You are on page 1of 4

stilistika

February 25, 2010 at 4:15 pm (Uncategorized)


Tags: stilistika, style

Kajian Penelitian Stilistika

Pengertian

ImageStilistika berasal dari Bahasa Inggris yaitu “Style” yang berarti gaya dan dari
bahasa serapan “linguistic” yang berarti tata bahasa. Stilistika menurut kamus Bahasa
Indonesia yaitu Ilmu Kebahasaan yang mempelajari gaya bahasa. Sedangkan menurut C.
Bally, Jakobson, Leech, Widdowson, Levin, Ching, Chatman, C Dalan, dan lain-lain
menentukan stilistika sebagai suatu deskripsi
linguistic dari bahasa yang digunakan dalam teks sastra. Bagi Leech, stilistik adalah
simple defind as the (linguistic) study of style. Wawasan demikian sejalan dengan
pernyataan Cummings dan Simmons bahwa studi bahasa dalam teks sastra merupakan…
branch of linguistic called stylistic. Dalam konteks yang lebih luas, bahkan Jakobson
beranggapan bahwa poetics (puitika) sebagai teori tentang system dan kaidah teks sastra
sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Linguistic. Bagi jakobson

Poetics deals with problem of verbal structure, just as he analysis of painting is concered
with pictorial structure since linguistics is the global science of verbal structur, poetics
may be regarded as an integral of linguistic (Amminuddin :1995 :21).

Berbeda dengan wawasan di atas, Chvatik mengemukakan Stilistika sebagai kajian yang
menyikapi bahasa dalam teks sastra sebagai kode estetik dengan kajian stilistik yang
menyikapi bahasa dalam teks sastra sebagaimana bahasa menjadi objek kajian linguistik
(Aminuddin :1995 :22). Sedangkan menurut Rene Wellek dan Austin Warren, Stilistika
perhatian utamanya adalah kontras system bahasa pada zamannya (Wellek dan Warren :
1990 : 221).

Bertolak dari berbagai pengertian di atas, Aminuddin mengartikan stilistika sebagai studi
tentang cara pengarang dalam menggunakan system tanda sejalan dengan gagasan yang
ingin disampaikan dari kompleksitas dan kekayaan unsur pembentuk itu yang dijadikan
sasaran kajian hanya pada wujud penggunaan system tandanya. Walaupun fokusnya
hanya pada wujud system tanda untuk memperoleh pemahaman tentang ciri penggunaan
system tanda bila dihubungkan dengan cara pengarang dalam menyampaikan gagasan
pengkaji perlu juga memahami (i) gambaran obyek/peristiwa, (ii) gagasan, (iii) ideologi
yang terkandung dalam karya sastranya (Aminuddin : 1995 :46).

Prosedur Kajian Stilistika

Kajian Stilistika merupakan bentuk kajian yang menggunakan pendekatan obyektif.


Dinyatakan demikian karena ditinjau dari sasaran kajian dan penjelasan yang dibuahkan,
kajian stilistika merupakan kajian yang berfokus pada wujud penggunaan system tanda
dalam karya sastra yang diperoleh secara rasional-empirik dapat dipertanggung
jawabkan. Landasan empiric merujuk pada kesesuian landasan konseptual dengan cara
kerja yang digunakan bila dihubungkan dengan karakteristik fakta yang dijadikan sasaran
kajian.

Pada apresiasi sastra, analisis kajian stilistika digunakan untuk memudahkan


menikmati,memahami,dan menghayati system tanda yang digunakan dalam karya sastra
yang berfungsi untuk mengetahui ungkapan ekspresif yang ingin diungkapkan oleh
pengarang.

Dari penjelasan selintas di atas dapat ditarik kesimpulan tentang analisis yang dilakukan
apresiasi sastra meliputi :

1. Analisis tanda baca yang digunakan pengarang.


2. Analisis hubungan antara system tanda yang satu dengan yang lainnya.
3. Analisis kemungkinan terjemahan satuan tanda yang ditentukan serta kemungkinan
bentuk ekspresi yang dikandungnya (Aminuddin : 1995 :98).
4.

Kaitannya dengan kritik sastra, kajian stilistika digunakan sebagai metode untuk
menghindari kritik sastra yang bersifat impesionistis dan subyektif. Melalui kajian
stilistika ini diharapkan dapat memperoleh hasil yang memenuhi kriteria obyektifitas dan
keilmiahan (Aminuddin :1995 : 42).

Pada kritik sastra ini prosedur analisis yang digunakan dalam kajian stilistika, diantaranya
:

1. Analisis aspek gaya dalam karya sastra.


2. Analisis aspek-aspek kebahasaan seperti manipulasi paduan bunyi, penggunaan tanda
baca dan cara penulisan.
3. Analisis gagasan atau makna yang dipaparkan dalam karya sastra (Aminuddin : 1995 :
42-43).

Implikasi Analisis Kajian Stilistika dalam Puisi Goenawan Mohammad

Kwartin Tentang Sebuah Poci

Pada keramik tanpa nama itu

Kulihat kembali wajahmu

Mataku belum tolol, ternyata

untuk sesuatu yang tak ada

Apa yang berharga pada tanah liat ini


Selain separuh ilusi

Sesuatu yang kelak retak

dan kita membikinnya abadi

1. a. Analisis Sistem Tanda yang Digunakan Pengarang

Pada puisi Goenawan Mohammad di atas bila diperhatikan terdapat paparan gagasan
dalam komunikasi keseharian, namun jika ditinjau lebih lanjut dalam setiap kata, larik,
bait dan tanda yang digunakan tentulah memiliki beban maksud penutur. Misalnya pada
larik “sesuatu yang kelak retak” dapat menuasakan gagasan kehidupan manusia itu tidak
abadi. Serta penggunaan lambang retak biasanya mengacu pada benda yang mudah pecah
namun di sini pengarang ingin memberikan efek emotif sehingga retak tak lagi mengacu
pada makna realitas namun secara asosiatif dihubungkan dengan kematian atau kefanaan
tubuh manusia.

* b. Analisis Gaya Pemilihan Kata

Gaya pemilihan kata pada dasarnya digunakan pengarang untuk memberikan efek
tertentu serta untuk penyampaian gagasan secara tidak langsung sehingga memiliki
kekhasan tersendiri. Pada puisi Goenawan Mohammad pun terdapat manipulasi
penggunaan kata misalnya pada larik “Apa yang berharga pada tanah liat ini”
Penggunaan kata tanah liat pada paparan tersebut dapat diartikan dengan apa yang
berharga dari tubuh manusia ini apabila pengarang menuliskan gagasan dengan “Apa
yang berharga pada tanah liat ini, tanah liat hanyalah tanah yang halus. Tentu asosiasinya
menjadi lain.

* c. Analisis Penggunaan Bahasa Kias

Bahasa kias merupakan penggantian kata yang satu dengan kata yang lain berdasarkan
perbandingan ataupun analogi ciri semantis yang umum dengan umum,yang umum
dengan yang khusus ataupun yang khusus dengan yang khusus. Perbandingan ataupun
analogi tersebut berlaku secara proporsional, dalam arti perbandingan itu memperhatikan
potensialitas kata-kata yang dipindahkan dalam menggambarkan citraan maupun gagasan
baru (Aminuddin : 1995 : 227).

Kiasan yang dimaksud memiliki tujuan untuk menciptakan efek lebih kaya, lebih efektif,
dan lebih subyektif dalam bahasa puisi. Pada puisi Goenawan Mohammad kiasan yang
banyak digunakan adalah metafora yakni kiasan langsung, artinya benda yang dikiaskan
langsung itu tidak disebutkan. Jadi ungkapan itu langsung berupa kiasan. Contoh klasik :
Lintah darat, bunga bangsa, kambing hitam dan sebagainya (Herman J. Waluyo : 1987 :
84). Dalam “Kwatrin Tentang Sebuah Poci” Goenawan Mohammad, wajah manusia
dikiaskan sebagai sebuah keramik tanpa nama.

d. Pengimajian
Ada hubungan erat antara diksi, pengimajian dan data konkret. Diksi yang dipilih harus
menghasilkan pengimajian dan karena itu kata-kata menjadi lebih konkret seperti kita
hayati melalui penglihatan, pendengaran atau cita rasa.

Baris-baris puisi Goenawan yaitu “Pada keramik tanpa nama itu kulihat kembali
wajahmu” menunjukkan adanya pengimajian secara visual (melukiskan sesuatu melalui
imaji penglihatan).

e. Analisis penggunaan bunyi

Pada kutipan puisi Goenawan Mohammad terdapat kesamaan rima yakni pada kata “ini”
yang terdapat dalam baris ke-5 dan “ilusi” pada baris ke-6 serta terdapat juga kesamaan
rima yakni pada baris ke-7 pada kata “kelak retak.”

f. Analisis Makna puisi

Pada puisi Goenawan Mohammad gagasan yang ingin disampaikan dalam puisi “Kwartin
Tentang Sebuah Poci” adalah kehidupan yang tak abadi namun dipaparkan semisal dalam
larik pada keramik tanpa nama itu / kulihat kembali wajahmu dapat diasosiasikan,
keramik pada larik tersebut maknanya adalah benda yang terbuat dari tanah liat dan
sifatnya mudah pecah hal ini disamakan dengan manusia yang merupakan benda dan
tubuhnya bisa rusak kemudian larik mataku belum tolol, ternyata / untuk sesuatu yang tak
ada dapat diasosiasikan dengan melihat sesuatu yang akan musnah untuk larik Apa yang
berharga pada tanah liat ini / selain separuh ilusi dapat diasosiasikan sebagai apa yang
berharga pada tubuh manusia selain bayang-bayang dan larik terakhir yaitu sesuatu yang
kelak retak / dan kita membikinnya abadi dapat diasosiasikan dengan tubuh manusia ini
seakan hanya bayang-bayang yang suatu saat akan rusak / tidak abadi dan melalui tubuh
manusia yang tak abadi ini manusia membuat sesuatu yang abadi.

You might also like