You are on page 1of 10

MAKALAH KAPITA SELEKTA

FARMAKOTERAPI
Infeksi Virus, Bakteri, Jamur
Bronkitis dan Pneumonia

Oleh:
Adrienne Roma A., S.Farm 148115002

Anak Agung Sagung Intan, S.Farm 148115006

Archie Tobias, S.Farm 148115010

Cornelia Melinda, S.Farm 148115013

Djanuar Davidzon Pah, S.Farm 148115018

Fransisca Devi Permata, S.Farm 148115022

Giovanna Martina A., S.Farm 148115026

Juana Merianti Simanjuntak, S.Farm 148115030

Kresensiana Yosriani, S.Farm 148115033

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2014

1
A. Infeksi Virus
Ukuran virus sangat kecil, sekitar 30 - 400 nm5. Struktur virus terdiri dari nucleic acid genome yang
dikelilingi oleh suatu capsid. Virus dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan asam nukleatnya, yaitu:
a) RNA-virus menyebabkan penyakit Human Immunodificiency Virus (HIV), virus influenza, rotavirus
(diare) dan virus rubella.
b) DNA-virus menyebabkan Herpes, variola (cacar), Hepatitis-B Virus (HBV), Epstein-Barr Virus (EBV),
Human Papiloma Virus (HPV) (Tjay, 2007).
Penularan virus diawali dari pelekatan virus pada dinding sel host yang sudah dihidrolisis oleh enzim
virus. Kemudian DNA/RNA memasuki sel sehat sebagai parasit dan bereplikasi membentuk virion-virion
menggunakan material dari sel host, yang kemudian menyebabkan kematian sel host. Virus yang baru
terbentuk keluar dari sel menuju ke darah dan menyerang sel sehat yang lainnya (Sudiana, 2008).
B. Infeksi Bakteri
Manusia memiliki bakteri yang merupakan flora normal yang hidup pada permukaan eksternal (kulit, usus,
paru-paru) selain itu, bakteri juga terdapat di udara, air, tanah, dan makanan. Bakteri tidak menimbulkan suatu
penyakit bila kekebalan tubuh kuat, tetapi bila kekebalan tubuh melemah suatu bakteri dapat menginfeksi
tubuh.
Mekanisme bakteri menginfeksi tubuh inang adalah sebagai berikut :
a) Adhesi, yaitu Infeksi oleh bakteri diawali dengan menempelnya bakteri pada permukaan epitel inang.
b) Penetrasi dan penyebaran, beberapa bakteri patogen dapat menembus perlindungan kulit masuk ke
dalam aliran darah atau ke sistem sistemik yang lain (menyebar).
c) Bakteri bertahan dari sistem imun inang, bakteri patogen dapat bertahan dari sistem tubuh inang
(antibodi, komplemen).
d) Pengrusakan jaringan oleh bakteri, bakteri dapat menyebabkan kerusakan jaringan dengan beberapa
cara, yaitu :
a) Eksotoksin
Bakteri dapat memproduksi protein (eksotoksin) yang dapat mengubah, secara enzimatik, atau
menghancurkan struktur sel. Bersifat akut dan dapat menimbulkan kematian.
b) Endotoksin
Senyawa beracun pada selubung bakteri dapat menyebabkan peradangan dengan memicu sekresi
sitokin (Fox, 2010).
C. Infeksi Jamur
Infeksi jamur dibagi menurut tempat infeksi dan jenis patogenisitasnya, yaitu:
1. Dangkal (superfisial), yaitu tetap berada di permukaan tubuh. Infeksi jamur superfisial terbatas pada
bagian luar tubuh seperti kulit, rambut, kuku dan selaput lender. Merupakan jenis infeksi yang paling sering
dijumpai dan umumnya tidak berat. Penyebabnya ialah golongan dermatofit, seperti spesies Microsporum,
Trichophyton Epidermophyton dan Candida. Spesies Candida, khususnya Candida albicans, merupakan
jamur yang sangat patogen pada manusia. (Djajadiman, 2002).
2. Dalam (subkutis), yaitu menyerang jaringan atau organ yang lebih dalam. Infeksi jamur subkutis terdapat
di bawah kulit. Biasanya jamur menembus kulit melalui tempat luka atau trauma dan menyebabkan infeksi
lokal yang kemudian menyebar ke jaringan di sekitarnya dan bahkan dapat menembus tulang. Contoh
infeksi ialah chromoblastomycosis dan madura foot (mycetoma). Sporothrix schenckii, suatu jenis jamur
yang biasanya terdapat pada tanaman, dapat menyebabkan abses subkutis dan ulkus bila masuk ke dalam
kulit akibat tusukan duri atau kerikil (Djajadiman, 2002).
3. Infeksi Jamur sistemik, Infeksi jamur sistemik dimulai dari infeksi lokal atau dari koloni jamur dalam
saluran cerna atau selaput lender lain yang kemudian menyebar ke berbagai alat tubuh lain. Infeksi dapat
juga dimulai dari paru karena jamur yang terhisap. Jamur yang menimbulkan infeksi sistemik dibagi dalam
2 kelompok patogen, yaitu jamur patogen oportunistik dan jamur patogen sejati (Djajadiman, 2002).

2
a. Jamur oportunistik (pada keadaan immuno-compromised), yaitu Jamur patogen oportunistik
terdiri dari organisme yang kurang virulen dan beradaptasi baik, contohnya ialah spesies Candida
dan Aspergillus. Apabila organisme ini masuk ke tubuh hospes dengan kondisi yang sangat lemah
atau immunocompromised, maka infeksi yang terjadi biasanya berat dan tidak jarang mengancam
jiwa. Tetapi spesies Candida biasanya juga menimbulkan infeksi yang tidak berat. Jamur patogen
sejati hanya merupakan bagian kecil saja dari organisme yang dapat menimbulkan infeksi pada
pejamu (hospes) tanpa adanya predisposisi tertentu, contoh Cryptococcus immitis dan Histoplasma
capsulatum. Organisme ini biasanya dapat menyesuaikan diri untuk hidup dalam tubuh hospes
(Djajadiman, 2002).
b. Patogen sejati, dapat menimbulkan penyakit pada orang sehat.

D. Bronkitis
Bronkitis merupakan suatu kondisi inflamasi saluran pernapasan bronkial dan saluran bronkiolus
yang disebabkan oleh bakteri dan virus sehingga menyebabkan sekresi lendir yang berlebihan dan
pembengkakan jaringan yang mengakibatkan mengecilnya diameter saluran bronkial sehingga
semakin sulit untuk bernapas (Dufton, 2012). Proses inflamasi tersebut tidak mencapai alveoli.
Bronkitis umumnya diklasifikasikan sebagai akut dan kronik. Penatalaksanaan Terapi Bronkitis, yaitu

1. Bronkitis Akut
a)Terapi Non-Farmakologi/ Suportif
 Mengontrol suhu tubuh bila terjadi demam dengan dikompres
 Istirahat yang cukup
 Minum air yang cukup guna mencegah dehidrasi dan mengurangi viskositas mukus
 Penggunaan vaporizer untuk melonggarkan saluran pernapasan (DiPiro, 2008).
b) Terapi Farmakologi
 Tujuan Terapi
Memberikan kenyamanan pada proses pernapasan pasien dan untuk beberapa kasus yang
parah, terapi bertujuan untuk mengatasi dehidrasi yang terkait gangguan pernapasan
(DiPiro, 2008).
 Pilihan Terapi
a. Aspirin atau asetaminofen (650 mg untuk orang dewasa atau 10 – 15 mg/kg per dosis
untuk anak-anak dengan dosis harian maksimum sebesar 4 g untuk orang dewasa dan
60 mg/kg untuk anak-anak) atau ibuprofen (200 – 800 mg untuk orang dewasa atau 10
mg/kg per dosis untuk anak-anak dengan dosis harian maksimum 3,2 g untuk orang
dewasa dan 40 mg/kg untuk anak-anak) diadministrasikan setiap 4 – 6 jam.
b. Pada anak-anak, aspirin harus dihindari dan asetaminofen digunakan sebagai agen
yang lebih dipilih karena adanya kemungkinan hubungan antara penggunaan aspirin
dan terjadinya Reye syndrome.
c. Batuk ringan, menetap, yang dapat sangat menganggu, dapat diobati dengan mukolitik,
contohnya N-asetilsistein (NAC).
d. Penggunaan rutin antibiotik pada pengobatan bronkitis akut tidak dianjurkan, akan
tetapi pasien yang mengalami demam secara terus menurus atau gejala-gejala
gangguan pernafasan lebih dari 4-6 hari, kemungkinan adanya infeksi bakteri berulang
harus di selidiki.
3
e. Bila mungkin, terapi antibiotik diberikan langsung untuk mengantisipasi bakteri
pathogen pada saluran pernafasan (contohnya : Streptococcus pneumoniae,
Haemophilus influenza) dan atau pada orang-orang yang menunjukkan suatu
pertumbuhan kultur bakteri yang dominan di tenggorokan.
f. Jika diduga terdapat bakteri M. Pneumonia melalui riwayat pengobatan atau
dikonfirmasi melalui kultur atau serology, maka dapat diobati dengan azithromycin.
Juga, fluoroquinolon dengan aktivitas terhadap bakteri pathogen ini (levofloksasin)
dapat digunakan pada orang dewasa.
2. Bronkitis Kronis
a) Terapi Non-Farmakologi/ Suportif
 Berupaya mengurangi paparan iritan (asap rokok,dan polusi tempat kerja)
 Berhenti merokok
 Rehabilitasi paru-paru dengan berolahraga dan latihan pernapasan.
 Istirahat yang cukup
 Pengaturan parsial O2 (DiPiro, 2008).
b) Terapi Farmakologi
 Tujuan Terapi
Mengurangi keparahan dari gejala yang ditimbulkan, dan mengobati eksaserbasi akut yang
terjadi serta terbebas dari infeksi untuk jangka waktu yang lama.
 Pilihan Terapi
a. Untuk pasien yang secara konsisten mengalami gangguan aliran udara pada saluran
pernapasan, perlu diberikan bronkodilator β2-agonis (albuterol aerosol). Dilakukan
juga tes fungsi paru-paru sebelum dan sesudah diberikan, untuk mengetahui manfaat
dari terapi tersebut.
b. Untuk pasien bronkitis kronis diberikan kortikosteroid yang bertujuan untuk menekan
rekasi inflamasi. Kortikosteroid dapat mengurangi pembengkakan dan produksi lendir
pada bronkus serta mengurangi obstruksi saluran pernapasan. Biasanya diberikan
secara inhalasi menggunakan MDI (umumnya digunakan pada bronkitis dan asma
kronis) atau dengan terapi sistemik menggunakan sediaan oral atau parenteral. Efek
samping kortikesteroid inhalasi lebih kecil jika dibandingkan dengan kortikosteroid
oral. Kombinasi terapi antara kortikosteroid dan bronkodilator biasa digunakan dalam
terapi bronkitis kronis misalnya flutikason dengan salmeterol (Dufton, 2012).
c. Antibiotik yang dipilih harus efektif terhadap bakteri patogen yang menginfeksi,
menunjukkan resiko interaksi obat yang minim, dan dapat diadmnistrasikan dalam cara
tertentu yang dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam meminum obat. Berikut ini
merupakan klasifikasi untuk bronchitis kronis dan pilihan terapi awalnya :

4
Keterangan : 1. Terapi yang dianjurkan; 2. Pilihan terapi alternatif
(DiPiro, 2008)

Antibiotik yang umum digunakan pada pasien dewasa masing-masing dengan


dosisnya yakni tercantum pada tabel dibawah :

E. PNEUMONIA
Pneumonia merupakan peradangan paru yang disebabkan oleh infeksi. Agen penginfeksi yang
dapat menyebabkan pneumonia adalah bakteri, virus, dan jamur. Selain itu, pneumonia dapat terjadi
karena bahan kimia atau kerusakan fisik dari paru-paru, atau secara tidak langsung dari penyakit lain
seperti kanker paru atau penggunaan alkohol. Pneumonia umumnya terjadi pada semua kelompok
umur, dan menunjukkan penyebab kematian pada orang tua dan orang yang mengalami penyakit
kronik.
Gejala khas yang berhubungan dengan pneumonia meliputi batuk, nyeri dada, demam, dan sesak
nafas. Pneumonia biasanya didiagnosa berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik. Tes penting untuk
meyakinkan hasil tes yang lain seperti tes sputum ialah dengan foto thorax (rontgen). Foto thorax

5
dapat menampakkan daerah opak (terlihat putih) yang menggambarkan paru yang keras dan penuh
dengan cairan (konsolidasi).
Terdapat 2 jenis pneumonia berdasarkan lokasi dimana pasien terinfeksi dan menimbulkan
penyakit, yaitu Community Acquired Pneumonia (CAP) dan Hospital Acquired Pneumonia (HAP).
CAP adalah pneumonia infeksius pada seseorang yang tidak menjalani rawat inap di rumah sakit.
CAP merupakan tipe pneumonia yang sering terjadi dan disebabkan oleh bakteri Streptococcus
pneumonia. HAP atau disebut juga pneumonia nosokomial adalah pneumonia yang disebabkan
selama perawatan di rumah sakit atau sesudahnya karena penyakit lain atau prosedurnya. Pasien
rawat inap mungkin mempunyai banyak faktor resiko untuk pneumonia, termasuk ventilasi mekanis,
malnutrisi berkepanjangan, penyakit dasar jantung dan paru-paru, penurunan jumlah asam lambung
dan gangguan imun. Ventilator Associated Pneumonia (VAP) merupakan bagian dari HAP. VAP
adalah pneumonia yang timbul setelah minimal 48 jam sesudah intubasi dan ventilasi mekanis.
Tipe lain dari pneumonia adalah Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Bronchiolitis
Obliterans Organizing Pneumonia (BOOP), Penumonia Eosinofilik, Chemical Pneumonia,
Aspiration Pneumonia. Penatalaksanaan Terapi pneumonia, yaitu :

a) Terapi non farmakologis/ terapi suportif


 Pemberian oksigen yang dilembabkan (humidified oxygen) untuk pasien yang mengalami
hipoksemia.
 Hidrasi yang cukup, bila perlu secara parenteral
 Nutrisi yang optimal
 Mengontrol bila terjadi demam, bisa dengan kompres atau diberi obat penurun panas
 Pemberian bronkodilator (albuterol) bila terjadi bronkospasme
 Jika pilek, bersihkan hidung untuk mempercepat penyembuhan dan menghindari
komplikasi yang lebih parah.
 Vaksin polivalen polisakarida tersedia untuk melawan dua bakteri penyebab pneumonia
yaitu Pneumococcus dan H. Influenza tipe B (DiPiro, 2008).

b) Terapi farmakologis
 Tujuan Terapi
Eradikasi penyebab (bakteri) dengan menggunakan pilihan antibiotik yang sesuai,
meminimalisir angka morbiditas dengan penyakit lain (kambuhan atau tidak) serta
mengurangi penggunaan obat yang memicu toksisitas (ginjal, paru-paru, hepar, dll).
Kebanyakan kasus pneumonia yang disebabkan oleh virus bersifat self-limiting. Meskipun
demikian, terapi antiviral (amantadine atau rimantadine) untuk pneumonia yang disebabkan
virus Influenza terbukti mampu mempercepat penyembuhan.
 Pilihan Terapi
Terapi untuk pneumonia yang disebabkan oleh bakteri diawali dengan penggunaan
antibiotik spektrum luas secara empiris yang efektif melawan bakteri patogen hingga hasil
uji kultur dan spesimen diperoleh. Terapi selanjutnya dapat dipersempit untuk mengkover
patogen spesifik berdasarkan hasil kultur (DiPiro, 2008).

6
Tabel I. Terapi Antibiotik yang Efektif untuk Pneumonia pada Pasien Dewasa

Tabel II. Terapi Antibiotik yang Efektif untuk Pneumonia pada Pasien Pediatri
UMUR PATOGEN PENYEBAB TERAPI
Streptococcus gol.B, H.influenzae, E.coli, Ampicillin-sulbactam, sefalosporin
S.aureus, Listeria, CMV (cytomegalovirus), generasi 3h, carbapeneme
1 bulan RSV (Respiratory Syncytial Virus),
adenovirus Ribavirin (untuk RSV)

Chlamydia, Ureaplasma, CMV, Macrolide/azalideb, trimethoprim-


Pneumocystis carinii (sindrom pneumonia sulfamethoxazole, Ribavirin,
1-3 Bulan
afebril), RSV Penisilin semisintetisi atau
Pneumococcus, S. aureus sefalosporin generasi 2j

Amoksisilin atau sefalosporin


3 bulan - 6 Pneumococcus, H.influenzae, RSV, generasi 2 j, ampicillin-sulbactam,
thn adenovirus, parainfluenza amoksisilin-klavulanat, ribavirin
(utk RSV)

>6 Macrolide/azalideb, sefalosporin


Pneumococcus, M. pneumonia, adenovirus
tahun generasi 2 j, amoksisilin-klavulanat

Keterangan Tabel I dan Tabel II:


b
Macrolide/azalide: erythromycin, clarithromycin, azithromycin
c
Tetracycline: tetracycline HCl, doxycycline
d
Cephalosporin: cefuroxime, ceftriaxone, cefotaxime
e
Carbapenem: imipenem-cilastatin, meropenem
f
Fluoroquinolone: ciprofloxacin, gatifloxacin, atau levofloxacin
g
Extended-spectrum cephalosporin: ceftazidime, cefepime
h
Sefalosporin generasi 3: ceftriaxone, cefotaxime, cefepime. Sefalosporin tidak efektif melawan Listeria
i
Penisilin semisintetis: nafcillin, oxacillin
j
Sefalosporin generasi 2: cefuroxime, cefprozil

7
Tabel III. Dosis Antibiotik untuk Penatalaksanaan Pneumonia
Dosis Antibiotik Harian
Gol. Antibiotik Antibiotik Pediatri Dewasa (dosis
(mg/kgBB/hari) total/hari)
Clarithromycin 15 0,5 – 1 g
Macrolide
Erythromycin 30 - 50 1–2g
10 mg/kgBB x 1 hari, 500 mg x 1 hari,
dilanjutkan 5 dilanjutkan 250
Azalide Azithromycin
mg/kgBB/hari selama 4 mg/hari selama 4
hari hari
Tetracycline HCl 25 - 50 1–2g
Tetracycline
Oxytetracycline 15 - 25 0,25 – 0,3 g
Ampicillin 100 - 200 2–6g
Amoxicillin/ amoxicillin-
40 - 90 0,75 – 1 g
Penicillin clavulanate
Piperacillin-tazobactam 200 - 300 12 g
Ampicillin-sulbactam 100 - 200 4–8g
Ceftriaxone 50 - 75 1–2g
Sefalosporin spektrum
Ceftazidime 150 2–6g
luas
Cefepime 100 - 150 2–4g
Fluoroquinolone Gatifloxacin 10 – 20 0,4 g
Levofloxacin 10 – 15 0,5 – 0,75 g
Ciprofloxacin 20 – 30 0,5 – 1,5 g
Aminoglikosida Gentamicin 7,5 3 – 6 mg/kgBB
Tobramycin 7,5 3 – 6 mg/kgBB

Keterangan Tabel III:


 Dosis dapat ditingkatkan untuk penyakit yang lebih parah dan perlu pengaturan dosis untuk pasien
dengan disfungsi organ.
 Tetracycline jarang digunakan pada pasien pediatric (< 8 tahun) karena dapat menyebabkan
perubahan warna yang permanen pada gigi.
 Dosis amoxicillin / amoxicillin-clavulanate yang lebih tinggi (90 mg/kgBB/hari) digunakan untuk
bakteri S.pneumoniae yang resisten terhadap Penicillin.
 Penggunaan fluoroquinolone pada pasien pediatri dihindari karena berpotensi menimbulkan
kerusakan pada kartilago (tulang rawan). Dosis yang ditampilkan di atas diekstrapolasi dari dosis
dewasa dan perlu penelitian lebih lanjut.

HOSPITAL ACQUIRED PNEUMONIA (HAP) ATAU PNEUMONIA NOSOKOMIAL


Untuk terapi HAP :
 Untuk kasus onset yang lebih awal ( < 5 hari) maka pilihan terapinya yaitu :
- Sefalosporin generasi ketiga (cefotaxime atau ceftriaxone)
- Fluoroquinolone
- Ampicillin-sulbactam

8
- Ertapenem

 Onset yang lebih lambat ( > 5 hari) maka pilihan terapinya yaitu:
- Ceftazidime atau cefepime ditambah aminoglikosida atau fluoroquinolone
- Imipenem, meropenem atau doripenem ditambah aminoglikosida atau fluoroquinolone
- Piperacillin-tazobactam ditambah aminoglikosida atau fluoroquinolone (American College of
Clinical Pharmacy, 2013).

COMMUNITY ACQUIRED PNEUMONIA (CAP)


Durasi terapi CAP minimal 5 hari
Clinical Setting Therapy Clinical Setting Therapy

Keterangan:
a
Macrolide: erythromycin, azithromycin, atau clarithromycin
b
Recent antibiotic therapy: dalam 3 bulan terakhir menggunakan antibiotik untuk segala jenis infeksi
c
A respiratory fluoroquinolone: moxifloxacin, gatifloxacin, levofloxacin, atau gemifloxacin (oral)
d
An advanced macrolide: azithromycin, atau clarithromycin
e
A β-lactam: amoxicillin dosis tinggi, amoxicillin-clavulanate dosis tinggi, cefpodoxime, cefprozil, atau
cefuroxime
A β-lactam: cefotaxime, ceftriaxone, ampicillin-sulbactam, atau ertapenem
f

h
An antipseudomonal agent: piperacillin, piperacillin-tazobactam, imipenem, meropenem, atau cefepime

 Evaluasi outcome terapi :


a. Untuk pasien dengan infeksi bakteri pada saluran nafas atas dan bawah perlu diperhatikan terkait
masih muncul atau tidaknya gejala.
b. Untuk pasien dengan CAP, perlu diperhatikan waktu berhenti batuk, penurunan produksi sputum,
demam, lemah, muntah dan letargi.
c. Untuk pasien HAP, dilakukan pemeriksaan kultur bakteri dan evaluasi saturasi oksigen.
d. Observasi dilakukan dalam dua hari pertama, lalu dilanjutkan 5 hingga 7 hari selanjutnya namun
tidak lebih dari 10 hari (DiPiro, 2008).
9
DAFTAR PUSTAKA

American College of Clinical Pharmacy, 2013, Pharmacotherapy Review Program for Advanced Clinical
Pharmacy Practice, ACCP, Surabaya, pp. 140-143.

Denis Hadjiliadis, 2013, U.S. National Library of Medicine, NIH,


http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000145.htm, diakses tanggal 6 September
2014.

Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G. and Posey, L.M., 2008,
Pharmacotherapy : A Pathophysiologic Approach, 7th Edition, Mc Graw Hill, Washington
D.C., pp 535-544, 1599-1605, 1762-1767.

Dufton, J., 2012, The Pathophysiology and Pharmaceutical Treatment of Chronic Bronchitis,
Pharmaceutical Education Consultants, Inc., pp 1-15.

Djajadiman, Gatot. 2002, Infeksi Jamur Sistemik pada Pasien Immuno-compromised, Sari Pediatri Vol. 3 No. 4,
hal 244-248.

Fox, A., 2010, General Aspects of Bacterial Phatoghenesis, University of South Carolina School of Medicine, USA.

Fransisca S. K., 2000, Pneumonia, Fakultas Kedokteran Wijaya Kusuma, Surabaya.

Sudiana, I. K., 2008, Patobiologi Molekuler Kanker, Salemba Medika, Jakarta, pp. 41-42.

Tjay, T. H. dan Rahardja, K., 2007, Obat-obat Penting, edisi 6, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, pp 110-111.

Kortikosteroid meniru efek hormon alami diproduksi di kelenjar adrenal duduk di atas ginjal. Ketika
diresepkan dalam dosis yang melebihi tingkat tubuh biasa, kortikosteroid menekan
reaksi inflamasi. Dengan demikian, kortikosteroid dapat mengurangi pembengkakan dan lendir bronkus
sekresi, yang mengurangi obstruksi jalan napas dan memungkinkan untuk aliran udara yang lebih baik.
Mereka dapat disampaikan oleh
inhalasi menggunakan MDI (umum digunakan dalam bronkitis dan asma kronis manajemen) atau dengan
sistemik
Terapi dengan sediaan oral atau parenteral. Steroid inhalasi sering menimbulkan efek samping yang lebih
sedikit daripada sistemik
(oral) steroid. Contoh steroid termasuk prednison, methylprednisolone (Medrol, Depo-Medrol),
budesonide (Pulmicort), flutikason (Flovent), beklometason (Qvar) dan mometason (Asmanex).
Kombinasi terapi dengan steroid dan bronkodilator juga dapat dimanfaatkan, misalnya flutikason dengan
salmeterol (Advair).

10

You might also like