You are on page 1of 22

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGUE HEMORAGIC FEVER (DHF)

OLEH :
MERI APRIYANTO
NIM: 2023207209102

PROGRAM STUDI PROFESI NERS KEPERAWATAN


FAKULTAS KESEHATANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
PRINGSEWU LAMPUNG
2023
LAPORAN PENDAHULUAN

DENGUE HEMORAGIC FEVER (DHF)

A. Konsep Dengue Hemoragic Fever

1. Pengertian

Dengue Hemoragic Fever atau Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah

penyakit demam akut akibat infeksi virus dengue, dengan manifestasi yang

sangat bervariasi, mulai dari demam akut hingga sindrom renjatan yang

dapat menyebabkan mordalitas (Nurarif & Kusuma, 2015).

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang

ditemukan di daerah tropis, dengan penyebarang geografis yang mirip

dengan malaria. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari 4 serotipe

virus dari genus Flavivirus, famili Flafifiridae. Setiap serotipe cukup

berbeda sehingga tidak ada proteksi silang dan wabah yang disebabkan

oleh beberapa serotipe (hiperendemistas) dapat terjadi. Demam berdarah

disebarkan pada kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti (Tosepu,

2016).

2. Klasifikasi

Klasifikasi DBD menurut WHO dalam Nurarif & Kusuma (2015) adalah

sebagai berikut :
3

a. Derajat 1

Demam secara terus menerus disertai menggigil, pada pemeriksaan

torniquet atau uji bendung positif dan disaat dilakukan pemeriksaan

laboratorium didapatkan hasil trombisit mengalami penurunan

sedangkan hematokrit meningkat.

b. Derajat 2

Tanda dan gejala sama seperti derajat 1, selain itu ditemukan adanya

perdarahan pada gusi, ptekie, perdarahan pada lambung yang dapat

mengakibatkan melena dan muntah darah.

c. Derajat 3

Ditemukan tanda kegagalan sirkulasi, nadi cepat dan lambat, tekanan

dan menurun (<20 mmHg) ata hipotensi disertai kulit dingin, lembab

dan pasien menjadi gelisah.

d. Derajat 4

Syok berat, nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur.

3. Etiologi

Penyakit demam dengue (DD) dan demam berdarah dengue (DBD)

disebabkan oleh virus dengue yang termasuk kelompok B Arthood Borne

Virus (Arboviroses) yang sekarang dikenal sebagai Flavivirus, family

Flaviricae,dan mepunyai 4 jenis serotype yaitu : DEN-1, DEN-2,DEN-

3,DEN-4. Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi terhadap

serotipe yang bersangkutan, sedangkan antibodi terhadap serotipe lain.

Serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan diasumsikan

banyak yang menunjukkan manifestasi klinik yang berat. Dengan DEN-3


4

serotipe terbanyak, infeksi salah satu serotipe yang bersangkutan,

sedangkan antibody yang terbentuk terhadap serotipe lain sangat kurang,

sehingga tidak dapat memberkan perlindungan yang memadai terhadap

serotipe lain tersebut. Seseorang yang tinggal di daerah epidemis dengue

dapat terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama hidupnya. Keempat serotipe

virus dengue dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia (Nurarif &

Kusuma, 2016).

4. Faktor Resiko DHF

Faktor resiko terjadinya DHF menurut Tosepu (2016) adalah sebagai

berikut :

a. Sanitasi Lingkungan

Kondisi lingkungan yang buruk seperti semak-semak yang tidak

dipotong dandibersihkan, terdapat badan air (sungai) yangditumpuki

oleh sampah, banyak tanah lapangyang digunakan untuk menumpuk

sampah,banyak kandang-kandang hewan peliharaan(sapi dan kambing)

di belakang rumah yangtidak dirawat pembuangan air limbah kurang

baik.Buruknya kondisi sanitasi lingkungan tersebutberpotensi menjadi

tempat feeding habbit,resting habbit, dan breeding habbit

nyamukaedes sp.

b. Perilaku Pengendalian Jentik dan nyamuk

Pengendalian jentik dan nyamukmerupakan perilaku yang dilakukan

untukmencegah, mengontrol, dan menghilangkanjentik dan nyamuk

melalui berbagai metode(termasuk 3M plus.


5

c. Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk memiliki hubungan yang erat dengan terjadinya

kejadian penyakit DBD dimana wilayah yang padat penduduk

memudahkan terjadinya penularan penyakit DBD.

d. Lingkungan Fisik

Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap penyebaran kasus DBD

antara lain: faktor lingkungan fisik (kepadatan rumah, keberadaan

kontainer, suhu, kelembaban), faktor lingkungan biologi (keberadaan

tanaman hias, pekarangan, keberadaan jentik nyamuk). Beberapa

penelitian menunjukkan bahwa pada suhu 28-32oC dengan

kelembaban yang tinggi, nyamuk Aedes sp. akan tetap bertahan hidup

untuk jangka waktu yang lama.

e. Lingkungan Biologi

Keberadaan vegetasi di sekitar rumah merupakan faktor risiko kejadian

DBD dimana keberadaan vegetasi di dalam maupun luar rumah

mempunyai 6 kali risiko untuk terkena DBD daripada mereka yang

tidak mempunyai vegetasi di dalam ataupun di luar rumahnya.

Berdasarkan penelitian ini, semak-semak yaitu tanaman perdu yang

daunnya saling menutupi antara satu dan lainnya sehingga tidak

memungkinkan cahaya matahari jatuh dan menyebabkan kelembapan

tinggi. Semak-semak menjadi resting place alami nyamuk yang berada

di sekitar rumah akan memperbesar peluang untuk nyamuk Aedes

aegypti untuk menjangkau lingkungan rumah dan host (manusia)


6

sehingga dapat meningkatkan kejadian DBD.

f. Perilaku Manusia

Pakaian yang menggantung dalam ruangan merupakan tempat yang

disenangi nyamuk Ae. aegypti untuk beristirahat setelah menghisap

darah manusia. Setelah beristirahat pada saatnya akan menghisap

darah manusia kembali sampai nyamuk tersebut cukup darah untuk

pematangan sel telurnya. Nyamuk Ae. aegypti menyukai aroma

keringat manusia. Karena itu ingat, pakaian bekas pakai bisa menjadi

tempat bersembunyi nyamuk demam berdarah.

g. Pelayanan kesehatan

Pelayanan publik penyuluhan kesehatan yang bersinergi dengan

stakeholder lain diantaranya tokoh agama dan pemerintah desa lebih

efektif dalam peningkatan layanan kesehatan melalui upaya preventif

penanggulangan Penyakit DBD.


7

5. Patofisiologi DBD

Nyamuk Aedes yang terinfeksi atau membawa virus dengue menggigit

manusia. Kemudian virus dengue masuk kedalam tubuh dan berdar dalam

pembuluh darah bersama darah. Virus kemudian bereaksi dengan antibody

yang mengakibatkan tubuh mengaktivasi dan melepaskan C3 dan C5.

Akibat dari pelepasan zat-zat tersebut tubuh mengalami demam, pegal dan

sakit kepala, mual, ruam pada kulit. Pathofisiologi primer pada penyakit

DHF adalah meningkatnya permeabilitas membran vaskuler yang

mengakibatkan kebocoran plasma sehingga cairan yang ada diintraseluler

merembes menuju ekstraseluler. Tanda dari kebocoran plasma yakni


8

penurunan jumlah trombosit, tekanan darah mengalami penurunan,

hematokrit meningkat. Pada pasien DHF terjadi penurunan tekanan darah

dikarenakan tubuh kekurangan hemoglobin, hilangnya plasma darah

selama terjadinya kebocoran (Kardiyudiana, 2019).

6. Manifestasi Klinik

Diagnosis DBD dapat ditegakkan bila ditemukan manifestasi berikut:

a. Demam 2–7 hari yang timbul mendadak, tinggi, terus-menerus

b. Adanya manifestasi perdarahan baik yang spontan seperti petekie,

purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan atau

melena, maupun berupa uji tourniquet positif.

c. Trombositopnia (Trombosit ≤ 100.000/mm³)

d. Adanya kebocoran plasma (plasma leakage) akibat dari peningkatan

permeabilitas vaskular yang ditandai salah satu atau lebih tanda

berikut: Peningkatan hematokrit/hemokonsentrasi ≥ 20% dari nilai

baseline atau penurunan sebesar itu pada fase konvalesens Efusi

pleura, asites atau hipoproteinemia/hipoalbuminemia (Nuraraif &

Kusuma, 2015).

7. Pemeriksaan Penunjang

Price and Wilson (2016) berpendapat, pada pemeriksaan laboratorium

pada pasien DHF didapatkan hasil :

a. Penurunan jumlah trombosit (normalnya 100.000/mm3).


9

b. Hemoglobin dan hematokrit mengalami peningkatan 20% dari nilai

normal.

c. Terjadi penurunan leukosit atau dalam batas normal

8. Komplikasi

Komplikasi DHF menurut Smeltzer dan Bare (2012) adalah perdarahan,

kegagalan sirkulasi, Hepatomegali, dan Efusi pleura.

a. Perdarahan

Perdarahan pada DHF disebabkan adanya vaskuler, penurunan jumlah

trombosit (trombositopenia)

b. Kegagalan sirkulasi

Dengue Sindrom Syok (DSS) biasanya terjadi sesudah hari ke 2–7,

disebabkan oleh peningkatan permeabilitas vaskuler sehingga terjadi

kebocoran plasma, efusi cairan serosa ke rongga pleura dan

peritoneum, hipoproteinemia, hemokonsentrasi dan hipovolemi yang

mengakibatkan 26 berkurangnya aliran balik vena (venous return),

prelod, miokardium volume sekuncup dan curah jantung, sehingga

terjadi disfungsi atau kegagalan sirkulasi dan penurunan sirkulasi

jaringan

c. Hepatomegali

Hati umumnya membesar dengan perlemahan yang berhubungan

dengan nekrosis karena perdarahan, yang terjadi pada lobulus hati dan

sel sel kapiler. Terkadang tampak sel netrofil dan limposit yang lebih
10

besar dan lebih banyak dikarenakan adanya reaksi atau kompleks virus

antibody.

d. Efusi pleura

Efusi pleura karena adanya kebocoran plasma yang mengakibatkan

ekstravasasi aliran intravaskuler sel hal tersebut dapat dibuktikan

dengan adanya cairan dalam rongga pleura bila terjadi efusi pleura

akan terjadi dispnea, sesak napas.

9. Penatalaksanaan

Pasien DHF akan mengalami beberapa masalah keperawatan yang

muncul. Masalah yang muncul dapat ditemukan pada saat pengkajian.

Pada umumnya masalah yang ada pada pasien DHF yakni demam tinggi

disertai menggigil. Pada pasien demam dapat dilakukan pemberian

kompres hangat untuk menurunkan demam. Selain itu pasien DHF juga

mengalami kekurangan volume cairan dikarenakan demam karena

pindahnya cairan interavaskuler ke ekstravaskuler. Pada pasien DHF yang

mengalami kekurangan volume cairan, tindakan keperawatan yang dapat

dilakukan yaitu mengganti cairan yang hilang dengan meningkatkan

asupan secara oral misalnya makan dan minum air yang cukup, pemberian

oralit serta pemberian cairan secara parenteral (Jannah, 2019).


11

B. Konsep Asuhan Keperawatan pada Klien dengan DHF

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan pengumpulan informasi subjektif dan objektif, dan

peninjauan informasi riwayat pasien pada rekam medik. Informasi

subjektif, misalnya dengan wawancara pasien/ keluarga. Sedangkan

informasi objektif, misalnya dengan pengukuran tanda-tanda vital dan

pemeriksaan fisik (Herdman, 2015) . Data yang perlu dikaji yaitu:

a. Pengumpulan Data

1) Identitas

a) Umur

DHF paling sering menyerang anak-anak dengan usia kurang

dari 15 tahun.

b) Jenis kelamin

Secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan pada penderita

DHF. Tetapi kematian lebih sering ditemukan pada perempuan

dari pada anak laki-laki.

c) Tempat tinggal

Penyakit ini semula hanya ditemukan di beberapa kota besar

saja, kemudian menyebar kehampir seluruh kota besar di

Indonesia, bahkan sampai di pedesaan dengan jumlah

penduduk yang padat dan dalam waktu relatif singkat


12

2) Keluhaan Utama

Alasan atau keluhan yang menonjol pada pasien DHF datang

kerumah sakit adalah panas tinggi dan pasien lemah.

3) Riwayat Penyakit Sekarang

Didapatkan adanya keluhan panas mendadak dengan disertai

menggigil dan saat demam kesadaran kompos mentis. Turunya

panas 28 terjadi antara hari ke-3 dan ke-7, kondisi semakin lemah.

Kadang-kadang disertai keluhan batuk pilek, nyeri telan, mual,

muntah, anoreksia, diare atau konstipasi, sakit kepala, nyeri otot

dan persendian, nyeri ulu hati dan pergerakan bola mata terasa

pegal, serta adanya manifestasi perdarahan pada kulit, gusi (grade

III, IV), melena atau hematemasis

4) Riwayat Penyakit Terdahulu

a) Penyakit apa saja yang pernah diderita. Pada DHF biasanya

mengalami serangan ulangan DHF dengan type virus yang

lain.

b) Kondisi lingkungan Sering terjadi pada daerah yang padat

penduduknya dan lingkumgan yang kurang bersih (seperti

yang mengenang dan gantungan baju yang ada kamar).

5) Pola Kebiasaan Sehari-hari

Riwayat aktifitas yang biasa dilakukan sehubungan dengan adanya

nyeri dada sebeleh kiri dan sesak nafas.


13

6) Pemeriksaan Fisik

a) Keadaan Umum

Keadaan umum lansia yang mengaalami gangguan

kardiovaskuler biasanya melemah

b) Kesadaran

Kesadaran klien biasanya composmentis, apatis sampai

somnolen

c) Tanda-tanda vital

1) Terdiri dari pemeriksaan : suhu normalnya 37O C

2) Nadi meningkat (N : 70-82x/menit)

3) Tekanan darah meningkat atau menurun

4) Pernafasan biasanya menglami peningkatan

d) Pemeriksaan review of System (ROS)

1) Sistem Pernafasan (B1 : Breathing)

Dapat ditemukan sesak nafasa, sesak waktu beraktifitas,

peningkata frekensi pernafasan, penggunaan otot bantu

pernafasan dan adanya gangguan pernafasan.

2) Sistem Sirkulasi (B2 : Bleeding)

Kaji adanya penyakit jantung, frekuensi nadi apikal,

sirkulasi perifer, warna dan kehangatan, periksa adanya

distensi vene jugularis.


14

3) Sistem Persyarafan (B3 : Brain)

Kaji adanya hilangnya gerakan/sensasi, spasme otot.

Pergerakan mata/kejalasan melihat di atas pupil. Agitasi

(mungkin berhubungan dengan nyeri/ansietas).

4) Sistem Perkemihan (B4 : Bleder)

Peruabahn pola berkemih, seperti inkonsistensial urine,

disuria, distensi kandung kemih, warna bau urine dan

kebersihannya.

5) Sistem Pencernaan (B5 : Bowel)

Konstipasi, konsinsten feses, frekuensi eliminasi, asukultasi

bising usus, anoreksia, adanya distensi abdomen dannyeri

tekan abdomen.

6) Sistem Muskuloskeletal (B6 : Bone)

Nyeri berart tiba-tiba/mungkisn terlokalisasi pada area

jaringan dapat berkurang dengan imobilisasi, kontraktur

otot, laserasi kulit dan perubahan warna.

7) Pola Fungsi Kesehatan

a) Pola Persepsi dan tatalaksana hidup

Menggambarkan persepsi, pemeliharanan dan penanganan

kesehatan.
15

b) Poal Nutrisi

Menggambarkan masukan nutrisi, balance cairan dan elektrolit,

nafsu makan, pola makan, diet, kesulitan menelan,

mual/muntah dan makanan kesukaan

c) Pola elimianasi

Menjelaskan pola fungsi ekskresi, kandung kemih, defekasi,

masalah nutrisa dan penggunana kateter

d) Pola Tidur dan Istirahat

Menggambarkan pola tidur, istirahat dan persepsi terhadap

energi, jumlah jam tidur pada siang dan malam, masalah tidur

dan insomnia.

e) Pola Aktifitas dan Istirahat

Menggambarkan pola latihan, aktifitas, fungsi pernafasan dan

sirkulasi, riwayat penyakit jantung, frekuensi, irama dan

kedalaman pernafasan.

f) Pola Hubungan dan peran

Menggambarkan dan mengetahui hubungan dan peran klien

terhadap anggota keluarga dan masyarajat tempat tinggal,

pekerjaan, tidak punya rumah, dan masalah keuangan.

g) Pola Sensosi dan Kognitif

Menjelaskan persepsi sensori dan kognitif. Pola persepsi

sensosi meliputi pengkajian pengelihatan, pendengaran,

perasaan dan pembau.


16

h) Pola Persepsi dan Konsep diri

Menggambarkan sikap tentang diri sendiri dan persepsi

terhadap kemampuan konsep diri. Konsep diri menggambarkan

gambaran diri, harga diri, pernan dan identitas diri.

i) Pola Seksual dan Reproduksi

Menggambarkan kepuasan/masalah terhadap seksualitas

j) Pola mekanisme penanggulangan stress dan koping

Menggambarkan kemampuan untuk menangani stress

k) Pola, nilai dan kepercayaan

Menggambarkan dan menjelaskan pola, nilai keyakinan

termasuk spiritual (Allen, 1998 dalam Aspiani, 2014).

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan pada pasien dengan DHF menurut Nurarif &

Kusuma (2015) adalah sebagai berikut :

a. Hipertermi berhubungan dengan viremia sekunder terhadap infeksi

dengue.

b. Defisit volume cairan berhubungan dengan berpindahnya cairan

intraseluler ke ekstraseluler (kebocoran plasma dari endotel), out put

berlebih karena muntah dan hipertermi.

c. Resiko perdarahan berhubungan dengan penurunan trombosit.

d. Resiko gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan suplai oksigen

dalam jaringan menurun.


17

e. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,

muntah, anoreksia

f. Nyeri akut berhubungan dengan proses patologis ditandai dengan:

nyeri, perilaku yang bersifat hati hati atau melindungi, wajah

menunjukkan nyeri, gelisah.

g. Cemas berhubungan dengan ketidaktahuan tentang penyakit, krisis

situasi proses penyakit dan hospitalisasi.

3. Rencana Keperawatan

Rencana keperawtaan yang akan dilakukan berdasarkan SDKI, SIKI dan

SLKI (2017) adalah sebagai berikut :

No. Diagnosa Tujuan dan Intervensi


Keperawatan Kriteria Hasil
1 Hipertermi Setalah dilakukan Manajemen
berhubungan asuhan keperawatan Hipertermia
dengan viremia klien selama 3 x 24
sekunder terhadap jam diharapkan Observasi
infeksi dengue. termoregulasi - Identifkasi penyebab
membaik, dengan hipertermi (mis.
kriteria hasil : dehidrasi terpapar
1. Menggigil lingkungan panas
menurun. penggunaan
2. Kulit merah incubator)
menurun. - Monitor suhu tubuh
3. Pucat menurun. - Monitor kadar
4. Suhu tubuh elektrolit
membaik. - Monitor haluaran
5. Suhu kulit urine
membaik. Terapeutik
6. Tekanan darah - Sediakan lingkungan
membaik yang dingin
- Longgarkan atau
lepaskan pakaian
18

- Basahi dan kipasi


permukaan tubuh
- Berikan cairan oral
- Ganti linen setiap
hari atau lebih sering
jika mengalami
hiperhidrosis
(keringat berlebih)
- Lakukan pendinginan
eksternal (mis.
selimut hipotermia
atau kompres dingin
pada dahi, leher,
dada,
abdomen,aksila)
- Hindari pemberian
antipiretik atau
aspirin
- Batasi oksigen, jika
perlu
Edukasi
- Anjurkan tirah baring
Kolaborasi
- Kolaborasi cairan dan
elektrolit intravena,
jika perlu
2 Resiko nutrisi Setelah diberikan Manajemen Nutrisi
kurang dari asuhan keperawatan
kebutuhan tubuh selama 1 x 45 menit Observasi.
berhubungan diharapkan status - Identifikasi status
dengan mual, nutrisi membaik nutrisi
muntah, anoreksia dengan kriteria hasil - Identitifikasi alergi
: dan intoleransi
1. Porsi makanan makanan
yang dihabiskan - Identifikasi makanan
meningkat yang disukai
2. Kekuatan otot - Identifikasi
pengunyah kebutuhan kalori dan
meningkat jenis nutrient
3. Kekuatan otot - Identifikasi perlunya
19

menelan penggunaan selang


meningkat nasogastric
4. Serum albumin - Monitor asupan
meningkat makana
5. Verbalisasi - Monitor berat badan
keinginan untuk - Monitor hasil
meningkatkan pemeriksaan
nutrisi meningkat laboratorium
6. Pengetahuan Terapeutik
tentang pilihan - Lakukan oral
makanan yang hygiene sebelum
sehat meningkat makan, jika perlu
7. Pengetahuan - Fasilitasi
tentang standard menentukan
asupan nutrisi pedoman diet (mis.
Piramida makanan)
- Sajikan makanan
secara menarik dan
suhu yang sesuai
- Berikan makanan
yang tinggi serat
untuk mencegah
konstipasi
- Berikan makanan
tinggi kalori dan
tinggi protein
- Berikan suplemen
makanan, jika perlu
- Hentikan pemnerian
makanan melalui
selang nasogastric
jika asupan oral
dapat ditoleransi
Edukasi
- Anjurkan posisi
duduk, jika mampu
- Ajarkan diet yang
diprogramkan
Kolaborasi
- Kolaborasi
20

pemberian medikasi
sebelum makan (mis.
Pereda
nyeri,antiemetic),
jika perlu
- Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk
menentukan jumlah
kalori dan jenis
nutrient yang
dibutuhkan, jika
perlu
3. Risiko Perdarahan Setelah dilakukan Pencegahan
intervensi Perdarahan
keperawatan selama
3 x 24 jam, maka Observasi
tingkat perdarahan - Monitor tanda dan
menurun, dengan gejala perdarahan
kriteria hasil: - Monitor nilai
1. Kognitif hematokrit/hemoglo
meningkat bin sebelum dan
2. Hemoglobin setelah kehilangan
membaik darah
3. Hematokrit - Monitor tanda-tanda
membaik vital ortostatik
- Monitor koagulasi
(mis: prothrombin
time (PT), partial
thromboplastin time
(PTT), fibrinogen,
degradasi fibrin
dan/atau platelet)
Terapeutik
- Pertahankan bed rest
selama perdarahan
- Batasi tindakan
invasive, jika perlu
- Gunakan kasur
pencegah decubitus
- Hindari pengukuran
suhu rektal
Edukasi
- Jelaskan tanda dan
gejala perdarahan
21

- Anjurkan
menggunakan kaus
kaki saat ambulasi
- Anjurkan
meningkatkan
asupan cairan untuk
menghindari
konstipasi
- Anjurkan
menghindari aspirin
atau antikoagulan
- Anjurkan
meningkatkan
asupan makanan dan
vitamin K
- Anjurkan segera
melapor jika terjadi
perdarahan
Kolaborasi
- Kolaborasi
pemberian obat
pengontrol
perdarahan, jika
perlu
- Kolaborasi
pemberian produk
darah, jika perlu
- Kolaborasi
pemberian pelunak
tinja, jika perlu
DAFTAR PUSTAKA

Arsyad. R. M., Nabuasa, E. & Ndoen, E. M. 2020. Hubungan antara perilaku


sanitasi lingkungan dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di
Wilayah Kerja Puskesmas Tarus. Media Kesehatan Masyarakat Vol. 2,
No. 2, 2020, Hal. 15-23

Hadriyati, A., Marisdayana, R & Ajizah. 2016. Hubungan Sanitasi Lingkungan


Dan Tinda- kan 3M+ Terhadap Kejadian DBD. Journal. Endurance

Kardiyudiana, Ketut, N., & Susanti, B. A. 2019. Keperawatan Medikal Bedah 1.


Yogyakarta: PT. Pustaka Baru.

Nurarif. A. H. & Kusuma. H. 2015. APLIKASI Asuhan Keperawatan


Berdasarkan. Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta:
MediAction

PPNI. 2018. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi dan Indikator


Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI.

PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta: Dewan


Pengurus PPNI.

PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia Definisi dan Indikator


Diagnostik. Jakarta: Dewan Pengurus PPNI.

Price, S. A. & Wilson, L. M. 2016. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses- Proses


Penyakit. Jakarta : EGC.

Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. 2015. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Brunner & Suddarth. Jakarta : EGC.

Tosepu, R. 2016. Epidimiologi Lingkungan Teori dan Aplikasi. Jakarta: Bumi

You might also like