You are on page 1of 2

Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia - www.onlinedoctranslator.

com

Memperkenalkan etika ke dalam manajemen bukanlah tugas yang mudah, kesulitan


utamanya adalah bahwa etika bukan sekadar keterampilan atau gagasan lain yang dapat
ditambahkan ke daftar kompetensi manajer. Pendekatan etis bukanlah semacam krim kocok
yang bisa diletakkan di atas kue organisasi. Etika adalah tentang siapa Anda dan tentang
bagaimana Anda akan menjalankan bisnis Anda. Etika merupakan komponen dasar yang
harus dimiliki seorang manajer. Tidak hanya komponen dasar, tetapi juga komponen penting
yang memungkinkan manajer menjalankan tugasnya dengan baik. Etika harus ditempatkan
sebagai inti dari manajemen yang baik.

Etika dalam pengertiannya adalah norma atau aturan yang dijadikan pedoman dalam
berperilaku dalam masyarakat bagi seseorang yang berkaitan dengan sifat baik dan buruk.
Etika juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan pertimbangan keputusan,
benar tidaknya suatu tindakan karena tidak ada undang-undang atau peraturan yang mengatur
tentang apa yang harus dilakukan. Etika selalu tentang membuat keputusan, dan beberapa
masalah sulit dipecahkan. Seorang manajer dalam menjalankan tugasnya akan sering
dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang akan berhubungan dengan etika moral dalam
masyarakat. Dalam pilihan tersebut, bukan tidak mungkin akan mempertaruhkan karir
pribadi dan nasib perusahaan.

Pada umumnya menurut Frans Magnis Suseno (1991:68), secara sistematis etika
dibedakan menjadi etika umum dan etika khusus. Selain itu etika juga dibedakan antara etika
individu dan etika sosial. Etika umum membahas tentang prinsip-prinsip dasar dari moral.
Sementara etika khusus menerapkan prinsip-prinsip dasar dari moral pada masing-masing
bidang kehidupan. Kemudian etika individu memuat kewajiban manusia terhadap diri
sendiri. Selanjutnya etika sosial membicarakan tentang kewajiban manusia sebagai anggota
umat manusia.

Dari buku Etika Manajemen: Menempatkan Etika sebagai Inti Manajemen yang Baik
oleh Domènec Melé mengatakan bahwa Etika tidak berkontribusi pada manajemen yang baik
dengan memastikan laba yang lebih baik, meskipun sering kali hal ini dapat berdampak.
Bahkan hasil keuangan terbaik pun tidak akan menjadi hasil yang 'baik' jika diperoleh dengan
cara merusak manusia; seperti yang dikatakan Melé: “Bertindak tanpa etika bisa menjadi
manajemen yang cerdik dan licik, tetapi itu bukanlah manajemen yang baik” (Melé,
2012:21). Poin penting lainnya di sepanjang garis ini, yang dibuat berulang kali oleh penulis,
dan yang membantu menentukan posisi etisnya, adalah bahwa etika terutama tentang berbuat
baik, bukan hanya tentang menghindari kesalahan; bahwa moralitas adalah intrinsik untuk
tindakan manajerial, dan bukan hanya tambahan ekstrinsik untuk itu; dan bahwa orang bukan
hanya sumber daya untuk bisnis, tetapi terutama orang-orang yang memiliki martabat
manusia dan hak bawaan.

Etika erat kaitannya dengan tanggung jawab sosial. Tanggung jawab sosial ini perlu
diperhatikan dan sangat penting dalam menciptakan etika bisnis. Tuntutan masyarakat dan
perkembangan demokrasi serta derasnya arus globalisasi dan pasar bebas, memunculkan
kesadaran dari dunia bisnis tentang pentingnya tanggung jawab sosial.
Tanggung jawab sosial sendiri merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia
bisnis untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari
komunitas setempat ataupun masyarakat luas. Selain itu, pelaksanaan tanggung jawab sosial
merupakan bagian dari good corporatee governance yang mestinya didorong melalui
pendekatan etika maupun pendekatan pasar.

You might also like