You are on page 1of 14

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH BESAR

DINAS KESEHATAN
PUSKESMAS LAMTEUBA
Alamat :Jln Lamteuba- Krueng Raya Km 1 Gampong Blangtingkeum Kemukiman Lamteuba
Kode Pos : 23951 Email : Puskesmaslamteuba@gmail.com

KEPUTUSAN

KEPALA PUSKESMAS LAMTEUBA

NOMOR : /UKP-III/PKM.LTB/2023

TENTANG

PELAYANAN FARMASI

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

KEPALA PUSKESMAS LAMTEUBA

Menimban : a.bahwa untuk menunjang layanan klinis di Puskesmas, maka perlu didukung
g oleh pelayanan farmasi yang baik.

b. bahwa untuk menunjang pelayanan farmasi yang baik di Puskesmas


Lamteuba diperlukan adanya kebijakan tentang pelayanan farmasise
lamaenam hari dalam seminggu pada Puskesmas Lamteuba

c. bahwa berdasarkan pertimbangan pada huruf a dan b, perlu menetapkan


Keputusan Kepala Puskesmas Lamteuba tentang Pelayanan Farmasi

Mengingat : 1.UU Nomor36Tahun 2009, tentangKesehatan (Lembaran Negara Republik


Indonesia Tahun 2009 Nomor 114, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5063;
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indones ia
No.1691/MENKES/PER/VIII/2011 Tentang Keselamatan Pasien RumahS
akit;
3. Peraturan Menteri Kesehatan No. 30 tahun 2014 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Puskesmas
4. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 128/Men.Kes/SK/II/ 2004 tentang
Kebijakan Dasar Puskesmas;

5. Keputusan Menteri Kesehatan RI No.922 tahun 2008 tentang Obat

MEMUTUSKAN

MENETAPKA : KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS LAMTEUBA TENTANG


N PELAYANAN FARMASI

Kesatu : Pelayanan farmasi Puskesmas lamteuba sebagaimana tercantum dalam


lampiran merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari surat keputusan
ini..

Kedua : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila dikemudian
hari terdapat kekeliruan dalam penetapannya, maka akan diadakan
pembetulan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : lamteuba.
pada tanggal : 02 -01-2023…………………….
Kepala Puskesmas Lamteuba

dr. Yulia Oesman

LAMPIRAN KEPUTUSAN PUSKESMAS LAMTEUBA


NOMOR : /UKP-III/PKM.LTB/2023
TENTANG : PELAYANAN FARMASI

PELAYANAN FARMASI

• PENGERTIAN

Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung danbertanggung jawab kepada


pasien yang berkaitan dengan SediaanFarmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti
untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.

Obat merupakan komponen yang esensial dari suatu pelayanan kesehatan. Oleh karena
itu, diperlukan pengelolaan yang baik dan benar serta efektif dan efisien secara
berkesinambungan. Pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan meliputi kegiatan
perencanaan dan permintaan, penerimaan, penyimpanan dan distribusi, pencatatan dan
pelaporan serta supervisi dan evaluasi pengelolaan obat.

• TUJUAN

Tujuan dilaksanakannya pelayanan farmasi di Puskesmas lamteubaadalah agar:

• Kebutuhan masyarakat dalam hal ini pasien dapat terlayani secara optimal.

• Terdapat mekanisme pelayanan yang jelas dan teratur dalam melaksanakan pelayanan
farmasi.

• SISTEM PELAYANAN

Dalampelaksanaannyapetugasharus:

• Menulis obat yang dikeluarkan dari kamar obat pada resep pasien.
• Memberi etiket pada obat yang diresepkan.

• Menuliskan perintah pemakaian obat pada etiket atau plastik resep.

• Memberikan obat kepada pasien dengan disertai penjelasan cara penggunaan dan efek
samping obat.

• Memastikan pasien mengerti penjelasan yang telah diberikan.

• Ikut menjaga dan memastikan keamanan obat di kamar obat

• MENILAI, MENGENDALIKAN PENYEDIAAN DAN PENGGUNAAN OBAT YANG


MENJAMIN KETERSEDIAAN OBAT

Penyediaan obat yang menjamin ketersediaan obat diwujudkan dalam kegiatan


pengendalianobat. Tujuan kegiatan pengendalian obat agar tidak terjadi kelebihan dan
kekosongan obat di unit pelayanan kesehatan dasar, yang terdiri dari:

• Memperkirakan/menghitung pemakaian rata-rata periode tertentu di Puskesmas dan


seluruh unit pelayanan.
• Menentukan:
• Stok optimum
• Stok pengaman/penyangga (bufferstock)
• Menentukan waktu tunggu.

Pengendalianobatterdiridari:
• Pengendalian Persediaan
Untuk melakukan pengendalian persediaan diperlukan pengamatan terhadap stok
kerja, stok pengaman, waktu tunggu dan sisa stok. Sedangkan untuk mencukupi
kebutuhan perlu diperhitungkan keadaan stok yang seharusnya ada pada waktu
kedatangan obat atau jika dimungkinkan memesan, maka dapat dihitung jumlah obat
yang dapat dipesan dengan rumus :

Q = SK + SP (WT x D) – SS
Keterangan:
Q = jumlah obat yang dipesan
SK = stok kerja
SP = stok pengaman
WT = waktu tunggu
SS = sisa stok
D = pemakaian rata – rata per minggu/ per bulan

Agar tidak terjadi kekosongan obat dalam persediaan, maka hal – hal yang perlu
diperhatikan adalah:
• Mencantumkan jumlah stok optimum pada kartu stok.
• Melaporkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang apabila terdapat
pemakaian yang melebihi rencana.
• Membuat laporan secara sederhana dan berkala kepada Kepala Puskesmas tentang
pemakaian obat tertentu yang banyak dan obat lainnya masih mempunyai
persediaan banyak.

Pemeriksaan Besar (pencacahan) dimaksud kanuntuk mengetahui kecocokan


antarakartustokobatdenganfisikobat, yaitujumlahsetiapjenisobat. Pemeriksaan ini
dilakukan setiap bulan.

• Pengendalian Penggunaan
Tujuan dilaksanakannya pengendalian penggunaan adalah untuk menjaga kualitas
pelayanan obat dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan dana obat.
Pengendalian penggunaan meliputi:
• Prosentase penggunaan antibiotik.
• Prosentase penggunaan injeksi.
• Prosentase rata – rata jumlah R/.
• Prosentase Obat penggunaan obat generik.
• Kesesuaian dengan Pedoman.

• JAM BUKA PELAYANAN FARMASI (Apotik)

Pelayanan farmasi di Puskesmas lamteuba buka 6 hari dalam seminggu (Senin-Sabtu)

Jam bukapelayananfarmasi di Puskesmas lamteuba :

Senin-Kamis = 08.00 – 13.00 WIB.


Jumat-Sabtu = 08.00 – 11.00 WIB

• PETUGAS YANG BERHAK MEMBERIKAN RESEP OBAT, OBAT-OBATAN


PSIKOTROPIKA DAN NARKOTIKA

• Semua kegiatan pengobatan dan penulisan resep di Puskesmas lamteuba


dilaksanakan oleh dokter/dokter gigi sesuai kompetensinya dengan persyaratan
sebagai berikut:
• Memiliki Surat Tanda Registrasi.
• Memiliki Surat Ijin Praktik Dokter/Dokter gigi di Puskesmas lamteuba.

Penyerahanpsikotropikaolehdokterdilaksanakandalamhal :
a. menjalankan praktik terapi dan diberikan melalui suntikan;

b. menolong orang sakit dalam keadaan darurat;

c. menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek.

• Apabila dokter/dokter gigi tidak dapat menjalankan tugasnya di bidang pengobatan


karena sesuatu hal (misal: menghadiri rapat), maka tugas pengobatan dan pemberian
resep didelegasikan kepada petugas pelayanan kesehatan yang memiliki pengetahuan
dan pengalaman tentang farmasi, yaitu perawat/perawat gigi/bidan yang bertugas
pada hari itu.
• Petugas yang berhak memberikan resep di kamar obat adalah petugas yang memiliki
kompetensi di bidang farmasi, yaitu:
• Apoteker
• AsistenApoteker, apabilatenagaapotekertidakada.
• PETUGAS YANG BERHAK MENYEDIAKAN OBAT

Penyediaan obat dan Pengelolaan Obat di Puskesmas lamteuba dilaksanakan oleh:

• Apoteker sesuai kompetensinya.


• Asisten Apoteker sesuai kompetensinya, apabila tenaga Apoteker tidak ada.
• Petugas kesehatan lain yang sesuai kompetensinya memiliki pengetahuan dan
pengalaman di bidang farmasi, yaitu: Perawat/Perawat gigi/Bidan.
• Apabila persyaratan petugas yang diberi kewenangan melaksanakan penyedian obat
tidak dapat dipenuhi, maka petugas tersebut harus mengikuti pelatihan khusus yang
diberikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang untuk melaksanakan tugas
manajemen kefarmasian

• PELATIHAN PETUGAS PENYEDIA OBAT YANG TIDAK SESUAI SYARAT

Apabila persyaratan petugas yang diberi kewenanganmelaksanakan penyedian


obat tidak dapat dipenuhi, maka petugas tersebut harus mengikuti pelatihan khusus
yang diberikan oleh penanggung jawab pengelola obat Puskesmas untukmelaksanakan
tugas penyediaan obat.

Pelatihan yang diberikan meliputi:

• Jenis obat dan penggolongannya

• Cara membaca resep

• Cara pemakaian dan aturan pakai obat

• Efek samping obat

• Penyampaian informasi cara pemakaian dan aturan pakai obat kepada pasien

• Cara merekap resep harian

• PERESEPAN, PEMESANAN DAN PENGELOLAAN OBAT

• PERESEPAN

• Penulisan Resep
Peresepan adalah proses pesanan atau permintaan obat tertulis dari dokter,
dokter gigi, dan praktis ilainnya yang berijin kepada pengelola obat di Puskesmas
lamteuba untuk menyediakan atau membuatkan obat dan menyerahkannya kepada
pasien. Resep merupakan sarana komunikasi professional antara dokter, penyedia
Obat dan pasien (pengguna obat). Isi resep merupakan refleksi dari proses
pengobatan. Untuk itu, agar obat berhasil, resep harus rasional.

Kriteria resep yang tepat, aman dan rasional yaitu:


• Tepat obat sesuai dengan diagnosis penyakitnya.
• Tepat indikasi penyakit.
• Tepat pemilihan obat.
• Tepat dosis.
• Tepat cara pemberian obat.
• Tepat pasien.

Bahasa dalam penulisan resep menggunakan Bahasa latin yang sudah


digunakan sebagai Bahasa ilmu kesehatan karena Bahasa latin tidak mengalami
perubahan (statis), sehingga resep obat yang ditulis dalam Bahasa latin tidak akan
terjadi salah tafsir.
Penulisan resep yang baik harus lengkap dan jelas. Dalam resep untuk pasien
rawat jalan dan rawat inap di Puskesmas lamteuba harus tercantum:
• Tanggal penulisan resep.
• Nama pasien.
• Umur pasien.
• Alamat pasien.
• Diagnosis penyakit.
• Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan obat.
• Nama obat, jumlah dan dosis obat yang diberikan per oral.
• Nama obat, jumlah dan dosis obat yang diberikan parenteral pada kolom
suntikan.
• Tanda tangan dan nama terang petugas penulis resep.
• Tanda seru dan paraf penulis resep untuk resep yang mengandung obat yang
jumlahnya melebihi dosis maksimum.
• Kode pasien Umum, Askes dan Askes PNS.

• Penyiapan Obat

Petugas farmasi yang bertugas menyediakan obat yang diresepkan oleh


dokter atau praktisi lain yang berizin harus memahami isi resep dan
memperhatikan:

• Nama obat
• Jenis dan bentuk sediaan obat

• Nama dan umur pasien

• Dosis

• Cara pemakaian dan aturan pemberian

• Menanyakan kepada penulis resep apabila tulisan tidak jelas

• Konsultasi alternatif obat kepada penulis resep apabila obat yang dimaksud
tidak tersedia

• Penggunaan sendok atau spatula pada saat mengambil obat dari tempatnya

• Pemasangan etiket / label obat pada kemasan obat

• Penyerahan Obat

Petugas farmasi yang bertugas menyediakan obat yang diresepkan oleh


dokter atau praktisi lain yang berizin harus memperhatikan:

• Pengecekan akhir pada identitas pasien dan isi resep

• Pemberian obat melalui loket

• Penerima obat adalah pasien atau keluarga pasien

• Pemberian informasi tentang cara pemakaian, aturan pakai dan efek samping
obat kepada pasien atau keluarga pasien.

• PEMESANAN OBAT

Sumber penyediaan obat di Puskesmas lamteuba berasal dari Dinas


Kesehatan Kabupaten Tangerang. Obat yang diperkenankan untuk disediakan di
Puskesmas lamteuba adalah obat – obat yang tercantum dalam DOEN yang telah
ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.
Permintaan obat untuk mendukung pelayanan obat di Puskesmas
lamteuba diajukan oleh Kepala Puskesmas lamteuba kepada Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten Tangerang dengan menggunakan format LPLPO, sedangkan
permintaan dari sub unit ke Kepala Puskesmas dilakukan secara periodik
menggunakan LPLPO sub unit.
Tujuan dari permintaan obat adalah untuk memenuhi kebutuhan obat di
Puskesmas lamteuba sesuai dengan pola penyakit yang ada di wilayah Kecamatan
lamteuba.
Kegiatan – kegiatan yang dilaksanakan dalam permintaan obat antara lain:
• Menentukan jenis permintaan obat
• Permintaan Rutin
Dilakukan sesuai dengan jadwal yang disusun oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten Tangerang untuk Puskesmas lamteuba.
• Permintaan Khusus
Dilakukan di luar jadwal distribusi rutin apabila:
• kebutuhan meningkat
• terjadi kekosongan
• ada KLB atau Bencana

• Menentukan jumlah permintaan obat


Data yang diperlukan antara lain:
• Data pemakaian obat periode sebelumnya.
• Jumlah kunjungan resep.
• Jadwal distribusi obat dari Gudang Farmasi Kabupaten Tangerang.
• Sisa Stok.

• Menghitung kebutuhan obat dengan cara:

Jumlah untuk periode yang akan datang diperkirakan sama dengan pemakaian
pada periode sebelumnya.

SO = SK + SWK + SWT + SP

Sedangkan untuk menghitung permintaan obat dapat dilakukan dengan menggunakan


rumus:

Permintaan = SO - SS

Keterangan:
SO= Stok Optimum
SK= Stok Kerja (stok pada periode berjalan)
SWK = Jumlah yang dibutuhkan pada waktu kekosongan obat
SWT = Jumlah yang dibutuhkan pada waktu tunggu (Lead Time)
SP = StokPenyangga
SS = SisaStok

Stok Kerja Pemakaian rata – rata periode distribusi.


Waktu Lamanya kekosongan obat dihitung dalam hari.
Kekosongan
WaktuTunggu Dihitung mulai dari permintaan obat oleh Puskesmas lamteuba
sampai dengan penerimaan obat di Puskesmas lamteuba.
StokPenyangga Persediaan obat untuk mengantisipasi terjadinya peningkatan
kunjungan, keterlambatan kedatangan obat. Besarnya ditentukan
berdasarkan kesepakatan antara Puskesmas dan Gudang Farmasi
Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh besar.
SisaStok Sisa obat yang masih tersedia di Puskesmas lamteuba pada akhir
periode distribusi.
Stok Optimum Stok ideal yang harus tersedia dalam waktu periode tertentu agar
tidak terjadi kekosongan.

• PENGELOLAAN OBAT

Obat dan perbekalan kesehatan hendaknya dikelola secara optimal untuk


menjamin tercapainya tepat jumlah, tepat jenis, tepat penyimpanan, tepat waktu
pendistribusian, tepat penggunaan dan tepat mutunya di tiap unit pelayanan
kesehatan.

Pengelolaan obat publik dan perbekalan kesehatan meliputi kegiatan:

• perencanaan dan permintaan,

• penerimaan,

• penyimpanan dan distribusi,

• pencatatan dan pelaporan serta

• supervisi dan evaluasi pengelolaan obat.

• PENANGANAN OBAT KEDALUWARSA / RUSAK


Tujuan dilaksanakannya penanganan obat rusak adalah untuk melindungi pasien
dari efek samping penggunaan obat rusak/kadaluwarsa.
Dalam menangani obat rusak/kadaluwarsa, maka langkah – langkah yang harus
dilakukan adalah:
• Petugas pengelola obat mengumpulkan obat rusak dalam gudang obat.
• Obat yang rusak/kadaluwarsa dikurangkan dari catatan sisa stok pada Kartu Stok
oleh petugas pengelola obat.
• Petugas pengelola obat melaporkan obat rusak/kadaluwarsa kepada Kepala
Puskesmas.
• Kepala Puskesmas melaporkan dan mengirimkan kembali obat rusak/kadaluwarsa
kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang.

• PENYIMPANAN OBAT
Penyimpanan Obat merupakan suatu kegiatan pengaturan terhadap Obat yang diterima
agar aman (tidakhilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya
tetap terjamin, sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
Tujuannya adalah agar mutu obat yang tersedia di puskesmas dapat dipertahankan
sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.
Penyimpanan Obat dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
• Bentuk dan jenis sediaan;

• stabilitas (suhu, cahaya, kelembaban);

• mudah atau tidaknya meledak/terbakar; dan

• narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari khusus.

• PENANGANAN OBAT RUSAK DAN KADALUWARSA


Tujuan dilaksanakannya penanganan obat rusak adalah untuk melindungi pasien dari
efek samping penggunaan obat rusak/kadaluwarsa.
Dalam menangani obat rusak/kadaluwarsa, maka langkah – langkah yang harus
dilakukan adalah:
• Petugas pengelola obat mengumpulkan obat rusak dalam gudang obat.
• Obat yang rusak/kadaluwarsa dikurangkan dari catatan sisa stok pada Kartu Stok
oleh petugas pengelola obat.

• Petugas pengelola obat melaporkan obat rusak/kadaluwarsa kepada Kepala


Puskesmas.
• Kepala Puskesmas melaporkan dan mengirimkan kembali obat rusak/kadaluwarsa
kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang.
• Petugas pengelola obat melaporkan obat rusak/kadaluwarsa kepada Kepala
Puskesmas.
• Kepala Puskesmas melaporkan dan mengirimkan kembali obat rusak/kadaluwarsa
kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang.

• PENCATATAN, PEMANTAUAN DAN PELAPORAN EFEK SAMPING OBAT


(ESO)

Merupakan kegiatan pencatatan, pemantauan setiap respon terhadap Obat yang


merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang digunakan pada
manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi atau memodifikasi fungsi
fisiologis.

Tujuan:

• Menemukan efek samping Obat sedini mungkin terutama yang berat,tidak dikenal
dan frekuensinya jarang.

• Menentukan frekuensi dan insidensi efek samping Obat yang sudah sangat dikenal
atau yang baru saja ditemukan.

Kegiatan:

• Mencatat laporan adanya efek samping obat.

• Menganalisis laporan efek samping Obat.

• Mengidentifikasi Obat dan pasien yang mempunyai resiko tinggi mengalami


efek samping Obat.

• Mengisi formulir Monitoring Efek SampingObat (MESO).

• Melaporkan ke Pusat Monitoring Efek Samping Obat Nasional.


Faktor yang perlu diperhatikan:
• Kerjasama dengan tim kesehatan lain.

• Keter sediaan formulir Monitoring Efek Samping Obat.

You might also like