempat pengaruhnya Ong Pek Thong. Bagaimana kalau Pek Thong atau orangnya muncul dan mengenali si nona kawannya Thian Hiong? Maka dia kata pula, "Tempat ini berbahaya. Di sini Ong Pek Thong berkuasa." Di dalam hatinya, dia menambahkan, "Sebenarnya, kalau kau hendak mengantar aku, kau mesti mengantar semenjak tadi, tidak sekarang setelah aku berjalan jauh beberapa puluh lie? Sekarang kau menyusul aku, bukankah kau lagi bergurau?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kamar ini namanya kamar besar, sebenarnya sempit, kecuali sebuah pembaringan, sebuah meja dan sebuah kursi, tidak ada perabotan lainnya. Untuk berduduk saja, mereka mesti berdekatan satu dengan lain, hampir tubuh mereka saling sentuh. Karena itu tak heran apabila hidung si pemuda dapat menangkap semacam bau harum dari tubuhnya si pemudi. Hati Mo Lek goncang. Justeru itu bayangan Yan Ie seperti berpeta di depan matanya. Tak tahu ia apa sebabnya, tiba-tiba ia ingat kepada Nona Ong. Tengah mereka itu bersemedhi itu, sekonyong-konyong terdengar suara berisik di luar hotel, lalu terdengar suaranya tuan rumah, "Para tetamu yang terhormat, silahkan semua keluar dari kamar masing-masing! Ada pembesar negeri melakukan pemeriksaan!" "Sungguh menyebalkan!" kata Cie Hun. "Siapa sangka kita bakal menemukan urusan yang memusingi ini!" Mo Lek tertawa. "Kau sabar saja!" katanya. "Jikalau kita bentrok dengan dia, pusingnya akan jadi berlebihan! Semua tetamu mulai bertindak keluar, maka sepasang muda-mudi itu turut keluar juga, akan bercampuran dengan mereka itu, untuk berkumpul di ruang besar. Ketika itu terdengar suara satu orang, "Di dalam hotel kamu ini, semuanya ini ada berapa orang wanita?" "Ada tiga," menjawab tuan rumah. "Mereka ada pria yang menemani atau masing-masing bersendirian saja?" tanya pula orang itu, si pembesar. "Ada seorang yang berada bersama kakaknya. Yang dua lagi tanpa kawan pria, tetapi merekalah kawan satu dengan lain." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Begitu? Mereka menunggang kuda atau tidak?" "Ada seorang yang menunggang kuda, ialah si nona yang ada bersama kakaknya." "Apakah warna bulu kudanya itu?" "Rupanya uy-piauw-ma." "Baik, kau ajaklah mereka ke istal untuk melihatnya!" Mo Lek bahkan kaget. Ia mengenali suara orang, hanya ia tidak lantas ingat di mana ia pernah mendengarnya, hingga ia tak tahu juga, siapa pembesar itu. Ketika keduanya sampai di ruang besar itu, mendadak Tiat Siauw-cecu gentar hati. Sekarang ia telah melihat nyata pada si pembesar. Mukanya menjadi pucat. Pembesar itu, dua orang, bukan lain daripada Liap Hong, komandan muda dari An Lok San, dan yang bicara itu, Ceng Ceng Jie si jago yang selama di Hui Houw San telah bertempur dengan Toan Kui Ciang, pamannya. Ia bukannya takut, sebaliknya, hatinya panas. Mukanya menjadi merah dan giginya bercatrukan saking menahan gusar. "Syukurlah kakanya tak datang bersama," pikirnya pula. Selama waktu pertempuran Ceng Ceng Jie dengan Toan Kui Ciang di Hui Houw San, Mo Lek menjadi salah satu penonton. Kedua kalinya, ia menemukan Ceng Ceng Jie di Liong Bin Kok. Juga ketika itu, ia tidak sampai menempur Sutee dari Khong Khong Jie itu. Sekarang ini ia telah bertambah usia, maka itu selagi ia mengenali orang, orang tak mengenali padanya, bahkan tak tahu. Mo Lek Heran hingga ia berpikir pula, "Mereka bukan ahli tenung, cara bagaimana mereka bisa ketahui kudanya adik Hun http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

ada di sini? Ah, pastilah mereka bukan datang untuk kuda itu... Habis, untuk apakah? Pula Liap Hong ini, dialah orang An Lok San, mengapa dia meninggalkan Hoan-yang yang jauhnya beberapa ratus lie dan datang kemari, merondakan sebuah dusun sekecil ini?" Tak dapat Mo Lek menerka, maka terus ia menghadapi tekateki. Dua wanita lainnya ada wanita-wanita tukang jual silat, rambut mereka panjang. Ceng Ceng Jie menyuruh serdadunya mengangkat obor tinggi-tinggi, guna menyuluhi muka orang. Ia mengawasi sekian lama. Mendadak ia mengulur tangannya, meraba rambut wanita. Wanita yang terlebih tua, yang romannya sangat menarik hati, tertawa cekikikan. "Tayjin, kau bikin apa?" dia menegur. "Aduh! Aduh! Ha, ha, ha, ha! Geli! Geli!" Mendadak Ceng Ceng Jie menolak tubuh orang. "Ngaco belo!" bentaknya. "Siapa bergurau denganmu? Kau mundur, di sini tidak ada urusanmu!" Itu artinya kedua wanita itu bebas dari sangkaan jelek. Ceng Ceng Jie lantas menoleh kepada Han Cie Cun. Dia melirik, dia mengawasi, agaknya dia terkejut karena heran. "Kau kerja apa?" akhirnya dia tanya. "Aku bersama kakakku pergi menyingkir dari ancaman peperangan," sahut si nona. "Hm, nona yang cantik!" kata pembesar itu. "Kau mengerti silat, bukan?" Ia terus menunjuk pedang di pinggang orang. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Aku tidak mengerti silat, tetapi di waktu tak aman seperti ini, ada baiknya aku membekal senjata," sahutnya pula. "Umpama kata ada orang jahat, tak nanti dia sembarang dapat mengganggu..." "Hm!" bersuara Ceng Ceng Jie, yang maju satu tindak, lalu mendadak tangannya diulur, hingga menyamber tangan orang. "Kurang ajar!" berseru Tiat Mo Lek. "Kau menghina kaum wanita!" Sembari membentak itu, anak muda ini mengayun tangannya ke muka orang. Tak suka ia melihat orang demikian ceriwis. Tak mudah Ceng Ceng Jie mengasih mukanya digaplok. Ia menggeraki tangannya, guna menangkap tangan orang. Sembari tertawa, ia kata, "Bocah tolol, apakah kau sudah bosan hidup?" Berhasil samberan itu, akan tetapi Mo Lek mengerahkan tenaganya. Maka si ceriwis terkejut. Dia membentur tangan yang kuat, yang keras sekali tenaga membaliknya, hingga cekalannya menjadi terlepas! Walaupun demikian, dengan tangannya yang lain, ia mencoba meraba kulit putih halus dari si nona. Ia dapat bergerak dengan cepat dan gesit. Han Cie Hun dapat melihat gerakan orang, ia lantas mengebut, buat menarik perhatian orang, dilain pihak, dengan tangannya yang lain, ia membalas menyerang, menotok beruntun dengan lima jeriji tangannya. Ia menyerang sambil berlompat berjingkrak, maka itu, ia dapat rnengarah batok kepala! Ceng Ceng Jie terkejut. Sebenarnya dia telah menduga kakak beradik itu mengerti silat, hanya mimpi pun dia tak http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menyangka orang demikian liehay. Dalam kagetnya, dia berlompat mudur dengan gerakan tipu silat "Burung Hong mengangguk". Dia terkejut pula. Biarnya dia sangat gesit, jeriji si nona sudah mengenakan juga padanya. Hingga sedetik itu dia merasa kepalanya nyeri dan matanya kegelapan! Ketika itu Tiat Mo Lek sudah menghunus pedangnya, sambil berlompat maju, ia menikam kepada Ceng Ceng Jie. Meski matanya belum sempat dibuka, Ceng Ceng Jie dapat mendengar suara anginnya lawan, dengan gesit ia menggeser tubuh, untuk berkelit. Ia berhasil menolong dirinya. Dalam ilmu ringan tubuh, ia menang dari si pemuda. Maka juga, meski ia dirangsak dan ditikam berulang-ulang, Mo Lek gagal. Ketika serangan yang keempat kali tiba, Ceng Ceng Jie telah sempat menghunus pedangnya, dengan itu ia menangkis, hingga kedua senjata bentrok dengan nyaring. Sebagai akibatnya bentrokan itu, Ceng Ceng Jie mundur dua tindak dan Mo Lek rugi pedangnya, yang kena "terluka" sedikit... Keduanya bertempur terus secara hebat, dua-dua sama penasarannya. Liap Hong tidak turut bertempur, akan tetapi dengan pedang terhunus, ia menjaga di ambang pintu. "Apakah cuma ini dua orang?" ia tanya. "Jangan perdulikan mereka berdua penjahat atau bukan, tangkap dulu!" Ceng Ceng Jie memberikan jawabannya. Dengan kata-kata itu, dia sebenarnya minta bantuan si kawan. Belum sampai Liap Hong maju, Han Cie Hun sudah mendahului menerjang. Nona ini menggunai pedangnya, http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pedang Ceng Kong Kiam, sebagai Poan-koan-pit, alat peranti menulis. Dengan ujung pedangnya ia menikam berulang-ulang mencari jalan darah Ceng Ceng Jie. Saudara seperguruannya Khong Khong Jie menjadi heran, hingga dia memperdengarkan suara herannya itu. "Eh, budak perempuan, kau juga bisa menotok!" katanya. Untuk melayani, jago ini segera bertindak dengan "Yu-liong Jiauw-pou," yaitu tindakan "Naga memain". Ia selalu berkelit, saban-saban ia membalas. Seperti si nona, di dalam tempo yang pendek ia dapat membalas menikam tujuh kali. Ceng Ceng Jie menang di dalam halnya ilmu ringan tubuh serta latihan, maka itu kemudian pedangnya telah meluncur ke iga si nona, begitu cepat hingga nona itu-kaget. Sasaran dari itu ialah jalan darah jie-khie. Cie Hun baru saja menyerang ke tempat kosong ketika ia dibalas ditikam ini. Syukur untuknya, selagi ia terancam bahaya itu, Mo Lek datang di saat yang tepat menalangi ia menangkis. Dengan satu gerakan "Seng-liong In-hong," atau "Menunggang kuda menarik burung Hong," pemuda she Tiat itu membuat pedang Ceng Ceng Jie terpental. Tapi kedua senjata bentrok, Mo Lek yang mendapat kerugian, yaitu pedangnya kalah dan sempoak pula. Pedangnya Ceng Ceng Jie pedang yang tajam yang dibuat dari campuran emas dengan besi pilihan, maka juga diberi nama "Kim Ceng Tiat Kiam". Badan pedang guram tak bercahaya, dilihatnya tak mempuasi, akan tetapi pedang itu berat dan tajam sekali. Siapa bentrok dengan pedang itu akan merasa seperti bentrok dengan toya besi. Melihat Han Cie Hun lompat mundur, Ceng Ceng Jie tertawa terbahak. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ilmu totok kau tak dapat dicela, kau belum melatihnya sempurna!" kata dia. Itulah pujian campur ejekan. Meski begitu, di dalam hati, Ceng Ceng Jie gentar. Ilmu pedang Ceng Ceng Jie didapat dari kitab silat peninggalan Wan Kong. Kitab silat itu sudah lama lenyap dari peredaran, baru pada tiga puluh tahun yang lampau dapat diketemukan gurunya di dalam sebuah kuburan tua. Maka Ceng Ceng Jie mempelajarinya bersama Khong Khong Jie, sang suheng. Kakak seperguruan ini dapat menikam, atau menotok sembilan jalan darah, tapi adiknya cuma tujuh. Maka itu, di dalam ilmu totok dengan pedang itu. kecuali si kakak seperguruan, dialah yang dia rasa paling liehay. Tak tahunya sekarang dia menemui Han Cie Hun, seorang gadis remaja, bahkan ilmu pedang si nona beda daripada ilmu pedangnya sendiri. Karena itu, ia jadi berpikir, "Apakah ilmu totok pedang ini bukan cuma asal satu partai dan disebelahnya Wan Kong masih ada lain ahlinya? Budak ini kalah latihan, tetapi nanti, selang beberapa tahun, bukankah dia bakal jadi sangat liehay?" Ia berpikir demikian karena ia tak tahu Cie Hun putri Han Tam, ahli totok nomor satu di jamannya itu. Liap Hong menghunus pedangnya, dia maju membantu dengan satu serangan pedang "Burung walet menggaris pasir," ia menikam dengkulnya Tiat Mo Lek. "Eh, kau juga datang?" Mo Lek berseru sambil ia menabas dengan pedangnya ia bersilat dengan ilmu silat golok. Liap hong menjadi ahli pedang nomor satu dibawahnya An Lok San, toh ia belum pernah lihat ilmu goloknya Mo Lek, dari itu ia terkejut ketika senjata mereka beradu keras, suaranya http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

nyaring, lelatu api muncrat berhamburan dan ketika ia periksa pedangnya, pedang itu gompal. Maka lantas ia menatap lawannya. "Ah, kau!" ia berseru heran. "Liap Ciangkun, apakah kau kenal padanya?" Ceng ceng jie bertanya. "Dialah Tiat Mo Lek, anaknya Tiat Kun Lun," jawab Liap Hong Setelah pertempuran di Hui Houw San, Khong Khong Jie kenal baik sekali Tiat Mo Lek, karena itu sang suheng telah memberutahukan kepada adik seperguruannya sambil memesan, kalau si sutee ketemu Mo Lek, dia harus berlaku murah hati. Liap Hong pernah mendengar Ceng Ceng Jie bicara tentang Mo Lek itu, karenanya sekarang perwira ini sengaja menyebut jelas nama anak muda dengan pengharapan suteeenya Khong Khong Jie Ini suka melepaskan Mo Lek. Akan tetapi Ceng Ceng Jie berpikir lain. Dia telah dipengaruhi sangat dengan jasa. Disamping menghormati Khong Khong sang suheng, dia juga ingin membaiki Ong Pek Thong. Maka dia tertawa bergelak. "Kiranya kaulah Tiat Mo Lek, anak angkat dari si setan tua bangkotan Touw Lo-toa!" katanya, nyaring. "Dulu hari kau diberi ampun oleh suhengku, kau tidak dibikin mati, maka sekarang, dengan memandang suhengku itu, aku juga tidak akan merampas jiwamu! Lekas kau letakkan senjatamu, supaya kau tidak usah sampai terluka dan tersiksa karenanya” Itulah nasehat atau bujukan supaya Mo Lek menyerah, supaya la bisa bawa anak muda itu untuk diserahkan kepada Ong Pek Thong http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Tiat Mo Lek menjadi gusar. Sebaliknya daripada menyerah, ia kata nyaring, "Ceng Ceng Jie! Lekas kau berlutut dan mengangguk tiga kali kepadaku! Kau mesti membenturkan kepalamu dengan nyaring! Secara demikian, mungkin aku nanti memberi ampun padamu!" Ceng Ceng Jie mendongkol bukan kepalang. "Bangsat cilik yang temberang!" dia membentak. "Sebenarnya kau sudah belajar silat beberapa hari?" Lantas ia menyerang dengan seru sekali, ketika si anak muda berkelit dan menangkis, ia mendesak keras. Liap Hong mengeluh di dalam hati. Ia berkuatir untuk pemuda itu. Mo Lek tidak takut, ia melawan sama kerasnya. Ia menggunai "Liong-heng Kiam-hoat," atau ilmu pedang "Naga" yang ia pelajari dari kitab pedangnya Toan Kui Ciang, yang semuanya terdiri dari enam puluh empat jurus. Dibawah pimpinan Mo Keng Lojin, ia juga sudah berlatih selama tujuh tahun, maka itu kepandaiannya tak beda seberapa dengan kepandaian Ceng Ceng Jie. la cuma kalah senjata dan pengalaman, tapi sebaliknya, ia menang semangat. Ceng Ceng Jie mesti berlaku waspada ketika ia melihat lawan muda itu merangsak mati-matian. Ketika itu Liap Hong sudah turun tangan membantu Ceng Ceng Jie. Mo Lek menyerang sama hebatnya kepada perwira ini, yang menyebutkan namanya terang-terangan, hingga ia menyangka si perwira konconya sutee dari Khong Khong Jie itu. Karena ia berlaku keras, Liap Hong jadi berlaku sungguhsungguh juga. Perwira ini takut ia nanti dicurigai Ceng Ceng Jie, tak berani ia berlaku ayal-ayalan. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ceng Ceng Jie mengeluarkan kepandaiannya, karena ia dibantu Liap Hong, dengan lantas ia dapat mendesak Tiat Mo Lek. Rangsakan pemuda itu kena dirintangi. Han Cie Hun, yang bertempur terus, juga merasakan kesukaran, tak dapat ia mendesak. Selagi mereka berempat bertarung seru itu, mendadak terdengar suara berisik dari kuda dan manusia. Telah terjadi kekacauan di luar rumah. Itulah rombongan tentara yang didatangkan Ceng Ceng Jie setibanya dia di dusun Hu Hong Tin. Mereka tidak berarti banyak. Atas perintah, mereka pergi ke istal, buat mengambil kuda bulu kuning itu. Apa celaka kuda-itu melawan dan menjentil roboh empat atau lima diantaranya. Kuda itu lari ke jalan besar, dimana kawanan tentara itu memegatnya, dari itu hiruk pikuklah suara mereka. Mendengar suara kuda itu, Han Cie Hun ingat suatu apa. "Mo Lek, mari!" ia memanggil. Mo Lek pun mendapat serupa pikiran seperti si nona. Maka mendadak mereka melakukan serupa gerakan berbareng. Bersama-sama mereka lompat menerjang Liap hong Perwira itu nampak kaget, ia lompat ke samping. Ia memang tidak mau mengadu jiwa. Dengan ia berkelit, muda-mudi itu sudah lantas dapat meloloskan diri, keluar dari dalam rumah. Kuda itu mengenali baik majikannya, dia dapat membela juga. Sebenarnya setelah lolos, dia dapat lari kabur, tetapi dia tidak berbuat demikian, dia lari sana-sini dan mundar-mandir, ringkiknya tak hentinya. Itulah panggilannya untuk majikannya. Asal ada serdadu yang datang dekat padanya, dia menyerang dengan kedua kaki belakangnya. Untungnya http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kawanan serdadu itu dapat perintah untuk menangkap hidup, jadi tidak ada yang berani memanah atau menggunakan senjata tajam lainnya. Dia jadi cuma dikepung-kepung. Setiap kali dia dikurung, dia menerjang, dia membuat orang buyar. Tapi begitu dia melihat Mo Lek dan Cie Hun, segera dia lari menghampirkan. Ceng Ceng Jie sangat liehay. Dia tak sudi membiarkan orang lolos. Dia mengejar dengan berlompat tinggi, dia melewati muda-mudi itu, untuk turun di sebelah depannya, untuk mencekal kuda itu, yang mesti mundur karena tak sanggup bertahan dari tenaga orang yang luar biasa. Dia mundur belasan tindak. Kuda itu kaget tetapi tidak merangsak lagi. Setelah menahan sang kuda, Ceng Ceng Jie memutar tubuhnya, untuk menghadapi kedua lawannya, sembari tertawa terbahak, dia berkata, "Apakah kamu masih memikir untuk kabur? Hm!" Mo Lek dan Cie Hun tidak menjawab dengan mulut, hanya dengan masing-masing senjatanya. Keduanya menyerang kepada penghadang itu. Pedang yang satu menikam ke pundak, pedang yang lain membabat kedua kaki. Jadi itulah serangan ke atas dan ke bawah. Karena keduanya sama liehaynya, bisa dimengerti hebatnya sambutan itu. Ceng Ceng Jie pun liehay, tak sudi ia menyambut keras dengan keras. Ia berlaku licik. Ia mengandalkan keringanan tubuhnya. Setelah berkelit, ia berlompatan ke kiri dan kanan kedua lawannya itu. Mo Lek dan Cie Hun merasakan sulit. Terpaksa mereka memernahkan diri punggung dengan punggung. Dengan begitu mereka menjadi tak usah memutar tubuh, tak usah mereka memperhatikan lagi bagian belakang mereka. Dapat mereka http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

melihat ke depan dan ke kiri kanan dengan merdeka. Untuk sementara mereka mengambil sikap membela diri saja. Kembali Liap Hong merasakan sulit. Ia ingin membiarkan dua orang itu pergi, tetapi setelah orang dirintangi Ceng Ceng Jie, tidak dapat ia menonton saja. Maka terpaksa ia maju, untuk membantui lawan itu. Mo Lek dan Cie Hun menjadi repot. Datangnya Liap Hong itu menambah repotnya mereka membela diri. Sembari mendesak itu, Ceng Ceng Jie bersiul nyaring. Dengan lantas seorang opsir yang menunggang kuda mengaburkan kuda kepadanya. "Bu Tayjin," kata Ceng Ceng Jie pada opsir itu, "Tolong kau tangkap kuda itu. Dialah kuda jempolan, jangan kau lukai!" Opsir she Bu itu, Leng Sun namanya. Dia menjadi salah satu opsir yang dipercaya An Lok San. Dia kenal kuda itu kuda tunggangan Cin Siang. Mendengar suaranya Ceng Ceng Jie, dia tertawa dan kata, "Tak usah dipesan lagi. Aku tahu kuda ini kudanya Cin Siang yang kemarin ini kabur dari Hoan-yang, maka itu, tak perduli kedua bocah ini ada sangkut pautnya atau tidak dengan orang she Cin itu, baiklah mereka dibekuk! Ini pula berarti satu pahala besar!" Ceng Ceng Jie pun tertawa. "Liap Ciangkun, sungguh kebetulan untuk kita!" kata dia kepada Liap Hong. Liap Hong mengerti. Mengertilah ia yang Ceng Ceng Jie mulai mencurigakannya. Sudah tentu, tidak dapat ia membuat rahasia hatinya terbuka. Ia tidak menjawab tetapi ia tahu bagaimana harus bersikap. Maka ia mulai menyerang keras pada Mo Lek atau Cie Hun. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Muda-mudi itu merasai kesukaran hebat. Mereka terdesak, repot mereka membela diri. Selagi pengepungan berlangsung hebat itu, orang mendengar suara derapnya seekor kuda yang dengan lekas sekali telah tiba di luar kalangan pengepungan, hingga terlihat itulah seekor kuda putih pilihan dengan penunggangnya seorang nona. Begitu tiba, nona itu tertawa nyaring, iramanya, gembira sekali. "Kamu keliru mencari orang!" demikian katanya keras tetapi merdu. Lantas kedua tangannya bekerja, mengerjakan panahnya. Bu Leng Sun sedang menangkap kuda uy-piauw-ma ketika itu dia menjerit keras dan kesakitan, sebab lengannya kena terpanah. Tiat Mo Lek berpaling, lantas dia berseru, "Oh, kau, Nona Hee!" "Ya!" menjawab si nona, ialah Hee Leng Song, yang lantas menerjang, hingga sebentar saja ia sudah menoblos kurungan barisan serdadu, datang dekat pada Mo Lek semua. Ceng Ceng Jie berpaling, dia memutar tangannya, guna menuding si nona yang baru datang itu, "Kiranya kaulah si penjahat kemarin malam!" Sembari menegur itu, ia bergerak terus, berlompat untuk menerjang. Itulah tipu silat "Elang menyambar kelinci". Nona Hee menangkis serangan itu. Kebetulan sekali, tangkisannya berbareng dengan tangkisan Tiat Mo Lek. Senjata kedua pihak lantas beradu dengan keras. Selagi suara beradu terdengar nyaring, tubuhnya Ceng Ceng Jie berjumpalitan

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

mundur, dan si pemuda dan pemudi mundur masing-masing ke samping! Berdua mereka menang tenaga tetapi Ceng Ceng Jie menang gesit dan enteng tubuh. Segera setelah sama-sama mundur, kedua belah pihak maju pula dengan berbareng, saling menghampirkan guna melanjuti pertempuran. "Ha, nona yang cantik!" kata Ceng Ceng Jie tertawa. "Syukur malam itu pedangku tak membuat parasmu bercacad!" Dia maju terus dengan tindakan "Naga mendekam". Mo Lek dan Leng Song telah menyerang pula, dengan lawannya berkelit, serangan mereka mengenai tempat kosong. Ketika itu digunai Ceng Ceng Jie, buat mendesak, sembari mengancam dengan pedangnya, tangan kirinya menotok si nona. Leng Song seperti telah dapat menerka maksud orang, tanpa ayal lagi, ia menyambut dengan satu sabetan, dengan tipu silat "Burung Hong mengangguk". "Telengas!" Ceng Ceng Jie berseru selagi ia membebaskan diri. Tapi kali ini, dua-duanya tak lolos. Ujung bajunya Nona Hee kena terbentur tangan orang dan menjadi robek hingga terdengar suaranya. Bajunya Ceng Ceng Jie di lain pihak telah ditembuskan juga ujung pedang. Syukur tubuh mereka masingmasing tak terlukakan. "Bangsat cilik!" Leng Song mendamprat. "Jikalau kau tidak dapat balas sakit hati ini, tak sudi aku menjadi manusia!" Nona ini bersakit hati karena ujung rambutnya pernah dipapas Ceng Ceng Jie.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ceng Ceng Jie telah dipujikan dan diserahkan Pek Thong kepada An Lok San untuk melindungi An Lok San serumah tangga, maka ia menjagai istananya Ciat-touw-su yang berontak itu, tetapi tadi malam, ketika Nona Hee tiba, mereka bentrok, di situ si nona cuma kena terpapas ujung rambutnya. Selama itu, Ceng Ceng Jie belum melihat tegas nona itu. Ketika Leng Song lolos, ia keluar dengan kudanya yang berbulu putih itu, yang satu hari dapat lari seribu lie. Tak sanggup Ceng Ceng Jie mengejarnya. Karena itu Leng Song dapat lolos terus dan lalu singgah dilain rumah penginapan di jalan itu juga. Ini pula sebabnya kenapa dari kamarnya ia mendengar suara berisik, lantas ia keluar untuk melihat, hingga ia mengenali Mo Lek. Ilmu pedang Nona Hee ilmu pedang satu cabang sendiri, dan kali inilah yang pertama kali Ceng Ceng Jie bentrok dengan si nona, mulanya Ceng Ceng Jie memandang ringan nona itu, baru sekarang, sesudah mereka beradu tangan, dia insaf orang liehay. Bantuannya Mo Lek pun mempersulit padanya. Tenaga dalam si pemuda sama tangguhnya dengan tenaga dalam si pemudi. Bentrokan itu merugikan Mo Lek. Lagi-lagi pedangnya menambah cacad. Dilain pihak, pedang Ceng Ceng Jie kena dibikin terpental, syukur tak sampai pedang itu terlepas dari cekalannya. ^ "Kena!" terdengar Nona menyambar bagaikan kilat. Hee berseru, pedangnya

Kali ini Ceng Ceng Jie yang gesit kewalahan juga. Ujung pedang si nona telah mengenai pundaknya. Lantaran ia sempat berkelit, lukanya hanya luka lecet saja. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

i Liap Hong sudah lantas maju guna melindungi kawan itu, tetapi dia dipegat Tiat Mo Lek, yang terus menegur keras, "Eh, binatang, kenapa kau membantui harimau mengganas? Nyata kau tak dapat diberi ampun!" Sembari menegur, Mo Lek menyerang dengan satu tabasan. Tepat Mo Lek menabas, Leng Song sudah mendahului padanya. Selagi Liap Hong hendak membela diri dari si anak muda, ujung pedang si pemudi sudah menggores pundaknya, hingga darahnya lantas muncrat keluar. Sambil menjerit keras, ia lari kabur! Mo Lek jadi menyerang sasaran kosong, karena ia menggunai tenaga berlebihan, tubuhnya sampai lewat ke depan. Ia menyesal sekali, hingga berulang kali ia berseru, "Sayang! Sayang!" Tak terpikirkan si anak muda, Leng Song dengan serangannya itu memang berniat meloloskan opsir itu, kalau tidak, belum tentu bagaimana jadinya dengan Liap Hong. Peristiwa itu ada baiknya untuk Liap Hong, dia jadi pergi dengan alasan yang kuat. Segera seberlalunya Liap Hong, Ceng Ceng Jie kontan kena dikepung bertiga oleh Mo Lek, Cie Hun dan Leng Song. Inilah berbahaya untuknya, tak perduli dia liehay sekali. Melawan Mo Lek dan Cie Hun, dia belum dapat berbuat banyak, bagaimana sekarang setelah tibanya Nona Hee. Begitulah, belum lama, beberapa kali ia sudah terancam serangan serangan yang membahayakan. Pertama hampir kena jalan darah soan-kje kena ditikam Cie Hun, lalu pedangnya Mo Lek mengancam dahinya. Syukur dia masih tetap gesit. Menghadapi suasana itu, sutee dari Khong Khong Jie tidak berani melawan lebih lama pula. Tepat ketika Mo Lek http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

membacok, dia berseru, "Bagus!" lalu dengan pedangnya dia menyambuti pedang lawan, untuk ditekan keras, berbareng dengan itu, dia meminjam tenaga lawan tubuhnya mencelat mundur, untuk menjauhkan diri. "Tinggalkan batok kepalamu!" berseru Leng Song, yang menyerang selagi orang mencelat itu. Ceng Ceng Jie terkejut, tetapi dia tabah, dia tidak menjadi gugup. Dengan sebat dia berkelit, kepalanya ditunduki, supaya pedang si nona lewat di atasan kepalanya itu. Dia gesit sekali, dia toh masih kalah sebat. Dia cuma bisa menolongi batang lehernya, ujung rambutnya tidak! Rambutnya itu kena tertabas pedang si nona, hingga Leng Song berhasil mencari balas! "Ha, ha!" tertawa si nona, yang menyesal berbareng girang. "Baiklah, rambutmu ini dapat mengganti jiwamu, maka pergilah kau, aku beri ampun!" Ceng Ceng Jie lolos untuk kabur terus, sebentar saja dia telah merat jauh. Cuma dari arahnya itu terdengar suara terompet nyaring. "Dia masih belum puas!" kata Nona Hee. "Rupanya dia memikir memanggil bala bantuan!" "Biarlah dia tak puas!" kata Mo Lek. "Aku pun masih penasaran! Aku cuma kuatir dia tak berani datang pula!" Leng Song tertawa. "Untuk menuntut balas tak perlu orang kesusu!" katanya manis. "Sebenarnya syukur yang kita dapat membuatnya kucarkacir!" "Ya," berkata Cie Hun. "Kita masih harus lekas pergi ke Kiugoan, tak perlu kita melakukan pertempuran lagi!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Leng Song menunggang kuda, maka itu Cie Hun kata pada si pemuda, "Mo Lek, mari kita berdua naik atas uy-piauw-ma! Kuda lainnya tak dapat menyusul kuda putih encie Hee!" Sembari berkata, Cie Hun lompat atas kuda uy-piauw-ma, tangannya terus menggape, melihat demikian, terpaksa Mo Lek berlompat naik di depan nona itu, maka juga bertiga, atas dua kuda, mereka meninggalkan dusun Hu-hong itu, untuk kabur ke barat. Benar-benar kedua kuda jempolan, larinya sama pesatnya. Selagi mengaburkan kudanya, Cie Hun memeluk erat pinggang si anak muda, sembari tertawa, ia kata perlahan, "Bukankah hari itu kau juga memeluk secara begini?" Muka dan telinga Mo Lek merah digoda nona yang jail ini. Mau atau tidak, sendirinya ia menjadi ingat Yan Ie. Ia berdiam saja atas godaan itu. Tak lama langit telah menjadi terang, Leng Song menahan kudanya. "Sekarang dapat sudah kita beristirahat," kata ia. "Sedikitnya kita sudah melakukan perjalanan seratus lie, meski ilmu ringan tubuh Ceng Ceng Jie sangat liehay, tidak nanti dia dapat menyusul kita." Mo Lek dan Cie Hun mengangguk. Pemuda itu gembira sekali. Sudah banyak tahun ia tak bertemu dengan Nona Hee. Dan pertemuan kali ini sungguh diluar dugaan. Dengan lantas ia minta keterangan hal Kui Ciang. "Selama beberapa tahun ini mereka suami isteri telah terus menerus pergi mengembara," sahut Nona Hee, "Mereka terus mencari anak mereka, akan tetapi tetap mereka belum pernah berhasil menemuinya." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Apakah kau pernah menemui mereka, Encie Hee?" "Pernah aku menemuinya pada tiga tahun yang lalu. Yang paling belakang ini aku dengar mereka berada di Hoan-yang tetapi aku tidak melihatnya." Mendengar kata-kata si nona, baru Mo Lek sadar. "Pantas Ceng Ceng Jie dan lainnya mengatakan hendak menangkap orang jahat," katanya, "Kiranya encielah yang mencoba membunuh An Lok San!" Leng Song tertawa. "Maksudku bukan melulu hendak membinasakan orang she An itu," kata ia. "Dia menggeraki tentaranya untuk berontak, kebetulan saja aku tiba di sana di saat dia bergerak itu, jadi niatku timbul secara tiba-tiba. Diluar sangkaku, aku telah bertemu dengan Ceng Ceng Jie." "Bagaimana dengan See-gak Sin Liong Hong-hu Siong?" Mo Lek tanya lagi. "Apakah kemudian kau telah bertemu pula dengannya?" Ditanya halnya si Naga Sakti dari Gunung Barat itu, parasnya Leng Song berubah dengan sekonyong-konyong. Ia lantas berkata dengan sengit, "Hantu besar itu yang tak ada kejahatan besar yang tak dilakukannya! Mau apa kau menanyakan halnya?" "Tentang dia pernah aku tanyakan guruku," menjawab Mo Lek. "Menurut guruku, Hong-hu Siong benar seorang luar biasa disebabkan kelakuannya yang kadang-kadang aneh. Orang Kang Ouw menyebut Hong-hu Siong jahat tetapi guruku tak percaya segala perbuatan jahat yang dituduhkan itu benar dilakukan olehnya..."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Hm!" Leng Song memutus. "Sungguh aku tidak mengerti kenapa bangsat itu mempunyai peruntungan demikian bagus? Beberapa orang tua-tua pada bicara baik tentang dirinya! Toh aku telah menyaksikan dengan mataku sendiri bagaimana dia telah membinasakan Ciu-kay Kie Tie! Rupa-rupanya Toan Tayhiap belum menuturkan kau tentang peristiwa kebinasaannya Kie Lo-cianpwe itu, bukan?" -ooo0dw0oooJilid 15 Mo Lek mengawasi, ia nampak heran. Leng Song lantas menceritakan kejadian dahulu hari itu ketika ia melihat Hong-hu Siong membunuh Kie Tie untuk mencegah Kie Tie menutur jelas kepada Toan Kui Ciang. Ia tuturkan bagaimana mereka mengepung See-gak Sin Liong, yang tak suka Kie Tie membeber rahasia, maka Kie Tie dibunuh secara membokong. Bukan main herannya Mo Lek. Mereka berjalan terus dengan memperlahankan jalannya kuda mereka. Selang sekian lama, mereka tiba di sebuah jalan cagak tiga. "Ya, aku belum sempat menanya kau," kata Nona Hee sambil ia menahan kudanya. "Sebenarnya kamu mau pergi ke mana?" "Kami mau pergi ke Kiu-goan untuk aku menjenguk kakak seperguruanku," menjawab Mo Lek. "Katanya Kwe Cu Gie lagi membutuhkan tenaga bantuan. Si nona mengangguk. "Jikalau nanti kamu bertemu Lam Ce In," katanya perlahan, "Tolong kau sampaikan padanya bahwa aku lagi menantikan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dia. Juga suruh ia datang lagi beberapa hari, jikalau dia terlambat hingga suasana sudah menjadi genting, dikuatir sulit untuknya menyingkir..." Mo Lek mengawasi nona itu, dia tertawa. "Ha, kiranya kamu telah bergaul sangat erat!" katanya menggoda. "Meski begitu Lam Suheng masih tidak hendak bicara suatu apa padaku!" Leng Song membiarkan orang menggodanya, ia hanya meminta diri untuk berangkat terus seorang diri, karena di situ mereka harus berpisahan. Ia tak ketahui, di lain pihak, Liap Hong sudah didesak oleh Ceng Ceng Jie, hingga ketika Ceng Ceng Jie minta keterangannya, dia telah memberitahukan alamat Leng Soat Bwe, ibunya yang lagi tinggal menyembunyikan diri. Ketika itu Liap Hong, yang terlukakan dan lari, telah dapat disusul Ceng Ceng Jie. Ia kalah licik, ia kena terbujuk dan terdesak. Tadinya Liap Hong berat berbicara, tetapi guna mencegah dirinya dicurigai, ia menerangkan juga, atas mana Ceng Ceng Jie tertawa dan kata, "Nah, ini barulah namanya sahabat!" Tak enak suara tertawanya itu. Liap Hong malu dan mendongkol, ketika ia mengangkat kepalanya, Ceng Ceng Jie sudah meninggalkannya. Mo Lek dan Cie Hun melanjuti perjalanan. Kuda mereka kuat sekali, meski muatannya dua lipat, dia masih dapat lari keras. Begitulah besoknya tengah hari, mereka telah sampai di Kiugoan. Segera mereka pergi langsung ke kantor Thaysiu, untuk minta menghadap. Tatkala pengawal pintu ketahui si pemuda menjadi adik seperguruannya Lam Ce In, mereka disambut dengan hormat. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Sekarang ini Thaysiu dan Lam Ciangkun berada di tanah lapang tengah melatih panah, silahkan Ciongsu masuk saja. Ciongsu bukan orang luar!" demikian katanya. "Silahkan!" Tiat Mo Lek tidak berlaku sungkan, ia ajak Cie Hun memasuki lapangan, yang berada di dalam kantor Thaysiu, karena itulah tempat berlatih dari para perwira pertengahan dan bawah. Ia lantas memberi hormat kepada Kwe Cu Gie, baru pada Ce In, suhengnya itu. Kwe Thaysiu melihat Mo Lek bertubuh kekar, tetapi ketika itu tak sempat ia mengajak bicara. "Silahkan duduk, lihatlah para perwira berlatih!" katanya. Mo Lek menurut, ia mengucap terima kasih. Ketika itu orang lagi melatih diri dengan memanah sehelai papan dimana dibuat titik merah di tengah-tengah, jaraknya seratus tindak lebih. Selain mesti memanah tepat, orang juga mesti memanah keras, karena busur yang digunai apa yang dinamakan "Busur dengan kekuatan lima karung". Kwe Cu Gie mempunyai orang-orang yang terlatih. Dari sepuluh orang, tujuh di antaranya berhasil memanah sasaran hingga tiga kali dan dua yang mengenakan dua kali. Yang paling buruk, yang seorang dapat memanah satu kali. Selagi mengawasi rombongan perwira itu, tiba-tiba Mo Lek merasa ia kenal, atau mengenali satu di antaranya, hanya ia tak ingat, siapa dia dan di mana pernah ia melihatnya. Ia pun tidak sempat berpikir sebab Kwe Cu Gie sudah lantas berkata padanya, "Tiat Congsu, apakah kau juga hendak mencoba memanah?" Mo Lek tidak dapat menampik. Ia memang ingin perlihatkan kepandaiannya. Ia berlaku sebat menyiapkannya, lantas ia http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

memanah, dengan beruntun. Ia mengenai tepat titik merah, ketiga anak panah saling susun hingga jatuh ke tanah. Tempik sorak menyambut pertunjukan kemahiran itu, bahkan Kwe Cu Gie sambil berkata, "Seribu serdadu muda didapat, satu panglima susah dicari! Tiat Congsu, kedatanganmu ini merupakan bantuan Thian untukku!" Maka latihan lantas disudahi dan anak muda itu segera diundang berkumpul di ruang dalam dimana dia dijamu. Selama bersantap orang bicara dari hal peperangan. Nyata An Lok San sudah bergerak dengan berhasil. Selama setengah bulan, dia telah dapat merampas tujuh atau delapan kecamatan atau kewedanaan, majunya sangat pesat. Malah ketika dia mendapatkan kota Thay-goan, caranya luar biasa. Sebuah pasukannya menuju ke kota Thay-goan itu. Pembesar kota itu yang bernama Yo Kong Hui, yang menjadi saudara sepupu dari Yo Kok Tiong, tidak percaya Ciat-touw-su itu berontak, dia membuka pintu kota menyambut pasukan itu, maka dengan mudah saja ia lantas ditangkap dan dibelenggu, terus dikirim kepada An Lok San hingga dia menerima kebinasaannya. "Heran, bagaimana bisa dia maju demikian mudah?" tanya Mo Lek heran. "Itulah disebabkan negara sudah terlalu lama aman dan tentara menjadi kurang pendidikan," kata Kwe Cu Gie. "Panglima yang pandai dan tentara yang terdidik kebanyakan berada di perbatasan. Di dalam negeri, persiapan terabaikan, begitu terjadi perang, mereka menjadi tidak berdaya." Sebenarnya pendirian dan aturan tentara Kerajaan Tong sempurna sekali hanya semenjak Lie Lim Hu menjadi perdana

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menteri, aturan itu tinggal aturan saja, pelaksanaannya tersiasiakan, hingga tentara terdiri dari orang-orang tidak keruan. Sebaliknya tentaranya An Lok San terdidik baik, bahkan dia mencampurnya dengan pasukan suku Turk, sedang rangsumnya banyak. Maka dia menjadi kuat sekali. "Syukur sekarang ini Pemerintah Agung sudah menugaskan Tayciang Ko Sie Han mengumpul tentaranya di kota Tongkwan, dengan demikian dia dapat menjadi pelindung kota Tiang-an," Kwe Cu Gie menerangkan terlebih jauh. "Tayciang Ko Sie Han pandai berperang, tak mungkin An Lok San dapat sembarang melewati kota Tong-kwan. Disamping itu Pemerintah Agung juga telah menitahkan Hong Siang Ceng, Ciat-touw-su dari Hoan-yang dan Peng-louw dengan tugas pergi ke Tang-khia untuk mengumpulkan tentara, maka itu, mungkin dia" juga akan berhasil merintangi kaum pemberontak itu." "Hong Siang Ceng bangsa sembarangan, mungkin dia tak sanggup melakukan tugasnya itu," kata Ce In. "Ko Sie Han memang pandai akan tetapi dialah orang suku Ouw, aku kuatir dia tak dapat dipercaya. Maka itu, menurut aku, karena soal sangat penting, kita perlu mengandal kepada Leng-kong sendiri." "Dalam hal urusan besar dari negara, tidak dapat orang mengandali hanya satu orang," Kwe Cu Gie bilang. "Mengenai negara, setiap orang ada kewajibannya sendiri. Tapi keadaan telah menjadi begini rupa, bagiku tinggal terserah kepada segala apa yang aku sanggup lakukan..." Habis pesta, Lam Ce In mengajak Mo Lek dan Cie Hun ke kamarnya sendiri.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Lam Suheng," kata Mo Lek tertawa, "Mengenai urusan lainnya, dapat kita bicarakan secara ayal-ayalan, tetapi satu hal perlu segera kau melakukannya!" Ce In heran hingga ia melengak. "Apakah itu?" tanyanya cepat setelah ia sadar. "Ada seorang lagi menantikanmu, suheng!" kata sang adik seperguruan, yang hendak menggodai hingga dia bicara lambat-lambat. Lam Ce In sudah lantas dapat menduga. "Bagaimana?" tanyanya. "Apakah kau telah bertemu dengan Nona Hee?" Sang sutee tertawa. "Benar hebat!" katanya. "Begitu aku menyebut, suheng lantas menerka dia!" Lantas adik seperguruan ini menuturkan halnya bertemu dengan Leng Song. "Suheng," ia menambahkan, "Kapan nanti kau mengundang aku minum arak kegirangan?" Muka Ce In bersemu merah. "Jangan kau ngaco belo!" bentaknya, sedang di dalam hati, dia girang bukan main. Janjinya Leng Song itu memang ada sangkut pautnya dengan urusan nikah mereka. Selama beberapa tahun ini kedua orang itu telah sering saling bertemu satu dengan lain, kecocokan membuat mereka berjanji untuk menjadi pasangan wan-yoh... ibunya Leng Song tinggal menyendiri di kaki gunung Giok Liong San, di dusun See Kong Cun, selama dua puluh tahun, belum pernah ibu itu keluar setengah tindak juga dari dusunnya http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

itu, berbareng, dia pun belum pernah bertemu dengan orang luar, maka itu, selama belum ada kepastian hal pernikahannya, Leng Song tidak berani sembarang mengajak Ce In menemui ibunya itu. Baru kemudian - yang paling belakang ini - ia memberitahukan hal calon suaminya pada ibunya dan ibu itu memberikan persetujuannya, berani ia mengundang Ce In datang ke rumahnya. Tentang itu, Leng Song sudah bicara dengan Ce In dan keduanya sudah saling berjanji. Leng Song memang mau pergi ke Kiu-goan, buat mengajak Ce In, apa mau kebetulan sekali ia bertemu Mo Lek di tengah jalan, karena ia ingin lekas-lekas menemui ibunya, ia jadi minta tolong Mo Lek menyampaikan pesannya kepada Ce In. Maka si orang she Lam menjadi sangat girang sebab itu berarti ia mengetahui Leng Song sudah memperoleh perkenan ibunya. Demikian besok paginya, Lam Ce In pergi menghadap Kwe Cu Gie untuk memohon libur. Kwe Cu Gie pernah melihat Leng Song, ia tahu si nona gagah, maka itu, ia minta penjelasan dari Ce In, atas mana, Ce In memberikan keterangannya. Mendengar itu, ia tertawa dan kata, "Jikalau Nona Leng Song dapat datang ke mari maka kita pun bakal dapat membangun pasukan tentara wanita! Kepergianmu ini ada kefaedahannya untuk urusan pribadi dan umum, justeru sekarang belum ada titah untuk pergi berperang, silahkan kau pergi, asal kau lekas pergi dan lekas pulang! Semoga urusanmu itu beres, aku bersedia untuk mengurus pernikahan kamu di sini!" Ce In mengucap terima kasih. Mo Lek dan Cie Hun memberi selamat. Kemudian Mo Lek menegur suheng itu, yang tak mau dari kemarinnya bicara terus terang hal perjodohannya itu. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dengan muka: merah Ce In kata, "Tetapi di dalam urusan itu Leng Song mesti menanti dahulu persetujuan ibunya!" Kwe Cu Gie tertawa dan berkata pula, "Orang semacam kau, Lam Ciangkun, mana mungkin Nyonya Hee akan tak memberikan persetujuannya? Dalam hal kamu ini, sudah wajar saja calon baba mantu nanti menemui bakal mertuanya! Nah, sudah, Ciangkun, kau lagi menghadapi soal kegirangan, tak dapat kami menghalang-halangimu. Silahkan kau pilih seekor kuda, untuk kau segera berangkat pergi!" Cie Hun tertawa. "Di sini ada kuda jempolan, baiklah, akan kupinjamkan itu padamu!" katanya. "Cuma kuda itu biasanya tak suka tunduk kepada orang asing, maka nanti aku yang ambil sendiri buat ajar kenal dia dengan kau!" Cie Hun benar-benar lantas pergi mengambil kudanya. Melihat uy-piauw-ma, Ce In memuji. Cie Hun tertawa, ia kata, "Sebenarnya kuda ini bukan milikku! Pemiliknya yang sah ialah Liong-kie Touw-ut Cin Siang!" Ce In telah ketahui halnya Cin Siang dari Mo Lek, dia tertawa. "Cin Siang itu aku cuma kenal namanya!" katanya. "Sayang selama di kota raja belum pernah aku bertemu dengannya. Baiklah nanti, sepulangnya aku, akan aku menyiapkan kuda untukmu dan membayar pulang kudanya ini. Sekarang aku terima budinya dengan menunggang kudanya!" Demikian dengan membekal rangsum kering, Lam Ce In pamitan dari Kwe Cu Gie, Mo Lek dan Cie Hun, buat berangkat mencari Leng Song di gunung Giok Liong San. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Dari Kiu-goan ke Giok Liong San, jauhnya delapan ratus lie lebih. Kalau orang naik kuda biasa, tempo perjalanan yang diperlukan ialah empat hari. Tidak demikian dengan uy-piauwma, yang dibiarkan lari sekeras-kerasnya. Besoknya tengah hari, Ce In telah tiba di tempat tujuannya. Terus ia memasuki dusun tanpa menanya keterangan lagi. Pernah Leng Song memberitahukan ia bahwa rumah si nona ialah yang di depannya ada tiga buah pohon Yang-liu selaku pertanda yang tegas. Sambil menuntun kudanya, ia pergi langsung ke depan pintu. Ia girang berbareng rada likat, hatinya bimbang. Ia mendugaduga bagaimana sikapnya ibu si nona, ia akan disambut dengan manis atau tidak... Pintu rumah ditutup rapat, maka itu, Ce In mencekal gelang pintu dan menggoyangnya. Dua kali ia menggoyang, tak ada jawaban dari dalam, pintu pun tidak ada yang bukai. Ia menjadi heran dan bersangsi. Kemudian dengan terpaksa ia membuka mulut, memberitahukan bahwa ialah "Lam Ce In dari Gui-ciu yang datang memohon bertemu nyonya rumah." Dua kali ia mengasih dengar suaranya, tetap ia tidak memperoleh jawaban. "Taruh kata ibunya tak menyetujui perjodohan kita, tak ada alasan kenapa dia tidak membukai pintu?" akhirnya ia kata di dalam hati saking herannya, hingga ia menjadi bercuriga. "Mungkinkah ada sedemikian kebetulan yaitu ibu dan anaknya itu lagi pergi keluar?" Akhirnya Ce In memberanikan hati. "Leng Song, inilah aku!" kata ia keras. "Lekas buka pintu!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ia pun bicara dengan nyaring hingga tidak ada alasan orang di dalam rumah tidak mendengar suaranya itu. Toh tetap tidak ada jawaban. Saking curiga, Lam Ce In tidak mau bersangsi pula. Dengan menghunus goloknya, ia lompat naik ke atas tembok pekarangan, la mencelat tinggi dan pesat dengan tipu loncatan "Burung jenjang menyerbu langit," hingga lantas ia melihat dari atas tembok ke pekarangan dalam, yang sepi dan sunyi, seperti juga rumah itu tidak ada penghuninya. "Heran!" kata Ce In dalam hati. Ia terus lompat turun, dengan berhati-hati ia bertindak maju. Ketika ia baru sampai di undakan tangga, mendadak ia mendengar bentakan begnis, "Sungguh bernyali besar! Siang hari bolong berani lancang memasuki rumah orang! Kau mau bikin apa, ha?" Di dalam ruang itu ada berduduk seorang opsir yang mukanya seperti muka kera, hingga Ce In menjadi heran dan kaget. Sebab dia itu bukan lain orang daripada Ceng Ceng Jie. Sungguh tak disangka Ceng Ceng Jie dapat berada di dalam rumah Leng Song sedang rumah itu dikunci dari luar dan kosong. Dari heran dan kaget, Ce In menjadi mendongkol. Ketika ia hendak menegur, Ceng Ceng Jie mendahului ia. Sambil menyeringai, dia itu berbangkit dan kata tawar, "Aku kira bangsat dari mana yang mempunyai nyali sangat besar berani datang kemari, kiranya kau! Bagus, Lam Ce In! Bagus perbuatanmu ini! Kau juga opsir tentara Pemerintah Agung! Tanpa perkenan tuan rumah, dan di waktu siang begini, kenapa kau lancang memasuki rumah orang? Bahkan kau membekal senjata terhunus!- Kau tahu atau , tidak adanya aturan Pemerintah?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kau gila!" bentak Ce In gusar. "Kau mirip si jahat yang mendahulukan orang mendakwa! Rumah ini toh rumahnya Nona Hee! Mau apa kau berada di sini? Mana dia Nona Hee?" Ceng Ceng Jie tertawa dingin. "Pasti aku tahu rumah ini rumahnya Nona Hee!" sahutnya, menantang. "Tapi kau, kau pernah apa dengannya maka kau berani lancang memasuki rumahnya ini?" Ce In menjadi bertambah mendongkol dan gusar. Tapi malu ia menyebut bahwa ialah tunangan Leng Song. Maka ia mengendalikan diri. "Kau sendiri, kau pernah apa dengan Nona Hee?" ia balik menanya. Ceng Ceng Jie tertawa pula. "Dialah tunangannya saudaraku dari Keluarga Ong!" sabutnya lantang. "Dialah calon ensoku! Saudara Ong minta aku datang kemari menyambut tunangan berikut ibu tunangannya itu, supaya mereka bisa melangsungkan pernikahan mereka! Sekarang ini aku lagi ditugaskan di sini, menjaga rumah si Nona Hee. Hm! Kau berani mencuri masuk kemari, ke dalam rumahnya tunangan orang! Kau sebenarnya mengandung maksud apa?" Ce In gusar bukan kepalang. "Kau ngaco belo!" bentaknya. "Lihat golok!" Ia lantas maju dengan tindakan "Menunggang harimau mendaki gunung," goloknya diayun dipakai membacok. Ceng Ceng Jie tertawa dingin, masih dia berkata, "Siang hari terang benderang kau membawa-bawa golok lancang memasuki rumah orang! Jikalau kau bukannya si tukang http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berkendak tentulah kau pencuri, maka itu aku justeru hendak membekuk padamu buat dibawa kepada pembesar negeri!" Sembari berkata itu ia berkelit, tangannya menghunus pedangnya maka dengan cara sangat sebat ia dapat segera balas menyerang, membabat lengan penyerangnya itu. Dengan begitu keduanya jadi bertempur seru. Lam Ce In rrienguatirkan keselamatan Leng Song dan ibu, ia pun mendongkol untuk lagak Ceng Ceng Jie, ia menjadi gusar luar biasa. Inilah tak baik untuknya, yang mesti menghadapi lawan tangguh. Berdua mereka memang seimbang. Karena kemurkaannya ini, ia menjadi kalah tenang. Tidak demikian dengan Ceng Ceng Jie, yang memang sengaja mengocok orang. Karena Ce In gusar dan sembrono, ia jadi kalah unggul. Demikianlah satu kali Ceng Ceng Jie berhasil menikam lawannya itu. Ketika Ce In menolong diri, toh bajunya kena terobek. Syukur ia mengenakan baju lapis baja dan berlaku gesit, jikalau tidak, dadanya bisa tertembuskan pedang hingga ke jantungnya... Biar bagaimana, Ce In telah menjadi seorang yang berpengalaman dalam pertempuran, dengan lekas ia insaf, maka ia terus mengendalikan diri, untuk berlaku tenang. Bertempur terlebih jauh, ia menggunai golok "Ngo-bun Pat Kwa To" - "Golok lima pintu segi delapan". Dengan begitu, walaupun Ceng Ceng Jie liehay sekali, setiap serangannya dapat dihalau, bahkan sampai lewat lima puluh jurus, adik seperguruannya Khong Khong Jie masih belum memperoleh hasil. Ceng Ceng Jie menang dalam ilmu ringan tubuh akan tetapi bertarung di dalam sebuah kamar, ia menjadi seperti terkekang, kemahirannya tak dapat dipergunakan dengan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

merdeka, sedang dalam hal tenaga dalam, Lam Ce In menang setingkat, apalagi sekarang, Ce In berkelahi dengan sungguhsungguh. Tengah bertarung seru itu, mendadak Ce In berseru keras dan menyerang. Ia mengerahkan tenaganya dan mencari lowongan lawan. Goloknya pun bergerak dalam ilmu silat "Merantai memegat sungai". Itulah tabasan yang disusul dengan serangan tangan kiri terbuka. Ceng Ceng Jie liehay, ia berkelit dengan lincah, ia balas menyerang dengan tipu silat "Jarum emas menembusi benang". Ce In telah menduga akan sepak terjang lawan itu, ia bertindak sambil mengegos, membuat ujung pedang lewat di samping iganya. Sambil berbuat demikian, ia menyerang pula. Kali ini ia menggunai pukulan tangan kosong yang langka, yaitu ilmu silat "Im Yang Siang Tong Ciu," atau "Tangan Im Yang saling menyentuh". Ceng Ceng Jie banyak pengalamannya toh ia heran. Diluar dugaan didalam keadaan seperti itu orang bukan menggunai golok hanya tangan kosong. Tak ampun lagi, dadanya kena terhajar keras hingga bersuara "Buk!" Setelah itu, lawan baru membacok. Dasar dia gesit dan berpengalaman, Ceng Ceng Jie tidak terhajar hebat, ketika menjejak lantai untuk mencelat mengapungi diri ke atas penglari, untuk menjambretnya. "Ceng Ceng Jie, kau turun!" Ce In membentak menantang. "Hm!" Ceng Ceng Jie sebaliknya mengasih dengan ejekan di hidung. "Apakah kau sangka aku jeri padamu? Hm!" Ia terus naik ke atas penglari itu, untuk jongkok, habis itu, sebelah tangannya diayun ke bawah. Maka serupa barang yang berkilau menyambar pada lawannya itu. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Ce In ketahui musuh mempunyai pisau yang beracun, dengan sebat ia putar goloknya, guna melindungi diri. Tiga kali terus menerus Ceng Ceng Jie mengayun tangannya, tidak ada pisaunya yang mengenai sasaranganya, ketiga pisau jatuh tersampok ke lantai. Lam Ce In dapat membela diri tetapi sukar ia lompat naik, untuk menyusul musuh yang licik itu. Tidak ada kesempatan untuknya. Kalau ia paksa mencoba, selagi berloncat itu, musuh bisa menggunai ketikanya menyerang padanya. Ceng Ceng Jie tertawa dingin. "Beranikah kau naik?" dia kata. Mendadak dia bersiul panjang, kedua tangannya diayun. Maka dengan begitu enam batang pisau belati terbang ke arah Lam Ce In. Orang yang diserang memutar golok mustikanya. Suara "ting-tang" lantas terdengar saling susul, suaranya berisik menulikan telinga, setiap pisaunya lantas terpental jatuh. Walaupun demikian, Ce In terdesak mundur beberapa tindak. Ketika itu di samping ruang tetamu masing-masing ada sebuah kamarnya, pintunya itu semua tertutup rapat. Ce In telah mundur ke mulut pintu kamar samping yang timur. Ceng Ceng Jie bersiul pula. Belum berhenti suaranya itu, atau pintu kamar samping itu mendadak terjeblak jatuh, menimpa ke arah Ce In. Menyusul itu terdengar juga suara angin menyambar, membawakan melesatnya sebatang anak panah. Sekonyong-konyong, pintu kamar samping yang barat juga roboh, lalu dari arah pintu itu menyambar sebuah pot bunga yang besar. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ce In tidak sempat menoleh ke belakang, karena belakang kepalanya tidak ada matanya, tak ia melihat serangan itu terdiri dari senjata macam apa, maka itu, guna menangkis, ia mengayun tangannya ke belakang. Ia pun tak sempat berpikir banyak. Senjata rahasia dan tangan beradu keras, suaranya keras juga. Karena hancur, pot itu jatuh berhamburan. Hebat untuk Ce In, ia jadi terlukakan pecahan pot bunga itu. Inilah luar biasa. Mau atau tidak, ia terkejut, perhatiannya menjadi teralihkan. Berbareng dengan itu dari kedua pintu samping itu terlihat lompat keluarnya masing-masing satu orang. Yang dari pintu timur, Sie Siong, yang dari barat, Tian Sin Su. Sebenarnya mereka sudah lama bersembunyi di kamar samping itu, kalau baru sekarang mereka muncul, itu disebabkan Ceng Ceng Jie berkepala besar dan menyangka seorang diri dia dapat membekuk Ce In, tak tahunya lawan gagah, hingga akhirnya dia terpaksa meminta bantuan kawan itu. Walaupun demikian, serangan membokong dua orang itu masih tidak dapat merobohkan musuh, sampai datanglah serangan dengan pot bunga itu. Sie Siong yang tiba paling dulu, dia lantas menyerang. Ce In berseru keras, ia pun menyerang dengan melintangi goloknya. Sie Siong menyerang denga tipu silat "Pian Cong menikam harimau," pedangnya menyambar ke dengkul. Ce In menyambut hingga senjata mereka beadu keras, dengan akibatnya pedang menjadi melengkung. Ketika itu datang serangannya Tian Sin Su, yang' menggunai gaetan. Tanpa berpaling lagi, Ce In meneruskan menyambut pula, tepat ia mengenakan lengan lawan, sampai lawan http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kesakitan dari sepasang gaetannya terlepas jatuh. Sebab dia memangnya pecundang, begitu senjatanya hilang, Sin Su lantas lari pergi! Ceng Ceng Jie kembali bersiul, kali ini dia berlompat turun dari atas penglari kemana dia lompat naik dengan niatnya membokong, sembari lompat turun, dia menyerang dengan pedang besinya yang berat dan tajam itu. Tak keburu Ce In menyerang pada Sie Siong, ia mengangkat naik goloknya guna menyambut serangan dari atas itu. Ia kesusu sekali. Ketika senjatanya beradu dengan pedang Ceng Ceng Jie, ia merasakan serangan sangat berat. Inilah tak heran sebab Ceng Ceng Jie turun dari atas. Selagi pedangnya tersampok, tangan lain dari lawan menyerang dengan tipu silat Kim-na-ciu. Ia menjadi bingung, tahu-tahu pundaknya telah kena tertotok. Hebat totokan itu, sebelah tubuhnya menjadi kaku, lantas ia terhuyung dua tindak, tak dapat pertahankan diri lagi, terus ia roboh terguling. Ceng Ceng Jie yang liehay ilmu ringan tubuhnya berlompat maju, bukan buat mencekal hanya buat mengulangi serangannya, menotok pula moa-hiat, jalan darah yang dapat membekukan tubuh. Sembari berbual begitu, dia tertawa berkakak. "Lihat, bocah!" ejeknya. "Lihat, kau masih dapat bertingkah alau tidak? Apakah kau menghendaki Nona Hee? Baik, akan aku antarkan kau melihat padanya!" Sie Siong, yang tepukul mundur sampai ke tembok, sudah lantas maju. "Bagus, orang she Lam!" dia kata bengis. "Kau toh menemui juga harimau seperti hari ini!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Saking sengit, ia menikam dengan pedangnya. "Sie Ciangkun, jangan!" Ceng Ceng Jie mencegah sambil menangkap tangan orang. "Buat apa membiarkan dia hidup terus?" tanya perwira she Sie itu. "Dia besar sekali gunanya!" kata Ceng Ceng Jie tertawa. "Kau hendak membinasakan dia tetapi mungkin cukong membutuhkannya! Jikalau kau membinasakan dia, bagaimana aku dapat bertanggung jawab terhadap cukong? Mustahilkah kau tidak ketahui dialah panglima kepercayaannya Kwe Cu Gie?" Sie Siong sadar. Memang cukong mereka, An Lok San, membutuhkan orang tawanan ini. Memang dialah orang kepercayaannya Kwe Cu Gie. Karena itu, biarnya ia sangat menyesal, terpaksa ia menungkuli diri. Ceng Ceng Jie mengangkat tubuh Ce In, buat dibawa keluar. Kuda uy-piauw-ma masih berada di depan, dia belum tahu majikannya telah tertawan, dia lantas datang menghampirkan. Melihat kuda itu, Ceng Ceng Jie girang. "Kiranya kudanya Cin Siang ada di sini!" katanya, tertawa. Dengan menjejak tanah, tubuhnya lantas lompat sambil membawa Ce In naik ke atas punggung kuda itu. Kuda itu cerdas. Rupanya dia melihat majikannya tidak berdaya, dia meringkik keras, kedua kakinya diangkat untuk melompat. Ceng Ceng Jie gusar. "Binatang! Kau berani tak tunduk padaku?" bentaknya, lantas dia menekan. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Kuda itu kesakitan, dia berbunyi, tubuhnya terus mendekam, tak berkutik. Ceng Ceng Jie lantas bekerja. Ia mengambil tambang dengan apa ia ringkus Ce In di atas kuda, kemudian ia menghunus pedangnya dengan sebelah tangannya mencekal kuda itu, lalu ia mengancam dengan pedangnya kepada orang tawanannya. "Jangan kau tidak menurut padaku! Nanti aku bunuh majikanmu ini, baru akan kukeset kulitmu dan betot ototototmu!" katanya bengis. Kuda itu mengerti, dia takut. Lantas dia bangun berdiri. Ceng Ceng Jie tertawa mengejek. "Orang she Lam ini sebenarnya bukan majikanmu yang tulen!" katanya. "Binatang, kenapa kau menurut kepadanya, tidak menurut kepadaku? Hm! Hm! Maka mesti aku bikin kau tunduk padaku, tak dapat tidak! Mulai hari ini akulah majikanmu, tahu tidak?" Kuda itu menggedruk-gedruk tanah dengan keempat kakinya, agaknya dia mau menentang. Berulang-ulang dia berbenger keras. Tapi Ceng Ceng Jie bercokol di atasnya, dia tidak berani berontak atau berjingkrakan guna membuat orang roboh dari punggungnya. "Kuda itu dapat lari lebih keras daripada aku," kata Ceng Ceng Jie pada kedua kawannya, "Maka itu hendak aku berangkat pulang terlebih dahulu, kamu berdua boleh menyusul belakangan!" Lantas dia mengeprak kuda uy-piauw-ma itu. Tian Sin Su dan Sie Siong mendongkol bukan main. Sudah orang mengangkangi kuda, dia pun pergi lebih dahulu guna http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

merebut jasa. Tapi mereka kalah, mereka tidak dapat berbuat suatu apa, terpaksa mereka menyabarkan diri. Dengan masgul dan lesu, mereka menyusul pulang... Ce In kena ditotok dengan totokan yang berat, dia tak danai berkutik, walaupun demikian, pikirannya tetap sadar. Diamemiliki pelajaran tenaga dalam asli, dia pun telah mencapai puncak kemahiran kelas satu, maka itu tak mau dia tak berdaya. Diam-diam dia mencoba memusatkan perhatiannya, guna menggeraki tenaga dalamnya itu. Diluar dugaannya, dia tidak berhasil. Ilmu totoknya Ceng Ceng Jie ialah ilmu totok istimewa, tak sembarang orang dapat membebaskannya. Terpaksa dia berdiam terus dibawa musuhnya itu. 0o0dw0o0 Gunung Giok Liong San luas dan panjang beberapa ratus lie, selewatnya itu ialah batas kota Yu-ciu, kota wilayah pengaruhnya An Lok San. Untuk dapat lekas tiba, Ceng Ceng Jie tidak mengambil jalan umum hanya dia memotong. Dia berani berbuat demikian karena dia merasa dirinya gagah dan kudanya dapat lari keras. Ketika itu sudah lewat Iohor dan jalanan makin lama makin sukar. Lekas juga Ceng Ceng Jie sampai di sebuah lembah, jalanannya sempit, kedua sisinya berlamping tembok gunung yang tinggi. Didua buah puncak berdiri berendeng. Walaupun jalanan sempit, sukar dan berliku, tapi uy-piauw-ma dapat berlari-lari keras seperti biasa. Tepat di saat hampir Ceng Ceng Jie melintasi mulut selat, ia melihat tubuh seorang pengemis rebah melintang di tengah jalan sekali. Rambutnya tukang minta-minta itu terletak pada http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sebuah batu yang menjadi seperti bantalnya. Separuh mukanya ketutupan pohon rumput. Keras dia menggeros, hingga terdengar oleh si penunggang kuda. "Ada kuda! Ada kuda!" Ceng Ceng Jie berteriak-teriak. "Eh, pengemis bau, pengemis bau! Lekas minggir!" Si pengemis lagi tidur menggeros, dia seperti tak dapat dengar teriakan-teriakan itu, dia tetap tidur nyenyak. "Hai, pengemis bau, apakah kau tuli dengkak?" bentak Ceng Ceng Jie pula, hatinya panas. "Apakah kau sudah tidak menghendaki lagi jiwamu?" Baru sekarang si pengemis menggeraki tubuhnya, bual: berbalik. Dia mengasih dengar suara "Hm!" tetapi dia tidak bangun, sebahknya dia menggeser kedua kakinya, untuk dipentangi di tengah jalan. Ceng Ceng Jie menjadi gusar. Dia mengaburkan kudanya untuk melewatinya. Di dalam hati, dia kata, "Inilah kau sendiri yang mencari mampus, jangan kau sesalkan aku!" Kudanya lari terus. Tepat kaki kuda hampir menginjak tubuh orang, sekonyong-konyong terdengar bentakan si pengemis, "He, kunyuk cilik, kau bergelindinglah turun!" Dengan mendadak, larinya kuda jempolan itu terhalang, hingga dia berhenti secara kaget. Ceng Ceng Jie tidak menyangka si pengemis demikian liehay, dia menjadi kurang waspada, maka tanpa ampun lagi, tubuhnya mencelat dari punggung kudanya itu. Sementara itu tubuh si pengemis pun mencelat bangun, sebelah tangannya terulur, guna mencekuk sebelah kaki orang! Melihat demikian, Ceng Ceng Jie terkejut. Akan tetapi dia tabah dan liehay, tubuhnya sangat gesit dan lincah. Dia http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menekuk pinggangnya, menarik tangannya menyerang kepada pundak pengemis itu. "Kunyuk cilik, kurang ajar!" bentak si pengemis. "Karena tidak ada orang yang urus padamu, kau jadi berani berontak!" Lalu tangannya bergerak. Ceng Ceng Jie terkejut. Tangan mereka bentrok, lantas dia merasakan satu tenaga yang kuat sekali menolak padanya. Untuk menolong diri, mau atau tidak, lekas-lekas dia lompat jumpalitan! Pengemis tua itu sudah menggunai tipu silat "Ciam Ie Sip-pat Tiat," yang membutuhkan tenaga dalam yang mahir, maka syukur untuk adiknya Khong Khong Jie ini, dia pun liehay, masih sempat dia membela diri. Dia berkelit dengan lompatan "Ikan gabus meletik". Tiba di tanah, dia berlompat bangun, untuk berbangkit berdiri. Ketika dia menoleh kepada si pengemis, dia mendapatkan orang sudah menghadap pula di depannya. "Aku tengah enak tidur nyenyak, mengapa kau membuat banyak berisik membuat aku mendusin!" dia menegur, nada suaranya menyatakan dia tak senang sekali. "Sudah begitu, kenapa kau jahat sekali, kau juga hendak membuat celaka padaku! Hm! Hm! Coba aku si pengemis tua tidak punya sedikit kepandaian, pasti tulang-tulangku sudah remuk diinjak kudamu!" Justeru itu waktu, hati Ceng Ceng Jie bercekat. Mendadak ia ingat satu orang. "Bukankah pengemis tua ini dia adanya?" demikian pikirnya. Karenanya, lekas-lekas ia memberi hormat dan berkata dengan suara perlahan, "Lo-cianpwe, maafkan aku yang muda. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Aku mesti memburu waktu, sampai aku tak dapat menahan kudaku! Aku harap sangat lo-cianpwe suka berlaku murah hati dan mengijinkan aku lewat..." Pengemis tua itu berlenggak, dia tertawa terbahak. "Kau bicara enak sekali!" katanya,'tertawanya itu dingin. "Jikalau kau ingin aku memberi lewat padamu, lebih dulu kau harus menggantikan serupa barang kepadaku!" "Lo-cianpwe menghendaki aku mengganti barang apa?" Ceng Ceng Jie tanya. "Aku tengah bermimpi sedap tatkala kau membuat aku mendusin dengan terkejut, hingga lenyaplah impianku itu!" kata si pengemis. "Maka itu, kau harus mengganti aku dengan impian satu macam..." Ceng Ceng Jie terperanjat, akan tetapi dia menyabarkan hati. "Impian bagaimana dibalasnya?" dia tanya. "Aku pun mesti segera melanjuti perjalananku... Lo-cianpwe, silahkan kau tidur pula..." "Ngaco belo!" membentak si pengemis tua. "Kantukku sudah lenyap, mana dapat aku tidur pula? Taruh kata aku dapat tidur, belum tentu aku akan dapat bermimpi pula! Atau walaupun aku bisa mimpi, belum pasti itulah impian yang manis!" "Kalau begitu, aku tidak berdaya," kata Ceng Ceng Jie. "Locianpwe, biarlah aku menghaturkan maaf pula padamu..." "Kalau kau tak dapat mengganti dengan impian yang manis!" kata si pengemis, "Baik kau boleh mengangguk tiga kali padaku, sampai kepalamu membentur batu dan bersuara nyaring! Dengan demikian kau benar-benar menghaturkan maaf padaku!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ceng Ceng Jie tidak puas. Dialah bangsa besar kepala. Meski dia jeri terhadap pengemis ini, tak sudi dia berlaku demikian hina dina. Maka dia mengawasi pengemis itu. Si pengemis berbalik mengawasi juga. Mendadak dia tertawa berlenggak. "Apakah kau tidak bersedia mengangguk?" tanyanya. "Baik! Kau serahkan saja kudamu itu padaku!" Ketika itu sang kuda telah berdiri diam jauh-jauh di pinggiran, dia seperti ketahui si pengemis liehay sekali. Ceng Ceng Jie terus berdiam. Dia sangat ragu-ragu. "Bagaimana, eh?" si pengemis menegaskan. "Tak rela kau menyerahkan kudamu itu! Kau harus ingat, kudamu juga kuda boleh merampas! Kalau kau serahkan kuda itu padaku, bukankah itu wajar?" Ceng Ceng Jie terperanjat. "Kiranya dia pun kenal asal usul kuda ini..' pikirnya. Maka ia lantas berkata, "Lo-cianpwe, tidak apa andaikata aku menghadiahkan kau-kuda ini, cuma dengan berbuat demikian aku menjadi mendapat kesulitan. Sekarang ini aku lagi menjabat pangkat, aku tengah bertugas mengantarkan pulang seorang tawanan, tak dapat aku tak menggunai kuda. Begini saja, lo-cianpwe, lewat lagi tiga hari, silahkan lo-cianpwe datang mengambil sendiri di kantor Ciat-touw-su di Hoan-yang! Bagaimana?" Kedua mata si pengemis terbuka lebar dan bijinya memain. "Ha, ha!" dia tertawa. "Tak kusangka bahwa kaulah punggawanya An Lok San! Siapa itu yang kau tangkap dan iringkan? Aku si pengemis tua paling suka usilan, maka itu hayo kau kasih keterangan padaku!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Ceng Ceng Jie sendiri sudah lantas memikiri jalan untuk meloloskan diri. "Tentang orang tawanan ini, lo-cianpwe, tak apa aku memberikan keterangannya kepadamu," ia menjawab sabar. "Dia... dia..." Si pengemis tua mengawasi dengan mendelong, agaknya dia sangat menaruh perhatian. Ceng Ceng Jie melihat sikap orang, bukan ia meneruskan perkataannya yang tertahan itu, mendadak dia mengayun tangannya atas mana sebuah pisau belati menyambar kepada si pengemis. Dia rupanya habis daya dan karenanya dia membokong. Berbareng dengan itu, Lam Ce In berseru, "We Lo-cianpwe, inilah aku! Aku... Lam Ce In dari Gui-ciu!" Ce In terus mengerahkan tenaga dalamnya, walaupun ia tetap belum berhasil membebaskan diri, ia toh sudah dapat mendengar dan berbicara, maka itu ia mengenali suara orang, ia lantas mengasih dengar suaranya itu, memperkenalkan diri. Ceng Ceng Jie terkejut. Berbareng dengan penyerangannya itu, dia lompat ke arah kuda, niatnya buat menaiki kuda itu dan kabur. Dia ketahui si pengemis liehay, dia tidak memikir buat berhasil melukakan atau merobohkan, hanya dia ingin, dengan rintangan bokongan itu, dia sempat menunggang kudanya. Dia merasa pasti, biarnya si pengemis liehay sekali, asal dia sudah mulai kabur, dia bakal lolos... Tepat orang berlompat, si pengemis tua membentak, "Kunyuk kecil, apakah kau memikir untuk merat? Nah, kau juga sambutlah senjata rahasiaku!" Ceng Ceng Jie kaget. Mendadak ia melihat daun-daun menyamber dari empat penjurunya. Itukah bukan lain karena si http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

pengemis adalah Hong-kay We Wat si Pengemis Edan, yang sangat kesohor dalam dunia Kang Ouw atau Sungai Telaga. Bersama-sama Ciu-kay Kie Tie, si Pengemis Pemabukan, dan See-gak Sin Liong Hong-hu Siong, We Wat merupakan Kang Ouw Sam Ie Kay, Tiga Pengemis Aneh. Di antara mereka bertiga, We Wat yang paling tua dan kalau turun tangan, dia terlebih telengas, sedang ilmu kepandaiannya yang istimewa ialah "Hui Hoa Tek Yap," atau "Menerbangkan bunga, memetik daun," dengan apa, ia dapat melukai orang hingga terbinasa. Ceng Ceng Jie kenal baik senjata rahasia yang liehay dari pengemis itu, batal lompat terus kepada kuda uy-piauw-ma, dia berkelit. Tidak urung dia kurang gesit, meski dia sudah menutup jalan darahnya, dia toh terkena selembar daun, saking sakitnya, dia menjerit, terus rubuhnya berjumpalit jatuh ke lembah! "Hm!" We Wat mengasih dengan ejekannya. "Jikalau aku tidak pandang gurumu yang sudah mati, kunyuk cilik, pastilah aku sudah rampas jiwamu!" Melihat orang mengusir Ceng Ceng Jie, kuda uy-piauw-ma seperti mengenal budi, dia lantas memutar tubuhnya, menghampirkan pengemis itu sambil menggoyang-goyang kepala dan ekornya. Ciu-kay tertawa bergelak. "Sungguh seekor kuda yang baik!" katanya, gembira. "Lantas dia angkat tubuhnya Lam Ce In, buat dikasih turun ke tanah, sekalian terus dia membebaskannya dari belengguan dan totokan. Ce In menjalankan kehormatan sambil menghaturkan terima kasihnya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Lam Hiantit," tanya Hong Kay, "Kenapa kau terjatuh ke dalam tangan jahanam itu?" "Itulah melulu disebabkan pelajaranku tidak sempurna, hingga aku membuat malu pada guruku," sahut Ce In. "Sebenarnya aku malu sekali." Dalam hal kepandaian, Ce In tidak kalah dari Ceng Ceng Jie dan mereka pun bukannya bertempur satu dengan satu maka ia kena ditawan, tetapi ia jujur, sesudah kalah, ia rela mengaku kalah, jadi tak sudi ia membuat pembelaan lagi. We Wat mengawasi orang, ia agaknya heran sekali. Ia percaya mesti ada sebabnya kenapa orang tertawan. Akhirnya ia tertawa. "Kalah atau menang memang umum dalam pertempuran! Tak perlu itu dibuat pikiran," kata ia. "Baiklah, kita jangan bicara pula dari soal itu. Mari kita bicara dari hal yang lain. Kau tahu, memang aku berniat pergi ke Kiu-goan mencari kau. Sekarang aku mau minta dahulu keteranganmu perihal satu orang." "Siapakah orang itu, lo-cianpwe?" Ce In tanya. "Kabarnya kau bersahabat erat dengan puterinya Leng Soat Bwe, benarkah itu?" si pengemis tanya. Inilah pertanyaan diluar dugaan Ce In. Kenapa orang justeru menanya hal tunangannya? Maka ia menjadi heran dan tercengang. Tapi tak dapat ia tak menjawab, dan ia pun tak ingin mendusta. "Sebenarnya, lo-cianpwe," sahurnya, "Aku dengan nona itu sudah bertunangan..." We Wat tertawa berkakak.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Selamat! Selamat!" katanya gembira. "Kebetulan aku menanya kau! Sekarang hendak aku si pengemis tua bertanya, apakah kau dapat mengijinkan aku bertemu dengan tunanganmu itu? Aku hendak menanyakan sesuatu kepadanya." Sebenarnya Ce In tidak ingin bicara banyak, tetapi orang telah menanyakannya, tak dapat ia tidak melayani. Jago tua ini pun sahabat karib dari gurunya. "Lo-cianpwe, aku baru saja kembali dari rumahnya Nona Hee," ia berkata. "Justeru di sana aku telah bertemu dengan Ceng Ceng Jie!" Lantas Ce In menjelaskan apa yang terjadi di rumah Leng Song dimana nyonya rumah dan puterinya tidak ada, hanya di sana menanti Ceng Ceng Jie serta dua kawannya hingga ia kena dikeroyok. "Lo-cianpwe," ia tanya habis ia memberikan keterangannya itu, "Apakah di sini lo-cianpwe melihat ada lewat orang atau orang-orangnya Keluarga Ong?" We Wat heran. "Oh, telah terjadi perkara demikian?" tanyanya. "Jadinya kau menyangka hilangnya mereka ibu dan anak sebagai perbuatannya pihak Ong itu? Kepandaiannya Leng Soat Bwe ibu dan anak sama terkenalnya dengan Toan Kui Ciang, maka itu, nyonya itu dan anaknya, tak selayaknya roboh di tangan orang-orangnya Keluarga Ong, paling sedikitnya mereka sepadan..." "Senjata -berterang mudah dikelit, panah gelap sukar dijaga," kata Ce In, "Maka itu, segala apa sukar buat diduga dari di muka. Aku pula heran sekali kenapa Ceng Ceng Jie ketahui alamatnya itu ibu dan anaknya..." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Sudah setengah harian aku rebah di sini, tidak pernah aku melihat ada orang yang lewat," berkata We Wat. "Tapi, kalau benar mereka ditangkap Keluarga Ong, walaupun aku mesti membuang jiwaku, mesti aku pergi ke Liong Bin Kok guna mengacau di sana!" Pengemis itu hening sejenak, terus dia berkata seorang diri, "Kiranya Leng Soat Bwe tinggal di kaki gunung ini... Kalau begitu rupanya benar apa kata orang. Dia menjanjikan aku bertemu di sini, janji itu benar..." Ce In heran. "Lo-cianpwe," tanya ia, "Lo-cianpwe hendak menemui Nona Hee untuk menanyakan urusan, sebenarnya urusan apakah itu?" "Aku hendak minta keterangan dari hal kematiannya Ciu-kay Kie Tie," menjawab Hong-kay. "Aku dengar kabar dahulu hari itu si nona bersama-sama suami isteri Toan Kui Ciang pergi ke gunung Giok Sie San dan dia melihat sendiri waktu Ciu-kay terbinasakan. Ingin aku mendapat kepastian apa benar-benar si pembunuh ialah See-gak Sin Liong Hong-hu Siong?" "Perihal itu pernah Nona Hee menuturkan padaku," berkata Ce In. "Ia membilangi aku bahwa si pembunuh benar-benar Hong-hu Siong. Ketika itu katanya Kie Lo-cianpwe hendak membeber sebuah rahasia kepada Toan Tayhiap, belum lagi dia membuka mulut, dia sudah diserang Hong-hu Siong yang menggunai senjata rahasianya yang berupa jarum berbisa. Adik seperguruanku, Tiat Mo Lek, kemarin tiba d\ Kiu-goan, katanya peristiwa itu oleh Toan Tayhiap telah diberitahukan kepada guru kami. Keterangannya Toan Tayhiap sama dengan keterangannya Nona Hee, karena itu aku mau percaya keterangan itu bukan keterangan palsu." We Wat berpikir. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Lam Hiantit," katanya, "Bukankah kau tak kesusu pergi?" "Apakah lo-cianpwe hendak menitahkan sesuatu kepadaku?" tanya Ce In. "Aku telah membuat perjanjian dengan Hong-hu Siong," berkata We Wat. "Janji itu ialah malam ini kita bakal membuat pertemuan di gunung ini. Niatku ialah menanyakan dia peristiwa itu. Umpama kata kau tidak mau lekas pergi, maukah kau mendengari pembicaraan kita?" Sebenarnya Ce In ingin lekas kembali ke Kiu-goan, guna ia memikirkan daya upaya terlebih jauh, akan tetapi urusan Kie Tie itu urusan penting, bahkan ada sangkut pautnya dengan Leng Song, maka suka ia mendengarnya. Ia sendiri ingin tahu duduknya perkara yang benar. "Baiklah jikalau lo-cianpwe tidak berkeberatan aku turut mengetahui perkara itu," katanya. "Sebenarnya memintanya juga aku tidak berani..." We Wat senang. Ketika itu sang malam telah tiba dan Puteri Malam mulai muncul. We Wat melihat langit, dia tertawa. "Tadi mimpiku disadarkan Ceng Ceng Jie," katanya, "Maka itu, aku masih ingin tidur pula lagi sejenak. Kau juga baiklah beristirahat dulu." Pengemis ini merebahkan diri pada suatu batu, didalam tempo yang pendek, dia sudah pulas menggeros. Ce In heran. "Dia menantikan janji pertemuan, toh dia dapat tidur..." pikirnya. Tapi ia membiarkannya, ia lantas mengobati luka-lukanya sendiri, sesudah mana ia duduk bersila, untuk beristirahat http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

sambil bersemedhi. Dengan cara demikian sempat ia melatih tenaga dalamnya. Di dalam tempo yang pendek sekali, lenyap sudah segala letihnya, hingga ia menjadi segar seperti sedia kala. Sang waktu lewat tanpa terasa, rembulan sudah mulai berada di tengah, justeru begitu, dalam suasana sunyi itu, hati Ce In terasa tegang sendirinya. "We Lo-cianpwe! We Lo-cianpwe!" ia mengasih bangun kawannya. Tak dapat bersabar lagi. We Wat membuka kedua matanya, ia bergerak untuk berduduk. "Buat apa kau sibuk tidak keruan!" katanya. "Hong-hu Siong menjanjikan tempo tengah malam, maka itu dia pasti bakal datang seperti janjinya itu." "Coba lo-cianpwe lihat rembulan itu" kata Ce In, tangannya menunjuk. Pengemis Edan itu dongak. "Ya, hampir waktunya?" katanya. "Lihat di sana, di kaki gunung," kata Ce In pula, "Di sana tampak orang lagi mendatangi..." We Wat menoleh, alisnya berkerut. Ia lompat naik ke atas sebuah batu besar dan tinggi, untuk memasang mata ke arah bawah. Ketika itu si Puteri Malam tepat berada di tengahtengah langit. Itulah tengah malam. "Ah!" seru si pengemis perlahan. "Inilah aneh! Hong-hu Siong bukanlah semacam orang yang suka menyalahkan janji? Kenapa sekarang dia gagal?" Si Puteri Malam bergerak terus, menggeser diri ke arah barat. Lewat lagi setengah jam, masih juga See-gak Sin Liong http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

belum muncul. We Wat jadi mulai tak sabaran, sedang Ce In bercuriga. "Mungkinkah dia tak berani datang menemui lo-cianpwe?" tanyanya. Belum berhenti suaranya Ce In ini atau satu bayangan orang nampak lari mendatangi dengan cepat. "Hm!" kata We Wat perlahan tapi sengit. "Begini waktu dia baru tiba, mesti aku damprat dulu padanya"! Justeru itu ia menjadi heran, hingga ia kata di dalam hati, "Aneh! Kenapa ilmu enteng tubuh Hong-hu Siong menjadi begini sempurna?" Saking pesatnya orang itu berlari-lari, mukanya sukar tertampak tegas. Lalu tahu-tahu dia sudah sampai, berdiri di hadapannya mereka itu berdua. We Wat menjadi terperanjat. "Apa? Kau?" tegurnya. Ce In juga telah lantas melihat tegas, dia heran seperti jago tua. Orang itu bukan Hong-hu Siong, hanya Khong Khong Jie. Sambil melirik, dengan lagak temberang, orang yang baru datang itu berkata tawar, "Kau sangka siapa?" Menurut tingkat martabat, Khong Khong Jie menjadi orang yang terlebih muda daripada We Wat, maka itu mendongkol Hong-kay menampak orang bersikap jumawa itu. "Orang yang dinanti-nantikan datangnya oleh aku si pengemis tua ialah satu orang lain!" katanya dingin. "Tak usah aku memberitahukan halnya orang itu kepada kau.' Kau sendui .ula urusan apa kau dalang kemari?" Khong Khong Jie tertawa dingin.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Tanpa kau menyebutkan, aku juga sinlali lalui'" katanya, tetap temberang. "Bukankah Hong-hu Siong yang dinanti! an k.m mi?" We Wat tercengang. "Kalau benar, bagaimana?" dia tanya. "Hong-hu Siong bilang kau tak dapat d i perai ya dan tidak mempunyai kehormatan!" sahut Khong Khong Jie, dingin I Ha kala orang semacam kau tak usah lagi diajak bersahabat! Dia tak ki-auli.m menemui kau!" Sepasang mata We Wat terbalik. "Gila!" serunya. "Apa itu tak dapat dipercaya dan tak punya kehormatan?" "Sebab kau percaya segala obrolan yang tersiar!" kata Khong Khong Jie. "Sebab kau percaya dialah orang yang telah membinasakan Ciu-kay Kie Tie! Bahwa sekarang kau menjanjikan bertemu dengannya di sini karena kau berniat mencurangi padanya! Benar, bukan? Ketika kau mengirim orang menyampaikan janji padanya, bukankah kau membilangnya untuk memasang omong saja? Jadi, bukankah benar kau telah memperdayakan dia? Kau tidak menghiraukan persahabatan kau memancing sahabatmu ke dalam akal muslihatmu! Apakah dia keliru jikalau dia berpendapat kau tidak dapat dipercaya dan tak mempunyai kehormatan?" Sepasang mata We Wat terputar pula, lalu nampak dia tenang. "Benarkah kata-katamu ini kata-katanya Hong-hu Siong?" dia tegaskan. Khong Khong Jie mengangkat sebelah tangannya, pada jeriji tengahnya ada terdapat sebuah cincin besi. la tertawa dingin ketika ia menanya, "Kau gila! Apakah kau sangka aku bicara tidak-tidak? Kau kenali atau tidak cincin ini?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

We Wat mengenali bendanya Hong-hu Siong. Dia menjadi gusar sekali sampai tubuhnya bergemetar. "Jikalau dia bukannya si pembunuh, kenapa dia tidak berani datang menemui aku?" dia tanya. "Kenapa dia menyuruh kau, kunyuk cilik, yang datang menyampaikan pesannya? Hm! Hm! Sebelumnya ini, aku masih ragu-ragu mempercayainya?" Dengan Hong-hu Siong dan Kie Tie, We Wat niempunyai persahabatan puluhan tahun, maka itu tak dapat dimengerti sekarang See-gak Sin Liong mengirim pesuruh seorang yang tingkatnya terlebih muda. Ia menjadi sangat gusar. Khong Khong Jie kembali tertawa dingin. "Urusan kau dengan Hong-hu Siong tidak ada sangkut pautnya dengan aku!" katanya, ketus. "Bahwa kau benar tidak dipercaya dan tak mempunyai kehormatan, aku juga tak memperdulikannya! Tetapi lagakmu, si tua bangka yang menjual ketuabangkaannya, yang jumawa tak terkirakan, tak puas aku Khong Khong Jie melihatnya! Kau sudah melihat Ceng Ceng Jie, adik seperguruanku! Bukankah kau tak sangkal itu?" We Wat gusar hingga kumis dan alisnya bangun berdiri. "Khong Khong Jie, kau sendirilah si manusia temberang!" dia membentak. "Tahukah kau apa yang telah diperbuat adik seperguruanmu itu? Jikalau aku tidak pandang pada gurumu yang telah mampus menjadi setan, ingin aku menghajar mati padanya!" Pengemis tua ini tertawa berlenggak. Dengan suara nyaring, dia berkata pula, "Khong Khong Jie, apakah matamu telah pindah ke dahimu? Coba bilang, adik seperguruanmu itu, juga kau sendiri, bukankah dapat aku mengurusnya? Kalau tidak, maka aku harus malu terhadap mendiang gurumu!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Baik, kau uruslah aku jikalau kau mampu!" kata Khong Khong Jie, menantang. "Kau telah melukai adik seperguruanku itu, jikalau tidak memberi sedikit pengajaran padamu, aku juga malu terhadap mendiang guruku!" Kata-kata ini dibarengi dengan lompatan tubuh yang pesat yang diberikuti serangan hebat! "Anak celaka!" We Wat mendamprat saking murka. "Hendak aku lihat berapa tinggi kepandaianmu!" ^ Ia lantas mengangkat tangannya guna menyambut serangan itu. Khong Khong Jie merasakan tubuhnya tergetar, ia lantas berkelit ke samping. Justeru itu, We Wat menyamber pinggangnya, untuk dicekuk. Ia terkejut, tetapi masih sempat ia menjejak tanah, untuk lompat mencelat dengan tipu silat "Burung walet terbang menembusi mega". Sembari berkelit itu, ia menyerang. Dengan satu suara nyaring, Khong Khong Jie mendapatkan ikal' pinggangnya terjambret putus, akan tetapi lengan kiri We Wat juga kaku, sebab jalan darahnya - jalan darah ]<:iok-tie - kena tertotok lawan yang tingkatnya terlebih muda itu. Bukan main terkejutnya si jago tua, hingga dia kata dalam hali, "Pantas dia menjadi begini jumawa, kiranya dia benar jauh terlebih liehay daripada Ceng Ceng Jie, hingga dia tak usah kalah dengan gurunya dahulu hari itu!" Di dalam tempo yang pendek itu, Hong Kay sudah lantas mengerjakan tenaga dalamnya hingga dengan lekas ia dapat memulihkan jalan darahnya, hingga lengannya menjadi tidak kurang suatu apa. Khong Khong Jie yang telah menginjak tanah pula tertawa dingin, sembari tertawa dia maju lagi, sembari berkata, "Tua http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

bangka she We, apakah sekarang kau masih berani menjual ketuabangkaanmu? Dengan memandang kau sahabatnya mendiang guruku, lekas kau menghaturkan maaf kepadaku!” We Wat menjadi semakin gusar, hatinya menjadi semakin panas ”Anak muda, kau terlalu jumawa!” bentaknya. ”Kau terlalu bernyali besar dan kurang ajar! Hari ini, meski kau berlutut liga kali kepadaku, tidak nanti aku sudi memberi ampun padamu!” Khong Khong Jie mengganda tertawa. ”Oleh karena sama-sama tidak sudi melepaskan satu pada lain,” kata dia, ”Nah, mari kita bertempur pula, bertempur secara kaum Kang Ouw sejati! Mari dengan tangan kita mengambil keputusan siapa jago siapa betina! Eh, pembantu yang diundang olehmu itu, kenapa dia tidak mau maju berbareng?” Khong Khong Jie menuding kepada Lam Ce In. Dia ini menjadi tidak puas sekali, maka dia kata, ”We Lo-cianpwe, silahkan kau perkenankan aku belajar kenal dengan dia! Locianpwe sendiri cukup berdiri di sisi sambil memberi pelbagai petunjuk padaku!” Lam Ce In dan Khong Khong Jie sederajat satu dengan lain. We Wat terlebih tinggi daripada mereka, maka itu, kalau si tua melayani si muda, ia menang pun tak akan ia dianggap gagah, sedang kalau ia kalah, ia bakal ditertawakan umum. Itulah sebabnya Ce In berani menempuh bahaya menantang lawannya. Dengan air muka padam, We Wat memberikan jawabannya. ”Lam Hiantit, urusan ini bukan urusan kau,” katanya. ”Aku bersedia mengorbankan tulang-tulangku yang tua guna menertibkan dunia Rimba Persilatan, maka sekarang ini, aku tidak menghiraukan pula nama baikku!” http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Inilah yang diharap-harap Khong Khong Jie. Ia tahu We Wat liehay tetapi ia percaya dapat ia melayani, tetapi jikalau We Wat dibantu Lam Ce In, itulah berbahaya untuknya. Maka ia memancing kemarahan orang dengan menantang sekalian pada si orang she Lam. Lantas ia tertawa dingin dan kata, ”Tua bangka, kau makin menjadi-jadi! Sudah kau menghina adik seperguruanku, sekarang kau mementang bacot begini lebar! Bagaimana kau berani menyebut-nyebut menertibkan dunia Rimba Persilatan? Hm!” Dua-dua pihak mempunyai masing-masing keberaniannya sendiri. We Wat melukai Ceng Ceng Jie, perbuatannya itu kurang tepat. Seharusnya dia menyerahkan Ceng Ceng Jie pada kakak seperguruannya itu karena Ceng Ceng Jie sudah tidak punya guru. Di waktu menyerang Ceng Ceng Jie, We Wat tidak memikir kesitu. Ia hanya menganggap ialah orang yang terlebih tua, ia mesti dihormati, tetapi Ceng Ceng Jie bersikap garang ia jadi memikir banyak. Sekarang, Khong Khong Jie pun tak berlaku benar, karena dia terlalu temberang, sama sekali dia tak menghargai lagi si jago tua. Begitulah, dengan mencegah Ce In, We Wat lantas melayani Khong Khong Jie, hingga mereka menjadi bertempur pula. Khong Khong Jie mengeluarkan sebatang pedang pendek, ia tak berlaku sungkan lagi, ia berkelahi dengan mengandalkan kepandaian ringan tubuhnya, dengan berani ia mendesak. Ia selalu menyerang dengan bengis, saban-saban ia mengarah bagian anggauta tubuh yang lemah dari lawannya yang tua itu.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

We Wat menang tenaga dalam, dia tak segesit lawannya ini, maka itu, sesudah diserang berulang-ulang secara membahayakan dia menjadi mendongkol. Mendadak dia menyerang dengan sebelah tangannya, dengan Pek Khong Ciang, yaitu pukulan Udara Kosong. -oo0dw0oooJilid 16 Dia membuat hancur sepotong batu besar hingga batu itu pecah berhamburan hancurannya menyamber kalang kabutan mirip senjata-senjata rahasia, menyamber ke arah Khong Khong Jie. Itulah hebat. Khong Khong Jie memperdengarkan seruan nyaring. Dengan berlompat tinggi, ia menghindari diri dari pelbagai batu itu, dengan pedangnya, ia melakukan pembelaan diri. Maka berulang kali pedang bentrok dengan batu mengasih dengar suara nyaring beruntun-runtun, terus jatuh ke tanah bagaikan hujan. Setelah itu, Khong Khong Jie bersiul lama, tubuhnya berjumpalitan, hingga kepalanya menjadi di bawah dan kakinya di atas. Dengan cara itu ia menyerang dengan pedangnya, yang berkelebat dalam sinar perak. We Wat juga dengar seruan bagaikan guntur, dengan sebelah tangannya ia menyerang, menyambut terjangan lawan itu. Dapat dimengerti jikalau ia telah mengerahkan tenaganya. Akibatnya itu ialah rubuhnya Khong Khong Jie melesat lewat di atasan kepala Hong-kay si Pengemis Edan, bagaikan tubuhnya Ceng Ceng Jie tadi, tubuh itu melayang terus ke arah lembah! http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Segera juga dari dalam lembah itu terdengar suara ini, "Tua bangka yang telengas! Ingatlah, gunung hijau tak ubahnya, air biru mengalir tak putusnya! Pukulanmu ini akan aku ingat baikbaik! Lain kali akan aku minta belajar kenal pula dari kau!" Suara itu rada parau, tetap toh terdengarnya tegas. Mendengar itu, hati Lam Ce In menggetar. Barusan pun hatinya benar-benar. Ketika ia menoleh kepada We Wat, ia menjadi tercengang. Ia mendapatkan bajunya Hong-kay berlepotan darah, mukanya pucat sekali dan jenggotnya yang panjang bergemetar, romannya sangat kucel. Dengan lantas ia lompat menghampirkan, guna mempepayang. "Lo-cianpwe, kau kenapa...?" tanyanya bingung. Jago tua itu menghela napas. "Inilah yang pertama kali aku si pengemis tua roboh," sahutnya, berduka. "Lukaku tidak berarti hanya hatiku yang terasa sakit sekali..." We Wat menganggap Khong Khong Jie berlaku sangat telengas, maka itu, ia menyambut dengan pukulannya itu, walaupun demikian tidak ada niatnya merampas jiwa orang, sambutannya dimiringkan sedikit. Ia merasa, sambutan itu sudah cukup buat membuat Khong Khong Jie terpental mundur. Siapa tahu, Khong Khong Jie liehay diluar sangkaan, dari itu, kesudahannya mereka rusak dua-duanya. Lukanya Khong Khong Jie bukannya ringan, tetapi ia pun terlukakan panjang tiga dim... Khong Khong Jie tidak tahu We Wat berlaku murah terhadapnya, karena itu, dia mengutarakan penasarannya dengan mengatakan si jago tua telengas dan dia mengancam untuk menuntut balas kelak dibelakang hari. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lam Ce In memeriksa luka jago tua itu, hatinya lega. Ia mendapat kenyataan luka itu tidak parah. Ia turut merasa menyesal. Maksud baik dari jago tua ini nyata diterima salah oleh Khong Khong Jie. "Sudahlah, lo-cianpwe" ia menghibur. "Lo-cianpwe bermaksud baik tetapi dia temberang, maka sudah cukup dia menerima ajaran itu. Tak usah lo-cianpwe berduka karena sikapnya yang kurang ajar itu, dia seperti mencari penyakit sendiri." "Khong Khong Jie menjadi satu soal," kata We Wat, menarik napas. Masih saja ia berduka. "Aku juga menyesal buat sikapnya Hong-hu Siong dengan siapa aku mempunyai persahabatan beberapa puluh tahun. Dengan begini didalam cuma satu hari habis sudah persahabatan itu... Aku menyesal sekali yang dia tak mau datang kemari untuk memenuhkan janji. Tak datangnya itu membuktikan bahwa dialah benar orang yang membinasakan Kie Tie sahabatku itu. Sebenarnya kami ketiga pengemis, kami menjadi seperti saudara-saudara kandung, tetapi karena urusan Kie Lojie ini, ada kemungkinan aku bakal membunuh dia!" Lam Ce In terperanjat. Ia lantas ingat suatu apa. "Lo-cianpwe," katanya, "Apakah lo-cianpwe masih ingat itu cincin besi yang barusan Khong Khong Jie perlihatkan pada locianpwe? Aku merasa sangsi mengenai cincin itu, aku heran..." We Wat melongo. "Apakah yang aneh?" dia tanya. "Cincin semacam itu pernah aku melihatnya," sahut Ce in. "Itulah cincinnya Hong-hu Siong."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Benar!" berkata We Wat. "Karena aku kenal cincin itu sebagai miliknya Hong-hu Siong, aku menjadi menyangsikan perkataannya Khong Khong Jie itu." "Lo-cianpwe tahu, cincin itu pernah dikasihkan Hong-hu Siong kepada seorang lain," kata Ce In pula. "Kepada siapakah diserahkannya?" tanya We Wat. "Dia memberikannya kepada Toan Kui Ciang." Jago tua itu menjadi heran. Lam Ce In pikir hendak memberi penjelasan hal diserahkannya cincin itu, tetapi We Wat mendahulukan berkata padanya, "Lam Hiantit, kau tahu satu tidak tahu dua. Sebenarnya cincin itu sepasang dan akulah yang memberikan kepada Hong-hu Siong." Ce In pun menjadi heran, maka ia mengawasi orang tua itu. "Pada tiga puluh tahun dulu," berkata We Wat, memberi keterangan, "Ketika aku lagi berada di wilayah Hwe Kiang, aku mendapatkan sepasang cincin itu. Katanya itu miliknya seorang raja setempat, bahwa cincin itu mempunyai khasiat mengusir pengaruh-pengaruh jahat. Dari istana raja, cincin itu terjatuh ke dalam tangannya seorang kepala suku. Aku telah melepas budi kepada kepala suku itu, untuk membalasnya, dia memberikan itu padaku. Lalu aku memberikannya pula kepada Hong-hu Siong. Karena itu, tak dapat kau menyangka Khong Khong Jie main gila. Hanya aku tidak mengerti kenapa Hong-hu Siong menceraiberaikan sepasang cincin itu dan memberikannya satu kepada Toan Kui Ciang. Itulah aneh! Kau bersahabat erat dengan Toan Kui Ciang, tahukah kau sebabnya itu?" "Aku tahu ada sebuah cincin lagi yang segalanya mirip dengan cincin itu," kata Ce In, "Dan cincin itu tidak berada di tangannya Hong-hu Siong..." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

We Wat tak mengerti. "Bagaimana itu?" tanyanya. Lam Ce In lantas menutur halnya dulu hari itu Toan Kui Ciang dikejar-kejar orang-orangnya An Lok San, bahwa karena terluka parah, Toan Kui Ciang sampai pingsan dan tak ingat suatu apa, tetapi di dalam kuil tua itu dia bertemu dengan Hong-hu Siong, yang menolongnya mengusir musuh, habis mana, bukan saja Hong-hu Siong menolong memberikan obat tetapi juga memberikan cincinnya itu. Hong-hu Siong tahu Toan Kui Ciang tidak mudah menerima budi orang, maka juga cincin diberikan dengan dimasuk ke dalam jeriji tangan selagi Kui Ciang belum sadar. "Karena Toan Kui Ciang lagi pingsan, Hong-hu Siong kata padaku, 'Aku minta pertolongan kau untuk disampaikan kepada Toan Tayhiap, yaitu kalau dibelakang hari dia bertemu dengan satu orang dan orang itu memakai sebuah cincin yang sama dengan cincin ini, sukalah dia memandang kepada mukaku, supaya suka dia menaruh belas kasihan pada orang itu.' Demikianlah sepasang cincinnya Hong-hu Siong itu, yang satu berada di tangan Toan Kui Ciang, yang lain berada di tangannya seorang yang aku tidak tahu siapa. Inilah sebabnya aku merasa aneh sekarang." We Wat turut menjadi heran, hingga ia berpikir keras. "Tetapi aku ingat benar cincin itu, tak salah lagi, itulah cincin yang dulu hari aku berikan kepada Hong-hu Siong," katanya selang sejenak. "Dari mana Khong Khong Jie mendapatkan cincin itu? Dia bolah mencuri atau bagaimana?" "Khong Khong Jie sangat kesohor buat kepandaiannya mencuri, di kolong langit ini tidak ada tandingannya," kata Ce In. "Maka itu aku kuatir... aku kuatir..." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Kau kuatir cincinnya Toan Kui Ciang telah dicuri Khong Khong Jie?" tanya We Wat. "Itu mungkin terjadi. Kalau Khong Khong Jie mau mencuri, dia pasti berhasil tak perduli cincin berada di tangan siapa. Cumalah... Tentang janji pertemuan di antara aku dan Hong-hu Siong ini, yang ketahui cuma tiga orang. Kecuali aku bersama Hong-hu Siong, orang yang ketiga itu ialah orang yang aku suruh menyampaikan pesanku..." "Siapakah orang itu?" "Dialah seorang muridku yang aku paling percaya. Tidak nanti dia membocorkan rahasia. Kecuali Hong-hu Siong yang memberitahukan sendiri, tidak mungkin Khong Khong Jie mendapat tahu itu..." Keduanya berdiam, sama-sama mereka berpikir. Mereka heran sekali. "Sudahlah," kata We Wat kemudian. "Sekarang baik aku pulang dulu, untuk menanyakan muridku itu, apabila aku tidak memperoleh penjelasan, baru nanti aku pergi ke Kiu-goan menjengukmu, buat membantui kau mencari Leng Soat Bwe ibu dan anak." Ce In bingung hingga ia tak dapat berpikir lain. "Baiklah," katanya tak berdaya. Keduanya lantas berdiam, sampai terang tanah, baru mereka berpisahan. Ce In menghaturkan terima kasih kepada jago tua itu. Ia menunggang kuda jempolan, besoknya magrib ia sudah tiba kembali di Kiu-goan, di kantor Thaysiu. Karena cuaca sudah gelap, tak mau ia mengganggu Kwe Cu Gie, dari itu ia menuju langsung ke tempat kediamannya. Tiat Mo Lek lekas-lekas keluar menyambut, waktu ia dikabarkan kembalinya suheng itu.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Eh, bagaimana, suheng?" tanya sutee ini heran. "Kenapa kau tidak datang bersama dia?" Menanti jawaban, Mo Lek memandang suheng itu. Maka ia terkejut melihat wajah suram dan kucai. Beda daripada waktu perginya, gembira luar biasa, sekarang orang seperti lagi menderita sakit... "Suheng, bagaimana?" ia menanya pula. Ketika itu Ce In terbengong, sebab pikirannya sangat kusut. "Ceritaku panjang, mari kita bicara di dalam saja," kata suheng itu kemudian. Mo Lek menurut, mereka lantas masuk. Dengan sabar Ce In menuturkan pengalamannya yang hebat dan diluar dugaan itu. "Kalau begitu, mesti peristiwa ini ada hubungannya dengan si bangsat cilik she Ong!" berkata Mo Lek, yang terus berpikir. "Suheng, mari kita pergi ke lembah Liong Bin Kok untuk mengacau, guna membuat mereka kacau mirip langit ambruk bumi amblas!" Ce In tertawa meringis. "Kita terpisah ribuan lie dari Liong Bin Kok, enak saja kau membilang mau pergi lantas pergi?" katanya. "Sekarang pun urusan tentara begini genting. Kita harus mendengar perintahnya Kwe Thaysiu, tak dapat kita lancang bergerak." Mo Lek terpaksa menurut. Malam ini Ce In berpikir keras sekali, hatinya sangat berkuatir, dari itu sukar ia mendapat tidur pula. Ia menghibur diri dengan berkata, mengingat kegagahannya Soat Bwe dan Leng Song tak nanti mereka itu terjatuh ke dalam tangannya Keluarga Ong. Ia pun menghiburi diri, andaikata Leng Song jatuh di tangan Liong Kek, tidak nanti si nona sudi http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

menyerahkan diri, karena itu lama-lama ia merasa juga sedikit lega dan tentaram. Kwe Cu Gie telah lantas mendapat tahu Lam Ce In sudah kembali, baru terang tanah ia sudah mengundang orang dan adik seperguruannya itu datang ke kantornya. Dilain pihak, sebagai seorang, yang berpengalaman, ia mengerti perjalanannya Ce In itu mestinya gagal. Ia telah diberitahukan bahwa orang gagah itu lesu dan muram... Maka itu, melihat orang muncul, ia tidak menanyakan urusan kepergian Ce In, hanya sembari bersenyum ia bilang, "Sekarang ini masanya negara menghadapi kesukaran, sekarang ialah saatnya bangsa lakilaki sejati berbuat sesuatu untuk negara! Maka itu urusan rumah tangga bolehlah dikesampingkan dulu. Lam Ciangkun, kau kembali pada saat yang tepat!" "Adakah telah terjadi pula perubahan baru?" tanya Ce In. "Keadaan sangat genting," berkata Kwe Cu Gie. "An Lok San ini lantaran putera sulungnya dihukum mati oleh Pemerintah Agung, melakukan penyerangan dengan hebat sekali. Begitulah kabarnya seluruh pasukannya Ciat-touw-su di propinsi Hoolam sudah ludas semuanya, sedang angkatan perangnya Hong Siang Ceng, yang ditugaskan membasmi pemberontakan, sudah buyar kacau balau, hingga dia dikabarkan telah mundur ke kota Tong-kwan." Warta itu memang hebat. Kwe Cu Gie menjelaskan lebih jauh, "An Lok San mempunyai dua orang putera. Putera sulung Keng Cong. Putera bungsu Keng Sie. Keng Sie tinggal di Hoan-yang membantui ayahnya. Keng Cong tinggal di kota raja, menjadi kun-ma, ialah suami dari Eng Bun Kuncu, keponakan perempuan dari Sri Baginda Raja. Berhubung dengan pemberontakannya An Lok San, Keng http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Cong dihukum mati. Dia dikuatir nanti membantu ayahnya dan menjadi pengkhianat di bagian dalam. Karena ini isterinya, Eng Bun Kuncu, diberi kelonggaran dengan mati membunuh diri. An Lok San gusar sekali mengetahui kebinasaan puteranya itu. Dia sesumbar, 'Kau telah membunuh seorang anakku, hendak aku mengilas-ilas kota Tiang-an, untuk membunuh habis semua menteri militer dan sipil di dalam istana!' Lalu dia membiarkan tentaranya membasmi rakyat di mana saja mereka tiba dan lewat, hingga umpama kata, ayam dan anjing juga tidak dikasih tinggal hidup. Pemerintah telah mengirim dua angkatan perang besar untuk membasmi pemberontakan Ang Lok San itu. Angkatan perang yang pertama dipimpin Hong Siang Ceng, Ciat-touw-su yang baru dari Hoan-yang dan Peng-louw. Dia ini mempunyai enam puluh ribu serdadu baru dengan kedudukan di Hoopak. Angkatan perang yang lainnya dipimpin Tayciang Ko Sie Han, tentaranya tentara campuran orang Han dan Ouw dengan kedudukan di kota Tong-kwan, buat menjadi tameng bagi kota Tiang-an. Masih ada lagi satu angkatan perang lain dibawah pimpinan Ciat-touw-su Thio Kay Jian dari propinsi Hoolam, tentaranya terdiri dari tentara gabungan tigabelas kota di sekitar Tin-liu. Angkatan perang ini untuk Hong Siang Ceng. An Lok San maju terus. Hong Siang Ceng kucarkacir dan mesti berlindung kepada Ko Sie Han di Tong-kwan. Sri Baginda gusar dan menyuruh Ko Sie Han menghukum mati pada Siang Ceng." Darahnya Ce In naik mendengar kemajuannya Lok San itu. "Kalau begitu tak dapat kita berdiam saja!" katanya penasaran. "Leng-kong, apakah Pemerintah Agung memerintahkan leng-kong untuk turun tangan?" "Inilah soal yang hendak aku damaikan dengan kau," menjawab Kwe Cu Gie. "Baru kemarin datang perintah dari Sri Baginda menitahkan aku bersiap sedia, buat bergerak dengan mengimbangi salatan. Musuh sedang mendapat hati, kalau kita http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

hanya membela diri, itu merupakan ketika baik baginya menerjang kita. Sebaliknya, kalau kita maju, kita sedikit musuh besar, aku menyangsikan kemenangan kita. Menjaga salah, menyerang salah, habis bagaimana baiknya?" "Thio Thaysiu di Hoay-yang sudah siap sedia, baiklah lengkong ajak dia bekerja sama," Ce In usulkan. "Baik dengan Thio Sun dari Hoay-yang dan Gan Cin Keng dari Peng-goan, aku sudah membuat perjanjian," kata Kwe Cu Gie, "Hanya tetap jumlah kita masih kecil sekali." Tiba-tiba Tiat Mo Lek campur bicara. Ia kata ia mempunyai satu pikiran entah itu dapat dijalankan atau tidak. "Saudara Tiat, coba utarakan pikiranmu itu," kata Kwe Cu Gie. "Kau tahu sendiri, pikiran seorang pendek, pikiran dua orang panjang. Kita selamanya harus saling mengutarakan." "Bagaimana kalau ada satu pasukan, yang menerjang musuh dari belakang?" Mo Lek tanya. "Pikiran ini baik! Hanya dari mana datangnya pasukan untuk itu?" tanya Kwe Cu Gie. "Kalau kita mengirimnya dari sini, mana bisa pasukan itu melintasi wilayah penjagaan musuh yang lebarnya beberapa ribu lie?" "Itu benar, tayjin. Tapi di dalam wilayah Yu-ciu ada sebuah gunung Kim Kee Nia, dimana ada Cecu Sin Thian Hiong yang aku kenal baik. Dia gagah dan setia, dia bersedia bekerja untuk negara. Ketika An Lok San dan Ong Pek Thong berkongkol, Thian Hiong yang membeber rahasianya. Banyak jago Rimba Hijau yang dibeli Lok San tetapi dia tidak. Dia pernah membilangi aku, asal tenaganya dibutuhkan, ia bersedia memberikannya. Soalnya ialah apa tayjin sudi atau tidak menerima kaum Jalan Hitam itu..." Kwe Cu Gie tertawa.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Asal dia setia kepada negara, aku tak ambil mumat, dia orang Jalan Putih atau Jalan Hitamf" kata Thaysiu ini. "Siapakah rakyat yang tidak ingin hidup aman dan berbahagia? Ada banyak orang jahat tetapi mereka karena terpaksa. Ini sebabnya, terhadap mereka yang dikatakan jahat itu, aku selalu bersedia memberikan ketika. Kalau ada orang Rimba Hijau sebagai dia dan dia rela digunai olehku, tentu sekali suka aku menerimanya.'" Mo Lek menjadi girang sekali. "Jikalau begitu, Tayjin," katanya, "Tolong Tayjin memberikan aku sepucuk surat untuk mengangkat dia, supaya dia dapat mengubah pasukan dari Kim Kee Nia menjadi satu pasukan sukarela. Aku percaya, meski belum tentu dia bakal berhasil merampas kemenangan, sedikitnya dia dapat dipakai mempengaruhi An Lok San." Kwe Cu Gie lantas berpikir. "Meski dia tentara sukarela, dia membutuhkan pimpinan," katanya kemudian. "Lam Hiantee, aku minta sukalah kau bersama saudara Mo Lek pergi mewakilkan aku ke Kim Kee Nia untuk mengangkat Sin Thian Hiong menjadi panglima yang memimpin pasukan di garis belakang musuh. Kepadanya harus diterangkan, kecuali rombongan dari Kim Kee Nia sendiri, dia dapat menerima rombongan Rimba Hijau yang mana saja asal yang benar-benar suka bekerja untuk negara. Apa yang aku harap, saudara, supaya kau berhasil mengumpulkan pelbagai kemenangan yang gilang gemilang." Ce In setujui sekali pikiran Thaysiu itu. "Siauw-ciang terima perintah!" sahutnya sambil berbangkit. Kwe Cu Gie sudah lantas menulis surat keangkatannya untuk Sin Thian Hiong. Ia pula menyerahkan sebatang leng-cian http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

kepada Ce In seraya berkata, "Di garis belakang musuh ada sisa-sisa tentara negeri, kau dapat mengumpul mereka buat ditaruh dibawah perintahmu, supaya mereka dapat diajak bekerja sama." Ce In menerima baik tugas itu. Ia kata, "Kalau siauw-ciang berhasil mengumpulkan pasukan, lebih dulu siauw-ciang hendak menyerang Liong Bin Kok, guna melabrak sarangnya Ong Pek Thong. Jalan ini, kesatu guna menggempur sayapnya An Lok San, kedua menjadi jalan untuk mengumpulkan orangorang Rimba Hijau yang suka mengubah cara hidupnya yang sesat, supaya mereka memperoleh ketika kembali ke jalan yang benar. Ong Pek Thong menjadi ketua Ikatan Rimba Hijau, kalau dia kena dirobohkan, pasti banyak orangnya yang akan turut kepada kita." "Baiklah," kata Kwe Cu Gie, "Mengenai siasat perang, semuanya terserah kepada kau, Lam Hiantee, tak usah kau memohon segala petunjuk atau perintah lagi dari aku. Kita perlu bekerja cepat. Nah, silahkan kau dan Tiat Hiantee berangkat, aku hanya mengharap warta kemenanganmu!" Dengan menjabat tangannya Ce In, Thaysiu ini mengantarkan orang keluar dari ruang tetamu. Sembari jalan ia memerintahkan orangnya menyiapkan kuda untuk dua orang itu. Ce In berdua Mo Lek kembali ke tempatnya, untuk berkemas. "Suheng, kau harus mengucap terima kasih padaku!" kata Mo lek tertawa. "Kau kuatir tak dapat pergi ke Liong Bin Kok tetapi sekarang aku mintakan perkenan dan kekuasaan untukmu! Bagaimana berbahagianya kau andaikata Nona Hee berada di Lembah Naga Tidur itu!" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Jangan kau menggodai aku!" kata Ce In, juga tertawa. "Bukankah ini pula ketika akan menemui Nona Han! Kau jangan kuatir, umpama kala kau ingin bicara yang sedap-sedap dengannya, tak nanti aku mencuri dengar!" Sejak Cie Hun tiba di Kiu-goan, ia disukai Nyonya Kwe Cu (Yic, maka itu ia diajak tinggal bersama di dalam kantor Thaysiu. Karena itu juga, ia jadi jarang bertemu dengan Mo Lek. Lantaran ini, Ce In menggoda supaya si suteee mengajak Nona Han itu. Mo Lek jengah, mukanya bersemu dadu. Kata ia, "Suheng, tak dapat kau sembarang berkelakar begini macam padaku! Kau dengan Nona Hee sudah bertunangan, tetapi aku dengan Nona Han melainkan kakak beradik!" Ce In tertawa. "Akulah orang yang berpengalaman!" katanya. "Aku pun mulanya berkakak beradik dengan Nona Hee!" Tengah suheng dan sutee ini tertawa, Cie Hun muncul. Lantas saja dia kata, "Mo Lek, bagus sekali pikiranmu ini! Aku memang lagi pepal pikiran berdiam saja di dalam gedung berkumpul bersama nyonya-nyonya itu! Bukankah kamu mau pergi ke Liong Bin Kok?" "Benar!" sahut Ce In mendahului Mo Lek. "Nona Han, ada apakah saranmu yang bagus?" "Jangan kata yang bagus, yang jelek pun tidak!" sahut si nona tertawa. "Aku cuma gemar bertempur! Gadisnya Ong Pek Thong hutang satu gaplokan padaku, hendak aku membayarnya!" "Bagus!" kata Ce In. "Kali ini ada ketikanya untuk kamu menguji pula kepandaian kamu! Kakak beradik Keluarga Ong http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

itu bukan orang baik-baik, aku pujikan supaya kau dapat menusuk tembus jantungnya!" Mendengar itu, Cie Hun melirik Mo Lek. Ia mengasih lihat roman bersenyum bukannya bersenyum. "Tak berani aku melakukan itu!" katanya. "Kalau aku binasakan nona itu, habis dengan apa aku nanti menggantinya kepada Mo Lek? Lam Toako tidak tahu, Nona Ong dengan Mo Lek bersahabat rapat sekali!" Muka Mo Lek menjadi merah, dia bergelisah. "Cie Hun!" katanya keras, "Bukankah aku telah bilangi kau, tak perduli apa dia lakukan terhadap aku, dia tetap menjadi musuhku - musuh yang telah membinasakan ayah angkatku!" Meski orang tak puas, Cie Hun tertawa. "Jikalau hatimu tidak terluka, jangan kau bergelisah begini macam!" katanya. "Sudah, kita jangan omong saja, kuda sudah siap, mari kita berangkat!" Bersama-sama mereka bertiga keluar dari kantor. Opsir pengawal pintu heran, dia tanya Ce In, "Lam Ciangkun, baru kemarin kau kembali, apakah sekarang kau mau berangkat pula? Ada urusan apa kau begini kesusu? Eh, Nona Han juga mau berangkat bersama?" Ce In tahu urusan militer tak dapat sembarang diomongkan, ia cuma mengganda bersenyum, demikian juga Nona Han. Dengan lantas ketiganya naik kuda dan berangkat. Kuda uy-piauw-ma tetap dipakai Cie Hun. Buat Ce Iri dan Mo Lek berdua, Kwe Cu Gie memberikan masing-masing seekor kuda pilihan lainnya. Syukur kuda itu cukup tangguh untuk mengikuti kudanya Cin Siang. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Di tengah jalan, saking iseng Ce In bertiga membicarakan urusan Liong Bin Kok, perihal tujuh tahun dulu mereka mengacau dalam pestanya Ong Pek Thong. Tiba-tiba Mo Lek ingat suatu apa, ia lantas menahan kudanya. "Apa? Apakah kudamu sudah tidak kuat jalan?" tanya Ce In. "Bukan!" sahut Mo Lek. "Aku justeru lagi memikir perlu apa tidak kita lekas kembali ke Kiu-goan...?" Suheng itu heran. "Buat apakah?" tanyanya. "Aku baru ingat satu hal," sahut si sutee. "Apa sih hingga kau nampak gelisah?" tanya Cie Hun tertawa. "Kita sudah jalan begini jauh, mendadak kita hendak pulang lagi! Hayo kau bicara, sembari kita berjalan terus, nanti Lam Toako yang mengutarakan pikirannya. Mo Lek tidak menjawab si nona. Ia hanya menatap Ce In. "Suheng," tanyanya, "Tadi opsir yang menanya kau di kantor, siapakah dia, apakah namanya?" "Dialah Ho Kun!" sahut suheng itu. "Kenapa dia?" "Ketika pertama kali aku tiba di Kiu-goan, toako lagi berlatih di dalam kantor," sahut Mo Lek, "Di tanah lapang itu diantaranya aku melihat opsir itu. Dia berhasil memanah tiga kali, bukan?" "Tidak salah! Memang ilmu panahnya mahir! Apakah kau kenal dia?" "Ketika itu hari aku melihatnya, aku merasa seperti mengenal dia. Barusan, karena kita bicara peristiwa di Liong Bin Kok, mendadak aku ingat dia pula! Aku ingat aku melihatnya di lembah itu. Kemarin ada banyak orang, aku tak dapat mengingat-ingat dia." Ce In terperanjat. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Apa benar?" tanyanya. "Apakah kau ingat benar-benar? Apakah kau tidak salah?" "Pasti tidak salah!" sahut Mo Lek. "Apakah suheng ingat? Ketika itu aku menyamar jadi kacungnya Sin Cecu, selagi lainlain orang berkumpul di dalam taman, aku bersama lain-lain kacung berkumpul di istal kuda. Dialah orang yang bersantap bersama aku pada sebuah meja. Lain-lain orang bicara dengan gembira, cuma dia yang berdiam saja, karena itu kesanku jadi kuat sekali. Coba suheng pikir! Kalau dialah orangnya Ong Pek Thong, dengan beradanya dia di dalam pasukan kita, bukankah itu berbahaya?" "Ketika itu, apakah semua orang yang berkumpul denganmu hamba-hambanya Ong Pek Thong?" Ce In tegaskan. "Bukan semuanya, ada kacungnya lain-lain cecu lagi..." Ce In berdiam, tetapi otaknya bekerja keras. "Semenjak Kwe Leng-kong mendapat tahu An Lok San berniat berontak," kata ia, "Dengan lantas ia sudah berdaya mengumpulkan orang-orang gagah, menurut apa yang aku tahu, Ho Kun adalah yang pertama mendaftarkan diri. Kelihatannya dia teliti dan setia kepada pekerjaannya, maka itu, sekarang tak dapat kita lancang mengambil sesuatu terkaan terhadapnya, terutama tak dapat dipastikan dialah orangnya Ong Pek Thong. Tanpa bukti, kita tak bisa menuduh dia, atau kita berlaku sembrono. Urusan kecil jadi diperbesar..." "Bukan begitu maksudku. Aku ingin memberitahukan kepada Kwe Leng-kong sendiri," kata Mo Lek. "Kalau sekarang kita kembali, kita dapat menimbul kecurigaan orang," kata Ce In. "Kalau dia benar orang jahat, kita dapat membuat seperti kita menggeprak rumput membuat ular kaget. Sekarang baik kita atur begini, kita masih dalam http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

wilayah Kiu-goan, sebentar di sebelah depan, kita singgah di kantor. Akan aku menulis surat rahasia, minta orang membawa dan menyampaikan kepada Kwe Leng-kong. Di dalam surat itu kita beritahukan hal siapa adanya Ho Kun dan supaya dia diawasi. Surat menyurat dinas hal umum, surat kita tidak bakal mendatangkan kecurigaan." Mo Lek anggap suheng itu benar, ia suka menurut. Kuda mereka dilarikan keras, sebentar lagi mereka tiba di kantor. Ce In mampir, untuk menulis surat, setelah menutup rapi, ia suruh pegawai kantor itu lekas menyampaikan ke Kiugoan. Selesai itu, bertiga mereka melanjuti perjalanan mereka. Tiga hari kemudian, sampailah mereka di daerah pengaruhnya An Lok San. Lantas mereka sering melihat kelompok-kelompok rakyat yang lagi mengungsi, ada orangorang tua yang dituntun atau anak-anak yang diempo atau digendong. Suasana tempat sepi dan menyedihkan. Kadang kali juga terlihat serombongan tentara negeri, yang dikejar-kejar tentara An Lok San. Kalau melihat tentara An Lok San, bertiga mereka menyingkir jauh-jauh. Tak mau mereka timbulkan onar di tengah jalan. Dengan cara demikian, mereka bisa lewat dengan aman terus sampai di Kim Kee Nia. Ketika Sin Thian Hiong mendengar berita tibanya ketiga tetamu, ia menyambut dengan mengajak semua orang sebawahan serta kawannya, diantaranya Cie Hun melihiat ayahnya, hingga in girang bukan kepakmu. Tidak tempo lagi, ia lompat turun dari kudanya, akan lari kepada oiang lua itu. "Ayah! Ayah!" ia memanggil-manggil "Oh, ayah sudah kembali' Han Tam tertawa, dia menarik tangan pulennya. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Aku memang kenal tabiatmu, kau paling gemar mengacau''' lata ayah itu. "Kau paling bisa membuat orang bergelisah! Baru kemarin duJu aku kembali lantas pamanmu membilangi bahwa kau sudah minggat' h .m tahu, kau membuat aku kaget sekali!" Si nona menjebi pada Thian Hiong "Paman, mengapa kau mengatakan ilnnikian?" ia menyrsali "Bukankah ketika aku berangkat telah aku memberitahukan paman?" Thian Hiong tertawa. "Aku cuma bergurau dengan ayahmu'" .sahutnya. "Sebenarnya, kenapa hari itu kau demikian kesusu? Sesudah kau menunggang kuda, baru kau bicara denganku, aku lihat romanmu gelisah aekali! Ingat kelakukanmu hari ini, sekarang aku mau tertawa! Coba kau pikir mana dapat aku menolak padamu, untuk mencegah kau pergi?" Han Tam tertawa. "Syukur kau berangkat bersama Tiat Hiantit, kalau tidak, entah berapa besar kekuatiranku!" kata ayah ini. Kemudian ia bicara dengan Ce In dan Mo lek, yang pada memberi hormat padanya, habis itu, ia pegang tangannya Tiat Siauw-cecu, untuk berkata, "Hiantit, kau sudah jadi begini jangkung,! Sungguh kau pemuda yang gagah, yang membuat orang gembira!" Dilain pihak, orang tua itu masih memegangi tangan gadisnya, hingga Mo Lek menjadi likat. Melihat demikian, Ce In kata di dalam hati, "Harap saja jodoh mereka terangkap dengan lurus dan menyenangkan, jangan seperti jodohku dengan Leng Song yang banyak penderitaannya..."

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Setelah bertemu dengan semua orang, Ce In mendapatkan di bentengnya Thian Hiong berada pula beberapa orang baru, seperti Touw Pek Eng dan Hu Leng, jago pengembara dari Siamsay Selatan, yang semua menjadi sahabat karibnya, hingga pertemuan itu sangat menggirangkan mereka. Setelah orang bicara maka sekarang ternyata Han Tam turun gunung, kesatu guna menjenguk sahabat dan kedua buat mencari tenaga-tenaga baru untuk Kim Kee Nia. Gunungnya Sin Thian Hiong terpisah dekat dari Liong Bin Kok, jago tua she Han itu telah menduga Ong Pek Thong bakal bergerak, jadi ia bersedia payung buat sahabatnya itu, supaya sembarang waktu mau gerakannya pihak Ong dapat dilayani. "Sekarang ini keadaan genting, kenapa kamu dapat meninggalkan Kiu-goan?" tanya Thian Hiong heran pada kedua tetamunya. "Kenapa Kwe Leng-kong dapat mengijinkan kamu pergi?" "Itulah berhubung dengan urusan yang hendak bicarakan," sahut Ce In. "Mari kita bicara di dalam." aku

Sin Thian Hiong mempersilahkan kedua tetamunya masuk, untuk duduk berkumpul di ruang Cie-gie-thia. Di sini Ce In tuturkan rencananya Kwe Cu Gie untuk menghadapi pemberontakan An Lok San, supaya Kim Kee Nia dapat menghajar Liong Bin Kok. "Aku setuju!" Thian Hiong memberikan persetujuannya. "Han Lo-cianpwe kenal Liong Bin Kok baik sekali, buat menerjang saja, tepatlah lo-cianpwe yang menjadi kunsu kami!" Semua orang setuju. Memang tepat Han Tam menjadi kunsu, ahli pemikir.

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Karena ini, segera mereka berunding lebih jauh, membicarakan rencana penyerbuan atas Liong Bin Kok. Harinya ditetap tiga hari setelah itu. 0odwo0 Hee Leng Song telah diculik oleh Liong Kek, dia dikurung di dalam sebuah kamar dimana ia mesti menungkuli diri. Ketika itu hari ia diculik, ia lagi beristirahat, tiba-tiba kamarnya dimasuki empat orang la terkejut dan heran. Orang yang pertama ia kenali, ialah Ceng Ceng Jie. Orang yang kedua bukan lain daripada Ong Liong Kek sendiri. Orang yang ketiga ia tidak kenal. Dialah seorang tosu atau imam yang romannya aneh, yang tubuhnya jangkung dan kurus. Yang paling mengherankan ialah orang yang keempat. Dialah Seegak Sin Liong Hong-hu Siong! Yang sangat berkesan pada Leng Song ialah peristiwa sedetik itu. Begitu Hong-hu Siong muncul, begitu ibunya menjerit kaget, mukanya lantas menjadi pucat pasi. Ibunya kaget seperti melihat hantu jahat atau binatang liar yang galak! Ibu itu kaget, jeri dan gusar menjadi satu. Ibu itu menampak jeri hingga ia seperti sangat mengharapi datangnya penolong... Sudah dua puluh tahun Nona Hee berkumpul bersama ibunya, belum pernah ia menyaksikan ibunya demikian kaget, takut dan gusar dan putus asa. Ketika itu dengan sendirinya ia lompat sambil menghunus pedangnya, menyerang pada Honghu Siong. Akan tetapi, belum ia berhasil menikam, hidungnya sudah mendapat cium serupa bau harum yang aneh, lantas tenaganya hilang sendirinya, tubuhnya menjadi lemah, kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang. Ia cuma merasa ingin merebahkan diri dan tidur. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Didalam keadaan samar-samar itu, ia melihat Ong Liong Kek mendekati padanya. Justeru itu, ia mendengar jeritan ibunya. Ia masih dengar si ibu kata pada Hong-hu Siong, "Aku larang kau bicara sekalipun pada anak Song!" Menyusul itu terdengar bentrokan pelbagai senjata, golok bentrok dengan pedang. Setelah itu, ia tak sadarkan diri. Ketika kemudian ia mendusin, ia sudah berada di dalam kamarnya ini. Mulanya ia kaget dan berkuatir, sesudah merasa tubuhnya tak kurang suatu apa, baru hatinya menjadi sedikit lega. Hanya itu waktu, tetap ia kehilangan seluruh tenaganya, ia rebah di atas pembaringan tanpa berdaya. Sudah beberapa hari ia dikurung di dalam kamar itu, sudah beberapa kali juga Ong Liong Kek muncul, saban-saban ia mendamprat pergi padanya. Nona Hee sedang masgul dan mendongkol tempo kerai disingkap dan Liong Kek bertindak masuk. Ia terkejut, ia mendongkol, hingga ia mengertak gigi. Segera ia memutar tubuhnya, membaliki belakang, untuk tak memperdulikan. Tiba-tiba terdengar tertawanya pemuda she Ong itu. "Kau sudah berada di sini beberapa hari, apakah kemurkaanmu masih belum lenyap juga?" demikian tanyanya. "Ya, semua ada salahku, tanpa ijin dahulu dari kau, aku telah lancang membawa kau kemari. Tapi, baiklah kau mengerti, hal ini aku lakukan sebab aku sangat menyukai kau. Maka itu, sudah selayaknya saja kau memaafkan aku! Eh, apakah dadamu masih terasa sesak? Tak apa! Buat sementara belum dapat aku memberikan obat untuk menyembuhkannya. Tapi sekarang aku membawakan kau Liong-yan-hio, yang asapnya dapat menyadarkan otakmu. Asal kau dapat mencium hio ini, kau tentu akan merasa enak sekali..." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Leng Song berdiam. Tak usah lama, lantas hidungnya dapat mencium asap, yang berbau harum. Benar sekali, hatinya lantas terasa lega. Meski demikian, ia tetap tidak mau menghiraukan pemuda itu. "Nona Hee," terdengar Liong Kek berkata pula, "Apa pun kau ingin aku lakukan, dapat aku lakukan, cukup asal kau suka bicara denganku!" Dalam gusarnya itu, si nona kata keras, "Jangan kau mengangkat-angkat membaiki aku! Aku lebih suka kau kuningkan batang leherku!" Liong Kek tertawa pula. "Kenapa kau begini gusar terhadapku?" tanyanya. "Apakah kau kira aku mengundang kau datang kemari untuk aku membunuhmu? Tidak! Kau jangan kuatir! Meski aku mati tak nanti aku tega melukai kau! Apa yang aku ucapkan padamu keluar dari hatiku yang jujur!" Mendadak si nona memutar tubuh. "Bagus! Bagus kata-katamu ini!" katanya, keras. "Aku mau tanya kau, kenapa kau tidak pertemukan aku dengan ibuku?" Liong Kek memegang kipas, ia goyang-goyang itu. "Ibumu tidak ada di sini," sahutnya halus. "Tapi, setelah kita berdua menikah, pasti kau bakal dapat menemui ibumu..." "Tidak tahu malu!" bentak si nona. "Dengan beginikah kau hendak mengancam aku?" "Nona Hee, dengan setulusnya aku meminang dirimu," kata pula Liong Kek. "Aku minta kau jangan salah paham. Tentang ibumu, jangan kau buat kuatir. Ibumu berada di satu tempat lain, buat sementara, tidak ada niatnya datang ke lembah Liong Bin Kok, ini, tetapi, begitu lekas kita berdua menikah, dia tentu

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

akan datang kemari guna menyaksikan puterinya menikah, dan akan menemui baba mantunya!" Leng Song gusar hingga mukanya menjadi merah dan alisnya berdiri. "Hm! Kau hendak memaksa kawin denganku!" katanya. "Kalau begitu, kaulah si kodok buduk yang mimpi ingin gegares daging angsa khayangan! Biarnya tubuhku hancur lebur, tidak nanti aku menikah denganmu!" Sedari tadi Liong Kek berdiri dengan romannya ramah tamah dan sikapnya halus, ia berlaku sabar dan lunak, akan tetapi sekarang, mendengar suara si nona, parasnya menjadi pucat lalu guram. Ia menungkuli hati dengan menggoyang-goyang kipasnya. Baru selang beberapa detik, ia mengasih dengar suaranya yang dingin. "Nona, apakah kau tidak mau berpikir sejenak?" tanyanya. "Kalau benar seperti katamu akulah si kodok buduk yang ingin makan daging angsa khayangan, pastilah sudah sedari siangsiang daging telah masuk ke dalam mulutku! Kau harus ingat, kau telah berada di dalam genggamanku, apa juga aku hendak bikin atas dirimu, dapat aku lakukan! Tapi sebab aku menghormati kau, karena aku menyinta padamu, karena aku ingin kita menjadi pasangan suami isteri yang paling manis, maka aku tidak mau berlaku keras memaksa kau! Nona, kau ingatlah baik-baik, biar bagaimana kita pernah bersahabat, kita pernah saling menyukai! Nona, kenapa sekarang kau begini membenci aku?" "Aku telah mempunyai tunanganku, kau bukannya tidak tahu!" kata si nona sengit. "Kau tahu aku telah bertunangan dengan Lam Ce In, toh kau culik aku dan membawa aku kemari? Apakah dengan begitu bukannya kau menghina aku? Jikalau kau mau bicara dari hal persahabatan, lekas kau http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

merdekakan aku, supaya aku boleh pergi dari sini! Dengan berbuat demikian mungkin kau bakal membuat kurang sedikit dari kebencianku!" Liong Kek ingin merebut hati si nona, ia berpikir untuk berlaku sabar, biar orang mencacinya, tak mau ia bergusar, akan tetapi sekarang, ia mendengar disebutnya nama Lam Ce In. Inilah lain. Tak dapat ia terus menerus menyabarkan diri. Parasnya berubah menjadi merah sedang kipasnya ia banting ke lantai! "Didalam hal apa aku kalah dari si orang she Lam?" katanya keras. "Dia cuma sebawahannya Kwe Cu Gie! Apa dia dapat buat? Dia cuma menggunai golok atau pedangnya untuk mendapatkan nama kosongnya dalam dunia Kang Ouw! Dia tak mengenal keramahan tak tahu akan asmara! Apakah yang berharga dari dia hingga kau demikian jatuh hati terhadapnya? Laginya, aku mengenal kau lebih dahulu daripadanya! Kita pernah bersahabat erat! Sekarang kau menggeser cintamu, mana aku mau mengerti?" Selagi orang bergusar dan menumpahkan itu, Leng Song sebaliknya berdiam saja. Ia berlaku tenang sekali. Ia menjadi ingat segala peristiwa yang telah lalu. Pada tujuh tahun dulu, ketika pertama kali Leng Song muncul dalam dunia Kang Ouw, pernah satu kali di tengah jalan ia berpapasan dengan sepasukan tentara negeri. Opsir pasukan itu melihat ia cantik, dia hendak mempermainkannya. Disaat ia hendak menyerang opsir itu, di situ lewat seorang muda, yang mencegah si opsir berlaku kurang ajar. Dengan begitu ia ditolong dari keruwetan. Pemuda itu ialah Ong Liong Kek. Tatkala itu ia belum tahu tentang dirinya Ong Liong Kek, ia menyangka dialah seorang pemuda gagah dari keluarga http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

berkenamaan, diam-diam ia jatuh hati terhadapnya. Ia percaya dia karena r5mannya yang ganteng dan gagah dan halus gerak-geriknya. Semenjak itu, berdua mereka bersahabat, sering keduanya berjalan bersama. Ia belum berpengalaman, Liong Kek banyak memberi petunjuk padanya. Kemudian Liong Kek membantu ia menyingkirkan seorang opsir rakus dan dua okpa, jago yang jahat. Maka ia semakin percaya si pemuda ialah pemuda pengembaraan yang mulia hatinya. Hanya selama itu belum mereka omong tentang cinta dan perihal pernikahan. Kemudian mereka berpisah. Itulah sebab Liong Kek mesti pulang, guna membantu ayahnya membangun usaha besar, untuk mana, mereka bentrok dengan Keluarga Touw. Sampai waktu itu, tetap ia belum ketahui hal diri si pemuda. Lalu tiba saatnya Ong Liong Kek memegat Toan Kui Ciang di Loan Cio Kong dimana dia kena dikalahkan Lam Ce In. Mengetahui kejadian itu, ia mulai melihat siapa si pemuda. Kemudian terjadilah penyerbuan, pada Liong Bin Kok, hingga terbuka rahasia Keluarga Ong bersekutu dengan An Lok San, kejadian itu membuat ia berduka dan putus asa. Sekarang," di saat Liong Kek berlaku keras dan membangkitbangkit, Leng Song ingat semua peristiwa lama itu. Ketika si anak muda masih saja mengudal rasa hatinya, ia menjadi tidak puas. Ia mengangkat kepala dan kata tegas, "Kau benar! Sama sekali kau tak dapat dibandingkan dengan Lam Ce In!" Liong Kek melengak. "Kenapa aku tak dapat dibandingkan dengannya?" dia tanya, suaranya keras. "Akulah siauw-bengcu, ketua muda, dari Ikatan Rimba Hijau! Aku lagi membangun usaha besar! Dia... dia makhluk apa?" http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Dialah seorang gagah yang hatinya mulia!" sahut si nona berani. "Dia biasa membantu si lemah tak berdaya! Dia lagi bekerja untuk negara dan rakyat! Kau sebaliknya! Kau berkongkol dengan bangsa Tartar! Kau biasa mencelakai rakyat jelata! Kau bukanlah makhluk yang baik! Mana dapat kau dibandingkan dengannya?" Liong Kek gusar sampai di puncaknya. Akan tetapi, setelah matanya berputar, sekonyong-konyong dia tertawa bergelak. "Kau benar-benar berpandangan cupat sebagai wanita!" katanya "Apakah kau pernah membaca sejarah?" "Aku cuma membandingkan kamu berdua!" kata si nona. "Apakah hubungannya kamu dengan sejarah?" Liong Kek menjemput kipasnya, ia menggoyang-goyangnya. Dengan cara itu ia mencoba menekan hawa amarahnya. "Bukankah kau memandang persekutuanku dengan bangsa Tartar sebagai suatu dosa besar?" katanya kemudian, sebisanya bicara dengan sabar. "Apakah kau tak tahu contoh dari kaisar-kaisar dahulu yang meminjam bantuan bangsa asing untuk merebut negara? Umpama kata kau belum pernah membaca sejarah, kau t6h ketahui lelakonnya kerajaan kita sekarang. Tempo Lie Yan ayah dan anak bersaing dengan pelbagai raja muda memperebuti Tionggoan, dia pernah menghamba kepada bangsa Turk, dia telah kirim Lauw Bun Ceng utusannya kepada Khan dari Turki, menjanjikan akan menyerahkan kepada Khan itu semua wanita, kemala dan cita yang dia peroleh sebagai hasil kemenangan perangnya. Justeru karena mendapat bantuan Turki itu, kemudian Lie Yan berhasil menjadi Kaisar pertama dari Kerajaan Tong sekarang ini!. Sekarang aku berserikat dengan An Lok San, itulah tak lebih tak kurang karena pihakku menelad Lie Yan! Untuk sementara aku meminta bantuannya, akan tetapi nanti, setelah aku berhasil, http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

dapat aku membasmi dia, supaya aku sendirilah yang mengangkangi Kerajaan Tong! Ha, ha! Itu waktu maka aku akan jadi sama dengan Thay Cong Hongtee Lie Sie Bin, aku menjadi satu raja yang membangun negara! Mana kau ketahui cita-citaku yang besar dan luhur itu? Sekarang kau mencaci aku, bukankah itu menyatakan pandanganmu yang cupat seperti pandangan wanita biasa?" Liong Kek pandai bicara, dia percaya dapat dia menakluki Leng Song. Tapi diluar dugaannya, si nona menyambutnya dengan tertawa dingin. Dia justeru dipandang semakin rendah. "Oh, kalau begitu, maaf, maaf, aku kurang hormat terhadapmu!" kata si nona, mengejek. "Jadinya kau mempunyai cita-cita demikian besar dan luhur! Menyesal aku yang rendah belum pernah membaca buku sejarah! Walaupun demikian, aku toh ketahui satu hal! Siapa mencelakai rakyat jelata dialah si jahat dengan sepuluh kedosaan tak berampun! Sedang seorang yang memandang bangsat sebagai ayahnya dialah si pengkhianat yang setiap orang dapat membunuhnya!" Itulah tak disangka Liong Kek. Dia menyangka si nona akan menjadi kagum dan takluk, tak tahunya, dia justeru dicaci habis-habisan. Belum pernah dia dicaci sebagai ini, maka itu mukanya menjadi merah padam, matanya menjadi merah. Saking malu, dia menjadi gusar. Mendadak dia maju satu tindak, dia tertawa sebagai hantu! "Bagus, ya, bagus!" katanya sengit. "Jadinya aku di mata kau ialah orang jahat dengan sepuluh dosa tak berampun! Kalau begitu, buat apa aku bicara banyak lagi denganmu! Karenanya aku cuma dapat menggunai caranya si orang jahat untuk menghadapi kau! Ha, ha, ha! Nona Hee, ini yang dibilang arak kehormatan ditampik, arak hukuman diterima!"

http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

Lantas pemuda ini membungkuk, kedua tangannya dipentung. Hendak dia merangkul nona manis yang tak berdaya itu. "Bagus!" berseru Leng Song, yang tak dapat berontak. "Sungguh kau gagah perkasa! Hm, manusia rendah yang tak tahu malu!" Mendengar itu. Liong Kek malu dan mendongkol sekali, dia mengawasi tajam. Ketika sinar matanya beradu dengan sinar mata si nona, dia melihat nona itu memandang enteng kepadanya. Sinar mata si nona tajam dan berpengaruh! Tanpa merasa, hatinya bercekat, hingga timbul keragu-raguannya. Karena itu, batal ia merangkul nona itu. Untuk sejenak, pemuda ini mengertak gigi. Tak dapat dia menyerah, tapi berat untuk dia meninggalkan si nona. Masih dia berdiam ketika tiba-tiba dia mendengar satu tertawa dingin, perlahan tapi tegas. Orang yang tertawa itu seperti berada di sisinya! Dia mengawasi Leng Song, dia mendapatkan nona itu rebah di atas pembaringan dengan matanya lagi mengawasi padanya, mulutnya tertutup rapat, bibir atau pipinya tak meninggalkan bekas habis tertawa. Dia menjadi heran. Terang itulah bukan si nona yang tertawa... "Siapa itu di luar?" dia membentak. Tidak ada jawaban. Ada juga jawaban yang berupa tertawa dingin seperti barusan! Kembali hati Liong Kek bercekat. Tanpa merasa, dia menjadi jeri. Tak dapat dia berdiam lebih lama di dalam kamar itu. Mau atau tidak, dia lompat meninggalkan si angsa khayangan. Dia menyingkap tirai, untuk lompat keluar. Leng Song bernapas lega. http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Sungguh berbahaya..." katanya di dalam hati. Ia pun bingung. Ia juga telah mendapat dengar dua kali tertawa dingin itu. Ia tidak mengerti. Siapa itu yang mengasih dengar tertawanya? Kenapa datangnya demikian tepat, di saat ia terancam bahaya? Dengan berlalunya Liong Kek, kamar menjadi sunyi. Dari sebelah luar juga tidak terdengar apa-apa. Adalah berselang sekian lama, di luar itu terdengar tindakan kaki. Sendirinya, Leng Song terkejut pula, hingga hatinya menjadi tidak tenang. Ia menduga kepada Ong Liong Kek, yang balik kembali. Selagi ia memasang mata ke arah tirai, Leng Song melihat satu rubuh berkelebat masuk bagaikan bayangan, begitu lekas ia sudah melihat tegas, ia menjadi heran. Yang datang itu Ong Yan Ie, adiknya Liong Kek! Leng Song membenci sangat Keluarga Ong, maka itu, terhadap Yan Ie ia tidak berkesan manis. Ia mengawasi nona itu dengan sikapnya sangat dingin, mulutnya tertutup rapat. Yan Ie sebaliknya. Nona ini memperlihatkan wajah berseriseri. Tak nampak sedikit juga bahwa ia bermaksud buruk. Hanya mendapatkan orang bersikap demikian tawar, ia agak heran. Dengan bersenyum pula, ia bertindak menghampirkan. "Ende Hee," ia menyapa, manis, "Kakakku berbuat kurang ajar terhadap kau, tidak heran jikalau kau menjadi gusar, maka itu sekarang aku datang untuk menghaturkan maaf kepadamu!" Leng Song heran akan tetapi ia tertawa dingin. "Baru saja aku mencaci habis kakakmu itu, yang ngeloyor pergi seperti anjing menggoyang ekor!" katanya. "Sekarang kau datang ke mari, apalagi kau hendak pertunjuki? Hm! Kamu dua saudara, http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

yang satu berbuat buruk, yang lain bersikap manis! Dapatkah kamu menipu aku?" "Encie, aku minta encie jangan mencurigai aku," berkata Yan Ie. Ia merasa tidak enak hati akan tetapi ia menyabarkan diri. Ia dapat mengerti kemurkaan si nona. "Dengan setulusnya hati aku datang menghaturkan maaf kepada encie. Bahkan aku juga memikir untuk menebus dosa kakakku itu..." "Hm!" bersuara Nona Hee sengit. "Kau hendak menebus dosa kakakmu itu? Bagaimanakah caranya? Hm! Aku kenal kau! Telah aku mendengar kaulah si hantu wanita cilik yang biasa membunuh orang tanpa mata berkedip! Baik kau keluarkan kepandaianmu yang dahulu kau pertunjuki sewaktu kau membunuh lima saudara Touw! Kau'bunuhlah aku! Dengan membunuh aku sekarang, tak usahlah selanjutnya aku menderita dari kamu, supaya tak usahlah aku menyaksikan lagi lagak kamu bangsa menjemukan!" Parasnya Yan Ie berubah menjadi pucat. Hebat cacian itu. Tapi ia bukannya gusar, sebaliknya air matanya meleleh turun. Ia lantas tunduk, ia berkata perlahan, "Ketika dulu hari itu aku membunuh kelima paman Touw itu, aku melakukan itu karena kehendak ayahku. Kalau aku ingat itu, sekarang pun aku merasa sangat menyesal. Akan tetapi bicara sebenarnya, kelima paman itu pantas menerima kematiannya, cuma tidak selayaknya aku yang membunuh mereka. Encie, mengenai urusan itu, tak dapatkah kau memaafkan aku?" Sebenarnya juga, mengenai kelima saudara Touw itu, Leng Song sendiri tidak mempunyai kesan terlalu baik, kalau ia toh menyebut-nyebut mereka, itu melainkan sebagai bukti akan ketelengasannya nona she Ong ini. Sekarang, mendengar si http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

nona, ia menjadi heran. Ia melihat orauj; bersikap bersungguhsungguh. "Sudahlah!" katanya, "Tak usahlah kau menjadi si kucing yang berpura murah hati terhadap si tikus tua! Kau telah membunuh mereka itu, terserah kepada kau sendiri, kau mau menyesal atau bergirang! Urusanmu itu tidak ada sangkut pautnya dengan aku! Sekarang lekas kau omong tenis terang! Kakakmu memerintahkan kau datang ke mari, apa maksudnya? Kau... kau hendak berbuat apakah? Hendak aku menyatakan singkat kepadamu, aku tidak dapat menerima apa juga! Sia-sia kau mengancam aku dengan golok atau pedang atau racun atau kata-kata manis seperti madu!" "Akulah adik kakakku itu, tak heran kau tidak dapat lantas percaya aku," berkata Nona Ong. "Tapi hendak kau menjelaskan kepada kau bahwa aku datang ke mari bukan karena titah kakakku. Aku datang alas kehendakku sendiri. Encie tanya aku - aku hendak berbuat apakah? Datangku ini ialah untuk membantu encie menyingkir dari sini. Nah, encie, apakah sekarang kau percaya aku?" Nona Hee melengak. Inilah aneh. "Kau hendak menolongi aku menyingkirkan dari sini?" ia tanya "Ah! Apakah kebaikannya itu untukmu? Denganmu tak dapat aku bersahabat!" "Jadinya encie ingin ketahui apakah kebaikannya bagiku dengan menolongi encie menyingkir dari sini?" Nona Ong menegaskan, "baiklah, nanti aku beritahu! Aku tahu encielah tunangan dari Lam Tayhiap, maka itu hendak aku mohon pertolongan kau! Encie, apabila nanti kau telah bertemu dan berkumpul dengan Lam Tayhiap, tolong kau menyampaikan sepalah dua patah kata-kataku terhadapnya..." http://ebook-dewikz.com/

TIRAIKASIH WEBSITE http://kangzusi.com/

"Ah, inilah lebih aneh pula!" kata Leng Song, heran sekali. "Apakah yang kau inginkan aku menyampaikan kepadanya?" Mukanya Yan Ie menjadi merah. Biar bagaimana, dia jengah. "Aku cuma mohon kau menjelaskan kepada Lam Tayhiap tentang segala sesuatu urusan di sini," katanya terpaksa. "Aku ingin biarlah Lam Tayhiap mendapat tahu bahwa aku bukanlah si orang jahat yang tak dapat tertolong lagi. Cukup dia mengetahui ini!" Biarnya Leng Song cerdas, ia toh bingung. Aneh Nona Ong ini! "Kenapakah dia hendak mendapatkan kesan baik dari Engko Lam?" tanyanya di dalam hati. "Kenapa dia nampak masgul begini rupa?" Coba Leng Song tidak sangat percaya Ce In dan ketahui baik di antara Ce In dan Yan Ie tidak pernah ada hubungan sesuatu, mungkinlah ia bercuriga dan bercemburu atau menduga sesuatu. Tengah Nona Hee ini berdiam dalam keragu-raguannya itu, Yan Ie mengeluarkan dari sakunya sebuah botol kecil terbuat dari perak, yang isinya ialah barang cair berwarna dad