DINAMIKA DAN PROBLEMATIKA PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM DALAM KOMPETISI GLOBAL

Oleh : Hasbullah
Abstrak: Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional tidak bisa melepaskan diri dari perubahan paradigma baru perguruan tinggi yang saat ini sedang gencar terjadi. Dalam paradigma baru ini, kebijakan pengelolaan perguruan tinggi harus lebih terbuka, transparan, dan akuntabel. Saat ini PTAI menghadapi dua permasalahan serius, yakni kualitas lulusan yang dihasilkan dan sumbangan PTAI pada pengembangan ilmu agama Islam. Dalam konteks kualitas lulusan, kapasitas intelektual dan keilmuan para lulusan PTAI menunjukkan bahwa banyak dari para lulusan PTAI yang belum sanggup menjawab setiap permasalahan keagamaan yang berkembang di tengahtengah masyarakat. Masalah kedua di atas disebabkan karena geliat yang ada di dalam kampus saat ini lebih banyak yang bersifat politis daripada ilmiah. Selain itu, tradisi menulis karya ilmiah atau penelitian di kalangan kampus PTAI juga terkesan dipaksakan. Key Word: Tantangan, Mutu, dan PTAI

Pendahuluan Perkembangan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) secara kuantitatif dewasa ini mengalami peningkatan yang signifikan. Berdasarkan data yang dipublikasikan Direktorat Kelembagaan Agama Islam (Bagais) yang kini menjadi Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (DIKTIS), jumlah Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang semula hanya satu kini sudah mencapai 50 Institusi. PTAIN saat ini terdiri dari 6 Universitas Islam Negeri (UIN), 12 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan 32 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN).1 Adapun Perguruan Tinggi Agama Islam yang berstatus swasta (PTAIS), tercatat sebanyak 461 institusi yang tersebar di seluruh pelosok tanah air.2 Masing-masing institusi tersebut (UIN/IAIN/STAIN dan PTAIS) menyelenggarakan berbagai program studi. Program-program studi tersebut terdiri dari dua kelompok besar, yaitu Program Studi Ilmu-ilmu Keislaman dan Program Studi Ilmu-ilmu Umum.

1

Dalam perspektif perkembangan nasional dan global, pengembangan paradigma baru bagi Perguruan Tinggi di Indonesia merupakan suatu keniscayaan, sebagaimana dikemukakan di dalam “World Declaration on Higher Education for the Twenty-First Century,”3 dalam dunia yang tengah berubah sangat cepat, terdapat kebutuhan mendesak bagi adanya visi dan paradigma baru. Paradigma baru itu, mau tidak mau, melibatkan reformasi besar yang mencakup perubahan kebijakan yang lebih terbuka, transparan, dan akuntabel. Dengan reformasi dan perubahan, diharapkan kepercayaan publik terhadap Perguruan Tinggi meningkat serta dapat memenuhi tuntutan masyarakat yang selalu berkembang. Salah satu tantangan zaman dewasa ini adalah arus globalisasi yang semakin deras, dimana kelangsungan hidup suatu bangsa akan dihadapkan pada kemampuan interaksi antarbangsa. Lebih jauh, globalisasi yang melanda saat ini selain membuka peluang-peluang besar untuk mengembangkan potensi juga merupakan tantangan bagaimana bisa eksis di tengah perubahan. Dampak langsung globalisasi adalah kemajuan ilmu pengatahun dan teknologi. Perkembangan bidang ini terus berlangsung bahkan pada abad ke-21 ini telah terjadi loncatan penting. Proses globalisasi juga memunculkan perkembangan dalam industri. Perkembangan industri menuntut penemuan dan inovasi-inovasi baru bagi produk industri; kehadiran laboratorium-laboratorium bagi penelitian hasil-hasil temuan teknologi untuk dipasarkan; tuntutan kehadiran para ilmuwan yang mempunyai kemampuan berpikir analitik dan saintifik; serta kemampuan riset dari yang sederhana ke yang kompleks. Kemampuan untuk terus berinovasi semacam itu jelas memerlukan jawaban konkret dari dunia pendidikan. Tantangan zaman modern jelas menuntut respon yang tepat dari sistem pendidikan secara keseluruhan, termasuk pendidikan Islam. Jika masyarakat Indonesia – khususnya masyarakat Muslim – tidak hanya ingin sekedar survive di tengah persaingan global yang semakin tajam dan ketat, tetapi juga berharap mampu tampil di depan, maka reorientasi pemikiran mengenai pendidikan dan restrukturisasi sistem dan kelembagaan jelas merupakan keniscayaan. Cara pandang yang menganaktirikan ilmu pengetahuan dan teknologi tampak tidak bisa

2

dipertahankan lagi. Karena itu, upaya revitalisasi haruslah dilakukan secara komprehensif dan menyeluruh, baik pada tingkat konsep maupun penyelenggaraan. PTAI sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional juga tidak bisa melepaskan diri dari kondisi real di atas.4 Hal ini disebabkan, di PTAI juga terdapat dana publik yang ditarik dari masyarakat melalui sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP) dan yang dialirkan dari APBN. Dengan melakukan perubahan kebijakan yang lebih terbuka, transparan, dan akuntabel akan menunjukkan komitmen PTAI dalam menjaga amanat para orang tua dan pemerintah. Bila tidak, maka PTAI akan digilas oleh zaman dan semakin ditinggalkan oleh masyarakat. Dalam konteks kekinian, maka PTAI harus merespon tantangan yang ada dan menerapkan paradigma baru sesuai kebutuhan masyarakat. Dewasa ini, paradigma baru pendidikan tinggi pada dasarnya bertumpu pada tiga pilar utama, yakni; kemandirian dalam pengelolaan atau otonomi, akuntabilitas (accuntability), dan jaminan mutu (quality assurance).5 Kemajuan informasi dan teknologi telah membawa pengaruh besar kepada masyarakat, termasuk kebutuhan akan layanan pendidikan yang lebih profesional, berkualitas dan mampu memenuhi kebutuhan peserta didik. Dengan demikian lembaga pendidikan harus merespon perubahan tersebut dengan peningkatan kualitas layanan pendidikan yang lebih baik dan marketable.

Peran Perguruan Tinggi Islam Perguruan Tinggi Islam secara ideologis mengemban tugas dan fungsi mengejawantahkan visi Islam sebagai rahmatan lil’alamîn. Dari segi struktur kelembagaan, Perguruan Tinggi Islam berposisi sebagai pendulum dan mercusuar Islam yang menyinari black box problem kehidupan umat Islam. Para ilmuan dan teknokrat yang berkumpul di Perguruan Tinggi Islam – dalam bahasa sosiologi perubahan – merupakan minoritas elit yang bertanggungjawab atas fungsionalisasi Islam di tengah-tengah kebuntuan intelektual, ilmiah, dan teknologis, yang telah memerosotkan umat Islam ke jurang keterbelakangan, ketertindasan, kemiskinan, dan kebodohan. Pertanyaannya kemudian adalah perguruan tinggi seperti apa yang

3

mampu memerankan fungsi Islam seperti itu? Di sini kita harus merumuskan idealisme yang sejalan dengan kehendak besar Islam untuk membangun umat manusia yang berperadaban tinggi. Ali Syari’ati pernah menyatakan bahwa Islam adalah agama protes, yakni agama yang membentuk energinya yang sangat kuat untuk mendobrak kebuntuan-kebuntuan struktural dan kultural yang mengungkung kemajuan6. Perguruan tinggi Islam, yang memiliki tanggung jawab dan otoritas yang besar, haruslah memiliki keberanian untuk berubah dan menciptakan perubahan, termasuk memecah kebuntuan-kebuntuan seperti disebutkan di atas. Di sini, ilmu pengetahuan dan teknologi dapat merupakan alat pemecah kebuntuan yang paling ampuh. Dalam ilmu pengetahuan dan teknologi built-in energi dan kekuatan pemecah. ”Knowledge is power”, adalah jargon modernisme yang sampai sekarang masih dapat bertahan, bahkan dari desakan ideologi postmodern. Namun, dalam khazanah Islam, pertahanan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti bukanlah asing. Lima belas abad yang lalu Nabi mengungkapkan pernyataan perenialnya mengenai ilmu pengetahuan, yakni: ”Man arâdad-dunyâ fa’alayhi bil-ilmi, wa man arâdalâkhirata fa’alayhi bil-’ilmi, wa man arâdahumâ fa’alayhi bil’ilmi.” Perguruan-perguruan tinggi ternama di dunia adalah perguruan-perguruan tinggi yang berhasil memproduksi ilmu pengetahuan. Bahkan, negara-bangsa yang besar dunia ini adalah negara-bangsa yang kaya akan ilmu pengetahuan, yang sebagian besar dilahirkan oleh perguruan tinggi. Oleh karena itu, sudah merupakan imperasi, keharusan, bukan alternatif, bagi perguruan tinggi Islam untuk mengembangkan dan memproduksi ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan oleh masyarakat untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan hidupnya. Secara operasional, kerangka keilmuan perguruan tinggi Islam perlu dibangun sedemikian rupa relevan untuk mendukung kemajuan umat Islam. Boleh jadi, kerangka ilmu yang dibutuhkan oleh umat Islam tidak seperti yang telah diperkenalkan oleh ilmuan Barat kepada dunia Islam, sehingga kita – demikian juga para ilmuan muslim – ingin melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan7 (Islamization of knowledge) seperti diperjuangkan oleh Islamil Raji Al-Faruqi, Naquib Al-Attas, Hassan Bilgrami, Seyyed Hossein Nasr, Ziyauddin Sardar, dan lain-lain. Namun,

4

kita lebih mungkin mengembangkan kerangka keilmuan dan sistem pengetahuan yang berbasis Islam (Islam based-knowledge) dan pengetahuan berbasis masyarakat muslim (Muslim society based-knowledge)8. Hal ini karena tidak semua sistem pengetahuan dan teknologi dari Barat atau dari kubu pengetahuan mana pun relevan da dibutuhkan oleh umat Islam. Yang dibutuhkan oleh umat Islam adalah pengetahuan yang benar-benar dapat dipergunakan untuk memecahkan problem spesifiknya, yang sama status fungsionalnya dengan pengetahuan Barat yang memang sesuai dengan masyarakat Barat. Di sini kita dapat berbeda dengan teori Alex Inkeles yang membentuk perkembangan negara-negara dunia menuju kepada suatu arah peradaban, yaitu peradaban Barat yang maju dan terdepan. Kita harus memiliki keyakinan untuk dapat memebentuk peradaban sendiri, dengan basis atau paradigma yang berbeda, dan untuk menciptakan pola atau tipe kemajuan yang berbeda. Di sinilah umat Islam – kita harapkan melalui peran perguruan tinggi Islam – memasuki ”kompetisi peradaban” (dalam kerangka fastabiqul khayrât), dan umat Islam menunjukkan keunggulannya, yakni keunggulan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dan keunggulan dalam memberi manfaat yang lebih baik kepada umat manusia. Nabi membimbing kita dengan sabdanya: ”Khairun-nâs anfa’uhum lin-nâs!” Tak dapat dipungkiri bahwa kejayaan Islam di masa lalu merupakan kontribusi dari kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi di masanya. Masyarakat Muslim saat itu tidak hanya menguasai ilmu-ilmu agama (al-ulum al-naqliyyah) tetapi juga ilmu-ilmu umum (al-ulum al-aqliyyah). Al-ulumu al-naqliyyah adalah ilmu-ilmu yang disampaikan Tuhan melalui wahyu, tetapi melibatkan penggunaan akal, sementara al-ulum al-aqliyah adalah ilmu-ilmu intelek yang diperoleh hampir sepenuhnya melalui penggunaan akal dan pengalaman empiris. Keduanya terintegrasi dan tak terpisahkan satu sama lain, ibarat dua sisi dari mata koin.9 Sebaliknya, akar-akar keterbelakangan dan ketertinggalan Dunia Muslim dan masyarakatnya, khususnya dalam sains dan teknologi dapat dilacak dari lenyapnya berbagai cabang ilmu-ilmu aqliyah10 dari tradisi keilmuan pendidikan Muslim. Sementara itu, ketika masyarakat Muslim bangkit dan bertekad meraih kembali kejayaan seperti di masa lalu melalui pengembangan ilmu pengetahun,

5

mereka menemukan fakta bahwa filsafat ilmu telah didominasi oleh pola pemikiran Barat yang sekularistik. Dalam analisis para ahli, filsafat ilmu dalam perspektif Barat-sekuler melahirkan epistemologi ilmu yang produknya berupa perkembangan sains dan teknologi yang menandai peradaban modern, namun terlepas dari nilainilai moral dan spiritual, bahkan terjauhkan dari sang pemberi ilmu (Allah). Sebagai konsekuensinya, menjauhkan seseorang dari sang khalik dan bahkan dapat mengingkari eksistensi Tuhan.11

Tantangan dan Problematika PTAI Perguruan Tinggi Agama Islam sebagai lembaga pendidikan tinggi yang diakui eksistensinya dalam Sistem Pendidikan Nasional yang mempunyai tanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan visi Indonesia 2030 untuk menciptakan masyarakat yang maju, sejahtera, mandiri, dan berdaya saing tinggi. Berdasarkan tujuan pendidikan tinggi sebagaimana diatur dalam PP. 60 Tahun 1999 dan misi Departemen Agama, maka secara konstitusional tujuan Pendidikan Tinggi Agama Islam antara lain; 1. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, dan atau memperkaya khazanah ilmu, teknologi, seni dan atau kebudayaan yang bernafaskan Islam. 2. Mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang bernafaskan Islam dan atau kebudayaan Islam untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat serta memperkaya kebudayaan nasional. 3. Merumuskan, menyebarluaskan dan mendidikkan filosofi dan nilai-nilai agama Islam sehingga dapat digunakan oleh masyarakat sebagai parameter perilaku kehidupan, menjadi inspirator dan katalisator pembangunan, serta motivator terciptanya toleransi kehidupan beragama, serta kehidupan yang harmonis antarumat yang berbeda agama.12

6

Sebagaimana perguruan tinggi lainnya, maka PTAI pun mempunyai tugas untuk menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi yaitu; pendidikan/pengajaran, pengabdian masyarakat, dan penelitian. Namun, jika ditinjau dari segi urgensi dan fungsinya, seharusnya urutan ketiga tridharma tersebut adalah: penelitian/ pengkajian, pendidikan dan pengajaran (pembelajaran), dan pengabdian kepada masyarakat. Penelitian menjadi prioritas dengan argumen: a)
b)

Karena ilmu pengetahuan selalu berkembang maka penelitian urgen untuk terus dilakukan. Penelitian adalah sarana utama dan pertama untuk mendalami, memperluas, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Ilmu yang diajarkan oleh dosen sebaiknya bersumber dari penelitian yang dilakukannya untuk menjamin kesahihan ilmu dan dapat menjadi jawaban dari masalah yang dihadapinya.13

c)

Heidegger – filsuf Jerman – mencemooh Universitas yang sekedar menghasilkan pengajar bukan peneliti. Pengajar adalah sosok yang menjejali kepala anak didik dengan informasi-informasi siap saji. Informasi nantinya dipertukarkan dengan nilai ujian di penghujung semester. Pengetahuan pun akhirnya menjelma menjadi komoditas yang nilainya semata-mata nilai tukar. Hal ini disadari atau tidak, sedang menggerayangi dunia akademis republik ini. Ribuan lulusan tiap tahun dihasilkan dengan komoditas epistemic di benaknya.14 Dewasa ini terdapat beberapa tantangan pendidikan tinggi dalam menghadapi globalisasi: Pertama, tantangan untuk meningkatkan nilai tambah, yaitu bagaimana meningkatkan produktivitas kerja nasional serta pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan berkelanjutan (continuing development). Kedua, tantangan untuk melakukan riset secara komprehensif terhadap terjadinya era reformasi dan transformasi struktur masyarakat tradional-agraris ke masyarakat modern-industrial dan informasi komunikasi, serta bagaimana implikasinya bagi peningkatan dan pengembangan kualitas kehidupan SDM. Ketiga, tantangan meningkatkan daya saing bangsa dalam menghasilkan karya-karya kreatif yang berkualitas sebagai hasil

7

pemikiran, penemuan dan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Keempat, tantangan terhadap munculnya invasi dan kolonialisme baru di bidang Iptek, yang menggantikan invasi dan kolonialisme di bidang politik dan ekonomi.15 Menurut Azyumardi, selama kurun waktu lebih dari beberapa dasawarsa sejak Indonesia bebas dari kolonialisme, dunia pendidikan Islam di Indonesia dikatakan belum memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kemajuan bangsa. Bahkan, pendidikan Islam di Indonesia belum mampu memberikan tanggapan atau jawaban ketika dituntut perannya untuk mengatasi berbagai persoalan moral dan mentalitas bangsa, khususnya umat Islam di Indonesia. Jujur harus dikatakan, bahwa pendidikan Islam saat ini kelihatan sering terlambat merumuskan diri untuk merespon perubahan dan kecenderungan perkembangan masyarakat sekarang dan masa mendatang.16 Analisis Azyumardi tersebut menggambarkan tantangan yang dihadapi dunia pendidikan Islam, khususnya Lembaga Pendidikan Tinggi Islam untuk memberikan kontribusi lebih nyata terhadap masalah kebangsaan dan kemanusiaan. Oleh karena itu, kegiatan penelitian di lingkungan PTAI ditantang untuk menjawab permasalahan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang religius dan dinamis. Sedangkan Abdurahman Mas’ud mengemukakan bahwa kelemahan pendidikan Islam secara umum adalah; (1) Dunia pendidikan Islam kini terjangkit penyakit sindrom dikotomik, dan masalah spirit of inquiry,17 (2) kurang berkembangnya konsep humanisme religius dalam dunia pendidikan Islam dan lebih berorientasi pada konsep “Abdullah” daripada “khalifatullah” dan “Hablum min Allah” daripada “Hablum min an-Nas”. (3) adanya orientasi pendidikan yang timpang, sehingga melahirkan masalah-masalah besar dalam dunia pendidikan Islam, dari persoalan filosofis sampai persoalan metodologis, bahkan sampai ke tradition of learning.18 Arief Furchan19 menyebutkan beberapa kendala yang dihadapi oleh sebagian besar lulusan Perguran Tinggi Islam, yaitu; (1) penguasaan ilmu agama Islam yang kurang mendalam akibat ketidakmampuan membaca kitab klasik yang merupakan khazanah ilmu pengetahuan agama Islam; (2) penguasaan ilmu pengetahuan umum untuk dapat berkomunikasi secara lancar dengan anggota masyarakat yang

8

menguasai bidang itu kurang; (3) penguasaan yang kurang luas terkait metodologi dan teknik penyampaian agama Islam pada masyarakat yang berbeda-beda; dan (4) keteladanan yang kurang dapat ditiru akibat kurangnya penghayatan ajaran agama Islam. Saat ini, Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) – khususnya IAIN dan STAIN – telah dan sedang dihadapkan pada persoalan besar dan mendasar. Persoalan tersebut adalah menyangkut tentang out put-nya yang hingga kini belum terakomodasi (terlibat/dilibatkan) secara memadai – jika tidak dikatakan secara maksimal – ke dalam berbagai aspek kebutuhan kehidupan modern. Persoalan demikian ternyata tidak hanya menimpa PTAI di Indonesia, namun juga telah menggejala hampir di sebagian besar Perguruan Tinggi Agama Islam di belahan dunia. Bassam Tibi20 dalam hasil penelitiannya menemukan hampir seluruh universitas Islam di kawasan Timur Tengah dan Afrika – dia tidak menyebut Indonesia – sangat menekankan kapasitas untuk menghafal agar mahasiswa bisa lulus dalam studi mereka; tidak pada kapasitas untuk berfikir kritis dan analitis. Mahasiswa dipersiapkan bukan untuk menjawab tantangan perubahan, tetapi untuk stabilisasi dan gengsi. Alhasil, setelah lulus dari studi, para mahasiswa lebih dibekali dengan ijazah, tetapi tidak dengan kualifikasi yang dapat diterapkan secara bermanfaat dalam proses pembangunan. Pendapat Tibi di atas nampaknya sama dengan kondisi Perguruan Tinggi Islam yang ada di Indonesia. Seperti dilaporkan Azyumardi Azra, bahwa mahasiswa di Indonesia belajar ke Perguruan Tinggi pertama-tama adalah untuk mengejar status dan selembar ijazah, bukan keahlian, keterampilan, dan profesionalisme.
21

Pandangan serupa juga diajukan Afandi

Mukhtar,22 bahwa saat ini PTAI menghadapi dua permasalahan serius, yakni; (1) kualitas lulusan yang dihasilkan dan (2) sumbangan PTAI pada pengembangan ilmu agama Islam. Terkait dengan kualitas lulusan, kapasitas intelektual dan keilmuan para lulusan PTAI menunjukkan bahwa banyak dari para lulusan PTAI yang belum sanggup menjawab setiap permasalahan keagamaan yang berkembang di tengahtengah masyarakat. Kedua permasalahan yang dihadapi PTAI di atas, menurut Afandi Mukhtar23 disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, lemahnya kemampuan para

9

mahasiswa PTAI memahami ilmu-ilmu keislaman secara tahqiq. Hal ini disebabkan karena sebelum mereka masuk PTAI, mayoritas dari mereka yang diterima di PTAI tidak memiliki kemampuan dasar materi-materi keislaman. Misalnya tidak mampu membaca al-Qur’an dengan tartil, menguasai bahasa Arab, dan memahami dasardasar pendekatan ilmu-ilmu keislaman. Kedua, PTAI kurang memiliki komitmen baik dalam menjaring calon mahasiswa maupun menjaring calon dosen. Berkaitan dengan minimnya sumbangan PTAI pada pengembangan ilmuilmu Islam, Khamami Zada24 menyarankan perlunya pencarian yang ideal tentang studi Islam di kalangan PTAI, terutama untuk mewujudkan cita-cita pendidikan Islam yang adiluhung. Orientasi studi Islam yang dilakukan oleh PTAI di Indonesia saat ini juga masih belum begitu jelas, terutama dalam menentukan pola, arah, dan capaian tertentu yang diinginkan. Minimnya kajian dan kualitas keilmuan di kalangan PTAI membuat prihatin banyak kalangan. Abdurrahman Mas’ud25 menyatakan bahwa dalam beberapa tahun belakangan memang belum ada perubahan yang impresif terhadap peningkatan kualitas keilmuan di kalangan PTAI. Bahkan, kalaupun ada geliat di dalam kampus, hal tersebut lebih banyak yang bersifat politis daripada ilmiah. Abdurrahman juga menyayangkan tradisi menulis karya ilmiah atau penelitian di kalangan kampus PTAI yang terkesan dipaksakan. Penulisannya hanya dilakukan sebagai syarat demi kepentingan naik pangkat. Tantangan lain yang dihadapi oleh PTAI adalah kegiatan riset atau penelitian yang merupakan wilayah garapan PTAI yang masih sedikit mendapat perhatian. Ada ketimpangan peran yang dimainkan PTAI dalam rumusan Tridharma Perguruan Tinggi. PTAI sibuk dengan kegiatan pendidikan/pengajaran dan pengabdian pada masyarakat ketimbang mencari, menyusun dan membangun teori-teori baru melalui kegiatan riset. Tantangan rendahnya mutu penelitian PTAI disinyalir disebabkan karena lemahnya tradisi meneliti. Penyusunan kurikulum, pemilihan metode pembelajaran dan materi kuliah, menentukan input dan out put belum didasarkan pada penelitian yang mendalam. Lemahnya tradisi penelitian di PTAI dan langkanya temuan-temuan baru yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan keagamaan menyebabkan PTAI ibarat “lembaga dakwah” yang

10

bertugas menyampaikan informasi dan pengetahuan kepada mahasiswa dan mengkhotbahkan “kebenaran” doktrin keagamaan kepada masyarakat.26 Bahkan ada fenomena yang menunjukkan bahwa orientasi penelitian pada materi bukan pada kualitas penelitian dan temuan baru. Namun fenomena tersebut tidak hanya terjadi di lingkungan PTAI, disinyalir sebagian besar pengajar di perguruan tinggi yang ada di negeri ini sekadar reprodusen bukan produsen ilmu. Silabus yang sama dipakai mengajar selama bertahun-tahun tanpa sekalipun direvisi.27 Jika mengikuti identifikasi permasalahan Perguruan Tinggi Islam yang dibuat di atas, maka problem yang sedang dihadapi PTAI adalah: (1) Kurang tumbuhnya tradisi berfikir kritis dan analitis, (2) Mahasiswa tidak dibekali dengan bidang keahlian dan kualifikasi yang dapat diterapkan secara bermanfaat dalam proses pembangunan, dan (3) Mahasiswa ke Perguruan Tinggi pertama-tama adalah untuk mengejar status dan selembar ijazah, bukan keahlian, keterampilan, dan profesionalisme. Di samping problem-problem besar di atas, nampaknya masih banyak problem yang hingga kini masih sering kita saksikan, misalnya: (1) Bagaimana bangunan epistemologi keilmuan yang dikembangkan PTAI selama ini, apakah sudah tepat, kurang tepat, dan atau tidak tepat sama sekali? Jika demikian, bagaimana pemecahannya? Pertanyaan ini penting diajukan, mengingat struktur keilmuan (keagamaan) Islam yang dikembangkan di PTAI pada umumnya selama ini cenderung terkesan dikotomis – jika tidak disebut antagonis – terhadap ilmuilmu keIslaman dan ilmu-ilmu umum (sosial); (2) Jika demikian, apakah masih perlu dilakukan transformasi/konversi, misalnya Institut menjadi Universitas, dan atau Sekolah Tinggi menjadi Institut? Pertanyaan ini juga penting diangkat, sebab sebagian besar praktisi dan penentu kebijakan pendidikan di Negeri ini masih menganggap ”institusi” sebagai hal sangat penting, sehingga perubahan-perubahan tidak bisa dilakukan tanpa melakukan perubahan terhadap institusinya terlebih dahulu; (3) Bagaimana dengan SDM yang dimiliki PTAI, apakah sudah benar-benar siap dalam menghadapi akselarasi yang terjadi, baik yang menyangkut masalahmasalah sosial, budaya, politik, maupun ekonomi?; dan (4) Persoalan yang tidak

11

kalah penting adalah bagaimana dengan kurikulum, ketersediaan dana, dan saranaprasarana, sistem kerjasama dengan pihak lain (stakeholders).

Dinamika dan Prospek PTAI Rencana besar transformasi IAIN menjadi UIN dan atau STAIN akan diIAIN-kan kembali (yang awalnya sebagai IAIN cabang yang berada di daerahdaerah) hingga kini masih debatable dan mengandung berbagai kontroversi. Kontroversi itu muncul sebagai akibat dari perspektif epistemologis yang mempertanyakan, apakah benar selama ini Islam mengikuti dualisme kajian keIslaman sebagaimana yang banyak diperdebatkan. Yang demikian juga tidak bisa dilepaskan dari akibat rendahnya standar mutu manajemen (quality management system), sehingga masalah-masalah tersebut juga sangat berpengaruh terhadap out put yang dianggap tidak atau kurang mampu bersaing di era persaingan global. Oleh karena itu, para penentu kebijakan – khususnya dua pembesar dari dua departemen, Depag. (Departemen Agama) dan Diknas. (Departemen Pendidikan Nasional) – menggelindingkan wacana pengembangan IAIN menjadi UIN dan STAIN menjadi IAIN, yang kemudian diikuti oleh pembesar-pembesar yang berada di bawah gerbong Depag. dan Diknas tersebut, sehingga dalam perkembangannya wacana tersebut terus menggelinding dan menjamur. Walaupun tidak semua IAIN dan STAIN mengikuti wacana tersebut. Akan tetapi wacana tersebut hampir tidak terdengar lagi gaungnya seiring dengan diterbitkannya Surat Edaran Dirjend Depag RI. No. DJ.II/PP.03.2/698/2006, tgl 2 Agustus 2006 perihal tidak disetujuinya proses usulan baru tentang perubahan status kelembagaan PTAI, kecuali PTAIS yang sudah diproses lebih dulu. Rencana besar transformasi IAIN menjadi UIN didasari oleh kesadaran futuristik umat Islam terhadap urgensi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menyesuaikan diri dengan akselerasi perubahan zaman yang begitu cepat. Selain itu, transformasi itu muncul sebagai wujud kesadaran umat Islam yang tidak mau mengikuti pola dualisme keilmuan, antara ilmu-ilmu keIslaman dan ilmu-ilmu sekuler, sebagai dampak historis kebijakan kolonialisme Belanda. Namun terlepas

12

dari nilai tambah proses transformasi semacam ini, fenomena pengembangan IAIN menjadi UIN masih debatable dan menyimpan banyak kontroversi. Sebenarnya langkah rekonsiliasi epistemologis tersebut tidak harus dilakukan dengan cara mengembangkan IAIN menjadi UIN yang membawahi displin ilmu agama maupun sekuler. Sebab universitas-universitas negeri yang selama ini dianggap sekuler pun pada hakikatnya merupakan bagian dari umat Islam. Terlepas dari persoalan kontroversi transformasi IAIN menjadi UIN, hal menarik yang perlu digarisbawahi di kalangan IAIN adalah kecenderungan kajian Islam yang berlangsung di dalamnya. Sejak berdirinya, Lembaga Pendidikan Tinggi Islam ini membawa dua tugas utama: sebagai lembaga keagamaan dan sebagai lembaga keilmuan. Sebagai sentral pengkajian keagamaan, IAIN membawa misi religius untuk memberikan pencerahan masyarakat Muslim dalam memahami ajaran Islam (lembaga dakwah). Sedangkan sebagai lembaga keilmuan, IAIN diharapkan menjadi avant garde dalam mengkaji Islam sebagai sebuah disiplin akademis, bukan sebagai doktrin agama.28 Kedua fungsi ini tidak selamanya berjalan secara harmonis dan beriringan, bahkan tidak jarang ditemukan konflik di antara keduanya. Di satu sisi, sebagai sebuah lembaga akademis, IAIN harus mengikuti rules of the game kehidupan akademis yang memperlakukan kajian terhadap agama dengan menggunakan pendekatan-pendekatan ilmiah dan akademis yang hasilnya tidak jarang bertentangan dengan aspek normatif Islam. Di sisi lain, IAIN diharapkan berfungsi sebagai lembaga keagamaan yang cenderung menafikan prinsip-prinsip akademis murni. Arief Furchan29 menyatakan bahwa pada saat sekarang ini peluang bagi para alumni Pendidikan Tinggi Agama Islam cukup terbuka dan luas. Karena semakin rusak masyarakat akan semakin dibutuhkan peran ulama sebagai pewaris Nabi untuk mengingatkan mereka ke jalan yang lurus. Di samping itu peluang ke luar negeri juga terbuka dengan lebar. Dengan semakin majunya teknologi telekomunikasi, penyiaran Islam ke negeri non-muslim semakin mudah. Peluangpeluang ini hanya mungkin dimanfaatkan jika Lembaga Pendidikan Tinggi Agama Islam mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas dan memenuhi kebutuhan pasar. Dengan demikian, pembenahan dan revitalisai Pendidikan Tinggi Agama

13

Islam menjadi suatu keharusan, mengingat perkembangan pendidikan tinggi di Eropa sangat mengagungkan rasionalisme – yang melahirkan liberalisme dan individualisme – dan mengenyampingkan etika yang mengatur kehidupan bersama manusia. Menurut Tilaar30, perkembangan pendidikan tinggi masa depan harus bersumber pada; (1) agama sebagai sumber inspirasi serta moral yang mengatur kehidupan bersama manusia; (2) pendidikan sebagai media refleksi dan aksi manusia di dalam kehidupan bersama, kecerdasan dipergunakan untuk mencari inspirasi serta moral di dalam tindakan sehari-hari; dan (3) transformasi sosial sebagai kapital sosial yang dihasilkan oleh media pendidikan. Oleh karena itu, Pendidikan Tinggi Agama Islam harus membenahi institusinya sehingga mampu bersaing di kompetisi global dan juga mampu menghasilkan tenaga didik yang produktif dan diserap oleh pasar. Kecermatan Lembaga Pendidikan Tinggi Islam dalam membaca peluang merupakan hal yang dapat mendorong dinamika dan perubahan ke arah yang lebih baik. Maknanya, lembaga pendidikan pada sekarang ini tidak mungkin lagi dikelola secara tradisional, melainkan harus secara profesional. Tilaar31 menyebutkan fungsi Pendidikan Tinggi bukan hanya memelihara ilmu pengetahuan, melainkan juga mengembangkan ilmu pengetahuan melalui penelitian dan pengembangan. Pendidikan Tinggi juga harus berperan melahirkan para pekerja yang menguasai ilmu pengetahuan, dan bukan sebagai pabrik ijazah (diploma mill). lembaga ini harus melakukan kerjasama dengan berbagai pihak. Untuk meningkatkan kualitas dan manfaat Pendidikan Tinggi bagi masyarakat, maka

Penutup Perguruan Tinggi Agama Islam (UIN/IAIN/STAIN/PTAIS) mempunyai mandat tidak hanya dalam bidang agama, melainkan juga dalam bidang-bidang ilmu sosial, humaniora dan ilmu-ilmu alam/eksakta. Dengan mandat yang lebih luas ini, maka PTAI mempunyai tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terhadap kemajuan bangsa dengan memberikan solusi terhadap permasalahan

14

kebangsaaan, keagamaan, dan kemanusiaan. Sementara, dunia pendidikan kita, khususnya pendidikan Islam, masih mengalami masalah-masalah berat, dan perlu terus membenahi diri. Karena itu, diperlukan upaya revitalisasi baik pada tingkat konsep maupun penyelenggaraan. Paling tidak ada dua upaya besar yang harus segera dilakukan untuk membenahi Pendidikan Tinggi Agama Islam sehingga mampu bersaing di pasar global, yaitu; (1) Bersifat intern, adalah upaya yang berupa perbaikan kerangka keilmuan (epistemologis) – jangan terjebak pada dikotomisasi ilmu –, menentukan pilihan sebagai lembaga dakwah, akademis, dan atau praktis-pragmatis, memperkuat SDM, memerbaiki dan menyesuaikan kurikulumnya dengan tuntutan perubahan, penambahan sarana-prasarana, peningkatan anggaran, memperkuat jaringan (stake holders), pembenahan sistem rekruetmen, dan lain-lain; dan (2) Bersifat ekstern, adalah dengan cepatnya persaingan global, regional dan lokal seperti sekarang ini – dengan menjamurnya Perguruan Tinggi-Perguruan Tinggi baik Negeri maupun Swasta di lingkungan kita, dengan program dan produk yang sama, dan atau lebih menjanjikan – ; tentu akan membuat persoalan tersendiri bagi PTAI yang kita kelola dan kembangkan, jika tidak memacu diri ikut berkompetisi secara dinamis.

Catatan Akhir:

15

1

UIN (6 buah): UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN SUSKA Riau, UIN SGD Bandung, UIN Alauddin Makassar, UIN Malang, IAIN (12 buah): Masing-masing berada di Aceh, Medan, Padang, Jambi, Palembang, Lampung, Semarang, Surabaya, Banten, Mataram, Gorontalo, Banjarmasin. STAIN (32 buah). Tiga STAIN yang baru terbentuk yaitu STAIN Malikus Saleh di Lhoksemawe, STAIN Bangka Belitung dan STAIN al-Fatah Jayapura. Lihat, Tim Penyusun, Data Statistik Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, (Jakarta, Direktorat Bagais Depag RI, 2004), Cet. Ke-1, hlm. 49-66 2 Tim Penyusun,, Memetakan Persoalan Perguruan Tinggi Agama Islam, (Jakarta: Ditpertais Depag RI, 2005), Cet. Ke-1, hlm. 13 3 Lihat, UNESCO, Higher Education in the Twenty-First Century: Vision and Action, (Paris: UNESCO, 1998). Ditjen Dikti Depdiknas juga mengidentifikasi ciri dalam satu tata kehidupan masyarakat masa depan adalah perubahan, baik perubahan yang dikehendaki maupun yang tidak dikehendaki. Depdiknas, Naskah Akademik Sistem Akreditasi Program Magister, (Jakarta: Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Depdiknas, 2002). 4 Lihat, Azyumardi Azra, IAIN di Tengah Paradigma Baru Perguruan Tinggi. Dimuat dalam Jurnal PERTA Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama, 2004. 5 Fasli Jalal (ed), Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah, (Jakarta: Depdiknas-Adicita Karya, 2001), Cet. 1, hlm. 366. 6 Ali Syariati, Islam Agama Protes (terj.), (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1993). 7 Abubaker A. Bagader (ed.), Islam dan Persfektif Sosiologik (terj.), (Surabaya: Amarpress, 1991), hlm. 1-34. 8 Herman Soewardi, Mempersiapkan Kelahiran Sains Tauhidullah, (Bandung: 2000). 9 Tentang kurikulum pendidikan masa kejayaan Islam lihat Mehdi Nakosteen, History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800-1350; with an Introduction to Medieval Muslim Education, (Colorado: Univ. of Colorado Press, 1964), dan Charles Michael Stanton, Pendidikan Tinggi dalam Islam (terj.) Higher Learning in Islam, (Jakarta: Logos Publishing House, 1994). 10 Lihat Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. xii. 11 Lihat Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. H.M. Nazir Karim, Membangun Ilmu dengan Paradigma Islam: Mengukuhkan Eksistensi Metafisika Ilmu dan Islam, (Fak Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau, 2005). Dan juga lihat Herman Soewardi, Roda Berputar Dunia Bergulir, (Bandung: Bakti Mandiri, 1999). 12 PP 61/1999 dan Jurnal Millah UII Yogyakarta No. 1 tahun 2001 13 Keputusan Menkowasbangpan Nomor 38/Kep/MK.Waspan/8/1999 tanggal 24 Agustus 1999 menetapkan bahwa untuk menjamin pembinaaan karier kepangkatan, jabatan dan peningkatan profesionalisme, setiap dosen harus memiliki jabatan Fungsional. Tinggi rendahnya jabatan fungsional tersebut disesuaikan dengan angka kredit dan karya ilmiah yang dimiliki dalam bidang keahliannya. Jenis-jenis karya ilmiah yang ditulis berdasarkan penelitian diantaranya adalah: Buku Ilmiah, Laporan Penelitian, Artikel ilmiah dalam jurnal dan majalah ilmiah, Makalah seminar ilmiah, Pidato ilmiah, dll. 14 Donny Gahral Adian, Menuju Universitas Riset? Jakarta, Kompas, Opini, 21 Agustus 2004 15 Azyumardi Azra, Uraian Kata Pengantar dalam, Armai Arief, Reformulasi Pendidikan Islam, (Jakarta, CRSD Press, 2005), Cet. I, hlm. 6-7 16 Ibid., hlm. xi 17 Menurut Usman Abu Bakar, spirit of inquiry, adalah hilangnya semangat membaca dan menenliti yang dulu menjadi supremasi utama dunia Pendidikan Islam pada zaman klasik dan pertengahan. Lihat, Usman Abu Bakar dan Surohim, Fungsi Ganda Lembaga Pendidikan Islam: Respon Kreatif terhadap Undang-Undang SISDIKNAS, (Yogyakarta, Safiria Insani Pres, 2005), Cet. I, hlm. 3 18 Abdurrahman Mas’ud, Mengggagas Format Pendidikaan Non Dikotomik: Humanismen Religius sebagai Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Gama Media, 2002), hlm. 14 19 Arief Furchan, Transformasi Pendidikan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Gama Media, 2004), hlm. 136. 20 Lihat Bassam Tibi, Islam and the Cultural Accommodation of Social Change, (Boulder: 1991), hlm. 110. 21 Azyumardi Azra, “Pendidikan Tinggi Islam dan Kemajuan Sains (Sebuah Pengantar)”, dalam Charles Michael Stanton, Pendidikan Tinggi dalam Islam, Terj. H. Afandi dan Hasan Asari, (Jakarta: Logos, 1994), hlm. xv. 22 Dari kedua masalah ini, PTAI dapat dikategorikan kurang berhasil. Menurutnya, hal ini dapat dilihat pada indikasi banyaknya lulusan PTAI yang tidak menguasai program ilmu-ilmu keislaman. Affandi Mukhtar, Dua Agenda PTAI yang Masih Terabaikan: Tantangan untuk Meraih SuksesKegiatan Berikutnya, (Swara Ditpertais No. 11 Tahun II 17 Juli 2004). 23 Affandi Mokhtar, Op.cit. 24 Statemen ini dimuat di Harian Pagi Fajar tanggal 1 Desember 2006 dengan judul Tradisi Keilmuan dalam Islam Belum Bangkit dan juga di Center for Moderate Muslim Indonesia (Humanity, Social Justice and Democracy), tanggal 02 Februari 2007. 25 Pembaca dapat menemukan ini di Harian Pagi Fajar tanggal 1 Desember 2006 dengan judul Tradisi Keilmuan dalam Islam Belum Bangkit, Center for Moderate Muslim Indonesia (Humanity, Social Justice and Democracy), tanggal 02

Februari 2007, dan Republika on-line tanggal 24 Nopember 2006 dengan judul Tradisi Keilmuan dalam Islam Masih Minim. 26 Dewan Redaksi, Jurnal Perta, Vol. VII/ No. 01/2004, (Jakarta: Ditpertais Depag RI, 2004), hlm. 3-5 27 Donny Gahral Adian, Op. Cit. 28 Azyumardi Azra, "Studi-studi Agama di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri," dalam Pendidikan Islam, (Jakarta: Logos, 1999), hlm. 169-70. 29 Arief Furchan, Op. Cit., hlm. 135. 30 H.A.R. Tilaar, Manifesto Pendidikan Nasional, (Jakarta: Kompas, 2005), hlm. 141. 31 H.A.R. Tilaar, membenahi Pendidikan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 146-147.

TENTANG PENULIS Dosen Tetap Fakultas Ushuluddin UIN SUSKA Riau dan juga Dosen Luar Biasa STAI Kuantan Singingi. Menyelesaikan Pendidikan Program S1 di IAIN Susqa Pekanbaru dan Program S2 di Universitas Padjadjaran Bandung. Aktif dalam melakukan kegiatan penelitian berbagai kegiatan ilmiah. Karya tulisnya dimuat di berbagai jurnal dan beberapa artikel di muat di Riau Pos.