0% found this document useful (0 votes)
319 views87 pages

Lokakarya Mini Keperawatan RSU Aisyiah

This document discusses the background of nursing management at RSU Aisyiyah Padang. It aims to analyze the situation in the inpatient room of Wing B from March 7-19, 2022. Nursing management plays an important role in ensuring quality of care and patient safety. Proper hand hygiene, fall risk assessment, and effective communication are important to prevent patient harm and improve satisfaction.

Uploaded by

Melati Ananda
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
319 views87 pages

Lokakarya Mini Keperawatan RSU Aisyiah

This document discusses the background of nursing management at RSU Aisyiyah Padang. It aims to analyze the situation in the inpatient room of Wing B from March 7-19, 2022. Nursing management plays an important role in ensuring quality of care and patient safety. Proper hand hygiene, fall risk assessment, and effective communication are important to prevent patient harm and improve satisfaction.

Uploaded by

Melati Ananda
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd

LOKAKARYA MINI I

DI RUANGAN RAWAT INAP WING B


PERIODE 07 MARET 2022 S/D 19 MARET 2022
RSU AISYIAH PADANG
TAHUN 2022

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 3

1. BAIQ MAZIZA A.M, [Link] (2114901005)


2. ISLAMI FIKRI, [Link] (2114901019)
3. FIOLA RAFLITA DEWI, [Link] (2114901015)
4. MESSI RATNA SARI. [Link] (2114901024)
5. NOVITA IRAMWATI, [Link] (2114901030)
6. RESTIA AFRIZAH, [Link] (2114901034)
7. SHINTA NENGSIH MAHARDIKA, [Link] (2114901042)
8. LIDIA PURAMASARI, [Link] (2114901063)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ALIFAH PADANG


PROGRAM PROFESI STUDI NERS
TAHUN 2022
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Disetujui oleh :

Padang, Maret 2022

Pembimbing Akademik I Pembimbing Akademik II

(Dr. Ns. Asmawati, [Link]) (Ns. Rebbi Permata Sari, [Link])

Pembimbing Klinik

(Ns. Rika Gusneri, [Link])


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti ucapkan kehadirat allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunianya, salawat beriringan salam untuk Nabi Besar
Muhammad SAW, sehingga kelompok III dapat menyelesaikan lokalkarya ini.
Dalam menyelesaikan lokalkarya ini kelompok III telah mendapat bantuan
dan bimbingan serta dukungan moril dari berbagai pihak, oleh sebab itulah pada
kesempatan ini kelompok III mengucapkan terimakasih kepada:
1. Ibu Dr. [Link], [Link], [Link] sebagai Koordinator Siklus
Manajemen Keperawatan STIKes Alifah.
2. Ibu Ns. Rebbi Permata Sari, [Link], [Link] sebagai Pembimbing Siklus
Manajemen STIKes Alifah.
3. Ibu dr. Silvi Korprina sebagai direktur RSU ‘Aisyiyah Padang.
4. Ibu dr. Lidya Pasimura sebagai Kabid pelayanan medis dan keperawatan.
5. Ibu Ns. Rika Gusneri, S. Kep sebagai Komite keperawatan
6. Ibu Nurhayati, [Link] sebagai Ka. Instalasi Diklat dan Promkes.
7. Ibu Ns. Nilamala Sari, S. Kep sebagai Kepala Instalasi Ranap
8. Ibu Ns. Tuti Indrawarni, S. Kep sebagai Kepala Ruangan Wing B
9. Seluruh ibu perawat di Wing B
Kami menyadari bahwa penulisan lokalkarya mini ini masih belum
sempurna, untuk itu kami mengharapkan kritikan, saran dan masukan yang dapat
membangun kesempurnaan lokalkarya mini ini. Sehingga lokalkarya mini ini
dapat bermanfaat bagi semuanya.

Padang, Maret 2022

Kelompok III
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................i
DAFTAR ISI.........................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...........................................................................................................1
B. Tujuan........................................................................................................................4
C. Manfaat......................................................................................................................5
BAB II TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Manajemen...................................................................................................6
B. Proses Manajemen Keperawatan...............................................................................6
C. Fungsi Manajemen Keperawatan...............................................................................7
D. Prinsip Manajemen Keperawatan..............................................................................8
E. Kerangka Konsep Manajemen Keperawatan.............................................................9
F. Filosofi Manajemen Keperawatan.............................................................................9
G. Peran Manajemen Keperawatan................................................................................9
H. Fungsi Manajerial......................................................................................................11
I. Cara Perhitungan Jumlah dan Kategori Tenaga Keperawatan...................................18
J. Teori Hand Hygiene...................................................................................................19
K. Teori Resiko Jatuh.....................................................................................................24
L. Teori Komunikasi SBAR...........................................................................................29
BAB III ANALISA SITUASI RUANGAN
A. Kajian Situasi Rumah Sakit.......................................................................................32
B. Kajian dan Situasi Ruangan.......................................................................................32
C. Analisa Data...............................................................................................................64
D. Analisa SWOT...........................................................................................................72
E. POA (Planning Of Action).........................................................................................75
BAB IV PRIORITAS MASALAH.....................................................................................76
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................77
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rumah sakit merupakan suatu institusi pelayanan kesehatan yang
kompleks dan juga komponen yang sangat penting dalam meningkatkan status
kesehatan bagi masyarakat. Pengelolaan pelayanan dan asuhan keperawatan
merupakan salah satu fungsi rumah sakit yang merupakan bagian dari sistem
pelayanan kesehatan yang bertujuan mempertahankan status kesehatan
masyarakat seoptimal mungkin. Rumah sakit sebagai salah satu tatanan
pemberian asuhan keperawatan kepada masyarakat yang harus mampu
menyediakan berbagai jenis pelayanan kesehatan yang kompleks dan
berkualitas (Ilyas, 2017).
Keperawatan merupakan salah satu profesi yang ada di rumah sakit.
Perawat memiliki peran penting dalam menjaga mutu layanan kesehatan di
rumah sakit. Tugas seorang perawat berkaitan dengan pengabdian sosial untuk
kesejahteraan dan kesembuhan orang lain. Perawat merupakan garda depan
dalam menghadapi masalah kesehatan pasien selama 24 jam secara terus
menerus dan dituntut dapat menjadi figur yang dibutuhkan oleh pasiennya,
dapat bersimpati kepada pasien, selalu menjaga perhatiannya, fokus dan hangat
pada pasien. Seorang perawat memiliki peran dan dan fungsi yaitu penyedia
layanan, advokat, edukator, komunikator, dan manajer. Perawat yang berperan
sebagai manajer harus menciptakan lingkungan pelayanan yang berkualitas dan
untuk hasil yang baik (Ilyas, 2017).
Perawat memiliki peran yang sangat penting dalam mencapai kualitas
pelayanan kesehatan terhadap pasien karena perawat merupakan ujung tombak
dalam pemberian pelayanan kesehatannya. Perawat berkewajiban dalam
pemberian asuhan keperawatan, untuk memberikan asuhan keperawatan ada
beberapa metode yang digunakan. Metode keperawatan merupakan suatu
system yang diterapkan dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada
pasien untuk meningkatkan derajat kesehatan dan tingkat kepuasan pasien.
Metode keperawatan yang biasa digunakan di Indonesia adalah metode primer,
metode kasus, metode tim dan metode fungsional (Sumijatun, 2015).
Kualitas pelayanan kesehatan yang baik dapat menimbulkan rasa puas
pada diri setiap pasien. Dalam usaha menjaga kualitas pelayanan kesehatan di
rumah sakit, profesi keperawatan berperan penting sebagai kunci utama dalam
pelayanan rumah sakit. Secara kuantitas, perawat merupakan jumlah tenaga
terbanyak yang berada disamping pasien selama 24 jam (Herlambang, 2017).
Selain itu peningkatan kualitas pelayanan keperawatan dirumah sakit
juga dipengaruhi oleh pasien safety (keselamatan pasien) yang baik, pasien
safety yang menjadi komponen penting dalam pelayanan kesehatan yaitu risiko
jatuh, hand Hygiene, serta komunikasi efektif. Pelayanan keperawatan
memiliki konstribusi yang besar terhadap citra sebuah rumah sakit sehingga
perlu untuk melakukan evaluasi atas pelayanan yang diberikan (Nursalam,
2018). Program keselamatan pasien adalah suatu usaha untuk menurunkan
angka Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) yang terjadi pada pasien selama
dirawat di rumah sakit. KTD dapat bermula dari Kejadian Nyaris Cedera
(KNC), Kejadian Potensial Cedera (KPC) dan Kejadian Tidak Cedera (KTC).
KTD meliputi pasien jatuh hingga kejadian sentinel. KTD disebabkan oleh
berbagai faktor antara lain beban kerja perawat yang tinggi, alur komunikasi
yang kurang tepat, penggunaan sarana dan prasarana yang kurang tepat dan
lain-lain (Nursalam, 2018).
Menurut (Adi, 2018) risiko jatuh adalah suatu kejadian yang dapat
menyebabkan subjek yang sadar menjadi berada di lantai tanpa disengaja.
Risiko jatuh adalah peningkatan kerentanan terhadap jatuh yang dapat
menyebabkan bahaya fisik (Wilkinson, 2019). Pasien jatuh di rumah sakit
merupakan masalah yang serius karena dapat menyebabkan cedera ringan
sampai dengan kematian, serta juga dapat memperpanjang lama hari rawat
(Length of Stay/LOS) di rumah sakit dan akan menambah biaya perawatan di
rumah sakit (Joint Commission Internasional, 2019). Penilaian pencegahan
pasien jatuh terdiri dari Humpty Dmupty pada anak-anak, Penilaian Geriatri
pada lansia dan morse fall score (MFS) pada orang dewasa. MFS atau
Pengkajian resiko jatuh skala morse bertujuan untuk menentukan besar resiko
atau kerentanan pasien untuk jatuh (Nursalam, 2015).
Pengkajian resiko jatuh skala morse dilakukan dengan cara mengisi
format pengkajian dengan melakukan cecklist untuk menentukan nilai besaran
berdasarkan variabel atau indikator penilaian resiko dan dilaksanakan mulai
dari pasien masuk rumah sakit hingga keluar sesuai perkembangan pasien.
Untuk melakukan pengkajian resiko jatuh skala morse dibutuhkan pengetahuan
yang baik bagi perawat. Pengetahuan perawat tentang pengkajian resiko jatuh
sangat menentukan dalam pengambilan keputusan tentang keselamatan pasien
(Nursalam, 2015).
Disamping itu dalam aktivitas kita sehari-hari tangan seringkali
terkontaminasi dengan mikroba, sehingga tangan dapat menjadi perantara
masuknya mikroba ke dalam tubuh kita. Mencuci tangan dikatakan sebagai
satu-satunya cara yang efektif dalam mengontrol penyebaran mikroorganisme.
Oleh karena itu dengan menjaga kebersihan tangan yang baik dan benar
diharapkan dapat menurunkan kejadian infeksi nosokomial (Boyce dan Pittet,
2020).
Hand Hygiene (kebersihan tangan) merupakan teknik dasar yang paling
penting dalam pencegahan dan pengendalian infeksi (Zulpahiyana, 2019).
Hand Hygiene merupakan membersihkan tangan dengan sabun dan air
(handwash) dan handrub berbasis alkohol yang bertujuan mengurangi atau
mecegah berkembangnya mikroorganisme di tangan. Kepatuhan mencuci
tangan didefinisikan subjek penelitian melakukan cuci tangan pada 5 momen
secara keseluruhan. Mencuci tangan telah dianggap sebagai salah satu tindakan
terpenting yang efektif dalam melibatkan kesadaan kesehatan pekerja, indikasi
dan kapan waktu melakukan hand hygiene untuk mengurangi penularan
diadopsi dari WHO.
Dalam patient safety komunikasi efektif dalam lingkungan perawatan
kesehatan membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan empati. Hal tersebut
termasuk mengetahui kapan seorang harus berbicara, apa yang perlu dikatakan,
bagaimanakah cara mengatakannya dan mempunyai rasa percaya diri serta
mampu untuk mengetahui bahwa pesan telah diterima dengan benar. Walaupun
digunakan setiap saat dalam situasi klinis, keterampilan berkomunikasi harus
dipelajari, dipraktekkan dan disempurnakan oleh semua perawat sehingga
perawat dapat berkomunikasi dengan jelas, singkat dan tepat dalam lingkungan
yang serba cepat dan tepat. Pendekatan sistematik dibutuhkan untuk
memperbaiki cara berkomunikasi salah satunya dengan menggunakan teknik
SBAR (Safitri, 2012).
Komunikasi SBAR terdiri dari S (Situation) merupakan sebuah
pernyataan singkat dari masalah yang terjadi pada saat itu, B (Background)
merupakan pernyataan dari informasi yang melatar belakangi situasi yang
terjadi, A (Assessment), pernyataan penilaian terhadap sebuah masalah, R
(Recommendation): pernyataan tentang tindakan meminta saran untuk
melakukan tindakan mengatasi masalah (Clochesy, dkk. 2015)
Pelaksanaan komunikasi SBAR menurut SOP (Standart Operasional
Prosedur) yang merupakan komunikasi efektif dalam hubungan antar profesi di
Rumah Sakit menggunakan tehnik SBAR (Situation, Background, assessment,
Recommendation), yang dipergunakan pada saat melakukan timbang terima
pasien, melaporkan kondisi pasien kepada DPJP (Dokter Penanggung Jawab
Pasien ), dan TBak (Tulis, Baca, Konvermasi kembali ) yang dilakukan pada
saat menerima instruksi dari dokter, saat menerima test kritis (critical test), dan
saat menerima nilai kritis dari laboratorium atau radiologi. Salah satu upaya
untuk menjaga keselamatan pasien (Clochesy, dkk. 2015).
Rumah sakit sebagai suatu tempat pelayanan kesehatan memiliki suatu
sistem yang terdiri dari tim pelayanan kesehatan seperti dokter, perawat, ahli
gizi dan tenaga kesehatan lainnya yang mempunyai suatu tujuan untuk
meningkatkan pelayanan kesehatan. RSU ‘Aisyiyah mempunyai misi dan visi
yang harus dicapai dalam meningkatkan pelayanan rumah sakit yang lebih
baik. Secara umum rumah sakit di Kota Padang memiliki tujuan untuk
meningkatkan dan mengembangkan pelayanan kesehatan agar dapat
menjangkau semua lapisan masyarakat memberikan pelayanan yang bermutu
dan berkualitas. Untuk mencapai tujuan RSU ‘Aisyiyah mempunyai visi yaitu
“Rumah Sakit Islam yang dicintai Masyarakat” sedangkan misi RSU ‘Aisyiyah
yaitu Meningkatkan Citra Rumah Sakit yang Islami, Memberikan Pelayanan
Kesehatan yang Berkualitas dan Profesional, Meningkatkan Tata Kelola
Rumah Sakit.
Berdasarkan hasil observasi kelompok yang dilakukan pada tanggal 7
Maret- 19 Maret 2022 didapatkan hasil di ruangan rawat inap wing B RSU
‘Aisyiyah Padang ditemukan 3 permasalahan yaitu tentang keselamatan pasien
berupa pencegahan resiko jatuh, hand hygiene dan komunikasi SBAR.
Menurut hasil observasi ditemukan bahwa kurang optimalnya tenaga perawat
dalam menerapkan komunikasi SBAR saat overan dan saat melakukan
tindakan keperawatan. Kurang optimalnya ketersediaan fasilitas cuci tangan
terhadap pelayanan kesehatan di ruangan pasien yaitu ada beberapa perawat
yang tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien, terlihat
perawat hanya mencuci tangan dengan handwash maupun handrub jika terkena
cairan tubuh pasien saja dan terlihat bahwa botol handrub yang terdapat di
setiap ruangan tampak tidak berisi/ kosong. Kurang optimalnya perawat dalam
melakukan assessment resiko pasien jatuh menimbulkan tidak ditemukannya
stiker kuning yang berlogo resiko jatuh pada gelang identitas dan tempat tidur
pasien yang melambangkan bahwa pasien tersebut beresiko untuk jatuh di
kemudian hari.
Permasalahan yang dikemukan diatas maka mahasiswa praktek profesi
ners manajemen keperawatan STIKes Alifah Padang tertarik untuk
mengangkat masalah-masalah diatas, untuk dapat mencapai penyelesaian
masalah tersebut sehingga dapat meningkatkan mutu pelayana kesehatan
masyarakat. Dari masalah yang timbul maka kelompok menyebarkan kuisioner
untuk memecahkan masalah tersebut kelompok perlu mengadakan pertemuan
dalam bentuk lokakarya mini dengan mengundang kepala instalasi dan kepala
ruangan rawat inap WING B RSU ‘Aisyiyah Padang, Pembimbing Klinik dan
Pembimbing Akademik.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengidentifikasikan masalah dan penyelesaian masalah yang ada di
instalasi rawat inap WING B RSU ‘Aisyiyah Padang.
2. Tujuan Khusus
Secara individu / kelompok mahasiswa dapat menunjukkan kemampuan
a) Mengidentifikasi masalah manajemen pelayanan keperawatan di instalasi
rawat inap WING B RSU ‘Aisyiyah Padang.
b) Menentukan rumusan masalah yang berkaitan dengan pendokumentasian
asuhan keperawatan dan pre&post conference di ruangan rawat inap
WING B RSU ‘Aisyiyah Padang.
c) Menentukan prioritas masalah di ruangan rawat inap WING B RSU
‘Aisyiyah Padang.
d) Mengidentifikasi alternatif pemecahan masalah yang ditemukan di
ruangan rawat inap WING B RSU ‘Aisyiyah Padang.
e) Membuat planning of action untuk memecahkan masalah di di ruangan
rawat inap WING B RSU ‘Aisyiyah Padang.
f) Melakukan implementasi di ruangan rawat inap WING B RSU ‘Aisyiyah
Padang.

C. Manfaat Penulisan
1. Bagi Rumah Sakit
Diharapkan dapat memberikan tambahan informasi bagi petugas kesehatan
mengenai pentingnya manajemen keperawatan dalam pemberian asuhan
keperawatan..
2. Bagi Kepala Ruangan
Membantu dalam mengidentifikasi masalah yang dihadapi dalam
menjalankan asuhan keperawatan diruangan rawat inap WING B RSU
‘Aisyiyah Padang.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan referensi untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam
manajemen keperawatan dengan pendekatan profesional, dan sebagai bahan
bacaan bagi mahasiswa selanjutnya yang akan melaksanakan praktek
keperawatan profesional.
4. Bagi Mahasiswa Praktek Profesi Ners
Sebagai bahan acuan bagi mahasiswa untuk melakukan praktek manajemen
keperawatan profesional didunia kerja nantinya.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Manajemen Keperawatan

1. Konsep Manajemen Keperawatan


Manajemen adalah suatu pendidikan yang dinamis dan produktif
selama menjalani suatu kegiatan di organisasi sedangkan manajemen
keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan
untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional (Nursalam,
2015).
Manajemen keperawatan adalah suatu tugas khusus yang harus
dilaksanakan oleh pengelola keperawatan untuk merencanakan,
mengorganisasikan, mengarahkan serta mengawasi sumber-sumber yang
ada, baik sumber daya maupun sumber dana sehingga dapat memberikan
pelayanan keperawatan yang efektif kepada pasien, keluarga dan
masyarakat (Adisasmito, 2009).
Asmuji (2014), menyatakan manajemen keperawatan merupakan
suatu proses menyelesaikansuatu pekerjaan melalui perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan dengan menggunakan
sumber daya secara efektif, efisien, dan rasional dalam memberikan
pelayanan bio-psiko-sosial-spiritual yang komprehensif pada individu,
keluarga, dan masyarakat, baik yang sakit maupun yang sehat melalui
proses keperawatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Manajemen keperawatan harus dapat diaplikasikan dalam tatanan
pelayanan nyata, yaitu Rumah Sakit dan komunitas sehingga perawat perlu
memahami konsep dan [Link] manajemen keperawatan
perencanaan berupa rencana strategi melalui pendekatan pengumpulan data,
analisa SWOT, dan menyusun langkah- langkah perencanaan, pelaksanaan
secara operasional, khusunya dalam pelaksanaan metoda asuhan
keperawatan, melakukan pengawasan dan pengalihan serta
pendokumentasian yang lengkap (Nursalam, 2015).
2. Proses Manajemen Keperawatan
Proses manajemen keperawatan sesuai dengan pendekatan sistem
terbuka dimana masing-masing komponen saling berhubungan dan
berinteraksi dan dipengaruhi oleh lingkungan, karena merupakan suatu
sistem maka akan terdiri dari lima elemen yaitu input, proses, output,
kontrol dan mekanisme umpan balik, yang secara rinci dapat diuraikan
(Nursalam, 2015).
a) Input dari proses manajemen keperawatan antara lain informasi,
personel, peralatan dan fasilitas.
b) Proses dalam manajemen keparawatan adalah kelompok manajer dari
tingkat pengelola keperawatan tertinggi sampai keperawat pelaksanaan
yang mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dalam pelaksanaan
pelayanan keperawatan.
c) Potput adalan asuhan keperawatan, pengembangan staff dan riset.
d) Kontrol yang digunakan dalam proses manajemen keperawatan termasuk
budget dari bagian keperawatan, evaluasi penampilan kerja perawat,
prosedur yang standard an akreditasi.
e) Mekanisme timbal balik berupa laporan finansial, audit keperawatan,
survey kendali mutu dan penampilan kerja perawat.

3. Fungsi-Fungsi Manajemen
a) Perencanaan (Planning)
1) Gambaran apa yang akan dicapai
2) Persiapan pencapaian tujuan
3) Rumusan suatu persoalan untuk dicapai
4) Persiapan tindakan-tindakan
5) Rumusan tujuan tidak harus tertulis dapat hanya dalam benak saja
6) Tiap-tiap organisasi perlu perencanaan
b) Pengorganisasian (Organizing)
Organizing merupakan pengaturan setelah rencana, mengatur dan
menetukan apa tugas pekerjaannya, macam, jenis, unit kerja, alat-alat,
keuangan dan fasilitas . Aspek utama lain dari organizing adalah
pengelompokan kegiatan kedapertemen atau beberapa sub divisi lainnya.
Misalnya kepegawaian, untuk memastikan sumber daya manusia
diperlukan untuk mancapai tujuan organisasi. Memperkerjakan orang
untuk pekerjaan merupakan aktifitas kepgawaian yang khas,
kepegawaian adalah suatu aktivitas utama yang terkadang
disklasifikasikan sebagai fungsi yang terpisah dari organizing.
c) Actuating
Actuating adalah peran manajer untuk mengarahkan pekerja yang sesuai
dengan tujuan [Link] adalah implementasi rencana berbeda
dari planning dan [Link] membuat urutan rencana menjadi
tindakan dalam dua organisasi.
d) Pengendalian (Controlling)
Controlling memastikan bahwa kinerja sesuai dengan [Link] ini
membandingkan antara kinerja aktual dengan standar yang telah
ditentukan. Jika terjadi perbedaan yang signifikan antara kinerja aktual
dengan yang diterapkan, manajer harus mengambil tindakan yang
sifatnya mengoreksi. Misalnya meningkatkan periklanan untuk
meningkatkan penjualan.
e) Penilaian (Evaluasi)
Merupakan proses pengukuran dan perbandingan hasil-hasil pekerjaan
yang harus dicapai. Hakekat penilaian merupakan fase tertentu setelah
kegiatan, sebelum, sebagai koreksi dan pengobatan yang ditujukan pada
fungsi organik administrasi dan [Link] unsur yang dikelola
sebagai sumber manajemen adalah Money, Material, Methode, Machine,
Minute, Dan Market.

4. Prinsip Manajemen Keperawatan


a. Manajemen keperawatan sesungguhnya berlandasan perencanaan karena
melalui fungsi perencanaan, pimpinan dapat menurunkan resiko
pengambilan keputusan, pemecahan masalah yang efektif dan terencana.
b. Manajemen keperawatan dilaksanakan melalui penggunaan waktu yang
efektif. Manajer keperawatan yang menghargai waktu akan menyusun
perencanaan yang terprogram dengan baik dan melaksanakan kegiatan
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
c. Manejemen keperawatan akan melibatkan pengambilan keputusan
berbagai situasi maupun permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan
kegiatan keperawatan memerlukan pengambilan keputusan diberbagai
tingkat manajerial.
d. Memenuhi kebutuhan asuhan keperawatan pasien merupakan fokus
perhatian manajer perawat dengan mempertimbangkan apa pasien lihat,
fikir, yakini dan ingini. Kepuasan pasien merupakan poin utama dari
seluruh tujuan keperawatan.
e. Manajemen keperawatan harus terorganisasi, pengorganisasian dilakukan
sesuai dengan kebutuhan organisasi untuk mencapai tujuan.
f. Pengarahan merukapan elemen kegiatan manajemen keperawatan yang
meliputi proses pendelegasian, koordinasi, dan pengendalian pelaksanaan
rencana yang telah diorganisasikan.
g. Divisi keperawatan yang baik memotivasi karyawan untuk
memperlihatkan penampilan kerja yang baik.
h. Manajemen keperawatan menggunakan komuniasi yang efektif,
komunikasi yang efektif akan mengurangi kesalahpahaman dan
memberikan persamaan pandangan, arah dan pengertian diantara
pegawai.
i. Pengembangan staff penting untuk dilaksanakan sebagai upaya persiapan
perawat-perawat pelaksana menduduki posisi yang lebih tinggi atau
upaya manajer untuk meningkatkan pengetahuan karyawan (Suarli dan
Bahtiar, 2009).

5. Kerangka Kosnep Manajemen Keperawatan


Manajemen pertisipatis yang berlandasankan pada paradigm keperawatan :
a. Manusia akan tertarik dan terikat dengan pekerjaannya
b. Jika informasi yang bermanfaat dan layak pada individu akan membuat
keputusan terbaik untuk dirinya sendiri
c. Tujuan kelompok akan mudah dicapai oleh kelompok
d. Setiap individu memiliki karakteristik dan motivasi, minat dan cara untuk
mencapai tujuan kelompok
e. Fungsi koordinasi dan pengendalian amat penting dalam pencapaian
tujuan
f. Persamaan kualifikasi harus dipertimbangkan
g. Individu memiliki hak dan tanggung jawab untuk mendelegasikan
kewanangan pada mereka yang terbaik dalam organisasi
h. Pengetahuan dan keterampilan amat diperlukan dalam pengambilan
keputusan yang professional
i. Semua fungsi berfungsi untuk mencapai tujuan kelompok dan merupaka
tujuan bersama untuk mendapatkan tujuan bersama (Suarli dan Bahtiar,
2009).

6. Filosofi Manajemen Keperawatan


a. Mengerjakan hari ini lebih baik dari pada esok
b. Menajer keperawatan merupakan fungsi utama bidang keprawatan
c. Peningkatan mutu kinar perawat
d. Pendidikan berkelanjutan
e. Proses keperawatan individual menunjang pasien untuk mencapai
kesehatan optimal
f. Tim keperawatan bertanggung jawab dan bertanggung gugat untuk setiap
tindakan keperawatan yang diberikan
g. Menghargai pasien dan haknya untuk mendapatkan askep yang bermutu
h. Perawat adalah advokat pasein
i. Perawat berkewajiban untuk memberikan pendidiakn kesehatan pada
pasien dan keluarga (Suarli Dan Bahtiar, 2009)

7. Peran Manajemen Keperawatan


Perawat professional diharapkan menjadi manajer dan leader yang efektif
dalam keperawatan. Hal-hal yang harus dilakukan yang terkait perannya
sebagai manajer keperawatan adalah kopetensi yang harus dimilikinya agar
menjadi leader yang efektif (Nursalam, 2015).
a. Kepemimpinan
1) Berkomunikasi tentang organisasi, kegiatan organisasi dan
pelaksanaan perubahan
2) Mendelegasikan tugas dan menerima tanggung jawab
3) Menciptakan budaya organisasi yang konduksif dan efektif
4) Menerapkan gaya kepemimpinan yang efektif
5) Melibatkan staff dalam pengembangan organisasi
b. Pengambilan keputusan dan perencanaan
1) Berfikir ulang dan menyusun kembali prioritas organisasi
2) Cepat tanggap terhadap perubahan yang tidak diharapkan
3) Mengantisipasi perencanaan perubahan anggaran
4) Memberikan pedoman tentang keputusan organisasi
5) Meninterprestasikan pereubahan ekonomi staff
c. Hubungan / komunikasi
1) Empati, mendengar dan tanggap pernyataan staff
2) Menciptakan situasi kondusif dalam komunikasi
3) Mengembangan proses hubungan yang baik dalam organisas
d. Anggaran
1) Mengontrol budget
2) Menginterprestasikan penggunaan anggaran sesuai anggaran
3) Merencanakan anggaran tahunan (5tahun)
4) Mengkonsultasikan masalah keuangan
e. Pengembangan
1) Mengembangkan tim kerja yang efektif
2) Mnegembangakan hubungan yang professional antar staff
3) Memberikan umpan balik yang positif
4) Menggunakan sistem pembarian penghargaan yang baik
f. Personaliti
1) Mengambil keputusan yang tepat
2) Mengelola stress individu
3) Menggunakan koping yang efektif dalam setiap masalah
g. Negosisasi
1) Mengidentifikasi dan mengelola konflik
2) Melakukan negosiasi dengan baik terhadap staff, kelompok dan
negosiasi lainnya
3) Mengklarifikasi kejadian yang melibatkan seluruh staf
4) Menjadikan mediator bila terjadi konflik antar staf atau kelompok
(Nursalam, 2015)

8. Fungsi Manajerial
a. Kepala Ruangan

Kepala ruangan adalah petugas atau perawat yang diberikan


tanggung jawab dan wewenang dalam memimpin pelaksanaan pelayanan
keperawatan serta tatalaksana personalia pada satu ruangan atau bangsal
Rumah Sakit (Nursalam, 2003).

1) Tanggung Jawab Kepala Ruangan

a) Manajemen personalia atauketenagaan

b) Manajemen operasional meliputi perencanaan, pengorganisasian,


pengarahan danpengawasan

c) Manajemen kualitas pelayanan

d) Manajemen financial meliputi budget coss control dalam


pelayanankeperawatan

2) Uraian Tugas Kepala Ruangan

a) Perencanaan

- Menetapkan filosofi, sasaran, tujuan, kebijakan dan


standar prosedurtindakan

- Menunjuk perawat yang bertugas sebagaikatim

- Mengidentifikasi perawat yang di butuhkan berdasarkan tingkat


ketergantunganklien

- Merencanakan strategi pelaksanaankeperawatan

- Membantu mengembangkan staf untuk pendidikan


berkelanjutan danpelatihan
- Mengikuti visite dokteruntuk mengetahui kondisi,
patofisiologi, tindakan medis yang di lakukan,program
pengobatan dan mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan
yang akan di lakukan terhadap klien

- Mengatur dan mengendalikan asuhankeperawatan

- Membimbing pelaksanaan asuhankeperawatan

- Membimbing penerapan proses keperawatan dan menilai asuhan


keperawatan

- Mengadakan diskusi untuk memecahkan masalah

- Memberikan informasi pada keluarga dan pasien atau keluarga


yang barumasuk

- Membantu membimbing terhadap peserta didik keperawatan

- Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan di rumah sakit

b) Pengorganisasian

- Merumuskan metode penugasan yang di gunakan

- Merumuskan tujuan syistem metoda penugasan

- Membuat rincian tugas ketua tim dan anggota tim secara jelas

- Membuat rentang kendali kepala ruangan membawahi 2 ketua


anggota tim dan ketua tim membawahi 2-3 perawat

- Mengatur dan mengendalikan logistic ruangan

- Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktek

- Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan: membuat


proses dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari danlain-lain

- Mengendalikan tugas saat kepala ruangan tidak berada di


tempat, kepada ketua tim

- Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus


administrasi pasien

- Mengatur penugasan jadwal pos danpakarnya


- Identifikasi masalah dan cara penanganan

c) Pengarahan

- Memberikan pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim

- Memberi pujian kepada anggota tim yang melaksanakan tugas


dengan baik

- Memberi moifasi dalam peningkatan pengetahuan, keterampilan


dansikap

- Menginformasikan hal-hal yang di anggap penting dan


berhubungan dengan askep pasien dan pelayanan keperawatan d
ruangan

- Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhirkegiatan

- Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam


melaksanakantugasnya

- Meningkatkan kolaborasi dengan anggotatim

d) Pengawasan

- Melaluikomunikasi

Mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim


pelaksana mengenai asuhan keperawatan yang telah diberikan
kepada pasien

- Melalui supervise

 Pengawasan lansung melalui inspeksi, mengamati sendiri


atau melalui laporan lansung secara lisan dengan
memperbaiki/mengawasi kelemahan- kelemahan yang ada
pada saat itujuga

 Pengawasan tidak langsung yaitu mengcek daftar hadi ketua


tim, membaca dan memeriksa rencana keperawatan di
laksanakan (di dokumentasikan) mendengar laporan ketua
tim tentang pelaksanaan tugas

 Evaluasi bersama katim hasil upaya pelaksanaan dan


membandingkan dengan rencanakeperawatan

b. Ketua Tim

Ketua tim merupakan perawat yang memiliki tanggung jawab dalam


perencanaan, kelancaran dan evaluasi dari askep untuk semua pasien
yang dilakukan oleh tim dibawah tanggung jawabnya (Nursalam, 2003).

1) Fungsi Ketua Tim

a) Membuat perencanaan berdasarkan tugas dan wewenang yang


didegelasikan oleh kepalaruangan

b) Membuat penugasan supervise dan evaluasi

c) Mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai kebutuhanpasien

d) Mengembangkan kemampuan anggotatim

e) Menyelenggarakanconfrence

2) Uraian Tugas KetuaTim

a) Perencanaan

- Bersama kepala ruangan mengadakan serah terima tugas pada


setiap pergantiandinas

- Melakukan pembagian tugas atas anggotakelompoknya

- Menyusun rencana asuhankeperawatan

- Menyiapkan keperluan untuk melaksanakan asuhan keperawatan

- Mengikuti visitedokter

- Menilai hasil pekerjaan anggota kelompok dan mendiskusikan


masalah yang ada

- Menciptakan kerja sama yang harmonis antartim

- Memberikan pertolongan segera pada klien dengan


kegawat daruratan

- Membuat laporan klien

- Mengorientasikan klienbaru

b) Pengorganisasian
- Menjelaskan tujuan pengorganisasian timkeperawatan

- Membagi tugas sesuai dengan tingkat ketergantunganpasien

- Membuat rincian anggota tim dalam memberikanaskep

- Mengatur waktu istirahat untuk anggotatim

- Membuat rincian tugas anggota tim meliputi pemberian


asuhankeperawatan

c) Pengarahan

- Memberikan pengarahan/bimbingan kepada anggotatim

- Memberikan informasi yang berhubungan dengan asuhan


keperawatan

- Mengawasi proses asuhankeperawatan

- Melibatkan anggota tim dari awal sampai akhirkegiatan

- Memberi pujian, motivasi kepada anggotatim

d) Pengawasan

- Melalui danberkomunikasi

Mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan perawat


pelaksanaan dalam pemberian asuhan keperawatan

- Melaluisupervise

 Secara langsung melihat atau mengawasi proses asuhan


keperawatan yang dilaksanakan oleh anggota lain. Secara
tidak langsung melihat daftar perawat pelaksana, membaca
dan memeriksa catatan keperawatan, membaca perawat yang
dibuat selama proses keperawatan, mendengarkan laporan
secara lisan dari anggota tim tentang tugas yangdilakukan

 Mengevaluasi pelaksanaan keperawatan bertanggung


jawabkepadakepalaruangandanmenyelenggarakan

c. Perawat Pelaksana

Perawat pelaksana adalah seorang tenaga keperawatan yang diberi


wewenang untuk melaksanakan pelayanan/asuhan keperawatan di ruang
rawatan (Nursalam, 2003).

1) Uraian Tugas PerawatPelaksana

a) Perencanaan

b) Melakukan pengkajian pada klien

c) Menentukan masalah-masalah keperawatan yang dihadapi klien


berdasarkan hasilpengkajian

d) Merumuskan tujuan yang akan dicapai untuk menentukan


rencanatindakan

e) Melakukan tindakan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah


sehingga tujuan keperawatantercapai

f) Bersama ketua tim melaksanakan serah terima klien dan tugas pada
setiap pergantian dinas

g) Menyiapkan keperluan untuk melaksanakan tindakan keperawatan

h) Mendampingi visite dokter pada klien yang menjadi tanggung


jawab bersama kepala tim untuk menilai kondisi klien dan
memungkinkan penyebabnya, rencana tindakan medis, mengetahui
program pengobatan yang akan dilakukan selanjutnya

i) Menyiapkan klien secara fisik dan mental untuk tindakan


pengobatan atau pemeriksaanpenunjang.

2) Pengorganisasian

a) Menerima pendelegasian tugas askep dari kepala ruangan melalui


kepalatim

b) Membuat mekanisme kerja untuk masing-masing klien yang


menjadi tanggung jawab askep yang telah dilakukan kepada kepala
ruangan melalui kepalatim

c) Menghindari pertentangan antara anggota tim

d) Ikut menegakkan peraturan rumah sakit dan kebijakan yang


berlaku
e) Mengembangkan kreatifitas

f) Mengembangkan kemampuan manajemen dalam memberikan


asuhan keperawatan kepadaklien

3) Pengawasan

a) Melakukan dan menciptakan komunikasi terapeutik dengan klien


dan keluarga selama memberikanaskep

b) Mengawasi perkembangan dan reaksi klien terhadap tindakan


perawatan danpengobatan

c) Menilai hasil tindakan keperawatan yang diberikan apakah tujuan


telah tercapai bersama kepalatim

4) Pengarahan

a) Memberikan pengarahan kepala keluarga tentang tindakan yang


akan dilakukan, cara minum obat,aktifitas

b) Memberikan petunjuk kepada klien dan keluarga mengenai


peraturan yang berlaku, jam kunjungan dan pengadaan obat- obat

c) Memberikan pujian terhadap kemajuan kesehatan klien dan kerja


sama keluarga denganpetugas

9. Cara Perhitungan Jumlah dan Kategori Tenaga Keperawatan


a. Metode Douglas
Douglas menetapkan jumlah perawat yang dibutuhkan dalam suatu unit
perawatan berdasarkan klasifikasi klien, dimana masing- masing kategori
mempunyai nilai standar per shift nya, yaitu sebagai berikut

Klasifikasi Klien
Jml
Minimal Parsial Total
klien
Pagi sore malam pagi sore malam Pagi sore Malam
1. 0,17 0,14 0,07 0,27 0,15 0,10 0,36 0,30 0,20

2. 0,34 0,28 0,14 0,54 0,30 0,20 0,72 0,60 0,40

3. 0,51 0,42 0,21 0,81 0,45 0,30 1,08 0,90 0,60


dst
Contoh :
Ruang rawat dengan 17 orang klien, dimana 3 orang dengan
ketergantungan minimal, 8 orang dengan ketergantungan partial dan 6
orang dengan ketergantungan total.
Maka jumlah perawat yang dibutuhkan :

Minimal Partial Tota Jumlah


l
Pagi 0.17 x 3 = 0.51 0.27 x 8 = 2.16 0.36 x 6 = 2.16 4.83 (5)orang
Sore 0.14 x 3 = 0.42 0.15 x 8 = 1.2 0.3 x 6 =1.8 3.42 (4)orang
Malam 0.07 x 3 = 0.21 0.10 x 8 = 0.8 0.2 x 6 = 1.2 2.21 (2)orang
Jumlah secara keseluruhan perawat perhari 11orang

B. Manajemen Resiko

1. Pengertian
Manajemen risiko merupakan proses untuk meningkatkan kualitas dan
keamanan layanan. Hal ini diidentifikasi sebagai pendekatan khusus untuk
meningkatkan kualitas pelayanan yang menekankan pada tindakan dimana pasien
merasa dirugikan atau masalah dari pelayanan yang diberikan. Manajemen risiko
dalam pelayanan kesehatan digunakan untuk memberikan lingkungan yang aan dan
efektif bagi pasien, pengunjung dan kariawan sehingga mencegah dan mengurangi
kerugian dari institusi (Rangki, 2020).
Lingkungan kerja yang aman dinbangun atas komunikasi yang terbuka,
perawat yang kompeten, sumber daya yang adekuat dan infrastuktur yang baik
memungkinkan karyawan untuk melakukan pekerjaan dengan baik (Rangki, 2020).
2. Tujuan manajemen Resiko
Tujuan utama dari program manajemen resiko menurut Rangki, 2020 adalah:
a. Mendefenisikan kejadian yang menempatkan manajemen pada risiko finansial
b. Menentukan frekuensi kejadian
c. Mengidentifikasi tindakan pencegahan atau tindakan setempat yang tepat
d. Menyeimbangkan biaya pencegahan terhadap risiko finansial yng hilang dan
masih bertahan
3. Unsur-unsur dalam program manajemen risiko
Unsur-unsur dalam program manajemen risiko menurut Rangki, 2020 adalah:
a. Otoritas
Manajemen risiko di dalam organisasi pelayanan kesehatan harus mempunyai
otoritas dan mempunyai keinginan untuk menetapkan perubahan pada tataran
praktek klinik, kebijakan serta prosedur supaya tujuan yang dirancang oleh
program tersebut berjalan dengan baik
b. Visibilitas
Diperlukan suatu struktur yang baik dalam organisasi dengan sosialisasi untuk
menumbuhkan kesadaran. Posisi komite manajemen risiko harus disusun untuk
meningkatkan pelayanan dan partisipasi dari semua unsur yang dapat diakses
secara terbuka.
c. Komunikasi
Untuk mengatasi terjadinya risiko dalam lingkup klinik komite harus berupaya
untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan memberikan saran kepada
pimpinan melaksanakan bersama semua unsur yang ada dalam organisasi
tersebut
d. Koordinasi
Suatu organisasi harus menetapkan mekanisme formal dan informal untuk
melakukan koordinasi antara komite manajemen risiko dengan bagian lain.
Untuk mengintegrasikan dan mengkoordinasikan dengan bagian lain perlu
membuat pelaporan yang baik serta mempunyai komunikasi pada para
pimpinan dalam organisasi tersebut
e. Akuntabilitas
Komite manajemen risiko harus mempunyai deskripsi pekerjaan tertulis yang
menguraikan tanggungjawab manajemen risiko. Penilaian kinerja tahunan harus
spesifik, tujuan yang terukur dan dokumentasi yang efektif. Komite harus
menyerahkan laporan tahunan kepada pimpinan dan bagian yang lain antara lain
klaim, asuransi, kegiatan program manajemen risiko dan dokumen kemajuan
yang dibuat untuk melakukan tujuan yang telah ditetapkan
4. Cakupan program manajemen risiko
Cakupan program manajemen risiko menurut Rangki, 2020 adalah:
a. Risiko yang berhubunga dengan perawatan pasien
Manajemen risiko yang berhubungan dengan perawatan pasien seperti
malpraktek, kejadian infeksi luka operasi, kejadian dikubitus, flebitus, dll.
b. Risiko yang berhubungan dengan staf medis.
Manajemen risiko yang berhubungan staf medis seperti kesalahan dalam
melaksanakan standar operating prosedur, mengidentifikasi pelaksanaan standar
operating prosedur dan mengidentifikasi kesalahan dalam pengobatan yang
menimbulkan ancaman bagi pasien dan keselamatan karyawan
c. Risiko yang berhungan dengan karyawan
Manajemen risiko yang berhubungan dengan karyawan termasuk menghindari
risiko kesakitan pada karyawan akibat pekerjaan dan kecelakaan di tempat kerja
d. Risiko yang berhubungan dengan peralatan
Manajemen risiko yang berhubungan dengan peralatan meliputi penyiapan
peralatan yang siap pakai dan harus meakukan perawatan yang terus menerus
pada peralatan tersebut sehingga tidak menyebabkan terjadinya kecelakaan
kerja
e. Risiko yang berhubungan dengan lingkungan sekitar
Manajemen risiko yang berhubungan dengan lingkungan sekitar meliputi
penggunaan alat berat ataupun ambulance diluar pelayanan sekitar kesehatan
yang dapat menyebabkan terjadinya masalah pada karyawan,pasien dan
masyarakat sekitar
C. Pasien Safety Dalam Praktik Keperawatan
1. Pengertian
Patient safety (keselamatan pasien) rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah
sakit membuat asuhan pada pasien lebih [Link] tersebut meliputi assesmen
risiko,identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien.
2. Tujuan patient safety
Adapun tujuan dari “patient safety” adalah:
a. Untuk menciptakan budaya keselamatan pasien selama dirumah sakit
b. Meningkatkan akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat
c. Menurunkan kejadian tidak terduga dirumah sakit
d. Terlaksananya program-program pecegahan sehingga tidak terjadi pengulangan
3. Langkah-langkah pelaksanaan patient safety
Langkah-langkah pelaksanaan patient safety yang dapat dilakukan anatara lain :
a. Perhatikan nama obat, rupa dan ucapan mirip ( look-alike, sound-alike
menication name)
b. Pastikan identifikasi pasien
c. Komunukasi secara benar saat serah terima pasien
d. Pastikan tindakan yang benar pada sisi tubuh yang benar
e. Kendalikan cairan elektrolit pekat
f. Pastikan akurasi pemberian obat pada pengalihan pelayanan
g. Hindari salah kateter dan salah sambung selang
h. Gunakan alat injeksi sekali pakai
i. Tingkat kebersihan tangan untuk mencegah infeksi nosokomial
4. Standar keselamatan pasien
Tujuh standar keselamatan pasien ( mengacu pada peraturan menteri kesehatan
republik indonesia nomor 169/menkes/per/VII/2011 ) yaitu:

Standar I. Hak pasien


Standar: Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi
tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya Kejadian
Tidak Diharapkan.
Kriteria: Harus ada dokter penanggungjawab pelayanan, dokter penanggungjawab
pelayanan wajib membuat rencana pelayanan, dokter penanggungjawab pelayanan
wajib memberikan penjelasan secara jelas dan benar kepada pasien dan
keluarganya tentang rencana dan hasil pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk
pasien termasuk kemungkinan terjadinya Kejadian Tidak Diharapkan.

Standar II. Mendidik pasien dan keluarga


Standar: RS harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan
tanggungjawab pasien dalam asuhan pasien.
Kriteria: Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dengan
keterlibatan pasien yang merupakan partner dalam proses pelayanan. Diharapkan
pasien dan keluarga dapat: memberikan informasi yang benar, jelas, lengkap dan
jujur, mengetahui kewajiban dan tanggungjawab pasien dan keluarga, mengajukan
pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti, memahami dan menerima
konsekuensi pelayanan, mematuhi instruksi dan menghormati peraturan RS,
memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa dan memenuhi kewajiban
finansial yang disepakati.

Standar III. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan


Standar: RS menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar
tenaga dan antar unit pelayanan
Kriteria: Terdapat koordinasi pelayanan secara menyeluruh mulai dari saat pasien
masuk, pemeriksaan, diagnosis, perencanaan, pelayanan, tindakan pengobatan,
rujukan dan saat pasien keluar dari RS, terdapat koordinasi pelayanan yang
disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber daya secara
berkesinambungan sehingga pada seluruh tahap pelayanan transisi antar unit
pelayanan dapat berjalan baik dan lancar, terdapat koordinasi pelayanan yang
mencakup peningkatan komunikasi untuk memfasilitasi dukungan keluarga,
pelayanan keperawatan, pelayanan sosial, konsultasi dan rujukan, pelayanan
kesehatan primer dan tindak lanjut lainnya, terdapat komunikasi dan transfer
informasi antar profesi kesehatan sehingga dapat tercapainya proses koordinasi
tanpa hambatan, aman dan efektif.

Standar [Link] metode-metode peningkatan kinerja untuk


melakukan evaluasi dan program peningkatan selamatan pasien.
Standar: RS harus mendesain proses baru ataumemperbaiki proses yang
ada,memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data,menganalisis
secara intensif kejadian tidak diharapkan,dan melakukan perubahan untuk
meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.
Kriteria:setiap RS harus melakukan perancangan (desain) yang baik,mengacu pada
visi,misi,dan tujuan RS,kebutuhan [Link] pelayanan keseharan (desain)
yang baik,mengacu pada visi,misi,dan tujuan RS,kebutuhan [Link]
pelayanan kesehatan,kaisdah klinis terkini,praktik bisnis yang sehat,dan faktor-
faktorn faktor-faktor lain yang berpotensi risiko bagi pasien sesuai dengan “tujuan
langkah menuju keselamtan pasien RS”, setiap RS harus melakukan pengumpulan
data kinerja yang antara lain terkait dengan : pelaporan insiden, akreditasi,
manajemen risiko, utilissasi, mutu pelayanan, keuangan, setiap RS harus
melakukan evaluasi intensif terkait denga semua kejadian tidak diharapkan,dan
secara proaktif melakukan evaluasi satu proses kasus risiko tinggi,setiap RS harus
menggunakan semua data dan informasi hasil analisis untuk meentukan perubahan
sistem yang diperlukan,dan keselamatan pasien terjamin.

Standar [Link] kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien


Standar: pemimpinan mendorong dan menjamin implementasi program
keselamatan pasien secara terintegrasi dalam organisasi melalui penerapan “tujuh
langkah nenuju keselamatan pasien rumah sakit”,pimpinan menjamin
berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan pasien dan
program menekan atau mengurangi kejadian tidak diharapkan,pimpinan
mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar unit dan individu
berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang keselamatan pasien, pimpinan
mengalokasikan sumber daya yang untuk mengukur,mengkaji,dan
meningkatkan,kinerja rumah sakit serta meningkatkan keselamatan pasien .
Kriteria : terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan
pasien,tersedia program proaktif untuk mengidentifikasi risiko keselamatan dan
program meminimalkan insiden,yang mencakup jenis-Jenis kejadian yang
memerlukan perhatian,mulai dari”kejadian nyaris cedera (near miss) sampai
dengan “kejadian tidak diharapkan”(edverse event)tersedia mekanisme kerja untuk
menjamin bahwa semua komponen dari rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi
dalam program keselamatan pasien,tersedi berpartisipasi dalam program
keselamatan pasien,tersedia prosedur”cepat tanggap”terhadap insiden,termasuk
asuhan kepada pasien yang terkena musibah,membatasi risiko pada orang lain dan
penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis.

Standar IV:mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien secara


jelas
Standar : rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang
berkelanjutan untuk meningkat dan memelihara kompetensi staf serta mendukung
pendekatan interdisiplin dalam pelayanan pasien.
Kriteria : setiap rumah sakit harus memiliki program pendidikan,pelatihan dan
orientasi bagi staf baru yang memuat topik keselamatan pasien sesuai dengan tugas
masing-masing,setiap rumah sakit harus ,mengintregasikan topik keselamatan
pasien dalam setiap kegiatan in-serive training dan memberi pedoman yang jelas
tentang pelaporan insiden dan setiap rumah sakit harus menyeleggarakan pelatihan
tentang kerjasama kelompok (teamwork) guna mendukung pendekatan interdisiplin
dan kolaboratif dapat mencegah timbulnya outcome klinik yang tidak diharapkan
pada pasien.

Standar VII:komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai


keselamatan pasien
Standar: rumah sakit merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi
keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan
eksternal,transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.
Kriteria:perlu disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses
manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan
keselamatan pasien .

Pelatihan yang dilakukan tentang patient safety oleh AHRQ menyebutkan


beberapa faktor yang berhubungan dengan medical error:
1. Masalah dalam komunikasi (komunikasi verbal maupun tulisan antara pemberi
pelayanan kesehatan)
2. Ketidakadekuatan proses informasi
3. Human problem (contoh:kegagalan dalam mengikuti kebijakan yang ada)
4. Isu yang berhubungan dengan pasien
5. Transfer pengetahuan dari organisasi
6. Pola satffing (ketidakadekuatan staff dan supervisi yang dapat berkontribusi
terhadap situasi yang dapat menimbulkan error)
7. Kegagalan teknisi (kegagalan peralatan medis atau error yang terjadi yang
berhubungan dengan kualitas peralatan medis yang rendah)
8. Ketidakadekuatan prosedur dan kebijakan (kurangnya panduan dalam prosedur
pemberian pelayanan).

D. Teori Hand Hygiene

1. Definisi hand hygiene


Hand hygiene (kebersihan tangan) merupakan teknik dasar yang
paling penting dalam pencegahan dan pengendalian infeksi (Potter & Perry,
2003) dalam (Zulpahiyana, 2013). Menurut Van dan Enk (2006) dalam
Zulpahiyana (2013), hand hygiene adalah cara yang paling efektif untuk
mencegah infeksi nosokomial. Tujuan hand hygiene untuk membuang
kotoran dan organisme yang menempel ditangan dan untuk mengurangi
jumlah mikroba total pada saat itu.
Mikroorganisme pada kulit manusia dapat diklasifikasikan dalam dua
kelompok yaitu flora residen dan flora transient. Flora residen adalah
mikroorganisme yang secara konsisten dapat diisolasidari tangan manusia,
tidak mudah dihilangkan dengan gesekan mekanis karena telah beradaptasi
pada tangan manusia contohnya: Staphylococcus, Corynobacterium, dan
Klibsiella. Flora transient yaitu flora transit atau flora kontaminasi yang
jenisnya tergantung dari lingkungan tempat bekerja, kuman ini mudah
dihilangkan dengan cuci tangan yang efektif. Contohnya; Staphylococcus
aureus, Streptococci, Pseudomonas, [Link]. Mikroorganisme ini dengan
mudah dapat dihilangkan dari permukaan tangan dengan gesekan mekanis
dan pencucian dengan sabun.
Hand hygiene merupakan membersihkan tangan dengan sabun dan air
(Handwash) atau handrub berbasis alkohol yang bertujuan mengurangi atau
mencegah berkembangnya mikroorganisme ditangan (WHO, 2009). Hand
hygiene harus dilakukan dengan benar sebelum dan sesudah melakukan
tindakan keperawatan walaupun menggunakan sarung tangan atau alat
pelindung diri guna menghilangkan ataumengurangi mikroorganisme yang
ada ditangan sehingga penyebaran penyakit dapat dikurangi dan lingkungan
terjaga dari infeksi.
2. Tujuan hand hygiene
Tujuan dilakukan hand hygiene adalah untuk menghilangkan
mikroorganisme (Kozier, 2003 cit. Zulpahiyana, 2013). Hand hygiene
dilakukan untuk menghilangkan kotoran bahan organik dan membunuh
mikroorganisme yang terkontaminasi di tangan yang diperoleh karena
kontak dengan pasien terinfeksi/kolonisasi dan kontak dengan permukaan
lingkungan. Menurut Susianti (2008) dalam Zulpahiyana (2013), tujuan
dilakukannya hand hygiene yaitu;
a. Menekan atau mengurangi jumlah dan pertumbuhan bakteri pada tangan
b. Menurunkan jumlah kuman yang tumbuh dibawah sarung tangan
c. Mengurangi risiko transmisi mikroorganisme keperawat dan pasien serta
kontaminasi silang kepadapasien lain, anggota keluarga, dan tenaga
kesehatan lain.
d. Memberikan perasaan segar dan bersih.

Menurut Hidayat, et al (2011) dalam Zulpahiyana (2013), tujuan hand


hygiene antara lain:
a. Untuk memutus transmisi mikroba melalui tangan, diantaranya :
1) diantara area perawatan dan zona pasien
2) diantara zona pasien dan area perawatan
3) pada daerah tubuh pasien yang berisiko infeksi(contoh: membran
mukosa, kulit non-intak, alat invasif)
4) dari darah dan cairan tubuh.
b. Untuk mencegah:
1) kolonisasi patogen pada pasien (termasuk yang multiresisten)
2) penyebaran patogen ke area perawatan
3) infeksi yang disebabkan oleh mikroba endogen
4) kolonisasi dan infeksi pada tenaga kesehatan.
3. Indikasi hand hygiene
Menurut CDC (2002), indikasi dilakukannya cuci tangan
(handwashing) yaitu jika tangan terlihat kotor, sedangkan jika tangan tidak
terlihat kotor namun sudah melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan
mikrobial pindah ketangan maka dilakukan handrubbing dengan bahan
berbasis alkohol. Indikasi khusus untuk hand hygiene antara lain: Sebelum:
kontak dengan pasien, menggunakan sarung tangan pada pemasangan CVC,
pemasangan kateter urin, atau semua tindakan invasif lainnya. Setelah:
kontak dengan kulit pasien, kontak dengan cairan tubuh, perawatan luka,
dan setelah melepas hand scoon. WHO (2009), menyatakan bahwa hand
hygiene yang efektif melibatkan kesadaran kesehatan pekerja,indikasi, dan
kapan waktu melakukan hand hygiene Aksi hand hygiene dapat dilakukan
dengan handrubbing dengan produk berbasis alkohol atau dengan mencuci
tangan dengan sabun dan air (handwashing). Terdapat “5 momen” dimana
tenaga kesehatan harus melakukan hand hygiene yaitu:
a. Sebelum menyentuh pasien
b. Sebelum melakukan prosedur aseptiks
c. Setelah terpapar dengan cairan tubuh
d. Setelah bersentuhan dengan pasien
e. Setelah menyentuh lingkungan sekitar pasien.
4. Teknik hand hygiene
Hand hygiene menjadi lebih efektif bila tangan bebas luka, kuku bersih,
pendek dan tangan dan pergelangan bebas dari perhiasan dan pakaian. CDC
(2002) merekomendasikan teknik hand hygiene antara lain:
a. Untuk handrubbing: berikan bahan berbasis alkohol pada telapak
tangan, gosok seluruh permukaan telapak tangan sampai keringselama .
b. Untuk handwashing: basahkan tangan menggunakan air, berikan sabun
dan gosokkan merata keseluruh telapak tangan selama 15 detik, bilas,
dan keringkan dengan menggunakan handuk. Gunakan handuk untuk
menutup keran.
Menurut WHO (2009) langkah-langkah hand hygiene, sebagai berikut:

a. Teknik hand hygiene dengan mencuci tangan (handwashing)


1) Basahkan tangan dengan air
2) Berikan sabun secukupnya, dan ratakan ke seluruh permukaantangan
3) Gosok telapak tangan kiri dengan telapak tangan kanan
4) Telapak tangan kanan digosokkan kepunggung tangan kiri beserta
ruas-ruas jari, begitu juga sebaliknya
5) Gosok telapak tangan kanan dengan telapak tangan kiri dengan jari-
jari saling terkait
6) Letakkan punggung jari pada telapak satunya dengan jari
salingmengunci
7) Jempol kanan digosok memutar oleh telapak tangan kiri, begitu
sebaliknya
8) Jari kiri menguncup, gosok memutar kekanan dan kekiri pada telapak
kanan dan sebaliknya Keringkan tangan. Mencuci tangan
memerlukan waktu sekitar 40-60 detik, sedangkan waktu yang
dibutuhkan untuk melakukan langkah c sampai h sekitar 15-30 detik.
b. Teknik hand hygiene dengan handrubbing menggunakan bahan berbasis
alkohol
1) Berikan alkohol secukupnya pada tangan
2) Ratakan alkohol keseluruh permukaan tangan
3) Gosok telapak tangan kiri dengan telapak tangan kanan
4) Telapak tangan kanan digosokkan kepunggung tangan kiri
besertaruas-ruas jari, begitu juga sebaliknya
5) Gosok telapak tangan kanan dengan telapak tangan kiri dengan jari -
jari saling terkait
6) Letakkan punggung jari pada telapak satunya dengan jari
salingmengunci
7) Jempol kanan digosok memutar oleh telapak tangan kiri, begitu
sebaliknya
8) Jari kiri menguncup, gosok memutar kekanan dan kekiri pada telapak
kanan dan sebaliknya
9) Keringkan tangan. Waktu yang diperlukan yaitu sekitar 20-30 detik.
5. Teori Kepatuhan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesiakepatuhan didefinisikan
sebagai kesetiaan, ketaatan atau loyalitas. Kepatuhan yang dimaksud disini
adalah ketaatan dalam melakukan hand hygiene sesuai dengan indikasi dan
tata cara yang benar (Arfianti, 2010). Kepatuhan adalah tingkat seseorang
melaksanakan suatu cara atau berperilaku sesuai dengan apa yang
disarankan atau dibebankan kepadanya (Arfianti, 2010). Perilaku adalah
suatu kegiatan atau aktivitas yang dapat diamati langsung dan tidak
langsung (Sunaryo, 2004).
Perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk
menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan. Berarti rangsangan
tertentu akan menghasilkan reaksi tertentu (Notoatmodjo,S. cit. Sunaryo,
2004). Bentuk operasional dari perilaku dapat dikelompokkan menjadi 3
(tiga) jenis, yaitu :
1. Perilaku dalam bentuk pengetahuan
Perilaku dalam bentuk pengetahuan yaitu dengan mengetahui
situasi dan rangsangan. Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi
setelahorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Pengetahuan umumnya datang dari pengalaman, juga dapat diperoleh
dari informasi yang disampaikan orang lain, didapat dari buku, atau
media massa dan elektronik. Pengetahuan dapat diperoleh dari
pengalaman langsung ataupun melalui pengalaman orang lain. Menurut
Mangkuprawira (2008) dalam Zulpahiyana (2013), pengetahuan
merupakan unsur pokok dalam perubahan perilaku bagi setiap individu.
Pengetahuan juga dikatakan sebagai suatu pembentukan secara terus
menerus oleh seseorang dan setiap saat mengalami reorganisasi karena
ada pemahaman- pemahaman baru. Menurut Bloom, Hastings, dan
Madaus (1956) dalam Zulpahiyana (2013) dan Notoatmodjo (2010),
pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif memiliki 6 tingkatan.
Tingkatan pengetahuan tersebut sebagai berikut:
a. Pengetahuan (Knowledge), disebut C1 Tahu diartikan sebagai
mengingat sebuah materi yang telah dipelajari sebelumnya. Mengingat
kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang telah
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima merupakan kondisi
yang termasuk dalam pengetahuan tingkat ini. Menyebutkan,
menguraikan, mendefinisikan merupakan kata kerja yang digunakan
untuk mengukur tingkat tahu (know) yang dimiliki seseorang.
b. Memahami (Comprehension), disebut C2 Pengertian dari memahami
adalah suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang
objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut
secara benar. Seseorang yang telah memahami terhadap materi yang
telah disampaikan dapat menjelaskan, menyebutkan contoh,
menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap materi yang
telah dipelajari.
c. Aplikasi (Aplication), disebut C3 Pengertian aplikasi yaitu
kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada
situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi juga dapat diartikan
sebagai penggunaan metode atau prinsip. Dapat menggunakan prinsip
pemecahan masalah sebagai salah satu contoh pengukuran tingkat
tahu pada tingkat aplikasi.
d. Analisis (Analysis), disebut C4 Analisis merupakan suatu kemampuan
untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-
komponen yang berada dalam satu struktur organisasi serta masih ada
kaitannya satu sama lain. Menggambarkan dengan bagan,
membedakan, memisahkan, dan mengelompokkan merupakan kata
kerja yang dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan pada tingkat
analisis.
e. Sintesis (Synthesis), disebut C5
Sintesis diartikan sebagai kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian atau menyusun formulasi dalam
bentuk keseluruhan yang [Link], merencanakan, meringkas
dan menyesuaikan terhadap teori yang telah ada merupakan kata kerja
yang dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan pada tingkat
sintesis.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau [Link] itu didasarkan
pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria
yang telah [Link], membandingkan, menafsirkan merupakan
kata kerja yang dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan pada
tingkat evaluasi. Akan meningkatkan kualitas dari pada pengetahuan
staf, meningkatkan keahlian dalam berkomunikasi, kepuasan, dan
keselamatan pasien meningkat. Jika dihubungkan dengan konsep
pemahaman yang merupakan tingkatan kedua dalam pengetahuan,
pemahaman merupakan aspek yang penting dalam proses
pembelajaran. Memahami sesuatu dapat membuat individu menyadari
akan tugasnya melalui pesan yang disampaikan. Pengetahuan akan
suatu objek yang dimiliki seseorang akan mempermudah pemahaman
walaupun dipengaruhi oleh kapasitas kognitif dan makna informasi
yang disampaikan (Reed, 2000 cit. Zulpahiyana, 2013).

E. Teori Resiko Jatuh


1. Definisi Resiko Jatuh
Resiko jatuh merupakan kajadian yang mengakibatkanseseorang
berbaring secara tidak sengaja di tanah atau lantai (permukaan yang lebih
rendah) (Depkes RI, 2015).Jatuh adalah suatu peristiwa yang dilaporkan
penderita atau saksi mata yang telah melihat kejadian yang mengakibatkan
seseorang mendadak terbaring atau duduk di lantai (tempat yang lebih
rendah) atau dan tanpa kehilangan kesadaran maupun luka (Depkes RI,
2018).Jatuh memiliki definisi sebagai kejadian jatuh yang disengaja maupun
tidak, yang mengakibatkan luka pada pasien tersebut, sehingga pasien
terbaring dilantai (terbaring diatas permukaan lainatau orang lain atau objek
lain) (George, 2017).
Pasien dikatakan jatuh jika mengalami luka, apabila pasien jatuh dan
berhasil berdiri atau kembali ketempat semula tanpa mengalami luka berarti
tidak dikatakan pasien jatuh (Kurniadi, 2013).Berdasar Internasional
Classification of Diseases 9 Clinical Modifications (ICD9- CM) tahun 2016,
jatuh dikategorikan menjadi: menabrak benda yang bergerak disebabkan
keramaian yang dapat menyebabkan jatuh dengan tidak sengaja, jatuh pada
atau dari tangga atau eskalator, jatuh dalam tingkat yang sama dari tabrakan,
tekanan, atau saling dorong dengan orang lain, bahkan jatuh dapat diartikan
sebagai jatuh dari atau keluar gedung atau bangunan lainya. Jatuh yang
menyebabkan luka terdiri dari lima poin skala (ICSI, 2012):
a. Tidak terindikasi pasien terdapat luka akibat jatuh
b. Terdapat indikasi Minor seperti bruises atau lecet akibat jatuh
c. indikasi Sedang dengan line displacement, fraktur, letrasi yang
membutuhkan perawatan lebih lanjut
d. Indikasi Berat luka jatuh yang mengancam jiwa dan membutuhkan
operasi atau pemindahan ke dalam ICU
e. Meninggal akibat luka yang disebabkan oleh pasien jatuh. Pengurangan
pasien resiko jatuh merupakan salah satu sasaran keselamatan pasien
menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI (Setyawan & Supriyanto,
2019).
2. Tipe-tipe pasien jatuh
Menurut Palomar Health Fall Prevention and Managemet, jatuh
dibedakan menjadi (Anne, 2015):
a. Physiologic Falls Jatuh disebabkan satu atau lebih faktor intrinsik fisik,
yang terdiri dari dua kategori, (1) dapat dicegah (dimensia, kehilangan
kesadaran, kehilangan keseimbangan, efek obat, delirium, postural
hipertensi), (2) tidak dapat dicegah (stroke, Transient Ischaemic Attack,
Myocardial Infarction, disritmia, dan seizure).
b. Accidential Falls Merupakankejadian yang diakibatkan bukan karena
faktor fisik, akan tetapi akibat dari bahaya lingkungan atau kesalahan
penilaian strategi dan desain untuk memastikan lingkungan aman bagi
pasien (misalkan terpeleset akibat lantai licin karena air). Pasien beresiko
jatuh karena mengunakan tiang infus yang digunakan untuk pegangan.
c. Unanticipated Falls Pasien jatuh yang berhubungan dengan kondisi fisik
(karena kondisi yang tidak diprediksi).Tindakan pencegahan pada tipe ini
dapat dilakukan setelah kejadian terjadi menggunakan RCA (Root Cause
Analysis) (misalkan pingsan dan fraktur patologis). Kondisi tersebut
dapat berulang kembali dengan penyebab yang sama, oleh karena itu
perlu perhatian khusus dari perawat dalam mencegahnyasupaya tidak
terjadi yang kedua kalinya
d. Intentional Falls Kondisi jatuh yang diakibatkan secara sengaja karena
tujuan tertentu (misalkan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain).
3. Faktor penyebab pasien jatuh
Faktor resiko jatuh dibagi menjadi faktor intrinsik (Patient-related risk
factors) dan faktor ektrinsik (Healthcare factors related to falls) seperti yang
dijelaskan berikut (Barak & Robert, 2017):
a. Faktor Intrinsik(Patient-Related Risk Factors)
Faktor resiko yang berasal dari dalam tubuh pasien biasanya berasal dari
penyakit yang menyertai pasien seperti:
1) Gangguan sensori dan gangguan neurologi
Gangguan yang diakibatkan karena menurunnya kemampuan dalam
menilai dan mengantisipasi akan terjadinya suatu bahaya yang ada
disekitarnya. Kondisi ini sering terjadi pada golongan lansia yang
diakibatkan menurunnya kemampuan penglihatan dan kekuatan otot
2) Gangguan kognitif
Beberapa penyakit yang memiliki hubungan dengan kejadian jatuh
diantaranya adalah dimensia, delirium, dan penyakit
Parkinson .Penurunan kognitif dapat memperbesar kemungkinan
untuk mengakibatkan pasien jatuh dibandingkan tanpa penyakit
tersebut.
3) Gaya berjalan dan Gangguan keseimbangan
Resiko jatuh sering disebabkan karena gangguan berjalan dan
keseimbangan terutama pada lansia karena proses degeneratif. Proses
degeneratif menyebabkan penurunan kekuatan otot, gangguan
keseimbangan, dan penurunan kelenturan sendi. Riwayat berjalan
jongkok, mengunakan tongkat, dan penyakit stroke dapat
meningkatkan resiko terjadinya jatuh.
4) Gangguan urinaria
Kondisi yang menyebabkan pasien sering BAK atau BAB
meningkatkan resiko jatuh pada pasien, misalkan sesudah pemberian
pencahar atau diuretic.
b. Faktor Ektrinsik (Healthcare Factors Related to Falls)
Faktor ini sebagian besar terjadi karena kondisi bahaya dari lingkungan
atau tempat atau ruangan di mana pasien dirawat, seperti:
1) Kondisi lingkungan pasien
Pencahayaan kurang terang, lantai basah, tempat tidur tinggi, closet
jongkok, obat-obatan, dan alat-alat bantu berjalan meningkatkan
kejadian resiko jatuh pada pasien
2) Nurse call
Nurse call yang berada di tempat tidur maupun kamar mandi pasien
berguna untuk mendapatkan bantuan dari perawat secara cepat
3) Tenaga profesional kesehatan dan sistem pelayanan
Tenaga profesional kesehatan dan sistem pelayananyang dapat
membahayakan pasien juga berperandalam kejadian pasien jatuh.
c. Dampak pasien jatuh
Banyak dampak yang disebabkan karena insiden dari jatuh. Contoh
dampak pasien jatuh sebagai berikut:
1) Dampak Fisiologis
Dampak fisiologis dapat berupa luka lecet, luka memar, luka sobek,
cidera kepala, fraktur, bahkan sampai kematian
2) Dampak Psikologis
Dampak secara psikologis dapat mengakibatkan rasa ketakutan,
cemas, distress, depresi, sehingga mengurangi aktivitas fisik pasien.
3) Dampak finansial
Pasien yang mengalami jatuh maka Length of Stay (LOS) semakin
lama, dan biaya perawatan di rumah sakit juga semakin meningkat.
d. Pengkajian dan intervensi resiko jatuh
Pengkajian pasien dengan resiko jatuh dapat dilakukan dengan
multifactorial assessment dalam jangka waktu pasien dirawat. Tindakan
yang dilaksanakan dalam pengkajian multifaktor adalah dengan mengkaji
masalah cognitif pasien, masalah urinaria pasien, riwayat jatuh, akibat
dari jatuh, mengawasi sandal yang dipakai pasien (licin atau hilang),
masalah kesehatan yang dapat meningkatkan resiko jatuh, pengobatan
yang sedang dijalani, masalah keseimbangan, masalah pergerakan pasien,
sindrome sincope, dan gangguan pengelihatan yang diderita oleh pasien.
Pengkajian lingkungan juga perlu dilakukan, pasien dirawat memiliki
bagian penting dalam resiko dari insiden pasien [Link] berbagai
jenis alat pengkajian resiko jatuh yang telah dibuat, salah satunya dengan
Morse Fall Scale (MFS) yang dipakai dalam mengidentifikasi resiko
pasien jatuh orang dewasa di RSUP Dr. Kariadi Semarang.
Morse Fall Score (MFS) adalah metode cepat dan simpel untuk
melakukan pengkajian pasien yang memiliki kemungkinan jatuh atau
resiko jatuh dan digunakan untuk melakukan penilaian kepada pasien
umur ≥ 16 tahun. MFS memiliki 6 variabel yaitu:
1) Riwayat jatuh
Bila terdapat riwayat jatuh saat ini atau sebelum 3 bulan berikan skor
25, bila tidak beri skor 0.1
2) Diagnosa sekunder
Bila pasien memiliki lebih dari 1 diagnosa medis maka beri skor 15,
bila tidak beri skor 0.
3) Alat Bantu
Bila pasien bed rest atau butuh bantuan perawat untuk berpindah beri
skor 0, bila pasien membutuhkan tongkat, cane, atau alat penompang
untuk berjalan berikan skor 15, dan bila pasien berjalan berpegangan
pada perabotan yang ada seperti meja atau kursi berikan skor 30.
4) Terpsang Infus
Bila terpasang infus beri skor 20, dan bila tidak beri skor 0.
5) Gaya Berjalan
Bila pasien memiliki gangguan gaya berjalan seperti kesulitan bangun,
kepala menunduk, atau berjalan tidak seimbang beri skor 20, bila gaya
berjalan pasien lemah tanpa kehilangan keseimbangan beri skor 10,
dan bila pasien berjalan dengan normal beri skor 0.
6) Status Mental
Bila pasien memiliki over-estimasi terhadap kemampuan tubuhnya
beri skor 15, dan bila pasien menyadari kemampuan fisik dan tidak
memaksakan beri skor 0.
Hasil interpretasi dari MFS dikatagorikan menjadi; tidak beresiko
(No Risk) dengan skor MFS sebesar 0-24, pasien beresiko rendah (Low
Risk) dengan skor MFS sebesar 25-44, sedangkan pasien beresiko tinggi
jatuh (High Risk) memiliki skor MFS ≥ 45. Setiap skor MFS memiliki
tindakan yang berbeda, pada pasien tanpa resiko jatuh tindakan yang
dilakukan adalah cukup melaksanakan tindakan keperawatan dasar, pada
pasien dengan resiko rendah jatuh dilakukan tindakan implementasi
standar pencegahan pasien jatuh, dan untuk pasien dengan resiko tinggi
jatuh perlu dilakukan implementasi yang lebih intens dalam pencegahan
pasien jatuh.

F. Teori Komunikasi SBAR


1. Definisi Komunikasi
Komunikasi adalah Proses mengubah prilaku orang lain. Seseorang
dapat mempengaruhi sikap, pendapat dan prilaku orang lain apabila terjalin
komunikasi yang komunikatif ( Hovland dalam Effendy, 2005).
2. Definisi Komunikasi SBAR
SBAR adalah Metode terstruktur untuk mengkomunikasikan
informasi penting yang membutuhkan perhatian segara dan tindakan
berkontribusi terhadap eskalasi yang efektif dan meningkatkan keselamatan
pasien Menurut Rofii (2013).
a. Situation : Bagaimana situasi yang akan dibicarakan/dilaporkan?
Menyebutkan Nama lengkap pasien, tanggal lahir pasien, secara singkat
permasalahan pasien saat ini, kapan mulai terjadi dan seberapa berat .
Situasi dan keadaan pasien yang teramati saat itu.
b. Background : Apa latar belakang informasi klinis yang berhubungan
dengan situasi?
Penyampaian latar belakang klinis atau keadaan yang melatar belakangi
permasalahan, meliputi catatan rekam medis pasien, diagnosa masuk RS,
informasi hal-hal penting terkait : Kulit/ ekstremitas, pasien memakai/
tidak memakai oksigen, obatobatan terakhir, catatan alergi, cairan IV line
dan hasil laboratorium terbaru. Hasil- hasil laboratorium berikut tanggal
dan jam masing-masing test dilakukan. Hasil-hasil sebelumnya sebagai
pembanding, informasi klinik lainnya yang kemungkinan diperlukan.
c. Assessement : Berbagai hasil penilaian klinis perawat Penyampaian
penilaian (Assesement) terhadap situasi dan keadaan pasien yang dapat
diamati saat itu, berdasarkan pengkajian dan observasi saat itu.
d. Recommendation : Apa yang perawat inginkan terjadi dan kapan? lanjut
terhadap kondisi / keadaan permasalahan kesehatan pasien saat itu.
e. Write : Tulis rekomendasi pemberi perintah / informasi ke dalam
dokumen medik.
f. Read Back : Baca ulang tulisan tersebut dan eja obat- obat high alert
g. Confirmation : tanyakan kebenaran ucapan atau tulisan atau ada
rekomendasi tambahan lain, baca ulang secara keseluruhan isi
rekomendasi.
3. Kelebihan Dokumentasi SBAR (Rodgers, 2007)
a. Menyediakan cara yang efektif dan efesien untuk menyampaikan
informasi dan timbang terima.
b. Menawarkan cara sederhana untuk membakukan komunikasi dengan
menggunakan elemen komunikasi SBAR
c. Menghindari kesalahan dalam proses komunikasi timbang terima pasien.
d. Menciptakan metode yang sama dalam proses timbang terima.
4. Kelebihan Dokmentasi SBAR (Rodges, 2007)
a. Dapat digunakan lagi untuk keperluan yang bermanfaat
b. Mengkomunikasikan kepada tenaga perawat dan tenaga kesehatan
lainnya tentang apa yang sudah dan akan dilakukan kepada pasien.
c. Bermanfaat untuk pendataan pasien yang akurat karena berbagai
informasi mengenai pasien telah dicatat (Suarli & yayan , 2010).
5. Keuntungan komunikasi SBAR ( Rodgers, 2007)
a. Kekuatan perawat berkomunikasi secara efektif
b. Dokter percaya pada analisa perawat karena menunjukkan perawat
paham akan kondisi pasien.
BAB III
ANALISA RUANGAN DAN GAMBARAN UMUM MANAJEMEN
RUANGAN WING B RSU ‘AISYIYAH PADANG

A. Kajian Situasi Rumah Sakit


RSU ‘Aisyiyah mempunyai visi dan misi merupakan standar yang harus
di capai dalam pelayanan yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Umum.
1. Visi Rumah Sakit
Secara umum RSU di kota Padang bertujuan untuk meningkatkan dan
mengembangkan pelayanan kesehatan agar dapat menjangkau semua
lapisan masyarakat dengan memberikan pelayanan yang bermutu dan
professional. Untuk mencapai tujuan dimaksud RSU ‘Aisyiyah mempunyai
visi “Rumah Sakit Islam yang dicintai masyarakat”.
2. Misi Rumah Sakit
a. Meningkatkan Citra Rumah Sakit yang Islami
b. Memberikan Pelayanan Kesehatan yang Berkualitas dan Profesional
c. Meningkatkan Tata Kelola Rumah Sakit
3. Motto rumah sakit
”Kami Ikhlas Melayani Anda”
B. Kajian dan situasi Ruangan
Ruangan Wing B terletak dibelakang yang terdiri dari 2 lantai yaitu
dengan adanya TIM A dan TIM B bagian lantai 2 terdiri dari 5 kamar dan
dilantai dasar ada 14 kamar. Lantai 1 terdiri dari 4 kamar dan 4 tempat tidur di
ruangan isolasi, 1 tempat tidur di VVIP, 1 tempat tidur di VIP, 4 tempat tidur di
kelas I (Anggrek 5, Anggrek 6, Melati 1, Melati 2), 3 tempat tidur di ruangan
kelas II Bedah Pria, 3 tempat tidur di ruangan Kelas II Bedah Wanita, 3 tempat
tidur diruangan kelas II Interne Pria serta 3 tempat tidur diruangan kelas II
Interne Wanita. Sedangkan dilantai 2 terdiri dari kelas III dengan 4 tempat
tidur di ruangan kelas III Interne Wanita, 4 tempat tidur di ruangan kelas III
Bedah Wanita, 4 tempat tidur diruangan kelas III Interne Pria, 4 tempat tidur
diruangan kelas III Bedah Pria serta 2 tempat tidur diruangan bangsal anak.
Ruangan Wing B mempunyai ruangan perawat yang memiliki fasilitas
seperti kipas angin, konter, kursi, komputer lemari AHP, dan lemari laken serta
loker penyimpanan barang pribadi [Link] sementara Ruang Wing B
RSU ‘Aisyiyah Padang baik fasilitas maupun ruangannya masih berfungsi
dengan baik.
1. Karakteristik unit
 Sifat kekaryaan ruang
a. Fokus telaah
Manajemen dan struktur di ruangan Wing B RSU ‘Aisiyah Padang
b. Lingkup garapan
Ruangan Wing B RSU ‘Aisyiyah Padang
c. Basis intervensi
 Model layanan
Model praktek keperawatan profesional (MPKP)
 Kapasitas unit ruang
Kapasitas ruangan Wing A RSU Aisyiyah Padang adalah sebanyak 7
tempat tidur.
a. VIP : 1 tempat tidur pasien dan 1 tempai tidur penunggu
b. VVIP : 1 tempat tidur pasien dan 1 tempai tidur penunggu
c. kelas I : 4 tempat tidur
d. kelas II : 12 tempat tidur
e. kelas III : 20 tempat tidur
f. Isolasi : 4 tempat tidur
2. Analisis terhadap klien
 Karakteristik
Pada umumnya pasien yang berobat ke RSU Aisyiyah Padang yang
paling banyak menggunakan kartu BPJS dengan rata-rata kunjungan
orang perbulan.
 Tingkat ketergantungan
Tingkat ketergantungan pasien di ruang Wing B terdiri dari minimal care,
partial care dan total care..
3. Analisis unit layanan keperawatan
 Flow of care
 Manajemen unit
4. Sumber daya kekuatan kerja
 Manusia
Perawat yang bertugas di ruangan bedah dan interne sebanyak 12 orang,
dimana terdapat 1 orang karu, orang katim, dan orang perawat
pelaksana.
 Non manusia (Metode, Material, Money, Marketing)

STRUKTURORGANISASI TENAGA PERAWAT WING B

KARU
Ns. Tuti Indrawarni, [Link]

KATIM A KATIM B

1. Indra Sisri Karlita, [Link] 1. Silvia Dewi Zuraini, [Link]


2. Uci Adhiyani, [Link] 2. Fitria Novembra, [Link]
3. Ela Yulia, [Link] 3. Yulise Esa Putri, [Link]

Perawat pelaksana
Perawat Pelaksana
1. Ns. Nanti Susanti, [Link]
1. Ns. Mike Yurna Sari, [Link]
2. Ns. Fanni Anggraini, [Link]
2. Resti Afridaini, [Link]
3. Ns. Nadya Dwidiastuti, [Link]
5. Lingkungan kerja
 Lingkungan fisik
Lingkungan barang-barang pasien sudah teratur dan sudah agak mudah
memberitahukan pasien tentang kerapian peralatannya, 3 orang
mengatakan masih sulit memberitahu pasien untuk merapikan
peralatannya dan kebersihan kamar mandi pasien sudah mulai terjaga
 Lingkungan non fisik
Lingkungan non fisik di ruangan Wing B dilihat dari sirkulasi udaranya
masih belum optimal dikarenakan kondisi diruangan cukup panas dengan
kurangnya ventilasi untuk pertukaran udara.
6. Indikator mutu
REKAPITULASI BOR, LOS, TI, BTR

RSU ‘AISYIYAH PADANG

TAHUN 2021

BOR ALOS TI BTR

Bulan

Januari 51 % 3 hari 6 hari 5 kali

Februari 39 % 3 hari 7 hari 3 kali

Maret 43 % 3 hari 5 hari 4 kali

April 42 % 3 hari 8 hari 4 kali

Mei 42 % 3 hari 7 hari 4 kali

Juni 36 % 3 hari 8 hari 3 kali

Juli 46 % 3 hari 6 hari 4 kali

Agustus 53 % 3 hari 5 hari 5 kali

September 45 % 3 hari 5 hari 4 kali


Oktober 49% 3 hari 7 hari 5 kali

November 45 % 3 hari 7 hari 4 kali

Desember 39% 3 hari 7 hari 4 kali

Dari tabel di atas kita bisa lihat BOR, LOS, TI, dan BTR terlihat naik
turun karena dipengaruhi jumlah pasien dan hari rawatan yang naik turun
turun, adapun rumus dalam mendapatkan jumlah BOR, LOS, TI, BTR
adalah :

BOR = Jumlah Hari Rawatan x 100

Jumlah Tempat Tidur x Jumlah Hari Dalam Satu Periode

LOS = Jumlah Hari Rawatan

Jumlah Pasien Dalam Satu Periode

TI = (Jumlah Tempat Tidur – Jumlah hari rawatan)Jumlah Hari Dalam


Satu Periode
Jumlah Pasien Dalam Satu Periode

BTR = Jumlah Pasien Dalam Satu Periode

Jumlah Tempat Tidur

BOR, ALOS, TI, BTR Tahun 2020 BOR, ALOS, TI, BTR Tahun
2021

 BOR Tahun 2020 = 41% BOR Tahun 2021= 44 %


 ALOS Tahun 2020 = 3 hari ALOS Tahun 2021= 3 hari
 BTR Tahun 2020 = 49 kali BTR Tahun 2021= 51 kali
 TI Tahun 2020 = 4 hari TI Tahun 2021 = 4 hari
 NDR Tahun 2020 = 5 % NDR Tahun 2021 = 4 %
 GDR Tahun 2020 = 7 % GDR Tahun 2021 = 8 %
Ket : BOR adalah % pemakaian tempat tidur idealnya 60 % - 85 %

ALOS adalah rata-rata lama rawat idealnya 6 – 9 hari

BTR adalah frekuensi pemakaian tempat tidur/berapa kali tempat tidur


terpakai

Idealnya 40 – 50 kali dalam 1 tahun.

TI adalah rata-rata tempat tidur kosong / tidak terisi idealnya 1-3 hari.

1. Ketenagaan/SDM di Bangsal Wing B


Tingkat pendidikan perawat di ruangan Wing B adalah Ners sebanyak
5orang dan D III sebanyak 7 orang.

Identitas Perawat di Wing B

No Nama Pendidikan Jabatan Keterangan


1. Ns. Tuti Indrawarni, [Link] S1 + Ners Karu
2. Indra Sisri Karlita, [Link] D III KATIM A
3. Uci Adhiyani, [Link] D III KATIM A
4. Ela Yulia, [Link] D III KATIM A
5. Silvia Dewi Zuraini, [Link] D III KATIM B
6. Fitria Novembra, [Link] D III KATIM B
7. Yulise Esa Putri, [Link] D III KATIM B
8. Ns. Mike Yurna Sari, [Link] S1 + Ners PP TIM A
9. Resti Afridaini, [Link] D III PP TIM A
10. Ns. Nadya Dwidiastuti, [Link] S1 + Ners PP TIM A
11. Ns. Nanti Susanti, [Link] S1 + Ners PP TIM B
12. Ns. Fanni Anggraini, [Link] S1 + Ners PP TIM B

Tabel 3.1

Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Tenaga Keperawatan

Di Ruang Wing B RSU Aisyiyah Padang

No Tingkat Pendidikan Jumlah %


1. Ners 5 42 %

2. D3 Keperawatan 7 58 %

Jumlah 12 100 %

Diagram 1.1

Distribusi frekuensi berdasarkan umur responden di ruang WING B

RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan perawat dengan umur 21-40 di ruangan

WING B sebanyak 7 perawat (100%).

Diagram 1.2

Distribusi frekuensi berdasarkan Jenis Kelamin responden di ruang WING

RSU Aisyiyah Padang


Berdasarkan diagram di atas didapatkan perawat berjenis kelamin perempuan di

ruangan WING B sebanyak 7 perawat (100%).

Diagram 1.3

Distribusi frekuensi berdasarkan pendidikan terakhir responden di ruang

WING B

RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan perawat dengan pendidikan D III

Keperawatan sebanyak 4 orang (57,1%) dan ners 3 orang (42,9%).

Lama Bekerja
Responden 1: 2 th
Responden 2: 3 th
Responden 3: 12 th
Responden 4: 2 th
Responden 5: 9 th
Responden 6: 10 th
Responden 7: 4 th

Berdasarkan diagram di atas didapatkan bahwa perawat dengan lama bekerja > 5

tahun sebanyak 3 orang (43 %) dan perawat dengan lama bekerja <5 tahun

sebanyak 4 orang (57 %).

Diagram 1.4

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan responden tentang 7 benar

pemberian obat di ruang WING B RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang 7 benar pemberian obat sebanyak 7 perawat (100%) menjawab iya/ tau.

Diagram 1.5

Distribusi frekuensi berdasarkan apa saja tentang 7 benar minum obat

menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah Padang


Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang apa saja 7 benar pemberian obat sebanyak 5 perawat (71,4%) memilih

benar pasien, benar obat, benar dosis, benar cara, benar waktu, benar

dokumentasi, benar informasi. Sebanyak 1 perawat (14,3%) memilih benar obat,

benar pasien, benar antibiotik, benar kadaluarsa, benar merek, benar oplosan.

Sebanyak 1 perawat (14,3%) memilih benar pasien, benar obat, benar dosis, benar

waktu, benar rute, dokumentasi.

Diagram 1.6

Distribusi frekuensi berdasarkan rute obat di sebut juga dengan apa

menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang rute pemberian obat disebut juga dengan apa sebanyak 6 perawat

(85,7%) memilih cara pemberian obat. Sebanyak 1 perawat (14,3%) memilih

perjalanan obat.
Diagram 1.7

Distribusi frekuensi berdasarkan mencuci tangan harus dilakukan perawat

saat apa menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang kapan saja mencuci tangan harus dilakukan perawat sebanyak 7 perawat

(100%) menjawab sebelum dan sesudah pemberian obat.

Diagram 1.19

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan perawat tentang sampah

infeksius dan non infeksius menurut responden di ruang WING B RSU

Aisyiyah Padang
Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang sampah infeksius dan non infeksius sebanyak 7 perawat (100%)

menjawab iya/ tau.

Diagram 1.20

Distribusi frekuensi berdasarkan penjelasan tentang sampah infeksius dan

non infeksius oleh perawat kepada pasien menurut responden di ruang

WING B

RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang sampah infeksius dan non infeksius oleh perawat kepada pasien

sebanyak 6 perawat (85,7%) menjawab iya/ ada. Sebanyak 1 perawat (14,3%)

menjawab tidak.

Diagram 1.21

Distribusi frekuensi berdasarkan adakah pemisahan sampah infeksius dan

non infeksius menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah Padang


Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang adakah pemisahan sampah infeksius dan non infeksius sebanyak 7

perawat (100%) menjawab iya/ ada.

Diagram 1.22

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan perawat tentang tempat

sampah yang berwarna kuning adalah sampak infeksius menurut responden

di ruang WING B

RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang tempat sampah yang berwarna kuning adalah sampak infeksius

sebanyak 7 perawat (100%) menjawab iya/ tau.

Diagram 1.23
Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan perawat tentang apa saja

yang termasuk sampah infeksius menurut responden di ruang WING B RSU

Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang apa saja yang termasuk sampah infeksius sebanyak 7 perawat (100%)

menjawab masker handscoon, pampers/ pembalut, perban pasien dan lain-lain.

Diagram 1.24

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan perawat tentang isi sampah

dalam kantong berwarna hitam menurut responden di ruang WING B RSU

Aisyiyah Padang
Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang isi sampah dalam kantong berwarna hitam sebanyak 7 perawat (100%)

menjawab iya/ tau.

Diagram 1.25

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan perawat tentang apa saja

yang termasuk sampah berwarna hitam menurut responden di ruang WING

RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang apa saja yang termasuk sampah berwarna hitam sebanyak 7 perawat

(100%) menjawab sisa makanan.

Diagram 1.26

Distribusi frekuensi berdasarkan ketersediaan tempat sampah di masing-

masing kamar pasien menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah

Padang
Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang ketersediaan tempat sampah di masing-masing kamar pasien sebanyak 6

perawat (85,7%) menjawab iya/ ada. Sebanyak 1 perawat (14,3%) menjawab

tidak.

Diagram 1.27

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan perawat tentang tempat

khusus membuang jarum suntik menurut responden di ruang WING B RSU

Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang tempat khusus membuang jarum suntik sebanyak 7 perawat (100%)

menjawab iya/ tau.

Diagram 1.28
Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan perawat tentang nama tempat

sampah pembuangan jarum suntik menurut responden di ruang WING B

RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang nama tempat sampah pembuangan jarum suntik sebanyak 7 perawat

(100%) menjawab safety box.

Diagram 1.29

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan perawat tentang tempat

sampah selain warna hitam dan kuning menurut responden di ruang WING

B RSU Aisyiyah Padang


Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang tempat sampah selain warna hitam dan kuning sebanyak 7 perawat

(100%) menjawab iya/ tau.

Diagram 1.30

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan perawat tentang warna

tempat pembuangan sampah kemoterapi menurut responden di ruang

WING B

RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang warna tempat pembuangan sampah kemoterapi sebanyak 4 perawat

(57,1%) menjawab ungu. Sebanyak 2 perawat (28,6%) menjawab merah.

Sebanyak 1 perawat (14,3%) menjawab kuning.

Diagram 1.31

Distribusi frekuensi berdasarkan berapa kali sampah rumah sakit biasanya

dibuang dalam sehari menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah

Padang
Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang berapa kali sampah rumah sakit biasanya dibuang dalam sehari

sebanyak 3 perawat (42,9%) menjawab 2x sehari. Sebanyak 2 perawat (28,6%)

menjawab 3x sehari. Sebanyak 2 perawat (28,6%) menjawab 1x sehari.

Diagram 1.32

Distribusi frekuensi berdasarkan adanya pelatihan pengolaan sampah

rumah sakit menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang adanya pelatihan pengolaan sampah rumah sakit sebanyak 6 perawat

(85,7%) menjawab iya/ ada. Sebanyak 1 perawat (14,3%) menjawab tidak/ tidak

ada.

Diagram 1.33
Distribusi frekuensi berdasarkan siapa saja yang mengikuti pelatihan

tentang pengolaan sampah menurut responden di ruang WING B RSU

Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang siapa saja yang mengikuti pelatihan tentang pengolaan sampah

sebanyak 5 perawat (71,4%) menjawab seluruh karyawan rumah sakit. Sebanyak

2 perawat (28,6%) menjawab tenaga pengumpul sampah.

Diagram 1.34

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan tentang pengertian cuci

tangan menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang pengertian cuci tangan sebanyak 4 perawat (57,1%) menjawab tindakan

membersihkan tangan dengan menggunakan sabun/ antiseptic dibawah air

mengalir atau dengan menggunakan handrub berbasis alkohol. Sebanyak 2


perawat (28,6%) menjawab membersihkan tangan dengan menggunakan air

mengalir. Sebanyak 1 perawat (14,3%) menjawab membersihkan tangan dengan

menggunakan handrub berbasis alkohol.

Diagram 1.35

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan tentang manfaat cuci tangan

menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang manfaat cuci tangan sebanyak 3 perawat (85,7%) menjawab membuat

tangan menjadi bersih dari kuman. Sebanyak 3 perawat (85,7%) menjawab

membuat kuku menjadi cantik. Sebanyak 1 perawat (14,3%) menjawab membuat

kulit putih dan bersih.

Diagram 1.36

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan tentang lama cuci tangan

dengan hand wash menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah

Padang
Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang lama cuci tangan dengan handwash sebanyak 6 perawat (85,7%)

menjawab 40-60 detik. Sebanyak 1 perawat (14,3%) menjawab 20-30 detik.

Diagram 1.37

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan tentang lama cuci tangan

dengan handrub menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah

Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang lama cuci tangan dengan handrub sebanyak 4 perawat (57,1%)

menjawab 20-30 detik. Sebanyak 1 perawat (14,3%) menjawab 25-40 detik.

Sebanyak 2 perawat (28,6%) menjawab 10-30 detik.

Diagram 1.38
Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan tentang Langkah cuci tangan

menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang langkah cuci tangan sebanyak 4 perawat (57,1%) menjawab 6 langkah.

Sebanyak 1 perawat (14,3%) menjawab 5 langkah. Sebanyak 1 perawat (14,3%)

menjawab 10 langkah. Sebanyak 1 perawat (14,3%) menjawab 7 langkah.

Diagram 1.39

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan tentang langkah ketiga dalam

cuci tangan menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang langkah ketiga dalam cuci tangan sebanyak 7 perawat (100%)


menjawab gosok sela-sela jari.

Diagram 1.40

Distribusi frekuensi berdasarkan siapa saja yang wajib melakukan

kebersihan tangan menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah

Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang siapa saja yang wajib melakukan kebersihan tangan sebanyak 7 perawat

(100%) menjawab setiap orang yang bekerja/ berada di rumah sakit.

Diagram 1.41

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan tentang berapa kali

pemakaian handrub untuk mencuci tangan menurut responden di ruang

WING B RSU Aisyiyah Padang


Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang berapa kali pemakaian handrub untuk mencuci tangan sebanyak 2

perawat (28,6%) menjawab 3 kali. Sebanyak 2 perawat (28,6%) menjawab 5 kali.

Sebanyak 2 perawat (28,6%) menjawab tidak terbatas. Sebanyak 1 perawat

(14,3%) menjawab 2 kali.

Diagram 1.42

Distribusi frekuensi berdasarkan hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum

melakukan kebersihan tangan menurut responden di ruang WING B RSU

Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan kebersihan tangan

sebanyak 4 perawat (57,1%) menjawab a,b,c benar semua. Sebanyak 3 perawat

(42,9%) menjawab perhiasan atau aksesoris.

Diagram 1.43

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan tentang cara mengeringkan

tangan setelah melakukan cuci tangan dengan air mengelir menurut

responden

di ruang WING B RSU Aisyiyah Padang


Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang cara mengeringkan tangan setelah melakukan cuci tangan dengan air

mengelir sebanyak 7 perawat (100%) menjawab tissue dan handuk sekali pakai.

Diagram 1.44

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan tentang langkah cuci tangan

menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang langkah cuci tangan yang terdapat pada gambar sebanyak 7 perawat

(100%) menjawab 3.

Diagram 1.45

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan tentang langkah cuci tangan

menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah Padang


Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang langkah cuci tangan yang terdapat pada gambar sebanyak 7 perawat

(100%) menjawab 4.

Diagram 1.46

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan tentang langkah cuci tangan

menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang langkah cuci tangan yang terdapat pada gambar sebanyak 7 perawat

(100%) menjawab 3-1-2-4-6-5.

Diagram 1.47
Distribusi frekuensi berdasarkan tentang pernyataan yang bukan 5 moment

cuci tangan menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang pernyataan yang bukan 5 moment cuci tangan sebanyak 7 perawat

(100%) menjawab sesudah dan sebelum makan.

Diagram 1.48

Distribusi frekuensi berdasarkan pengetahuan tentang indikasi kebersihan

tangan menurut responden di ruang WING B RSU Aisyiyah Padang

Berdasarkan diagram di atas didapatkan pengetahuan perawat di ruangan WING

B tentang indikasi kebersihan tangan sebanyak 5 perawat (71,4%) menjawab


a,b,c,d benar semua. Sebanyak 2 perawat (28,6%) menjawab setelah tiba dan

meninggalkan rumah sakit.

BAB IV
ANALISA DATA

DATA
KUESIONER OBSERVASI WAWANCARA
an infeksi nosokomial berhubungan dengan Hasil Observasi: Hasil Wawancara: Pe
an sampah infeksius dan non infeksius di  Terdapat tong sampah  Kepala ruangan no
WING B RSU ‘Aisyiyah Padang di daparkan infeksius dan non-infeksius mensosialisasi setiap be
di nurse station kebijakan dan prosedur pe
emua pegawai menjawab tentang sampah  Penempatan tong sampah pencegahan dan inf
feksius dan non-infeksius (100%) menjawab iya/ non infeksius terdapat di pengendalian infeksi inf
u. TIM A dan TIM B  Karu selalu memberi
ebagian besar pegawai menjawab tentang sampah  Sampah yang ada di TIM A teguran kepada perawat
feksius dan non infeksiua oleh perawat kepada dan TIM B hanya sampah yang salah dalam memilah
sien sebanyak 6 perawat (85,7%) menjawab iya/ non-infeksius saja sampah infeksius dan non
a. Sebanyak 1 perawat (14,3%) menjawab tidak  Sampah selalu dilapisi infeksius
emua pegawai menjawab tentang pemisahan dengan kantong plastic  Tempat sampah selalu di
mpah infeksius dan non-infeksius (100%) terlebih dahulu oleh petugas lapisi plastic oleh petugas
enjawab iya/ ada.  Tidak ada penempatan tong  Menurut Karu alasan kenapa
ebagian besar pegawai menjawab tentang sampah infeksius baik di tidak ditempatkannya tong
tersediaan tempat sampah di masing-masing TIM A dan TIM B sampah infeksius pada TIM
mar pasien sebanyak 6 perawat (85,7%) A dan TIM B adalah
enjawab iya/ ada. Sebanyak 1 perawat (14,3%) seringnya keluarga pasien
enjawab tidak. salah dalam pemilahan
ebagian besar pegawai menjawab tentang warna sampah meskipun sudah
mpat pembuangan sampah kemoterapi sebanyak disosialisasikan kepada
perawat (57,1%) menjawab ungu. Sebanyak 2 keluarga
rawat (28,6%) menjawab merah. Sebanyak 1  Menurut karu berdasarkan
rawat (14,3%) menjawab kuning. pengalaman yang terjadi,
ebagian besar pegawai menjawab tentang berapa alasan untuk tidak
li sampah rumah sakit biasanya dibuang dalam meletakkan tong sampah di
hari sebanyak 3 perawat (42,9%) menjawab 2x TIM A maupun TIM B
hari. Sebanyak 2 perawat (28,6%) menjawab 3x adalah karena kurangnya
hari. Sebanyak 2 perawat (28,6%) menjawab 1x kesadaran keluarga untuk
hari. memberi informasi kepada
ebagian besar pegawai menjawab tentang adanya anggota keluarga lain saat
latihan pengolaan sampah rumah sakit sebanyak berkunjung, sehingga
perawat (85,7%) menjawab iya/ ada. Sebanyak 1 banyak anggota keluarga
rawat (14,3%) menjawab tidak/ tidak ada. tidak tahu cara pemilahan
ebagian besar pegawai menjawab tentang siapa sampah yang benar.
ja yang mengikuti pelatihan tentang pengolaan Beradasarkan pengalaman
mpah sebanyak 5 perawat (71,4%) menjawab tersebut, akhirnya karu tidak
luruh karyawan rumah sakit. Sebanyak 2 perawat meletakkan tong sampah
8,6%) menjawab tenaga pengumpul sampah infeksius pada TIM A dan
emua pegawai menjawab tentang tempat sampah TIM B.
lain warna hitam dan kuning (100%) menjawab
a/ tau
emua pegawai menjawab tentang nama tempat
mpah pembuangan jarum suntik (100%)
enjawab safety box
emua pegawai menjawab tentang tempat khusus
embuang jarum suntik (100%) menjawab iya/ tau
emua pegawai menjawab tentang apa saja yang
rmasuk sampah berwarna hitam (100%)
enjawab sisa makanan
emua pegawai menjawab tentang isi sampah
lam kantong berwarna hitam (100%) menjawab
a/ tau
emua pegawai menjawab tentang apa saja yang
rmasuk sampah infeksius (100%) menjawab
asker handscoon, pampers/ pembalut, perban
sien dan lain-lain
emua pegawai menjawab tentang tempat sampah
ng berwarna kuning adalah sampak infeksius
00%) menjawab iya/ tau

ptimalnya ketersediaan fasilitas cuci tangan Hasil Observasi: Hasil Wawancara: Be


pelayanan kesehatan di ruangan WING B RSU  Berdasarkan hasil observasi  Menurut kepala ruangan pe
Padang didapatkan bahwa: banyak perawat yang tidak WING B, saat ini untuk cu
ebagian besar pegawai menjawab tentang mencuci tangan sebelum masalah cuci tangan dengan pe
ngertian cuci tangan sebanyak 4 perawat (57,1%) kontak dengan pasien 5 momen memang sedang
enjawab tindakan membersihkan tangan dengan  Dari hasil observasi terlihat dalam perbaikan
enggunakan sabun/ antiseptic dibawah air perawat hanya mencuci  Karu selalu melakukan
engalir atau dengan menggunakan handrub tangan dengan handshoap supervise mengenai cuci
rbasis alkohol. Sebanyak 2 perawat (28,6%) jika terkena cairan tubuh tangan terhadap perawat
enjawab membersihkan tangan dengan pasien saja ruangan
enggunakan air mengalir. Sebanyak 1 perawat  Berdasarkan hasil observasi  Karu selalu melakukan
4,3%) menjawab membersihkan tangan dengan terlihat bahwa botol handrub teguran kepada perawat jika
enggunakan handrub berbasis alcohol yang terdapat di setiap seandainya ada perawat
ebagian besar pegawai menjawab tentang manfaat ruangan tidak berisi/ kosong yang lupa mencuci tangan
ci tangan sebanyak 3 perawat (85,7%) menjawab  Terkadang hanshoap yang  Ruangan memiliki stok
embuat tangan menjadi bersih dari kuman. telah habis tidak diisi handshop dan handrub
ebanyak 3 perawat (85,7%) menjawab membuat langsung oleh petugas  Pemberian sosialisasi
uku menjadi cantik. Sebanyak 1 perawat (14,3%)  Peletakan tissue untuk kepada klien dan keluarga
enjawab membuat kulit putih dan bersih pengeringan tangan terlihat mengenai cuci tangan di
ebagian besar pegawai menjawab tentang lama ada atau terisi pada tanggal ruang rawat inap jarang
ci tangan dengan handwash sebanyak 6 perawat 20 Mei 2021 dilakukan
5,7%) menjawab 40-60 detik. Sebanyak 1  Kendala dalam hal
rawat (14,3%) menjawab 20-30 detik pemberian sosialisasi cuci
ebagian besar pegawai menjawab tentang lama tangan kepada keluarga
ci tangan dengan handrub sebanyak 4 perawat pasien adalah karena
7,1%) menjawab 20-30 detik. Sebanyak 1 kurangnya kesadaran
rawat (14,3%) menjawab 25-40 detik. Sebanyak keluarga pasien untuk
perawat (28,6%) menjawab 10-30 detik memberikan informasi yang
ebagian besar pegawai menjawab tentang langkah telah dikasih kepada
ci tangan sebanyak 4 perawat (57,1%) menjawab keluarga lain, sehingga
langkah. Sebanyak 1 perawat (14,3%) menjawab banyak keluarga yang
langkah. Sebanyak 1 perawat (14,3%) menjawab bertanya ulang kepada
0 langkah. Sebanyak 1 perawat (14,3%) perawat dan dapat
enjawab 7 langkah mengganggu kerja perawat
ebagian besar pegawai menjawab tentang berapa saat itu.
li pemakaian handrub untuk mencuci tangan
banyak 2 perawat (28,6%) menjawab 3 kali.
ebanyak 2 perawat (28,6%) menjawab 5 kali.
ebanyak 2 perawat (28,6%) menjawab tidak
rbatas. Sebanyak 1 perawat (14,3%) menjawab 2
li
ebagian besar pegawai menjawab tentang hal-hal
ng perlu diperhatikan sebelum melakukan
bersihan tangan sebanyak 4 perawat (57,1%)
enjawab a,b,c benar semua. Sebanyak 3 perawat
2,9%) menjawab perhiasan atau aksesoris
ebagian besar pegawai menjawab tentang indikasi
bersihan tangan sebanyak 5 perawat (71,4%)
enjawab a,b,c,d benar semua. Sebanyak 2
rawat (28,6%) menjawab setelah tiba dan
eninggalkan rumah sakit
emua pegawai menjawab tentang pernyataan yang
ukan 5 moment cuci tangan (100%) menjawab
sudah dan sebelum makan
emua pegawai menjawab tentang langkah cuci
ngan yang terdapat pada gambar (100%)
enjawab 3-1-2-4-6-5
emua pegawai menjawab tentang langkah cuci
ngan yang terdapat pada gambar (100%)
enjawab 4
emua pegawai menjawab tentang langkah cuci
ngan yang terdapat pada gambar (100%)
enjawab 3
emua pegawai menjawab tentang cara
engeringkan tangan setelah melakukan cuci
ngan dengan air mengelir (100%) menjawab
sue dan handuk sekali pakai
emua pegawai menjawab tentang siapa saja yang
ajib melakukan kebersihan tangan (100%)
enjawab setiap orang yang bekerja/ berada di
mah sakit
emua pegawai menjawab tentang langkah ketiga
lam cuci tangan (100%) menjawab gosok sela-
la jari

ANALISA SWOT

N Masalah Kekuatan/Streng Kelemahan/Weakneses Kesempatan/Opp


O
1. Penyebaran - Adanya pemilahan - Tidak adanya pemilahan - Adanya mahasis
infeksi sampah infeksius tong sampah infeksius Alifah Padang y
nosocomial dan non infeksius di dan non infeksius di praktik profesi m
berhubungan konter perawat ruang rawatan pasien keperawatan.
dengan - Sampah selalu - Tidak ada penempatan
penempatan dilapisi dengan tong sampah infeksius
sampah kantong plastik baik di TIM A maupun
infeksius dan terlebih dahulu oleh TIM B
non infeksius di petugas
ruangan WING
B RSU
‘Aisyiyah
Padang
2. Kurang - Sudah ada tempat - Masih ada petugas yang - Adanya mahasis
optimalnya cuci tangan/ tidak melakukan 5 Alifah Padang y
ketersediaan wastapel di ruangan momen cuci tangan praktik profesi m
fasilitas cuci WING B - Belum terlaksana secara keperawatan.
tangan terhadap - Adanya tisu yang optimal cuci tangan - Adanya motivas
pelayanan disediakan oleh yang di sosialisasikan kepala ruangan
kesehatan di ruangan untuk petugas kepada pasien menerapkan 5 m
ruangan WING mengeringkan dan keluarga pasien tangan.
B RSU tangan setelah - Belum terlaksana secara
‘Aisyiyah mencuci tangan pada optimal 6 langkah cuci
Padang tanggal 20 Mei 2021 tangan oleh petugas
ruangan
- Terkadang handsoap
yang telah habis tidak di
isi langsung oleh
petugas
POA (Planning Of Action)

no Masalah Rencana kegiatan Tujuan Sasaran Metode nara

1. Penyebaran 1. Menyediakan Mengoptimalka Perawat Diskusi Mah


infeksi fasilitas n pelaksanaan yang prof
nosocomial pengolahan sampah pengelolaan berada di Stik
berhubungan 2. Menyediakan sampah Wing B Alif
dengan fasilitas pemilahan Pada
penempatan sampah infeksius
sampah infeksius dan non infeksius
dan non infeksius termasuk diruangan
di ruangan WING pasien
B RSU ‘Aisyiyah
Padang
2. Kurang Mengoptimalka Perawat diskusi Mah
optimalnya 1. Meneyediakan n pelaksanaan yang prof
ketersediaan fasilitas untuk hand pendokumentas berada di Stik
fasilitas cuci hygine disetiap ian asuhan Wing B Alif
tangan terhadap pintu ruangan keperawatan Pada
pelayanan pasien
kesehatan di 2. Membuat lembaran
ruangan WING peraturan RS di
B RSU ‘Aisyiyah ruangan
Padang

BAB V

PRIORITAS MASALAH

1. Metode Pembobotan Dan Penentuan Prioritas Masalah


Prioritas Masalah Manajemen Keperawatan Di Ruangan Rawat
Inap WING B RSU Aisyiyah Padang
No Masalah A B C D E F G H I J K L M N
. Manajemen
1. Penyebaran 5 4 3 3 4 4 3 4 3 3 4 5 45 2
infeksi
nosocomial
berhubungan
dengan
penempatan
sampah
infeksius dan
non infeksius
di ruangan
WING B RSU
‘Aisyiyah
Padang
2. Kurang 5 4 4 4 5 4 3 3 3 4 4 5 48 1
optimalnya
ketersediaan
fasilitas cuci
tangan
terhadap
pelayanan
kesehatan di
ruangan
WING B RSU
‘Aisyiyah
Padang
Ket:
A : Resiko Terjadi H : Waktu Keterangan Bobot :
B : Resiko Parah I : Dana 1 : Sangat Rendah
C : Potensial Untuk Pelatihan J : Fasilitas Kesehatan 2 : Rendah
D : Minat Perawat K : Sumber Daya 3 : Cukup
E : Mungkin diatasi L : Sesuai dengan Peran Perawat 4 : Tinggi
F : Sesuai Program M : Skor Total 5 : Sangat Tinggi
G : Tempat N : Urutan Prioritas
2. Masalah yang diprioritaskan
Dari skor diatas memiliki jumlah skor yang berbeda didapatkan skor
paling tinggi yaitu kurang optimalnya ketersediaan fasilitas cuci tangan
terhadap pelayanan kesehatan di ruangan WING B RSU ‘Aisyiyah Padang.
Berdasarkan hasil diskusi yang telah dilakukan dengan kepala ruangan,
kepala instalasi rawat inap serta bagian PPI RSU ‘Aisyiyah Padang maka
kelompok mengangkat satu masalah yang menjadi prioritas kelompok untuk
dilakukan implementasi.
3. Prioritas Masalah
Dari penjelasan yang telah diprioritaskan dengan mempertimbangkan waktu
dan keterbatasan sumber daya kelompok maka masalah yang muncul yaitu :
1. Kurang optimalnya ketersediaan fasilitas cuci tangan terhadap pelayanan
kesehatan di ruangan WING B RSU ‘Aisyiyah Padang
BAB VI

PEMBAHASAN

A. Loka Karya Mini


Berdasarkan analisa di ruangan oleh Stikes Alifah yang mana awali
dengan penyebaran kuisioner pada perawat, observasi dan wawancara
dengan Karu Wing B RSU ‘Aisyiyah Padang. Maka teridentifikasi
beberapa masalah yaitu penyebaran infeksi nosocomial berhubungan
dengan penempatan sampah infeksius dan non infeksius di ruangan WING
B RSU ‘Aisyiyah Padang, dan kurang optimalnya ketersediaan fasilitas
cuci tangan terhadap pelayanan kesehatan di ruangan WING B RSU
‘Aisyiyah Padang.

Pada lokmin I tanggal 29 Mei 2021, maka dilaporkan identifikasi


masalah tersebut, dengan metode pembobotan dan menentukan prioritas
masalah maka hal dari kesepakatan, masalah yang diprioritaskan untuk
diatasi adalah Kurang optimalnya ketersediaan fasilitas cuci tangan
terhadap pelayanan kesehatan di ruangan WING B RSU ‘Aisyiyah
Padang.

Hand hygiene (kebersihan tangan) merupakan teknik dasar yang


paling penting dalam pencegahan dan pengendalian infeksi serta hand
hygiene adalah cara yang paling efektif untuk mencegah infeksi
nosokomial. Tujuan hand hygiene adalah untuk membuang kotoran dan
organisme yang menempel ditangan dan untuk mengurangi jumlah
mikroba total pada saat itu. Hand hygiene merupakan membersihkan
tangan dengan sabun dan air (Handwash) atau handrub berbasis alkohol.
Sesuai dengan situasi pandemi yang kita alami saat ini kebersihan tanggan
sangat lah dianjurkan.

Hasil observasi tentang ketersediaan fasilitas cuci tangan terhadap


pelayanan kesehatan di ruangan WING B RSU ‘Aisyiyah Padang bahwa
tersedianya botol Handrub yang tidak terisi disetiap pintu kamar pasien.
Pada praktek profesi manajemen keperawatan, mahasiswa melakukan
implementasi berdasarkan hasil diskusi yang dilakukan maka kelompok
bersepakat dengan kepala ruangan, kepala instalasi rawat inap serta bagian
PPI dengan melakukan pengisian ulang botol Handrub yang kosong
disemua pintu kamar pasien.

Tujuan pengisian ulang botol Handrub yang kosong disemua pintu


kamar pasien adalah agar keluarga pasien dapat melakukan kebersihan
tangan sebelum dan sesudah berkontak dengan pasien dan berkontak
dengan lingkungan pasien.

B. Implementasi
Dalam mengatasi permasalahan tentang kurang optimalnya
ketersediaan fasilitas cuci tangan terhadap pelayanan kesehatan di ruangan
WING B RSU ‘Aisyiyah Padang yaitu :

1. Menyediakan Isi Ulang Handrub


Perencanan pada permasalahan kurang optimalnya ketersediaan
fasilitas cuci tangan terhadap pelayanan kesehatan kelompok
berencana menyediakan isi ulang Handrub. Kelompok melakukan
pengisian ulang Handrub kedalam setiap botol Handrub kosong yang
tersedia disetiap pintu kamar pasien. Kelompok melakukan pengisian
Handrub ini yang dilakukan pada tanggal 2 Juni 2021 yang disaksikan
oleh perawat yang hadir serta ibu kepala ruangan.

Target pencapaian selama kegiatan adalah 90 % keluarga


pasien melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan
pasien dan lingkungan pasien, serta 85% perawat dapat menggunakan
Handrub yang tersedia dipintu kamar pasien untuk mencuci tangan
sebelum kontak dengan pasien dan sesudah kontak dnegan lingkungan
pasien.

Sebelumnya keluarga pasien tidak mencuci tangan sebelum


kontak dengan pasien dan sesudah kontak dengan lingkungan pasien
tidak melakukan cuci tangan karena tidak tersedianya Handrub di
pintu kamar pasien. Maka dari itu perlu dilakukan pengisian ulang
Handrub karena kebersihan tangan sangatlah penting untuk menjaga
kesehatan.

C. Evaluasi
Berdasarkan masalah yang diangkat di ruang Wing B RSU
Aisyiyah Padang tentang kurang optimalnya ketersediaan fasilitas cuci
tangan terhadap pelayanan kesehatan di ruangan WING B RSU ‘Aisyiyah
Padang untuk menjaga kebersihan makan kelompok melakukan pengisian
ulang Handrub di pintu kamar pasien.

Dari hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 2-3 Juni 2021
terlihat bahwa keluarga pasien yang hendak berkunjung ataupun yang
menjadi penunggu telah melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah
keluar dari kamar pasien serta sudah terlihat perawat melakukan cuci
tangan setelah kontak dengan lingkungan pasien.
BAB VII
PENUTUP

A. Kesimpulan
Manajemen pelayanan keperawatan terdiri dari kelompok manajer
dari tingkat pengelola keperawatan tertinggi sampai keperawatan pelaksana
yang mempunyai tugas dan wewenang. Dilihat dari struktur rumah sakit
manajerpelayanan keperawatan tingkat tertinggi di rumah sakit terdiri dari
direktur kepala bidang keperawatan dan komite [Link]
keperawatan merupakan suatu bentuk koordinasi dan integrasi sumber-
sumber keperawatan dengan menerapkan proses manajemen untuk mencapai
tujuan dan obyektifitas asuhan keperawatan dan pelayanan keperawatan.
Proses manajemen keperawatan sejalan dengan proses keperawatan
sebagai suatu metode pelaksanaan asuhan keperawatan secara profesional,
sehingga diharapkan kedua saling mendukung. Sebagaimana proses
keperawatan, manajemen keperawatan terdiri atas: pengumpulan dan
identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi hasil. Karena
manajemen keperawatan mempunyai ke khususan terhadap mayoritas tenaga
daripada seorang pegawai, maka setiap tahapan dalam proses manajemen
lebih rumit jika dibandingkan dengan proses keperawatan.
Kualitas pelayanan keperawatan juga sangat dipengaruhi oleh proses,
peran dan fungsi dari manajemen keperawatan, karena manajemen
keperawatan adalah suatu tugas khusus yang harus dilaksanakan oleh manajer
atau pengelola keperawatan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, serta mengawasi sumber-sumber yang ada, baik sumber daya
maupun sumber dana sehingga dapat memberikan pelayanan keperawatan
yang efektif dan efisien baik kepada klien, keluarga dan masyarakat.
Selain itu peningkatan kualitas pelayanan keperawatan dirumah sakit
juga dipengaruhi oleh pasien safety (keselamatan pasien) dan pengelolaan
sampah medis yang baik, pasien safety yang menjadi komponen penting
dalam pelayanan kesehatan yaitu Hand Hygiene. Rumah sakit adalah sarana
upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta
dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian.
Kegiatan rumah sakit menghasilkan berbagai macam limbah yang berupa
benda cair, padat dan gas.
Berdasarkan hasil observasi kelompok yang dilakukan pada tanggal 19
Mei- 21 Mei 2021 didapatkan hasil diruangan rawat inap wing B RSU
‘Aisyiyah padang ditemukan 2 permasalahan yaitu kurang optimalnya
ketersediaan fasilitas cuci tangan terhadap pelayanan kesehatan di ruangan
pasien, belum optimalnya pengurangan resiko infeksi pada pelayanan
kesehatan seperti pemilahan sampah.
Berdasarkan masalah yang diangkat di ruang Wing B RSU Aisyiyah
Padang tentang kurang optimalnya ketersediaan fasilitas cuci tangan terhadap
pelayanan kesehatan di ruangan WING B RSU ‘Aisyiyah Padang untuk
menjaga kebersihan makan kelompok melakukan pengisian ulang Handrub di
pintu kamar pasien.
Dari hasil observasi yang dilakukan pada tanggal 2-3 Juni 2021 terlihat
bahwa keluarga pasien yang hendak berkunjung ataupun yang menjadi
penunggu telah melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah keluar dari
kamar pasien serta sudah terlihat perawat melakukan cuci tangan setelah
kontak dengan lingkungan pasien.

B. Saran
1. Untuk ruangan rawat inap WING B RSU ‘Aisyiyah Padang agar dapat
mempertahankan hasil yang telah dicapai serta diharapkan perawat
ruangan dapat menerapkan Hand Hygine sesuai dengan yang telah
dilakukan.
2. Diharapkan Kepala Ruangan dan perawat agar dapat memberikan
edukasi kepada anggota keluarga agar dapat melakukan cuci tangan
dengan baik
3. Untuk Institusi pendidikan diharapkan dapat mengembangkan praktek
profesi manajemen diseluruh ruangan rawat inap WING B RSU
‘Aisyiyah Padang
C. Manfaat
1. Bagi Rumah Sakit
Diharapkan makalah lokakarya mini ini dapat digunakan sebagai bahan
masukan dalam meningkatkan mutu manajemen keperawatan melalui
pembaharuan yang telah dilakukan oleh mahasiswa praktek profesi
keperawatan.
2. Bagi Instalasi rawat inap WING B RSU ‘Aisyiyah Padang
Diharapkan memberikan edukasi kepada anggota keluarga agar dapat
melakukan cuci tangan dengan baik
3. Bagi Institusi pendidikan
Diharapkan laporan ini dapat digunakan sebagai masukan dan informasi
dalam proses pembelajaran dan bahan referensi mahasiswa Stikes Alifah
Padang, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan.
4. Bagi Mahasiswa
Diharapkan laporan ini dapat menambah pengetahuan, pengalaman dan
wawasan kelompok dalam menerapkan mata kuliah keperawatan
manajemen dan dapat dijadikan bahan perbandingan selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

[Link], 2005, Pengelolaan Aman Limbah Layanan Kesehatan. Jakarta : Penerbit

Buku Kedokteran EGC.

A Potter,& Perry AG. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan

Praktik. 4th ed. EGC: Jakarta. 2006.

Boucher, (2012).Documentation in a PICU setting: Is a checklist tool effective?

Australian journal of advanced nursing

Dwiprahasto, I., Kristin, E., 2008. Masalah dan Pencegahan Medication

[Link] Farmakologi dan Toksikologi/Clinical Epidemiology & Biostatistics

[Link]. Kedokteran UGM/RS. Dr. Sardjito. Yogyakarta.

Nursalam, [Link] Keperawatan, Aplikasi Dalam Praktek Keperawatan

Professional, Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika.

Senior K. Patient Transfer [Link] Cheshire NHS Trust.2014.1(1-20)

Suarli Dan Bahtiar. 2009. Manajemen Keperawatan Dengan Pendekatan Kritis.

Jakarta : Erlangga.

Marquis, B. L. & Huston, C. J. (2010). Kepemimpinan dan


manajemenkeperawatan : teori dan aplikasi, (Ed. 4). Jakarta : EGC.

World Health Organization (WHO). Angka Kematian Bayi. Amerika: WHO;


[Link], R.E.O. & While, A. (2010) Medication Errors: Types,
Causes and Impact on Nursing Practice, British Journal of Nursing,
London.
Yanti, Nurfitri. 2013. “Macam-macam disiplin”. ([Link]
com/). Diakses tanggal 28 September 2014 pukul 21.54 Wib.

Zulpahiyana. (2013). Efektivitas Simulasi Hand hygiene Pada Handover


Keperawatan Dalam Meningkatkan Kepatuhan Hand hygiene Perawat
[Tesis]. Yogyakarta: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
[Link] on Hand Hygiene in Health [Link] Cataloguing-in-
Publication Data; 2009.

Setiadi. 2012. Konsep&Penulisan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Teori dan


Praktik. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Handayaningsih,[Link] Keperawatan “DAR” panduan, konsep


dan [Link]: MITRA CENDIA Press.

Potter, P.A, Perry, [Link] Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses,


dan [Link] [Link] [Link] Bahasa : Renata
Komalasari,[Link]:EGC.2005

[Link] on Hand Hygiene in Health [Link] Cataloguing-in-


Publication Data; 2009.

Audrey. Berman, ShirleeJ. Snyder, [Link], Glenora Erb. 2003. Buku Ajar
Praktek Keperawatan Klinis. Jakarta: EGC.

Nursalam, [Link] dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.


Jakarta: Salemba Medika.

Alimul Hidayat A.A., 2010. Metode Penelitian Kesehatan Paradigma Kuantitatif,


Jakarta : Heath Books

Centers For Disease Control and Prevention (CDC), (2002). Guideline For Hand
Hygiene in Health-Care Settings : Recommendations of the Health Care
Infection Control Practices Advisory Committee and the
Hicpac/Shea/Apic/Idsa Hand Hygiene Task Force. Morbidity and
Mortality Weekly Report, 51 (RR16).

[Link] on Hand Hygiene in Health [Link] Cataloguing-in-


Publication Data; 2009.

Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Pendidikan. Jakarta: EGC.


Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan Edisi Revisi. Jakarta:
Rineka Cipta.

Mangkuprawira, S., (2008) Bisnis, Manajemen, dan SDM. IPB Press, Bogor.

Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia tahun [Link] : Kemenkes RI;


2015.

George, J. M., G. R. Jones. 2002. Understanding and Managing Organizational

Behavior. New Jersey: Prentice Hall.

You might also like