You are on page 1of 32

UJI Template TOKSISITAS AKUT

WINTER
Konvensional

FSI 2009
Golongan 1 :

Template Setyowati Longina Narastika Rini

WINTER

Maulana Tegar Ady Kurniawan Lutfiana Dwi A. Rizka Ariani Afina Laras S. Dwi Larasati S. Fadhil Rusyda M. Yugiani Purnamasari Tsulaikha Safriani Nur Mustaqim Desti Wibowo Lina Utami S. Dona Sari Pratiwi

Toksikologi...

03

Ilmu yang mempelajari sifat-sifat racun zat kimia terhadap makhluk hidup dan lingkungan Setiap keracunan ditentukan oleh banyak faktor terutama dosis. Setiap zat kimia yang akan digunakan harus diujitoksisitas dan keamanannya.

Toksikologi (lanjutan..)

04

Setiap zat kimia, bila diberikan dengan dosis yang cukup besar akan menimbulkan gejala-gejala toksik. Untuk mengetahuisifat toksisitas ini pertama-tama harus ditentukan pada hewan coba melalui penelitian toksisitas akut dan subkronik.

Uji Toksisitas...

05

uji keamanan pra-klinis untuk penapisan spectrum efek toksik. Dirancang untuk menentukan dosis letal median (LD50) toksikan. Uji toksisitas ini dengan menggunakan hewan roden dan non roden. Pengujian ini dapat menunjukan organ sasaran yang mungkin dirusak dan efek toksik spesifiknya, serta memberikan petunjuk tentang dosis yang sebaiknya digunakan dalam pengujian yang lebih lama.

Uji Toksisitas

06

UJI TOKSISITAS AKUT

07

uji yang dilakukan untuk mengukur derajat efek suatu senyawa yang diberikan pada hewan coba tertentu, dan pengamatannya dilakukan pada 24 jam pertama setelah perlakuan dan dilakukan dalam satu kesempatan saja

UJI TOKSISITAS AKUT

08

Metode LD50

09

Data kuantitatif uji toksisitas akut dapat diperoleh melalui 2 cara, yaitu dosis letal tengah (LD50) dan dosis toksik tengah (TD50).
Kelebihan Kekurangan Bisa mendapatkan seri rentang dosis Data yang akan diperoleh terbatas komponen pada pemberian tunggal pada rute pemberian tertentu dari Pengamatan efek toksik membutuhkan percobaan yang dilakukan. waktu yang tidak lama, sekitar 24 jam Komponen tersebut dapat menjadi dengan pemberian dosis tunggal kurang toksis pada pemberian oral Pengamatan uji ketoksikan akut dilakukan dibanding dengan pemberian intra untuk mempersempit rentang dosis vena, dsb. penelitian untuk menentukan kurva dosis Penggunaan hewan uji terlalu banyak, respon yang menyebabkan kematian. sementara pada penelitian-penelitian Pada uji ketoksikan akut ini, setiap masa kini sudah merujuk pada OECD langkah dilakukan untuk memperolah yang menggunakan hewan uji yang informasi yang dapat digunakan untuk uji lebih sedikit atau merujuk pada aturan toksisitas yang diperlama. 3-R.

Metode LD50

10

Lethal Dose 50 adalah suatu besaran yang diturunkan secara statistik, guna menyatakan dosis tunggal sesuatu senyawa yang diperkirakan dapat mematikan atau menimbulkan efek toksik yang berarti pada 50% hewan coba setelah perlakuan Tes LD50 tidak membutuhkan banyak waktu. Hasil tes ini dapat langsung digunakan sebagai perkiraan risiko suatu senyawa terhadap konsumen atau pasien Pada dasarnya, nilai tes LD50 yang harus dilaporkan selain jumlah hewan yang mati, juga harus disebutkan durasi pengamatan. Namun seiring perkembangan, hal ini sudah tidak diperhatikan lagi, karena pada umumnya tes LD50 dilakukan dalam 24 jam pertama sehingga penulisan hasil tes LD50 saja sudah cukup untuk mewakili tes LD50 yang diamati dalam 24 jam. Bila dibutuhkan, tes ini dapat dilakukan lebih dari 14 hari.

Metode LD50

11

Hasil yang diperoleh (dalam mg/kgBB) dapat digolongkan menurut potensi ketoksikan akut senyawa uji menjadi beberapa kelas, seperti yang terlihat pada tabel berikut :

12
UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ALKOHOL DAUN JATI BELANDA (Guazuma ulmifolia Lamk) PADA TIKUS WISTAR

Tujuan

13

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi ketoksikan akut ekstrak alkohol daun jati belanda sediaan oral dosis tunggal yang ditunjukkan dengan nilai LD50 dan perubahan berat badan antar kelompok perlakuan.

Manfaat

14

Dapat mengetahui potensi ketoksikan dari ekstrak alkohol daun jati belanda sehingga dapat mengatahui batas keamanan dari pemakaian ekstrak daun jati belanda.

Latar Belakang

15

Obesitas atau kegemukan adalah salah satu problem kesehatan masyarakat modern, dimana gaya hidup didominasi dengan makanan yang kaya akan kolesterol dan tinggi kalori sementara tubuh minim gerak. Selain ancaman penyakit yang termasuk dalam sindroma metabolik, obesitas juga mengganggu penampilan seseorang. Alasan inilah biasanya yang mendorong seseorang untuk menurunkan berat badannya.

Latar Belakang

16

Jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk) telah dikenal masyarakat kita sebagai tanaman obat yang berkhasiat untuk menurunkan berat badan. Paradigma yang berkembang dimasyarakat kita saat ini adalah bahwa ramuan tradisional dikarenakan bahan-bahannya berasal dari alam adalah tidak berbahaya dan tidak mempunyai efek samping. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar, karena itu diperlukan informasi yang menyampaikan tentang batas aman penggunaan obat tradisional

METODOLOGI
Objek Uji

Template ekstrak alkohol daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk) yang telah dikenal masyarakat kita sebagai tanaman obat yang berkhasiat untuk menurunkan berat badan.
senyawa kimia aktifnya antara lain tanin, musilago, kafein, sitosterol, friedelin, kaueronic acid, flavonoid, saponin, antioksidan proanthocyanidin, dan lain sebagainya.

WINTER

17

METODOLOGI
Subjek Uji

WINTER
Template

18

Populasi tikus Wistar jantan sebanyak 25 ekor dengan kriteria inklusi tikus Wistar jantan berumur 3-4 bulan dengan berat badan 250-300 gram, sehat, dan tidak terdapat abnormalitas anatomi

METODOLOGI (proses uji) Proses Uji Template

WINTER

19

METODOLOGI (proses uji) Proses Uji Template

WINTER

20

METODOLOGI (proses uji) Proses Uji Template

WINTER

21

Hasil

22

1. Data kuantitatif yang diperoleh dari uji toksisitas akut ini adalah LD50 (lethal dose 50). Dari data ini, suatu senyawa dapat digolongkan sebagai bahan yang sangat toksik (extremely toxic) hingga bahan yang tidak toksik (practically non toxic). 2. Data kualitatif yang diperoleh meliputi penampakan klinis, morfologis dan mekanisme efek toksik.

Hasil

23

1. Data kuantitatif Selama tujuh hari perlakuan tidak ada hewan coba yang mati baik pada kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan.
Hal ini menunjukkan bahwa pemberian dosis tunggal secara oral ekstrak alkohol daun jati belanda sampai dengan dosis maksimum yang masih dapat diberikan secara teknis pada hewan uji (6324,14 mg/kgBB) atau sekitar 31,6 kali dosis yang lazim dipakai pada manusia, tidak menimbulkan kematian pada hewan coba.

Hasil

24

Dosis tertinggi tersebut dinyatakan sebagai LD50 semu, sementara LD50 oral ekstrak alkohol daun jati belanda untuk tikus lebih besar dari 6324,14 mg/kgBB. Berdasarkan kriteria Gleason M.N (1964), hasil tersebut mempunyai makna toksikologi bahwa potensi ketoksikan akut ekstrak alkohol daun jati belanda termasuk dalam kategori praktis tidak toksik.

Hasil

25

2. Data kualitatif Pada pengamatan, setelah perlakuan didapatkan hasil bahwa tidak terdapat gejalagejala toksik yang timbul setelah pemberian ekstrak alkohol daun jati belanda.

Hasil

26

Berat badan sesudah perlakuan didapatkan ratarata seperti pada tabel dibawah ini.

Hasil

27

Berat badan sesudah perlakuan tersebut kemudian dibandingkan antar kelompok dan didapatkan hasil dari uji statistik seperti tertera pada tabel berikut ini:

Ket : B = Bermakna TB = Tidak Bermakna

Hasil

28

Dari tabel hasil perbandingan berat badan antar kelompok sesudah perlakuan, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bermakna berat badan antara kelompok kontrol (K) dan kelompok perlakuan P2, P3, P4 dimana p<0,05. Pada kelompok perlakuan, hanya antara P1 dan P3 yang terdapat perbedaan bermakna (p=0,016).

Hasil

29

Dari hasil analisa kuantitatif data berat badan, didapat perbedaan bermakna antara kelompok kontrol (K) dengan kelompok perlakuan P2, P3, P4. Kelompok-kelompok perlakuan ini adalah kelompok yang mendapatkan sediaan uji dengan dosis sama dengan atau lebih dari dosis yang lazim dipakai pada manusia (setara dengan 200 mg/kgBB tikus). Hasil ini selain mendukung pernyataan bahwa kandungan tanin dan musilago dalam jati belanda mempunyai efek penurun berat badan seperti telah dijelaskan diawal, perbedaan yang bermakna ini juga menunjukkan dosis efektif yang berguna untuk menurunkan berat badan kemungkinan pada level dosis yang lazim dipakai pada manusia untuk ramuan pelangsing tubuh.

Hasil

30

Sementara untuk antar variasi dosis sendiri ternyata tidak signifikan mempengaruhi perubahan berat badan, kecuali antara kelompok perlakuan I dengan kelompok perlakuan III yang menunjukkan bahwa kemungkinan dosis paling efektif untuk menurunkan berat badan adalah pada dosis yang setara dengan dosis 2000 mg/kgBB tikus .

Hasil

31

Banyak faktor yang mempengaruhi penurunan berat badan. Tidak hanya faktor dosis pemberian sediaan uji namun juga faktor-faktor lain mempengaruhi hasil akhir. Kondisi lingkungan hewan coba, seperti misalnya keadaan kandang, cahaya, makanan dan minuman, suhu kandang, mempengaruhi faktor stress tikus yang kemudian berkolaborasi dengan faktor internal seperti misalnya faktor gastrointestinal, faktor imun, dan lain sebagainya. Oleh karena itu perlu dirancang suatu penelitian khusus untuk uji efektivitas ekstrak alkohol daun jati belanda dalam pemanfaatannya sebagai penurun berat badan.

KESIMPULAN

32