BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Konsep Kecemasan 1.

1 Pengertian Kecemasan Kecemasan adalah suatu perasaan takut yang tidak menyenangkan dan tidak dapat dibenarkan yang sering disertai dengan gejala fisiologis (Tomb, 2000). Stuart (2001) mengatakan kecemasan adalah keadaan emosi yang tidak memiliki objek yang spesifik dan kondisi ini dialami secara subjektif. Cemas berbeda dengan rasa takut. Takut merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya. Cemas adalah respon emosional terhadap penilaian tersebut. Menurut Wignyosoebroto, 1981 dikutip oleh Purba, dkk. (2009), takut mempunyai sumber penyebab yang spesifik atau objektif yang dapat diidentifikasi secara nyata, sedangkan cemas sumber penyebabnya tidak dapat ditunjuk secara nyata dan jelas. Cemas merupakan suatu keadaan yang wajar, karena seseorang pasti menginginkan segala sesuatu dalam kehidupannya dapat berjalan dengan lancar dan terhindar dari segala marabahaya atau kegagalan serta sesuai dengan harapannya. Banyak hal yang harus dicemaskan, salah satunya adalah kesehatan, yaitu pada saat dirawat di rumah sakit. Misalnya pada saat anak sakit dan harus dirawat di rumah sakit akan menimbulkan dampak bagi orang tua maupun anak tersebut. Hal yang paling umum yang dirasakan orang tua adalah kecemasan. Suatu hal yang normal, bahkan adaptif untuk sedikit cemas mengenai aspek-aspek kehidupan tersebut. Kecemasan merupakan suatu respons yang tepat terhadap

mudah terkejut. 2005). mudah tersinggung. 1998). takut akan pikirannya sendiri. Menurut Stuart (2001) pada orang yang cemas akan muncul beberapa respon yang meliputi : . Gejala somatic : rasa sakit pada otot dan tulang. berdebar-debar. Gangguan pola tidur. firasat buruk. 2004). gangguan perkemihan. Gejala psikologis : pernyataan cemas/ khawatir. Kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dan perilaku dan secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai upaya untuk melawan timbulnya kecemasan (Kaplan & Sadock. 2.. tergantung dari beratnya atau tingkatan yang dirasakan oleh idividu tersebut (Hawari. dan lain sebagainya. antara lain adalah sebagai berikut: 1. sakit kepala. Gangguan konsentrasi dan daya ingat. gangguan pencernaan. Keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang saat mengalami kecemasan secara umum menurut Hawari (2004). gelisah. merasa tegang. tetapi kecemasan dapat menjadi abnormal bila tingkatannya tidak sesuai dengan proporsi ancaman (Nevid. 3. sesak nafas. tidak tenang. et al. tangan terasa dingin dan lembab. mimpi-mimpi yang menegangkan.2 Tanda dan Gejala Kecemasan Tanda dan gejala kecemasan yang ditunjukkan atau dikemukakan oleh seseorang bervariasi.ancaman. 1. 4.

denyut nadi menurun. tidak mampu mengambil keputusan. b. mual dan diare. bingung. gelisah. 2. 4. tidak sabar. kesadaran diri meningkat. menarik diri dari hubungan interpersonal dan melarikan diri dari masalah. bicara cepat. ketegangan fisik. takut pada gambaran visual dan takut cedera atau kematian. menghindar. tekanan darah meningkat. Traktus urinarius : sering berkemih. tidak mampu berkonsentrasi. salah dalam memberikan penilaian. waspada. tremor. menurunnya lapangan persepsi dan kreatifitas. nafas dangkal dan terengah-engah c. takut. insomnia dan pusing. Pernafasan : nafas cepat dan pendek.1. gugup. kehilangan kontrol. 3. Kulit : keringat dingin. tegang. gugup. f. e. tekanan darah menurun. . reaksi terkejut. Kardiovasklar : palpitasi. ketakutan. d. pelupa. Respon fisiologis a. gatal. wajah kemerahan. Neuromuskular : tremor. Respon afektif Respon afektif yang sering muncul adalah mudah terganggu. gelisah. kurang kooordinasi. Respon perilaku Respon perilaku yang muncul adalah gelisah. mati rasa. tidak nyaman pada perut. Respon kognitif Respon kognitif yang muncul adalah perhatian terganggu. Gastrointestinal : nafsu makan menurun. gugup. hambatan berfikir. rasa bersalah dan malu.

Kecemasan tingkat ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas. dan gerakan menggenggam berkurang. mengidentifikasi kecemasan dalam empat tingkatan dan menggambarkan efek dari tiap tingkatan. Cemas Sedang Cemas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan hal yang lain. Cemas Berat Cemas berat sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. seperti penglihatan. Individu tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain. 3. mendengar dan gerakan menggenggam lebih kuat. Kecemasan ini mempersempit lapang presepsi individu. seperti melihat. Cemas Ringan Cemas ringan merupakan cemas yang normal yang berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. 2. pendengaran. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak dapat berpikir tentang hal lain. 1.1.3 Tingkat Kecemasan Peplau (1963) dikutip oleh Stuart (2001). . sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan.

tidak dapat beristirahat dengan tenang. mudah menangis. Gangguan tidur : sukar untuk tidur. takut akan pikiran sendiri dan mudah tersinggung. mimpi buruk dan mimpi yang menakutkan. yang terdiri dari 14 kelompok gejala. banyak mimpi. gemetar dan gelisah.4. menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. Panik Panik berhubungan dengan terperangah. 4. . mudah terkejut. Individu yang mengalami panik juga tidak dapat berkomunikasi secara efektif. Rincian terpecah dari proporsinya. Perasaan cemas : cemas. tidur tidak nyenyak. 3. ketakutan dan teror. firasat buruk. Panik melibatkan disorganisasi kepribadian. ditinggal sendiri. bangun dengan lesu. Menurut Hawari (2004). 2. lesu. Individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan hal itu dikarenakan individu tersebut mengalami kehilangan kendali. tingkat kecemasan dapat diukur dengan menggunakan alat ukur (instrumen) yang dikenal dengan nama Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A). Tingkat kecemasan ini tidak sejalan dengan kehidupan. Ketakutan : pada gelap. pada binatang besar. Ketegangan : merasa tegang. terjadi peningkatan aktivitas motorik. terbangun pada malam hari. dan kehilangan pemikiran yang rasional. dapat terjadi kelelahan yang sangat bahkan kematian. persepsi yang menyimpang. pada keramaian lalu lintas dan pada kerumunan orang banyak. dan jika berlangsung terus menerus dalam waktu yang lama. antara lain adalah sebagai berikut : 1. pada orang asing.

Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin) : sering buang air kecil. Gejala respiratori (pernafasan) : rasa tertekan atau sepit di dada. terbangun pada saat dini hari dan perasaan berubah-ubah sepanjang hari. masa haid berkepanjangan. rasa lesu/ lemas seperti mau pingsan dan detak jantung menghilang/ berhenti sekejap. mual. darah haid sangat sedikit. kaku. sukar BAB (konstipasi) dan kehilangan berat badan. Perasaan depresi (murung) : hilangnya minat. tidak datang bulan (tidak dapat haid). gangguan pencernaan. denyut nadi mengeras. muka merah atau pucat. sering menarik nafas dan nafas pendek/ sesak. Gejala gastrointestinal (pencernaan) : sulit menelan. 12. Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) : takikardi (denyut jantung cepat). 7. muntah. nyeri di dada. tidak dapat menahan BAK. daya ingat menurun dan daya ingat buruk.5. berdebar-debar. 6. masa . sedih. 11. 8. berkurangnya kesenangan pada hobi. rasa penuh atau kembung. penglihatan kabur. rasa tercekik. Gejala somatik/ fisik (otot) : sakit dan nyeri di otot. BAB konsistensinya lembek. nyeri sebelum dan sesudah makan. gigi gemerutuk dan suara tidak stabil. perut melilit. 10. Gejala somatik/ fisik (sensorik) : tinnitus (telinga berdenging). 9. merasa lemas dan perasaan ditusuk-tusuk. Gangguan kecerdasan : sukar berkonsentrasi. perasaan terbakar di perut. darah haid berlebihan. kedutan otot.

13. Gejala autonom : mulut kering. muka merah. tidak tenang. nafas pendek dan cepar serta wajah merah. wajah tegang. ereksi melemah. 14. . Tingkah laku/ sikap : gelisah.4 Rentang Respon Kecemasan Menurut Stuart (2001). mudah berkeringat. ereksi hilang dan impotensi.haid sangat pendek. dengan penilaian sebagai berikut : Nilai 0 = tidak ada gejala (keluhan) Nilai 1 =gejala ringan Nilai 2 = gejala sedang Nilai 3 = gejala berat Nilai 4 = gejala berat sekali/ panik 1. rentang respon induvidu terhadap cemas berfluktuasi antara respon adaptif dan maladaptif. kening/ dahi berkerut. menjadi dingin (frigid. haid beberapa kali dalam sebulan. kepala pusing kepala terasa berat. ejakulasi dini. Sedangkan rentang yang paling maladaptif adalah panik dimana individu sudah tidak mampu lagi berespon terhadap cemas yang dihadapi sehingga mengalami ganguan fisik dan psikososial. otot tegang/ mengeras. jari gemetar. Masing-masing kelompok gejala diberi peilaian angka (score) antara 0-4. kepala terasa sakit dan bulu-bulu berdiri. Rentang respon yang paling adaptif adalah antisipasi dimana individu siap siaga untuk beradaptasi dengan cemas yang mungkin muncul.

Teori Psikoanalitik Pandangan psikoanalitik menyatakan kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian.Rentang Respon Kecemasan Respon Adaptif Respon Maladaptif Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik 1. 1. Kecemasan yang berhubungan dengan ketakutan ini dapat terjadi pada orag tua atau dapat juga pada anak itu sendiri yang mengalami tindakan pemasangan infus. kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Individu dengan harga diri rendah mudah mengalami perkembangan kecemasan yang berat. 2. Teori Interpersonal Menurut pandangan interpersonal. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif seseorang. seperti perpisahan dan kehilangan. yaitu id dan superego. Kecemasan juga berhubungan dengan perkembangan trauma. yang menimbulkan kelemahan spesifik.5 Faktor Predisposisi Penyebab kecemasan dapat dipahami melalui beberapa teori seperti yang dikemukakan oleh Laraia dan Stuart (1998). dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya. Ego berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan. Tindakan pemasangan infus akan menimbulkan kecemasan . sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang.

Faktor tersebut bekerja menghambat usaha seseorang untuk memperoleh kepuasan dan kenyamanan. Reseptor ini mungkin membantu mengatur kecemasan. kecemasan merupakan hasil dari frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kecemasan ini terkait dengan tugas perkembangan individu dalam keluarga. seperti bermain dan berkumpul bersama keluarganya (Supartini. 3. Teori Perilaku Menurut pandangan perilaku. Keadaan tersebut dapat membuat orang tua cemas dan takut jika prosedur invasif pemasangan infus yang dilakukan akan memberikan efek yang membuat anak merasa semakin sakit atau nyeri (Sulistiyani. 4. 2004).dan ketakutan serta rasa tidak nyaman bagi anak akibat nyeri yang dirasakan saat prosedur tersebut dilaksanakan. Teori Keluarga Teori keluarga menunjukkan bahwa kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga. 2009). Penghambat asam aminobutirik-gamma neuroregulator (GABA) juga mungkin . Kecemasan dapat terjadi pada anak yang dirawat di rumah sakit dan dipasang infus akibat adanya hambatan untuk mencapai tujuan yang diinginkannya. Anak yang akan dirawat di rumah sakit merasa tugas perkembangannya dalam keluarga akan terganggu sehingga dapat menimbulkan kecemasan. 5. Teori Biologis Teori biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepin.

6 Faktor Presipitasi Stuart (2001) mengatakan bahwa faktor presipitasi/ stressor pencetus dikelompokkan dalam dua kategori. Ancaman ini dapat terjadi pada anak yang akan yang akan dilakukan tindakan pemasangan infus dan bisa juga terjadi pada orang tua.memainkan peran utama dalam mekanisme biologis berhubungan dengan kecemasan. Pada anak yang dirawat di rumah sakit timbul kecemasan karena ketidakmampuan fisiologis dan menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari. harga diri dan fungsi sosial seseorang. Ancaman terhadap Rasa Aman Ancaman ini terkait terhadap rasa aman yang dapat menyebabkan terjadinya kecemasan. seperti bermain. 1. Selain itu. yaitu : 1. belajar bagi anak usia sekolah. dan lain sebagainya. telah dibuktikan bahwa kesehatan umum seseorang mempunyai akibat nyata sebagai predisposisi terhadap kecemasan. Ancaman Terhadap Integritas Fisik Ancaman terhadap integritas fisik seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Ancaman yang terjadi pada orang tua dapat disebabkan karena orang tua merasa bahwa anak mereka akan menerima . Kejadian ini menyebabkan kecemasan dimana timbul akibat kekhawatiran terhadap tindakan pemasangan infus yang mempengaruhi integritas tubuh secara keseluruhan. 2. Kecemasan mungkin disertai gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stressor. seperti ancaman terhadap sistem diri seseorang yang dapat membahayakan identitas.

2009). 2. Orang tua memberikan perawatan fisik dan perhatian emosional serta mengarahkan perkembangan kepribadian anak (Duvall. Pada dasarnya tujuan utama pengasuhan anak adalah mempertahankan perkembangan fisik anak dan meningkatkan kesehatannya. dan sosial anak. 2004). 1997). tindakan pemasangan infus mengakibatkan nyeri yang dirasakan anak tersebut. Konsep Orangtua Orang tua adalah orang yang berperan dalam peran pengasuh anak dalam meningkatkan perkembangan fisik. Sedangkan pada anak. Orang tua adalah orang yang . Lingkungan seperti kekuatan-kekuatan dari luar merupakan hal yang penting semata-mata karena lingkungan mempengaruhi orang tua. Orang tua merupakan guru yang utama karena orang tua menginterpretasikan dunia masyarakat bagi anak-anak. mental. memfasilitasi anak untuk mengembangkan kemampuannya sejalan dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak dan mendorong peningkatan kemampuan berperilaku sesuai dengan nilai agama dan budaya yang diyakininya (Supartini.pengobatan yang membuat anak bertambah sakit atau nyeri. Kemampuan orang tua dalam menjalankan peran pengasuhan ini tidak dipelajari melalui pendidikan formal. emosional. Orang tua cemas dan takut jika prosedur invasif pemasangan infus yang dilakukan akan memberikan efek yang membuat anak merasa semakin sakit atau nyeri (Sulistiyani. melainkan berdasarkan pengalaman dalam menjalankan peran tersebut dan mempelajarinya melalui pengalaman orang tua yang lain dan terdahulu.

dan takut Orang tua akan merasa bahwa mereka telah melakukan kesalahan karena anaknya menjadi sakit. . 1998). Rasa bersalah orang tua semakin menguat karena orang tua merasa tidak berdaya dalam mengurangi nyeri fisik dan emosional anak. Orang tua juga akan merasa begitu cemas dan takut terhadap kondisi anaknya dan jenis prosedur medis yang dilakukan. Perasaan tersebut muncul pada saat orang tua melihat anaknya mendapat prosedur tindakan yang menyakitkan seperti pembedahan. 2001 dalam Supartini. 2004). gelisah. dan bahkan marah (Supartini.1 Reaksi Orang Tua selama Perawatan Anak Reaksi orang tua terhadap perawatan anak yang dikemukakan oleh Supartini (2004) dan Thompson (1995) adalah sebagai berikut : 1. pengambilan darah. ekspresi wajah tegang. Perilaku yang sering ditunjukkan orang tua berkaitan dengan adanya perasaan cemas dan takut ini adalah sering bertanya atau bertanya tentang hal yang sama secara berulang pada orang yang berbeda. cemas. infus dilakukan fungsi lumbal dan prosedur invasif lainnya. sering kali kecemasan yang paling besar berkaitan dengan trauma dan nyeri yang terjadi pada anak. Perasaan bersalah. 2. injeksi.menerjemahkan arti-arti penting yang dimiliki oleh kekuatan-kekuatan luar kepada anak (Friedman.

apalagi jika anaknya merasakan nyeri dan menangis ketika dipasang infus. . Takut mendapat perawatan yang tidak pantas Orang tua sering mempunyai perasaan takut dan cemas ketika anaknya harus mendapatkan suatu perawatan. Pembiayaan yang harus dikeluarkan membuat orang tua dituntut untuk bekerja agar dapat memenuhi dana yang diperlukan dalam perawatan anak. sehingga membuat anak menderita. Perasaan sedih Perasaaan ini sering muncul pada orang tua ketika orang tua mengetahui diagnosa dari penyakit anaknya dan ketika melihat tindakan invasif yang dilakukan pada anaknya yang menimbulkan nyeri. 5. seperti tindakan pemasangan infus.2. Takut terbeban biaya Orang tua sering merasa takut dan cemas akan biaya perawatan anak. Orang tua cemas dan takut jika prosedur invasif pemasangan infus yang dilakukan akan memberikan efek yang membuat anak merasa semakin sakit atau nyeri. Ketakutan orang tua timbul dikarenakan takut jika anaknya mendapat perawatan yang tidak pantas. seperti perawat melakukan pemasangan infus pada anak dengan cara yang kasar dan harus ditusuk secara berulang-ulang. Takut bahwa anak akan semakin menderita Orang tua merasa bahwa anak mereka akan menerima pengobatan yang membuat anak bertambah sakit atau nyeri. 4. 3.

2001). (Weistein. khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha) (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah). keadaan-keadaan yang dapat memerlukan pemberian cairan infus yang dikemukakan oleh Arifianto (2008) adalah: a. f. Indikasi pemasangan infus melalui jalur pembuluh darah vena (peripheral venous cannulation) yang dikemukakan oleh Arifianto (2008). dan tulang punggung (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah). c. Secara umum. Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh). d. Pemberian cairan intravena (intravenous fluids). e. Penggunaan infus cairan intravena (intravenous fluid infusion) membutuhkan peresepan yang tepat dan pengawasan (monitoring) ketat. Konsep Infus Infus adalah memasukkan cairan dalam jumlah tertentu melalui vena penderita secara terus menerus dalam jangka waktu yang agak lama. Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah) dalam jumlah terbatas. g. Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah). adalah sebagai berikut : a. b. . dada. “Serangan panas” (heat stroke) (kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi). b. Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi). Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah). Semua trauma kepala. Fraktur (patah tulang).3.

juga untuk memudahkan pemberian obat). f. Memberi pengobatan yang terus menerus. dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika terjadi syok. Pemberian obat yang terus-menerus. Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil. sehingga tidak dapat dipasang jalur infus. . Pemberian kantong darah dan produk darah. Komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus yang dikemukakan oleh Priska (2009) adalah : a. misalnya risiko dehidrasi (kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa). terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum. sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba). atau tusukan ”berulang” pada pembuluh darah. c. Mencukupi kebutuhan cairan ke dalam tubuh pada penderita yang mengalami kekurangan cairan. Memberi zat makan pada penderita yang tidak dapat atau tidak boleh makan dan minum melalui mulut. Hematoma. b. Tujuan pemberian infus menurut Weistein (2001) adalah : a. d. Memulai dan mempertahankan terapi cairan IV. yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena atau kapiler.c. e. d. Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan.

Infiltrasi. Anak usia prasekolah juga mengalami stres apabila mendapatkan perawatan di rumah sakit (hospitalisasi) sebagaimana kelompok anak usia lain. c. Perawatan anak prasekolah di rumah sakit memaksa anak untuk berpisah dari lingkungan yang dirasakannya aman. stomatitis. terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah. yaitu masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah). penuh kasih sayang. 4. 2004). Penyakit yang sering ditemukan pada anak usia prasekolah yaitu penyakit menular atau infeksi seperti cacar (varicella). dan penyakit parasit pada usus. permainan. Reaksi Anak Pra-Sekolah terhadap Hospitalisasi Usia prasekolah merupakan kelompok usia tiga sampai enam tahun. dan menyenangkan. terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah.b. yaitu lingkungan rumah. yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah. parotitis (mumps). Anak usia prasekolah menganggap hospitalisasi merupakan pengalaman baru dan sering membingungkan yang dapat membawa dampak negatif terhadap perkembangan normal. Emboli udara. d. Beberapa kondisi penyakit menyebabkan anak harus dirawat di rumah sakit dan mendapatkan prosedur invasif (Hockenberry & Wilson. Trombofeblitis atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena. terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar. dan teman sepermainannya (Supartini. 2007). Hospitalisasi membuat anak masuk dalam lingkungan . konjungtivitis.

dimana mereka biasanya dipaksa untuk menerima prosedur yang menakutkan. ”sakit”. tingkat perkembangan anak. antisipasi terhadap nyeri aktual (Hockenberry & Wilson. mendorong hal yang menyebabkan nyeri. Respon anak untuk memahami nyeri yang diakibatkan oleh prosedur invasif yang menyakitkan bagi anak tergantung pada usia anak. menempel atau berpegangan pada orangtua. membutuhkan dukungan emosi seperti pelukan.yang asing. meminta untuk mengakhiri tindakan yang menyebabkan nyeri. 2007). nyeri tubuh dan ketidaknyamanan (Wong. Perawatan di rumah sakit sering kali dipersepsikan anak prasekolah sebagai hukuman sehingga anak akan merasa malu. dan faktor situasi lainnya (Hockenberry & Wilson. Anak yang lebih kecil tidak mampu menggambarkan dengan spesifik nyeri yang mereka rasakan karena keterbatasan kosakata dan pengalaman nyeri. 2003 dalam Sulistiyani. mengungkapkan secara verbal ”aaow” ”uh”. Perawatan di rumah sakit juga mengharuskan adanya pembatasan aktivitas anak sehingga anak merasa kehilangan kekuatan diri. membutuhkan restrain. 2009). 2009). anak menggunakan strategi koping seperti melarikan diri. Tergantung usia perkembangan. imagery. Perawatan di rumah sakit membuat anak kehilangan kontrol terhadap dirinya. melemah. . dan lain-lain. 2007). menghindar. (Ball & Blinder. memukul tangan atau kaki. bersalah. penangguhan tindakan. Karakteristik anak usia prasekolah dalam berespon terhadap nyeri diantaranya dengan menangis keras atau berteriak. 2004). kurang kooperatif. perawat atau yang lain. Sebagai contoh adalah bayi tidak mampu mengantisipasi nyeri sehingga memungkinkan tidak menunjukkan perilaku yang spesifik terkait dengan respon terhadap nyeri. atau takut (Supartini.

tidak mau bekerja sama dengan perawat. 2004). ekspresi verbal dengan mengucapkan kata-kata marah. Anak prasekolah akan mendorong orang yang akan melakukan prosedur yang menyakitkan agar menjauh. .Reaksi terhadap perpisahan yang ditunjukkan anak usia prasekolah adalah dengan menolak makan. (Wong. mencoba mengamankan peralatan. Terkait prosedur yang menyakitkan. proses pemasangan infus merupakan salah satu prosedur yang menyakitkan bagi anak. Ketakutan anak terhadap perlukaan muncul karena anak menganggap tindakan dan prosedurnya mengancam integritas tubuhnya. dan ketergantungan pada orangtua (Supartini. atau berusaha mengunci diri di tempat yang aman. dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan. 2009). sering bertanya. Hal ini menimbulkan reaksi agresif dengan marah dan berontak. menangis walaupun secara perlahan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful