Pengajaran Bahasa Asing

Pembicaraan mengenai pengajaran bahasa tidak bisa dilepaskan dari konteks pembelajaran bahasa. Keduanya berkait erat dan melibatkan berbagai variabel yang jumlahnya banyak. Intinya adalah bahwa proses belajar mengajar bahasa itu bukan hal yang sederhana dan tidak bisa diamati sekedar sebagai potongan-potongan kegiatan mengeluarkan dan menimba bahan saja. Pengajaran bahasa asing, termasuk BIPA, sebagai kegiatan profesional telah melahirkan berbagai kerangka teoretis yang melibatkan berbagai disiplin. Antara tahun 1940 - 1960 tampak sekali adanya pandangan yang kokoh bahwa penerapan linguistik dan psikologi akan menjadi landasan terbaik guna memecahkan masalah pengajaran bahasa. Selanjutnya, lahirlah berbagai model yang melihat faktor-faktor berpengaruh dalam menelorkan pedagogi bahasa, seperti model dari Campbell, Spolsky, Ingram, dan Mackey (baca Stern, 1983). Pembelajaran bahasa sering hanya memusatkan perhatian pada tingkah linguistik saja dengan mengabaikan tingkah non-linguistiknya. Dalam konteks ini Bloomfield (1933:499) menyatakan bahwa Whoever is accustomed to distinguish between linguistic and non-linguistic behavior, will agree with the criticism that our schools deal too much with the former, drilling the child in speech response phases of arithmetic, geography, or history, and neglecting to train him in behavior toward his actual environment. Sistem pengajaran formal di sekolah dalam konteks pembelajaran bahasa hanya merupakan salah satu saja dari sekian banyak variabel terkait. Variabel lain yang patut dilihat adalah antara lain variabel pajanan (exposure), usia si pembelajar, dan tingkat akulturasi (Krashen, 1982:330). Dalam berbagai penelitian yang dilaporkan oleh Krashen (1982:37-43), pajanan itu terkadang berkorelasi positif dan berarti dengan kemahiran berbahasa, tetapi terkadang juga tidak. Dalam hal variabel usia yang sering diasumsikan sebagai suatu penduga kemahiran B2, Krashen, Long dan Scarcella yang dikutip oleh Krashen (1982:43) mengetengahkan generalisasi berikut berdasarkan hasil penelitiannya: (1) Orang dewasa bergerak lebih cepat dari pada anak-anak dalam melampaui tahapan dini perkembangan B2-nya; (2) dengan waktu dan pajanan yang sama, anak yang lebih tua melalui proses pemerolehan bahasa lebih cepat dari pada anak yang lebih muda; dan (3) pemeroleh yang memulai pajanan alamiah terhadap B2 pada masa anak-anak pada umumnya mencapai kemahiran B2 lebih baik dari pada yang memulai pajanan alamiahnya sebagai orang dewasa. Tingkat akulturasi si pembelajar terhadap kelompok bahasa sasaran akan mengontrol tingkat pemerolehan bahasanya. Menurut Schumann yang diuraikan Larsen-Free man (di Bailey, Long & Peck (penyunting), 1983), akulturasi itu meliputi dua kelompok faktor: variabel sosial dan variabel afektif.

bakat bahasa. guru dengan kemahiran berbahasa Indonesia yang memadai. 1982:62-73)." Di Korea. Masukan yang menarik dan relevan diharapkan mampu menciptakan kondisi pada si pemeroleh sedemikian rupa sehingga ia "lupa" bahwa apa yang sedang diresepsinya diproduksi dalam bahasa kedua atau asing. Karakteristik kemenarikan dan/atau relevansi diharapkan bisa mendorong si pemeroleh untuk memusatkan perhatian pada isi ketimbang pada bentuk. konteks pengajaran BIPA itu akan merambah ke berbagai hal terkait seperti ketersediaan dukungan lingkungan pembelajaran yang akan memberikan masukan/bahan yang akan dipelajari. Dalam hal karakteristik keteracakan gramatis. Semuanya akan berinteraksi dalam membuat kegiatan belajar-mengajar BIPA menjadi betul-betul berhasil-guna. Di Jerman. 1988). Altman." Di Amerika Serikat. hambatan khas terhadap perkembangan BIPA adalah "kurangnya lowongan pekerjaan atau jabatan untuk mereka yang mempunyai kemahiran dalam BI. "hambatan lain yang kami rasakan hanyalah mengenai materi pelajaran. diketengahkan bahwa manakala masukan itu terpahami dan makna dinegosiasi secara berhasil. . Titone (di Alatis. Karakteristik keterpahaman bisa diamati dari perkembangan pemerolehan B2 atau bahasa asihg lewat bahan yang tidak bisa dipahami. dan jumlah waktu yang dipakai dalam belajar bahasa merupakan tiga faktor yang paling menonjol yang memberikan ciri pada pembelajaran B2. 1981:74-75) menduga bahwa motivasi. kemenarikan dan/atau relevansi. sebagaimana diutarakan oleh Sumarmo (1988). masukan yang diisitilahkan oleh Krashen sebagai i+1 itu akan secara otomatis hadir. persoalan mutu pelajaran masih harus diupayakan pemecahannya. Dalam menanggapi kebutuhan akan ketersediaan bahan masukan bahasa dalam konteks pengajaran BIPA ini. dan metode mengajar yang keefektifannya akan sangat bergantung pada semua faktor yang disebutkan terdahulu. ada beberapa karakteristik masukan agar masukan itu bisa diperoleh secara cepat dalam konteks pemerolehan bahasa. terutama kamus yang lengkap dengan contoh pemakaian kata yang cukup banyak" (Shigeru. dan Alatis (penyunting). Di Jepang guru BIPA "membutuhkan kamus yang lengkap. keteracakan gramatis. dan kuantitas yang memadai (Krashen. menurut Young-Rhim (1988). Demikianlah. Di Australia. Keterpelajaran masukan tersebut antara lain ditentukan dengan karakteristik: keterpahaman. perlu diamati berbagai faktor: Misalnya. Dalam situasi belajar mengajar di kelas karakteristik ini sukar dipenuhi. Fenomena Pengajaran BIPA Terdapat berbagai permasalahan yang berkaitan dengan tawaran BIPA di berbagai negara. karena keterikatan waktu dan keharusan meliput bahan yang sudah tentera dalam silabus.Sedikit berbeda dengan Krashen. siswa dengan segala cirinya. 1988). seperti yang dituturkan Sarumpaet (1988). upaya perlu dilakukan "melalui peningkatan penulisan dan penerbitan buku tentang Indonesia baik dalam bahasa asing maupun dalam bahasa Indonesia" (Soedijarto. karena minat mempelajari bahasa dan kebudayaan Indonesia terus meningkat.

Burt. Salah satu jenis umpan balik adalah pembetulan. 1982:14). dan ibm. 1982:32). dalam pengertian "everything the language learner hears and sees in the new language. dan (3) frekuensi. (3) ketersediaan rujukan konkret untuk menjelaskan makna. Mengakses internet menjadi lebih mudah dewasa ini tentu saja dengan catatan si pengakses mempunyai penguasaan akan bahasa asing. (2) umpan balik. Sedangkan faktor lingkungan mikro mencakup (1) kemenonjolan (salience). Pemanfaatan Media Teknologi Dewasa ini. dan Krashen. Burt dan Krashen. Burt. Dalam lingkupnya yang lebih kecil. Tetapi penelitian lain ternyata telah menelorkan hasil yang berbeda (Dulay. yang pertama adalah kemenonjolan (salience). Ia adalah ciri tertentu yang tampaknya membuat suatu butir secara visual atau auditor lebih menonjol dari pada yang lain. Ciri-ciri bahan masukan dalam pengajaran BIPA ini termasuk bahan masukan itu sendiri dalam bentuk bahan belajar-mengajar telah tersedia cukup banyak bila guru BIPA mau melanglangbuana ke sana ke mari lewat berbagai media yang ada. internet dapat berfungsi baik sebagai sumber bahan maupun sebagai penata kerangka pemahaman dan kerangka berpikir bagi pendidikan maupun peserta didik itu sendiri. akan menciptakan rongga kekosongan yang banyak dalam bidangnya masing-masing. Burt. seperti netura. Faktor lingkungan makro meliputi (1) kealamiahan bahasa yang didengar. Makin banyak si pembelajar mendengar suatu struktur. (2) peranan si pembelajar dalam komunikasi. dan Krashen. 1982:13). Dalam kaitannya dengan pengembangan pendidikan. lingkungan. terdapat beberapa pilihan penyedia akses internet. Faktor lingkungan mikro yang ketiga adalah frekuensi yang diasumsikan sebagai faktor berpengaruh terhadap pemerolehan bahasa. Penyedia akses menjadi lebih banyak terus. merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kaitan dengan keberhasilan pembelajaran bahasa itu." (Dulay. makin cepat proses pemerolehan struktur itu. yang lainnya adalah persetujuan atau umpan balik positif. Jaringan internet bagi seorang ilmuwan dapat berfungsi sebagai gudang informasi yang sangat luas liputannya. Salah satu di antara media yang akan membantu pengembangan bahan ajar serta akan berkontribusi pada upaya peningkatan berbahasa itu adalah media teknologi. melsa. tampaknya sudah mulai diancangkan bahwa seorang akademisi tanpa menceburkan diri ke lautan internet. sebuah lembaga pendidikan tanpa dilengkapi jaringan internet akan kehilangan dinamikanya sendiri. 1982:32-37).Dalam membicarakan pengajaran dan pembelajaran bahasa. sidola. Berkenaan dengan faktor lingkungan mikro. Kemenonjolan ini merujuk pada kemudahan suatu struktur dilihat atau didengar. Jaringan ini . Salah satu di antara aplikasi standar internet adalah the world wide web yang lebih dikenal dengan singkatan www. dan (4) siapa model bahasa sasaran (Dulay. Di kota Bandung saja. pos-giro. yaitu mudahnya suatu struktur untuk dilihat atau didengar. Krashen. yaitu seringnya si pembelajar mendengar atau melihat struktur tertentu (Dulay. yaitu tanggapan pendengar atau pembaca terhadap tuturan atau tulisan si pembelajar. Faktor lingkungan mikro yang kedua adalah umpan balik. khususnya internet.

bila si penerima membuka internetnya. yang merupakan kependekan dari electronic mail. Semua sumber-sumber informasi yang dapat diakses itu memberi peluang bagi guru yang kreatif untuk menciptakan cara baru dalam menyajikan bahan pelajaran.niu. Dalam sebutan sehari-hari kita mendengar kata e-mail. seperti majalah Tempo. teks bacaan dengan fasilitas kamus dan pertanyaan pilihan ganda. berbagai upaya pendidikan dapat lebih ditingkatkan. Bahkan dengan menggunakan aplikasi seperti telnet kita bisa berkomunikasi secara tertulis dengan orang yang mempunyai akses ke internet di manapun di dunia ini. Sekarang alamat ratnik yang dimiliki seseorang sudah menjadi penanda kecanggihan orang tersebut. Biaya pengiriman kita sangat murah karena akan hanya setara dengan penggunaan telpon lokal beberapa detik saja. Ratnik ini sangat efektif dan efisien.apbipa. guru-guru dapat mengambil bahan tertentu dengan mencetaknya sebagai bahan yang dapat dimodifikasi guna kegiatan belajar-mengajarnya. Laman APBIPA yang untuk sementara terdapat pada http://www.edu/ menyediakan latihan interaktif.seasite. Biaya pengirimannya menjadi sangat murah. walaupun orang tersebut berada di balik belahan bumi ini. penggunaan perpustakaan. akses ke ensiklopedia. Dengan memanfaatkan berbagai aplikasi yang ada dalam jaringan internet.ikip-bdg. surat kabar Republika dan Kompas. penjelajahan penerbitan. Bahkan jurnal-jurnal pun beribu jumlahnya dapat diakses melalui jaringan ini. Bahkan guru bahasa Indonesia bagi penutur asing dapat mengggunakan berbagai sumber tentang Indonesia dan daerah melalui surat kabar atau majalah yang dapat diakses secara cuma-cuma diberbagai homepage. Bahan-bahan lainnya dapat diperoleh melalui akses ke berbagai lembaga yang telah memunculkan informasi dan produknya di jaringan internet.id/~apbipa atau http://www. mungkin bagus kalau saya sebut saja ratnik.ac. SEAsite yang dapat diakses lewat http://www. tak peduli ke bagian dunia mana kita mengirimkan surat tersebut. dan penelusuran jurnal ilmiah merupakan hal yang mudah diperoleh lewat internet itu. seseorang dapat menerima dan membalas surat atau mengirimkan makalah secara langsung tanpa harus pergi ke kantor pos. Tawaran program pendidikan.org mencoba antara lain memasukkan berbagai situs BIPA yang segera dapat dirambah oleh para anggotanya. Dari situ juga dapat dilakukan upaya pemilihan bahan utama maupun bahan pelengkap untuk kegiatan belajar mengajar. Istilah ini diindonesiakan menjadi surat elektronik. Seorang mahasiswa dapat berhubungan langsung dengan tidak terbatas oleh jarak ruang maupun perbedaan waktu kepada dosen atau pembimbingnya. Terdapat bahan substansial yang bisa diakses baik oleh guru maupun oleh pembelajar BIPA lewat internet. Sebuah surat yang panjang akan beralih ke provider dari komputer orang yang akan menerima surat itu hanya dalam beberapa detik saja.merupakan database yang terdistribusi yang di dalamnya berisi informasi dengan berbagai bidang liputan. surat kita telah sampai dengan lengkap. Misalnya. Dalam waktu yang singkat. Ada juga bagian . Dengan menggunakan ratnik ini. Bahkan dengan cara tersendiri.

Guru dan pembelajar BIPA dapat pula memperoleh pengajaran tata bahasa dan pelafalan dengan format tradisional terdapat dalam laman Learn Indonesian in Seven Days dalam: http://infoweb. Keberhasilan pengajaran dan pembelajaran BIPA sangat tergantung pada keberhasilan guru merancang materi pengajaran yang merupakan alat untuk mencapai sasaran belajar yang hendak dicapai. tujuan kurikuler. Tidak benar jika guru di Indonesia kekurangan atau tidak memiliki materi. keberanian. brosur. sebuah gambaran kelas kolaboratif berdurasi 5 minggu yang dikembangkan berdasarkan telaahan terhadap koran-koran Indonesia on-line sebagai bahan gagasan yang dapat digunakan bagi pengembangan laman kelas.edu.magi.htm.com/~mbordt/bahasa8c.unisa. dan kemampuan untuk mengolah bahan-bahan itu menjadi bahan pelajaran. Dengan kata lain.percakapan untuk pemahaman menyimak dan hubungan ke sumber berita dan seni budaya Indonesia. atau tujuan institusional. Tugas tersebut bisa berupa tugas pedagogis (pedagodical tasks) atau tugas yang benar-benar dilakukan dalam kehidupan sehari-hari . Analisis Materi Dalam menelaah materi pengajaran BIPA kita bisa mulai dengan mengamati tugas-tugas (tasks) yang tercakup dalam materi tersebut. kelangkaan sumber daya manusia yang handal merupakan masalah utama dalam pengembangan program BIPA di Bali. Bagi guru BIPA yang kekurangan ide. Buku ajar BIPA tidak banyak tersedia di pasaran atau di perpustakaan besar di Indonesia padahal selama lebih dari 30 tahun BIPA sudah diajarkan di Indonesia dan di lebih dari 50 negara di dunia. dapat memperoleh bantuan dari rancangan pengajaran terstruktur untuk menciptakan tugas interaktif di laman Ayo. Chaedar Alwalsillah dalam sinyalemennya melalui The Jakarta Post (22 Agustus 1998) 'Are we ready for IFL teaching?' mengatakan bahwa kelangkaan materi BIPA disebabkan oleh ketidakmampuan kalangan akademis untuk menuliskan pengalaman mereka. Sumber materi jumlahnya tak terhingga mulai dari media massa (media cetak dan elektronik).au/ AFMLTA/resgideO. 1. Salah satu penyebab utama kelangkaan materi BIPA di Indonesia adalah keengganan para pelaku BIPA untuk menuangkan pengalaman mereka. Berselancar Berita Indonesia! dalam http://www.htm yang dikembangkan berdasarkan sebuak buklet sehingga belum mencakupi interaktivitas tetapi cukup berguna untuk menyegarkan pengetahuan. Sebenarnya materi BIPA di Indonesia sangat melimpah. dan penutur jati (asli). Kekurangan yang paling besar adalah kemauan. Sasaran tersebut harus sesuai dengan tujuan belajar siswa. Di dalamnya ada juga 10 rencana pelajaran berdasarkan telaahan terhadap gunung berapi di Indonesia.epub-research. tujuan pengajaran.

Secara singkat.. Untuk memudahkan guru dalam memahami dan merancang tugas yang sesuai. rancangan materi di bawah ini dapat dianalisis berdasarkan kriteria komponen tugas menurut Nunan (989: 11) sebagai berikut. mengeluarkan ungkapan dan berinteraksi dalam bahasa yang sedang dipelajari dan pada saat yang sama perhatian mereka terpusat pada penguasaan makna dan bukan pada penguasaan bentuk atau struktur. Kerja berpasangan/kelompok Peran guru Peran siswa Situasi : Pemantau dan fasilitator : Pasangan bicara : Kelas/kerja kelompok atau berpasangan . Membaca untuk menentukan kegiatan sesuai gambar 2. Nunan (1989: 9-10) memberikan definisi tugas sebagai: . Materi di atas menghendaki siswa untuk melakukan kegiatan bertanya jawab tentang apa yang sedang dilakukan oleh tiap anggota keluarga.. Dengan memperhatikan makna tugas menurut definisi di atas. analisis materi di atas dapat diringkas sebagai berikut: Tujuan Input Kegiatan : Bertanya jawab : Informasi kegiatan keluarga dalam bentuk gambar : 1. (Terjemahan saya) Menurut Breen dan Candlin (dalam Sheldon ed. pekerjaan di dalam kelas yang menuntut pembelajar untuk memahami. Dengan demikian tiap siswa berperan sebagai lawan bicara sementara guru berperan sebagai fasilitator.menggunakan bahasa yang sedang dipelajari (real-world tasks). memanipulasi. 1987) tugas adalah rencana kerja yang dirancang secara sistematis mulai dari latihan yang paling sederhana dengan tingkat kesulitan paling rendah sampai dengan kegiatan komunikasi total atau pemecahan masalah. Semua pengetahuan tentang tata bahasa dan kosa kata serta keterampilan menjawab pertanyaan dan mengerjakan tugas-tugas di dalam kelas (pedagogical tasks) harus bermuara pada penguasaan keterampilan dan kemampuan siswa untuk berkomunikasi di luar kelas dalam bahasa yang sedang dipelajari (real-world tasks). Untuk dapat melakukan tugas itu siswa diharapkan telah menguasai struktur kalimat tanya dalam bahasa Indonesia. Kedua definisi ini mengisyaratkan kepada guru BIPA bahwa hakekat pembelajaran BIPA sebenarnya bukanlah untuk mempelajari aturan-aturan kebahasaan atau mengerjakan latihan-latihan dalam buku ajar.

Sumber . materi yang dikembangkan di IALF secara nyata memuat data tentang hal-hal berikut.Breen and Candlin (ibid) mengajukan sejumlah kriteria untuk memilih materi yang bermanfaat. Keleluasaan menentukan pilihan 7. Tugas yang dikerjakan siswa 3. Dengan mengetahui perancang materi tersebut. 1. Cara penyajian 9. Penampilan nama lembaga/program pemakai memberikan kesan bahwa materi tersebut khusus dirancang untuk mereka. Tata Letak Materi yang disadur dari sumber yang telah diterbitkan harus dirancang ulang sesuai kebutuhan. Evaluasi terhadap prosedur dan isi pelajaran 2. Apa yang telah dan akan dipelajari 8. Perancang (Lembaga) Perancang bisa lembaga atau perseorangan yang bertanggung jawab terhadap penyusunan materi. dst. Dengan demikian. Pemakai (Klien) Pemakai adalah siswa atau program yang menggunakan materi. Untuk menampilkan materi secara profesional dan untuk memudahkan revisi dan pengembangan lebih lanjut. Tujuan (instruksional. kurikuler. guru diharapkan mampu merekacipta materi tersebut agar sesuai dengan kondisi belajar yang sedang dihadapi. Situasi belajar-mengajar di dalam kelas 11. guru bisa melakukan penyesuaian sebagai mana mestinya. Tingkat Dengan mencantumkan Tingkat/Kelas pada materi. Cara belajar dan konsep siswa tentang bahasa 6.) 2. Materi yang diambil dari buku ajar tertentu biasanya dibuat untuk kalangan siswa dalam situasi tertentu. Jika kelak materi itu hendak digunakan untuk tingkat yang lebih tinggi atau lebih rendah. guru akan memperoleh informasi tentang tingkat kesulitan materi. Pengembangan kegiatan komunikasi 5. kita akan bisa menghubunginya jika kita hendak memperoleh materi tersebut. Sumber-sumber belajar lain di dalam kelas 10. Minat siswa 4.

Kadang-kadang input bahasa itu disampaikan secara tersurat atau tersirat dalam jumlah yang bervariasi. Jika guru memberikan materi yang sarat dengan latihan tata bahasa ini dapat menjadi indikasi bahwa guru tersebut mengikuti aliran pengajaran bahasa secara tradisional. 3. belajarmengajar. Kesesuaian Materi pelajaran mencerminkan paham yang dianut guru tentang konsep bahasa. Guru perlu menumbuhkembangkan sikap bahwa keberhasilan belajar pada dasarnya tergantung pada siswa itu sendiri (autonomous or independent learning). jika guru mengetahui karakteristik pengajaran . Namun. dan bahasa asing. Dalam pengajaran BIPA yang siswanya kebanyakan orang dewasa.Pencantuman sumber akan memudahkan guru lain untuk melacak kebenaran informasi yang ada di lembar materi dan mengetahui lebih jauh tentang topik yang ada pada lembaran tersebut. guru harus mengakui bahwa tiap siswa telah mengembangkan keterampilan bahasa dan keterampilan belajar yang dapat diaplikasikan dalam proses belajar-mengajar BIPA. Materi yang bagus akan membantu siswa untuk mengetahui apa yang sudah dan akan mereka pelajari dari materi yang diberikan. Peran siswa dan guru Materi harus mampu menentukan peran yang akan diambil oleh siswa dan guru. guru yang menyajikan materi yang mendorong siswa untuk melakukan kerja kelompok atau berpasangan mungkin menganut konsep bahwa bahasa adalah komunikasi. Komponen Input bahasa Tiap lembar materi pada dasarnya mengandung input bahasa. Cara belajar siswa Mengembangkan materi yang benar-benar sesuai dengan cara belajar siswa merupakan tugas yang sangat sulit bagi guru. Tujuan Materi yang bagus memberikan kemudahan kepada siswa untuk melakukan identifikasi tujuan pengajaran. Komponen bahasa yang tertera di dalam lembar materi dapat berfungsi untuk memperkenalkan pelajaran baru atau melakukan konsolidasi terhadap pelajaran yang telah dipelajari. Materi yang efektif mampu menunjukkan kepada siswa apa yang akan mereka pelajari dari materi yang diberikan: belajar bahasa atau keterampilan baru. Sementara itu. Dalam lembaran yang hanya terdiri dari gambar atau ilustrasi pun terkandung input bahasa yang tak terhingga.

siswa-siswa BIPA di Australia lebih senang mempelajari kata bahasa Indonesia asli daripada kata serapan. Pak Agung. dan satu kerbau. Di belakang rumahnya ada lima belas ayam putih. and suspect my reasons apply to a lot of students. Nyoman. Di keluarga Agung ada enam orang. Anaknya bernama Wayan. dua belas. Usia dan minat siswa Di samping umur." akan dinilai lebih tinggi dibandingkan dengan. Pengetahuan tentang hal ini memungkinkan guru untuk merancang materi dan kegiatan kelas yang sesuai. duabelas bebek. (Hibbs et al. Made. dua sapi coklat. "Saya mau ke kamar kecil. dan enam. Dalam mempelajari kosa kata bahasa Indonesia. Budaya siswa/bahasa sasaran Materi harus mempertimbangkan unsur-unsur budaya siswa dan budaya bahasa sasaran.dan pembelajaran bahasa asing. A major reason I would suggest that Asutralian undersue WLWs is simply that they dislike them. Cuplikan materi BIPA di bawah ini mengandung kesalahan sangat serius tentang budaya Bali. faktor minat juga perlu diperhatikan dalam merancang materi. "Saya mau ke toilet. Dalam pelajaran tentang "Perkenalan". guru akan lebih mampu menampilkan materi yang cocok untuk siswa. Ungakapan. misalnya. Di samping desa Sangeh ada hutan dengan banyak monyet. "Menawar" dalam budaya bahasa Indonesia tidaklah mudah untuk dipahami atau dilakukan oleh kelompok masyarakat yang tidak mengenal budaya tawar-menawar dalam berbelanja. would often use WLW instead. Hassall (1999) mengatakan: My strong impression is that Australian students underuse these Western loan words (WLWs) compared to educated native speakers. Misalnya. Bu Agung juga bekerja di sawah. Dia petani dan bekerja di sawah setiap hari dari pagi sampai malam. That is. wacana pendek di atas mengandung masalah budaya yang sangat serius. Biasanya Pak Agung bangun pagi pada jam empat dan makan pagi sebelum pergi ke sawah. mungkinkah orang Bali yang . tiga kambing. Rumahnya kecil tetapi dia mempunyai banyak tanah. Misalnya. dan Ketut1 Umurnya lima belas.". Bu Agung. Setiap hari ada banyak wisatawan yang mengunjungi hutan ini dan memberi kacang kepada monyet. and have though a lot about why. they strongly tend to use native words where educated Indonesian . dan empat anak. I hated these words for years as a student. Pak Agung tinggal di desa Sangeh di Pulau Bali. Sehubungan sikap negatif siswa Australia terhadap kata serapan. The main basis for this belief is introspection. guru tidak bisa memaksa siswa asing dari Thailand atau Jepang untuk langsung belajar berjabat tangan dalam kelas BIPA. 1996: 96) Di samping mengandung ketidakcermatan pemakaian bahasa.

kemampuan. Nyoman. bahkan menghayati. Guru juga harus mampu melihat ruang untuk menciptakan teknik dan strategi belajar-mengajar selanjutnya pada semua tingkat. Misalnya. Penutup Kesiapan. lingkungan. Bagi siswa. Latar Belakang Belajar bahasa asing di negeri penuturnya mempunyai kelebihan. kepekaan. Hanya dengan merampungkan tugas ini guru bisa dengan tenang memasuki ruang kelas untuk 'mengajar'. pemelajar merekam kebudayaan asing dalam bentuk stereotipe masyarakat pendukungnya. dan pengalaman guru dapat tercermin dari tampilan materi yang diberikan kepada siswa. dan didaktik metodik. dan Ketut? Jawaban terhadap pertanyaan ini akan sangat tergantung pada asumsi-asumsi budaya yang akan dikemukakan penjawabnya. Pengembangan berkelanjutan Materi yang baik memberikan ruang bagi guru untuk terus melakukan revisi dan pembaruan. antara lain kesem-patan untuk mengalami interaksi dengan lingkungan masyarakat dan budayanya. Sutrasno (Universitas Indonesia) Abtrak Paparan ini akan memperlihatkan hasil pembelajaran1 bahasa Indonesia sebagai bahasa asing yang menekankan pada kemahiran berkomunikasi secara lintas budaya. Kita tahu bahwa belajar bahasa asing berjalan sejajar dengan belajar kebudayaan asing. yang sering terjadi. Selain itu. seperti budaya materiil. baik budaya kebahasaan itu sendiri maupun aspek budaya yang lain. diharapkan penelitian ini akan menghasilkan suatu model pembelajaran yang dapat meningkatkan mutu pendidikan. kebudayaan masya-rakat penutur asli itu. Tampilan materi juga memberikan petunjuk kepada 'siswa' tentang keseriusan. dan religi. Kebenaran informasi dalam materi hanyalah merupakan salah satu prasyarat materi yang baik. sedangkan responden dalam penelitian lapangan adalah pengajar dan peserta program. materi yang pada awalnya dirancang untuk mengembangkan keterampilan menulis. Sumber data dalam pengkajian pustaka berupa dokumen Program BIPA FIB-UI dan tulisan peserta program. pedagogis. Data kualitatif akan dianalisis untuk memerikan suatu kemahiran berbahasa Indonesia yang disertai dengan kemahiran sosial-budaya. Langkah selanjutnya yang harus dilaksanakan guru adalah merancang kegiatan belajar menggunakan materi yang telah disiapkan. Namun. Dalam pembelajaran bahasa asing di negeri penuturnya. pemelajar akan memahami.bernama Bapak dan Ibu Agung akan menamai anak-anak mereka dengan Wayan. dan kecermatan guru dalam menyajikan pelajaran. Kita perlu memahami bahwa materi yang baik belum menjamin keberhasilan proses belajar-mengajar. Tampilan materi harus memenuhi unsur-unsur estetika. Persiapan yang baik memberikan jaminan keberhasilan belajar-yang lebih besar. BELAJAR BAHASA DAN BUDAYA INDONESIA: SUATU ANCANGAN SOSIALBUDAYA Rahayu Surtiati Hidayat dan Irzanti S. Made. bisa dikembangkan untuk meningkatkan keterampilan berbicara. . Penelitiannya memperoleh data melalui pengkajian pustaka dan kerja lapangan. Guru yang peduli dengan kepentingan siswa senantiasa menyiapkan pelajaran dengan baik. materi harus memungkinkan mereka untuk mengembangkan keterampilan bahasa yang lain.

buktinya makin banyak peserta BIPA yang meneruskan studi ke program reguler baik di jenjang S1. Kami juga pernah mengusulkan untuk menggunakan istilah tes bahasa Indonesia sebagai bahasa asing (TIBA). sebenarnya pada Kongres BIPA tahun 1995 sudah muncul usul yang serupa. bahkan pada tahun ajaran 2007/2008 ada lulusannya yang mendaftarkan diri ke program D III bahasa Cina dan bahasa Inggris. Lulusannya merasa puas dengan kemahiran yang mereka kuasai. maupun S3. 2 Kami mengusulkan istilah bahasa Indonesia sebagai bahasa asing yang dapat disingkat BISA. sebagaimana ditawarkan dalam KBBI (2005:17). Jumlah pesertanya dapat dikatakan tetap dan kehadirannya ajeg selama tiga semester.1 Pembelajaran di sini diartikan sebagai proses membuat orang belajar. S2. Dalam hal pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing (BISA)2 di Program BIPA FIB-UI. Memang UI 2 . Istilah itu lebih tepat karena menerangkan posisi bahasa Indonesia dalam pembelajaran dan menghindari kerancuan dengan nama program pengajaran. sedangkan pemelajaran bermakna proses belajar. Apalagi. yaitu Program Bahasa Indonesia untuk Peserta Asing (BIPA) di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. hasilnya nyata.

lulusan BIPA yang berasal dari Jepang. melainkan berbagai bentuk hal yang ada di pikiran orang. hasil pengajaran yang seperti itu tetap dirasakan kurang memuaskan. setiap masyarakat memiliki kebudayaan khas dan masyarakat dibentuk oleh berbagai komunitas yang masing-masing memiliki subkebudayaan (subculture) yang khas juga. Meskipun demikian. atau lulus Program BIPA III. Seminar dan Lokakarya Bahasa Indonesia untuk Peserta Asing (BIPA) ini. Artinya. atau dengan kata lain. Namun. yang bertemakan “Menggalang Citra Indonesia melalui BIPA”. Masalahnya. bahasa Indonesia harus diajarkan dengan ancangan sosial budaya (Yalden 1987). mereka bergaul dengan mahasiswa Indonesia serumah kos dan menonton acara televisi untuk mengisi waktu luang. kebudayaan bukanlah fenomena materiil. sejak lama pengajaran bahasa asing telah menerapkan metode pengajaran berbasis pemelajar Dalam makalah ini kami akan membahas upaya Program BIPA FIB-UI mengajarkan bahasa Indonesia dengan memanfaatkan keberadaan pemelajar di negeri penutur bahasa Indonesia. Pendapat peserta ataupun lulusan akan dijelaskan secara lebih terperinci di bagian lain. dan Rusia mengikuti Program Pengumpulan Satuan Kredit Semester (credit earning) karena kreditnya dapat ditransfer ke program tempat mereka belajar di negeri masing-masing. Selain itu. Meskipun demikian. sebagai ikutannya. merupakan peluang untuk membahas pembelajaran yang berancangan sosial budaya. Belajar dari lingkungan itulah yang membuat mereka menghayati kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Korea. yaitu berbagai aspek kehidupan manusia yang dikondisikan secara sosial (Hymes 1964). 3 . belajar bahasa Indonesia di Indonesia memungkinkan bagi pemelajar memelajari (learn) bahasa dan kebudayaan Indonesia di kelas sekaligus memeroleh (acquire) cara berkomunikasi dalam konteks keindonesiaan di luar kelas.mensyaratkan calon mahasiswa asing untuk menguasai bahasa Indonesia akademik. Oleh sebab itu. Selama mengikuti Program BIPA mereka mendapat kesempatan untuk melakukan kunjungan belajar yang tercakup dalam kurikulum dan belajar seni serta berolahraga yang merupakan kegiatan ekstrakurikuler. kebudayaan sangat kompleks sehingga sering ditangkap oleh orang asing hanya sebagian yang akhirnya menjadi stereotipe. menafsirkannya. pengajaran BISA perlu dikembangkan menjadi berbasis pemelajar (student-centred learning) (Nunan 1988) dan. Bagaimana agar orang asing yang belajar bahasa Indonesia membentuk citra Indonesia yang tidak stereotipikal? Sebagaimana dijelaskan di atas. terlalu banyak masalah pemelajaran yang belum ditemukan solusinya. Oleh sebab itu. Permasalahan Pembelajaran bahasa asing selalu mempermasalahkan pemerolehan kemampuan kebahasaan yang mencakup pengetahuan kebahasaan dan kemahiran menggunakan bahasa dalam komunikasi nyata. bagaimana pembelajaran BISA menjadi media komunikasi lintas budaya seperti yang dinyatakan dalam subtema semiloka ini. Padahal. Ancangan kemampuan komunikatif yang ditawarkan pada tahun 1970-an dan masih bertahan hingga kini adalah contoh ancangan pengajaran bahasa asing yang lebih menekankan pada aspek kemahiran menggunakan bahasa daripada aspek kebahasaan (Yalden 1987). Apa sebenarnya citra suatu negeri dan penghuninya? Tidak lain adalah kebudayaanya (culture). kebanyakan peserta kos di rumah penduduk di sekitar Kampus UI Depok. berbagai model untuk memahami. dalam rangka pertukaran mahasiswa.

sedangkan mahasiswa. 4 Untuk keperluan perorangan. adat istiadat. Untuk memenuhi kebutuhan pemelajar. peserta kursus belajar menggunakan bahasa Indonesia dalam konteks akademik. dan peneliti melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. sebelumnya kami perlu menjelaskan Program BIPA di FIB-UI. namun tidak ditahapkan secara sengaja dan bercampur dengan kata yang termasuk kategori “lanjut”. Program BIPA FIB-UI juga melayani kursus privat di luar kampus (inhouse training) dengan kurikulum pesanan (taylored made).” Program itu mencakupi tiga jenjang pendidikan yang masingmasing berlangsung selama satu semester (enam belas minggu). mereka yang lulus jenjang terdahulu lebih banyak berlatih menggunakan bahasa tulis (baku) dan mulai mempelajari berbagai aspek sosial budaya dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Pada BIPA I. Peserta kursus sangat heterogen. Pada jenjang terakhir. 3 Sebelumnya. khususnya perilaku. seperti sejarah. hukum. kemudian hasil penelitian awal tentang hasil pengajaran BISA. pada BIPA II. kursus BISA diselenggarakan oleh Badan Urusan Mahasiswa Asing (BUMA) di FSUI untuk kepentingan beberapa mahasiswa asing yang memperdalam pengetahuan di Indonesia. kosakata diseleksi demi kepentingan komunikasi sehingga ketersediaan menjadi lebih penting daripada kekerapan. FIB) menyelenggarakan pengajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa asing yang berjalan sejajar dengan pengajaran kebudayaan Indonesia. profesional. Oleh karena itu pula. Hal itu tidak terhindarkan mengingat ancangan kemampuan 4 . Dengan demikian. Program BIPA FIB-UI juga menyelenggarakan program semester pendek yang disebut BIPA Pas (program antarsemester) dengan intensitas kegiatan 15 jam per minggu selama 8─9 minggu. Peserta yang ibu rumah tangga biasanya berhenti belajar setelah lulus BIPA I. Tujuan penyelenggaraan program itu menyatakan secara eksplisit cakupan bahasa dan kebudayaan. Meskipun penahapan unsur gramatikal masih berdasarkan prinsip dari sederhana menuju ke rumit. BIPA III. khususnya sejak Program BIPA diresmikan pada 19833. pemelajar—pemula dan pemula palsu—belajar terutama bahasa Indonesia ragam lisan untuk menguasai pengetahuan dasar kebahasaan dan mampu menggunakannya untuk bertahan hidup di Indonesia. baik secara lisan maupun tulis dengan membahas kebudayaan Indonesia. peserta didik dapat menyelesaikan seluruh program kursus dalam waktu yang lebih singkat4. ataupun vokasi mereka. Kemudian. Memang kosakata “dasar” tetap tercakup dalam pembelajaran di tingkat dasar. Namun. Program BIPA FIB-UI menerapkan ancangan kemampuan komunikatif (communicative competence approach) dalam pembelajaran BISA. Pesertanya belajar selama 180 menit setiap hari atau 15 jam seminggu. calon mahasiswa asing untuk berbagai program pendidikan reguler di Universitas Indonesia dipersyaratkan lulus BIPA III atau memperoleh nilai yang setara dengan BIPA III dalam TIBA. masalah sosial. status.Di muka telah disebutkan bahwa makalah ini akan menguraikan semacam model pembelajaran BISA. dan politik. Pengajaran Bahasa dan Kebudayaan Indonesia Sejak lama FSUI (sekarang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. artinya asal. “mempersiapkan peserta asing agar mampu berbahasa Indonesia baku baik secara lisan maupun tulis serta mengenal beberapa aspek budaya dan kebudayaan Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful