You are on page 1of 13

MAKALAH

Pengembangan Instrumen Evaluasi Jenis Non-tes


Makalah ini di ajukan untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Evaluasi Pembelajaran
Dosen Pengampu : Suwarno As, S.Pd.I, M.M

Disusun oleh : Kelompok 5


1. Sutani
2. Sultonillah F

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH

AL-AMIN INDRAMAYU

2023
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga penyusunan makalah dengan
judul “Pengembangan Instrumen Evaluasi Jenis Non-tes” dapat terselesaikan tepat waktu.
Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Agama. Sebagai
ungkapan rasa syukur terselesaikannya penyusunan makalah ini, penulis menyampaikan ucapan
terima kasih Kepada:
1. Bapak Drs. H. Sulaiman Hasan, M. A., Selaku ketua program studi PAI;
2. Bapak Suwarno As, S.Pd.I, M.M, Selaku dosen mata kuliah Evaluasi Pembelajaran
Semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang membaca
makalah ini. Kritik dan saran dari berbagai pihak sangat penulis harapkan untuk perbaikan
makalah ini.

Indramayu, 24 Mei 2023


Ketua Kelompok

……………………

ii
DAFTAR ISI

Cover judul Halaman


KATA PENGANTAR..............................................................................................................ii
DAFTAR ISI............................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1
A. Latar Belakang................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...........................................................................................................1
C. Tujuan
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................................2
A. Pengertian Instrumen Evaluasi Non tes..........................................................................2
B. Macam-macam Instrument Evaluasi Non-tes.................................................................2

BAB III PENUTUP....................................................................................................................9


KESIMPULAN............................................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................10

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang kompleks yang mencakup banyak elemen
yang saling berkaitan satu sama lain untuk mencapai tujuan tertentu. Pembelajaran sendiri
secara sederhana terdiri dari 3 tahap utama yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Sesuai
dengan misi mulia yang diemban pendidikan, yaitu transferring knowledge and value, tahap
evaluasi membutuhkan instrument yang buakn hanya mampu pengukur keberhasilan
mentransfer  ilmu (kognitif) tetapi juga nilai (afektif) dan ketrampilan (psikomotor). 
Setiap aspek yang ada dalam proses pembelajaran membutuhkan alat ukur yang tepat
dan sesuai agar data yang diperoleh sesuai dengan kedaan di lapangan. Aspek kognitif yang
selama ini menjadi fokus proses pembelajaran di Indonesia cenderung lebih tepat menggunakan
tes sebagai alat ukur keberhasilan atau alat evaluasi, namun untuk aspek lain seperti sikap atau
afektif  dan ketrampilan atau psikomotor kurang tepat jika diukur dengan tes.
Oleh karena itu, dibutuhkan instrumen jenis lain untuk mengukur aspek dalam proses
pembelajaran yang berkenaan dengan domain afektif dan psikomotor. Dengan adanya
instrument lain yakni berupa non-tes, data yang diperoleh untuk menggambarkan keberhasilan
proses pembelajaran akan semakin lengkap dan bermakna.

B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang diatas, perlu kiranya kami mengkaji tentang:
1.      Apa Pengertian evaluasi non tes?
2.      Apa sajakah macam-macam instrument evaluasi non tes?
3.      Bagaimana pengembangan instrumen evaluasi non tes dalam proses pembelajaran?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengkaji tentang:
1.    Pengertian evaluasi non tes  
2.    Macam-macam instrument evaluasi non tes.
3.    Pengembangan instrument evaluasi jenis non-tes dalam proses pembelajaran.

iv
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Instrumen Evaluasi Non tes


Penilaian non test adalah “penilaian pengamatan perubahan tingkah laku yang
berhubungan dengan apa yang dapat diperbuat atau dikerjakan oleh peserta didik dibandingkan
dengan apa yang diketahui atau dipahaminya”. Dengan kata lain penilaian non test behubungan
dengan penampilan yang dapat diamati dibandingkan dengan pengetahuan dan proses mental
lainnya yang tidak dapat diamati oleh indera.
Adapun menurut Hasyim, ”Penilaian non test adalah penilaian yang mengukur
kemampuan siswa secara langsung dengan tugas-tugas riil dalam proses pembelajaran. Contoh
penilaian non test banyak terdapat pada keterampilan menulis untuk bahasa, percobaan
laboratorium sains, bongkar pasang mesin, teknik dan sebagainya”.
Teknik penilaian nontes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak menggunakan tes.
Sedangkan teknik penilaian non tes tulis maksudnya adalah bentuk evaluasi non tes yang
berbentuk tulisan atau non lisan.
Alat atau instrumen merupakan sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah
seseorang melaksanakan tugas atau mencapai tujuan dengan lebih efektif dan efisien. Sedangkan
istilah evaluasi merupakan suatu proses untuk memperoleh kualitas tertentu terutama yang
berkenaan dengan nilai dan arti, istilah lain yang memiliki maksan yang hampir sama dengan
evaluasi adalah penilaian (assessment) dan pengukuran. Secara sederhana penilaian dan
pengukuran meruapakan komponen yang ada di dalam ruang lingkup evaluasi, dimana penilaian
merupakanproses berkesinambungan untuk mengumpulkan informasi, sedangkan pengukuran
lebih khusus mengumpulkan informasi yang bersifat kuantitatif atas sesuatu.

Gambar 1. Hubungan evaluasi-penilaian-pengukuran-tes-non tes

Berdasarkan pengertian-pengertian diatas maka instrument evaluasi jenis non-tes


diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk mempermudah pihak-pihak tertentu untuk
memperoleh kualitas atas suatu objek dengan menggunakan teknik non-tes.

B.     Macam-macam Instrument Evaluasi Non-tes


1.      Observasi (Observation)
Observasi merupakan suatu proses pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis,
objektif dan rasional mengenati berbagai fenomena yang bertujuan untuk mengumpulkan data
atau informasi dan mengukur factor-faktor yang diamati khususnya kecakapan social. Berikut
ini beberapa karakteristik dari observasi, yaitu:
a.       Mempunyai tujuan
b.      Bersifat ilmiah
c.       Terdapat aspek yang diamati
d.      Praktis

Sedangkan secara lebih lanjut, terdapat tiga jenis observasi, yaitu:


v
a.       Observasi partisipan, dimana pengamat ikut andil dalam kegiatan kelompok yang sedang
diamati.
b.      Observasi sistematik merupakan observasi dengan menggunakan kerangka yang berisi
faktor-faktor yang ingin diteliti yang telah dikategorikan terlebih dahulu secara struktural.
c.       Observasi Eksperimental meupakan observasi dimana pengamat tidak berpartisipasi
dalam kelompok yang diamati namun dapat mengendalikanunsur-unsur tertentu sehingga
tercipta tujuan yang sesuai dengan tujuan observasi. Observasi jenis ini memungkinkan
evaluator untuk mengamati sifat-sifat tertentu dengan cermat.

Adapun langkah-langkah penyusunan pedoman observasi adalah:


a.      Merumuskan tujuan observasi
b.      Membuat kisi-kisi observasi
c.      Menyusun pedoman observasi
d.      Menyusun aspek-aspek yang ingin diobservasi
e.      Melakukan uji coba pedoman observasi
f.      Merevisi pedoman observasi berdasarkan hasil uji coba
g.      Melaksanakan observasi
h.      Mengolah dan menafsirkan hasil observasi

Sama halnya dengan instrument evaluasi yang lain,obsevasi memiliki beberapa


kelemahan dan kelebihan yaitu:
a.       Kelemahan:
1)      Pelaksanaannya sering terganggu keadaan cuaca atau kesan yang kurang baik dari
observer maupun observi.
2)      Masalah yang sifatnya pribadi sulit diamati.
3)      Apabila memakan waktu lama, akan menimbulkan kejenuhan.
b.      Kelebihan:
1)      Observasi cocok dilakukan untuk berbagai macam fenomena.
2)      Observasi cocok untuk mengamati perilaku.
3)      Banyak aspek yang tidak dapat diukur dengan tes tetapi bisa diukur dengan observasi.

2.      Wawancara (Interview)
Wawancara merupakan salah satu bentuk instrument evaluasi jenis non tes yang
dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab baik secara langsung tanpa alat perantara
maupun secara tidak langsung. Wawancara bertujuan untuk memperoleh informasi untukk
menjelaskan suatu kondisi tertentu, melengkapi penyelidikan ilmiah atau untuk mempengaruhi
situasi atau orang tertentu. Wawancara dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
a.       Wawancara Bebas dimana responnden mempunyai kebebasan untuk mengutarakan
pendapatnya tanpa dibatasi oleh patokan-patokan.
b.      Wawancara Terpimpin merupakan wawancara yang dilakukan oleh subjek evaluasi
dengan mengajukan pertanyaan yang sudah disusun terlebih  dahulu, sehingga responden hanya
memilih jawaban yang sudah disiapkan oleh penanya.

Berikut ini merupakan langkah-langkah untuk melakukan wawancara:


a.      Merumuskan tujuan wawancara
vi
b.      Membuat pedoman wawancara
c.      Menyususn pertanyaan yang sesuai dengan data yang diperlukan.
d.      Melakukan uji coba
e.      Melaksanakan wawancara

Sedangkan kelemahan dan kelebihan jenis instrument wawancara adalah sebagai berikut:
a.       Kelemahan:
1)      Jika subjek yang ingin diteliti banyak maka akan memakan waktu yang banyak pula.
2)      Terkadang wawancara berlangsung berlarut-larut tanpa arah.
3)      Adanya sikap yang kurang baik dari responden maupun penanya.
b.      Kelebihan:
1)      Dapat memperolehinformasi secara langsung sehingga objectivitas dapat diketahui.
2)      Dapat memperbaiki proses dan hasil belajar
3)      Pelaksanaannya lebih fleksibel, dinamis dan personal.

3.      Skala Sikap (Attitude Scale)


Sikap merupakan suatu kecenderungan  tingkah laku untuk berbuat sesuatu dengan cara,
metode, teknik dan pola tertentu. Dalam mengukur sikap, guru harus memperhatikan tiga
komponen sikap yaitu kognisi (pengetahuan terhadap objek), afeksi (perasaan terhadap objek),
dan konasi (berperilaku terhadap objek). Model skala sikap yang biasa digunakan antara lain:
a.       Menunjukan bilangan untuk menunjukan tingkatan objek yang dinilai (1,2,3)
b.      Menunjukan frekuensi (selalu, sering, tidak pernah)
c.      Menunjukaan istilah kualitatif ( baik sekali, baik, kurang baik)
d.      Menunjukan status atau kedudukan (sangat tinggi, diatas rata-rata, rendah)
e.      Menggunakan kode bilangan atau huruf ( selalu(5), kadang-kadang (4), jarang (3), jarang
sekali (2), tidaak pernah (1))

Langkah-langkah Model Linkert:


a.       Memilih variabel afektif yang akan diukur
b.      Membuat pertanyaan terait variabel yang akan diukur
c.       Mengklasifikasikan pertanyaan yang positif dan negatif
d.      Menentukan angka yang menjadi alternatif pilihan
e.       Menyusun pernyataan dan pilihan jawaban menjadi sebuah alat penilaian
f.       Melakukan uji coba
g.      Membuang butir pertanyaan yang kurang baik
h.      Melaksanakan penilaian

4.      Daftar Cek (Check List)


Daftar cek adalah suatu daftar yang berisi subjek dan aspek-aspek yang akan diamati,
penilai tnnggal memberikan tanda centang (v) pda tiap-tiap aspek sesuai dengan hasil
pengamatan yang dilakukan.

5.      Skala Bertingkat (Rating Scale)


Instrumen skala penilaian memberikan solusi atas kekurangan dafatr cek yang hanya
mampu mencatat keberadaan fenomena-fenomena tertentu. Skala penilaian memungkinkan
vii
pengamat untuk mengetahui keberadaan fenomena tertentu sekaligus mengikur intensitas
fenomena tersebut dalam tingkatan-tingkatan yang telah disusun. Namun skala penilaian
memiliki beberapa kelemahan yaitu dengan adanya halo effects, yaitu efek dari kesan atau
penilaian umum,generosity effects yaitu keinginan untuk berbuat baik dengan memberi nilai
tinggi, dan carry over effects yaitu pengamat tidak dapat membedakan antara fenomena satu
dengan fenomena yang lain.

Gambar 2. Contoh skala penilaian


Keterangan:
1 = sangat tidak suka
2 = tidak suka
3 = biasa
4 = suka
5 = sangat suka

6.      Angket (Questioner)
Angket merupakan alat untuk mengumpulkandan mencatat data, informasi, pendapat,
dan paham dalam hubungan kausal. Angket dapat dikelompokan benjadi beberapa kelompok.
Angket berdasarkan bentuknya dibagi menjadi dua jenis,yaitu:
a.       Angket berstruktur merupakan angket yang menyediakan beberapa kemungkinan
jawaban. Angket jenis ini terdiri dari tiga bentuk:
1)      Bentuk jawaban tertutup, yaitu angket yang telah menyediakan alternative jawaban
2)      Bentuk jawaban tertutup tetapi alternative terakhir merupakan jawaban terbuka yang dapat
memberikan kesempatan kepada respondenuntuk memberikan jawaban secara bebas.
3)      Bentuk jawaban bergambar, yaitu angket yang memberikan alternative jawaban berupa
gambar.

b.      Angket tidak berstruktur merupakan angket yang memberikanjawaban secara terbuka.


Angket ini memberikan gambaran lebih tentang situasi, namun kurang dapat dinilai secara
objektif dan tifak dapat diukur secara statistic sehingga data yang diperoleh sifatnya umum.
Sedangkan ditinjau dari responden yang menjawab, maka angket dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu:
a.       Angket Langsung
Disebut angket langsung apabila angket dikirimkan dan diisi langsung oleh orang yang akan
dimintai jawaban tentang dirinya.
b.      Angket Tidak Langsung
Angket diisi oleh orang yang bukan dimintai keterangan tentang dirinya.
Berikut ini merupakan langkah-langkah menyusun angket.
1)      Menyusun kisi-kisi angket
2)      Menyusun pertaanyaan-pertanyaan dan bentuk jawaban yang diinginkan.
3)      Membuat pedoman cara menjawab.
4)      Melakukan uji coba angket untuk mengetahui kelemahan angket tersebut.
5)      Merevisi angket berdasarkan hasil uji coba
6)      Menggandakan angket sesuai jumlah responden

viii
Sama halnya dengan instrument lain, angket juga memiliki beberapa kelemahan dan
keunggulan, antara lain:
a. Kelemalan:
1)      Ada kemungkinan angker diisi oleh orang yang bukan menjadi target.
2)      Target menjawab berdasarkan altternatif jawaban yang tersedia

b.  Keunggulan:
1)      Responden dapat meenjawab dengan bebas tanpa dipengaruhi hubungan dengan peneliti
atau penilai.
2)      Informasi yang terkumpul lebih mudah karena homogen.
3)      Dapat mengumpulkan data dari jumlah responden yang relatif banyak.

7.  Studi Kasus (Case Study)


Studi kasus merupakan studi mendalan dan komperhensif (mampu mengungkapkan
semua aspek yang melatarbelakangi suatu kasus) tentang peserta didik, kelas atau sekolah.
Beriku ini merupakan tiga pertanyaan inti dalam studi kasus yang harus dijawab guru:
a.       Mengapa kasus tersebut bisa terjadi?
b.      Apa yang dilakukan oleh seseorang dalam kasus tersebut?
c.       Bagaimana pengaruh tingkah laku seseorang terhaddap lingkungan?

8.  Catatan Insidental (Anecdotal Records)


Catatan insidental merupakan catatan-catatan tentang peristiwa sepintas yang
dialamipeserta didik secara peerseorangan. Catatan tersebut belum berarti apa-apa terhadap
penilaian sesorang, namun dapat menjadi petunjuk yang berguna apabila dihubungkaan dengan
data-data.

9.  Sosiometri
Sosiometri merupakan suatu prosedur unruk merangkum, menyusun, dan sampai batas
tertentu dappat mengkualifikasi pendapat-pendapat peserta didik tentang penerimaan terhadap
sesama serta hubungan diantara mereka. Langkah dalam menggunakan sosiometri:
a.       Memberikan petunjuk atau pertanyaan. Misal: tuliskan pada selembar kertas nama
temanmu yang paling baik.
b.      Mengumpulkan jawab yang sesungguhnya dari peserta didik.
c.       Memasukan jawabanke dalam tabel.
d.       Gambarkan jawaban dalam sebuah sosiogram.

10.  Inventori Kepribadian


Inventori kepribadian hampir serupa dengan tes kepribadian, namun pada inventori
kepribadian jawaban peserta didik selalu benar selama menyatakan dengan sesungguhnya.
Walaupun demikian digunakan pula skala-skala tertentu untuk mengkuantifikasi jjawab agar
dapat dibandingkan.

11.  Teknik Pemberian Penghargaan kepada Peserta Didik


Teknik pemberian penghargaan ini penting karena banyak respon atautindakan positif
peserta didik yang diakibatkan oleh proses belajar yang kurang diperhatikanguru. Apabila guru
ix
memberikan penghargaan atas tindakan positif yang dilakukan peserta didik dalam berbagai
bentuk, dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Berikut inimerupakan teknik pemberian
penghargaan:
a.       Teknik Verbal merupakan pemberian penghargaan melalui pujian, dukungan, dorongan
atau pengakuan.
b.      Teknik Non-verbal, melalui:
1)      Mimik dan gerakan tubuh (senyuman, acungan jempol, tepuk tangan)
2)      Cara mendekati (proximity)
3)      Sentuhan (contact)
C.     Pengembangan instrumen evaluasi non tes dalam proses pembelajaran PAI
1.      Tes Perbuatan
No. Nama Siswa Kemampuan Membaca
1 2 3 4 5
1.            Usman
1
2.            Said
2
3.            Sutejo Ade
3
Dst Dst..........................

Keterangan :                                                  Skor Tes Perbuatan : 


1.    = Membaca lancar dan baik                                 = 80 – 90 = A
2.    = Membaca lancar kurang baik                            = 70 – 79 = B
3.    = Membaca Terbata-bata                                     = 60 – 69 = C
4.    = Membaca Terbata-bata dengan bantuan guru   = 50 – 59 = D
5.    = Tidak dapat membaca                                       = kurang dari 50 = E

2.      Tes Sikap
No. Pernyataan SS S TS STS
1. Tujuan Kita diciptakan oleh Allah SWT
adalah ditugaskan sebagai Kholifah.
2. Membaca Al Qur’an banyak mengandung
nilai ibadah.
3. Sebagai bentuk rasa syukur kita kepada
Allah dapat kita lalukan dengan
mengucapkan hamdalah   ِّ‫اَ ْل َح ْمـ ُِدهللِ َرب‬
ْ
َ‫ال َعالَ ِم ْيــن‬  "“ setiap kali kita memperoleh
nikmat serta menjalankan perintah Nya dan
menjauhi larangan Nya.

dst ………………………………………………
.
Keterangan :                                  Skor Tes Sikap:
x
SS = Sangat Setuju                       = 50
S   = Setuju                                   = 40
TS = Tidak Setuju                                    = 10
STS= Sangat Tidak Setuju           = 0

3.      Portofolio yakni Tes pengalaman dilakukan dengan menggunakan portofolio dimana guru


mencatat pengalaman agama berdasarkan antara lain:
-      apa yang dilihat;
-      laporan rekan guru dan pegawai lainnya; dan
-      laporan dari orangtua murid atau siswa

B.   Penilaian Afektif
Indikator : Siswa menunjukkan sikap yang terpuji

Aspek Penilaian
Nama Jml
No Kerja Tuntas Nilai Catatan
Siswa Disiplin Respon Inisiatif Skor
Sama Tugas
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10

Catatan :
a.  Kriteria perilaku
    1 = sangat kurang                                        4 = baik
    2 = kurang                                                   5 = amat baik
    3 = cukup

b.  Nilai merupakan jumlah dari nilai tiap-tiap indikator perilaku

c.  Nilai maksimum  = 25.

d.  Keterangan nilai
  23 - 25  = sangat baik                                8 - 12  = kurang       
  18 - 22  = baik                                            0 - 7   = sangat kurang    
  13 - 17  = cukup     

xi
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tahap evaluasi membutuhkan instrument
yang bukann hanya mampu pengukur keberhasilan mentransfer ilmu (kognitif) tetapi juga nilai
(afektif).  Setiap aspek yang ada dalam proses pembelajaran membutuhkan alat ukur yang tepat
dan sesuai agar data yang diperoleh sesuai dengan kedaan di lapangan. instrument evaluasi jenis
non-tes diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk mempermudah pihak-pihak tertentu
untuk memperoleh kualitas atas suatu objek dengan menggunakan teknik non-tes. Instrument
evaluasi non-tes tersebut terdiri dari beberapa macam, yaitu observasi, wawancara, skala sikap,
daftar cek, skala lenilaian, angket, studi kasus, catataninsidental, sosiometri, inventori
kepribadian dan teknik pemberian penghargaan kepadapeserta didik. Tiap jenis instrument
tersebut memiliki karakteristik, langkah-langkah, kekurangan, dan kelebihan masing-masing
yang memungkinkan evaluator untuk memilih instrument yang paling sesuai untuk melakukan
evaluasi.

xii
DAFTAR PUSTAKA

            Arifin, Zainal. 2010. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT.Remaja Rosdakarya.


            Arikunto, Suharsimi. 2009. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Nana Sudjana2007. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar,Bandung: PT Remaja
RosdaKarya.
http://andinurdiansah.blogspot.com/2010/09/instrumen-non-tes.html,
http://imahalima39.blogspot.com/2013/01/pengembangan-instrument-evaluasi-non-tes.html

xiii

You might also like