askep CHF

Selasa, 05 Agustus 2008
BAB I konsep dasar
BAB I

KONSEP DASAR

A. PENGERTIAN

Gagal jantung adalah keadaan patofisiologik dimana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan.

(Price Sylvia A. 1994 : 583)

Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologik berupa kelainan fungsi jantung sehingga tidak mampu memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan kemampuannya ada kalau disertai peninggian volume diastolic secara abnormal.(Mansjoer, 1999 Jilid I : 423).

Gagal jantung (dikenal juga sebagai insufisiensi krodiak) adalah keadaan dimana jantung sudah tidak mampu lagi memompa darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh. (C. Long, 1996 Vol. 2 : 579).

Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologik adanya kelainan fungsi jantung berakibat jantung gagal memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan atau

kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian tekanan pengisiann ventrikel kiri. (Noer, 1996 : 975).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa gagal jantung adalah keadaan dimana jantung sudah tidak mampu memompa darah sesuai dengan kebutuhan tubuh dan kemampuannya hanya ada kalau disertai dengan peningkatan tekanan pengisian ventrikel kiri. B. PENYEBAB

Faktor predisposisi gagal jantung adalah penyakit yang dapat menyebabkan penurunan fungsi ventrikel (seperti penyakit arteri koroner, hipertensi, kordiomiopati) penyakit penyakit pembuluh darah dan keadaan yang membatasi pengisian ventrikel (stenosis mitral kardiomiopati atau penyakit mio kardial).Faktor pencetus termasuk meningkatan asupan garam. Ketidakpatuhan menjalani pemgobatan gagl jantung , infark miokard akut, serangan hipertensi, aritmia akut, infeksi atau demam emboli paru, anemia, tiroksitosis, kehamilan dan endokarditis infektis (Mansjoer, 1999 Jilid I : 434).

C. TANDA dan GEJALA

Berdasarkan bagian jantung yang mengalami pemompaan gagal jantung terbagi menjadi gagal jantung kiri dan kanan. Pada gagal jantung kiri terjadi olyspnea effort, batuk, pembesaran jantung, irama derap bunyi S2 dan S4, pernafasan Cheyne stokes, takikardi dan kongesti vena pulmonalis. Pada gagal jantung kanan terjadi fatique colema, anoreksia dan lambung. Pada pemeriksaan fisik biasa didapatkan hiperteofi jantung kanan, irama derap atrium kanan, tanda-tanda penyakit paru kronik, tekanan vena jugularis meningkat, asites hidrotorak, peningkatan tekanan vena, hepotomigali dan edemapitting, kandiomegali,

sistemik saraf simpatis akan mempercepat frekuensi jantung untuk mempertahankan diri untuk mempertahankan curah jantung. Bila curah jantung berkurang. Frekuensi jantung adalah fungsi system saraf otonom. Volume sekuncup jumlah darah yang dipompa pada saat kontraksi tergantung pada tiga factor yaitu preload. . D.sedangkan pada gagl jantung kongestif terjadi manifestasi gabungan antara gagal jantung kiri dan kanan. CO yang tidak adekuat memicu beberapa respon kompensasi yang berusaha untuk mempertahankan fungsi dua kali orang-orang tubuh vital. kontraktifitas dan overload. PATOFISIOLOGI Mekanisme yang mendasari gagal jantung meliputi gangguan kemampuan kontraktifitas jantung yang menyebabkan curah jantung lebih rendah dari curah jantung normal CO = HR x SV dimana curah jantung (CO = Cardiac Output) adalah fungsi frekuensi jantung (HR = Heart Rate) volum sekuncup (SV = Stroke Volume). Tetapi pada gagal jantung pada masa itu utama kerusakan dan tekanan serabut otot jantung volume sekuncup berkurang dan Scurah jantung normal masih dapat dipertahankan. Vasokontriksi perifer menggeser kea rah darah arteri ke organ-organ yang kurang vital seperti kulit dalam ginjal dan juga ke organ-organ lain seperti otot. Kontraksi vena meninggalkan peregangan serabut otot cardium meningkatkan kontraktilitas.Respon awal adalah stimulus kepada setiap saraf simpatis yang menimbilkan dua pengaruh utama yaitu meningkatkan kecepatan dan kekuatan kontraksi miocorsium dan vasokonstriksi perifer.

Bila orang tidak berada dalam kekurangan cairan untuk memulai status peningkatan volume ventrikel dengan mempercepat preload dan kegagalan komponer. Semua tanda-tanda yang menunjukkan harus dicatat dan dilaporkan kepada dokter.Pada respon berdampak perbaikan terhadap kardiak. Gejala-gejala kegagalan jantung merupakan dampak dari CO dan kongesti yang terjadi pada system vena atau sisetem pulmonal atau system lainnya (Long. F. Kejadian ini meningkatkan volume dan mempertahankan tekanan dalam waktu singkat. 1996 : 580). Namun menimbulkan tekanan baik preload maupun afterload pada waktu jangka panjang. namun selanjutnya meningkatkan kebutuhan O2 untuk miokarsium dibawah garis kemampuan kontraksi. FOKUS PENGKAJIAN Fokus pengkajia pada pasien dengan gagal jantung. Pada permulaan sebagian dari jantung mengalami kegagalan jantung dimulai dari vntrikel kiri. Jenis kompensasi yang kedua terdiri dari pengaktifan system renin angiotensin. Pengamatan terhadap tanda-tanda dan gejala kelebihan cairan sistematik dan pulmonal. a. Pernafasan . penurunan darah dalam ginjal dan dampak dari kecepatan filtrosi glomerolus memicu terlepasnya renin yang terinfeksi dengan angiotensin I dan II yang selanjutnya berdampak vasokontriksi perifer dan peningkatan reabsorbsi Na dan H2O oleh ginjal. Namun karena kedua ventrikel merupakan bagian dari system ventrikel. maka ventrikel manapun dapat mengalami kegagalan.

Auskultasi pada interval yang sering untuk menentukan ada atau tidaknya krakles dan mengi. mungkn bersama darah warna merah muda atau berbuih (edema pulmonal). e. Perifer Kaji bagian tubuh pasien yang mengalami edema dependen dan hepar untuk mengetahui reflek hepatojugular (RHJ) dan distensi vena jugularis (DVJ). mengi. takipnea. nafas dangkal. Tanda : Batuk kering/ nyring/ non produktif atau terus menerus dengan atau tanpa pembentukan sputum. penggunaan bantuan pernafasan. . b. Haluaran Urine ukur dengan teratur. krakles. kemungkinan cara pemompaan sudah mulai gagal. Bunyi nafas : Mungkin tidak terdengar. Bernafas dengan normal Dyspnea saat aktifitas. Jantung Auskultasi untuk mengetahui adanya bunyi bising jantung S3 dan S4. tidur. Data dasar pengkajian pasien : 1. duduk. catat frekuensi dan kedalaman bernafas. c. Tingkat kesadaran d. batuk denagn atau tanpa sputum. riwayat penyakit paru kronis.

diare atau konstipasi. 7. 6. penampilan menandakan kelalaian perawatan diri. urine berwarna gelap.Fungsi mental : Mungkin menurun. otot tinggi garam atau makanan yang telah diproses. peningkatan BB signifikan. letargi. lemak. mual. kegelisahan Warna kulit : Pucat atau sianosis 2. distensi abdomen (asites). 4. Istirahat dan tidur . edema. Nutrisi Kehilangan nafsu makan. Tanda : Penambahan BB dengan cepat. muntah. Personal Hygiene Keletihan/ kelemahan saat aktifitas perawatan diri. Berpakaian 5. berkemih pada malam hari. kelemahan terus menerus sepanjang hari. gula dan kafein. nyeri sesuai dengan aktifitas. 3. Gerak dan keseimbangan Keletihan. Eliminasi Penurunan berkemih. pembengkakan pada ekstermitas bawah.

ketukan. gelisah. 10. bunyi nafas. dyspnea pada saat istirahat atau pada saat pengerahan tenaga 8. frekuensi jantung. irama jantung.Insomnia. Rasa aman dan nyaman Nyeri dada. episode GJK sebelumnya. bedah jantung. TD mungkin rendah. sianosis. endokarditis. Bekerja Dyspnea pada saat beraktifitas 12. Rekreasi . penykit katup jantung. IM baru/ akut. Berkomunikasi dengan orang lain Marah. nyeri abdomen kanan atas. mudah tersinggung 11. Temperatur suhu dan sirkulasi Riwayat hipertensi. sakit pada otot. Belajar Menggunakan/ lupa menggunakan obat-obat penyakit jantung. normal atau tinggi. angina akut atau kronis. 14. edema. Spiritual Sesuai kepercayaan yang diakuinya 13. syok septic. anemia. tidak tenang. 9.

pasien hanya beristirahat. (Doenges. . Intoleransi aktifitas b. Intervensi : a. Tujuan : Berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan. 1999 : 52-54). penurunan episode dyspnea angina (melapor).d perubahan kontraktilitas miokard Tujuan : menunjukkan TTV dalam batas yang diterima. dibuktikan oleh menurunnya kelemahan dan kelelahan dan tanda vital selama beraktifitas. FOKUS INTERVENSI 1. memenuhi kebutuhan diri sendiri mencapai peningkatan toleransi aktifitas yang dapat diukur. Catat bunyi jantung c. Penurunan curah jantung b. Kaji kulit terhadap sianosis dan pucat e. kaji frekuensi dan irama jantung b. Palpasi nadi perifer d. G.Tidak dapat dilakukan. Berikan lingkungan yang nyaman dan tenang 2. Auskultasi nadi apical.d ketidakseimbangan antara suplai O2 dengan kebutuhan dan kelemahan fisik.

khususnya bila pasien menggunakan vasolidator. BB stabil. Menyatakan pemahaman tentang pembatasan cairan individual. 3. Intervensi : a. berkeringat.dyspnea. Periksa TTV sebelum dan sesudah aktifitas. nyeri. Pantau haluaran urine b. TTV dalam rentang yang dapat diterima. pucat. .d menurunnya laju filtrasi glomerolus (GFR). Pertahankan duduk/ posisi semi fowler selama fase akut d. catat penurunan dan atau bunyi tambahan. Pantau/ hitung keseimbangan pemasukan dan pengeluaran 24 jam.Intervensi : a. Berikan bantuan dalam aktifitas perawatan diri sesuai dengan indikasi. Kaji presipitator/ penyebab kelemahan contoh : pengobatan. Auskultasi bunyi nafas. d. Tujuan : Keseimbangan masukan dan keluaran. Evaluasi peningkatan intoleransi aktifitas. c. e. distrimia. Catat respon kardiopulmonal terhadap aktifitas. diuretic. Kelebihan volume cairan b. catat takikardi. obat. Pantau TD dan VP (bila ada). edema tidak ada. bunyi nafas bersih. c. e.

d tirah baring lama. Intervensi : a. b. Lihat kulit. Anjurkan pasien untuk batuk efektif c. Intervensi : a. Ubah posisi sering d. Kurang pengetahuan pola hidup/ perilaku yang perlu. perubahan membrane kapiler alveolus dan edema paru.d penurunan curah jantung. Dorong perubahan posisi sering d. Pijat area kemerahan atau memutih c. meminimalkan dengan kelembaban. Tujuan : Mendemonstrasikan ventilasi O2 adekuat. mengi. Resti terhadap kerusakan intregitas kulit b. catat crakles. Kolaborasi pemberian diuretic 5. edema.4. Resti gangguan/ kerusakan pertukaran gas b. catat penonjolan tulang. penurunan perfusi jaringan kerusakan kulit. Intervensi : a. Berikan perawatan kulit sering. Auskultasi bunyi nafas. b. 6. adanya edema. Diskusikan fungsi jantung normal . area sirkulasinya terganggu/ pigmentasi.

Berikan kesempatan untuk menanyakan. Diposkan oleh askep CHF di 18:49 0 komentar BAB II resume BAB II RESUME KEPERAWATAN Pengkajian dilakukan oleh Andri Priatmaka pada tanggal 22 Juni 2008 di ruang Handayani RSU Purbowangi Gombong sebagai berikut : A. diagnosa medis CHF. pekerjaan penjaga rumah. Identitas pasien Pasien bernama Tn. keadaan umum baik. d.tusuk. nyeri timbul bila pasien bergerak. nyeri seperti ditusuk . Bahas ulang tanda dan gejala yang memerlukan perhatian medic cepat. nyeri dating . Pasien datang ke RSU PKU Purbowangi Gombong melalui IGD dengan kesadaran composmentis. tanggal masuk 18 Juni 2008 pukul 15. Riwayat Kesehatan Keluhan utama nyeri.b. mendiskusikan masalah dan membuat perubahan pola hidup. Saat dikaji pada tanggal 22 Juni 2008 pasien mengatakan nyeri pada dada tetapi hilang timbul.30 WIB. PENGKAJIAN 1. terpasang infuse RL. skala nyeri 5. Purwodadi Tambak. 28 tahun. Diskusikan obat/ tujuan pemberian obat dan efek samping c. agama islam. P. 2.

FOKUS PENGKAJIAN Dari pengkajian pola istirahat tidur pasien mengatakan tidur 6-8 jam perhari karena keadaan ruangan yang ramai. dada terdengar bunyi jantung S3 (Galilop) pada dada sebelah kiri. S : 36. Dari riwayat kesehatan dahulu pasien mengatakan ± 1 tahun yang lalu pernah menderita penyakit yang sama dan dirawat di RS. TTV : TD : 110/80 mmHg. gosok gigi 2x sehari. keramas 2x seminggu. N: 88104x permenit. . R: 28x permenit. Mulut: gigi terlihat bersih. RR : 36x/menit. Dari kebutuhan rasa aman dan nyaman pasien mengatakan merasakan aman ketika bersama keluarga dan merasa tidak nyaman ketika nyeri timbul. Dari pemeriksaan fisik keadaan umum pasien baik. S: 36.5° C. dokter dan orang lain.tiba-tiba kemudian menghilang.5º C. Ekstermitas atas sebelah kanan terpasang infus D5%. Dari kebutuhan belajar pasien bertanya kepada keluarga. perawat. Dari riwayat kesehatan keluarga pasien mengatakan Bapak pasien pernah mengalami sakit seperti yang dialami pasien B. kesadaran composmentis. Dari pola personal hygiene pasien mengatakan dapat merawat diri sendiri dengan mandi 2x perhari. TD: 110/80 mmHg. N : 88x/menit. potong kuku seminggu sekali.

pasien menunjukkan lokasi nyerinya.5 mg 2x1 tablet. . pasien mendapat terapi oral digoxsin 0. S: 36. Masalah keperawatan yang muncul resiko tinggi infeksi dengan etiologi port de entre. Cairan infus RL. 2. Data subyektif: pasien mengatakan tidak tahu tentang penyakit yang dideritanya. lasix 1x1 ampul. Data subyektif: pasien terpasang infus dan tanda-tanda infeksi tidak muncul.Data subyektif: Pasien mengatakan nyeri pada dadanya dengan skala nyeri 5 Data obyektif: Ekspresi wajah meringis menahan sakit.5°C. jumlah leukosit normal. flurinucil syrup 3x1 cth.25mg 2x setelah tablet. C. 3. P: nyeri timbul bila pasien bergerak Q: nyeri seperti ditusuk-tusuk R: pada dada sebelah kiri S: skala nyeri 5 T: nyeri hilang timbul dan datangnya tiba-tiba Masalah keperawatan yang muncul nyeri akut.Dari pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan laboratorium tanggal 20 Juni 2008 didapatkan hasil normal. Injeksi: rantin 2x1 ampul. ANALISA DATA 1. zypras 0.

kaji skala. 1. mengukur TTV. Nyeri akut berhubungan dengan ischemia Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan nyeri dapat terkontrol dengan kriteria hasil: nyeri terkontrol. mengkaji skala intensitas dan frekuensi nyeri. ekspresi wajah tenang.Data obyektif: pasien bertanya-tanya tentang penyakitnya. Implementasi yang dilakukan 23 Mei 2008 adalah mengkaji keadaan umum pasien. kemudian rencana tindakannya adalah monitor tanda-tanda vital. Nyeri akut berhubungan dengan ischemia 2. pasien tampak bingung. D. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan port de entre 3. implementasi dan evaluasi untuk memudahkan pembaca dalam memahami penulisan ini. INTERVENSI. frekuensi dan intensitas nyeri. Kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi E. kolaborasi pemberian analgetik. . ciptakan lingkungan yang nyaman. ajarkan teknik relaksasi. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Masalah keperawatan yang muncul kurang pengetahuan tentang penyakitnya dengan etiologi kurang informasi. IMPLEMENTASI DAN EVALUSI Penulis menggabungkan intervensi.

berikan informasi tentang penyakit dan penatalaksanaanya dengan bahasa yang mudah dipahami. . Kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi. 2. sksla nyeri berkurang menjadi 3.00 WIB mengukur tanda-tanda vital. RR: 28x/menit.30 WIB dengan masalah nyeri berhubungan dengan ischemia sudah agak berkurang atau sudah terkontrol dengan data subyektif : pasien mengatakan nyeri dapat terkontrol atau berkurang kemudian data obyektif pasien tampak tenang. kemudian rencana tindakannya adalah : monitor tanda-tanda vital. TD: 100/70mmHg. 3. N: 104x/menit. Untuk planning selanjutnya adalah : kurangi aktifitas pasien.Evaluasi dilakukan pada tanggal 23 Mei 2008 pukul13. tanda-tanda vital dalam batas normal. cuci tangan sebelum dan sesusdah melakukan tindakan. kemudian rencana tindakannya adalah : kaji pengetahuan pasien tentang penyakitnya. S: 36.Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan port de entre Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan tanda-tanda infeksi tidak muncul dengan criteria hasil : tanda-tanda infeksi tidak muncul. kaji tanda-tanda infeksi. Implementasi yang dilakukan pada pukul 08. anjurkan pasien untuk istirahat cukup. pertahankan teknik septik anti septic. lakukan penkes. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan pasien paham dan mengertti tentang penyakitnya dengan kriteria hasil : pasien terlihat tenang. mengobservasi tanda-tanda infeksi.5°C. batasi pengunjung. kolaborasi pemberian antibiotic.

analisa data.00 WIB melakukan kontrak untuk penkes. perencanaan pelaksanaan. Diposkan oleh askep CHF di 18:47 0 komentar BAB III BAB III PEMBAHASAN Dalam bab ini penulis akan membahas definisi. evaluasi dan rasional tindakan-tindakan perawatan yang dilakukan. pasien tidak bertanya-tanya lagi tentang penyakitnya. 1. diagnosa keperawatan. Penulis mengangkat diagnosa tersebut karena pasien mengatakan nyeri pada dada sebelah . Nanda. 2001).15 WIB melakukan penkes (SAP dilampirkan). Evaluasi masalah kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi teratasi dengan data subyektif : pasien mengatakan sudah tahu tentang penyakitnya. pengkajian. data obyektif : pasien terlihat tenang. 2001. pukul 10.45 WIB mengkaji pengetahuan pasien tentang penyakitnya pukul 10.Implementasi yang dilakukan pada pukul 09. Penulis menyadari terdapat ketidakcocokan antara keluhan utama saat dikaji dan masalah keperawatan yang muncul. Yang seharusnya keluhan utamanya itu adalah nyeri bukan sesak nafas. Nyeri berhubungan dengan ischemia Nyeri akut adealah keadaan dimana individu mengalami dan melaporkan adanya rasa ketidaknyamanan atau adanya serangan mendadak atau pelan yintensitasnya dari ringan sampai berat yang dapat diantisipasi dengan akhir yang dapat diprediksikan dengan durasi kurang dari 6 bulan (Carpenito.

sulit atau gerakan kacau. Hal ini didukung oleh Doengoes. Batasan karakteristik : laporan secara verbal atau non verbal. Mengukur tanda-tanda vital. dengan mengkaji tandatanda vital. posisi antalgic untuk menghindari nyeri. tanda-tandanya serta penanganan yang tepat. tampak capek. gerakan melindungi gangguan tidur (mata sayu. mengkaji skala. Diagnosa nyeri diangkat dengan mempertimbangkan nyeri yang dirasakan pasien dan akan mengganggu pasien jika tidak segera diatasi. b. nyeri seperti ditusuk-tusuk. Diagnosa ini muncul karena penulis menemukan data subyektif: pasien mengatakan nyeri pada dada sebelah kiri dengan skala nyeri 5. Pada pengkajian didapatkan skala nyeri 5 kekuatan. mengkaji skala nyeri. frrekuensi dan intensitas nyeri. Nanda. 2001 : 123). nyeri timbul bila pasien bergerak atau aktivitas. dan apabila tidak segera diatasi akan mengganggu aktivitas pasien dan mengganggu rasa nyaman pasien. nyeri dating tiba-tiba. 2001. Melatih teknik relaksasi (melatih nafas dalam) . data obyektif: ekspresi wajah meringis menahan sakit dan pasien menunjukkan lokasi nyerinya.kiri. Diagnosa nyeri diprioritaskan pertama karena yang dikeluhkan pasien pada saat itu adalah nyerinya. Untuk mengatasi masalah ini penulis melakukan tindakan-tindakan : a. menyeringai). 2000 yaitu jika terjadi nyeri akan diikuti peningkatan tekanan darah dan nadi. menarik bila disentuh (Carpenito.

Kolaborasi pemberian analgetik. menghubungkan pengurangan nyeri setelah melakukan tindakan peredaan rasa nyeri yang memuaskan. d. Evaluasi dilakukan pada tanggal 23 Juni 2008 pukul 13. Resiko Tinggi Infeksi Berhubungan dengan Pintu Masuk Organisme (port de entree) .30 WIB dengan masalah nyeri berhubungan dengan ischemia. RR : 24x/menit. Menciptakan lingkungan yang tenang Kekuatan : dengan lingkungan yang tenang diharapkan pasien dapat mencukupi waktu istirahat seperti saat tidak sakit atau dirumah. anjurkan untuk istirahat cukup. N : 88x/menit.kemudian data obyektif : ekspresi wajah tenang. TD : 110/80 mmHg. Hal ini didukung oleh Carpenito. 2001 : 45 yaitu memperlihatkan bahwa orang lain membenarkan nyeri itu ada.Hal ini didukung oleh Doengoes. intervensi dilanjutkan yaitu : kurangi aktifitas pasien. 2000 yaitu dengan teknik relaksasi akan membuat otot-otot menjadi rileks sehingga dapat mengurangi nyeri. S : 36°C. c. rencana masalah nyeri teratasi sebagian. Kekuatan : dengan dilakukan teknik nafas dalam diharapkan nyeri berkurang atau dapat terkontrol. 2. masih terjadi dengan data subyektif : pasien mengatakan nyeri berkurang atau dapat terkontrol dengan skala nyeri 3. skala nyeri berkurang menjadi 3.

Diagnosa tersebut ditegakkan karena penulis menemukan tanda-tanda sebagai berikut : data subyektif : terpasang infus. Mengkaji tanda-tanda infeksi dan peradangan . b. 2001 : 205). tumor dan fungsiolaesa) batasan karakteristik minor terjadi peningkatan suhu tubuh lebih dari 37° C. kalor. N : 76x/menit. tanda-tanda infeksi tidak muncul S : 36°C. Kekuatan : penulis dapat mengetahui perkembangan atau tanda-tanda infeksi seperti peningkatan nadi dan suhu. jamur. nadi dan kemungkinan respirasi (Carpenito. sumber-sumber endogen dan eksogen (Carpenito. terjadi peningkatan tekanan darah. Diagnosa ini dijadikan diagnosa ke dua karena bila masalah tersebut tidak diatasi segera maka kemungkinan akan terjadi infeksi sehingga akan menimbulkan masalah baru dan memperlambat proses penyembuhan. 2001 : 204). Memonitor tanda-tanda vital Hal ini dilakukan agar penulis dan keluarga mengetahui tanda-tanda vital dan tanda-tanda infeksi (Carpenito. S : 36° C. Batasan karakteristik mayor terdapatnya tanda-tanda infeksi (dolor. Dengan hasil tekanan darah 120/80 mmHg. protozoa atau parasit lain) dari sumber-sumber eksternal. bakteri. rubor. RR : 22x/menit. 2001 : 205).Resiko tinggi infeksi adalah keadaan dimana seorang individu beresiko terserang oleh agen pathogen dan oportunis (virus. Untuk mengatasi masalah ini penulis melakukan tindakan-tindakan : a.

c. kelemahan : jika tidak dilaksanakan tidak diketahui tanda-tanda dari infeksi atau peradangan yang dapat mengakibatkan atau mengacu terjadinya infeksi. Pertahankan teknik septik antiseptik Hal ini dilakukan untuk menurunkan resiko kolonisasi/infeksi bakteri. Hal ini dilakukan sesuai intruksi untuk mengobati infeksi yang terjadi dengan diberikannya obat antibiotic dapat mempercepat proses penyembuhan (Doengoes. d. bila respon imun sangat terganggu.2000 : 725). Kolaborasi pemberian antibiotik Antibiotik yang diberikan yaitu Ampicillin 3x1gr. Ampicillin mengandung antibiotic yang bekerja menghambat dinding sel bakteri sehingga dapat mencegah terjadinya infeksi (Theodorus.Kekuatan : dapat mengetahui perkembangan atau tanda-tanda infeksi dan peradangan. f. Hal ini dilakukan untuk mencegah kontaminasi silang atau kolonisasi bacterial. Perlindungan isolasi dapat dibutuhkan pada anemia aplastik. Tingkatkan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan perawatan atau tindakan. . Membatasi pengunjung Membatasi pemajanan pada bakteri atau infeksi. 1996 : 13) sehingga dapat mencegah timbulnya infeksi. e.

dimana jantung gagal melakukan fungsinya sehingga terjadi penurunan kontraktilitas jantung sehingga terjadi penurunan curah jantung.Evaluasi pada masalah resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pintu masuk mikroorganisme tidak terjadi denga data obyektif : tanda-tanda infeksi tidak muncul. . yang seharusnya diagnosa ini muncul karena pasien mengalami kegagalan jantung. tanda-tanda vital dalam batas normal. Perubahan curah jantung adalah keadaan dimana seseorang individu mengalami penurunan jumlah darah yang dipompakan oleh jantung mengakibatkan gangguan fungsi jantung (Carpenito. Kelebihan volume cairan adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau beresiko mengalami kelebihan cairan intraseluler atau intertitial (Carpenito. bebas dari proses infeksi nosokomial selama perawatan di RS. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan kontraktilitas jantung. 2001 : 44). Sedangkan diagnosa yang tidak muncul adlah : a. Hal ini didukung oleh Carpenito. Diagnosa ini tidak muncul karena penulis hanya terfokus pada nyerinya saja. 2001 : 206 dengan criteria hasil yaitu memperlihatkan teknik cuci tangan yang sangat cermat pada waktu pulang. 2001 : 142). Kelebihan volume cairan berhubungan dengan retensi natrium dan air atau menurunnya laju filtrasi glomerulus. memperlihatkan pengetahuan tentan faktor resiko yang berkaitan dengan infeksi dan melakukan tindakan pencegahan yang tepat untuk mencegah infeksi. b. infuse dilepas.

Diagnosa ini tidak muncul karena pasien tidak mengalami tanda-tanda kelebihan volume cairan seperti edema. 3. tidak ada kemerahan. Penulis memunculkan masalah kurang pengetahuan tentang penyakitnya karena didapatkan data subyektif : pasien mengatakan tidak tahu tentang penyakitnya. Ketrampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi atau rencana pengobatan (Carpenito. c. data obyektif : pasien bertanyatanya tentang penyakitnya. melakukan dengan tidak tepat perilaku kesehatan yang dianjurkan atau yang diinginkan. memperlihatkan atau mengekspresikan perubahan psikologis mengakibatkan kesalahan informasi atau kurang informasi (Carpenito. Batasan karakteristik mayor mengungkapkan kurang pengetahuan atau ketrampilan- ketrampilan/permintaan informasi. Kurang Pengetahuan tentang Penyakitnya Berhubungan dengan Kurang Informasi Kurang pengetahuan adalah suatu keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalami defisiensi pengetahuan kognitif atau ketrampilan. 2001 : 223). Batasan karakteristik minor kurang integritas tentang rencana pengobatan ke dalam aktifitas sehari-hari. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema Diagnosa ini tidak diangkat oleh penulis karena data yang ada tidak mendukung untuk mengangkat diagnosa tersebut. mengekspresikan suatu ketidakakuratan persepsi status kesehatan. 2001 : 223). Itegritas kulit masih baik. . turgor kulit baik. Diagnosa kurang pengetahuan diprioritaskan terakhir supaya program pengobatan berjalan lancer. pasien tampak bingung.

b. dapat merubah gaya hidup. tanada dan gejala. 2000 : 725 yaitu pasien mengungkapkan pemahaman tentang penyakitnya dan proses perawatannya. Hal ini didukung oleh Doengoes. kelemahan : bila cara mengkaji tidak tepat dapat menyinggung perasaan pasien. penyebab. Penulis melakukan hal ini karena dengan mengetahui tingkat pengetahuan pasien akan mempermudah dalam menentukan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah ini. BAB IV PENUTUP A. Mengkaji pengetahuan pasien tentang penyakitnya. keluarga tentang gagal jantung. serta diit. Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien. cara merawat. Kekuatan : pengetahuan pasien bertambah dan mampu menjaga kondisi dengan penyakit gagal jantung. KESIMPULAN . Evaluasi masalah kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi (tentang penyaikitnya) dapat diatasi sesuai waktu dan tujuan yaitu ditunjukkan denga data subyektif : pasien mengatakan sudah tahu tentang penyakitnya dan data obhyektif : pasien terlihat tenang. tidak bertanya-tanya lagi tentang penyakitnya. Kekuatan : penulis bias mengkaji pengetahuan.Untuk mengatasi masalah ini penulis melakukan tindakan-tindakan : a. Hal ini dilakuakn untuk menambah pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit gagal jantung dan diitnya yang baik.

Nyeri akut berhubungan dengan iskemia b. A. P dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler : CHF di Ruang Handayani F2 RSU Purbowangi Gombong´. Masalah-masalah keperawatan yang muncul. a.penulis menyarankan 1. 2.Setelah penulis menyusun laporan yang berjudul ³Asuhan Keperawatan Pada Tn. Adapun tindakan-tindakan keperawatanya dilakukan penulis sesuai dengan masalahmasalah yang muncul adalah sesuai yang tertulis pada laporan.sebaiknya jauh-jauh hari sebelumnya pembimbing kampus memberitahukan terlebih dahulu agar mahasiswa siap melaksanakan ujian. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan port de entry mikro organisme 3. maka penulis dapat menyimpulkan bahwa : 1. . Kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan informasi c.Sebelum pelaksanaan uji komprensif. Dalam melakukan pengkajian penulis menggunakan system pendekatan terhadap pasien dan keluarga untuk mengetahui masalah-masalah yang muncul dan tindakan keperawatan yang akan dilakukan 2. SARAN Setelah penulis menyusun laporan ini.Sistem pendukung dalam tindakan keperawatan sebaiknya ditingkatkan agar tidak menghambat jalanya kegiatan dan untuk menambah tingkat pelayanan terhadap pasien.

B. Buku Ajar Patologi II. Suzzare C. Jakarta : Media Aesculapius : FKUL. L.com Arsip Blog y o 2008 (3) Agustus (3) . 1999. 1999. Vol 2. Smeltzer. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. 2001. Doenges. Jakarta : EGC. Edisi 8. Jakarta : EGC. Boughman. Jakarta : EGC. 2000. 2001. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. Mahasiswa PSIK. Nanda. 1996. Jakarta : EGC. Penuntun Praktis Peresepan Obat.Semoga laporan yang penulis susun ini bermanfaat bagi yang membaca. Diposkan oleh askep CHF di 18:43 0 komentar Beranda Langgan: Entri (Atom) askep TBC y http://arisaconk. 20012002. Robin dan Kumar. 2. Keperawatan Medikal Bedah. Diagnosa Keperawatan dan Masalah Keperawatan.blogspot. Yogyakarta : FK-UGM. Diagnosa Keperawatan. 2001. Diane. 2002.khususnya mahasiswa STIKES Muhammadiyah Gombong. Mansjoer Arif. Jakarta : EGC. 1995. J. DAFTAR PUSTAKA Brummer & Suddart. Perawatan Medikal Bedah Vol. Rencana Asuhan Keperawatan. Kapita Selekta Kedokteran. Marlyn. 1996. Theodorus. Long. Carpenito. Bandung : Yayasan Alummi Pendidikan Keperawatan Padjajaran. Barbara C. Jakarta : EGC. Definisi dan Klafikasi. Jakarta : EGC.

   BAB I konsep dasar BAB II resume BAB III Mengenai Saya askep CHF Lihat profil lengkapku .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful