Nama : Adhi Nugroho Nim : 1550407054

PENGARUH KONSEP DIRI TERHADAP KECEMASAN DALAM MENGHADAPI DUNIA KERJA PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR

Latar Belakang
Di negara Indonesia pada dekade ini khususnya dalam bidang lapangan kerja membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas agar perusahaan dapat bersaing dan berkembang dengan pesat. Dengan tuntutan kriteria tenaga kerja yang terus meningkat dari tahun ke tahun,maka persaingan untuk mendapatkan pekerjaan bagi para pencari kerja juga semakin berat. Pendidikan minimal yang harus ditempuh oleh para pencari kerja pada saat ini, minimal mereka harus S1 dengan IPK minimal 2,75 bahkan beberapa perusahaan menghendaki IPK minimal 3,00. Walaupun para pencari kerja telah memenuhi kriteria tersebut, namun kenyataannya dengan begitu besarnya orang yang ingin mendapatkan pekerjaan dan terbatasnya lapangan kerja, maka terjadi ketimpangan dan munculah pengangguran. Dengan kenyataan begitu banyaknya para lulusan perguruan tinggi jenjang strata 1 yang menganggur tersebut, maka timbullah suatu fenomena kecemasan pada para mahasiswa tingkat akhir yang hampir menyelesaikan studinya. Kecemasan ini merupakan dampak psikologis dari ketidak jelasan nasib mereka setelah lulus nanti. Kecemasan merupakan salah satu emosi yang paling menimbulkan stress yang dirasakan oleh banyak orang. Kadang-kadang kecemasan juga disebut

jantung yang semakin meningkat dsb. Setiap orang pasti pernah mengalami kecemasan pada saat-saat tertentu. 1983:110) kecemasan merupakan ketakutan terpusat pada sebuah object seperti emosi yang menimbulkan suatu reaksi seperti kegelisahan. kecemasan ini memiliki bayangan bahwa ada bahaya yang mengancam dalam suatu aktivitas dan obyek. Kecemasan juga memiliki orientasi di masa depan.dengan ketakutan atau perasaan gugup. 406:2001). Menurut Branca. Kecemasan ini dibutuhkan agar individu dapat mempersiapkan diri menghadapi peristiwa buruk yang mungkin akan terjadi. para mahasiswa tingkat akhir mengalami kecemasan terhadap bagaimana mereka memperoleh pekerjaan setelah lulus. Atkinson (1990:6) kecemasan adalah emosi yang tidak menyenangkan dan ditandai dengan dengan istilah-istilah seperti kehawatiran. Dalam hal ini. Dari beberapa uraian diatas. Kecemasan merupakan respon emosional yang tidak menentu terhadap suatu obyek yang tidak jelas. artinya seseorang mengembangkan reaksi kecemasan terhadap hal-hal yang telah pernah dialami sebelumnya dan reaksi-reaksi yang telah dipelajari dari pengalamannya (Bellack & Hersen. Dalam teori Behavior dijelaskan bahwa kecemasan muncul melalui clasical conditioning. Ia melihat gejala itu ada.. Carlson (1992:201) menjelaskan kecemasan sebagai rasa takut dan antisipasi terhadap nasib buruk dimasa yang akan datang. 1988:284). hal tersebut mungkin saja terjadi karena individu merasa tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi hal yang mungkin menimpanya dikemudian hari. Seseorang mungkin memiliki bayangan bahwa ada bahaya yang mengancam dalam suatu obyek. Yang mana hal ini merupakan antisipasi emosi tindakan sebagai alat penekan. yang jika seseorang melihat gejala itu maka ia akan merasa cemas. ketakutan yang ditandai dengan tekanan darah. keprihatinan dan rasa takut yang kadang-kadang kita alami dalam tingkat yang berbeda. Menurut (Warga. sehingga ia merasa cemas. dan dengan tingkat yang berbeda-beda. 1964 (dalam John & Pervin. dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah suatu perasaan subyektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak .

Rogers mengenalkan 2 konsep lagi. 2003) juga memberikan pemaknaan tentang konsep diri sebagai keseluruhan persepsi seseorang terhadap aspek diri yang meliputi aspek fisik. yaitu Incongruence dan Congruence. Untuk mengatasi kecemasan tersebut. Perasaan yang tidak menentu tersebut pada umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan menimbulkan atau disertai disertasi perubahan fisiologis (misal gemetar. Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Shavelson dkk. mereka akan merasa gelisah dan tidak tenang dalam kesiapan mereka menghadapi dunia kerja. dan sejati. sosial. Sedangkan Congruence berarti situasi di mana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh. Verderber (dalam Sobur. tidak bisa berkonsentrasi). Konsep diri menurut Calhoun dan Acocella (1990) merupakan kumpulan persepsi seseorang terhadap dirinya sendiri. maupun psikologis. Tidak jauh berbeda dengan pendapat di atas. Brooks (dalam Rahmat. integral. Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin. mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. yang didasarkan pada pengalaman-pengalaman dan hasil dari interaksi dengan orang lain. tapi juga penilaian terhadap diri sendiri. dan aspek psikologis. Konsep diri menurut Rogers adalah kesadaran batin yang tetap. yang didasarkan pada pengalaman dan interaksi individu dengan . (dalam Vispoel. 1995) menjelaskan bahwa konsep diri merupakan persepsi individu terhadap dirinya sendiri yang terbentuk melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan orang lain. baik fisik. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak. Tidak hanya persepsi yang bersifat deskriptif. 2000) memaparkan bahwa konsep diri merupakan persepsi terhadap diri sendiri. tegang.adanya rasa aman. aspek sosial. berkeringat. Hal ini sesuai dengan kecemasan yang terjadi pada para mahasiswa tingkat akhir. dan hasil interpretasi dari pengalamanpengalaman yang didapatkannya tersebut. Senada dengan kedua tokoh tersebut. bingung. detak jantung meningkat) dan psikologis (misal panik. maka perlu adanya konsep diri yang baik dalam diri masing-masing individu.

akan berperilaku tidak mudah menyerah. percaya pada kemampuannya. dan senantiasa memiliki keinginan untuk mencoba pengalaman-pengalaman baru yang dianggap berguna. cenderung akan merasa gentar untuk menghadapi hal-hal baru.orang lain yang ada di sekitarnya. diharapkan para mahasiswa tingkat akhir tidak terlalu cemas dalam menghadapi dunia kerja dan selalu optimis bahwa mereka akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Sebaliknya. seseorang yang selalu menganggap dirinya tidak mempunyai kemampuan apa-apa. maka konsep diri tidak dapat diamati secara eksplisit seperti halnya perilaku dan ekspresi seseorang. Manifestasi konsep diri yang tercermin dalam pola reaksi seseorang. Manusia tidak akan pernah berhenti membutuhkan manusia lain untuk membantunya dalam membangun konsep diri yang lebih baik. dapat diamati dari reaksi yang relatif menetap pada pola perilaku seseorang. Misalnya seseorang yang memiliki pola perilaku optimis. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas. Dengan adanya konsep diri yang positif ini. Perilaku yang teramati dan kemudian merupakan pola perilaku individu ini merupakan cerminan konsep diri yang positif. penuh semangat dan vitalitas. “No man is an island (tak ada satu manusia pun yang mampu untuk hidup sendiri)”. di samping ketakutannya akan sebuah kegagalan. Maka tidaklah keliru jika filosof John Donne (dalam Parrott & Parrott. Jika kepribadian seseorang dapat diamati dari perilaku-perilakunya yang manifes dalam berbagai situasi. maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah: Apakah ada pengaruh antara konsep diri dengan kecemasan dalam menghadapi dunia kerja mahasiswa tingkat akhir ? . 2004). 2001) dengan ringkas mengatakan. Kondisi ini merupakan cerminan konsep diri yang negatif (Widodo & Rusmawati.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful